Anda di halaman 1dari 7

ANALISA SENYAWA GOLONGAN FLAVONOID HERBA TEMPUYUNG (Sonchus arvensis L.

DISUSUN OLEH: AGUSTINA DYAH (G1F00707044) RESTI SUSANTI (G1F007072) BONDAN NIEZAR(G1F007099)

KEMENTERIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDRAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU ILMU KESEHATAN LAIN JURUSAN FARMASI PURWOKERTO 2012

BAB I PENDAHULUAN
Indonesia kaya akan keanekaragaman hayati yang dapat dimanfaatkan dalam semua aspek kehidupan manusia. Obat tradisional adalah salah satu bentuk nyata pemanfaatan sumber daya hayati tersebut. Salah satu tanaman yang biasa digunakan sebagai obat tradisional adalah tempuyung (Sonchus arvensis L.). Tempuyung mengandung banyak

senyawa kimia, seperti golongan flavonoid (kaemferol, luteolin-7-O-glukosida dan apigenin7-O glukosida), kumarin, taraksasterol serta asam fenolat bebas. Kandungan flavonoid total dalam daun tempuyung 0,1044%, akar tanaman 0,5% dengan jenis yang terbesar adalah apigenin- 7-O-glikosida (3,4,5). Sementara pustaka lain menyebutkan bahwa daun tempuyung mengandung senyawa kimia antara lain luteolin, flavon, flavonol dan auron. Di dalam tumbuhan, flavonoid ada dalam bentuk glikosida dan aglikon flavonoid. Dalam penelitian ini dilakukan analisa kimia terhadap senyawa golongan flavonoid yang terdapat dalam herba tempuyung. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui jenis flavonoid yang terkandung dalam ekstrak methanol herba tempuyung Tahapan penelitian

meliputi pembuatan ekstrak methanol serbu kering herba tempuyung, pemisahanan senyawa kimia secara kromatografi kertas dan dilanjutkan dengan analisa senyawa kimia secara spektrofotometri UV-vis menggunakan pereaksi geser. Diharapkan penelitian ini akan lebih memperkaya informasi tentang cara isolasi dan jenis senyawa kimia yang terkandung dalam herba tempuyung. Bahan-bahan Serbuk kering herba tempuyung, methanol, natrium hidroksida, alumunium (III) klorida, natrium asetat dan asam borat, asam asetat, n-butanol, aquadest. Alatalat yang digunakan bejana, kromatografi, kertas Whatman no. 2, pipet mikro, ependorf, rotavapor, alat gelas.Ektraksi 500g serbuk kering herba tempuyung yang diperoleh dari Balittro Bogor dimaserasi dengan 1,5 L n-heksana sambil diaduk hingga tidak memberikan filtrat yang berwarna. Ampas dikeringkan kemudian dimaserasi dengan 1,5 L methanol sambil diaduk hingga filtrat tidak berwarna, Filtrat dikumpulkan kemudian dikeringkan

secara vakum menggunakan. Pemisahan 5 mg ekstrak methanol kental dilarutkan dalam 5 mL methanol kemudian disentrifuse untuk memisahkan endapan. Filtrat jernih yang diperoleh

ditotolkan hingga membentuk pita pada bagian bawah kertas Whatman no. 2 ukuran 20x20 cm. Kertas dikembangkan dengan eluen campuran dari butanol : asam asetat : air (4:1:5). Pita yang yang diperoleh dipotong- potong kemudian dilarutkan dalam methanol p.a sebelumnya dilihat di bawah lampu UV dan sinar tampak 366 nm dan diseri uap amoniak. Rotavapor hingga diperoleh ekstrak kental. Identifikasi :Pita yang memberikan profil spektra UV-vis khas flavonoid, diidentifikasi lebih lenjut menggunakan pereaksi geser : Alumunium (III) klorida, alumunium (III) klorida + asam klorida, natrium hidroksida, natrium asetat, campuran natrium asetat dengan asam borat. Uji kemurnia dilakukan terhadap pita- pita flavonoid menggunakan kromatografi kertas dengan eluen asam asetat 5%, 10% dan 15%. Rangkaian tahapan kerja dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

Serbuk herba tempuyung

Ampas

Ekstrak nheksana

Ampas

Ekstrak pekat metanol

Pemisahan secara KKt

Identifikasi

BAB II HASIL DAN PEMBAHASAN Flavonoid merupakan salah satu dari sekian banyak senyawa metabolit sekunder yang dihasilkan oleh suatu tanaman, yang bias dijumpai pada bagian daun, akar, kayu, kulit, tepung sari, bunga dan biji. Secara kimia, flavonoid mengandung cincin aromatitersusun dari 15 atom karbon dengan inti dasar tersusun dalam konjugasi C6-C3-C6 (dua inti aromatik terhubung dengan 3 atom karbon)(10, 11). Keberadaan cincin aromatik menyebabkan pitanya terserap kuat pada daerah panjang UV-vis. Kromatografi kertas yang dilakukan menghasilkan 5 buah pita yang terpisah secara jelas yang memberikan flouresensi yang berbeda-beda di bawah lampu UV dan sinar tampak 366 nm dengan bantuan uap amoniak. Dari warna-warna yang timbul di dapat petunjuk kemungkinan-kemungkinan flavonoid yang terdapat masingmasing pita berdasarkan literature (9, 13). Uraian pita tersebut adalah : Tabel 1. Pita pada kromatografi kertas No pita Warna pita tanpa Warna pita uap amoniak (366 nm) 1 2 3 Merah ungu Biru murup Coklat dengan uap amoniah (366 nm) kuning Hijau coklat 21 28 47 Flavon, flavonon Flavon, flavonon Flavon, khalkon, flavonol 4 5 Biru terang Biru langit Biru terang Biru langit 52 78 Flavon, flavonon Flavon, flavonon HRf (mm) Dugaan

Dari ke-5 pita tersebut, kemudian dilihat profil kromatogramnya menggunakan spektrometri UV-vis, ternyata kromatogram pita 2 sesuai dengan data literature.

Tabel 2. Perubahan panjang gelombang pita 2 dengan penambahan pereaksi geser. Pereaksi Puncak 1 (nm) Puncak 2 (nm) Pergeseran Puncak 1 (nm) -NaOH NaOH 5 menit AlCl3 AlCl3+HCL Natrium asetat Natrium asetat +Asam borat Melihat perubahan spektrum pita 2 dengan pereaksi geser (seperti terlihat pada table di atas), pendugaan warna dan pola puncak spektrum, maka dapat dikatakan bahwa golongan senyawa flavonoid pita 2 adalah flavon/flavonol. Penambahan NaOH, puncak 1 mengalami pergeseran batokromik sebesar +57 nm mengarah pada substitusi posisi 4-OH. Sementara itu penambahan natrium asetat, menyebabkan puncak 2 mengalami pergeseran batokromik sebesar +12. Dari data tersebut, dapat diduga bahwa pita 2 adalah senyawa flavonoid golongan flavon, yaitu 7,4-hidroksi flavon. 328 264 +19 +10 -357,5 350,5 402 267.5 267.5 266 +14 +7.5 +59 +13 +11.5 +12 --7-OH 343 404 402 254 271.5 271.5 -+61 +57 Pergeseran Puncak 1 (nm) -+12 +17 -4-OH 4-OH Dugaan substitusi

BAB III KESIMPULAN Salah satu jenis senyawa flavanoid yang terkandung dalam adalah 7-4-dihidroksi flavon. Dari ke-5 pita tersebut, kemudian dilihat profil kromatogramnya menggunakan spektrometri UV-vis, ternyata kromatogram pita 2 sesuai dengan data literature. Melihat perubahan spektrum pita 2 dengan pereaksi geser (seperti terlihat pada table di atas), pendugaan warna dan pola puncak spektrum, maka dapat dikatakan bahwa golongan senyawa flavonoid pita 2 adalah flavon/flavonol. Penambahan NaOH, puncak 1 mengalami pergeseran batokromik sebesar +57 nm mengarah pada substitusi posisi 4-OH. Sementara itu penambahan natrium asetat, menyebabkan puncak 2 mengalami pergeseran batokromik sebesar +12. Dari data tersebut, dapat diduga bahwa pita 2 adalah senyawa flavonoid golongan flavon, yaitu 7,4-hidroksi flavon. tanaman tempuyung

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan RI, 1985, Cara Pembuatan Simplisia, Jakarta, Direktorat Pengawasan Obat dan Makanan, h. 3-8. Harborn J.B., Metoda Fitokimia Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan Terjemahan Padmawinata K., Soediro I., Edisi II, Bandung: ITB, 1987, h. 1-3. Markham K.R., 1988, Cara Mengidentifikasi Flavonoid. Diterjemahkan oleh Padmawinata. Bandung: ITB, h. 3-5, 15-21, 23-36, 39-47, 54-55. Pramono S., Sumarno, Wahyono S., 1993,Flavonoid Daun Sonchus arvensis L. Senyawa Aktif Pembentuk Komplek dengan Batu Ginjal Berkalsium. Warta Tumbuhan Obat Indonesia. Vol 2. Jakarta: Puslitbangfar, h. 5-7. Sasmito S., 1997, Kelarutan Batu Ginjal Kolesterol, Asam Urat dan Kalsium dalam Ekstrak Daun Keji Beling dan Tempuyung in-vitro, Majalah Farmasi Indonesia. Vol 8, Yogjakarta: Fakultas Farmasi UGM, h. 75.