Anda di halaman 1dari 12

Waran adalah hak untuk membeli saham atau obligasi dari satu perusahaan

dengan harga yang telah ditentukan sebelumnya oleh penerbit


waran/perusahaan emiten.

Harga pasar saham dapat berubah-ubah setelah penawaran umum perdana.


Ketika harga tersebut naik menjadi lebih tinggi, maka pemilik waran akan
mendapat keuntungan karena dapat membeli saham tersebut dengan harga
awal. Sebaliknya jika harga pasar turun menjadi lebih rendah dari harga
awal, pemilik waran akan mengalami kerugian sesuai harga waran, karena
waran tersebut tidak dapat digunakan untuk membeli saham dengan harga
yang lebih rendah dari harga pasar.

Waran umumnya dapat diperdagangkan juga di bursa, sehingga pemilik


waran dapat juga mendapat keuntungan (capital gain) jika bisa menjual
waran tersebut lebih tinggi dari harga beli. Waran hampir mirip dengan Opsi,
sama-sama merupakan suatu jenis kontrak dari pasar modal, hanya saja
Waran lebih bersifat pribadi, sedangkan Opsi lebih ke khayalak umum dan
terbuka.

Investasi Waran: Hak Membeli Saham

Pengantar:

Rubrik PERENCANAAN KEUANGAN ini mengunjungi pembaca setiap hari


Jumat. Rubrik ini diasuh oleh Tim Indonesia School of Life (ISOL) yakni
Andrias Harefa, Roy Sembel, M. Ichsan, Heru Wibawa, dan Parpudi Lubis.
Pembaca dapat mengirimkan pertanyaan atau berkonsultasi seputar
masalah-masalah perencanaan keuangan. Pertanyaan dapat dikirim lewat
email: redaksi@sinarharapan.co.id, Faksimile Redaksi Sinar Harapan (021)
3153581, surat dialamatkan ke redaksi Sinar Harapan, Jl. Raden Saleh No.
1B-1D Cikini, Jakarta Pusat 10430, dan bisa membuka di
http://www.pembelajar.com/ISOL.

Bagi Anda yang sudah melakukan investasi di Bursa Efek, dalam bentuk
investasi langsung—bermain saham—atau investasi tidak langsung—sarana
investasi Reksadana—pasti membaca lembaran ekonomi atau keuangan di
berbagai media cetak yang mencantumkan data transaksi di Bursa Efek kita.
Data mengenai harga saham, obligasi, indeks, reksadana, kontrak berjangka
dan lainnya tersedia disini. Pastinya Anda juga pernah melihat kolom
transaksi yang berkaitan dengan waran. Bagi mereka yang mengerti, data
tersebut mungkin saja bermanfaat. Tapi bagi mereka yang awam akan
investasi waran pasti melewatkan informasi tersebut. Atau malah timbul
pertanyaan, “Apa sih yang disebut waran itu? Bagaimana seluk beluk
investasi waran? Dan apa sih untung ruginya?
Berkenaan dengan pertanyaan di atas, kami mencoba memberikan sedikit
informasi berkenaan dengan investasi waran sebagai alternatif. Semoga
informasi kami kali ini bermanfaat dan menambah wawasan Anda seputar
investasi.

Apa Itu Waran?


Pada dasarnya waran tidaklah berbeda dengan options (opsi) yang beberapa
waktu lalu sempat kami ulas. Untuk mengingatkan, Opsi adalah kontrak yang
memberikan hak (bukan kewajiban) kepada pemegang kontrak itu untuk
membeli (call options) atau menjual (put options) suatu aset tertentu dengan
harga tertentu (strike price/exercise price atau harga patokan / tebus) dalam
jangka waktu tertentu.
Waran ini adalah efek yang sebenarnya merupakan sebuah call options pada
saham. Call options adalah kontrak yang memberikan hak (bukan suatu
kewajiban) kepada pemiliknya untuk membeli sejumlah aset dasar dengan
harga patokan tertentu sebelum ataupun saat kontrak jatuh tempo. Dalam
hal waran, aset dasarnya hanyalah saham.
Jadi singkatnya waran adalah hak untuk membeli suatu saham pada harga
patokan atau exercise price yang telah ditentukan dan pada waktu yang
ditetapkan pula. Bila waran tersebut memiliki exercise price Rp.2.000,
artinya pemegang waran tersebut memilik hak untuk membeli saham
perusahaan yang menerbitkan waran di harga Rp 2.000 pada saat jatuh
tempo, tak masalah berapa harga saham tersebut saat itu di bursa.
Bilamana investor meng-exercise warannya, maka perusahaan penerbit
harus mengeluarkan saham baru, sedangkan pada opsi, saham yang
diperdagangkan adalah saham yang telah beredar di bursa.
Waran sering kali digunakan sebagai “iming-iming” untuk investor bila
perusahaan akan menerbitkan obligasi. Waran diberikan sebagai daya tarik
yang diberikan agar investor mau membeli obligasi dengan tingkat suku
bunga yang lebih rendah dari tingkat suku bunga pasar.
Dengan menerbitkan obligasi bersama-sama dengan waran perusahaan
ingin mengurangi biaya yang harus dikeluarkan dalam bentuk bunga obligasi
yang harus dibayarkan kepada investor secara regular.
Jadi pada intinya, waran yang melekat pada penerbitan obligasi atau saham
bertujuan agar investor tertarik untuk membeli sekuritas atau efek yang
diterbitkan oleh perusahaan.

Waran diperjualbelikan berdasarkan nilai intrinsiknya


Walau waran merupakan bagian dari penerbitan saham atau obligasi,
sebenarnya waran dapat diperjualbelikan secara terpisah selama waktu
tertentu. Hak untuk membeli saham pada waran dapat di’exeercise’ saat
waran jatuh tempo atau pada periode tertentu setelah waran diterbitkan.
Sebagai contoh, misalkan waran PT. Z yang diperdagangkan di bursa
memiliki harga patokan atau exercise price sebesar Rp 1.000 dan akan jatuh
tempo enam bulan yang akan datang. Kondisi ini dapat diartikan bahwa
pemegang waran memiliki hak untuk membeli satu lembar saham PT. Z
seharga Rp 1.000, enam bulan dari sekarang.
Bilamana selema enam bulan harga PT. Z naik menjadi Rp 1.200, dalam
situasi ini waran dikatakan “in the money” atau dengan kata lain waran
tersebut memiliki nilai intrinsik sebesar Rp 200 (Rp 1.200 – Rp 1.000).
Logisnya, jika investor mengeksekusi haknya dengan membeli saham PT. Z
maka ia akan mendapatkan keuntungan sebesar Rp 200 per lembar
sahamnya (beli di harga Rp 1.000 dan langsung menjualnya di Bursa dengan
harga Rp 1.200). Nilai intrinsik inilah yang dijadikan patokan dalam
menentukan harga waran.
Tetapi bagaima bila harga saham PT. Z di Bursa ternyata turun menjadi Rp
900. pada kondisi ini harga waran tersebut adalah nol dan bukanlah –(minus)
Rp 100. hal ini dikarenakan, sebuah waran merupakan hak bukannya
kewajiban bagi pemegangnya, jadi tidak ada keharusan untuk menggunakan
hak tersebut pada saat jatuh tempo. Jadi nilai intrinsic sebuah waran paling
banter adalah nol tidak pernah akan negatif.
Perlu juga disimak bahwa harga waran di bursa banyak dipengaruhi oleh
factor lain selain perubahan harga aset dasarnya. Semakin tinggi harga
saham dibursa dibandingkan dengan exercise price-nya akan semakin tinggi
harga sebuah waran. Sebaliknya semakin rendah harga saham akan semakin
rendah pula harga warannya.

Untung Rugi Investasi Di Waran


Untuk menyampiakn ulasan mengenai hal ini kami akan menggunakan
contoh agar lebih mudah untuk dimengerti. Dari contoh diatas, misalkan
waran PT. Z memiliki exercise price sebesar Rp 1.000 dan harga waran Z
tersebut saat ini di Bursa adalah Rp 100. Waran Z ini akan jatuh tempo 6
bulan yang akan datang.
Misalkan harga saham PT. Z di Bursa saat ini adalah Rp 1.100 per lembar,
artinya jika Anda memiliki waran PT. Z dengan harga premi Rp 100,
sebetulnya Anda menguasai saham yang harganya berlipat ganda (Rp
1.100). Nah inilah karakter penting dari sebuah waran alias call options (hak
untuk membeli aset), yaitu adanya “power of leverage” yang melekat pada
sebuah waran.
Melanjutkan contoh di atas, misalkan enam bulan kemudian saat waran PT. Z
jatuh tempo, harga saham PT. Z melejit ke level Rp.1700 per lembar,
tentunya Anda akan menggunakan hak Anda karena Anda dapat memebli
saham PT. Z diharga Rp 1.000 (exercise price) per lembar dan menjualnya
lagi dibursa dengan harga Rp 1.700.
Diatas kertas, Anda akan mendapatkan keuntungan sebesar Rp 400 [Rp
1.500 – Rp 1.000 – Rp 100(premi)] per saham yang sama dengan tingkat
keuntungan sebesar 400% (Rp 400/100 x 100%). Semakin tinggi harga
saham di Bursa saat waran jatuh tempo akan semakin besar keuntungan
yang bisa Anda peroleh.
Tetapi jika ternyata saat waran jatuh tempo, harga saham PT. Z di Bursa
turun menjadi Rp 500, tentunya dalam situasi seperti ini Anda tidak
menggunakan hak Anda untuk membeli saham PT. Z seharga Rp 1.000 dan
Anda hanya ketiban rugi sebesar Rp 100 (premi yang telah dibayarkan di
awala untuk membeli waran).
Jadi kalau dilihat dari contoh perubahan harga ini, potensi untung rugi pada
sebuah waran tidaklah semetris seperti pada kontrak berjangka. Potensi
yang tidak simetris ini juga merupakan karakteristik penting dari sebuah
waran. Kesimpulannya, berinvestasi via waran, memberikan potensi
keuntungan yang tidak terbatas tapi dengan potensi kerugian yang terbatas
yaitu hanya sebesar premi waran diawal investasi. Bagaimana sekarang
Anda tertarik?

Faktor-faktor Berpengaruh
Bagi mereka yang mulai tertarik untuk berspekulasi via waran atau bagi
mereka yang ingin sekedar tau faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan
harga waran, ikuti ulasan berikut ini. Faktor-faktor ini sangat membantu
untuk mengambil keputusan kapan waktu yang tepat untuk membeli dan
menjual waran sehingga bisa membukukan keuntungan (buy low sell high).
Oleh karena waran merupakan call options atau hak untuk membeli suatu
aset, maka harga sebuah waran sangat dipengaruhi oleh harga saham yang
menjadi aset dasarnya. Singkatnya, harga waran akan memiliki batas
terendah dan tertinggi. Batas harga tertinggi dari sebuah waran adalah sama
dengan harga saham yang menjadi aset dasarnya. Logikanya, tidak ada
orang yang mau membeli hak untuk membeli saham dengan harga yang
lebih tinggi dari harga sahamnya sendiri.
Harga terendah dari sebuah waran adalah perbedaan antara harga
sahamnya di Bursa dengan exercise price-nya, dengan catatan perbedaan
tersebut adalah positif. Jika perbedaannya negatif maka harga sebuah waran
haruslah sama dengan nol. Harga terendah inilah yang disebut dengan nilai
intrinsik sebuah waran.
Semakin tinggi harga saham dibursa dibandingkan dengan exercise price-
nya akan semakin tinggi harga sebuah waran karena semakin tinggi nilai
intrinsiknya. Tetapi pada kenyataannya harga waran akan lebih besar dari
nilia intrinsiknya.
Jadi untuk melakukan aksi spekulatif untuk meraup untung dengan berjual
beli waran, selain mengetahui pergerakan nilai intrinsiknya tentunya juga
sangat penting sekali untuk mengetahui faktor-faktor lain yang
mempengaruhinya.
Untuk memudahkan menganalisa faktor-faktor yang mempengaruhi harga
waran, kita menganggap nilai intrinsik sebuah waran adalah konstan dan jika
satu factor dibahas dianggap faktor lain tidak berubah.
Pertama adalah jangk waktu jatuh tempo waran. Semakin panjang (pendek)
umur sebuah waran akan semakin tinggi (rendah) nilai spekulatifnya
tentunya juga harga waran tersebut.
Kedua, volatilitas dari harga saham yang menjadi aset dasar waran. Semakin
tinggi (rendah) volatilitas harga sahamnya akan semakin tinggi (rendah) nilai
spekulatifnya dan akan semakin tinggi (rendah) harga waran tersebut.
Ketiga adalah tingkat suku bunga bebas risiko. Kembali ke contoh PT. Z,
dimana Anda hanya cukup mengelurkan Rp.100 untuk menguasai saham
dengan nilai Rp.1500. jadi sebenarnya Anda memiliki leverage (pinjaman)
sebesar Rp 1.400 (Rp 1.500- Rp 100). logisnya Rp 1.400 ini bisa ditabung
pada tingkat bunga pasar yang bebas risiko.
Jika tingkat suku bunga semakin tinggi (rendah), imbal hasil tabungan Anda
juga akan mengalami kenaikan (penurunan). Karena itu semakin tinggi
tingkat bunga bebas risiko, maka akan semakin tinggi nilai spekulatif sebuah
waran dan tentunya akan mempengaruhi harga warannya, menjadi semakin
tinggi.
Dalam kenyataannya semua factor ini berinteraksi membentuk sebuah harga
waran. Walau terlihat berspekulasi waran tidaklah mahal, tetapi risikonya
tidaklah kecil. Jadi untuk berspekulasi via waran dibutuhkan lebih dari
sekedar ulasan diatas. Ulasan ini hanya bermasuk untuk menambah
wawasan dan informasi mengenai alterntif investasi. semoga bermanfaat

Waran

Waran merupakan turunan dari Saham. Ini merupakan surat berharga juga.
Surat ini merupakan hak untuk membeli saham pada harga tertentu serta
pada waktu tertentu. Biasanya Waran diterbitkan pada saat perusahaan
melaksanakan IPO saham, dimana waran sebagai pemanis, diberikan secara
cuma cuma salah satu instrumen untuk menarik investor agar lebih
bergairah untuk melakukan pembelian saham yang diterbitkan. Waran juga
biasanya diterbitkan bersamaan dengan perusahaan menerbitkan Right.
Tujuannya sama, sebagai pemanis.

Nah kalo waran merupakan hak untuk membeli saham pada harga dan
waktu tertentu lalu apa bedanya dengan Right…? Memang hampir sama,
hanya saja waktu perdagangan waran lebih lama… bisa sampai lima tahun
mendatang, sedangkan pada Right hanya beberapa hari saja. Perbedaan
lainnya terletak pada tujuannya… dimana waran sebagai pemanis bagi
investor, penerbitan Right lebih menunjuk pada aksi korporasi misalnya
penghimpunan dana guna akuisisi, restrukturisasi modal dan lain lain.
Sehingga tingkatan antar keduanya berbeda.

Kedua surat berharga ini tidak melekat hak suara bagi pemegangnya.Tidak
seperti seperti Right yang beresiko terkena dilusi (pengurangan prosentase
kepemilikan saham) apabila right/haknya tidak dilaksanakan, maka pada
Waran tidak ada hubungannya dengan prosentase kepemilikan saham.

Nah bagaimana memperlakukan waran dan right ini tergantung dari


ekspektasi para pemegangnya masing masing. Pengambilan keputusan
Apakah Right dan Waran akan dijual di pasar atau dieksekusi sangat
tergantung pada harga pasar.

Contoh 1 :
Saham Truba Jaya (TRUB) melakukan IPO saham dengan harga Rp110 per
saham dengan rasio waran 1:1 (setiap pembelian 1 saham memperoleh 1
waran secara gratis) dimana waran nantinya dapat untuk membeli 1 saham
dengan harga Rp135 paling lambat tanggal 15 Oktober 2009. Perdagangan
waran dan saham terpisah. Jadi bila seseorang akan menjual saham di pasar
sekunder dari pembelian saat IPO, dia tidak harus menjual warannya. Bisa
disimpan hingga waktu jatuh tempo untuk kelak dieksekusi atau di jual saja
di pasar. Waran juga dapat diperjualbelikan.

Contoh 2 :
Untuk mendanai akuisisi (pengambilalihan perusahaan) atau pengembangan
usaha, PT Bakrie & Brothers (BNBR) melakukan penerbitan Right dengan
rasio 119:20. Setiap pemegang 119 saham memiliki 20 hak/right dimana 1
hak dapat membeli 1 saham baru seharga Rp500.

Contoh 3 :
Untuk pengembangan usaha dan akuisisi PT Agis Tbk menerbitkan Right
yang melekat waran. Rasio Right 2:1, setiap pemegang 2 saham
memperoleh 1 hak untuk membeli 1 saham baru dengan harga Rp200.
Setiap 6 saham baru hasil pelaksanaan berhak atas 1 waran yang dapat
digunakan untuk menebus lagi 1 saham dengan harga Rp200.

Untuk dapat mengerti dan paham mengenai surat berharga ini, sebaiknya
anda langsung praktek saja, beli saham saat IPO yang ada warannya atau
membeli saham di pasar sekunder yang akan menerbitkan Right, gak usah
banyak banyak, beli dengan jumlah minimal saja. Kalau sambil praktek kan
cepet paham

Seluk-Beluk Waran

Bursa saham menyediakan banyak peluang bagi investor untuk membiakkan


duitnya. Instrumen investasi yang paling utama tentu saja adalah saham itu
sendiri. Tapi, selain melalui saham, investor juga bisa berinvestasi melalui
instrumen-instrumen turunan saham. Salah satunya adalah instrumen
waran. Menariknya, karena harga waran lebih rendah daripada saham, modal
yang diperlukan juga lebih kecil.

Wajar jika semakin lama semakin banyak orang yang kepincut ingin
berinvestasi di pasar saham. Pasalnya, selain saham itu sendiri, di bursa
saham, ada pula instrumen investasi lainnya yang bisa menjadi wahana
investasi. Salah satunya adalah waran yang merupakan produk turunan dari
saham. Secara sederhana, waran adalah surat berharga yang memberi hak
kepada pemiliknya untuk membeli suatu saham di masa mendatang pada
harga yang sudah ditetapkan di muka.

Umumnya, emiten saham menerbitkan waran sebagai pemanis untuk


menyukseskan hajatannya. Misalnya, ketika menawarkan saham perdana
(IPO), sebuah perusahaan biasanya juga memberikan bonus waran kepada
investor yang mau membeli sahamnya. Selain itu, perusahaan sering kali
juga memberikan hadiah waran untuk investor yang mau membeli saham
baru yang diterbitkannya (right issue).
Karena sifatnya sebagai pemanis, waran biasanya menawarkan harga
pembelian saham - sering disebut harga pelaksanaan (strike price) - yang
lebih rendah dibandingkan dengan harga pasar.

Ambil contoh perusahaan ABC memberikan satu waran kepada setiap


pembeli satu sahamnya dalam right issue. Perusahaan ABC memasang harga
pelaksanaan waran sebesar Rp 1.500 per saham. Padahal, saat itu, harga
saham ABC di pasar sudah mencapai Rp 1.700 per saham. Dus, harga
pelaksanaan waran itu Rp 200 lebih murah dibanding dengan harga saham
ABC di pasar.

Selain menentukan harga pelaksanaannya, perusahaan juga menentukan


tanggal jatuh tempo yang menjadi tanggal pelaksanaan hak membeli saham
yang melekat pada waran. Jadi, pada tanggal jatuh tempo itu, pemilik waran
bisa membeli harga saham ABC dengan harga Rp 1.500.
Waran seperti ini disebut European warrant. Ada pula model waran yang
disebut sebagai American warrant. Pemilik American warrant bisa
mengeksekusi haknya untuk membeli saham perusahaan penerbit waran
setiap saat sebelum jatuh tempo. Tapi, produk ini belum ada di Indonesia.

Lantas, mengapa waran bisa menjadi alat investasi? Soalnya, layaknya


saham yang menjadi induknya, waran juga bisa diperdagangkan di bursa
saham, termasuk di Bursa Efek Jakarta (BEJ). Secara teori, harga waran itu
adalah selisih antara harga pasar dan harga pelaksanaannya. Jadi, dalam
contoh perusahaan ABC itu, harga warannya adalah Rp 200 per waran. Nah,
harga waran ini bisa bergerak naik-turun mengikuti induk sahamnya.
Artinya, investor memiliki peluang untuk menangguk untung dari pergerakan
harga waran tersebut.

Karena harga awalnya murah dan pergerakan harga waran mengikuti harga
induk sahamnya, potensi keuntungan waran bisa sangat tinggi. Tapi,
sebaliknya, risiko waran ini juga selangit. Karenanya, waran lebih disukai
oleh tipe investor yang agresif dan gemar berspekulasi.

Mirip dengan saham, waran juga bisa diperjualbelikan. Transaksi dan


pergerakan harganya pun tercatat di papan Bursa Efek Jakarta (BEJ). Untuk
membedakan dengan saham induknya, biasanya waran menggunakan
simbol induknya plus tanda -W di belakangnya. Misalnya, kalau simbol
saham PT Central Korporindo Internasional Tbk adalah CNKO, simbol
warannya adalah CNKO-W.
Tapi, berbeda dengan saham, waran lebih disukai oleh investor yang gemar
berspekulasi . Soalnya, waran ini bisa memberikan keuntungan yang lebih
tinggi ketimbang saham. Sudah begitu, modal yang diperlukan untuk
bermain saham juga tidak sebesar modal untuk bermain saham.

Biar lebih jelas, mari kita bikin sebuah ilustrasi. Ambil contoh saham
perusahaan XYZ harganya adalah Rp 1.500. Artinya, untuk membeli 1.000
saham itu, Anda membutuhkan duit Rp 1,5 juta. Tapi, jika investor memilih
untuk membeli waran XYZ - yang misalnya harganya Rp 200 per waran -
dengan duit Rp 1,5 juta, ia sudah memperoleh 7.500 waran.
Nah, uniknya, pergerakan harga waran biasanya persis mengikuti
pergerakan harga saham induknya. Jadi, pada saat harga saham XYZ naik Rp
100 menjadi Rp 1.600, harga waran itu juga naik menjadi Rp 300. Dengan
skenario seperti ini, tentu saja potensi keuntungan waran menjadi jauh lebih
tinggi dibandingkan dengan saham. Buat waran XYZ, kenaikan Rp 100 itu
setara dengan 50%. Sementara, untuk sahamnya kenaikan segitu hanya
setara dengan 6,6%.
Rasio harga saham dibagi harga warannya sering disebut sebagi faktor
pendongkrak. Dalam contoh tadi, besar faktor pendongkraknya adalah 7,5.
Semakin tinggi faktor ini semakin potensi keuntungannya. Keuntungan
waran itu akan semakin tinggi jika pasar saham sedang bergairah.

Tapi hati-hati, dalam kondisi sebaliknya, faktor pendongkrak keuntungan itu


juga bisa menjadi faktor penambah kerugian. Jadi, risiko waran ini selangit.

Waran

Waran adalah hak untuk membeli sebuah saham pada harga yang telah
ditetapkan pada waktu yang telah ditetapkan pula. Waran biasanya melekat
sebagai daya tarik (swetener) pada penawaran umum saham perdana (IPO)
ataupun obligasi. Biasanya harga pelaksanaan lebih rendah dari pada harga
pasar saham. Setelah saham ataupun obligasi tersebut tercatat di bursa,
waran dapat diperdagangkan secara terpisah. Periode perdagangan waran
sekitar 3 - 5 tahun. Waran merupakan suatu pilihan (option), di mana pemilik
waran mepunyai pilihan untuk menukarkan atau tidak warannya pada saat
jatuh tempo. Pemilik waran dapat menukarkan waran yang dimilikinya 6
bulan setelah waran tersebut diterbitkan oleh emiten. Harga waran itu
sendiri berfluktuasi selama periode perdagangan di pasar sekunder.

Karakteristik
Yang menjadi keistimewaan waran ini antara lain, bahwa pemilik waran
memiliki hak untuk membeli saham baru perusahaan dengan harga yang
lebih rendah dari harga saham tersebut di Pasar Sekunder dengan cara
menukarkan waran yang dimilikinya ketika harga saham perusahaan
tersebut melebihi harga pelaksanaan. Misalnya seorang investor membeli
waran pada harga Rp200 per lembar dengan harga pelaksanaan Rp1.500.
Kalau pada saat tanggal pelaksanaan (penukaran waran menjadi saham),
harga saham perusahaan meningkat menjadi Rp1.800 per saham, maka
investor dapat dikatakan hanya membeli saham perusahaan tersebut
dengan harga hanya Rp1.700 (Rp1.500 + Rp200). Jelas hal itu sangat
menguntungkan membeli saham secara langsung di pasar sekunder yang
harganya Rp1.800 per saham.

Karena sifatnya yang bisa diperdagangkan itu waran ini juga memberikan
keuntungan berupa capital gain. Karakteristik yang demikian itu sekaligus
juga menjadi faktor yang merugikan bagi investor apabila harga waran jatuh
dari harga belinya. Begitu pula apabila harga saham pada periode
pelaksanaan jatuh dan menjadi lebih rendah dari harga pelaksanaan, maka
investor akan mengalami kerugian atas harga beli Waran. Misalnya investor
membeli waran seharga Rp200 dengan harga pelaksanaan Rp1.500.
Kemudian pada periode pelaksanaan, harga saham turun menjadi Rp1.200
per saham. Investor tersebut tentunya tidak akan menukarkan Waran yang
dimilikinya, karena jika ia melakukannya, maka ia harus membayar Rp1.700
(Rp1.500 harga pelaksanaan + Rp200 harga waran). Oleh karena itu investor
akan mengalami kerugian sebesar harga pembelian waran Rp200.

Mencicipi Manisnya Waran


Irna Gustia - detikFinance

Perdagangan Waran Dilakukan di Bursa (dro)


Jakarta - Selain saham, obligasi, reksa dana masih ada produk pasar modal
sejenis waran. Bagi investor saham, istilah waran tentu sudah tidak asing
lagi. Sebenarnya apa itu waran?

Mengacu pada definisi di Bursa Efek Indonesia (BEI), waran adalah hak untuk
membeli saham atau obligasi dari satu perusahaan dengan harga yang telah
ditentukan sebelumnya oleh penerbit waran atau emiten.

Waran merupakan efek yang diterbitkan oleh suatu perusahaan terbuka


yang memberi hak kepada pemegang efek baik saham maupun lainnya,
untuk memesan saham dari perusahaan tersebut pada harga tertentu untuk
jangka 6 bulan atau lebih.
Misal ketika perusahaan akan go public, emiten tersebut selain menjual
saham baru juga menerbitkan waran. Biasanya fasilitas waran ini melekat
pada saham yang bersangkutan. Dengan kata lain, investor mendapat bonus
dari pembelian saham tersebut berupa waran.

Seperti PT Kertas Basuki Rachmat Indonesia Tbk selain menjual sahamnya ke


publik melalui IPO sebanyak 1,360 miliar saham seri B, perseroan juga
melepas waran sebanyak 1,088 miliar waran seri I yang menyertai
penerbitan saham seri B.

Waran seri I diberikan secara cuma-cuma yaitu setiap pemegang 5 saham


baru akan mendapat 4 waran, dimana setiap 1 waran memberikan hak untuk
membeli saham baru. Waran yang diterbitkan mempunyai jangka waktu 3
tahun.

Harga waran ini mengikuti harga sahamnya, dimana biasanya harga saham
dapat berubah-ubah setelah penawaran umum perdana.

Ketika harga saham tersebut naik menjadi lebih tinggi, maka pemilik waran
akan mendapat keuntungan karena dapat membeli saham tersebut dengan
harga awal.

Sebaliknya jika harga pasar turun menjadi lebih rendah dari harga awal,
pemilik waran akan mengalami kerugian sesuai harga waran, karena waran
tersebut tidak dapat digunakan untuk membeli saham dengan harga yang
lebih rendah dari harga pasar.

Seperti saham, waran juga diperdagangkan di bursa, sehingga pemilik waran


dapat ikut mendapat keuntungan (capital gain) jika bisa menjual waran
tersebut lebih tinggi dari harga beli.

Ketika waran yang dimiliki investor memiliki hak untuk membeli saham di
harga Rp 1.000 maka si pemegang tetap mendapat harga beli sebesar itu
meski harga sahamnya telah tinggi.

Tidak seperti saham yang usia perdagangannya di bursa tanpa batas, maka
waran memiliki periode waktu perdagangan dan biasanya rata-rata memakai
jangka waktu 3 tahun.

Dalam perdagangan di bursa kode waran menggunakan W, misalkan waran


PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk yang kode sahamnya PTBA maka kode
warannya PTBA-W.

Kebanyakan investor bisa mencicipi manisnya waran, karena bonus yang


diberikan itu biasanya dilepas setelah harganya tinggi.
Waran pada ASX adalah opsi atas perusahaan-perusahaan yang diterbitkan
oleh pihak ketiga yang biasanya adalah bank investasi atau pialang besar.
Penerbit memutuskan tenggang waktu penerbitan berdasarkan
pertimbangan atas apa yang menjadi keinginan pasar sehingga tertarik
untuk membeli. Pada saat pelaksanaan maka sipemegang waran
bertransaksi langsung kepada penerbit tanpa melalui lembaga kliring. Waran
ini dapat menjadi suatu sarana baik sebagai sarana perdagangan seperti
opsi atau sebagai sarana investasi jangka panjang.

* Perdagangan waran: Jual atau beli dengan berbagai cara, jatuh tempo
dan besaran kontrak.

* Waran knockout : seperti perdagangan waran tetapi dimulai dengan


harga mendekati pasar (in-the-money) dan di batalkan (knocked-out) apabila
harga sahamnya menyetuh harga yang ditetapkan (strike).

* Waran angsuran : atau Installment warrant Opsi beli dengan


pembayaran akhir tambahan yang harus dilakukan pada saat pelaksanaan.
Pembayaran akhir adalah merupakan pinjaman yang diberikan oleh penerbit.
Pemegang waran menerima deviden dan memiliki hak suara berdasarkan
saham yang menjadi aset acuan.

* Waran sumbangan: atau endowment warrant , adalah opsi beli dengan


jatuh tempo yang panjang dan memiliki harga pelaksanaan yang bervariasi.
Harga pelaksanaan mencerminkan jumlah yang harus dibayar, yang
berkurang dengan adanya pembayaran deviden dan bertambah sesuai
dengan suku bunga berjalan. de dasarnya adalah pemegang waran
membayar dimuka katakanlah setengah dari harga saham (sebagai premi)
dan sisanya dibayar dengan deviden misalnya 10 tahun. Apabila deviden
tersebut dapat melunasi sisa harga lebih awal maka sipemegang menerima
harga saham secara penuh pada saat itu juga.

* Perth mint gold: Waran beli atas harga pelaksanaan yang rendah
terhadap harga spot dari emas yang diterbitkan oleh Perth Mint. Cara
kerjanya mirip suatu posisi "long" tanpa daya ungkit atas emas.
Waran diperdagangkan pada sistim SEATS sama seperti pada perdagangan
saham. Penerbit menciptakan pasar atas waran mereka dengan cara
menyediakan sekurangnya penawaran selama masa berlakunya waran.