Anda di halaman 1dari 6

Tugas Ekologi Laut Tropis

Disusun oleh: Gusti Arohman (230210100019) Desta Tansya H (230210100028) R. Elsa Nurmandhini (230210100029) M.S. Ridho (230210100042) Ayu Rahayu (2302100900054)

PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2012

1. Daur energi di padang mangrove!

Sumber energinya yaitu matahari, dan yang memanfaatkan sumber energy tersebut tidak hanya tanaman mangrove saja, akan tetapi fitoplankton yang ada akan memanfaatkannya dalam proses Fotosintesis yang akan mengahisilkan Oksigen dan Energi yang kemudian akan dimanfaatkan untuk mahluk hidup lainnya. Bagi crustacean dan mollusca serta hewan akuatik lainnya akan lebih memanfaatkan fitoplankton ini sebagai sumber gizi bagi tubuhnya karena untuk mendapat nutrient yang baik dari penguraian detritus . Untuk ikan-ikan besar dan burung-burung pemakan ikan kecil akan memakan ikan-ikan kecil , setelah hewan-hewan mati maka akan diuraikan oleh pengurai dan dihasilkan detritus yang akan dimanfaatkan fitoplankton sebagai sumber energinya. 2. Apa yang terjadi apabila Mangrove melewati titik minimum/maksimum? Proses kehidupan dan kegiatan makhluk hidup pada dasarnya akan dipengaruhi dan mempengaruhi faktor-faktor lingkungan. Faktor lingkungan

sebagai faktor ekologi dapat di analisis menurut bermacam-macam faktor. Satu

atau lebih dari faktor-faktor yang mempengaruhi dapat dikatakan penting jika dapat mempengaruhi atau dibutuhkan, bila terdapat taraf minimum, maksimum atau optimum menurut batas-batas toleransinya. Faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh antara lain cahaya, suhu, atau nutrien dll. Pada dasarnya secara alami kehidupannya dibatasi oleh jumlah dan variabilitas. Faktor lain yang mempengaruhi kondisi fisik mangrove yaitu gerakan air yang minimal. Gerakan yang lambat menyebabkan partikel sedimen yang halus cenderung mengendap dan berkumpul di dasar. Hasilnya berupa kumpulan lumpur, jadi substrat pada rawa bakau biasanya lumpur. Hal ini menyebabkan terjadi sirkulasi intersitial yang minimal dan jumlah bakteri yang banyak, menimbulkan kondisi anoksik. Hal ini menerangkan mengapa mangrove mempunyai akar yang dangkal dan atau pneumatofor.S Peranan penting seperti ini tentunya menjadikan ekosistem mangrove adalah sebagai tempat pemijahan (nursery ground), tempat mencari (feeding ground), dan tempat perlindungan (shelter) beberapa organisme perairan, satwa liar, primata, serangga, burung, reptil dan amphibi (Nontji, 1993). Jika mangrove melewati batas minimum atau maksimal akan mempengaruhi peranan bagi mahluk hidup lainnya seperti ekosistem di daerah hutan mangrove tidak seimbang, karena mangrove itu harus hidup sesuai dengan kemampuannya agar dapat memberikan manfaat kepada biota biota yang hidup di sekitarnya

3. Apa yang terjadi jika perubahannya lambat? Pada mangrove yang masih muda atau masih kecil akan mencoba beradaptasi pada lingkungan yang berubah karena perubahan yang lambat, sehingga mangrove yang muda bisa beradaptasi dan mungkin akan terjadi perubahan pada makhluk hidup tersebut. Mangrove yang muda akan berbeda sifat dari induknya karena telah beradaptasi pada lingkungannya. Setiap perubahan yang mengganggu keseimbangan daur hidup

mangrove akan menimbulkan perubahan berantai dalam komunitas mangal (hutan bakau). Jika perubahan tersebut lambat, maka akan terdapat perubahan setahap demi setahap atau suksesi.

4. Apa yang terjadi jika mangrove mempunyai relung yang sama? Bila makhluk hidup mempunyai relung yang sama, atau hidup di suatu relung yang sama, yang terjadi adalah adanya sebuah kompetisi antara sesama makhluk hidup untuk berjuang hidup. Kompetisi dalam memperjuangkan hidupnya baik saat mencari makanan, tempat tinggal dan melangsungkan keturunanya. Akhirnya lama kelamaan terjadilah seleksi alam yang akan mengeleminasi makhluk hidup yang tidak bisa berkompetisi untuk melanjutkan hidupnya. Dan hanya akan menyisakan makhluk hidup yang bisa beradaptasi dan bertahan dalam kompetisi selanjutnya dengan makhluk hidup yang lain.

5. Jelaskan tentang adaptasi fisiologi, morfologi dan kultural! Adaptasi fisiologi merupakan proses penyesuaian diri makhluk hidup terhadap lingkungan sekitarnya yang memperhatikan perubahan sistem metabolisme dalam tubuhnya.Mangrove sebagai kelompok khusus dari halofita mempunyai kapasistas menahan air yang tinggi dari substrat yang bergaram. Mangrove juga dapat mempertahankan keseimbangan air yang baik karena adanya mekanisme pengaturan yang beragam, seperti perilaku stomata, penyesuaian osmotic, tingkat kesekulenan, dan pengeluaran garam (Tomlinson, 1986, Sukardjo, 1996). Scholander et al. (1962) dalam Tomlinson (1986) dan Walter (1971) dalam Kristijono (1977) menyatakan bahwa pada umumnya transpirasi jenis-jenis mangrove adalah rendah, sedangkan akarnya terusmenerus mengabsorbsi air garam. Hal ini menyebabkan terjadinya akumulasi garam pada daun. Untuk mengatasi hal ini beberapa jenis mangrove mempunyai kelenjar pengeluaran garam (excretion gland) pada daunnya, sedangkan bagi jenis mangrove yang tidak memiliki kelenjar pengeluaran garam dilakukan dengan cara mengalirkan garam tersebut ke daun-daun muda yang baru terbentuk. Pada dasarnya akar mangrove, seperti halnya akar tumbuhan tingkat tinggi lainnya, berperan selektif dalam menyeleksi ion-ion yang diserap dan ditransportasikan ke xylem. Berdasarkan pengukuran komposisi cairan xilem mangrove tampak bahwa mangrove dapat mengeluarkan 80-90% garam NaCl dari larutan sekitar akarnya (Atkinson etal., 1967). Menurut Scholader (1969) dalam Sukardjo (1996) pengeluaran ion Na+ dan Cl- dan ion lainnya merupakan proses pasif dari mangrove. Berdasarkan berbagai bukti bahwa pengambilan

NaCl terutama terjadi melalui apoplas (apoplastic pathway) pada akar mangrove dan perbedaan kapasitas dalam pengeluaran garam di antara jenis mangrove mungkin terjadi karena perbedaan dari garis-garis kaspari (casparin strip) di endodermis akar (Cluoghetal., 1982). Sejumlah mangrove seperti Avicennia spp., Aegiceras spp., Aegialittis spp., Acanthus spp., Leguncularis spp., dan Sonneratia spp. Mempunyai kelenjar sekresi garam. Kelenjar tersebut

mensekresikan garam NaCl melalui proses yang aktif (Atkinson etal., 1967) Adaptasi morfologi merupakan proses penyesuaian diri makhluk hidup yang memperlihatkan perubahan bentuk dan struktur tubuh. Beberapa adaptasi morfologi yang dilakukan spesies mangrove untuk mengkonservasi air adalah : a. Epidermis berdinding tebal, Penutupan permukaan daun bagian atas dengan kutikula berlilin tebal untuk mengurangi evaporasi, dan mungkin lebih bermanfaat di wilayah yang lebih kering. Pada spesies yang memiliki kelenjar sekresi garam, strutur ini, ditutupi oleh rambut seperti yang terdapat pada Avicennia marina. b. Stomata terspesialisasi, Stomata berfungsi sebagai pengendali penguapan air, sehingga kehilangan air bisa dikendalikan langsung oleh penutupan stomata (selain berfungsi untuk pertukaran gas) Stomata ini terdapat pada bagian bawah permukaan daun. c. Sukulensi, daun berdaging tebal adaptasi morfologi ini akibat mekanisme penyimpanan air yang sangat penting terlihat pada jenis Rhizipora mucronata, R. apiculata yang merupakan respon langsung bagi kehadiran ion Cl-. Proses adaptasi kultural terhadap lingkungan sebagai suatu bentuk hubungan dialektik interplay (saling mempengaruhi), yakni hubungan saling ketergantungan satu dengan yang lainnya. Lingkungan berperan penting dalam kreativitas perilaku budaya. Masyarakat memiliki cara pandang sendiri mengenai lingkungan sekitarnya.Umumnya ekologi kultural cenderung menekankan teknologi dan ilmu ekonomi dalam analisis mereka terhadap adaptasi budaya, karena dalam segi-segi budaya itulah kelihatan jelas perbedaan di antara budaya-budaya di samping perbedaan dari waktu ke waktu di dalam suatu budaya. Berbeda dengan ekologi umum, ekologi budaya tidak sekedar membicarakan interaksi bentuk-bentuk kehidupan dalam suatu ekosistem

tertentu,

melainkan

membahas

cara

manusia

(berkat

budaya

sebagai

sarananya) memanipulasi dan membentuk ekologi sistem itu sendiri. Secara kultural, kehidupan masyarakat dapat mempengaruhi keberadaan tumbuhan mangrove di suatu lokasi. Masyarakat pantai utara yang

mengembangkan pertambakan dan pertanian, serta masyarakat pantai selatan yang mengembangkan pertanian, tentunya memiliki persepsi berbeda terhadap ekosistem mangrove dibandingkan dengan masyarakat Kampung Laut di Segara Anakan, yang secara subsisten menggantungkan mata pencahariannya pada ekosistem mangrove. Masyarakat petani dan petambak umumnya cenderung mengkonversi ekosistem mangrove, sedangkan masyarakat

Kampung Laut cenderung mempertahankan eksistensi eksositem ini.Sehingga jumlah spesies mangrove di Segara Anakan lebih tinggi dari tempat-tempat lain, kecuali Wulan, suatu kawasan akresi mangrove yang sedang bertumbuh. Kebutuhan masyarakat terhadap spesies tertentu juga dapat mempengaruhi keberadaannya, seperti kebutuhan terhadap N. Fruticans.