Anda di halaman 1dari 31

Masih dalam suasana Tahun Baru Imlek nih.

Saya ucapkan Gong Xi Fa Cai Semoga kesehatan dan kemakmuran melimpahi kita semua. Saya lagi ngerayain Tahun Baru Imlek bersama Jet Li niihh ;-p

Langsung saja, ini tulisan lama sebenarnya, tapi baru sempat saya postingkan. Kali ini mengenai asal-usil wayang potehi. Apa dan bagaimana wayang potehi, selamat menyimak. Kalau Sunda punya Si Cepot, maka orang Tionghoa memiliki Wayang Potehi. Kabarnya wayang Potehi tercipta oleh lima orang terpidana mati yang menghibur diri menjelang eksekusi mereka. Bukan saja sebagai media hiburan, wayang Potehi juga unik dan memiliki nilai seni tinggi. Wayang Potehi di Indonesia juga masih terus berkembang hingga kini, khususnya semenjak kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid (alm). Asal Usul Wayang Potehi Lima terpidana mati asal Tiongkok disebut-sebut sebagai orang-orang yang memainkan Wayang Potehi pertama kalinya. Ceritanya bermula saat kelima terpidana mati ini sedang meratapi nasib mereka yang divonis hukuman mati. setelah beberapa saat mereka bersedih, lantas mereka berpikir untuk apa kita bersedih? toh kita akan mati, lebih baik kita bersenang-senang dan menghibur diri sebelum kita dieksekusi. Salah satu dari mereka mendapat ide cemerlang untuk membuat wayang yang terbuat dari kayu (Hie), kain (Poo) serta kantung (Tay). Setelah wayang itu tercipta, mereka mengumpulkan alat musik yang berasal dari peralatan dapur seperti piring, panci dan wajan yang berfungsi sebagai tetabuhan pengiring wayang. Setelah semuanya siap, mereka-pun memainkan wayang tersebut dengan penuh penjiwaan. Tak disangka, Kaisar mendengar permainan mereka dan mencari asal suara-suara tersebut. Setelah Kaisar yang terpesona dengan permainan tersebut menemukan mereka, hukuman mereka-pun akhirnya dibebaskan. Mulai dari saat itulah Wayang Potehi berkembang hingga sekarang.

foto:akiasik.blogspot.com

Wayang Potehi di Tanah Air Rupanya, kita harus berterimakasih kepada almarhum Presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid karena perkembangan dan keberadan etnis serta budaya Tionghoa di tanah air dapat bernapas lega pada masa pemerintahannya. Kesenian Tionghoa seperti Barongsai, dan Wayang Potehi mendapat udara segar, komunitas Wayang Golek versi Tionghoa ini juga berkembang dengan pesat. Masyarakat Jawa Timur ternyata masih menaruh perhatian yang cukup besar pada Wayang Potehi. Selain itu, ada komunitas di daerah lain seperti di Jakarta, Semarang dan Sumatera. Wayang Potehi juga merupakan salah satu bagian dari ritual pemujaan pada dewa. Pementasan ini dilakukan dengan tujuan agar proses ritual pemujaan menjadi lebih sakral. Dalang Wayang Potehi Seperti halnya pada wayang lainnya, Wayang Potehi juga memerlukan dalang. Mereka memainkan wayang yang memiliki ciri khas seperti pada negara asalnya. Pakaian tradisional, hiasan, dandanan dan wajah yang disesuaikan menyerupai kebanyakan orang Cina. Bahasa yang digunakan juga harus ke-Cina-cinaan, maksudnya walaupun menggunakan bahasa Indonesia tapi sang dalang haris memainkan alur cerita Wayang potehi dengan dialeg Tionghoa.

foto:ahasim.blogspot.com

Biasanya dalang Wayang Potehi dibantu dengan beberapa orang asisten, dan beberapa pemusik (Lo Tay) yang biasanya berjumlah empat orang. Asisten dalang sangat dibutuhkan, apalagi bila ada skenario yang menampilkan empat karakter sekaligus. Alur pementasan Wayang Potehi tidak serumit Wayang Kulit dan Wayang Golek. Sebagai pembukaan, Lo Tay menyuguhkan permainan apik mereka selama kurang lebih setengah jam sebelum masuk ke

alur cerita. Biasanya Lo Tay memainkan lagu-lagu tradisional Cina, tapi seiring perkembangan zaman, mereka juga sering memainkan lagu Cina modern. Sebelum masuk ke babak cerita, sang dalang akan melakukan Kwan, yaitu ritual khas Cina. Ritual Kwan menggambarkan adegan para dewa yang sedang bersembahyang di Klenteng. Setelah ritual selesai, dalang akan melanjutkan dengan cerita utama. Pada akhir pertunjukkan, dalang Potehi akan mengeluarkan dua boneka laki-laki dan perempuan berbusana merah, untuk melambangkan kegembiraan dan penghormatan terhadap dewa. Pementasan Potehi Tema cerita Wayang Potehi biasanya dipengaruhi oleh tempat pementasan. Bila wayang dipentaskan di Klenteng, biasanya mengambil tema cerita asli Tiongkok, seperti Legenda Dinasti Tong, Dinasti Song, atau Dinasti Ming. Tetapi bila Wayang Potehi dipentaskan di hadapan penonton atau di luar Klenteng untuk acara hajatan atau acara lainnya, biasanya mengambil cerita populer, seperti Kera Sakti (Sun Go Kong), Sam Pek Eng Tay, Si Jin Kui, Pendekar Gunung Liang Siang.

Salah satu tokoh unik dalam Wayang Potehi adalah tokoh Kwan Kong. Dewa Perang ini memiliki asesoris senjata berupa golok. Tokoh yang satu ini memiliki keunikan karena daya mistis tersendiri. Ada cerita yang mengatakan bahwa tangan si pengrajin selalu terluka saat membuat tokoh ini. Untuk itu, jika akan selamat dalam pembuatan tokoh Kwan Kong maka si pengrajin harus melakukan ritual khusus terlebih dahulu. Pementasan Wayang Potehi biasanya dilakukan secara serial. Karena jika memainkan cerita secara keseluruhan tidak cukup dalam waktu sehari, bahkan ada cerita yang memerlukan waktu pementasan selama tiga bulan untuk menamatkannya. Pementasan Potehi biasanya sering digelar pada bulan ketiga (Sagwee) hingga bulan sepuluh. Hal tersebut disebabkan karena pada bulan-bulan tersebut banyak Klenteng yang merayakan ulang tahun. Biasanya, pengurus Klenteng lebih dahulu mendaftar jumlah umat yang ingin menanggap Wayang Potehi untuk selamatan, kemudian pihak pementas akan bermain sesuai jumlah pendaftar tersebut. Satu lakon Wayang Potehi biasanya dihabiskan dalam waktu tiga hingga empat hari. Untuk sekali pementasan biasanya pementas Wayang Potehi memasang tarif sekitar 6 8 juta rupiah, namun tarif tersebut bervariasi, tergantung dari kesepakatan antara si pemilik acara dengan pemimpin rombongan Wayang Potehi.(ez)yang-ini.blogspot.com

Wayang potehi Kesenian ini mirip wayang golek (wayang kayu), namun cerita yang ditampilkan berasal dari legenda rakyat tiongkok, seperti Sampek Engthay, Sih Djienkoei, Capsha Thaypoo, Sungokong, dll

Budaya Cina Peranakan Banyak budaya, aksen maupun produk tionghoa yang bukan berasal dari negeri cina daratan, namun merupakan produk setempat yang dinamai istilah cina. Kalau di Malaysia, kita kenal ikan Louhan yang bukan dari Cina, tapi "penemuan" peternak ikan China dari Malaysia, di Indonesia kita mengenal "lontong capgomeh" yang tidak ada di negeri cina, maupun wingko babat yang berasal dari kota Babat di Jawa Timur. Budaya blasteran Cina-Indonesia Tak hanya etnik saja yang sudah berasimilasi, aspek lain juga ikut berasimilasi: Makanan Contoh: Lunpia semarang, isi utamanya adalah irisan kulit rebung sedangkan lunpia yang dari China isi utamanya mihun.

Wayang Potehi

Wayang Potehi atau Wayang Titi adalah wayang khas budaya Tionghoa yang dulu pernah sangat populer di berbagai kota di Indonesia. Kata Potehi berasal dari dialek Hokkian, yaitu poo, tay dan hie atau dalam bahasa Mandarin berasal dari kata bu dai xi (? ? ?), yang kurang lebih artinya boneka dari kain atau glove puppetry didalam bahasa Inggris. Dalang dari Wayang Potehi akan memasukan tangannya kedalam kain tersebut dan memainkannya sesuai dengan lakon dari cerita tersebut. Kesenian Wayang Potehi diperkirakan sudah ada sejak 3.000 tahun yang lalu di negeri Cina, khususnya di provinsi Fujian, yaitu di daerah Quanzhou dan Zhangzhou, selain juga di provinsi Guangdong. Menurut legenda, kesenian Wayang Potehi ini bermula dari suatu kejadian di penjara. Lima orang dijatuhi hukuman mati, dimana empat orang bersedih menunggu ajal, sedangkan satu orang lagi memiliki ide untuk menghibur diri. Akhirnya mereka mengumpulkan perkakas yang ada di sel, seperti panci, piring dan sebagainya dan mulai menabuh sambil mengiringi permainan wayang mereka yang seadanya dari balik jendela penjara. Karena hingar bingar, maka terdengar oleh kaisar yang kemudian mengetahui apa yang terjadi dan memberikan pengampunan, untuk kemudian mereka menghibur di istana. Kesenian ini diperkirakan sudah ada pada saat Dinasti Qin, yaitu pada abad ke-3 sampai ke-5 Masehi, dan semakin berkembang saat kejayaan Dinasti Song di abad ke-10 sampai ke-13 Masehi. Ketika orang-orang Tionghoa masuk ke Indonesia, pada abad ke-16 sampai ke-19, masuk pulalah seni pertunjukan Wayang Potehi ini. Kesenian ini bukan saja memiliki fungsi sosial tetapi juga fungsi ritual, dan tidak jauh berbeda dengan wayang-wayang lain di Indonesia. Wayang Potehi berkembang pesat diwilayah pesisir pulau Jawa, tidak jauh dari pelabuhan tempat orangorang dari daratan Cina berdatangan. Kesenian ini bertumbuh di daerah Serang, Cirebon, Tegal, Lasem, Pekalongan, Semarang, Welahan, Rembang, Pasuruan dan Tuban. Pertumbuhan ini juga berkaitan dengan dibangunnya berbagai Klenteng disepanjang pesisir utara Pulau Jawa. Pada masa keemasannya, yaitu saat awal-awal kemerdekaan Republik Indonesia, Wayang Potehi dipentaskan saat acara-acara khusus dari penduduk setempat, misalnya pesta perkawinan, acara tahun baru Imlek, dan sebagainya. Pada awalnya Wayang Potehi masuk ke Indonesia, lakon yang dibawakan masih asli dari negeri Cina, misalnya Sie Djin Kwie (Ceng Tang dan Ceng See) yaitu mengenai kisah peperangan dua negara, dimana salah satu negara dipimpin oleh seorang Jendral sakti mandraguna dan ditakuti lawan-lawannya. Ironisnya, sang Jendral mati dibunuh oleh anaknya sendiri. Sejak berada di Indonesia, Wayang Potehi sudah banyak dibawakan dalam bahasa Indonesia, walaupun beberapa segmen percakapan, lagu atau sajak, dibawakan dalam bahasa aslinya, dengan dialek Hokkian. Dengan berjalannya waktu, lakon yang dipentaskan semakin modern, misalnya Sun Go Kong, legenda Kera Sakti. Juga terjadi asimilasi dengan budaya setempat, termasuk bahasa, yaitu bahasa Jawa. Demikian juga dengan alat musik yang digunakan, seperti tambur, kendang, suling, kecer dan rebab. Lakon Wayang Potehi juga secara perlahan-lahan diadopsi oleh budaya lokal, misalnya Sie Djin Kwie menjadi Joko Sudiro, dan tokoh Lie Sie Bin menjadi Prabu Lisan Puro. Dalang orang-orang Tionghoa semakin lama semakin sedikit, dan justru dalang penduduk setempat semakin banyak, dengan menggunakan bahasa-bahasa setempat. Tahun 1970-an sampai dengan tahun 1990-an, adalah masa-masa yang sangat sulit bagi kesenian Wayang Potehi karena represi politik pada waktu itu. Padahal kesenian ini sudah menjadi bagian dari jenis hiburan masyarakat lokal. Sangat sulit memperoleh izin untuk mengadakan pertunjukan kesenian wayang tersebut, sehingga masyarakat jarang menemukan pementasannya. Namun demikian, dengan adanya kebebasan pada saat ini untuk mementaskan kesenian Tionghoa, diharapkan Wayang Potehi bisa bangkit kembali untuk menghibur masyarakat Indonesia. Sumber:

http://hurek.blogspot.com/2007/02/pelestari-wayang-potehi-di-surabaya.html http://galeri.gangbaru.com/ http://en.wikipedia.org/wiki/Glove_puppetry http://www.gio.gov.tw/taiwan-website/5-gp/culture/glove_puppetry/ http://id.wikipedia.org/wiki/Wayang_Potehi http://jcglobalcitizen.wordpress.com/2009/03/15/wayang-potehi/

Indonesia kaya akan beragam budaya, baik dari penduduk aseli atau pendatang. Salah satu jenis budaya yang menarik adalah wayang Potehi. Wayang khas Tionghoa ini berasal dari Cina bagian selatan yang dibawa peranatau pada masa itu. Secara etimologis, wayang Pothei berasal dari kata Pou (kain), Te (Kantong) dan Hi (wayang), tau boneka dari kain. Cara memainkan juga unik, karena sang dalang memasukan tangan dalam kantong lalu dengan jemarinya memainkan gerakan tubuh wayang.

Wayang Potehi yang sudah berumur 3000 tahun ini menurut cerita berasal dari sebuah penjara pada pemerintahan Dinasti Jin, 265-420 masehi. Di awali dari 5 terpidana mati yang menunggu eksekusi dan 4 orang merasa bersedih, tetap orang ke lima punya ide untuk bersenang-senang. Maka dengan peralatan seadanya; seperti piring, panci dan peralatan lainnya memainkan wayang. Kisah terpidana ini terdengar sampai ke telinga kaisar, kemudian diampunlah mereka. Sejak itu, wayang Potehi semakin berkembang dan semakin pesat pada pemerintahan Dinasti SOng, 960-1279 masehi. Sejarah wayang Potehi di Indonesia sangat panjang. Diperkirakan kesenian tersebut masuk ke Nusantara pada abad 16-19 dan dibawa oleh perantauan Tionghoa. Wayang Potehi pada awalnya di gunakan sebagai fungsi sosial dan ritual, tetapi seiring perkembangan jaman maka sebagai salah satu pertunjukan hiburan. Pada awalnya wayang Potehi menggunakan dialek Hokian, karena hanya dinikmati etnis Tionghoa. Membaurnya etnis Tionghoa dan Pribumi, dan semakin jarangnya yang menguasai dialek Hokian maka kemudian memakai bahasa Indonesia.

Wayang Potehi sempat berjaya pada tahun 1970an, tetapi sekitar tahun 19791990an mengalami penurunan. Pelarangan ini berkaitan dengan muatan politis pada pemerinthan orde baru. Rezim pada waktu itu begitu represif pada kebudayaan Tionghoa. Wayang Potehi, kembali menggeliat setelah masa reformasi, terlebih lagi disaat Pemerintahan Abdurahman Wahid yang memberi jalan terhadap kebudayaan Cina. Di kelenteng Hok Tek Bio, Salatiga (27,28/02/2012) diadakan pertunjukan wayang Potehi. Pertunjukan kesenian ini terakhir diadakan 12 tahun yang lalu. Tujuan dari pergelaran wayang ini adalah untuk menghormati dan memperingati KongCO Ho Tek Jin atau Dewa Bumi yang lahir pada tanggal 2 bulan 2 penanggalan Cina. Lakon-lakon yang ditamplkan seperti; Sie Djien Kwie, Poei Sie Giok, See Moe ( SUn Go Kong) dan lain sebagainya. Wayang Potehi yang di dalangi Thio Tiong Gie dan rombongan berasal dari Semarang.

Dari balik panggung, wayang Potehi ini sangat menarik. Dalang, asisten dalang dan 2 pemain musik menjadi satu dalam ruangan. Berbeda dangan wayang serupa (Golek, Kulit), yang pemain musiknya tersebar dalam jumlah banyak. 2 pemain musik, memainkan alat musik yang beragam dan bergantian, seperti: Gembreng, Kecer, Simbal, Rebab, Terompet, Chen Puah, Tambur dan Piak Kou.

Walaupun bukan kebudayaan aseli Indonesia, Wayang Potehi telah memberikan warna-warni dalam pelangi seni Nusantara. Menjadi pertanyaan sekarang, sang dalang wayang Potehi tersebut sudah berusia lanjut, tetapi belum ada generasi yang siap menggantikannya. Sangat disayangkan jika kesenian tersebut yang sudah melewai perjalanan panjang dari cina Selatan, sempat berkembang dan berjaya, lalu diberangus oleh orde baru hingga hidup dan berjaya kembali harus mesuk dalam kotak kepunahan. Dibutuhkan generasi muda yang peduli dam mau melanjutan karya seni tersebut agar tetap bisa dinikmat oleh generasi selanjutnya. Wayang Potehi kiranya harus bisa mengarungi samudra kemajuan jaman dan tetap ada untuk generasi mendatang.

Wayang Potehi, Wayang Cina yang Berakulturasi


Posted on February 10, 2008

Suara tabuhan Simbal, Kecer, Bek To, Gong, Pengling, dan Munyu bertalu-talu menggaung di lorong jalan Kampung Ketandan. Harmoni suaranya mengundang para penonton untuk berkumpul di depan sebuah kotak berbentuk seperti gerobak penjual rokok yang berwarna merah. Pagelaran Wayang Potehi (Po Tay Hie) akan segera dimulai. Penonton pun berkumpul untuk menyaksikan cerita apa yang akan ditampilkan malam itu. Itulah salah satu sudut suasana yang tergambar di Pekan Budaya Tionghoa 2008 yang berlangsung di Kampung Ketandan, Kelurahan Suryatmajan, Kecamatan Danurejan, Yogyakarta, yang merupakan lokasi pertama perkembangan etnis Tionghoa di Jogja. Acara ini merupakan acara tahunan yang mulai diadakan kembali sejak tahun 2006 setelah pada masa orde baru, kesenian macam begini dilarang. Bersama Anto, Leksa, Gunawan, Funkshit, dan tamu dari Surabaya, si Cempluk, kami mengunjungi acara yang selain berisi penampilan kesenian Cina, juga digelar bazar ini.

Acara yang digelar tiap malam pada tanggal 7-11 Februari 2008 mulai pukul 17.00 hingga 23.00 ini menampilkan berbagai kesenian macam Musik Pek Bum, Atraksi Naga Barongsai, Pameran Budaya Tionghoa, dan yang menarik buat saya adalah Wayang Po Tay Hie. Wayang Po Tay Hie sendiri sebetulnya milik suku bangsa Hokkian. Wayang ini berasal dari distrik Quanzhou di Provinsi Fu Jian, yang kemudian dibawa oleh para imigran Cina ke Indonesia sekitar abad 16 hingga abad 19. Makanya ndak semua etnis Cina di Indonesia mengenal wayang ini. Apalagi semenjak masa orde baru, kesenian Cina macam begini dilarang. Wayang Po Tay He juga bisa menjadi simbol pembebasan. Meskipun dikekang, wayang ini terus berkembang dan akhirnya bisa bebas dimainkan. Ini tak lepas dari asal mula wayang ini. Konon Wayang Po Te Hie dimainkan pertama kali ketika Dinasti Tiu Ong berkuasa sekitar 3.000 tahun yang lalu. Ceritanya, kaisar saat itu ndak berperikemanusiaan dan ndak segan-segan menghukum mati warganya. Ada lima orang yang divonis mati, tapi salah seorang di antaranya sangat tabah dan mengajak keempat rekannya bergembira selama di dalam tahanan. Mereka kemudian menggunakan tutup panci sebagai Kecer, bambu tangkai sepatu sebagai seruling, panci bekas berbunyi tong, yang kemudian dibunyikan bersama-sama, menghasilkan suara merdu. Si tabah menggunakan kain bekas yang diikat berbentuk kepala dan ujung kain diikat sebagai badan lalu memainkannya sebagai wayang untuk menghibur diri mereka. Kaisar Tiu Ong akhirnya membebaskan kelima orang itu setelah mendengar bunyi-bunyian merdu dan melihat penampilan wayang tersebut. Sejak saat itu, kelima orang itu mendirikan paguyuban Wayang Po Tay Hie, yang diambil dari katakata Po berarti kain, Tay berarti kantong, dan Hie berarti wayang. Wayang ini mirip dengan wayang golek yang ada di Indonesia, namun uniknya wayang ini memiliki kaki.

Biasanya cerita yang dibawakan menceritakan cerita klasik Cina yang populer, macam Shi Jin Kwi (menaklukkan Kerajaan See Liang Kok), Poei Sie Giok (yang membela suku bangsa dengan mengadu kemampuan di atas panggung Lui Tay), Jhi Gu Nau Tong Tiauw (dua siluman kerbau membuat huru-hara di Kerajaan Tay Tong Tiaw), Kho Han Bun (jatuh cinta pada siluman ular putih di Danau Si Hu), dan berbagai ajaran kebajikan sesuai ajaran Khong Hu Cu. Cerita-cerita ini ketika sampai di Indonesia kemudian diterjemahkan dan diakulturasi. Beberapa nama tokohnya pun kemudian disesuaikan seperti misalnya cerita Shi Jin Kwi yang pernah dimainkan dalam bahasa Jawa oleh Ketoprak Cokro Ijo Yogyakarta. Semua nama tokoh diubah ke dalam bahasa Jawa. Misalnya, Kerajaan Tai Tong Tiaw diubah menjadi Kerajaan Tanjung Anom, Kaisar Li Sie Bin menjadi Prabu Li San Puro, Jenderal Perang Shi Jin Kwi menjadi Jenderal Joko Sudiro, putra Sie Teng San menjadi Sutrisno, dan istrinya Wan Lie Hwa menjadi Warianti. Malam itu cerita yang dimainkan adalah cerita Shi Jin Kwi tersebut. Alkisah, Kaisar Lie Sie Bin yang memerintah Kerajaan Tai Tong Tiaw menerima surat tantangan dari So Pu Tong, penguasa negeri tetangga See Liang Kok. Merasa terhina, Kaisar Lie pun murka. Dia mengirimkan pasukan dan perang hebat tak terhindarkan. Uniknya, semua pemainnya merupakan etnis pribumi, alias orang Jawa. Dalangnya ada dua orang. Seorang memainkan wayang dengan menggunakan jari-jarinya dan seorang lagi bercerita menggunakan bahasa Cina yang kemudian disambung dalam bahasa Indonesia. Crek.. Nong! Crek Crek.. Nong! Trok Tok Tok.. Creng.. Tong!, begitulah suara musik yang muncul dari pukulan Simbal, Kecer, Bek To, Gong, Pengling, dan Munyu.

Pemain dan dalang wayang ini berada di dalam kotak berukuran sekitar 22 meter. Tiga orang memainkan alat musik dan dua orang bermain sebagai dalang. Cerita dimainkan selama kurang lebih 2 jam. Antusiasme penonton pun begitu besar. Tua-muda, Jawa-Cina, semua berbaur untuk menyaksikan wayang yang dulunya hanya dipakai untuk ritual ibadah ini. Melihat ekspresi wajah anak-anak kecil yang menonton dengan antusias membuat saya tertarik. Bukan berarti saya pedofil, tapi melihat ekspresi mereka yang ndomblong membuat saya mengeluarkan kamera dan mengabadikan ekspresi wajahnya.

Funkshit bilang kalo sejak saya jeprat-jepret anak itu, ibunya sudah ketar-ketir takut kalo anaknya bakal diganyang maniak pedofil! =)) Walau kesenian ini merupakan kesenian Cina, namun justru yang memainkan dan melestarikannya malah orang-orang pribumi. Inikah wujud akulturasi atau justru orang-orang keturunan Cina sudah enggan memainkan kebudayaannya? Saya jadi teringat perkataan seorang reporter Trans7 ketika melakukan liputan di Klenteng Sam Poo Kong pas kami ke Semarang kemarin. Sang reporter bilang kalo dia kesulitan menemukan etnis Tionghoa asli yang memainkan Barongsai. Semua pemain Barongsai yang dia temui justru berasal dari etnis Jawa. Ke mana kah generasi muda Cina? Inikah wujud akulturasi atau pembajakan budaya? Entah lah. ?

Yang penting menurut saya kesenian macam begini ini menarik dan layak dilestarikan.

SAUJANA POTEHI DI PECINAN SEMARANG Posted by iidmarsanto on July 29, 2010 Leave a Comment oleh Anastasia Dwirahmi dan Khidir Marsanto P* Lazim bagi sementara orang ketika berbicara tentang budaya Tionghoa di Indonesia, baik yang sifatnya campuran maupun murni, justru yang terbayang biasanya akan tertuju pada ihwal itu-itu saja, seperti perayaan Imlek (tahun baru Cina), kelenteng, atau tari Barongsai. Padahal, dalam tradisi Tionghoa di Nusantara masih banyak hal lain yang tak kalah menariknya untuk diungkap dan dipelajari. Permisal saja, dalam aspek kesenian orang-orang Tionghoa memiliki seni lukis dengan tinta bak seperti Tan Eng Tiong di Semarang, kain batik kaligrafi dan pesisiran, seni dan teknologi makanan, seni musik seperti gambang kromong dengan senandung Kong Jilok dan Gutaypan-nya di tanah Betawi, wayang Potehi dan wayang Thithi (yang nyaris punah), keramik-keramik Tiongkok dan ornamen ukir-ukiran pada kayu, kerajinan lampion dan rumah kertas, dan sebagainya. Yang bila ditelisik lebih dalam kita bisa mengerti kayanya ragam kebudayaan Tionghoa yang tersebar di Nusantara. Namun, dari deretan seni-budaya Tionghoa itu, tidak semuanya dapat lestari, dan beberapa dari mereka bahkan terancam punah karena tidak banyak yang dapat meneruskan eksistensi mereka jika tidak mau dibilang tidak peduli. Nah, persoalan regenerasi menjadi penting dalam konteks ini. Tetapi, ini adalah hal lain yang akan diulas pada lain kesempatan. Memang banyak hal yang membuat sebagian dari kesenian tradisi Tionghoa ini kurang dapat bernafas lebih panjang, dan inilah satu dari sekian keprihatinan kami. Satu hal yang kentara adalah soal minimnya pengetahuan kita tentang seni-tradisi orang-orang Tionghoa di Indonesia. Sebab itu, sekarang dan tanpa tenggat waktu, kami merasa perlu menelusuri, mengetahui, menanyakan-kembali, dan menyajikan hal-hal yang belum banyak disinggung dan terkuak (atau memang dilupakan) dari kebudayaan Tionghoa. Tak ketinggalan juga, di sini kami berupaya menampilkan dan mengenali tokoh-tokohnya (para pelaku). Meskipun dengan segala keterbatasan kami dalam praktik dan pendanaan, kami tetap meyakini bahwa paling tidak, lewat catatan jalan-jalan rutin ini kami akan bisa menyajikan berbagai tulisan ringan tentang hal di atas. Sehingga, harapan tentang diseminasi informasi dan wacana mengenai ketionghoaan akan lebih terbaca luas. Kali ini, kita mencoba memotret kembali wayang Potehi di Pecinan Semarang setelah dilarangnya hal-ihwal yang berbau Cina di Indonesia oleh Inpres No.14 Tahun 1967. Alasan lain, di mata kami masih sangat sedikit dari kita yang paham selukbeluk wayang Potehi, begitu pula dengan diri kami sendiri. Wayang Boneka Kain Mengenai ihwal Potehi ini, selain hasil obrolan dengan kedua dalang Potehi sebagai narasumber, merupakan hasil pensarian kami dari beberapa bacaan yang didapat. Potehi, seperti dikatakan oleh sang dalang Thio Tiong Gie (yang akan diulas nanti), berasal dari Poo Tay Hie yang berarti wayang kain kantong. Poo berarti kain, tay adalah kantong, dan hie merupakan wayang (Dwirahmi, 2010b; Mastuti, 2004; Nurhasim, 2009a). Wayang di sini bisa juga bermakna boneka, jika wayang kita terjemahkan dari kata dalam bahasa Inggris, puppet.

Wayang Potehi

Wayang Potehi, menurut catatan Mastuti (2004) dan Nurhasim (2009a), merupakan satu jenis wayang asli Tiongkok yang masih ada di Indonesia kalau bukan satu-satunya yang berbeda dengan wayang Thithi. Wayang Thithi lebih dianggap merupakan hasil dari proses pembauran dua kebudayaan, yakni paduan Jawa dan Cina, yang lahir dan (pernah) berkembang di Yogyakarta (lihat Lestari, 2005). Karena itu, wayang Thithi juga dikenal sebagai wayang kulit Cina-Jawa. Namun, ada persamaan pada keduanya, yaitu fungsinya sebagai media hiburan, edukasi, kritik sosial, serta salah satu syarat ritual tertentu dalam masyarakat Tionghoa sebagai persembahan pada leluhur atau para dewa di kelenteng (Lestari, 2005; Mastuti, 2004). Selain itu, pementasan wayang Potehi juga berlaku sebagai kaul, sebuah perayaan atau selamatan bagi kerabat yang telah sembuh dari sakit. Dari sini kita mengerti, bahwa budaya Tionghoa juga mengenal tradisi membayar janji ketika permohonan kita terkabul, mirip konsep nazar dalam ajaran Islam. Konon, dalam sejarahnya dan juga menurut penuturan dalang wayang kain kantung ini, Potehi diciptakan dari lima orang narapidana terhukum mati pada zaman dinasti Sang Tiau (Tsang Tian) masa pemerintahan raja Tioe Ong pada sekitar 3000 tahun silam. Kala itu, kondisi psikologis mereka pada titik nadir. Tanpa harapan. Mereka di penjara di kota Chuan Cu, provinsi Hokkian, Tiongkok (lihat Dwirahmi, 2010b; Mastuti, 2004; Nurhasim, 2009a). Menjelang eksekusi, seorang dari mereka berupaya menghibur diri dengan cara memanfaatkan barang-barang yang ada di balik sel mereka. Ajakan ini direspon baik oleh empat yang lain. Dari balik bui itulah, mereka merancang satu pertunjukkan dan menyiapkan segala perlengkapannya, termasuk alat musik seadanya. Yaitu, tangkai sapu bambu bekas (alat untuk mengatur aba-aba musik), pecahan kaca, tutup panci bekas (sebagai kecrek), baskom (sebagai gembreng/alat musik pukul), serta sapu tangan bekas / perca dan sobekan kain (untuk baju tokoh wayangnya) (Mastuti, 2004; Nurhasim, 2009a).

Akhirnya, mereka menggelar pementasan kecil-kecilan yang ternyata hal ini sampai ke telinga sang raja. Kemudian, mereka ditantang untuk pentas di hadapan raja dan akan mendapat imbalan terbebas dari hukuman bila sang raja merasa senang. Mendengar kesempatan ini, mereka merasa kudu memanfaatkan dengan baik. Lantas, mereka memutuskan untuk mengangkat lakon tentang raja Tioe Ong itu sendiri, dengan cara meriwayatkan kebaikan dan citra positif pada diri sang raja. Karena hal ini, maka mereka pun akhirnya terbebas dari hukuman. Bagaimana dengan proses Potehi? Tata-laksana pementasan wayang Potehi biasanya dilakukan pada sore dan malam, masing-masing dua jam yakni pukul 15.0017.00 dan 19.0021.00. Dan, di tiap sesi pertunjukan menyajikan lakon yang berbeda. Misalnya, pada siang digelar lakon Sie Bing Kwie (Kuda Wasiat), dan malamnya mengangkat lakon Ngoho Peng See (Lima Harimau Sakti). Sementara, lakon lain yang juga sering dipentaskan adalah Poei Sie Giok, Loo Thong Sauw Pak, Hong Kiam Cun Ciu, dan lain sebagainya (Mastuti, 2004; Nurhasim, 2009a).

Pementasan Wayang Potehi

Dalam catatan sejarahnya di Indonesia, Potehi mulai dibawakan dalam bahasa Melayu (atau Indonesia) sejak awal abad ke-20 (Nurhasim, 2009a), artinya kira-kira dimulai sejak masa guru sang dalang Thio Tiong Gie itu (Dwirahmi, 2010b; Nurhasim, 2009a). Meski disajikan dalam bahasa Melayu, namun suluknya tetap dipertahankan dalam bahasa Cina Hokkian hingga kini. Menurut KBBI, Suluk merupakan nyanyian (tembang) dari sang dalang yang dilakukan saat memulai suatu adegan (babak) dalam sebuah pertunjukan wayang. Meski sama-sama memiliki suluk, wayang Potehi tidak menampilkan goro-goro seperti dalam wayang purwa yang menghadirkan punakawan: semar, gareng, petruk, dan bagong. Yang ada dalam Potehi adalah munculnya tokoh mata-mata atau pembantu rumah tangga untuk mengundang gelak tawa penonton (Nurhasim, 2009a). Kelompok wayang Potehi hanya terdiri dari beberapa orang saja, tidak seperti wayang purwa di Jawa yang sampai belasan orang. Paling tidak, dalam satu tim terdapat satu dalang, dan seorang asisten. Sementara, para pengiring musiknya hanya berjumlah tiga orang. Ketiga orang ini bertanggungjawab atas tujuh alat musik pengiring pertunjukan, yaitu gembreng besar (Toa Loo), gembreng kecil (Siauw Loo), rebab (Hian Na), kayu (Piak Ko), suling (Bien Siauw), gendang (Tong Ko), slompret (Thua Jwee). Sebab itu, rata-rata setiap orang memainkan dua sampai tiga alat musik. Wayang ini dipentaskan dalam sebuah panggung, semacam box boneka yang tidak begitu besar. Sang dalang dan asisten berada di balik (dalam) panggung / kotak layar boneka tadi. Mereka tampil apa adanya, tanpa riasan dan kostum khusus. Beberapa pementasan lakon, kata Thio Tiong Gie, tidak akan bermakna jika tanpa penonton. Potehi dan Sang Dalang

Penelusuran kami mengenai Potehi sebenarnya berangkat dari temuan beberapa judul artikel di media massa dan makalah seminar yang pernah mengulas tentang wayang ini di Pecinan Semarang. Juga sebagian dari ceritera temanteman di sekitar kami. Dari situ, kami lantas merasa perlu untuk melihatnya secara langsung, dan berbincang dengan mereka. Beberapa fakta yang kami dapati di lapangan adalah (1) dalang Potehi tidak banyak, sejauh ini kami hanya menemukan dua orang yang aktif di Pecinan Semarang, yaitu Bambang Sutrisno dan Thio Tiong Gie. (2) Usia mereka sudah tidak lagi muda, alias uzur. (3) Sulitnya mencari pengganti yang setara dengan dalang-dalang senior Potehi. Ulasan di majalah Arti menjelaskan mengapa para dalang ini kesulitan mencari penggantinya, sehingga bisa dibilang Potehi mengalami krisis regenerasi (lihat Nurhasim, 2009a dan 2009b). Tentu saja bukan sembarang orang yang dapat menjadi penerus pedalangan Potehi secara baik, karena memang tidak gampang menjadi dalang Potehi yang harus hafal betul dan menghayati riwayat-riwayat lakon Tiongkok dalam wayang Potehi. Serta, (4) apresiasi masyarakat terhadap Potehi tidak sebesar apresiasi kita pada kesenian tradisi yang lain, seperti wayang purwa dan ketoprak yang telah digubah sedemikian rupa, sehingga dapat masuk ke dalam tayangan komersial televisi swasta. Kondisi demikian, menurut kami tidak selalu pantas mendapat pemakluman-pemakluman, melainkan harus memutar otak supaya seni-tradisi ini tidak lenyap. Terkadang, kami merasa berat berjalan menjelajahi Pecinan, lantaran cuaca kota Semarang yang relatif panas menyengat. Namun, hal itu nyatanya telah membawa kami tiga kali ke Pecinan untuk membidik informasi tentang wayang Potehi. Kendati baru sekali kami menyaksikan pertunjukkan wayang Potehi di pelataran Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, 22 Juni 2010 lalu, kami sudah tiga kali bertandang ke rumah masing-masing dalang Potehi. Nah, berikut ini ialah hasil kunjungan dan perbincangan kami dengan kedua dalang tersebut. Bambang Sutrisno Kami menemui Bambang Sutrisno (60 tahun) di kediamannya Jumat siang (02/07/2010) lalu. Ia merupakan salah satu sang dalang Wayang Potehi. Menuju ke rumahnya, kita hanya perlu menyusuri Gang Lombok. Di situ akan melewati Yayasan Kuncup Melati. Nampak juga di sepanjang jalan itu, seorang tukang kusen pintu.

Bambang Sutrisno

Sampai di depan rumah Bambang Sutrisno, kami terhenyak sejenak dan bertanya,Apa benar ini rumahnya? Ya, di rumah kontrakan dua lantai berukuran sekitar 1,5 x 3 meter itulah satu legenda dalang Potehi tinggal. Beliau

mengatakan kepada kami, bahwa ia tidur di ruang tamu tempat di mana kami di jamu. Bagian rumah ini sekaligus menjadi ruang keluarga, ruang makan, tempat menyimpan barang-barang berharganya, dan lain sebagainya. Sementara, lantai dua difungsikan untuk menyimpan baju dan barang-barang lain yang tidak dapat ditaruh di lantai satu. Dua lantai rumahnya ini dihubungkan dengan tangga kayu yang nampak sudah rapuh. Sempit dan berjejalnya tempat berteduh Bambang Sutrisno dan keluarganya tidak memadamkan semangat melestarikan wayang yang sempat terkubur tiga dekade di bumi pertiwi ini.

Ruang tamu di rumah Bambang Sutrisno

Setelah berbasa-basi, lantas kami mengutarakan niat kedatangan kami. Beliau merespon dengan senang hati, dan segera menarik brankas dokumen-dokumen penting beliau dari balik pintu rumah untuk ditunjukkan. Jangan dibayangkan brankas ini berbentuk lemari besi. Tidak. Brankas milik Bambang Sutrisno hanya berupa kardus mie instan. Dalam kardus ini ternyata tersimpan koleksi buku-buku ceritera wayang milik Bambang Sutrisno. Dan, menariknya adalah, dari sebagian ceritera-ceritera dalam buku itu merupakan tulisan tangannya sendiri. Ia mengisahkan dari mana asal kumpulan ceritera yang ia tulisan dengan sangat rapi itu. Riwayat-riwayat dalam pewayangan ini saya peroleh dari Siauw Thian Hoo (gurunya), begitu ia menjelaskan.

Koleksi buku-buku ceritera Bambang Sutrisno

Di dalam kardus itu juga tampak beberapa komik jaman dahulu, seperti Kera Sakti, 5 Harimau Sakti, dan cerita pendekar Rajawali. Namun, kisah-kisah yang telah diubah ke dalam ceritera komik bagi Bambang Sutrisno tidak lagi dapat dijadikan acuan mementaskan Potehi (Dwirahmi, 2010a). Karenanya, ia lebih mantap jika berpedoman dengan kisah-kisah dalam catatan-catatan bukunya sendiri. Selain itu, yang menarik dari isi kardus itu adalah sehelai baju wayang berwarna merah dengan motif bunga keemasan, berkerah hijau. Baju boneka usang dan mripili (hampir rontok) itu merupakan kenang-kenangan pemberian gurunya. Ada pula kumpulan Surat Jalan miliknya beserta sang isteri (yang telah mendahului Bambang Sutrisno sekitar empat tahun silam) yang digunakan untuk bepergian ke luar kota saat ia dan rombongan kelompok keseniannya hendak mementaskan Potehi di masa pemerintahan Orde Baru (Dwirahmi, 2010a). Surat Jalan ini dikeluarkan oleh pemerintah sebagai penanda bahwa si pembawa surat tidak terlibat dalam partai terlarang dan tragedi kudeta militer pada 30 September 1965, yang kita kenal sebagai G-30-S.

Surat Jalan yang pernah menyertai Bambang Sutrisno selama Orde Baru

Pelbagai kenangan di masa lalu, dan kesendiriannya kini membuat Bambang Sutrisno tidak lagi merasa perlu menyimpan buku-buku kisah pewayangan Tiongkok dalam kardus itu. Lantas, sembari memasukkan buku-buku itu ke dalam kardus, ia pun berujar, nanti setelah saya salin akan saya bakar saja. Perasaan iba kami muncul mendengar pernyataan itu dari sang dalang. Namun, kami berupaya mencegahnya. Akhirnya, niat Bambang urung karena kami meyakinkannya untuk menyerahkan kepada kami saja agar dirawat sebaik mungkin. Dan, ia menjanjikan menyerahkannya setelah pementasan Sam Poo besar pada 7 8 Agustus 2010 di Semarang. Thio Tiong Gie Di suatu siang (06/07/2010), setelah menyeruput semangkuk wedang tahu hangat (berbahan air jahe yang dipadu dengan saripati kedelai) dari penjaja wedang panggulan, kami bergegas menuju Gang Pinggir untuk menjumpai dalang Potehi yang cukup legendaris dan sering muncul di media massa, Thio Tiong Gie atau Teguh Chandra Irawan.

Thio Tiong Gie

Nama ini sesungguhnya merupakan pilihan terakhir dalam daftar penelusuran kami tentang budaya peranakan Semarang, lantaran prioritas kami ialah mengungkap hal-hal di Pecinan Semarang yang masih jarang terdengar orang banyak. Namun, nasib kami siang itu berkata lain, yang membuat keputusan kami justru menuju ke rumah dalang Thio Tiong Gie. Kediaman Thio Tiong Gie berada di Kampung Pesantren, Kelurahan Purwodinatan. Thio Tiong Gie (73 tahun) merupakan pria kelahiran Demak pada 1933. Dilahirkan dari keluarga pedagang kain pemilik toko kain sederhana, Tiong Gie muda saat itu membantu usaha sang ayah, Thio Thian Soe. Ketika Perang Dunia II pecah dan Jepang menguasai Indonesia pada 1942, rumah beserta usaha keluarganya sebagai penopang hidup dirampok dan Thio Thian Soe sempat dipenjara entah karena alasan apa. Kemudian, ia dan keluarganya hijrah ke Semarang, sebab dianggap sebagai salah satu kota yang aman. Hidup di kota besar seperti Semarang ternyata tidak mudah bagi keluarga Thio Thian Soe. Saat itu, Thio Tiong Gie masih berusia belasan tahun. Ayah Thio Tiong Gie membuka usaha baru, yaitu menjual makanan kecil (kue basah). Untuk mengemas kue basahnya tersebut, ayah Thio menggunakan koran bekas yang belinya secara kiloan.

Buku She Jin Kwee Cing Tse (Dadang Pribadi, 2010)

Suatu kali, dalam satu ikat koran yang beliau beli, terselip buku cerita Tiongkok berjudul She Jin Kwee Cing Tse yang bukunya masih terjaga dengan baik hingga sekarang (Dwirahmi, 2010b). Sumber lain mengatakan judul buku itu Cu Hun Thay Cu Cao Kok (Putera Mahkota Cu Hun Melarikan Diri) (Nurhasim, 2009a). Thio muda membawa buku itu ke mana-mana dan membacanya hingga khatam. Lama-lama dia jatuh cinta pada cerita itu. Kisah She Jin Kwee Cing Tse ini sudah diterbitkan versi Jawanya dan ditampilkan oleh banyak kelompok ketoprak di Yogyakarta yang dikenal dengan kisah Joko Sudiro. Thio muda sangat suka menyambangi pagelaran wayang Potehi, sampai-sampai ia jatuh hati pada wayang kain kantung ini, yang saat itu masih disampaikan dalam bahasa Hokkian campur Melayu. Karena seringnya menonton, Thio muda lantas disarankan untuk belajar mendalang oleh sang pemilik wayang Potehi, Oei Sing Twie. Hanya dengan memerhatikan dalang Potehi kala pentas selama bertahun-tahun ia dapat mencerap bagaimana cara mendalang, hingga akhirnya dalang muda pengagum Soekarno dan R.A. Kartini ini mendapat kesempatan pada usia 27 tahun (1960) untuk manggung di Cianjur. Ajakan sang guru membuka jalan baru bagi hidup Thio. Lakon pertama yang dibawakan ialah cerita She Jin Kwee Cing Tse dalam bukunya tadi. Inilah cikal-bakal Thio menjadi dalang Potehi.

Thio saat menunjukkan kebolehannya mendalang Potehi dengan sapu tangan (Dadang Pribadi, 2010)

Saat kami menjumpainya, kami menjadi lebih banyak tahu dari apa yang telah kami baca dan dengar tentang sosok Thio. Bahwa, penguasaan Thio Tiong Gie terhadap wayang tidak hanya sebatas pada Potehi, namun juga wayang purwa (kulit) Jawa. Ia mengatraksikan kebolehannya dalam hal perbedaan suluk wayang Jawa dan wayang Cina. Suluk dilantunkannya dengan suara yang ngebas dan lantang. Secara bergantian, setelah suluk wayang Jawa, lalu suluk wayang Cina. Menakjubkan, karena pria berdarah Tionghoa ini sangat fasih dalam suluk wayang Jawa, sekilas persis seperti dalang wayang kulit kawakan. Banyak kisah yang keluar dari mulut dalang Thio ini, gaya berceriteranya penuh semangat, enerjik, dan mungkin karena ini semua kisah menjadi lebih menarik. Pun, kisah-kisah pribadinya. Dalang berwajah sangar namun sungguh ramah dan santun ketika menerima tamu ini, kini masih membuka usaha bengkel las Bintara yang ia buka tatkala pemerintah Orde Baru mengebiri segala aktivitas barbau budaya Tionghoa sekitar 30 tahun silam. Sikap dalang Thio yang seperti ini meruntuhkan stereotipe orang awam yang bilang bahwa orang-orang Tionghoa itu tertutup dan kurang ramah (Dwirahmi, 2010b).

Gaya Thio Tiong Gie berceritera (Dadang Pribadi, 2010)

Kini, di usianya yang senja, selain kemampuannya mempertunjukkan berbagai ceritera asli Tiongkok dalam pentas wayang Potehi, Thio Tiong Gie masih memiliki daya ingat yang luar biasa, sehingga sosoknya yang karismatik di mata banyak orang ini pantas menjadi narasumber bagi kita yang ingin tahu tentang budaya Tionghoa. Sebab itu, tak salah bila predikat penjaga tradisi, pendeta, budayawan, seniman, hingga sejarawan disematkan padanya. Saat kami bertamu, ia mengatakan,selagi saya masih hidup, biar saya ceritakan sejarah raja-raja Nusantara dan juga Soekarno.

Gambar Sukarno di dinding rumah (kiri).Tempat mengubur gambar Soekarno (kanan)

Sukarno? Ya, dalam benak Thio hanya ada dua pemimpin dunia yang tak tergantikan, yakni salah satunya Soekarno. Kekagumannya akan Soekarno nampak di ruang tamu tempat kami berbincang, ada gambar Soekarno yang cukup besar tertempel di salah satu sudut dinding rumahnya. Ada kisah menarik di balik gambar Soekarno itu. Gambar itu pernah dibungkus kertas, kerdus, sabut kelapa dan sebagainya, lantas dikubur di bawah pohon jeruk (yang kini telah berganti menjadi pohon belimbing) di halaman rumah oleh Thio selama 32 tahun! Ini ia lakukan lantaran perasaan ketakutan pada rezim Soeharto dan kecintaannya pada Soekarno bercampur-baur saat itu. Siapa yang berani masang foto Bung Karno pada saat itu? Tidak ada! katanya berapi-api kepada kami. Apa yang terurai di atas sesungguhnya masih berupa pembacaan awal, yang akan terus didalami. Salam Pecinan. [] *Anastasia Dwirahmi adalah Direktur Divisi Riset BYAR C.I., sementara Khidir Marsanto P. merupakan peneliti sosial-budaya Parikesit Institut, alumnus Antropologi UGM, yang juga Editor pada Divisi Riset BYAR C.I. Referensi Dwirahmi, A. 2010a. Bukan Sekedar Potehi. Catatan perjalanan diunduh dari:http://anastasiadwirahmi.wordpress.com/2010/07/03/bambang-sutrisno-babak-pertama/. __________. 2010b. Bambang Sutrisno. Catatan perjalanan diunduh dari:http://anastasiadwirahmi.wordpress.com/2010/07/07/bukan-sekedar-potehi/. Lestari, N. 2005. Dari Wayang Potehi ke Wayang Thithi: suatu kajian historis seni pertunjukan wayang Potehi di Semarang dan Perkembangannya. Makalah seminar 600 tahun Kedatangan Laksamana Cheng Ho, 2 Agustus di Semarang.

Mastuti, D.W.R. 2004. Wayang Cina di Jawa Sebagai Wujud Akulturasi Budaya dan Perekat Negara Kesatuan Republik Indonesia. Makalah seminar naskah kuno Nusantara Naskah Kuno Sebagai perekat Negara Kesatuan Republik Indonesia di PNRI, Jakarta 12 Oktober. Nurhasim, A. 2009a. Warisan Wayang Tiongkok, Majalah arti, edisi 021, November. hlm. 83-87. __________. 2009b. Setelah Diskriminasi, Kini Krisis Datang, Majalah arti, edisi 021, November. hlm. 92-93. Suara Merdeka. 2010a. Para Penjaga Budaya Tionghoa (1): Lestarikan Tradisi lewat Inovasi Batik Kaligrafi. 12 Februari. Suara Merdeka. 2010b. Para Penjaga Budaya Tionghoa (2): Tjan ID dan Thio Tiong Gie berpayah-payah siapkan pengganti. 13 Februari. Sumber Foto: Anastasia Dwirahmi, Dadang Pribadi, dan Tim Riset Byar C.I.