Anda di halaman 1dari 60

PEGANGAN PESERTA INSEMINATOR SWASTA

HO 12

DAFTAR ISI
INSEMINASI BUATAN (IB) / KAWIN SUNTIK ________________ 3

Tujuan Inseminasi Buatan __________________________ 3 Keuntungan IB ___________________________________ 3 Kerugian IB _____________________________________ 4


PENGORGANISASIAN PELAYANAN INSEMINASI BUATAN ___ 5

Struktur Organisasi, Kedudukan & Petugas Pelaksana IB _ 6


PELAKSANAAN PROGRAM IB ___________________________ 6

Pemeriksaan Awal ________________________________ 6 Waktu Melakukan IB ______________________________ 9 Faktor Faktor Penyebab Rendahnya Kebuntingan _____ 10
INSEMINATOR________________________________________ 12

Pelayanan Petugas Inseminasi Buatan _______________ 12


ANATOMI DAN FISIOLOGI ALAT KELAMIN BETINA ________ 14 SINKRONISASI BIRAHI DENGAN OBAT __________________ 17 PEMERIKSAAN SECARA KLINIS ALAT KELAMIN BETINA ___ 18 KESUBURAN DAN KEMAJIRAN _________________________ 21

Harapan Untuk Kesuburan_________________________ 22 Jarak Antar Kelahiran_____________________________ 23 Penyebab Infertilitas______________________________ 23


CARA KERJA IB ______________________________________ 28 SISTEM PENCATATAN DAN PENILAIAN HASIL INSEMINASI _ 29

Sistem Pencatatan _______________________________ 29 Penilaian Hasil Inseminasi Buatan___________________ 32


PETUNJUK TENTANG PENGGUNAAN FORMULIR INSEMINASI DAN KARTU INSEMINASI BUATAN (Diperbaharui) ________ 39 SUSUNAN DAN FUNGSI ORGAN TUBUH SAPI_____________ 43

INSEMINASI BUATAN (IB) / KAWIN SUNTIK


Yang dimaksud dengan Inseminasi Buatan (IB) atau kawin suntik adalah suatu cara atau teknik untuk memasukkan mani (sperma atau semen) yang telah dicairkan dan telah diproses terlebih dahulu yang berasal dari ternak jantan ke dalam saluran alat kelamin betina dengan menggunakan metode dan alat khusus yang disebut insemination gun.

Tujuan Inseminasi Buatan


1. Memperbaiki mutu genetika ternak; 2. Tidak mengharuskan pejantan unggul untuk dibawa ketempat yang dibutuhkan sehingga mengurangi biaya ; 3. Mengoptimalkan penggunaan bibit pejantan unggul secara lebih luas dalam jangka waktu yang lebih lama; 4. Meningkatkan angka kelahiran dengan cepat dan teratur; 5. Mencegah penularan / penyebaran penyakit kelamin.

Keuntungan IB
1. Menghemat biaya pemeliharaan ternak jantan; 2. Dapat mengatur jarak kelahiran ternak dengan baik; 3. Mencegah terjadinya kawin sedarah pada sapi betina (inbreeding); 4. Dengan peralatan dan teknologi yang baik sperma dapat simpan dalam jangka waktu yang lama; 5. Semen beku masih dapat dipakai untuk beberapa tahun kemudian walaupun pejantan telah mati; 6. Menghindari kecelakaan yang sering terjadi pada saat perkawinan karena fisik pejantan terlalu besar; 7. Menghindari ternak dari penularan penyakit terutama penyakit yang ditularkan dengan hubungan kelamin. 3

Kerugian IB
1. Apabila identifikasi birahi (estrus) dan waktu pelaksanaan IB tidak tepat maka tidak akan terjadi terjadi kebuntingan; 2. Akan terjadi kesulitan kelahiran (distokia), apabila semen beku yang digunakan berasal dari pejantan dengan breed / turunan yang besar dan diinseminasikan pada sapi betina keturunan / breed kecil; 3. Bisa terjadi kawin sedarah (inbreeding) apabila menggunakan semen beku dari pejantan yang sama dalam jangka waktu yang lama; 4. Dapat menyebabkan menurunnya sifat-sifat genetik yang jelek apabila pejantan donor tidak dipantau sifat genetiknya dengan baik (tidak melalui suatu progeny test).

PENGORGANISASIAN PELAYANAN INSEMINASI BUATAN


Pelayanan IB telah cukup lama dilaksanakan di Indonesia. Perbaikan-perbaikan dalam upaya penyediaan pelayanan ini terus dilakukan dan pada saat ini dilaksanakan upaya pemantapan pelaksanaan IB melalui : 1. Penataan sistem 2. Perbaikan infrastruktur 3. Meningkatkan sumber daya manusia

Kegiatan ini dilaksanakan melalui Pola Satuan Pelayanan IB (SP-IB), dimana para petugas akan bermarkas dan para petani akan melaporkan betina yang bunting di tempat itu pula. SP-IB mempunyai pengertian terpadu lokasi, terpadu sasaran dan terpadu pelayanan. Pelayanan IB dilakukan melalui 3 cara, yaitu : 1. pelayanan secara aktif, artinya petugas yang berkeliling mencari akseptor (pengguna jasa inseminasi buatan) 2. pelayanan secara pasif, dimana para petugas menunggu laporan / permintaan pelayanan IB di pos IB dan kemudian datang memberi pelayanan 3. pelayanan semi-aktif, yang merupakan perpaduan dari keduanya. 5

Struktur Organisasi, Kedudukan & Petugas Pelaksana IB


1. Di Tingkat Propinsi (Dati I) Dilaksanakan oleh Satuan Pelayanan IB tingkat I (SPIB Tkt I) dengan petugas yang biasanya terdiri dari : satu orang supervisor / penyelia Tingkat I satu orang petugas pemantau sterilitas satu orang asisten teknis reproduksi (ATR) satu orang pengurus mutu semen beberapa orang staf administrasi 2. Di Tingkat Dati II satu orang supervisor / penyelia Tingkat II satu orang ATR satu orang rekorder / pencatat beberapa orang staf administrasi 3. Di Tingkat Kecamatan/Lapangan Dibentuk satuan pelayanan IB (SP-IB) dengan petugas yang terdiri dari : satu orang ATR 1-2 orang Pemeriksa Kebuntingan (PKB) 3-6 orang inseminator Dengan jumlah kelompok petani/peternak yang akan dibina sebanyak 12-24 kelompok.

PELAKSANAAN PROGRAM IB
Pemeriksaan Awal
Deteksi birahi yang tepat adalah kunci utama keberhasilan Inseminasi Buatan, selanjutnya adalah kecepatan dan ketepatan pelayanan Inseminasi Buatan itu sendiri dilaksanakan. Untuk memudahkan, sebagai patokan biasa dilakukan sebagai berikut :

Pertama kali terlihat tandatanda birahi Pagi Sore

Harus diinseminasi pada Hari yang sama Hari berikutnya (pagi dan paling lambat siang hari)

Terlambat Hari berikutnya Sesudah jam 15:00 besoknya

Keterlambatan pelayanan IB akan berakibat pada kerugian waktu yang cukup lama. Jarak antara satu birahi ke birahi selanjutnya adalah kira-kira 21 hari sehingga bila satu birahi terlewati maka kita masih harus menunggu 21 hari lagi untuk melaksanakan IB selanjutnya. Kegagalan kebuntingan setelah pelaksanaan IB juga akan berakibat pada terbuangnya waktu percuma, selain kerugian materiil dan immateriil karena terbuangnya semen cair dan alat pelaksanaan IB serta terbuangnya biaya transportasi baik untuk melaporkan dan memberikan pelayanan dari pos IB ke tempat sapi birahi berada. Tanda tanda birahi pada sapi betina adalah : - ternak gelisah;

sering berteriak;

suka menaiki dan dinaiki sesamanya;

vulva : bengkak, berwarna merah, bila diraba terasa hangat (3 A dalam bahasa Jawa: abang, abuh, anget, atau 3 B dalam bahasa Sunda: Beureum, Bareuh, Baseuh);

dari vulva keluar lendir yang bening dan tidak berwarna

nafsu makan berkurang

Gejala gejala birahi ini memang harus diperhatikan minimal 2 kali sehari oleh pemilik ternak. Jika tanda-tanda birahi sudah muncul maka pemilik ternak tersebut tidak boleh menunda laporan kepada petugas inseminator agar sapinya masih dapat memperoleh pelayanan IB tepat pada waktunya. Sapi dara umumnya lebih menunjukkan gejala yang jelas dibandingkan dengan sapi yang telah beranak.

Waktu Melakukan IB
Pada waktu di IB ternak harus dalam keadaan birahi, karena pada saat itu liang leher rahim (servix) pada posisi yang terbuka. Kemungkinan terjadinya konsepsi (kebuntingan) bila diinseminasi pada periode-periode tertentu dari birahi telah dihitung oleh para ahli, perkiraannya adalah : permulaan birahi : 44% pertengahan birahi : 82%

akhir birahi : 6 jam sesudah birahi : 12 jam sesudah birahi : 18 jam sesudah birahi : 24 jam sesudah birahi :

75% 62,5% 32,5% 28% 12%

Faktor Faktor Penyebab Rendahnya Kebuntingan


Faktor faktor yang menyebabkan rendahnya prosentase kebuntingan adalah : 1. Fertilitas dan kualitas mani beku yang jelek / rendah; 2. Inseminator kurang / tidak terampil; 3. Petani / peternak tidak / kurang terampil mendeteksi birahi; 4. Pelaporan yang terlambat dan / atau pelayanan Inseminator yang lamban; 5. Kemungkinan adanya gangguan reproduksi / kesehatan sapi betina. Jelaslah disini bahwa faktor yang paling penting adalah mendeteksi birahi, karena tanda-tanda birahi sering terjadi pada malam hari. Oleh karena itu petani diharapkan dapat memonitor kejadian birahi dengan baik dengan cara :

10

Mencatat siklus birahi semua sapi betinanya (dara dan dewasa); petugas IB harus mensosialisasikan cara-cara mendeteksi tanda-tanda birahi.

Salah satu cara yang sederhana dan murah untuk membantu petani untuk mendeteksi birahi, adalah dengan memberi cat diatas ekor, bila sapi betina minta kawin (birahi) cat akan kotor / pudar / menghilang karena gesekan akibat dinaiki oleh betina yang lain. Penanganan bidang reproduksi adalah suatu hal yang rumit. Ia membutuhkan suatu kerja sama dan koordinasi yang baik antara petugas yang terdiri atas dokter hewan, sarjana peternakan dan tenaga menengah seperti inseminator, petugas pemeriksa kebuntingan, asisten teknis reproduksi. Koordinasi juga bukan hanya pada bidang keahlian tetapi juga pada jenjang birokrasi karena pelaksanaan IB masih lewat proyek yang dibiayai oleh pemerintah sehingga birokrasi masih memegang peranan yang besar disini. Koordinasi dari berbagai tingkatan birokrasi ini yang biasanya selalu disoroti dengan negatif oleh para petugas lapang dan petani. Keterbuakaan adalah kunci keberhasilan keseluruhan program ini.

11

INSEMINATOR
Adalah tenaga teknis menengah yang telah dididik dan mendapat sertifikat sebagai inseminator dari pemerintah (dalam hal ini Dinas Peternakan).

Pelayanan Petugas Inseminasi Buatan


Pelayanan inseminasi buatan dilakukan oleh Inseminator yang telah memiliki surat izin melakukan inseminasi (SIM) dengan sistem aktif, pasif dan semi-aktif. Bila inseminator belum memiliki SIM maka tanggung jawab hasil kerjanya jatuh pada Dinas Peternakan Propinsi tempatnya bekerja.

Pelaporan pelaksanaan IB mengikuti pedoman sebagai berikut: - Inseminator mengisi tanggal pelaksanaan IB pertama, kedua, ketiga dan seterusnya pada kartu catatan IB masing-masing akseptor - Inseminator wajib melaporkan jumlah sapi yang tidak birahi kembali setelah IB pertama (kemungkinan bunting) dan tempat serta nama peternak yang sapi /

12

ternaknya yang baru di IB kepada Petugas Pemeriksa Kebuntingan Inseminator wajib melaporkan jumlah sapi yang repeat breeder (sapi yang telah di IB lebih dari tiga kali dan tidak bunting) kepada Asisten Teknis Reproduksi.

Tugas pokok inseminator adalah : - Menerima laporan dari pemilik ternak mengenai sapi birahi dan memenuhi panggilan tersebut dengan baik dan tepat waktu - Menangani alat dan bahan Inseminasi buatan sebaikbaiknya - Melakukan identifikasi akseptor IB dan mengisi kartu peserta IB; - Melaksanakan IB pada ternak; - Membuat laporan pelaksanaan IB dan menyampaikan kepada pimpinan SPT IB Untuk mempermudah pelaporan / permintaan pelayanan IB maka harus dibuat suatu sistem pelaporan yang sederhana, cepat, mudah dan murah. Kotak laporan, bendera di depan rumah / kandang, kartu birahi dan lain-lain adalah beberapa sistem komunikasi yang telah dijalankan pada beberapa tempat di Indonesia. Setiap daerah mempunyai keadaan yang berbeda, oleh karena itulah buatlah suatu perjanjian dengan para akseptor mengenai cara-cara komunikasi yang baik yang disepakati bersama. Komitmen untuk mematuhi keputusan tersebut juga diperlukan. Petugas IB (inseminator) hanya boleh menginseminasi kalau betina sedang birahi saja. Kalau betina tidak sedang birahi, petugas IB sebaiknya memberitahukan ke peternak dan memintanya untuk memperhatikan gejala birahi dengan lebih baik lagi.

13

ANATOMI DAN FISIOLOGI ALAT KELAMIN BETINA


Pubertas (kematangan alat kelamin / dewasa kelamin) terjadi akibat aktivitas dalam ovarium (indung telur), umur pubertas pada sapi adalah antara 7 18 bulan, atau dengan berat badan telah mencapai kurang lebih 75% dari berat dewasa. Kecepatan tercapainya umur dewasa kelamin tergantung dari: 1. Jenis / bangsa sapi; 2. Gizi, Bila jumlah dan kandungan gizi pakan kurang jumlah atau mutunya, maka dewasa kelamin akan lebih lama dicapai, hal ini disebabkan berat badan yang kurang; 3. Cuaca, Di daerah tropis seperti di Indonesia, umur dewasa kelamin lebih cepat / muda 4. Penyakit, Karena mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan berat badan, apalagi bila menyerang alat kelamin, maka kemungkinan besar umur dewasa kelamin lebih lambat dicapai.

Siklus birahi pada sapi betina yang normal biasanya berulang setiap 21 hari, dengan selang antara 17-24 hari. 14

Siklus birahi akan berhenti secara sementara pada keadaankeadaan: Sebelum dewasa kelamin; Selama kebuntingan; Masa post-partum.

Siklus birahi dibagi dalam 4 tahap, dan berbeda-beda pada setiap spesies hewan. Tahapan dan lamanya pada sapi dapat ditemui di bawah ini : 1. Estrus Pada tahap ini sapi betina siap untuk dikawinkan (baik secara alam maupun IB). Ovulasi terjadi 15 jam setelah estrus selesai. Lama periode ini pada sapi adalah 12 24 jam. 2. Proestrus Waktu sebelum estrus. Tahap ini dapat terlihat, karena ditandai dengan sapi terlihat gelisah dan kadangkadang sapi betina tersebut menaiki sapi betina yang lain. Lamanya 3 hari. 3. Metaestrus Waktu setelah estrus berakhir, folikelnya masak, kemudian terjadi ovulasi diikuti dengan pertumbuhan / pembentukan corpus luteum (badan kuning). Lama periode ini 3 5 hari. 4. Diestrus Waktu setelah metaestrus, corpus luteum meningkat dan memproduksi hormon progesteron. Periode ini paling lama berlangsungnya karena berhubungan dengan perkembangan dan pematangan badan kuning, yaitu 13 hari.

15

Pada saat keadaan dewasa kelamin tercapai, aktivitas dalam indung telur (ovarium) dimulai. Waktu estrus, ovum dibebaskan oleh ovarium. Setelah ovulasi terjadi, bekas tempat ovarium tersebut itu dipenuhi dengan sel khusus dan membentuk apa yang disebut corpus luteum (badan kuning) Corpus luteum ini dibentuk selama 7 hari, dan bertahan selama 17 hari dan setelah waktu itu mengecil lagi karena ada satu hormon (prostaglandin) yang merusak corpus luteum dan mencegah pertumbuhannya untuk jangka waktu yang relatif lama (sepanjang kebuntingan). Selain membentuk sel telur , indung telur / ovarium juga memproduksi hormon, yaitu:

Sebelum ovulasi: hormon estrogen; Setelah ovulasi corpus luteum di ovarium memproduksi: hormon progesteron siklus

Hormon-hormon ini mengontrol (beri jarak) kejadian birahi di dalam ovarium.

16

SINKRONISASI BIRAHI DENGAN OBAT


Pada beberapa proyek pemerintah, seringkali inseminasi buatan dilaksanakan secara crash-program dimana pada suatu saat yang sama harus dilaksanakan Inseminasi padahal tidak semua betina birahi pada waktu yang bersamaan. Oleh karena itu harus dilaksanakan apa yang disebut dengan sinkronisasi birahi. Pada dasarnya, sinkronisasi birahi adalah upaya untuk menginduksi terjadinya birahi dengan menggunakan hormon Progesteron. Preparatnya biasanya adalah hormon sintetik dari jenis Prostaglandin F2 . Nama dagang yang paling sering ditemui di Indonesia adalah Enzaprost F. Sinkronisasi birahi ini mahal biayanya karena harga hormon yang tinggi dan biaya transportasi serta biaya lain untuk petugas lapang.

17

Cara apikasi hormon untuk penyerentakkan birahi adalah sebagai berikut : Laksanakan penyuntikan hormon pertama, pastikan bahwa : - Sapi betina resipien harus dalam keadaan sehat dan tidak kurus (kaheksia); - Sapi tidak dalam keadaan bunting, bila sapi sedang bunting dan penyerentakkan birahi dilakukan maka keguguran akan terjadi. Laksanakan penyuntikan hormon kedua dengan selang 11 hari setelah penyuntikan pertama; Birahi akan terjadi 2 sampai 4 hari setelah penyuntikan kedua.

PEMERIKSAAN SECARA KLINIS ALAT KELAMIN BETINA


Sebelum melaksanakan inseminasi buatan, maka seharusnya dilakukan dahulu pemeriksaan mengenai kesehatan ternak secara umum dan kondisi alat kelamin betina. Harus diyakinkan bahwa sapi yang akan diinseminasi tidak dalam keadaan bunting, karena sapi bunting juga sering menunjukkan gejala-gejala birahi (meskipun palsu). Sapi yang menderita gejala nifomania (minta kawin terus-menerus) juga harus menjadi perhatian. Pemeriksaan dilaksanakan secara umum saja, yaitu dengan melihat (inspeksi) dan menyentuh (palpasi).

18

Prosedurnya adalah sebagai berikut :

Laksanakan inspeksi dari jarak dekat (pastikan keadaan cukup terang atau laksanakan di luar kandang) dengan prosedur sebagai berikut : Lihat ekor dan bagian atas pantat sapi , bila di atas ekor terdapat luka atau kotoran, kemungkinan sapi tersebut dinaiki oleh sapi yang lain (jantan/betina), ini merupakan tanda-tanda birahi.

19

Lihat vulva, apakah ada lendir yang keluar dan menggantung, bila lendir yang keluar transparan maka ini adalah tanda-tanda birahi. Jika lendir tersebut bernanah / kotor maka kemungkinan besar ini adalah gejala infeksi. Melihat / mengecek apakah ada luka di vulva dan vagina.

Palpasi lewat rektum : Palpasi vagina sulit, karena dinding vagina tipis (sehingga mudah robek) dan lentur. Palpasi leher rahim (serviks). Prosedur ini sangat penting dilakukan. Pada sapi yang tidak bunting serviksnya berdiameter antara 2 sampai 3 cm dengan panjang antara 5 sampai 6 cm. Serviks membesar pada

20

saat terjadi kebuntingan dan setelah melahirkan; pada sapi tua dan sering beranak maka ukuran serviksnya akan berbeda, biasanya akan berdiameter antara 5 sampai 6 cm dan panjang 10cm Tanduk rahim bisa diraba (terutama pada percabangan tanduk rahim). Tanduk rahim membelok ke bawah, kedepan dan ke belakang. Kalau terjadi kebuntingan, maka salah satu tanduk akan lebih besar karena anak dibentuk dalam satu tanduk saja. Ovarium, dipalpasi dengan sangat hati-hati untuk melihat kemungkinan kelainan pada indung telur.

KESUBURAN DAN KEMAJIRAN


Kesuburan (fertilitas) adalah kemampuan sapi betina untuk bunting melahirkan anak hidup setiap sekitar 12 bulan. Sedangkan kemajiran (ketidaksuburan) adalah keadaan dimana seekor sapi betina hanya mampu melahirkan dengan jarak kelahiran lebih panjang dari pada 12 bulan. Istilah ini juga dipakai bagi sapi betina yang sulit menjadi bunting. Keadaan ekstrim dari kemajiran adalah sterilitas, dimana sapi tidak mampu untuk bunting sama sekali. Sapi yang steril biasanya dipotong karena merugikan untuk dipelihara, kecuali untuk tenaga tarik.

21

Harapan Untuk Kesuburan


Secara umum, setiap pelaksanaan inseminasi buatan hanya berhasil menghasilkan kebuntingan maksimal 55%, artinya, bila 100 ekor sapi betina di inseminasi satu kali, hanya 55 sapi betina yang akan melahirkan seekor anak sapi yang sehat, hal ini mungkin disebabkan oleh :

beberapa ovum (sel telur) tidak keluar dari ovarium (indung telur), atau bahkan tidak ada ovulasi sama sekali; beberapa ovum yang dibuahi mati sebelum hari ke13, hari ke-14 sampai hari ke-42 atau setelah 42 jam

Bila hal ini terjadi, maka sapi akan mampu birahi lagi dan dapat di inseminasi kembali pada estrus berikutnya. Setelah iniseminasi inipun harapan keberhasilannya tetap 55%. Oleh karena itu, 6% dari seluruh populasi sapi memerlukan lebih dari 3 kali inseminasi sampai berhasil bunting, meskipun mereka sehat.

22

Jarak Antar Kelahiran


Jarak antar kelahiran (calving interval) yang baik adalah kurang dari 12 bulan, sebaiknya 10 sampai 11 bulan. Pada jarak ini, waktu istirahat bagi rahim setelah kebuntingan cukup panjang, dan sapi telah siap lagi untuk bunting sehingga memaksimalkan keuntungan bagi pemiliknya. Terutama pada sapi perah, jarak antar kelahiran ini sangat penting karena mempengaruhi siklus laktasi dan produksi susu.

Penyebab Infertilitas
Infertilitas biasanya ditandai dengan tidak adanya tanda-tanda birahi atau meskipun dikawinkan / diinseminasi, kebuntingan tidak terjadi. 1. Tidak ada gejala-gejala birahi Tidak ada gejala birahi, bila terjadi pada sapi bunting dan setelah melahirkan, maka keadaan tersebut adalah normal. Tetapi apabila kejadian ini terjadi pada sapi yang tidak bunting (setelah positif didiagnosa tidak bunting) dianggap abnormal. Bila dilihat dari umur dan berat badan seharusnya sudah mencapai pada usia dewasa kelamin tetapi gejala birahi belum juga tampak maka dianjurkan untuk dipotong sebagai ternak afkir, Sebaiknya memang ditunggu dan diamati beberapa saat karena kadangkadang dewasa kelamin memang datang terlambat dan sebaiknya diperiksakan pada dokter hewan atau petugas ATR.

23

Beberapa kemungkinan bisa menjadi penyebab tidak terjadinya birahi pada sapi dewasa, diantaranya : - Saat sedang bunting - tidak ada cukup pakan atau intake makanan kurang - adanya kista dalam ovarium, kelainan ini dapat diobati dengan Prostaglandin (PGF 2 ), birahi diaharapkan terjadi 2-3 hari setelah pengobatan - badan kuning yang menetap (corpus luteum persistence), yang dapat terjadi disalah satu atau kedua ovarium, pengobatan juga dilakukan dengan menggunakan Prostaglandin (PGF 2 ). - tanda-tanda birahi pada sapi sebenarnya terjadi , tetapi tidak terlihat (terlewatkan) oleh petani. 2. Meskipun di inseminasi beberapa kali, sapi tetap tidak bunting dan birahi lagi Keadaan ini dapat disebabkan oleh : a. Tidak ada pembuahan, penyebabnya antara lain: pejantan mungkin tidak subur Ada masalah dengan penyimpanan atau perlakuan semen. Kalau ini terjadi, maka

24

sapi yang lain yang di Inseminasi dengan semen yang sama juga tidak akan bunting bila semen baik, maka kesuburan sapi betina harus diperiksa oleh Dokter Hewan, terjadi perlukaan dalam indung telur atau terjadi perlekatan, bila hal ini terjadi maka tidak dapat diobati Tidak terjadi ovulasi dalam jangka waktu yang lama setelah melahirkan. Pengobatan dapat dicoba dengan HCG (hanya boleh dilakukan oleh Dokter Hewan) Ovulasi terlambat (lebih dari pada 15 jam setelah birahi). Pengobatan dengan HCG Adanya infeksi atau kelainan dengan hormon dalam uterus (rahim). Infeksi dalam rahim kadang-kadang sembuh sendiri setelah 2 siklus birahi. Infeksi dalam vagina b. Embrio (janin) mati segera setelah pembuahan, penyebabnya adalah : Ketidak sesuaian genetis antara induk dengan pejantan, dapat dicoba dengan menginseminasi menggunakan semen dari pejantan lain Stress Demam : suhu badan tinggi (infeksi umum), yang menandakan adanya serangan penyakit menular Penyakit pada hati Pakan kurang atau terlalu banyak Infeksi dalam rahim

25

c. Siklus birahi singkat. Yang normal biasanya 1824 hari, abnormal apabila siklus berjalan kurang dari 18 hari, kemungkinan penyebabnya adalah: Sista pada follikel : nimfomania, sapi birahi secara berulang dengan jarak yang sering (tidak sesuai dengan siklus), selalu menaiki sapi betina lain, dan kadang banyak keluar cairan (lendir) dari vulva. Pengobatan dapat dilakukan dengan HCG (hanya oleh Dokter Hewan) Salah mengidentifikasi atau monitoring birahi. d. Siklus birahi yang panjang (lebih dari 24 hari) : Kesalahan mengidentifikasi birahi. Biasanya yang kita lihat adalah siklus birahi yang ke dua (selanjutnya) Kematian embrio atau fetus

26

27

CARA KERJA IB
1) Setelah mendapatkan laporan sapi birahi maka persiapkan semua bahan dan alat Inseminasi Buatan dengan baik, yaitu : Insemination Gun Straw atau Semen Beku yang dibawa dalam thermos Plastic sheath Gunting Pinset Gelas berisi air bersih Container lengkap dengan canister /thermos N2 Cair secukupnya Sarung tangan plastik Sabun Handuk kecil Apron Sepatu Boot 2) Berangkatkah secepat mungkin ke lokasi 3) Cucilah tangan terlebih dahulu 4) Sebelum melaksanakan prosedur IB maka semen harus dicairkan (thawing) terlebih dahulu dengan mengeluarkan semen beku dari nitrogen cair dan memasukkannya dalam air hangat atau meletakkannya dibawah air yang mengalir. Suhu untuk thawing yang baik adalah 37o C . Jadi Semen/straw tersebut dimasukkan dalam air dengan suhu badan 37o C, selama 7-18 detik. 5) Setelah dithawing, straw dikeluarkan dari air kemudian dikeringkan dengan tissue. 6) Kemudian straw dimasukkan dalam gun, dan ujung yang mencuat dipotong dengan menggunakan gunting bersih 7) Setelah itu Plastic sheath dimasukkan pada gun yang sudah berisi semen beku/straw

28

8) Sapi dipersiapkan (Dimasukkan) dalam kandang jepit, ekor diikat 9) Petugas IB memakai sarung tangan (glove) pada tangan yang akan dimasukkan ke dalam rektum 10) Gun digigit oleh petugas IB 11) Tangan petugas IB dimasukkan ke rektum, hingga dapat menjangkau dan memegang leher rahim (servix), apabila dalam rektum banyak kotoran harus dikeluarkan lebih dahulu 12) Bersihkan vulva dan masukkan gun dalam vulva. Sedikit mengarah keatas dekat dinding vagina 13) Tangan yang masuk ke dalam rektum dan memegang servix akan merasakan masuknya gun pada servix, gun dimasukkan dalam lubang servix mengikuti lekuk-lekuk servix 14) Semen disuntikkan/disemprotkan pada badan uterus yaitu pada daerah yang disebut dengan posisi ke empat 15) Setelah semua prosedur tersebut dilaksanakan maka keluarkanlah gun dari uterus dan servix dengan perlahanlahan.

SISTEM PENCATATAN DAN PENILAIAN HASIL INSEMINASI


Sistem Pencatatan
Pencatatan (recording) dalam pelaksanaan inseminasi buatan hampir sama pentingnya dengan semen dari pejantan. Pencatatan diperlukan untuk :

29

1. menilai keterampilan kerja inseminator dan sampai dimana ia menguasai teknik inseminasi 2. menilai kesanggupan peternak dalam mendeteksi birahi 3. menentukan sebab-sebab kegagalan yang bersumber pada pejantan atau pada hewan betina 4. memberi data untuk penilaian hasil inseminasi dan efisiensi reproduksi 5. memperkirakan waktu kelahiran anak yang berhubungan dengan kegiatan pemasaran 6. memberi informasi tentang identitas induk dan ayah dari anak yang lahir dari hasil inseminasi buatan.

Dengan kata lain pencatatan diperlukan untuk menentukan maju mundurnya program inseminasi buatan pada satu individu betina, pada sekelompok ternak betina dalam suatu peternakan, pada sekelompok ternak betina dalam suatu daerah atau wilayah inseminasi buatan, bahkan maju mundurnya program inseminasi buatan secara nasional. Sistem pencatatan merupakan suatu pekerjaan administratif tersendiri pada suatu pusat inseminasi buatan atau dalam program inseminasi buatan secara nasional. Di negara-negara 30

maju, jumlah formulir yang dipakai dalam pencatatan inseminasi buatan mencapai lebih dari 10 buah. Pada pusat inseminasi buatan yang melayani lebih dari 50.000 sapi betina pertahun, dipergunakan sistem kartu-terobos dengan data yang diolah oleh komputer. Kesadaran akan kegunaan pencatatan dan populasi ternak yang sangat banyak membuat sistem pencatatan suatu pekerjaan yang kolosal. Di Indonesia, dengan segala sesuatu yang seba kurang, baik jumlah ternak maupun kesadaran akan kegunaan pencatatan, sulitlah untuk menerapkan sistem pencatatn yang ada diluar negeri dalam program inseminasi buatan. Namun demikian pencatatan, bagaimanapun sederhananya, harus dilakukan untuk keberhasilan program inseminasi buatan. Beberapa formulir pencatatan telah dibuat oleh Direktorat Jenderal Peternakan untuk diisi oleh inseminator atau pelaksana inseminasi buatan didaerah-daerah (lihat lampiran). Pada prinsipnya catatan inseminasi buatan mengandung informasi mengenai nama dan alamat peternak atau pemilik ternak; nama, nomor, bangsa, gambar warna dan nama induk dan ayah hewan betina yang diinseminasi; keadaan birahi dan tanggal inseminasi pertama, kedua dan ketiga; nama atau nomor kode pejantan; nama inseminator; tanggal dan hasil pemeriksaan kebuntingan; tanggal melahirkan dan kelamin serta nama atau nomor anak; dan tanggal serta keterangan tentang pemeriksaan dokter hewan atau kejadian abortus yang mungkin terjadi. Catatan inseminasi dibuat untuk setiap individu betina dan untuk kelompok betina yang diinseminasi dalam satu kandang, satu desa atau satu wilayah inseminasi. Untuk sapi yang mempuanyai siklus birahi 18-24 hari (sapi-sapi eropa), apabila terjadi birahi lagi dalam waktu 18 24 hari sesudah inseminasi berarti bahwa pada umumnya fungsi reproduksi sapi betina tersebut normal; yang harus ditinjau atau ditelaah adalah keterampilan kerja inseminator atau

31

kesuburan semen atau bibit pejantan. Sebaliknya, apabila sapi betina kembali birahi diluar jangka waktu tersebut berarti bahwa sebab kegagalan perlu dicar pada ternak betina itu sendiri atau pada kalalaian atau kurang pengetahuan peternak dalam mendeteksi birahi. Karena siklus birahinya yang mungkin lebih pendek, maka pada sapi-sapi potong di Indonesia jangka waktu tersebut diatas disesuaikan atau dipersingkat. Khusus bagi sapi perah, perlu dibuat suatu catatan produksi yang memuat produksi susu rata-rata tiap pagi dan sore untuk setiap bulan laktasi, lama masa kering dan lama masa laktasi, dan keterangan-keterangan lain yang diperlukan terutama mengenai kesehatan hewan secara keseluruhan dan kesehatan ambing. Untuk sapi potong perlu dicatat mengenai berat lahir dan rata-rata pertambahan berat badan perhari selama masa pertumbuhan sampai hewan mencapai dewasa tubuh dan siap untuk dipasarkan.

Penilaian Hasil Inseminasi Buatan


Mempertahankan tingkatan fertilitas yang tinggi adalah dasar dan tujuan setiap program peternakan, kapan dan dimanapun. Makin banyak hewan betina yang kawin berulang (repeat breeders) akan sangat merugikan baik bagi pelaksana inseminasi buatan maupun dan terutama bagi peternak. Walaupun keunggulan genetik pejantan yang ditonjolkan dalam suatu program inseminasi buatan, namun kesediaan peternak menerima pelayanan inseminasi terutama didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan ekonomik. Harapan didasarkan dimasa depan dengan peninggian mutu ternak dalam konsiderasi akseptasi pelayanan inseminasi buatan dapat dikecilkan artinya oleh kemungkinan penurunan produksi dalam waktu singkat karena kegagalan reproduksi. Konsepsi yang tertunda dapat menyebabkan kerugian finansial bagi peternak yang mengalami hasil-hasil konsepsi yang rendah 32

dengan pelaksanaan inseminasi buatan pada ternaknya akan cenderung untuk kembali menggunakan perkawinan alam. Salah satu pembatasan penentuan efisiensi reproduksi dengan cepat ialah tidak adanya suatu cara penentuan kebuntingan secara mudah dan objektif seagera sesudah konsepsi. Setiap ternak sapi, misalnya, memerlukan pemeriksaan yang teliti dan memakan waktu oleh seorang Dokter Hewan untuk menentukan kebuntingan secara rektal. Kemungkinan diagnosa yang tepat hanya dapat terjadi sesudah melewati beberapa minggu dari saat inseminasi dan kemungkinan tersebut meninggi danegan bertambahnya waktu. Suatu diagnosa palpasi rektal yang positif mungkin hanya berlaku pada saat itu karena banyak faktor, terutama penyakit-penyakit yang menyebabkan abortus, dapat menginterupsi jalannya kebuntingan yang normal. Jadi, ukuran terakhir yang pasti mengenai keberhasilan inseminasi hanyalah kelahiran anak yang sehat. Akan tetapi, untuk menunggu sampai terjadinya kelahiran akan terlampau lambat dalam penentuan kebijaksanaan selanjutnya dalam pelaksanaan program inseminasi, apalagi bila tidak terjadi kebuntingan. Untuk memperoleh informasi secepat mungkin, perlu digunakan teknik-teknik penentuan fertilitas yang walaupun kurang sempurna, tetapi telah terbukti dapat memberi gambaran umum untuk penilaian pelaksanaan inseminasi buatan sebagai dasar penentuan kebijaksanaan selanjutnya. Non-return rate (NR). Salah satu ukuran yang sering dipakai ialah yang disebut non-return rate atau prosentase hewan yang tidak kembali minta kawin atau bila tidak ada perminataan inseminasi lebih lanjut dalam waktu 28 sampai 35 atau 60 sampai 90 hari. Nilai-nilai ini disebut nilai NR pada 28 sampai 35 hari atau nilai NR pada 60 sampai 90 hari; nilai NR tersebut terakhir umumnya lebih tepat. Jadi nilai NR pada 60 sampai 90 hari adalah perbandingan jumlah sapi sapi di inseminasi

33

dengan jumlah sapi sapi tersebut yang kemudian kembali minta diinseminasi (repeat breeder) dalam periode tsb :
NR (%) = (jumlah sapi (jumlah sapi yang yang di IB) - kembali di IB) Jumlah sapi yang di IB X 100

Penialaian NR berpegang pada asumsi bahwa sapi-sapi yang tidak kembali minta kawin (non-return) adalah bunting. Asumsi atau anggapan tersebut tidak selalu benar. Selain bunting, sapi-sapi betina yang tidak dilaporkan minta kaawain lagi kemungkinan telah mati, dijual, hilang, atau mengalami birahi tenang (silent heat), memiliki corpus luteum persistens yaitu badan kuning pada kandung telur yang seharusnya menghilang tetapi terus menetap secara abnormal, atau karena gangguan-gangguan lain. Kelalaian atau kemalasan peternak atau penunggu ternak untuk melaporkan adanya birahi pada sapi-sapi betina menyebabkan tingginya nilai NR tanpa keberhasilan inseminasi. Sebaliknya, sapi betina yang kembali minta di inseminasi (repeat breeder) belum tentu tidak bunting, karena kira-kira 3,5% sapi-sapi bunting, terutama yang bunting muda, masih memperlihatkan tanda-tanda birahi. Kemungkinan lain ialah sapi tersebut tadinya bunting tetapi telah terjadi kematian mudigah (mortalitas embrional), keguguran (abortus), pengerasan (mummificatio) foetus, penghancuran (maceratio) foetus dan kelainan-kelainan lain. Berbagai faktor mempengaruhi nilai NR dan kebenarannya. Pertama-tama adalah faktor-faktor yang langsung berhubungan dengan metoda pengukuran, termasuk jumlah sapi yang diinseminasi per contoh semen atau pe pejantan, waktu antara inseminasi sampai penghitungan sapi betina yang kembali minta diinseminasik dan pengaruh-pengaruh biologik yang cenderung untuk mempertinggi jumlah sapi anstrus yang tidak bunting. Berikutnya adalah faktor-faktor 34

yang berhubungan dengan tingkat kesuburan, termasuk umur pejantan dan betina, musim, umur semen, penyakit-penyakit, teknik perlakuan terhadap semen dan pengaruh-pengaruh lingkungan lainnya. Berdasarkan alasan-alasan tersebut prosentase non-return hanya dapat dinyatakan signifikan dan dapat dipertanggungjawaabkan apabila dihitung dari suatu populasi ternak yang besar. Memang dinegara negara maju dengan populasi ternak betina yang sangat besar dalam setiap usaha peternakan sapi, disamping mahalnya tenaga Dokter Hewan untuk mendiagnosa kebuntingan sapi-sapi betina tersebut satu per satu secara rektal, penenutan hasil inseminasi semata-mata berdasarkan nilai NR. Kadang-kadang nilai NR dicampur baurkan dengan nilai conception rate (CR), yaitu angka kebuntingan nyata yang di diagnosa per rektal. Di Amerika Serikat, kebanyakan nilai NR pada 60 sampai 90 hari mencapai rata-rata 65 72% (Roberts, 1971). Nilai NR yang dicapai dalam periode 28-35 kira-kira 10 sampai 15% lebih tinggi daripada NR pada 60 sampai 90 hari. Sebaliknya, angka NR pada 60 sampai 90 hari umumnya adalah 5,5 sampai 6% lebih tinggi daripada angka konsepsi (CR) yang ditentukan dari hasil eksplorasi rektal. Dari satu juta sapi betina, nilai NR dan CR masing-masing adalah 68% dan 60%. Kira-kira 1,5 sampai 2% foetus menghilang antara 90 hari sampai waktu lahir (Barrett et al., 1948; Mc Sparrin & Patrick, 1967). Angka konsepsi atau Conception Rate (CR). Suatu ukuran terbaik dalam penilaian hasil inseminasi adalah prosentase sapi betina yang bunting pada inseminasi pertama, dan disebut conception rate atau angka konsepsi. Angka konsepsi ditentukan berdasarkan hasil diagnosa kebuntingan oleh Dokter Hewan dalam waktu 40 sampai 60 hari sesudah inseminasi.

35

CR (%) =

Jumlah betina bunting yang didiagnosa secara rektal Jumlah seluruh betina yang di inseminasi

X 100

Angka konsepsi ditentukan oleh 3 faktor yaitu kesuburan pejantan, kesuburan betina dan teknik inseminasi. Pada perkawinan normal jarang ditemukan suatu keadaan dimana hewan jantan dan betina mencapai kapasitas kesuburan 100%. Walaupun masing-masing mencapai tingkatan kesuburan 80%, pengaruh kombinasinya menghasilkan angka konsepsi sebesar 64% (80 x 80). Teknik inseminasi yang baik akan mempertahankan nilai ini, akan tetapi setiap penurunan efisiensi reproduksi merupakan suatu persamaan faktorial dari ketiga variable tersebut diatas (prosentase kesuburan jantan x prosentase kesuburan betina x prosentase efisiensi kerja inseminator). Perhatikan bahwa dalam suatu persamaan faktorial, hasil kali adalah selalu lebih rendah daripada faktor terendah. Jadi, kerendahan efisiensi pada salah satu faktor yang lebih merugikan daripada efisiensi yang cukup pada semua faktor tersebut. Di negara-negara maju pekerjaan Dokter Hewan termasuk diagnosa kebuntingan, dilakukan menurut perjanjian antara peternak dan Dokter Hewan didaerahnya, dan tidak ada hubungan dengan pusat inseminasi buatan. Akan sangat mahal bagi suatu pusat inseminasi buatan untuk membiayai tenaga Dokter Hewan khusus untuk melakukan diagnosa kebuntingan bagi pusat inseminasi buatan tsb. Di Indonesia, penilaian hasil inseminasi dengan cara ini memungkinkan, karena jumlah hewan yang di inseminasi masih terbatas dan program inseminasi buatan sebagian besar, kalau tidak dikatakan seluruhnya, secara langsung atau tidak langsung dilakukan oleh dan atas biaya atau subsidi pemerintah, pusat dan/atau daerah.

36

Jumlah Inseminasi per Kebuntingan atau Service per Conception (S/C). untuk membandingkan efisiensi relatif dari proses reproduksi di antara individu-individu sapi betina yang subur, sering dipakai penilaian atau penghitungan jumlah pelayanan inseminasi (service) yang dibutuhkan oleh seekor betina sampai terjadinya kebuntingan atau konsepsi. Nilai ini barulah berarti apabila dipergunakan semen dari pejantan yang berbeda-beda dan apabila betina-betina yang steril turut diperhitungkan dalam membandingkan kesuburan populasi ternak. Oleh karena itu sistem ini kurang populer. Nilai S/C yang normal berkisar antara 1,6 sampai 2,0. Makin rendah nilai tersebut, makin tinggi kesuburan hewan-hewan betina dalam kelompok tersebut. Sebaliknya makin tinggi nilai S/C, makin rendahlah nilai kesuburan kelompok betina tsb. Calving Rate. Oleh karena kesukaran-kesukaran dalam penentuan kebuntingan muda dan karena banyaknya kematian-kematian embrional atau abortus maka nilai reproduksi yang mutlak dari seekor betina baru dapat ditentukan setelah kelahiran anaknya yang hidup dan normal kemudiandibuat analisa mengenai inseminasi-inseminasi berturut-turut yang menghasilkan kelahiran dalam satu populasi ternak. Sistem penilaian ini disebut Calving Rate. Jadi Calving Rate adalah prosentase jumlah anak yang lahir dari hasil satu kali inseminasi (apakah pada inseminasi pertama atau kedua dan seterusnya). Dalam suatu populasi yang besar dar sapi-sapi betina fertil dan diinseminasi dengan semen yang fertil pula, maka calving rate dapat mencapai 62% untuk satu kali inseminasi, bertambah kira-kira 20% dengan dua kali inseminasi dan seterusnya. Besarnya nilai calving rate tergantung pada efisiensi kerja inseminator, kesuburan jantan, kesuburan betina sewaktu inseminasi dan kesanggupan menerima anak di dalam ikandungan sampai waktu lahir.

37

Perry (1960) yang mensiter Herman memberikan suatu contoh panen yang baik dari hasil inseminasi buatan pada Clemson Agricultural coillege, South Carolina, USA, dengan 500 ekor sapi betina. Angka konsepsi didasarkan pada diagnosa kebuntingan secara rektal sesudah inseminasi buatan dan meliputi periode 2 tahun (1955 sampai 1957) sebagai berikut : 1. Dari seluruh sapi betina (660 ekor), pada inseminasi pertama hanya 56% yang menjadi bunting, pada inseminasi kedua 74%, dan pada inseminasi ketiga 81% dari semua sapi menjadi bunting 2. Rata-rata jumlah inseminasi per konsepsi (S/C) adalah 2,0. Beberapa betina diinseminasikan sampai 4 atau 5 kali, dan lebih sedikit lagi yang di inseminasi sampai 9 kali 3. Jumlah seluruh sapi yang akhirny menjadi bunting dalam jangka waktu itu adalah 97% 4. Dua prosen yang tidak bunting dijual karena steril dan satu prosen dijual karena alasan-alasan lain Hasil hasil tersebut diatas cukup baik untuk kelompok hewan sebesar itu. Hampir semua peternak cukup puas apabila 85 sampai 95% dari seluruh sapinya bunting dan beranak sesudah tiga kali inseminasi. Adalah tidak bijaksana dan tidak ekonomik untuk menginseminasi sapi lebih dari lima kali. Biasanya, atau sebaiknya pemilik ternak melapor kepada Dokter Hewan setelah tiga kali inseminasi tanpa hasil untuk diselidiki mengapa tidak terjadi kebuntingan dan diusahakan memulihkan kembali kesuburan sapi-sapi betina tersebut.

38

PETUNJUK TENTANG PENGGUNAAN FORMULIR INSEMINASI DAN KARTU INSEMINASI BUATAN (Diperbaharui)
1. Formulir Inseminasi 1) Untuk setiap inseminasi digunakan 3 lembar formulir IB (yang nomornya sama tetapi berbeda warna) dan diisi serta ditandatangani oleh petugas yang melakukan inseminasi. Sesudah diisi, lembar pertama yang berwarna merah muda diberikan kepada pemilik sapi, yang berwarna biru muda dikirim kepada Dinas Peternakan Pimpinan Proyek sebagai laporan dan yang berwarna putih menjadi pertinggal pada inseminator. 2) Formulir IB ini oleh pemilik sapi hendaknya selalu disimpan dan harus menyertai sapi tersebut bila ternak itu pindah pemilik 3) Berdasarkan formulir-formulir ini Inseminator tiap akhir bulan membuat daftar kompilasi dari semua sapi yang telah ia inseminasi selama bulan itu, dan mengirimkannya ke Dinas Peternakan/Pimpinan Proyek IB. 2. Kartu Reproduksi dan Recording Produksi (Kartu IB) 1) Kartu ini dipergunakan untuk sapi-sapi betina yang diinseminasi dan kemudian dapat dan akan dilakukan recording produksinya. Begitu pula untuk anak-anak sapi betina jenis F.H yang lahir dari IB ini 2) Selain dari pada nama, nomor, keterangan induk dan bapak dari sapi yang bersangkutan yang harus di isi selengkap mungkin, harus pula digambar warna sapi tsb pada tempat yang sudah disediakan (gambar sebelah menyebelah dan gambar kepala) 3) Rekor Reproduksi diisi pada tiap saat diadakan inseminasi pada sapi betina tsb termasuk ulangan39

4)

5) 6)

7) 8)

9)

ulangannya, bila diadakan pemeriksaan kebuntingan dan jika melahirkan serta keterangan-keterangan yang lainnya yang berhubungan dengan reproduksi (keguguran dan sebagainya) Rekor Reproduksi diisi bila sapi tersebut telah menghasilkan susu. Yang diisi adalah jumlah produksi rata-rata tiap hari pagi dan sore untuk bulan yang bersangkutan. Begitu pula diisi mengenai lama sapi itu kering dan lamanya laktasi. Keterangan-keterangan lainnya (vaksinasi, pengobatan dan sebagainya) dapat diisi pada kolom keterangan Untuk perusahaan-perusahaan susu yang ikut serta dalam program IB pengisian kartu hendaknya diharuskan untuk keperluan rekording. Untuk sapi rakyat disesuaikan menurut keadaan/kemungkinan Kartu ini hendaknya disimpan baik-baik oleh pemilik sapi dan mengikuti sapi bila berpindah tangan Untuk anak-anak sapi (betina) jenis F.H yang lahir dari IB agar pada waktunya juga dibuatkan kartu produksi yang sama kemudian dapat diperbandingkan dengan produksi induknya. Disamping itu dicatat dalam Buku Induk dan diberi nomor telinga Untuk sapi sapi yang telah di IB sebelum kartu ini diterima akan dilakukan rekording, agar diberikan segera kartu ini dan diisi keterangan-keterangan.

Diperbaharui, April 1975

40

DIREKTORAT PENGEMBANGAN PRODUKSI DIREKTORAT JENDERAL PETERNAKAN DEPARTEMEN PERTANIAN KARTU INSEMINASI BUATAN
Nama Pemilik/Perusahaan Peternakan Sapi Perah : Alamat : ...

Nama Sapi Bangsa Sapi No. Pokok Tgl. Lahir No. Telinga

: : : : : : .. : .. : .. : ..

Nama Bapak Nama Induk No. Kode No. Telinga

41

REKORD REPRODUKSI
Inseminasi Buatan
Tanggal Nama Pejantan No. Kode Pejantan Pemeriksaan Kebuntingan Lainlain Tanggal

Beranak
Jenis Kelamin Anak Nama & No. Telinga Anak Lainlain

42

SUSUNAN DAN FUNGSI ORGAN TUBUH SAPI


(Sebagai catatan tambahan dan hubungan organ kelamin dengan organ lainnya) SISTEM RANGKA Tempurung Kepala Tulang punggung : Tulang dada Tulang pinggang Tulang kelangka Tulang ekor Tulang anggota gerak : Tulang anggota gerak depan Tulang anggota gerak belakang SISTEM OTOT Otot polos Otot jantung Otot seran lintang SISTEM PENCERNAAN Gigi Lidah Kerongkongan Esofagus Usus Hati Pankreas

43

SISTEM PERNAFASAN Rongga hidung Kerongkongan Pita suara Batang tenggorok Paru Pleura SISTEM PEREDARAN DARAH Jantung Limpa SISTEM SARAF Sistem saraf pusat - Otak - Sumsum tulang belakang Sistem saraf tepi Sistem saraf simpatetik SISTEM PERKENCINGAN Organ dalam sistem ini berhubungan erat dengan pembentukan dan pengeluaran kencing yang terdiri atas 2 buah ginjal, 2 buah ureter, sebuah kandung kemih dan sebuah uretra. Ginjal adalah organ yang berfungsi menyaring plasma dan unsur-unsur plasma darah yang secara selektif menyerap kembali air dan unsur yang masih berguna untuk kemudian membuang produk sisa plasma yang sudah tidak bermanfaat. Ginjal bertanggung jawab terhadap produksi air seni yang dikeluarkan lewat salurannya menuju ureter, menampungnya dalam kandung kemih dan

44

mengeluarkannya melewati uretra. Pemancaran kemih merupakan suatu proses pengangkutan cairan dan substansi tubuh tertentu yang tak terpakai oleh darah melewati ginjal dan kemudian dialirkan ke luar tubuh. Pada hewan jantan saluran uretra berada di dalam batang penis dan berfungsi juga sebagai penyalur sperma ke luar. Pada hewan betina uretra berukuran pendek dan membuka ke dasar vagina. SISTEM REPRODUKSI Organ genital pada suatu individu merupakan kelengkapan alat reproduksi yang berfungsi untuk berkembang biak dan memperoleh keturunan. Organ kelamin jantan dan organ kelamin betina berbeda sesuai dengan fungsinya masingmasing. 1. Alat Kelamin Jantan Alat kelamin jantan terdiri atas 2 buah testis yang terbungkus oleh skortum, saluran deferen, vesikula seminalis, kelenjar prostata, penis dan uretra

45

Testis berjumlah satu pasang yang tersusun oleh bentukan menyerupai cacingyang disebut epididimis yang merupakan wadah sperma. Tubulus seminalis merupakan saluran panjang. Spermatosoa bentuknya memanjang dengan ekor yang selalu aktif bergerak. Semasa janin masih didalam kandungan, testis terletak didaerah sublumbar dan kemudian menurun melalui saluran inguinalisa memasuki skortum menjelang kelahiran. Apabila terjadi kelainan dan buah zakar tidak turun satu buah, disebut monorkidi dan bila keduanya tidak turun disebut kriptorkidi. Skortum berbentuk sebuah kantung yang membungkus testis. Epidedimis mengeluarkan material yag mampu mempertahankan kehidupan sperma selama penyimpanan didalam testis. Tindakan dengan segaja membuang testis disebut dengan pengebirian/kastrasi. Saluran deferen merupakan pipa berdinding tebal yang mengangkut sperma ke luar testis. Saluran ini mengarah ke depan melalui saluran inguinalis menuju rongga perut dan pelvis dan berakhir sewaktu memasuki uretra. Kelenjar prostata terletak sepanjang uretra. Kelenjar ini mengeluarkan cairan yang ditumpahkan ke dalam kelenjar bulbo-uretralis untuk memungkinkan lewatnya sekresi testikular dan memberi nutrisi cairan sperma yang berfungsi mengaktifkan dan menggerakkannya.

46

Penis adalah organ seksual jantan yang dibungkus oleh kulit yang disebut kalup (prepusium). Lapisan dlam kalup disuplai dengan kelenjar keringat yang mengeluarkan smegma. Uretra pada hewan jantan adalah tabung mukoid yang memanjang mulai dari kandung kemih ke bagian depan penis. 2. Alat Kelamin Betina Alat kelamin betina terdiri dari dua buah indung telur (ovarium), dua buah oviduk (tabung falopian), rahim (uterus), liang sanggama (vagina) dan vulva. Sebagian organ reproduksi tambahan pada hewan betina adalah ambing. Indung telur berjumlah dua buah dan berfungsi memproduksi sel telur. Pengambilan indung telur akan mengakibatkan betina mandul sebagaimana pada hewan jantan yang dikebiri. Oviduk berbentuk dua saluran dengan panjang yang bervariasi dan berdiameter 3mm yang menghubungkan ovarium dan uterus. Fungsi oviduk adalah menyalurkan telur dari indung telur ke rahim. Uterus adalah tabung berotot tebal terletang di rongga perut terdiri atas 2 buah tanduk, sebuah batan dan sebuah leher (servik). Pada waktu hewan bunting, leher rahim tertutup oleh substansi penutup yang lunak. Batang rahim sapi memiliki 50-100 kotiledon yang merupakan tempat bertaut plasenta. Pada rahim hewan yang tidak bunting panjang kotiledon 1,2 cm dan lebar serta ketebalannya kurang dari 1cm. Sewaktu hewan bunting menjadi sangat membesar dan berliku dengan ukuran panjang mencapai 12,5cm.

47

Vagina berbentuk tabung yang ke belakang membentuk saluran terbuka ke bibir kemaluan dan vulva. Pada dasar vulva dapat dilihat lubang uretra bagian luar. Kelenjar ambing menghasilkan air susu untuk anak, terletak dibagian bawah luar perut. Lubang saluran air susu terletak di pucung putting yang pada sapi berjumlah 4 buah. Kelenjar supramamaria terletak pada jaringan lemak didasar ambing. 3. Fisiologi Reproduksi a. Periode Birahi Hewan betina dewasa mengalami masa birahi secara periodik dan tahapan ini disebut dengan deur estrus. Sapi betina yang mulai dewasa akan mengalami periode ini biasanya pada umur 10-15 bulan. Hewan betina selama periode ini bersedia kawin dengan hewan jantan. Periode daur birahi bervariasi antara berbagai jenis hewan, sedangkan pada sapi antara 18-24 hari. Hewan yang tidak dalam masa birahi akan menolak untuk kawin. Pada hewan yang tidak bunting, periode birahi dimulai sejak dari permulaan birahi sampai ke permulaan periode berikutnya. Biasanya sapi menjadi birahi dan ovulasi sekitar 6 minggu setelah beranak, tetapi ada variasi individu. Tanda birahi antara lain alat kelamin membengkak, berwarna kemerahan, rasa panas, dan ada lendir jernih keluar dari vulva. Sapi cenderung ingin menaiki sapi yang lain walau pun sesama jenis kelamin. Masa birahiini berlangsung antara 4 24 jam.

48

Apabila terjadi birahi yang sangat ringan, tandatandanya tidak tampak nyata dan keadaan ini disebut dengan birahi tenang. Salah satu sebab dari terjadinya birahi tenang adalah tingkat nutrisi hewan yang rendah. b. Proses Pembuahan Peranan hewan jantan dalam hal reproduksi terutama adalah memproduksi sperma dan sejumlah kecil cairan untuk memungkinkan sel sperma meluncur menuju rahim. Disamping itu, testis juga memproduksi hormon androgen yagn membuat sifat kejantanan bagi hewan yang bersangkutan. Keseluruhan getah yang secara normal keluar dari uretra sewaktu pancaran atau ejakulasi disebut semen. Jugalah sperma pada setiap pancaran dapat mencapai beberapa juta ekor setiap cm3 . Fungsi indung telur bagi hewan betina adalah untuk memproduksi getah eksternal dan internal. Getah eksternal adalah telur (ovarium), sedangkan getah internal adalah cairan folikel berisi hormon estrogen. Hormon ini merangsang rahim untuk siap menerima janin hasil pembuahan dan mempengaruhi pertumbuhan kelenjar ambing. Ovulasi terjadi bila satu sel telur atau ada kalanya dua didalam folikel dari indung telur telah masak sempurna dan melepaskan diri. Ketika sapi jantan mengawini betina yang berada dalam tahap ovulasi, maka pancaran spermanya akan masuk ke dalam vagina. Berjuta-juta spermatozoa dapat melewati leher rahim yang terbuka pada saat birahi, dan

49

beberapa diantaranya menembus sepanjang uterus menuju oviduk. Sebuah sel telur kemudian menjadi tertunas. Telur yang telah dibuahi akan melekat ke dinding salah satu dari tanduk rahim. Janin akan membentuk sebuah kantung berisi cairan selaput janin utnuk melindunginya. Ini secara berangsurangsur akan berkembang yang kemudian disebut janin. c. Masa kebuntingan Janin diselubungi oleh selaput janin yang disebut plasenta dan berkembang menjadi calon pedet yang pada saat kelahiran keluar melalui leher rahim masuk ke vagina dan melanjut keluar melalui vulva. Plasenta secara alami akan keluar dengan sendirinya dari uterus melalui proses secara normal. Perlekatan selaput janin ke dinding uterus dimungkinkan oleh adanya banyak kotiledon yang disamping berfungsi sebagai tempat perlekatan juga untuk menyalurkan nutrisi melalui aliran darah dari induk melewati tali pusar. Sapi yang telah bunting, daur birahinya akan terhenti dan berperilaku lebih tenang, serta kondisi tubuhnya menjadi semakin membaik. Sedangkan hewan yang sedang laktasi, produksi susunya akan semakin berkurang. Hewan yang sedang bunting, secara fisik perut akan membesar dan kelenjar ambing membengkak. Selanjutnya akan disusul dengan keluarnya kolustrum susu dan pada ujung putting akan terbentuk lapisan semacam lilin.

50

Lama kebuntingan pada sapi rata-rata 280 hari dengan variasi antara 274 291 hari. Pada kerbau masa kebuntingan berlangsung lebih lama yaitu 308 317 hari, dan pada kerbau rawa rata rata 332 hari dengan variasi antara 312 343 hari. d. Kelahiran Pedet Tahap kebuntingan akan berakhir dengan terjadinya kelahiran pedet. Tanda-tanda pada sapi yang akan melahirkan adalah terjadinya pembesaran perut, pembesaran kelenjar susu da keluar air susu, juga akan terlihat pembengkakan pada vulva yang mengeluarkan getah kental. Hewan menjadi gelisah dengan sebentar-sebentar merebahkan diri kemudian bangkit kembali secara berulang kali. Pada kelahiran anak sapi (pedet) yang normal, kaki depan akan terjulur keluar dari vulva induk terlebih dahulu dengan kepala berada diantara kedua kaki. Bagian punggung anak sapi bersinggungan dengan pinggul induk. Posisi demikian disebut presentasi kranial (arah kepala). Presentasi kaudal juga dianggap normal walaupun jarang dijumpai, yaitu kedua kaki belakang yang menjulur keluar terlebih dahulu. Kelahiran anak sapi yang normal terjadi secara alamiah. Namun adakalanya setelah kaki depan anak sapi muncul, induk sapi tidak memiliki kemampuan untuk mendorong keluar. Dalam keadaan demikian perlu dibantu secara pelan-pelan dengan menarik kaki anak sapi yang telah terjulur ke arah luar dan bawah. Apabila dengan bantuan penarikan masih sulit, sedangkan posisi anak adalah normal, maka perlu minta bantuan seorang dokter hewan untuk

51

membantu kelahiran, terlebih apabila posisi kelahiran diperkirakan abnormal atau adanya gangguan lain. Pemberian bantuan tidak didasari oleh keahlian tentang pengetahuan proses kelahiran, seringkali justru dapat menimbulkan kesulitan yang lebih parah. Plasenta umumnya akan keluar setelah kelahiran, tetapi dapat pula keluar secara bersama-sama atau bahkan mendahuluinya. Plasenta yang tertahan didalam melebihi 24 jam merupakan keadaan yang tidak normal. Oleh karena itu, apabila hal ini terjadi harus segera dibantu untuk mengeluarkannya. Pertolongan untuk mengeluarkan plasenta ini harus dilakukan oleh dokter hewan, karena kesalahan dalam pemberian bantuan dapat membahayakan keselamatan jiwa induk dan atau anak. Tertingganya plasenta tersebut ada kemungkinan disebabkan oleh penyakit zoonosis yang bila tidak tepat penanganannya dapat menginfeksi petugas.

52

Catatan Tambahan (untuk kegiatan diskusi) : STUDI KASUS REPRODUKSI

1. Umur sapi 6 tahun, sudah melahirkan 2 kali, setelah itu tidak pernah lagi bunting, birahi tetap terjadi dan dikawinkan. Apa penyebabnya? 2. Sejak masa birahi umur 2 tahun sampai umur 5 tahun, tidak pernah bunting, padahal setiap birahi dikawinkan tetapi tidak bunting. Apa penyebabnya ? 3. Berapa umur sapi dewasa dapat birahi, dan pada umur berapa juga sapi tersebut dapat diinseminasi untuk pertama kalinya ? 4. Umur sapi 5 tahun, telah mengalami keguguran pada umur 7 bulan sebanyak 2 kali. Masih bolehkan dilaksanakan inseminasi buatan pada sapi tersebut, atau lebih baik sapi tersebut dipotong ? 5. Ditemui seekor sapi betina 8 tahun, tidak pernah birahi. Apa yang sebaiknya dilakukan pada sapi ini, diperiksakan kepada dokter hewan atau dipotong saja? Apa kemungkinan kelainan yang terjadi pada sapi ini ? 6. Seekor sapi betina berusia 6 tahun, telah dilakukan Inseminasi Buatan 2 - 3 kali tetapi tidak berhasil. Apa kemungkinan yang terjadi dan apa yang harus dilakukan kepada sapi ini ? 7. Umur sapi 6 tahun, 2 kali melahirkan tetapi setelah itu tidak pernah lagi bunting sedangkan setiap masa birahi terjadi, tetap dikawinkan. Apa penyebabnya ?

53

8. Sejak masa kawin umur 2 tahun sampai umur 5 tahun tidak pernah terjadi kebuntingan padahal setiap masa birahi sering dikawinkan. Apa penyebabnya ? Kendala-kendala reproduksi yang dihadapi pada pengembangan

1. Tanda-tanda birahi sudah nampak (brons) tapi untuk dilakukan perkawinan alam sangat sulit dari betina / calon induk tidak dapat diajak tenang 2. Jarak reproduksi terlalu jauh 3 - 4 tahun Kasus yang kita alami setelah IB yaitu induknya mengalami pengguguran sebelum jangka waktu 21 hari Ada sapi yang walau sudah di IB / kawin alam, pada umur kandungan 3 - 4 bulan ada nampak tanda-tanda ingin kawin lagi Apakah ada alat perangsang birahi, karena ada sapi yang masa birahinya pendek. Ada sapi yang sudah di IB 2 - 3 kali kenyataannya tidak bunting padahal sapi di IB baru umur 18 bulan. Kenapa ada sapi yang sudah hampir 2 tahun tidak terjadi brons Ternak yang di IB lahir pada usia kandungan 8 bulan

54

Posisi kandungan (anak) terlalu dekat Umur sapi 4 tahun, sudah tiga kali dikawinkan lewat IB dan pejantan alami sudah dua kali

Sudah dua kali bunting tapi selalu gugur pada umur 7 bulan, umur sapi 5 tahun Karena kasus penyakit reproduksi

Metritis dan endometritis Permasalahan yang terjadi pada ternak saya (sapi), sapi saya sekitar 4 tahun dan sudah 2 kali melahirkan yang kedua ini anaknya sudah berumur 3 bulan tapi induknya belum brons. Sudah dikawinkan ternyata tidak berhasil. Apakah itu harus dikawinkan ulang ? ataukah ada gangguan penyakit reproduksi ? Umur sapi betina 8 tahun, sejak lahir belum pernah brons Umur sapi betina 6 tahun, brons normal, kawin alam atau kawin suntik tidak berhasil

55

Kami dari kelompok tani Sudulur Waya (Kampung Jawa). Permasalahan yang pernah terjadi setelah dilaksanakan IB pada saat timbul birahi sapi tetapi tidak berhasil, padahal umur sapi tersebut 3 tahun. Untuk itu tolong dijelaskan umur berapa sapi semestinya di IB? Apa penyebab sehingga IB tersebut tidak berhasil ?

Sapi betina sukar untuk dikawinkan tetapi setelah dikawinkan secara alam dengan cara betina diikat lalu melahirkan (berhasil) tetapi untuk masa birahi setelah beranak masih tetap tidak suka dikawini oleh pejantan dengan sukarela.

56

PEGANGAN PESERTA ISEMINATOR SWASTA


Buku ini merupakan bagian dari perangkat panduan pelatihan dan petunjuk praktis untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan oleh staf operasional, pada lembaga-lembaga pemerintah dan non-pemerintah, agar mampu memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat berekonomi lemah. Pegangan Peserta ini disusun berdasarkan pengalaman praktis proyek DELIVERI, dan informasi dari proyekproyek pengembangan lainnya di Indonesia dan negara lain. Buku ini adalah bagian dari perangkat bahan yang lebih luas, termasuk Panduan Kebijakan, Pelatihan dan Pelaksanaan, dan bahanbahan pendukung, yang menyajikan informasi yang komprehensif untuk membantu upaya peningkatan pelayanan. Bahan-bahan ini disusun oleh proyek DELIVERI, sebuah proyek kerja sama antara Departemen Pertanian Pemerintah Indonesia dan Departemen Pembangunan Internasional (Department for International Development - DFID) Pemerintah Inggris.

UNTUK INFORMASI LEBIH LANJUT, HUBUNGI:


Direktorat Jenderal Produksi Peternakan; Kantor Pusat Departemen Pertanian; Gedung C, Lt. 7, Room 702 A; JI. Harsono RM No. 3; Ragunan - Pasar Minggu; Jakarta Selatan 12550; Tel: +62 (021) 7817694; Fax: +62 (021) 78832049; E-mail: deliveri@indo.net.id

58