Anda di halaman 1dari 8

Gambaran Pengetahuan Ibu Primipara Tentang Metode Amenorea Laktasi (MAL) Didesa

ABSTRAK Program keluarga Berencana ( KB ) sebagai pilar pertama yang mendukung upaya mempercepat penurunan AKI perlu mempertajam sasaran kehamilan yang masuk dalam kategori 4T dan kehamilan yang tidak diinginkan dapt ditekan. Metode Amenorea Laktasi ( MAL ) merupakan kontrasepsi yang mengandalkan pemberian ASI secara eksklusif, artinya hanya diberikan ASI tanpa tambahan makanan dan minuman lainnya.Metode ini dilakukan dalam tiga uji klinik.Yang pertama oleh Perez,Kazi,dkk,1995 dan Ramos di Philipina 1996.Menyatakan bahwa rasio kehamilan setiap 100 wanita dalam jangka waktu 6 bulan penggunaan metode tersebut adalah 0,58 diPakistan dan 0,97 di Philipina. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengetahuan ibu primipara tentang Kontrasepsi Metode Amenorea Laktasi ( MAL ) berdasarkan pengetahuan, umur, pendidikan, dan pekerjaan. Penelitian ini dilakukan di Dusun VII dan Dusun VIII Desa X-B dengan jumlah responden 35 orang dan seluruhnya dijadikan sample penelitian.Metode yang digunakan bersifat deskriptif dengan menggunakan data primer yang diperoleh dari ibu primipara melalui kuisioner di Dusun VII dan Dusun VIII Desa X B. Dari hasil penelitian diperoleh distribusi frekuensi pengetahuan bahwa mayoritas pengetahuan cukup 19 responden ( 54,2 % ) dan minoritas pengetahuan kurang 2 responden ( 5,8 % ).Distribusi frekuensi berdasarkan umur mayoritas berumur 20 25 tahun 9 responden ( 47,3 % ) dan minoritas berumur 20 25 tahun 1 responden ( 50 % ) dan berumur 26-30 tahun 1 responden ( 50% ). Distribusi frekuensi berdasarkan pendidikan mayoritas pendidikan SLTP 11 responden ( 57,9 % ) dan minoritas pendidikan SD 1 responden ( 7,1 % ). Distribusi frekuensi berdasarkan pekerjaan mayoritas IRT 15 responden ( 78,9 % ) dan minoritas karyawan 1 responden ( 7,1 % ), Staff pegawai 1 responden ( 7,1 % ) dan pabrik 1 responden ( 5,3 % ). Dengan demikian diharapkan kepada tenaga kesehatan untuk lebih meningkatkan peranannya dalam memberikan penyuluhan tentang pentingnya metode kontrasepsi ini. Kata kunci :Pengetahuan Ibu Primipara Tentang Kontrasepsi Metode Amenorea Laktasi ( MAL ) Daftar Pustaka :10 Referensi ( 2000 2009 ) BAB I PENDAHULUAN 1.1 .Latar Belakang Menurut World Heald Orfganization (WHO) keefektifan Metode Amenorea Laktasi ini 98 % bagi ibu yang menyusui secara exklusif selama 6 bulan pertama pasca persalinan dan sebelum menstruasi setelah melahirkan. Metode Amenorea Laktasi (MAL) adalah kontrasepsi yang mengandalkan pemberian air susu ibu ( ASI ) secara eksklusif,artinya hanya diberikan ASI tanpa tambahan makanan dan minuman apapun lainnya( Prawirohardjo,2006 ). Pada dasarnya yang diambil oleh depkes untuk memperlancar penurunan AKI mengacuh pada intervensi strategi empat pilar Safe Mother Hood yaitu : Keluarga Berencana, Pelayanan Ante Natal Care( ANC ),Persalinan yang aman, Pelayanan obstetri essential,Program Keluarga Berencana ( KB ),sebagai pilar pertama yang mendukung upaya mempercepat penurunan AKI perlu mempertajam sasaran kehamilan yang masuk kategori 4T dan kehamilan yang tidak diinginkan dapat ditekan. Sehingga kehamilan yang sangat beresiko dapat dihindari dan terwujud sumber daya manusia ( SDM ) yang berkhualitas dari ibu yang merencanakan waktu yang tepat untuk kehamilannya,melalui keikut sertaan keluarga sebagai

aseptor KB secara rasional. Dalam mengatur jarak kehamilan yang terhindar dari 4T ( Terlalu muda,tua,sering,dan banyak ).Gerakan keluarga berencana Indonesia menawarkan berbagai macam metode kontrasepsi diantaranya : kondom,pil,IUD, dan kontrasepsi mantap dengan keuntungan dan kerugian serta efek samping masing masing yang dapat berpengaruh terhadap produksi air susu ibu menyusui menggunakan kontrasepsi tersebut. Padahal ada metode amenorea laktasi ( MAL ) yang alamiah dan dapat dipergunakan ibu selama menyusui selama 6 bulan pasca persalinan yang tidak mempengaruhi produksi asi. Keberhasilan metode amenorea laktasi ini juga didasari oleh keberhasilan ibu dalam menyusui secara eksklusif. Untuk itulah ibu menyusui harus diperlukan seorang ibu yang memiliki pengetahuan yang baik tentang dasar dari pengetahuan menyusui secara eksklusif sehingga tercapai keefektifan MAL yang tinggi dan optimal. Penelitian yang paling cermat tentang MAL sebagai metode kontrasepsi telah dilakukan dalam tiga uji klinik. Yang pertama yang dilakukan oleh Perez seperti yang telah disebutkan diatas,Yang kedua yang dilakukan oleh Kazi dkk,1995 diPakistan dan yang ketiga dilakukan oleh Ramos di Philipina 1996. Mereka melaporkan bahwa rasio kehamilan tiap 100 wanita dalam jangka waktu 6 bulan penggunaan metode tersebut secara tepat adalah 0,58 diPakistan dan 0,97 diPhilipina( Nindya,Stepani 2001 ). Sejumlah study yang diLakukan diNegara Negara berkembang telah menguji Mal secara prospektif. Diantara wanita yang tetap amenorea selama 1 tahun ( Tanpa memandang apakah ia menyusui bayinya secara penuh atau tidak sama sekali ) Angka kehamilan adalah 1,12 %. Kemungkinan besar pada masyarakat yang biasa menyusui jangka panjang merupakan hal yang biasa. Aturan aturan MAL dapat diperluas melebihi 6 bulan pasca partum karena aktifitas ovarium mengalami penekanan jauh lebih lama ( Glasier,Anna 2006 ) Makin lama ibu menyusui bayinya,makin cenderung bahwa haid akan terjadi kembali selama masa menyusui tersebut, dan mekin cenderung timbul ovulasi yang mendahului haid pertama post partum tapi, makin sering bayi mengisap asi,makin lama kembalinya tertundanya haid ibu.Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa laktasi dapat memberikan perlindungan yang bermakna terhadap kahamilannya. Antara lain bahwa hanya 5 % dari ibu ibu yang menyusui menjadi hamil lagi dalam waktu 9 bulan setelah melahirkan dibandingkan dengan 75 % ibu ibu yang tidak menyusui ( Hartanto,Hanafi 2004 ). Berdasarkan uraian diatas maka penelitian tertarik untuk melakukan penelitian yang dituangkan dalam Karya Tulis Ilmiah dengan judul Gambaran Pengetahuan Ibu Primipara Tentang Kontrasepsi Metode Amenorea Laktasi ( MAL ) diDusun VII dan Dusun VIII Desa X - B Kecamatan ....... Kabupaten ....... Tahun 2011. 1.2.Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakng diatas maka dapat dirumuskan masalah penelitian ini adalah bagaimana Gambaran Pengetahuan Ibu Primipara tentang Kontrasepsi Metode Amenorea Laktasi ( MAL ) diDusun VII dan Dusun VIII Desa X- B Kecamatan Kabupaten Tahun 2011. 1.3.Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan umum Untuk mengetahui bagaimana Gambaran Pengetahuan Ibu Primipara Tentang Kontrasepsi Metode Amenorea Laktasi ( MAL ) di Dusun VII dan dusun VIII Desa X- B Kecamatan Kabupaten tahun 2011. 1.3.2 Tujuan Khusus 1. Untuk mengetahui distribusi gambaran pengetahuan ibu primipara tentang kontrasepsi Metode Amenorea Laktasi ( MAL ) di berdasarkan umur di Dusun VII dan Dusun VIII

2. Untuk mengetahui distribusi gambaran pengetahuan ibu primipara tentang kontrasepsi Metode Amenorea Laktasi ( MAL ) berdasarkan pendidikan di Dusun VII dan Dusun VIII Desa X -B Kecamatan Kabupaten Tahun 2011. 3. Untuk mengetahui distribusi gambaran pengetahuan ibu primipara tentang kontrasepsi Metode Amenorea Laktasi ( MAL ) berdasarkan pekerjaan di Dusun VII dan Dusun VIII Desa X- B Kecamatan Kabupaten Tahun 2011. 1.4.Ruang Lingkup Berdasarkan uaraian diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang dituangkan dalam karya Tulis Ilmiah dengan judul Gambaran Pengetahuan Ibu Primipara Tentang Kontrasepsi metode Amenorea Laktasi ( MAL ) di Dusun VII dan Dusun VIII Desa X- B Kecamatan Kabupaten Tahun 2011. 1.5. Manfaat Penelitian 1.5.1.Bagi Desa Sebagai sumber informasi bagi kepala desa X B Kecamatan Kabupaten Tentang Kontrasepsi Metode Amenorea Laktasi ( MAL ). 1.5.2.Bagi Responden Sebagai bahan masukan dalam meningkatkan kesehatan bagi ibu primipara mengenai Kontrasepsi Metode Amenorea Laktasi ( MAL ). 1.5.3.Bagi Institusi Pendidikan Penelitian ini dapat dijadikan sebagai tambahan bacaan diperpustakaan Akademi Kebidanan Kabupaten 1.5.4.Bagi Peneliti Sebagai bahan masukan bagi peneliti mengenai kontrasepsi Metode Amenorea Laktasi ( MAL ) dalam meningkatkan kesehatan bagi ibu primipara

Gambaran Teknik Menyusui Minggu pertama Pada Ibu Primipara di BPS KTI KEBIDANAN
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kehadiran bayi yang baru saja lahir merupakan saat paling membahagiakan buat pasangan suami istri, tentu banyak hal harus disiapkan, dan salah satu terpenting adalah memberinya Air Susu Ibu (ASI)/menyusui. Menurut pernyataan bersama World Heald Organization (WHO)/United Nations International Children Emergency Fund (UNICEF) menyusui adalah suatu cara yang tidak ada duanya dalam memberikan makanan ideal bagi pertumbuhan dan perkembangan bayi yang sehat serta mempunyai pengaruh biologis dan kejiwaan unik terhadap kesehatan ibu dan bayi (Perinasea, 1994). Memberikan ASI pada bayi harus didukung pula dengan teknik menyusui yang benar agar manfaat dari ASI tersebut juga lebih maksimal. Pengalaman Roesli sebagai dokter spesialis anak menunjukkan, dari 100 orang ibu yang tidak bisa menyusui, hanya dua memiliki kesalahan hormonal atau fisik, sedangkan yang lain karena kesalahan manajemen laktasi. Perlu diingat jika bayi kekurangan ASI umumnya bukan karena ibu tidak dapat memproduksi ASI cukup untuk si bayi, namun karena bayi tidak dapat mengambil ASI sebanyak yang ia perlukan. Hal ini pada umumnya disebabkan posisi menyusui kurang tepat. Posisi menyusui disini adalah posisi mulut bayi dengan puting susu ibu (Gunawan, 1999). Ibu - ibu terlihat dapat menyusukan/menetekkan, tetapi cara bagaimana menyusukan dengan teknik sebaik-baiknya sehingga banyak susu keluar dari buah dada dan tidak meyebabkan puting susu lecet, atau menyebabkan bayi menelan hawa terlalu banyak sehingga muntah, belum banyak diketahui oleh ibu muda atau calon ibu. Tidak jarang bayi di beri susu buatan karena disangka ibunya kurang mengeluarkan susu, namun sebenarnya kurangnya pengeluaran air susu ibu disebabkan kesalahan teknik menyusui (Oswari, 1999).

Keluhan dan kesulitan saat menyusui sering muncul, apalagi jika ibu adalah pengalaman pertama. Mulai dari ASI tidak keluar dengan lancar, puting payudara luka, hingga si kecil rewel karena belum bisa menyusu dengan benar. Kesulitan menyusui biasanya terjadi ketika ibu baru melahirkan anak pertama. Selain ini merupakan pengalaman baru, biasanya ibu juga masih canggung dalam menggendong si kecil, atau bahkan mudah panik jika dia menangis keras karena sesuatu hal. Sebaliknya bayi baru lahir harus belajar cara menyusui yang benar (Supriyadi, 2002). Minggu pertama setelah persalinan seorang ibu lebih peka dalam emosi, maka seorang ibu butuh seseorang yang dapat membimbingnya dalam merawat bayi termasuk dalam menyusui (Soetjiningsih, 1997). Minggu pertama juga merupakan masa adaptasi ibu, dimana dalam teory rubbin dibagi menjadi beberapa tahap yaitu taking in, taking on/hold, letting go. Terutama pada periode taking on/hold ibu berusaha keras untuk menguasai tentang keterampilan merawat bayi misal: menggendong, menyusui, memandikan dan memasang popok (Depkes RI, 1999). Kurangnya asupan ASI pada minggu pertama akan berdampak ikterik pada bayi. Kebanyakan ikterik adalah keadaan fisiologis yang merupakan tindakan penyesuaian protektif terhadap lingkungan di luar uterus. Ikterik fisiologis biasanya terjadi pada 2 3 hari setelah kelahiran, biasanya hilang dalam 7 10 hari, meskipun kadar bilirubin tetap meningkat untuk beberapa minggu.

Biasanya mencapai puncak 3 5 hari setelah kelahiran yaitu < 15 mg/dl. Kondisi ini berhubungan dengan masukan kolostrum yang tidak memadai atau terlambat. Karena kolostrum/ASI memiliki efek laksatif, merangsang keluarnya mekonium dan menurunkan kadar bilirubin (Biordan, 2002). Berdasarkan uraian di atas bahwa sering timbul masalah dalam menyusui terutama pada ibu primipara khususnya tentang teknik menyusui dikarenakan belum ada pengalaman, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang teknik menyusui minggu pertama pada ibu primipara. Didukung pula oleh hasil pra survei yang dilakukan penulis di BPS CH. Sudilah ternyata cukup banyak ibu post partum primipara dibandingkan dengan BPS. M. dapat dilihat pada tabel I.

Tabel 1. Pra survei

Jumlah ibu post partum No Bulan BPS A 1. 2. 3. 4. Januari Februari Maret April JUMLAH 24 21 28 17 90 BPS B 10 8 12 7 37

Jumlah ibu post partum primipara BPS A 10 (41,7%) 11 (52,4%) 18 (64,3% 9 (52,9%) 48 BPS B 6 (60%) 3 (37,5%) 7 (48,3% 4 (57,1%) 20

Sumber : data partus BPS CH. Sudilah Survei pendahuluan yang dilakukan peneliti pada bulan Januari April di BPS. CH. Sudilah ada 90 ibu post partum, 37 merupakan primipara dan 53 multipara, cukup banyak ibu primipara jika dibandingkan dengan BPS. M dari 48 ibu post partum 20 merupakan primipara dan 28 merupakan multipara. Tanggal 08 Maret 09 April 2006 penulis melakukan observasi partisipatif dalam hal teknik menyusui pada ibu primipara yaitu dari 17 ibu post partum primipara hanya 6 yang dapat melakukan teknik menyusui secara benar (38,1%) dan 11 lainnya masih salah dalam melakukan teknik menyusui (61,9%). Kesalahan itu banyak terletak pada posisi menyusui dan langkah-langkah menyusui.

B. Rumusan Masalah. Berdasarkan latar belakang, penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut, Bagaimana gambaran teknik menyusui minggu pertama pada ibu primipara di BPS CH. Sudilah Ganjar Agung Kecamatan Metro Barat Tahun 2006?.

C. Ruang Lingkup Penelitian. Dalam melakukan penelitian, sesuai dengan rumusan masalah yang ada maka ruang lingkup dalam penelitian ini adalah :

1. Jenis Penelitian 2. Subjek Penelitian 3. Objek Penelitian

: Deskriptif : Ibu primipara : Gambaran teknik menyusui minggu pertama.

4. Tempat Penelitian : BPS. CH. Sudilah Ganjar Agung Kec. Metro Barat 5. Waktu Penelitian : 08 Mei 2006 20 Mei 2006

D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum Mengetahui gambaran teknik menyusui minggu pertama pada ibu primipara. 2. Tujuan Khusus a. Diperolehnya gambaran keterampilan ibu primipara dalam hal posisi menyusui. b. Diperoleh gambaran keterampilan ibu primipara dalam hal langkah-langkah menyusui. c. Diperoleh gambaran keterampilan ibu primipara tentang lama dan frekuensi menyusui. E. Manfaat Penelitian. Hasil penelitian ini diaharapkan dapat memberikan manfaat bagi : 1. Bagi Tenaga Bidan Diharapkan dapat bermanfaat sebagai sumbangan pikiran dan sebagai bahan masukan bagi bidan sehingga klien mendapat pelayanan khususnya dalam breas care yang berkualitas. 2. Bagi Peneliti Selanjutnya Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan bahan perbandingan dan pertimbangan untuk melakukan penelitian yang berhubungan dengan teknik menyusui.