Anda di halaman 1dari 26

jakarta (ANTARA News) - Pemanfaatan lahan rawa dapat dijadikan lahan alternatif untuk pengembangan pertanian, meskipun perlu

pengelolaan yang tepat, dukungan kelembagaan yang baik dan profesional serta pemantauan secara terus menerus. Potensi lahan rawa di Indonesia adalah seluas 33,43 juta hektar yang terdiri dari 20,15 juta hektar rawa pasang surut dan 13,28 juta hektar rawa lebak. Lahan rawa yang telah dibuka atau direklamasi mencapai 5 juta hektar, luas tersebut sudah termasuk bekas lahan pertanian lahan gambut sejuta hektar di Kalimantan Tengah. Meskipun pemerintah sudah dilakukan pembangunan terhadap lahan rawa, tetap diperlukan pengembangan pertanian yang baik. Apabila tidak demikian sangat dimungkinkan pembangunan lahan rawa tersebut tidak akan mendapatkan hasil pertanian secara optimal. Hal itu disebabkan karena karakteristik dari ekosistem lahan rawa yang bersifat marjinal dan rapuh.

Ekosistem dan Produktivitas Ekosistem lahan rawa bersifat marjinal dan rapuh yang rentan terhadap perubahan baik oleh karena faktor alam (kekeringan, kebakaran, dan kebanjiran), maupun karena faktor kesalahan pengelolaan (reklamasi, pembukaan, budidaya intensif). Jenis tanah di kawasan rawa tergolong tanah bermasalah yang mempunyai banyak kendala. Misalnya tanah gambut mempunyai sifat kering tak balik (reversible drying), mudah ambles (subsidence), dan penurunan kadar hara (nutrients deficiency). Tanah gambut mudah berubah menjadi bersifat hidrofob (takut air) apabila mengalami kekeringan. Gambut yang menjadi hidrofob tidak dapat lagi mengikat air dan hara secara optimal seperti kemampuan semula. Selain itu, khusus tanah suffidik dan tanah sulfat masam mudah berubah apabila teroksidasi. Lapisan tanah (pirit) yang teroksidasi mudah berubah menjadi sangat masam (pH 2--3). Hasil penelitian dan pengkajian menunjukkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian di lahan rawa diperlukan pendekatan yang menyeluruh menyangkut perbaikan lahan dan kemampuan sosial ekonomi masyarakat setempat. Selain tanaman pangan seperti padi, palawija, dan umbi-umbian dan perkebunan seperti karet, kelapa, dan kelapa sawit, beberapa tanaman sayur mayur dan buah-buahan dapat ditanam dengan pengelolaan yang baik. Akan tetapi produktivitas tanaman yang dapat dicapai di lahan rawa sangat tergantung pada tingkat kendala dan ketepatan pengelolaan. Namun pada umumnya petani dalam penanganan pasca panen termasuk pengelolaan hasil masih lemah. Selain itu juga pemasaran hasil yang terbatas sehingga masih diperlukan dukungan kelembagaan yang baik dan profesional serta

komitmen pemerintah provinsi, kabupaten/kota dalam meningkatkan kesejahteraan petani rawa.

Bagaimana memajukan pertanian lahan rawa? Pemahaman mendalam tentang sifat dan perilaku lingkungan fisik seperti tanah, air dan lainnya, sangat diperlukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi budidaya dan pengelolaan lahan rawa meskipun tersedia banyak, tetapi perubahan sifat-sifat tanah dan lingkungan dapat berlangsung cepat dan sangat berpengaruh terhadap produktivitas. Sehingga diperlukan siasat untuk mengatasinya secara dini. Keadaan ini memerlukan pemantauan secara terus menerus sehingga pengawalan secara ketat terhadap penerapan teknologi dan pengelolaan selanjutnya sangat diperlukan. Lahan rawa yang dibuka mudah menjadi lahan bongkor. Perubahan ini tidak diperkirakan sebelumnya. Kesan ini tampak karena sebagian lahan mengalami pengatusan berlebih (overdrainage), muka air turun di bawah lapisan pirit setelah direklamasi. Gambut menjadi kering tak balik (ineversibe drying) dan hidrofob (takut air) setelah diusahakan. Keadaan ini memacu terjadinya kemasaman, penurunan hara, dan peningkatan pelolosan (exhausted) hara, serta peningkatan kelarutan racun beserta asam-asam organik. Pengembangan lahan rawa mempunyai banyak keterkaitan dengan gatra lingkungan yang sangat rumit karena hakekat rawa selain mempunyai fungsi produksi juga fungsi lingkungan. Apabila fungsi lingkungan ini menurun maka fungsi produksi akan terganggu. Oleh karena itu perencanaan pengembangan rawa harus dirancang sedemikian rupa untuk memadukan antara fungsi lahan sebagai produksi dan penyangga lingkungan agar saling menguntungkan atau konpersatif. Selain itu, selalu memperhatikan prinsip tata air yang berlaku untuk lahan rawa Rancangan semacam inilah yang memungkinkan untuk tercapainya pertanian berkelanjutan di lahan rawa.

Prinsip tata air untuk lahan rawa Prinsip penting yang harus diterapkan jika akan berhasil bertani di lahan rawa adalah pengelolaan air atau sering disebut tata air bukan hanya dimaksudkan untuk menghindari terjadinya banjir atau genangan yang berlebihan di musim hujan. Juga harus dimaksudkan untuk menghindari kekeringan di musim kemarau. Selain itu, juga untuk menghindari bahaya kekeringan lahan sulfat masam dan lahan gambut.

Untuk melakukan pengelolaan air dalam suatu kawasan yang luas harus membuat jaringan reklamasi sehingga keberadaan air bisa dikendalikan. Ada tiga jenis tata air untuk lahan rawa yaitu tata air makro, tata air mikro, dan tata air dalam lahan pertanaman. Seluruhnya terkait satu sama lainnya dan dilakukan pengelolaan dalam suatu kawasan yang luas. Oleh karena kawasannya yang luas, maka pembangunan dan pemeliharaannya harus dilaksanakan secara kolektif.

Tata air makro Lahan rawa memerlukan tata air makro dengan membuat saluran drainase dan irigasi yang terdiri atas saluran primer, sekunder, dan tersier. Saluran drainase dibuat guna menampung dan menyalurkan air yang berlebihan dalam suatu kawasan ke luar lokasi. Sebaliknya saluran irigasi dibuat untuk menyalurkan air dari luar lokasi ke suatu kawasan untuk menjaga kelembaban tanah atau mencuci senyawa-senyawa beracun. Oleh sebab itu, pembuatan saluran drainase harus dibarengi dengan pembuatan saluran irigasi. Selain itu, perlu dibangun tanggul penangkis banjir di sepanjang saluran karena drainase saja sering tidak mampu mengatasi luapan air musim hujan. Kemudian diperlukan waduk retarder atau chek dam yaitu waduk yang dibuat di lahan rawa lebak atau lebak peralihan. Fungsi waduk ini untuk menampung air di musim hujan, mengendalikan banjir, dan menyimpannya untuk disalurkan di musim kemarau. Selain itu, juga diperlukan saluran intersepsi yang berfungsi untuk menampung aliran permukaan dari lahan kering di atas lahan rawa. Letaknya pada perbatasan antara lahan kering dan lahan rawa. Saluran ini sering dibuat cukup panjang dan lebar sehingga menyerupai waduk panjang. Apabila ada kelebihan air akan disalurkan melalui bagian hilir ke sungai sebagai air irigasi.

Tata air mikro Tata air mikro ialah pengelolaan air pada skala petani. Dalam hal ini, pengelolaan air dimulai dari pengelolaan saluran tersier serta pembangunan dan pengaturan saluran kuarter dan saluran lain yang lebih kecil. Saluran tersier umumnya dibangun oleh pemerintah tetapi pengelolaannya diserahkan kepada petani. Pengelolaan air di tingkat petani bertujuan untuk mengatur agar setiap petani memperoleh air

irigasi dan membuang air drainase secara adil. Untuk itu diperlukan organisasi di tingkat desa. Kemudian, pengelolaan di tingkat petani juga menciptakan kelembaban tanah di lahan seoptimal mungkin bagi pertumbuhan tanaman serta mencegah kekeringan lahan sulfat asam dan lahan gambut.

Tata air dalam lahan pertanaman Kuarter merupakan saluran di luar pertanaman yang paling kecil. Di dalam lahan, dibuat saluran drainase intensif yang terdiri dari saluran kolektor dan saluran cacing. Pengaturan lahan dapat ditata dengan sistem caren dan surjan. Pada sistem ini saluran drainase intensif dibuat setelah selesai pembuatan Sedangkan, pada lahan yang ditata dengan sistem sawah dan tegalan, pembuatan saluran setelah pengolahan tanah. Saluran kolektor dibuat mengelilingi lahan. Untuk saluran kolektor yang berhubungan dengan saluran irigasi diberi pintu pada bagian hulu. Sedangkan saluran kolektor yang berhubungan dengan saluran drainase diberi pintu pada bagian hilir. Pintu cukup dibuat dengan cara menggali tanggul dan dapat ditutup sewaktu-waktu dengan cara menimbun kembali. Sedangkan posisi saluran cacing sebaiknya dibuat tegak lurus dengan saluran kolektor.

Air merupakan unsur penting bagi tanaman. Di samping berfungsi langsung dalam proses pertumbuhan, air juga berfungsi dalam mengendalikan gulma, mencuci senyawa-senyawa beracun, dan menyuplai unsur hara. Sementara di sisi lain, air juga menjadi kendala jika keberadannya tidak diatur dan kualitasnya menjadi kurang baik atau beracun. Oleh sebab itu, pengelolaan air dalam pertanian lahan rawa perlu mendapatkan perhatian secara serius dan kolektif.

Pengertian Lahan Rawa Rawa adalah lahan genangan air secara ilmiah yang terjadi terus-menerus atau musiman akibat drainase yang terhambat serta mempunyai ciri-ciri khusus secara fisika, kimiawi dan biologis. Lahan rawa merupakan lahan alternatif untuk pengembangan pertanian. Lahan rawa terdiri atas lahan pasang surut dan lahan lebak masing-masing dengan luas 20,15 juta hektar dan 13,28 juta hektar. Sejarah pemanfaatan rawa dilatarbelakangi oleh kondisi kekurangan pangan yang dialami Indonesia pada masa-masa awal kemerdekaan.lmpor beras Indonesia pada masa itu mencapai hampir 20% dari pangsa yang diperdagangkan di pasar dunia sehingga secara murad (significant) mengurangi peruntukan dana pembangunan. Pertimbangan Teknis Pengelolaan secara hati-hati berdasarkan penelitian dari berbagai aspek sangat diperlukan untuk mendukung keberhasilan pemanfaatan rawa. Teknologi pengelolaan lahan rawa meliputi : (1) pengelolaan air; (2) pengolahan tanah; (3) ameliorasi dan pemupukan ; (4) pola tanam ; (5) pemberantasan hama dan penyakit; (6) panen dan pasca panen. Pengelolaan air yang tepat merupakan kunci keberhasilan pengelolaan lahan rawa. Dalam rancangan infrastruktur hidrologi, pengelolaan air dibedakan menjadi : 1. pengelolaan air makro yaitu penguasaan air pada tingkat kawasan reklamasi dan 2. pengelolaan air mikro, yaitu pengaturan air pada tingkat tersier dan petak petani. Pengolahan tanah 1. Biasanya tanah mineral di lahan rawa itu lembek atau sudah melumpur di waktu lahan digenangi.

2. Oleh karena itu petani biasanya hanya menggunakan tajuk atau melaksanakan pengolahan tanah minimum. Namun ada lahan yang telah lama dibuka biasanya tanahnya telah mengeras membentuk bongkah-bongkah. Pengendalian Hama dan Penyakit 1. Hama dan penyakit ini mampu mengagalkan panen sampai 100%. Karenanya pengendalian hama dan penyakit untuk menjaga produktivitas sangat diperlukan. 2. Faktor penting teknis produksi untuk meningkatkan produktivitas sawah di lahan rawa adalah pengendalian hama dan penyakit. Kondisi lahan rawa yang panas dan lembab sangat cocok bagi perkembangan hama dan penyakit tanaman. Hama-hama penting di sawah rawa adalah tikus, wereng coklat dan penggerek batang untuk padi dan penggerek polong untuk kedelai. Mekanisasi 1. Karena pemilikan lahan cukup luas, maka petani biasanya menerapkan sistem tebas tanam (zero tillage), sehingga produktivitas lahan menjadi rendah. 2. Pemilikan lahan tiap keluarga petani di lahan rawa umumnya lebih tinggi dibanding sawah irigasi. Sedangkan kemampuan maksimal pengusahaan lahan oleh tenaga kerja keluarga tidak lebih dari 0,3 ha (Komarudin dan Imtias Basa, 1990). Kendala Pengembangan Dari segi ekonomi lahan rawa mempunyai keragaman lingkungan fisik, sifat dan watak tanah, kesuburan tanah, dan tingkat produktivitas lahan. Sebagai akibatnya keragaman hasil produksi tanaman dan pendapatan petani akan berbeda antara satu tempat dengan tempat yang lainnya, terlebih lagi apabila terdapat perbedaan dalam pemberian masukan, teknologi budidaya,dan pengelolaan lahan. Pada kesudahan reklamasi timbul berbagai masalah terutama pada gatra agronomi dan tanah, keteknikan (rekayasa), dan lingkungan hidup yang pada gilirannya berdampak terhadap kondisi social ekonomi petani rawa. Reklamasi lahan rawa adakalanya tidak mencapai sasaran sebagaimana diharapkan sehingga memunculkan masalah-masalah sosial dan ekonomi yang serius. Timbulnya lahan bongkor (sleeping land) yang semakin luas dilahan rawa tidak lepas dari akibat kesalahan masa lalu sehingga upaya perbaikannya ibarat mengukir masa depan diatas batu sandungan masa lalu dan merupakan pelajaran yang berguna untuk selanjutnya dalam menapaki pengembangan lahan rawa. Suryanto Saragih dan Dakhyar Nazemi Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa Walaupun Indonesia pada tahun 2008 yang baru lalu telah berhasil mecapai swasembada pangan khususnya beras, namun kedepan sektor pertanian nampaknya masih akan menghadapi masalah

yang semakin komplek diantaranya seperti tingkat pertumbuhan penduduk yang masih tinggi, alihfungsi lahan yang kelihatannya sulit dibendung dan juga terdapatnya fenomena stagnasi peningkatan produksi akibat degradasi kualitas lahan. Kelestarian swasembada pangan khususnya beras perlu dipertahankan, juga selain mengupayakan swasembada pada komoditas esensial lainnya seperti kedelai. Data terakhir menunjukkan kebutuhan kedelai dalam negeri sekitar 2,2 juta ton per tahun, sementara produksi kedelai dalam negeri hanya 700.000 ton per tahun Oleh karenanya agar negara ini tidak bergantung terlalu besar pada kedelai impor, peningkatan produksi harus diupayakan baik melalui ekstensifikasi maupun intensifikasi. Salah satu sumberdaya lahan yang mempunyai prospek cukup besar untuk pengembangan kedelai adalah lahan rawa lebak yang tersebar mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Potensi lahan rawa lebak di Indonesia diperkirakan sekitar 13,28 juta ha, dan yang potensial untuk pengembangan pertanian seluas 10,19 juta ha, namun baru di reklamasi seluas 1,55 juta ha sedangkan yang dimanfatkan untuk pertanian baru sekitar 0,729 juta ha. Hal ini menunjukkan bahwa potensi sumber daya lahan yang dapat dimanfaatkan untuk pertanian khususnya untuk pengembangan kedelai cukup besar. Kendala utama pertanaman kedelai di lahan rawa lebak adalah regim airnya dimana fluktuasi air yang tidak menentu, perubahan lengas tanah yang berlangsung cepat sehingga potensi tanaman mengalami cekaman stress kekeringan sangat tinggi, , sifat fisiko-kimia dan kesuburan tanah beragam, dukungan prasarana yang belum memadai serta tingkat keterampilan petani yang masih rendah. Oleh karena itu dalam mengembangkan pertanian di lahan lebak memerlukan penerapan teknologi yang meliputi pengaturan waktu tanam, penataan lahan, pengaturan sistem tata air berbeda-beda agar diperoleh hasil yang maksimal. Beberapa varietas kedelai yang dapat dikembangan di lahan rawa lebak adalah Wilis, Rinjani, Lokon, Dempo, Galunggung, Slamet, Lawit, Merbabu, Petek, Kerinci, Tampomas, Tanggamus, Menyapa. Dengan penerapan teknologi budidaya sesuai karakteristik lahan produktiitas kedelai

KARAKTERISTIK SIFAT FISIK DAN POTENSI TANAH RAWA LEBAK UNTUK PENGEMBANGAN PERTANIAN DI KALIMANTAN SELATAN
KARAKTERISTIK SIFAT FISIK DAN POTENSI TANAH RAWA LEBAK UNTUK PENGEMBANGAN PERTANIAN DI KALIMANTAN SELATAN PENDAHULUAN Tanah merupakan salah satu medium tumbuh bagi tanaman sehingga pemahaman terhadap sifat ekologi tanah dalam kaitannya dengan pertumbuhan dan produksi tanaman sangat penting. Tanah dan lingkungan dengan keanekaragaman flora dan fauna yang hidup baik di atas maupun di bawah permukaannya merupakan kekayaan sumber daya alam yang perlu dilestarikan. Indonesia dikenal mempunyai beranekaragam agroekosistem (ekosistem pertanian) (Noor, M. 2007). Rawa lebak adalah salah satu agroekosistem yang dimiliki Indonesia dengan luas sekitar 13,27 juta hektar. Potensi rawa lebak ini belum banyak dimanfaatkan atau dikembangkan. Lahan rawa lebak merupakan agroekosistem yang pengembangannya masih tertinggal dibandingkan dengan

agriekosistem lainnya seperti lahan kering atau lahan irigasi. Walaupun demikian, pemanfaatan rawa lebak baik untuk pertanian, perikanan, maupun peternakan bahkan pariwisata secara terbatas sudah sejak lama oleh manyarakat setempat (Noor, M. 2007). Lahan rawa semakin penting peranannya dalam upaya mempertahankan swasembada beras dan mencapai swasembada bahan pangan lainnya, mengingat semakin berkurangnya lahan subur untuk area pertanian di Pulau Jawa akibat alih fungsi lahan ke perumahan dan keperluan non pertanian lainnya. Potensi lahan rawa lebak di Indonesia mencapai 14 juta hektar, terdiri dari rawa lebak dangkal seluas 4.166.000 ha, lebak tengahan seluas 6.076.000 ha, dan lebak dalam seluas 3.039.000 ha. Sebagian lahan rawa lebak ini belum dimanfaatkan untuk usaha pertanian sehingga potensi pengembangannya masih sangat besar. Berbagai teknologi pengembangan lahan rawa lebak telah diketahui, akan tetapi dalam pemanfaatannya memerlukan informasi sumberdaya lahan dan penggunaan lahan yang spesifik dan sesuai dengan lokasi pengembangannya. Aspek teknis tipologi lahan dan tipe luapan merupakan dua hal penting yang perlu diketahui sebagai dasar pengelolaan dan pengembangan lahan rawa lebak pada tahap awal. Keberhasilan pengembangan lahan rawa lebak untuk areal pertanian sangat tergantung pada teknologi yang diterapkan dan kondisi fisik lingkungan yang spesifik lokasi. Dalam rangka mendukung pengembangan lahan rawa lebak di provinsi Kalimantan Selatan, diperperlukan data dan informasi mengenai karakteristik dan potensi lahan rawa lebak. Ada tiga dasar kajian untuk memperoleh data dan informasi mengenai karakteristik dan potensi lahan rawa lebak, yaitu aspek tanah, meliputi daya dukung tanah sesuai tipologi lahan dan karateristik yang menyertainya, aspek air yaitu pola genangan air yang sangat mempengaruhi terhadap pola penggunaan lahan rawa lebak, dan aspek sosial ekonomi yang akan mempengaruhi pendapatan petani. Adapun tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui dan mempelajari karakteristik sifat fisik dan potensi tanah rawa lebak untuk pengembangan pertanian di Kalimantan Selatan. KARAKTERISTIK SIFAT FISIK DAN POTENSI TANAH RAWA LEBAK UNTUK PENGEMBANGAN PERTANIAN DI KALIMANTAN SELATAN Lahan Rawa Lebak 1. Pengertian Lahan Rawa Lebak Kata lebak diambil dari kosakata bahasa Jawa yang berarti lembah atau tanah rendah . Rawa lebak adalah wilayah daratan yang mempunyai genangan hampir sepanjang tahun, minimal selama tiga bulan dengan tinggi genangan minimal 50 cm. Rawa lebak yang dimanfaatkan atau dibudidayakan untuk pengembangan pertanian, termasuk perikanan dan peternakan disebut lahan rawa lebak. Rawa lebak yang sepanjang tahun tergenang atau dibiarkan alamiah disebut rawa monoton, sedangkan jika kedudukannya menjorok masuk jauh dari muara laut/sungai besar disebut rawa pedalaman (Noor, M. 2007). Rawa lebak secara khusus diartikan sebagai kawasan rawa dengan bentuk wilayah berupa cekungan dan merupakan wilayah yang dibatasi oleh satu atau dua tanggul sungai (levee) atau antara dataran tinggi dengan tanggul sungai. Bentang lahan rawa lebak menyerupai mangkok yang bagian tengahnya paling dalam dengan genangan paling tinggi. Semakin ke arah tepi sungai atau tanggul semakin rendah genangannya. Pada musim hujan genangan air dapat mencapai tinggi antara 4-7 meter, tetapi pada musim kemarau lahan dalam keadaan kering, kecuali dasar atau wilayah paling bawah. Pada musim kemarau muka air tanah di lahan rawa lebak dangkal

dapat mencapai > 1 meter sehingga lebih menyerupai lahan kering (upland). Lahan rawa lebak dipengaruhi oleh iklim tropika basah dengan curah hujan antara 2.000-3.000 mm per tahun dengan 6-7 bulan basah (bulan basah = bulan yang mempunyai curah hujan bulanan > 200 mm) atau antara 3-4 bulan kering (bulan kering = bulan yang mempunyai curah hujan bulanan <100 mm). Bulan basah jatuh pada bulan Oktober/November sampai Maret/April, sedangkan bulan kering jatuh antara bulan Juli sampai September (Noor, M. 2007). Rawa lebak dibedakan dengan rawa pasang surut karena mempunyai bentuk fisiografi (landform), penyebaran, dan sifat serta watak yang berbeda. Mempunyai topografi berupa cekungan dan merupakan dataran banjir dengan masa genangan lebih panjang. Dalam konteks yang lebih luas, lahan rawa lebak juga sering dikelompokkan sebagai wetland, lowland, peatland, inland, deepwater land. 2. Pembagian Lahan Lebak Lahan rawa lebak mempunyai ciri yang sangat khas, pada musim hujan terjadi genangan air yang melimpah dalam variasi kurun waktu yang cukup lama. Genangan air dapat kurang dari satu bulan sampai enam bulan atau lebih, dengan ketinggian genangan 50 cm 100 cm. Air yang menggenang tersebut bukan merupakan limpasan air pasang, tetapi berasal dari limpasan air permukaan yang terakumulasi di wilayah tersebut karena topografinya yang lebih rendah dan drainasinya jelek. Kondisi genangan air sangat dipengaruhi oleh curah hujan, baik di daerah tersebut maupun wilayah sekitarnya serta daerah hulu (Ismail et al., 1993 dalam Noor, M. 2007). Berdasarkan ketinggian tempat rawa lebak dapat dibagi menjadi dua tipologi, yaitu: (1) rawa lebak dataran tinggi, banyak ditemukan di Sumatra dan Jawa, (2) rawa lebak dataran rendah, sebagian besar tersebar di Kalimantan. Berdasarkan ketinggian dan lamanya genangan, lahan rawa lebak dapat dibagi dalam tiga tipologi, yaitu: a. Lebak dangkal adalah wilayah yang mempunyai tinggi genangan 25-50 cm dengan lama genangan minimal 3 bulan dalam setahun. Wilayahnya mempunyai hidrotopografi nisbi lebih tinggi dan merupakan wilayah paling dekat dengan tanggul. b. Lebak tengahan ialah wilayah yang mempunyai tinggi genangan 50-100 cm dengan lama genangan minimal 3-6 bulan dalam setahun. Wilayahnya mempunyai hidrotopografi lebih rendah daripada lebak dangkal dan merupakan c. Lebak dalam ialah wilayah yang mempunyai tinggi genangan > 100 cm dengan lama genangan minimal > 6 bulan dalam setahun. Wilayahnya mempunyai hidrotopografi

Gambar 1. Skematis topologi lahan rawa lebak Sementara petani umumnya di Hulu Sungai, Kalimantan Selatan membagi rawa lebak dengan sebutan watun (lahan rawa lebak = Bahasa Banjar), yaitu watun I, II, III, dan IV. Batasan dan klasifikasi watun didasarkan menurut hidrotopografi dan waktu tanam padi adalah sebagai berikut : 1. Watun I wilayah sepanjang 200-300 depa menjorok masuk dari tanggul (1 depa = 1,7 meter). Hidrotopografinya nisbi paling tinggi 2. Watun II ialah wilayah sepanjang 200-300 depa (= 510 m) menjorok masuk dari batas akhir watun I. Hidrotopografinya lebih rendah daripada watun 3. Watun III : wilayah sepanjang 200-300 depa (= 510 m) menjorok masuk dari batas akhir watun II. Hidrotopografinya lebih rendah daripada watun II. 4. Watun IV : wilayah yang lebih dalam menjorok masuk dari batas akhir watun III. Hidrotopografinya nisbi paling rendah. Watun I, II, III, dan IV masing-masing identik dengan istilah lebak dangkal, lebak tengahan, lebak dalam, dan lebak sangat dalam atau lebung (Anwarhan, 1989 dalam Noor, M. 2007).

Berdasarkan ada atau tidaknya pengaruh sungai, rawa lebak dibagi dalam tiga tipologi, yaitu (1) lebak sungai, (2) lebak terkurung, dan (3) lebak setengah terkurung. Batasan dan klasifikasi lebak menurut ada atau tidaknya pengaruh sungai adalah sebagai berikut : Lebak sungai : lebak yang sangat nyata mendapat pengaruh dari sungai sehingga tinggi rendahnya genangan sangat ditentukan oleh muka air sungai. Lebak terkurung : lebak yang tinggi rendahnya genangan ditentukan oleh bear kecilnya curah hujan dan rembesan air (seepage) dari sekitarnya. Lebak setengah : lebak yang tinggi rendahnya genangan ditentukan terkurung oleh besar kecilnya hujan, rembesan, dan juga sungai di sekitarnya (Noor, M. 2007). Gambar 2. Pembagian zona lahan rawa di sepanjang daerah aliran sungai bagian bawah dan tengah Sifat Fisik Tanah a. Pengertian Sifat Sifat Fisik Tanah Istilah tanah mengacu pada lapisan luar dari permukaan bumi yang mengalami pelapukan dan terpisah-pisah. Tanah pada awalnya terbentuk melalui disintegrasi dan dekomposisi dari batuan oleh proses fisika dan kimia, dan dipengaruhi oleh aktivitas dan akumulasi endapan sisa-sisa spesies mikroskopis dan makroskopis tanaman dan hewan. Proses pelapukan fisika menyebabkan disintegrasi batuan menjadi bagian-bagian kecil. Proses itu meliputi pengembangan dan pengerutan oleh pemanasan dan pendinginan silih berganti, tekanan oleh pembekuan dan pencairan air dan penetrasi akar, dan pengikisan atau penghalusan partikel yang bersifat abrasi yang dibawa oleh es atau air yang mengalir, serta angin.Proses pembentukan tanah berlangsung terus setelah pelapukan awal batuan dan mineral. Proses perkembangan tanah mencapai puncak pada pembentukan sifat profil tanah (Susanto, dkk. 1998). Tanah adalah sistem yang heterogen, berfase banyak, rumit, bersifat dispersi, serta sarang, karena luas pertemuan antar fase per satuan volume bisa sangat besar. Kondisi dispersi dari tanah dan kegiatan antar fase akan menghasilkan peristiwa seperti adsorbsi air dan bahan kimia, pertukaran ion, adesi, pengembangan dan pengerutan, dispersi dan penggumpalan, serta kapilaritas. Tiga fase yang umum di alam, pada tanah akan disajikan dalam bentuk sebagai berikut : fase padat penyusun matriks tanah; fase cair berupa air tanah, yang selalu mengandung bahan-bahan terlarut, sehingga bahan ini disebut larutan tanah; dan fase gas yaitu atmosfer tanah. Perbandingan relatif dari tiga fase tanah beragam secara kontinu dan tergantung pada faktorfaktor seperti cuaca, vegetasi, dan pengelolaan tanah (Susanto, dkk. 1998). b. Sifat-sifat Fisik Tanah di Lahan Rawa Lebak Secara teoritis, setiap banjir, karena arus banjir masih kuat, tanggul sungai merupakan tempat pengendapan bahan-bahan terkasar (pasir halus sampai pasir sedang). Makin jauh dari sungai, dengan semakin lemahnya daya angkut air, terjadi pengendapan bahan-bahan lebih halus, yaitu debu dan liat. Karena adanya sortasi air dan semakin sedikitnya bahan-bahan yang diendapkan semakin jauh dari sungai, maka tanggul sungai adalah tempat yang paling tinggi letaknya, dan tanah berangsur-angsur menurun ke dataran rawa belakang. Dalam kenyataanya di lapangan, acapkali perbedaan ketinggian antara keduanya tidak selalu nyata, walaupun hasil pengukuran ketinggian antara keduanya memang menunjukkan penurunan yang amat berangsur ke arah dataran rawa belakang. Demikian pula, tekstur tanah di wilayah tanggul sungai tidak selalu berpasir, sebab komposisi fraksi dari lumpur yang diendapkan setiap tahun tidak selalu kasar sifatnya (Subagyo, 2006).

c. Pembagian Dan Klasifikasi Tanah Berdasarkan Sifat Fisik Tanah Tanah-tanah di lahan rawa lebak, baik di wilayah tanggul sungai maupun di rawa belakang, secara morfologis mempunyai kenampakan mirip dengan tanah marin di lahan rawa pasang surut air tawar. Hanya bedanya, karena tanah-tanah di rawa lebak bukan merupakan endapan marin, maka tanah rawa lebak tidak mengandung pirit. Namun, di wilayah peralihan dengan rawa pasang surut air tawar, lapisan pirit masih mungkin diketemukan, tetapi biasanya pada kedalaman 50-70 cm atau lebih dari 120 cm (Subagyo, 2006). Secara skematis, pembagian tanah pada lahan rawa lebak berdasarkan ketebalan gambut, dan kedalaman lapisan bahan sulfidik. Ada dua kelompok tanah pada lahan lebak, yaitu Tanah Gambut, dengan ketebalan lapisan gambut >50 cm, dan Tanah Mineral, dengan ketebalan lapisan gambut di permukaan 0-50 cm. Tanah mineral yang mempunyai lapisan gambut di permukaan antara 20-50 cm disebut Tanah Mineral Bergambut. Sedangkan Tanah Mineral murni, sesuai kesepakatan, hanya memiliki lapisan gambut di permukaan tanah setebal <20 cm. Tanah Gambut biasanya menempati wilayah Lebak Tengahan dan Lebak Dalam, khususnya di cekungancekungan, dan sebagian besar merupakan gambut-dangkal (ketebalan gambut antara 50-100 cm), dan sebagian kecil merupakan gambut-sedang (ketebalan gambut 100-200 cm). Kubah gambut nampaknya tidak terbentuk. Gambut yang terbentuk umumnya merupakan gambut topogen, tersusun sebagian besar dari gambut dengan tingkat dekomposisi sudah lanjut, yaitu gambut saprik. Sebagian lapisan tersusun dari gambut hemik. Seringkali mempunyai sisipan-sisipan bahan tanah mineral di antara lapisan gambut (Subagyo, 2006). Warna tanah tersebut coklat sangat gelap (7,5YR 2,5/2), atau hitam (10YR 3/2), reaksi gambut di lapang termasuk masamsangat masam (pH 4,5-6,0). Kandungan basa-basa (hara) rendah (total kation: 1-6 me/100 g tanah), dan kejenuhan basanya juga rendah (KB: 3-10%). Sebagian gambut di lebak dalam, mempunyai tingkat dekomposisi bahan gambut tengahan, yaitu gambut hemik. Warnanya relatif sama, coklat sangat gelap atau hitam, reaksi tanah masam (pH 6,0), dan kesuburan tanah masih termasuk rendah. Dalam klasifikasi Taksonomi Tanah (Soil Survey Staff, 1999), tanah-tanah tersebut masuk dalam ordo Histosols, dalam tingkat (subgrup) Typic/Hemic Haplosaprists, Terric Haplosaprists, dan Terric Haplohemists. Tanah gambut, sebagai Haplosaprists dangkal (antara 50-100 cm), sebagian ditemukan di lebak tengahan, dan sebagai Haplohemists dan Haplosaprists dangkal umumnya lebih banyak ditemukan di bagian lebak dalam (Subagyo, 2006). Tanah Mineral yang menyusun lahan rawa lebak, hampir seluruhnya berkembang atau terbentuk dari bahan endapan sungai. Tetapi di wilayah peralihan antara zona II (lahan rawa pasang surut air tawar) dan zona III (lahan rawa lebak), di bagian bawah profil tanah lebak ditemukan lapisan yang mengandung bahan sulfidik (pirit). Tanah yang mengandung lapisan bahan sulfidik, dengan sendirinya termasuk tipologi lahan rawa pasang surut yang disebut Lahan Potensial. Berdasarkan letak kedalaman bahan sulfidik dari permukaan tanah, dikenal Lahan Potensial-1, jika kedalaman lapisan bahan sulfidik lebih dari 100 cm, dan Lahan Potensial-2, jika kedalaman lapisan bahan sulfidik terletak antara 50-100 cm. Pengelolaan dan penataan lahan yang mengandung bahan sulfidik harus lebih berhati-hati, dan pemanfaatannya untuk pertanian harus mengikuti sistem penataan lahan yang berlaku untuk lahan pasang surut. Secara umum, pengelolaan lahan untuk tanah mineral yang berbahan induk bahan endapan sungai, lebih mudah karena bebas dari bahan sulfidik. Dalam Taksonomi Tanah (Soil Survey Staff, 1999), tanah mineral pada lahan lebak termasuk dalam ordo Entisols dan Inceptisols. Oleh karena termasuk tanah basah (wetsoils), semuanya masuk dalam subordo Aquents, dan Aquepts. Klasifikasi lebih lanjut pada tingkat subgrup, baik untuk Lahan Potensial-1 dan Lahan Potensial-2 maupun Tanah Rawa Lebak normal dan Tanah Mineral Bergambut (Subagyo, 2006). Tanah-tanah

mineral yang menempati lebak pematang, umumnya termasuk Inceptisols basah, yakni (subgrup) Epiaquepts dan Endoaquepts, dan sebagian Entisols basah yaitu Fluvaquents. Pada lebak tengahan, yang dominan adalah Entisols basah, yakni Hydraquents dan Endoaquents, serta sebagian Inceptisols basah, sebagai Endoaquepts. Kadang ditemukan gambut-dangkal, yakni Haplosaprists. Pada wilayah lebak dalam yang air genangannya lebih dalam, umumnya didominasi oleh Entisols basah, yakni Hydraquents dan Endoaquents, serta sering dijumpai gambut-dangkal, Haplohemists dan Haplosaprists (Subagyo, 2006). Tekstur tanah rawa lebak umumnya dicirikan oleh kandungan fraksi liat dan debu yang tinggi, tetapi fraksi pasirnya sangat rendah. Tekstur tanah terbanyak adalah liat berat (hC), liat (C), dan liat berdebu (SiC). Tekstur tanah Lebak pematang lebih bervariasi, dari halus (hC,C) sampai sedang (SiL, L), terkadang juga dijumpai tekstur relatif kasar (SL). Tekstur lebak Tengahan relatif halus (hC, C, SiC, dan SiCL), sedangkan tekstur Lebak Dalam sangat halus (hC dan SiC), dengan kandungan liat yang sangat tinggi (55-80 %) (Subagyo, 2006). Potensi Lahan Rawa Lebak 1. Pertanian Rawa Lebak dan Pengembangannya Potensi pertanian di lahan rawa lebak cukup luas dan beragam. Watak dan ekologi masing-masing lokasi dan tipologi lahan rawa lebak merupakan faktor penentu dalam penyusunan pola tanam dan jenis komoditas yang dibudidayakan. Pola tanam dan jenis komoditas yang dikembangkan di lahan rawa lebak dapat didasarkan pada tipologi lahan. Lahan rawa lebak sebagian besar dimanfaatkan untuk pengembangan budidaya padi yang dapat dipilah dalam pola (1) padi sawah timur (sawah rintak) dan (2) padi sawah barat (sawah surung). Sawah timur pada musim hujan tergenang sehingga hanya ditanami pada musim kemarau. Sawah timur ini umumnya ditanami padi rintak, yaitu padi sawah irigasi yang berumur pendek (high yielding variety) seperti varietas IR 42, IR 64, IR 66, cisokan, ciherang, cisanggarung, mekongga, kapuas, lematang, margasari (tiga varietas terakhir merupakan padi spesifik rawa pasang surut) dengan hasil rata-rata 4-5 ton per hektar. Sawah lebak yang termasuk lebak tengahan sampai dalam (lebung) pada musim hujan tergenang cukup tinggi (> 100 cm) sehingga disebut juga sawah barat. Apabila dimanfaatkan untuk tanam padi surung maka persiapan dimulai selagi masih kering(macak-macak), yaitu sekitar bulan September-Oktober dan panen pada bulan JanuariFebruari pada saat air tergenang cukup tinggi (1,0-1,5 m). Jenis padi rintak pada dasarnya adalah padi sawah umumnya yang dipersiapkan pada bulan April, tergantung keadaan genangan. Sawah barat ini umumnya ditanami sawah padi surung (deep water rice) yang waktu tanamnya sampai akhir musim kemarau dan panen saat air tinggi (100-150 cm) pada musim hujan. Padi surung atau padi air dalam ini mempunyai sifat khusus, yaitu dapat memanjang (elogante) mengikuti kenaikan genangan air dan dapat bangkit kembali apabila rebah. Kemampuan memanjang ini karena pertumbuhan akar yang terus-menerus yang pada padi sawah umumnya tidak ditemukan. Padi yang tergolong jenis padi surung ini antara lain varietas alabio, tapus, nagara, termasuk yang dikenal dengan padi hiyang (Rien. 2010). Lahan rawa lebak dangkal dapat ditanami dua kali setahun dengan pola tanam padi surung (umur 180 hari) tanam pertama dan padi rintak (padi unggul: berumur 11-115 hari) untuk tanam kedua. Tanam pertama dilaksanakan pada bulan Oktober-Desember dan panen pada bulan April, sedangkan tanam kedua antara bulan Mei-Juni dan panen pada kemarau Agustus-Oktober (Noor M, 1996; Ar-Riza, 2005). Pada musim kemarau panjang semua sawah lebak, terutama rawa lebak dangkal dan rawa lebak tengahan menjadi hamparan tanaman sayuran dan buah-buahan. Untuk lebak dalam (watun IIIIV) ditanami hanya pada saat musim kemarau panjang (apabila 4-5 bulan kering), selebihnya dibiarkan karena genangan air cukup tinggi. Akan tetapi, budidaya padi di lahan rawa lebak Sumatra justru berkembang pada musim hujan, karena sebagian lahan rawa lebak sudah

mempunyai sistem pengatusan yang baik. Berbeda dengan di Kalimantan, khususnya di Kaimantan Selatan, sebagian lahan rawa lebak pada musim hujan menggenang berbulan-bulan. Namun demikian, sebagian rawa lebak dangkal sampai tengahan seperti di lahan rawa lebak Babirik, Kabupaten Hulu Sungai Utara sudah sejak tahun 1980-an dapat melaksanakan pola tanam padi dua kali setahun dengan pola tanam padi varietas lokal-varietas unggul di lahan tabukan dan ubi alabio di lahan surjan. Tanam pertama padi varietas lokal (umur 180 hari) dilakukan pada bulan Oktober-November dan panen dilaksanakan bulan April. Kemudian tanam kedua padi varietas unggul (umur 110) bulan Mei-Juni dan panen bulan Agustus-Oktober. Selain padi, lahan rawa lebak juga juga umum ditanami palawija, sayur, dan buah-buahan. Pola tanam atau tumpang antara tanaman palawija, sayuran, atau buah-buahan umum dilakukan petani pada lahan lebak dangkal dan tengahan dengan sistem surjan. Pada sistem surjan tanaman palawija (jagung, kedelai, kacang nagara, dan atau umbi-umbian), sayuran (tomat, terong, waluh, timun, kacang panjang, buncis, kubis, bawang, cabai, kacang panjang) dan aneka sayuran cabut seperti sawi, slada, bayam, dan kangkung, buah-buahan (semangka, labu kuning, ubi jalar, ubi alabio, mangga rawa) ditanam di atas surjan (tembokan), sedangkan padi bagian tabukan (ledokan) ditanami padi (Rien. 2010). Dari pertanian tanaman pangan, kedelai diandalkan menyumbang pasar nasional. Tanaman bahan baku tahu tempe ini mulai dikembangkan di 10.000 hektar lahan lebak sejak tahun 1998. Sampai tahun keempat, kedelai tumbuh di lahan 5.000 hektar dan pembibitan penangkaran di lahan 1.756 hektar. Hasil olahan berupa susu, tahu, dan tempe diproses lewat industri rumah tangga dan dipasarkan untuk konsumsi lokal. Kedelai mentah selain untuk kebutuhan nasional, juga untuk bahan baku pabrik kecap di Banjarmasin. Beberapa wilayah lahan rawa lebak belakangan ini mulai dikembangkan untuk tanaman perkebunan seperti kelapa sawit dan karet. Pengembangan perkebunan ini memerlukan pembuatan saluran-saluran pengatusan (drainage), pintu-pintu air, dan tabat (dam overflow) untuk pengendalian muka air tanah (Rien. 2010). Lahan rawa lebak telah dimanfaatkan selama berabad-abad oleh penduduk lokal dan pendatang secara cukup berkelanjutan. Menurut Conway (1985), pemanfaatan secara tradisional itu dicirikan oleh (Haris, 2001): - Pemanfaatan berganda (multiple use) lahan, vegetasi, dan hewan. Di lahan rawa, masyarakat tidak hanya menanam dan memanen padi, sayuran, dan kelapa, tetapi juga menangkap ikan, memungut hasil hutan, dan berburu hewan liar. - Penerapan teknik budidaya dan varietas tanaman yang secara khusus disesuaikan dengan kondisi lingkungan lahan rawa tersebut (Haris, A. 2001). Pertanian lahan rawa lebak yang dilakukan oleh Orang/Suku Banjar di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah umumnya masih dikelola secara tradisional, mulai dari persemaian benih padi, penanaman, pemeliharaan, pengendalian hama, penyakit dan gulma, pengelolaan air, panen, hingga pasca panen. Fenomena alam dijadikan indikator dan panduan dalam melaksanakan kegiatan bercocok tanam. Ketergantungan pada musim dan perhitungannya pun masih sangat kuat. Apabila menurut perhitungan sudah waktunya untuk bertanam, maka para petani akan mulai menggarap sawahnya. Sebaliknya, apabila perhitungan musim menunjukkan kondisinya kurang baik, maka umumnya para petani akan beralih pada pekerjaan lanilla (Haris, A. 2001). Sebagai upaya penganekaan tanaman, petani memodifikasi kondisi lahan agar sesuai dengan komoditas yang dibudidayakan. Petani membuat sistem surjan Banjar (tabukan tembokan/tukungan/baluran). Dengan penerapan sistem ini, di lahan pertanian akan tersedia

lahan tabukan yang tergenang (diusahakan untuk pertanaman padi atau menggabungkannya dengan budidaya ikan, mina padi) dan lahan tembokan/tukungan/baluran yang kering (untuk budidaya tanaman palawija, sayur-sayuran, buah-buahan, tanaman tahunan dan tanaman industri). Pengolahan tanah menggunakan alat tradisional tajak, sehingga lapisan tanah yang diolah tidak terlalu dalam, dan lapisan pirit tidak terusik. Dengan demikian, kemungkinan pirit itu terpapar ke permukaan dan teroksidasi yang menyebabkan tanah semakin masam, dapat dicegah. Pengolahan tanah dilakukan bersamaan dengan kegiatan pengelolaan gulma (menebas, memuntal, membalik, menyebarkan) yang tidak lain merupakan tindakan konservasi tanah, karena gulma itu dikembalikan ke tanah sebagai pupuk organik (pupuk hijau). Selain sebagai pupuk, rerumputan gulma yang ditebarkan secara merata menutupi permukaan lahan sawah juga berfungsi sebagai penekan pertumbuhan anak-anak rumput gulma (Idak, dalam Haris, 2001). Pada mulanya rawa lebak hanya dijadikan tempat tinggal sementara para penebang kayu dan pencari ikan. Semakin lama komunitasnya semakin bertambah banyak, sementara kayu yang ditebang mulai berkurang sehingga masyarakat berupaya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan mencoba menanam padi dan mengembangkan keterampilan. Semakin lama mereka semakin memahami fenomena lahan rawa sehingga mampu mengembangkan beragam komoditas pertanian. Dalam berinteraksi dengan alam mereka tidak berupaya untuk dengan menguasai atau melawannya tetapi berusaha untuk menyesuaikan dinamika lahan rawa. Usaha tani padi yang dikembangkan di lahan rawa lebak sebagian terbesar merupakan upaya untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Sebagian besar hanya bertanam sekali setahun pada musim kering (padi rintak) dan sebagian kecil dapat bertanam dua kali dalam setahun (padi surung dan banih rintak). Mereka yang bertanam dua kali setahun umumnya sawahnya berkisar antara 0,3-0,6 ha dengan produktivitas sebesar 3,5 ton/ha. Petani di Negara selalu menanam padi rintak setiap tahun sedangkan padi surung tergantung pada keadaan air. Penanaman padi rintak paling sedikit seluas 0,3 ha sedangkan padi surung paling sedikit setiap 0,6 ha. Pada daerah yang ditanami padi sekali dalam setahun, luas tanam setiap keluarga mencapai rata-rata 1 ha permusim dengan produktivitas mencapai 4,2 ton/ha (Yusma. 2011). Petani lokal di lahan rawa lebak Kalimantan Selatan umumnya masih memerhatikan fenomena alam seperti bintang atau binatang untuk melihat peluang keberhasilan usaha tani, termasuk waktu tanam. Fenomena alam yang menjadi pertanda musim kering di antaranya sebagai berikut: Apabila ikan-ikan mulai meninggalkan kawasan lahan rawa lebak (turun) menuju sungai merupakan pertanda akan datangnya musim kering. Gejala alam ini biasanya terjadi pada bulan April atau Mei. Pada saat ini suhu air di lahan lebak sudah meningkat dan ikan turun untuk mencari daerah yang berair dalam. Kegiatan usaha tani yang dilakukan adalah persiapan semaian. Apabila ketinggian air semakin menyusut tetapi masih ada ikan saluang yang bertahan maka menunjukkan bahwa lahan rawa lebak masih tidak akan kekeringan. Biasanya masih akan ada air sehingga kedalaman air di lahan rawa lebak kembali meningkat, baik sebagai akibat turunnya hujan di lahan rawa lebak atau kiriman air di dataran tinggi yang mengalir melalui beberapa anak sungai. Kegiatan usaha tani yang dilakukan adalah persiapan semaian. Bintang karantika muncul di ufuk barat pada senja hari hingga sesudah waktu maghrib menandakan air di lahan rawa lebak akan mulai kering. Bintang karantika merupakan gugusan bintang yang susunannya bergerombol (bagumpal) membentuk segi enam. Kemunculan bintang ini di ufuk barat merupakan peringatan kepada petani untuk segera melakukan penyemaian benih tanaman padi (manaradak). Saat kemunculan bintang ini hingga 20 hari kemudian dianggap merupakan waktu yang ideal untuk melakukan penyemaian benih padi. Apabila telah lewat dari

waktu tersebut maka petani akan terlambat memulai usahatani padinya dan diperkirakan padi di pertanaman tidak akan sempat memperoleh waktu yang cukup untuk memperoleh air. Bintang baur bilah yang muncul 20 hari kemudian juga dijadikan pertanda bagi datangnya musim kering dan dijadikan patokan dalam memperkirakan lama tidaknya musim kering. Bintang ini muncul di ufuk barat berderet tiga membentuk garis lurus. Apabila bintang paling atas terlihat terang, terjadi musim kemarau panjang. Sebaliknya, jika bintang paling bawah terlihat terang, kemarau hanya sebentar. Juga bila bintang paling kiri paling terang, terjadi panas terik pada awal musim, sebaliknya jika paling kanan terang, maka terik di akhir musim. Tingginya air pasang yang datang secara bertahap juga menjadi ciri yang menentukan lamanya musim kering. Apabila dalam tiga kali kedatangan air pasang (pasang-surut, pasang-surut, dan pasang kembali), ketinggian air pasang pada tahapan pasang surut yang ketiga lebih tinggi dari dua pasang sebelumnya biasanya akan terjadi musim kering yang panjang. Ada juga yang melihat posisi antara matahari dan bintang karantika. Apabila matahari terbit agak ke sebelah timur laut dibandingkan posisi karantika berarti akan terjadi musim kemarau panjang (landang). Apabila burung putih (kuntul = sejenis bangau) mulai meletakkan telurnya di semak padang parupuk merupakan tanda air akan menyurut (rintak). Burung putih mengharapkan setelah telurnya menetas air akan surut sehingga anaknya mudah mencari mangsa (ikan). Ada pula petani yang meramalkan kemarau dengan melihat gerakan asap (mamanduk). Apabila asap terlihat agak tegak (cagat) agak lama berarti kemarau panjang dan sebaliknya (Yusma. 2011) Fenomena alam sebagai pertanda akan datangnya air di lahan rawa lebak di antaranya sebagai berikut: Munculnya fenomena alam yang disebut kapat, yaitu saat suhu udara mencapai derajat tinggi. Diceritakan, orang yang mengetahui waktu terjadinya kapat dapat menunjukkan bahwa air yang diletakkan dalam suatu tempat akan memuai. Kapat ini biasanya mengikuti kalender syamsiah dan terjadi pada awal bulan Oktober. Empat puluh hari setelah terjadinya kapat maka biasanya air di lahan rawa lebak akan dalam kembali (layap). Setelah terjadi fenomena kapat, akan muncul fenomena alam lain yang ditandai dengan beterbangannya suatu benda yang oleh masyarakat disebut benang-benang. Munculnya benda putih menyerupai benang-benang yang sangat lembut, beterbangan di udara dan menyangkut di pepohonan dan tiang-tiang tinggi ini disebutkan sebagai pertanda datangnya musim barat, yaitu tanda akan dalam kembali air di lahan lebak (layap). Fenomena alam ini biasanya terjadi pada bulan Oktober sampai Nopember. Apabila kumpai payung yang tumbuh di tanah yang agak tinggi mulai menguning dan rebah maka pertanda air akan dalam (basurung). Ada pula tumbuhan yang disebut pacar halang yang berbuah kecil seperti butir jagung. Apabila buahnya memerah (masak) dan mulai berjatuhan maka air sudah mulai menggenangi lahan rawa lebak. Untuk menentukan lama tidaknya musim basah, petani menjadikan keladi lumbu (gatal) sebagai indikator. Bila tanaman ini mulai berbunga berarti itulah saat pertengahan musim air dalam. Apabila rumput pipisangan daunnya bercahaya agak kuning maka pertanda air akan lambat turun (batarik). Apabila ikan-ikan yang masih bisa ditemukan di lahan lebak mulai bertelur maka pertanda air akan datang (layap). Fenomena ini biasanya terlebih dahulu ditandai dengan hujan deras, lalu ikan betok berloncatan (naik) melepaskan telurnya, setelah itu akan panas sekitar 40 hari lalu air akan datang dan telur ikan akan menetas Yusma. 2011).

Selain pengetahuan yang berhubungan dengan peramalan iklim, petani di lahan rawa lebak juga mempunyai kearifan lokal mengenai kesesuaian tanah dengan tanaman, baik ditinjau dari ketinggiannya maupun kandungan humus dan teksturnya. Mereka menanami tanah yang tinggi dengan semangka, jagung, kacang, dan ubi negara, sedangkan tanah yang rendah ditanami padi. Bagi petani di lahan rawa lebak, tanah bukaan baru dan dekat hutan umumnya dianggap sangat subur dan tidak masam, tetapi bila banyak tumbuh galam pertanda tanah itu masam. Ciri tanah masam lainnya adalah apabila di batang tanaman tersisa warna kekuning-kuningan begas terendam (tagar banyu) dan ditumbuhi oleh kumpai babulu dan airnya berwarna kuning. Tanah masam ini maih dapat ditanami ubi nagara atau bila ingin ditanami semangka maka tanah dilakukan pengapuran terlebih dahulu. Bila telah ditanami beberapa kali keasaman akan berkurang karena sisa-sisa rumput yang tumbuh dan mati menjadi humus. Apabila keasaman tanah tidak bisa ditingkatkan maka petani akan meninggalkannya dan menganggap tanah tersebut sebagai tanah yang tidak produktif . Tanah yang baik adalah tanah yang tidak banyak ditumbuhi oleh jenis tanaman liar (taung) seperti parupuk, mengandung humus yang banyak dari pembusukan kumpai, serta mempunyai aliran sungai yang dalam. Sungai ini berfungsi untuk pembuangan air masam sehingga sejak dahulu petani membuat dan memelihara ray yang dibuat setiap jarak 30 depa (Yusma, 2011). 2. Buah Eksotik Di Lahan Rawa Tanaman buah eksotis tumbuh di alam secara liar sepertinya telah terpola pada wilayah-wilayah tertentu dan tidak ditemukan tumbuh disembarang tempat di lahan rawa. Keadaan hidrologi kawasan rawa lebak menyebabkan tumbuh berkembangnya tanaman yang khas, seperti tanaman buah-buahan eksotis. Pada kawasan lahan rawa sedikitnya terdapat 3 (tiga) macam buah eksotik tropika yang dapat patut dikembangkan yaitu (1) manggis besar, (2) durian, dan (3) srikaya besar. Tanaman buah eksotik dikenal tahan dengan kondisi rawa antara lain tahan genangan, kemasaman tinggi, adaptif terhadap kelarutan sneyawa toksis seperti Al, Fe, H2S, CO2, dan senyawa-senyawa organik dan juga tahan terhadap beberapa hama penggerek seperti pada jenis mangga rawa dapat digunakan sebagai batang bawah untuk memperbaiki genetik dari jenis-jenis mangga unggul introduksi (Noor, M, dkk. 2011). Pengusahaan atau budidaya buah eksotik ini dapat dipilah dalam 3 (tiga) tipe usaha, yaitu (1) buah-buah tersebut tumbuh sebagai buah hutan, tanpa dibudidayakan dengan baik sehingga ada kecenderungan akan punah, karena tumbuhan ini masih berasosiasi dengan hutan atau bekas hutan, (2) buah-buah tersebut sudah dibudidayakan, tetapi masih secara tradisional, dan (3) buahbuah tersebut sudah dibudidayakan dan mulai dikembangkan secara luas dan modern. Tipe usaha (1) masih luas, namun seiring dengan pembabatan/pembalakan hutan maka buahbuah eksotik semakin menurun jumlah dan kualitasnya. Kebun eksitu dimaksudkan pengembangan buah-buah eksotik tersebut dilakukan pada wilayah agroekosistem yang serupa atau diluar dari wilayah tersebut dengan sedikit rekayasa lahan dan lingkungan (Noor, M, dkk. 2011). 3. Perikanan Potensi perikanan di perairan rawa lebak cukup besar diperkirakan tidak kurang dari 100 jenis ikan terdapat di perairan rawa lebak. Jenis ikan yang adaptif hidup dan umum dikembangkan di lahan rawa lebak bersifat spesifik lokasi dan cukup beragam tergantung pada keadaan ekologi habitatnya. Jenis ikan yang umum didapati di lahan rawa lebak disebut juga ikan hitam antara lain papuyu, gabus, sepat, biawan, patin, dan toman. Ikan putih yang umum terdapat di perairan sungai atau danau juga dapat ditemukan di rawa lebak sebagai ikan pendatang yang terikut masuk karena banjir atau apabila terikut saat luapan sungai (Noor, M. 2007). Pemanfaatan rawa lebak untuk pengembangan perikanan selama ini sangat

terbatas dan bersifat tradisional, yaitu sistem tangkap dengan menggunakan berbagai jenis alat tangkap tradisional, termasuk sistem beje. Beje adalah kolam berbentuk persegi panjang, dibuat di lahan rawa lebak tipologi lebak tengahan, ukuran beje bervariasi, ukuran panjang 10 30 meter, lebar 5 10 meter dengan kedalaman air 1,5- 2,0 meter atau rata-rata luas 148,3 m2 76,5. Sebagian besar kiri kanan pada setiap beje dihubungkan dengan parit yang dalam bahasa daerah disebut tatah atau pelacar. Tatah atau pelacar bertujuan untuk membantu mengarahkan ikan masuk dalam beje. Sisa tanah galian beje dan tatah di timbun atau ditempatkan pada satu sisi yang juga berfungsi untuk menghadang dan mengarahkan ikan agar masuk dalam beje. Upaya lain yang dilakukan untuk lebih merangsang ikan masuk dalam beje uaitu dengan menempatkan potongan dahan dan ranting kayu dalam beje sebagai rumpon (Rupawan. 2010). Berdasarkan tipologi dan lingkungan biofisik rawa lebak, pengembangan perikanan dapat dipilih, yaitu (1) sistem kolam atau mina padi (ikan-padi), (2) sistem caren untuk lebak tengahan, dan (3) sistem keramba untuk lebak tengahan dan lebak dalam. pemeliharaan ikan di lahan rawa lebak cukup menguntungkan seperti pemeliharaan ikan lampan, sepat siam, dan tawes dengan sistem caren selama 6 bulan (lebar caren 4 meter dan luas 1.344 m2 dari luas lahan 0,5 hektar) diperoleh keuntungan Rp 718.450,00 dengan B/C ratio 4,18 (Noor, M. 2007). 4. Peternakan Itik merupakan salah satu jenis unggas yang banyak dipelihara oleh masyarakat pedesaan. Keberadaan itik tersebar di seluruh Indonesia dengan berbagai nama sesuai dengan lokasi tempat berkembangnya. Jenis itik yang dibudidayakan di Kalimantan Selatan yaitu itik lokal. Salah satu itik lokal yang cukup dikenal dan berpotensi adalah itik Alabio (Anas platyrhincos Borneo) yang banyak dipelihara dan dibudidayakan masyarakat di daerah Kalimantan Selatan dan terutama di daerah sentra yaitu Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU). Itik Alabio yang diusahakan utamanya berperan sebagai penghasil telur baik telur tetas maupun telur konsumsi. Apabila masa produksinya telah selesai atau pasca produksi, itik-itik betina tersebut akan segera diafkir dan dijual sebagai itik potong (Rohaeni, S dan Yanti, R. 2011). Usaha ternak itik di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Hulu Sungai Tengah (HST) dan Hulu Sungai Selatan (HSS) umumnya dilakukan di lahan rawa lebak dan sudah merupakan usaha turun temurun dan membudaya. Telur itik yang dihasilkan selain digunakan untuk konsumsi juga digunakan untuk menghasilkan anak itik sebagai bibit. Sentra penghasil anak itik di Kalimantan Selatan yaitu di Desa Mamar, Kecamatan Amuntai Utara, Kabupaten Hulu Sungai Utara. Anak itik yang dihasilkan berkisar antara 50.000-60.000 ekor/minggu yang dipasarkan di Pasar Alabio setiap hari Rabu. Anak itik yang dihasilkan untuk memenuhi permintaan konsumen di hampir seluruh wilayah Kalimantan Selatan, bahkan ada yang dibawa ke luar propinsi misalnya Kalimantan Tengah dan Timur. Peluang pengembangan usaha ternak itik cukup besar, hal ini disebabkan karena memiliki potensi antara lain : Bibit, ketersediaan bibit itik Alabio termasuk mudah karena telah ada spesialisasi usaha yaitu ada petani yang melakukan pemeliharaan itik pembesaran dan usaha penetasan. Adanya itik jenis baru yaitu itik MA (Mojosari Alabio) bagi sebagian masyarakat peternak di Kab. HSU belum mengadopsi. Keunggulan dari jenis itik ini adalah tingkat efisiensi pakan cukup tinggi namun harga telur dan itik afkir relatif lebih murah berbeda dengan itik Alabio yang biaya pakan lebih mahal tetapi harga telur dan itik afkir juga lebih mahal. Pemasaran, pemasaran bibit dan telur itik cukup baik dan tidak ada masalah, hal ini ditunjukkan adanya permintaan bibit yang cukup tinggi dari daerah lain seperti Kalimantan

Timur dan Tengah. Keterampilan, petani mempunyai keterampilan yang baik dalam hal memelihara dan menyeleksi, keterampilan ini merupakan warisan turun temurun dan pengalaman. Bahkan ada jasa dalam hal memilih telur, bibit atau menentukan jenis kelamin itik pada umur muda (1-7 hari). Keterampilan ini merupakan potensi yang mendukung dalam peningkatan produksi itik. Sosial Budaya, usaha pemeliharaan ternak itik tidak mengalami hambatan atau masalah namun bahkan diterima di masyarakat, masyarakat tidak malu untuk melakukannya. Oleh karena itu kegiatan ini dapat berkembang luas. Dukungan Swasta dan Pemerintah, dukungan terhadap perkembangan ternak itik telah dilakukan baik oleh swasta maupun pemerintah berupa dana pinjaman bergulir maupun tidak bergulir yang sangat mendukung terhadap perkembangan dan penguatan modal usaha. Bantuan dana pinjaman dari pemerintah yaitu BLM dan KKP yang dilakukan sejak tahun 2001, sedang dari swasta dilakukan oleh PT. Pupuk Kaltim (Rohaeni, S dan Yanti, R. 2011). Selain potensi di atas, terdapat permasalahan yang dihadapi dalam beternak itik yaitu mahalnya harga pakan, ketersediaan bahan pakan yang sangat tergantung musim dan fluktuasi harga produk baik telur, daging maupun bibit dan masalah penyakit (terutama flu burung). Berdasar potensi dan permasalahan di atas, terdapat beberapa alternatif pemecahan masalah yang dapat dilakukan: 1) Teknologi pakan, dengan tujuan untuk menurunkan harga pakan tanpa mempengaruhi produksinya, pemanfaatan pakan lokal yang belum optimal seperti sumber protein yaitu keong mas, ikan rucah, hijauan misalnya eceng gondok 2) Pengendalian dan pencegahan penyakit terutama penyakit berbahaya dan menular dengan cara penyuluhan yang intensif dan pengadaan vaksin agar peternak dengan cepat dan modal untuk membeli 3) Pemantapan kelembagaan akan pentingnya kelembagaan dalam hal pengendalian harga baik produk itik maupun saprodi itik (pakan, bibit) 4) Penguatan modal usaha, dengan cara meningkatkan jalinan kerjasama baik dengan pemerintah dan swasta dengan kesepakatan dan perjanjian agar tidak ada yang dirugikan (Rohaeni, S dan Yanti, R. 2011). Potensi khas peternakan Hulu Sungai Utara yang lain adalah kerbau rawa. Produksi dagingnya 36 ton. Kerbau rawa juga dimanfaatkan untuk penunjang pariwisata. Kerbau yang dipelihara di rawa-rawa di Kecamatan Danau Panggang ini dilatih untuk memberikan atraksi bagi wisatawan, seperti lomba renang kerbau rawa. Kerbau rawa (Bubalus carabanensis) umumnya dipelihara secara tradisional di rawa-rawa banjir dengan kedalaman air lebih dari 3,50 m dengan menggunakan kalang. Kalang adalah kandang yang dibuat dari balok-balok kayu blangeran (shore blangeran) berdiameter 1020 cm, disusun berselang-seling membentuk segi empat tanpa atap. Populasi kerbau rawa pada tahun 2005 tercatat 13.659 ekor, namun sejak lima tahun terakhir populasinya menurun. Penurunan populasi diduga berkaitan dengan sistem pemeliharaan yang masih dilakukan secara tradisional, tingginya tingkat pemotongan, terbatasnya pakan dan padang penggembalaan alami, serta penampilan produksi dan reproduksi yang belum maksimal. Untuk meningkatkan populasi, produktivitas, dan reproduksi kerbau rawa perlu dilakukan perbaikan kualitas genetik ternak dengan inseminasi buatan (IB), perbaikan mutu pakan, penyuluhan kepada peternak agar tidak memotong kerbau yang produktif, serta pencegahan dan pengendalian penyakit, terutama penyakit ngorok dan fascioliasis. Upaya inovasi teknologi meliputi revitalisasi dan pengembangan kawasan

perbibitan, pelaksanaan biosekuriti, pengadaan dan pengembangan bibit kerbau, program pemuliabiakan, serta pengaturan areal penggembalaan sehingga kebutuhan pakan sepanjang tahun dapat tercukupi (Suryana. 2011). Kerbau rawa merupakan salah satu plasma nutfah daerah Kalimantan Selatan. Kerbau ini biasanya dipelihara di daerah yang banyak air atau dataran rendah berpaya- paya, serta memiliki daya adaptasi yang baik terhadap lingkungan rawa yang banyak ditumbuhi semak-semak dan rumput rawa. Di Kalimantan Selatan, kerbau rawa memberikan kontribusi positif sebagai penghasil daging, terutama untuk daerah pedalaman pada agroekosistem rawa dengan kedalaman air 35 m. Kerbau rawa merupakan ternak asli daerah dan sumber plasma nutfah, dan telah dikembangkan sebagai usaha tani spesifik lokasi pada agroekosistem lahan rawa (Suryana. 2011). Lahan rawa yang digunakan untuk pemeliharaan kerbau rawa terdapat di Kabupaten HSU, terutama Kecamatan Danau Panggang, merupakan daerah potensial untuk pengembangan kerbau rawa, karena mempunyai areal lahan rawa yang luas dan tersedia sumber pakan hijauan. Beberapa desa sebagai sentra peternakan kerbau rawa yaitu Desa Palbatu, Tampakang, Bararawa, Sapala, Ambahai, dan Paminggir. Kerbau memiliki peran penting dalam kehidupan sosio-ekonomi petani, yakni sebagai tabungan hidup, penunjangstatus sosial, sumber tenaga kerja, serta penghasil daging, susu dan pupuk. Kendala pengembangan kerbau rawa di Kalimantan Selatan antara lain adalah makin berkurangnya padang penggembalaan akibat pertambahan jumlah penduduk, serta pergeseran penggunaan lahan menjadi lahan usaha tani tanaman pangan (padi, palawija, dan sayuran), terutama di Kabupaten HSS, HST dan sebagian kecil HSU, sehingga ketersediaan hijauan pakan bergantung pada musim. Masalah lain dalam pengembangan kerbau rawa adalah : 1) penurunan mutu bibit, rendahnya produktivitas dan terjadinya inbreeding, 2) penjualan pejantan tinggi, 3) lokasi pemeliharaan kerbau terlalu jauh dari permukiman penduduk sehingga sulit melakukan penyuluhan, 4) kekeringan pada musim kemarau panjang sehingga ternak kekurangan air minum, 5) serangan penyakit yang menyebabkan kematian. Penyakit yang sering menyerang kerbau rawa antara lain disebabkan oleh parasit (trypanosomiasis atau surra dan fascioliasis) dan bakteri (penyakit ngorok atau SE dan klostridiosis) (Suryana. 2011). Masalah dan Kendala Pengembangan Masalah utama pengembangan lahan lebak untuk usaha pertanian adalah kondisi rejim airnya fluktuatif dan seringkali sulit diduga, hidrotopografi lahannya beragam dan umumnya belum ditata baik, kebanjiran pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau terutama di lahan lebak dangkal, dan sebagian lahannya bertanah gambut. Pemanfaatan lahan lebak untuk usaha pertanian umumnya masih rendah dan bervariasi dari satu kawasan kekawasan lainnya. Produktivitas padi di lahan rawa lebak ini pada umumnya masih rendah, disebabkan selain tingkat kesuburan tanah yang rendah, kebanjiran pada musim hujan dan kekeringan pada musim kemarau, juga serangan hama dan penyakit yang merupakan salah satu faktor pembatas yang penting. Dengan kondisi demikian, maka pengembangan lahan lebak untuk usaha pertanian khususnya tanaman pangan dalam skala luas memerlukan penataan lahan dan jaringan tata air serta penerapan teknologi yang sesuai dengan kondisi wilayahnya agar diperoleh hasil yang optimal. Selain masalah lahan, pengembangan lahan lebak untuk pertanian juga menghadapi berbagai kendala, diantaranya : kondisi sosial ekonomi masyarakat serta kelembagaan dan prasarana

pendukung yang umumnya belum memadai atau bahkan belum ada. Hal ini terutama menyangkut kepemilikan lahan, keterbatasan tenaga dan modal kerja serta kemampuan petani dalam memahami karakteristik dan teknologi pengelolaan lahan lebak, penyediaan sarana produksi, prasarana tata air dan perhubungan serta jalan usahatani, pasca panen dan pemasaran hasil pertanian. Sebagai langkah awal yang merupakan tahapan penting dalam pengembangan lahan lebak, kegiatan identifikasi dan karakterisasi wilayah perlu dilakukan secara rinci terhadap kondisi biofisik lahan, sistem usahatani dan pola tanam, komoditas potensial, kelembagaan serta sarana dan prasarana penunjang yang ada, sosial ekonomi petani termasuk persepsi petani dan prospek pemasaran komoditas pertanian. KESIMPULAN Lahan rawa lebak memiliki potensi dan prospek besar untuk di manfaatkan sebagai areal produksi pertanian, khususnya padi dan merupakan salah satu pilihan strategis bagi peningkatan produksi pangan nasional dan dapat dijadikan sebagai lahan abadi untuk mempertahankan produksi pangan nasional. Petani lokal lebak lahan rawa lebak, sejak lama dan sudah lebih dari ratusan tahun memanfaatkan lahan rawa untuk bercocok tanam padi, palawija dan berbagai jenis tanaman hortikultura. Padi merupakan tanaman utama dan dapat di kembangkan hampir lebak semua jenis lahan rawa lebak dari lahan lebak rawa dangkal sampai ke lahan rawa lebak dalam. Dengan memahami kondisi lingkungannya dan belajar dari pengalaman, petani telah berhasil mengembangkan lahan rawa lebak menjadi daerah pertanian yang subur dan berproduktivitas tinggi, ramah lingkungan dan kelestarian produksi tetap tinggi yang berlangsung hingga sampai sekarang ini. DAFTAR PUSTAKA Achmadi dan Irsal, L. 2011. Inovasi Teknologi Pengembangan Pertanian Lahan Rawa Lebak. Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra) dan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Lahan Pertanian. Banjarbaru. Diakses pada tanggal 8 Maret 2011. Haris, A. 2001. Manajemen Lahan Orang Banjar. Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat. Banjarbaru. Diakses pada tanggal 8 Maret 2011. Ismail, et al. 1993. Sewindu Penelitian Pertanian di Lahan Rawa (1985- 1993). Kontribusi dan Prospek Pengembangan. Proyek Penelitian Pertanian Lahan Pasang Surut dan Rawa Swamps II. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor. Diakses pada tanggal 8 Maret 2011. Noor, M. 2007. Rawa Lebak: Ekologi, Pemanfaatan, dan Pengembangannya. Raja Grafindo Persada. Jakarta. Noor, M, dkk. 2011. Status, Potensi Dan Pengembangan Buah Eksotik Di Lahan Rawa. Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa. Banjarbaru. Diakses pada tanggal 8 Maret 2011. Rafieq, A. 2004. Sosial Budaya dan Teknologi Kearifan Lokal Masyarakat dalam Pengembangan Pertanian Lahan Lebak di Kalimantan Selatan. Balai Pengkajian dan Pengembangan Teknologi

Pertanian Kalimantan Selatan. Banjarbaru. Diakses pada tanggal 8 Maret 2011. Rien. 2010. Rawa Lebak Dan Pertaniannya. http://rien2023.blogspot.com/. Diakses pada tanggal 8 Maret 2011. Rohaeni, S dan Yanti, R. 2011. Peluang Dan Potensi Usaha Ternak Itik Di Lahan Lebak. BPTP Kalimantan Selatan dan Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (Balittra). Banjarbaru. Diakses pada tanggal 8 Maret 2011. Rupawan. 2011. Beje Sebagai Kolam Produksi Dilahan Rawa Lebak. Balai Riset Perikanan Perairan Umum Palembang. Diakses pada tanggal 8 Maret 2011. Subagyo. 2006. Karakteristik Dan Pengelolaan Lahan Rawa. Balai Besar Penelitian Dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian. Bogor. Diakses pada tanggal 8 Maret 2011. Suryana. 2011. Usaha Pengembangan Kerbau Rawa Di Kalimantan Selatan. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Kalimantan Selatan, Jalan Panglima Batur Barat No. 4, Banjarbaru 70711. Diakses pada tanggal 8 Maret 2011. Susanto, dkk. 1998. Pengantar Fisika Tanah. Mitra Gama Widya. Yogyakarta. Yusma. 2011. Sistem Mata Pencaharian Suku Banjar. http://yusmabjm. blogspot. com/2009/02/sistem-mata-pencaharian-suku-banjar-.html. Diakses pada tanggal 8 Maret 2011.

BABIPENDAHULUAN1. 1LatarBelakangLahanlebakmerupakansalahsatusumberdayalahanyangpotensialuntukdikembangkanmen jadikawasanpertaniandiIndonesiapadatanamanpangankhusunyapadi.PotensilahanlebakyangberadadiInd onesiaanataralaindiSumatraSelatandanKalimantanSelatan.PotensilahanrawalebakdiseluruhIndonesiame ncapai14jutahektar,terdiridarirawalebakdangkalseluas4.166.000ha,lebaktengahanseluas6.076.000hada nlebakdalamseluas3.039.000ha(WidjajaAdhi,etal.,1998).Namundemikianpemanfaatannyabelumdilakuka nsecaraoptimal.Aralyangdimanfaatkanuntukpertanian(padi)diperkirakanmencapai6,5%atau300.000hekt ar.

Pertanian pd lahan lebak (3) Document Transcript

1. BAB I PENDAHULUAN1.1 Latar Belakang Lahan lebak merupakan salah satu sumberdaya lahan yang potensial untuk dikembangkan menjadi kawasan pertanian di Indonesia pada tanaman pangan khusunya padi. Potensi lahan lebak yang berada di Indonesia anatara lain di Sumatra Selatan dan Kalimantan Selatan. Potensi lahan rawa lebak di seluruh Indonesia mencapai 14 juta

hektar, terdiri dari rawa lebak dangkal seluas 4.166.000 ha, lebak tengahan seluas 6.076.000 ha dan lebak dalam seluas 3.039.000 ha (Widjaja Adhi, et al., 1998). Namun demikian pemanfaatannya belum dilakukan secara optimal. Aral yang dimanfaatkan untuk pertanian (padi) diperkirakan mencapai 6,5 % atau 300.000 hektar. Kendala utama pengembangan rawa lebak meliputi faktor biofisik terutama fluktuasi genangan air, sosial ekonomi dan kelembagaan serta dukungan sarana infrastuktur. Introduksi teknologi usahatani padi lahan lebak adalah salah satu cara untuk meningkatkan produktivitas lahan. Produktivitas tanaman pangan di daerah rawa yang sudah dibuka tersebut pada saat ini relatif masih rendah jika dibandingkan dengan produktivitas di lahan beririgasi (Sabran et al, 1999). Menurut Adimihardja et al, (1998) pemanfaatan lahan rawa untuk usaha pertanian hendaknya memperhatikan faktor-faktor fisik dan lingkungan yang dapat menjadi kendala dalam pengembangan usaha pertanian (Faktorfaktor tersebut meliputi: a) lama dan kedalaman genangan air banjir serta kualitas air, b) ketebalan gambut, kandungan hara dan tingkat kematangan gambut, c) kedalaman lapisan pirit serta kemasaman setiap lapisan tanahnya. 2. 1.2 Tujuan Dengan menerapkan teknologi penataan lahan serta pengelolaan lahan dan komoditas pertanian secara terpadu, lahan lebak dapat dijadikan sebagai salah satu andalan sumber pertumbuhan agribisnis dan pendukung ketahanan pangan nasional. Hal ini ditunjukkan oleh petani lokal yang telah mengembangkan berbagai model usaha pertanian di beberapa lokasi lahan lebak dengan menerapkan teknologi kearifan lokal maupun hasil penelitian. 3. BAB II PEMBAHASAN2.1 Pengelompokan dan Karakteristik Lahan2.1.1 Tipologi Lahan Lebak Lahan rawa lebak adalah lahan yang pada periode tertentu (minimal satubulan) tergenang air dan rejim airnya dipengaruhi oleh hujan, baik yang turunsetempat maupun di daerah sekitarnya. Berdasarkan tinggi dan lama genangan airnya,lahan rawa lebak dikelompokkan menjadi lebak dangkal, lebak tengahan dan lebakdalam. Lahan lebak dangkal adalah lahan lebak yang tinggi genangan airnya kurangdari 50 cm selama kurang dari 3 bulan. Lahan lebak tengahan adalah lahan lebak yangtinggi genangan airnya 50-100 cm selama 3-6 bulan. Lahan lebak dalam adalah lahanlebak yang tinggi genangan airnya lebih dari 100 cm selama lebih dari 6 bulan(Widyaya Adhi, et al., 2000). Lahan lebak dangkal umumnya mempunyai kesuburan tanah yang lebih baik,karena adanya pengkayaan dari endapan lumpur yang terbawa luapan air sungai.Lahan lebak tengahan mempunyai genangan air yang lebih dalam dan lebih lamadaripada lebak dangkal, sehingga waktu surutnya air juga lebih belakangan. Olehkarena itu, masa pertanaman padi pada wilayah ini lebih belakang daripada lebakdangkal. Lahan lebak dalam letaknya lebih dalam yang pada musim kemarau denganiklim normal umumnya masih tergenang air dan ditumbuhi oleh beragam gulmaterutama jenis Paspalidium, sehingga wilayah ini merupakan reservoir air dan sumberbibit ikan perairan bebas. Lahan ini umumnya jarang digunakan untuk usaha tanaman,kecuali pada areal yang periode tidak tergenang airnya lebih dari 2 bulan atau bila 4. terjadi kemarau panjang. Ilustrasi jenis lahan lebak disajikan pada Gambar berikut ini:2.1.2 Jenis Tanah dan Karakteristiknya Jenis tanah yang umum dijumpai di lahan lebak adalah tanah mineral dan gambut. Tanah mineral bisa berasal dari endapan sungai atau bisa berasal dari endapan marin, sedangkan tanah gambut di lapangan bisa berupa lapisan gambut utuh atau lapisan gambut berselang seling dengan lapisan tanah mineral. Tanah mineral memiliki tekstur liat dengan tingkat kesuburan alami sedang - tinggi dan pH 4 - 5 serta drainase terhambat sedang. Setiap tahun, lahan lebak umumnya mendapat endapan lumpur dari daerah di atasnya, sehingga walaupun kesuburan tanahnya umumnya tergolong sedang, tetapi keragamannya sangat tinggi antar wilayah atau antar lokasi. Pada umumnya nilai N total sedang-tinggi, Ptersedia rendah-sedang, K-tersedia 10-20 ppm sedang, dan KTK sedang-tinggi. Lahan lebak dengan tanah mineral yang berasal dari endapan sungai cukup baik untuk usaha pertanian.

Sedangkan lahan lebak dengan tanah mineral yang berasal dari endapan marin biasanya memiliki lapisan pirit (FeS2) yang berbahaya bagi tanaman karena bisa meracuni tanaman terutama bila letaknya dekat dengan permukaan tanah. Oleh karena itu, reklamasi dan pengelolaan lahan ini harus dilakukan secara cermat dan hati-hati agar tanaman bisa tumbuh dan memberikan hasil yang baik (Alkasuma et al, 2003, Alihamsyah, 2005). 5. Lahan gambut adalah lahan yang memiliki lapisan tanah gambut, yaitu tanahyang terbentuk dari bahan organik atau sisa-sisa pepohonan, yang dapat berupa bahanjenuh air dengan kandungan karbon organik sebanyak 12-18% atau bahan tidak jenuhair dengan kandungan karbon organik sebanyak 20%. Berdasarkan ketebalannya,lahan gambut yang dijumpai di lahan lebak bisa berupa lahan bergambut, gambutdangkal, gambut sedang, dan gambut dalam. Lahan bergambut adalah lahan yangketebalan lapisan gambutnya 20-50 cm. Lahan gambut dangkal adalah lahan yangketebalan lapisan gambutnya 50-100 cm. 23Lahan gambut sedang adalah lahan yangketebalan lapisan gambutnya 100-200 cm. Lahan gambut dalam adalah lahan yangketebalan lapisan gambutnya 200-300 cm. Tingkat kematangan tanah gambut jugaberagam, yaitu bisa matang (hemis), setengah matang (sapris) dan mentah (fibris). Tanah gambut biasanya memiliki tingkat kemasaman yang tinggi karenaadanya asam-asam organik, mengandung zat beracun H2S, ketersediaan unsur haramakro dan mikro terutama P, K, Zn, Cu dan Bo yang rendah, serta daya sangga tanahyang rendah. Lahan gambut dengan karakteristik tanah yang demikian memerlukanteknologi pengelolaan dan pemilihan jenis tanaman atau varietas tertentu agartanaman dapat tumbuh dengan baik dan memberikan hasil yang memadai.2.1.3 Masalah dan Kendala Pengembangan Masalah utama pengembangan lahan lebak untuk usaha pertanian adalahkondisirejim airnya fluktuatif dan seringkali sulit diduga, hidrotopografi lahannya beragamdan umumnya belum ditata baik, kebanjiran pada musim hujan dan kekeringan pada 6. musim kemarau terutama di lahan lebak dangkal, dan sebagian lahannya bertanahgambut. Dengan kondisi demikian, maka pengembangan lahan lebak untuk usahapertanian khususnya tanaman pangan dalam skala luas memerlukan penataan lahandan jaringan tata air serta penerapan teknologi yang sesuai dengan kondisi wilayahnyaagar diperoleh hasil yang optimal. Selain masalah lahan, pengembangan lahan lebakuntuk pertanian juga menghadapi berbagai kendala, diantaranya : kondisi sosialekonomi masyarakat serta kelembagaan dan prasarana pendukung yang umumnyabelum memadai atau bahkan belum ada. Hal ini terutama menyangkut kepemilikanlahan, keterbatasan tenaga dan modal kerja serta kemampuan petani dalam memahamikarakteristik dan teknologi pengelolaan lahan lebak, penyediaan sarana produksi,prasarana tata air dan perhubungan serta jalan usahatani, pasca panen dan pemasaranhasil pertanian. 7. 2.2 Karakterisasi Wilayah dan Perancangan Model Usaha Pertanian2.2.1 Karakterisasi Wilayah Sebagai langkah awal yang merupakan tahapan penting dalam pengembanganlahan lebak, kegiatan identifikasi dan karakterisasi wilayah perlu dilakukan secararinci terhadap kondisi biofisik lahan, sistem usahatani, komoditas potensial,kelembagaan serta sarana dan prasarana penunjang yang ada, sosial ekonomi petanitermasuk persepsi petani dan prospek pemasaran komoditas pertanian. Hasilidentifikasi dan karakterisasi wilayah ini digunakan sebagai bahan perancanganmodel pengembangan lahan lebak, yang mencakup : arahan pemanfaatan lahan dansistem usahatani serta pengembangan infrastruktur dan kelembagaan pendukungnya. Karakterisasi lahan yang kegiatannya mencakup : pemetaan tanah dan pola(lama dan kedalaman) genangan air atau hidro-topografi ditujukan untuk menyusunkembali model penataan lahan dan jaringan tata air maupun pola tanam danpemilihan komoditas serta teknologi budidayanya. Karakterisasi sosial ekonomipetani serta kelembagaan dan prasarana penunjang digunakan untuk pemilihan modelusahatani dan komoditas serta menyempurnakan

prasarana pertanian dankelembagaan yang lebih sesuai termasuk pola peningkatan kapasitas petani.Karakterisasi wilayah dilakukan oleh Tim multi disiplin terutama aparat dari BPTPdan Dinas Pertanian serta Kimpraswil. Data atau informasi yang diperolehselanjutnya ditabulasi dan dianalisis dengan metode yang sesuai dengan jenis datadan informasi, antara lain : dengan analisis deskriptif dan kelayakan pengembangan. Secara ringkas kegiatan karakterisasi wilayah untuk pengembangan lahanlebak disajikan pada Tabel 2. 8. 2.2.2 Prinsip Dasar Perancangan Model Usaha Pertanian Secara ringkas, pola pikir atau pendekatan dalam perancangan modelpengembangan lahan lebak spesifik lokasi melalui karakterisasi wilayah disajikanpada Gambar 1 dan 2. Dari hasil karakterisasi biofisik lahan yang berupa peta jenistanah dan genangan air atau hidro-topografi lahan serta karakteristik tanah dapatditentukan calon lokasi serta perancangan model pengembangan dan area percontohan.Dari informasi karakteristik tanah dan tipe lahan lebak serta persepsi petaninyaditentukan pula model usaha pertanian yang sesuai, meliputi : pola penataan lahan,pola tanam dan alternatif komoditas potensial yang bisa dikembangkan serta teknologibudidayanya. 9. 2.3 Karakterisasi Lahan serta Penataan Lahan dan Tata Air2.3.1 Karakterisasi Lahan Karakterisasi lahan dilakukan melalui pemetaan dan pengamatan tanahdengan jalan membuat minipit dan mengebor tanah pada jarak 50-500 m, disesuaikandengan keadaan fisiografi dan penggunaan lahannya. Pengamatan tanah meliputijenis dan karakteristik tanah, terutama untuk mendelineasi tanah mineral dan tanahgambut. Di samping itu, dilakukan penelusuran lapang untuk mengamati faktor fisiklingkungan, antara lain : fisiografi dan penggunaan lahan yang ada serta tinggi dan 10. periode genangan air. Klasifikasi tanah ditetapkan menurut Soil Taxonomy yangdikonversi menjadi jenis tanah dan tipe lebak, yaitu lebak dangkal, tengahan dandalam. Hasil pengamatan pemboran diplot pada peta dasar untuk menyusun petajenis tanah dan tipe genangan air atau tipe lebak. Skala peta adalah 1:2.500 untuklokasi areal percontohan dan 1:50.000 untuk areal pengembangan.2.3.2 Penataan Lahan dan Jaringan Tata Air Guna mengoptimalkan pengembangan lahan lebak untuk usaha pertanianyang sekaligus meningkatkan diversifikasi hasil pertanian dan pendapatan, makadalam jangka panjang perlu dilakukan penataan lahan dan jaringan tata air. Alternatifpola penataan lahan menurut tipe lahan lebak dan jenis tanahnya disajikan pada Tabel3. Karena genangan airnya kurang dari 50 cm, lahan lebak dangkal dapat ditatasebagai sawah tadah hujan atau kombinasi sawah dan tukungan maupun sistemsurjan, sedangkan lahan lebak tengahan karena genangan airnya lebih dari 50 cmhendaknya ditata sebagai sawah tadah hujan atau kombinasi sawah dan tukungan.Sedangkan lahan lebak dalam yang karena genangan airnya cukup dalam untuk waktuyang lama, hendaknya dibiarkan alami dan digunakan untuk usaha perikanan, tetapi 11. pada musim kemaraunya digunakan untuk usaha tanaman pangan atau hortikultura.Apabila tanahnya berupa gambut, jangan ditata sebagai surjan walaupun tergolonglahan lebak dangkal. 12. Tinggi guludan pada sistem surjan adalah 50-75 cm, sedangkan lebarnya 2-3m. Ukuran dukungan adalah tinggi 60-75 cm dan diameter atau sisinya sekitar 2-3 m.Pada petakan lahan yang ditata sistem surjan, pada salah satu sisinya digali saluranberukuran dalam 0,6 m dan lebar 1 m, fungsinya adalah sebagai pengatur kelengasantanah pada petak sawah dan tempat hidup atau perangkap ikan alam. Gunamenyeragamkan tinggi genangan air dan kesuburan tanah di petakan lahan, perludilakukan perataan lahan bersamaan dengan kegiatan pengolahan tanah. Pada lokasilahan lebak tengahan dan lebak dalam perlu dibuat jaringan tata air berupa saluranbesar yang menghubungkan petakan lahan ke sungai guna mengalirkan air darikawasan lahan ke sungai sehingga air genangan cepat surut dan sekaligus sebagaiprasarana transpotasi. Sedangkan pada petakan lahan perlu dibuat parit berukuran lebar 1 m dandalam 0,6 m yang

dilengkapi dengan pintu air sistem tabat guna mengalirkan air daripetakan lahan ke saluran besar dan menampung air pada musim kemarau untukmengairi tanaman serta sekaligus sebagai tempat hidup atau perangkap ikan alam.Sistem jaringan tata air ini akan lebih baik jika dikombinasikan dengan penggunaanpompa air untuk memanfaatkan sungai yang posisinya tidak terlalu jauh dari kawasanlahan lebak. Penataan lahan sistem surjan atau tukungan dapat dilakukan oleh petanitetapi perlu percontohan dan penyuluhan. Sedangkan pembuatan jaringan tata airdan pompa hendaknya dilakukan atau dibantu oleh pemerintah. 13. 2.4 Penyusunan Model Usahatani2.4.1 Sistem Usahatani Terpadu Adanya keragaman karakteristik biofisik lahan dan sosial ekonomi, makasistem usahatani yang dapat dikembangkan di lahan lebak adalah sistem usahataniterpadu yang berbasis sumberdaya lokal (kondisi lahan dan komoditas yang sesuai)dengan fokus optimalisasi pemanfaatan sumberdaya pertaniannya serta hubungansinergistik antar subsistemnya. Dengan demikian, pengembangannya dapat tetapmenjamin kelestarian sumberdaya alamnya. Pemilihan sistem usahatani terpadubersifat spesifik dan dinamis yang disesuaikan dengan karakteristik biofisik lahandan kondisi sosial ekonomi setempat serta kemampuan dan preferensi masyarakatnyatermasuk prospek pemasarannya. Usahataninya harus diarahkan kepada 14. pengembangan aneka komoditas dalam suatu sistem usaha terpadu sesuai dengankondisi lahan dan prospek pemasaran hasil pertaniannya. Penganekaragaman komoditas ini perlu dilakukan untuk meningkatkanpendapatan dan mengurangi resiko kegagalan usahatani. Sistem usahataninyamencakup : aspek penataan lahan dan jaringan pengairan, pola tanam, pemilihankomoditas dan teknologi budidayanya disesuaikan dengan karakteristik lahannya. Dilihat dari pelaku dan tujuan pengembangannya, secara garis besar ada duamodel usahatani yang cocok dikembangkan di lahan lebak, yaitu : model usahataniberbasis tanaman pangan dan model usaha tani berbasis komoditas unggulan.Usahatani berbasis tanaman pangan ditujukan untuk menjamin keamanan pangan bagipetaninya, sedangkan usahatani berbasis komoditas unggulan dikembangkan padaskala luas dalam perspektif agribisnis oleh pengusaha. Komoditas yang bisadikembangkan di lahan lebak meliputi : tanaman pangan, tanaman sayuran, tanamanbuah-buahan, tanaman perkebunan, ternak, dan ikan. Pemilihan komoditas untuksuatu wilayah pengembangan perlu disesuaikan dengan kondisi dan penataan lahanserta prospek pemasaran hasilnya. Sedangkan pemilihan varietas tanamannyadidasarkan kepada daya adaptabilitasnya terhadap kondisi lahan lebak yang beragam,termasuk preferensi petani dan konsumen.2.4.2 Model Usahatani Berbasis Padi Kondisi lahan lebak pada musim hujan selalu tergenang air dan pada musimkemarau air tanahnya dangkal (kecuali lebak sangat dalam) akan menjadi mediatumbuh yang baik bagi tanaman padi. Oleh karena itu, model usahatani berbasis padidapat menjadi pilihan utama pemanfaatan lahan lebak untuk usaha pertanian. Dengankondisi air yang demikian, padi dapat ditanam di lahan lebak sebagai padi sawahmaupun padi gogo rancah (surung) dan rancah gogo (rintak) tergantung kepadapenataan lahan dan kondisi airnya. Melalui penataan lahan sesuai dengan karakteristiklahan (tipe lebak dan jenis tanahnya) serta pengaturan pola tanam sesuai dengan rejimairnya, berbagai komoditas pertanian bukan padi dapat diusahakan terutama untuk 15. diversifikasi produksi dan peningkatan pendapatan. Model usahatani berbasis padibisa berupa : padi, palawija, hortikultura, ternak dan ikan; padi, palawija, ternak danikan; padi, hortikultura, ternak dan ikan; padi, ternak dan ikan; padi dan ternak.2.4.3 Penyusunan Pola Tanam Pemilihan pola tanam di lahan lebak harus didasarkan kepada penataan lahanserta periode kering lahan dan pola hujannya. Faktor utama yang paling menentukanpenyusunan pola tanam adalah rejim air khususnya tinggi dan periode genangan ataukedalaman air tanah dan curah hujan. Waktu penanaman padi rintak bisanya bilagenangan air setinggi 10-15 cm, sedangkan untuk padi surung adalah awal musimhujan (3-4 kali hujan) tapi lahan belum

tergenang air. Alternatif pola tanam menuruttipe lahan lebak dan penataan lahan disajikan pada Tabel 4. Alternatif pola tanam untuk sawah dan bagian tabukan pada sistem surjan dilahan lebak dangkal adalah padi gogo rancah - padi rancah gogo, padi gogo rancah -padi rancah gogo palawija/hortikultura dan padi - palawija/ hortikultura. Polatanam pada bagian guludan surjan di lahan lebak dangkal adalah palawija/hortikultura- palawija/hortikultura atau ditumpangsarikan dengan buah-buahan tahunansedangkan pada tukungan ditanami tanaman buah-buahan tahunan. Pola tanam untuksawah di lahan lebak tengahan adalah padi gogo rancah - bera - padi rancah gogo,padi rancah gogo - palawija dan padi rancah gogo - hortikultura, sedangkan polatanam di 33 lahan lebak dalam yang dilengkapi dengan jaringan tata air dan periodetergenangnya air kurang dari 9 bulan adalah padi - bera, palawija/hortikultura bera,tumpang sisip jagung + kacang hijau, jagung + sayuran berumur pendek, hortikulturaberjarak tanam lebar + sayuran berumur pendek. 16. DAFTAR PUSTAKAAchmadi, Las,Irsal. Inovasi Teknologi Pengembangan Pertanian Lahan Rawa Lebak. Diakses dari : http://balittra.litbang.deptan.go.id/prosiding06/Utama-3.pdf tanggal 15 September 2011Alihamsyah, T, 2004. Potensi dan pendayagunaan lahan rawa dalam rangka peningkatan produksi padi. Badan Litbang Pertanian, Jakarta.Alihamsyah, T, 2005. Pengembangan Lahan Rawa Lebak untuk Usaha Pertanian. Balittra. Banjarbaru. 53 halaman.Alihamsyah, T. M. Sarwani, A.Jumberi, I. Ar-Riza, I. Noor, dan H. Sutikno 2003. Lahan Rawa Pasang Surut : Pendukung Ketahanan Pangan dan Sumber Pertumbuhan Agribisnis. Balittra. Banjarbaru. 53 halaman.Alkasuma, Suparto, dan G. Irianto. 2003. Idenetifikasi dan karakterisasi lahan rawa lebak untuk pengenbangan padi sawah dalam rangka antisipasi dampak El- NinoBalittra, 2004. Laporan Tahunan Penelitian Pertanian Lahan Rawa Tahun 2003. Penyunting Trip Alihamsyah dan Izzuddin Noor. Banjarbaru.Norginayuwati, Rafieq,Achmad. Kearifan Budaya Lokal dalam Pemanfaatan Lahan Lebak Untuk Pertanian di Kalimantan Selatan. Diakses dari : http://balittra.litbang.deptan.go.id/lokal/Kearipan-3%20Rafieq.pdf tanggal 15 September 2011Waluyu, dkk. Teknologi Usahatani Padi Di Lahan Lebak. Diakses dari : http://balittra.litbang.deptan.go.id/abstrak/Document9.pdf tanggal 15 September 2011Widjaja Adhi, D.A. Suriadikarta, M.T. Sutriadi, IGM. Subiksa, dan I.W. Suastika. 2000. Pengelolaan, pemanfaatan, dan pengembangan lahan rawa. Dalam A. Adimihardjo et al (eds.). Sumber Daya Lahan Indoensia dan Pengelolaannya. Puslittanak. Bogor. Hlm. 127-164 17. SISTEM PERTANIAN TERPADU PADA LAHAN RAWA LEBAK Mata Kuliah Sistem Pertanian Berkelanjutan II Disusun oleh : NADYA AVISHINA HADI 150110080213 IMAN MUHARDIONO 150110080222 BILQIS RAZNASTI QULSUM 150110080227 GILANG FAUZI 150110080230 AGROTEKNOLOGI F FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS PADJAJARAN 2011 18. KATA PENGANTAR Puji syukur dan terima kasih penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esaatas berkat dan karunia-Nya sehingga kami berhasil menyelesaikan tugas MataKuliah Sitem Pertanian Berkelanjutan II yang berjudul Sistem Pertanian Terpadu diLahan Rawa Lebak dengan baik. Karena keterbatasan waktu, pengetahuan, pengalaman serta kesempatan yangada, kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, baik dari materi,analisis, maupun sistematika pembahasannya. Oleh karenanya, segala kritik dan saranyang membangun guna perbaikan makalah ini lebih lanjut, akan kami terima dengansenang hati. Bandung, September 2011 Penyusun