Anda di halaman 1dari 16

Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA IKIP PGRI Bali 2012 Page 1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sejak zaman Euclid ( 300 SM) sampai abad 17 M, geometri dipelajari dari
perspektif syntesis, sebagai suatu ilmu. Selama abad 17 sejumlah ide baru dalam
matematika dikembangkan dan diterapkan dalam mempelajari geometri, dengan efek
yang bersifat revolusi. Misalnya dengan menerapkan notasi-notasi dan konsep aljabar
ke feometri. Fermat ( 1601 16650 dan Rene Descartes (1596 1650) menciptakan
geometri analitik. Diferensial geometri dikembangkan sebagai suatu konsep dan
menggunakan notasi dari kalkulus yang dikembangkan oleh Newton dan Leibniz
diaplikasikan pada gwomwtri. Alam abad 18 dan 19 , sejumolah geometri non Euclid
dikebangkan, mengakibatkan beberapa orang menjadi ragu apakah geometri akan
terpisah sesuai dengan teori-teori yang bersaing satu dengan yang lain. Di tahun 1782,
seorang ahli matematika berusia 23 tahun, Felix Klein ( 1849 1925) mengusulkan
suatu prinsip pemersatu untuk mengklasifikasikan berbagai geometri dan menjelaskan
hubungan-hubungan diantara mereka. Inti dari gagasan atau konsep Klein itu adalah
Geometri Transformasi.
Geometri transformasi adalah pemetaan satu- satu, dengan menggunakan hinpunan
titik-titik sebagai input dan returning points sebagai output. Untuk sederhananya,
hinpunan-himpunan input dinamakan obyek dan outputnya yang bersesuaian
dinamakan image. Tergantung dari konteks, transformasi-transformasi dapat dipandang
sebagai diterapkan pada obyek-obyek geomeri yang umum dikenal, misalnya garis,
polygon, atau polihedra ataupun pada ruang dimana obyek-obyek itu ada.
Ada empat pemetaan yang dibahas dalam Geometri Transformasi yaitu Translasi
(pergeseran), Rotasi (Perputaran), Refleksi (Pencerminan) dan Dilatasi (Perkalian).
Dalam bab ini akan dibahas secara spesifik tentang Refleksi atau pencerminan.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan pemaparan di atas maka rumusan masalah yang akan dibahas pada
makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Apa definisi serta sifat-sifat pencerminan (refleksi) ?
Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA IKIP PGRI Bali 2012 Page 2

2. Bagaimana pencerminan terhadap sumbu x dan sumbu y ?
3. Bagaimana pencerminan terhadap suatu garis?
4. Bagaimana pencerminan terhadap suatu titik asal?

1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui definisi serta sifat-sifat pencerminan (refleksi).
2. Untuk mengetahui pencerminan terhadap sumbu x dan sumbu y.
3. Untuk mengetahui pencerminan terhadap suatu garis.
4. Untuk mengetahui pencerminan terhadap suatu titik asal.























Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA IKIP PGRI Bali 2012 Page 3

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi dan Sifat-sifat Pencerminan
A. Definisi Pencerminan
Pencerminan dalam arti geometri dapat disebut juga dengan refleksi. Refleksi
adalah menggambarkan pencerminan cermin suatu bangun. Pencerminan itu dapat
diperoleh sebagai berikut :
1. Tentukan terlebih dahulu sumbu cerminnya atau sumbu simetri
2. Tarik garis tegak lurus pada sumbu cermin dari tiap-tiap sudut bangun (titik)
yang hendak dibuat pencerminannya.
3. Jarak antara titik sudut bangunan dengan titik sudut pencerminannya harus
sama terhadap sumbu simetri.
Contoh : Buatlah pencerminan dari bangun berikut ini:
Caranya:
m



Gambar 2.1
m= sumbu cermin
Garis putus-putus merupakan pencerminan dari bangun yang dimaksud.
Pencerminan suatu bangun dalam bidang kartesius.




Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA IKIP PGRI Bali 2012 Page 4










Bangun adalah pencerminan bangun jika dicerminkan terhadap
sumbu y. Bangun merupakan pencerminan yang dicerminkan
terhadap sumbu x. Pencerminan terhadap sumbu x disimbolkan dengan X. Bangun
ABCD dicerminkan terhadap sumbu x ditulis X (ABCD).

Pencerminan terhadap sumbu y disimbolkan dengan Y. Jadi Y (ABCD) merupakan
pencerminan bangun ABCD terhadap sumbu y.

Pada pencerminan diperlukan sebuah garis sebagai sumbu pencerminan.
Pencerminan terhadap suatu sumbu merupakan transformasi berlawanan.

B. Sifat-sifat Pencerminan
Dalam transformasi geometri khususnya pencerminan terdapat beberapa sifat-sifat
yang selalu ditemukan. Adapun sifat tersebut adalah sebagai berikut :
1. Jarak suatu titik terhadap cermin sama dengan jarak antara pencerminan
dengan cermin.
2. Garis yang menghubungkan titik dengan pencerminannya selalu tegak lurus
dengan cermin.
3. Setiap garis dan pencerminannya selalu sama panjang.
4. Setiap bangun dan pencerminannya selalu kongruen.



y
x
B C
A D
D A D
C B C
Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA IKIP PGRI Bali 2012 Page 5

2.2 Pencerminan Terhadap Sumbu-x dan Sumbu y
Pencerminan terhadap sumbu-x berarti suatu pecerminan yang menggunakan
sumbu- x dalam diagram kartesius sebagai cermin. Pencerminan titik A(a,b) terhadap
sumbu-x menghasilkan pencerminan titik B(

) dengan

dan

. Oleh
karena itu pencerminan terhadap sumbu- x dapat dirumuskan sebagai berikut :






Gambar 2.2


Berdasarkan pemaparan di atas maka dapat dirumuskan matriks transformasi untuk
pencerminan terhadap sumbu-x adalah


, sehingga


Pencerminan terhadap sumbu-y berarti suatu pecerminan yang menggunakan
sumbu- y dalam diagram kartesius sebagai cermin. Pencerminan titik A(a,b) terhadap
sumbu-y menghasilkan pencerminan titik C(

) dengan

dan

. Oleh
karena itu pencerminan terhadap sumbu- y dapat dirumuskan sebagai berikut :




B(a,-b)
b
o
-b
A(a,b)
x
y
Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA IKIP PGRI Bali 2012 Page 6







Gambar 2.3


erdasarkan pemaparan di atas maka dapat dirumuskan matriks transformasi untuk
pencerminan terhadap sumbu-y adalah


, sehingga



2.3 Pencerminan Terhadap Suatu Garis
A. Pencerminan Terhadap Garis atau Sumbu
1. Pencerminan titik
Titik P merupakan pencerminan dari titik P
Dikatakan titik P dicerminkan terhadap gari xy (sumbu xy)
Ditulis
Disingkat terhadap xy
2. Pencerminan garis
Garis merupakan pencerminan dari garis .
Dikatakan PQ dicerminkan terhadap garis xy.
Ditulis


-a O a
C(-a,b) b
A(a,b)
x
y
y
x
p
p
x
Q
P
P
y
Q
Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA IKIP PGRI Bali 2012 Page 7

B. Pencerminan Terhadap Garis y=x
Pencerminan titik A(a,b) terhadap garis y=x menghasilkan bayangan Dab
dengn ab dan ba








Gambar 2.4


Berdasarkan pemaparan di atas maka dapat dirumuskan matriks transformasi untuk
pencerminan terhadap sumbu-y adalah


, sehingga


C. Pencerminan Terhadap Garis y= -x
Pencerminan titik A(a,b) terhadap garis y=-x menghasilkan bayangan Eab
dengn a-b dan b-a.









a
b
o
A(a,b)
D(b,a)
x
y
a
b
o
-
a
A(a,b
)
E(-b,-a)
x
y
y =-
x
Gambar 2.5

Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA IKIP PGRI Bali 2012 Page 8


Berdasarkan pemaparan di atas maka dapat dirumuskan matriks transformasi untuk
pencerminan terhadap sumbu-y adalah


, sehingga


D. Pencerminan Terhadap Garis x=h
Pencerminan titik A(a,b) terhadap garis x=h menghasilkan bayangan Gab
dengn a 2h-a dan bb.











Gambar 2.6


Jika ditulis dengan matriks transformasi sebagai berikut:


E. Pencerminan Terhadap Garis y=k
Pencerminan titik A(a,b) terhadap garis y=k menghasilkan bayangan
Hab dengn a a dan b2k-b.

x=h
G(2h-a,b)
a 2h-a
b
o
A(a,b)
x
y
Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA IKIP PGRI Bali 2012 Page 9









Gambar 2.7


Jika ditulis dengan matriks transformasi sebagai berikut:



F. Pencerminan Dua Kali
Apabila suatu bangun dicerminkan terhadap sumbu AB kemudian dicerminkan lagi
terhadap sumbu CD, dapat dikatakan bangun tersebut docerminkan dua kali atau
dua pencerminan. Jika pencerminan terhadap AB = M
1
dan pencerminan terhadap
CD = M
2
, maka dua pencerminan itu disimbolkan dengan: M
2
o M
1
. Dibaca : M
1

diteruskan dengan M
2
. Dua pencerminan dapat dilakukan dengan :
a. Dua sumbu sejajar
b. Dua sumbu yang saling tegak lurus
c. Dua sumbu berpotongan.
G. Pencerminan dengan Dua Sumbu Sejajar
Contoh pencerminan dengan dua sumbu sejajar ditampilkan pada gambar berikut.




y=k
H(a, 2k-b)
a

2k-b

b
o
A(a,b)
x
y
Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA IKIP PGRI Bali 2012 Page 10









Gambar 2.3
AB sejajar CD di mana CD berada pada x = 3. F merupakan hasil pencerminan
dari F sumbu AB. Sedangkan adalah hasil pencerminan terhadap sumbu CD.
Titik ( - 1,2) menjadi titik (1,2) oleh pencerminan terhadap AB sehingga ditulis
. Titik (1,2) menjadi titik (5,2) akibat pencerminan terhadap
CD yang dapat ditulis
Dengan cara pemetaan dapat ditulis sebagai berikut :

atau


Jadi pencerminan berturut-turut terhadap sumbu-sumbu dan
Jarak antara AB dan CD = 3 serta arahnya merupakan arah AC (ke kanan).
Apabila pencerminan terhadap AB disebut sebut M
1
dan pencerminan CD disebut
dengan M
2
, maka hasil M
1
o M
2
= (5,2). Simbol M
1
o M
2
berarti M
1
diteruskan
dengan M
2
.

H. Pencerminan dengan Sumbu Saling Tegak Lurus







B D
-1 0 1 2 3 4 5
(-1,2) (1,2) (5,2)
y C
F A F F
S
n
m
A (4,-
1)
1 2 3 4
A(2,3)
A
(4,3)
2

1

-
1
y
x
Gambar 2.4
Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA IKIP PGRI Bali 2012 Page 11

Sumbu m tegak lurus pada sumbu n pada x = 3 dan n tegak lurus garis m pada y = 1.
Bangun O berada pada posisi titik A (2,3). Jika bangun tersebut dicerminkan terhadap
sumbu m diperoleh

. Jika

dicerminkan terhadap sumbu n


diperoleh n

.







Gambar 2.5
Pada gambar 2.5 tampak bahwa pencerminan dua kali berturut-turut pada sumbu yang
saling tegak lurus sama dengan setengah putaran pada pusat S.
Apabila pencerminan terhadap sumbu m = M
1
, pencerminan terhadap sumbu n = M
2
,
dan pemutaran setengah putaran terhadap S disebut H, maka


Pencerminan pada dua sumbu yang saling tegak lurus berlaku hukum komutatif
sebagai berikut :


Bila dipergunakan kordinat , maka pencerminan terhadap sumbu x disebut X dan
pencerminan terhadap sumbu y disebut Y. Sedangkan perputaran terhadap putaran O
disebut dengan H.


(-3,2)
(3,-2)
y
x
Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA IKIP PGRI Bali 2012 Page 12

2.4 Pencerminan Terhadap Titik Asal
Pencerminan titik A(a,b) terhadap ttik asal menghasilkan bayangan F(a,b)
dengan a=-a dan b=-b.


Berdasarkan pemaparan di atas maka dapat dirumuskan matriks transformasi untuk
pencerminan terhadap sumbu-y adalah


, sehingga


SOAL.
1. Tentukan koordinat bayangannya, jika titik-titik berikut dicerminkan terhadap
sumbu X.
a. A (4,3)
b. B (10,-2)
2. Tentukan koordinat bayangannya, jika titik-titik berikut dicerminkan terhadap garis
Y=X.
a. A (5,2)
b. B (-7,-2)
3. Tentukan koordinat bayangannya, jika titik-titik berikut dicerminkan terhadap garis
Y=-X.
a
b
o
-a
A(a,b)
F (-b,-a)
x
y
Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA IKIP PGRI Bali 2012 Page 13

a. A (10,-3)
b. B (-5,2)
4. Tentukan koordinat bayangannya, jika titik-titik berikut dicerminkan terhadap garis
X=2.
a. A (-3,4)
b. B (5,-1)
5. Tentukan koordinat bayangannya, jika titik-titik berikut dicerminkan terhadap garis
Y=3.
a. A (3,-4)
b. B (-5,1)
6. Tentukan koordinat bayangannya, jika titik-titik berikut dicerminkan terhadap titik
asal O (0,0).
a. A (-1,-6)
b. B (2, -10)
7. Transformasi T memetakan titik P (x,y) ke titik P (xy) melalui hubungan:
x=2x-y
y=3x+2y
a. Tentukan matriks tansformasi yang bersesuaian dengan persamaan itu.
b. Dengan menggunakan matriks tranformasi yang di peroleh pada soal a),
tentukan koordinat bayangan dari titik P (3,6).
8. Transformasi yang bersesuian dengan matriks
(


3 2
1 1
memetakan titik P (x,y) ke
titik P (1,7). Tentukan nilai x dan y.
9. Transformasi yang bersesuaian dengan matriks
(

d c
b a
memetakan titik P (3,2) ke
titik P(3,7) dan titik Q (1,1) ke titik Q (1,4). Tentukan nilai dari a, b, c, dan d.
10. Tentukan koordinat bayangan dari titik P (1,-3) bila dilakukan refleksi terhadap
sumbu X lalu di refleksi lagi terhadap garis X=-2.




Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA IKIP PGRI Bali 2012 Page 14

BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Refleksi adalah menggambarkan pencerminan cermin suatu bangun yang memiliki
sifat yaitu jarak suatu titik terhadap cermin sama dengan jarak antara pencerminan
dengan cermin, garis yang menghubungkan titik dengan pencerminannya selalu tegak
lurus dengan cermin, setiap garis dan pencerminannya selalu sama panjang, dan setiap
bangun dan pencerminannya selalu kongruen.
Beberapa jenis pencerminan yaitu pencerminan terhadap suatu titik asal,
pencerminan terhadap sumbu-x, pencerminan terhadap sumbu y, pencerminan terhadap
garis y=x, pencerminan terhadap garis y=-x, dan pencerminan terhadap garis x = h dan
y = k. Berikut merupakan beberapa matriks yang digunakan pada beberapa
pencerminan.
a. Untuk Refleksi A (x, y) terhadap sumbu X menghasilkan (

) dengan matriks
berikut:


b. Jika sumbu y sebagai cermin maka dihasilkan (

) dengan matriks berikut :



c. Jika garis y = k sebagai cermin maka dihasilkan (

) dengan matriks :



d. Jika garis y = x sebagai cermin maka dihasilkan (

) dengan matriks berikut :


Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA IKIP PGRI Bali 2012 Page 15

e. Jika garis y = -x sebagai cermin maka dihasilkan (

) dengan matriks
berikut :


f. Jika garis x = a sebagai cermin dihasilkan (

) dengan matriks berikut :


g. Jika titik asal ( ) 0 , 0 O sebagai cermin dihasilkan ( ) ' , ' ' y x A dengan matriks berikut:



3.2 Saran
Dalam pokok bahasan geometri khususnya pencerminan atau refleksi
membutuhkan pemahaman siswa terlebih dahulu mengenai penggunaan diagram
kartesius. Pada pokok bahasan pencerminan diagram kartesius merupakan media utama
untuk menjelaskan sifat-sifat suatu pencerminan. Oleh sebab itu diharapkan
pembelajaran awal mengenai tata letak koordinat pada diagram kartesius serta teknik
pembelajaran yang tepat agar penyampaian materi pencerminan lebih mudah diterima
oleh siswa. Adapun makalah ini diharapkan mampu menjadi masukan untuk
pembuatan makalah serupa yang lebih baik.









Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA IKIP PGRI Bali 2012 Page 16

DAFTAR PUSTAKA

Tamrin. 2003. Rahasia Penerapan Rumus rumus Matematika SMU. Gitamedia Press:
Surabaya.
Negoro, S.T & B.Harahap. 1998. Ensiklopedia Matematika. Ghalia Indonesia.
Yohanes, S. 2008. Mahir Matematika SMP. Kendi Mas Media: Jakarta.
Wirodikromo,Sartono.2006.Matematika untuk SMA Kelas XII Program Ilmu
Alam.Erlangga:Jakarta.