Anda di halaman 1dari 3

The ERP Revolution: Surviving Versus Thriving

Jeanne W.Ross
PENDAHULUAN Eksekutif bisnis mempelajari kembali kemampuan yang ditawarkan oleh teknologi informasi karena adanya kebutuhan untuk menyajikan single face (tampilan tunggal) pada konsumen global, untuk merespon permintaan konsumen dengan lebih cepat, dan untuk mencari skala ekonomi. ERP

menggantikan sistem pemrosesan transaksi perusahaan yang terpisah-pisah dengan suatu sistem terintegrasi yang membentuk pemahaman yang kuat akan ketergantungan unit-unit fungsional perusahaan. ERP merupakan sistem yang mahal dan hasil dari implementasinya sukar untuk dilihat.
STUDI PENELITIAN Penelitian ini menguji dampak system ERP terhadap organisasi khususnya bagaimana perushaan memengaruhi lingkungan ERP mereka untuk menghasilkan nilai-nilai bisnis. Data dikumpulkan dengan wawancara via telepon terhadap 15 perusahaan, yang mamabahas tiga perspektif berbeda mengenai ERP: (a) eksekutif yang mendukung implementasi, (b) manajer yang memimpin implementasi, dan (c) eksekutif bisnis yang fungsi atau divisinya dipengaruhi oleh implementasi. A. Motivasi untuk mengimplemetasikan ERP Kebutuhan akan platform umum. Perusahaan memutuskan mengimplementasikan ERP sebagai solusi akan kebutuhan platform sistem umum untuk mendukung bisnis. ERP juga berusaha untuk menstandardisasi lingkungan TI sehingga diharapkan mampu untuk mengurangi biaya pemeliharaan yang diperlukan. Perbaikan proses. Sistem ERP diarapkan untuk perbaikan proses, dimana ERP dapat memberikan standarisasi proses untuk memastikan kualitas dan kemungkinan bisnis global perusahaan. Dengan standarisasi siklus dari order sampai pengiriman dapat diperpendek. Ketersediaan(visibilitas) data. system ERP dapat menyediakn informasi yang lebih baik bagi manajer untuk pengambilan keputusan. Keetrsediaan data dapat memperluas keputusan stratejik dan meningkatkan kecepatan respon terhadp kondisi pasar dan kemampuan internal.

Mengurangi biaya operasi. Meningkatkan kecepatan respon terhadap pelanggan Memperbaiki pembuatan keputusan strategik Tahapan dari ERP
Tahap-tahap setara dalam perjalanan ERP 1. desain, 2. Implementasi. 3. stabilisasi, 4. perbaikan terus-menerus dan 5. Transformasi. Pendekatan Desain ERP Dalam tahap perencanaan perusahaan membuat dua keputusan penting dalam sebuah desian. Pertama, mereka memutuskan apakah menerima atau tidak mengenai asumsi bahwa prosesnya melekat dalam perangkat lunak. Keputusan kedua dari desain perusahaan yang dibuat adalah mengenai standar proses. Senior manajemen memutuskan ruang lingkup standar proses, khususnya apakah proses yang akan dibakukan di seluruh perusahaan atau hanya dalam subunit tertentu. Ini adalah keputusan utama karena sulit untuk mengubah setelah ERP ditempatkan. Pelaksanaan-Penyelaman. Dalam pelaksanaan ERP sangat penting kemampuan untuk menyesuaikan. Penyesuaian ini mengijinkan perusahaan untuk mendesain proses tetapi juga harus memperhatikan kemampuan untuk mendukung sistem dan mengelola software baru. Keputusan mendesain kedua merujuk ke standarisasi proses, lebih spesifiknya lagi proses harus distandarisasi meliputi seluruh perusahaan atau hanya sub unit tertentu saja. ERP bermanfaat bagi perusahaan yang saling terhubung untuk standarisasi lintas unit bisnis.

Terjun-implementasi (the dive-implementation). Ketika kebanyakan perusahaan dengan hati-hati merencanakan implementasi, mengembangkan tim implementasi yang merupakan pengguna yang terlatih dengan sistem baru dan untuk beberapa tingkat, dalam proses yang baru, kebanyakan menemukan bahwa go live cendrung lebih mengganggu. Resurfacing-Stabilisasi. Setelah periode implementasi, ada periode stabilasi, dimana perushaan berusaha untuk membersihkan atau mengganti proses dan data dan menyesuaikan dengan lingkungan yang baru. Jenis aktivitas selama tahap stabilisasi meliputi membersihkan data dan parameter (kadangkala mengacu pada aturan bisnis), menyediakan pelatihan tambahan bagi pengguna baru, umunya pada proses bisnis, dan bekerja dengan penyedia (vendor) dan konsultan untuk membersihkan bugs dalam software. Swimming: melanjutkan kemajuan. Setelah tahap stabilisasi, perusahaan masuk ke tahap dimana mereka menambah fungsionalitas melalui modul baru dan bolt-ons. Pad umumnya, mereka mengimplementasikan EDI, bar coding, penjualan otomatis, warehousing dan kemampuan tranportasi dan perkiraan penjualan. Tahap ini focus pada perbaikan berkelanjutan tetapi juga mulai mengunci desain ulang proses dan mereka mengimplementasikan struktur dan aturan yang baru untuk leverage sistem. Transformasi. Pada umunya, manager telah mengantisipasi visibilitas dari leverage organizational untuk meningkatkan aguility (kecerdasan/ ketangkasan). HAMBATAN UNTUK SUKSES: Kegagalan untuk menetapkan matriks, tidak cukupnya sumber daya pada tahap pasca implementasi, mengabaikan persyaratan pelaporan manajemen, tidak cukup untuk mengatasi resistensi terhadap perubahan Matriks. Perubahan organisasi yang menyertai ERP sangant besar, dan manajer sering salah dalam menentukan lingkup outcome yang harus diantisipasi. Persyaratan pelaporan manajemen. Kebanyakan perusahaan menganggap ERP merupakan sistem pengolahan transaksi online yang efektif, tetapi bukan sistem pendukung manajemen. Hal ini berarti, responden tidak dapat menentukan bagaimana bisnis itu setelah melakukan implementasi sistem. Menangani resistensi. Resistensi yang dihadapi baik itu resistensi tradisional, resistensi

intelektual, resistensi yang berakar pada kebudayaan perusahaan dan politik. Diskusi
Manajer yang mendukung ERP akan menunjukkan komitmen sebagai berikut: mereka menugaskan orang terbaik untuk proyek, mengembangkan kasus bisnis yang jelas bahwa tujuantujuan kinerja diklarifikasi, menuntuk laporan berkala berdasarkan metrik yang didirikan, mengkomunikasikan tujuan dan ruang lingkup program yang dibentuk, membentuk visi jangka panjang. Eksekutif senior yang berkomitmen untuk menghasilkan keuntungan dari implementasi ERP yang mantap dalam tekad mereka untuk menanamkan budaya baru disiplin organisasi. Ini berarti bahwa mereka menerapkan mekanisme untuk mempertahankan standar proses dan data. Selain itu, Mereka berkomunikasi paradoks bahwa standardisasi adalah kunci untuk fleksibilitas seluruh proses transaksi akan menjamin kualitas dan memberdayakan proses pengambil keputusan untuk merespon permintaan pelanggan. Pada akhirnya, sebuah implementasi ERP dapat menyebabkan lingkungan organisasi benarbenar baru ditandai dengan peningkatan penekanan pada proses, aliansi vendor yang strategis, dan perubahan konstan. Fokus pada proses organisasi akan membutuhkan keahlian teknis dan proses yang akan memungkinkan penilaian ulang yang konstan atau proses organisasi dan sistem mereka bergantung. Sementara proses akan dibakukan, mereka tidak akan statis. Perusahaan akan memperkenalkan proses perubahan yang diamanatkan dengan software baru. Bersamaan, mereka akan mengidentifikasi perubahan proses yang merespon pelanggan baru dan tuntutan pasar dan mencari modul perangkat lunak atau baut-ons yang mendukung kebutuhan proses baru. Berbeda dengan sistem warisan dari masa lalu yang dibatasi proses perubahan organisasi, ERP, karena upgrade rutin, akan memaksa perubahan pada organisasi yang sudah dinamis.