Anda di halaman 1dari 3

TUGAS SISTEM PERAWATAN Kelas C

OLEH: MUHAMMAD ANJANG TIFANI 0911030104

JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2012

PREVENTIVE MAINTENANCE Industri Indonesia telah mengalami kemajuan yang sangat pesat. Persaingan antar perusahaan semakin sengit. Untuk bertahan dan bersaing dengan perusahaan lain maka perusahaan harus memiliki produk yang berkualitas baik. Produk yang memiliki kualitas baik dapat dihasilkan dari proses produksi yang lancar. Kelancaran proses produksi sangat dipengaruhi oleh mesin dan peralatan yang dipakai. Ketika mesin macet dan rusak mendadak maka proses produksi akan terganggu dan menyebabkan penurunan kualitas produk. Tindakan pencagahan yang dapat dilakukan oleh perusahaan agar mesin siap digunakan dan tidak macet ditengah proses produksi adalah melakukan perawatan yang terjadwal (preventive maintenance). Hal ini bertujuan agar mesin siap pakai ketika diperlukan. Kebijakan perusahaan mengenai perencanaan perawatan yang terjadwal berbeda-beda hal ini disebabkan oleh perbedaan konsep dan cara perawatan fasilitas dan mesin di tiap perusahaan. Misalnya pada PT Gunung Madu Plantation dan PT Suradi Sejahtera Raya, kedua perusahaan bererak pada bidang yang tidak sama maka konsep perawatan fasilitas yang dilakukan berbeda namun memiliki tujuan yang sama yaitu meningkatkan uptime dan menurunkan downtime. Data-data yang diperlukan dalam merencanakan preventive maintenance adalah data downtime setiap mesin dalan beberapa periode, frekuensi kerusakan komponen mesin, dan kalender produksi. Data downtime digunakan untuk mengetahui data time to failure dan time to repair didapatkan dari selang waktu antara kerusakan pertama dengan kerusakan selanjutnya pada komponen mesin yang ada. Tindakan yang dapat dilakukan dalam preventive maintenance adalah penggantian pencegahan kerusakan dan pemeriksaan. Penentuan interval waktu penggantian pencagahan kerusakan dilakukan berdasarkan umur komponen dan penentuan umur komponen yang optimal diperoleh dari criteria minimasi downtime. Perawatan berdasarkan umur komponen memerlukan metode perhitungan sebagai berikut :

a. Block Replacement Jika pada selang waktu siklus produksi tidak terdapat kerusakan maka tindakan penggantian dilakukan pada suatu interval pada 1 siklus produksi yang tetap. Jika sistem rusak sebelum jangka waktu 1 siklus produksi maka dilakukan penggantian dan penggantian selanjutnya dilakukan pada interval 1 siklus produksi. b. Age Replacement Tindakan penggantian dilakukan pada saat pengoperasian sudah mencapai umur yang ditetapkan, jika pada selang waktu siklus produksi tidak terdapat kerusakan, maka dilakukan penggantian sebagai tindakan korektif. Nilai tengah distribusi kerusakan adalah sebagai berikut :

M(tp) =

( ) ( )

Total downtime per siklus (D(tp)) sebagai berikut :

D(tp) =

( ( ) (

( ( )

)) ( ( ))

Langkah selanjutnya adalah penentuan interval waktu pemeriksaan sehingga melalui hal ini nantinya akan diperoleh frekuensi waktu pemeriksaan yang optimum.