Anda di halaman 1dari 13

Sinar Matahari, Sumber Energi tak Terbatas

Pikiran Rakyat, Kamis, 22 September 2005 ADA kenyataan yang sulit dibantah, setengah dari 220 juta jiwa penduduk negeri ini belum menikmati penerangan listrik. Banyak alasan yang menjadikan demikian. Mulai dari ketidakmampuan pemerintah menyediakan jaringan listrik, hingga harga yang sulit terjangkau oleh warga. Sistem penerangan paling murah yang mungkin dimiliki masyarakat daerah terpencil adalah lampu cempor atau patromaks dengan bahan bakar minyak tanah. Mengingat besarnya investasi yang harus dikeluarkan untuk membangun jaringan sistem kabel, PLN kini mulai menempuh cara baru, yakni mengembangkan PLTS (pembangkit listrik tenaga surya). PLTS lebih diperuntukkan bagi warga desa yang belum tersentuh jaringan listrik. Pertimbangannya, meski dari sisi biaya investasi masih relatif tinggi, namun jika dibandingkan dengan membangun jaringan kabel, pengembangan PLTS lebih memungkinkan. Segala kebutuhan Di luar negeri, pemanfaatan energi surya melalui sistem photovoltaic sudah berlangsung lama dan banyak digunakan untuk berbagai keperluan. Di Indonesia, pengembangannya sudah dilakukan pada tahun 1980-an. Penerapan pertama pemanfaatan energi surya oleh Lembaga Elektronika Nasional (LEN) yang juga diresmikan oleh Presiden Soeharto di lakukan di Kec. Sukatani, Kab. Purwakarta pada 1989. Hanya, dalam perjalanannya, kebijakan pemanfaatan energi surya seperti setengah hati. Alasannya klise, skala kegiatan yang kurang ekonomis, sementara biaya investasi yang dibutuhkan sangat besar. Ke depan, dengan kondisi topograpi wilayah yang dimiliki Indonesia, untuk menjangkau masyarakat di daerah terpencil, pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) tampkanya akan menjadi sebuah tuntutan yang tak bisa ditawar. Selain sumber energinya (matahari) begitu melimpah sehingga pemanfaatannya tak terbatas, PLTS relatif lebih mudah dipasang dan dipelihara, ramah lingkungan, tahan lama, dan tak menimbulkan radiasi elektromagnetik yang berbahaya bagi kesehatan. Selain itu, PLTS bisa digunakan untuk segala kebutuhan, seperti penerangan rumah tangga, pompa air, atau telekomunikasi. Bukan itu saja. Berdasarkan hasil perhitungan Dr. Mulyo Widodo, dosen Teknik Mesin ITB yang juga penemu sistem penerangan listrik tenaga surya Solare, total biaya yang dikeluarkan pengguna PLTS relatif lebih murah daripada menggunakan energi listrik PLN dan lampu minyak tanah. Dengan menghitung biaya investasi awal, nilai depresiasi terhadap umur instalasi tiap tahun, dan biaya operasional per hari, rata-rata biaya per bulan yang harus dikeluarkan pengguna PLTS Solare SP-4 dengan 4 titik penerangan hanya mencapai Rp 7.000,00. Sedangkan rata-rata biaya yang harus dikeluarkan pengguna PLN 450 Watt Rp 32,083,33 per bulan dan lampu minyak tanah dengan empat titik penerangan Rp 14,133,33 per bulan.

Memang, dibandingkan dengan kualitas penerangan yang dihasilkan lampu TL, penerangan lampu LED masih kalah terang. Namun, jika dibandingkan dengan lampu cempor, lampu LED jelas lebih baik. Lagi pula tidak seimbang membandingkan kualitas penerangan lampu LED dari PLTS dengan yang dihasilkan listrik PLN. Janganlah mengukur itu semua dengan kacamata orang kota. Lihatlah manfaatnya bagi penduduk yang puluhan tahun tak pernah menikmati penerangan listrik, kata Mulyo. Cukup sederhana Cara kerja PLTS cukup sederhana. Pancaran sinar matahari ditangkap oleh sebuah panel dan diubah menjadi energi listrik. Energi itu disimpan dalam sebuah baterai (aki) yang bisa digunakan sebagai sumber penerangan pada malam hari atau saat tak ada sinar matahari. Kemampuan energi yang dapat dibangkitkan oleh sebuah panel surya sangat bergantung kepada kondisi radiasi sinar matahari. Sistem PLTS adalah sistem arus searah (DC) sehingga peralatan yang digunakan harus disesuaikan dengan arus searah tegangan nominal 12/24 volt. Besar kecilnya energi yang dihasilkan dari radiasi sinar matahari akan sangat ditentukan oleh seberapa kuat pancaran sinar, lebar dan kualitas bahan panel surya penerima sinar. Ada beberapa jenis panel surya, dari yang kualitasnya paling baik dan harganya mahal hingga yang biasa-biasa saja dan murah. Yang paling baik itu monokristal, harganya mahal dan biasa digunakan oleh lembaga strategis. Yang banyak di pasaran adalah polikristal, jelas Gusrilizon, salah seorang ahli sistem tenaga surya PT LEN Industri. Berdasarkan hasil perhitungan Mulyo Widodo, dalam kondisi peak atau posisi matahari tegak lurus, sinar matahari yang jatuh di permukaan panel surya di Indonesia seluas 1 meter persegi setara dengan daya 1.000 watt atau 900 watt. Dengan bahan panel surya yang monokristal dan poli-kristal, sistem photovoltaic bisa mengkonversi daya sebesar 900-1000 watt itu menjadi energi listrik sebesar 17 %. Jadi, dalam kondisi pancaran sinar yang peak (cerah dan posisi matahari tegak lurus dengan permukaan panel penerima), satu panel surya seluas 1 meter persegi akan menghasilkan daya sebesar 170 watt. Dengan rumus tersebut, akan mudah menentukan berapa luas bahan panel surya dibutuhkan untuk menghasilkan daya listrik sesuai kebutuhan. Atau sebaliknya, dari rumus itu juga bisa menentukan berapa besarnya daya listrik yang dihasilkan dari sebuah bahan panel surya dengan ukuran tertentu. Faktor inilah yang menjadikan sistem tenaga surya masih relatif mahal karena struktur biaya PLTS masih didominasi oleh harga panel surya. Makin besar dan luas panel surya, energi yang dihasilkan memang makin besar, namun harga yang harus dibayar juga makin mahal. Dalam aplikasinya, PLTS bisa dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Mulai dari sistem penerangan rumah tangga (solar home system), lampu penerangan jalan (solar street lamp), wartel satelit tenaga surya (solar satellite public phone), pembangkit listrik tenaga hibrida (hybrid solar diesel), hingga system pompa air tenaga surya (solar pumping system). Di samping itu, bisa juga digunakan untuk para nelayan, penerangan di bagan apung atau

tancap, puskesmas terpencil, penerangan pos keamanan, camping dan kegiatan outdoor, hingga sistem pengisian baterai radio komunikasi di lapangan. Saat ini, selain PT LEN Industri yang merupakan lembaga milik pemerintah, perusahaan swasta yang bergerak dalam pengembangan PLTS adalah Solare Indonesia. Dua perusahaan tersebut menghasilkan produk dengan segmen pasar berbeda. Produk buatan LEN umumnya berukuran relatif besar, minimal 50 WP untuk skala rumah. Telah terpasang lebih dari 250 kWP yang terdiri dari hampir 50.000 unit PLTS yang tersebar di berbagai pelosok tanah air. Khususnya di daerah-daerah terpincil di Kawasan Timur Indonesia (KTI). Berbeda dengan LEN yang masih ditujukan untuk skala besar, PT Solare Indonesia mengembangkan sistem penerangan PLTS berskala kecil dengan target rumah-rumah penduduk dengan ukuran lebih kecil dan harga relatif terjangkau. Pada sistem Solare terdapat dua komponen yang dibuang yakni inventer dan sistem kontrol baterai atau battery control unit (BCU) sehingga harganya relatif lebih murah. Selain itu, jenis lampu yang digunakan bukanlah lampu TL, tetapi LED (light emitting diode) yang lebih awet. PT LEN sendiri masih menggunakan konfigurasi PLTS konvensional dengan jenis lampu TL. Sistem Solare sangat sederhana dan mudah digunakan. Ini adalah teknologi tepat guna yang dirancang sangat simpel dan aplikatif untuk masyarakat pedesaan atau siapa pun yang menggunakannya, jelas Anton S. Tirto, Direktur Citra Surya Utama, distributor Solare. Produk Solare sudah digunakan di berbagai tempat seperti Kampung Cigumentong (Sumedang) dan daerah translok Kertajati (Majalengka) bersama dengan produk LEN. Selain itu, digunakan pula di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) dan Nias, serta sejumlah tempat lain di tanah air. Terlepas dari adanya dua perbedaan antara dua produk, tetap saja keduanya memberi andil sangat besar dalam membantu memutus keterisolasian penduduk negeri ini yang belum terjamah. Keduanya memang berbeda karena filosofi yang menjadi dasar bagi kedua perusahaan itu juga berbeda. Justru, dari perbedaan spesifikasi itu pula, bisa dicapai nilai ekonomis dan efisiensi penggunaan PLTS. Untuk sistem penerangan rumah-rumah penduduk yang jarak antarrumah berjauhan, sistem Solare lebih cocok. Apalagi jika dikaitkan dengan faktor harga. Sedangkan untuk daerahdaerah dengan rumah penduduk terkonsentrasi dan jarak antarrumah tak berjauhan, pembangkit listrik tenaga hibrida (PLTH) atau hybrid solar diesel (HSD) buatan LEN lebih cocok. HSD adalah salah satu alternatif sistem PLTS, yakni dengan mengombinasikan antara energi matahari dengan diesel/generator sel (genset) sehingga menghasilkan energi listrik yang lebih efektif dan efisien. Pada sistem ini, satu sistem PLTH bisa menghasilkan energi listrik yang dibagi-bagi ke rumah-rumah penduduk. Saat ini, sudah ada 14 lokasi di Indonesia yang menggunakan hybrid solar diesel, yakni 8 unit di Sulawesi Tengah dan 6 unit di Sulawesi Tenggara. Di Indramayu juga ada, tapi tak terurus, kata Gusrilizon.

Harus diakui, peibangunan PLTS masih butuh investasi besar. Maklum saja, beberapa komponen mulai dari panel surya, aki, hingga lampu LED masih harus didatangkan dari luar negeri. Padahal, seperti diakui Gusrilizon dan Mulyo Widodo, para pakar Indonesia sudah mampu membikin sendiri. Apalagi sejumlah bahan baku, seperti silica untuk pembuatan panel surya, juga tersedia melimpah di tanah air. Untuk skala laboratorium kita (LEN) sudah mampu bikin sendiri panel surya. Yang jadi persoalan adalah belum bisa mencapai skala efisiensi karena kita tak punya pabrik untuk menghasilkan secara missal, kata Gusrilizon. (Muhtar IT/PR)*** (Digunting-tempel dari Kolom Cakrawala, Pikiran Rakyat )
Tulisan ini dikirim pada pada Kamis, November 1st, 2007 6:57 pm dan di isikan dibawah Kliping Sel Surya. Anda dapat meneruskan melihat respon dari tulisan ini melalui RSS 2.0 feed. Anda dapat merespon, or trackback dari website anda.

PEMANFAATAN PLTS SEBAGAI ENERGI ALTERNATIF POTENSIAL DI INDONESIA


Rabu, 03 Juni 2009 11:31

BPPT merupakan lembaga pemerintah yang ditugaskan untuk melakukan pengkajian dan penerapan teknologi, yang difokuskan ke bidang-bidang yang menjadi hajat hidup orang banyak. Sudah sejak lama pengembangan teknologi energi, khususnya energi-energi alternatif mendapat perhatian besar dari BPPT. Hal tersebut diungkapkan Kepala BPPT Marzan Aziz Iskandar, dalam suatu wawancara dengan majalah Energy and Mining, Jakarta (2/6). Besarnya potensi sumberdaya energi di Indonesia, membuat BPPT menaruh perhatian besar dalam pengkajian dan penerapan teknologi energi. Hal itu bertujuan untuk menjamin pemenuhan energi secara nasional, tidak dengan mengandalkan import, tetapi dengan mengoptimalkan potensi sumber daya energi yang ada di Indonesia. Secara rutin BPPT terus memperbaharui data dan melakukan berbagai analisis, yang menghasilkan prediksiprediksi baru mengenai bagaimana kebutuhan, dan permasalahan energi yang ada di Indonesia. Prediksi itulah yang kemudian disampaikan kepada instansi terkait, dan juga pihak industri, kita susun standar, dan bersama lembaga terkait disusun regulasinya, ungkap Kepala BPPT. BPPT selama ini banyak berperan menjadi pionir dalam hal menerapkan aplikasi teknologi di Indonesia. Sejak awal tahun 1980-an sudah dimulai kegiatan mengkaji kemungkinan pemanfaatan bioethanol, dan biodiesel, sebagai salah satu energi alternatif untuk digunakan di Indonesia. Ketika itu tidak ada lembaga lain yang memerhatikannya, mungkin karena harga minyak ketika itu masih sangat murah. Bisa dilihat, bagaimana semakin hari penggunaan energi bahan bakar minyak semakin besar yang membuat harga minyak pun semakin membumbung tinggi. Penerapan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) pun sudah sejak tahun 80-an dikenalkan oleh BPPT. Ketika itu dilakukan pengkajian untuk membuktikan apakah penerapan PLTS ini bisa dilakukan di Indonesia. Berdasarkan dari kondisi geografis, yang membuat negeri kita mendapat sinar matahari yang berlimpah sepanjang tahunnya, PLTS diharapkan menjadi salah satu energi alternatif yang sangat potensial bagi Indonesia. Penerapan PLTS

Penerapan PLTS oleh BPPT dimulai dengan pemasangan 80 unit PLTS (Solar Home System), Sistem Pembangkit Listrik Tenaga Surya untuk Lampu Penerangan Rumah di Desa Sukatani, Jawa Barat pada tahun 1987. Setelah itu pada tahun 1991

dilanjutkan dengan proyek Bantuan Presiden (Banpres PLTS masuk Desa) untuk pemasangan 3.445 unit SHS di 15 propinsi yang dinilai layak dari segi kebutuhan (tidak terjangkau oleh PLN), kemampuan masyarakat setempat (pembayaran dengan cara mencicil) dan persyaratan teknis lainnya. Program Banpres PLTS Masuk Desa yang telah memperoleh sambutan sangat menggembirakan dari masyarakat pedesaan dan telah terbukti dapat berjalan dengan baik akan dijadikan model guna implementasi Program Listrik Tenaga Surya untuk Sejuta Rumah. Program ini juga merupakan salah upaya untuk mencapai target Pemerintah dalam melistriki seluruh pedesaan dan daerah terpencil di Indonesia dengan ratio elektrifikasi nasional di atas 75%. Menurut kajian para perekayasa dan peneliti BPPT, potensi energi matahari bisa mencapai 4,8 kwh/m2, dan hal itu merupakan sebuah potensi yang luar biasa bagi Indonesia untuk memanfaatkan tenaga surya. Berbagai upaya juga dilakukan BPPT seperti menyampaikan konsep-konsep yang kemudian diadopsi dalam Peraturan Presiden No 5 Tahun 2006 mengenai Kebijakan Energi Nasional. Dalam peraturan itu ditetapkan bahwa pada tahun 2025 nanti kita harus memanfaatkan energi surya sebanyak 2% dari total penggunaan energi secara nasional. Pembangunan sistem PLTS untuk membantu masyarakat miskin yang ada di pedesaan terpencil yang tidak terjangkau listrik mempunyai kendala utama yaitu biaya investasi yang tinggi. Sampai saat ini kita masih melakukan impor panel surya, untuk itulah dibutuhkan tumbuh kembangnya industri PLTS. Tentunya dibutuhkan adanya suatu jaminan bahwa apabila kita membangun industri PLTS, market atau pasar juga harus ada, terang Kepala BPPT. Pemanfaatan Energi di Indonesia

Sampai saat ini banyak dibangun berbagai pembangkit listrik, kita bisa menghasilkan berbagai energi alternatif. Tapi kita gunakan dengan boros, jadinya ya percuma, ungkap Marzan. Boros tidaknya penggunaan energi pun bisa diukur melalui jasa audit teknologi yang biasa dilakukan BPPT, hal yang dilakukan adalah memeriksa penggunaan pendingin udara, penerangan, dan lainnya dalam suatu gedung atau penyewa jasa audit energi. Setelah itu dilaporkan kepada penyewa jasa mengenai adanya pemborosan energi, yang melahirkan sebuah rekomendasi untuk dilakukan berbagai perbaikan dan pembenahan sehingga penggunaan energi bisa lebih efisien. Perlu diingat pula bahwa yang dimaksud dengan efisiensi energi adalah, suatu keadaan dimana dengan jumlah energi yang cukup, kita bisa melakukan pekerjaan dengan nyaman, tanpa hambatan, dan hasilnya tetap optimal. Kepala BPPT memandang masih banyak tantangan kedepannya, tetapi dia akan terus berusaha untuk mengejar target untuk membantu bangsa ini dalam masalah efisiensi energi, melakukan analisis, dan penyediaan energi alternatif. (suryapratama)

Pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Nasional Lokakarya: TEKNOLOGI ENERGI TERBARUKAN: Ditinjau Dari Perspektif Gender Di Indonesia Yogyakarta, 25 - 26 Januari 2005 Yani Witjaksana Teknologi Surya (Solar Technology)

Matahari (Surya) adalah sumber energi yang dijumpai dalam sistem galaxi, yang menghasilkan energi sepanjang usia Matahari. Energi Surya adalah salah satu jenis dari Energi Terbarukan (Renewable Energy). Teknologi masa kini memanfaatkan Energi Surya dari 2 sifatnya: - Dari intensitas panas-nya (Solar Thermal) - Dari intensitas (iradiasi) cahaya-nya yang mengandung element yang disebut photon. ( Solar Photo-Voltaic / Solar PV) Sistem Solar PV menghasilkan listrik aliran satu arah ( Direct Current / DC) dengan tegangan 12 V. Aliran dapat dirubah menjadi dua arah (Alternate Current / AC) dengan tegangan 220-230 V.

SOLAR PHOTOVOLTAIC (SOLAR PV)


Tenaga Listrik PV dihasilkan melalui komponen yang disebut Solar Cell (Sel Surya) yang dibuat dari bahan baku silicon. Besarnya (kapasitas) tenaga listrik yang dihasilkan oleh Solar Cell tergantung dari luas cell yang digunakan untuk menampung cahaya matahari, diukur dalam irradiasi optimal per m2 Solar Cell pembangkit listrik surya disusun secara sistematis dalam ukuran-ukuran tertentu, yang disebut Panel Surya ( Solar Panel / Module). Penerapan Teknologi PV yang pertama (sampai sekarang) adalah untuk menyuplai tenaga listrik untuk satelit yang mengorbit di angkasa luar. Sejak 70-an Teknologi PV diterapkan untuk membangkitkan tenaga listrik untuk keperluan rumah tangga dan industri.

Aplikasi Sistem Solar Pv Untuk Perumahan (Shs) Aplikasi Solar PV untuk perumahan disebut SOLAR HOME SYSTEM (SHS), terdiri dari:

Aplikasi Mandiri ( Stand Alone Application), dipasang pada setiap rumah/mesjid/gereja/gedung dan menghasilkan listrik untuk dipakai sendiri.

Aplikasi Terkoneksi Jaringan (Grid Connected Application) dipasang dalam ukuran yang relatatif besar dalam format sentral Listrik yang dihasilkan disalurkan ke jaringan listrik yang telah ada. Konsumen memperoleh listrik dari jaringan.

Contoh Aplikasi Mandiri

PLTS DI INDONESIA (sampai 1997)


Pengenalan Teknologi Surya melalui program militer 1970s. Proyek PLTS pertama dimulai oleh BPPT, Desa Sukatani, Sukabumi 1988. Proyek Sukatani dinyatakan sukses, dilanjutkan dengan program serupa (sasaran 1 juta rumah di desa) melalui dana Banpres, Ausaid, USAID, Novem, Bavarian State Matching Fund, PKT, PPLT dsb, 1989 - 1996; PLTS diperoleh dari bantuan international atau dibeli dengan APBN/APBD, dan pelaksanaan oleh perusahaan swasta dan LSM; Umumnya PLTS diberikan kepada masyarakat secara 100 % hibah, distribusi/instalasi oleh swasta atau LSM (jumlah terbatas); Sasaran Proyek 1 Juta Rumah jauh dari tercapai dan proyek tidak dilanjutkan a.l. akibat krisis moneter 1998-200.

PLTS DI INDONESIA (2000 sekarang ) Kalangan pemerhati PLTS menilai Proyek tidak berhasil antara lain karena:

Sangat rentan terhadap ketersediaan dana dari Pemerintah atau Donor; Distribusinya cenderung tidak adil/merata karena keterbatasan dana;

Pelaksanaan distribusi tidak disertai dengan pelayanan purna instalasi, tidak ada jaminan keberlanjutan sistim; Tidak mendidik masyarakat untuk mandiri (tidak menimbulkan rasa memiliki); Tidak mendorong/menghambat proses komersialisasi PLTS yang mampu menjadikan PLTS sebagai komoditas, sebagaimana listrik konvensional (PLN); Pelaksanaan proyek menjadi ajang KKN ditingkat Pusat maupun Daerah; Dari kaca mata bisnis PLTS, sistem distribusi melalui proyek tidak melahirkan bisnis yang berkesinambungan (sustainable), karena tergantung dari ada tidaknya dana untuk proyek.

PROGRAM SOLAR HOME SYSTEM GEF/ THE WORLD BANK


Program BPPT &GEF/World Bank (97 Feb01 & Maret01Des3). Tujuan: mendorong komersialisasi PLTS. Disediakan commercial loan sebesar US$ 20 juta disertai grant GEF US$ 24 juta dengan target 200,000 unit SHS, kapasitas rata-rata 50Wp per unit; Satuan grant sebesar US$2 per Wp, disalurkan melalui dealer PLTS yang diseleksi ketat oleh World Bank Project Support Group SHS; Loan dibatalkan GOI (krisis ekonomi), program dilanjutkan dengan subsidi GEF US$ 2 per Wp; Program diterapkan di 4 Propinsi ( Lampung, Jawa Barat, Banten dan Sulawesi Selatan); Dealer PLTS yang terlibat ada 5.

GEF/WORLD BANK PROGRAM (2001-2003) Pelaksanaan Program tidak berhasil karena berbagai alasan:

Keterbatasan para Dealer dalam menyediakan modal dan manajemen yang memadai untuk membangun jaringan distribusi dan membiayai penjualan secara kredit pada masyarakat pedesaan, menyebabkab: Jumlah penjualan tidak mampu membiayai terbentuknya service center di banyak desa; Sistim yang terpasang tidak mendapat servis penjualan yang memadai. Pendapatan petani turun karena cuaca (musim kering atau banjir), sehingga tidak mampu membayar cicilan tepat waktu; Tidak ada lembaga keuangan yang berminat dalam pembiayaan PLTS di pedesaan; Proyek PLTS pemerintah(APBN/APBD) dan jaringan PLN masuk ke daerah penjualan dealer pada hal kredit belum lunas.

Situasi saat ini:

Beberapa perusahaan masih aktif dalam distribusi PLTS di pedesaan.

Aktivitas utama bisnis PLTS (retail) berada di Propinsi Lampung, Jawa Barat, Sumatra Selatan, Jambi, Bengkulu,Sulawesi Selatan, dan didaerah lain seperti Bangka Belitung, Bali, NTB, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Utara, Sumatra Utara, Riau, aktivitas bisnis ritel baru dalam tahap permulaan. Proyek pengadaan PLTS untuk hibah 100% masih tetap diadakan di hampir seluruh Daerah (Tk I/II), dengan dana APBN/APBD. Praktek ini potensial menjadi penghambat bagi perkembangan bisnis PLTS yang berkelanjutan. Tidak ada lagi program bantuan GEF/WB ( diakhiri pada tanggal 30 September 2003), sehingga harga PLTS terpaksa harus dinaikkan sesuai dengan harga international. BRI akan memulai pilot project (uji coba 2004-2006) pembiayaan PLTS melalui skim KUPEDES, dengan sistem jaminan dari SOLAR DEVELOPMENT FOUNDATION (SDF).

Hambatan Distribusi PLTS


Biaya/harga pengadaan (investasi) PLTS tinggi; Target sasaran: rakyat yang belum dilayani PLN, mereka yang berpendapatan sangat rendah, tinggal di daerah terpencil, kondisi infrastruktur minim; Biaya distribusi dan pelayanan tinggi; Harapan Konsumen melebihi kemampuan teknologi PLTS, karena cara pandang konsumen sangat dipengaruhi oleh sifat listrik konvensional (PLN); Banyak pihak, termasuk lembaga keuangan melihat Listrik sebagai produk konsumtif dan menganggapnya sebagai infrastruktur dan bukan komoditas; Pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang peranan PLTS dalam memberikan energi listrik alternatif ramah lingkungan terbatas; Beberapa Instansi Pemerintah melaksanakan proyek PLTS tahunan dengan pendekatan proyek (bukan program), caranya beragam yang seringkali bertabrakan dengan bisnis perusahaan swasta yang menjual secara kredit; Kebijakan Nasional yang jelas dan komprehensif pemanfaatan PLTS (bandingkan dengan negara-negara yang telah berhasil memanfaatkannya :Srilanka, Kenya dll) belum ada;

Kondisi Listrik Nasional Saat Ini Suplai Listrik : Kekurangan di hampir seluruh daerah Pemanfaatan Energi Terbarukan : Sangat terbatas Kualitas Listrik : Tegangan kurang stabil/sering gangguan Ketersediaan Dana Pembangunan : Terbatas, Investasi Listrik di Pedesaan : ROI Negatif (bukan prioritas bagi perusahaan yang kondisi keuangan bermasalahan seperti PLN) Jumlah RT Tanpa Listrik : 17-20 juta ( 40% atau lebih)

Kemudahan Memperoleh : Sulit di daerah marginal, biayanya sering tidak transparan dan relatif tinggi. Harga Pemakaian : Cenderung meningkat seiring dengan dihapuskannya subsidi BBM/listrik. Pengalaman Beberapa Negara Srilanka, Bangladesh, Kenya

Pemerintah nya menetapkan target jangka panjang, menengah dan tahunan pengurangan Rumah Tangga tanpa listrik yang dapat dilayani PLTS; Ditunjuk instansi yang menjadi koordinator Pendekatan program dan kebijakan subsidi ditentukan; Subsidi Pemerintah di tetapkan (subsidi terarah, yang mendapatkan memang yang berhak); Subsidi Global (yang selalu tersedia) dicari.

Kebijakan yang Diusulkan


Hentikan praktek/pendekatan proyek dalam pendistribusian PLTS, melalui hibah 100% (gratis); Susun kebijakan Nasional dengan sasaran yang jelas, dan komprehensif pemanfaatan PLTS sebagai komponen Penyediaan Energi Listrik Nasional. Tunjuk Instansi pemerintah sebagai koordinator program PLTS; Tunjuk lembaga resmi yang independen, bersih KKN untuk memonitor pelaksanaan program PLTS Nasional dan memberi masukan pada Pemerintah; Salurkan dana (APBN/APBD/Pengurangan subsidi BBM) untuk memberikan kemudahan (subsidi terarah) bagi masyarakat kurang mampu guna memperoleh PLTS; Akses dana Internasional yang tersedia dalam rangka advokasi energi hijau untuk menambah besarnya subsidi harga PLTS; Perlu diadakan standardisasi kwalitas PLTS Nasional; Dorong, bila perlu beri insentif, lembaga keuangan, terutama perbankan, untuk menyediakan pembiayaan dengan biaya wajar kepada masyarakat yang ingin memiliki PLTS; Tingkatkan pengetahuan dan kesadaran dikalangan Birokrasi dan Legislatif tentang peran strategis teknologi PLTS.

PLTS dilihat dari Perspektif Gender Target Konsumen PLTS: Masyarakat didaerah yang belum Dilayani Listrik PLN. Umumnya rumah terpencil, pendapatan rendah, kondisi infrastruktur minim, penerangan dengan Lampu minyak tanah. PLTS dapat ..

Meningkatkan Kualitas hidup masyarakat: Memberikan penerangan (lampu), dg kualitas lebih baik, sehingga jam belajar dan beraktifitas lebih panjang; Membukakan akses pada informasi (radio, TV, internet); Memberikan akses pada sumber air minum dan pertanian (surya untuk pompa air); Menciptakan bisnis baru didesa (jadi distributor/service center yang mampu dilakukan oleh Koperasi Wanita/Nelayan/Tani/Desa), LSM; Menciptakan Lapangan Kerja di desa (penjualan dan service center memerlukan banyak tenaga lokal); Menciptakan Tenaga Teknisi di desa.