Anda di halaman 1dari 20

Pada dasarnya, sesuai ketentuan Pasal 98 ayat (1) UU No.

40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT), yang berwenang untuk mewakili perseroan baik di dalam maupun di luar pengadilan adalah Direksi.

Namun, ketentuan Pasal 103 UUPT kemudian menyebutkan bahwa Direksi dapat memberi kuasa tertulis kepada 1 (satu) orang karyawan Perseroan atau lebih atau kepada orang lain untuk dan atas nama Perseroan melakukan perbuatan hukum tertentu sebagaimana yang diuraikan dalam surat kuasa. Yang dimaksud kuasa di sini adalah kuasa khusus untuk perbuatan tertentu sebagaimana disebutkan dalam surat kuasa (lihat Penjelasan Pasal 103 UUPT).

Dasar hukum yang mengatur mengenai surat kuasa ini dapat kita temui dalam Pasal 1792 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata).Dan harus diperhatikan bahwa penerima kuasa tidak diperbolehkan melakukan tindakan yang melampaui kuasa yang diberikan kepadanya (lihat Pasal 1797 KUHPerdata).

Anda tidak menyebutkan perjanjian kerja seperti apa yang Anda maksudkan, tapi jika perjanjian tersebut terkait dengan tender pengadaan barang/jasa Pemerintah, diatur pula dalam Pasal 86 ayat (5) dan ayat (6) Perpres No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (Perpres 54/2010) (sebagaimana telah diubah dengan Perpres No. 35 Tahun 2011): (5). Pihak yang berwenang menandatangani Kontrak Pengadaan Barang/Jasa atas nama Penyedia Barang/Jasa adalah Direksi yang disebutkan namanya dalam Akta Pendirian/Anggaran Dasar Penyedia Barang/Jasa, yang telah didaftarkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pihak lain yang bukan Direksi atau yang namanya tidak disebutkan dalam Akta Pendirian/Anggaran Dasar sebagaimana dimaksud pada ayat (5), dapat menandatangani Kontrak Pengadaan Barang/Jasa, sepanjang mendapat kuasa/ pendelegasian wewenang yang sah dari Direksi atau pihak yang sah berdasarkan Akta Pendirian/Anggaran Dasaruntuk menandatangani Kontrak Pengadaan Barang/Jasa.

(6).

Lebih jauh, simak artikel Bisakah Kuasa Direksi Teken Kontrak Pengadaan Barang Jasa Pemerintah?

Jadi, seorang asisten Direksi dimungkinkan untuk menandatangani perjanjian antara perseroan dengan partner (mitra) atau customer (pelanggan)jika memperoleh kuasa dari Direksi yang berwenang. Untuk pemberian kuasa ini harus ada surat kuasa dari Direksi kepada asisten direksi yang bersangkutan.

Hukum Menjaminkan Aset Pribadi untuk Kepentingan PT Dalam suatu PT baik yang telah berbadan hukum sempurna ataupun belum sempurna, terkadang terdapat aset yang tercatat dalam pembukuan PT masih atas nama pribadi (direksi/komisaris/pemilik). Apakah aset pribadi tersebut dapat dijaminkan atas nama PT? Dalam hal dijaminkan, apakah yang harus dilakukan agar pihak kreditur tidak lemah dari segi hukum? Apakah dengan kondisi tersebut, dapat dikatakan adanya pelarian/penggunaan kekayaan PT untuk kepentingan perorangan (pemilik aset tersebut)? Apabila diperlukan surat pernyataan, materi apa saja yang harus tercakup untuk memperkuat sisi kreditur? Terima kasih.

dina_nurfajriah

Share:

Jawaban: Diana Kusumasari

Perlu kami perjelas bahwa suatu Perseroan Terbatas (PT) adalah suatu perseroan yang telah berbadan hukum. Jika suatu badan usaha masih dalam proses pendirian dan belum memperoleh pengesahan dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) sebagai badan hukum, maka badan usaha itu belum dapat dikatakan berbentuk PT.

Mengenai aset PT yang masih tercatat atas nama pribadi dari direksi/dewan komisaris/pemegang saham, kami kurang jelas apakah aset tersebut merupakan setoran modal dari pemegang saham atau dipinjamkan kepada PT.

Jika aset tersebut merupakan setoran modal sebagaimana diatur dalam Pasal 34 ayat (1) UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT) yang berbunyi Penyetoran atas modal saham dapat dilakukan dalam bentuk uang dan/atau dalam bentuk lainnya. Menurut dosen Fakultas Hukum Universitas Indonesia Prof. Erman Rajagukguk,terhadap aset pribadi yang kemudian disetorkan sebagai modal PT, harus dilakukan balik nama menjadi atas nama PT. Berbeda halnya, jika aset tersebut dipinjamkan kepada PT, hal ini memang dimungkinkan tanpa perlu adanya perubahan atau balik nama aset.

1. Kemudian menjawab pertanyaan Anda, apakah aset pribadi tersebut dapat dijaminkan atas nama PT atau tidak.

Apabila aset tersebut disetorkan sebagai modal PT, maka aset tersebut bukan lagi merupakan harta pribadi pemegang saham, melainkan harta PT. Oleh karena itulah maka harus dilakukan balik nama. Hal ini merupakan kelebihan PT yaitu harta kekayaan pribadi pemegang saham dipisahkan dari harta perusahaan, sehingga dalam hal terjadi kerugian atau kebangkrutan hanya akan melibatkan harta sebatas yang disetorkan dalam bentuk kepemilikan saham. Terkait dengan penyetoran modal PT ini akan dicantumkan dalam Anggaran Dasar PT (lihat Pasal 8 ayat [2] UUPT). Sehingga, dalam hal PT memiliki utang dan hendak menjaminkan aset yang merupakan kekayaan PT, hal itu dapat dilakukan.

Apabila aset tersebut bukanlah merupakan setoran modal dan hanya dipinjamkan kepada PT, maka aset tersebut juga dapat dijaminkan untuk utang PT. Dalam hal ini pemilik aset akan memberikan surat kuasa menjaminkan kepada PT.

2. Terkait dengan aset atas nama pribadi yang dijaminkan atas utang PT, menurut Erman, yang dapat dilakukan oleh kreditur antara lain adalah memastikan bentuk penjaminannya yakni aset tersebut dijaminkan dengan hak tanggungan (untuk tanah dan bangunan) atau dengan fidusia (untuk benda bergerak) atau dengan gadai saham (untuk saham).

3.

Kondisi yang Anda ceritakan tidak dapat dikatakan sebagai pelarian atau penggunaan kekayaan PT untuk kepentingan perorangan.

Berbeda halnya jika aset atau harta PT kemudian dijadikan jaminan untuk utang perorangan, hal itu dapat dikatakan penyalahgunaan kekayaan PT untuk kepentingan pribadi/perorangan.

4. Sesuai dengan penjelasan kami di atas, yang harus ada dalam penjaminan aset pribadi untuk utang PT adalah surat kuasa menjaminkan dari pemilik aset kepada PT dan bukan surat pernyataan.

TEMPO.CO , Jakarta:- Banyak gebrakan yang dilakukan oleh Menteri Negara Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan, dari membuka pintu tol, ikut berdesak-desakan naik kereta rel listrik, sampai menginap di rumah petani. Dia ingin membongkar kebobrokan di lingkungan BUMN. Tapi tak semua upayanya dipuji. Beberapa anggota Dewan Perwakilan Rakyat malah menjuluki tindakannya aksi koboi. Mereka mengajukan penggunaan hak interpelasi soal Keputusan Menteri BUMN Nomor 236 Tahun 2011, yang diteken Dahlan Iskan pada 15 November 2011. Tindakan itu melanggar tiga undangundang sekaligus. 1. Penunjukan direksi BUMN tanpa mekanisme rapat umum pemegang saham, sehingga melanggar Pasal 15 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN. 2. Penunjukan direksi BUMN tanpa melalui Tim Penilai Akhir. Penunjukan ini mengabaikan prinsip transparansi dan akuntabilitas yang diamanatkan dalam Pasal 16 Undang-Undang BUMN. 3. Pengangkatan kembali direksi BUMN yang memiliki rekam jejak negatif melanggar prinsip tata kelola perusahaan yang baik sesuai dengan Pasal 5 ayat 3 Undang-Undang BUMN. 4. Pengangkatan kembali direksi BUMN untuk masa jabatan ketiga kalinya melanggar Pasal 16 ayat 4 Undang-Undang BUMN. Pasal tersebut menyebutkan, masa jabatan direksi BUMN ditetapkan 5 tahun dan dapat diangkat kembali untuk satu kali masa jabatan. 5. Dahlan juga melimpahkan wewenang kepada direksi BUMN untuk menjual aset. Akibatnya, diduga kuat, telah terjadi penjualan aset BUMN oleh direksi BUMN. Jika dugaan itu benar, Dahlan telah melanggar Pasal 24 ayat 5 Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara, serta Pasal 45 dan 46 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.

Kedua regulasi itu mengatur bahwa penjualan aset BUMN harus melalui persetujuan DPR, presiden, dan atau Menteri Keuangan, sesuai dengan tingkat kewenangan masing-masing.

Apakah Corporate Guarantee Perlu Persetujuan RUPS? Apakah sebuah perseroan yang ingin memberikan corporate guarantee untuk debitur (individu/perusahaan) perlu mendapat persetujuan RUPS? Apabila ya, apa dasar hukumnya (dalam UU)?

bstlaw

Share:

Jawaban: Diana Kusumasari

Perjanjian penanggungan dibagi menjadi dua bagian, yaitu penanggungan yang dilakukan oleh pribadi (personal guarantee) dan penanggungan yang dilakukan oleh badan hukum (corporate guarantee). Pada dasarnya, kedua jenis perjanjian penanggungan tersebut memiliki prinsip yang sama, karena baik hak dan kewajiban yang dimiliki penanggung pada kedua jenis penanggungan tersebut identik, hanya saja subyek pelakunya berbeda.

Inti dari perjanjian penanggungan adalah adanya pihak ketiga yang setuju untuk kepentingan si berutang mengikatkan diri untuk memenuhi perikatan si berutang, apabila pada waktunya si berutang sendiri tidak berhasil memenuhi kewajibannya (lihat Pasal 1820 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata).

Dari ketentuan tersebut dapat kita amati bahwa apabila sebuah Perseroan memberikan corporate guarantee berarti Perseroan tersebut setuju mengikatkan diri untuk memenuhi/membayar hutang debitur (yang ditanggung) apabila debitur tersebut tidak mampu membayarnya.

Dalam hal ini tentu harta kekayaan Perseroan dijadikan sebagai jaminan untuk melunasi hutang debitur yang ditanggung oleh Perseroan tersebut. Merujuk pada ketentuan Pasal 102 ayat (1) UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT), Direksi wajib meminta persetujuan RUPS untuk: a. b. mengalihkan kekayaan Perseroan; atau menjadikan jaminan utang kekayaan Perseroan; yang merupakan lebih dari 50% (lima puluh persen) jumlah kekayaan bersih Perseroan dalam 1 (satu) transaksi atau lebih, baik yang berkaitan satu sama lain maupun tidak.

Jadi, ditegaskan oleh ketentuan dalam UUPT bahwa apabila suatu Perseroan hendak memberikan corporate guarantee terutama dengan menjaminkan lebih dari 50% (lima puluh persen) jumlah kekayaan bersih Perseroan dalam 1 (satu) transaksi atau lebih, baik yang berkaitan satu sama lain maupun tidak, maka Direksi wajib meminta persetujuan RUPS Pada dasarnya, tidak ada larangan bagi kantor hukum atau kantor advokat di Indonesia untuk memilih bentuk badan usaha selain firma. Namun, memang pada praktiknya, seperti dikatakan notaris Irma Devita, kantor advokat di Indonesia cenderung menggunakan bentuk firma (berdasarkan Pasal 16 KUHD). Selain itu, tidak sedikit pula kantor advokat yang memilih bentuk persekutuan perdata atau maatschap (berdasarkan Pasal 1618 KUHPerdata atau lihat juga Pasal 1 angka 4 Kepmenhukham No. M.11-HT.04.02 Tahun 2004).

Mohamad Kadri, pendiri dan partner pada kantor advokat/firma hukum AKSET, berpendapat bahwa yang melatarbelakangi kantor-kantor hukum di Indonesia menggunakan bentuk firma adalah karena sudah menjadi tradisi yang diadopsi dari Belanda. Menurut Kadri, bisnis jasa hukum dibangun berdasarkan konsep pertanggungjawaban perorangan seperti pada profesi dokter. Mulai dari income (pendapatan), image (citra) dan banyak hal lainnya sangat bergantung pada profil atau nama orang, termasuk pertanggungjawabannya.

Menurut Kadri, dalam perkembangannya beberapa kantor advokat di Indonesia mulai mengadopsi konsep-konsep Perseroan Terbatas (PT). Kantor-kantor advokat, kata Kadri, mulai melakukan corporatizing yang ditandai antara lain dengan adanya pengalihan tanggung jawab pribadi ke penanggung jawab yang lebih tinggi. Dengan begitu, yang dilihat bukan lagi orangnya tapi kantornya. Namun, sejauh yang dia ketahui, dalam praktiknya di Indonesia belum ada kantor advokat yang berbentuk PT.

Sementara itu, menurut Irma Devita, kantor advokat lebih tepat menggunakan bentuk maatschap karena dalam maatschap masing-masing advokat yang menjadi teman serikat bertindak sendiri dan bertanggung jawab secara pribadi (lihat Pasal 1642 KUHPer). Lebih jauh simak artikel kami; Tentang Kantor Hukum, Lembaga bantuan Hukum, dan Konsultan Hukum; Kantor Advokat, Antara Firma dan Persekutuan Perdata.

Berdasarkan penelusuran kami, jika melihat pada negara tetangga kita yaitu Singapura, bentuk kantor advokat sudah lebih luas dan tidak terbatas pada bentuk firma. Dapat kita temui beberapa bentuk kantor hukum yang membatasi tanggung jawab para partner yang tergabung di dalamnya seperti Limited Liability Partnership (LLP) yang diatur dalam Limited Liability Partnerships Act 2005 atau bentuk Limited Liability Company (LLC). Bentuk-bentuk yang demikian juga terdapat di beberapa negara lainnya seperti Kanada, Inggris atau Amerika.

Pada umumnya, LLP memisahkan tanggung jawab salah satu partner yang melakukan kesalahan atau kelalaian dengan partner lainnya, sehingga tidak menerapkan prinsip tanggung-menanggung seperti pada firma (lihat Pasal 18 KUHD). Dan bentuk LLC, dalam hal model pertanggungjawaban, lebih seperti PT di Indonesia sebagaimana diatur dalam UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas yang juga tidak menerapkan prinsip tanggungmenanggung.

Demikian jawaban dari kami, semoga dapat dipahami.

asari

Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (UUPT) mensyaratkan untuk Perseroan Terbatas harus memiliki modal paling sedikit Rp50 juta. Dari modal dasar tersebut paling sedikit 25% (dua puluh lima persen) harus ditempatkan dan disetor penuh (lihat Pasal 32 dan Pasal 33 UUPT).

Dari yang Anda ceritakan, kami asumsikan yang Anda tanyakan adalah terkait dengan modal yang telah disetorkan. Modal yang telah disetorkan untuk menjadi modal dalam suatu perusahaan (PT) bukan lagi menjadi kepemilikan

pribadi secara langsung dari penyetor modal, melainkan menjadi harta perusahaan. Modal dasar PT ini kemudian terbagi dalam nominal saham (lihat Pasal 31 ayat [1] UUPT) dan diambil bagian oleh penyetor modal. Kepemilikan saham ini memberikan hak kepada pemiliknya untuk: a. b. c. menghadiri dan mengeluarkan suara dalam RUPS; menerima pembayaran dividen dan sisa kekayaan hasil likuidasi; menjalankan hak lainnya berdasarkan Undang-Undang ini (UUPT).

(lihat Pasal 52 ayat [1] UUPT)

Dengan demikian, pemegang saham tidak berhak menarik kembali secara diam-diam modal yang telah disetorkan. Karena jika terjadi penarikan kembali atas modal yang telah disetorkan, maka akan terjadi pengurangan modal. Sedangkan pengurangan modal harus melalui mekanisme Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Keputusan RUPS untuk pengurangan modal Perseroan ini adalah sah apabila dilakukan dengan memperhatikan persyaratan kuorum dan jumlah suara setuju terhadap adanya perubahan anggaran dasar (lihat Pasal 44 ayat [1] UUPT). Mengenai syarat kuorum, simak artikel kami sebelumnya, Mengadakan RUPS Perubahan Anggaran Dasar.

Selain itu, dalam Pasal 46 ayat (1) UUPT ditentukan bahwa pengurangan modal PT merupakan perubahan anggaran dasar yang harus mendapat persetujuan Menteri. Dan persetujuan Menteri ini baru diberikan apabila: a. tidak terdapat keberatan tertulis dari kreditor dalam jangka waktu dalam jangka waktu 60 (enam puluh) hari terhitung sejak tanggal pengumuman pada 1 atau lebih surat kabar bahwa akan dilakukan pengurangan modal; b. c. telah dicapai penyelesaian atas keberatan yang diajukan kreditor; atau gugatan kreditor ditolak oleh pengadilan berdasarkan putusan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.

Dalam hal pemegang saham mengambil secara diam-diam modal yang telah disetorkan, Prof. Erman Rajagukguk, dosen pada Fakultas Hukum Universitas Indonesia berpendapat bahwa perbuatan tersebut seharusnya batal dan dapat digugat secara perdata dengan gugatan Perbuatan Melawan Hukum (PMH). Hal ini karena akan ada kemungkinan pihak ketiga (kreditor) bisa saja keberatan bila terjadi pengurangan modal.

Jadi, pemegang saham tidak boleh secara diam-diam maupun terang-terangan mengambil modal yang telah disetor tanpa persetujuan RUPS.

Akuisisi Perusahaan Tertutup Apabila sebuah perusahaan patungan PMA ingin mengakuisisi sebuah perusahaan tertutup bagaimana prosesnya? Apa dampaknya bagi pemegang saham tertutup tersebut serta bagaimana dengan komposisi saham di perusahaan PMA tersebut?

khong

Share:

Jawaban: Diana Kusumasari

I.

Untuk melakukan akuisisi, ada kepentingan-kepentingan yang wajib diperhatikan yaitu kepentingan: 1. Perseroan, pemegang saham minoritas, karyawan Perseroan; 2. kreditor dan mitra usaha lainnya dari Perseroan; dan 3. masyarakat dan persaingan sehat dalam melakukan usaha.

(lihat Pasal 126 ayat [1] UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas atau UUPT)

Berdasarkan Pasal 125 ayat [1] UUPT, akuisisi (pengambilalihan) dilakukan dengan cara pengambilalihan saham yang telah dikeluarkan dan/atau akan dikeluarkan oleh Perseroan Terbatas (PT).

Dalam buku Hukum Perseroan Terbatas (hal. 510), M. Yahya harahap, S.H. menyatakan bahwa menurut hukum, saham Perseroan yang dapat diambil alih adalah saham yang telah ditempatkan dan disetor (geplaats en gestort aandeel, subscribed and paid-up share). Akan tetapi, dapat juga terhadap saham yang belum dikeluarkan atau yang akan dikeluarkan (aandelen in portefeulle) atau saham portefel (portpolio).

Cara pengambilalihan saham perseroan ini dapat dilakukan dengan: A. melalui Direksi Perseroan, atau B. langsung dari pemegang saham. (lihat Pasal 125 ayat [1] UUPT)

A. Melalui Direksi Perseroan (1) Pihak yang Akan Mengambil Alih Menyampaikan Maksudnya (lihat Pasal 125 ayat [5] UUPT);

(2) Menyusun Rancangan Pengambilalihan (lihat Pasal 125 ayat [6] UUPT jo. Pasal 26 ayat [3] PP No. 27 Tahun 1998 tentang Penggabungan, Peleburan dan Pengambilalihan Perseroan Terbatas) yang memuat sekurang-kurangnya: a. nama dan tempat kedudukan dari Perseroan yang akan mengambil alih dan Perseroan yang akan diambil alih; b. alasan serta penjelasan Direksi Perseroan yang akan mengambil alih dan Direksi Perseroan yang akan diambil alih; c. laporan keuangan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 66 ayat (2) huruf a untuk tahun buku terakhir dari Perseroan yang akan mengambil alih dan Perseroan yang akan diambil alih; d. tata cara penilaian dan konversi saham dari Perseroan yang akan diambil alih terhadap saham penukarnya apabila pembayaran Pengambilalihan dilakukan dengan saham; e. jumlah saham yang akan diambil alih; f. g. kesiapan pendanaan; neraca konsolidasi proforma Perseroan yang akan mengambil alih setelah Pengambilalihan yang disusun sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia; h. cara penyelesaian hak pemegang saham yang tidak setuju terhadap Pengambilalihan; i. cara penyelesaian status, hak dan kewajiban anggota Direksi, Dewan Komisaris, dan karyawan dari Perseroan yang akan diambil alih; j. perkiraan jangka waktu pelaksanaan Pengambilalihan, termasuk jangka waktu pemberian kuasa pengalihan saham dari pemegang saham kepada Direksi Perseroan; k. rancangan perubahan anggaran dasar Perseroan hasil Pengambilalihan apabila ada.

(3) Mendapat Persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) (lihat Pasal 127 ayat [1] UUPT). (4) Wajib Mengumumkan Ringkasan Rancangan Pengambilalihan (lihat Pasal 127 ayat [2] dan ayat [3] UUPT). Sebelum RUPS diselenggarakan untuk membicarakan Rancangan Pengambilalihan, Ringkasan Rancangan Pengambilalihan wajib terlebih dahulu diumumkan oleh Direksi Perseroan yang akan mengambil alih dan yang akan diambil alih (Hukum Perseroan Terbatashal. 514): Diumumkan paling sedikit dalam 1 (satu) Surat Kabar; Mengumumkan secara tertulis kepada Karyawan Perseroan yang akan mengambil alih; Pengumuman dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sebelum pemanggilan RUPS; Pengumuman wajib memuat pemberitahuan bahwa pihak yang berkepentingan dapat memperoleh Rancangan Pengambilalihan di kantor Perseroan, sejak tanggal pengumuman sampai tanggal RUPS diselenggarakan. (5) Kreditor Berhak Mengajukan Keberatan (lihat Pasal 127 ayat [4] UUPT). (6) Rancangan Pengambilalihan Dituangkan ke Dalam Akta Pengambilalihan (lihat Pasal 128 UUPT). (7) Salinan Akta Pengambilalihan Dilampirkan pada Penyampaian Pemberitahuan kepada Menteri (lihat Pasal 131 ayat [1] UUPT).

B. Langsung dari Pemegang Saham Menurut M. Yahya Harahap (Hukum Perseroan Terbatas, hal. 516), ketentuan pokok proses pengambilalihan saham secara langsung dari pemegang saham, berbeda dengan tata cara

pengambilalihan saham melalui direksi. Pengambilalihan saham secara langsung dari pemegang saham, lebih sederhana prosedurnya, seperti yang dijelaskan di bawah ini.

Proses yang Tidak Perlu Dilakukan 1. Pihak yang mengambil alih tidak perlu menyampaikan maksud untuk melakukan pengambilalihan kepada Direksi (lihat Pasal 125 ayat [7] UUPT). 2. Tidak perlu membuat rancangan pengambilalihan (lihat Pasal 125 ayat [7] UUPT). Namun, disyaratkan dalam Pasal 125 ayat [8] UUPT bahwa pengambilalihan wajib memperhatikan AD Perseroan yang akan diambil mengenai hal: Pemindahan hak atas saham; dan Perjanjian yang telah dibuat oleh Perseroan dengan pihak lain.

Proses yang Harus Dilakukan (1) Mengadakan perundingan dan kesepakatan langsung yaitu antara para pihak yang akan mengambil alih dengan pemegang saham dengan tetap memperhatikan anggaran dasar Perseroan yang diambil alih (lihat penjelasan Pasal 125 ayat [7] UUPT); (2) Mengumumkan rencana kesepakatan pengambilalihan (lihat Pasal 127 ayat [8] UUPT). Diumumkan paling sedikit dalam 1 (satu) Surat Kabar; Mengumumkan secara tertulis kepada Karyawan Perseroan yang akan mengambil alih; Pengumuman dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sebelum pemanggilan RUPS;

(3) Kreditor dapat mengajukan keberatan (lihat Pasal 127 ayat [4] UUPT); (4) Kesepakatan pengambilalihan, dituangkan dalam akta pengambilalihan (lihat Pasal 128 UUPT). (5) Salinan akta pemindahan hak atas saham dilampirkan pada penyampaian pemberitahuan kepada Menteri tentang perubahan susunan pemegang saham (lihat Pasal 131 ayat [2] UUPT).

Proses terakhir yang harus dilakukan dalam rangka pengambilalihan adalah pengumuman hasil pengambilalihan (lihat Pasal 133 ayat [2] UUPT). Direksi dari perseroan yang sahamnya diambil alih wajib mengumumkan hasil pengambilalihan dalam 1 (satu) Surat Kabar atau lebih dalam jangka waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari terhitung sejak tanggal berlakunya pengambilalihan.

II. Dampak bagi pemegang saham pada PT yang diakuisisi adalah apabila sahamnya termasuk yang diambil alih, tentunya pemegang saham tersebut tidak lagi mempunyai saham pada PT tersebut sehingga tidak lagi mempunyai hak suara dalam RUPS maupun hak atas dividen. Demikian pula sebaliknya, bagi pemegang saham yang tidak termasuk diambil alih sahamnya, maka pemegang saham tersebut masih memiliki hak sebagai pemegang saham yaitu untuk dicatat dalam daftar pemegang saham, hak untuk menghadiri dan mengeluarkan suara dalam RUPS, atau hak untuk menerima dividen yang dibagikan.

III. Komposisi saham pada Perusahaan PMA yang melakukan akuisisi tentunya tidak berubah dengan dilakukannya akuisisi/pengambilalihan. Karena, akuisisi hanya mengakibatkan beralihnya pengendalian atas suatu PT (lihat Pasal 1 ayat [11] UUPT). Tidak menambahkan saham pada PMA yang melakukan akuisisi karena PMA yang mengakuisisi merupakan badan hukum yang terpisah dari PT yang diakuisisi.

Hukum Jual Beli Ponsel Tanpa Garansi di Pasar Gelap (Black Market) Apakah dasar hukum bagi penjualan telepon selular yang black market atau tanpa garansi?

btifaona

Share:

Jawaban: Adi Condro Bawono dan Diana Kusumasari

Istilah black market diterjemahkan sebagai pasar gelap oleh kamus English-Indonesia yang kami akses dari situs kamus.ugm.ac.id. Kemudian, menurut buku Belajar Hidup Bertanggung Jawab, Menangkal Narkoba dan Kekerasan yang ditulis oleh Lydia Herlina Martono et.al. (hlm. 20), suatu perdagangan yang dilakukan di pasar gelap, artinya dilakukan di luar jalur resmi sebab melanggar hukum.

Mahkamah Agung dalam Putusan No. 527 K/Pdt/2006 juga menggunakan istilah black market untuk menyebut suatu perdagangan yang tidak resmi.

Cakupan istilah pasar gelap ini cukup luas, selama perdagangan tersebut melanggar hukum dan dilakukan di luar jalur resmi, maka dapat disebut sebagai suatu pasar gelap. Misalnya, barang (telepon selular) yang diperdagangkan tersebut merupakan hasil pencurian, penyelundupan, atau tidak dilengkapi perizinan untuk dapat diperdagangkan, sehingga melanggar suatu ketentuan peraturan perundang-undangan.

Dasar dari terjadinya jual beli adalah perjanjian jual beli. Salah satu syarat sahnya perjanjian

sebagaimana diatur dalam Pasal 1320 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPer) adalah adanya sebab yang halal yakni sebab yang tidak bertentangan dengan undang-undang, kesusilaan, maupun dengan ketertiban umum (lihat Pasal 1337 KUHPer).

Sehingga, jika telepon selular yang diperdagangkan itu diperoleh dari hasil pencurian, penyelundupan, penadahan atau diperoleh dengan cara-cara lain yang melanggar undangundang, dapat dikatakan jual beli tersebut tidak resmi/tidak sah dan terhadap pelakunya dapat dijerat dengan pasal-pasal pemidanaan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

Selain itu, telepon selular termasuk produk telematika sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri Perdagangan No.: 19/M-DAG/PER/5/2009 (Permendag 19/M-DAG/PER/5/2009). Definisi produk telematika menurut Pasal 1 angka 1 Permendag 19/M-DAG/PER/5/2009 adalah sebagai berikut:

Produk telematika adalah produk dari kelompok industri perangkat keras telekomunikasi dan pendukungnya, industri perangkat penyiaran dan pendukungnya, industri komputer dan peralatannya, industri perangkat lunak dan konten multimedia, industri kreatif teknologi informasi, dan komunikasi.

Telepon selular, menurut ketentuan Lampiran I Permendag 19/M-DAG/PER/5/2009, merupakan salah satu produk yang wajib dijual dengan disertai kartu jaminan/garansi purna jual dalam Bahasa Indonesia.

Hal tersebut terkait juga pengaturan Pasal 2 ayat (1) Permendag 19/M-DAG/PER/5/2009 yang menyatakan bahwa:

Setiap produk telematika dan elektronika yang diproduksi dan/atau diimpor untuk diperdagangkan di pasar dalam negeri wajib dilengkapi dengan petunjuk penggunaan dan kartu jaminan (garansi purna jual) dalam Bahasa Indonesia.

Karena itu, terhadap penjual telepon selular yang melanggar ketentuan Pasal 2 ayat (1) Permen 19/M-DAG/PER/5/2009 berlaku ketentuan Pasal 22 Permen 19/M-DAG/PER/5/2009 yang menyatakan bahwa:

Pelaku usaha yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat [1], dikenakan sanksi sebagaimana diatur dalam Undang-Undang No. 9 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen (UUPK).

Jika kita melihat pada ketentuan UUPK, Pasal 8 ayat (1) huruf j UUPK menyatakan bahwa seorang pelaku usaha dilarang memproduksi dan/atau memperdagangkan barang yang tidak mencantumkan informasi dan/atau petunjuk penggunaan barang dalam Bahasa Indonesia sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Terhadap pelanggaran Pasal 8 UUK ini pelaku usaha dapat dikenakan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak Rp2 miliar (lihat Pasal 62 ayat [1] UUPK).

Maka, berdasarkan pengaturan Pasal 62 ayat [1] jo. Pasal 8 ayat (1) UUPK seorang penjual telepon selular yang tidak memberikan kartu garansi dan layanan purna jual dapat dikenai sanksi pidana. Lebih lanjut, mengenai penuntutan berdasarkan Pasal 62 ayat (1) jo. Pasal 8 ayat (1) dapat disimak juga artikel iPad Dijual Tanpa Bahasa Indonesia.

Dari uraian di atas, dapat kiranya disimpulkan bahwa penjualan telepon selular di pasar gelap atau tanpa garansi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan adalah melanggar hukum.

Merger bank, antara lain diatur dalam Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 1999 tentang Merger, Konsolidasi dan Akuisisi Bank (PP 28/1999). Jika badan usaha bank berbentuk perseroan terbatas (PT), maka merger juga tunduk pada ketentuan pada Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

Merger sendiri adalah penggabungan usaha dari 2 (dua) bank atau lebih, dengan cara tetap mempertahankan berdirinya salah satu bank dan membubarkan bank-bank lainnya tanpa melikuidasi terlebih dahulu(pasal 1 angka 2 PP 28/1999). Alasan dilakukannya merger antara lain adalah untuk peningkatan efisiensi, daya saing dan kinerja bank. Selain itu, merger bank juga dapat dilakukan terkait dengan kebijakan Single Presence Policy yang diatur dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 8/16/PBI/2006 tentang Kepemilikan Tunggal Pada Perbankan Indonesia.

Dalam merger, aktiva dan pasiva bank yang melakukan merger beralih karena hukum kepada bank hasil merger (pasal 2 angka 2 PP 28/1999). Jadi, simpanan dari nasabah penyimpan dana juga ikut beralih demi hukum kepada bank hasil merger.

Perlindungan hukum terhadap nasabah sehubungan dengan merger bank diatur secara umum dalam penjelasan pasal 28 Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan(UU Perbankan) yang menegaskan bahwa merger yang dilakukan bank tidak boleh merugikan kepentingan para nasabah. Namun, upaya hukum apa yang dapat dilakukan oleh nasabah yang dirugikan oleh tindakan merger ini tidak diatur lebih lanjut dalam UU Perbankan maupun peraturan perundang-undangan terkait lainnya. asar hukum: 1. Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 1999 tentang Merger, Konsolidasi dan Akuisisi Bank

2.

3.

Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 8/16/PBI/2006 tentang Kepemilikan Tunggal Pada Perbankan Indonesia

Klaim ASKES Saya saat ini sedang mengajukan klaim asuransi kepada PT. ASKES atas perawatan kami di RS. Swasta. Karena kami masuk RS melalui Gawat Darurat, klaim kami dapat diterima. Tetapi dari klaim kami sebesar Rp. 7,6 juta hanya dikabulkan sebesar Rp. 590 ribuan saja dengan alasan obat-obatan yang dipakai bukan yang termasuk dalam daftar PT. ASKES. Dalam hal ini harus bagaimanakah kami bersikap? Diterima saja atau ada jalan lain? Masalahnya adalah obat-obatan tersebut bukankah kami yang memilih melainkan dokter-dokter yang merawat kami. oleh karenanya obat-obatan tersebut given sifatnya. Atas bantuannya terima kasih. imron

Share:

Jawaban: Bung Pokrol

Permasalahan asuransi adalah permasalahan jamak yang penyelesaian akhirnya seringkali membuat konsumen di posisi yang lemah. Hubungan antara Perusahaan Asuransi dan nasabahnya diatur dalam perjanjian yang mengikat dan disepakati oleh kedua belah pihak. Namun dalam pelaksanaannya posisi antara nasabah dan perusahaan asuransi seringkali timpang, dimana isi perjanjian dibuat dengan kata-kata yang sulit dipahami dan dibuat dalam tulisan kecil-kecil, (klausul baku) sehingga kesepakatan tersebut terjadi pada saat nasabah hanya memahami sebagian kecil dari perjanjian tersebut seperti yang bapak alami. Artinya perjanjian tersebut hanya dibaca sekilas, tanpa dipahami secara mendalam konsekuensi yuridisnya, yang membuat para nasabah asuransi sering tidak tahu apa yang menjadi haknya. Padahal konsumen asuransi mempunyai hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila barang dan atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebgaimana mestinya. Yang dapat bapak lakukan saat ini adalah melihat kembali Perjanjian antara PT Askes dengan Bapak Imron, apabila tidak diatur tentang pembatasan obat yang harus digunakan, maka Bapak dapat meminta kompensasi sesuai

apa yang menjadi kewajiban dari PT ASKES. Bahwa Pelaku usaha yang memperdagangkan jasa wajib memenuhi jaminan dan/atau garansi yang disepakati dan/atau yang diperjanjikan.
Apabila ada klausul yang mengatur tentang pembatasan obat yang harus diterima. Bapak perlu melihat apakah dibuat dalam bentuknya yang sulit terlihat, atau pengungkapannya sulit dimengerti, sehingga bapak dapat menuntut PT Askes seperti apa yang tertuang dalam Pasal 18 (2) Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen ("UU Perlindungan Konsumen") mengenai klausul baku yaitu :

Pelaku usaha dilarang mencantumkan klausula baku yang letak atau bentuknya sulit terlihat atau tidak dapat dibaca secara jelas, atau yang pengungkapannya sulit dimengerti. Sehingga dalam hal ini pelaku usaha dapat dimintai tanggung jawab atas kewajibannya sesuai Pasal 7 UU Perlindungan Konsumen bahwa kewajiban pelaku usaha adalah beritikad baik dalam melakukan kegiatan usahanya, memberikan informasi yang benar, jelas dan jujur mengenai jaminan barang dan/atau jasa serta memberi penjelasan penggunaan perbaikan dan pemeliharaan. Permasalahan sengketa konsumen ini dapat ditempuh melalui pengadilan atau diluar pengadilan berdasarkan pilihan sukarela para pihak yang bersengketa. Bapak dapat meminta bantuan dari Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat dalam hal ini YLKI berkaitan dengan tugasnya yang antara lain membantu konsumen dalam memperjuangkan haknya, termasuk menerima keluhan atas pengaduan konsumen. Selain itu, dapat melaporkannya ke Badan Penyelesaian sengketa konsumen berkaitan dengan tugasnya melakukan pengawasan terhadap pencantuman klausula baku. Apabila pengusaha dalam hal ini PT Askes tetap tidak mau bertanggung jawab, maka sesuai Pasal 62 (1) UU Perlindungan Konsumen dimana dikatakan bahwa Pelaku usaha yang melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 di[idana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau pidana denda paling banyak Rp. 2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah). Demikian jawaban kami, semoga di kemudian hari semakin banyak konsumen yang kritis untuk menuntut hak yang seharusnya didapat, terlebih dalam bisnis asuransi.