Anda di halaman 1dari 45

Tabel 5.

Penyajian Data (Variabel, Tolak Ukur, Data yang Ditemukan dan Masalah) DAMPAK No Variabel Tolak ukur variabel ini (E) 1 Angka kesakitan (Incidence Rate) < 20 kasus per 100.000 penduduk 37 IR = ---------- X 100.000 13.963 = 264,99 per 100.000 penduduk 0 CFR = -------- X 100% 37 = 0% 0 Data yang Dihitung (O) Masalah (E-O) +

Angka kematian (Case Fatality Rate)

< 1%

Kejadian Luar Biasa (KLB)

KELUARAN No Variabel Tolak ukur Variabel ini (E) 1 Angka Bebas Jentik >95% (berdasarkan KEPMENKES (No. 1457/2003) 2 House Index < 5% 24102 ABJ = ------------- x 100% 25741 = 93,63% 1639 HI = ------------- x 100% 25741 Data yang Dihitung (O) Masalah (E-O) +

= 6,37% I. Pelayanan Medis/Non Medis 1 Laporan Kasus DBD yang ditindak lanjuti dengan PE 2 Kasus PE (+) yang ditindak lanjuti dengan fogging 3 Jumlah rumah yang dilakukan PJB 100 sampel rumah/ bangunan yang dipilih secara acak 100 % kasus yang difogging berdasarkan hasil Penyelidikan Epidemiologi yang positif (+) 100 % laporan kasus DBD ditindaklanjuti dengan Penyelidikan Epidemiologi (PE) 24 PE = ----------- X 100% 37 = 64,86% 7 Fogging = ---------X 100% 9 = 77,78% Jumlah bangunan yang diperiksa sebanyak 25.741 selama bulan Januari-Maret 2010. 4 Jumlah rumah yang melakukan PSN 3M selama 30 menit. 100% rumah dan TTU yang melakukan PSN 30 menit Semua rumah kecuali rumah yang kosong (karena seluruh penghuninya sedang keluar rumah) melaksanakan program PSN minimal 30 menit yang dilaksanakan tiap Jumat pukul 09.00selesai. +

II. Penyuluhan Kesehatan 1 Persentase kehadiran 100% Tidak ada penyuluhan kelompok, -

Penyuluhan kelompok saat PE 2 Persentase kehadiran Penyuluhan kader (jumantik) dan tokoh masyarakat. 100%

dilakukan penyuluhan Door to Door saat PE 100% (diadakan sebelum pelaksanaan PSN setiap hari Jumat) -

PROSES No Variabel Tolak ukur variabel ini (E) Data yang Dihitung (O) Masalah (E-O)

Perencanaan 1 Rencana penemuan dan penatalaksanaan penderita DBD 2 Rencana pencatatan dan pelaporan kasus yang berjenjang dan berkesinambungan Ada dan berjalan Ada dan berjalan Ada dan berjalan Ada dan berjalan -

Rencana penyelidikan epidemiologi (PE).

Ada dan berjalan

Ada dan berjalan

Rencana pemberantasan dan pengendalian vektor: fogging, PSN dan PJB

Ada dan berjalan

Ada dan berjalan, tetapi hanya terbatas pada fogging fokus saja. Karena rencana fogging massal, PSN dan PJB (termasuk para jumantik) sudah menjadi tanggung jawab Petugas Kantor Kelurahan sejak tahun 2007 (Melalui Perda No. VI tahun 2007).

Rencana pemeriksaan cholinesterase petugas fogging bila menggunakan insektisida malathion

Ada dan berjalan

Tidak ada karena sudah tidak menggunakan insektisida malathion

Rencana penyuluhan secara perseorangan dan/ atau kelompok

Ada dan berjalan

Ada dan berjalan, tetapi penyuluhan perorangan terbatas hanya pada saat pasien berobat ke Puskesmas

(penyuluhan oleh petugas kesehatan) dan penyuluhan kelompok terbatas hanya saat PE dan fogging fokus. Sebenarnya penyuluhan perorangan dan kelompok mengenai DBD sudah menjadi tanggung jawab Petugas Kantor Kelurahan sejak tahun 2007 (Melalui Perda No. VI tahun 2007). 7 Rencana pelatihan jumantik dan tenaga kesehatan secara berkala Ada dan berjalan Ada dan berjalan, tetapi terbatas pada pelatihan tenaga kesehatan Puskesmas saja. Karena pelatihan jumantik sudah menjadi tanggung jawab Petugas Kantor Kelurahan sejak tahun 2007 (Melalui Perda No. VI tahun 2007). 8 Rencana pembinaan peran serta masyarakat dalam penggerakkan program nasional PSN Ada dan berjalan Tidak ada. Karena sudah menjadi tanggung jawab Petugas Kantor Kelurahan sejak tahun 2007 (Melalui Perda No. VI tahun 2007). -

Pengorganisasian 1 Struktur organisasi jelas dan tertulis 2 Pembagian tugas antar petugas Tertulis dengan syarat : Jelas. Tidak saling merangkap jabatan. Dijalankan dengan baik. Tidak tertulis dengan jelas dan penanggung jawab P2P DBD Puskesmas kelurahan Tugu Utara III memiliki tugas rangkap. + Jelas dan tertulis Jelas dan tertulis -

Pelaksanaan Medis 1 Penemuan dan penatalaksanaan penderita Pedoman diagnosis penyakit DBD dan tatalaksana kasus tersedia dan dilaksanakan sesuai standar. Pedoman diagnosis penyakit DBD dan tatalaksana kasus tersedia dan dilaksanakan sesuai standar. Melalui observasi dan sampling dari status pasien, didapatkan: Semua pasien dengan gejala DBD, yang keadaan umumnya masih baik, dianjurkan melakukan pemeriksaan laboratorium darah di lab -

(biasanya di Puskesmas Kecamatan Koja) dan membawa hasilnya. Jika memang memenuhi kriteria diagnosis DBD, akan langsung didiagnosis DBD. Sementara pasien yang datang dengan gejala DBD disertai keadaan umum kurang baik akan langsung dirujuk ke RS. Laporan penderita dari sarana P2P Dinkes DKI Jakarta dan dari dokter atau RS tempat penderita dirawat tersedia dan dijalankan dengan baik. Laporan penderita dari sarana P2P Dinkes DKI Jakarta tersedia melalui website http://www.surveilansdinkesdki.net.Website dapat diakses dan beroperasi dengan baik. Laporan dari dokter/ tempat penderita dirawat tidak berjalan dengan baik. Dari 15 kasus DBD yang +

tercatat dalam laporan kasus DBD bulan April (diunduh dari website http://www.surveilansdinkesdki.net), hanya 1 kasus yang laporannya diterima secara langsung oleh Puskesmas Kelurahan Tugu Utara III (dilaporkan oleh keluarga pasien dengan membawa formulir pemberitahuan pasien DBD dari RS yang merawat). 2 Penyelidikan Epidemiologi (PE) Dilakukan dalam 3 x 24 jam setelah pelaporan dan dicatat dalam formulir PE. PE dilakukan segera setelah pelaporan baik dari warga, Dinkes, ataupun dari Puskesmas Kecamatan Koja. PE dilakukan selambatlambatnya 3 x 24 jam setelah laporan diterima dan semua dicatat dalam formulir PE. (Berdasarkan sampling (melakukan crosscheck) data kasus DBD bulan April 2010 dengan data PE, dan -

dengan formulir pemberitahuan pasien DBD yang ada di PKL Tugu Utara III: - Ada 1 kasus DBD yang dilaporkan, atas nama Tn. Paulus, laporan diterima PKL Tugu Utara III tanggal 20 April 2010 dan PE dilaksanakan tanggal 22 April 2010). 3 Pemberantasan dan Fogging pengendalian vektor, Terhadap nyamuk dewasa untuk memutus mata rantai PSN, PJB, dan fogging. penularan DBD : 1. Fogging fokus dilakukan 2 siklus dengan radius 100 meter dan selang waktu 1 minggu. Fogging fokus dilakukan selambat-lambatnya 3 (tiga) kali 24 jam setelah PE dinyatakan Positif. o Dari data PE dan laporan fogging bulan Maret-Mei 2010 (via internet) didapatkan bahwa ada 2 kasus DBD yang tidak ditindaklanjuti dengan fogging fokus. Setelah dicrosscheck pada Bapak Dedi, ternyata fogging telah dilaksanakan di daerah tersebut, tetapi belum dimasukkan dalam data di website.

2. Fogging masal dilakukan 2 siklus di seluruh wilayah suspek KLB dengan selang waktu 1 bulan.

o Sementara semua kasus DBD dengan PE (+) yang ditindaklanjuti dengan fogging fokus, fogging fokus dilaksanakan paling lambat 2 x 24 jam setelah PE dinyatakan (+). o Semua fogging fokus dilaksanakan sebanyak dua siklus dengan selang waktu 1 minggu.

PSN Terhadap jentik nyamuk untuk menghilangkan tempat perindukan nyamuk (PSN): 1. 3M minimal dilaksanakan 1 kali/minggu oleh setiap keluarga 2. 100% tempat penampungan air yang sukar dikuras diberi larvasida setiap 3 bulan - Fogging masal dilaksanakan oleh Petugas Kantor Kelurahan. Fogging masal terakhir kali dilakukan pada tahun 2008 (saat KLB), dan dilaporkan pada Sudinkes, serta dihadiri oleh Wali Kota Jakarta Utara.

- Pelaksanaan PSN dilakukan setiap Pengamatan Jentik Berkala (PJB) Dilaksanakannya PJB Jumat pukul 09.00 oleh jumantik (di bawah Koordinator Jumantik dari

Kantor Kelurahan). -Larvasida dibagikan secara gratis oleh jumantik kepada masyarakat pada saat KLB dan pada saat didapatkan Larvasida dari Pusat (Kantor Walikota/ Gubernur). o PJB dilaksanakan oleh jumantik tanpa waktu yang tetap (disesuaikan dengan kesibukan si jumantik itu sendiri), dilakukan seminggu sekali (bisa hari apa saja dan berbeda-beda setiap RT). o Pada setiap kunjungan PJB, jumantik selalu mengingatkan penghuni rumah untuk senantiasa melakukan PSN mandiri, yaitu dengan 3M, bubuk larvasida dan memelihara ikan. 4 Pemeriksaan cholinesterase Dilakukan 1 x pertahun dan kadar cholinesterase pada petugas fogging tidak boleh < 75%. Bila < 50% - 75%. Seiiring dengan penggunaan Malathion kembali, dengan tujuan -

petugas fogging bila menggunakan insektisida malathion

Tidak boleh mengikuti kegiatan selama 2 minggu. Hanya dilakukan bila menggunakan insektisida malathion.

untuk mengurangi resistensi nyamuk terhadap insektisida, maka pemeriksaan ini masih digunakan dan akan diadakan lagi tahun 2011 (1x per tahun). Bila kadarnya melebihi standar, petugas tersebut akan diistirahatkan dan diganti dengan petugas lainnya.

Penyuluhan secara individu dan kelompok

Penyuluhan perorangan (individu): setiap kali - Penyuluhan perorangan pelayanan dan PJB. Penyuluhan kelompok : 6 x per tahun. dilaksanakan oleh dokter umum ketika pelayanan di Puskesmas. -Penyuluhan perorangan dilaksanakan oleh jumantik pada setiap kunjungan PJB. -Penyuluhan kelompok dilakukan oleh Puskesmas Kecamatan Koja bersama PKL Tugu Utara III bersamaan dengan PE dan fogging fokus. Pelatihan dokter: Ada, tetapi tidak rutin. Hanya dilakukan jika ada

Pelatihan jumantik dan tenaga

Pelatihan dokter Dokter mengikuti pelatihan tatalaksana penderita DBD

kesehatan secara berkala

dalam waktu 1 minggu dengan kategori lulus dan dilakukan penyegaran kembali dalam waktu 2 tahun berikutnya. Pelatihan jumantik Jumantik dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan untuk melakukan PSN dan PJB, serta untuk memberikan penyuluhan tentang DBD, minimal setahun sekali.

peningkatan kasus.

Pelatihan jumantik (yang adalah tanggung jawab kantor Kelurahan Tugu Utara) tidak dilaksanakan karena jumantik dianggap telah memiliki keterampilan dari pengalamannya sebagai jumantik selama ini.

Pembinaan peran serta masyarakat dalam penggerakkan program nasional PSN

Dilaksanakannya pembinaan peran serta masyarakat

Tidak dilaksanakan oleh Puskesmas (karena sudah menjadi tanggung jawab Petugas Kantor Kelurahan); Kunjungan ke rumah (PJB) dilakukan oleh jumantik secara teratur setiap minggu sekali, disertai dengan motivasi warga melakukan PSN. - Hasil pemeriksaan jentik dicatat.

Pencatatan dan Pelaporan 1 Ketersediaan catatan Catatan harian penderita DBD: harian dan formform untuk pencatatan dan pelaporan Data penderita/tersangka DBD. Form laporan So Catatan harian penderita DBD:Ada Pelaporan dengan form laporan So: Ada. +

Formulir pemberitahuan penderita/tersangka DBD dari Laporan mingguan dan bulanan puskesmas, RS, praktek dokter swasta menurut golongan umur, jenis kelamin, tanggal mulai sakit dan hasil pemeriksaan. Form K- DBD Laporan bulanan DBD. Form W2 Laporan mingguan kasus DBD puskesmas. Form W1 Laporan bila terjadi KLB. Formulir PE untuk melakukan pencatatan hasil Penyelidikan Epidemiologi. DBD: Ada (Puskesmas Kelurahan Tugu Utara mendapatkannya dari website http://www.survailansdinkesdki.net) Pencatatan hasil Penyelidikan Epidemiologi pada formulir PE: Ada. Pencatatan dan pelaporan hasil pengamatan jentik oleh jumantik: Tidak ada, baik di Puskesmas Kelurahan Tugu Utara III maupun di Puskesmas Kecamatan Koja. Adanya pencatatan hasil pengamatan jentik oleh kader Pencatatan dan pelaporan hasil yang ditujukan untuk menghitung Angka Bebas Jentik yang kemudian dilaporkan ke Puskesmas Kecamatan. pengamatan jentik hanya ada di Kantor Kelurahan Tugu Utara saja.

Formulir 1a Untuk Pemantauan jentik berdasarkan lokasi spesifik indoor/outdoor dan dikteahui oleh RT/RW setempat Formulir PJB 1b Untuk rekapitulasi pemantauan jentik berkala diketahui oleh ketua RT/RW setempat. Formulir PJB 2 Formulir untuk pencatatan rumah sesuai RT/RW setempat, diketahui oleh Lurah setempat. Formulir PJB 2 AA Untuk tempat umum, tempat kerja dan industri F1-PE Untuk laporan hasil penyelidikan epidemiologi kasus DBD di Kelurahan, diketahui oleh kepala Puskesmas Kelurahan setempat. Form PE 1 Data identitas penderita dan konfirmasi hasil PE yang menyatakan bahwa penderita tersebut merupakan penderita DBD atau bukan, diketahui oleh ketua RT/RW setempat dan pelaksana PE Form PE 2

Laporan hasil pengamatan jentik bulan April dan Mei 2010 belum ada. Laporan hasil pengamatan jentik yang ada (bulan Januari-Maret 2010) masih dalam bentuk laporan per RW yang belum direkapitulasi jumlahnya, dan tidak disertai dengan perhitungan ABJ (kolom ABJ dikosongkan).

Form penyelidikan epidemiologi untuk 20 rumah di sekitar kasus rumah penderita demam berdarah.

Pengawasan 1 Supervisi program oleh Puskesmas Kecamatan dilakukan 4 kali dalam setahun Pengawasan dari Puskesmas kecamatan, 4x/tahun ada dan berjalan. Pengawasan program oleh Puskesmas Kecamatan setiap bulan (dilakukan dalam bentuk kunjungan dan pemeriksaan laporan kasus oleh Koordinator Petugas P2P DBD Puskesmas Kecamatan Koja ke masing-masing Puskesmas Kelurahan). -

INPUT No Variabel Tolak Ukur Keberhasilan Variabel Ini (E) Data yang Dihitung (O) Masalah (E-O)

Tenaga 1 Dokter Umum Jumlah: 1 orang Waktu kerja Senin-Kamis, pukul 07.30-16.00 WIB; Jumlah: 1 orang Waktu kerja Senin-Kamis, pukul -

Jumat pukul 07.30-16.30 WIB; jam kerja rata-rata 8,5 jam/hari) Tugas: Sebagai koordinator dan penanggung jawab kegiatan Puskesmas.
Sebagai pelaksana kegiatan pelayanan kesehatan

07.30-16.00 WIB; Jumat pukul 07.30-16.30 WIB; jam kerja ratarata 8,5 jam/hari) Tugas: Sebagai koordinator dan penanggung jawab kegiatan Puskesmas (dalam jabatan sebagai Wakil Manajemen Mutu Puskesmas Kelurahan Tugu Utara III). Sebagai pelaksana kegiatan pelayanan kesehatan umum berupa pemeriksaan dan pengobatan.

umum berupa pemeriksaan dan pengobatan.

Perawat

Jumlah: 1 orang Waktu kerja Senin-Kamis, pukul 07.30-16.00 WIB; Jumat pukul 07.30-16.30 WIB; jam kerja rata-rata 8,5 jam/hari) Tugas:

Jumlah: 1 orang Waktu kerja Senin-Kamis, pukul 07.30-16.00 WIB; Jumat pukul 07.30-16.30 WIB; jam kerja ratarata 8,5 jam/hari) Membantu dokter umum dalam

Membantu dokter umum dalam melakukan kegiatan Tugas:

pelayanan kesehatan.

Membantu dokter umum untuk melakukan

melakukan kegiatan pelayanan kesehatan. Memiliki jabatan sebagai: (1) Penanggung Jawab Program Pengendalian DBD, (2) Penanggung Jawab Poli TB Paru, (3) Penanggung Jawab KesMas Paru, (4) Penanggung Jawab Survailans, (5) Penanggung Jawab Lansia, (6) Penanggung Jawab UKS dan UKGS, (7) Penanggung jawab Promosi Kesehatan Puskesmas Kelurahan Tugu Utara III.

penyuluhan pengendalian penyakit DBD.

Petugas P2P DBD dan Petugas PE

Jumlah: 1 orang Waktu kerja Senin Kamis, pukul 07.30-16.00 WIB; Jumat pukul 07.30-16.30 WIB; jam kerja rata-rata 8,5 jam/hari) Tugas: Manajemen penanggulangan penyakit DBD meliputi: pencatatan kasus DBD, koordinasi kegiatan

Jumlah: 1 orang, merangkap jabatan sebagai perawat dan penanggung jawab programprogram lainnya. Waktu kerja Senin-Kamis, pukul 07.30-16.00 WIB; Jumat pukul 07.30-16.30 WIB; jam kerja rata-

penyelidikan epidemiologi dan fogging.

rata 8,5 jam/hari) Tugas: Manajemen penanggulangan penyakit DBD meliputi: pencatatan kasus DBD, koordinasi kegiatan penyelidikan epidemiologi dan fogging.

Petugas Laboratorium

Jumlah: 1 orang Waktu kerja Senin-Kamis, pukul 07.30-16.00 WIB; Jumat pukul 07.30-16.30 WIB; jam kerja rata-rata 8,5 jam/hari) Tugas: Melakukan pemeriksaan laboratorium berkaitan dengan penyakit DBD.

Tidak ada (karena PKL Tugu Utara III tidak memiliki laboratorium sendiri).

Kader/jumantik

Jumlah: 1 orang tiap RW, dengan target kerja minimal 500 rumah per bulan. Tugas: Sebagai panutan dan penggerak masyarakat dalam pelaksanaan dan penanggulangan demam berdarah.

Tidak ada, karena para jumantik berada di bawah tanggung jawab Petugas Kantor Kelurahan sejak tahun 2007 (Melalui Perda No. VI tahun 2007). Berdasarkan data di kantor kelurahan:

Ada 1 jumantik untuk masing-masing RT (total 59 orang jumantik) dan 1 orang koordinator jumantik untuk masing-masing RW (total 7 koordinator jumantik) di wilayah kerja Puskesmas Kelurahan Tugu Utara III). Waktu kerja (hari untuk melakukan pemeriksaan jentik) tidak tetap, karena disesuaikan dengan kesibukan jumantik tersebut. Waktu untuk menggerakkan warga melakukan PSN (3M) adalah hari Jumat pukul 09.00-selesai. 6 Petugas fogging Jumlah: 10 orang; 2 orang kepala regu dan 8 orang anggota. Tugas: Melakukan fogging di wilayah kerja Puskesmas. Sebagai panutan dan penggerak masyarakat dalam pelaksanaan dan penanggulangan demam berdarah. PKL Tugu Utara III tidak memiliki petugas fogging. Petugas fogging ada di Puskesmas Kecamatan Koja. Pada setiap pelaksanaan fogging, ada 14 orang yang bertugas, yaitu 1 orang sebagai Supervisor, 1 orang kepala -

regu, dan 12 orang sebagai penyemprot.

Pelayanan Medis/Non Medis 1 Subsidi APBD APBD: Menyediakan anggaran untuk kegiatan pelatihan, Jumlahnya mencukupi dan pemberian supervisi dan monitoring, jaminan mutu laboratorium, sarana diagnosis, kegiatan pemecahan masalah, tidak terlambat. Tetapi tidak ada anggaran dana untuk jumantik (karena anggaran dana untuk jumantik berasal dari Kantor Kelurahan Tugu Utara) -

pengembangan SDM, untuk operasional, pemeliharaan, pelaksanaan, pencegahan, dan penanggulangan DBD Keterangan: jumlahnya mencukupi dan waktu pemberian tidak terlambat.

Sarana Medis Inventaris 1 2 2 3 4 5 Tensimeter dewasa Tensimeter anak Stetoskop Termometer Senter Alat laboratorial o Rak : 1 buah o Pipet Sahli : 1 buah 1 buah, berfungsi baik 1 buah, berfungsi baik 1 buah, berfungsi baik 1 buah, berfungsi baik 1 buah, berfungsi baik o Alat Hb meter Sahli: 1 buah 1 buah, berfungsi baik 1 buah, berfungsi baik 2 buah, berfungsi baik 1 buah, berfungsi baik 1 buah, berfungsi baik Tidak ada (karena tidak ada laboratorium di PKL Tugu Utara III) -

o Tabung : 2 buah o Pipet eritrosit : 1 buah o Pengaduk : 1 buah o Kamar hitung : 1 buah o Mikroskop cahaya : 1 buah o Microsentrifuge : 1 buah Tersedia ruang laboratorium, cukup pencahayaan dan ventilasi, dilengkapi dengan keran air yang airnya harus dapat mengalir, handschoen (sarung tangan), baju petugas. 6 Tourniquet 1 buah, berfungsi baik 1 buah, berfungsi baik

Sarana Medis Habis Pakai 1 Obat-obatan (antipiretika seperti parasetamol atau ibuprofen) 2 Jarum suntik uk. 23 untuk pengambilan Ada dalam keadaan baik, mencukupi, dan stok tidak pernah habis Ada dalam keadaan baik, mencukupi, dan stok tidak pernah habis Ada dalam keadaan baik, mencukupi, dan stok tidak pernah habis Ada dalam keadaan baik, mencukupi, dan stok tidak pernah habis -

darah tersedia. 3 Cairan kristaloid, Ada dalam keadaan baik, mencukupi, dan stok tidak Tidak ada -

koloid, dan infus set. o Alkohol

pernah habis

(Puskesmas Tugu Utara III tidak melayani rawat inap)

Bahan pemeriksaan hematologi

Alkohol ada, lain-lainnya tidak ada (Puskesmas Tugu Utara III tidak memiliki laboratorium)

o Larutan Rees-Ecker o HCl 0,1 N o Aquadest Ada dalam keadaan baik, mencukupi, dan stok tidak pernah habis

Sarana Non Medis Inventaris 1 Buku panduan tata laksana kasus menurut WHO 2 3 Kamar Periksa Lemari tempat perabotan 4 Tempat cuci tangan, sabun, lap tangan, air mengalir 5 Alat komunikasi Ada dan berfungsi baik Ada sebuah pesawat telepon dan berfungsi dengan baik Ada dan berfungsi baik Ada dan berfungsi baik Ada dan berfungsi baik Ada dan berfungsi baik Ada dan berfungsi baik Ada dan berfungsi baik Ada Ada -

Alat bantu penyuluhan (leaflet, poster, dan sejenisnya)

Ada dalam jumlah yang cukup dan berfungsi baik

Tidak ada (Ada di Puskesmas Kecamatan Koja)

7 8

Senter Tempat cuci tangan beserta peralatannya

Ada dan berfungsi baik Ada dan berfungsi baik

Ada dan berfungsi baik Ada dan berfungsi baik

Mesin fogging

Ada dan berfungsi baik

Tidak ada (Ada 7 buah mesin fogging di Puskesmas Kecamatan Koja, berfungsi baik)

10

Alat transportasi

Ada dan berfungsi baik

Sebuah motor berfungsi baik

Sarana Non Medis Habis Pakai 1 Bubuk larvasida Tersedia dalam jumlah cukup dan stok tidak pernah habis Tidak ada (Penyediaannya telah menjadi tanggung jawab Petugas Kantor Kelurahan) 2 Status Tersedia dalam jumlah cukup dan stok tidak pernah habis Tersedia dalam jumlah cukup dan stok tidak pernah habis -

Kertas resep

Tersedia dalam jumlah cukup dan stok tidak pernah habis o Formulir pencatatan pasien (LB1) o Formulir pemeriksaan jentik o Formulir penyelidikan epidemologi o Formulir K-DBD sebagai laporan bulanan o Formulir W2 sebagai laporan mingguan o Formulir W1 bila terjadi KLB o Formulir pelaporan kasus DBD ke Dinkes (KD/RS DBD) o Formulir K-DBD, W2, W1, dan KD/RS o Formulir PE, Formulir 1a, Formulir PJB 1b, Formulir PJB 2, Formulir PJB 2 AA , F1-PE, Form PE 1, Form PE 2 tersedia di Puskesmas Kelurahan Sunter Agung I lalu dilaporkan ke Puskesmas Kecamatan Tanjung Priok lalu dilaporkan ke Suku Dinas Kesehatan Jakarta Utara. Tersedia dalam jumlah cukup dan stok tidak pernah habis

Tersedia dalam jumlah cukup dan stok tidak pernah habis

Alat administrasi (pencatatan)

Formulir pencatatan pasien tersedia dalam jumlah cukup dan stok tidak pernah habis

Insektisida, solar, bensin

Tersedia dalam jumlah cukup dan stok tidak pernah habis

Tidak ada (Ada di Puskesmas Kecamatan Koja,

insektisida SOLVAX (Cifultrine), SERUNI (Cipermetrine), Malathion, dan solar serta bensin dalam jumlah cukup dan stok tidak pernah habis)

Metode Medis 1 Penemuan dan penatalaksanaan penderita Metode Penemuan dan Penatalaksanaan Kasus DBD Penderita yang datang dengan tanda dan gejala penyakit DBD maka dilakukan pemeriksaan sebagai berikut: 1. Auto dan allo anamnesa 2. Observasi kulit dan konjungtiva 3. Periksa keadaan umum, tensi, nadi 4. Penekanan pada epigastrium, adanya nyeri / rasa sakit 5. Perabaan hati 6. Uji tourniquet Pemeriksaan laboratorium klinik : a. Pemeriksaan trombosit dengan cara Rees-Ecker b. Pemeriksaan hematokrit dengan microPenderita dengan keluhan demam > 3 hari dengan atau tanpa gejala DBD seperti sakit kepala, nyeri retro orbital, myalgia, mual muntah, petechie, perdarahan spontan (mimisan, gusi berdarah, melena) maka dilakukan pemeriksaan laboratorium Hematokrit dan Trombosit (pemeriksaan lab dilakukan di luar Puskesmas Kelurahan Tugu Utara III, karena tidak memiliki laboratorium sendiri). Bagi pasien yang keadaan umumnya masih baik diminta kembali ke -

Hematokrit centrifuge c. Pemeriksaan kadar hemoglobin dengan Kalorimeter fotoelektrik atau metode Sahli Diagnosis penderita DBD ditegakkan dengan kriteria: Panas tinggi yang timbul mendadak dan terus menerus selama 2-7 hari tanpa sebab yang jelas. Ada tanda-tanda perdarahan : 1. Rumple Leed Test ( uji Tourniquet ) + 2. Petechie, purpura, echimosis, hematoma 3. Epistaksis 4. Perdarahan gusi 5. Perdarahan hematoskesia) 6. Hematuria Hepatomegali Tanpa atau dengan gejala syok seperti: 1. Nadi lemah, cepat, kecil sampai tak teraba 2. Tekanan nadi turun 20 mmHg atau kurang 3. Kulit teraba dingin terutama daerah akral 4. Sianosis sekitar mulut, ujung jari tangan dan kaki Jumlah trombosit < 100.000 / ul (tombositopenia) saluran cerna (hematemesis-melena-

Puskesmas Kelurahan dengan membawa hasil labnya. Jika pasien tersebut memenuhi kriteris diagnosis DBD, maka pasien didiagnosis sebagai penderita DBD dan dianjurkan untuk dirawat di RS. Bagi pasien yang keadaan umumnya kurang baik, pasien akan langsung dirujuk ke RS. Pemeriksaan laboratorium darah yang dilakukan di Puskesmas Kecamatan Koja sudah menggunakan alat fotometer.

Hematokrit meningkat 20 % atau lebih menurut estndar umur dan jenis kelamin. Bila didapatkan 2 atau lebih gejala klinis disertai trombositopenia dengan atau tanpa hemokonsentrasi, maka diagnosis dapat ditegakkan.

Metode Tatalaksana Kasus Bila pada penderita ditemukan tanda-tanda

kedaruratan seperti renjatan, muntah terus-menerus, kesadaran menurun, perdarahan spontan (muntah/berak darah) maka penderita perlu dirujuk untuk segera dirawat di Rumah Sakit. Bila tidak ada tanda kedaruratan, periksa rumple leede dan hitung trombosit : Bila rumple leede + dan atau trombosit

<150.000/ul, penderita harus segera dirujuk dan dirawat. Bila rumple leede dan trombosit > 150.000/ ul, penderita boleh pulang dengan pesan untuk kontrol setiap hari sampai hari ke-7 dan bila keadaan umum memburuk, segera pergi ke rumah sakit.

Metode Non Medis 1 Pencatatan dan Pelaporan Metode Pelaporan dan Pencatatan Kasus DBD (pencatatan nama penderita, umur, jenis kelamin, tanggal sakit, alamat lengkap, RS dimana penderita dirawat) Dokter atau petugas kesehatan yang menemukan penderita/tersangka penyakit DBD diwajibkan - Laporan kasus DBD (baik dari masyarakat, dari RS/ dokter, baik malalui surat ataupun melalui website) sering terlambat, bahkan
baru ada laporan kasus yang masuk di website, 1 bulan setelah diagnosis ditegakkan.

melapor dalam waktu kurang dari 24 jam kepada Puskesmas sesuai domisili penderita. Laporan penderita/tersangka penyakit DBD dari rumah sakit menggunakan formulir KD/RS dikirimkan ke Dinkes Dati II/ Kandepkes dengan tembusan ke Puskesmas yang bersangkutan. Laporan dari Puskesmas dan sarana kesehatan lainnya menggunakan formulir KD/RS atau surat tersendiri yang memuat nama, jenis kelamin, umur, alamat, dan jika ada nomor telepon penderita. Sedangkan pelaporan rutin dari Puskesmas ke Dinkes Dati II dilakukan melalui mekanisme sbb : o Menggunakan formulir K-DBD sebagai laporan bulanan.

- Bila ada laporan Kasus (baik dari masyarakat, dari RS/ dokter, baik malalui surat ataupun melalui website) yang diterima oleh PKL Tugu Utara III, maka laporan akan diteruskan ke P2P DBD Puskesmas Kecamatan Koja untuk ditindaklanjuti. Berdasarkan sampling (crosscheck) data kasus DBD bulan April 2010 dengan formulir pemberitahuan pasien DBD yang ada di PKL Tugu

o Menggunakan formulir W2 sebagai laporan mingguan. o Menggunakan formulir W1 bila terjadi KLB.

Utara III): Dari 15 kasus DBD, hanya 1 kasus yang laporannya diterima secara langsung oleh Puskesmas Kelurahan Tugu Utara III (dilaporkan oleh keluarga pasien dengan membawa formulir pemberitahuan pasien DBD dari RS yang merawat). Kasus yang dilaporkan tersebut atas nama Tn. Paulus, masuk RS 17 April 2010, formulir pemberitahuan pasien DBD dari RS tertanggal 18 April 2010, diterima oleh Puskesmas Kelurahan Tugu Utara III tanggal 20 April 2010, lalu langsung disampaikan pada P2P DBD Puskesmas Kecamatan Koja pada hari yang sama. Formulir pemberitahuan pasien DBD dari RS memuat identitas pasien secara lengkap, tetapi tanpa disertai

nomor telepon.

Penyelidikan Epidemiologi (PE)

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR ( SOP ) PE DBD

- PE dilaksanakan oleh seorang petugas dari Puskesmas Kecamatan

1) PE adalah Kegiatan pencarian penderita DBD dan Koja dan seorang petugas Puskesmas atau tersangka penderita DBD dan pemeriksaan Kelurahan Tugu Utara III sesuai jentik nyamuk menular DBD di tempat tinggal SOP. penderita, rumah dan atau bangunan sekitar, -Hasil PE dilaporkan pada Sudinkes termasuk tempat-tempat umum dalam radius melalui website sekurang-kurangnya 100 m. 2) PE dilaksanakan oleh petugas http://www.survailans-dinkesdki.net kesehatan Entry data dilakukan pada hari yang

Puskesmas Kelurahan setelah menerima laporan sama dengan waktu pelaksanaan PE dari masyarakat dan atau Rumah Sakit dan atau (pada siang harinya). Dinas Kesehatan (melalui Internet). 3) Petugas Pelaksana PE Wajib mendapatkan

pelatihan yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan. 4) PE dilakukan sebagai berikut ; Mencatat data penderita DBD yang diterima kedalam buku catatan harian penderita DBD.

Melaksankan PE sekurang-kurangnya tiga hari setelah laporan penderita DBD diterima.

Menyiapkan

peralatan

PE

seperti;

Tensimeter, Termometer, Senter, Formulir PE dan Surat Tugas. Memberitahukan kepada Lurah dan Ketua RW/RT bahwa di wilayahnya ada

penderita DBD dan akan dilaksanakan PE. Hasil PE dinyatakan Positif bila

ditemukan 1 (satu) atau lebih penderita DBD lainnya dan atau 3 (tiga) atau lebih penderita panas tanpa diketahui

penyebabnya dan ditemukan jentik 5%. Hasil PE dinyatakan Negatif bila tidak ditemukan 1 (satu) atau lebih penderita DBD lainnya dan atau 3 (tiga) atau lebih penderita panas tanpa diketahui

penyebabnya dan tidak ditemukan jentik sampai 5%. Hasil PE dinyatakan bukan DBD bila

kasus yang dilaporkan ternyata bukan DBD oleh Rumah Sakit/ dokter yang merawat. Hasil PE dinyatakan tidak ditemukan bila penderita tidak ditemukan pada alamat penderita yang dilaporkan. Hasil PE Positif ditindaklanjuti dengan penanggulangan Fogging Fokus. Hasil PE Negatif dan alamat tidak ditemukan dilakukan pemeriksaan silang, penyuluhan, Selektif. Hasil pelaksanaan PE dilaporkan secara berjenjang Kesehatan. Hasil PE Positif ditindaklanjuti dengan kepada Kepala Dinas PSN dan Larvasidasi

penanggulangan Fogging Fokus. Hasil PE Negatif dan alamat tidak ditemukan dilakukan pemeriksaan silang, penyuluhan, PSN dan Larvasidasi Selektif selambat-lambatnya 3 x 24 jam setelah PE dilakukan.

Hasil pelaksanaan PE dicatat dalam formulir PE dilaporkan secara berjenjang kepada Kepala Dinas Kesehatan. 3 Pemberantasan dan pengendalian vektor, PSN, PJB, dan fogging. STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) KEGIATAN FOGGING FOKUS DBD 1. Penanggulangan Fokus adalah kegiatan

pemberantasan nyamuk penular DBD yang dilaksanakan dengan melakukan Fogging dan atau ULV. 2. Fogging dan atau ULV dilaksanakan sebagai -Fogging fokus dilaksanakan sesuai berikut ; Dilakukan dalam radius 200 SOP oleh Puskesmas Kecamatan meter Koja, sebagai tindak lanjut PE (+) Dinkes dengan cara meng-entry data selambat- melalui website Entry data dilakukan pada hari yang -

sebanyak 2 siklus dengan interval 1 (satu) dan dilaporkan pada Sudinkes/ minggu setiap siklus. Fogging fokus dilakukan

lambatnya 3 (tiga) kali 24 jam setelah PE http://www.survailans-dinkesdki.net dinyatakan Positif. Fogging dan atau ULV dilaksanakan oleh sama dengan waktu pelaksanaan petugas kesehatan dan atau petugas fogging fokus (siang harinya). lainnya yang sudah dilatih dan dibawah - Fogging masal, PSN dan PJB pengawasan petugas kesehatan. (termasuk para jumantik)

Pencampuran insektisida mengacu kepada dilaksanakan oleh Petugas Kantor ketentuan sesuai dengan jenis insektisida. Menyebarkan pemberitahuan Kelurahan. Fogging masal terakhir akan kali dilakukan pada tahun 2008 (saat

dilakukan fogging dan atau ULV kepada KLB), dan dilaporkan pada Sudinkes, masyarakat yang terkena radius, dibantu serta dihadiri oleh Wali Kota Jakarta oleh masyarakat dan aparat setempat agar Utara. pelaksanaan fogging berjalan lancar. Penyuluhan, PSN dan Larvasida selektif dilaksanakan oleh petugas Puskesmas dengan mengikut sertakan masyarakat dalam radius 200 meter selambat-

lambatnya 3 x 24 jam setelah PE dilakukan. Penanggulangan fogging fokus dilaporkan secara

berjenjang dari Puskesmas ke Sudinkes sampai Dinas Kesehatan. Terhadap jentik nyamuk untuk menghilangkan tempat Jumantik mengadakan kunjungan perindukan nyamuk (PSN): 1. Secara fisik (3 M) : rumah, memotivasi, dan mengawasi penghuni rumah saat melakukan 3M,

Menguras tempat-tempat penampungan air larvasidasi, dan senantiasa bersih seperti bak mandi / WC, tempayan, dll, menghimbau warga untuk

seminggu sekali. Menutup rapat tempat penampungan air. Mengubur / menyingkirkan barang-barang bekas lainnya yang bisa menampung air seperti: ban bekas, kaleng bekas, plastik bekas, dan lain-lain. 2. Larvasida, yaitu menaburkan bubuk abate pada tempat-tempat penampungan air (TPA) yang sudah dikuras dengan dosis 1 sendok makan peres (10 gram) larvasida (Abate) untuk 100 liter air. 3. Biologis, dengan memelihara ikan pemakan jentik (ikan kepala timah, ikan guppi, dll).

memelihara ikan sebagai PSN biologis..

Metode Pengamatan Jentik Berkala (PJB) Kegiatan pengamatan jentik dilakukan untuk

Tidak ada Ada di kantor Kelurahan, sebagai berikut:

memantau keberhasilan/kesinambungan PSN.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh seorang jumantik yang - Jumantik direkrut dan dilantik oleh direkrut dan dilantik oleh setiap puskesmas. Kantor Kelurahan.

Pada tiap RW dengan asumsi terdiri dari 400 rumah - Pelaksanaan PJB oleh jumantik di ditempatkan 1 orang jumantik yang bertanggung setiap RT (masing-masing RT 1

jawab

untuk

melaksanakan

pengamatan

jentik orang), yaitu memeriksa apakah ditemukan jentik nyamuk di tempattempat penampungan air, seperti bak mandi, guci air, bagian bawah dispenser air minum, air penampungan pembuangan AC, dengan peralatan senter dan membawa buku dan alat tulis untuk pencatatan. -Hasil setiap PJB dicatat oleh jumantik. -Catatan tersebut diserahkan pada Koordinator Jumantik di masingmasing RW di akhir minggu. -Koordinator jumantik di masingmasing RW mengisi form Lembaran Rekapitulasi Laporan Pemantauan Angka Bebas Jentik (ABJ) Kelurahan Tugu Utara Kecamatan Koja Kota Adminstrasi Jakarta Utara, lalu menyerahkan form tersebut pada

terhadap seluruh rumah tersebut dalam waktu 1 bulan.

Petugas Kelurahan. -Petugas kelurahan hanya menyimpan data tersebut dan tidak menyampaikannya pada Puskesmas Kecamatan Koja ataupun Puskesmas Kelurahan Tugu Utara III. -Petugas kelurahan tidak menagih laporan bulanan PJB untuk bulan April dan Mei 2010 dari koordinator jumantik masing-masing RW. 4 Pemeriksaan cholinesterase petugas fogging bila menggunakan insektisida malathion Metode pemeriksaan cholinesterase Dengan pengambilan darah dan pemeriksaan laboratorium darah. Tidak ada (Puskesmas Kelurahan Tugu Utara III tidak memiliki laboratorium sendiri) Dapat dilakukan di Puskesmas Kecamatan Koja: Pengambilan darah dan pemeriksaan dengan menggunakan alat. Penyuluhan -

Penyuluhan secara individu dan kelompok

Metode Penyuluhan Masyarakat Perorangan atau kelompok yang dilakukan secara langsung atau tidak langsung mengenai pencegahan

perorangan

oleh

dokter secara dua arah yang singkat, padat dan jelas, dengan

dan penanggulangan DBD. Materi penyuluhan: PSN, abatisasi selektif, tanda dan gejala penyakit DBD, penganggulangan penyakit DBD di rumah. Metode disesuaikan dengan sasaran, situasi dan kondisi.

menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh masyarakat awam (tidak menggunakan bahasa/

istilah-istilah kedokteran), tetapi tanpa alat bant/ di dalam peraga, ruang

dilaksanakan

praktek yang ber-AC dan tidak banyak suara yang mengganggu. Penyuluhan kelompok secara dua arah yang singkat, padat dan jelas, serta melibatkan anggota kelompok secara aktif untuk bertanya ataupun mengemukakan pendapat, penyuluhan disampaikan dengan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh masyarakat awam (tidak menggunakan bahasa/ istilahistilah kedokteran), dengan alat bant berupa banner saja,

diselenggarakan di kantor RW saat dilaksanakan PE dan fogging fokus. Ruang RW seringkali terlalu sempit dan menjadi pengap dengan banyaknya orang yang berada di dalamnya. 6 Pelatihan jumantik dan tenaga kesehatan secara berkala Pelatihan dokter Pelatihan tentang teori terbaru/ hasil penelitian terbatu tentang tatalaksana penderita DBD. Pelatihan diselenggarakan dalam waktu 1 minggu, meliputi penyampaian teori dan pelatihan keterampilan dalam melakukan tes, misalnya tes Rumpel-Leede. Hanya dalam bentuk penyampaian teori dan tanya jawab saja, diselingi acara ramah tamah dan bagi pengalaman, dalam waktu 5 hari. +

Metode Pengawasan dan Pelatihan Kinerja Jumantik Metode pengawasan setiap bulan. Metode pelatihan: Penyampaian materi tentang

Tidak ada Ada di kantor kelurahan, sebagai berikut: Pengawasan kinerja jumantik tidak berjalan (data hasil PJB bulan April-Mei 2010 masih belum

penyakit DBD dan teknis penghitungan jentik (alat yang dibutuhkan, seperti senter, membedakan dan mengenali jentik nyamuk Aedes aegypti,

diterima Petugas Kantor Kelurahan hingga tanggal 23 Juni 2010). Pelatihan jumantik yang adalah tanggung jawab Petugas Kantor Kelurahan tidak dilaksanakan karena jumantik dianggap telah memiliki keterampilan dari pengalamannya sebagai jumantik selama ini. 7 Pembinaan peran serta masyarakat dalam penggerakkan program nasional PSN Metode Pembinaan Peran Serta Masyarakat Tidak ada. Ada di Kantor Kelurahan, metode PSN oleh Kantor Kelurahan: - Kunjungan ke rumah (PJB) dilakukan oleh jumantik secara teratur setiap minggu sekali, disertai dengan motivasi warga melakukan PSN. - Hasil pemeriksaan jentik dicatat. -

(Penggerakan PSN 30 menit). Berupa kunjungan ke rumah/tempat umum secara teratur sekurangnya 3 bulan sekali untuk melakukan penyuluhan dan memotivasi warga melakukan PSN secara terus menerus. Penggerakan PSN di rumah dilaksanakan oleh kader atau jumantik. Hasil pemeriksaan jentik dicatat pada kartu PSN untuk ditinggalkan di rumah atau tempat umum dan formulir PJB.

UMPAN BALIK No Variabel Tolak ukur variabel ini (E) 1 Rapat kerja membahas pelaksanaan program P2DBD 2 Evaluasi P2DBD oleh Puskesmas Kecamatan Ada dan berjalan Tiap 3 bulan Evaluasi dilakukan sebulan sekali Setiap kali terjadi peningkatan kasus/ 2x pertahun Setiap kali ada peningkatan kasus DBD/ 2 kali pertahun Data yang Dihitung (O) Masalah (E-O) -

LINGKUNGAN No Variabel Tolak ukur variabel ini (E) Data yang Dihitung (O) Masalah (E-O)

Fisik 1 Lokasi Mudah dicapai, lokasi tidak banjir. Puskesmas berada di tengah pemukiman padat penduduk. Puskesmas juga berada di lingkungan penduduk dengan tipe rumah sangat -

sederhana dan sederhana yang biasanya dihuni oleh beberapa kepala keluarga. Daerah sekitar Puskesmas kotor, selokan tidak jalan, tergenang air dan dipenuhi kotoran serta banyak sampah, berwarna kehitaman dan juga berbau tidak sedap. Jalan di daerah sekitar Puskesmas sempit dan kebersihan lingkungan ridak baik. 2 Transportasi Mudah didapat, murah dan mudah dicapai dengan jalan kaki/kendaraan umum. Transportasi umum menuju Puskesmas relatif mudah didapat bagi penduduk sekitar yaitu dengan menggunakan sepeda motor (ojek), bajaj, becak atau angkutan umum. 3 Fasilitas kesehatan lainnya Ada dan terdapat kerjasama yang baik terutama dalam hal pencatatan dan pelaporan. Dari 15 kasus DBD pada bulan April 2010, hanya 1 kasus yang laporannya diterima secara langsung oleh Puskesmas Tugu Utara III melalui formulir pemberitahuan pasien DBD, yaitu dari RS Pelabuhan. Non fisik + -

Tingkat pendidikan

Tidak menjadi hambatan dan tidak berpengaruh

Sebagian besar penduduk tamat SLTA (35,70%), namun di sisi lain masih terdapat sejumlah penduduk yang tidak tamat SD (9,02%). Hal ini menimbulkan kesulitan dalam pemberian penyuluhan yang optimal dalam bentuk tulisan maupun penjelasan yang detail tentang P2P DBD. Tingkat sosial ekonomi yang

Sosial ekonomi

Tidak menjadi hambatan dan tidak berpengaruh

bervariasi mempengaruhi program. Kegiatan penyuluhan PSN, PJB,

larvasidasi selektif dan fogging lebih mudah menjangkau kawasan

pemukiman sosial ekonomi rendah dibandingkan dengan rumah yang elit (golongan sosial ekonomi menengah ke atas).

Agama

Tidak menjadi hambatan dan tidak berpengaruh

Tidak menjadi hambatan dan tidak berpengaruh

Adat istiadat

Tidak menjadi hambatan dan tidak berpengaruh

Tidak menjadi hambatan dan tidak berpengaruh