Anda di halaman 1dari 4

1. Pemberian Obat Antimalaria a.

Pilihan utama : Derivat artemisinin parenteral Artesunat intravena atau intramuscular Artesunat diberikan dengan loading dose secara bolus : 2,4 mg/kgBB per-iv selama + 2 menit, dan diulang setelah 12 jam dengan dosis yang sama. Selanjutnya artesunat diberikan 2,4 mg/kgBB per-iv satu kali sehari sampai penderita mampu minum obat. Larutan artesunat ini juga bisa diberikan secara intramuscular (im) dengan dosis yang sama. Bila penderita sudah dapat minum obat, maka pengobatan dilanjutkan dengan regimen artesunat + amodiakuin + primakuin. Artemeter intramuscular Artemeter diberikan dengan loading dose : 3,2 mg/kgBB intramuscular. Selanjutnya artemeter diberikan 1,6 mg/kgBB intramuscular satu kali sehari sampai penderita mampu minum obat. Bila penderita sudah dapat minum obat, maka pengobatan dilanjutkan dengan regimen artesunat + amodiakuin + primakuin. Artesunat parenteral direkomendasikan untuk digunakan di Rumah Sakit atau Pukesmas perawatan, sedangkan artemeter intramuscular direkomendasikan untuk di lapangan atau Puskesmas tanpa fasilitas perawatan. Obat ini tidak boleh diberikan pada ibu hamil trimester I yang menderita malaria berat (Depkes RI, 2008).

Tabel 2. Jenis Obat Antimalaria, Mekanisme Kerja dan Cara Pemakaian No Nama Obat Mekanisme Kerja Mengikat feriprotoporfirin IX yaitu suatu cincin hematin yang merupakan hasil 1 Klorokuin metabolisme hemoglobin di dalam parasit. Ikatan feriprotoporfirin IXklorokuin ini bersifat melisiskan membran Skizontosid darah Efek antimalaria Dosis 25 mg basa/kgBB diberi dalam 3 hari yaitu I dan II masing-masing 10 mg basa/kgBB dan pada hari ke III 5 mg basa/kgBB

parasit sehingga parasit mati Inhibitor enzim tetrahidrofolat, akibatnya 2. Pirimetamin parasit tidak mampu melanjutkan siklus hidupnya dan akhirnya difagosit. Bekerja dengan berkompetisi dengan PABA (para-amino benzoic acid) dalam memperebutkan enzim 3. Sulfadoksin dihidrofolat sintase sehingga pembentukan asam dihidropteroat terganggu dan asam folat yang diperlukan parasit tidak terbentuk Membentuk ikatan hidrogen dengan DNA yang akan menghambat 4. Kina sintesa protein sehingga pembelahan DNA dan perubahan menjadi RNA tidak terjadi Menghambat proses 5. Primakuin Skizontosida darah untuk semua jenis plasmodium manusia dan gametosida P. vivax dan P. Malariae Skizontosida Falciparum: 0,50,75 mg basa/kgBB, tunggal. Kina oral: sulfat 10 mg/kg, tiap 8 jam sampai 7 hari Skizontosida jaringan, darah dan sporontosidal 25 mg/kgBB Skizontosida jaringan, darah dan sporontosidal 1,25 mg/kgBB

respirasi mithocondrial di jaringan, dalam parasit malaria melalui metabolitnya gametosida dan

sporontosida untuk plasmodium

Vivax malariae dan ovale: 0,25 mg/kgBB. Dosis

pada manusia. tunggal selama 514 hari. Atau 0,75 mg/kgBB. Dosis tunggal tiap minggu selama 8-12 minggu 25 mg Skizontosid 6. Meflokuin Belum jelas darah dan jaringan basa/kgBB/hari dibagi dalam 2 dosis selama 3 hari 200 mg sehari Menghambat calcium adonosine fase 6 Skizontosid darah selama 3 hari dikombinasi dengan antimalaria lain 200 mg sehari Menghambat calcium adonosine fase 6 Skizontosid darah selama 3 hari dikombinasi dengan antimalaria lain Sama dengan kina, yaitu Membentuk ikatan 9. Lumefantrin hidrogen dengan DNA yang akan menghambat sintesa protein sehingga pembelahan DNA dan Skizontosid darah Tablet berisi 20mg artemeter dan 120 mg lumefantrin

7.

Artemisin

8.

Artesunat

perubahan menjadi RNA tidak terjadi Untuk pencegahan 250 menghambat eritrosit 10. Atovakon pada hati dan dalam tubuh nyamuk Skizontosid darah dan jaringan mg/hari dikombinasikan dengan proguanil 100 mg/hari

Untuk pengobatan Atovakon 1000 mg/hari dan Menghambat Proguanil dihydrofolate reductase plasmodium Proguanil 400 Skizontosid darah mg/hari, sekali sehari selama 3 hari. Tablet pediatrik berisi 6,25 mg Atovakon dan 25 mg Proguanil (Zein, 2009).

11.

Depkes RI. 2008. Pedoman Penatalaksanaan Kasus Malaria Di Indonesia, Direktorat Jenderal Pengendalian Dan Penyehatan Lingkungan. Zein, U. 2009. Perbandingan Efikasi Antimalarian Ekstrak Herba Sambiloto (Andrographis Paniculata Nees) Tunggal dan Kombinasi Masing-masing Dengan Artesunat dan Klorokuin Pada Pasien Malaria Falsiparum Tanpa Komplikasi. [DISERTASI]. Medan : Universitas Sumatera Utara.