Anda di halaman 1dari 12

MAKASSAR, - Pemerintah Kota Rotterdam, Belanda, menawarkan bantuan untuk pemulihan kawasan Benteng Rotterdam, Makassar, Sulawesi Selatan

(Sulsel). Penawaran langsung dari Wali Kota Rotterdam tersebut merupakan hasil kunjungan Wakil Gubernur Sulsel Agus Arifin Nu'mang pada Januari lalu ke Belanda, kata Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Selatan A Muallim di Makassar, Rabu (3/2). Ia mengatakan, Wali Kota Rotterdam meminta proposal rinci terkait dengan pemulihan kawasan bersejarah tersebut. "Proposalnya akan kami berikan namun saya ingatkan andalan untuk pemulihan kawasan benteng tersebut tetap APBN dan APBD, bantuan yang ditawarkan Pemerintah Kota Rotterdam dan lainnya merupakan suplemen saja," jelasnya. Sebagai langkah awal keseriusan pemerintah provinsi untuk memulihkan kawasan tersebut adalah dengan membongkar kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulsel serta mengatur kembali tata letak kantor stasiun Radio Republik Indonesia (RRI) dan Kantor Pos Indonesia, Makassar. Fort Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang (Jum Pandang) adalah benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo. Dibangun pada 1545 oleh Raja Gowa ke-9 yang bernama I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa'risi' kallonna. Setelah Perjanjian Bungayya, Kerajaan Gowa-Tallo akhirnya menyerahkan benteng ini kepada Belanda. Nama Benteng Ujung Pandang kemudian diubah menjadi Fort Rotterdam. Cornelis Speelman sengaja memilih nama Fort Rotterdam untuk mengenang daerah kelahirannya di Belanda dan kemudian dijadikan pusat penampungan rempah-rempah di Indonesia bagian timur. Realisasi lain dari kunjungan Wakil Gubernur ke Belanda adalah permintaan dari Duta Besar RI untuk Indonesia di Belanda Effendi Habibie agar Sulsel berpartisipasi dalam penyelanggaraan Pameran Malam Indonesia di Den Haag, Belanda yang akan diselenggarakan pada 1 - 5 April. "Sulsel siap memenuhi permintaan tersebut dan telah dikoordinasikan persiapannya oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulsel dan akan menyeleksi para penari yang akan diberangkatkan ke sana melalui audisi di setiap kabupaten," ujarnya. Menurut dia, kedatangan Dubes RI untuk Belanda di Makassar, 16 April mendatang bersama Wali Kota Rotterdam sekaligus menghadiri peluncuran buku Putra Labukkang milik Effendi Habibie yang juga merupakan putra Sulsel.

erkunjung ke Museum La Galigo, ibarat mempelajari rangkaian sejarah dengan cepat dan jelas.

TAK banyak museum yang bisa menceritakan sejarah Sulseldi masa lalu. Salah satunya, Museum La Galigo yang terletak dalam kawasan Fort Rotterdam di Jalan Ujungpandang. Museum ini terbagi menjadi dua lokasi. Satu di sisi utara benteng dan satu lagi di sisi selatan benteng. Namun karena adanya revitalisasi yang sedang berlangsung, maka bangunan museum di bagian selatan ditutup untuk sementara waktu. Selain bangunannya yang merupakan bagian dari sejarah tersebut, benda-benda peninggalan masa lalu pun patut untuk diketahui. Pengunjung cukup membayar biaya masuk Rp2000 untuk anak-anak dan Rp3000 khusus dewasa di loket yang berada di depan pintu masuk museum. Pengunjung bisa berkeliling sendiri, sebab setiap benda sudah dilengkapi katalog yang menceritakan benda sesuai namanya. Atau pengunjung bisa meminta bantuan pemandu wisata museum untuk mengetahui lebih jauh lagi mengenai benda-benda dalam museum tersebut yang usianya mencapai ratusan tahun. Ada banyak ruangan yang terdapat dalam Museum La Galigo di bagian utara ini. Pertama, kita memasuki ruang Arkeolog. Sesuai namanya beberapa relief batu dan kayu ada disini. Seperti bentuk nisan batu raja pada zaman dahulu, penyaring air dari batu, hingga penutup mayat dari kayu yang memiliki panjang sekira dua meter. Ruang berikutnya, berisi puluhan mata uang logam maupun kertas pada zaman penjajahan hingga sekarang. Di ruang mata uang ini, uang-uang yang ada sangat langka. Menjaganya pun harus ekstra hati-hati, sebab peninggalan sejarah harus dilestarikan, jelas pemandu wisata Museum La Galigo, M Nasir, Jumat, 12 November. Beranjak ke bangunan atas di lantai dua, pengunjung dapat menemukan berbagai benda-benda yang dipakai di tiga kerajaan besar di Sulsel. Yakni Kerajaan Gowa, Kerajaan Bone, dan Kerajaan Luwu. Ada tempat tidur raja, peralatan makan, kursi tamu, foto Raja Bone hingga replika mahkota Raja Gowa. Mahkota yang asli masih tersimpan di Museum Balla Lompoa di Gowa. Terbuat dari emas murni seberat 1.750 gram. Namun tak sembarang orang bisa melihatnya, lanjut Nasir. Masih di lantai yang sama, di ruang berikutnya, terdapat perangkat perang. Seperti baju, perisai dan topi perang. Ada juga samurai peninggalan Jepang, senapan dan pistol VOC, serta pistol Portugis. Ruangan terakhir, merupakan ruangan yang dipenuhi keramik yang berasal dari China, Timur Tengah, dan lain sebagainya. Banyak peninggalan kita yang hilang dicuri. Sekarang kita memasang kamera tersembunyi untuk menghindari kehilangan benda-benda tersebut, ungkap Nasir. (*)

Fort Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang (Jum Pandang) adalah sebuah benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo. Letak benteng ini berada di pinggir pantai sebelah barat Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-9 yang bernama I manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa'risi' kallonna. Awalnya benteng ini berbahan dasar tanah liat, namun pada masa pemerintahan Raja Gowa ke-14 Sultan Alauddin konstruksi benteng ini diganti menjadi batu padas yang bersumber dari Pegunungan Karst yang ada di daerah Maros. Benteng Ujung Pandang ini berbentuk seperti seekor penyu yang hendak merangkak turun ke lautan. Dari segi bentuknya sangat jelas filosofi Kerajaan Gowa, bahwa penyu dapat hidup di darat maupun di laut. Begitu pun dengan Kerajaan Gowa yang berjaya di daratan maupun di lautan. Nama asli benteng ini adalah Benteng Ujung Pandang, biasa juga orang Gowa-Makassar menyebut benteng ini dengan sebutan Benteng Panyyua yang merupakan markas pasukan katak Kerajaan Gowa. Kerajaan Gowa-Tallo akhirnya menandatangani perjanjian Bungayya yang salah satu pasalnya mewajibkan Kerajaan Gowa untuk menyerahkan benteng ini kepada Belanda. Pada saat Belanda menempati benteng ini, nama Benteng Ujung Pandang diubah menjadi Fort Rotterdam. Cornelis Speelman sengaja memilih nama Fort Rotterdam untuk mengenang daerah kelahirannya di Belanda. Benteng ini kemudian digunakan oleh Belanda sebagai pusat penampungan rempah-rempah di Indonesia bagian timur. Di kompleks Benteng Ujung Pandang kini terdapat Museum La Galigo yang di dalamnya terdapat banyak referensi mengenai sejarah kebesaran Makassar (Gowa-Tallo) dan daerahdaerah lainnya yang ada di Sulawesi Selatan. Sebagian besar gedung benteng ini masih utuh dan menjadi salah satu objek wisata di Kota Makassar.

[sunting] Galeri

Nama Fort Rotterdam di gerbang masuk

Situasi Fort Rotterdam pada Februari 2010

Satu bagian Fort Rotterdam pada Februari 2010 yang sudah dikelilingi bangunan lain

Detil jendela salah satu bangunan di Fort Rotterdam


Fort Rotterdam pada Tahun 1923 Satu bagian Fort Rotterdam pada Tahun 1924 Fort Rotterdam pada Tahun 1924 Satu bagian Fort Rotterdam pada Tahun 1930

[sunting] Pranala luar


Benteng Fort Rotterdam atau Benteng Ujung Pandang merupakan benteng peninggalan dari kerjaan Gowa-Tallo. Benteng ini dibangung pada tahun 1545 oleh Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa'risi' kallonna Raja Gowa ke-9. Benteng ini terletak di pinggir pantai tepi barat Makassar, depan dermaga penyebrangan Makssar. Benteng Fort Rotterdam merupakan benteng yang berbentuk penyu yang mengarah ke lautan yang melambangkan filosofi Kerajaan Gowa yang Berjaya di lautan maupun didartan. Pada awal pembangunannya Benteng Rotterdam di buat dari bahan tanah liat, dan kemudian kotruksi benteng ini diganti dengan batu padas dari Pegunungan Karst di daerah Maros oleh Raja Gowa ke -14 Sultan Alaudin.

Benteng Fort Roterdam dikenal oleh orang Gowa-Makssar dengan sebutan Benteng Panyyua (Penyu) karena bentuknya sepertipenyu. Benteng ini merupakan markas dari pasukan Katak Kerajaan Gowa. Nama asli dari Benteng Rotterdam sebenarnya adalah Benteng Ujung Pandang. Pada tahun 1666 Belanda memutuskan untuk menaklukan Kerjaan Gowa agar kapal dagang VOC udapat masuk dengan mudah dan merapat di daerah Gowa dan memperluas kekuasaan Belanda didaerah Banda dan Maluku.Belanda terus melakukan pegempuran ke Benteng Ujung Pandang yang di pimpin oleh Jendral Spellman selama setahun hingga Kerajaan Gowa hancur dan takluk oleh Belanda. Kekalahan ini memaksa Raja Gowa untuk menandatangani Perjanjian Bongaya pada tahun 1667, dan yang salah satu isinya Kerajaan Gowa harus menyerahkan Benteng Ujung Pandang ke Belanda.

Setelah menaklukan Kerajaan Gowa, Jendral Spellman memutuskan untuk menetap disan denganmembangun kembali Benteng dangan arsitektur Belanda. Nama Benteng Ujung Pandang kemudian di rubah menjadi Benteng Fort Rotterdam oleh Jendral Spellman untuk mengenang kota kelahirannya. Pada tahun 1834 Benteng Fort Rotterdam menjadi penjara bagi Pangeran di Ponegoro hingga waftanya. Pangeran Diponoegoro di penjarakan dalam sebuah ruangan yang berdinding kokoh berbentuk melengkung. Disana Pangeran Diponegoro dilengkapi dengan peralatan sholat dan peralatan tidur.

Pesona Jejak Sejarah Benteng Fort Rotterdam


Author: menthokz 20 Sep

Benteng identik dengan kegagahan, kesunyian dan bahkan kekerasan yang menyertai nuansa yang dicerminkannya. Beberapa saat yang lalu (awal September 2011) saya beserta tim Virtual Museum UG berkesempatan mengunjungi sekaligus menikmati keindahan benteng Fort Rotterdam. Benteng ini terletak di kota Makasar yang merupakan salah satu bukti peninggalan Kerajaan Gowa. Salah satu keindahan dan keunikan yang tampak dari benteng ini adalah bila dilihat dari udara bentuknya menyerupai penyu raksasa yang hendak merayap ke Selat Makasar.

Memasuki pintu utamanya yang berukuran kecil, kita akan segera disergap oleh nuansa masa lalu. Tembok yang tebal sangat kokoh, pintu kayu, gerendel kuno, akan terlihat jelas. Masuk ke benteng sebetulnya tidak dipungut bayaran, karena area didalam benteng tidak dijadikan museum cagar budaya. Benteng Rotterdam dijadikan kantor pemerintah yakni Pusat Kebudayaan Makassar, sehingga suasana seram yang biasa kita jumpai dilokasi tua semacam ini tidak begitu kental. Benteng ini pada jaman Kerajaan Gowa berfungsi sebagai benteng pertahanan yang didalamnya terdapat bangunan khas makasar. Pada jaman kolonial Belanda benteng ini berfungsi sebagai benteng pertahanan, pusat pertahanan, pusat pemerintahan dan perekonomian.

Berdasarkan data dan informasi yang diperoleh (salah satunya dari Ensklopedia Sejarah Sulawesi Selatan, 2004), benteng ini semula bernama Benteng Ujung Pandang yang didirikan di sebuah Ujung pulau yang terdapat banyak pohon Pandang, pada tahun 1546, oleh I Manriawagau Daeng Bonto Karaeng Lakiung, yaitu Raja Gowa ke-10. Benteng ini pada tahun 1643 direvitalisasi oleh Raja Gowa ke-14 I Mangerangi Daeng Manrabbia Sultan Alaudin, yang melakukan penyempurnaan pada bangunan temboknya. Benteng ini secara resmi dikuasai oleh

Pemerintah Belanda pada saat perjanjian Bungaya pada tanggal 18 November 1667. Semenjak saat itu nama benteng tersebut dirubah oleh Gubernur Jenderal Cornelis Speelman menjadi Fort Rotterdam. Nama tersebut merupakan nama kota tempat kelahirannya di Negeri Belanda. Speelman akhirnya menetap di benteng tersebut dan membangun kembali serta menata topologi bangunannya sesuai dengan arsitektur Belanda. Bentuk awal yang mirip persegi panjang kotak dikelilingi oleh lima bastion, berubah mendapat tambahan satu bastion lagi di sisi barat. Pesona keindahan lain yang dapat dieksplorasi dari benteng ini adalah menjenguk ruang tahanan sempit Pangeran Diponegoro saat dibuang oleh Belanda sejak tertangkap di tanah Jawa. Perang Diponegoro pada tahun 1825-1830, berakhir dengan dijebaknya Pangeran Diponegoro oleh Belanda saat mengikuti perundingan damai. Diponegoro kemudian ditangkap serta dibuang ke Menado, dan kemudian pada tahun 1834 dipindahkan ke Fort Rotterdam. Pangeran Diponegoro ditempatkan didalam sebuah sel penjara yang berdinding melengkung dan amat kokoh, yang dilengkapi dengan peralatan shalat, alquran, dan tempat tidur. Pesona lain yang juga masih tersimpan dalam benteng ini adalah penggalan Kitab Sastra terpanjang di dunia yang dikenal I La Galigo. Kitab tersebut merupakan kumpulan karya sastra dan catatan hasil kebudayaan yang ditulis secara turun temurun dalam bahasa Lontarak.

Sejarah Singkat
Quote: Benteng Fort Rotterdam merupakan salah satu benteng di Sulawesi Selatan yang boleh dianggap megah dan menawan. Seorang wartawan New York Times, Barbara Crossette pernah menggambarkan benteng ini sebagai the best preserved Dutch fort in Asia. Pada awalnya, benteng ini disebut dengan nama Benteng Jumpandang (Ujung Pandang). Benteng ini merupakan peninggalan sejarah Kesultanan Gowa di Sulawesi Selatan. Kesultanan ini pernah berjaya sekitar abad ke-17 dengan ibukotanya Ujung Pandang (Makassar). Kini, kesultanan ini masuk dalam wilayah Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Kesultanan ini sebenarnya memiliki 17 buah benteng yang mengitari seluruh ibukota dan daerah sekitarnya. Hanya saja, Benteng Fort Rotterdam merupakan bentang paling megah di antara benteng-benteng lainnya dan keasliannya masih terpelihara hingga kini. Benteng ini dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa ke-X yang bernama Imanrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung atau Karaeng Tunipalangga Ulaweng. Pada awalnya, bentuk benteng ini adalah segi empat, seperti halnya arsitektur benteng ala Portugis. Bahan dasarnya adalah batu yang dicampur dengan tanah liat yang dibakar hingga kering. Temboknya berwarna hitam dan berlumut. Pada tanggal 9 Agustus 1634, Sultan Gowa ke-

14 (I Mangerangi Daeng Manrabbia, dengan gelar Sultan Alauddin) membuat dinding tembok benteng dengan batu padas yang berwarna hitam keras. Pada tanggal 23 Juni 1635, dibangun lagi dinding tembok kedua dekat pintu gerbang. Benteng ini pernah hancur pada masa penjajahan Belanda, meski pada akhirnya dapat dibangun kembali. Belanda pernah menyerang Kesultanan Gowa yang pada saat itu dipimpin oleh Sultan Hasanuddin, yaitu antara tahun 1655 hingga tahun 1669. Tujuan penyerangan Belanda adalah untuk mengembangkan sayap perdagangannya, sehingga dengan demikian mereka dapat dengan mudah masuk ke wilayah Banda dan Maluku, sebagai pusat perdagangan di wilayah timur pada saat itu. Sejak tahun 1666, berkobarlah perang pertama antara Belanda dan Kesultanan Gowa. Pada saat itu, armada perang Belanda dipimpin oleh Gubernur Jenderal Admiral Cornelis Janszoon Speelman. Selama satu tahun penuh, Kesultanan Gowa diserang. Serangan ini mengakibatkan Benteng Fort Rotterdam hancur (meski tidak sepenuhnya). Bahkan, rumah raja yang ada di dalam benteng juga hancur dan dibakar oleh tentara musuh. Akibat dari kekalahan ini, Sultan Gowa dipaksa untuk menandatangani Perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667. Gubernur Jenderal Speelman kemudian berinisiatif memerintahkan bawahannya agar membangun kembali benteng yang telah hancur itu dengan model arsitektur Belanda. Bentuk benteng yang awalnya berupa segi empat dengan dikelilingi oleh lima bastion, kemudian ditambahkan satu bastion lagi yang ada di sisi barat. Nama benteng kemudian dinamakan Fort Rotterdam, yang merupakan nama tempat kelahiran Speelman. Sejak saat itu, benteng ini berfungsi sebagai pusat perdagangan dan pemerintahan Hindia Belanda di wilayah timur, khususnya kawasan Sulawesi Selatan. Benteng ini pernah dijadikan sebagai tempat pengasingan Pangeran Diponegoro ketika dirinya kalah perang dalam melawan penjajah Belanda di Jawa antara tahun 1925-1930. Ia dibuang dan diasingkan di dalam benteng ini selama 26 tahun. Quote:

Lokasi
Quote: Benteng ini terletak di Jl. Ujung Pandang No.1, Kota Makassar, Provinsi

Sulawesi Selatan, Indonesia. Letaknya persis di depan pelabuhan laut Kota Makassar. Quote:

Deskripsi Benteng
Quote: Benteng ini berdiri kokoh menjulang hampir setinggi 5 meter. Pintu utamanya berukuran kecil. Jika dilihat dari letak yang tinggi, benteng ini menyerupai bentuk penyu yang hendak masuk ke dalam pantai. Bentuk penyu ini mengilustrasikan fakta bahwa Kesultanan Gowa pada saat itu merupakan kerajaan maritim yang memiliki kekuatan perekonomian dan pelayaran yang sangat besar, sehingga benteng berperan sebagai media perlindungan atau pertahanan ibukota dari serangan musuh. Sejak dahulu, banyak orang Makassar dikenal sebagai pelaut yang berlayar hingga ke pesisir-pesisir Indonesia, bahkan hingga ke Samudera Hindia dan Pulau Madagaskar. Karena bentuknya mirip penyu, benteng ini kadang juga dinamakan sebagai Benteng Panynyua (Penyu). Quote:

Fungsi Sosial
Quote: Benteng ini pernah berfungsi sebagai pusat perdagangan, pemerintahan, dan perekonomian Kesultanan Gowa. Ketika Belanda mampu menguasai Kesultanan Gowa, benteng ini juga dijadikan sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan Hindia Belanda. Di kompleks benteng terdapat Museum Negeri La Galigo yang menyimpan berbagai pernak-pernik asal Tanah Toraja. Museum ini juga menyimpan berbagai benda sejarah, manuskrip (berisi tentang perjanjian antara Sri Sultan Sjahbaddin dengan VOC pada tanggal 19 Mei 1710), patung, keramik, pakaian tradisional, dan budaya Sulawesi Selatan lainnya. Museum ini diresmikan pada tanggal 24 Februari 1974 oleh Dirjen Kebudayaan, Prof. Dr. Ida Bagus Mantra. Nama museum ini berasal dari sebuah epos bernama I La Galigo. Nama ini juga merupakan tokoh yang berperan dalam epos ini sebagai seorang ahli sastra. Bangunan dalam benteng terdapat rumah panggung khas Gowa yang dulunya pernah ditempati oleh raja dan

keluarganya. Sebenarnya, benteng ini kini tidak hanya berfungsi sebagai museum saja, namun juga berfungsi sebagai kantor Pusat Kebudayaan Makassar. Di samping itu, kompleks dalam benteng juga difungsikan sebagai Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala dan Taman Budaya yang sering menggelar acara-acara kesenian, pagelaran tari, konser musik, dan lain-lain.

Benteng Ujungpandang

Benteng Ujungpandang (Ford Ratterdam) Benteng Ujungpandang terletak di Kelurahan Kampung Baru Kecamatan Ujungpandang, Kota Madya Ujungpandang. L.uas keseluhruhan areanya 21.252 meter persegi dan terdiri atas 15 bangunan. Menurut sejarahnya, benteng ini juga dirintis oleh Raja Gowa IX Semula benteng berisi bangunan rumah Makassar dengan tiang-tiang kayu yang tinggi. Pembangunan benteng diselesaikan pada tahun 1545 oleh raja Gowa X, / Manriogau Daeng Banto Karaeng Lakiung Tunipalangga Ulaweng, sebagai benteng pertahanan pendamping kerajaan Gowa. Benteng yang pada mulanya dibuat dari tanah liat ini mempunyai model tak ubahnya bentengbenteng Eropa abad ke-26 dan ke-17. Bentuk dasar benteng segi empat dan berarsitektur Portugis. Tonjolan-tonjolan tambahan pada model dasar segi empat melahirkan bentuk benteng yang menyerupai penyu. Bentuk penyu berhubungan dengan simbolisme kekuatan etnis Makassar, jaya di laut dan di darat, seperti halnya seekor penyu. Justru itu, naskah Lontarak menyebut benteng Penyua' (benteng penyu). Area benteng ini seluas 2,5 hektar berdinding tertinggi 7 meter dan terendah 5 meter dengan ketebalan 2 meter, kemudian mengalami penyempurnaan, Di tahun 1635 Masehi, pada masa pemerintah Ian Sultan Alauddin, raja Gowa keempat belas, dinding benteng yang terbuat dari tanah liat diberi lapisan batu berbentuk segi empat dengan variasi ukuran berbeda.

Fungsi benteng Ujungpandang pada saat itu adalah benteng pengawal benteng induk, Somba Opu. Ketika kerajaan Gowa dikalahkan kompeni, melalui perjanjian Bongaya tahun 1667, benteng Ujungpandang beralih milik. Selanjutnya, benteng tersebut diubah namanya menjadi Fort Rotterdam yang berfungsi sebagai pusat pemerintahan dan pertahanan kompeni. Cornelis Janszoon Speelman (1666) sangat berperan dalam pengubahan nama ini. Belanda kemudian juga melakukan perubahan struktur bangunan dan gaya Makassar menjadi bangunan yang berciri Eropa, gaya Gotik abad XVII. Pada masa pendudukan Jepang (1942), benteng ini tidak lagi digunakan sesuai dengan fungsinya. Akibat kemajuan teknologi, terutama di bidang komunikasi udara, benteng Ujungpandang dipandang kurang efektif untuk dijadikan benteng pertahanan Kemudian Jepang menggunakannya sebagai pusat penelitian ilmiah bidang Bahasa dan pertanian. Setelah kemerdekaan Indonesia benteng Ujungpandang menjadi tempat penampungan Belanda dan pengikutnya. Pada saat terjadi agresi militer kedua, benteng Ujungpandang difungsikan kembali menjadi benteng pertahanan dalam pertempuran tujuh hari antara pasukan KNIL dan TNI. Keadaan ini berlangsung hingga ditandatanganinya perjanjian penyerahan kembali kedaulatan RI tanggat 27 Desember 1949. Seusai perang benteng .ini berfungsi sebagai perumahan sipil dan militer. Setelah pengosongan dan pemindahan 1500 jiwa pada tahun 1970, benteng Ujungpandang dipugar dan diperbaiki. Akhirnya, pada tanggal 21 April 1977, benteng Ujungpandang menjadi monumen sejarah yang dilindungi dan dijadikan Pusat Kebudayaan Sulawesi Selatan berdasarkan Surat KeputuSan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 14/A/1/1974. Kini, benteng Ujungpandang dimanfaatkan sebagai kompleks perkantoran Suaka Peninggalan Sejarah Purbakala, Balai Arkeologi, Dewan Kesenian Makassar, dan Museum Lagaligo yang disiapkan menampung berbagai koleksi yang dapat menunjang serta memberi informasi tentang benda cagar budaya kerajaan Gowa-Tallo khususnya, dan Sulawesi Selatan pada umumnya. Penutup Di area situs bekas kerajaan Gowa-Tallo terdapat enam jenis monumen peradaban penting yaitu, istana, mesjid, benteng, sumur, batu pelantikan, dan makam. Hampir semua berasal dari masa Islam, kecuali batu pallantikan. Hal ini bisa menjelaskan kepada kita perkernbangan kebudayaan etnis Makassar terutama dari periode masuknya Islam yang bisa memperkuat bukti-bukti tertulis yang sampai kepada kita. Dari sisa peradaban tersebut,70% merupakan bangunan makam. Makam adalah rumah peristirahatan terakhir - manusia. Raja bagi masyarakat Makassar tidaklah dianggap mati, is hanya berpindah alam. Pandangan demikian menyebapkan raja yang telah wafat ditambah gelar

"matinroe", artinya tidur . Justru itu di Makassar khususnya makam raja dibuat istimewa dan indah, seperti istana. Sampai sekarang makam dari tokoh-tokoh Gowa-Tallo masih menjadi tempat ziarah yang ramai dikunjugi sepanjang tahun.