Anda di halaman 1dari 11

Gaya kepemimpinan Sebagai Posisi Tawar Dalam Mengatur Politik Internal

D I S U S U N Oleh : 1. Fredy Yohannes P 2. Friska Ulina 3. Amri Alffan 4. Anisa Khairani 5.Frans Sinulingga 6.Andre Yudhasmara 090906032 090906048 090906020 080906004 090906066 070906069

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara 2011

BAB I Latar Belakang


Sebagai individu dari bagian tubuh dalam oraganisasi yang memiliki kemampuan untuk memengaruhi dan mengarahkan pengambilan keputusan serta lahirnya kebijakan-kebijakan organisasi atau partai yang ada disebabkan individu yang mempunyai kemampuan refleksi, yaitu kemamouan berfikir dalam membaca dan menghadapi realita di kehidupan politik sehingga ia dapat memantaunnya dengan sigap, juga bisa memonitor apa yang dilakukan organisasi atau partai lain yang dilakaukan. Selain itu, keputusan atau kebijakan yang lahir dalam organisasi atau partai selalu mempresentasikan dengan dual rasionalitas, yaitu rasionalitas individu dan rasionalitas partai. Dalam pengorganisasian atau parpol pemipin harus mampu mengayomi. Pada gaya kepemimpinan otokrasi, pemimpin mengendalikan semua aspek kegiatan. Pemimpin memberitahukan sasaran apa saja yang ingin dicapai dan cara untuk mencapai sasaran tersebut, baik itu sasaran utama maupun sasaran minornya. Pemimpin juga berperan sebagai pengawas terhadap semua aktivitas anggotanya dan pemberi jalan keluar bila anggota mengalami masalah. Dengan kata lain, anggota tidak perlu pusing memikirkan apappun. Anggota cukup melaksanakan apa yang diputuskan pemimpin gaya kepemimpinan adalah cara yang digunakan dalam proses kepemimpinan yang diimplementasikan dalam perilaku kepemimpinan seseorang untuk mempengaruhi orang lain untuk bertindak sesuai dengan apa yang dia inginkan. Selain itu menurut Flippo (1987), gaya kepemimpinan juga dapat didefinisikan sebagai pola tingkah laku yang dirancang untuk mengintegrasikan tujuan organisasi dengan tujuan individu untuk mencapai suatu tujuan tertentu Menurut University of Iowa Studies yang dikutip Robbins dan Coulter (2002), Lewin menyimpulkan ada tiga gaya kepemimpinan; gaya kepemimpinan autokratis, gaya kepemimpinan demokratis, gaya kepemimpinan Laissez-Faire (KendaliBebas)

Gaya Kepemimpinan Autokratis Menurut Rivai (2003), kepemimpinan autokratis adalah gaya kepemimpinan yang menggunakan metode pendekatan kekuasaan dalam mencapai keputusan dan pengembangan strukturnya, sehingga kekuasaanlah yang paling diuntungkan dalam organisasi Robbins dan Coulter (2002) menyatakan gaya kepemimpinan autokratis mendeskripsikan pemimpin yang cenderung memusatkan kekuasaan kepada dirinya sendiri, mendikte bagaimana tugas harus diselesaikan, membuat keputusan secara sepihak, dan meminimalisasi partisipasi karyawan Lebih lanjut Sukanto (1987) menyebutkan ciri-ciri gaya kepemimpinan autokratis 1. Semua kebijakan ditentukan oleh pemimpin. 2. Teknik dan langkah-langkah kegiatannya didikte oleh atasan setiap waktu, sehingga langkah-langkah yang akan datang selalu tidak pasti untuk tingkatan yang luas. 3. Pemimpin biasanya membagi tugas kerja bagian dan kerjasama setiap anggota. Sedangkan menurut Handoko dan Reksohadiprodjo (1997), ciri-ciri gaya kepemimpinan autokratis 1. Pemimpin kurang memperhatikan kebutuhan bawahan. 2. Komunikasi hanya satu arah yaitu kebawah saja. 3. Pemimpin cenderung menjadi pribadi dalam pujian dan kecamannya terhadap kerja setiap anggota. 4. Pemimpin mengambil jarak dari partisipasi kelompok aktif kecuali bila menunjukan keahliannya Gaya kepemimpinan Demokratis / Partisipatif Kepemimpinan demokratis ditandai dengan adanya suatu struktur yang pengembangannya menggunakan pendekatan pengambilan keputusan yang kooperatif. Dibawah kepemimpinan demokratis bawahan cenderung bermoral tinggi, dapat bekerja sama, mengutamakan mutu kerja dan dapat mengarahkan diri sendiri (Rivai, 2006) Menurut Robbins dan Coulter (2002), gaya kepemimpinan demokratis

mendeskripsikan pemimpin yang cenderung mengikutsertakan karyawan dalam pengambilan keputusan, mendelegasikan kekuasaan, mendorong partisipasi karyawan dalam menentukan bagaimana metode kerja dan tujuan yang ingin dicapai, dan memandang umpan balik sebagai suatu kesempatan untuk melatih karyawan. Jerris (1999) menyatakan bahwa gaya kepemimpinan yang menghargai kemampuan karyawan untuk mendistribusikan knowledge dan kreativitas untuk meningkatkan servis, mengembangkan usaha, dan menghasilkan banyak keuntungan dapat menjadi motivator bagi karyawan dalam bekerja Ciri-ciri gaya kepemimpinan demokratis : 1. Semua kebijaksanaan terjadi pada kelompok diskusi dan keputusan diambil dengan dorongan dan bantuan dari pemimpin. 2. Kegiatan-kegiatan didiskusikan, langkah-langkah umum untuk tujuan kelompok dibuat, dan jika dibutuhkan petunjuk-petunjuk teknis pemimpin menyarankan dua atau lebih alternatif prosedur yang dapat dipilih. 3. Para anggota bebas bekerja dengan siapa saja yang mereka pilih dan pembagian tugas ditentukan oleh kelompok. Lebih lanjut ciri-ciri gaya kepemimpinan demokratis : 1. Lebih memperhatikan bawahan untuk mencapai tujuan organisasi. 2. Menekankan dua hal yaitu bawahan dan tugas. 3. Pemimpin adalah obyektif atau fact-minded dalam pujian dan kecamannya dan mencoba menjadi seorang anggota kelompok biasa dalam jiwa dan semangat tanpa melakukan banyak pekerjaan. Gaya Kepemimpinan Laissez-faire (Kendali Bebas) Gaya kepemimpinan kendali bebas mendeskripsikan pemimpin yang secara keseluruhan memberikan karyawannya atau kelompok kebebasan dalam pembuatan keputusan dan menyelesaikan pekerjaan menurut cara yang menurut karyawannya paling sesuai . Menurut Sukanto ciri-ciri gaya kepemimpinan kendali bebas: 1. Kebebasan penuh bagi keputusan kelompok atau individu dengan partisipasi minimal dari pemimpin.

2. Bahan-bahan yang bermacam-macam disediakan oleh pemimpin yang membuat orang selalu siap bila dia akan memberi informasi pada saat ditanya. 3. Sama sekali tidak ada partisipasi dari pemimpin dalam penentuan tugas. 4. Kadang-kadang memberi komentar spontan terhadap kegiatan anggota atau pertanyaan dan tidak bermaksud menilai atau mengatur suatu kejadian. Ciri-ciri gaya kepemimpinan kendali bebas : 1. Pemimpin membiarkan bawahannya untuk mengatur dirinya sendiri. 2. Pemimpin hanya menentukan kebijaksanaan dan tujuan umum. 3. Bawahan dapat mengambil keputusan yang relevan untuk mencapai tujuan dalam segala hal yang mereka anggap cocok.

Landasan Teori
Teori yang kami angkat dalam kepemimpinan sebagai posisi tawar di partai politik, yaitu Teori Kontingensi Kepemimpinan Fiedler yang mulai berkembang pada tahun 1962, teori ini menyatakan bahwa tidak ada satu sistem manajemen yang optimum dilaksanakan pemimpin, sistem tergantung pada tingkat perubahan lingkungannya. Sistem ini disebut sistem organisasi (sebagai lawan sistem mekanistik), pada sistem ini mempunyai beberapa ciri substansinya adalah :
1. Manusia bukan tugas, tetapi lebih menekankan hierarki struktur yang saling

berhubungan dan fleksibel.


2. Dalam bentuk kelompok kebersamaan dalam nilai. 3. Kepercayaan serta norma pengendalian diri sendiri, penyesuaian bersama.

Meski pemimpin memiliki ciri khas gaya kepemimpinan, sebaiknya seorang pemimpin juga bisa memadukan beberapa gaya kepemimpinan sekaligus dalam dirinya. Dalam penelitiannya, Goleman juga menegaskan bahwa para pemimpin yang sukses umumnya memadukan beberapa gaya kepemimpinan pada dirinya karena satu gaya saja tidak pernah cukup mengatasi masalah yang banyak. Jika misalnya seorang atasan pria harus banyak berinteraksi dengan kader yang kebanyakan perempuan atau sebaliknya, gunakan pendekatan dengan gaya kepemimpinan yang lembut dan penuh perhatian. Tapi, di saat tertentu gunakan gaya kepemimpinan maskulin yang tegas. Untuk bisa memadukan beberapa gaya kepemimpinan dengan tepat, identifikasi wilayah dan kader partai yang ada di bawah atasan, kemudian carilah gaya kepemimpinan yang tepat untuk dipadukan dengan gaya kepemimpinan yang menjadi ciri khasnya. Setelah itu, lihat hasilnya dan lakukan evaluasi jika hasilnya belum maksimal. Fiedler memperkenalkan tiga variabel yaitu:
1. Task Structure : keadaan tugas yang dihadapi apakah structured task atau

unstructured task.
2. Leader Member Relationship : hubungan antara pimpinan dengan bawahan,

apakah kuat (saling percaya, saling menghargai) atau lemah.


3. Position Power : ukuran aktual seorang pemimpin, ada beberapa power

yaitu:

Legitimate power : adanya kekuatan legal pemimpin. Reward power : kekuatan yang berasal imbalan yang diberikan pimpinan. Coercive power : kekuatan pemimpin dalam memberikan ancaman. Expert power : kekuatan yang muncul karena keahlian pemimpinnya. Referent power : kekuatan yang muncul karena bawahan menyukai pemimpinnya. Information power : pemimpin mempunyai informasi yang lebih dari bawahannya.

Dari varabel diatas pemipin disini mempunya nilai kompleksivitas dari pada bawahannya agar pemimpin memahami segala nilai yang akan dipunyainya selama menjadi pemimpin, gaya kepemimpin yang seperti diatas merupakan ideal bagi pemipin yang akan membawa satu organisasi kearah yang sukses yang dibantu para menteri atau pengurus kerja.

BAB II PEMBAHASAN
Gaya kepemimpinan yang dibawakan oleh salah satu pemimpin di Indonesia. Mengarah pada perubahan menuju akselerasi kinerja lebih cepat. Jelas staf khusus bidang komunikasi politik presiden kemarin. Didalam kinerjanya yang memasuki tahun ke dua banyak presiden lakukan pergantian di kementriannya. Reshuffle bakal sangat berdampak terhadap gaya kepemimpinan SBY. Nanti, presiden lebih menerapkan pola pendekatan intervensionis. Hal itu dilakukan agar pemerintah lebih mudah menyelesaikan masalah.

Masyarakat jangan heran kalau melihat presiden sering turut campur dalam berbagai kasus. Terutama dalam kasus yang sedang dihadapi kementerian yang terlambat menyelesaikan pro gram pembangunan ,perekonomian dan korupsi. Reshuffle dilakukan merupakan wewenang penuh presiden. Namun, sebagaimana dikatakan SBY, reshuffle dilakukan demi terwujudnya integrasi dan pemantapan program kerja presiden selama lima tahun. Presiden Indonesia yang memipin pada kepriodean keduanya nampak pada teori kontingensi bahwa kinerja dari pemerintah yang kurang memuaskan dimata masyarakat akan terancam di reshuffle dan perubahan ini dilakukan menurut perubahan lingkungan di masyarakat. Dalam kementrian nilai kebersamaan merupakan esensi kekompakan pada struktur komunikasi , agar tidak adamentri yang berjalan pada amanah rakyat. Kordinasi antar kementrian pun perlu dibangun untuk memudahkan kinerja satu sama lain bahwa sistem manajemen optimum pemimpin juga dinilai dari kinerja di kementriannya. Presiden harus mampu berinteraksi dengan seluruh komponen kader dan mentrinya dengan gaya intervisionis agar terasa kehangatan didalam menjalakan roda organisasi terbesar ialah negara. Seorang pemimpin juga memberikan kepercayaan penuh atas kinerja yang dilakukan kementriannya sebagai sistem organisasi ( sebagai lawan sistem mekanistik ), yang tetap sifatnya penyesuaian bersama. Hubungan yang saling timbal- balik akan membangun kemajuan organisasi yang terbesar ini karena terciptanya saling menghargai. Pemimpin disini akan diberikan wewenang memimpin negara bila adanya legitimate power dari kesahan rakyat atau anggota dalam pemilihan yang

dilaksanakan. Banyak pertimbangan yang dilakukan untuk menjabat sebagai posisi strategis di organisasi ada dari gaya dalam hal memimpin ada juga dari bawahan atau anggota dalam mengayomi kepada semua kalangan untuk menyukseskan organisasinya. Kemampuan presiden juga akan dinilai dari penyelesaian setiap masalah di dalam negeri, kepemimpinan yang dilakukan SBY yang menjabat di posisi starategis partainya sebagi dewan pembina banyak melakukan hal-hal yang tak kunjung selesai masalah yang ini turut mengurangi apresiatif rakyat. Ketegasan pemipin juga point penting dalam gaya kepemimpinan yang maskulin bila terlihat presiden yang mengeluh serta mengritik tugasnya , seharusnya pemipin bisa menanggapi dengan tegas dan bersifat membangun dirinya , pemipin biasanya tebal akan kritik karena roda organisasi terbesar ini pun takkan maksimal bila hanya presiden yang menjalankannya. Pemimpin memang mmepunyai beberapa gaya dalam menjalankan kepemimpinanya tergantung dengan tingkat permasalahannya Dalam satu inti permasalahan di negara ini adalah korupsi yang tak kunjung ada penyelesaiannya, disini presiden sebagai pemangku posisi strategis harus tegas menindak kementriannya dan kadernya yang terlibat kasus ini agar muncul reaktif dari rakyat yang positif terhadap kinerja presiden bukan lagi pencitraan, sekarang ini kinerja presiden dinilai banyak melakukan penurunan .

BAB III KESIMPULAN


Sudah banyak pembahasan yang disampaikan tentang gaya kepemimpinan di makalah ini, dengan kesimpulan bahwa tidak ada roda organisasi yang sempurna yang dijalankan tanpa keterlibatan dari pengurus,anggota dan oran-orang yang mau memajukkan dalam satu organisasi. Pemipin bekerja terhadap program yang dibuat pada keputusan atau amanah yang dibutuhkan. Pemimpin yang memberikan batasan kepada bawahan karean sudah ada spesialisasi program yang akan ditujukkannya. Kemudian pemimpin bersifat fleksibel terhadap orang-orang di sekitarnya dengan kedewasaan bawahannya agar tercipta rasa kehangatan antara pemimpin dengan mentrinya, kadernya dan orang yang membangun organisasi. Pemimpin harus mempunyai nilai goal atau misi pada program yang dibuatnya agar terciptanya apresiatif dari rakyat atau anggota, ketegasan pun harus ada dalam jiwa pemimpin agar pencitraan yang dilakukan harus dihindarkan. Pemimpin mampu menguasai berbagai macam yaitu mampu menguasai para menteri/kadernya juga mampu menguasai masalah yang dhadapi dilikungannya agar setiap yang dihadapinya dapat berjalan dengan hasil memuaskan bagi seluruh komponen di organisasi.

Daftar Pustaka:
Garry, Yukl, 1994, Kepemimpinan Dalam Organisasi Adam I, Indrawijaya. 1989. Perubahan dan Pengembangan Organisasi. Bandung: Penerbit Sinar Baru. Rais,Soenyoto , 1994, Pengelolaan Organisasi, Surabaya,Airlangga. Winardi,1990, Asas-Asas Manajemen, Bandung, Mandar Maju. http://www.arismaduta.org/index.php? option=com_content&view=article&id=100:gayakepemimpinan&catid=60:keorganisasian&Itemid=87. http://lifestyle.okezone.com/read/2010/05/20/198/334517/tujuh-langkahmenciptakan-gaya-kepemimpinan.