Anda di halaman 1dari 4

Petualangan di Pemandian Alami

Feature Wisata Romi Mardela

Pemandian Batu Asahan. Itu nama air terjun yang dijadikan tempat pemandian
oleh penduduk yang terletak di kaki Gunung Bungsu. Tepatnya, di Jorong Bawah Durian,
Nagari Gurun, Kecamatan Harau, Kabupaten Limopuluah Koto sekitar 15 km dari Kota
Payakumbuh ke arah utara.
Pemandian ini belum begitu terkenal. Yang sering berkunjung hanyalah
masyarakat di nagari tersebut. Itupun kalau mereka membawa teman dari nagari atau
daerah lain. Kalau tidak, maka tempat pemandian itu pun tak pernah didatangi.
Ketika saya mengunjungi pemandian ini lagi setelah delapan tahun terakhir ke
sana, memang terasa tempat itu sangat jarang dikunjungi manusia. Terutama jalan setapak
yang telah ditumbuhi rumput liar setinggi pinggang orang dewasa. Bahkan saya dan dua
orang teman, sempat tersesat dan salah jalan mengikuti jalur ke perkebunan penduduk.
Sampai kami sadar telah berada di hulu air terjun. Sebaliknya, jika Anda beruntung,
sepanjang jalan sebelum mendekati air terjun Anda akan mendapati jejak Babi Hutan atau
jejak binatang liar lainnya.
Lokasi air terjunnya sederhana. Air terjun utama dengan ketinggian lebih kurang
empat meter dan lebar satu meter, yang tertampung di tempat seperti bak berukuran besar,
dengan luas sekitar 6x6 meter. ‘Bak’ ini yang dijadikan tempat pemandian. Airnya yang
dingin mengalir ke hilir juga membentuk air terjun mini dan diapit dinding-dinding yang
berlumut tebal dan tertampung pula di sebuah ‘bak’ berukuran sama yang juga dapat
dijadikan tempat pemandian. Selanjutnya, aliran air ini dijadikan sumber pengairan
sawah.
Tidak hanya air dari pemandian itu yang dimanfaatkan penduduk, namun juga air
yang di hulu-bagian atas air terjun, juga dimanfaatkan petani gambir. Tepat di atas air
terjun besar, ada tempat penampungan dengan genangan air yang sangat dalam. Air di
tempat ini, kata penduduk setempat, tidak pernah kering. Tidak seperti air terjun yang
debit airnya akan berkurang jika musim panas, air ini tak pernah berkurang. Diduga di
tempat itu ada sumber mata air.

1
Tidak jelas sebenarnya mana yang menjadi hulu dari air terjun Batu Asahan ini,
karena di atas mata air itu juga mengalir air yang kemudian membentuk air terjun kecil
menuju mata air tersebut. Air ini yang dimanfaatkan petani gambir untuk berbagai
kebutuhan.
Lokasi pemandian tertutup dinding bebatuan. Kountur atau topografinya seperti
patahan atau lembah yang ditengahnya mengalir anak sungai yang membentuk air terjun
disebabkan airnya mengalir di bebatuan yang bertingkat-tingkat. Sehingga ada tiga air
terjun, dua yang kecil dan satu air terjun besar. Dari bebatuan yang berada di sisi air
terjun itu juga menetes air dari tanah dan akar pepohonan yang tumbuh subur di atasnya.
Layaknya hutan hujan, maka air-air yang menetes itu sangat sejuk dan dapat diminum
jika Anda mengetahui prosesnya.
Pada dinding batu yang berada di kiri kanan air terjun, Anda hanya bisa duduk,
tidak berdiri. Karena dinding itu seperti bebatuan yang tersusun dan membentuk sudut
yang sangat kecil, hanya sekitar 45 derjat sehingga menyerupai atap rumah-tanpa bagian
tengahnya. Sedangkan, dinding yang berada persis di air terjun juga berbentuk sama.
Seperti halnya pertapa di air terjun, maka Anda dapat melakukan hal serupa, duduk dan
ditutupi air terjun.
Kemudian, di antara dinding-tempat air itu mengalir-Anda tetap bisa berdiri,
bahkan melompat-lompat. Susunan batu inilah yang mengelilingi air terjun. Jika hujan,
tempat ini sekaligus dapat dijadikan tempat berlindung. Bahkan kondisi batu yang
demikian itu membuat jalur menuju air terjun utama, harus dilewati dengan merangkak,
atau Anda harus punya keahlian khusus untuk melaluinya dengan cara berdiri.
Memang sangat beruntung orang yang punya keahlian khusus, jika berada di sini,
karena dinding atau tebing itu juga bisa dijadikan lokasi climbing. Namun ini hanya
disarankan untuk profesional, sebab dinding yang dimaksud, berbentuk hang atau
menggantung. Anda dapat melewatinya dengan tangan kosong, sendirian atau dibantu
teman dengan menaiki punggungnya ataupun dengan cara lain yang Anda kuasai. Setelah
dapat mencapai atasnya, Anda sudah bisa berjalan di sana, dan melanjutkan perjalanan
melihat bagian atas air terjun, atau sumber mata air itu.
Jangan khawatir bagi Anda yang tidak punya kemampuan khusus itu, karena Anda
tetap dapat menikmatinya dengan jalur berbeda. Sedikit lebih lama dan melelahkan dari

2
jalur cepat tersebut, namun di lokasi yang sudah berada lebih kurang 700 mdpl ini, jika
melihat ke arah timur akan tampak Gunung Sago dan pemandangan Kota Payakumbuh.
Dari atas itu, lokasi air terjun sudah berada di bawah pandangan. Seperti halnya
melihat pepohonan hutan lindung yang luasnya tidak sampai satu ha, mencoba bertahan
di tengah pembabatan hutan secara liar. Karena bagian atas, kiri, dan kanan lokasi itu,
sudah dijadikan perkebunan gambir, sementara di bagian bawahnya, areal persawahan
terbentang luas.
Untuk menuju mata air dari jalur atas, juga tidak mudah, sebab jalur yang berada
di perkebunan gambir tersebut sangat jarang sekali dilewati. Sehingga jalannya dipenuhi
semak belukar dan pepohonan. Namun jika Anda tetap ingin uji nyali, tantangan yang
dilalui akan sebanding dengan apa yang didapatkan nantinya. Anda akan melihat air
terjun tersebut dengan nuansa berbeda: seluruh lokasi air terjun kelihatan dari tempat ini.
Lalu bagaimana cara menuju Pemandian Batu Asahan ini? Jika menggunakan
kendaraan pribadi, membutuhkan waktu lebih kurang 30 menit untuk sampai di jorong
tersebut, melewati jalan lintas Sumbar-Riau dari kota. Tujuh km sebelum gerbang masuk
ke objek wisata Lembah Harau, di Simpang Ampek Tanjuangpati, pilih jalan yang
menuju Nagari Lubuak Batingkok. Selanjutnya dalam perjalanan, Anda akan melihat
Gunung Bungsu tersebut, di sebelah tenggara. Jika dengan kendaraan umum, naik
angkutan desa-atau yang lebih dikenal dengan Sago-tujuan Nagari Gurun di terminal
Pasar Payakumbuh, dan setelah pemberhentian terakhir harus menyewa ojek.
Untuk menuju Nagari Gurun yang juga terletak di kaki Gunuang Bungsu itu,
ketika sampai di Lubuak, masuk lagi ke simpang jalan menuju Nagari Gurun. Ada dua
simpang lagi, sebelum perjalanan dengan kendaraan berakhir. Pertama, di simpang tiga
Nagari Gurun, pilih jalan menuju Jorong Bawah Durian. Jalan yang akan dilewati lebih
banyak jalan tanah pegunungan daripada jalan aspal. Setelah itu, yang terakhir di
simpang empat. Mudah menandainya, karena salah satu simpangnya, merupakan gerbang
mesjid. Anda tinggal masuk ke gerbang mesjid itu saja.
Kendaraan mesti diparkir di halaman mesjid ini, untuk kemudian dilanjutkan
dengan berjalan kaki. Perjalanan yang sesungguhnya baru dimulai. Di awal perjalanan
dengan jarak lebih kurang satu km ini, Anda terlebih dulu melewati kolom ikan, dan
selanjutnya melalui pematang sawah dan dan perkebunan.

3
Jika mulai berjalan kaki di atas pukul 10.00 WIB, kalau tidak hujan, maka Anda
akan merasakan perbedaan suhu, beberapa puluh meter sebelum sampai di lokasi. Hawa
sejuk menyeruak, saat menyebrangi anak sungai kecil, yang mengalir dari air terjun
tersebut. Tumbuhan yang rapat di kiri kanan jalan juga menambah kesejukannya. Suara
air yang jatuh terdengar semakin jelas.
Tanda bahwa telah mencapai lokasi, yakni ketika Anda menemukan banyak
rumpun bambu. Selanjutnya terlihat seperti sebuah goa batu yang dikelilingi tanaman dan
di bawahnya mengalir air, akan menyambut Anda petanda sudah sampai di lokasi.***