Anda di halaman 1dari 12

BUDIDAYA IKAN GUPPY (Laporan Praktikum Budidaya Ikan Hias)

Oleh Resto Windarto 0814111009

JURUSAN BUDIDAYA PERAIRAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS LAMPUNG 2011

1. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Ikan hias cukup dikenal oleh masyarakat sebagai hiasan aquarium. Perkembangan ikan hias di Indonesia mengalami kemajuan yang terus meningkat, terutama ikan hias air tawar asli Indonesia seperti ikan guppy (Poecilia reticulata). Guppy (Poecilia reticulata) berasal dari Trinidad, Barbados, Guyana, Brasil, dan Asia Tenggara. Ikan yang bersifat omnivore ini menghendaki suhu optimal untuk pemeliharaan sekitar 25-28 C dengan pH sekitar 7,0 dan kekerasan 20 dH. Sirip-sirip ikan ini berwarna-warni sangat cantik dan menarik. Berbagai warna seperti merah, kuning, hijau, biru, maupun kombinasi warna sudah beredar di pasaran. Bentuk ekornya pun menarik, misalnya mirip kipas, membulat, ataupun melebar. Pada jantan, sirip ekor tampil sangat menarik karena lebar dan berwarna kontras. Kemenarikan seperti inilah yang menyebabkan para kolektor ikan hias berlomba-lomba untuk memilikinya. Hal ini mengakibatkan meningkatnya permintaan ikan guppy (Poecilia reticulata), dari tahun ke tahun yang sangat signifikan. Permintaan pasar akan ikan hias baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri terus meningkat, sedangkan stock yang tersedia tidak mampu untuk melayani permintaan tersebut. Sehingga perlu adanya pengembangan budidaya ikan guppy yang lebih intensif.

B. Tujuan Adapun tujuan dari dilakukannya praktikum kali ini adalah: 1. Mahasiswa dapat mengetahui dan dapat melakukan poses persiapan budidaya ikan guppy.

2. Mahasiswa dapat mengetahui dan mempraktekan teknik pemijahan pada budidaya ikan Guppy. 3. Mahasiswa mampu melakukan manajemen kualitas air pada proses budidaya ikan hias.

I. TINJAUAN PUSTAKA

Klasifikasi Guppy
Kerajaan: Animalia Filum: Kelas: Ordo: Famili: Genus: Spesies: Chordata Actinopterygii Cyprinodontiformes Poeciliidae Poecilia P. reticulata

Gupi, ikan seribu, ikan cere, atau suwadakar (Poecilia reticulata), adalah salah satuspesies ikan hias air tawar yang paling populer di dunia. Karena mudahnya menyesuaikan diri dan beranak-pinak, di banyak tempat di Indonesia ikan ini telah menjadi ikan liar yang memenuhi parit-parit dan selokan. Dalam perdagangan ikan hias dikenal sebagai guppy atau juga millionfish. Gupi merupakan anggota suku Poecilidae yang berukuran kecil. Jantan dan betina dewasa mudah dibedakan baik dari ukuran dan bentuk tubuhnya, maupun dari warnanya (dimorfisme seksual). Panjang total tubuh ikan betina antara 46 cm, sedangkan jantannya lebih kecil, sekitar 23 cm. Ikan jantan memiliki warnawarni yang cemerlang dan amat bervariasi, terutama pada ikan hibrida. Ikan gupi liar warnanya lebih sederhana, meski jantannya tetap berwarna-warni dengan dua buah bintik hitam seperti mata di sisi badan: yang satu di bawah sirip punggung dan yang lainnya di atas sirip dubur. Gupi liar betina bertubuh tambun dengan warna kuning kecoklatan dan susunan sisik yang membentuk pola seperti jala (reticulata = dengan pola jaring atau jala), dan perut gendut berwarna putih (Gusnaini, 2009).

Guppy berkembang biak dengan cara beranak. Anak guppy yang baru lahir sudah langsung dapat berenang dengan baik. Hal ini terjadi karena proses pembuahan guppy secara internal yaitu perkawinan terjadi pada saat organ gondopodium yang terletak pada sirip anal dimasukkan ke dalam organ telur betina. Guppy jantan yang akan mengejar betina siap kawin. Setiap kali perkawinan dapat dijadikan 3 kali kelahiran. Waktu kelahiran berkisar 3 minggu dan seekor betina dapat menghasilkan 60 ekor burayak (Bachtiar, Yusuf, dkk. 2004).

Pakan terbaik untuk guppy adalah pakan alami walaupun dapat juga diberi sedikit pakan pelet. Oleh karena yang laku di pasaran adalah jantan maka pemeliharaannya sebaiknya dipisahkan antera jantan dan betina sejak berumur 3-4 minggu. Hal ini dilakukan untuk menekan biaya pemeliharaan. Betina yang dipelihara cukup dipilih yang kondisinya baik untuk dijadikan calon induk. Sementara betina lainnya dapat digunakan sebagai pakan ikan hias lain seperti Oskar. Untuk membedakan jantan dari betina dapat dilihat dari sirip yang lebih panjang dan warna yang lebih tajam atau cerah adalah jantan.

Saat ini sudah ada teknologi jantanisasi, yaitu semua anakan menjadi jantan. Teknik ini menggunakan hormon metil testosteron yang memang efektif. Hanya saja jantan hasil perlakuan hormon ini tidak sanggup memberikan sperma atau membuahi betina. Oleh karena itu, penggunaan teknologi ini pun harus diikuti dengan manajemen induk yang baik agar tidak kehabisan induk betina dan jantan produktif. Ukuran jual ikan mulai dari 2,0 cm yang sudah bisa dicapai pada umur 3,5 bulan (Sartono, 2008).

Penyakit yang umum menimpa guppy adalah jamur. Perlu dipahami jamur tumbuh dengan cara yang berbeda dari bakteri. Jamur tumbuh dengan spora dan selalu tumbuh dengan kondisi tertentu. Mereka berkembang mempunyai siklus tertentu berupa spora kemudian berubah menjadi organisme yang disebut miselium. Jamur ini dapat berkembang biak sangat cepat, berbentuk seperti

benang/ulir dan membentuk jaringan-jaringan seperti lapisan yang tipis. Sedangkan bakteri yang biasa menyerang guppy adalah mycobacterium piscium, juga beberapa penyebab lainnya. Perlu diperhatikan untuk melakukan pengobatan secara efektif harus melakukan diagnosa yang akurat, sehingga dapat mengatasi penyakit yang timbul. Penyakit yang umum menyerang ikan guppy adalah saprolegnia, penyakit bengkak, jamur mulut dan penyakit insang (Evawim, 2011).

Guppy awalnya hidup di rawa air payau. Ikan ini berkembang biak dengan cara beranak sehingga pemijahannya tergolong mudah. Induk jantan mempunyai warna yang cerah, tubuh yang ramping, sirip punggung yang lebih panjang, mempunyai gondopodium (berupa tonjolan memanjang di belakang sirip perut) yang merupakan modifikasi sirip anal berupaSelain warna, bentuk dasar ekor ikan guppy juga bervariasi. Guppy dibagi berdasarkan bentuk ekornya yaitu wide tail (ekor lebar), sword tail (ekor panjang), dan short tail (ekor pendek). Tiap varietas mempunyai 4 macam bentuk ekor. Varietas terbaru yaitu Ribbon/Swallow. Ini merupakan varietas baru dari berbagai persilangan menyebabkan mutasi gen merupakan hasil dari kawin silang dari berbagai jenis ikan ini (Djarijah, A. S. 2001).

II. METODOLOGI

A. Alat dan Bahan Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum yaitu 1 buah akuarium. Air, sepasang induk ikan guppy, pakan hidup( daphnia, ncuk, dan cacing sutra) serta pellet.

B. Prosedur

Adapun cara kerja yang dilakukan adalah: 1. Persiapan media (akuarium) dengan cara membersihkan akuarium dan pemberian methylen blue untuk mensterilkan dari penyakit. 2. Pengisian akuarium dengan air sesuai dengan kebutuhan (kedalaman 3045 cm) tanpa pemberian aerasi. 3. Pemilihan induk ikan guppy yang siap memijah. 4. Memasukkan induk ikan guppy ynag telah dipilih ke dalam akuarium masing-masing sepasang induk ikan guppy 5. Perlakuan terhadap kondisi media (sipon, pemberian pakan) dilakukan setiap pagidan sore hari. 6. Pemeliharaan ikan guppy dilakukan selama 2-3minggu hingga

menghasilkan anak.

C. Waktu dan Tempat Praktikum budidaya ikan hias dilaksanakan pada tanggal 10 Mei 2011 bertempat di Laboratorium Budidaya Perairan Fakultas Pertanian Universitas Lampung.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Data Pengamatan

Kel 1 2

Induk Sepasang induk 5 induk

Jumlah Anak 15 larva -

Keterangan 5 larva mati 2 induk betina, 1 induk jantan mati

Sepasang induk guppy

8 larva

Indukan mati setelah menghasilkan larva, larva mati 4

3 induk

2 induk betina, 1 induk jantan

2 pasang indukan

6 larva

Sepasang induk mati dan 6 larva mati

6 7

Sepasang induk Sepasang induk

30 larva 15 larva

2 larva mati 6 larva mati

B. Pembahasan Guppy adalah ikan yang sangat peridik. Masa kehamilan ikan ini berkisar antara 2130 hari, bergantung pada suhu airnya. Suhu air yang paling cocok untuk berbiak adalah sekitar 27 C (72 F). Alih-alih bertelur, ikan guppy mengandung dan melahirkan anaknya (livebearers). Setelah ikan betina dibuahi, daerah berwarna gelap di sekitaranus yang dikenal sebagai bercak kehamilan (gravid spot) akan meluas dan bertambah gelap warnanya. Menjelang saat-saat kelahirannya, bintik-bintik mata anak-anak ikan dapat terlihat dari kulit perut induknya yang tipis dan menerawang. Seekor induk guppy dapat melahirkan

burayak (anak ikan) antara 2100 ekor pada setiap kelahiran, namun pada kelompok kami hanya melahirkan 6 ekor anak. Hal ini dikarenakan indukan betina ikan guppy yang kami miliki memiliki ukuran yang relative kecil.

Begitu keluar dari perut induknya, anak-anak guppy telah mampu hidup sendiri. Berenang, mencari makanan, dan menghindari musuh-musuhnya. Anak-anak guppy ini umumnya akan terus bergabung dengan kelompoknya, dan dengan ikanikan guppy lain yang lebih besar. Namun guppy yang telah dewasa tidak akan segan-segan memangsa burayak yang berukuran jauh lebih kecil; sehingga apabila dipelihara di akuarium, anak-anak ikan ini perlu dipisahkan dari ikan-ikan dewasa. Burayak-burayak ini, apabila selamat, akan mencapai kedewasaan pada umur satu atau dua bulan saja. Itulah sebabnya dalam praktikum kelompok kami semua burayak ikan guppy kami semuanya pada mati, karena kami tidak melakukan pemisahan indukan guppy dengan anaknya.

Lama pemeliharaan yang kami lakukan selama 1 minggu tahap persiapan dan mengganti indukan ikan kami yang mati, dan dua minggu untuk memijahkan dan memelihara anakan ikan guppy kami. Sehingga total waktu pemeliharaan selama 3 minggu. Setelah 1 minggu induk memijah dan menghasilkan 6 ekor anak, anakan tersebut mati. Hal ini mingkin diakibatkan karena kurangnya perhatian kami pada anak ikan guppy tersebut dan kualitas air yang kurang baik. Sehingga SR yang didapatkan adalah 0%.

SR dapat dihitung dengan cara membandingkan jumlah ikan anakan yang hidup dengan jumlah anakan yang dihasilkan. Karena anak yang dihasilkan sama dengan anak yang mati, maka kelompok saya memiliki SR 0%. Bila dibandingkan dengan kelompok-kelompok lain, kelompok 2 dan kelompok 4 indukannya tidak memijah sehingga tidak mengkhasilkan anak sama sekali. Berbeda dengan kelompok lainnya yang menghasilkan banyak anak, contohnya kelompok 1 yang menghasilkan anak 15 ekor, dan anak yang mati sebanyak 5 ekor, sehingga memiliki SR 67%. Kelompok tiga menghasilkan 8 ekor anak dan setengahnya mati sehingga memliki SR 50%. Kelompok 6 menghasilkan 30 ekor anak dan 2 anak mati sehingga SR nya 93%, Dan kelompok terakhir menghasilkan 15 ekor anak dan 6 diantaranya mati sehingga memiliki SR6%. Dari keseluruhan data

kelompok yang ada, dapat dilihat bahwa kelompok yang menghasilkan anak terbanyak adalah kelompok 6 dan juga memiliki SR tertinggi sebesar 93%. Hal ini kemungkinan diakibatkan ketelatenan praktikan dalam memelihara ikan guppy tersebut dan kualitas air yang selalu dijaga dengan baik demi kesehatan ikan guppy yang mereka pelihara.

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan Dari praktikum yang telah kami lakukan dapat diambil beberapa kesimpulan, antara lain: 1. Masa kehamilan ikan guppy berkisar antara 2130 hari, bergantung pada suhu airnya. 2. Begitu keluar dari perut induknya, anak-anak guppy telah mampu hidup sendiri. 3. Pakan terbaik untuk guppy adalah pakan alami seperti daphnia, cacing sutra, ataupun Tubifex sp. 4. Dari keseluruhan data kelompok yang ada, dapat dilihat bahwa kelompok yang menghasilkan anak terbanyak adalah kelompok 6 dan juga memiliki SR tertinggi sebesar 93%.

B. Saran Adapun saran yang dapat diberikan pada praktikum kali ini yaitu sebaiknya praktikan lebih memperhatikan apa yang menjadi tanggungjawabnya, sehingga tidak banyak ikan yang mati dalam praktikum budidaya ikan hias ini.

DAFTAR PUSTAKA

Afriyanto, eddy. 1993. Budidaya Ikan Hias. Jakarta : Kanisius.

Bachtiar, Yusuf, dkk. 2004. Budi daya Ikan Hias Air Tawar untuk Ekspor. Jakarta:Agromedia Pustaka.

Boyd. C. E., 1982. Water Quality Management of Pond Fish Culture. Departement Of Fisheries and Allied Aquaqulture Experiment Station Auburn University Albana.

Dermawan, Iwan. 2006. Budidaya Ikan Hias Air Tawar Populer. Jakarta : Penebar Swadaya.

Djarijah, A. S. 2001. Pembenihan Ikan Hias. Kanasius, Yogyakarta.

Evawim. 2011. Produktifitas ikan guppy pada berbagai level protein pakan. Aquaculture Indonesia 2(2): 77-83.

Gusnaini. 2009. Pembenihan Ikan Hias. Kanasius, Yogyakarta.

Sartono.2008. Ikan hias air tawar guppy. Penebar Swadaya, Jakarta.

Susanto, H.1991. Budidaya ikan guppy. Kanisius, Yogyakarta