Anda di halaman 1dari 12

Strategi Pengelolaan DAS

STRATEGI PARTISIPATIF DALAM PENGELOLAAN DAS STUDI KASUS DAS SALAIYUR, INDIA
Oleh: Bos Ariadi Muis A165110021

4/16/12

Latar 4/16/12 Belakang


Pengelolaan DAS menjadi sangat penting sebagai salah satu cara untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dan melestarikan SDA. Partisipasi masyarakat sangat efektif untuk menjamin keberhasilan dan keberlanjutan program pengelolaan DAS. Pusat penelitian konservasi tanah dan air, Udhagaman memilih DAS Salaiyur di Kabupaten Coimbatore Tamil Nadu, India sebagai model Program Pengembangan Lahan Kritis Terpadu pada tahun 1997 - 2000.

DAS Salaiyur 4/16/12 India


DAS Salaiyur terletak pada 110 13 LU dan 770 04 BT. DAS ini ditandai dgn hamparan lahan yg luas dan bergelombang serta berbukit dgn ketinggian bervariasi dari 370 m - 470 m dpl Curah hujan rata-rata 602 mm/tahun Daerah iklim semi-arid sub tropis. Tekstur tanah liat dengan warna tanah merah dan dalam. Kelangkaan SDA di daerah ini sudah pada tingkat yang mengkhawatirkan.

Metode PRA4/16/12 RRA


Program pengembangan lahan kritis terpadu dilaksanakan dgn metode Participatory Rural Appraisal (PRA) dan Rapid Rural Appraisal (RRA) Melibatkan masyarakat lokal secara aktif mulai pada tingkat perencanaan, pelaksanaan dan pengelolaan. Pelatihan PRA dan RRA dilakukan pada masyarakat desa untuk mengumpulkan informasi, mendiagnosa masalah mereka, kebutuhan umum dan prioritas kehidupan dalam rencana pengembangan DAS. Sejumlah pertemuan telah dilakukan dgn anggota masyarakat DAS dan organisasi yg terbentuk: Asosiasi DAS (WA), Komite DAS (WC), Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM), dan Kelompok Pengguna (UGs).

Tujuan 4/16/12
Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan produktivitas guna menunjang kehidupan, dengan aplikasi teknologi yang dapat dikembangkan oleh masyarakat dan tidak menimbulkan degradasi lahan, sehingga tetap lestari dan berkelanjutan dalam DAS Salaiyur di Kabupaten Coimbatore, India.

Program 4/16/12 Kegiatan & Manfaat A. Pembentukan Organisasi dan Peningkatan


Kapasitas v Rencana pembangunan DAS Salaiyur dibahas dalam rapat umum dengan melibatkan seluruh lapisan masyarakat termasuk dukungan perempuan.
v

Membentuk organisasi atau lembaga yang disebut Komite DAS "Naame Namakku". Melakukan kegiatan pelatihan pembibitan, penggunaan lahan, administrasi perkantoran, kelembagaan, dan studi banding. Hasil pelatihan peningkatan kapasitas menunjukkan kesadaran partisipasi pengelolaan DAS mencapai 80%, perencanaan, pelaksanaan dan pembibitan (20%).

4/16/12

B. Pembangunan dan Perbaikan Infrastruktur


v

Pembangunan 5 unit kolam perkolasi, pembagunan cek dam dan peremajaan serta perbaikan bangunan pelimpas (spillway). Membersihkan bendungan di daerah hulu. Hasil menunjukkan ketersediaan air sumur masyarakat yang awalnya hanya tersedia 3-6 bulan, sekarang telah mencapai 12 bulan.

4/16/12

C. Penggunaan Lahan dan Pola Tanam


v

Lahan kritis pada DAS Selaiyur seluas 31,88 ha, dimanfaatkan untuk tanaman hortikultura dengan sistem tumpangsari dan tanaman buah-buahan varietas unggul seperti Mangga (Mangifera indica L.) dan Asam (Tamarindus indica L.). Tanaman buah Amla (Embelica officianalis), Delima (Punica granatum L.), Jambu Biji (Psidium guajava L.) dan Sapota (Manilkara achras) diperkenalkan pada masyarakat untuk ditanam dipekarangan rumah termasuk kelapa hibrida. Diperkenalkan hortikultura. sistem irigasi tetes untuk tanaman

Tingkat kelangsungan hidup rata-rata tanaman mangga 83,35% dan asam 76% (Madhu et al., 2001). Produktivitas tinggi dan pendapatan petani meningkat.

4/16/12

D. Unit Lapangan Kerja


v

Tanpa disadari telah tercipta lapangan pekerjaan yang mampu menyerap hingga 9.139 tenaga kerja dari suatu DAS kecil di Kabupaten Coimbatore, India. Ini menunjukkan dampak positif dari kegiatan dalam hal partisipasi masyarakat dan keberlanjutan.

Kebijakan 4/16/12 Strategis


Adapun elemen kunci dari strategi pengelolaan DAS berdasarkan penilaian komprehensif yaitu :
1.

Program DAS harus diawali dengan berbasis pengetahuan di tingkat masyarakat yang dapat menghasilkan manfaat nyata bagi petani. Pengelolaan DAS terpadu menuntut pendekatan multidisiplin. Semua pemangku kepentingan, khususnya kebutuhan perempuan untuk dimasukkan dalam proses pertimbangan dan semua tahapan pengambilan keputusan dilibatkan. Perencanaan, pelaksanaan dan pengelolaan DAS diterapkan dengan sistem bottom up dimulai dari tingkat komunitas/kabupaten, tingkat provinsi, dan tingkat negara.

1.

1.

1.

Kesimpulan 4/16/12
1.

Partisipasi aktif dari masyarakat lokal dalam pengelolaan daerah aliran sungai secara terpadu merupakan strategi yang tepat. Teknologi konservasi tanah dan air yang diaplikasikan sederhana dan tidak merusak ekosistem. Hasil produktivitas petani meningkat dengan tersedianya kebutuhan air tanaman. Sosial dan ekonomi masyarakat meningkat melalui organisasi dan kelembagaan. Pengelolaan DAS terpadu harus direncanakan dengan sistem bottom up.

1.

1.

1.

1.

4/16/12