Anda di halaman 1dari 14

ANTI VIRUS FARMAKOLOGI

Anti Virus 1. Pendahuluan Selama bertahun-tahun terdapat anggapan bahwa sangatlah sulit untuk mendapatkan kemoterapi antivirus dengan selektivitas yang tinggi. Siklus replikasi virus yang dianggap sangat mirip dengan metabolisme normal manusia menyebabkan setiap usaha untuk menekan reproduksi virus juga dapat membahayakan sel yang terinfeksi. Bersamaan dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan pengertian yang lebih dalam mengenai tahap-tahap spesifik dalam replikasi virus sebaga target kemoterapi anti virus, semakin jelas bahwa kemoterapi pada infeksi virus dapat dicapai dan reproduksi virus dapat ditekan dengan efek yang minimal pada sel hospes. Siklus replikasi virus secara garis besar dapat dibagi menjadi 10 langkah :adsorpsi virus ke sel (pengikatan, attachment), penetrasi virus ke sel, uncoating (dekapsidasi), transkripsi tahap awal, translasi tahap awal, replikasi genom virus, transkripsi tahap akhir, assembly virus da penglepasan virus. HIV juga mengalami tahapn-tahapan diatas dengan bebrapa modifikasi yaitu pada transkripsi awal (tahap 4) yang digati dengan reverse transcription ; translasi awal (tahap 5) diganti dengan integrasi ; dan tahap akhir (assembly dan peglepasan) terjadi bersamaan sebagai proses budding dan diikuti dengan maturasi virus. Semua tahap ini dapat menjadi target intervensi kemoterapi. Selain daripada tahapan yang spesifik pada replikasi virus, ada sejumlah enzim hospes dan proses-proses yang melibatkan sel hospes yang berperan dalam sintesis protein virus. Semua proses ini juga dapat dipertimbangkan sebagai target kemoterapi antivirus 2. PEMBAHASAN OBAT ANTIVIRUS Empat golongan besar ativirus yang akan dibahas dalam dua bagian besar yaitu pembahasan mengenai antinonretrovirus dan antiretrovirus. Klasifikasi pembahasan obat antivirus dalam bab ini dapat dilihat pada skema di bawah ini : Sedangakn tempat kerja utama obat pada replikasi virus dapat kita lihat pada skema di bawah ini : ANTI NONRETROVIRUS 2.1.1. ANTI VIRUS UNTUK HERPES Obat-obat yang aktif terhadap virus herpes umumnya merupakan antimebolit yang mengalami bioktivasi melalui enzim kinase sel hospes atau virus untuk membentuk senyawa yang dapat menghambat DNA polimerase virus. Gambaran mekanisme kerja obat-obat antimetabolit (analog purin dan pirimidin) dapat dilihat pada skema di bawah ini : Ansiklovir dimetabolisme oleh enzim kinase virus menjadi senyawa intermediet. Senyawa intermediet asiklovir (dan obat-obat seperti idoksuridin, sitarabin, vidarabin dan zidovudin) dimetabolisme lebih lanjut oleh enzim kinase sel hospes menjadi analog nukleotida, yang bekerja menghambat replikasi virus 1) ASIKLOVIR Adapun mekanisme kerja asiklovir yaitu : Mekanisme Kerja Asiklovir bekerja pada DNA polimerase virus, seperti DNA polimerase virus herpes. Sebelum dapat meghambat sintesis DNA virus, asiklovir harus mengalami fosfolirasi intraseluler, dalam tiga tahap unutk menjadi bentuk tifosfat. Fosfolirasi intraseluler, dalam tiga tahap untuk menjadi bentuk trifosfat. Fosfolirasi pertama dikatalisis oleh timidin kinase

virus, proses selanjutnya berlagsung dalam sel yang terinfeksi virus Resistensi Resistensi terhadap asilovir disebabkan oleh mutasi pada gen timidin kinase virus atau pada gen timidin kinase virus atau pada gen DNA polimerase Indikasi Infeksi HSV-1 dan HSV-2 baik lokal maupun sistemik (termasuk keratitis herpetik, herpetik ensefalitis, herpes genitalia, herpes neonatal dan herpeslabialis) dan infeksi VZV (Varisel dan herpes Zoster). Dosis Untuk herpes genital ialah 5 kali sehari 200 mg tablet, sedangkan untuk herpes zoster ialah 4x 400 mg sehari. Penggunaan topikal untuk keratitis herpetik adalah dalam bentuk krim ophtalmic 3% dan krim 5% untuk herpes labialis Efek samping Asiklovir pada umumnya dapat ditoleransi dengan baik. Asiklovir topikal dalam pembawa polietilen glikol dapat menyebabkan iritasi mukosan dan rasa bakar yang sifatnya sementara jika dipakai pada luka genitalia. Asiklovir oral, walaupun jarang, dapat menyebabkan insufisiensi renal dan neurotoksitas 2) VALASIKLOVIR Merupakan ester L-valil dari asiklovir dan hanya terdapat dalam formulasi oral. Setelah ditelan, valasiklovir dengan cepat diubah menjadi asiklovir melalui enzim valasiklovir hidrolase di saluran cerna dan di hati Farmakokinetik Bioavailabilitas oralnya 3 hingga 5 kali asiklovir (54%) dan waktu paruh eliminasinya 2-3 jam. Waktu paruh intraselnya, 1-2 jam. Kurang dari 1% dari dosis varasiklovir ditemukan diurin, selebihnya dieliminasi sebagai asiklovir. Mekanisme kerja dan resistensi Sama dengan asiklovir Indikasi Varasiklovir terbukti efektif dalam terapi infeksi yang disebabkan oleh virus herpes simplex, virus varisela-zoster dan sebagai profilaksis terhadap penyakit yang disebabkan sitomegalo virus. Sediaan dan dosis Untuk herpes genital peroral 2x sehari500 mgtablet selam 10 hari. Untuk herpes zoster 3x sehari 2 tablet 500 mg selama 7 hari Efek samping Sama dengan asiklovir. Pernah terdapat laporan varasiklovir menyebabkan mikroangiopati trombotik pada pasien imunosupresi yang menerima berbagai macam obat. 3) GANSIKLOVIR Berbeda dengan asiklovir akan tetapi metabolisme dan mekanisme kerjanya sama dengan asiklovir yang sedikit berbeda adalah pada gangsiklovir terdapat karbon 3 dengan gugus hidroksil Mekanisme kerja Gangsiklovir diubah menjadi gansiklovir monofosfat oleh enzim fosfotranssilase yang dihasilkan sel yang terinfeksi sitomegalovirus. Gansiklovir monofosfat merupakan substrat fosfotransfirase yang lebih baik dibandingkan dengan asiklovir. Waktu paruh eliminasi gansiklivir trifosfat sedikitnya 12 jam sedangkan asiklovir hanya 1-2 jam Resistensi Penurunan fosfolirasi gansiklvir karena mutasi pada fosfotransferase virus yang dikode oleh gen UL97 atau karena mutasi pada DNA polimerase virus Indikasi

Infeksi CMV, terutama CMV retinitis pada pasien imunocompromised (misalnya AIDS), baik untuk terapi atau pencegahan Sediaan dan dosis Untuk induksi diberikan IV 10mg/kg/hari (2x5mg/kg, setiap 12 jam) selama 14-21 hari, lanjutkan dengan pemberian maintenance peproral 3000 mg/hari (3x sehari 4 kapsul@ 250mg). Efek samping Mielosupresi dapat terjadi pada terapi dengan gansiklovir. Neitropenia terjadi pada 15-40% pasien dan trombosit topenia terjaadi pada 5-20%. Zidovudin dan obat sitotoksik lain dapat meningkatkan resiko mieloktosisitas gangsiklofir. Obat-obat nefrotoksik dapat menggangu ekskresi gangsiklovir. Robenesid dan aiklovir dapat mengurangi klirens renal gansiklovir 4) VALGANSIKLOVIR Merupakan ester :L-faline Mekanisme kerja dan resistensi Sama dengan gansiklovir Indikasi Infeksi CMV. Valgansiklovir oral merupakan sediaan yang diharapkan dapat menggantikan gansiklovir IV dalam terapi dan pencegahan infeksi CMV Dosis Untuk induksi diberikan peroral 2x 900 mg/hari (2 tablet 450 mg/hari) selama 21 hari, dilanjutkan dengan terpai maintenance 1x 900 mg/hari. Dosis harus dikurangi pada pasien dengan gangguan ginjal Efek samping Sama dengan gangsiklovir. Laporan efek samping lain yang terjadi dengan terapi valgansiklovir adalah sakitt kepala dan gangguan gastrointestinal 5) PENSIKLOVIR Struktur kimia pensiklovir mirip dengan gansiklovir. Metabolisme dan mekanisme kerjanya sama dengan asiklovir, namun perbedaannya, pensiklovir bukan DNA-chain terminator obligat Mekanisme kerja Pada prisnsipnya sama dengan asiklovir Resistensi Resistensi pada pensiklovir disebabkan oleh mutasi pada timidin kinase atau dengan DNA polimearase virus. Kejadian resistensi selama pemakaian klinis sangat jarang. Virus herpes yang resistens terhadap asiklovir juga resisten terhadap pensiklovir Indikasi Infeksi herpes simplex mukokutan, khususnya herpes labialis recurent (cold sores) Dosis Diberikan secara topukal dalam bentuk 1% krim. Efek samping Reaksi lokal pada tempat aplikasi, namun jarang terjadi 6) FAMSIKLOVIR Mekanisme kerja Famsiklofir merupakan prodrug pensiklovir. Famsiklovir diubah melalui proses hirolisis pada 2 gugus asetilnya dan oksidasi pada posisi 6-, kemudian bekerja seperti pada pensiklovir. Resistensi Sama dengan pensiklovir Indikasi utama HSV-1, HSV-2, dan VZV

Dosis Peroral 750 mg perhari (250 mg tablet setiap 8 jam, 3x sehari) dan 1500 mg/hari (500 mg setiap 8 jam) Efek samping Umumnya dapat ditolerasi degan baik, namun dapat juga menyebabkan sakiat kepala, diare dan mual. Urtikaria, ruam sering terjadi pada pasien lansia. Pernah juga terdapat laporan halusiansi dan konfusional state (kebingungan). 7) FOSKARNET Mekanisme kerja Obat ini membentuk kompleks dengan DNA polimerase virus pada tempat ikatan pirofosfat, mencegah pecahnya pirofosfat dari nukleosida trifosfat dan akan menghambat proses pemanjangan primer-template Resistensi Disebabkan oleh mutasi pada DNA polimerase virus. Indikasi Retinitis CMV pada pasien AIDS, infeksi herpes mukokutan yang resisten terhadap asiklovir (devisiensi timidin kinase virus) serta infeksi HSV dan VZV pada pasien imunocompromise Dosis Obat ini tersedia dalam bentuk larutan untuk pemberian IV dengan kadar 24 mg/ml dalam botol berisi 250 dan 500 ml. Efeks sampimg Nefrotoksisitas dan hipokalsemia simptomatik 8) IDOKSURIDIN Mekanisme kerja dan resistensi Mekanisme anti virus idoksuridin berlum sepenuhnya dapat dipahami namun derivat idoksuridin yang telah mengalami fosforilasi dapat mengganggu bebagai sistem enzim Indikasi HSV keratitis Dosis Diberikan secara topikal dalam bentuk tetes mata (0,1%) Efek sampig Nyeri, pruritus, inflamasi atau edeme pada mata atau kelopak mata. Reaksi alergi jarang terjadi 9) TRIFLURIDIN Mekanisme kerja dan resistensi Trifluridin monofosfat menghambat timidilat sinteta sesecara irreversible dan trifudin trifosfat merupakan penghambat kompotettif dari trimidin trifosfat yang akan bergabung ke DNA oleh DNA polimerase Indikasi HSV keratitits Dosis Tetes mata topikal (1%) Efek samping Merasa tidak nyaman saat penetesan obat dan edeme palpebra.. jarang terjadi reaksi hipersensivitas, iritasi, keratitis, punctata superfisial dan keratopati epitel 10) BRIVUDIN Mekanisme kerja Brivudin (setelah mengalami fosforilasi intraseluler) bekerja sebagai penghambat kompotititf DNA polimerase virus. Brivudin juga bekerhja sebagai substrat alternatif dan bergabung pada

DNA virus, yang menyebabkan penurunan integritas dan fungsi DNA virus Indikasi Infeksi HSV-1 dan VZV,terutama herpes zozter Dosis Terapi herpes zozter 125 mg/ hari, 1x sehari 11) SIDOFOVIR Mekanisme kerja Menghambat sintesis DNA virus dengan cara memperlambat dan akhirnya menghentikan perpanjangan rantai. Resistensi mutasi pada DNA polimerase virus. Isolat CMV yang sangat resisten terhadap gangsiklovir (mutasi pada gen UL-97 kinase dan DNA polimerase) juga resisten terhadap sidofovir Indikasi CMV retinitis pada pasien AIDS. Sidofovir juga efektif untuk terapi HSV yang resisten terhadap asiklovir, herpes genitalia rekuren, CIN-III, lesi-papiloma laring dan kutan, lesimoluskum contangiosum, infeksi adenovirus dan PML Dosis Diberikan secara intavena 5 mg/kg /minggu selama 2 minggu pertama, kemudian 5 mg/kg setiap 2 minggu Efek samping Nefrotoksisitas merupakan efek samping terberat sidofovir intravena 12) FOMIVIRSEN Mekanisme kerja Merupakan komplemen terhadap sikuens mRNA unutk transkripsi awal CMV dan menghambat replikasi CMV melalui mekanisme yang sequence-specifik dan mekanisme non spesifik lainnya termasuk hambatan pengikatan virus ke sel Indikasi CMV retinitis pada pasien AIDS Dosis Obat ini tersedia dalam bentuk larutan, obat untuk suntikan intravitreal yang mengandung 0,25 ml dengan kadar 6,6 mg/ml. Berikan secara suntikan intravitreal 333 g (0,05ml) setiap 2 minggu sebanyak 2 dosis, dilanjutkan dengan 1 dosis tiiap minggu, Efek samping Iritis terjadi pada 25% pasien, yang dapat diatasi dengan kortikosteroid topikal 2.1.2 ANTI VIRUS UNTUK INFLUENZA 1) AMANTADIN DAN RIMANTADIN Memilki mekanisme kerja yang sama. Efikasi keduanya terbatas hanya terbatas pada influenza A saja Mekanisme Kerja Merupakan antivirus yang bekerja pada M2 virus, suatu kanal ion transmembran yang diaktifasi oleh ph Resistens Mutasi pada domain transmembran protein M2 virus menyebabkan resistensi virus terhadap amantadin dan rimantadin. Farmakokinetik Indikasi Pencegahan dan terapi awal infeksi virus influenza A (amantadin juga diindikasikan untuk terapi penyakit parkinson)

Dosis Amantadin dan rimantadin tersedia dalam bentuk tablet dan sirup untuk penggunaan oral Resistensi Resistensi terhadap amantadin dan rimantadin disebabkan oleh mutasi yang dapat mengubah asam amino pada kanal M2 virus Efek samping Gastrointestinal ringan yang terganatung dosis. Efek samping SSP seperti kegelisahan, kesulitan berkonsentrasi, insomnia, dan kehilangan nafsu makan 2) INHIBITOR NEURAMINIDASE (OSEL TAMIVIR, ZANAMIVIR) Merupakan obat antivirus dengan mekanisme kerja yang sama terhadap virus influenza A dan B yang serupa Mekanis kerja Asam N-asetil neuraminat merupakan komponen mukoprotein pada sekresi respirasi; virus berikatan pada mukus, namun yan gmnyebabkan penetrasi virus kepermukaan sel adalah aktifitas enzim neuraminidase Resistensi Disebabkan adanya hambatan ikatan pada obat dan hambatan aktifitas enzim neuraminidase Indikasi Terapi dan pencegahan infeksi virus influensa A dan B Dosis Zamanivir diberikan perinhalasi dengan dosis 25 mg/hari (2x5mg, setiap 12 jam) selama 5 hari. Oseltamivir diberikan peroral dengan dosis 150 mg perhari (2x75 mg kapsul, setiap 12 jam) selam 15 hari Efek samping Umumnya zamanifir dapat ditoleransi dengan baik 3) RIBAVIRIN Mekanisme kerja Ribavirin merupakan analog guanosin yan gcincin purinnya tidak lengkap Resistensi Hingga saat ini belum ada catatan mengenai resistensi terhadap ribavirin Spektrum aktifitas Virus DNA dan RNA khususnya orthomyxovirus (ifluensa A dan B), paramyxovirus (cacar air) dan arenavirus (lasaa, junin, dll) Indikasi Terapi infeksi RSV pada bayi dengan risiko tingi Dosis Peroral dalam dosis 800-1200 mg/hari untuk terapi infeksi HCV; atau dalam bentuk aerosol (larutan 20 mg/mL). Efek samping Ribavirin aerosol dapat menyebabkan iritasi konjungtiva yan gringan, ruam yang bersifat sementara 2.1.3 ANTI VIRUS UNTUK HBV DAN HCV 1) LAMIVUDIN Lamivudin bekerja dengan cara menhentikan sintesis DNA, secara kompetitif menghambat polimerase virus. Lamivudin tidak hanya aktif terhadap HBV saja namun juga terhadap varian precorelcore-promoter.

Resistensi Resistensi terhadap lamivudin disebabkan oleh mutasi pada DNA polimerase virus Farmakokinetik Biovailabilitas oral lamivuddin adalah 80% C maax tercapai dalam 0,5-1,5 jam setelah pemberian dosis. Lamivudin didistribusikan secara luas dengan Vd setara dengan volume cairan tubuh. Waktu paruh plasmanya sekitar 9 jam dan sekitar 70% dosis diekskresikan dalam bentuk utuh di urin ]indikasi Infeksi HBH Dosis Peroral 100 mg perhari (dewasar);untuk anak-anak 1 mg/kg Efek samping Obat ini umumnya dapat ditoleransikan dengan baik 2) ADEFOVIR Mekanisme kerja dan resistensi Adefovir merupakan penghambat replikasi HBV sangat kuat yang bekerja idak hanya sebagai DNA chain terminator , namun diduga juga meningkatkan aktifitas sel NK dan menginduksi produksi interferon endogen Spectrum aktifitas HBV, HIV dan retrovirus lain Farmakokinetik Adefovir sulit di absorbsi, namun bentuk dipivoxil prodrugnya diabsorbsi secara cepat dan metabolisme oleh esterase di mukosa usus menjadi adefovir dengan biovailabilitas sebesar 50%. Ikatan protein plasma dapat diabaikan Vd setara degnan cairan tubuh total. Waktu paruh eliminasi setelah pemberian oral adefovir, dipivoxil sekitar 5-7 jam. Adefovir dieliminasi dalam keadaan tidak berubah oleh ginajl melalui sekresi tubulus aktif Indikasi Infeksi HBV. Adefovir terbukti efektif dalam terapi ifeksi HBV yang resisten terhadap lamivudin Dosis Peroral dosis tinggal 10 mg/hari Efek samping Pada umumnya adefovir 10 mg/hari dapat ditoleransi dengan baik 3) ENTEKAVIR Mekanisme kerja dan resistensi Entekavir menalami fosforilasi menjadi bentuk trifosfat yang aktif, yang berperan sebagai kompetitor substrat natural(deoksiguanosin trifosfat) serta menghambat HBV polimerase. Spectrum aktifitas Entekavir aktif terhadap CMV, HSV1 dan 2 serta HBV Farmakokinetik Entekavir diabsorbsi baik peroral,Cmax tercapai antara 0,5-1,5 jam setelah pemberian, tergantung dosis. Entekavir dimetabolisme dalam jumlah kecil; dan merupakan substrat sistem sitokrom.T 1/2nya pada pasien dengan fungsi ginjal normal adalah 77-149 jam. Entekavir dieliminasi terutama lewat filtrasi glomerulus dan sekresi tubuh. Tidak perlu dilakukan penyesuaian dosis pada pasien dengan penyakit hati sedang hingga perut Indikasi Infeksi HBV

Dosis Peroral 0,5 mg/hari dalam keadaan perut kosong Efek samping Efek samping yang sering terjadi dalam studi klinis entekacir adalah sakit kepala, infeksi saluran nadaas ata, batuk, pusing, nyeri abdomen atas dan mual 4) INTERVERON Mekanisme kerja Virus dapat dihambat oleh interferon pada beberapa tahap, dan tahapan hambatannya berbeda pada tiap virus. Namun, bebrapa virus dapat juga melawan efek interveron dengan cara menghambat kerja protein tertentu yang diinduksi oleh interferon. Salah satunya adalah resistensi hepatitis C virus terhadap interferon yang disebabkan oleh hambatan aktifitas protein kinase oleh HCV Farmakokinetik Setelah pemberian intravena, konsentrasi plasma puncak dicapai dalam 30 menit. Setelah 4 hinggga 8 jam setelah infus, interferon tidak lagi terdeteksi dalam plasma karena mengalami klirens renal yang cepat. Setelah terapi interferon dihentikan, interferon akan dieliminasi dari tubuh dalam waktu 18-36 jam. Indikasi Infeksi kronik HBV, infeksi kronik HCV, sarkoma, kaposi pada pasien HIV, beberapa tipe malignansi dan multiple sclerosis Dosis Iinfeksi HBV Infeksi HCV Efek samping efek samping yang paling umum timbul adalah symptoms, fatigue, leukopenia dan depresi ANTIRETROVIRUS NUCLEOSIDA REVERSE TRANSCRIPTASE INHIBATOR 1) ZIDOVUDIN Mekanisme kerja Target zidovidin adalah enzim reverse transcriptase (RT) HIV zidovudine bekerja dengan cara menghambat enzim reverse transcrip-tase virus, setelah gugus azidotimidin (AZT) pada zidovudine mengalami fosforilasi. Dan akan menghambat reaksi reverse transcriptase Resistensi Disebabkan oleh mutasi pada enzim reverse trancriptase. Terdapat laporan resistensi silang dengan analognukleosida lainnya Spektrum aktifitas HIV (tipe1 dan2) Indikasi Infeksi HIV Dosis Zidovudin tersedia dalam bentuk kapsul 100 mg, tablet 300 mg dan sirup 5 mg/5 mL. Dosis peroral 600 mg perhari Efek samping Anemia, neutropenia, sakit kepala, mual 2) DIDANOSIN Mekanisme kerja Obat ini bekerja pada HIV RT dengan cara menghentikan pembentukan rantai DNA virus Resistensi

Disebabkan oleh mutasi pada reserve trancriptase Spektrum aktifitas HIV (tipe 1 dan 2) Indikasi Infeksi HIV, terutama infeksi HIV tingkat lanjut Dosis Tablet dan kapsul salut enterik. Peroral 400 mg perhari dalam dosis tunggal atau terbagi Efek samping Diare, pankreatiitis, neuropati perifer 3) ZALSITABIN Mekanisme kerja Obat ini bekerja pada HIV RT dengan cara menghentikan pembentukan rantai DNA virus Resistensi Disebabkan oleh mutasi pada reserve trancriptase. Dilaporkan ada resistensi silang dengan lamivudin Spektrum aktifitas HIV (tipe 1 dan 2) Indikasi Infeksi HIV, terutama infeksi HIV tingkat lanjut yang tidak responsif terhadap zidovudin Dosis Diberikan peroral 2.25 mg perhari (satu tablet 0,75 mg setiap 8 jam) Efek samping Pankreatiitis, Neuropati perifer, stomatitis 4) STAVUDIN Mekanisme kerja Obat ini bekerja pada HIV RT dengan cara menghentikan pembentukan rantai DNA Resistensi Virusdisebabkan oleh mutasi pada RT kodon 75 dan kodon 50 Spektrum aktifitas HIV (tipe 1 dan 2) Indikasi Infeksi HIV, terutama infeksi HIV tingkat lanjut, dikombinasikan dengan anti HIV lainnya Dosis Peroral 80 mg perhari (satu kapsul 40 mg setiap 12 jam) Efek samping Neuropati perifer, sakit kepala, mual dan ruam

5) LAMIVUDIN Mekanisme kerja Obat ini bekerja pada HIV RT dengan cara menghentikan pembentukan rantai DNA Resistensi Disebabkan oleh mutasi pada RT kodon 184 Spektrum aktifitas HIV (tipe 1 dan 2) dan HBV Indikasi

Infeksi HIV dan HBV Dosis Peroral 300 mg/hari (satu tablet 150 mg dua kali sehari. untuk terapi HIV, lamivudin dapat dikombinasikan dengan zidovudin atau dengan zidovudin dan abakavir Efek samping Asidosis laktat dan hepatomegali dengan steatosis. Efek samping lain adalah sakit kepala dan mual 6) EMTRISITABIN Mekanisme kerja Obat ini diubah ke bentuk trifosfat oleh enzim seluler. Mekanisme kerja selanjutnya sama dengan lamivudin Resistensi Terdapat laporan resistensi silang antara lamivudin dan emtrisitabin Indikasi Infeksi HIV dan HBV Dosis Peroral sekali sehari 200 mg kapsul Efek samping Nyeri abdomen dengan rasa keram, diare, kelemahan otot, sakit kepala, lipodistrofi, mual, rinitis, prutiyis dan ruam

7) ABAKAVIR Mekanisme kerja Obat ini bekerja pada HIV RT dengan cara menghentikan pembentukan rantai DNA Resistensi Disebabkan oleh mutasi pada RT kodon 184, 65, 74, dan 115 Spektrum aktifitas HIV (tipe 1 dan 2) Indikasi Infeksi HIV Dosis Peroral 600 mg perhari (2 tablet 300 mg) Efek samping Mual muntah, diare, reaksi hipersensitif gangguan gastrointestinal NUCLEOTIDE REVERSE TRACRIPTASE INHIBATOR (NtRTI) TENOFOVIR DISOPROKSIL Obat ini digunakan dalam kombinasi dengan obat antiretrovirus lainnya Mekanisme kerja Obat ini bekerja pada HIV RT dengan cara menghentikan pembentukan rantai DNA Resistensi Disebabkan oleh mutasi pada RT kodon 65 Farmakokinetik Spektrum aktifitas Hiv (tipe 1 dan 2) serta berbagai retrovirus lainnya dan HBU

Indikasi Infeksi HIV dengan efafirenz; tidak boleh dikombinasikan dengan lamivudin dan abakavir Sediaan dan Dosis Peroral sekali sehari 300 mg tablet Efek samping Mual, muntah, flatulens, diare NON-NUCLEOSIDA REVERSE TRANSCRIPTASE INHIBATOR (NHRTI) 1) NEVIRAPIN Mekanisme kerja Bekerja pada situs alosetrik tempat ikatan non-substrat HIV-1 RT Resistensi Disebabkan oleh mutasi pada RT Spektrum aktifitas HIV tipe 1 Indikasi Infeksi HIV-1 dalam kombinasi dengan anti HIV lainnya, terutama NRTI Dosis Peroral 200 mg perhari selama 14 hari pertama (satu tablet 200 mg per hari), kemudian 400 mg per hari (dua kali 200 mg tablet) Efek samping Ruam, demam, fatigue, sakit kepala, somnolens, mual dan penongkatan enzim hati 2) DELAVIRDIN Mekanisme kerja Sama dengan nevirapim Resistensi Disebabkan oleh mutasi pada RT. Tidak ada resistensi silang dengan nevirapin dan efavirenz Spektrum aktifitas HIV tipe 1 Indikasi Indikasi HIV-1, dikombinasi dengan anti HIV lainnya, terutama NRTI Dosis Peroral 1200 mg perhari (2 tablet 200 mg 3 kali sehari) obat ini juga tersedia dalam bentuk tablet 100 mg Efek samping Ruam, peningkatan tes fungsi hari 3) AFAVIRENZ Mekanisme kerja Sama dengan nevirapin Resistensi Resistensi terhadap efavirens disebabkan oleh mutasi pada RT kodon 100,179, dan 181 Spektrum aktifitas HIV tipe 1 Indikasi Infeksi HIV-1 dalam kombinasi dengan anti HIV lainnya, terutama NRTI dan NtRTI Dosis peroral 600 mg perhari (sekali sehari tablet 600 mg, sebaliknya sebelum tidur untuk mengurangi efek samping SSPnya

Efek samping Sakit kepala, pusing, mimpi buruk, sulit berkonsentrasi dan ruam

PROTEASE INHIBATOR (PI) 1) SAKUINAVER Mekanisme kerja Sakuinavir bekerja pada tahap transisi, merupakan HIV protease peptidomimetic inhibator Resistensi Disebabkan oleh mutasi pada enzim protease terjadi resistensi silang dengan PI lainya Spektrum aktifitas HIV (tipe 1 dan 2) Indikasi Infeksi HIV dalam kombinasi dengan anti HIV lain Dosis Peroral 3600 mg perhari atau 1800 mg per hari sama dengan makanan atau sampai dengan dua setelah makan lengkap Efek samping Diare, mual, nyeri abdomen 2) RITONAVIR Mekanisme kerja Sama dengan sakuinaver Resistensi Disebabkan oleh mutsi awal pada protease kodon B2 Spektrum aktifitas HIV (tipe 1 dan 2) Indikasi Infeksi HIV, dalam kombinasi dengan anti HIV lainya Dosis Peroral 1200 mg perhari (6 kapsul 100 mg, dua kali sehari bersama dengan makanan Efek samping Mual, muntah, diare 3) IDINAVIR Mekanisme kerja Sama dengan sakuinavir Spektrum aktifitas HIV (tipe1 dan 2) Indikasi Infeksi HIV, dalam kombinasi dengan anti HIV lainnya seperti NRTI Dosis Peroral 2400 mg perhari, obat ini tersedia dalam kapsul 100, 200, 333, dan 400 mg Efek samping Mual, batu ginjal 4) NELFINAVIR Mekanisme kerja Sama dengan sakuinavir Resistensi

Disebabkan terutam oleh mutasi pada protease kodon 30 Spektrum aktifitas HIV (tipe 1 dan 2) Indikasi Infeksi HIV Dosis Peroral 2250 mg/hari bersama dengan makanan Efek samping Diare, mual, muntah 5) AMPRENAVIR Mekanisme kerja Sama dengan sakuinavir Resistensi Disebabkan oleh mutasi pada protease kodon 50 Spektrum aktifitas HIV (tipe 1 dan 2) Indikasi Infeksi HIV Dosis Peroral 2400 mg/hari (8 kapsul 1500 mg 2kali sehari diberikan bersama atau tanpa makanan, tapi tidak boleh bersama dengan makanan Efek samping Mual, diare, ruam, peri oral/oral 6) LOPINAVIR Mekanisme kerja Sama dengan sakuinavir Resistensi Belum diketahui hingga saat ini Spektrum aktifitas HIV (tipe 1 dan 2) Indikasi Infeksi HIV Dosis Peroral 1000 mg perhari (3 kapsul 166,6 mg 2 kali sehari) diberikan bersamaan dengan makanan Efek samping Mual, muntah, peningkatan kadar kolesterol dan trigliserida, penigkatan y-GT 7) ATAZANAVIR Mekanisme kerja Sama dengan sakuinavir Spektrum aktifitas HIV (tipe 1 dan 2) Indikasi Infeksi HIV Dosis Peroral 400 mg/hari bersama dengan makanan Efek samping

Hiperbilirubinnemia, mual, perubahan EKG (jarang)

VIRAL ENTRY INHIBATOR Enfurvirtid merupakan obat pertama yang masuk ke dala golongan viral entry inhibator. Obat golongan ini bekerja dengan cara menghambat fusi virus ke sel. Selain enfuvirtid; bisiklam saat ini sedang berada dalam studi klinis. Obat ini bekerja dengan cara menghambat masukkan HIV ke sel melalui reseptor CXCR4 ENFUVIRTID Mekanisme kerja Efuvirtid menghambat masuknya HIV-1 ke dalam sel dengan cara menghambat fusi virus ke membran sel Resistensi Perubahan genotip pada gp41 asam amino 36-45 menyebabkan resistensi terhadap enfuvirtid Farmakokinetik Dapat dilihat pada tabel dibawah ini Dosis Enfuvirtid 90 mg (1mL) 2xsehari di injeksikan subkutan di lengan atas, bagian paha anterior, atai di abdomen. Efek samping Reaksi lokal sperti nyeri, ertitema, pruritus, iritasi, dan nodul/kista