P. 1
askep varicella

askep varicella

|Views: 2,138|Likes:
Dipublikasikan oleh Nur Asfiati

More info:

Published by: Nur Asfiati on Apr 17, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/18/2013

pdf

text

original

askep varicella

A. KONSEP MEDIS 1. Definisi Varisela berasal dari bahasa latin, Varicella. Di Indonesia penyakit ini dikenal dengan istilah cacar air, sedangkan di luar negeri terkenal dengan nama Chicken – pox. Varisela adalah Penyakit Infeksi Menular yang disebabkan oleh virus Varicella Zoster, ditandai oleh erupsi yang khas pada kulit. Varisela atau cacar air merupakan penyakit yang sangat menular yang disebabkan oleh virus Varicella Zoster dengan gejala-gejala demam dan timbul bintik-bintik merah yang kemudian mengandung cairan. 2. Etiologi Virus Varicella Zoster, termasuk Famili Herpes Virus. 3. Patofisiologi Menyebar Hematogen. Virus Varicella Zoster juga menginfeksi sel satelit di sekitar Neuron pada ganglion akar dorsal Sumsum Tulang Belakang. Dari sini virus bisa kembali menimbulkan gejala dalam bentuk Herpes Zoster. Sekitar 250 – 500 benjolan akan timbul menyebar diseluruh bagian tubuh, tidak terkecuali pada muka, kulit kepala, mulut bagian dalam, mata , termasuk bagian tubuh yang paling intim. Namun dalam waktu kurang dari seminggu , lesi teresebut akan mengering dan bersamaan dengan itu terasa gatal. Dalam waktu 1 – 3 minggu bekas pada kulit yang mengering akan terlepas. Virus Varicella Zoster penyebab penyakit cacar air ini berpindah dari satu orang ke orang lain melalui percikan ludah yang berasal dari batuk atau bersin penderita dan diterbangkan melalui udara atau kontak langsung dengan kulit yang terinfeksi. Virus ini masuk ke tubuh manusia melalui paru-paru dan tersebar kebagian tubuh melalui kelenjar getah bening. Setelah melewati periode 14 hari virus ini akan menyebar dengan pesatnya ke jaringan kulit. Memang sebaiknya penyakit ini dialami pada masa kanak-kanak dan pada kalau sudah dewasa. Sebab seringkali orang tua membiarkan anak-anaknya terkena cacar air lebih dini. Varicella pada umumnya menyerang anak-anak ; dinegara-negara bermusin empat, 90% kasus varisela terjadi sebelum usia 15 tahun. Pada anak-anak , pada umumnya penyakit ini tidak begitu berat. Namun di negara-negara tropis, seperti di Indonesia, lebih banyak remaja dan orang dewasa yang terserang Varisela. Lima puluh persen kasus varisela terjadi diatas usia 15 tahun. Dengan demikian semakin bertambahnya usia pada remaja dan dewasa, gejala varisela semakin bertambah berat. 4. Sign / Symtoms

Demam dan kadang – kadang diiringi batuk. Diet bergizi tinggi (Tinggi Kalori dan Protein). Pnemonia b. dapat timbul jaringan parut pada bekas gelembung yang pecah. kompres dengan air hangat. sedangkan pada orang dewasa kemungkinan terjadinya komplikasi berupa radang pariparu atau pnemonia 10 – 25 lebih tinggi dari pada anak-anak. c. 6. Hepatitis. Masalahnya. 5. . misalnya pemberian antiseptik pada air mandi. Sebelum munculnya erupsi pada kulit. 5. . 2. yang kemudian berubah menjadi papula (penonjolan kecil pada kulit). Kegagalan hati. Satu atau dua hari kemudian.Terakhir menjadi benjolan – benjolan kecil berisi cairan. Treatment Karena umumnya bersifat ringan. biasanya pustel akan mengering tanpa meninggalkan abses. Isolasi untuk mencegah penularan. Upayakan agar tidak terjadi infeksi pada kulit. d. 4. Komplikasi yang biasa terjadi pada anak-anak hanya berupa infeksi varisela pada kulit. • Umum 1... Kelainan ginjal. kebanyakan penderita tidak memerlukan terapi khusus selain istirahat dan pemberian asupan cairan yang cukup. . 3. Komplikasi Komplikasi Tersering secara umum : a. Meningitis. d. . Upayakan agar vesikel tidak pecah. Radang sumsum tulang. . Ensefalitis. tidak nafsu makan dan sakit kepala.Dalam 24 jam timbul bintik-bintik yang berkembang menjadi lesi (mirip kulit yang terangkat karena terbakar).Pusing.Jangan menggaruk vesikel. Munculnya erupsi pada kulit diawali dengan bintik-bintik berwarna kemerahan (makula). .Diawali dengan gejala melemahnya kondisi tubuh. c. b. Yang justru sering menjadi masalah adalah rasa gatal yang menyertai erupsi. papula kemudian berubah menjadi vesikel (gelembung kecil berisi cairan jernih) dan akhirnya cairan dalam gelembung tersebut menjadi keruh (pustula). muncul erupsi kulit yang khas. Tentu tidak menarik untuk dilihat.bila sampai tergaruk hebat.Kuku jangan dibiarkan panjang. Sindrom Reye. . lesu. Bila tidak ditahan-tahan . jari kita tentu ingin segera menggaruknya. Komplikasi yang langka : a. Bila demam tinggi. Bila tidak terjadi infeksi. penderita biasanya mengeluhkan adanya rasa tidak enak badan.

pemakaian aspirin pada infeksi virus (termasuk virus varisela) telah dihubungkan dengan sebuah komplikasi fatal. Integumen : kulit hangat. KONSEP KEPERAWATAN 1.. Data Objektif : a. cukup tepal-tepalkan handuk pda kulit. d. b. Intervensi . Dapat diberikan bedak atau losio pengurang gatal (misalnya losio kalamin). Resiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan kerusakan jaringan kulit. Metabolik : peningkatan suhu tubuh. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan erupsi pada kulit. misalnya pada penderita leukemia atau penyakit-penyakit lain yang melemahkan daya tahan tubuh. yaitu Syndrom Reye. Pengkajian Data subjektif : pasien merasa lemas.Jangan berikan aspirin pda anak anda.Parasetamol atau ibuprofen. Psikologis : menarik diri. tidak enak badan. B. Tingkatkan daya tahan tubuh. 5. Hindari kontak dengan penderita. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan luka pada kulit. Antibiotika = bila terjadi komplikasi pnemonia atau infeksi bakteri pada kulit. 4. 3. Diagnosa Keperawatan a. c. Antipiretik dan untuk menurunkan demam . Farmakoterapi 1. 3. Imunoglobulin Varicella Zoster . . GI : anoreksia.Dapat mencegah (atau setidaknya meringankan0 terjadinya cacar air. Pencegahan : 1. 2. jangan digosok. c. tidak nafsu makan dan sakit kepala. adanya bintik-bintik kemerahan pda kulit yang berisi cairan jernih. pucat. Antivirus dan Asiklovir Biasanya diberikan pada kasus-kasus yang berat. . Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dnegan kurangnya intake makanan. Penyuluhan / pembelajaran : tentang perawatan luka varicela. 3. e. 2.Bila hendak mengeringkan badan. 2. Bila diberikan dalam waktu maksimal 96 jam sesudah terpapar. Tujuan : mencapai penyembuhan luka tepat waktu dan tidak demam. Salep antibiotika = untuk mengobati ruam yang terinfeksi. Intervensi 1) Diagnosa 1 a. d.Dianjurkan pula bagi bayi baru lahir yang ibunya menderita cacar iar beberapa saat sebelum atau sesudah melahirkan. b. b. Kurang pengetahuan tentang kondisi dan kebutuhan pengobatan. e.

Cukur atau ikat rambut di sekitar daerah yang terdapat erupsi. Rasional : mencegah kontaminasi silang. Tujuan : terpenuhinya kebutuhan nitrisi sesuai dengan kebutuhan.Bersihkan jaringan nekrotik / yang lepas (termasuk pecahnya lepuh) Rasional : meningkatkan penyembuhan.Tekankan pentingnya teknik cuci tangan yang baik untuk semua individu yang datang kontak dnegan pasien. menurunkan resiko infeksi.Bantu memaksimalkan kemampuan yang dimiliki pasien saat ini. . 2) Diagnosa 2 a. . Rasional : meningkatkan partisipasi dalam perawatan dan dapat memperbaiki pemasukan.Berikan makanan sedikit tapi sering. . b. Intervensi . Rasional : memanfaatkan kemampuan dapat menutupi kekurangan.Awasi tanda vital Rasional : Indikator terjadinya infeksi. . Rasional : mencegah masuknya organisme infeksius.Pertahankan jaringan nekrotik dan kondisi sekitar luka.Berikan perawatan kulit Rasional : menghindari gangguan integritas kulit. . Dorong orang terdekat untuk membawa makanan dari rumah yang tepat.Pastikan makanan yang disukai/tidak disukai.Gunakan skort. . Rasional : mengetahui keadaan integritas kulit. Tujuan : pasien dapat menerima keadaan tubuhnya. Intervensi . Rasional : memfasilitasi dengan memanfaatkan keletihan. Tujuan : adanya pemahaman kondisi dan kebutuhan pengobatan. 5) Diagnosa 5 a. masker dan teknik aseptic.Eksplorasi aktivitas baru yang dapat dilakukan. Rasional : mencegah kontaminasi silang dari pengunjung. Intervensi . selama perawatan kulit. sarung tangan. b.Diskusikan perawatan erupsi pada kulit. 4) Diagnosa 4 a. b. Rasional : rambut merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri. . . . Tujuan : mencapai penyembuhan tepat waktu dan adanya regenerasi jaringan. 3) Diagnosa 3 a.Awasi atau batasi pengunjung bila perlu. Intervensi . b.. Rasional : membantu mencegah distensi gaster/ ketidaknyamanan dan meningkatkan pemasukan.

lebar 0. 3). Memberikan makanan sedikit tapi sering. Hamseniasis Reaksi :Episode akut yang terjadi pada penderita kusta yang masih aktiv disebabkan suatu interaksi antara bagian-bagian dari kuman kusta yang telah mati dengan zat yang telah tertimbun di dalam darah penderita dan cairan penderita. Etiologi M. b. sarung tangan dan teknik aseptik selama perawatan luka. Mengeksplorasi aktivitas baru yang dapat dilakukan. b. 2.2-0. f. Membantu memaksimalkan kemampuan yang dimiliki pasien saat ini.yang lepas (termasuk pecahnya lepuh).5 micron. Membersihkan jaringan mefrotik. Memperhatikan jaringan nekrotik dan kondisi sekitar luka. Evaluasi Evaluasi disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai dalam intervens Askep morbus hansen Pengertian Penyakit kusta adalah penyakit menular yang menahun yang menyerang saraf perifer. Menggunakan skort.Rasional : meningkatkan kemampuan perawatan diri dan menngkatkan kemandirian. e. dorong orang terdekat untuk membawa makanan dari rumah yang tepat. 4) Diagnosa 4 a. Implementasi 1) Diagnosa 1 a. c. 2) Diagnosa 2 a. Biasanya ada yang berkelompok dan ada yang tersebar satu-satu. 5. Memberikan perawatan kulit. Menekankan pentingnya teknik cuci tangan yang baik untuk semua individu yang datang kontak dengan pasien. Mendiskusikan perawatan erupsi pada kulit. b. 5) Diagnosa 5 a.8 micron. kulit dan jaringan tubuh lainnya. 4. Mengawasi atau membatasi pengunjung bila perlu. Mencukur atau mengikat rambut disekitar daerah yang terdapat erupsi. Kuman ini bersifat tahan asam berbentuk batang dengan ukuran 1. b. Mengawasi tanda vital. hidup dalam sel terutama . Memastikan makanan yang disukai/tidak disukai . Lepra : Morbus hansen. Leprae atau kuman Hansen adalah kuman penyebab penyakit kusta yang ditemukan oleh sarjana dari Norwegia.masker. Diagnosa 3 a. d. GH Armouer Hansen pada tahun 1873.

Gangguan sensibilitas sedikit. BT : Lesi berupa makula/infiltrat eritematosa dengan permukaan kering bengan jumlah 1-4 buah. fase system imun seluler tinggi macrofag dapat menghancurkan kuman hanya setelah kuman difagositosis macrofag. Kuman ini dapat mengakibatkan infeksi sistemik pada binatang Armadillo. LL : Lesi infiltrat eritematosa dengan permukaan mengkilat. LL 5. Leprae ke kulit tergantung factor imunitas seseorang. bilateral tapi asimetris. terjadi sel epitel yang tidak bergerak aktif. beberapa penelitian. Leprae ke tubuh belum diketahui pasti.). BTA ( + ) pada sediaan apus kerokan jaringan kulit dan uji lepromin ( . BT 2. histiosit ) untuk memfagosit. Tipe Tuberkoloid ( TT ) . histo patologik. Klasifikasi Kusta Menurut Ridley dan Joplin membagi klasifikasi kusta berdasarkan gambaran klinis. 4. terjadi kelumpuha system imun seluler tinggi macrofag tidak mampu menghancurkan kuman dapat membelah diri dengan bebas merusak jaringan. dan status imun penderita menjadi : 1. WHO membagi menjadi dua kelompok. Pengaruh M. Multi Basiler (MB) : BB. TT. BTA ( + ) sangat banyak pada kerokan jaringan kulit dan mukosa hidung. Jumlah biasanya yang satudenga yang besar bervariasi. Leprae pada suhu tubuh yang rendah.) dan uji lepramin ( + ) kuat. waktu regenerasi lama. Patogenesis Meskipun cara masuk M. M. Leprae ( Parasis Obligat Intraseluler ) terutama terdapat pada sel macrofag sekitar pembuluh darah superior pada dermis atau sel Schwann jaringan saraf. bakteriologik. BTA ( + ) banyak. yaitu : 1. Pansi Basiler (PB) : I. BTA ( . TT : Lesi berupa makula hipo pigmantasi/eutematosa dengan permukaan kering dan kadang dengan skuama di atasnya. Gejala berupa gangguan sensasibilitas. serta sifat kuman yang Avirulen dan non toksis. sel mn. 2. Lesi berupa mamakula/infiltrat eritematosa permukaan agak mengkilat. Gambaran khas lesi ”punched out” dengan infiltrat eritematosa batas tegas pada tepi sebelah dalam dan tidak begitu jelas pada tepi luarnya. BL. Gambaran Klinis Menurut klasifikasi Ridley dan Jopling 1.). gangguan sensibilitas sedikit/( . BL : Lesi infiltrat eritematosa dalam jumlah banyak. uji Lepromin ( . kemampuan hidup M. 3. jumlah sangat banyak dan simetris.). bila tidak segera diatasi terjadi reaksi berlebihan dan masa epitel menimbulkan kerusakan saraf dan jaringan sekitar. bila kuman masuk tubuh tubuh bereaksi mengeluarkan macrofag ( berasal dari monosit darah.jaringan yang bersuhu dingin dan tidak dapat di kultur dalam media buatan. Tipe LL . uji Lepromin ( . gangguan sensibilitas ( + ) 3. 4. 5.). Tipe TT . ukuran bervariasi. dan kemudian bersatu membentuk sel dahtian longhans. pertumbuhan langsung dan sekresi kelenjar keringat. tersering melalui kulit yang lecet pada bagian tubuh bersuhu dingin dan melalui mukosa nasal. ukuran kecil.

atau. Tipe Borderline Lepromatus ( BL ) Dimulai makula. cenderung simetris. tidak adanya kuman merupakan tanda adanya respon imun pejamu yang adekuat terhadap basil kusta. Tipe Borderline Tuberkoloid ( BT ) • Hampir sama dengan tipe tuberkoloid • Gambar Hipopigmentasi. pelipis. terletak dekat saraf perifer menebal. bahkan hampir sama dengan psoriasis atau tinea sirsirata. berkurangnya keringat dan gugurnya rambut lebih cepat muncil daripada tipe LL dengan penebalan saraf yang dapat teraba pada tempat prediteksi. permukaan halus.• Mengenai kulit dan saraf. • Permukaan lesi dapat berkilat. • Infiltrasi Tuberkoloid ( + ). 3. cuping telinga. • Lebih lanjut • Deformitas hidung • Pembesaran kelenjar limfe. • Distribusi lesi khas : • Wajah : dahi. berkilap. beberapa nodus melekuk bagian tengah. • Lesi satelit ( + ). sedikit rasa gatal. intis dan keratitis. orkitis atrofi. kontrol healing ( + ). dagu. batas jelas. • Lesi bisa satu atau kurang. jumlah lesi melebihi tipe BT. Tipe Lepromatosa ( LL ) • Lesi sangat banya. • Lesi sangat bervariasi baik ukuran bentuk maupun distribusinya. • Gangguan saraf tidak sejelas tipe TT. hipopigmentasi. Tanda khas saraf berupa hilangnya sensasi. dapat disertai madarosis. lebih eritoma. Makula lebih jelas dan lebih bervariasi bentuknya. makula dan popul baru. 5. ekstensor tingkat bawah. jarang dijumpai. kelemahan otot. regresi. dapat berupa makula atau plakat. • Stadium lanjut Serabut saraf perifer mengalami degenerasi hialin/fibrosis menyebabkan anestasi dan . • Stadium lanjutan : • Penebalan kulit progresif • Cuping telinga menebal • Garis muka kasar dan cekung membentuk fasies leonine. • Permukaan lesi bersisik dengan tepi meninggi. 2. • Badan : bahian belakang. • Penyakit progresif. Tipe Mid Borderline ( BB ) • Tipe paling tidak stabil. simetris. lengan punggung tangan. Biasanya asimetris. yaitu hipopigmentasi berbentuk oralpada bagian tengah dengan batas jelas yang merupaan ciri khas tipe ini. • Bisa didapatkan lesi punched out. kekeringan kulit atau skauma tidak sejelas tipe TT. • Lesi dapat berbentuk macula infiltrate. • Tombul lesi lama terjadi plakat dan nodus. batas tidak tegas atau tidak ditemuka anestesi dan anhidrosis pada stadium dini. awalnya sedikit lalu menjadi cepat menyebar ke seluruh tubuh. Terdapat penebalan saraf perifer yang teraba. beberapa plag tampak seperti punched out. testis • Kerusakan saraf luas gejala stocking dan glouses anestesi. 4. batas lesi kurang jelas.

Gangguan rasa nyaman : nyeriberhubungan dengan luka amputasi Tujuan : Rasa nyaman terpenuhi dan nyeri berkurang setelah dilakukan tindakan keperawatan. atrofi • Kelenjar limfe : limfadenitis • Rambut : alopesia. iridosiklitis. kadang-kadang dapat ditemukan makula hipestesi dan sedikit penebalan saraf. dapat menerima keadaanya dengan menjelaskan bahwa perubahan fisiknya tidak akan kembali normal. amilodosis ginjal. artritis • Lidah : ulkus. Resti injuri b/d invasif bakteri 7. 6. • Lokasi bahian ekstensor ekstremitas.pengecilan tangan dan kaki. Tipe Interminate ( tipe yang tidak termasuk dalam klasifikasi Redley & Jopling) • Beberapa macula hipopigmentasi. nodus • Larings : suara parau • Testis : ginekomastia. • Anjurkan klien agar lebih mendekatkan pada Tuhan YME. epididimitis akut. hidung pelana • Tulang & sendi : absorbsi. 6. gangguan visus sampai kebutaan • Tulang rawan : epistaksis. sedikit sisik dan kulit sekitar normal. • Merupakan tanda interminate pada 20%-80% kasus kusta. dengan kriteria hasil : • Klien merasakan nyeri berkurang di daerah operasi • Klien tenang • Pola istirahat-tidur normal. 7-8 jam sehari Intervensi : 1. bokong dan muka. nefritis interstitial. • Sebagian sembuh spontan. Intervensi Gangguan konsep diri : Harga diri rendah berhubungan dengan inefektif koping indifidu Tujuan : Klien dapat memnerima perubahan dirinya setelah diberi penjelasan dengan kriteria hasil : • Klien dapat menerima perubahan dirinya • Klien tidak merasa kotor (selalu menjaga kebersihan) • Klien tidak merasa malu Intervensi : • Bantu klien agar realistis. Kaji skala nyeri klien . Diagnosa Keperawatan 1. pielonefritis. Gambaran klinis organ lain • Mata : iritis. Gangguan rasa nyaman : nyeri b/d proses reaksi 3. Gangguan aktivitas b/d post amputasi 4. madarosis • Ginjal : glomerulonefritis. • Ajarkan pada klien agar dapat selalu menjaga kebersihan tubuhnya dan latihan otot tangan dan kaki untuk mencegah kecacatan lebih lanjut. Gangguan konsep diri : HDR b/d inefektif koping indifidu 2. orkitis. mutilasi.

Vesikel akan berubah menjadi pustule dan kemudian menjadi krusta. Klinis terdapat gejala konstitusi.2. terutama berlokasi di bagian sentral. kelainan kulit polimorf. Penyakit ini disertai rasa gatal. Gejala klinis dimulai dengan gejala prodormal yaitu demam yang tidak terlalu tinggi. yang disertai gejala konstitusi dengan kelainan kulit yang polimorf. Sementara proses ini berlangsung. C. Penyebaran teutama di daerah badan dan kemudian menyerang selaput lendir mata. lelah. Bentuk vesikel ini khas berupa tetesan emben (tear drops). terutama berlokasi di bagian sentral tubuh. Penamaan virus ini memberi pengertian bahwa infeksi primer virus ini menyebabkan penyakit Varisela. PENGERTIAN • Varisela adalah infeksi akut primer oleh Virus Varisela Zoster yang menyerang kulit dan mukosa. mulut dan saluran nafas bagian atas. 2000 ) • Varisela adalah penyakit infeksi virus akut dan cepat menular. Kemudian disusul timbulnya erupsi kulit berupa papul eritematosa yang dalam waktu beberapa jam berubah menjadi vesikel. Ajarkan cara nafas dalam & massage untuk mengurangi nyeri 6. PATHOFISIOLOGI . Alihkan perhatian klien terhadap nyeri 3. 2000 ) B. timbul lagi vesikelvesikel yang baru sehingga menimbulkan gambaran polimorfi. ( Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Motivasi klaskep varicella A. D. lesu. Awasi keadaan luka operasi 5. mengajarkan Range of Motion : terapi latihan post amputasi 3. ( Ngasyiyah. pusing. Motivasi klien untuk bisa beraktivitas sendiri 2. cepat merasa lemah. ( Mawarti Harahap. Fakultas Kedokteran UI ) • Varisela adalah penyakit akut menular yang ditandai oleh vesikel di kulit dan selaput lendir yang disebabkan oleh Virus Varisela. Perubahan pola aktivitas berhubungan dengan post amputasi Tujuan : Klien dapat beraktivitas mandiri sesuai keadaan sekarang setelah dilakukan tindakan keperaatan dengan kriteria hasil : • Klien dapat beraktivitas mandiri • Klien tidak diam di tempat tidur terus Intervensi : 1. sedangkan reaktivitasnya menyebabkan Herpes Zoster. sakit punggung. Kolaborasi untuk pemberian obat antibiotik dan analgetik. ETIOLOGI Penyakit ini disebabkan oleh virus Varisela Zoster. Monitor keadaan umum dan tanda-tanda vital 4. dan anoreksia. kadang-kadang sakit perut. Jika terdapat infeksi sekunder maka akan terdapat pembesaran kelenjar getah bening regional. MANIFESTASI KLINIS Masa inkubasi penyakit ini berlangsung sekitar 8 – 12 hari. tidak mau makan.

infeksi dihambat oleh imunitas non spesifik. Infeksi pada ibu hamil trimester pertama dapat menimbulkan kelainan congenital. Ataxia ini akan menghilang dengan sendirinya dalam waktu beberapa minggu atau bulan. hepatitis. Hal ini menyebabkan panas dan malaise. sehingga dalam waktu 2 minggu setelah infeksi. Pada masa ini. arthritis dan kelainan darah (beberapa macam purpura). pneumonia dan hepatitis yang termasuk dalam kelompok tersebut : • Bayi dibawah usia 28 hari • Orang dengan kekebalan tubuh rendah Komplikasi yang terjadi pada orang dewasa berupa ensefalitis. termasuk neonatus tetapi tersering pada anak atau masa anak-anak. serta virus menyebar ke seluruh tubuh lewat aliran darah. glomerulonefritis. pneumonia. E. otitis. sedangkan infeksi yang terjadi beberapa hari menjelang kelahiran dapat menyebabkan varisela congenital pada neonatus. Kemudian akan dimakan oleh sel-sel system retikuloendotial. Komplikasi yang paling umum ditemukan adalah : • Bekas luka yang menetap. terjadi viremia yang lebih hebat (Viremia Sekunder). gerakan mata yang berganti-ganti dengan cepat. kesulitan bicara. Disini terjadi replikasi virus lebih banyak lagi (pada periode inkubasi). Kemudian virus tersebut mengalami multiplikasi awal setempat dan virus yang menyebar ke pembuluh darah dan saluran limfe (Viremia Primer). EPIDEMIOLOGI Dapat mengenai semua umur. • Acute Cerebral Ataxia Komplikasi ini tidak umum ditemukan dan cenderung lebih mungkin tejadi pada anak yang lebih tua. . karditis. KOMPLIKASI Cacar air jarang menyebabkan komplikasi. Di Indonesia data mengenai penyakit varisela ini hanya ada di beberapa rumah sakit. cacar air mungkin menyebabkan komplikasi yang serius seperti cacar air yang berat dan seluruh tubuh. Pada kebanyakan individu. Hal ini umumnya ditemukan jika cacar air terjadi pada anak yang usianya lebih tua atau cenderung pada orang dewasa. sedangkan data di Indonesia secara menyeluruh belum ada. konjungtivitis. Jika terjadi komplikasi dapat berupa infeksi kulit. terutama di kulit dan membran mukosa.Virus masuk ke dalam tubuh melaui mukosa traktur respiratorius bagian atas/ orofaring yaitu virus berpindah dari satu orang ke orang lain melalui percikan ludah yang berasal dari batuk/ bersin penderita dan diterbangkan melalui udara dan kontak langsung melalui kulit yang terinfeksi. Komplikasi ini ditandai dengan gerakan otot yang tidak terkoordinasi sehingga anak dapat mengalami kesulitan berjalan. F. Pada beberapa kelompok. replikasi virus lebih menonjol atau lebih dominan dibandingkan imunitas tubuhnya.

Menjaga Kebersihan .kebersihan pakaian c. gambaran lesi monomorf dan penyebarannya sentripetal (dari bagian akral tubuh baru ke badan) I. . Pemberian dapat dilakukan bersamaan dengan pemberian vaksinasi lain seperti vaksinasi MMR (Measles Mumps_Rubella). pemeriksaan mikroskop electron cairan vesikel dan material biopsi. dengan disertai panas dan gejala konstitusi ringan. DIAGNOSIS Varisela khas ditandai : . polimorfi dengan penyebaran sentrifugal . dan Tes Serologik. Pemberian vaksinasi Yaitu live. Isolasi Isolasi ketat di Rumah Sakit dilakukan sampai vesikek mengering. Pemberian VIZG ( Varicella_Zooster Immune Globulin ) 3. H. Pada Variola.Gambaran lesi bergelombang. attenuated varicella virus vaccine. Sedangkan pada anak usia 13 tahun diberikan dosis 0. Pada anak usia 12 bulan – 12 tahun vaksin dapat diberikan secara subkutan dengan dosis 0. PENCEGAHAN 1. DIAGNOSIS BANDING Varisela harus dibedakan dengan Variola. atau bahkan tanpa fase prodormal. J. Pengobatan Simptomatik . Vaksin ini diberikan pada anak usia diatas 12 bulan. PROGNOSIS Dengan perawatan yang teliti dan memperhatikan hygiene.5 ml subkutan dengan 2 dosis. penyakit lebih berat. .menghilangkan rasa gatal . Pengobatan dengan Anti virus .Sering ditemukan lesi pada membrane mukosa . 2. yaitu dengan pemeriksaan sediaan apus secara Tzanc.menurunkan panas b. Diagnosis laboratorium sama seperti Herpes Zoster.acyclovir digunakan secara oral maupun intravena.Penularannya berlangsung cepat.terutama pada daerah kuku yang sering digunakan untuk menggaruk .erusi papulovesikuler setelah fase prodormal ringan.acyclovir oral yaitu tablet 800 mg/hr setiap 4 jam . prognosis penyakit ini adalah baik.5 ml. PENGOBATAN a. . Jarak pemberian adalah 4-8 minggu K.G.7 sampai 10 hari diberi salep acyclovir 5% . Secara rutin vaksinasi ini dianjurkan pada usia 12-18 bulan.

kapan gejala terasa.vitamin E untuk kelembaban kulit.. Hipertermi berhubungan dengan penyakit 4. sudah dan beberapa lama menderita. pustula. Nursing C`are Plan Dx 1 infeksi NOC • Klien dapat mengetahui tentang faktor resiko infeksi dan dapat melakukan tindakan . Riwayat kesehatan dahulu ( pernah menderita penyakit sejenis ) 3. tomat dan anggur . reaksi alergi makanan.perawatan bekas luka dengan mengkonsumsi banyak air dan mineral. Kaji kulit melibatkan seluruh area kulit.penggunaan lotion yang mengandung pelembab BAB II ASUHAN KEPERAWATAN A. Identitas pasien 2. kaji vital sign 6. kaji riwayat imunisasi 7. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera biologi 3. Pengkajian 1. missal minuman dari lidah buaya atau rumput laut . Setelah Masa Penyembuhan . Riwayat kesehatan sekarang ( pernah kontak dengan penderita sejenis. krusta ) C. termasuk membran mukosa. Diagnosa Keperawatan Prioritas 1 Infeksi berhubungan dengan penyakit ( invasi virus Varisella Zooster ) 2. Riwayat alergi kulit. vitamin C placebo atau yang alami seperti jus jambu biji.acyclovir intravena diberikan pada kasus dengan komplikasi berat d. obat serta zat kimia dan riwayat kanker kulit 4. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan kondisi kulit ( vesikula. kulit kepala dan kuku 5. adakah penderita yang sama di lingkungan penderita. kaji nutrisi 9. kaji nyeri 8. ) B.

• Tanda vital dalam rentang normal. NIC : • Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi. Dx 3 Hipertermi NOC : • Suhu tubuh dalam rentang normal. • Monitor warna dan suhu kulit. • Evaluasi aktivitas analgesic tanda dan gejala. • Kompres pasien pada lipat paha dan aksila. • Pilih rute pemberian secara intravena atau intramuscular untuk pengobatan nyeri. frekuensi dan tanda nyeri). NIC : • Monitor suhu sesering mungkin. • Mampu mengenali nyeri (skala. • Monitor tekanan darah. • Ajarkan teknik non farmakologi untuk mengurangi nyeri. nadi dan RR • Berikan antipiretik. intensitas. kualitas dan faktor presipitasi. untuk mengurangi nyeri mencari bantuan). • Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri. • Nadi dan RR dalam rentang normal. • Observasi reaksi non verbal dan ketidaknyamanan. • Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak pusing serta pasien merasa nyaman. .pencegahan yang tepat untuk mencegah infeksi • Jumlah leukosit dalam batas normal NIC • Kaji tanda dan gejala infeksi • Ajarkan klien tanda tanda infeksi • Tingkatkan intake nutrisi • Berikan terapi antibiotik • Pertahankan teknik asepsis • Kaji kondisi luka kulit Dx 2 Nyeri akut NOC : • Pasien mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri menggunakan teknik nonfarmakologi untuk. karakteristik. • Berikan intravena. durasi. frekuensi.

Bayi dibawah usia 28 hari 2. kelainan kulit polimorf. pneumonia dan hepatitis yang termasuk dalam kelompok tersebut : 1. glomerulonefritis. • Monitor kulit akan adanya kemerahan. terutama berlokasi di bagian sentral. cacar air mungkin menyebabkan komplikasi yang serius seperti cacar air yang berat dan seluruh tubuh. sedangkan infeksi yang terjadi beberapa hari menjelang kelahiran dapat menyebabkan varisela congenital pada neonatus. arthritis dan kelainan darah (beberapa macam purpura). Orang dengan kekebalan tubuh rendah • Perikarditis. Klinis terdaoat gejala konstitusi. • Mobilisasi pasien setiap 2 jam sekali. sedangkan reaktivitasnya menyebabkan Herpes Zoster. konjungtivitis. otitis. Penamaan virus ini memberi pengertian bahwa infeksi primer virus ini menyebabkan penyakit Varisela. NIC : • Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar. • Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit dan perawatan alami.• Monitor intake dan output Dx 4 Kerusakan integritas kulit NOC : • Menunjukkan perbaikan kulit dan mencegah terjadinya cidera berulang. • Oleskan lotion / minyak baby oil pada daerah yang tertekan. • Monitor status nutrisi pasien BAB III KESIMPULAN • Varisela adalah infeksi akut primer oleh Virus Varisela Zoster yang menyerang kulit dan mukosa. Infeksi pada ibu hamil trimester pertama dapat menimbulkan kelainan congenital. • Pada beberapa kelompok. . hepatitis. • Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering. • Penyakit ini disebabkan oleh virus Varisela Zoster.

2000.DAFTAR PUSTAKA Djuanda. Hipokrates : Jakarta.mafia.com www. Robin. Graham. www. Whaley & Wong’s. Mosby : America. Pedoman Klinis Keperawatan Pediatrik. FKUI : Jakarta. 2002. dkk. EGC : Jakarta. Wong.id www. dkk. VIRUS TETAP ADA DLM BENTUK LATEN : TNP ADA MANIFESTASI KLINIS) KMDN VZ DIAKTIVASI OLEH TRAUMA SHG MENYEBABKAN HERPES ZOSTER •EPIDEMIOLOGI 90 – 95 % INDIVIDU MENDAPAT VVZ PADA MASA ANAK .com •DEFINISI VARICELLA AD. 1999. Adhi. PENYAKIT AKUT MENULAR YG DISEBABKAN AGEN INFEKSIUS SPESIFIK YAITU VIRUS VARICELLA ZOSTER YG DITANDAI OLEH ADANYA VESIKEL DIKULIT DAN SELAPUT LENDIR. Lecture Notes Dermatologi.indomedia.or. REAKTIVASI MENYEBABKAN HERPES ZOSTER (STLH KONTAK DGN VVZ AKAN TJD VARICELLA KMDN STLH PASIEN VARICELLA SEMBUH. Nursing Care of Infants and Children. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Donna L. 2004. Marwali. Erlangga : Jakarta. 2005. •VVZ AD. •ETIOLOGI •VARICELLA DISEBABKAN OLEH HERPES VIRUS VARICELA ATAU DISEBUT JUGA VIRUS VARICELLA ZOSTER (VVZ). Ilmu Penyakit Kulit. HERPESVIRUS MANUSIA YG DIKLASIFIKASIKAN SBG HERPES VIRUS ALPHA KRN KESAMAANNYA DGN PROTOTIPE KELOMPOK INI YANG ADALAH VIRUS HERPES SIMPLEX •VIRUS MEMBENTUK INFEKSI LATEN DI AKAR GANGLIA DORSAL SUMSUM TULANG BELAKANG.sehatgroup. Harahap.

•INFILTRASI VIRUS DISERTAI DGN MASA INKUBASI 10 – 21 HARI PADA SAAT TSB TJD PENYEBARAN VIRUS SUB KLINIS. ANOREKSIA. DLM 3 – 4 HARI ERUPSI TERSEBAR MULA2 DIDADA. NYERI KEPALA. SEL MONONUKLEAR DARAH PERIFER MEMBAWA VIRUS INFEKSIUS MENGHASILKAN KELOMPOK VESIKEL BARU SELAMA 3 – 7 HARI. KADANG NYERI ABDOMEN RINGAN •STADIUM ERUPSI MULAI DGN TJD’Y PAPULA MERAH KECIL YG BERUBAH MJD VESIKEL YG BERISI CAIRAN JERNIH & MEMPUNYAI DASAR ERITEMATOSUS. •17% DARI ANAK YG DILAHIRKAN OLEH WANITA YG MENDAPAT VARICELLA KETIKA HAMIL AKAN MENDERITA KELAINAN BAWAAN BERUPA BEKAS LUKA DI KULIT. PENYAKIT BIASANYA MULAI DARI 14 – 16 HARI STLH PEMAJANAN •PERJALANAN PENYAKIT DIBAGI MENJADI 2 STADIUM YAITU : •STADIUM PRODORMAL PADA 24 – 48 JAM SBLM KELAINAN KULIT TIMBUL TERDAPAT GEJALA MALAISE. BILA MASUK FASE VIREMI. LIMFADENITIS DAN ABSES SUB KUTAN •KOMPLIKASI PADA SUSUNAN SARAF : ENSEFALITIS. •VVZ JG DIANGKUT KEMBALI KE TEMPAT MUKOSA SAL. KATARAK DAN ANGKA KEMATIAN TINGGI. . RETARDASI MENTAL & KELAINAN TINGKAH LAKU. BAHU DAN ANGGOTA GERAK. ISI VESIKEL BERUBAH MJD KERUH DLM 24 JAM. MIELITIS TRANSVERSA. LALU KE MUKA. ATAKSIA.•PATOLOGI •VARICELLA DIMULAI DGN INFILTRASI VIRUS KE DALAM MUKOSA YG DITULARKAN MELALUI SEKRESI SAL PERNAFASAN ATAU DGN KONTAK LANGSUNG LESI KULIT VARICELLA ATAU HERPES ZOSTER. ERUPSI INI DISERTAI PERASAAN GATAL. BIASANYA VESIKEL MJD KERING SBLM ISINYA MJD KERUH. •Area Terpapar Varicella •KOMPLIKASI •INFEKSI BAKTERI SEKUNDER AKIBAT STAPHYLOCOCCUS AUREUS / STREPTOCOCCUS PYOGENES •SELULITIS. RM. •PEMERIKSAAN PENUNJANG •EVALUASI LAB TDK DIPERLUKAN UTK MANAJEMEN YG TEPAT PD ANAK DGN VARICELLA •NILAI LAB ABNORMAL YG SERING MUNCUL : LEUKOPENIA SLM 72 JAM PERTAMA DISERTAI LIMFOSITOSIS •PEWARNAAN SEL IMUNOHISTOKIMIA LANGSUNG DARI LESI KULIT DPT DIPEROLEH SEL RAKSASA MULTINUKLEAR NAMUN TIDAK MEMBEDAKAN ANTARA VVZ DAN HSV •IG G VVZ UTK MENENTUKAN STATUS IMUN INDIVIDU YG RIWAYAT KLINIS VARICELLANYA TDK DIKETAHUI / SAMAR. BBLR. KELUMPUHAN SARAF MUKA •PASIEN VARICELLA DGN KOMPLIKASI ENCEFALITIS STLH SEMBUH DPT MENINGGALKAN GEJALA SISA SPT KEJANG. PERNAFASAN SLM AKHIR MASA INKUBASI MEMUNGKINKAN PENYEBARAN MELALUI KONTAK LANGSUNG RENTAN TJD SBLM RUAM MUNCUL •VARICELLA MENDATANGKAN IMUNITAS HUMORAL DAN SELULER YG SGT PROTEKTIF THD INFEKSI ULANG BERGEJALA •MANIFESTASI KLINIS •MASA INKUBASI VARICELLA BERKISAR 10 – 21 HARI. HAL INI TJD PADA ANAK DGN DEFISIENSI IMMUNOLOGIS • •BILA SEORANG WANITA HAMIL MENDAPAT VARICELLA DLM 21 HARI SBLM MELAHIRKAN MAKA 25% DR NEONATUS YG DILAHIRKAN AKAN MEMPERLIHATKAN GEJALA VARICELLA KONGENITAL PD UMUR 5 – 10 HARI. NISTAGMUS. HIPOPLASIA TUNGKAI. TREMOR. KELUMPUHAN & ATROFI TUNGKAI.

PENINGKATAN SUHU TUBUH •DIAGNOSA DAN INTERVENSI •GANGGUAN INTEGRITAS KULIT v ANJURKAN ANAK UTK TIDAK MENGGARUK VESIKEL KRN JIKA DIGARUK AKAN MENINGGALKAN BEKAS. misalnya pada penderita leukemia atau penyakit-penyakit lain yang melemahkan daya tahan tubuh. •Antibiotika bila terjadi komplikasi pnemonia atau infeksi bakteri pada kulit. v BERIKAN PAKAIAN DENGAN BAHAN YANG HALUS DAN LEMBUT •RESIKO PENULARAN INFEKSI •TEMPATKAN PASIEN PADA RUANGAN TERSENDIRI •GUNAKAN MASKER.•PENCEGAHAN •AKTIF PEMBERIAN VAKSIN VARICELLA YG LIVE ATTENUATED BIASANYA DIBERIKAN PD PASIEN DGN DEFISIENSI IMMUNOLOGIS. SAKIT KEPALA •DATA OBJEKTIF •INTEGUMEN : KULIT HANGAT. v KUKU TANGAN ANAK HARUS PENDEK BERSIH. TIDAK ENAK BADAN. LEMAS. DAN SARUNG TANGAN SAAT MASUK RUANGAN •MENCUCI TANGAN SEBELUM DAN SESUDAH MELAKUKAN TINDAKAN •SEMUA BENDA YANG TERKONTAMINASI DIBUANG ATAU DISIMPAN DALAM TEMPAT KHUSUS DAN DIBERI LABEL . •KONSEP KEPERAWATAN PENGKAJIAN •DATA SUBJEKTIF : PASIEN MENGELUH GATAL. •Antipiretik dan untuk menurunkan demam . v MANDIKAN ANAK DAN SAAT MENGERINGKAN HRS MENGGUNAKAN HANDUK YG LEMBUT. PADA ANAK SEHAT TIDAK DIBERIKAN KRN JIKA TERKENA. PUCAT. •PASIF PEMBERIAN GLOBULIN GAMA DGN TITER ANTIBODI MERINGANKAN PERJALANAN PENYAKIT TAPI TIDAK MENCEGAH TIMBULNYA VARICELLA DIBERIKAN DGN ZOSTER IMUN GLOBULIN : STLH KONTAK DGN PASIEN VARICELLA ZOSTER IMMUN PLASMA DIBERIKAN STLH KONTAK DGN PASIEN VARICELLA •PENATALAKSANAAN •Antivirus dan Asiklovir Biasanya diberikan pada kasus-kasus yang berat. . •Salep antibiotika = untuk mengobati ruam yang terinfeksi.Parasetamol atau ibuprofen. •Dapat diberikan bedak atau lotion pengurang gatal (misalnya lotion kalamin). BINTIK KEMERAHAN PADA KULIT YANG BERISI CAIRAN JERNIH. pemakaian aspirin pada infeksi virus (termasuk virus varisela) telah dihubungkan dengan sebuah komplikasi fatal.Jangan berikan aspirin pada anak anda. PERJALANAN PENYAKIT RINGAN. PAKAIAN KHUSUS. yaitu Syndrom Reye.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->