Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH TUBERKULOSIS PARU

Oleh: Eurika Winata 010610155

Laboratorium/SMF Ilmu Penyakit Paru FK Unair RSUD Dr. Soetomo Surabaya 2010

Di Indonesia, TB merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. Jumlah

pasien TB di

Indonesia merupakan ke-3 terbanyak di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah pasien sekitar 10% dari total jumlah pasien TB didunia. Diperkirakan pada tahun 2004, setiap tahun ada 539.000 kasus baru dan kematian 101.000 orang. Insidensi kasus TB BTA positif sekitar 110 per 100.000 penduduk.

Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia yang paling produktif secara ekonomis (15-50 tahun). Diperkirakan seorang pasien TB dewasa, akan kehilangan rata-rata waktu kerjanya 3 sampai 4 bulan. Hal tersebut berakibat pada kehilangan pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar 20-30%. Jika ia meninggal akibat TB, maka akan kehilangan pendapatannya sekitar 15 tahun. Selain merugikan secara ekonomis, TB juga memberikan dampak buruk lainnya secara sosial stigma bahkan dikucilkan oleh masyarakat.

Penyebab utama meningkatnya beban masalah TB antara lain adalah: Kemiskinan pada berbagai kelompok masyarakat, seperti pada negara negara yang sedang berkembang. Kegagalan program TB selama ini. Hal ini diakibatkan oleh: o Tidak memadainya komitmen politik dan pendanaan o Tidak memadainya organisasi pelayanan TB (kurang terakses oleh masyarakat, penemuan kasus /diagnosis yang tidak standar, obat tidak terjamin penyediaannya, tidak dilakukan pemantauan, pencatatan dan pelaporan yang standar, dan sebagainya). o Tidak memadainya tatalaksana kasus (diagnosis dan paduan obat yang tidak standar, gagal menyembuhkan kasus yang telah didiagnosis) o Salah persepsi terhadap manfaat dan efektifitas BCG. o Infrastruktur kesehatan yang buruk pada negara-negara yang mengalami krisis ekonomi atau pergolakan masyarakat. Perubahan demografik karena meningkatnya penduduk dunia dan perubahan struktur umur kependudukan. Dampak pandemi HIV.

1. Tuberkulosis dan Kejadiannya

Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya. Cara penularan o Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif. o Pada waktu batuk atau bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei). Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak. o Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan, sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman. Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan lembab. o Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tersebut. o Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB ditentukan oleh konsentrasi tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan dahak, makin menular pasien

percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut. Risiko penularan o Risiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan dahak. Pasien TB paru dengan BTA positif memberikan kemungkinan risiko penularan lebih besar dari pasien TB paru dengan BTA negatif. o Risiko penularan setiap tahunnya di tunjukkan dengan Annual Risk of Tuberculosis Infection (ARTI) yaitu proporsi penduduk yang berisiko terinfeksi TB selama satu tahun. ARTI sebesar 1%, berarti 10 (sepuluh) orang diantara 1000 penduduk terinfeksi setiap tahun. o ARTI di Indonesia bervariasi antara 1-3%. o Infeksi TB dibuktikan dengan perubahan reaksi tuberkulin negatif menjadi positif. Risiko menjadi sakit TB o Hanya sekitar 10% yang terinfeksi TB akan menjadi sakit TB. o Dengan ARTI 1%, diperkirakan diantara 100.000 penduduk rata-rata terjadi 1000 terinfeksi TB dan 10% diantaranya (100 orang) akan menjadi sakit TB setiap tahun. Sekitar 50 diantaranya adalah pasien TB BTA positif.

o Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi pasien TB adalah daya tahan tubuh yang rendah, diantaranya infeksi HIV/AIDS dan malnutrisi (gizi buruk). o HIV merupakan faktor risiko yang paling kuat bagi yang terinfeksi TB menjadi sakit TB. Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh seluler (cellular immunity), sehingga jika terjadi infeksi penyerta (oportunistic), seperti tuberkulosis, maka yang

bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan bisa mengakibatkan kematian. Bila jumlah orang terinfeksi HIV meningkat, maka jumlah pasien TB akan meningkat, dengan demikian penularan TB di masyarakat akan meningkat pula.

2. Patogenesis Infeksi primer

Infeksi primer tejadi saat seseorang terpapar pertama kali dengan kuman TBC. Droplet yang terhirup sangat kecil ukurannya, sehingga dapat melewati system pertahanan mukosilier bronkus dan terus berjalan sehingga sampai alveolus dan menetap disana. Infeksi dimulai saat kuman TBC berhasil berkembang biak dngan cara pembelahan diri di paru, yang mengakibatkan peradangan di dalam paru. Saluran limfe akan membawa kuman TBC ke kelenjar limfe di sekitar hilus paru dan ini disebut sebagai kompleks primer. Waktu antara terjadinya infeksi sampai pembentukan kompleks primer adalah sekitar 4-6 minggu. Adanya infeksi dapat dibuktikan dengan terjadinya perubahan reaksi tuberkulin dari negatif menjadi positif. Masa inkubasi, yaitu waktu yang diperlukan mulai terinfeksi sampai menjadi sakit, diperkirakan sekitar 6 bulan. Tuberkulosis pasca primer (post primary TBC)

Tuberkulosis pasca primer biasanya terjadi setelah beberapa bulan atau tahun sesudah infeksi primer, misalnya karena daya tahan tubuh menurun akibat terinfeksi HIV atau status gizi yang buruk. Ciri khas dari tuberkulosis pasca primer adalah kerusakan paru yang luas dengan trjadinya kavitas atau efusi pleura.

3. Diagnosis Tuberkulosis Paru Diagnosis tuberkulosis dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinik, pemeriksaan klinik, radiologik dan pemeriksaan laboratorium. Gejala:

Gejala klinik TB paru dibagi menjadi 2 golongan, yaitu gejala respiratorik dan gejala sistemik. A. Gejala Respiratorik: batuk 3 minggu, berdahak, batuk darah, sesak nafas, nyeri dada B. Gejala Sistemik: demam, malaise, keringat malam, anoreksia, berat badan menurun Penderita dengan gejala tersebut dianggap sebagai curiga TB dan harus diperiksakan dahaknya. Pemeriksaan sputum melalui 3 kali pengambilan yaitu: sewaktu, pagi, sewaktu dan pemeriksaan kuman BTA dilakukan dengan pengecatan Ziehl-Nielsen. Pemeriksaan fisik Pada pemeriksaan fisik, kelainan yang akan dijumpai sangat tergantung luas dan kelainan struktural paru. Pada permulaan perkembangan penyakit umumnya tidak atau sulit sekali menemukan kelainan. Kelainan paru pada umumnya terletak di daerah lobus superior terutama daerah apex dan segmen posterior, serta daerah apex lobus inferior. Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan antara lain suara napas bronchial, amforik, suara napas melemah, ronki basah, tandatanda penarikan paru, diafragma dan mediastinum. Foto Toraks Pemeriksaan standar ialah foto toraks PA dengan atau tanpa foto lateral. Pada pemeriksaan foto toraks tuberkulosis, dapat memberi bermacam-macam bentuk (muniform). Gambaran radiologik yang dicurigai sebagai lesi TB aktif bayangan berawan/ nodular di semen apical dan posterior lobus atas paru dan segmen superior lobus bawah kavitas, terutama lebih dari satu, dikelilingi oleh bayangan opak berawan atau nodular bayangan bercak milier efusi pleura unilateral

Gambaran radiologik yang dicurigai lesi TB inaktif fibrotik pada segmen apikal dan atau posterior lobus atas klasifikasi atau fibrotik kompleks ranke fibrotoraks dan atau penebalan pleura (schwarte)

Destroyed Lung:

sulit untuk menilai aktivitas lesi atau penyakit hanya berdasarkan gambaran radiologik yang menunjukkan kerusakan jaringan paru yang berat biasanya secara klinis disebut destroyed lung

perlu dilakukan pemeriksaan bakteriologik untuk memastikan aktivitas proses penyakit

Luas proses yang tampak pada foto toraks dapat dinyatakan seperti berikut: Lesi minimal Bila proses mengenai sebahagian dari satu atau dua paru, dengan luas tidak lebih dari volume paru yang terletak di atas chondrosternal junction dari tiga kedua dan prosesus spinosus dari vertebra torakalis IV atau korpus vertebra torakalis V (sela iga II) dan tidak dijumpai kavitas. Lesi luas Bila pross lebih luas dari lesi minimal Pemeriksaan laboratorium A. Pemeriksaan bakteriologik Pemeriksaan baktriologik untuk menemukan kuman tuberkulosis mempunyai arti yang sangat penting dalam menegakkan diagnosis. Bahan untuk pemeriksaan bakteriologik ini dapat berasal dari sputum, bilasan bronkus, jaringan paru, cairan pleura dll. Macam-macam pemeriksaan bakteriologik adalah: a. Pemeriksaan: mikroskopik biasa tahan asam) pewarnaan Kinyoun Gabbet mikroskopik fluoresens : pewarnaan auramin-rhodamin : pewarnaan Ziehl-Nielsen (BTA: batang

Cara pengambilan sputum 3x: setiap pagi 3x berturut-turut atau dengan cara: 1. Spot (sputum sewaktu saat kunjungan) 2. Sputum pagi (keesokan harinya) 3. Spot (pada saat mengantarkan sputum pagi) Interpretasi hasil pemeriksaan mikroskopik: dengan bronkhorst 2x positif Mikroskopik + 1x positif, 2x negative ulang BTA 3x, bila 1x positif mikroskopik + bila 3x negatif mikroskopik

b. Pemeriksaan biakan kuman metode konvensional Egg base media (Lowenstein-Jensen, Ogawa, Kudoh) Agar base media: Middle brook

metode radiometrik (BACTEC) c. Pemeriksaan lain-lain: Pemeriksaan serologi, dengan berbagai metoda antara lain: ELISA (Enzym Linked Immunosorbent Assay) Mycodot Uji proksidase anti peroksidase (PAP) Dot- EIA TB

B. Pemeriksaan darah Hasil pemeriksaan darah kurang menunjukkan indikator yang spesifik untuk tuberkulosis. Laju endap darah (LED) jam pertama dan kedua sangat dibutuhkan. Data ini sangat penting sebagai indikator tingkat kestabilan keadaan nilai keseimbangan biologik penderita, sehingga dapat digunakan untuk salah satu respon terhadap pengobatan penderita serta kemungkinan sebagai predeteksi tingkat penyembuhan penderita. Demikian pula kadar limfosit bisa mengambarkan biologik/ daya tahan tubuh penderita yaitu dalam keadaan supresi atau tidak. LED sering meningkat pada proses aktif, tetapi laju endap darah yang normal tidak menyingkirkan tuberkulosis. Limfosit pun kurang spesifik. C. Pemeriksaan histopatologi jaringan Bahan histologi jaringan dapat diperoleh melalui biopsi dengan TBLB (Trans Bronkial Lung Biopsi), TTB (Transtorakal biopsy), biopsy paru terbuka, biopsy pleura, biopsy kelenjar dan biopsy organ lain diluar paru. Dapat pula dilakukan aspirasi dengan jarum halus. Diagnosis pasti infeksi TB didapatkan bila pemeriksaan histopatologi pada jaringan paru atau jaringan diluar paru memberikan hasil berupa granuloma dengan perkejuan. D. Uji Tuberkulin Pemeriksaan ini sangat berarti dalam usaha mendeteksi infeksi TB di daerah dengan prevalensi tuberkulosis rendah. Di Indonesia dengan prevalensi tuberkulosis yang tinggi, pemeriksaan uji tuberkulin sebagai alat bantu diagnostik kurang berarti apalagi pada orang dewasa. Uji ini akan mempunyai makna bila didapatkan konversi dari uji yang dilakukan

sebelumnya atau bila kepositifan dari uji didapat besar sekali. Sebenarnya secara tidak langsung, reaksi yang ditimbulkan hanya menunjukkan gambaran reaksi tubuh yang analog dengan: a) reaksi peradangan dari lesi yang berada pada target organ yang terkena infeksi atau b) pada status respon individu yang tersedia bila menghadapi agent dari baksil tahan asam yang bersangkutan (M. Tuberkulosis).

Alur Diagnosis Penderita Tuberkulosis

Tersangka Pdrt TBC ( supek TBC ) Periksa dahak Sewaktu Pagi Sewaktu

Hasil BTA +++ ++-

Hasil BTA +--

Hasil BTA ---

Periksa Rontgen dada Hasil mendukun g TBC Hasil tidak mendukun g TBC

Beri AB Spektrum luas

Tidak ada perbaikan

Ada perbaikan

Ulangi Periksa Dahak SPS PENDERITA TBC BTA POSITIF Hasil BTA +++ +++-Periksa Rontgen Dada Hasil Mendukung TBC Hasil Rontgen negatif Hasil BTA ---

TBC BTA NEG RONTGEN POSITIF

BUKAN TBC PENYAKIT LAIN

4. Diagnosis Banding - Pneumonia - Abses paru

- Kanker paru - Aspirasi pneumonia

5. Klasifikasi TB Paru Kalsifikasi berdasarkan gejala klinik, radiologik, bakteriologik dan riwayat pengobatan sebelumnya. Klasifikasi tersebut digunakan untuk menetapkan strategi pengobatan dan penanganan pemberantasan penyakit TB. TB Paru BTA positif yaitu: - dengan atau tanpa gejala - BTA positif: Mikroskopik ++ Mikroskopik +, biakan + Mikroskopik +, radiologik + - Gambaran radiologik sesuai dengan TB paru TB Paru BTA negatif - Gejala klinik dan gambaran radiologik sesuai dengan TB paru aktif - Bakteriologik (sputum BTA): negatif - Mikroskopik -, biakan -, klinik dan radiologik + Bekas TB Paru - Baktriologik (mikroskopik dan biakan) negatif - Gejala klinik tidak ada atau ada gejala sisa akibat kelainan paru yang ditinggalkan - Radiologik menunjukkan gambaran lesi TB inaktif, terlebih menunjukkan gambaran serial foto toraks yang sama/ tidak berubah. - Riwayat pengobatan OAT yang adekuat akan lebih mendukung

6. Pengobatan Tuberkulosis - Pada pengobatan tuberkulosis, pengobatan terbagi menjadi 2 fase yaitu intensif (2-3 bulan) dan fase lanjutan 4 atau 7 bulan. Paduan obat yang digunakan terdiri dari paduan obat utama dan tambahan. - Paduan obat yang dipakai: Jenis obat yang digunakan adalah: Keterangan singkatan nama obat dan angka: (2)

Rifampisin = R INH = S Pirazinamid = Z Streptomisin = S Ethambutol = E Angka di depan huruf singkatan obat menunjukkan lama pemberian obat dalam bulan Angka di belakang huruf singkatan obat menunjukkan pengobatan intermiten. 2 = berarti dalam satu minggu mendapat 2x pemberian obat. Jenis obat tambahan lainnya: Kanamisin Kuinolon Obat lain masih dalam penelitian: makrolide, amoksilin + asam klavulanat Derivat rifampisin dan INH

Tabel 1: Ringkasan Paduan Obat Kategori (program) I - TB paru BTA +, kasus baru - TB paru BTA -, Lesi luas/ kasus berat - TB diluar paru yang berat II - Kambuh - Gagal pengobatan (treatment after failure) - TB paru pengobatan ulang (treatment after default) III -TB Paru BTA(-) -TB Ekstra paru yang ringan IV MDR TB dan Kronik Memiliki regimentasi dosis khusus 2 HRZE 4 HR atau 6HE 2HRZES/1HR ZE 5 HRE 2 HRZE 4 HR atau 6HE Kasus Fase inisial Fase lanjutan

Indikasi Operasi 1. Indikasi mutlak a) Semua penderita yang telah mendapat OAT adekuat tetapi sputum tetap positif

b) Penderita batuk darah yang masif tidak dapat diatasi dengan cara koservatif c) Penderita dengan fistula bronkopleura dan empiema yang tidak dapat diatasi secara konservatif 2. Indikasi relatif a) Penderita dengan sputum negatif dengan batuk berulang b) Kerusakan satu paru atau lobus dengan keluhan c) Sisa kavitas tetap Tindakan Invasif (Selain Pembedahan) - Bronkoskopi -Punksi Pleura

7. Pengobatan Tuberkulosis pada Keadaan Khusus

Wanita hamil
Pada prinsipnya pengobatan TBC pada wanita hamil tidak berbeda dengan pengobatan TBC pada umumnya. Semua jenis OAT aman untuk wanita hamil, kecuaii streptomisin. Streptomisin tidak dapat dipakai pada wanita hamil karena bersifat permanent ototoxic dan dapat menembus barier placenta, Keadaan ini akan mengakibatkan terjadinya gangguan pendengaran dan keseimbangan yang menetap pada bayi yang akan dilahirkannya. Perlu dijelaskan kepada ibu hamil bahwa keberhasilan pengobatannya sangat penting artinya supaya proses kelahiran dapat berjalan lancar dan bayi yang akan dilahirkannya terhindar dari kemungkinan penularan TBC.

Ibu menyusui dan bayinya


Pada prinsipnya pengobatan TBC pada ibu menyusui tidak berbeda dengan . pengobatan pada umumnya. Semua jenis OAT aman untuk ibu menyusui. Seorang ibu menyusui yang menderita TBC harus mendapat paduan OAT secara adekuat. Pemberian OAT yang tepat merupakan cara terbaik untuk mencegah penularan kuman TBC kepada bayinya. Ibu dan bayi tidak perlu dipisahkan dan bayi tersebut dapat terus menyusu. Pengobatan pencegahan dengan INH diberikan kepada bayi tersebut sesuai dengan berat badannya.

Wanita penderita TBC pengguna kontrasepsi.


Rifampisin berinteraksi dengan kontrasepsi hormonal (pil KB, suntikan KB, susuk KB), sehingga dapat menurunkan efektifitas kontrasepsi tersebut. Seorang wanita penderita TBC seyogyanya mengggunakan kontrasepsi non hormonal, atau kontrasepsi yang mengandung estrogen dosis tinggi (50 mcg).

Penderita TBC dengan infeksi HIV/AIDS


Prosedur pengobatan TBC pada penderita dengan infeksi HIV/AIDS adaiah sama seperti penderita TBC lainnya. ObatTBC pada penderita HIV/AIDS sama efektifnya

Penderita TBC dengan hepatitis akut


Pemberian OAT pada penderita TBC dengan hepatitis akut dan atau klinis ikterik, ditunda sampai hepatitis akutnya mengalami penyembuhan. Pada keadaan dimana pengobatan TBC sangat diperlukan dapat diberikan streptomisin (S) dan Etambutol (E) maksimal 3 bulan sampai hepatitisnya menyembuh dan dilanjutkan dengan Rifampisin (R) dari Isoniasid (H) selama 6 bulan.

Penderita TBC dengan kelainan hati kronik


Bila ada kecurigaan gangguan fungsi hati, dianjurkan pemeriksaan faal hati sebelum pengobatan TBC. Kalau SGOT dan SGPT meningkat lebih dari 3 kali OAT harus dihentikan. Kalau peningkatannya kurang dari 3 kali pengobatan dapat diteruskan dengan pengawasan ketat. Penderita dengan kelainan hati, Pirazinamid (Z) tidakboleh digunakan. Pada obat yang dapat dianjurkan adalah 2RHES/6RH atau 2HE.S/10HE.

Penderita TBC dengan gangguan ginjal


Isoniasid (H), Rifampisin (R) dan Pirasinamid (Z) dapat di ekskresi melalui empedu dan dapat dicerna menjadi senyawa-senyawa yang tidak toksik. OAT jenis ini dapat diberikan dengan dosis normal pada Penderita-penderita dengan gangguan ginjal. Straptomisin dan Etambutol diekskresi melalui ginjal, oleh karena itu hindari penggunaannya pada penderita dengan gangguan ginjal. Paduan OAT yang paling aman untuk penderita dengan gangguan ginjal adalah 2RHZ/6HR. Apabila sangat diperlukan, Etambutol dan Streptomisin tetap dapat diberikan dosis yang sesuai faal

ginjal dengan pengawasan funssi ginjal.

Penderita TBC dengan Diabetes Melitus


Diabetesnya harus dikontrol. Perlu diperhatikin bahwa penggunaan Rifampisin akan mengurangi efektifitas obat oral anti diabetes (sulfonil urea) sehingga dosisnya perlu ditingkatkan. Hati-hati dengan penggunaan etambutol, karena mempunyai komplikasi terhadap mata.

Penderita-penderita TBC yang perlu mendapat tambahan kortikosteroid


Kortikosteroid digunakan pada keadaan khusus yang membahayakan jiwa penderita seperti : Meningitis TBC milier dengan atau tanpa gejala-gejala meningitis . TBC Pleuritis eksudativa TBC Perikarditis konstriktiva. Prednison diberikan dengan dosis 30-40 mg per hari, kemudian diturunkan secara bertahap 5-10 mg . Lama pemberian disesuaikan dengan jenis penyakit dan kemajuan pengobatan.

8. MDR-TB MDR TB adalah penderita TB aktif yang memiliki resistensi sekurang-kurangnya terhadap INH dan Rifampicin dengan atau tanpa OAT lini pertama lainnya. Secara umum resistensi terhadap obat tuberculosis dibagi menjadi: Resistensi primer: apabila pasien sebelumnya tidak pernah mendapat pengobatan TB Resistensi inisial: apabila kita tidak tahu pasti apakah pasiennya sudah pernah ada riwayat pengobatan sebelumnya atau tidak Resistensi sekunder: apabila pasien telah punya riwayat pengobatan sebelumnya

Klasifikasi OAT yang dipergunakan dalam pengobatan MDR TB dibagi menjadi 5 kelompok: Grup pertama : semua obat oral lini pertama Grup kedua : obat injeksi yang bersifat bakterisidal (Kanamycin atau Amikacin, bila alergi dapat digunakan Kapreomicin dan Viomicin)

Grup ketiga

: Fluorokuinolon

Grup keempat : obat bakteriostatik lini kedua (PAS, ethionamid, dan sikloserin) Grup kelima : belum jelas efikasinya, Amoxisilin+asam klavulanat dan makrolide (Klaritromycin)

9. Komplikasi - Batuk darah - Pneumotoraks - Empiema - Bronkiektasis

10. Kriteria sembuh - BTA mikroskopik negative 3 bulan berturut-turut sebelum akhir pengobatan yang adekuat - Bila ada fasilitas biakan, maka kriteria ditambah biakan (-) Evaluasi Penderita yang telah sembuh Penderita TB yang telah dinyatakan sembuh tetap dievaluasi minimal 2 tahun setelah sembuh untuk mengetahui adanya kekambuhan. Yang dievaluasi adalah sputum BTA mikroskopik dan foto toraks. Sputum BTA mikroskopik 3,6,12 dan 24 bulan setelah dinyatakan sembuh. Evaluasi foto toraks 6, 12, 24 bulan setelah dinyatakan sembuh.

11. Prognosis Tergantung dari luasnya proses, saat mulainya pengobatan, patuh dan tidaknya penderita mengikuti aturan pemakaian obat dan cara-cara pengobatan yang digunakan. Tanpa pengobatan, setelah 5 tahun, 50% dari penderita TBC akan meninggal, 25% akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh tinggi, dan 25% sebagai kasus kronik yang tetap menular (WHO, 1996). 12. DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse) (1)

Pada pengobatan TB keteraturan berobat merupakan hal yang penting terutama untuk menghindari adanya resistensi terhadap OAT, salah satu cara mengatasi adalah dengan DOTS. Salah satu bagian dari DOTS tersebut adalah DOT (Directly Observed Treatment). Istilah ini diartikan sebagai pengawasan langsung menelan obat jangka pendek ditetapkan hari oleh Pengawas Menelan Obat (PMO). Tujuannya: Untuk mencapai angka kesembuhan yang tinggi, mencegah putus berobat, mengatasi efek samping obat jika timbul dan mencegah resistensi. Penderita berobat jalan: Pengawasan dilakukan: 1. Langsung di depan dokter 2. Petugas kesehatan 3. Orang lain 4. Suami/ istri/ keluarga/ orang serumah Penderita dirawat: Jika dirawat di RS yang bertindak sebagai PMO adalah petugas RS. Selesai perawatan untuk pengobatan lanjutan, lihat cara berobat jalan diatas.

DAFTAR PUSTAKA

Buku Ajar Ilmu Penyakit Paru 2010. Departemen Ilmu Penyakit Paru FK Unair-RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Edisi 2. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2007. Tuberkulosis Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. 2006.