Anda di halaman 1dari 72

1

z W u r L u G e o I o g I . D e s e m b e r z o o 8

P e n g a n t a r R e d a k s i
PengunLur ReduksI
Pembaca yang budiman,
Selamat bertemu kembali dengan Warta Geologi
(WG) dalam penerbitan Volume 3 Nomor 4, edisi
Desember 2008. Seperti edisi-edisi sebelumnya dalam
edisi ini kami menyajikan rubrik-rubrik Editorial,
Geologi Populer, Lintasan Geologi, Geo Fakta,
Profil, Seputar Geologi, dan Layanan Geologi.
Editorial WG kali ini mengupas mengenai dua
mata sisi uang penebangan hutan, yaitu sisi
pertama kekeringan yang melanda pada musim
kemarau, dan sisi kedua longsor serta banjir pada
musim penghujan. Selanjutnya dalam rubrik
Geologi Populer kami menyajikan tulisan-tulisan
Fenomena Semburan Lumpur di Indonesia: Edukasi
bagi masyarakat sekitar Sumur Migas di Kecamatan
Rambang Kuang, Kabupaten Ogan Ilir (Ol), CBM
Gas Methan dalam Batubara Calon Bahan Bakar
Masa Depan, dan Kaldera Supervolcano Toba.
Selanjutnya dalam rubrik Lintasan Geologi para
pembaca dapat menyimak tulisan yang berjudul
Kawah Ijen Penghasil Belerang Terbesar. Geo
Fakta menyajikan bagian pertama dari dua artikel
berjudul Geomedika Pengaruh debu mineral pada
kesehatan dan sosok geologis dunia bernama
Alfred Russel Wallace. Adapun dalam profil kita kali
ini WG menurunkan tulisan tentang sosok geologis
wanita asal Yogyakarta, ibu Sri Sumarti.
Pembaca yang budiman,
Artikel Fenomena Semburan Lumpur di Indonesia
merupakan tulisan Edy Sutriyono dkk. yang
melaporkan upaya edukasi melalui penyuluhan
kepada masyarakat di Kecamatan Rambang Kuang,
Kabupaten Ogan Ilir. Kegiatan edukasi ini dilakukan
berkaitan dengan usaha pengaktifan kembali
sumur-sumur minyak di daerah tersebut dan adanya
kekhawatiran yang muncul di kalangan masyarakat
dengan semburan lumpur yang terjadi di daerah
lain di Indonesia. Kegiatan ini patut diteladani
oleh daerah-daerah lain di Indonesia yang memiliki
potensi sumur minyak dan semburan lumpur.

Artikel CBM Gas Methan dalam Batubara
merupakan karya tulis Siti Sumilah Rita Susilawati.
Penulis secara persuasif menguraikan apa itu Coal Bed
Methane (CBM), bagaimana proses terbentuknya,
bagaimana cara eksploitasinya, dan apa manfaatnya.
Di akhir tulisan, penulis menyinggung penyelidikan
CBM di Indonesia, potensinya, dan peranan Badan
Geologi dalam kaitan pengkajian potensi CBM ini.
Igan S. Sutawidjaja kembali hadir dalam WG
kali ini dengan tulisannya yang berjudul Kaldera
Suvervolcano Toba. Penulis mencoba menguraikan
secara singkat karakteristik dan teori pembentukan
kandera Toba.
Artikel Kawah Ijen Penghasil Belerang Terbesar
karya SR Wittiri dan Sri Sumarti menyajikan
kawah di Gunung Ijen yang menjadi penghasil
belerang terbesar di Indonesia. Pada akhir tulisan
mencuat permasalahan menarik, yaitu bagaimana
menormalkan air kawah dengan pH 2,5-3? Ternyata
serangkaian percobaan yang dilakukan oleh tim
geokimia BPPTK cukup berhasil menormalkan air.
Artikel berjudul Geomedika, pengaruh debu
mineral pada kesehatan merupakan terjemahan
Joko Parwata dari beberapa sumber di Internet.
Tulisan ini mengetengahkan munculnya disiplin ilmu
baru bernama Geomedika yang mengkaji efek-efek
proses geologis pada kesehatan makhluk hidup
dengan mengupas salah satu kasus debu mineral.
Profil WG edisi ini menampilkan kisah wanita
Indonesia yang menjadi geologis karena Gunung
Merapi. Sri Sumarti, saat ini menjabat sebagai
Kepala Seksi Gunung Merapi pada Balai Penyelidikan
dan Pengembangan Kegunungapian Yogyakarta,
PVMBG, Badan Geologi. Semangat hidupnya untuk
menyelesaikan segala macam rintangan yang
menghalangi jalan hidupnya dapat pembaca simak
dalam profil ini. Adapun rubrik Layanan Geologi
kali ini diisi dengan informasi Laboratorium Kimia
BPPTK, PVMBG. Terakhir dalam rubrik Seputar
Geologi kita akan menyimak beberapa kegiatan
Badan Geologi antara bulan November hingga
Desember 2008. Berturut-turut dilaporkan acara
Penyuluhan Geologi untuk Guru-Guru Geografi se-
Kabupaten Pacitan jawa Timur dan Launching Peta
dan Seminar Gaya Berat Indonesia.
Pembaca yang budiman,
Dengan terbitnya WG edisi ini maka berakhir pula
terbitnya WG untuk tahun 2008 ini. Kami harap
di tahun depan WG kita ini semakin kaya akan isi
dan berbobot maknanya. Kami mengucapkan
terima kasih kepada para penulis yang telah
menyumbangkan tulisannya di WG kali ini, terutama
kepada Edy Sutriyono dkk dari Universitas Sriwijaya.
Akhir kata, selamat menikmati Warta Geologi dan
sampai jumpa tahun depan. n Redaksi
q W u r L u G e o I o g I . D e s e m b e r z o o 8
E d i t o r i a l
Kesalahan besar yang sering menerpa suatu kaum
adalah tidak pernah belajar dari suatu kejadian, tidak
pernah belajar dari pengalaman. Kesalahan tersebut
menghasilkan tragedi yang berkali-kali terjadi.
Contoh kecil yang sebenarnya sangat disadari
oleh semua pihak, bahwa menebang hutan secara
semena-mena akan menghasilkan dua sisi mata
uang. Sisi pertama adalah musim kemarau yang
akan menghasilkan kekeringan yang kerontang
karena tidak ada cadangan air tanah, sedangkan sisi
lainnya akan menghasilkan longsor dan banjir yang
membawa lumpur beserta pepohonan.
Apabila menyimak Peta Kerentanan Gerakan Tanah,
kita akan terkesima setelah menyadarinya bahwa
hampir 75 % bumi Indonesia rentan akan gerakan
tanah (longsor). Posisi geografis Indonesia yang
diapit oleh tiga mega lempeng dunia yang sering
dituding sebagai salah satu pemicunya. Posisi
tersebut menghasilkan banyak gunungapi, morfologi
yang berbukit dan tentu saja, kondisi batuan yang
tidak kompak.
Lelah mata kita menyimak berbagai informasi dari
beragam media massa yang menayangkan berita
kekeringan, banjir, longsor. Ada kalanya lokasi
kejadiannya di tempat yang sama terjadi setiap
tahun.
Belum lama ini kita menyaksikan longsor yang disusul
dengan banjir yang merendam suatu perkampungan
di Provinsi Sulawesi Barat. Ada pemandangan yang
tidak lazim di sana, pada salah satu sekolah yang
terlanda bukan saja terendam oleh lumpur yang
tebal, tetapi juga pepohonan mulai ranting hingga
batang. Hanya ada satu penjelasan yang logis,
longsor yang disusul banjir tersebut karena ulah
penebangan hutan yang semena-mena.
Dua Sisi Mata Uang Penebangan Hutan antara
Kering-kerontang dan Banjir
Hutan tidak saja berfungsi sebagai paru-paru dunia,
tetapi sekaligus sebagai pengikat tanah dan pada
gilirannya akan menangkap aliran air di permukaan
untuk disimpan di dalam akuifer yang akan mengalir
keluar ketika kemarau datang.
Hidup dengan mengacu pada hasil kerja keras para
geolog dan pecinta lingkungan adalah langkah awal
yang patut. Adalah hal yang tidak bijaksana apabila
berdiri menuding bahwa posisi geografis adalah
penyebab sumua bencana yang terjadi. Kondisi
tersebut adalah given yang sudah tentu tidak
bisa direkayasa, apalagi merubahnya. Yang dapat
dilakukan adalah berlaku bijak dalam menata dan
mempergunakannya.
Peta Kerentanan Gerakan Tanah telah tersedia,
Daerah Rawan Banjir sudah pasti, tetapi tidak sedikit
orang yang menjadikannya sebagai lokasi favorit
sebagai tempat tinggal.
Alangkah sulitnya berfikir dan bertindak menghindar
dari tragedi yang sudah berkali-kali menerpa. Alhasil,
setiap kemarau datang tanah menjadi retak karena
ketiadaan air tanah dan memasuki musim hujan
retakan tanah terisi air dan memicu tanah bergerak
yang menghasilkan longsor. Mengapa kita tidak mau
belajar dari kesalahan dan pengalaman? nSR Wittiri

EdILorIuI
6 W u r L u G e o I o g I . D e s e m b e r z o o 8
B
encana semburan lumpur belakangan
ini telah menjadi perhatian masyarakat
Indonesia, khususnya masyarakat yang
tinggal di sekitar lapangan migas di Sumatera
Selatan. Dalam upaya mengantisipasi kejadian
alam seperti itu diperlukan edukasi melalui
penyuluhan mengenai semburan lumpur agar
masyarakat mendapat wawasan yang lebih
luas, sehingga kepanikan yang berlebihan dapat
dihindari. Penyuluhan dilakukan di Kecamatan
Rambang Kuang, Kabupaten Ogan Ilir, di daerah
tersebut sedang dilakukan pengaktifan kembali
sumur-sumur minyak. Untuk mengetahui
keberhasilan kegiatan ini, yang berupa
meningkatnya pemahaman masyarakat mengenai
fenomena semburan lumpur, dilakukan melalui
kuesioner yang diberikan sebelum dan sesudah
penyuluhan. Berdasarkan hasil evaluasi diketahui
adanya peningkatan pemahaman masyarakat
mengenai fenomena semburan lumpur yang
terjadi di beberapa daerah di Indonesia.
Fenomena Semburan
Lumpur di Indonesia:
Edukasi bagi Masyarakat di sekitar Sumur Migas
di Kecamatan Rambang Kuang, Kabupaten Ogan Ilir (OI)
Oleh: Edy Sutriyono
1
, Budhi Setiawan
2
, Budhi K.
Susilo
1
, Ika Juliantina
2
, Endang Wiwik D.H.
1

G e o l o g i P o p u l e r
6 W u r L u G e o I o g I . D e s e m b e r z o o 8
1. Jurusan Teknik Pertambangan, Universitas Sriwijaya E-mail: edy_
sutriyono@yahoo.com
2. Jurusan Teknik Sipil, Universitas Sriwijaya
Jl. Raya Prabumulih KM 32 Indralaya, Sumatera Selatan E-mail:
budhi@wgtt.org
;

GeoIogI PopuIer
Pendahuluan
Keberadaan lapangan migas di suatu daerah
diharapkan dapat berkontribusi bagi pendapatan
asli daerah (PAD). Daerah Tanjung Tiga Timur di
Kecamatan Rambang Kuang, Kabupaten Ogan Ilir
memiliki sumur-sumur migas yang ditinggalkan
sementara kegiatan operasinya (temporary
abandonment). PT Pertamina EP Region Sumatera
berkerjasama dengan PT Formasi Sumatera Energi
berupaya untuk mengaktifkan kembali sumur-
sumur migas yang ditinggalkan tersebut. Upaya
pengaktifan kembali sumur migas perlu dibarengi
dengan pengelolaan lingkungan yang baik,
termasuk sosialisasi kepada masyarakat setempat
sehubungan dengan pengaktifan kembali
program tersebut.
Perlu disadari bahwa eksploitasi migas seringkali
menimbulkan dampak lingkungan yang secara
langsung ataupun tidak langsung dirasakan
oleh masyarakat sekitar. Pencemaran lingkungan
akibat zat-zat kimia dari tumpahan minyak,
semburan liar (blowout) berupa lumpur atau gas
methana (CH
4
), dan kebocoran pipa minyak/gas
adalah contoh-contoh permasalahan lingkungan
secara fisik. Dampaknya secara non-fisik yang
terkait dengan aspek sosial-ekonomi dan
psikologi masyarakat sering kali lebih serius dan
bersifat lebih kompleks atau rumit, terutama
dalam upaya pemulihan atau recovery. Kasus
semburan lumpur Sidoarjo di Jawa Timur atau
yang dikenal sebagai LUSI yang terjadi sejak tahun
2006 diduga terkait dengan kegiatan pemboran
ekplorasi migas yang dilakukan oleh PT Lapindo
Brantas (Perusahaan Swasta Nasional).
Semburan lumpur di Desa Lubai Persada,
Kecamatan Lubai, Kabupaten Muara Enim
(Sumatera Selatan) yang terjadi pada bulan April
2008 di stasiun kompresor gas Merbau (Mbu) 01
milik PT Pertamina EP Region Sumatera merupakan
contoh lain bencana yang terkait dengan aktifitas
eksploitasi migas. Kedua fenomena itu telah
menimbulkan dampak negatif yang dirasakan
oleh masyarakat setempat. Fenomena serupa
bukannya tidak mungkin akan didapatkan juga
di Kabupaten Ogan Ilir, terutama jika dilihat
dari tatanan tektoniknya, yaitu lapangan migas
di Muara Enim dan Ogan Ilir secara regional
keduanya berada pada South Sumatera back-arc
basin.
Publikasi secara luas bencana semburan lumpur
di beberapa daerah di Indonesia, khususnya
yang terjadi di Kabupaten Muara Enim, tentunya
telah menarik perhatian dan memberikan
dampak psikologis sebagian masyarakat yang
wilayahnya terdapat sumur migas. Dalam
rangka mengantisipasi kejadian alam seperti di
Kabupaten Muara Enim, masyarakat di Kecamatan
Fenomena LUSI
Model mud volcano (dari Prasetyo, 2007).
Peta tektonik Sumatera. Kabupaten OI dan Kabupaten Muara Enim terletak di
South Sumatera Basin (modifkasi dari Sutriyono, 1998).
8 W u r L u G e o I o g I . D e s e m b e r z o o 8
Rambang Kuang, maka Kabupaten Ogan Ilir
perlu mendapatkan edukasi melalui penyuluhan
mengenai fenomena semburan lumpur di
beberapa daerah di Indonesia agar mereka
mendapatkan wawasan yang lebih luas tentang
hal itu, sehingga kepanikan yang berlebihan dapat
dihindari jika di daerahnya terjadi hal yang serupa.
Lebih jauh lagi, pemahaman yang cukup tentang
kejadian alam tersebut diharapkan masyarakat
dapat turut berperan aktif dalam menangani
permasalahan yang ada, termasuk penanganan
pengungsi, penyelamatan harta miliknya, dan
dampak kemasyarakatan lainnya.
Tinjauan Pustaka
Indonesia dikenal sebagai daerah ring of fire
di kawasan Asia-Pasifik merupakan wilayah yang
rentan terhadap bencana alam. Fenomena alam
yang hingga kini menjadi kontroversi adalah
LUSI. Kemunculan LUSI menjadi kontroversi
diduga karena adanya muatan politis yang
menyertainya, sehingga sulit bagi pemerintah
untuk menyatakan apakah LUSI itu sebagai
bencana alam (natural disaster) ataukah bencana
yang diakibatkan oleh aktifitas pemboran
sumur eksplorasi migas yang dilakukan oleh PT
Lapindo Brantas. Terlepas dari kontroversi yang
terkait dengan kepentingan politik, LUSI, oleh
para ahli geologi dipandang sebagai fenomena
mud volcano atau gunung api lumpur, yang
mengalami erupsi akibat aktivitas tektonik yang
terkait dengan penyusupan lempeng Indo-
Australia di bawah pulau Jawa.
Seperti telah disebutkan bahwa semburan
lumpur ternyata terjadi juga di beberapa
daerah di Indonesia, termasuk di Kabupaten
Indramayu (Jawa Barat) dan Kabupaten Muara
Enim (Sumatera Selatan). Kemunculan lumpur
di Indramayu dikaitkan dengan kegiatan seismik
yang dilakukan oleh PT Pertamina, sedang di
Muara Enim semburan lumpur merupakan gejala
blowout di sumur migas milik PT Pertamina
EP Region Sumatera yang telah dimatikan sejak
tahun 2002 (dalam sejarahnya, sumur itu pernah
mengalami blowout di tahun 2002).
Dalam kasus Muara Enim, PT Pertamina EP
Region Sumatera memberikan argumentasi
bahwa blowout dipicu oleh gerakan lempeng
Indo-Australia yang menyusup di bawah pulau
Sumatera ketika terjadi gempa tektonik di
Bengkulu, sehingga semen penyumbat sumur
retak dan mengakibatkan terjadinya semburan
lumpur. Berdasarkan Ali Syahbana (Asisten
Manager) PT Pertamina EP Region Sumatera,
kedalaman sumber semburan lumpur di daerah
ini adalah 27 meter (Sumatera Ekspres, 7 Mei
2008), oleh karena itu kasus ini dianggap
berbeda dengan LUSI yang memiliki kedalaman
cukup besar. Apapun faktor penyebab dari erupsi
lumpur di wilayah itu, namun satu faktor yang
dapat dipastikan yaitu adanya formasi lumpur
dengan kandungan gas cukup tinggi.
Secara tektonik, wilayah Kabupaten Ogan Ilir
dan Kabupaten Muara Enim keduanya berada
pada sistem South Sumatera back-arc basin, dan
daerah cekungan sedimen itu dikenal sebagai
penghasil minyak dan gas bumi. Berdasarkan
kesamaan lingkungan tektoniknya, kedua wilayah
kabupaten tersebut kemungkinan memiliki
kemiripan kondisi geologi.
Dalam konteks semburan lumpur, formasi
lumpur yang dijumpai di Kabupaten Muara Enim
kemungkinan didapatkan juga di Kabupaten
Ogan Ilir, hal ini dimungkinkan karena kedua
wilayah itu di masa lampau berada pada satu
sistem cekungan pengendapan, sehingga memiliki
kemiripan sejarah geologi. Tentu saja, skenario
ini memerlukan penelitian lebih lanjut lagi untuk
membuktikan bahwa formasi lumpur bertekanan
tinggi dijumpai juga di wilayah Kabupaten Ogan
Ilir.
Materi dan Metode Pelaksanaan
Kegiatan pengabdian masyarakat berupa edukasi
tentang fenomena semburan lumpur di Indonesia,
telah dilaksanakan di Kecamatan Rambang Kuang,
Kabupaten Ogan Ilir. Pemilihan lokasi didasarkan
atas pertimbangan banyaknya sumur migas
disekitar pemukiman penduduk didalam wilayah
ini. Untuk itu, dalam melaksanakan kegiatan ini
telah disusun:
a.Kerangka pemecahan masalah yaitu pemfokusan
kegiatan pada dampak sosial akibat fenomena
semburan lumpur di suatu daerah, sehingga
masyarakat disekitar sumur-sumur migas
memiliki kewaspadaan bencana terkait dengan
kemungkinan terjadi semburan lumpur.
b.Realisasi kegiatan pengabdian masyarakat
mengenai dampak sosial akibat fenomena
semburan lumpur diwujudkan dalam bentuk
edukasi dimaksudkan memberikan pengetahuan
tentang kondisi geologi daerahnya dan
pemahaman tentang fenomena semburan
lumpur bagi masyarakat yang tinggal disekitar
sumur-sumur migas di Kecamatan Rambang
Kuang, Kabupaten Ogan Ilir.
c.Kelompok masyarakat yang menjadi sasaran
kegiatan hanya ditujukan bagi perwakilan dari
5 (lima) desa, mengingat keterbatasan tempat
di kantor kecamatan Rambang Kuang. Kelima
desa tersebut adalah Desa Tambang Rambang,
Sukananti, Tanjung Bulan, Kayu Ara dan Tanjung
Miring.
G e o l o g i P o p u l e r
q
GeoIogI PopuIer
d.Metode pelaksanaan kegiatan ini dilakukan
melalui ceramah dan tanya jawab. Untuk
mengetahui pemahaman masyarakat mengenai
materi edukasi maka dilakukan kuesioner sebelum
dan sesudah pelaksanaan.
Hasil dan Pembahasan
Pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat
ini dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu
persiapan, pelaksanaan dan evaluasi yang
dilaksanakan melalui kuesioner kepada peserta
sebelum dan sesudah ceramah mengenai
semburan lumpur.
Persiapan Kegiatan
Pada tahap persiapan pelaksanaan kegiatan,
tim pelaksana melakukan kunjungan lapangan
sebanyak 2 kali. Pada kunjungan pertama, tim
pelaksana melakukan orientasi lapangan dengan
melihat secara langsung situasi kehidupan
masyarakat, sekaligus memperkenalkan diri,
melakukan sosialisasi rencana kegiatan dan
memohon perizinan dan bantuan fasilitas bagi
pelaksanaan kegiatan. Pada kunjungan kedua,
tercapai kesepakatan antara Tim Pelaksana dan
Bapak Camat terkait dengan waktu dan tempat
kegiatan.
Pelaksanaan Kegiatan
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat
dari LPM Universitas Sriwijaya dengan judul
Fenomena Semburan Lumpur di Indonesia:
Edukasi bagi Masyarakat di sekitar Sumur Migas
di Kecamatan Rambang Kuang, Kabupaten Ogan
Ilir dilaksanakan pada hari Kamis, 30 Oktober
2008 di Ruang Pertemuan, Kantor Kecamatan
Rambang Kuang. Kegiatan ini dihadiri oleh
peserta yang berasal dari 5 (lima) desa dimana
di wilayahnya terdapat sumur-sumur minyak
yang masih produksi, maupun sumur-sumur
yang sudah ditinggalkan (lebih dikenal sebagai
sumur tua). Peserta yang hadir dalam kegiatan ini
tercatat di daftar hadir sebanyak 37 (tiga puluh
tujuh) orang.
Adapun inti dari kegiatan ini adalah edukasi bagi
peserta melalui ceramah. Pelaksanaan kegiatan
pengabdian kepada masyarakat ini dipandu
langsung oleh Camat Rambang Kuang. Ceramah
ini menjelaskan tentang kondisi tatanan tektonik
di Indonesia dan keterkaitannya dengan fenomena
terbentuknya gunung lumpur. Hal yang menarik
adalah penjelasan tentang fenomena LUSI dan
kemungkinan terjadinya peristiwa yang sama
di Sumatera Selatan, khususnya di Kecamatan
Rambang Kuang.
Evaluasi Kegiatan
Pada pelaksanaan kegiatan ini, peserta telah
diminta untuk mengisi kuisioner sebanyak dua kali,
yakni sebelum dan sesudah ceramah. Kuisioner
tersebut memuat sejumlah pertanyaan yang
dapat dikelompokkan dalam tiga bagian. Pertama,
pertanyaan yang mengukur tingkat pengetahuan
dan persepsi peserta tentang semburan lumpur

Pengamatan lapangan : nyala gas bumi melalui pipa dekat pemukiman penduduk.
1o W u r L u G e o I o g I . D e s e m b e r z o o 8

di Indonesia; kedua, pertanyaan yang mengukur
tingkat pengetahuan peserta tentang dampak
sosial dan upaya penanggulangan semburan
lumpur di Indonesia; dan ketiga, pertanyaan
untuk lebih memahami persepsi peserta terhadap
upaya mengaktifkan sumur minyak di daerah ini.
Pada umumnya peserta telah mengetahui adanya
kejadian semburan lumpur di Sidoarjo.
Informasi penyebab kejadian lumpur oleh sebagin
besar peserta juga telah diketahui. Sebelum
penyuluhan, umumnya peserta berpendapat
bahwa kejadian semburan lumpur ini diakibatkan
oleh kegiatan yang dilakukan oleh PT Lapindo
Brantas.
Setelah penyuluhan, hampir setengah dari peserta
berpandangan bahwa kejadian tersebut bukan
sepenuhnya kesalahan PT Lapindo Brantas.
Setelah penyuluhan peserta mempunyai
pandangan mengenai adanya pengaruh gempa
pada kejadian semburan lumpur tersebut. Peserta
juga memperoleh pengetahuan yang cukup
mengenai gunung lumpur di Sidoarjo. Peserta
telah mengetahui adanya semburan lumpur di
Muara Enim dan memahami penyebab terjadinya.
Selain itu, pendapat peserta juga berubah tentang
adanya pengaruh gempa Bengkulu terhadap
semburan lumpur di Muara Enim.
Setelah penyuluhan, peserta berpendapat bahwa
kejadian semburan lumpur di Muara Enim
berbeda dengan di Sidoarjo. Meski demikian,
peserta belum dapat menjelaskan perbedaan dan
persamaannya.
Umumnya peserta berpendapat bahwa semburan
lumpur bukan merupakan kejadian alam
biasa. Untuk itu diperlukan adanya peran serta
masyarakat dalam penanggulangan semburan
lumpur. Peserta juga berkeyakinan bahwa kejadian
tersebut merupakan peringatan dari Allah SWT
agar pemerintah lebih bijak dalam mengelola
kekayaan alam.
Peserta umumnya berpendapat bahwa kejadian
ini merupakan bukti bahwa masyarakat belum
dilibatkan dalam upaya pengelolaan lingkungan.
Sebagain besar peserta juga sependapat
perlunya peningkatan wawasan masyarakat
melalui kegiatan penyuluhan seperti yang telah
dilakukan.
Pada umumnya peserta telah mengetahui dampak
sosial akibat semburan lumpur dan memiliki
dampak yang sangat besar. Penyelesaian dampak
sosial ini merupakan hal yang sangat rumit dan
tidak mudah.
Setelah penyuluhan, peserta mengetahui upaya-
upaya yang dilakukan oleh perusahaan dan
pemerintah. Peserta juga berpandangan bahwa
sudah cukup serius dan tanggap menanggulangi
semburan lumpur Sidoarjo. Pembuatan tanggul-
tanggul aliran penahan lumpur dipandang efektif
untuk mencegah luapan lumpur oleh para peserta
setelah penyuluhan dilakukan.
Pasca penyuluhan sebagain besar peserta
berpendapat bahwa masyarakat telah mendapat
perlakuan yang memadai dari perusahaan dan
pemerintah. Pandangan peserta mengenai
peran serta masyarakat Sidoarjo dalam upaya
penanggulangan semburan lumpur terbagi
dua kelompok. Setengah dari peserta berubah
pandangan mengenai tuntutan masyarakat
kepada perusahaan dan pemerintah.
Peserta memandang berbeda dampak sosial akibat
semburan lumpur di Sidoarjo dan Muara Enim.
Peserta juga berpendapat bahwa dampak sosial
di Muara Enim tidak separah jika dibandingkan
dengan di Sidoarjo serta penanggulanganya jauh
lebih mudah. Peserta berpendapat Pertamina dan
pemerintah sudah serius menangani semburan
lumpur di Muara Enim dan masyarakat telah
berperan dalam upaya penanggulangannya.
Pandangan ini agak berbeda dengan kurang
dilibatkannya masyarakat dalam menangani
semburan lumpur di Muara Enim.
Sebagian besar peserta sependapat bahwa
pengaktifan sumur minyak akan meningkatkan
PAD dan diperlukan sosialisasi ke masyarakat
sekitar lokasi. Sebagian besar peserta juga
sependapat bahwa masyarakat tidak perlu
khawatir berlebihan tentang kemungkinan
terjadinya semburan lumpur tetapi masyarakat
perlu disiapkan untuk menghadapi kemungkinan
terjadinya semburan lumpur. Peserta sependapat
bahwa masyarakat perlu dibekali pengetahuan
G e o l o g i P o p u l e r
Kesepakatan bersama dengan Bapak Camat terkait dengan waktu dan tempat kegiatan.
11

Camat dan Sekcam mengapit Dr. Ir. Edy Sutriyono, M.Sc. dan Ir. Ika Juliantina, M.S.
Camat, Aprizal Hasyim, S.Sos., M.M. membuka dan sekaligus memandu
pelaksanaan kegiatan.
Dr.Ir. Edy Sutriyono, M.Sc. sedang memberikan ceramah yang mengedukasi
masyarakat tentang tatanan tektonik dan fenomena gunung lumpur di Indonesia.
Tampak peserta sedang memperhatikan slide yang menggambarkan sebaran
genangan semburan lumpur di Sidoarjo.
yang memadai tentang penanggulangan
semburan lumpur dan pengaktifan sumur harus
dilakukan secara terbuka dan bertanggung
jawab.
Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
Kegiatan pengabdian kepada masyarakat di
Kecamatan Rambang Kuang berupa edukasi
tentang fenomena semburan lumpur di Indonesia
berdasarkan pelaksanaan dan hasil analisis
statistik dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Masyarakat di wilayah Kecamatan Rambang
Kuang, yang diwakili oleh perangkat desa dan
beberapa tokoh masyarakat dari Desa Tambang
Rambang, Sukananti, Tanjung Bulan, Kayu Ara
dan Tanjung Miring sangat antusias terhadap
pelaksanaan kegiatan edukasi ini.
2. Hasil kuesioner menunjukkan ada peningkatan
kemampuan peserta dalam memahami fenomena
semburan lumpur di Indonesia, dampak sosial
dan upaya penanggulangan semburan lumpur
serta persepsi tentang upaya mengaktifkan
kembali sumur minya di Kecamatan Rambang
Kuang Kabupaten Ogan Ilir.
Saran
Berdasarkan pengalaman dalam pelaksanaan
kegiatan pengabdian kepada masyarakat di
Kecamatan Rambang Kuang, maka dapat
disampaikan beberapa saran sebagai berikut:
1. Edukasi yang langsung menyentuh langsung
dengan kehidupan masyarakat sehari-hari perlu
dilakukan sampai ke semua lapisan masyarakat
yang lebih luas,
2. Tema tentang semburan lumpur, sangat
menarik perhatian masyarakat, untuk itu perlu
bagi LPM Universitas Sriwijaya untuk menjalin
kerjasama dengan PT Pertamina Region Sumatera
untuk melaksanakan kegiatan edukasi sebagai
bagian dari program CSR (Corporate Social
Responsibility).n
GeoIogI PopuIer
1z W u r L u G e o I o g I . D e s e m b e r z o o 8
T
entu para pembaca sependapat
dengan saya bahwa kita ingin suatu
waktu Indonesia tidak mengalami
krisis energi, khususnya bahan bakar
minyak seperti yang selama ini kita alami.
Krisis energi mengakibatkan pemadaman
listrik, antrian gas dan minyak tanah dan
banyak lagi efek negatif sebagai akibatnya.
Penyebabnya karena harga bahan bakar
minyak (BBM) melonjak tajam. Pertanyaannya,
bisakah keinginan tersebut terwujud?
Jawabannya bisa, dengan mengurangi
ketergantungan kepada BBM.
Oleh: SS Rita Susilawati
CBM Gas Methan dalam
Batubara
Calon Bahan Bakar Masa Depan
G e o l o g i P o p u l e r
1z W u r L u G e o I o g I . D e s e m b e r z o o 8
1

Perbedaan Sumur Gas Konvensional dan Sumur CBM.
Ada beberapa pilihan pengganti sebagai alternatif,
salah satunya adalah beralih kepada batubara
dan bahan ini tersedia di bumi pertiwi Indonesia.
Batubara mengandung gas methan yang dikenal
dengan Coal Bed Methane (CBM). Pendatang
baru ini sering diartikan sebagai Calon Bahan
bakar Masa depan dan keberadaannya sangat
menjanjikan.
Mengenal Coal Bed Methane (CBM)
Coal bed methan adalah gas methan yang
terperangkap di dalam lapisan batubara. Gas
ini terbentuk secara alamiah dalam proses
pembentukan batubara (coalification). CBM
pertamakali dikenal karena keberadaannya
yang sering menimbulkan masalah dalam
penambangan batubara bawah tanah. Dalam
sejarah pertambangan batubara, kecelakaan
akibat ledakan gas tercatat telah banyak
memakan korban jiwa. Apabila gas methan
yang terakumulasi di bawah tanah terganggu
keberadaannya, misalnya terkena oksigen karena
proses penambangan, maka akan meledak. Selain
itu, gas ini juga beracun jika terhirup dalam
jangka waktu yang cukup lama. Tetapi bila dikelola
dan dikemas dengan baik, maka gas methan ini
akan bermanfaat dan dapat diandalkan sebagai
alternatif pengganti BBM. CBM mulai dilirik dan
diproduksi secara komersial untuk kepentingan
sumber energi sekitar 15 hingga 20 tahun lalu,
terutama di negara-negara Amerika, Canada,
China dan Australia.
Secara prinsip antara CBM dan gas konvensional,
misalnya LPG tidak ada perbedaan karena
sama-sama berasal dari dalam bumi. Yang
membedakannya adalah batuan yang
melahirkannya atau source rock-nya. Yang
bertindak sebagai reservoir maupun source rock
dari CBM adalah lapisan batubara, sedangkan
pada gas bumi konvensional adalah batuan
yang berbeda atau bukan batubara. Walaupun
source rock gas bumi itu serpih bitumen ataupun
batubara misalnya, tetapi gas tersebut bermigrasi
keatas melalui lapisan batuan yang porous dan
terkumpul/terperangkap di dalam berbagai
tipe reservoir pada batuan lain, bisa batupasir,
batugamping ataupun batuan beku.
Hal lain yang membedakan antara keduanya
adalah dalam hal cara penambangannya. Jika
gas bumi bisa langsung dieksploitasi, tetapi pada
CBM tidak demikian. Sebelum gas ini mengalir
keluar, reservoir batubaranya harus direkayasa
terlebih dahulu.
Bagaimana CBM terbentuk?
Seperti telah dikemukan diatas, gas methan
dalam batubara terbentuk sebagai akibat proses
pembatubaraan. Proses pembentukan batubara
diawali oleh pertumbuhan tanaman pembentuk
batubara di lingkungan rawa-rawa. Tumbuhan
tersebut kemudian mati dan terbenam. Pada
akhirnya sisa-sisa tumbuhan yang mati tersebut
membentuk suatu lapisan dan terawetkan melalui
proses biokimia.
Dalam proses biokimia, aktivitas bakteri mengubah
sisa tumbuhan menjadi gambut (peat), lambat-
laun tertimbun oleh endapan-endapan lainnya
seperti batulempung, batulanau dan batupasir.
Dalam perjalanan waktu yang sangat lama,
puluhan juta tahun misalnya, gambut ini akan
mengalami perubahan sifat fisik dan kimia
GeoIogI PopuIer
Penambangan
Gas Konvensional
Penambangan CBM
Oil&
Gas Sales
No
Gas Sales
Produces
Lets of Water
1q W u r L u G e o I o g I . D e s e m b e r z o o 8

Proses pembatubaraan dimulai dari penumpukan sisa-sisa tumbuhan yang telah mati di rawa-rawa. Sisa-sisa tumbuhan tersebut kemudian mengalami proses biokimia
sehingga membentuk gambut (peat). Seiring dengan berjalannya waktu dan dengan pengaruh panas dan tekanan dari lapisan-lapisan diatasnya, gambut kemudian berubah
menjadi lignit dan batubara (sumber http://waterquality.montana.edu/)
matter seperti methan, CO
2
dan air.
Gas methan di dalam batubara terdapat dalam
dua bentuk, terserap (adsorbed) dan bebas.
Methane yang terserap terdapat pada rangkaian
monomolecular di dalam batubara, sedangkan
methane dalam bentuk bebas terdapat di
dalam pori-pori dan rekahan-rekahan di dalam
batubara. Walaupun methan bukan satu-satunya
gas yang terdapat di dalam batubara, namun
keterdapatannya mencapai 80 95% dari total
gas yang ada. Gas lain yang umum terdapat di
dalam batubara adalah Ethane, Propane, Carbon
Dioxide (Co
2
), Alkanes, Nitrogen (N
2
), Argon
(Ar), Hydrogen (H
2
), Helium (He) dan Hydrogen
Sulphide (H
2
S).
Dalam lapisan batubara, methan terperangkap
dalam salah satu dari 3 bentuk ini ; 1) sebagai free
gas dalam rekahan-rekahan, 2). sebagai molekul
gas yang terserap (adsorbed) dalam mikropore
dan rekahan, dan 3) sebagai molekul yang larut
(dissolved) dalam air yang terdapat dalam lapisan
batubara.
Berbagai tipe batubara memiliki tingkat
penyerapan gas yang berbeda sehingga peringkat
batubara berperan penting dalam menentukan
kandungan gas dalam suatu lapisan. Kapasitas
penyerapan batubara meningkat seiring dengan
meningkatnya peringkat mulai dari lignit hingga
batubara bituminus, kemudian mengalami
penurunan pada batubara bituminus peringkat
tinggi hingga antrasit. Hal ini disebabkan pada
batubara peringkat tinggi, tekanan, suhu dan
akibat pengaruh tekanan (P) dan temperatur
(T), sehingga berubah menjadi batubara. Pada
tahap ini proses pembentukan batubara lebih
didominasi oleh proses fisika dan geokimia.
Sebagai gambaran untuk batubara dengan tebal
+2 m, dibutuhkan lapisan sisa-sisa tumbuhan
dengan ketebalan + 60m.
Selama proses pembentukan batubara, sejumlah
besar air dihasilkan bersama-sama dengan gas.
Pada proses pembatubaraan, gambut berubah
menjadi batubara lignit, bituminous sampai
batubara antrasit. Proses perubahan dari gambut
menjadi batubara dikenal dengan nama proses
pembatubaraan (coalification). Peringkat atau
tingkat kematangan batubara ini berhubungan
langsung dengan temperature, tekanan,
kedalaman burial, geothermal gradien dan juga
lamanya waktu pembebanan.
Gas dalam batubara dapat terbentuk secara
biogenik maupun thermogenik. Secara biogenic
gas yang terbentuk ketika material organik
mengalami dekomposisi oleh mikroorganisma,
menghasilkan gas methan dan CO
2
. Gas biogenik
ini dapat terbentuk pada tahap awal dari proses
pembatubaraan (Lignit-sub bituminus) dan
pada tahap akhir dari proses pembatubaraan.
Sedangkan, secara thermogenic gas yang
terbentuk pada tahapan yang lebih tinggi
dari proses pembatubaraan. Biasanya pada
saat batubara mencapai kualitas high volatile
bituminous atau lebih. Proses bituminisasi akan
memproduksi batubara yang kaya akan karbon
dengan melepaskan kandungan utama volatile
G e o l o g i P o p u l e r
1

Diagram kiri: cara keluarnya gas dari dalam batubara; kanan: gambaran ideal face dan
butt cleats dalam batubara (Sumber USGS)
juga kedalaman burial menyebabkan gas dipaksa
keluar karena tekanan geologi dan juga tekanan
hidrostatik. Tingkat kematangan batubara akan
mengontrol volume gas methan yang dihasilkan
dan disimpan. Oleh karena itu peringkat atau
kematangan batubara sangat menentukan
potensi batubara tersebut dalam menghasilkan
gas.
Kontrol kandungan gas dalam batubara
Produksibilitas CBM sangat dipengaruhi oleh
faktor geologi seperti, sistem lingkungan
pengendapan, geometri/distribusi batubara,
peringkat batubara, besarnya kandungan gas,
permeabilitas serta tektonik/struktur geologi dan
juga oleh kondisi hidrogeologi.
Karena lapisan batubara bertindak sebagai batuan
sumber (source bed) dari gas methane dan juga
sebagai reservoir untuk gas tersebut, penyebaran/
distribusi batubara yang luas di suatu cekungan
akan sangat berpengaruh terhadap besarnya
sumberdaya gas methane. Penyebaran vertikal
dan lateral batubara sangat dipengaruhi oleh
kondisi tektonik, struktur geologi, dan kerangka
sedimentasinya. Hal ini disebabkan karena
perkembangan/pertumbuhan batubara dikontrol
oleh keseimbangan antara penurunan cekungan
sedimen dan pertumbuhan tumbuh-tumbuhan
pada saat batubara terbentuk. Dalam hal ini,
pemahaman terhadap lingkungan pengendapan
batubara akan sangat membantu dalam proses
eksplorasi CBM.
Kandungan gas dalam batubara dapat berubah
apabila kondisi batuan reservoir terganggu.
Kandungan gas di dalam batubara dapat
bertambah, baik secara lokal maupun regional,
oleh pembentukan gas biogenik sekunder atau
oleh aliran gas dari tempat lain yang terserap
oleh lapisan batubara ditempat itu. Air meteorik
di dalam recharge yang aktif atau aliran yang
konvergen dapat mengurangi kandungan gas,
seperti pada batubara yang terangkat dan tererosi
menyebabkan tekanan reservoir lebih rendah
sehingga gas methane akan lepas dari lapisan
batubara tersebut.
Permeabilitas batubara dan aliran air bawah
tanah juga merupakan faktor yang mengontrol
produksibilitas methane. Kedua variabel ini
berhubungan erat dengan distribusi batubara
dan kerangka tektonik pengendapannya. Hal ini
disebabkan aliran air tanah yang melalui lapisan
batubara membutuhkan lapisan batubara yang
secara lateral bersifat permeabel. Batubara
merupakan reservoir yang memiliki permeabilitas
yang rendah. Permeabilitas batubara dipengaruhi
oleh sistim dari rekahannya (cleat system). Gas
dan airtanah akan bermigrasi melalui rekahan
GeoIogI PopuIer
(fracture/cleat) tersebut. Sedangkan keberadaan
rekahan/cleats tersebut secara langsung dikontrol
oleh aktivitas tektonik/sruktur geologi.
Rekahan/cleat dalam batubara terdapat dalam
dua tipe, dikenal dengan nama butt cleats dan
face cleats. Keduanya terbentuk hampir tegak
lurus satu sama lainnya. Face cleat biasanya
menerus sehingga menyediakan jalan untuk
permeabilitas yang tinggi sedangkan butt cleats
tidak menerus dan biasanya berakhir pada face
cleats. Permeabilitas rekahan dalam batubara
merupakan jalan utama mengalirnya gas, semakin
besar permeabilitas semakin besar produksi gas.
Kapasiatas penyerapan batubara (adsorption
capacity) terhadap gas didefinisikan sebagai
volume gas yang bisa terserap per unit masa
batubara yang biasanya disebutkan dalam
satuan SCF (standar cubic feet), yaitu volume
pada kondisi tekanan dan temperatur standar.
Kapasitas penyerapan batubara tergantung pada
peringkat dan kualitasnya.
Secara normal semakin tebal lapisan batubara
biasanya semakin tinggi pula kandungan
gasnya, tetapi apabila kondisi geologinya
tidak mendukung, misalnya bentuk struktur
(fracture/cleat), keberadaan air (hidrogeologi),
maka volume gas akan kecil. Sebagai contoh, di
Cekungan Cherokee Kansas, sumur CBM pada
lapisan batubara berketebalan 1-2 ft dapat
memproduksi gas dengan jumlah yang cukup
besar sementara di daerah lain, lapisan batubara
yang memiliki ketebalan dua kali lipat dari lapisan
tersebut sama sekali tidak menghasilkan gas
karena kondisi geologinya tidak mendukung.
Faktor-faktor tersebut diatas merupakan hal yang
saling berhubungan satu sama lain dan secara
sinergi akan berpengaruh pada produksibilitas
CBM.
16 W u r L u G e o I o g I . D e s e m b e r z o o 8
Eksploitasi CBM
Berbeda dengan gas konvensional, reservoir
batubara harus mengalami rekayasa terlebih
dahulu sebelum akhirnya bisa mengeluarkan
gas. Rekahan-rekahan atau cleat dalam batubara
biasanya dipenuhi oleh air. Semakin dalam lapisan
batubara semakin berkurang kandungan air di
dalamnya. Untuk mengeluarkan gas dari dalam
batubara, tekanan dalam reservoir tersebut harus
dikurangi dengan cara memompa air keluar dari
lapisan batubara.
Proses ekstraksi methan dari dalam lapisan
batubara dilakukan dengan melakukan
pengeboran pada kedalaman 300 hingga 1500
m kemudian air dipompa keluar. Aliran air pada
lubang bor bisa menurunkan tekanan dalam
lapisan batubara. Karena CBM memiliki tingkat
pelarutan yang sangat rendah dalam air, maka
CBM bisa dengan mudah terpisah dari air ketika
tekanan reservoir menurun. Pengeboran dan
pemompaan air mendorong keluarnya gas dari
lapisan batubara ke dalam lubang bor. Gas methan
ini selanjutnya dikirim ke stasiun kompresor
untuk selanjutnya dialirkan pada pipa-pipa gas.
Sementara itu air hasil dewatering dapat dibuang
ke dalam sistem air setempat, untuk pengairan
irigasi misalnya.
Pada tahap awal produksi sumur CBM belum
menghasilkan gas dalam jumlah yang ekonomis
karena memproduksi sejumlah besar air. Tidak
seperti pada gas konvensional, yang puncak
produksinya bisa dicapai dalam kurun waktu
hanya satu tahun dari masa operasional. Puncak
produksi CBM berkaitan dengan dewatering
yang diperoleh dalam jangka waktu yang lebih
lama, biasanya 5 hingga 7 tahun dari masa awal
produksi.
Pada awal produksi, industri CBM memang
membutuhkan biaya yang relatif lebih besar
dibandingkan dengan konvensional gas. Tetapi
pada tahap operasional selanjutnya, menurut
pengalaman, biaya produksi CBM bisa lebih
murah dibandingkan dengan biaya produksi gas
alam konvensional.
Manfaat CBM
CBM dapat dimanfaatkan untuk berbagai
keperluan, misalnya sebagai sumber energi
pembangkit tenaga listrik, untuk keperluan rumah
tangga, maupun digunakan dalam berbagai
macam indusri. Melalui proses pemurnian sampai
95%, CBM dapat digunakan sebagai pengganti
BBM.
Ada dua manfaat menggunakan CBM untuk
sumber energi listrik. Pertama ramah lingkungan,
yang kedua menghasilkan panas yang lebih tinggi
dibanding dengan batubara. Jika pemakaian
batubara sebagai energi pengganti minyak dan
gas bumi banyak mendapat kecaman karena
dianggap mencemari lingkungan dan dianggap
memicu terjadinya pemanasan global, CBM
dianggap sebagai sumber energi yang lebih
ramah terhadap lingkungan. Pembakaran CBM
menghasilkan emisi CO
2
yang jauh lebih sedikit
daripada pembakaran batubara.
Sebagai contoh, emisi CO
2
per unit listrik yang
dihasilkan dari pembakaran batubara sub
bituminus adalah 1180 ton per GWH (Gega Watt
Hour), batubara bituminus menghasilkan 600
ton CO
2
per GWH, sedangkan hasil pembakaran
CBM hanya menghasilkan 25 ton per GWH.
Pembakaran CBM juga bebas sulfur sehingga
tidak menghailkan sulfur oxides yang dikenal bisa
mengakibatkan polusi dan hujan asam.
Saat ini para pemerhati lingkungan di dunia
sangat peduli terhadap emisi gas CO
2
yang
dianggap memicu terjadinya pemanasan global.
Untuk mengurangi emisi gas ini, para ahli berhasil
mengembangkan apa yang dinamakan CO
2

sequestration atau penyimpanan CO
2
secara
permanen dengan jalan menginjeksikan gas ini
ke dalam lapisan batuan jauh didalam bumi.

Bagan perbedaan antara kurva produksi CBM dan konvensional gas (Sumber USGS)
Konsep penambangan CBM (Sumber : British Geological Survey, 2005)
G e o l o g i P o p u l e r
1;

Diagram pemanfaatan CBM
Batubara, dikenal sebagai salah satu batuan yang
bisa digunakan untuk menyimpan CO
2
. Secara
alamiah molekul CO
2
lebih mudah terserap oleh
lapisan batubara daripada molekul methan.
Sehingga secara sederhana jika 1 molekul
CO
2
mengisi komponen batubara akan ada 1
molekul gas methan yang dibebaskan dalam
rangka menjaga kestabilan kimiawinya. Sehingga
penyimpanan CO
2
pada lapisan batubara yang
akan meningkatkan produksi CBMnya, inilah yang
dikenal dalam istilah asing, sebagai enchance
CBM recovery.
CBM di Indonesia
Penyelidikan CBM sebagai sumber energi alternatif
di Indonesia mulai intensif dilakukan sekitar
tahun 1990an, mengikuti sukses pengembangan
CBM di beberapa negara yang sudah berhasil
sebelumnya. Pada tahun 1998, perusahaan
minyak Caltex memprakarsai penyelidikan
potensi gas methan dalam batubara di Cekungan
Sumatera bagian tengah. Departemen Energi
dan Sumber Daya Mineral sendiri yang saat itu
masih bernama Departemen Pertambangan dan
Energi memprakarsai pembentukan kelompok
kerja CBM yang bertugas mengkaji kemungkinan
pemanfaatan CBM di Indonesia.
Ada beberapa hal yang mendukung
pengembangan CBM di Indonesia, diantaranya
adalah; kekayaan sumber daya batubara yang
berlimpah, krisis energi, serta kesadaran global
penggunaan sumber energi yang lebih ramah
lingkungan. Kekayaan sumberdaya batubara
di Indonesia memungkinkan kehadiran
sumberdaya CBM yang potensial. Krisis energi
yang diakibatkan menurunnya pasokan bahan
bakar minyak (BBM), sementara kebutuhan terus
Road map pengembangan industri CBM di Indonesia (Sumber Dirjen Migas).
GeoIogI PopuIer
meningkat, memicu pencarian energi alternatif
sebagai pengganti BBM merupakan keharusan
yang tidak bisa ditunda lagi. Pemanasan global
yang menjadi issue hangat lingkungan dewasa
ini, dianggap dipicu oleh emisi green house gas
yang diakibatkan pembakaran energi fosil seperti
misalnya batubara. Sehingga pemakaian sumber
energi yang jauh lebih ramah lingkungan semakin
banyak dituntut.
Data terbaru mencatat jumlah sumber daya
batubara Indonesia sebesar total 90.451,87
juta ton, yang sebagian besar berupa batubara
peringkat rendah dan menengah. Dengan
kandungan batubara sebesar itu, diyakini bahwa
Indonesia juga memiliki kandungan CBM yang
besar. Survei terbaru mengenai CBM di Indonesia
yang menghasilkan prediksi potensi CBM di
beberapa cekungan batubara Indonesia dilakukan
oleh Advances Resources International (ARI) pada
tahun 2002. Survei ini dilakukan atas pemintaan
Dirjen Migas dan atas biaya Asian Development
Bank (ADB). Hasil survei tersebut diketahui bahwa
potensi CBM Indonesia sebesar 453 Triliun Cubic
Feef (Tcf) potensial gas in place yang terdapat
pada lapisan batubara pada kedalaman 500-
4500 m.
Selain yang dilakukan oleh ARI, hingga saat ini
belum ada survei terpadu komprehensif lainnya
yang dilakukan untuk menghitung potensi
CBM di seluruh cekungan batubara Indonesia
secara lebih akurat. Survei yang dilakukan ARI
barulah merupakan survei pendahuluan dengan
menggunakan data-data sekunder, sehingga
pembuktian potensi CBM Indonesia dengan
menggunakan data-data primer masih harus
terus dilakukan.
Lemigas bekerjasama dengan CSIRO Australia
telah mulai membuat pilot project sumur
CBM di cekungan Sumatra Selatan. Hasil yang
didapat sejauh ini cukup menggembirakan,
18 W u r L u G e o I o g I . D e s e m b e r z o o 8
Road map pengembangan industri CBM di Indonesia (Sumber Dirjen Migas).
mengindikasikan kehadiran gas methan dalam
lapisan batubara di cekungan Sumatra Selatan
yang cukup potensial.
Pemerintah Indonesia mempunyai perhatian
yang besar dalam pengembangan energi
alternatif termasuk pengembangan CBM. Saat
ini, pemerintah telah menyediakan Peraturan
Pengusahaan Gas Methan dalam batubara.
Bahkan melalui Dirjen Migas, pemerintah telah
mulai melakukan penawaran wilayah kerja gas
methan batubara. Banyaknya aplikasi penawaran
menunjukkan bahwa banyak perusahaan yang
tertarik melakukan investasi dalam pengusahaan
CBM di Indonesia, karena percaya pada
keberadaan CBM potensial di Indonesia, termasuk
diantaranya beberapa perusahaan asing.
Mengacu pada data Dirjen Migas, hingga tahun
ini tercatat 3 perusahaan telah mengantongi ijin
pengusahaan CBM di Indonesia.
Potensi CBM Indonesia
Secara umum, di Indonesia terdapat dua endapan
batubara yang dianggap prospek mengandung
CBM. Endapan batubara berumur Miosen
dianggap sebagai endapan yang paling prospektif.
Walaupun memiliki kualitas yang rendah, tetapi
endapannya sangat tebal berada pada kedalaman
target CBM serta memiliki kandungan abu yang
sangat rendah. Kekurangannya, karena batubara
Miosen masih muda, maka memiliki kandungan
moisture yang tinggi, sehingga kemungkinan
membutuhkan penanganan khusus dalam proses
dewatering ketika ekploitasi CBM nantinya.
Sebaliknya batubara yang berumur Eosen yang
memiliki kualitas yang lebih tinggi dianggap
kurang prospektif untuk pengembangan CBM
karena ketebalan endapannya tipis dan terdapat
pada kedalaman yang sangat dalam. Walaupun
demikian pada beberapa area, batubara jenis ini
kemungkinan juga cukup prospektif mengandung
CBM.
Secara umum, terdapat anggapan bahwa
batubara Indonesia terlalu rendah dan terlalu
dangkal untuk bisa mengandung prospektif
CBM. Tetapi, dengan keberhasilan eksploitasi
CBM batubara peringkat rendah di Powder
River Basin, Amerika Serikat, maka anggapan ini
berhasil dipatahkan. Fakta bahwa batubara pada
kedalaman dangkal yang ditambang secara open
pit di Indonesia memiliki arah jurus yang searah
dengan kedalaman cekungan sehingga menjadi
gas charged pada kedalaman target CBM pada
areal yang luas. Selain itu, juga adanya gas kick
pada beberapa sumur minyak yang menembus
lapisan batubara, membuat para ahli geologi
optimis bahwa CBM yang potensial juga mungkin
terdapat pada batubara peringkat rendah yang
dimiliki Indonesia.

Peranan Badan Geologi
Sesuai dengan tugas dan fungsinya, Badan Geologi
melalui Pusat Sumber Daya Geologi hingga
saat ini banyak melakukan kegiatan eksplorasi
CBM dengan fokus pada pengumpulan data
dasar secara primer serta membangun database
batubara Indonesia yang cukup komprehensif.
Data dasar yang diambil secara langsung ini
sangat diperlukan dalam pengkajian potensi CBM
di suatu daerah secara lebih akurat.
Penghitungan kandungan gas secara langsung
(gas desorption) pada lapisan batubara di
beberapa cekungan pembawa batubara telah
mulai dilakukan semenjak tahun 2002, demikian
juga dengan pengukuran permeabilitas batubara.
Kandungan gas dan permeabilitas adalah data
yang sangat penting untuk diketahui guna
melakukan kajian potensi CBM di suatu area.
Berbagai bentuk workshop dan pelatihan baik
di dalam maupun di luar negeri juga dilakukan
dalam rangka mempersiapkan tenaga ahli
yang kompeten menangani CBM. Hingga saat
ini Indonesia belum memiliki tenaga ahli yang
berpengalaman dalam mengeksplorasi maupun
mengeksploitasi CBM.
Badan Geologi juga mempersiapkan diri dengan
kelengkapan peralatan eksplorasi CBM yang
cukup lengkap. Saat ini Badan Geologi memiliki
satu unit Mobile CBM yang bisa digunakan
untuk melakukan pengukuran kandungan gas
secara langsung di lapangan, disamping alat gas
kromatograf untuk menentukan kandungan gas
dalam batubara.
Penutup
Suatu keinginan jika dipendam bak mimpi di siang
bolong. Untuk mewujudkannya diperlukan kerja
keras. Bumi Pertiwi telah menyediakan sesuatu
yang sangat berharga untuk dipergunakan. Tugas
kita adalah mengeluarkan gas dari kungkungan
G e o l o g i P o p u l e r
1q

Sumber daya CBM di Indonesia berdasarkan hasil survey ARI, 2002, berurutan mulai dari cekungan dengan sumberdaya terbesar
pertama hingga terbesar keempat.
Rank (4 tertinggi) Cekungan Daerah Prospeksi
(km2)
Sumber daya CBM
(Tcf-Triliun Cubic feet)
3.7 Sumatra Selatan 7,350 183
3.1 Barito 6,330 102
3.1 Kutai 6,100 80
3.0 Sumatra Tengah 5,150 53
Semua Cekungan 30,248 453
Sumber daya Batubara Indonesia 2007 (Pusat Sumber Daya Geologi, 2007)
No. PULAU KUALITAS SUMBER DAYA
(Juta Ton)
CADANGAN
(Juta Ton)
KALORI KRITERIA
1. JAWA Rendah sedang < 5100 - 6100 11,24 0,00
Tinggi sangat tinggi 6100 - >7100 2,97 0,00
2. SUMATERA Rendah sedang < 5100 - 6100 51.092,29 11.296,52
Tinggi sangat tinggi 6100 - 7100 1.432,29 525,05
3. KALIMANTAN Rendah sedang < 5100 - 6100 28.530,11 5.285,91
Tinggi sangat tinggi 6100 - 7100 11.937,95 1877,07
4 SULAWESI Rendah sedang < 5100 - 6100 218,42 0,00
Tinggi sangat tinggi 6100 - 7100 14,68 0,00
5 MALUKU Rendah < 5100 2,13 0,00
6 PAPUA Rendah sedang < 5100 - 6100 122,51 0,00
Tinggi sangat tinggi 6100 - 7100 30,91 18.711,55
TOTAL 93.402,51 18.711,55
Peta Lokasi Daerah Pengukuran kandungan gas dalam batubara di Kalimantan
(Sumber: KPP Energi Fosil, Pusat Sumber Daya Geologi, 2007)
GeoIogI PopuIer GeoIogI PopuIer
negeri hitam itu agar kita bangun dari mimpi.
Begitu dia burst out, Insya Allah akan memberikan
pasokan listrik yang berlimpah sehingga kita
tidak akan lagi mendapat giliran pemadaman,
memberikan langit yang lebih biru, jauh dari
polusi, sehingga kita menyediakan lingkungan
yang lebih aman bagi generasi kemudian.n
Penulis adalah Pemerhati dan Pencinta CBM
zo W u r L u G e o I o g I . D e s e m b e r z o o 8
Kaldera
Supervolcano Toba
Oleh: Igan S. Sutawidjaja
G e o l o g i P o p u l e r
K
aldera Toba atau dikenal sebagai Da-
nau Toba di Sumatera Utara, meru-
pakan kaldera terbesar di muka bumi,
berukuran 100 x 30 km
2
. Pembentukan kaldera
tersebut merupakan kejadian terbesar dalam
catatan sejarah geologi. Luas kaldera menempati
area 2.270 km
2
, memanjang arah barat laut-teng-
gara searah jalur gunung api Sumatera. Danau
Toba yang merupakan danau terbesar di Suma-
tera, menempati bagian dalam kaldera dengan
elevasi permukaan air 906 m dan bagian ter-
dalam 530 m. Dinding kaldera umumnya curam
dengan ketinggian antara 400 sampai 1200 m,
puncak topografi tertinggi mencapai 1700 m dari
dasar danau.
zo W u r L u G e o I o g I . D e s e m b e r z o o 8
z1
diikuti runtuhnya dua blok besar, yakni Blok Pulau
Samosir dan Blok Uluan. Beberapa ahli seperti
Westerveld (1947), Verstapen (1961), Aldiss
dan Ghazali (1984), Nishimura (1984), Tjia dan
Kusnaeny (1976) berpendapat bahwa Kaldera
Toba terbentuk oleh satu kali letusan besar, yang
menurut Chesner (1988) terjadi pada 75.000
tahun yang lalu, seiring dengan pembentukan
Gunung Pusuk Bukit (gunung api tipe B) pada
tepi barat kaldera, dan Gunung Tanduk Benua di
ujung utara kaldera.
Volume material yang dilontarkan antara 2500
- 3000 km
3
, 1000 km
3
diantaranya mengisi
bagian dalam kaldera (Rose dan Chesner, 1987).
Material tersebut terdiri atas endapan batuapung,
bongkahannya mencapai diameter 80 cm,
sedangkan bongkahan litik mencapai diameter
50 cm, menempati areal seluas 20.000 km
2
,
sebagian terlaskan menjadi ignimbrit, dengan
ketebalan mencapai 400 m pada dinding kaldera.
Endapan batuapung ini dikenal sebagai Tuf Toba,
tersingkap pada dinding graben Prapat sekitar
Siguragura.
Apabila dibandingkan dengan Tuf Fish Canyon,
San Juan, 3000 km
3
(Steven dan Lipman, 1976)
dan Tuf Huckkleberry Ridge, Yellowstone, 2450
km
3
(Christiansen, 1979), maka volume material
Di dalam kaldera terdapat sebuah pulau yang
dikenal sebagai Pulau Samosir.
Pulau ini mempunyai dimensi 45 km panjang dan
lebar 20 km, memanjang searah dengan bentuk
kaldera. Menurut van Bemmelen (1939), Pulau
Samosir terbentuk bersamaan dengan blok Uluan
yang berada di bagian tenggaranya. Kedua blok
tersebut merupakan dua blok tubuh gunung
api Toba purba yang runtuh setelah terjadi
letusan yang sangat dahsyat. Blok Uluan bukan
merupakan sebuah pulau, karena blok ini menyatu
dengan dinding kaldera di bagian tenggara. Pulau
Samosir pun saat ini hampir menyatu dengan
daratan Sumatera karena surutnya air danau,
hanya dipisahkan oleh sebuah selat selebar 10 m
yang dihubungkan dengan sebuah jembatan di
bagian barat pulau.
Kaldera Toba
Sampai saat ini pembentukan Kaldera Toba masih
dalam perdebatan para ahli geologi, apakah
terbentuk oleh satu kali letusan besar Gunung
Toba atau terjadi beberapa kali letusan yang
diikuti kegiatan tektonik. Van Bemmelen (1939)
menyatakan bahwa kaldera Toba terbentuk
akibat proses vulkanik yang menghasilkan sebuah
kaldera besar yang
GeoIogI PopuIer
Dinding barat Danau Toba dengan P. Pardepur
zz W u r L u G e o I o g I . D e s e m b e r z o o 8

Mata air panas bersuhu 56
o
C mengendapkan silika pada dasar sungai.
Foto: Igan S. Sutawidjaja
letusan Gunung Toba tergolong dalam jumlah
terbesar dari suatu erupsi gunung api dalam
catatan sejarah geologi.
Gunung Pusuk Bukit
Kegiatan pasca-kaldera Toba adalah pembentukan
gunung api Pusuk Bukit, gunung api tipe B,
yang terbentuk pada dinding barat kaldera,
dan menghubungkan antara daratan Sumatera
dengan Pulau Samosir. Leleran lava termuda dari
gunung api ini berkomposisi dasit, warna abu-
abu serta kaya dengan gelas dan kristal.
Kegiatan hidrotermal terdapat pada lereng utara
berupa alterasi batuan dan kegiatan fumarola,
solfatara serta mata air panas. Bagian barat laut
gunung api ini bersentuhan dengan dinding
kaldera yang tersusun dari batuan metasedimen
berkekar radial dan teralterasi hidrotermal yang
mengandung realgar dan sinabar.
Di dalam kaldera, sebelah selatan Samosir dan
Uluan, terdapat singkapan endapan batuapung
berkomposisi dasit, bongkahnya mencapai
diameter 1 meter. Sedangkan di ujung utara
kaldera terbentuk Gunung Tanduk Benua yang
berkomposisi andesit. Endapan vulkanik ini
menutupi endapan Tuf Toba.
Danau Toba kini menjadi primadona para
wisatawan di wilayah Sumatera Utara, baik dari
dalam maupun luar negeri. Bentuk bentang
alam yang menyuguhkan panorama alam dan
keindahan magis bagi para pengunjung, sehingga
apabila memandang keindahan bentang alam ini
tidak menjemukan. Di samping itu, di kawasan
ini sudah dikembangkan semua fasilitas untuk
kesenangan berwisata, seperti pembangunan
hotel-hotel, pengadaan kapal-kapal untuk
menikmati keindahan alam dari atas danau,
dilengkapi suguhan cerita pembentukan danau
menurut versi kebudayaan masyarakat sekitar
Danau Toba.
Balok diagram Kaldera Toba, Pulau Samosir dan kerucut gunung api pasca pembentukan kaldera.
G e o l o g i P o p u l e r


Gunung Pusuk Bukit yang terbentuk di sebelah barat kaldera sebagai pasca
pembentukan kaldera. Foto: Igan S. Sutawidjaja
z

Mata air panas bersuhu 56
o
C mengendapkan silika pada dasar sungai.
Foto: Igan S. Sutawidjaja
GeoIogI PopuIer

Alterasi batuan pada lereng timur laut G. Pusuk Bukit searah dengan dinding kaldera.
Foto: Igan S. Sutawidjaja

Kegiatan hidrotermal pada lereng utara G. Pusuk Bukit diikuti kegiatan fumarola, solfatara dan mata air panas.
Foto: Igan S. Sutawidjaja
zq W u r L u G e o I o g I . D e s e m b e r z o o 8
Keindahan panorama alam Danau Toba yang tidak menjemukan.
Foto: Igan S. Sutawidjaja
G e o l o g i P o p u l e r
Keindahan panorama alam Danau Toba yang tidak menjemukan.
Foto: Igan S. Sutawidjaja
z

Kegiatan fumarola pada dinding dan dasar sungai lereng utara G. Pusukbuhit.
Foto: Igan S. Sutawidjaja
Mata air panas yang muncul pada lereng Gunung
Pusuk Bukit, menambah daya tarik pengunjung
untuk datang dan menikmatinya. Tetapi area ini
belum dikembangkan lebih baik lagi. Beberapa
kolam rendam tampaknya kurang terpelihara,
sehingga para pengunjung pada umumnya hanya
bisa menikmati keindahan pemunculan mata air
panas tersebut.n
Penulis adalah Penyelidik Bumi Madya
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi
BADAN GEOLOGI
GeoIogI PopuIer
z6 W u r L u G e o I o g I . D e s e m b e r z o o 8
D
ahulu kala gunung api ini sangat besar
bentuk fisiknya kemudian tercabik-
cabik oleh letusan besar (violent
eruption) dalam tiga periode yang diperkirakan
mulai berlangsung pada 3500 tahun yang lampau.
Letusan tersebut menghasilkan lobang yang sangat
besar dengan ukuran 19 x 21 km
2
di bagian lantai
dan 22 x 25 km
2
di bagian atas yang kemudian
dikenal dengan Kaldera Ijen (H. Sundoro, 1990).
Di tengah kaldera tersebut terbentuk sebuah danau
kawah yang menjadi pusat kegiatan vulkanik
Gunung Ijen saat ini. Danau kawah tersebut
berukuran 160 x 1160 m
2
di bagian atas (crater
rim) dan 960 x 600 m
2
bagian bawah (danau).
Oleh: SR. Wittiri
1
dan Sri Sumarti
2
Kawah Ijen
Penghasil Belerang Terbesar
L i n t a s a n G e o l o g i
z6 W u r L u G e o I o g I . D e s e m b e r z o o 8
1. Pemerhati Gunung api.
2. Peneliti Geokimia pada BPPTK, pusat Vulkanologi dan mitigasi
Bencana Geologi.
z;
Bernafas dalam lumpur belerang, Sublimasi belerang yang keluar dari ujung pawon
Foto: Sri Sumarti, 2001
Ditengarai air danau ini adalah salah satu yang
paling asam di dunia karena pH (keasaman)-
nya antara nilai nol (tidak terukur) hingga 0,8.
Nilai tersebut bervariasi tergantung pada kondisi
musim hujan atau kemarau. Oleh karena itu
gunung api yang memaku Tanjung Blambangan
di ujung timur Pulau Jawa ini lebih dikenal sebagai
Kawah Ijen.
Kawah Ijen berdiri tidak utuh pada posisi geografi
8
o
03,5 Lintang Selatan dan 114
o
14,5 Bujur
Timur dalam wilayah Kabupaten Banyuwangi dan
Kabupaten Bondowoso, Provinsi Jawa Timur.
Masa kini permasalahan yang mencuat dan
menjadi biang keladi di Gunung Ijen bukan
aktivitas letusannya, tetapi air danau yang sangat
asam yang secara diam-diam menyusup diantara
celah bebatuan dan mengalir jauh hingga ke laut.
Dalam perjalannya menuju ke laut, air abnormal
tersebut melintasi pemukiman penduduk,
persawahan, perkebunan, bahkan pabrik (gula).
Akibatnya yang nyata adalah terjadi pencemaran
InLusun GeoIogI
z8 W u r L u G e o I o g I . D e s e m b e r z o o 8
L i n t a s a n G e o l o g i

Beratnya 90 kg
Memikul belerang dari lantai kawah mendaki tebing dengan kecuraman 60
o

Foto: SR. Wittiri, 2001
lingkungan yang menyebabkan kulit gatal, korosif
pada gigi, tanaman tumbuh tidak sempurna, dan
korosif pada komponen pabrik.
Sudah tentu tidak semata hal yang negatif yang
dijumpai disana. Selain itu ada sisi positif yang
dapat dimanfaatkan untuk kemaslahatan hidup
ummat manusia, belerang misalnya. Bahan
galian ini jumlahnya sangat melimpah dan baru
bisa ditambang sekitar 20%, atau sekitar 14
ton perhari, dari total jumlah yang disediakan
oleh alam. Selain itu, batu gamping (lime stone)
yang menjadi penyanggah dari formasi selang-
seling endapan vulkanik jatuhan dan lava yang
menyusun bebatuan di Ijen menyediakan unsur
kalsium (Ca) yang memungkinkan terbentuknya
gipsum alam akibat bereaksi dengan air kawah
yang mengandung unsur sulfur yang tidak terkira
banyaknya.

Bernafas dalam Lumpur Belerang
Salah satu produk gunung api yang dapat
dimanfaatkan adalah belerang (sulfur). Bahan
galian ini berguna untuk campuran kosmetik,
obat-obatan, pemutih dan sebagainya. Kawah Ijen
adalah gunungapi yang menghasilkan belerang
yang tiada taranya di Indonesia. Informasi dari
pengelola Taman Nasional Alas Purwo, yang
membawahi antara lain kawasan Kawah Ijen,
bahwa sedikitnya 14 ton belerang setiap hari
berhasil ditambang. Sedangkan analisa BPPTK,
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi
menyebutkan bahwa nilai tersebut hanya sekitar
20% dari potensi yang sesungguhnya yang
disediakan oleh alam.
Kendala utama penyebab minimnya hasil yang
diperoleh adalah medan yang sulit dan teknologi.
Penambang menggunakan cara yang sangat
sederhana untuk menangkap belerang. Mereka
Komposisi Kimia Kondensat
Solfatara Kawah Ijen (Mei 2000)
Unsur. ppm
SiO
2
Al
Fe
Ca
Mg
Na
K
Mn
NH
3

SO
4

Cl
22,65
36,24
33,68
44,30
9,20
4,08
6,19
0,56
2.789,19
24.259,86
33.389.26
zq


Kali Banyu Gipsum Pahit
Sepanjang mata memandang yang terlihat hanya gipsum di lantai sungai
Insert, jarum dan stalagtit gypsum
Foto: Sri Sumarti, 2001
InLusun GeoIogI
memasang pipa yang terbuat dari besi (pawon)
berdiameter 16 20 cm. Setiap pipa panjangnya
1 m. agar mudah memasang dan menggantinya
jika rusak. Pipa tersebut dipasang sambung-
menyambung mulai dari tebing atas dimana
titik solfatara yang suhunya mencapai 200
o
C
sekaligus sebagai sumber belerang hingga dasar
tebing yang jauhnya antara 50 - 150 m. Melalui
pipa tersebut gas belerang dialirkan kemudian
tersublimasi di ujung pipa bagian bawah dan
siap ditambang. Apabila salah satu pipa rusak
karena korosif, maka uap belerang tidak mengalir
sempurna dan terlepas ke udara bebas dan tidak
sempat tersublimasi. Kendala lainnya adalah
ketika suhu solfatara naik melampaui 200
o
C,
maka uap belerang tidak sempat tersublimasi
karena terbakar.
Menambang belerang bukanlah pekerjaan yang
mudah. Selain menghadapi medan yang sulit,
juga tidak ada jaminan keselamatan. Bagi orang


Jauh
Sudah jauh perjalanan yang ditempuh, tetapi masih jauh tujuan hari esok.
Pemikul belerang ke tempat penampungan di Lembah Paltuding
Foto: SR. Wittiri, 2001
o W u r L u G e o I o g I . D e s e m b e r z o o 8
Peta Jalur Menyusuri Kali Banyu Gipsum Pahit
Route perjalanan menyusuri Kali Banyu Pahit dari
Dam Kawah Ijen sejauh 3 km. Insert, Danau Kawah Ijen
Sketsa dan foto: SR. Wittiri, 2001
awam berdiri beberapa menit di lokasi sublimasi
belerang akan merasakan pusing dan mual. Para
penambang yang harus bekerja beberapa jam
lamanya setiap hari tanpa masker pelindung
atau semacamnya adalah suatu pilihan yang
dilematis.
Bergelut di lantai Kawah Ijen mengharap beberapa
ribu rupiah sesungguhnya merupakan pilihan
yang terakhir dari semua pekerja tambang. Betapa
tidak, setelah menggelepar bernafas di dalam
lumpur belerang yang amat pekat, bongkah-
bongkah belerang tersebut harus diangkut ke
puncak (rim crater).
Jarak antara dasar dengan bibir kawah 300 m
dengan kemiringan antara 45
o
60
o
kemudian
berlanjut ke tempat penampungan di Lembah
Paltuding yang jaraknya 3 km. Setiap penambang
(pemikul) pada umumnya mengangkut 75 90 kg
belerang dan setiap kilogramnya mereka dibayar
beberapa ratus rupiah. Apabila dikalkulasi, maka
setiap penambang memperoleh bayaran antara
Rp 50.000 75.000 (dua rute) setiap hari setelah
bernafas dalam lumpur belerang tanpa alat
pengaman.
Apabila musim panen menjelang, mereka lebih
memilih ke sawah/kebun meskipun hasilnya lebih
sedikit, tetapi mereka menghirup udara yang
bersih.
Kali Gipsum
Danau Kawah Ijen berukuran 960 x 600 m
2

dengan kedalaman 250 m (1938), sedangkan
hasil pengukuran tahun 1996 adalah 182 m
(Takano, Sumarti,S dkk). Menurut Stehn, 1930,
volume air kawah sebanyak 36 juta m
3
.
Dalam tahun 1995, Delmelle memperkirakan 32
juta m
3
, sedangkan hasil pengukuran Takano dan
Sumarti, S dalam tahun 1996 volumenya lebih
menyusut menjadi 30 juta m
3
.
Ketika volume air masih normal, aliran air kawah
dikontrol oleh dam. Apabila musim hujan
permukaan air akan naik, sehingga dikeluarkan
melalui dam. Sejak volumenya menyusut air
kawah semakin jauh dari dasar dam sehingga
air keluar melalui celah bebatuan. Terakhir kali
air kawah mengalir melalui dam dalam tahun
1976. Dalam tahun 2001 diketahui bahwa tepi
air danau sudah menjauh 8 m dari dasar dam.
Seperti disebut di atas bahwa batuan dasar
Gunung Ijen antara lain adalah batu gamping
(lime stone). Air asam yang mengandung banyak
sulfat kemudian menyusup keluar danau bertemu
L i n t a s a n G e o l o g i
1
dengan gamping dan menghasilkan antara lain
gipsum. Orang kimia menulis gipsum dengan
CaSO
4
, artinya benda tersebut perpaduan
antara unsur karbonar (Ca) dengan sulfat( SO
4
).
Sesungguhnya gipsum kadangkala terbentuk
sebagai anhidrit dan sering keduanya terbentuk
bersama-sama. Dapat diartikan bahwa anhidrit
adalah mineral sekunder yang dihasilkan dari
dehidrasi gipsum.
Bukaan Kawah Ijen condong ke arah barat dan
merupakan hulu Kali Banyu Pahit (sungai yang
airnya pahit). Demikian kental kadar keasamannya
sehingga yang terasa di lidah adalah rasa pahit.
Ketika menyusuri sungai tersebut yang pertama
kali disaksikan adalah hamparan putih memenuhi
permukaan sungai karena airnya hanya sedikit.
Hamparan tersebut adalah endapan gipsum yang
terbentuk secara alamiah selama bertahun-tahun.
Gipsum ada dimana-mana, di lantai sungai,
dinding tebing, atau celah bebatuan. Bentuknya
beraneka, ada yang menyerupai jarum, ada juga
yang bagaikan onggokan bolu kukus merekah.
Terkadang dijumpai menjuntai di dinding tebing
bagaikan stalagtit di goa kapur. Endapan gipsum
terhampar sepanjang 1 km jauhnya sehingga
timbul ide menamainya Kali Gipsum.
Air Asam Terjun
Menyusuri Kali Gipsum Pahit mulai dari mulut
Dam Ijen hingga persimpangan Lembah Paltuding
(Kabupaten Banyuwangi) dengan Bondowoso
hanya berjarak 3 km, tetapi harus ditempuh
selama 5 jam. Petualangan ini mengasyikkan
karena selama perjalanan selain menemukan
jejak si raja rimba di lokasi yang dikenal dengan
Kandang Macan, juga harus berhadapan dengan
sedikitnya 15 air terjun. Ukuran air terjun (beda
tinggi antar tebing) bervariasi antara < 5 m - >
5 m.
Tantangan menjadi ganda karena ketika melewati
setiap air terjun harus menjaga keseimbangan
agar tidak jatuh dan harus menghindarkan diri
agar tidak basah. Masalah basah saja adalah hal
yang lumrah, tetapi basah dengan air asam (acid
water) yang pH-nya antara 0,6 0,8, maka basah
menjadi suatu masalah karena akan menimbulkan
rasa gatal sekujur tubuh.
Bandingkan dengan air yang layak sentuh, pH-
nya minimal 5 dan air layak minum pH antara
6 7. Untuk menaikkan satu satuan pH air
diperlukan perbandingan 1 : 10. Artinya bila satu
liter dengan pH 1 untuk dinaikkan menjadi pH 2,
harus ditambahkan dengan 10 liter air normal (pH
7). Oleh karena itu layak bila air terjun tersebut
diberi nama Air Asam Terjun.
Seperti dikemukakan di atas bahwa biang
masalah di Gunung Ijen bukan karena letusannya
sebagai gunung api, tetapi air danaunya yang
asam yang kemudian mengalir jauh ke bawah
dan mencemari lingkungan.
Apabila dirunut lebih jauh, sepanjang 45 km
air mengalir hingga akhirnya ke laut, pH-nya
tidak pernah normal. Padahal sudah mengalami
pengenceran oleh dua sungai dengan nilai air
normal, masing-masing Sungai Sengon dan
Sungai Sat, serta mata air panas di Blawan
sebelum masuk ke Asembagus di Kabupaten
Bondowoso. Tiba di Asembagus Sungai Banyu
Pahit berubah nama menjadi Sungai Banyu Putih
karena warna airnya keputih-putihan dan keruh
dengan nilai pH 2,5 3.
Apa daya, tidak ada pilihan lain kecuali
memanfaatkan air tersebut untuk mandi, sikat
gigi,cuci, bahkan minum untuk ternak. Akibatnya
gigi mudah keropos, pakaian tidak cemerlang
meskipun dicuci dengan detergen cemerlang.
Tim geokimia dari BPPTK, telah berupaya mencari
jalan keluar atas pertanyaan; dengan cara
bagaimana agar air tersebut menjadi normal?.
Salah satu jawaban yang diperoleh setelah
dilakukan serangkaian percobaan (mulai tahun
2000) di laboratorium BPPTK dan dilapangan
dalam skala kecil. Caranya adalah seonggok
kapur tohor, jumlah dan beratnya diketahui,
dicampur dengan sejumlah air kawah kemudian
diberi perlakuan khusus untuk mempercepat
reaksi. Percobaan tersebut berhasil menghasilkan
air normal dan meninggalkan endapan gypsum.
Sekali mendayung dua pulau diraih, menghasilkan
lingkungan yang bersih dan gipsum. Sangat
disayangkan, percobaan lebih lanjut dalam skala
besar terhenti karena tidak tersedianya dana.
Apapun adanya, BPPTK, Pusat Vulkanologi dan
Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi telah
berupaya dan berhasil, meskipun masih dalam
skala laboratorium.n
InLusun GeoIogI
z W u r L u G e o I o g I . D e s e m b e r z o o 8
S
Setiap hari kita makan, minum,
dan bernafas menghirup udara
yang mengandung mineral untuk
mendapatkan unsur-unsur yang penting bagi
kita, tanpa pernah memikirkan benda apa saja
dari sekeliling kita yang masuk ke dalam tubuh
ini. Bagi sebagian besar masyarakat tentu tidaklah
berbahaya jika berinteraksi dengan bahan-bahan
alami. Bahkan hal demikian bermanfaat untuk
penyediaan nutrisi penting. Namun, untuk
beberapa hal, interaksi kita dengan mineral
dan elemen-elemen tertentu dapat merugikan,
bahkan berefek fatal.
GEOMEDIKA
G e o F a k t a
Oleh: Joko Parwata
Pengaruh Debu Mineral pada Kesehatan
(Bagian 1)
z W u r L u G e o I o g I . D e s e m b e r z o o 8
Geomedika: Ilmu Geologi dan
Kesehatan

Interaksi jenis ini adalah bidang yang dipelajari


dalam geologi medis, suatu cabang ilmu baru
yang relatif cepat berkembang tidak hanya
melibatkan para ahli ilmu kebumian tetapi juga
ahli medis, kesehatan masyarakat, dokter hewan,
pertanian, lingkungan biologi, dan ilmuwan
terkait lainnya. Geomedika merupakan kajian efek
bahan-bahan dan proses geologis pada manusia,
binatang dan tanaman terhadap kesehatan, baik
yang positif maupun negatif.
Dalam arti seluas-luasnya, geomedika mempelajari
hubungan elemen-elemen dan mineral dengan
pernafasan ambient anthropogenic dan debu
mineral gunung api serta emisi, transportasi,
modifikasi dan konsentrasi organik dan hubungan
ke radionuclides, serta mikroba patogen.
Nama disiplin ini mungkin baru, tetapi dampak
bahan geologis pada kesehatan manusia telah
diakui sejak ribuan tahun. Air raksa (Hg) dan
kadmium diukur melalui tingkat pengawetan,
7000 tahun rambut manusia dalam Karluk, Situs
arkeologi Kodiak di Alaska; walaupun implikasi
kesehatan dari data ini sulit untuk ditentukan
karena adanya kemungkinan penambahan atau
degradasi dari waktu ke waktu. Kandungan
partikel jelaga yang terdeteksi di paru-paru
diawetkan pada jaringan Tyrolean, tukang es,
yang sekurang-kurangnya berusia 5.000 tahun.
Orang ini mungkin telah menderita penyakit
pernafasan setelah ia menghirup kristal mineral
kecil, termasuk butir kuarsa.
Hippokrates dan penulis Yunani lain mengakui
bahwa faktor lingkungan memberi kontribusi
terhadap distribusi geografis penyakit manusia
2400 tahun yang lalu. Dan pada 300 SM,
Aristoteles mencatat kejadian keracunan pada
para pekerja tambang. Batu dan mineral juga
telah digunakan selama ribuan tahun lalu untuk
perawatan berbagai penyakit seperti sampar, dan
demam cacar.
Ilmuwan mulai menyelidiki hubungan antara
bahan-bahan geologis, proses medis dan kondisi
sejak 300 tahun lalu. Beberapa dekade lalu,
geologi medis telah menarik perhatian sejumlah
GeoIukLu
Foto dari satelit awan debu Sahara (2000) atas Timur Samudra Atlantik, dilihat dari satelit.
q W u r L u G e o I o g I . D e s e m b e r z o o 8
kalangan di Amerika Serikat dengan munculnya
pendapat beberapa orang yang berpengaruh
bahwa proses-proses geologi memberi dampak
pada epidemiologi. Saat ini melalui kemitraan
antara United States Geological Survey (USGS)
dengan sejumlah Lembaga Ilmu Kesehatan
Lingkungan - dan karena lembaga donor telah
mulai mengakui manfaat penelitian multidisiplin
tersebut - perkembangan bidang ini jadi semakin
maju. Saat ini terdapat banyak kerja sama
penyelidikan antara para ahli kebumian, biomedis,
dan peneliti kesehatan masyarakat di seluruh
dunia, mencakup berbagai masalah geomedis.
Penelitian dan proyek-proyek studi geologi medis
akan berusaha menjelaskan tentang dampak
mineral dan kandungan elemen-elemennya bagi
kesehatan manusia, dan juga menekankan akan
pentingnya peluang para ahli kebumian membuat
kontribusi tambahan untuk masyarakat kita di
dunia ini sangat besar.
Debu Mineral
Debu Mineral adalah istilah untuk atmosfera
aerosol yang berasal dari kumpulan awan mineral
pembentuk tanah, yang terdiri atas berbagai
oksida dan karbonat. Seluruh aktivitas manusia
mengakibatkan terbentuknya 30% debu yang
berada di atmosfer. Gurun Sahara adalah sumber
utama debu mineral, yang kemudian menyebar
melalui laut Mediterania dan Karibia ke utara
Amerika Selatan, Amerika Tengah, Amerika
Utara, dan Eropa. Gurun Gobi juga adalah salah
satu sumber debu di udara, yang menyebar ke
bagian timur Asia Barat dan bagian barat Amerika
Utara.
Karakteristik
Komposisi debu mineral terutama terdiri atas
oksida-oksida (SiO
2
, Al
2
O
3
, FeO, Fe
2
O
3
, CaO, dan
lain-lain) dan karbonat (CaCO
3
, MgCO
3
) yang
serupa dengan komposisi utama kerak bumi.
Debu mineral menghasilkan emisi global yang
diperkirakan berjumlah 100-500 juta ton per
tahun, persentase yang terbesar adalah bagian
yang dikaitkan dengan material berukuran
pasir. Meskipun aerosol kelas ini biasanya
dianggap berasal dari alam, diperkirakan 30%
dari yang ada di atmosfer berasal dari kegiatan
manusia, yaitu melalui kegiatan penggurunan
dan penyalahgunaan lahan. Ukuran konsentrasi
G e o F a k t a

debu yang besar dapat menimbulkan masalah


untuk orang yang memiliki masalah pernafasan,
memaksa mereka untuk tinggal sementara di
dalam rumah akibat penyebaran debu aerosol
di kawasan tersebut. Efek khusus awan debu ini
adalah mempercantik matahari terbenam, akibat
peningkatan jumlah partikel di langit, sehingga
matahari membayang.
Debu Sahara
Sahara merupakan sumber utama mineral
debu di bumi (60-200 juta ton per tahun).
Debu sahara terangkat oleh konveksi sepanjang
kawasan gurun yang panas, dan dapat kemudian
mencapai ketinggian. Dari sana debu ini dapat
diterbangkan oleh angin menyebar ke seluruh
dunia, meliputi jarak ribuan kilometer. Debu yang
bercampur dengan udara panas kering Gurun
Sahara membentuk lapisan atmosfer disebut
lapisan udara Sahara. Lapisan udara ini memberi
pengaruh yang besar pada cuaca tropis, terutama
saat bercampur dalam pembentukan angin
topan.
Perpindahan debu melalui Atlantik, menuju
Karibia, dan Florida dari tahun ke tahun memiliki
variasi yang banyak. Karena pertukaran angin,
konsentrasi mineral debu yang amat besar dapat
ditemukan di laut tropis Atlantik hingga Karibia;
selanjutnya perpindahan ke kawasan Mediterania
serta wilayah Eropa Utara kadang-kadang juga
teramati. Di wilayah Mediterania, debu Sahara
amat penting karena ia merupakan sumber
utama gizi phytoplankton dan organisme akuatik
lainnya.
Namun di lain pihak debu Sahara merupakan
media pembawa jamur Aspergillus sydowii yang
jatuh ke Laut Karibia dan mungkin menginfeksi
penduduk di kepulauan terumbu karang di lautan
tersebut dan menyebabkan penyakit (aspergillosis).
Debu ini juga dikaitkan dengan meningkatnya
kejadian asma pediatrik yang menyerang Karibia.
Sejak 1970, wabah debu telah memburuk karena
periode kekeringan di Afrika. Awan berdebu
telah dikaitkan dengan penurunan kesehatan di
kawasan terumbu karang di Karibia dan Florida,
terutama sejak tahun 1970-an.

Debu Subsaharan berpengaruh pada
frekuensi angin topan
Menurut sebuah artikel NASA, satelit NASA
menunjukkan bahwa efek debu mengerikan
yang merupakan penyebab 1/3 penurunan suhu
di permukaan laut Atlantik Utara antara Juni
2005 dan 2006, mungkin memberi sumbangan
atas perbedaan angin topan yang terjadi antara
dua musim. Hanya terjadi 5 angin topan pada
tahun 2006 dan sementara tahun 2005 terjadi
15 kali.
Diketahui bahwa penyebab utama terjadinya angin
topan adalah suhu air hangat pada permukaan
laut. Satu teori berpendapat bahwa debu dari
gurun Sahara menyebabkan suhu permukaan
menjadi dingin pada tahun 2006 dibandingkan
pada tahun 2005. Bukti menunjukkan bahwa
suhu permukaan menurun sepertiganya karena
debu subsaharan ini.
Debu Asia
Di Asia Timur, debu mineral yang terjadi pada
musim semi di Gurun Gobi (Mongolia Selatan
dan Cina Utara) menimbulkan fenomena yang
disebut debu Asia. Aerosol itu diterbangkan oleh
angin timur, dan menyelimuti Cina, Korea, dan
Jepang. Kadang-kadang konsentrasi debu yang
signifikan dapat menyebar hingga mencapai
Barat Amerika. Area yang terkena debu Asia
mengalami penurunan daya lihat dan masalah-
masalah kesehatan, seperti sakit tenggorokan dan
gangguan pernafasan. Akan tetapi dampak debu
Asia ini tidak selalu negatif, karena perpindahan
debu ini ikut memperkaya tanah dengan mineral
penting. Sebuah studi di Amerika menganalisis
komposisi debu Asia yang mencapai Colorado,
menghubungkan debu ini dengan kehadiran
karbon monoksida, mungkin masuk ke dalam
massa udara saat melalui daerah industri di Asia.
Meskipun badai debu di gurun Gobi telah terjadi
dari waktu ke waktu sepanjang masa, badai debu
ini menjadi masalah di pertengahan abad ke 20
akibat tekanan pertanian yang makin intensif dan
penggurunan.
Debu Mineral dan Kesehatan Manusia
Proyek USGS Mineral Dusts and Human Health
Project (MDHHP), yang berjalan dari tahun
anggaran 2001 hingga 2004, memanfaatkan
pendekatan antar disiplin ilmu (melibatkan
mineralogi, geologi ekonomi, dan ahli isotop
kimia bumi, analisis kimia, geologi kewilayahan
dan toksikologi) untuk membantu memahami
bagaimana karakteristik debu mineral geologis
(dan sumber dari bahan-bahan yang berasal dari
debu) dapat mempengaruhi kesehatan manusia.
Aspek utama proyek adalah integrasi ilmu bumi,
ilmu keahlian kesehatan dan kegiatan manusia.
Ringkasan hasil MDHHP telah publikasikan dan
disertakan di bawah ini.
Proyek ini memiliki fokus utama dalam penelitian
asbes dan debu berserat terkait pertambangan,
pengolahan mineral, dan produk lain. Sejauh ini,
proyek juga berhasil menerapkan pendekatan
melalui kerja sama (bekerja sama seperti yang
sesuai dengan proyek lain USGS) untuk kajian
potensi implikasi kesehatan bahan geologis
seperti: logam-limbah tambang, mill tailing,
dan emisi Smelter; debu kering dari danau
kawah; tanah; abu gunung api; batubara dan
GeoIukLu
6 W u r L u G e o I o g I . D e s e m b e r z o o 8
abu terbang; dan dari bangunan roboh (seperti
ledakan WTC). Kajian mengidentifikasi banyak
topik spektrum besar yang memerlukan bahan
penelitian lebih lanjut untuk meningkatkan
kewaspadaan masyarakat.
Penelitian Dampak Debu Mineral
Proyek ini dimulai secara imparsial untuk
memberikan masukan dalam membantu
masyarakat dan peraturan terkait tentang potensi
efek kesehatan yang berkaitan dengan efek debu
asbes. Di masa lalu, masyarakat dan peraturan
terkait hanya memfokuskan pada keprihatinan
komersial dan dampak industri asbes. Namun,
dalam beberapa tahun terakhir, sebagian besar
masalah adalah akibat yang signifikan pada
kesehatan seperti di Hinderrocks, Montana.
Kekhawatiran telah mengalami peningkatan cukup
signifikan terhadap dampak alami dari asbestos
dan mineral lain berbentuk serabut mineral: a)
sebagai aksesori lain di industri cebakan mineral
(seperti vermikulit), dan b) batuan ultramafik
(batuan ultrabasa mengandung serpentin).
Proyek ini juga memberi gambaran mengenai
sejumlah isu dan manfaat asbes dari berbagai
kepentingan. Diharapkan pula dapat memberikan
informasi yang dapat digunakan untuk
membantu menjawab beberapa dari banyak
pertanyaan yang masih belum terjawab tentang
asbes. Misalnya, masih banyak pertanyaan
tentang bagaimana sebenarnya penyebab racun
asbes, dan apakah untuk non berserat seperti
non-asbestiform yang sama juga dapat memicu
racun. Lebih lanjut, relatif sedikit yang diketahui
mengenai studi geologi lingkungan tentang
dampak mineral serabut, asbes atau mineral,
sejauh mana dapat terjadi anthropogenic secara
alamiah atau gangguan dari sumber-sumber
ini yang memberikan kontribusi untuk tingkat
penyebaran tingkat asbes di udara, dan sejauh
mana latar belakang kontribusi tersebut dapat
memicu penyakit itu sendiri.
Penelitian ini menunjukkan bahwa kerja sama
antar pendekatan yang dikembangkan oleh proyek
untuk mempelajari asbes dapat memberikan
masukan penting dalam bidang kesehatan,
terikat keprihatinan banyak masyarakat terhadap
bahan-bahan di bumi yang dapat memberikan
dampak ke dalam lingkungan. Penelitian ini
juga mengidentifikasi banyak topik dunia yang
memerlukan penelitian besar lebih lanjut untuk
terus mengembangkannya.

Aizuwakamatsu, Jepang di Asia Berdebu pada 2 April 2007.
G e o F a k t a
;
Debu mineral dan Proyek Kesehatan
Manusia (MDHHP)
Asbestos
USGS melakukan studi kelompok mineral berserat
amfibol dan vermikulit di hinderrocks, Montana
(didanai sebagian oleh US EPA dan sebagian oleh
USGS, Program Sumber Daya Mineral) dan telah
memberikan informasi ilmiah kunci yang sedang
digunakan atau akan digunakan untuk membantu
sebagai berikut:
a.Terjadinya dan sejauh mana kontaminasi amfibol
di hinderrocks kontaminasi terhadap ratusan
tanaman di seluruh negara di mana vermikulit
telah diproses dan di sekitar satu juta rumah yang
menggunakan.
b.Panduan upaya perbaikan dari yang sudah
ada.
c.Memahami bagaimana amfibol berserat di
hinderrocks dan secara geologi berupa ebakan
racun yang menciptakan dampak.
Hasil kegiatan langsung USGS akan mempengaruhi
penyebaran atau mendapatkan dukungan yang
berhubungan dengan kegiatan pembersihan
nasional terhadap penyebaran vermikulit.
Proyek penelitian tentang cadangan nasional
vermikulit:
a.Menunjukkan bahwa tidak semua merupakan
cadangan vermikulit dan amfibol, dan karena
itu tidak semua jenis vermikulit seolah-olah
mengandung asbes.
b.Menyediakan metode untuk membantu menilai
apakah contoh vermikulit tertentu adalah dari jenis
cebakan yang kemungkinan berserat amfibol.
Proyek studi geologi dari asbestiform atau
kemungkinan kejadian mineral berserat lainnya
dan beracun:
a.Memberikan model formasi geologis yang
membantu menjelaskan mengapa beberapa jenis
cebakan tidak berisi asbestiform amphiboles dan
sebaliknya.
b.Menunjukkan bahwa terdapat banyak
kemungkinan kondisi geologis untuk asbestiform
atau sumber lain yang mungkin merupakan
mineral beracun/berserat. Sumber tersebut,
baik melalui erosi alam atau anthropogenic,
dapat berkontribusi untuk menyebarkan mineral
berserat di udara, dan harus dipertimbangkan
untuk interpretasi data epidemiologi dan tentang
asbes yang berhubungan dengan penyakit,
serta pengembangan kualitas udara sesuai yang
standar untuk asbes.

Aizuwakamatsu, Jepang, tak berdebu langit nampak dengan jelas.
GeoIukLu
8 W u r L u G e o I o g I . D e s e m b e r z o o 8
Proyek yang sistematis memperbandingkan
mineralogi, geokimia, dan toksikologi, sifat
berbagai asbes terkait standar toksikologi. Hasil
menunjukkan bahwa terdapat cukup variasi sifat
berbeda antara standar yang diberikan mineral
asbes. Studi toksilogi tidak secara rutin mengambil
variasi tersebut, yang dapat membantu
menjelaskan nampaknya bertentangan hasil dari
berbagai studi yang berbeda.
Proyek ini dikembangkan, diuji, dan
menunjukkan utilitas dari AVIRIS (Airborne Visible
Infra Red in Spectrometer) teknik jarak jauh untuk
memetakan terjadinya wilayah yang berpotensi
membentuk mineral asbes. Teknik ini terutama
berharga untuk membantu mengevaluasi tempat
berpotensi asbes bearing rock unit mungkin
terjadi, tetapi area pemetaan terbatas.
Sebagai hasil kegiatan proyek ini, USGS
menanggapi banyak permintaan untuk ahli
geologi untuk memberikan informasi dan mineral
pada asbes:
a.Permintaan dari Amerika yang berkenaan untuk
menulis ringkasan mineralogi asbes untuk direvisi
kriteria dalam menilai asbes yang terkait dengan
penyakit.
b.Permintaan untuk berpartisipasi dalam kerja
sama Antar Kelompok Kerja Asbestos. Kelompok
Kerja ini adalah saat ini diisi dengan penilaian
asbes-masalah terkait, dan bagaimana isu-isu
ini dapat ditangani oleh lembaga berdasarkan
peraturan, suara sains, masukan dari lembaga
ilmu pengetahuan seperti USGS.
c.Beberapa pertanyaan lain oleh lembaga Federal,
lembaga negara, industri, dan masyarakat umum
untuk informasi ilmiah pada asbes-masalah
terkait.
d.Sebuah permintaan formal untuk sebuah proyek
ilmuwan untuk bertindak sebagai saksi ahli dalam
proses pengadilan terkait dengan asbestos.
e.Sebuah permintaan formal untuk sebuah proyek
ilmuwan untuk melayani sebagai ahli anggota
komite yang mengawasi kegiatan dari Angkatan
Laut dan penyakit paru-paru.
World Trade Center
Berdasarkan pekerjaan yang dilakukan oleh USGS
MDHHP. US EPA dan layanan kesehatan umum,
di hari segera setelah 9-11, minta bantuan USGS
untuk menilai jumlah dan tata ruang distribusi
asbes dalam debu akibat jatuhnya menara
World Trade Center (WTC). Tanggap darurat
ini merupakan upaya yang dilakukan oleh para
ilmuwan MDHHP, dan memanfaatkan penuh
campuran analisis untuk mempelajari asbes dan
yang lainnya adalah debu yang berkaitan dengan
masalah kesehatan.
Dikumpulkan lebih dari 35 contoh dan
mengembalikan sampel ke laboratorium untuk
analisis di Denver.
AVIRIS dari Ground Zero menunjukkan lokasi
pembakaran hot spot di reruntuhan.
Merilis temuan awal pada 27 September
2001, untuk tanggap darurat berbagai pihak.
USGS memberikan awal dan rinci (dalam hal
jenis analisis dan jumlah sampel yang dianalisis)
ringkasan dari debu mineralogi, komposisi kimia,
dan reaktivitas geokimia.
Hasilnya adalah kesimpulan asbes amfibol ini
cenderung tidak hadir/sangat rendah di tingkat
debunya. Namun, hasil menunjukkan adanya
chrysotile asbes di tingkat sekitar 1-2%.
Memberikan langkah awal dari kimiawi reaktif,
sifat alkalinya. Studi ini juga memberikan wawasan
ke dalam proses yang mungkin terjadinya interaksi
kimiawi dengan air.
Studi ini menunjukkan bahwa ada peran yang
tepat untuk sebuah lembaga ilmu pengetahuan
alam seperti USGS di situasi tanggap darurat yang
melibatkan bahan/mineral-mineral penyusun
bumi.
Studi dan proyek terkait lainnya telah bekerja
menghasilkan permintaan formal untuk sebuah
proyek ilmuwan untuk menjadi anggota dari
World Trade Center Expert Panel Review Technical
yang ditetapkan oleh EPA dalam konsultasi
dengan White House pada Kualitas Lingkungan.
Peran USGS di World Trade Center tidak akan
mungkin terjadi tanpa jenis keahlian yang
dikembangkan melalui penelitian bertahun-tahun
dan dari pelbagai macam kegiatan proyek.

Karakterisasi non-asbestiform dusts dan sumber
USGS - MDHHP, bekerjasama dengan para
ilmuwan USGS pada proyek-proyek lainnya,
telah melakukan penyelidikan studi lainnya pada
atmosfer. Penelitian ini menunjukkan bahwa
antar pendekatan yang sama digunakan untuk
asbes dapat berhasil diterapkan untuk membantu
memahami bagaimana kimia mineralogi dan
karakteristik debu dan bahan sumber dapat
mempengaruhi kesehatan manusia.
Proyek ini mengintegrasikan mineralogi dan
reaktivitas geokimia, dan pencirian bahan
racun bumi untuk mengevaluasi peran partikel
mineralogi dan reaktivitas menjadi racun.
Misalnya, debu dari Danau Owens yang terkenal
tinggi arsenic. Bekerja dalam kerja sama dengan
USGS Southwest Dusts proyek menunjukkan
bahwa arsenic yang diperkirakan akan cukup
bioaccessible, dan bahwa debu tersebut juga
G e o F a k t a
q
berisi bioaccessible lain berpotensi beracun,
unsur-unsur seperti khrom.
MDHHP, awal hasil studi characterizing abu
gunung berapi telah mengarah ke sebuah
undangan untuk sebuah proyek ilmuwan
untuk melayani sebagai ahli anggota yang baru
dibentuknya Jaringan Internasional Kesehatan
Gunung api. (Bersambung) n
Diterjemahkan dan diolah oleh: Joko Parwata
GeoIukLu
qo W u r L u G e o I o g I . D e s e m b e r z o o 8

Alfred Russel Wallaces
8 Januari 1823 - 7 November 1913
Pendahuluan
Antara tahun 1854-1865 seorang naturalis
asal Inggris, Alfred Russel Wallace, menjelajah
ke sejumlah pulau di Nusantara. Dalam
petualangannya tersebut, Wallace sangat
takjub menyaksikan surga keanekaragaman
hayati yang tiada bandingannya. Dalam
kurun waktu tersebut dia berhasil menemukan
dan mendokumentasikan sebanyak 125.000
spesimen flora dan fauna di kawasan Sulawesi,
Nusa Tenggara, dan Maluku. Selain itu, Wallace
juga memperkenalkan suatu garis pemisah yang
dikenal dengan Garis Wallace (Wallace Line) yang
unik membentang sepanjang 5.000 km di antara
kawasan Oriental dan Australia-Papua dengan
bentuk busur yang terdiri atas 13.500 pulau.
Tahun 1863 dalam sebuah makalah berjudul On
the physical geography of the Malay Archipelago
- Journal of Royal Geographical Society no. 33,
G e o F a k t a
Alfred Russel Wallace
Lahirnya Ilmu Biogeografs
Wallace menarik garis pembatas fauna Indonesia
Barat dan Indonesia Timur dari sebelah timur
Filipina, masuk ke Selat Makassar lalu berakhir
di sebelah selatan Selat Lombok. Garis itulah
yang kemudian disebut para ahli sebagaiGaris
Wallace.
Garis Wallacea adalah suatu garis imajiner
yang memanjang dari Filipina di utara hingga
Selat Makassar dan Selat Lombok di selatan.
Selain itu, juga memisahkan Pulau Sumatera,
Jawa, dan Kalimantan di sebelah barat dengan
Pulau Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara, dan
Papua di sebelah timur. Keragaman hewan dan
tumbuhan di bagian timur dan barat Indonesia
sangat berbeda. Kedua wilayah ini terpisah oleh
batas alam yang tegas, itulah Garis Wallacea,
yang secara tegas memisahkan Sulawesi, Nusa
Tenggara, Maluku dan Irian dengan Sumatera,
Kalimantan, Jawa dan Bali. Kedua daerah tersebut
berbeda secara biogeografis.
q1
Hertford Grammar School (from a watercolour by Eliza Dobinson c. 1815).
GeoIukLu
Bukti Geologi
Para geologist sepakat bahwa Pulau Sulawesi
merupakan wilayah pertemuan sekaligus
perbatasan antara provinsi-provinsi geologi.
Sulawesi bagian barat adalah milik Sundaland,
bahkan wilayah Teluk Tomini Cekungan Gorontalo-
adalah berciri Sundaland yang mengambil posisi
di tengah Indonesia yang dipisahkan oleh Selat
Makassar. Bagian tengah Sulawesi yang disusun
oleh massa batuan metamorfik dan ofiolit oleh
proses pertemuan provinsi-provinsi geologi.
Sedangkan bagian paling timur Sulawesi yaitu,
Sulawesi Tenggara-Buton dan Banggai Sula
adalah segmen massa benua asal Australia
yang berpindah ke tempatnya sekarang oleh
percabangan Sesar Sula-Sorong. Pemisahan oleh
Selat Makassar terjadi pada Paleogen, sementara
pertemuan dengan segmen-segmen massa
benua Australia terjadi pada Neogen. Pemisahan
dan pertemuan massa-massa kerak batuan ini
tentu ada penumpangnya, yaitu flora dan fauna
yang juga telah hadir sejak lama di atasnya, ikut
berevolusi sampai ke bentuknya sekarang. Maka,
kalau di Sulawesi bertemu berbagai provinsi
geologi, maka di Sulawesi bertemu juga berbagai
zone biogeografi flora dan fauna.
Sejak tahun 1858 Wallace telah menyadari
perubahan-perubahan geologi yang terjadi
di wilayah Indonesia bagian tengah yang
implikasinya terhadap penyebaran fauna. Wallace,
menulis sebaris kalimat kepada Henry Bates, I
believe the western part to be a separated portion
of continental Asia, the eastern the fragmentary
prolongation of a former Pacific continent. Ini
adalah awal dari Ilmu Biogeografi yang lahir di
Indonesia,
The Collegiate School in Leicester.
qz W u r L u G e o I o g I . D e s e m b e r z o o 8
Pada 1847, surat ini untuk Bates, Wallace menyebutkan ia tertarik di evolusi: -
Saya mulai agak merasa puas dengan hanya koleksi lokal; sedikit harus belajar
lagi. Seperti saya harus menghadapi satu keluarga untuk belajar dengan teliti,
terutamanya dengan tampilan ke teori asal spesies. Copyright Wallace Family,
The Natural History Museum, Fred Edwards
G e o F a k t a
Ini merupakan pembuktian tidak langsung atas
teori tektonik lempeng, yaitu permukaan bumi
yang kini berusia sekitar 6 miliar tahun itu terus
saja berubah. Ada proses formasi dan deformasi.
Berdasarkan sejarah geologi, Indonesia merupakan
negara yang amat kompleks karena memiliki
tingkat endemisme tertinggi di dunia antara lain
memiliki keragaman jenis padang tertinggi (lebih
dari 12 jenis), wilayah hutan bakau yang luas, dan
tutupan terumbu karang yang juga amat luas
(lebih dari 75,000 km
2
) sebagai surga kehidupan
keanekaragaman hayati laut.
Sekitar 200 juta tahun lalu, kawasan Indonesia
Timur bergandengan dengan kontinen/lempeng
Australia yang kemudian bergerak mendekati
kontinen Asia, lalu akhirnya menghuni sebuah
habitat di daerah tropik basah yang bersebelahan
dengan daerah Indonesia bagian barat saat ini.
Wallace mengemukakan pandangannya bahwa
kepulauan Indonesia dihuni oleh dua fauna yang
berbeda, satu di bagian timur dan yang lainnya di
bagian barat. Wilayah ini ditentukan atas dasar
pembagian jenis burung dengan menempatkan
batasnya antara Lombok dan Bali serta antara
Kalimantan dan Sulawesi.
Kalimantan dan Sulawesi memiliki burung yang
berbeda, padahal tidak terpisahkan oleh perintang
fisik atau iklim yang berarti. Wallace berpendapat
bahwa Kalimantan, Jawa dan Sumatera pernah
merupakan bagian Asia dan Timor, Maluku, Irian
serta Sulawesi merupakan bagian benua Pasifik
Australia.
Fauna Sulawesi tampak demikian khas, sehingga
diduga Sulawesi itu pernah bersambung baik
dengan benua Asia maupun benua Pasifik
Australia. Pada hasil pengujian hewan pada pulau
besar di kepulauan, ini menunjukkan Sulawesi
merupakan daerah yang mempunyai jumlah
spesies yang rendah dan terisolasi. Misalnya,
jumlah mamalia dan burung burung yang langka
lebih dari setengah spesies ditemukan di daratan
Sulawesi. Hasil dari perbandingan ini, bahwa
meskipun Sulawesi merupakan satu pulau besar
dengan hanya beberapa kelompok kecil yang
berdekatan, namun harus diingat ini merupakan
satu bentuk dari divisi besar dalam kepulauan
yang sama pada tingkat dan kepentingan untuk
kelompok Filipina atau Maluku sepenuhnya, pulau
Papua atau pulau Indomalaya (Jawa, Sumatera,
Borneo dan Semenanjung Malaya).
Siapa Penemu Teori Evolusi?
Pada 8 Januari 1865, dari Ternate, Maluku Utara
Alfred Russel Wallace menulis surat tentang
temuannya yang ia catat dan dikirimkan kepada
Charles Darwin di Inggris, disertai tulisan
ilmiahnya yang berjudul On the Tendency of
Varieties to Depart Indefinitely from the Original
Type, yang berisi kecenderungan proses seleksi
alam atau suatu teori fenomenal di tingkat
dunia yang dikenal oleh para ilmuan dan peneliti
Indonesia sebagai cikal-bakal tersusunnya teori
evolusi makhluk hidup. Surat berharga tersebut
dikenal dengan Letter From Ternate. Surat dari
Alfred Wallace kepada Charles Darwin tersebut
menggemparkan para peserta Pertemuan Ilmiah
Himpunan Linnaeus karena semua ilmuwan
Wallaces Golden Birdwing Butterfy (Ornithoptera croesus). Copyright The
Natural History Museum, London.
q
Medallion in Westminster Abbey. Marchant (1916).
Istri Wallace Annie. Copyright Peter Raby.
GeoIukLu
menjadi bimbang: siapa sebenarnya penemu
Teori Evolusi, apakah Wallace ataukah Darwin?
Ada satu pendapat yang menarik yang
mungkindapat dijadikan landasan sebagai
jawaban atas pertanyaan tersebut di atas; Alfred
Russel Wallace adalah seorang naturalis sejari
yang banyak melakukan perjalanan ke berbagai
tempat. Semua temuannya disampaikannya
kepada para sahabatnya, antara lain kepada
Charles Darwin yang menetap di Inggeris. Charles
Darwin-lah yang kemudian mempublikasikan
sebagian temuan tersebut karena dia memiliki
banyak kesempatan dibanding dengan Wallace.
Lebih Dekat Dengan Wallace
Nama lengkapnya adalah Alfred Russel Wallace
dilahirkan pada 8 Januari 1823 di Kensington
Cottage dekat Usk, Monmouthshire, Inggris
(sekarang bagian dari Wales). Dia adalah anak
kedelapan dari sembilan bersaudara, ayahnya
bernama William Wallace dan ibunya Greenells.
Wallace kecil hanya mengenyam pendidikan
formal hingga pendidikan menengah kemudian
harus keluar sekolah karena orangtuanya tidak
sanggup membiayainya karena perusahaannya
jatuh bangkut. Kondisi itulah memaksanya untuk
melamar pekerjaan sebagai penyusunan materi
survei pada sebuah sekolah dan dari situlah dia
banyak membaca.
Perkenalannya dengan seorang pemuda naturalis
amatir, Henry Walter Bates, membawanya
mengenal ilmu serangga. Pada akhir 1847 atau
awal 1848 Wallace, yang terinspirasi oleh WH.
Edward dalam bukunya yang berjudul A Voyage
Up the River. Bersama sahabatnya Bates, Wallace
memulai petualangan pertamanya di Sungai
Amazon, Brazil untuk mengumpulkan spesimen
dari serangga, burung dan hewan. n Joko
Parwata
qq W u r L u G e o I o g I . D e s e m b e r z o o 8
P R O F I L
Sri Sumarti
Berhasil Membuktikan bahwa Wanita
Indonesia Siap Bersaing dan Menang
Profil WG edisi ini adalah seorang wanita yang
menyelesaikan pendidikan sarjana kimianya di
Universitas Gajah Mada dan kemudian mendapat
gelar Master Geokimia di Utrecht University Be-
landa, serta memilih bekerja di gunung api. Mbak
Sri, demikian panggilan akrab untuk Sri Sumarti,
saat ini memegang posisi penting, yaitu Kepala
Seksi Gunung Merapi pada Balai Penyelidikan
dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian
(BPPTK) Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana
Geologi (PVMBG) Badan Geologi.
Saya mendapat kesempatan dan tantangan baru
untuk belajar ilmu kimia yang berhubungan den-
gan ilmu kebumian (geokimia) dan saya bertekad
harus berhasil, jawabnya saat ditanya WG ten-
tang alasannya memilih bekerja di gunung api.
...Bekerja dalam satu tim tidak boleh ada
isu gender.
Setiap orang, siapa pun dia,
dalam tim harus
bekerja maksimal dan
saling mendukung
agar pekerjaan berhasil...
q
q6 W u r L u G e o I o g I . D e s e m b e r z o o 8
Belajar Geokimia
Masalah yang tidak mudah bagi seorang maha-
siswa tingkat akhir adalah menemukan dosen
pembimbing dan menentukan judul Tugas Akhir
(skripsi). Persoalan tersebut juga menimpa Mbak
Sri. Meskipun pada akhirnya menemukan seorang
dosen pembimbing, tetapi dia dihadapkan pada
pilihan yang sulit karena diminta meneliti masalah
geologi yang berkaitan dengan ilmu kimia. Inilah
awal perkenalan Mbak Sri dengan Geokimia dan
Gunung Api.
Selain Mbak Sri, beberapa mahasiswa lain ditawari
ikut meneliti masalah tersebut, tetapi hanya em-
pat orang yang berminat. Mereka berempat sa-
dar bahwa tugas akhir jenis ini termasuk ke dalam
kategori pekerjaan berat dan gila karena peneli-
tiannya memerlukan waktu yang lama. Langkah
pertama yang kami lakukan adalah mengunjungi
laboratorium BPPTK, dahulu namanya masih Seksi
Gunung Merapi.
Kunjungan kami ini kemudian menghasilkan ker-
ja sama antara Fakultas MIPA Universitas Gajah
Mada dengan Seksi Gunung Merapi Direktorat
Vulkanologi, ungkap Mbak Sri.
Dari beberapa kali pertemuan dan diskusi,
akhirnya Mbak Sri dan rekan-rekannya sepakat
dibimbing oleh tiga orang, yaitu dua pembimbing
berasal dari Universitas Gajah Mada dan satunya
lagi adalah seorang ahli geokimia, yaitu Kepala
Seksi Gunung Merapi. Atas petunjuk pembim-
bing ketiga itulah obyek penelitian dilakukan di
Gunung Merapi dengan mengambil sampel lava
di Kali Kuning.
Problem is (look like) never ending. Begitulah
kira-kira yang terjadi pada mereka. Pertama kali
datang ke lapangan muncul masalah yang pelik.
Bagaimana cara mengambil batu keras (lava) tan-
pa melibatkan benda logam untuk menghindari
kontaminasi. Setelah putar otak dan berupaya
selama berminggu-minggu, akhirnya mereka
berhasil memperoleh sampel lava sebanyak 100
kg. Masalah berikutnya adalah bagaimana meng-
gerus benda keras dengan jumlah yang banyak
tersebut hingga menjadi bubuk (powder) dengan
seminimal mungkin menggunakan benda logam.
Ini membuat kami gila tujuh keliling, katanya
menjelaskan kondisi saat itu.
Pepatah mengatakan orang yang tidak pernah
jatuh tidak akan pernah bangkit, begitu pula
yang terjadi kepada Mbak Sri dan rekan-rekan-
nya. Setelah tersandung berkali-kali, kami
berempat sepakat tidak boleh mundur hingga
selesai, ujarnya. Selama tujuh bulan lamanya
masalah gerus-menggerus batu keras terus di-
P R O F I L
lakukan. Akhirnya Tugas Akhir pun mereka se-
lesaikan dengan baik setelah melalui tiga tahun
lamanya bekerja siang dan malam.
Jatuh cinta pada gunung api
Dengan berbekal pengalaman gerus-meng-
gerus batu, selesai kuliah di Gajah Mada, Mbak
Sri mencoba mengadu nasib di Jakarta dengan
bekerja sebagai tenaga quality control di salah
satu perusahaan swasta yang bergerak di bidang
pertambangan. Setelah setahun lamanya bekerja,
pada suatu hari sepulang kerja secara kebetulan
ia melewati kerumunan orang di depan Kantor
Direktorat Jenderal Geologi dan Sumber Daya
Mineral. Dengan didorong rasa ingin tahu, Mbak
Sri mampir. Ternyata ada pengumuman peneri-
maan pegawai negeri. Kenangan lama bekerja
di Gunung Merapi terbayang kembali dan hal itu
mendorongnya ikut mengajukan lamaran.
Singkat kata, Mbak Sri diterima dan secara keb-
etulan ditempatkan di Seksi Gunung Merapi, Yo-
gyakarta. Terlintas dalam benak saya ketika itu
bahwa saya kembali kepangkuan kampung hala-
man dan menemui cinta pertamaku, Merapi,
katanya.
Tahun 1990 adalah tahun pertama langkahnya
sebagai pegawai negeri. Kepada WG Mbak Sri
bertutur, bahwa dulu terdapat perbedaan yang
sangat mencolok antara pegawai swasta dengan
pegawai negeri. Sebagai pegawai swasta target
pekerjaan jelas dan terprogram, sedangkan pega-
wai negeri harus bisa menciptakan pekerjaan agar
tidak menganggur sebagai pegawai. Paling tidak
itu yang saya rasakan pada hari-hari pertama seb-
agai pegawai negeri, katanya.
Rasa nasionalis saya dilukai
Pada tahun 1994 Pusat Vulkanologi dan Mitigasi
Bencana Geologi (dahulu bernama Direktorat Vul-
kanologi dan dunia internasional mengenalnya
dengan Volcanological Survey of Indonesia dis-
ingkat VSI) menjalin kerja sama dengan bebera-
pa negara, antara lain Jepang, Rusia, dan Perancis
untuk melakukan penelitian di Gunung Ijen.
Proyek internasional tersebut bertujuan untuk
melakukan pengukuran batimetri dasar danau
kawah Gunung Ijen sekaligus sampling air. Tim
beranggotakan tujuh orang dibentuk. Mereka
adalah empat orang dari Jepang (negara pengga-
gas), satu orang dari Rusia, satu dari Perancis, dan
satu orang dari Indonesia. Wakil dari Indonesia
adalah Mbak Sri.
Pada hari pertama pertemuan semua anggota
tim berujar dengan nada protes dan sinis, Kena-
pa VSI memilih orang berbadan kecil dan wanita,
apa yang dapat dia lakukan?
q;
Profl
Saya merasa ini pelecehan gender dan rasa na-
sionalis saya dilukai. Tetapi saya tidak bisa berbuat
apapun dan merasa terpojokkan. Dalam batin
saya, saya berjanji akan membuktikan bahwa
wanita Indonesia bisa diandalkan, kata Mbak
Sri.
Mbak Sri menuturkan selanjutnya, Kawah Ijen
dikenal sebagai danau dengan kondisi air yang
sangat asam pada tingkat keasaman (pH) antara
0-0,8. Danau kawah ini merupakan yang paling
asam di dunia. Saat tiba di lapangan, hal pertama
yang harus diselesaikan adalah membuat rakit
bambu sebagai penyanggah perahu karet. Target
pembuatan rakit ini ditentukan dua hari. Berkat
pendekatan Mbak Sri kepada para penambang
belerang di Kawah Ijen, waktu pembuatan rakit
dapat diselesaikan dalam waktu kurang dari satu
hari. Semua anggota tim terperangah dan kagum
atas prestasi ini. Mereka bertanya bagaimana
bisa? Saya katakan kepada mereka, simpan
uang kalian dan tebarkan senyum dan kalian
akan memperoleh rasa simpati. Siapa pun akan
dengan rela membantu tanpa pamrih, itu yang
disebut gotong royong. Ini Indonesia, Bung.
Dengan keberhasilan tersebut Mbak Sri mendapat-
kan pengakuan pertamanya dari rekan-rekan satu
tim. Dengan peristiwa itu pula semua anggota
tim kini mengenal istilah gotong royong.
Menurut penuturan Sri Sumarti kepada WG,
bekerja di danau kawah Ijen pasti berhadapan
dengan risiko yang sangat besar. Oleh karena itu
semua anggota tim membungkus badannya
dengan plastik kecuali wajah. Perlakuan tersebut
perlu dilakukan sebagai proteksi diri agar tidak
terkena air asam (acid water).
Setelah bergelut dengan segala risiko selama dua
minggu di tengah danau air asam proyek inter-
nasional tersebut akhirnya selesai dengan baik.
Untuk pertama kalinya selama dua minggu Mbak
Sri menemukan cermin, betapa kaget, seluruh ku-
lit wajahnya terkelupas bagaikan terbakar api. Itu
akibat penguapan gas sulfur yang sangat tajam,
padahal setiap hari seluruh kulit dilumuri dengan
cream. Saya histeris dan menangis, kenang
Mbak Sri.
Mengetahui hal tersebut, Pimpinan Vulkanologi
memberi izin istirahat tanpa batas waktu ke-
pada Mbak Sri. Dengan konsultasi yang intensif
dengan ahli kulit, setelah tiga bulan kerusakan
kulit wajahnya berangsur-angsur membaik.
Ketika WG menanyakan apa yang diperoleh dari
proyek tersebut. Sri Sumarti mengatakan bahwa
ia mendapatkan pengakuan intenasional dengan
diundang melakukan riset dan analisis bersama di
laboratorium geokimia di Jepang. Sebagai wanita
Anak Bangsa, hal tersebut sangat membang-
gakan karena tidak setiap orang bisa meraihnya.
q8 W u r L u G e o I o g I . D e s e m b e r z o o 8
P R O F I L
qq
...Selama diberi wak-
tu, kesempatan, dan
kesehatan dari Tuhan,
maka semua tantangan
harus dicoba. Kalau
tidak, setiap orang
tidak pernah dapat
menilai diri...
Saya berhasil membuktikan bahwa wanita Indo-
nesia siap bersaing dan menang, katanya.
Diserang Awanwedhus gembel Panas Merapi
Peristiwa yang sangat menakutkan jika Merapi
meletus adalah awan panas guguran. Gulungan
bebatuan bercampur dengan gas yang panasnya
mencapai 700
o
C tersebut sangat mematikan. Se-
lain wujudnya sangat panas, juga bergerak san-
gat cepat menuruni lereng.
Tahun 1994 saat aktivitas vulkanik Gunung Mera-
pi mulai meningkat, Merapi dinyatakan dalam
status waspada. Dalam kondisi tersebut Mbak
Sri diminta bergabung dalam petualangan ke
puncak Merapi bersama beberapa ahli berbagai
disiplin ilmu para vulkanolog Indonesia.
Umumnya status kondisi waspada pada setiap
gunung api belum mempunyai konsekuensi anca-
man yang berarti. Tetapi apa daya, sesampainya
di puncak, kegiatan Merapi berubah sangat cepat
dan tiba-tiba terjadi ledakan yang diikuti oleh
awan panas yang menggulung. Meskipun awan
panas tersebut mengalir ke lereng, tetapi debu-
nya terdorong angin ke atas hingga mencapai
puncak. Seluruh anggota tim panik dan mencari
perlindungan. Beruntung ketua tim dapat men-
enangkan seluruh anggota dan mereka berhasil
kembali dengan selamat.
Kejadian tersebut merupakan pengalaman yang
tidak terlupakan dan memberi pelajaran yang
sangat berharga bagi perjalanan karir saya, ke-
nang Mbak Sri.
Penelitian dan makalah ilmiah
Mbak Sri adalah pegawai yang sering diajak
melakukan kerja sama penelitian di bidang geo-
kimia. Beberapa kesempatan tergabung menjadi
anggota tim penulis bersama seperti dengan M.
J. van Bergen, J. C. M. de Hoog, B. J. H. van Os, R.
M. A. C. Dam, J. C. Varekamp, B. Takano, B. J. H.
van Os and M. J. Leng, Alain Bernard, K. Suzuki,
K. Sugimori, T. Ohba, S. M. Fazlullin, A. Bernard,
S. M. Hirabayashi.
Keaktifannya dalam menulis ilmiah telah men-
gantarkan Mbak Sri mengunjungi beberapa
negara untuk mengikuti beberapa pertemuan in-
ternasional seperti pertemuan IAVCEI tahun 1993
di Canbera, dan 2003 di Nikaragua dan Kosta
Rika. Tahun 1997 Kanagawa Jepang, tahun 2001
mengikuti AGU Fall Meeting di San Fransisco,
dan Annual Meeting 2002 di London.
Mbak Sri masih menyempatkan waktu untuk
menelaah makalah ilmiah yang dikelola oleh
Jurnal Geologi Indonesia, Badan Geologi. Wa-
lau Jarak antara Yogyakarta, tempat ngantornya,
dengan Bandung cukup jauh, tak ada halangan
bagi Mbak Sri untuk menelaah beberapa makalah
dengan memanfaatkan teknologi Internet.
Di sela-sela kesibukannya mengurus Gunung
Merapi, saat ini Mbak Sri Sumarti sedang mer-
ampungkan program doktornya dalam bidang
Geokimia di Utrecht University, Belanda. Semoga
semangat Mbak Sri sebagai seorang geologis
wanita dapat lebih menumbuhkan semangat
bekerja bagi para insan muda geologis.n
SR Wittiri
Profl
o W u r L u G e o I o g I . D e s e m b e r z o o 8
Dalam meningkatkan usaha mitigasi, berbagai
hal telah dilakukan baik melalui peningkatan
kapasitas teknis maupun non teknis (ketahanan
masyarakat). Dengan diterbitkannya Hyogo
Framework tahun 2005 pada konferensi tingkat
dunia tentang Pengurangan Risiko di Kobe,
Hyogo, Jepang tahun 2005, dan Undang-
Undang Penanggulangan Bencana no 2007
beserta turunannya (PP 21, 23 dan Perpres no
8 tahun 2008) menunjukkan bahwa masalah
bencana bukan hanya menyangkut kepentingan
nasional Indonesia, tetapi sudah menjadi masalah
internasional. Semakin seringnya kejadian
bencana yang terjadi di Indonesia maupun di
negara-negara lain menyebabkan kebutuhan
kerjasama internasional dalam penanggulangan
bencana menjadi sangat penting.
Berdasarkan Hyogo Framework, strategi dan
pendekatan untuk mengurangi kerentanan dan
risiko bencana adalah dengan meningkatkan
ketahanan nasional dan masyarakat melalui
pengenalan kelemahan dan tantangan dalam
mitigasi bencana. Salah satu usaha peningkatan
mitigasi bencana adalah dengan berbagi
ilmu pengetahuan dan teknologi melalui
penyelenggaraan workshop. Pada tanggal 1-4
Desember 2008 telah diselenggarakan workshop
di Auditorium Geologi, Badan Geologi, Jalan
Diponegoro 57 Bandung. Workshop tersebut
mengambil tema Asian International Symposium
on Modelling of Volcanic Eruption for Volcanic
Hazard Assessment. Workshop tersebut
diselenggarakan atas kerjasama Badan Geologi
dengan Unit pelaksana teknis Pusat Vulkanologi
dan Mitigasi Bencana Geologi dengan University
of Kyoto, University of Tokyo dan Japan Society
for the Promotion of Science (JSPS), Jepang.
Workshop dihadiri oleh 10 negara, yaitu Jepang,
Belgia, Perancis, Amerika, Italia, New Zealand,
Singapura, Philipina, dan Papua Nugini serta
tuan rumah Indonesia. Peserta workshop
berjumlah 130 orang. Dalam workshop tersebut
dipresentasikan 30 makalah oral dan 21 presentasi
poster. Tujuh diantara poster tersebut merupakan
poster yang membahas hasil kerjasama yang telah
dilakukan. Makalah yang dipresentasikan meliputi
hasil monitoring, modeling, pengembangan
metoda, penelitian tentang gunung api,
dan hasil penyelidikan lapangan. Workshop
Asian Symposium of Modeling of Volcanic
Eruption for Volcanic Hazard Assessment
S e p u t a r G e o l o g i
Workshop menampilkan 30 presentasi oral yang ditampilkan selama 2 hari.
1
ini bertujuan untuk melakukan evaluasi dari
kerjasama yang telah dan sedang dilakukan
antara Indonesia dengan negara-negara tersebut
dalam mitigasi bencana gunung api. Kerjasama
dilaksanakan dalam bentuk peningkatan
peralatan pemantauan, pengembangan metoda
pemantauan, dan penelitian tentang gunung
api termasuk pemahaman tentang mekanisme/
proses yang terjadi dalam tubuh gunung api.
Materi workshop secara umum terbagi menjadi
dua, yaitu diskusi tentang masalah gunung api
dalam bentuk sesion presentasi selama 2 hari
dan fieldtrip ke Gunung Kelud dan sekitarnya,
serta kunjungan Lapangan Lumpur di Sidoarjo,
di Jawa Timur selama dua hari. Salah satu dari
tujuan workshop ini adalah untuk peningkatan
kapasitas keahlian individu maupun institusi
dalam pengembangan keilmuan, teknologi dan
metoda untuk melakukan evaluasi terhadap
bencana, kerentanan dan dampak bencana. Oleh
karena itu, workshop tersebut juga merupakan
sarana untuk berbagi teknologi, hasil penelitian
dan juga untuk berbagi pengalaman dalam upaya
mengurangi risiko bencana. Hasil dari evaluasi
pengurangan risiko dan kerentanan serta dampak
bencana diharapkan dapat menjadi masukan
dalam pengambilan keputusan dan perencanaan
tata ruang terutama di daerah padat penduduk
yang berpotensi terkena bencana.
Peserta workshop sebagian besar merupakan ahli
yang berpengalaman dalam menangani bencana
gunung api. Oleh karena itu, berbagi pengalaman
dalam menangani letusan merupakan bekal dalam
memahami karakter gunung api yang berbeda
baik dari sifatnya maupun dari masyarakat yang
tinggal di sekitar gunung api yang bersangkutan.
Sebagai bagian dari sistem penyebaran informasi,
workshop tersebut juga membahas tentang
kelanjutan dan pengembangan kerjasama antar
negara-negara yang hadir dalam workshop.
Selanjutnya, pada akhir sesion presentasi,
workshop ditutup dengan diskusi tentang
kerjasama yang menghasilkan Bandung Accord.
Kerjasama ini menangani masalah monitoring dan
kemungkinan training bagi tenaga ahli anggota
Bandung Accord. Dalam rapat kerjasama tersebut
juga diajukan oleh peserta dari United State
Geological Survey (USGS) langkah-langkah untuk
mengurangi risiko terhadap letusan gunung
api oleh negara-negara yang berada pada jalur
sabuk gunung api di daerah Pasifik dengan
meningkatkan sistem pemantauan, evaluasi
bencana, peningkatan sistem komunikasi, dan
data base serta penemuan baru maupun hasil
penelitian. Komitmen dari kelompok negara-
negara tersebut disebut Bandung Accord, masing-
masing negara akan bertukar pengetahuan dan
pengalaman yang bertujuan untuk meningkatkan
SepuLur GeoIogI
Workshop dibuka oleh Kepala Badan Geologi, Dr R. Sukhyar yang mewakili
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Dr Purnomo Yosgiantoro.
Secara keseluruhan, workshop diikuti oleh 150 peserta dari 9 negara.
z W u r L u G e o I o g I . D e s e m b e r z o o 8
Evaluasi hasil kerjasama dan rencana pengembangan ke depan didiskusikan pada akhir workshop. Diskusi tersebut
menghasilkan Bandung Accord yang mengemukakan langkah-langkah untuk mengurangi risiko terhadap letusan
gunungapi oleh negara-negara yang berada pada jalur sabuk gunungapi di daerah Pasifk dengan meningkatkan
sistim pemantauan, evaluasi bencana, peningkatan sistim komunikasi, dan data base serta penemuan baru maupun
hasil penelitian.
Peserta workshop mengikuti feldtrip ke G. Kelud di Desa Margomulyo, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri,
Jawa Timur. Dalam gambar tampak peserta mengamati kubah G. Kelud yang terbentuk pada akhir fase letusan
Gunung Kelud November 2007.
Sejumlah 35 peserta workshop mengikuti feldtrip ke G. Kelud dan Lapangan Lumpur, Sidoarjo, di Jawa Timur.
Peserta berpose di depan Pos Pengamatan Gunung Kelud di Desa Margomulyo, Kecamatan Ngancar, Kabupaten
Kediri, Jawa Timur.

kapasitas masyarakat baik melalui pendekatan


terhadap masyarakat maupun metoda yang
dapat diterapkan di negara-negara anggotanya.

Pada akhirnya, semua hasil riset baik berupa
pengembangan metoda pemantauan maupun
proses pemahaman gunung api adalah sebagai
usaha mitigasi untuk pengurangan risiko. Usaha
untuk meminimalkan risiko tersebut juga dilakukan
dengan mengurangi kerentanan masyarakat yang
terancam bencana.
Dalam kaitannya antara bencana dengan tata
ruang wilayah disebutkan dalam penjelasan
umum pada UU no 24 tahun 2007 bahwa karena
Negara Kesatuan Republik Indonesia berada
pada kawasan rawan bencana maka diperlukan
penataan ruang yang berbasis mitigasi bencana.
Selain itu, dalam menjalankan fungsi sebagai
pusat pelayanan sosial ekonomi dan pertumbuhan
wilayah maka diperlukan ruang evakuasi bencana
(pasal 28 butir c). Sedangkan dalam UU no 24 2007
pasal 42, ayat 1 disebutkan bahwa pelaksanaan
dan penegakan rencana tata ruang dilakukan
dengan pengaturan tata ruang sesuai standar
keselamatan dan penerapan sanksi terhadap
pelanggar. Oleh karena itu, hasil dari workshop
ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan
pertimbangan yang perlu dimasukkan dalam
program perencanaan tata ruang di daerah yang
berpotensi terancam bahaya letusan gunung api
maupun dalam upaya meningkatkan ketahanan
masyarakat yang tinggal di daerah bahaya.n
(Supriyati Dwi Andreastuti)
SepuLur GeoIogI
Masjid terendam luapan lumpur, di Desa Siring, Kecamatan Porong, Kabupaten
Sidoarjo, Jawa Timur.
Peserta workshop mengikuti feldtrip ke Gunung Kelud di Desa Margomulyo, Ke-
camatan Ngancar, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Dalam gambar tampak peserta
mengamati kubah G. Kelud yang terbentuk pada akhir fase letusan Gunung Kelud
November 2007.
Dua puluh satu presentasi poster ditampilkan dalam workshop, 7 diantaranya
merupakan poster kerjasama.
q W u r L u G e o I o g I . D e s e m b e r z o o 8
Pelantikan Pejabat Eselon III dan IV
di Lingkungan Badan Geologi Departemen
Energi dan Sumber Daya Mineral
S e p u t a r G e o l o g i
Bertempat di Auditorium Geologi, pada hari
Selasa 23 September 2008, Kepala Badan
Geologi melantik dan mengambil sumpah para
Pejabat Eselon III dan IV di lingkungan Badan
Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya
Mineral. Pengangkatan 3 orang Pejabat Eselon
III dan 7 orang Pejabat Eselon IV di lingkungan
Badan Geologi ini tertuang dalam Keputusan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral No.
238 K/73/MEM/2008 tanggal 11 September
2008. Pelantikan ini merupakan pergantian
rutin bagi para pejabat struktural di lingkungan
Badan Geologi dalam rangka penyegaran SDM
yang diharapkan dapat membantu dalam
kelancaran penyelenggaraan tugas dan fungsi
masing-masing unit. Pergantian pejabat ini juga
merupakan rotasi, baik itu merupakan promosi
No. Nama Jabatan Lama Jabatan Baru
1. Drs.Bambang Sucipto, Kasubag Kekayaan Negara pada
Set. Badan Geologi
Kepala Bagian Kepegawaian pada
Sekretariat Badan Geologi
2. Ir. Suhari, M.Sc Kabid Program dan Kerja Sama
pada Pusat Lingkungan Geologi
Kabag TU pada Pusat Lingkungan
Geologi
3. Ir. Rudy Suhendar, M.Sc Kasubid Program dan Kerja Sama
pada Pusat Lingkungan Geologi
Kabid Programdan Kerja Sama pada
Pusat Lingkungan Geologi
Berikut nama-nama pejabat Eselon III dan IV
yang dilantik:
Tingkat Eselon III

maupun mutasi biasa karena adanya pegawai


yang purna bakti.n
(a. gurning)
No. Nama Jabatan Lama Jabatan Baru
1. Drs.Bambang Sucipto, Kasubag Kekayaan Negara pada Set.
Badan Geologi
Kepala Bagian Kepegawaian
pada Sekretariat Badan
Geologi
2. Dra. Sri Purwanti Kasubag Pembinaan Jabatan Fung-
sional pada Sekretariat Badan
Geologi
Kasubag Pengembangan Pega-
wai pada Sekretariat Badan
Geologi
3. Titin Siti Fatimah, S.Sos Penatausaha BMN pada Sekretariat
Badan Geologi
Kasubag Pembinaan Jabatan
Fungsional Badan Geologi
4. Ir. Agus Solihin Penyelidik Bumi pada Pusat Vul-
kanologi dan Mitigasi Bencana
Geologi
Kasubid Evaluasi Bencana-
Geologi pada PusatVulkanolo-
gi dan Mitigasi Bencana Ge-
ologi
5. Dr. Muhammad Wafid
AN, M.Sc
Kasubid Kerjasama pada Pusat
Lingkungan Geologi
Kasubid Program pada Pusat
Lingkungan Geologi.
6. Ir. Muhammad Rum Budi
Susilo, M.T
Penyelidik Hidrogeologi pada Pusat
Lingkungan Geologi
Kasubid Kerja sama pada Pu-
sat Lingkungan Geologi
7. Dra. Evina Widyantini Pengelola Dokumentasi dan Pustaka
pada Pusat Lingkungan Geologi
Kasubid Penyediaan Informasi
pada Pusat Lingkungan Ge-
ologi
Tingkat Eselon IV
SepuLur GeoIogI
6 W u r L u G e o I o g I . D e s e m b e r z o o 8
Jurnal Geologi Indonesia (JGI) dalam
melaksanakan salah satu kegiatan Badan Geologi
di bidang penyebarluasan informasi guna
peningkatan penelitian dan pelayanan bidang
geologi, pada 1013 November 2008 melakukan
kunjungan ke Institut Teknologi Medan (ITM)
dan Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi
Sumatera Utara. Kunjungan ke Sumatera Utara
tersebut bersamaan dengan diselenggarakannya
rapat pembahasan makalah Jurnal Geologi
Indonesia untuk penerbitan Desember 2008 yang
dilaksanakan di Prapat Sumatera Utara.
Tim JGI yang dipimpin oleh Dr. Nana Suwarna
disambut oleh Dekan Fakultas Teknologi
Mineral beserta jajarannya berjumlah 12 orang.
Dalam pertemuan tersebut Dr. Nana Suwarna
menyampaikan bahwa JGI sudah terakreditasi
oleh LIPI, sekaligus mengajak para fungsional di
Institut Teknologi Medan ikut menyumbangkan
makalah ilmiahnya di JGI. Untuk memberi
rangsangan kepada para penulis JGI menyediakan
insentif bagi penulis yang makalahnya dimuat.
Selain itu Dr. Nana Suwarna dengan timnya
berusaha membimbing dan membina para
penulis pemula. Setelah menyampaikan paparan
tentang JGI, Dr. Nana Suwarna memperkenalkan
Forum Komunikasi Editor Jurnal Kebumian yang
disingkat Forkom yakni suatu forum komunikasi
yang bertujuan ikut meningkatkan mutu makalah
ilmiah serta menghindari terjadinya plagiarism
dan duplikasi makalah yang diterbitkan pada
jurnal kebumian. Untuk itu pengurus Forkom
mengajak Dewan Redaksi yang ada di ITM untuk
masuk dan bergabung di dalam Forkom.
Setelah diskusi tentang Jurnal dan perkembangan
geologi dalam kesempatan itu Ir. Priatna
menyampaikan, bahwa selain Jurnal Geologi,
Badan Geologi juga mengelola penerbitan Warta
Geologi (WG) yang menampung tulisan geologi
populer. Sama halnya seperti JGI, WG pun
menerima tulisan dari luar Badan Geologi dan
Kunjugan Tim JGI ke Sumatera Utara
S e p u t a r G e o l o g i
Tim JGI berfoto bersama Dekan dan Para Dosen Fakultas Teknologi Mineral Instirut Teknologi Medan
;
Pertemuan dengan Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Sumatera Utara
Pembahasan Makalah JGI
Penyerahan Jurnal Geologi dan Warta Geologi Dari Badan Geologi kepada
Fakultas Teknologi Mineral ITM
bagi tulisan yang dimuat, disediakan insentif bagi
para penulisnya.
Dekan Fakultas Teknologi Mineral beserta
jajarannya menyambut positif atas acara tersebut,
setelah pertemuan tim Jurnal Geologi Indonesia
berfoto bersama Dekan dan para dosen di depan
gedung ITM.
Hari ke dua dan ke tiga tim Jurnal mengadakan
pertemuan Dewan Redaksi di Prapat Danau Toba
untuk membahas 6 makalah yang akan diterbitkan
pada Volume 3 nomor 4 Bulan Desember 2008.
Hari terakhir tim Jurnal melakukan kunjungan ke
Medan untuk mengunjungi Dinas Pertambangan
dan Energi Provinsi Sumatera Utara. Dalam
kesempatan tersebut Kepala Dinas menjanjikan
akan mengajak para insan Geologi di Kota
Medan untuk aktif menulis makalah ilmiah dan
dipublikasikan pada jurnal kebumian seperti
Jurnal Geologi Indonesia. Selain itu Kepala Dinas
juga akan meminta para ahli geologi asing yang
bekerja di perusahaan asing di Sumatera Utara
untuk menyumbangkan penelitian ilmiahnya
menulis di jurnal kebumian.n (Rian Koswara)
SepuLur GeoIogI
8 W u r L u G e o I o g I . D e s e m b e r z o o 8
Dalam rangka pelaksanaan salah satu tupoksin-
nya, yaitu meningkatkan pengungkapan potensi
sumber daya geologi di Indonesia, Badan Geologi
melakukan berbagai upaya, salah satunya dalam
bentuk kerja sama penelitian. Kerja sama ini di-
lakukan baik dengan counterpart dalam maupun
luar negeri.
Pada tanggal 3-4 Desember 200, bertempat di
Hotel Sheraton Yogyakarta, Badan Geologi me-
nyelenggarakan acara simposium kerja sama in-
ternasional dalam bidang sumber daya geologi.
Simposium ini mengundang pembicara para
counterpart asing yang saat ini tengah memiliki
kerjasama ataupun yang akan memiliki kerjasama
dalam bidang sumber daya geologi. Simposium
ini diselenggarakan disamping untuk memantau
kemajuan kerja juga untuk mendapatkan ber-
bagai saran dan masukan untuk perbaikan ker-
jasama internasional ke depan.

Acara dibuka oleh Kepala Badan Geologi, Dr R.
Sukhyar dan dihadiri oleh sekitar 60 orang peser-
ta yang berasal dari lingkungan Departemen
Energi dan Sumber Daya Mineral, Departemen
Luar Negeri serta Departemen Hukum dan HAM.
Disamping para counterpart asing, pembicara
pada simposium ini juga berasal dari Biro Peren-
canaan dan Kerjasama DESDM yang memberikan
materi tentang kerja sama LN di MESDM serta as-
pek teknisnya, serta pembicara dari Departemen
Luar Negeri yang memberikan makalah tentang
aspek hukum dan perundang-undangan kerja
sama LN di Republik Indonesia.
Saat ini, di Badan Geologi, tercatat sebanyak
delapan kerja sama luar negeri baik yang sudah
dan sedang berlangsung maupun yang masih
berada dalam tahap penjajagan. Sesuai dengan
tantangan yang dihadapi pemerintah Indonesia
untuk mencari energi alternatif pengganti minyak
dan gas bumi konvensional, saat ini kerjasama
internasional yang dilakukan oleh Badan Geologi
banyak dititikberatkan pada joint studi dalam bi-
dang energi.
Kerja sama Luar Negeri, Upaya
Meningkatkan Eksplorasi Sumber Daya
Geologi Indonesia
S e p u t a r G e o l o g i
q
Dalam bidang mineral, kerja sama penelitian di-
lakukan dengan KIGAM Korea dan BRGM Peran-
cis. Sedangkan dalam bidang energi, yaitu minyak
bumi, panas bumi, batubara, bitumen padat dan
CBM, kerja sama dilakukan dengan KNOC Korea,
CSIRO Australia, NEDO Jepang serta BRGM Per-
ancis. Masih dalam tahap penjajagan kerja sama
dengan Malaysia akan difokuskan pada inventari-
sasi sumber daya geologi di daerah perbatasan
Indonesia - Malaysia di Pulau Kalimantan.
Sedangkan dengan China Geological Survey,
penjajagan kerja sama dilakukan untuk eksplorasi
mineral. Penjajagan kerja sama juga dilakukan
dengan JICA Jepang, yaitu dalam pengemba-
ngan pembangkit listrik tenaga panas bumi di
Indonesia. Salah satu kerja sama luar negeri yang
telah diselesaikan adalah joint studi antara PMG
dan NEDO dalam mengevaluasi sumberdaya dan
cadangan batubara Indonesia.
Kerja sama ini berhasil mengungkapkan potensi
sumber daya batubara Indonesia yang berada
dibawah kedalaman 100m dengan lebih akurat.
Kerja sama dengan KIGAM Korea sementara ini
berhasil meningkatkan pengetahuan para ahli
sumberdaya geologi Indonesia dalam bidang
GIS.
Bersama KNOC, para ahli Pusat Sumber Daya
Geologi melakukan kerja sama dalam mencari
daerah prospek hidrokarbon di cekungan Suma-
tra Tengah, sementara kerja sama dengan CSIRO
difokuskan pada joint studi untuk melihat potensi
oil shale dan juga CBM di cekungan Ombilin.
Pengungkapan potensi panas bumi pada daerah
non volcanic, penelitian potensi nikel laterit serta
penelitian bitumen padat di Buton dilakukan den-
gan melakukan kerja sama dengan BRGM.
Kedepan diharapkan semua kerja sama luar neg-
eri bisa menghasilkan output yang sangat baik
bagi pengembangan eksplorasi sumber daya
geologi di Indonesia, disamping meningkatkan
kemampuan para personil dan juga laboratorium
pendukung yang dimiliki Badan Geologi. Dengan
kerja sama ini, diharapkan salah satu misi Badan
Geologi untuk menjadi instansi terdepan dalam
menyediakan kebutuhan data dan informasi sum-
ber daya geologi di Indonesia, bisa segera ter-
wujud.
SepuLur GeoIogI
6o W u r L u G e o I o g I . D e s e m b e r z o o 8
S e p u t a r G e o l o g i
Pada tanggal 12 13 November 2008, selama
2 hari Museum Geologi menyelenggarakan
penyuluhan geologi kepada guru geografi se-
Kabupaten Pacitan dengan agenda penyuluhan
geologi dan ekskursi, serta pameran museum
geologi.
Kabupaten Pacitan merupakan salah satu wilayah
di Propinsi Jawa Timur yang secara geografis
terletak antara 7055 8017 Ls dan 1100
1110 25BT dengan luas daerah 1.389,87 km2.
Di sebelah Barat berbatasan dengan Kabupatan
Wonogiri, di sebelah Utara berbatasan dengan
Kabupaten Ponorogo, di sebelah timur berbatasan
dengan Kabupaten Trenggalek dan di sebelah
Selatan berbatasan dengan Samudra Indonesia.
Mengapa dipilih Kabupaten Pacitan sebagai daerah
tujuan penyuluhan Museum Geologi?Kondisi
topografi Kabupatan Pacitan terdiri atas daerah
pantai, dataran rendah dan perbukitan. Kondisi
tersebut membawa konsekuensi diantaranya
munculnya keberagaman potensi geologi
baik itu potensi yang positif (keanekaragaman
potensi sumber daya alam & warisan geologi)
maupun potensi geologi negatif (potensi
bahaya/resiko bencana geologi), selain itu pula
muncul keanekragaman perilaku masyarakat
sejak zaman purba hingga sekarang, terbukti
dengan banyaknya ditemukan bukti arkeologi di
Kabupaten Pacitan.
Berdasarkan hal tersebut, maka kabupaten
ini sangat menarik untuk lebih digali serta
diinformasikan kepada masyarakat sekitar
tentang kayanya potensi geologi daerah mereka
serta untuk menyadarkan masyarakat sekitar akan
pentingnya menjaga lingkungan alam sekitar
dimana mereka tinggal sehingga mereka dapat
lebih menjaga lingkungannya secara arif dan
bijaksana.
Penyuluhan Geologi untuk Guru-Guru
Geograf Se-Kabupaten Pacitan,
Jawa Timur
Pelaksanaan penyuluhan geologi untuk guru-guru geograf se-Kabupaten pacitan. Tampak antusias para peserta dalam mendengarkan
paparan para pembicara.
61
Kegiatan Ekskursi (kuliah lapangan) yang diikuti guru-guru geograf tingkat SMP dan SMA se-Kabupaten Pacitan serta praktisi dengan tujuan untuk melihat
dan mengenal fenomena alam dan sejarah kehidupan di Kabupaten Pacitan.
SepuLur GeoIogI
Penyuluhan Geologi dan Ekskursi
Penyuluhan dilaksanakan pada tanggal 12
November 2008 dengan meyajikan 5 pembicara
dari berbagai pakar bidang keilmuan baik geologi,
geo-arkeologi, geo-kars, serta pemda Kabupaten
Pacitan dalam rangka mensosialisasikan potensi
geologi yang terdapat di Kabupaten Pacitan.
Materi penyuluhan dan pembicara adalah sebagai
berikut :
1. Mengenal Geologi Umum: Konsep dasar
pemahaman ilmu kebumian (geologi) dan
perkembangannya oleh Ir. S.R. Sinung Baskoro,
M.Si.
2. Bencana (Alam) Geologi dan Mitigasi:
Kebencanaan geologi dalam konteks perlindungan
dan kesejahteraan masyarakat oleh Adang
Hendarsyah, ST.
3. Potensi Sumberdaya Alam Kars Di Indonesia
dan Pengelolaannya oleh Ir. Hanang Samodra,
M.Si.
4. Geoarkelogi Daerah Pacitan dan Sekitarnya
oleh Mohammad Ruli Fauzi, S.Hum.
5. Potensi Geologi Daerah Pacitan (Ir. Lan Naria
Hutagalung, M. Aks)
Peserta yang mengikuti acara penyuluhan dan
ekskursi sebanyak 125 orang dengan komposisi
85 % guru guru geografi, 10 % pegawai pemda
instansi terkait, serta 5 % praktisi/pemandu
wisata se-Kabupaten Pacitan. Suatu hal yang
tidak diduga, bahwa dalam sesi diskusi, guru dan
khususnya praktisi sangat aktif bertanya kepada
narasumber tentang pemaparan narasumber
tersebut sehingga pada sesi diskusi menyita waktu
yang panjang. Hal tersebut menunjukan bahwa
animo dari kalangan dunia pendidik sangat besar
dalam mengetahui alam dan lingkungan Pacitan
pada khususnya sebagai tempat mereka tinggal.
Ekskursi dilaksanakan pada tanggal 13 November
2005 dengan mengunjungi berbagai warisan
geologi yang terdapat di Kabupaten Pacitan
seperti: Pantai Watu Karung dan sekitarnya,
Laboratorium Arkeologi Punung, dan Gua Song
Terus. Kegiatan ini diikuti guru-guru geografi
tingkat SMP dan SMA se-Kabupaten Pacitan
serta praktisi dengan tujuan untuk melihat dan
mengenal fenomena alam dan sejarah kehidupan
di Kabupaten Pacitan.
6z W u r L u G e o I o g I . D e s e m b e r z o o 8
Kegiatan pameran museum geologi di Kabupaten pacitan. Pengunjung pameran didominasi dari kalangan pelajar baik siswa dari Taman
kanak-kanak hingga siswa sekolah Menengah Atas (SMA) yang secara berombongan berdatangan untuk melihat pameran tersebut
sehingga membuat kewalahan pemandu pameran yang memberikan penjelasan kepada pengunjung.
Rute perjalanan dalam kegiatan Ekskursi adalah
Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan -
Pantai Watu Karung dan sekitarnya Laboratorium
Arkeologi Punung Gua Song Terus Dinas
Pendidikan Kabupaten Pacitan. Peserta tampak
tidak terlihat lelah di teriknya matahari siang
itu serta perjalanan yang melelahkan namun
rasa penasaran dan keingintahuan dari peserta
tentang temuan dan bukti-bukti proses geologi
Kabupaten Pacitan membuat peserta bersemangat
dalam mengikuti kegiatan tersebut. Di akhir
kegiatan, acara ditutup dengan pengarahan
oleh Kepala Museum Geologi serta foto bersama
antara peserta, panitia, dan pembicara. Kegiatan
ini sangat baik karena merupakan sumbangsih
transfer ilmu dari Museum Geologi kepada
masyarakat pendidikan khususnya di Kabupaten
Pacitan.
Pameran Museum Geologi
Kegiatan pemeran Museum geologi
diselenggarakan selama dua hari mulai tanggal
12 13 November 2008 yang diperuntukan
untuk masyarakat umum.
Dalam pameran tersebut panitia menampilkan
beberapa koleksi museum geologi serta beberapa
poster dengan beraneka tema mulai dari
pengenalan Museum Geologi, Proses terbentuknya
bumi (secara geologi), manfaat geologi bagi
kehidupan manusia, serta potensi bahaya/resiko
geologi. Pameran tersebut diselenggarakan di
halaman Dinas Pendidikan Kabupaten Pacitan.
Selama pameran Museum Geologi ini berlangsung
penuh dipadati pengunjung dari pagi hingga
sore hari. Pengunjung pameran didominasi dari
kalangan pelajar baik siswa dari Taman kanak-
kanak hingga siswa sekolah Menengah Atas
(SMA) yang secara berombongan berdatangan
untuk melihat pameran tersebut sehingga
membuat kewalahan pemandu pameran yang
memberikan penjelasan kepada pengunjung.
Diperkirakan pengunjung pameran sebanyak
1000 orang selama 2 hari penyelenggaraan
pameran tersebut.
Hal tersebut menunjukan pula bahwa animo dari
kalangan dunia pendidikan terutama kalangan
pelajar sangat besar dalam mengetahui alam
dan lingkungan Pacitan pada khususnya sebagai
tempat mereka tinggal.
Penutup
Berdasarkan hasil wawancara dan questioner yang
dilaksanakan menunjukan bahwa para peserta
6
menyambut baik kegiatan yang diselenggarakan
tersebut mengingat kurangnya informasi kepada
peserta tentang perkembangan ilmu kebumian
saat ini serta potensi geologi baik berupa potensi
positif maupun negatif (bencana alam geologi)
yang dimiliki oleh Kabupaten Pacitan dengan
harapan acara tersebut dapat menjadi agenda
untuk masa yang akan datang.
Selain itu, para peserta yang sebagian besar
adalah guru-guru geografi diharapkan dapat
mentransferkan ilmunya/pengetahuanya yang
didapat kepada anak didiknya sehingga dapat
lebih memperkaya pengetahuan siswa sehingga
dapat lebih mengenal lingkungan serta menjaga
lingkungan dengan baik dimana mereka tinggal.
Dengan diselenggarakannya rangkaian kegiatan
tersebut diharapkan UPT. Museum Geologi dapat
meningkatkan mutu dan kualitasnya dalam
menjalankan tugas dan fungsinya terutama
dalam rangka mengembangkan ilmu kebumian
serta sebagai pusat informasi yang menjembatani
antara para peneliti dan masyarakat luas tentang
perkembangan ilmu kebumian di Indonesia.n
Mamur dan Sofyan Suwardi (Ivan)
SepuLur GeoIogI
6q W u r L u G e o I o g I . D e s e m b e r z o o 8
Pada penghujung tahun 2008 tepatnya tanggal
2 Desember, Badan Geologi, Departemen Energi
dan Sumber Daya Mineral telah melaksanakan
hajatan besar, yaitu Launching Peta dan Seminar
Gaya Berat Indonesia - 2008. Acara tersebut
dilaksanakan di lantai 10 Aula Gedung Sekretariat
Jenderal Departemen Energi dan Sumber Daya
Mineral, Jalan Medan Merdeka Selatan No.18
Jakarta*.
Launching Peta dan Seminar Gaya Berat
Indonesia tersebut dihadiri oleh seluruh pejabat
di lingkungan kementrian ESDM dan instansi
terkait, undangan dari BUMN dan swasta lainnya,
serta para pakar dan ahli dari Perguruan tinggi.
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Energi dan
Sumber Daya Mineral menyatakan rasa bangga
dan sukacitanya yang sangat dalam, karena
dengan terselesaikannya Peta Gaya Berat, maka
Bangsa Indonesia telah memiliki modal dasar
utama yang sangat penting baik bagi keperluan
perkembangan ilmu kebumian ataupun dalam
upaya menemukan cekungan-cekungan
sedimentasi baru bagi pencarian serta penemuan
sumber daya energi di masa mendatang.
Disebutkannya pula bahwa keberhasilan dalam
menyelesaikan Peta Gaya Berat Indonesia tersebut
terlaksana atas berkat kerja keras putra-putri
terbaik Bangsa Indonesia khususnya tenaga ahli
dari Badan Geologi, Departemen Energi dan
Sumber Daya Mineral.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
menegaskan bahwa tantangan berat Bangsa
Indonesia di masa yang akan datang adalah
dalam menghadapi isu global, yaitu krisis
energi, khususnya minyak dan gasbumi. Namun
demikian, dengan telah tersedianya Peta Anomali
Gata Berat seluruh Kepulauan Indonesia, muncul
harapan besar bahwa melalui analisis terpadu
antara peta tersebut dengan peta-peta lainnya,
maka krisis energi dapat diantisipasi dengan
ditemukannya cekungan-cekungan baru minyak
dan gasbumi yang potensial.
Dengan terbitnya Peta Anomali Gaya Berat
dan Peta Geologi seluruh Wilayah Kepulauan
Indonesia, maka lengkaplah sudah Badan
Geologi, khususnya Pusat Survei Geologi
menyelesaikan salah satu tugasnya dalam
melaksanakan pemetaan bersistem di daratan
Kepulauan Indonesia. Tantangan ke depan yang
perlu diantisipasi dengan segera adalah aplikasi
dari peta-peta tersebut dalam rangka pencarian
dan penemuan sumber daya mineral dan energi
yang semakin berkurang.
Launching Peta dan Seminar Gaya
Berat Indonesia
S e p u t a r G e o l o g i
6

Prasasti Peta Anomali Bouguer (Gaya Berat) Indonesia
SepuLur GeoIogI
Kepulauan Indonesia yang secara tektonik global
sangat dipengaruhi oleh pertemuan tiga lempeng
benua (triple junction) telah terbukti memiliki
lebih dari 60 cekungan sedimentasi, baik yang
terdapat di belakang ataupun depan busur.
Oleh karena itu aplikasi dari peta gaya berat
dibantu dengan data lainnya yaitu permukaan
dan bawah permukaan sangat memungkinkan
bisa mendelianasi cekungan yang prospek dan
berpotensi terdapatnya kandungan hidrokarbon.
Sejarah ringkas pemetaan gaya berat sebagaimana
dijelaskan dengan singkat oleh J.Nasution,
dimulai pada periode tahun 1965-an s.d. tahun
2003 dan periode tahun 2004 s.d. tahun 2007.
Selama periode ke-1 baru diselesaikan sebanyak
166 lembar peta, terdiri dari 58 lembar skala 1 :
100.000 untuk daerah Jawa dan Madura, serta
108 lembar skala 1 : 250.000 daerah luar Jawa
dan Madura. Hasil tersebut menunjukkan bahwa
selama 38 tahun target pemetaan gaya berat
(berbagai skala) baru mencapai 69.46 % dari
239 lembar peta. Hal tersebut disebabkan oleh
kondisi lapangan yang sulit dicapai khususnya
di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Irian Jaya dan
sebagian Sumatera.
Pada tahun 2004, pemetaan gaya berat telah
dilaksanakan dengan menggunakan sarana angkut
helikopter; meliputi daerah Kalimantan Timur
dan Kalimantan Tengah. Hasilnya meningkatkan
pencapaian target hingga 8.29 % atau sebanyak
15 lembar peta anomali Bouguer skala 1:250.000.
Pada tahun 2005 metoda yang sama dilaksanakan
di Sulawesi dan Maluku, menghasilkan 10 lembar
peta anomali Bouguer skala 1 : 250.000 (Sulawesi)
dan 12 lembar peta di Maluku. Pada akhir tahun
2005, peringkat pemetaan gaya berat Indonesia
meningkat menjadi 84,94%. Pada tahun 2006
menyelesaikan 9 lembar peta skala 1: 250.000
untuk daerah Nangroe Aceh Darussalam dan 2
lembar di Natuna. Akhirnya, pada tahun 2007
sebanyak 27 lembar peta skala 1 : 250.000 daerah
Papua berhasil dipetakan; dengan demikian pada
akhir tahun 2007 pemetaan gaya berat wilayah
Indonesia telah seluruhnya (100%) berhasil
dipetakan.
Selama launching peta, juga dilaksanakan seminar
gaya berat yang membahas berbagai topik.
Akhli dan pakar yang membawakan makalah
diantaranya adalah J. Nasution (PSG, BADAN
GEOLOGI), M.T. Zen (Professor Emeritus Teknik
Geofisika ITB dan Kepala Dept. R & D di Maipark,
Jakarta); Lilik Hendrajaya (ITB & Lemhanas);
Kirbani Sri Brotopuspito (Laboratorium
Geofisika, Universitas Gadjah Mada); Wawan
Gunawan A Kadir (ITB); Parluhutan Manurung,
Adolf F. Kasenda, Yadi Aryadi dan Erfan Dany
(Bidang Medan Gayaberat Pusat Geodesi dan
Geodinamika, BAKOSURTANAL).
Setelah selesainya pemetaan gaya berat
Indonesia, M.T. Zen menekankan pentingnya
pemetaan dan survei airomagnetik: Pemetaan
dan survai airomagnetik merupakan salah satu
66 W u r L u G e o I o g I . D e s e m b e r z o o 8

Peta Indeks Anomali Bouger (Gaya Berat) Indonesia
methoda airborn geophysycs yang paling cost-
effective bagi usaha meletakkan dasar-dasar
utama untuk membangun data dasar (data base)
Benua Maritim Indonesia. Jika terselesaikan,
maka Indonesia dapat lebih menyempurnakan
dan melengkapi pemetaan geologi pada skala
yang lebih besar serta melengkapi data dasar
inventarisasi sumber daya mineral Indonesia di
tempat-tempat terpencil. Data dasar itu harus
dilakukan oleh Indonesia sendiri, bukan oleh
perusahaan pertambangan dan minyak asing.
Dengan demikian Indonesia secara sistematik
membangun sumberdaya nasionalnya.
Lilik Hendrajaya, menjelaskan bahwa: Peta
anomati gaya berat mengajak manusia untuk
berpikir dan mengembangkan kecerdasan guna
memahami isi bumi kita. Gabungan peta gaya
berat, peta magnet dan peta geologi permukaan
memberikan pemikiran untuk melanjutkannya
dengan survei lokal yang lebih rinci dengan
menggunakan metode seismik pantul atau
metode elektromagnetik.
Wawan Gunawan A Kadir, mengemukakan bahwa:
Metoda gaya berat sebagai metoda geofisika
tertua telah banyak digunakan dalam kegiatan
eksplorasi minyak dan gas bumi di seluruh dunia.
Dibuktikan oleh penemuan minyak pertama di
Nast Dome-Texas, Amerika Serikat pada tahun
1928. Sejalan dengan pengembangan teknologi
gravimeter saat ini dimana resolusi pengamatan
gayaberat dapat mencapai hingga orde micro-
Gal, aplikasi metoda ini dalam kegiatan eksplorasi
minyak dan gas bumi telah mencakup semua
aspek mulai dari identifikasi play sebagai tahap
awal eksplorasi sampai dengan manajemen
reservoir pada tahap produksi. Di Indonesia,
metoda gayaberat juga telah mengambil bagian
dalam hampir sebagian besar kegiatan eksplorasi
minyak dan gas bumi, dan saat ini aplikasinya
untuk mendefinisikan cekungan sedimentasi
dalam mana sumber daya minyak dan gas bumi
dapat diestimasi lebih akurat masih merupakan
tantangan yang harus dihadapi.
Kirbani Sri Brotopuspito mengulas tentang
penjaminan mutu (quality assurance) dalam survei
gravitasi: . mencakup semua langkah yaitu
pengumpulan data, pengolahan data, pembuatan
model dan interpretasi struktur geologi bawah
permukaan. Langkah pengumpulan data harus
diawali dengan penjaminan mutu alat ukur
gravitymeter, perangkat penentuan posisi dan
ketinggian/ elevasi, serta peta topografi digital
(digital elevasion model, DEM). Untuk
survei lokal dapat dipilih model slab Bouguer
yang mendatar dengan ukuran tak terhingga
(infinite horizontal Bouguer slab), sedang untuk
survei regional harus memakai model slab yang
S e p u t a r G e o l o g i
6;
melengkung sesuai lengkungan permukaan
bumi dengan ukuran seluruh luasan permukaan
bumi atau luasan topi tertentu (finite curvature
Bouguer cap). .
Sementara itu, Parluhutan Manurung, Adolf
F. Kasenda, dkk. mengemukakan bahwa: ...
Status sebaran data gaya berat di Indonesia saat
ini masih jauh dari memadai sehingga untuk
mengatasi permasalahan diperlukan inventarisasi
dan akuisisi data gaya berat. Program nasional
untuk pengadaan data gaya berat dalam sebaran
grid ini diselengarakan secara bertahap dari tahun
ke tahun melalui kerjasama antar instansi terkait
dalam payung Komite Gaya berat Nasional (KGN).
Kegiatan utama yang telah tercapai antara lain: i)
inventarisasi basis data gaya berat yang ada pada
instansi anggotanya, ii) penyelenggaraan jaring
kontrol gaya berat nasional dari tingkat orde 1 - 2
yang jumlahnya sudah mencapai sekitar 10,000
titik, iii) standarisasi survei jaring kontrol gaya
berat, iv) pengukuran titik absolut di Bandung,
Cibinong dan Pontianak, dan v) pengukuran super
conducting gravimeter permanen di Cibinong.
Strategi yang dilakukan untuk akuisisi data gaya
berat yang merata meliputi daratan dan perairan
dangkal seluruh wilayah Indonesia adalah dengan
teknologi airborne gravity dikombinasikan dengan
satelit altimeter untuk wilayah laut.
Dengan mengucap Syukur Alhamdulillah, maka
pada tahun 2008 ini, Departemen Energi dan
Sumber Daya Mineral, Badan Geologi, Pusat Survei
Geologi Bandung menyatakan bahwa program
Pemetaan Gaya berat Sistematik Indonesia skala
1: 100.000 dan 1: 250.000 telah selesai.n
Kusdji Darwin Kusumah
Menteri ESDM sedang menandatangani Prasasti Peta Anomali Gaya Berat
Indonesia, disaksikan oleh Ka. Badan Geologi.

Menteri ESDM sedang memperlihatkan Peta Anomali Gaya Berat Indonesia, Menteri ESDM tampak sangat antusias sedang memperhatikan Citra Peta
skala 1 : 5.000.000 disaksikan oleh Ka. Badan Geologi Anomali Gaya Berat Indonesia; disaksikan oleh Ka. Badan Geologi,
Prof. M.T Zen, dan Prof. Lilik Hendrajaya.
Menteri ESDM sedang memperhatikan penjelasan poster Peta Anomali Gaya Menteri ESDM bersama Ka. Badan Geologi dan para peserta launching
Berat Indonesia oleh Ka. Badan Geologi. sedang mengamati poster hasil penafsiran Cekungan sedimen di Wilayah
Indonesia Bagian Timur, berdasarkan Peta Anomali Gaya Berat.
SepuLur GeoIogI
68 W u r L u G e o I o g I . D e s e m b e r z o o 8
Menyadari pentingnya peran ilmu kimia
dalam kegunungapian, maka dipandang
perlu menciptakan laboratorium yang dapat
menganalisis unsur batuan gunung api. Berkaitan
dengan itu, pada bulan Mei 1978 terbentuklah
satu laboratorium yang pada awalnya berstatus
seksi di bawah Sub Direktorat Vulkanologi,
Direktorat Geologi, Departemen Pertambangan.
Tahun 1985 seksi tersebut diperluas tugas dan
fungsinya sekaligus mengamati kegiatan vulkanik
Gunung Merapi.
Seiring dengan berkembangnya organisasi
Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral,
maka keberadaan seksi tersebut juga mengalami
perubahan yang sangat pesat hingga akhirnya
menjadi sebuah balai, Balai Penyelidikan dan
Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK)
di bawah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana
Geologi, Badan Geologi yang berkedudukan di
Yogyakarta.
Konsekuensi logis dari perkembangan suatu
organisasi, maka keberadaan laboratorium kimia
yang ada sebelumnya juga semakin diperluas
fungsinya. Jika awalnya laboratorium kimia
tersebut hanya diperuntukkan untuk menganalisis
unsur yang berasal dari gunungapi, dengan
melebarnya organisasi serta berkembangnya
teknologi dan meluasnya kebutuhan masyarakat,
maka laboratorium tersebut menyesuaikan
diri dengan pelayanan analisis berbagai unsur
sepanjang berkaitan dengan masalah kebumian
dan terbuka untuk masyarakat luas.
Laboratorium adalah tempat riset ilmiah, eksperimen, pengukuran ataupun pelatihan ilmiah dilakukan.
Laboratorium biasanya dibuat untuk memungkinkan dilakukannya kegiatan-kegiatan tersebut secara
terkendali. Laboratorium ilmiah biasanya dibedakan menurut disiplin ilmunya, misalnya laboratorium geologi,
laboratorium fisika, laboratorium kimia, laboratorium biokimia, laboratorium komputer, dan laboratorium
bahasa.
LABORATORIUM KIMIA
BPPTK, PVMBG
L a y a n a n G e o l o g i
6q
uyunun GeoIogI
;o W u r L u G e o I o g I . D e s e m b e r z o o 8
Pelayanan Unggulan
Laboratorium BPPTK memiliki tiga jenis pelayanan,
yaitu laboratorium gas gunungapi, laboratorium
batuan yang terdiri atas pembuatan sayatan
batuan dan analisis kimia, serta laboratorium
air. Selama ini yang menjadi unggulan adalah
laboratorium gas. Beberapa perusahaan
pengeboran geothermal mempercayakan analisa
gas di laboratorium ini, termasuk semburan gas
liar dari Lapindo.
Selain batuan yang berasal dari gunungapi
seluruh Indonesia, beberapa mahasiswa juga
memanfaatkan laboaratorium batuan untuk
pembuatan sayatan sekaligus analisa kimianya.
Sedangkan laboaratorium air selain dari PVMBG
sendiri, juga banyak sample yang diterima dari
masyarakat yang ingin mengetahui kualitas air
yang layak dikomsumsi.
Disadari sepenuhnya bahwa tidak semua unsur
dapat dianalisa di laboratorium ini. Untuk
mengatasi hal tersebut dilakukan kerjasama
dengan beberapa laboratorium sejenis, khususnya
yang ada di Yogyakarta. Dengan cara tersebut
kekurangan yang ada dapat diatasi.
Dikenal Hingga ke Luar Jawa
Seorang bekas mahasiswa yang pernah kuliah
di Yogyakarta dan sering berhubungan dengan
Laboratorium Kimia BPPTK semasa kuliahnya kini
menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi di
Sumatera.
Atas pelayanan yang selama ini diperolehnya dan
kepercayaannya terhadap hasil analisis, sampai
saat ini masih mengirimkan berbagai sample
untuk dianalisa. Bahkan seorang dosen salah satu
perguruan tinggi di Kalimantan yang juga pernah
kuliah di Yogyakarta dan sering bertandang
ke Laboratorium BPPTK semasa kuliahnya
mengirimkan mahasiswanya untuk melakukan
praktek kerja di laboratorium ini.
Setiap tahun Laboratorium BPPTK menganalisis
sekitar 300 sample berbagai jenis, baik dari
kalangan di PVMBG, mahasiswa, dan masyarakat
luas.

Upaya Akreditasi
Salah satu yang dikeluhkan oleh Kepala Seksi
Geokimia BPPTK adalah belum adanya akreditasi
dari Badan Standardisasi Nasional (BSN). Untuk
memperoleh hal tersebut telah dilakukan
sosialisasi tentang keberadaan laboratorium
tersebut dengan mengundang petugas dari BSN.
Langkah berikutnya adalah memberikan pelatihan
kepada para analis dan kalibrasi peralatan. Untuk
itu tentu diperlukan biaya dan waktu yang lama,
tetapi upaya tersebut sedang dirintis.n
SR. Wittiri
L a y a n a n G e o l o g i
;1
uyunun GeoIogI
;z W u r L u G e o I o g I . D e s e m b e r z o o 8