Anda di halaman 1dari 34

Skenario C

Sebuah sekolah SMP terletak di pinggir jalan raya Lintas Sumatera di Ogan Ilir yakni di desa Tanjung Sejaro. Komunitas disini terdiri atas para murid, sekitar 500 orang, para guru 25 orang, dan pegawai lokal 10 orang. Halaman sekolah cukup luas dan banyak pepohonan, menghadap ke jalan raya yang sibuk. Selain ruang kelas dan kantor, ada juga fasilitas toilet, kantin, dan musolla. Bangunan sekolah terdiri atas setengah beton, bagian atas dari papan dengan atap dari asbes. Bangunan ini relatif agak tua dan kurang terawat, dibeberapa bagian bahkan terlihat bocor. Sumber air untuk kantin, toilet dan musolla adalah sumur dangkal (surface well), namun jarang sekali kering karena dekat dengan rawa-rawa dengan air tergenang sepanjang tahun. Sekitar 300 meter di belakang desa ada sungai Ogan yang merupakan sumber air utama bagi seluruh penduduk desa. Namu ada juga penduduk yang menggunakan sumber air rawa atau sumur yang ada di dekat rawa. Atas saran dari guru Biologi, sumur yang ada di sekolah diperiksa di laboratorium di Palembang dan hasilnya seperti terlampir (Lampiran 1). Seperti halnya di berbagai wilayah Sumatera, pada musism kemarau sering terjadi kebakaran hutan dan udara penuh dengan asap selama beberapa hari bahkan berminggu-minggu. Namun untuk desa ini, problem kualitas udara bertambah karena asap buangan kendaraan yang lalu lalang siang dan malam. Karena banyaknya debu, kepala sekolah meminta agar meja di kantor dan di kelas dibersihkan dan disapu setiap hari. Atas inisiatif kepala sekolah, pernah dilakukan pengukuran kualitas udara oleh BTKL Sumsel dan hasilnya seperti terlampir (Lampiran 2). Problem lain yang tak kalah pentingnya adalah kebisingan dari bunyi klakson dan sirine kendaraan yang kadang-kadang amat mengganggu proses belajar mengajar. Menurut hasil survey dari Biro Lingkungan OI, intensitas kebisingan di lokasi sekolah ini seperti tercantum dalam lampiran 3. Kantin dikelola penjaga sekolah, dan beberapa makanan juga berasal dari titipan para tetangga untuk dijual. Hal ini karena istri penjaga sekolah agak kurang

sehat, jadi tidak mampu memasak semua jenis makanan untuk dijual. Istri penjaga sekolah seringkali demam dan sakit perut. Pernah berobat ke Pusekesmas dan sembuh tetapi kembali sakit. Guru Biologi dari sekolah ini selalu menasehatkan agar pengelolaan sampah dan limbah dilakukan secara higienis agar tidak mengancam kesehatan. Namun penilik sekolah menemukan bahwa toilet tidak memiliki septic tank dan limbah cainya dialirkan ke selokan dan berakhir di rawa-rawa. Sampah padat dan sampah rumah tangga (kantin), dibuang versama sampah serupa dari desa yang dikumpulkan oleh petugas. Namun, wadah penampungan sementara tidak tertutup sehingga mengundang bau dan lalat. Kepala sekolah melarang dengan keras para siswa bermain dekat jalanan dan untuk itu telah ditugaskan penjaga tersendiri. Namun pada saat datang dan pulang sekolah, jalanan jadi macet dan lalu lintas semerawut. Bahkan, sudah sering terjadi kecelakaan lalu lintas yang melibatkan siswa dan keluarga yang antar-jemput. Dokter Puskesmas beberapa kali datang ke sekolah untuk memberikan ceramah dan nasehat. Dari data di Puskesmas, penyakit terbanyak desa TS adalah ISPA, Diare, Malaria, DHF, Tuberculosis, Penyakit Kulit dan Gigi-Mulut. Namun nasehat yang diberikan dokter dalam penyuluhannya bersifat generik, belum disesuaikan dengan kebutuhan riil disekolah ini.

LAMPIRAN 1. Hasil Pengujian Kualitas Air PARAMETER Zat padat terlarut Kekeruhan Ph Mercury (Hg) Arsenic (Ar) Iron (Fe) Manganese (Mn) Lead (Pb) Detergen Pestisida total Zat organic Coliform per 100 cc Ttd = tidak terdeteksi HASIL UJI 3000 mg/L 24 NTU 6,8 Ttd 0,10 mg/L 2,0 mg/L 1,0 mg/L 0,10 mg/L 0,2 mg/L 0,1 mg/L 5 mg/L 100

2. Kualitas Udara Parameter SO2 CO Nox O3 Hidrocarbon Total Suspended Particulate (TSP) Tb Waktu Pengukuran 24 jam 24 jam 24 jam 1 jam 3 jam 24 jam 24 jam Hasil Uji 500 micrgr/M3 30 000 micrgr/M3 200 micrgr/M3 200 micrgr/M3 100 micrgr/M3 500 micrgr/M3 5 micrgr/M3

3. Kebisingan Waktu Pengukuran Pagi Siamg Sore Lokasi Halaman sklh Halaman sklh Halaman sklh Hasil Pengukuran 65 dBA 60 dBA 55 dBA

I. Klarifikasi Istilah 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Sumur dangkal Asbes BTKL Intensitas kebisingan Biro lingkungan Kualitas udara Debu Limbah Bersifat generic

10. Septictank 11. Higienis 12. Wadah penampungan sementara 13. Pengelolaan sampah 14. Sampah padat 15. Sampah rumah tangga 16. Limbah cair

II. Identifikasi Masalah 1. Bangunan sekolah beratap asbes, terdiri dari setengah beton, agak tua dan kurang terawat 2. Sumber air berasal dari sumur dangkal dekat rawa-rawa yang digunakan untuk pembuangan limbah cair dari toilet. Setelah dilakukukan pemeriksaan laboratorium terhadap air tersebut, didapatkan hasil sebagaimana tercantum di Lampiran 1. 3. Sering terjadi kebakaran hutan, udara penuh dengan asap dan problem kualitas udara bertambah karena asap buangan kendaraan dan banyaknya debu di dalam kelas. Hasil pengukuran kualitas udara oleh BTKL Sumsel tercantum dalam Lampiran 2. 4. Kebisingan dari suara klakson dan sirine kendaraan kadang-kadang sangat mengganggu proses belajar mengajar. Hasil survey dari Biro Lingkungan

OI, intensitas kebisingan menunjukkan hasil sebagaimana tercantum di Lampiran 3. 5. Makanan yang ada di kantin berasal dari isteri penjaga sekolah yang sering sakit demam dan sakit perut, dan sebagian dari titipan para tetangga yang sumber airnya dari sungai dan rawa. 6. Sampah padat dan sampah rumah tangga dibuang ketempat wadah penampungan sementara yang tidak tertutup yang mengundang bau dan lalat. Limbah cair dari toilet dialirkan ke rawa. 7. Penyakit terbanyak di desa Tanjung Sejaro adalah ISPA, diare, malaria, DHF, tuberculosis, penyakit kulit, dan gigi-mulut. Nasihat yang diberikan oleh dokter Puskesmas bersifat generic dan belum disesuaikan dengan kebutuhan riil di sekolah ini.

III. Analisis Masalah 1. a. Apa pengaruh bahan bangunan dari asbes dan beton di SMP tersebut terhadap kesehatan? b. Apa dampak keadaan bangunan (atap bocor, sudah tua, dan kurang terawat) terhadap kesehatan?

2.

a. Apa saja kriteria sumur yang baik? b. Apa dampak penggunaan sumur yang berasal dari rawa yang tercemar limbah cair dari toilet? c. Bagaimana interpretasi Lampiran 1? d. Bagaimana solusi untuk masalah kualitas air di SMP tersebut?

3.

a. Apa dampak buruknya kualitas udara terhadap kesehatan pada kasus? b. Bagaimana interpretasi hasil pengukuran kualitas udara (lampiran 2) pada kasus? c. Bagaimana solusi dari buruknya kualitas udara pada kasus ini?

4.

a. Apa dampak kebisingan terhadap kesehatan?

b. Bagaimana interpretasi intensitas kebisingan (lampiran 3)? c. Bagaimana solusi dari masalah ini?

5.

a. Apa dampak makanan yang berasal dari isteri penjaga sekolah yang sering demam dan sakit perut, dan makanan yang berasal dari tetangga? b. Bagaimana solusi masalah ini?

6.

a. Apa dampak sampah padat dan sampah rumah tangga yang dibuang ke tempat terbuka yang mengundang baud an lalat? b. Bagaimana solusinya? c. Bagaimana cara pengelolaan sampah dan limbah yang baik?

7. Bagaimana rekomendasi langkah penting untuk pihak Puskesmas, Dinkes, dan Pemda setempat?

8. Rekomendasi beberapa pelatihan untuk para guru dan pengelolaan sekolah untuk meningkatkan higienitas?

9. Apa saja peraturan perundangan yang terkait dengan semua permasalahan di atas?

IV. Hipotesis Derajat kesehatan lingkungan sekolah sangat buruk yang ditentukan oleh faktor sanitasi lingkungan dan higien makanan.

V. Sintesis 1. a. Pengaruh bahan bangunan dari asbes dan beton terhadap kesehatan: Serat asbes yang terhirup dan masuk ke dalam paru-paru bisa menyebabkan beberapa penyakit: di SMP tersebut

Asbestosis: merupakan penyakit yang ditimbulkan karena menghirup debu asbes dalam konsentrasi cukup tinggi. Ditandai dengan batuk akut dan nyeri didada. Pada asbestosis lanjut bisa meningkat menjadi kanker paru-paru. Kanker paru-paru: penyakit ini lebih banyak muncul jika seseorangterus menerus bekerja dalam lingkungan yang terkontaminasi asbes. Para perokok cenderung lebih beresiko dibandingkan bukan perokok bila menghirup debu asbes. Mesothelioma: Tumor ganas pada membran paru-paru. Selain mengenai orang yang bekerja pada lingkungan asbes tinggi bisa juga menyerang keluarga.

Risiko terkena penyakit ini akan meningkat setara dengan banyaknya jumlah serat asbes yang dihirup. Selain itu risiko kanker paru-paru akibat menghirup serat asbes lebih besar dibandingkan dengan asap rokok. Dampak bahaya dari menghirup serat asbes tidak bisa dilihat dalam jangka waktu singkat. Terkadang gejala penyakit ini baru muncul dalam waktu 20-30 tahun setelah terpapar serat asbes pertama kali.

b. Dampak keadaan bangunan (atap bocor, sudah tua, dan kurang terawat) terhadap kesehatan: Atap bocor menyebabkan air hujan masuk dan merembes ke dalam ruangan, membuat ruangan lembab dan menjadikannya tempat berkembang biak jamur dan bakteri. Selain itu, dinding yang setengahnya berasal dari kayu dapat menjadi lapuk dan banyak rayap.

2.

a. Kriteria sumur yang baik: Sumur merupakan jenis sarana air bersih yang banyak dipergunakan masyarakat, karena 45% masyarakat mempergunakan jenis sarana air bersih ini. Sumur sanitasi adalah jenis sumur yang telah

memenuhi persyaratan sanitasi dan terlindung dari kontaminasi air kotor. Sumur sehat minimal harus memenuhi persyaratan sebagai berikut.

Syarat Lokasi atau Jarak Agar sumur terhindar dari pencemaran maka harus diperhatikan adalah jarak sumur dengan jamban, lubang galian untuk air limbah (cesspool, seepage pit) dan sumber-sumber pengotoran lainnya. Jarak tersebut tergantung pada keadaan serta kemiringan tanah. i. Lokasi sumur pada daerah yang bebas banjir. ii. Jarak sumur minimal 15 meter dan lebih tinggi dari sumber pencemaran seperti kakus, kandang ternak, tempat sampah dan sebagainya.

Syarat Konstruksi Syarat konstruksi pada sumur gali tanpa pompa, meliputi dinding sumur, bibir sumur, serta lantai sumur.

Dinding sumur gali: Jarak kedalaman 3 meter dari permukaan tanah, dinding sumur gali harus terbuat dibuat dari tembok yang kedap air (disemen). Hal tersebut dimaksudkan agar tidak terjadi perembesan air / pencemaran oleh bakteri dengan karakteristik habitat hidup pada jarak tersebut. Selanjutnya pada kedalaman 1,5 meter dinding berikutnya terbuat dari pasangan batu bata tanpa semen, sebagai bidang perembesan dan penguat dinding sumur.

Bibir sumur gali. Untuk keperluan bibir sumur ini terdapat beberapa pendapat antara lain : Di atas tanah dibuat tembok yang kedap air, setinggi minimal 70 cm, untuk mencegah pengotoran dari air permukaan serta untuk aspek keselamatan

Lantai sumur gali. Beberapa pendapat konstruksi lantai sumur antra lain : Lantai sumur dibuat dari tembok yang kedap air 1,5 m lebarnya dari dinding sumur. Dibuat agak miring dan ditinggikan 20 cm di atas permukaan tanah, bentuknya bulat atau segi empat (Entjang, 2000). Saluran pembuangan air limbah. Saluran Pembuangan Air Limbah dari sekitar sumur menurut Entjang, dibuat dari tembok yang kedap air dan panjangnya sekurang-kurangnya 10 m. Sedangkan pada sumur gali yang dilengkapi pompa, pada dasarnya pembuatannya sama dengan sumur gali tanpa pompa, namun air sumur diambil dengan mempergunakan pompa. Kelebihan jenis

sumur ini adalah kemungkinan untuk terjadinya pengotoran akan lebih sedikit disebabkan kondisi sumur selalu tertutup.

Jenis-jenis sumur: Sumur dangkal (shallow well) Sumur dangkal mempunyai pasokan air yang berasal dari resapan air hujan, terutama pada daerah dataran rendah. Sumur dangkal ini dimiliki oleh sebagian besar masyarakat Indonesia, dengan kelemahan utama pada mudahnya jenis sumur ini terkontaminasi oleh air limbah yang berasal dari kegitan mandi, cuci, dan kakus. Tingkat kalaman sumur dangkal ini biasanya berkisar antara 5 s/d 15 meter dari permukaan tanah (Notoatmodjo, 2003).

Sumur Dalam (Deep Well) Sumber air Sumur Dalam berasal dari proses purifikasi alami air hujan oleh lapisan kulit bumi menjadi air tanah. Kondisi ini menyebabkan sumber airnya tidak terkontaminasi serta secara umum telah memenuhi persyaratan sanitasi. Menurut Notoatmodjo (2003), air dari sumur dalam ini berasal dari lapisan air kedua di dalam tanah, dengan kedalaman di atas 15 meter dari permukaan tanah.

Berikut merupakan perbedaan sumur dangkal dan sumur dalam secara umum. No. 1. 2. 3. 4. Pembeda Sumber air Kualitas air Kualitas bakteriologi Persediaan Sumur dangkal Air permukaan Kurang baik Kontaminasi Kering pada musim kemarau Sumur dalam Air tanah Baik Tidak terkontaminasi Tetap ada sepanjang tahun

b. Dampak penggunaan sumur yang berasal dari rawa yang tercemar limbah cair dari toilet: Penularan penyakit yang disebabkan pencemaran air: Typhoid Fever; Cholera; Bacterial Dysentry Enteritis; Hepatitis A; Poliomyelitis; Amoeba Dysentry; Giardia; Schistosomiasis.

c. Interpretasi Lampiran 1: Arsen Hasil Uji 0,10 mg/dl Parameter 0,01 mg/l meningkat Arsen (As) adalah metal yang mudah patah, berwarna keperakan dan sangat toksik. As elemental didapat dalam jumlah yang sangat terbatas, terdapat bersama-sama Cu, As sudah sejak lama sering digunakan untuk racun tikus dan keracunan arsen pada manusia sudah sangat dikenal baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja. Keracunan akut menimbulkan gejala muntaber disertai darah, disusul dengan koma dan bila dibiarkan akan menimbulkan kematian. Secara kronis racun As dapat menimbulkan anoreksia, kolik, mual, diare atau konstipasi, ikterus, perdarahan pada ginjal, dan kanker kulit. As dapat menimbulkan iritas, alergi dan cacat bawaan (20). Di masa lampau As dalam dosis kecil digunakan sebagai campuran tonikum, tapi kemudian ternyata bahwa As ini dapat menimbulakan kanker kulit pada peminumnya.

Besi Hasil Uji 2,0 mg/l Parameter 0,3 mg/l meningkat Besi atau Ferum (Fe) adalah metal berwarna putih keperakan, liat dan dapat dibentuk. Di alam dapat sebagai hematiti, di dalam air minum Fe menimbulkan rasa. Warna (kuning), pengendapan pada dinding pipa, pertumbuham bakteri, besi dan kekeruhan. Besi dibutuhkan tubuh dalam pembentukan hemoglobin. Banyaknya Fe dalam tubuh dikendalikan pada fase aborsi. Tubuh manusia tidak dapat mengekskresikan Fe, oleh karena itu orang-orang yang sering mendapat transfusi darah warna kulitnya menjadi hitam karena akumulasi Fe. Sekalipun Fe diperlukan oleh tubuh, tapi dalam dosis besar dapt merusak dinding usus. Kematian sering kali disebabkan oleh rusaknya dinding usus ini. Debu Fe juga dapat diakumulasi dalam alveoli dan menyebabkan berkurangnya fungsi paru-paru Mangan Hasil Uji 1,0 mg/l parameter 0,1 mg/l meningkat Mangan (Mn) adalah metal kelabu-kemerahan. Keracunan seringkali bersifat kronis sebagai akibat inhalasi debu dan uap logam. Gejala yang timbul pada susunan syaraf berupa insomnia, kemudian lemah pada otot kaki dan otot muka sehingga ekspresi mereka menjadi beku dan tampak seperti topeng. Bila pemaparan berlanjut, bicara melambat dan monoton, terjadi hiperrefleksi, klonus pada patela dan tumit dan berjalan seperti penderita parkinson. Selanjutnya akan terjadi paralisis bulbar, parkinsonism posencepalitis, multipel sklerosis, amitropik lateral sklerosis, dan degenerasi lentik yang progresif (penyakit Wilson) tidak ada gejala GI , saluran urogenital (UG), kelainan sensoris atau kelainan pada likour cerebro spinal. Keracunan Mn ini adalah satu contoh dimana kasus keracunan tidak menimbulkan gejala muntah berak, sebagaimana orang awam selalu memperkirakannya. Di dalam penyediaan air, seperti halnya Fe, Mn, juga menimbulkan masalah warna, hanya warna ungu atau hitam.

pH Hasil Uji 6,8 mg/l Parameter 6,5-8,5 mg/l normal Air minum sebaiknya netral, tidak asam atau basa untuk mencegah terjadinya pelarutan logam berat dan korosi jaringan distribusi air minum. Air adalah bahan pelarut yang baik, maka dibantu dengan pH yang tidak netral dapat melarutkan berbagai elemen kimia yang dilaluinya. Timbal (Pb) Hasil Uji 1,0 mg/l Parameter 0,1 mg/l meningkat Timbal atau plumbum (Pb) adalah metal kehitaman, dahulu digunakan sebagai konstituen dalamm cat, baterai, dan saat ini banyak digunakan dalam bensin. Pb organik (TEL: tetra ethly lead) sengaja ditambahkan ke dalam bensin untuk meningkatkan nilai oktan. Pb adalah racun sistemik. Keracunan Pb akan menimbulkan gejala rasa logam di mulut garis hitam pada gusi, gangguan GI, anoreksia, muntah-muntah, kelumpuhan, dan kebutaan. Basophilic stippling dari sel darah merah merupakan gejala patogomonis bagi keracunan Pb. Gejala lain dari keracunan ini berupa anemia dan albuminemia. Pb organik cenderung menyebabkan enselopati. Pada keracunan akut dapat terjadi gejala meningen dan cerebral diikuti dengan stupor, koma, dan kematian. Tekanan likuor serebrospinal tinggi, insomnia san somnolens. Klorofom per 100 cc Hasil Uji 100 mg/l Parameter 200 mg/l Normal Klorofom (CHCl3) juga merupakan hidrokarbon terklorisasi, suatu anestetik. Menimbulkan iritasi, dilatasi pupil dan kerusakan hepar, jantung dan ginjal . Keraunan klorofom dapat menimbulkan toksisitas akut dan sistemik, sedangkanefek kronis belum diketahui dengan jelas. Dahulu klorofom digunakan sebagai anestetik, tetapi saat ini telah disubtitusi dengan zat yang lebih aman.

Kekeruhan Hasil Uji 24 NTU Parameter 5 NTU Meningkat

d. Solusi untuk masalah kualitas air di SMP tersebut: Perbaiki saluran tempat pembuangan sampah agar tidak masuk ke aliran sumur. Untuk jangka panjang, membuat sumur dalam agar yang didapat adalah air tanah, bukan air rawa.

3.

a. Dampak buruknya kualitas udara terhadap kesehatan pada kasus: Iritasi pada mata dan hidung Menurunnya prestasi belajar dan bekerja Menimbulkan dan memperberat penyakit jantung dan penyakit sistem pernafasan, seperti Asma dan Bronkitis (ISPA)

b. Baku Mutu Lingkungan Udara Ambien, PP 41/1999


No 1 Parameter SO2 (Sulfur Dioksida) 2 CO (Karbon Monoksida) Waktu Pengukuran 1 jam 24 jam 1 tahun 1 jam 24 jam 1 tahun 3 NO2 (Nitrogen Dioksida) 1 jam 24 jam 1 tahun 4 O3 (Oksidan) 1 jam 1 tahun 5 HC (Hidro Carbon) 6 PM10 (Partikel < 10 um) PM25* 24 jam 65 ug/Nm3 Gravimetric Hi- Vol 24 jam 150 ug/Nm
3

Baku Mutu 900 ug/Nm3 365 ug/Nm 60 ug/Nm3 30.000 ug/Nm3 10.000 ug/Nm 400 ug/Nm3 150 ug/Nm3 100 ug/Nm3 235 ug/Nm3 50 ug/Nm3 160 ug/Nm
3 3 3

Metode Analisis Pararosanilin

Peralatan Spektrofotometer

NDIR

NDIR Analyzer

Saltzman

Spektrofotometer

Chemilumin escent Flame Ionization Gravimetric

Spektrofotometer

3 jam

Gas Chromatografi

HI-Vol

1 jam 7 TSP (debu) 24 jam 1 jam

15 ug/Nm3 230 ug/Nm3 90 ug/Nm 2 ug/Nm3 1 ug/Nm3


3

Gravimetric Gravimetric

Hi- Vol HI- Vol

Pb (Timah hitam)

24 jam 1 jam

Gravimetric Ekstratif

Hi- Vol AAS

Pengabuan 9 Dustfall (Debu jatuh) 30 hari 10 Ton/ Km2/Bulan (Pemukiman) 20 Ton/Km2/Bulan (industri) Gravimetric Cannister

Interpretasi hasil pengukuran kualitas udara (lampiran 2) pada kasus:

Parameter

Waktu Pengukuran

Hasil Uji

Baku Mutu

Interpretasi

SO2 CO Nox O3 Hidrocarbon Total Suspended Particulate (TSP) Tb

24 jam 24 jam 24 jam 1 jam 3 jam 24 jam

500 micrgr/M3

365 ug/Nm3

Tinggi Tinggi Tinggi Normal Normal Tinggi

30 000 micrgr/M3 10.000ug/Nm3 200 micrgr/M3 200 micrgr/M3 100 micrgr/M3 500 micrgr/M3 150 ug/Nm3 235 ug/Nm3 160 ug/Nm3 230 ug/Nm3

24 jam

5 micrgr/M3

2ug/Nm3

Tinggi

b. Solusi dari buruknya kualitas udara pada kasus ini: i. Penggunaan Bahan Bakar Alternatif Upaya untuk memperbaiki udara dan cuaca global salah satunya adalah dengan memakai sumber energi yang tidak lagi berasal dari dalam bumi seperti bahan bakar minyak, yang hasil

pembakarannya berpengaruh buruk terhadap lingkungan.Hidrogen sebagai salah satu alternatif bahan bakar dapat dipertimbangkan karena gas buangnya tidak merusak lingkungan. ii. Penambahan Ruang Terbuka Hijau Pepohonan merupakan filter alami untuk polusi udara. Hal ini dapat dilihat bahwa semakin berkurangnya ruang terbuka hijau di kota-kota besar di Indonesia berdampak secara signifikan pada kenaikan suhu udara dan kualitas udara iii. Perubahan struktur kerja masyarakat

Strategi ini banyak diterapkan di negara-negara maju untuk mengurangi waktu dan titik kemacetan.Strategi waktu-waktu ini utama

dilatarbelakangi

identifikasi

terhadap

terjadinya kemacetan, yaitu pada pagi hari (saat masyarakat mulai berangkat kerja) dan sore hari (saat masyarakat pulang kerja).Secara sistematis dapat diatur perbedaan jam kerja terhadap perusahaan-perusahaan di satu kota. Misalnya dengan memulai jam kerja atau sekolah satu atau dua jam lebih awal, atau dengan mengakhirinya lebih awal, dan dengan demikian mengurangi kepadatan lalu lintas pada pagi dan sore hari.

4.

a. Dampak kebisingan terhadap kesehatan: i. Gangguan fisiologis Gangguan dapat berupa peningkatan tekanan darah ( 10 mmHg), peningkatan nadi, konstriksi pembuluh darah perifer terutama pada tangan dan kaki, serta dapat menyebabkan pucat dan gangguan sensoris. Bising dengan intensitas Hal tinggi ini dapat menyebabkan bising dapat

pusing/sakit

kepala.

disebabkan

merangsang situasi reseptor vestibular dalam telinga dalam yang akan menimbulkan efek pusing/vertigo. Perasaan mual,susah tidur dan sesak nafas disbabkan oleh rangsangan

bising terhadap sistem saraf, keseimbangan organ, kelenjar endokrin, tekanan darah, sistem pencernaan dan keseimbangan elektrolit.

ii. Gangguan Psikologis Gangguan psikologis dapat berupa rasa tidak nyaman, kurang konsentrasi, susah tidur, dan cepat marah. Bila kebisingan diterima dalam waktu lama dapat menyebabkan penyakit psikosomatik berupa gastritis, jantung, stres, kelelahan dan lain-lain.

iii. Gangguan Komunikasi Gangguan komunikasi biasanya disebabkan masking effect (bunyi yang menutupi pendengaran yang kurang jelas) atau gangguan kejelasan suara. Komunikasi pembicaraan harus dilakukan dengan cara berteriak. Gangguan ini menyebabkan terganggunya pekerjaan, sampai pada kemungkinan terjadinya kesalahan karena tidak mendengar isyarat atau tanda bahaya. Gangguan komunikasi ini secara tidak langsung

membahayakan keselamatan seseorang.

iv. Gangguan Keseimbangan Bising yang sangat tinggi dapat menyebabkan kesan berjalan di ruang angkasa atau melayang, yang dapat menimbulkan gangguan fisiologis berupa kepala pusing (vertigo) atau mualmual.

v. Efek pada pendengaran Pengaruh utama dari bising pada kesehatan adalah kerusakan pada indera pendengaran, yang menyebabkan tuli progresif dan efek ini telah diketahui dan diterima secara umum dari zaman

dulu. Mula-mula efek bising pada pendengaran adalah sementara dan pemuliahan terjadi secara cepat sesudah pekerjaan di area bising dihentikan. Akan tetapi apabila bekerja terus-menerus di area bising maka akan terjadi tuli menetap dan tidak dapat normal kembali, biasanya dimulai pada frekuensi 4000 Hz dan kemudian makin meluas kefrekuensi sekitarnya dan akhirnya mengenai frekuensi yang biasanya digunakan untuk percakapan.

b. Interpretasi intensitas kebisingan (lampiran 3): Waktu Pengukuran Pagi Siang Sore halaman sekolah halaman sekolah halaman sekolah 65 dBA 60 dBA 55 dBA Lokasi Hasil Pengukuran Baku tingkat kebisingan 55 dBA 55 dBA 55 dBA

c. Solusi dari masalah ini: Ada beberapa cara untuk mengurangi pengaruh kebisingan yaitu mengurangi kebisingan pada sumbernya, membuat penghalang pada media penghantar, dan memasang penutup telinga.

Pada kasus ini yang mungkin untuk dilakukan adalah membuat penghalang pada media penghantar yaitu Meredam suara. Peredaman kebisingan dapat dilakukan dengan menanam tanaman berupa rumput, semak dan pepohonan. Pepohonan dapat meredam kebisingan dengan cara mengabsorpsi gelombang suara oleh daun, cabang dan ranting. Penanaman vegetasi pepohonan dalam bentuk shelter belt, dengan penutupan yang rapat dan berlapis-lapis, dapat meredam kebisingan yang cukup besar hingga 95% dari sumbernya. Jenis tumbuhan yang efektif untuk meredam suara ialah yang

mempunyai tajuk yang tebal dengan daun yang rindang. Dengan menanam tanaman dengan berbagai strata yang cukup rapat dan tinggi akan dapat mengurangi kebisingan. Dedaunan tanaman dapat menyerap kebisingan sampai 95% adalah Jati emas plus (Tectona grandis L).

Strategi kebisingan dalam ruangan: Mengusahakan peredaman pada sumber kebisingan Mengisolasi sumber kebisingan atau memakai penghalang bunyi Mengurangi kebisingan malalui struktur bangunan

Untuk luar ruangan Manfaatkan jarak karena tingkat bunyi akan semakin berkurang bila jarak semakin besar Member tabir Menjauhkan pintu dan jendeal dari sumber kebisingan Membuat penghalang berupa gundukan tanah/ pagar / dinding Melakukan penataan kembali ruangan belajar, letakan pada daerah yang seminim mungkin kebisingannya Perencanaan dinding terbuat dari kaca dan sisanya bahan massif untuk mereduksi kebisingan Membuat penghalang seperti dinding, pohon, di tepi jalan.

Maka kami merekomendasikan kepada guru dan pengelola sekolah untuk i. Membuat penghalang pada media penghantar dengan pilihan menggunakan pepohonan yang ditanam di tepi jalan , atau membuat dinding , pagar. ii. Melakukan penataan kembali ruangan belajar, letakan pada daerah yang seminim mungkin kebisingannya, semakin jauh dari sumber. iii. Menjauhkan pintu dan jendela dari sumber kebisingan.

iv. Membuat tanda lalu lintas yaitu dilarang membunyikan klakson. v. Membuat polisi tidur.

5.

a. Persyaratan pengolahan makanan menurut HACCP (Hazard Analysis Critical Control Point) : Pengolahan makanan dilakukan dengan cara terlindung dari kontak langsung dengan tubuh, yaitu dengan menggunakan sarung tangan plastik, penjepit makanan, sendok, garpu, dll. Pengelola makanan juga harus menggunakan celemek, tutup kepala, dan sandal dapur. Sebelum bekerja para peerja yang mengolah makanan juga harus mencuci tangan. Semua penjamah makanan harus sehat, pekerja yang sakit (demam, muntah, diare, batuk, luka, pengeluaran sekret dari telinga, mata, dan hidung) harus diliburkan atau dipindahkan ke bagian lain untuk sementara waktu sampai kondisinya sehat kembali. Karena makanan dapat tercemar oleh darah yang berasal dari luka atau droplet akibat bersin atau batuk.

Dampak makanan yang berasal dari isteri penjaga sekolah yang sering demam dan sakit perut, dan makanan yang berasal dari tetangga: Berdasarkan peraturan di atas, istri penjaga sekolah yang sering sakit-sakitan tidak layak untuk memasak dan mengelola masakan di kantin karena sering sakit, terutama demam dan sakit perut. Apabila istri penjaga sekolah batuk, bersin ataupun luka, maka kemungkinan besar penyakit yang dideritanya akan ditularkan melalui makanan yang di beli oleh para siswa yang jajan di kantin Sumber air yang digunakan oleh istri penjaga sekolah dan tetangganya untuk membuat makanan yang dijual di kantin berasal dari rawa yang tercemar dan sungai ogan yang kebersihannya belum diketahui. Di dalam sumber air yang tercemar terdapat berbagai macam bakteri penyebab penyakit, sehingga apabila digunakan untuk memasak

makanan akan menimbulkan resiko tejadinya penyakit menular (food borne diseases) seperti diare dan tifoid.

b. Solusi masalah ini: Memeriksa keadaan makanan yang dijual di kantin. Jika terdapat vector, analisis asal vector tersebut Jika vector berasal dari sumber air yang digunakan maka sumber air tersebut harus diganti

6.

a. Dampak sampah padat dan sampah rumah tangga yang dibuang ke tempat terbuka yang mengundang bau dan lalat: i. Sebagai tempat berkembang biak vector penyakit Penyakit saluran pencernaan (diare, kolera, tifus ) ditularkan oleh lalat Penyakit demam berdarah oleh Aedes Aegipty Penyakit kulit melalui penyebaran oleh udara ii. Pengaruh terhadap lingkungan Estetika lingkungan menjadi kurang sedap dipandang. Proses pembusukan menghasilkan gas berbau busuk. Adanya debu yang berterbangan mengganggu mata dan pernapasan. Pembuangan sampah ke saluran air akan menyebabkan pendangkalan saluran air sehingga mudah terjadi banjir.

b. Solusinya: Menyediakan tempat pembuangan sampah yang tertutup, agar tidak menyebabkan bau dan mengundang lalat sebagai vektor penyakit. Sampah dibuang sehari sekali ke tempat pembuangan akhir.

c. Cara pengelolaan sampah dan limbah yang baik: Ditinjau dari segi teknik operasional, pengelolaan sampah meliputi kegiatan pewadahan sampai dengan pembuangan akhir. Perasional bersifat integral dan terpadu, karena setiap proses tidak dapat berdiri sendiri melainkan saling mempengaruhi. Di dalam pengelolaan sampah harus diperhitungkan tenaga, alat-alat dan biaya. Pengelolaan sampah ini sangat penting untuk keberhasilan program

penanggulangan sampah pada suatu daerah. Menurut SK SNI T-131990-F, tata cara pengelolaan teknik sampah perkotaan meliputi dasar-dasar perencanaan untuk kegiatan-kegiatan pewadahan sampah, pengelolaan sampah dan pembuangan akhir sampah. Teknik pengelolaan persampahan secara operasional dapat dilihat pada skema di bawah ini :

Pengertian dari skema teknik operasional pengelolaan persampahan menurut SK SNI T-13 1990 F adalah: i. Timbunan sampah yaitu banyaknya sampah yang dihasilkan per orang per hari dalam satuan volume maupun berat. ii. Pewadahan sampah yaitu cara penampungan sampah sementara di sumbernya baik individual maupun komunal.

iii. Pengumpulan sampah yaitu proses penanganan sampah dengan cara pengumpulan dari masing-masing sumber sampah untuk diangkut ke tempat pembuangan sementara atau langsung ke tempat pembuangan akhir tanpa melalui proses pemindahan. iv. Pemindahan sampah adalah tahap pemindahan sampah hasil pengumpulan ke dalam alat pengangkutan untuk dibawa ke tempat pembuangan akhir. v. Pengangkutan sampah yaitu tahap membawa sampah dari lokasi pemindahan atau langsung dari sumber sampah ke tempat pembuangan akhir. vi. Pengolahan sampah yaitu suatu upaya untuk mengurangi volume sampah atau merubah bentuk menjadi yang bermanfaat, antara lain dengan cara pembakaran, pengomposan, pemadatan, penghancuran, pengeringan dan pendaurulangan. vii. Pembuangan akhir sampah yaitu merupakan tempat untuk mengkarantinakan (menyingkirkan) sampah kota sehingga aman.

Persyaratan umum lokasi pembuangan akhir menurut SK SNI T-131990-F adalah sebagai berikut: i. Sudah tercakup dalam perencanaan tata ruang kota dan daerah ii. Jenis tanah kedap air iii. Daerah yang tidak produktif untuk pertanian iv. Dapat dipakai minimal 5-10 tahun v. Tidak membahayakan atau mencemarkan sumber air vi. Jarak dari daerah pusat pelayanan 10 km vii. Daerah yang bebas banjir

Pengolahan Sampah Padat Yang dimaksud dengan pengolahan sampah adalah suatu upaya yang sering dilakukan dalam sistem manajemen persampahan dengan tujuan untuk:

i. Untuk meringankan beban pengolahan sampah di perkotaan dengan melakukan pengurangan volume sampah sehingga dapat meningkatkan efisiensi pemakaian tempat pembuangan akhir sampah dan mengurangi biaya pengankutan sampah. ii. Meningkatkan kualitas lingkungan dan menyelamatkan sumber daya alam terutama sumber air dan tanah. iii. Pemanfaatan kembali benda-benda yang tidak berguna dan pemanfaatan energi.

Pengolahan Pendahuluan Pada prinsipnya menyiapkan bahan masukan sampah padat yang akan diolah, sehingga seusai dengan karakteristik dengan teknologi pengolahannya, meliputi pemisahan sampah padat dan pengecilan ukuran sampah padat. i. Pemisahan Memisahkan beberapa komponen dari sampah yang sesuai dengan karakteristik yang dikehendaki, maka bahan-bahan yang terpakai dan tidak terpakai akan terpisah sehingga efektifitas dan efisiensi. Teknik yang dapat digunakan dari yang sederhana (hand sorting), screening, magnetik hingga secara elektronik.

ii. Pengecilan ukuran Memperkecil ukuran sampah sehingga menjadi efisien dalam pengolahan secara pembakaran dan pengkomposan. Alat yang digunakan umumnya penggiling godam (hammermill), pencacah (shredder), gerinda (grinder), pemipis (pulverizer).

Pengolahan sampah Untuk membuang dan memusnahkan sampah agar tidak menumpuk dan berceceran di berbagai tempat yang akan menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan sebenarnya, meliputi:

i. Penumpukan (dumping) Merupakan metode paling sederhana dan sering dipakai di negara berkembang. Biasanya dimanfaatkan untuk menutup lekukan tanah, rawa, jurang. Sampah hanya dibuang dan ditumpuk tanpa lapisan penutupan. Ada dua macam yaitu open dumping (penumpukan terbuka) dan sea dumping (penumpukan di laut). Metode ini banyak menimbulkan masalah pencemaran.

ii. Pengkomposan (composting) Cara pemusnahan sampah dengan jalan memanfaatkan proses dekomposisi zat organik oleh mikroorganisme pembusuk, pada kondisi tertentu dalam waktu tertentu yang pada akhirnya menghasilkan bahan berupa kompos/pupuk. Pemusnahan sampah dengan cara ini sangat cocok untuk secara sampah organik. yaitu

Pengkomposan

dapat

dilakukan

tradisional

penumpukan sampah dilakukan begitu saja di lahan berlubang tanpa dilakukan sortrasi terlebih dahulu, sehingga sampah organik meupun non organik tercampur semua. Dan secara modern yang dikenal sebagai Windrow Composting, dengan cara melakukan sortasi, sehingga pengkomposan hanya akan dilakukan terhadap sampah organik saja. Beberapa tindakan intervensi dilakukan terhadap sampah yang ditumpuk sesuai dengan prinsip pembuatan kompos, yaitu kandungan air yang merata pada seluruh bagian sampah, kandungan oksigen yang cukup, dan tidak terdapat genangan air.

iii. Pembakaran (inceneration) Yaitu pemusnahan sampah dengan jalan membakar sampah dalam suatu tungku pembakaran. Metode ini hanya berlaku untuk sampah padat yang dapat dibakar, dengan alat pembakaran yang disebut insenerator. Insenerator beroperasi pada suhu 1500-1800F dan

dapat

mengurangi

volume

sampah

padat

hingga

70%.

Dibandingkan dengan metode lain, insenerator memiliki kelebihan dan kekurangan sebagai berikut:

Kelebihan: Membutuhkan lahan relatif kecil untuk kapasitas yang cukup besar. Pengolahan sampah dapat dilakukan terus menerus tanpa tergantung pada kondisi iklim dan cuaca. Panas yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi. Kekurangan: Membutuhkan investasi yang lebih mahal. Biaya pemeliharaan yang tinggi. Hasil pembakaran berupa residu yang harus dibuang dan gas yang berpotensi mencemari udara.

Teknologi Pembuangan Akhir Sampah Sejalan dengan perkembangan sistem pengolahan persampahan, teknologi pembuangan akhir sampah juga dimulai dari yang paling sederhana sampai dengan yang lebih maju.

i. Penimbunan terbuka (open dumping) Metode open dumping merupakan sistem yang dilakukan dengan cara sampah dibuang begitu saja di tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan dibiarkan terbuka sampai pada suatu saat TPA penuh dan pembuangan sampah dipindahkan ke lokasi lain atau TPA baru. Untuk efisiensi pemakaian lahan, biasanya dilakukan kegiatan peralatan sampah dengan menggunakan buldozer atau peralatan dapat juga dilakukan dengan tenaga manusia.

Keuntungan dari penimbunan terbuka (open dumping) yaitu operasional sangat mudah dan biaya investasi serta perawatan TPA relatif murah. Kerugian dari penimbunan terbuka yaitu timbul pencemaran udara oleh gas, debu, dan bau, cepat terjadi proses timbulnya lindi, sehingga menimbulkan pencemaran air tanah, sangat mendorong tumbuhnya sarang-sarang vektor penyakit (tikus, kecoa, lalat dan nyamuk), mengurangi estetika lingkungan. Sebaiknya secara bertahap sistem open dumping ditinggalkan.

ii.

Penimbunan terkendali (controlled landfill)

Controlled landfill adalah sistem open dumping yang diperbaiki dan ditingkatkan yang merupakan peralihan antara teknik open dumping dan sanitary landfill. Pada cara ini penutupan dengan tanah tidak dilakukan setiap hari tetapi dengan periode waktu yang lebih panjang. Dan untuk memperkecil pengaruh yang merugikan terhadap lingkungan. Keuntungan dari sistem controlled landfill yaitu dampak negatif terhadap estetika lingkungan sekitar dapat dikurangi dan kecil pengaruhnya terhadap estetika lingkungan dan alam. Kerugian dari sistem controlled landfill yaitu operasi relatif lebih sulit dibandingkan sistem open dumping, biaya investasi relatif lebih besar dari pada sistem open dumping dan biaya operasi serta perawatan relatif lebih tinggi dari pada sistem open dumping.

iii. Lahan Urug Sanitary (Sanitary Landfill)

Sanitary Landfill adalah pembuangan akhir sampah yang dilakukan dengan cara sampah ditimbun dan dipadatkan, kemudian ditutup dengan tanah sebagai lapisan penutup. Hal ini dilakukan terus menerus secara berlapis-lapis sesuai rencana yang ditetapkan.

Pekarjaan pelapisan sampah dengan tanah penutup dilakukan setiap hari pada akhir jam operasi, diperlukan persediaan tanah yang cukup untuk menutup timbunan sampah. Keuntungan dari sistem sanitary landfill yaitu pengaruh timbunan sampah terhadap lingkungan sekitarnya relatif kecil dibandingkan sistem controlled landfill, sanitary landfill bisa menerima segala bentuk sampah organik dan anorganik. Kerugian dari sistem sanitary landfill yaitu operasional lebih rumit dibandingkan sistem controlled landfill, landfill yang telah disempurnakan akan tetap dan perlu pemeliharaan yang periodik, metana suatu gas yang dihasilkan dari proses dekomposisi akan berbahaya. Ada beberapa metode sanitary landfill yaitu: Metode area yaitu metode dimana sampah dibuang di atas tanah rendah, rawa-rawa, atau lereng bukit dan kemudian ditutup dengan tanah penutup. Metode Tranch (galian parit) yaitu metode dimana sampah dibuang di galian parit memanjang dan ditimbun oleh hasil galian, setelah itu digali parit kembali di sebelahnya. Metode Ramp/Slope yaitu gabungan dari dua metode di atas, prinsipnya penutupan lapisan tanah dilakukan setiap hari setebal 15 cm (sesudah dipadatkan). Beberapa hal yang perlu diperhatikan dlaam mengguankan metode ini: Penyediaan dan pemilihan jarak dari lokasi pembuangan, harus

diperhitungkan

pemukiman,

kemungkinan

pengembangan perkotaan, kemampuan kapasitas, mudahnya dijangkau kendaraan, jarak dari sumber air minum. Aspek sosial: dukungan dan partisipasi masyarakat di sekitar lokasi.

Perencanaan kapasitas untuk

mengetahui luas areal

yang

diperlukan, besar kapasitas per tahun, dan umur lokasi yang digunakan. Pengaruh terhadap air tanah atau air permukaan. Jarak lubang pembuangan diharapkan lebih dari 200 kaki dari tepi air permukaan. Penutupan sampah: tebal penutupan sampah harus lebih dari enam inci untuk penutupan harian dan dua kaki untuk penutupan akhir. Perlindungan terhadap api: perlinddungan terhadap bahaya kebakaran perlu dilakukan karena banyaknya sampah yang berpotensi menimbulkan kebakaran.

Ketenagaan dan organisasi Untuk pengelolaan sampah dibutuhkan sejumlah tenaga. Jumlah dan kualitas tenaga tergantung besar kecilnya permasalahn sampah yang akan dikelola. Sebagai contoh struktur organisasi di wilayah DKI Jakarta.

Peralatan Alat yang dibutuhkan antara lain sapu, pengki, cangkul, skop, truk pemadat, crane hopper, dragline tractor, bulldozer, alat pelindung

diri seperti topi, masker, tutup telinga, pakaian kerja, sarung tangan, sepatu, kacamata bila perlu. Alat tambahan seperti pemadam kebakaran, P3K serta pengawasan serangga dan pengontrolan bau, termasuk alat-alat kantor dan tulis menulis. Biaya Alokasi biaya pada pengelolaan sampah meliputi: Honor petugas Pembelian alat-alat Biaya operasi bahan bakar dan pemeliharaan alat-alat Pembelian tanah untuk lokasi kantor, tempat penampungan sementara serta TPA Biaya lain seperti listrik, air, telepon, dan lainnya.

Untuk anak-anak sekolah diajarkan untuk memisahkan sampah organik dan anorganik

7. Rekomendasi langkah penting untuk pihak Puskesmas, Dinkes, dan Pemda setempat: a. Konstruksi bangunan Dokter puskesmas hendaknya dapat menjelaskan dan meyakinkan para pihak Pemda OI mengenai penggantian dari pemakaian asbes sebagai atap bangunan SMP yang dinilai sangat tidak baik bagi kesehatan.

b.

Sanitasi air Rawa-rawa dengan air yang tergenang dapat menyebabkan perkembangbiakan dari berbagai vektor penyakit terutama jentik nyamuk malaria dan DBD, sehingga dokter puskesma harus dapat menjelaskan keadaan ini kepada pihak pemda dan dinas kesehatan OI agar dilakukan kontrol vektor dengan fogging dan penyuluhan

kesehatan 3M+ kepada warga Desa Tanjung Sejaro sehingga dapat berperan aktif dalam mengatasi penyakit-penyakit tersebut.

c.

Sanitasi udara Dokter puskesmas harus dapat melakukan penyuluhan yang baik kepada masyarakat agar ikut aktif dalam mencegah kebakaran hutan di musim kemarau karena bahaya dari asap yang ditimbulkan cukup banyak, terutama gangguan dalam jarak pandang dan meningkatnya insiden ISPA pada warga Desa Tanjung Sejaro untuk beberapa periode terakhir. Debu yang bertebaran di SMP Tanjung Sejaro bisa disebabkan oleh pemakaian atap asbes dan debu-debu yang berasal dari jalan raya, sehingga hal ini juga butuh perhatian yang baik untuk mengatasi permasalahan ISPA pada para siswa SMP tersebut.

d.

Polusi suara Dokter puskesmas dapat merencanakan pemasangan spanduk dan rambu-rambu yang menghimbau agar kendaraan tidak

membunyikan klakson saat melintasi SMP Desa Tanjung Sejaro agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan lancar.

e.

Sanitasi makanan Dokter puskesmas hendaknya memberi penyuluhan bagi masyarakat Desa Tanjung Sejaro terutama di sekitar SMP untuk menjaga kebersihan makanan yang disajikan agar dapat terhindar dari penyakit-penyakit seperti diare serta penyakit gigi dan mulut. Pemasak dan penyaji makanan harus terhindar dari penyakitpenyakit menular terutama lewat makanan seperti diare, hepatitis A, dan tifus serta dapat menerapkan pola hidup bersih dengan baik dalam menjajakan makanan yang dijualnya.

Makanan yang dijual harus dimasak dengan benar dan menggunakan air yang bersih. Titipan makanan dari tetangga yang dijual di kantin SMP Tanjung Sejaro seharusnya tidak diperbolehkan karea tingkat kebersihannya meragukan atau paling tidak harus terlebih dahulu diseleksi makanan tersebut mengenai kebersihannya.

Penyajian makanan juga perlu dengan perlindungan terhadap kebersihan yang memadai (misalnya dengan pemasangan tudung saji agar terhindar dari hinggapan lalat)

f.

Sistem pengolahan limbah Dokter puskesmas seyogyanya bisa menjelaskan pada Dinas Kesehatan untuk melakukan program promosi kesehatan pembuatan septic tank yang layak dan tempat pembuangan sampah sementara yang mempunyai penutup sehingga gangguan kesehatan seperti diare dan penyakit kulit dapat dikurangi angka kejadiannya.

8. Rekomendasi beberapa pelatihan untuk para guru dan pengelola sekolah untuk meningkatkan higienitas: a. Pelatihan dalam bentuk penyuluhan mengenai pengenalan

gangguan kesehatan Desa Tanjung Sejaro b. Pelatihan pola hidup dan sehat di lingkungan sekolah c. Pelatihan untuk melakukan promosi kesehatan secara mandiri di lingkungan sekolah dan rumah d. Pelatihan untuk berperan aktif dalam pengontrolan taraf kebersihan makanan, udara, air, dan limbah di Desa Tanjung Sejaro.

9. Inventarisasi peraturan perundangan yang terkait a. Kualitas sumber air

WHO menerbitkan Petunjuk ttg. Kualitas Air Minum. Pemerintah RI berdasarkan itu menetapkan Baku Mutu Air minum dalam Permenkes 907/2002. b. Baku Mutu Lingkungan Udara Ambien, PP 41/1999 c. Peraturan perundangan sanitasi makanan

Kepmenkes : 715/Menkes/SK/V/2003 tentang Persaratan Higiene Sanitasi Jasaboga.

Kepmen 715/03, membatalkan keputusan sebelumnya., yakni Permen 712/86 dan Permen 362/98.

Kepmen 715/03 mengatur: i. ii. iii. iv. v. vi. Ketentuan umum Penggolongan Laik Higiene Sanitasi Persaratan Higiene Sanitasi Pembinaan Pengawasan Sanksi