Anda di halaman 1dari 2

Toxocara vitulorum, merupakan cacing askarid. Stadium dewasanya banyak dijumpai pada anak sapi (pedet).

Akibat dari penyakit cacingan (toxocariasis), sangat menekan produktivitas ternak, berarti menjadi beban ekonomi bagi peternak secara berkepanjangan jika tidak dilakukan pengendalian. Prevalensi tertinggi didapatkan pada

musim penghujan, yaitu sebesar 60,8% sedangkan pada musim kemarau sebesar 25,4%Produksi daging sapi meskipun menduduki ranking kedua setelah produksi daging unggas, tetapi sampai saat ini masih belum mampu memenuhi tuntutan kebutuhan daging secara keseluruhan.Kendala yang dihadapi dalam peningkatan produktivitas peternakan rakyat adalah peternak masih berpikiran beternak adalah usaha sambilan. Usaha yang perlu ditempuh adalah memperbaiki tatalaksana budidaya mulai dari pemilihan bibit, pakan, pemeliharaan sampai pakan termasuk di dalamnya manajemen kesehatan (Anonim, 2001).Berkaitan dengan masalah pemeliharaan, masih banyak yang harus mendapatkan perhatian agar angka kelahiran dapat ditingkatkan setinggi mungkin sedangkan angka kematian dapat ditekan serendah mungkin. Pengendalian terhadap penyakit infeksius maupun non-infeksius seperti parasit sering dianggap sepele dan kurang diperhatikan karena serangan yang tidak berbahaya umumnya tidak jelas dan serangan parasit kebanyakan bersifat subklinik (Subronto dan Tjahajati, 2001). Pada umumnya parasit merugikan kesehatan hewan maupun manusia, dari sudut pandang ekonomi kerugian terjadi akibat rusaknya organ karena parasitnya sendiri, kematian ternak dan biaya yang harus ditanggung untuk pengendaliaanya. Kerugian ekonomi akibat cacing berupa perkembangan tubuh ternak terhambat, sedangkan pada sapi dewasa kenaikan berat badan tidak tercapai, organ tubuh rusak dan kualitas karkas jelek, menurunnya fertilitas dan predisposisi penyakit metabolik. Hal ini disebabkan oleh menurunnya nafsu makan, perubahan distribusi air, elektrolit dan protein darah (Anderson and Waller, 1983)..Menurut Suweta (1982) pada ternak sapi tiap tahunnya terjadi kerugian sebesar 20 milyar rupiah akibat penyakit cacing hati dengan perkiraan hilangnya daging sebesar 5 - 7,5 juta kilogram karena penurunan berat badan. Kerugian sebesar ini hanya disebabkan oleh cacing hati (Fascioliasis) dan akan jauh lebih besar lagi bila dihitung kerugian yang diakibatkan oleh cacing lain. Kerugian yang jumlahnya tidak kecil akibat penyakit cacing ini merupakan suatu problem yang sangat dilematik dalam usaha bidang peternakan untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produk peternakan.Penyakit cacing ini pada berbagai kasus. Umumnya menyerang ternak yang dipelihara dengan tata laksana kurang baik, khususnya ternak yang berumur muda. Pada ternak sapi Bali yang telah diketahui lebih resisten terhadap parasit dibandingkan bangsa sapi Eropa yang ada di Indonesia masih banyak ditemukan terinfeksi cacing. Gangguan oleh parasit ini biasanya terbatas pada organ sekum (usus buntu) dan kolon saja. Infeksi oleh cacing ini sering dikuti adanya infeksi sekunder oleh bakteri (akibat dari migrasi larva selama periode intraseluler) (Anonimous, 2004a). Dalam infeksi percobaan yang dilakukan oleh Power (1956) dalam Soulsby (1982) melaporkan terjadinya diare 19 hari setelah infeksi. Tanda-tanda penurunan berat badan dimulai dari hari ke-29 infeksi, dan terus berlanjut sampai hewan tersebut mati. Pada infeksi ringan akan terjadi penurunan kondisi akibat diare yang kronis, penurunan bobot badan, anemia ringan serta gejala ikutan lainnya (Soulsby, 1982). Lapage, G. 1956. Veterinary Helminthology and Enthomology. 4th Ed. Bailliere Tindall, London. Levine, ND. Buku Pelajaran Parasitologi Veteriner. Penerjemah : Prof. Dr. Gatut Ashadi. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Seddon, H.R. 1967. Helminth Infestation . 2nd Ed. Commonwealth of Australia, Departement of Health. Sidney. Smith, J.D. 1968. Introduction to Animal Parasitology. The English Books University Press, LH. London. Soulsby, E.J.L. 1982. Helminth, Artropods and Protozoa of Domesticated Animals. 7th Ed. Bailliere Tindall, London Sumber. http://infovet.blogspot.com/2007/10/ketika-ternak-jangan-diserang-cacing.html Lingkungan dan Pola Hidup Cacing: Siklus hidup cacing adalah cacing ditularkan pada waktu ternak memakan rumput atau meminum air yang terkontaminasi atau tercemar oleh ternak lain dengan telur cacing. Bisa juga cacing disebarkan dari induk ke anaknya. Cacing hidup di usus ternak dan memproduksi banyak telur. Masalah ini biasa terjadi pada musim hujan. Cacing memang memerlukan kondisi lingkungan yang basah, artinya cacing tersebut bisa tumbuh dan berkembang biak dengan baik bila tempat hidupnya berada pada kondisi yang basah atau lembab. Pada kondisi lingkungan yang basah atau lembab, perlu juga diwaspadai kehadiran siput air tawar yang menjadi inang perantara cacing sebelum masuk ke tubuh ternak. Penggunaan obat anti parasit internal (cacing) dalam pemeliharaan sapi adalah sesuatu yang harus dilakukan oleh peternak, karena infestasi cacing adalah suatu fenomena yang akan terus berulang secara periodik dalam siklus

pemeliharaan. Menurut sumber SPFS FAO untuk Asia Indonesia, beberapa tehnik sederhana dalam melakukan kontrol terhadap infestasi cacing pada ternak sapi dapat dilakukan dengan cara mengatur pemberian pakan dan mengatur waktu pemotongan rumput, suatu hal yang tentunya tidak dapat dilakukan bila sapi dibiarkan mencari pakan sendiri di padang rumput. Penyakit infeksi yang disebabkan oleh cacing masih tinggi prevelansinya terutama pada penduduk di daerah tropik seperti di Indonesia, dan merupakan masalah yang cukup besar bagi bidang kesehatan masyarakat. Hal ini dikarenakan Indonesia berada dalam kondisi geografis dengan temperatur dan kelembaban yang sesuai, sehingga kehidupan cacing ditunjang oleh proses daur hidup dan cara penularannya. Identifikasi parasit yang tepat memerlukan pengalaman dalam membedakan sifat sebagai spesies, parasit, kista, telur, larva, dan juga memerlukan pengetahuan tentang berbagai bentuk pseudoparasit dan artefak yang mungkin dikira suatu parasit. Identifikasi parasit juga bergantung pada persiapan bahan yang baik untuk pemeriksaan baik dalam keadaan hidup maupun sediaan yang telah di pulas. Bahan yang akan di periksa tergantung dari jenis parasitnya, untuk cacing atau protozoa usus maka bahan yang akan di periksa adalah tinja atau feses, sedangkan parasit darah dan jaringan dengan cara biopsi, kerokan kulit maupun imunologis (Kadarsan, 1983). Pemeriksaan feses di maksudkan untuk mengetahui ada tidaknya telur cacing ataupun larva yang infektif. Pemeriksaan feses ini juga di maksudkan untuk mendiagnosa tingkat infeksi cacing parasit usus pada orang yang di periksa fesesnya (Gandahusada.dkk, 2000). Pemeriksaan feces dapat dilakukan dengan metode kualitatif dan kuantitatif. Secara kualitatif dilakukan dengan metode natif, metode apung, metode harada mori, dan Metode kato. Metode ini digunakan untuk mengetahui jenis parasit usus, sedangkan secara kuantitatif dilakukan dengan metode kato untuk menentukan jumlah cacing yang ada didalam usus. Penyakit infeksi yang disebabkan oleh cacing masih tinggi prevelansinya terutama pada penduduk di daerah tropik seperti di Indonesia, dan merupakan masalah yang cukup besar bagi bidang kesehatan masyarakat. Hal ini dikarenakan Indonesia berada dalam kondisi geografis dengan temperatur dan kelembaban yang sesuai, sehingga kehidupan cacing ditunjang oleh proses daur hidup dan cara penularannya. AFTAR PUSTAKA
Brown, H. W. 1969. Dasar Parasitologi Klinis. Gramedia, Jakarta. Entjang, I. 2003. Mikrobiologi dan Parasitologi untuk Akademi Keperawatan dan Sekolah Menengah Tenaga Kesehatan yang Sederajat. Citra Aditya Bakti, Bandung. Gandahusada,S.W .Pribadi dan D.I. Heryy.2000. Parasitologi Kedokteran.Fakultas kedokteran UI, Jakarta. Kadarsan,S. Binatang Parasit. Lembaga Biologi Nasional-LIPI, Bogor. Kurt. 1999. Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam Volume 2. Penerbit Buku Kedokteran EGC, jakarta Neva, F.A. and H.W.Brown. 1994. Basic Clinical Parasitology. Appleton and Lange, New York. Noble, R.N. 1961. An Illustrated Laboratory Manual of parasitology. Burgess publishing, Minnesota.Tierney, L. M., S. J. McPhee, M. A. Papadakis. 2002. Current Medical Diagnosisand Treatment. Mc Graw Hill Company, New York. Anonimous (2007). Fasciola gigantica. http://en.wikipedia.org/wiki/Fasciola gigantica. brotowidjoyo, D. M. (1987). Parasit dan Parasitisme, Edisi Pertama. Media Sarana Press, Jakarta. Juar Mukhlis (2000). Observasi Tingkat Infeksi Larva Fasciola gigantica dan Trematoda Lainnya pada Siput Lymnaea rubiginosa di Beberapa Kecamatan di Kabupaten Aceh Besar (Skripsi). Fakultas Kedokteran Hewan Unsyiah, Banda Aceh. Levine, N. D. (1990). Buku Pelajaran Parasitologi Veteriner. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Ngurah D. D. M. dan A. A. G. Putra (1997). Penyidikan Penyakit Hewan C. V. Bali Media, Denpasar. Noble, E.R. dan G. A. Noble (1989). Parasitoloi : Biologi Parasit Hewan, Edisi Kelima. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Staf Pengajar Parasitologi FKH Unsyiah (2003). Buku Ajar Parasitologi Veteriner, Banda Aceh.