Anda di halaman 1dari 23

Ibu, Tamparlah Mulut Anakmu Daftar Isi

Sekelumit Catatan Harian


@Emha Ainun Nadjib Kabar dari Redaksi—5
Hak cipta dilindungi undang-undang Ibunda di Mata Cak Nun (Sebuah
All right reserved Pengantar: D. Zawawi Imron)—19
Daftar Isi—35
Iftitah: (Sajak) Ibunda—39
Cetakan Pertama, Januari 2000
Cetakan Kedua, Maret 2000 1. Anakmu Belum Juga Sembuh, Bu—47
2. Do’a Ibu tak Pernah Ganti—53
3. Pertolongan Allah Tidaklah untuk Ditunggu, tapi untuk
ISBN 979-9010-09-8 Dikerjakan—57
4. Agar Pantas Menjadi Penghuni Do’a Ibu—61
5. Ibu, tamparlah Mulut Anakmu—65
Kata Pengantar: D. Zawawi Imron 6. Anakmu Risih kepada Embel-embelnya—69
Penyunting: Mathori A Elwa 7. Bendunglah Mulut Anakmu—73
Disain Cover & Gambar: Wenk Mohan 8. Bekerja itu Memproduksi Tenaga—77
Pra-cetak: Sigit-Brodin-Fajar 9. Inilah Anak-anakmu yang Hina—81
10. Besar dan Kecil, Permainan Apa, Bu?—85
11. Kebanggan untuk Menjadi Kecil—89
Penerbit Zaituna 12. Ilmu Pengetahuan hanya Sebilah Pisau—93
Dk. IX tamantirto kasihan Bantul Yogyakarta 13. Ilmu Pengetahuan dan Tindakan Nyata—97
Tromol Pos 10 Kasihan Bantul Yogyakarta 14. Ajaran tentang Kesamaan—103
Telp./Fax 0274-376574 15. “Apa tho Nak, Emansipasi itu?”—107
email: emha@indosat.net.id 16. Bergurulah kepada Kebersahajaan—111
home page: http://www.padhang-mbulan.web.id 17. Perampok, Perlawanan, Dendam—115
18. Syukur, Ibu Menjadi Rakyat—119
19. Fakir di Hadapan Allah—123
20. Ibu, Kelupaslah Topeng Anak-anakmu Supaya mengerti Islam—
129

Khatimah: (Sajak) Ibunda—135


Kamus—139

Distributor:
CV Adipura
Jl. Mangunegaran Kidul No. 8
Yogyakata 55131 Telp. 0274-373019
Iftitah: Rakyat adalah Tuanmu,
Ibunda yang di genggaman tangannya terletak
hitam putih nasibmu
Ibumu adalah di hadapan mata Tuhan
Ibunda darah dagingmu
Tundukkan mukamu Rakyat adalah
Bungkukkan badanmu Ibunda yang menyayangimu
Raih punggung tangan beliau Takutlah kepada air matanya, karena
Ciumlah dalam-dalam jika Ibunda menangis karena engkau
Hiruplah wewangian cintanya tusuk perasaannya,
Dan rasukkan ke dalam kalbumu Tuhan akan mengubah peranNya dari
Agar menjadi jimat bagi rizki Sang Penabur Kasih Sayang
dan kebahagiaanmu menjadi Sang Pengancam,
Sang Penyiksa yang maha dahsyat
Tanah air adalah Ibunda alammu Ibunda darahmu
Lepaskan alas kaki keangkuhanmu Ibunda tanah airmu
Agar setiap pori-pori kulitmu Ibunda rakyatmu
menghirup zat kimia kasih Adalah sumber nafkahmu,
sayangnya kunci kesejahteraanmu serta mata air
Sentuhkan keningmu pada kebahagiaan hidupmu
hamparan debu
Reguklah air murni dari Pejamkanlah mata,
kandungan kalbunya rasakan kedekatan cintanya
Karena Ibunda tanah airmu itulah Sebab ketika itu Tuhan sendiri yang
pasal pertama setiap kata ilmu dan mengalir dalam kehangatan
lembar pembangunan hidupmu darahnya
Kalau Ibunda membelai rambutmu
Rakyat adalah Ibunda sejarahmu Kalau Ibunda mengusap keningmu,
Rakyat bukan bawahanmu, memijiti kakimu
melainkan atasanmu Nikmatilah dengan syukur
Jangan kau tengok mereka ke bawah dan batin yang bersujud
kakimu, karena justru engkau Karena sesungguhnya Allah sendiri
adalah alas kaki mereka yang yang hadir dan maujud
bertugas melindungi kaki mereka Kalau dari tempat yang jauh engkau
dari luka-luka kangen kepada ibunda
Rakyat bukan anak buahmu Kalau dari tempat yang jauh ibunda
yang engkau berhak kangen kepada engkau,
menyuruh-nyuruh dan mengawasi dendangkanlah nyanyian puji-puji
untuk Tuhanmu
Karena setiap bunyi dijadikan kayu bakar nerakamu
kerinduan hatimu adalah
Sebaris lagu cinta Allah kepada segala Rakyat negerimu adalah
ciptaanNya ibunda sejarahmu
Demi nasibmu sendiri jangan
Kalau engkau menangis pernah injak kepala mereka
Ibundamu yang meneteskan air mata Demi keselamatanmu sendiri jangan
Dan Tuhan yang akan mengusapnya curi makanan mereka
Kalau engkau bersedih Demi kemashlahatan anak cucumu
Ibundamu yang kesakitan sendiri jangan pernah hisap darah
Dan Tuhan yang menyiapkan mereka
hiburan-hiburan Jangan pernah rampok tanah mereka
Sebab engkau tidak bisa menang
Menangislah banyak-banyak atas Ibundamu sendiri
untuk Ibundamu Dan ibundamu tidak pernah
Dan jangan bikin satu kalipun ingin mengalahkanmu
Ibumu menangis karenamu Sebab pemerintahmu tidak akan
Kecuali engkau punya keberanian bisa menang atas rakyatmu
untuk membuat Sebab rakyatmulah
Tuhan naik pitam kepada hidupmu ibunda yang melahirkanmu
kalau ibundamu menangis, Serta ia pulalah yang nanti akan
para Malaikat menjelma jadi butiran- menguburkanmu sambil menangis,
butiran air matanya karena ia tidak menjadi bahagia
Dan cahaya yang memancar dari oleh deritamu
airmata ibunda membuat para karena ibu sejarahmu itu
malaikat itu silau tidak bergembira oleh kejatuhanmu
dan marah kepadamu
Dan kemarahan para malaikat adalah Ibundamu,
kemarahan suci sehingga Allah tidak tanah airmu,
melarang mereka tatkala menutup rakyatmu
pintu sorga bagimu Tak akan pernah bisa engkau kalahkan
Ibu kandungmu adalah Engkau merasa menang sehari semalam
ibunda kehidupanmu Esok pagi engkau tumbang
Jangan sakiti hatinya, karena ibundamu Sementara Ibundamu,
akan senantiasa memaafkanmu tanah airmu, rakyatmu
Tetapi setiap permaafan ibundamu atas Tetap tegak di singgasana kemuliaan
setiap kesalahanmu akan digenggam
erat-erat oleh para malaikat untuk Emha Ainun Nadjib
mereka usulkan kepada Tuhan agar Senin, 15.12.1992
Anakmu Belum Juga Sembuh, Bu Anakmu dikepung rasa sia-sia, rasa
bersalah, rasa amat kotor, rasa banyak
bacot, rasa tak berbuat—dan Ibu duduk
19.8.1985, 07.12 abadi di hadapan jiwaku, dengan
Anakmu Belum Juga Sembuh, Bu. senyum yang bagai tak tertang-
gungkan.
Qul in-dlalaltu fa-innama adlillu
‘ala nafsi, a-inihtadaitu fa-bima yuha Mustinya anakmu bertugas menulis
ilayya rabbi, innahu sami’un qarib. buku, dan ia telah tuangkan rangka
Allahumma-j’al qalbi nur, wa-sami’i beserta judul-judulnya yang seram. Tapi
nur, wa-bashari nur, wa-lisani nur, wa- begitu jijik ia kepada dirinya sendiri.
yadayya nur, wa-rijlayya nur, wa jami’a Untuk apa semua reka-reka intelektual
jawarihi nur, ya nurul anwar. itu, sesudah sekian ratus tulisan
berakhir sebagai tulisan itu sendiri?
Semoga mendiang Ayah menyaksikan Buat apa ia melesat begitu tinggi ke
anaknya menuliskan beratus rasa langit-langit pikirannya, untuk kemudi-
dosanya ini, yang ia mulai pada hari an kaget ketika menatap sekelilingnya,
ulang tahun wafatnya yang kedua belas. dan meludah tatkala menemukan
Semoga jika tulisan anaknya ini wajahnya sendiri d kaca? Apa arti
ternyata mengandung dosa yang baru, semua kesibukan menggebu-gebu ini,
tak menghambat perjuangannya di sesudah rangkaian demi rangkaian
depan gerbang Allah. Semoga tegar dan kembang berangkat luruh oleh karena
cerahlah jiwanya di dalam menempuh tak ada potdan ladang? Sesudah sekian
proses cinta kasih-Nya yang kedua, tak aransemen lagu gagal memasuki irama
berkurang oleh anaknya yang lamban musik zaman yang dengan besar kepala
untuk menjadi shaleh seperti yang hendak diubahnya?
secara amat mendalam selalu dicita-
citakannya. Mungkin anakmu terlalu mendalam
melukisi fantasi sorgawinya, sehingga
Anakmu Belum Juga Sembuh, Bu. gagal memijakkan kaki secara utuh di
atas tanah kehidupan yang bersahaja.
untuk apa ia mengembara seperti orang Mungkin anakmu terlalu perduli ter-
gila sekian lama? menabung cemas, haap kekecewaannya atas dunia yang
kekacauan, syubhat di sekitar berlangsung tidak seperti yang dike-
keadannya, tuduhan dan pertanyaan hendakinya, padahal siapa tahu itu tak
yang barangkali tak terjawab hingga lebih dari kekecewaannya terhadap
kapan pun? dirinya sendiri. Mungkin anakmu
sedang kehabisan kepercayaan tehadap
dirinya sendiri.
Doa Ibu
Ibu, Ibu, lihatlah anakmu ternyata tak Pernah Ganti
hanya seekor anak ayam.
Seekor anak ayam
19.8.1985, 00.36
yang ciap-ciap kedinginan.
pantas awet sakit jiwanya.
Ibu, engkau duduk di hadapanku.
Apakah ia akan mati beku, Bu?
Ibu tak bisa mati dalam hidupku.
Tapi biarkan ia belajar mandi.
Sampai larut malam usia wadagku
nanti, Ibu memanggang cintaku.

Pandangan mata Ibu tak menagih


Cinta adalah rem, pembijak,
apapun. Tapi aku akan menyicil bayar-
pengarif, yang terkadang nikmat
an demi bayaran, dalam perdagangan
terkadang sakit bagi kemungkinan
dengan Tuhan yang aneh.
pembunuhan atau permusuhan
yang dipotensialkan oleh ilmu
Doa Ibu tak pernah ganti. “Allah
pedang. Ini berlaku pada skala
perkenankan dan kurung anakku dalam
manapun. Di kesempitan pergau-
ijaah-Mu untuk berdiri membela kaum
lan sehari-hari hinga di keluasan
fakir miskin. Allah, istaqim aladi,
peradaban. (EAN)
tegakkan kaki anakku. Allah nawwir
qalbuhu, cahayai hatinya. Allah pe-
lihara imannya. Isikan tawakkal dan
sabar di dadanya. Allah penjaga waktu
dan ruang. Allah pengangon hari dan
malam. Alladzi la tudrikuhul-abshar
wa-huwa yudrikul-abshar. Allah yang
tak terlihat, yang melihat, yang me-
nyediakan segala hal tak terduga....”

Doa Ibu mengangkat tanganku untuk


menampar mukaku sendiri yang hina.
Doa Ibu lugu dan sungguh-sungguh.
Ibu tak tahu slogan, dan manusia tak
bisa menyelenggarakan pameran
apapun di hadapan Tuhan. Doa Ibu
memantulkan hidup Ibu. Kata-kata ibu
memproyeksikan keringat Ibu.
Ibu duduk di hadapanku. Desa kita dan Pertolongan Allah
dunia berkecamuk di antara kita. Tidaklah untuk
Airmuka Ibu selalu bertanya apakah
Ditunggu, tapi untuk
anak-anak Ibu bukan beberapa lembar
daun kering yang melayang-layang Dikerjakan
disebul angin. anak-anak Ibu harus
menjawab, dan anak-anak Ibu belum 20.8.1985,6.50.
makin mampu untuk menjawab.
Ibu, anak-anak Ibu mensyukuri
kebelummampuan itu, dengan cara
mengadilinya, di hadapan Ibu.
Kita semua ini tidak bisa Anak-anak Ibu harus tahu bagaimana
berharap apa-apa kepada dunia, mempermalukan dirinya sendiri, me-
tidak bisa berharap apa-apa ter- natap kegagalannya, kemunafikannya
hadap negara, tidak bisa berharap serta kebelumberartiannya.
apa-apa pada Parpol, tidak bisa
berharap apa-apa kepada Pemilu, Wa-nuridu an-namuna ‘alal-ladina
tidak bisa berharap apapun saja tudl’ifu fil-ardl, wa-naj’aluhumu-l-waritsun.
yang lemah-lemah di dunia ini. Dan Kami menolong orang-orang yang
Tidak berarti saya mentidakkan dilemahkan, menjadikan mereka se-
semua yang di atas, tetapi keter- bagai pemimpin dan pewaris.
gantungan kita yang utama hanya
kepada Allah Swt. dan kepada Tidak ada pembela kaum fakir miskin,
syafaat Rasulullah Saw. (EAN) kecuali dirinya sendiri. Ibu, anak-anak
Ibu adalah bagian dari kaum yang
dilemahkan hampir secara apapun oleh
suatu susunan kekuatan yang mem-
belakangi Allah. namun Ibu telah
mengajari dengan seluruh teladan usia
kehidupan Ibu, bahwa pertolongan
Allah tidaklah untuk ditunggu, melain-
kan untuk dikerjakan. Anak-anak Ibu
juga tak akan menjadi pemimpin.
Aimmah dan waritsun adalah seluruh
kaum fakir, apabila mereka berusaha
menabung kekuatan untuk memimpin
dan mewarisi kedaulatan Allah atas
bumi dan kehidupan.
Ibu, engkau duduk di hadapanku. Ibu
engkau bersungguh-sungguh dengan Agar pantas Menjadi
semua itu. Anak-anak Ibu pun ber- Penghuni Doa Ibu
sungguh-sungguh, tapi kesungguhan
kami cacat. Ibu mengisi hari dengan
20.8.1985, 13.11
sembilan amal dan sebiji qaul. Anak-
anak ibu sebaliknya, bersibuk dengan
Tak ada cara lain buat hari ini, Bu,
tumpahan kata yang amber, meneng-
sebelum anakmu mengakhiri perannya
gelamkan jumlah dan makna kerja yang
sebagai gelandangan mbambung gila di
hanya sekelumit.
eropa dan kembali ke desa mencopot
Dan kini, untuk mengacari wajah yang
sepatu.
penuh huruf ini, anak Ibu tetap juga
memerlukan ribuan kalimat lain seperti
Namun anakmu berharap cacatnya
sampah yang pawai menggerunjal di
boleh sedikit berkurang, karena kutulis-
sungai.
kan semua ini di hadapan Ibu. Dengan
begitu aku memperoleh kesempatan
untuk memojokkan diri. Di hadapan
Ibu anakmu tak bisa berbohong, tak
Tuhan menyediakan naluri dan
bisa menaburi pikiran-pikirannya
benih akhlaq untuk saling berbagi,
dengan kembang-kembang, tak bisa
saling menyejahterakan. manusia
bercerai dari realitas yang kita
dianugerahi bakat untuk merasa-
pijak, tak bisa mengumbar kemulukan-
kan nikmat dalam berjamaah. Tak
mulukan pikiran yang tak
ada manusia yang aslinya sanggup
memperdulikan apa habl dan hikmah-
merasa tentram jika di sisinya ada
nya terhadap kaki menggeremat dari
saudaranya yang kelaparan, atau
kehidupan. di hadapan Ibu anakmu
mampu tidak gelisah jika di depan
tidak bisa mengambil posisi sebagai
matanya ada siapapun yang me-
seniman, budayawan, ilmiawan, atau
ngalami luka penderitaan. (EAN)
apapun yang biasanya mempersyarat-
kan suatu jarak tertentu dari kenya-
taan; dan biasanya pula gagal
menghindarkan tidak terkontrolnya
abstraksi-abstraksi oleh bumi
kenyataan. Posisi dan jarak itu hanya
anakmu perlukan sebagai suatu cara
memandang yang kadangkala
diperlukan.

Selebihnya anak Ibu tahu, kata-kata


tidak merdeka dari perbuatan, mulut Ibu, Tamparlah
tidak steril dari manusia si empunya, Mulut Anak-anakmu
ide tidak otonom dari sikap, pemikiran
bukan centelan kelopak bunga plastik
20.8.1985,00.51
di pot mentalitas. anak-anak Ibu harus
mengadili sejarah hidupnya untuk
Ibu, engkau duduk di hadapanku.
bertanggungjawab terhadap etika kaffah
Ibu jadilah hakim yang syadid, yang
itu, setidaknya agar mereka pantas
besi, bagi anak-anakmu.
menjadi penghuni dari doa-doa Ibu.
Jika kutulis ini sebagai buku netral,
pengadilan akan empuk. Setiap kata
Kewajaran matahari adalah
dari beribu bahasa bisa dipakai untuk
menerangi dengan adanya dan
mementaskan kepalsuan. seratus ahli
menggelapkan dengan tiadanya.
penyusun kalimat bisa memproduksi
kewajaran angin adalah menafasi
puluhan atau ratusan ribu rangkaian
dan melemparkan. Kewajaran air
kata yang bebas dari kenyataan dan dari
adalah meminumi dan meneng-
diri penyusunnya sendiri.
gelamkan. Kewajaran manusia
adalah kesetiaan berjuang me-
Kebebasan itu bisa sekedar berupa
manage dan mengadilkan takaran
keterlepasan kicauan intelektual dari
cahaya matahari agar menye-
dunia empiris, tapi bisa juga
hatkan, takaran kendali angin agar
merupakan kesenjangan antara sema-
menyamankan, takaran luas tanah
ngat ilmu—yang di antara keduanya
agar menyeimbangkan, serta ta-
membentang kemunafikan, in-
karan nyala api agar mematang-
konsistensi atau bentuk-bentuk
kan. (EAN)
kelamisan lainnya.

Syair tidak bertanya kepada penyairnya.


Ilmu tidak menguak ilmiawannya.
Pembicaraan tidak menuntut
pembicaranya. Tulisan tidak meminta
bukti hidup penulisnya. Ide tidak
kembali kepada para pelontarnya.

Ibu yang duduk di hadapanku, ini


adalah kritik anak-anakmu sendiri.
Allah melaknat orang yang mencari
ilmu untuk ilmu. Al-‘ilmu lil-‘ilmi.
Ilmu menjadi batu, dan para pencari Anakmu
ilmu menyembah bau-batu, berhala- risih kepada
berhala yang membeku di perpustakaan
Embel-embelnya
dan pusat-pusat dokumentasi serta
informasi.
20.8.1985,06.50
betapa penting dokumentasi, tetapi
ilmu tidak dipersembahkan kepada Ibu, mungkin saja nakmu di-
museum apapun, melainkan kepada apa hinggapi oleh rasa bersalah intelektual
yang bisa dikerjakan hari ini oleh para yang berlebihan. Tapi justru di hadapan
penulis di lapangan, bukan di Ibu anakmu memperoleh ruang yang
kahyangan. lebih bebas untuk mengemukakan
Ibu, tamparlah mulut anak-anakmu. sudut-sudut pandang seperti ini dalam
memandang dan mengucapkan segala sesuatu.

Orang yang bertahun-tahun Anakmu merasa banyak—dari cara


mempelajari mana yang benar dan berpikir—yang ingin ia kemukakan
mana yang salah dalam kehidupan, akan nampak sepihak dan sangat
tidak dijamin memiliki kebenaran fanatik membiaskan suatu perasaan
mental untuk mengemukakan subjektif sebuah lapisan masyarakat.
sesuatu hal itu benar dan sesuatu
hal itu salah. Tinggi dan luasnya Ia tentu saja nampak sepihak, karena
Ilmu pengetahuan seorang cende- tak lain ia memang merefleksikan
kiawan tidak menjanjikan jaminan sebuah pihak. Bahkan ia adalah bagian
moral. Artinya, dari kenyataan itu dari pihak itu sendiri, yang selama ini
tercermin ketidaktahuan kemanu- kedudukannya hanya diamati, ditelan-
siaan. Di dalam diri seseorang jangi dan disorong kesana kemari tanpa
tidak terdapat keterkaitan positif pernah bersuara. Apa yang disebut
antara, pengetahuan, ilmu, men- perasaan subjektif sebuah lapisan
talitas dan moralitas. (EAN) masyarakat itu justru apa yang hari ini
seharusnya tampil. Bukan ditampilkan,
tapi menampilkan diri—ketika para
ahli tarik suara lebih sibuk melihat-
lihat dan mengucapkan penglihatannya
itu dari sudutnya.

Ibu, lihatlah anakmu pun sibuk beter-


bangan di angkasa. Anakmu marginal.
Anakmu bertarung di dalam dirinya
sendiri. Anakmu malu semalu-malu- Bendunglah
nya. Anakmu risih kepada dirinya Mulut Anakmu
sendiri, kepada sayap-sayapnya, embel-
embelnya. Ibu makin rajinlah berdoa
20.8.1985,16.00
supaya anak-anakmu pantas mengga-
bungkan diri ke dalam cita-cita doa
Ibu, bendunglah mulut anakmu
Ibu. Ibu, anak-anakmu sudah
yang terlalu banyak jual jamu dengan
meletakkan sukma mereka di kaki Ibu
katakata yang tidak terdapat pada
yang pecah-pecah penuh tanah becek
kebiasaan bahasa berpikir Ibu serta
desa, tapi bantulah meraih kembali
semua teangga kita di desa.
anggota-anggota badan mereka yang
tercecer dan bertaburan di udara. Ibu,
Ibu, tegurlah dengan kebersahajaanmu
tariklah kami lebih dekat ke pihakmu.
agar anakmu membatasi untuk ikut
Ibu peluklah lebih erat, genggam
memeriahkan kemewahan yang
masukkan ke cinta kasih sosialmu.
dipentaskan di atas kertas-kertas necis
buku-buku, koran dan majalah,
makalah-makalah seminar, atau yang
Pandanglah sekeliling Anda,
disodorkan di dalam berbagai pawai
pakailah seribu mata, seribu
kefasihan intelektual di kelas-kelas,
cara pandang, seribu kerangka
ruang konperensi, hotel, kantor, villa,
teori, seribu kepekaan, dan
atau auditorium universitas.
kecenderungan agar Anda me-
Anakmu insyaallah tahu menghargai
ngetahui bahwa masih banyak
semua kesibukan itu, tapi anakmu
dimensi yang baik pada dimensi
sedang mengusap busa-busa mulutnya.
manusia. (EAN)
Segala yang dibicarakannya dan
ditulisnya seolah terasa kental merasuki
kisruh sejarah ummat manusia—
termasuk yang berlangsung di desa
kita. Tapi dari sisi lain sesungguhnya
antara pembicaraan itu dengan keadaan
tetangga-tetangga kita, kurang saling
tahu menahu.

Kalau ada satu dua butir padi buah


anakmu yang sempat berguna, biarlah
ia berguna tanpa kita harus
mengingatnya. Yang anakmu kini
sedang lakukan ialah membuktikan
kepada Ibu kehinaan dan Bekerja itu
kerendahannya. Ibu, inilah anakmu Memproduksi Tenaga
yang sampai hari ini belum lebih sukses
dari sekedar membangun beberapa
20.8.19.85,01.15.
tumpuk keangkuhan pikiran.
Ibu, anakmu bukan berpejam mata
terhadap betapa penting perkembangan
Hidup ini “bejana berhu-
pemikiran-pemikiran.
bungan“, secara ruang dan
Anakmu belum segila itu.
waktu, jatah dan keseimbangan
Tapi ia merasa terlibat di dalam
merupakan tradisi penciptaan
belum berhasilnya manusia memfung-
Allah. Sedetik kebaikan dan se-
sikan ilmu pengetahuan untuk berpacu
zarrah keburukan selalu mem-
melawan laju kebobrokan.
peroleh penyeimbang-Nya. Se-
Anakmu memusatkan omongannya ini
orang yang dirugikan akan
pada ironi yang anakmu sandang
memperoleh ganti rugi. Se-
sendiri. Ibu, kami sibuk
orang yang merugikan akan
merumus-rumuskan keadaan, meniti
’ditarik pajak’ oleh hukum
dan menggambar peta masalah,
kehidupan . (EAN)
mengucapkan dan mengumumkannya.
Pengumuman itu mandeg sebagai
pengumuman. tulisan mengabdi
kepada dirinya sendiri.

Sedangkan Ibu, hampir tanpa kata,


berada di dalam peta itu, menjawabnya
dengan tangan, kaki dan keringat.

Kami menghabiskan hari demi hari


untuk mengeja gejala, dengan susah
payah berusaha menjelaskan kepada diri
sendiri, sampai akhirnya kelelahan,
lungkrah dan ngantuk—Ibu pula yang
dengan tekun memijiti tubuh kami.

Ibu tak kehabisan tenaga. Apakah Ibu


menyewanya langsung dari Tuhan?

Ya, Bu. Bekerja itu memproduksi


tenaga. Berpikir, yang hanaya berpikir, Inilah Anak-anakmu
selalu menciptakan keletihan, yang yang Hina
belum tentu ada gunanya.
21.8.1985,08.24.
Manusia hendaknya tahu diri,
Ibu menghidupi kerja-kerja kecil,
belajar bertawadlu’ dan mencoba
kami menggelembungkan pikiran-
mengenali rahasia-rahasia firman-
pikiran besar. kaki ibu yang telanjang
Nya, atau yang alau memakai
berjalan menapaki jalanan desa yang
bahasa keduniaan manusia; me-
blethok, menyingkirkan batu-batu
ngenali retorika dan diplomasi-
untuk dijadikan pagar atau tembok.
Nya. Jangan sekali-kali kita ter-
jebak dalam kandungan dan mem-
kami terbang ke angkasa—dengan
bayangkan allah memiliki ke-
biaya amat mahal. waktu yang berulur-
pentingan atas kehidupan dan
ulur dan hiasan sayap yang warna-
segala pekerjaan kita . (EAN)
warni—sambil mata silau oleh cahaya
matahari, menengok ke bawah,
menyimpulkan perlunya memijakkan
kaki di tanah jalanana hidup, merancang
bagaimana taktik dan strategi yang
terbaik untuk menyingkirkan batu-
batu, memproduktifkannya untuk mem-
bangun pagar atau tembok.
Pelaksanaannya, kami pasrahkan kepada
hari esok, karena tenaga dan waktu
kami sendiri lebih bermanfaat bagi
sesuatu yang lain.

kami memikirkan, sambil diangi oleh


subsidi dan biaya proyek. Ibu menger-
jakannya dengan dibiayai oleh Tuhan
ata entah siapa. kami mendiskusikan,
menseminarkan, mengasumsi, menyim-
pulkan, mendokumentasikan. Ibu
melakukannya. Ibu melakukan tanpa
pernah mendengar atau apalagi mema-
hami segala isi diskusi demi diskusi
yang selalu harus berkepanjangan dan
mengulang-ulang. Ibu melakukannya, Besar dan Kecil,
persis seperti yang akhirnya dianjurkan Permainan Apa, Bu?
oleh diskusi itu. Ibu melakukannya,
sejak jauh sebelum terselenggara
21.8.1985,02.20.
diskusi-diskusi itu.
Besar dan kecil. Besar kecil.
Anak-anak Ibu kulakan tema-tema
permainan apa sesungguhnya itu, Bu?
besar, mungkin karena terpaksa melari-
kan diri dari kegagalan mengerjakan
Ibu mengerjakan besar dan kecil hanya
hal-hal kecil. Ya. Inilah anak-anakmu
berlaku bagi kedudukan antara Tuhan
yang hina, Bu. gagal bersilaturahmi
dan manusia. Selebihnya kata besar dan
dengan lingkar-lingkar kecil dari ke-
kecil kita pakai hanya sebagai bahasa,
hidupan, kemudian malah melompat
tidak sebagai hakekat.
memasuki kancah kisaran besar sejarah.
Namun anak-anakmu meniup balon-
Anak-anak yang membutuhkan waktu
balon besar untuk menyembunyikan
begitu panjang untuk proses sedikit
kekecilannya—tidak di hadapan Allah
tahu diri.
--melainkan di hadapan manusia atau
sesuatu lainnya. Anak-anakmu belum
memerdekakan dirinya dari struktur
Banyak orang yang menyangka
kasta besar kecil yang menapasi hampir
kaum yang beribadah memerlukan
semua segi perhubungan antara ma-
penghormatan dari semua manu-
nusia.
sia, padahal penghormatan atau
Sungguh, di hadapan Ibu anakmu
karomah yang sejati dan ber-
harus bertanya dengan perasaan
manfaat dunia akhirat itu hanya
mendalam, kenapa belum bisa
yang berasal dari Allah Swt. be-
dihindarkan berlangsungnya tatanan
laka . (EAN)
yang demikian keras membedakan
antara yang kecil dengan yang besar?
Orang derajat kecil orang derajat besar?
Ekonomi kecil ekonomi besar? Ke-
sudraan sosial kecil kepriyaian sosial
besar? Serdadu ilmu kecil dan ksatriya
ilmu besar? Rendah diri dan besar kepala?
Pertanyaan itu harus dipelihara seperti
menjaga mutiara hati kecil yang tak
pernah terlihatdan amat jarang
disadari. Pertanyaan itu menyimpan
cita-cita yang tidak masuk akal, namun
lebih tak masuk akal lagi apabila kita Kebanggaan untuk
membatalkannya sebagai cita-cita. Menjadi Kecil
Pertanyaan itu harus disirami ke-
suburannya, seperti kita diam-diam tak
22.8.1985.5.54.
pernah melepaskan nurani yang tera-
mat lembut, meskipun ia menjadi
Ibu, putra sang kecil dilahirkan
bahan tertawaan di tengah kesibukan
buat mendendam kekecilannya dan
pasar, di riuh lalulintas yang pusing
merintis kebesaran, dalam suatu paham
kepala. ‘
tentang kecil dan besar yang dinapas-
kan secara feodal dan diskriminatif.
Kecil dan besar tak lagi terpelihara
kita tidak perlu menjadi nabi
untuk tetap mampu mengucapkan
untuk menanganpanjangi kete-
kesamaan, oleh karena sejarah men-
rangan Allah yang selama ini
didik serigala untuk memakan ayam.
diremehkan orang. “Siapa bersyu-
kur akan kutambahkan rahmat-
Ibu di hadapanku, jika ada permata
Ku, siapa ingkar akan kusiksa
warisan paling berharga yang pernah Ibu
sedahsyat-dahsyatnya.“ Kita tidak
tanamkan dalam jiwa anak-anakmu,
harus beridentitas Rasul untuk
maka itu adalah penolakan atas ke-
mengabarkan rasa takut kepada-
besaran serigala, serta kebanggan untuk
Nya yang menegaskan “Afahasib-
menjadi kecil di dalam susunan kasta
tum annama khalaqnakum ‘‘a
yang harus disikapi.
batsa.“ (kalian pikir Kuciptakan
semua ini untuk iseng-iseng?). (EAN)
Setiap yang kecil didorong untuk
menyongsong dan memasuki kancah
besar. Pertama, karena yang besarlah
memang alamat dari segala
perlawanan. Kemudian yang besar
pulalah arena yang paling tepat dan aman
buat bergabung. Segala kata yang necis,
perjuangan, perubahan, perkembangan,
cita-cita, kemakmuran, kebahagiaan dan
hari depan, ditaruh di lingkaran besar.
Ketika kemudian hujan turun dengan
lebatnya, lunturlah segala gincu
kenecisan itu, tinggal kata kosong. Sebab
yang besar—dalam pengertian itu—hanya
bisa dipentaskan dengan perangkat-
perangkat kongkret kekuasaan, dengan Ilmu Pengetahuan
senapan dan struktur kepunggawaan. Hanya Sebilah Pisau
Putra sang kecil dipacu untuk menjadi
22.8.1985, 17. 54.
besar. Menjadi besar bukanlah
mengupayakan prestasi kemanusiaan
Ibu, orang sudah sangat terbiasa
dalam kaitannya dengan harkat hidup.
dengan kenyataan itu, sehingga kurang
Menjadi besar tidak menjadi kecil,
bisa menyadari lagi.
meleset dari kekecilan, melepaskan diri
dari yang kecil, mengatasi, menguasai
Namun anak-anakmu turut
dan mengangkangi yang kecil.
bertanggungjawab apabila orang
Berlangsung tahun demi tahun dalam
mengatakan: ilmu pengetahuan
sejarah di mana sekolah, yang
semakin tinggi, manusia semakin
membesarkan anak-anak kecil, adalah
pandai, tapi itu tak harus berarti bahwa
perahu yang berguna untuk
kehidupan semakin sehat dan permai.
meninggalkan masyarakat, adalah tangga
Aneh Bu. kepandaian seolah-olah
yang bermanfaat untuk memanjat ke
meruapakan suatu dosa, ketika dengan
suatu tingkat di atas pundak rakyat.
ke-makin-pandai-an itu manusia tidak
Menjadi besar ialah kesulitan untuk tidak
dengan sendirinya mampu
meninggalkan yang kecil.
membengkeli kehidupan ini untuk
menjadi kendaraan sejarah yang lebih
nyaman bagi penumpang-
Ujian utama Allah ialah mata
penumpangnya.
pelajaran uang.
Satu-satunya yang bisa meringankan
Uang itu adalah ketas ujian,
tanggungjawab ialah kenyataan bahwa
meskipun tidak berarti bahwa
anak-anakmu tak semakin ikut pandai,
dunia membutuhkan sebanyak
meskipun bisa dikemukakan bahwa
mungkin pengemis dan orang
sikap ilmu pengetahuan yang kini
miskin, agar makin banyak pula
makin tinggi itu terlepas atau melepas-
jumlah kaum sufi yang menjadi
kan diri dari kewenangan soal
matang sesudah mempetualangi
kesehatan kehidupan masyarakat,
ujian. (EAN)
kepermaian dan kebaikannya.
Ilmu pengetahuan hanya sebialh pisau.
Soal sehat dan baiknya kehidupan
masyarakat ditentukan oleh sifat hasrat
penggunaan pisau itu.

Ketika sistem pendidikan dan


kampanye-kampanye pembangunan
mengkinasihkan ilmu pengetahuan dan Ilmu Pengetahuan
menganaktirikan asah-asih-asuh hasrat dan Tindakan Nyata
baik, sejarah pasti dipermalukan oleh
ironi antara megahnya ilmu penge-
22.8.1985, 23. 48.
tahuan dengan busuknya bau borok
kehidupan. Lebih ironis lagi apabila
Ibu hampir tak pernah
ilmu pengetahuan hanya mampu
mengajarkan ilmu pengetahuan
menjumpai dirinya di dalam simbola-
apapun—seperti yang kini dikenal
simbola formal, sekolahan, buku-buku,
secara gencar oleh dunia—kepada anak-
perpustakaan, isyarat-isyarat social
anakmu.
budaya yang disebut intelektual. Dunia
intelektual bisa hanya menjadi bahasa
Ibu memacu, memberi contoh dan
perdewaan modern, yang memonopoli
menarik tangan anak-anak Ibu untuk
kasta keilmuan, dan oleh karena itu ia
memelihara hasrat baik tanpa istirahat.
memiskinkan dirinya sendiri.
Ilmu pengetahuan tak susah dicari.
Tapi membina hasrat baik, niat-niat
Dunia keilmuan bisa menjadi minyak
sosialitas, gairah kemasyarakatan—di
bagi air melimpah pengetahuan yang
tengah dunia yang teus menatar
dikandung oleh hasrat dan kerja baik
bagaimana hidup mentang-mentang—
kemasyarakatan. Jarak antara minyak
adalah pekerjaan yang tak bisa
dan air tidak hanya merupakan
dibandingkan dengan membaca seratus
jarak antara teori dan praktek, antara
buku tebal. Orang-orang yang diguyur
kata dan realitas, antara meja dan
hujan rejeki akan makin jauh dari
medan, antara pembayangan dan
keinginan mendirikan pagar, orang-
lapangan; tapi ia juga bisa menawarkan
orang yang terpepet dan terpojok akan
suatu sosok sejarah yang sama sekali
karib dengan hasrat mencuri.
berbeda dengan yang dicita-citakan,
ketika pisau ilmu pengetahuan yang
Ibu tak mungkin bisa berceramah
amat tajamitu tergenggam di tangan
kepada anak-anakmu tehnik
hasrat tak baik kemanusiaan.
komunikasi dan teori penyadaran
Anak-anak Ibu berlindung kepada
rakyat seperti anak-anakmu selalu
Allah dari ‘ilmun la yanfa’. Dari ilmu
casciscus di mana-mana; siapapun tahu
tak bermanfaat. Apalagi dari ilmu yang
bahasa Indonesia Ibu tak lebih baik
dimudlaratkan, pisau yang ditikamkan.
disbanding Pak Harto. Ibu hanya
menyeret anak-anak Ibu,berjalan
keliling desa, bertemu, menabung
tawashau bilhaq wa-tawashau bishabr,
ngobrol di dapur dengan Ibu demi Ibu
di seantero desa. Anak-anakmu mengerti, Ibu, bahwa
apabila Ibu berdoa Robbi, inni
Bertanya apakah masih punya rukuh maghdlubun fantashir, tidaklah untuk
untuk sembahyang. Merundingkan memproses dari posisi dikalahkan
apakah Ibu-ibu tertentu tak bermaksud menjadi pemenang atas orang lain.
membantu penghasilan suaminya Anak-anakmu mengalami bahwa kalau
dengan usaha ekonomi kecil-kecilan bagi Ibu kemenangan hanya berada di
yang modalnya nanti bisa dirunding tangan wewenang Allah, itu bukanlah
bersama. Merembugkan apakah di semacam pernyataan basa-basi para
antara para penguyang tak dibutuhkan Ulama atau igauan naïf nilai
semacam perkumpulan yang bisa saling keagamaan di hadapan sejarah yang
menolong dan menguatkan, atau menarik picu senapan. Anak-anakmu
apakah parapetani kecil tidak butuh hapal sehapal-hapalnya baha itu
kumpul-kumpul siapa tahu bisa adalah keyakinan polos Ibu yang tidak
merancang paguyuban yang merajut hanya bersemayam di manik iman Ibu,
kekuatan lidi-lidi tercecer di antara melainkan juga memancar di sinar
mereka. Ibu juga membuka pintu mata Ibu, mengalir dalam darah serta
rumah selebar-lebarnya bagi semua Ibu- menggerakkkan jari-jemari kaki tangan
ibu untuk menyicil usaha-usaha Ibu.
keagamaan, sosial budaya dan ekonomi.

Ibu menekuni kegiatan-kegiatan kecil


dan bersahaja, yang anak-anakmu gagal Orang terlanjur terlalu jauh
memperhatikannya untuk waktu yang membebaskan diri dari “neraka
tak pendek. orang lain”. Individu direbut
Ibu menekuninya, tanpa suatu sedemikian rupa sampai pada
kompleks untuk minta dianggap baha taraf setiap orang kaget—bahwa
yang kecil itu mengandung kebesaran, sesungguhnya banyak bagian dari
bahwa kuantitas mini itu mengandung dirinya yang justru bisa ditemu-
kualitas maksi. Juga di luar ukuran kan pada orang-orang lain. (EAN)
bahwa yang besar itu superior atas yang
kecil, atau justru yang kecil it menjadi
istimewa disbanding yang besar. Ibu
melakukan sesuatu tidak untuk meng-
gilirkan pemeran kecil menjadi pe-
meran besar, atau supaya yang kalah
menjadi menang dan yang menang
menjadi kalah.
olah merupakan hari kemarin dari baju
Ajaran tentang modernitas anak-anakmu.
Kesamaan

23.8.1985, 07. 15.


Manusia (dengan kualitas
pribadi dan posisi sosial) wajib
Ibu, rasanya belum ada lelaki sejati
adalah orang yang sangat ber-
dalam keluarga kita kecuali Ibu.
manfaat bagi saudara-saudara-
nya sesama manusia sampai ke
Tapi cara berpikir yang demikian itu
kadar yang sangat tinggi, se-
salah. Keprigelan, kedinamisan,
hingga jangan sampai manusia
progresivitas, bukan disumberi oleh
semacam itu tidak ada. (EAN)
kelelakian, sehingga wanita yang
memilikinya akan disebut jantan. Elan
kepemimpinan disediakan oleh Allah
dan tak pernah diniscayakan khusus
hanya buat lelaki. Hubungan antara
makna dan istilah kejantanan
mencerminkan budaya superior kaum
lelaki atas kaum wanita. Superioritas
itu membagi nilai manusia tidak ke
dalam diferensiasi antara lelaki dan
wanita, melainkan ke dalam kasta
antara keduanya.
Itu adalah kasus besar-kecil yang lain.
Maka menjadi tidak penting apakah
Ibu lelaki sejati ataukah wanita sejati.
Ukuran kesejatian, menurut Ibu,
berdasar hanya daya penyesuaian
perilaku manusia terhadap iradah
Allah. Bagaimana manusia
menterjemahkan fitrahnya ke dalam
langkah-langkah tugas hidupnya. Lelaki
maupun wanita.

Aneh Bu. Ajaran tentang kesamaan


terkadang justru datang dari masa
silam. Datang dari Ibu, yang seolah-
berbagai hal yang penuh arti. Tapi
“Apa tho Nak, lihatlah, apa yang lebih bermutu dari
Emansipasi itu?” sepak terjang anakmu ini selain
merengek-rengek?
Banyak hal pada kegiatan kaum wanita di desa kita yang membuat segala
23.8.1985, 13. 00.
pembicaraan tentang masyarakat
patrimonial menjadi terasa aneh. Tetapi
Ibu menjaga hasrat baik agar terus
toh Ibu juga tak bosan-bosan bertanya
memenuhi desa, berperang melawan
kepada anak-anakmu atau kepada
kelapukan akibat tumpahan hujan dari
kawan-kawan anak-anakmu yang
kekuatan-kekuatan yang mengatasi
datang ke desa: “apa tho Nak
desa kita.
emansipasi wanita itu?”
Mungkin sekedar ‘kelas’ rukuh, tapi
soalnya ialah kerajinan Ibu untuk
Bisakah kita menumbuhkan
menerobos dan menelusup, di samping
kerendahan hati di balik ke-
rukuh memang menyediakan rasa tidak
banggaan-kebanggaan? masih
aman bagi kemunafikan. Ibu juga maju
tersediakah ruang di dalam kita
ke Pak Polisi, angkat tangan memotong
dan di akal kita untuk sesekali
pidato Pak Pejabat di mimbar, melayani
berkata kepada diri sendiri, bahwa
segala kesulitan pekerjaan birokratis
yang bersalah bukan hanya me-
yang bisanya ditangani oleh kaum
reka, bahwa yang melakukan dosa
lelaki, menampung pertengkaran
bukan hanya ia, tapi juga kita.
suami istri-suami istri, membendungi
(EAN)
gejala saling benci di antara siapapun,
mempertanyakan sesuatu kepada Pak-
Pak Pamong, tanpa rasa sungkan atau
pakewuh seperti yang lazim diketahui
sebagai lender teal pembungkus sikap
sosial orang Jawa. Meskipun toh
frekuensi ketidakberesan yang pada
umumnya tumpah dari atas selalu akan
bisa mengubur usaha-usaha hasrat baik
Ibu.

Pasti ada ribuan orang di negeri ini


yang melakukan seperti yang Ibu
lakukan. Ratusan kawan-kawan
anakmu juga mampu mengerjakan
baju, kecuali dikondisi untuk
Bergurulah kepada berpegangan pada slogan-slogan dan
Kebersahajaan prasangka tertentu kepada kelompok
lain. Orang-orang desa menjadi ekor
dari binatang besar yang kepalanya
23.8.1985, 23. 20.
sangat jauh berada di kahyangan.
Apabila kepala itu bergerak,
Justru Ibu yang merundingkan
mendongak atau meunduk, ekor pun
dengan para jamaah lelaki di langgar
ikut menggerakkan diri tanpa mengerti
bagaimana lebih ragam mengisi
pesis apa hubungan semua itu dengan
kegiatan langgar untuk mengasah iman,
keperluan-keperluan nyata mereka di
bahkan juga untuk apapun saja
desa. Para pemimpin yang terletak di
rencana-rencana sosial ekonomi dan
perut tidak mampu menterjemahkan
budaya.
ekor ke kepala dan menterjemahkan
kepala ke ekor.
Musholla disukmai oleh kumpulan roh
para jamaah, sehingga tak pernah ia
Orang-orang di kepal khusyu dengan
sama sekali runtuh sebagai benteng dari
kesibukan-kesibukan besar yang orang
segala lalulintas hasrat buruk yang
ekor tidak paham dan tak tahu menahu.
disembunyi-sembunyikan. Usaha-usaha
Orang-orang di ekor ngunngun dalam
bersama memungkinkan orang untuk
ketidakmengertian, ketidakmenentuan
menghindarkan saling tak mau tahu
dan perasaan-perasaan subjektif
serta membina rasa batas untuk terlalu
tersembunyi yang di daerah kepala tak
mau tahu di antara tetangga. mendidik
tersedia peralatan untuk mendengarnya.
orang saling menyumbangkan per-
tolongan, mempersembahkan kontrol
Bertahun-tahun akhirnya perhubungan
toleransi, rasa sosial, keislaman.
aneh kepala-ekor itu berhasil dikurangi
keberlangsungannya di desa kita,
Ibu juga membikin jembatan yanpa
meskipun terakhir anakmu menerima
henti-hentinya pada kesenjangan antar
surat anakmu yang lain yang berkabar
firqah, antar golongan dalam Islam,
bahwa dampak gerak kepala itu mulai
belajar memperlakukan khilafiyah-
menggejalakan konflik-konflik
khilafiyah kecil tidak membiarkannya
ngayawara yang dulu pernah terjadi di
berkembang menjadi sumber konflik
desa.
politis yang toh itu kesibukan orang-
orang di atas.
Tentulah kini Ibu mendapatkan kerjaan
baru yang mengasyikan.
Kita orang-orang desa kurang paham
kenapa musti mempertengkarkan baju-
Perampok, Ah, Bu, tak sedikit anak-anak
Perlawanan, Dendam generasimu mengibarkan bendera
perlawanan terhadap para perampok
negeri di bawah suatu psikologi
24.8.1985, 07. 15.
kesejajaran yang berisi rasa cemburu
tersembunyi untuk ingin juga
Itu sekedar contoh dari yang Ibu
memperoleh giliran merampok.
didikkan, di hadapan anakmu yang
hanya fasih ngomong, yang
menjalankan syariat-rangka saja tak
lengkap, yang melibatkan diri di dalam
urusan-urusan besar untuk macet dan
abstrak.

Mungkin rasa malu anakmu ini ber-


Tanda kedewasaan adalah
lebih-lebihan sehingga untuk sementara
tercapainya keseimbangan batin di
ia seolah-olah sengaja kurang mampu
mana akal pikiran bekerja dengan
menghargai hal-hal besar yang juga tak
emosi untuk saling mengontrol dan
kurang berarti. I’malu ‘ala
membenahi proporsinya masing-
makanatikum inni ‘amil. Kerjakan di
masing. (EAN)
tempat dan dengan kapasitasmu
masing-masing, akupun
mengerjakannya.
Baiklah, tapi anakmu berharap semoga
ada perlunya rasa malu seperti ini,
sepanjang dipakai untuk memproses
ketepatan tempat dan kapasitas yang
anakmu bisa kerjakan.

Atau barangkali kotoran mual perut


anakmu naik setingi-tingginya ke
kepala, di tenah teriakan seribu satu
kata perjuangan dari mulut lingkungan
kawan-kawan anakmu di Eropa, yang
berulangkali disaksikannya itu semua
berujung di sepiring nasi politik pribadi
dan semangkuk bakso ekonomi perut
sendiri.
sebagai putri bangsa serta kemung-
Syukur, kinan-kemungkinan lain untuk menjadi
Ibu Menjadi Rakyat ‘orang’ atau ‘orang besar’. Kekurang-
ajaran itu bahkan seolah-olah mengan-
jurkan orang untuk lari dari sekolah
24.8.1985, 14. 45.
dan universitas.
Anak-anakmu sering ngobrol
Tidak, Bu. Ini hanyalah rasa syukur
mensyukuri Ibu dulu mogul sekolah di
anak-anakmu bahwa apa yang Ibu
kelas V Madrasah karena Ayah sudah
mampu kerjakan di desa sangat jauh
kebelet mempersunting.
melebihi segala omong besar dan lagak
modern anak-anakmu. Ini juga suatu
Dengan sedikit minta maaf kepada
rasa penasaran bahwa pengertian
Tuhan dan Ibu, anak-anakmu ber-
tentang kebesaran dan kekecilan,
alhamdulillah Ibu tak meneruskan
tentang reputasi dan karier, tentang
sekolah, kuliah, mengalahi karier
kepintaran dan fungsi social, ada
pribadi menjadi anggota DPRD,
baiknya terus digosok lagi warna buram
mengurusi masalah-masalah besar yang
permukaannya.
tak pernah mampu diseleseikannya.
Syukur Ibu menjadi rakyat, bukan
La tahtaqir man-dunaka fa-likulli
wakil rakyat, yakni si bukan rakyat
syai’in maziyyah. Jangan remehkan apa
yang amat jarang sukses mewakili
yang tampak berada lebih rendah
rakyat. Lebih dari itu, sudah menjadi
darimu, karena segala sesuatu memiliki
rahasia umum bahwa amat banyak
kelebihan. Itu pelajaran mahfudlat
wakil rakyat yang tak bener-bener
sekolah dasar, namun tak dijamin
paham apa yang sesungguhnya yang
bahwa seorang sarjana mampu
terjadi pada rakyat. Padahal wakil
menghidupi terjemahan empirisnya.
rakyat musti berada dua langkah di
Anakmu merasa terlibat di dalam
depannya: mengerti apa yang
siratan psikologis kaum yang menyebut
diperjuangkannya, kemudian berani-
diri intelektual, yang sering tanpa sadar
cancut memperjuangkannya.
mendemonstransikan tindakan angkuh
yahtaqir man dunahum itu.
Tentulah itu rasa syukur yang agak
kurang ajar. Seolah-olah anak-anak Ibu
bertepuk tangan atas suatu logika yang
menganggap bahwa dengan begitu Ibu
terpotong kemungkinannya untuk
mengembangkan diri secara maksimal,
menggarap karier pribadi, reputasi,
Diketik ulang dan di-PDF-kan (di-ebook-kan) oleh
Fakir Faishal Himawan Emkai
di Hadapan Allah (Mahasiswa Semester V Program Khusus Tafsir Hadis Fak. Ushuluddin IAIN Sunan Ampel Surabaya)
0856 4572 1133
24.8.1985, 23. 50. allfaishall@yahoo.co.id
http://emha2indonesia.multiply.com/
Ibu, anak-anakmu bergurau—kalau
umpamanya Ibu menjadi seorang tokoh,
daerah atau nasional, bisa jadi Ibu akan
hanya berhenti sebagai hiasan dinding,
keris genggaman penduduk kampung
halaman, nama Ibu dikembangbibirkan NB:
dan disembah-sembah tanpa sesuatu- 1- Ebook ini belum lengkap (masih ada beberapa halaman yang belum
pun yang jelas yang Ibu bisa kerjakan
diketik) dan belum sempurna (masih ada beberapa kesalahan dalam
bagi para tetangga kita.
huruf, tataletak, dsb.). Mohon doa dan dukungan moril maupun nonmoril
demi paripurnanya ebook ini.
2- Ebook ini dibuat tidak dengan maksud melanggar hak cipta. Niat awal
hanyalah sebagai sebuah upaya dari pembuat ebook ini untuk menjadi
murid dari guru Emha. Oleh karena itu, bila sang Guru sempat
mengakses ebook ini, saya sebagai manusia yang ingin menjadi murid,
mohon direstui. Adapun, tujuan lain yang perlu disebutkan disini adalah:
sebagai sebuah upaya untuk melestarikan budaya Emha yang menurut
si pembuat ebook, merupakan sebuah budaya yang bisa menjadi solusi
bagi ke-absurd-an yang mewabah di Indonesia.