Anda di halaman 1dari 37

Bab 2 Tinjauan Pustaka 2.1.

Konsep Dasar Sistem Produktivitas Pada tahun 1883, Litter mendefinisikan produktivitas sebagai kemampuan untuk berproduksi. Kemudian pada awal abad ke 19 dikenal definisi yang lebih spesifik, yang menyatakan bahwa produktivitas merupakan hubungan antara keluaran dan sumber yang digunakan untuk menghasilkan keluaran tersebut. Apabila ukuran keberhasilan produksi hanya dipandang dari satu sisi, maka produktivitas dipandang dari dua sisi sekaligus, yaitu: sisi input dan sisi output. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa produktivitas berkaitan dengan efisiensi penggunaan input dalam memproduksi output (barang dan atau jasa). Mauli (1978) menyatakan bahwa, produktivitas tidak sama dengan produksi tetapi produksi, performansi kualitas, hasil-hasil, merupakan komponen dari usaha produktivitas. Dengan demikian, produktivitas merupakan kombinasi efektivitas dan efisiensi, sehinggga produktivitas dapat diukur berdasarkan pengukuran berikut: Produktivitas = Output yang dihasilkan Efektivitas = ..........(2.1) Input yang dihasilkan Effisiensi

Berdasarkan definisi produktivitas di atas, sisitem produktivitas dalam industri dapat digambarkan dalam Gambar 2.1.
LINGKUNGAN

INPUT
1. 2. 3. 4. 5. 6. 6. Tenaga Kerja Modal Material Energi Tanah Informasi Manajerial

PROSES

OUTPUT

PRODUKTIVIT AS

PROSES TRANSFORMASI NILAI TAMBAH

PRODUK (Barang dan atau jasa)

PRO DUKTIVITAS SISTEM PRO DUKSI (OUTPUT/INPUT)

Um pan Balik untuk Pengendalian Sistem Produksi Agar Meningkatkan Produktivitas Secara Terus-Menerus

Gambar 2.1 Skema sistem produktivitas

Beberapa ahli memberikan definisinya, tentang produktivitas seperti dikemukakan sebagai berikut: 1. Paul Mauli (1978) mendefinisikan produktivitas adalah pengakuan seberapa baik sumber daya digunakan bersama di dalam organisasi untuk menghasilkan untuk menyelesaikan suatu kumpulan hasil-hasil. 2. Marvin E. Mundel (1978), mendefinisikan produktivitas adalah rasio dari keluaran yang dihasilkan dan digunakan di luar organisasi dan sumber-sumber daya yang digunakan dibagi dengan rasio yang sama dari suatu periode dasar. 3. Peter F. Ducker (1981), mendefinisikan produktivitas adalah keseimbangan antara seluruh faktor-faktor produksi yang

akan memberikan keluaran yang penggunaan sumber yang lebih irit. 4.

lebih banyak melalui

David J. Sumanth (1985), mendefinisikan produktivitas perbandingan antara output tangible dan input

total adalah tangible.

5. Menurut OECD (Organization for Economic Cooperation


and Development) bahwa Productivity is equal to output divided by one of its production element. Menurut OECD pada dasarnya, produktivitas adalah keluaran dibagi dengan elemen produksi yang dimanfaatkan.

6. Menurut

ILO

(International

Labour

Organization),

menyatakan bahwa Production are produced as a result of the integration of four mayor elements land, capital, labour and organization. The ratio of these elements to production is a measure of the productivity. Menurut ILO pada prinsipnya, produksi terjadi karena adanya keterkaitan empat elemen utama yaitu tanah, modal, buruh dan organisasi. Perbandingan dari elemen produksi tersebut merupakan ukuran dari produktivitas.

7. Menurut EPA (European Productivity Agency), menyatakan


behwa Productivity is the degree of the effective utilization of each productivity element . Menurut EPA, pada prinsipnya produktivitas adalah tingkat efektifitas pemanfaatan setiap elemen produktivitas.

8. Menurut tulisan Vinay Goel yang termuat dalam bukunya


yang berjudul Towards Higher productivity , menyatakan

bahwa Productivity is the relationship between the output produced and the input consumed at any given point of time. Menurut Vinay Goel tersebut bahwa, produktivitas adalah hubungan antara keluaran dan masukan yang digunakan pada waktu tertentu.

9. Menurut Formulasi dari National Productivity Board,


Singapore. Pada prinsipnya, produktivitas adalah sikap mental (attitude of mind) yang memiliki semangat untuk bekerja keras dan ingin memiliki kebiasaan untuk melakukan peningkatan perbaikan. Perwujudan sikap mental tersebut dalam berbagai kegiatan dapat digambarkan sebagai berikut: Yang berkaitan dengan diri sendiri dapat dilakukan melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan, disiplin, upaya pribadi dan kerukunan kerja. o baik. o o o Penghematan biaya Tepat waktu Sistem dan teknologi yang lebih baik. Yang berkaitan dalam pekerjaan kita dapat Manajemen dan metode kerja yang lebih dilakukan melalui

Sehingga dapat mencapai barang dan jasa yang bermutu tinggi, market share yang lebih besar dan standar kehidupan yang lebih baik. 10. Menurut Dewan Produktivitas Nasional (1986)

Produktivitas didefinisikan dari berbagai segi. Secara filosofi atau psikologis, produktivitas merupakan sikap mental yang selalu mempunyai pandangan bahwa mutu kehidupan hari ini harus lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini. a. Secara Ekonomis Produktivitas merupakan usaha memperoleh hasil sebesar besarnya dengan pengorbanan sekecil kecilnya. b. Secara Teknis diformulasikan sebagai rasio keluaran Produktivitas

terhadap masukan. Secara umum konsep produktivitas. Menggambarkan kaitan antara hasil atau keluaran dengan sumber atau masukan yang dipakai. Keluaran dapat berupa produk, jasa dan produk atau jasa sampingan yang dihasilkan dan dijual untuk perusahaan. Sedangkan masukanmasukan itu dapat berupa bahan, tenaga kerja, modal, energi, lahan, informasi, manajemen yang diperlukan untuk menghasilkan keluaran-keluaran tersebut. Oleh karena itu, untuk meningkatkan produktivitas berarti sama dengan memeprbesar rasio antara keluaran dengan masukan, dimana hal ini dapat dilihat dalam tiga bentuk: 1. 2. Jumlah produksi meningkat dengan menggunakan sumber daya yang sama. Jumlah produksi yang sama atau meningkat dicapai dengan menggunakan sumber daya yang kurang.

10

3.

Jumlah produksi yang jauh lebih besar diperoleh dengan pertambahan sumber daya yang kurang.

2.2. Siklus Produktivity Sumanth (1985), memperkenalkan suatu konsep formal yang disebut dengan siklus produktivitas (productivity cycle) yang dipergunakan dalam peningkatan produktivitas secara terus menerus. Pada dasarnya konsep siklus produktivitas terdiri dari empat tahap utama, yaitu: 1. 2. 3. 4. Pengukuran Produktivitas ( Productivity Measurement) Evaluasi Produktivitas ( Productivity Evaluation) Perencanaan Produktivitas ( Productivity Planning) Peningkatan Produktivitas ( Productivity Improvement)

Konsep siklus produktivitas ini ditunjukkan dalam gambar sebagai berikut


P e n g u k u ra n P ro d u k tiv ita s

P e n in g k a ta n P ro d u k tiv ita s

E v a lu a s i P ro d u k tiv ita s

P e re n c a n a a n P ro d u k tiv ita s

Gambar 2.2 Konsep siklus produktivitas

11

Dari gambar 2.2 tampak bahwa siklus produktivitas merupakan suatu proses yang kontinyu yang melibatkan aspek-aspek: pengukuran, evaluasi, perencanaan dan peningkatan produktivitas. Berdasarkan konsep siklus ini, secara formal program peningkatan produktivitas harus dimulai melalui pengukuran produktivitas dari sistem industri itu sendiri. Untuk keperluan ini berbagai teknik pengukuran dapat digunakan dan dikembangkan dari memilih indikator pengukuran yang sederhana sampai yang lebih kompleks dan komprehensif. Apabila produktivitas dari sistem industri telah dapat diukur, langkah berikutnya adalah mengevaluasi tingkat produktivitas aktual untuk dibandingkan dengan rencana yang telah ditetapkan. Kesenjangan yang terjadi antara tingkat produktivitas aktual dan rencana merupakan masalah produktivitas yang ahrus dievaluasi dan dicari akar penyebab yang menimbulkan kesenjangan produktivitas. Untuk mencari target produktivitas yang telah direncanakan itu, berbagai program formal dapat dilakukan untuk meningkatkan produktivitas secara terus menerus. Siklus produktivitas itu diulang kembali secara kontinyu untuk mencapai peningkatan produktivitas terus menerus dalam sistem industri. 2.3. Unsur-Unsur Produktivitas Meskipun setiap orang dapat mengajukan produktivitas secara langsung dengan definisi yang berbeda aspek-aspek efisiensi, tentang produktivitas, namun definisi itu harus mengaitkan

12

efektivitas dan kualitas. Dalam hal ini produktivitas harus didefinisikan sebagai rasio antara efektivitas pencapaian tujuan pada tingkat tertentu (output) dan efisiensi penggunaan sumber-sumber daya (input). Dengan demikian sebelum melakukan pengukuran produktivitas pada sistem apa pun, terlebih dahulu harus merumuskan secara jelas keluaran apa saja yang akan dipergunakan dalam proses sistem tersebut untuk menghasilkan keluaran itu. Pengertian unsur-unsur produktivitas itu sendiri adalah sebagai berikut: 1. Kualitas. Produktivitas merupakan ukuran kualitas, meskipun kualitas sulit diukur secara matematis melalui rasio keluaran-masukan, namun jelas bahwa kualitas masukan dan kualitas proses akan menentukan tingkat kualitas keluaran. 2. Efektivitas. Efektivitas merupakan suatu ukuran yang memberikan gambaran seberapa jauh target dapat tercapai baik secara kuantitas maupun waktu, hal ini berorientasi pada keluaran. Peningkatan efektivitas belum tentu dibarengi dengan peningkatan efisiensi dan sebaliknya. 3. Efisiensi. Efisiensi merupakan suatu ukuran (input) dalam yang membandingkan penggunaan masukan

direncanakan dengan penggunaan masukan yang sebenarnya. Pengertian efisiensi berorientasi pada masukan. 2.4 Ruang Lingkup produktivitas 1. Ruang Lingkup Internasional

13

Ukuran yang dipergunakan untuk mengukur produktivitas nasional adalah Gross National Product (GNP) dan Gross Domestic Product (GDP).

2.

Ruang Lingkup Nasional Dapat dipergunakan untuk meramalkan tinadakan pendapatan nasional dan untuk mengukur efisiensi aliran sumber daya di suatu negara. 3. Ruang Lingkup Industri Dapat dipakai untuk mengukur kinerja industri di suatu negara dan untuk meramalkan pertumbuhan indutri di masa yang akan datang. 4. Ruang Lingkup Perusahaan atau Organisasi Dapat digunakan untuk perencanaan sumber daya perusahaan atau organisasi, mengetahui efisiensi penggunaan sumber daya dan untuk perbandingan tingkat produktivitas antara perusahaan atau organisasi dalam kategori tertentu.

2.5. Jenis-Jenis Produktivitas Menurut Sumanth, ada tiga jenis dasar produktivitas yaitu: 1. Produktivitas Parsial adalah perbandingan antara keluaran dengan salah satu faktor masukan, misalnya: produktivitas tenaga kerja yang merupakan perbandingan keluaran dengan masukan.

14

2.

Produktivitas Dua Faktor adalah perbandingan antara

keluaran bersih dengan masukan tenaga kerja dan masukan kapital dimana keluaran bersih adalah keluaran total akurasi jumlah barang dan jasa yang dibeli. 3. Produktivitas Total adalah perbandingan antara keluaran dengan jumlah seluruh faktor masukannya. Jadi pengukuran produktivitas total mencerminkan pengaruh bersama seluruh masukan dalam menghasilkan keluaran. 2.6. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Menurut Sumanth (1985), secara garis besar ada 12 faktor yang mempengaruhi naik turunnya produktivitas, yaitu: 1. Peraturan Pemerintah Peraturan pemerintah berperan untuk mengatur keseimbangan pencapaian sasaran industri dan sasaran sosial yang sering bertentangan. 2. Manajemen dalam proses perencanaan dan penjadwalan, Manajemen merupakan faktor yang paling berpengaruh, terutama pengaturan beban kerja, kejelasan instruksi kerja dan evaluasi kerja sehingga dapat menumbuhkan motivasi kerja dan loyalitas pekerja peda perusahaan. 3. Investasi Besar kecilnya investasi akan menentukan modal usaha dan akan berpengaruh terhadap usaha untuk mempromosikan produk, market share atau penggunaan kapasitas.

15

4.

Umur Pabrik atau Peralatan

Umur pabrik atau peralatan mempengaruhi kinerja, sehingga juga berpengaruh terhadap produktivitas. 5. Pemakaian Kapasitas

Persentase pemakaian kapasitas menentukan besar kecilnya keluaran per jam. 6. Ongkos Energi Ketersediaan dan kemudahan mendapatkan energi brpengaruh secara langsung terhadap biaya produksi dan operasi pabrik. 7. Penelitian dan Pengembangan Penelitian dan pengembangan dapat meningkatkan produktivitas dengan menghasilkan inovasi-inovasi yang dapat memperbaiki keadaan produksi di pabrik. 8. Rasio Kapital-Buruh Rasio kapital-buruh yang tinggi menandakan bahwa perusahaan memakai teknologi yang tinggi, sehingga jumlah produksi per unit meningkat. 9. Komposisi Tenaga Kerja Adanya pergeseran struktur pekerja dari pekerja pabrik menjadi pekerja yang mengandalkan pengetahuan yang kurang dan diikuti oleh pelatihan yang kurang memadai. 10. Pengaruh Serikat Pekerja Serikat pekerja harus mendapatkan perhatian dari manajemen sehingga dapat memberikan pengaruh positif terhadap produktivitas.

16

11. Etika Pekerja Dengan meningkatkan perhargaan terhadap waktu, pemanfaatan waktu kerja menjadi lebih produktif. 12. Ketakutan Pekerja Akan Kehilangan Pekerjaan Program peningkatan produktivitas di perusahaan tanpa diimbangi komunikasi yang baik antara pihak manajemen dan pekerja akan menimbulkan ketakutan pekerja bahwa usahausaha peningkatan produktivitas akan mengakibatkan mereka kehilangan pekerjaan. 2.7. Penyebab Rendahnya Produktivitas Dalam bukunya yang berjudul Improving Total Produktivity, Paul Mali mengemukakan 12 sebab yang dapat mengakibatkan rendahnya produktivitas. Walaupun yang dikemukakannya belum tentu sesuai dengan kondisi yang dihadapi tetapi ada beberapa hal yang bersifat umum, yang dapat digunakan sebagai bahan pengendali. Sebab-sebab yang dapat mengakibatkan rendahnya produktivitas, antara lain: 1. Terjadinya penghamburan dalam penggunaan sumber daya ketidakmampuan untuk mengukur dan yang disebabkan semakin banyak 2. Adanya penundaan dan keterlambatan dalam pengambilan keputusan disebabkan karena ketidakjelasan wewenang dan ketidakefisienan dalam organisasi yag sangat besar.

mengendalikan produktivitas dari pekerja yang jumlahnya

17

3.

Membengkaknya biaya sehubungan dengan keinginan

untuk melakukan ekspansi yang mengakibatkan berkurangnya pertumbuhan. 4. baru 5. Motivasi yang rendah, karena meningkatnya jumlah pekerja yang mempunyai latar belakang kehidupan yang

berkecukupan dengan segala sikap baru. Terlambatnya pengiriman bahan baku karena kurangnya persediaan dan kacaunya jadwal, akibat perencanaan dan pengendalian yang buruk. 6. Timbulnya konflik dalam bekerja sama yang tidak dapat diselesaikan yang mengakibatkan organisasi bekerja secara tidak efektif. 7. Keinginan manajemen untuk meningkatkan produktivitas karena dibatasi undang-undang yang baru atau karena masih berlakunya undang-undang yang sudah usang. 8. Munculnya ketidakpuasan dan kebosanan dalam melakukan pekerjaan yang diakibatkan oleh semakin terbatasnya dan semakin terspesialisasinya bidang pekerjaan. 9. Meningkatnya tingkat inflasi yang diakibatkan oleh pemberian imbalan dan keuntungan yang tidak dapat diimbangi oleh peningkatan produktivitas, sehingga akan mengakibatkan rendahnya produktivitas kerja. 10. Menurunnya kesempatan dan penemuan-penemuan baru, akibat perkembangan teknologi yang pesat dan meningkatnya ongkos produksi.

18

11. Kacaunya disiplin terhadap waktu, karena keinginan untuk mempunyai waktu luang yang lebih banyak. 12. Ketidakmampuan untuk menyamakan percepatan dari informasi dan pengetahuan akan mengakibatkan kemampuan para pelaksana menjadi tidak terpakai. 2.8. Pentingnya Peningkatan Produktivitas Ditinjau dari segi manfaat, maka peningkatan produktivitas merupakan suatu hal yang sangat penting dikembangkan dan diwujudkan melalui program yang konkrit dan terarah serta terpadu, yang dilaksanakan secara konsisten dan berkesinambungan. Untuk itu pemahaman tentang pentingnya peningkatan produktivitas harus benar-benar diketahui oleh setiap struktur dalam organisasi. 2.8.1. Arti dan Wujud Peningkatan Produktivitas Peningkatan produktivitas mempunyai pengertian mennghasilkan barang atau jasa yang lebih baik dengan biaya per unit yang lebih rendah, dari semula dengan menggunakan masukan tertentu. Variasi 1. 2. 3. perubahan keluaran dan masukan tersebut akan mempengaruhi tingkat produktivitas, sebagai berikut: Apabila masukan turun, keluaran tetap maka produktivitas naik Apabila masukan turun, keluaran naik maka produktivitas naik Apabila masukan tetap, keluaran naik maka produktivitas naik 4. naik Apabila masukan naik, keluaran naik maka produktivitas

19

5. 6.

Apabila jumlah kenaikan lebih besar dari pada kenaikan Apabila masukan turun, keluaran turun dan jumlah

masukan, maka produktivitas naik penurunan lebih kecil dari pada turunnya keluaran maka produktivitas naik. 2.8.2. Manfaat Peningkatan Produktivitas Peningkatan produktivitas mempunyai manfaat yang sangat penting, baik pada tingkat nasional, tingkat perusahaan ataupun individu. Pada Tingkat Nasional 1. Meningkatkan kemampuan bersaing khususnya dalam perdagangan internasional sehingga kemungkinan bertambahnya pendapatan negara. Hal ini mendorong pemerintah untuk mengadakan investasi baru yang diharapkan dapat membantu memperluas kesempatan kerja. 2. Mendororng pertumbuhan ekonomi yang akan menunjang 3. Meningkatkan standar hidup dan martabat bangsa. Memperoleh eksistensi dan potensi bangsa yang terwujudnya kemakmuran sehingga dapat:

berarti akan memantapkan ketahanan nasional. Sebagai alat untuk membantu merumuskan kebijaksanaan dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan nasional.

20

Pada Tingkat Perusahaan 1. Memperkuat daya saing perusahaan karena dapat memproduksi dengan biaya yang lebih rendah dan mutu produksi yang lebih baik. 2. Menunjang kelestarian dan perkembangan perusahaan karena dengan peningkatan produktivitas perusahaan yang akan dapat memungkinkan 3. memperoleh keuntungan

dimanfaatkan untuk investasi baru Meningkatkan standar hidup dan martabat karyawan beserta keluarga.

4. Menunjang terwujudnya hubungan kerja lebih baik apabila


produktivitas perusahaan. 5. Membantu perluasan kesempatan kerja. Hal ini terjadi karena keuntungan yang diperoleh dapat dimanfaatkan untuk ekspansi perusahaan yang berarti membutuhkan tenaga kerja baru. Pada Tingkat Individu gain yang diperoleh berkat peningkatan produktivitas yang dapat dinikmati secara sepadan baik oleh

1. Meningkatkan pendapatan (income) dan jaminan sosial lainnya.


2. 3. Meningkatkan harkat, martabat dan pengakuan terhadap potensi individu. Meningkatkan motivasi kerja dan keinginan berprestasi. skematis manfaat peningkatan produktivitas dapat

Secara

digambarkan, sebagai berikut:

21

Peningkatan Produktivitas

Nasional

Perusahaan

Individu

Pertumbuhan pendapatan nasional untuk investasi

Meningkatkan kesempatan berekspansi

Sebagian pendapatan ditabung untuk investasi

Perluasan Kesempatan Kerja

Gambar 2.3 Skema manfaat peningkatan produktivitas 2.9. Pengukuran Produktivitas Pengukuran produktivitas dapat dilakukan pada berbagai skala unit kegiatan. Dimulai dari skala kecil hingga skala terbesar, yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. 6. Stasiun kerja Seksi atau unit pelaksana Tingkat perusahaan Industri Nasional Internasional

Masing-masing tingkat unit tersebut membentuk lingkup pengukuran produktivitas yang memiliki manfaat sendiri-sendiri. Pendekatan dalam membandingkan hasil pengukuran produktivitas dibedakan dengan berbagai cara, yaitu: 1. Membandingkan kinerja pada periode yang terukur dengan periode dasar. 2. Membandingkan kinerja suatu unit organisasi dengan unit organisasi lain.

22

3. Membandingkan kinerja yang sebenarnya dengan target yang telah ditetapkan. Terdapat beberapa manfaat pengukuran produktivitas dalam suatu organisasi perusahaan, antara lain: 1. Perusahaan dapat menilai efisiensi konvensi sumber dayanya, agar dapat meningkatkan produktivitas melalui efisiensi penggunaan sumber-sumber daya itu. 2. Perencanaan sumber-sumber daya akan lebih efektif dan efisien 3. melalui pengukuran produktivitas, baik dalam perencanaan jangka pendek maupun jangka penjang. Pengukuran produktivitas perusahaan akan mencapai menjadi informasi yang bermanfaat dalam membandingkan tingkat produktivitas diantara organisasi perusahaan dalam industri sejenis. 4. Pengukuran produktivitas akan mencapai tindakan-tindakan kompetitif 5. Nilai-nilai berupa upaya-upaya peningkatan produktivitas produktivitas yang dihasilkan dari suatu secara terus menerus. pengukuran dapat menjadi informasi yang berguna untuk merencanakan tingkat keuntungan perusahaan. 2.10. Kriteria Pengukuran Produktivitas Langkah penting dalam peningkatan produktivitas untuk mendesain dan melaksanakan ukuran-ukuran produktivitas yang berarti

23

diperlukan kriteria-kriteria yang membangunnya. Adapun kriteriakriteria pengukuran produktivitas, antara lain:

1. Kesahihan (Validasi) adalah ukuran yang dapat secara


tepat menggambarkan perubahan produktivitas yang sebenarnya, dimana terjadi proses pengukuran yang melibatkan unsur-unsur masukan.

2. Kelengakapan

(Completeness),

kelengkapan

menunjukkan bahwa ketelitian seluruh atau hasil yang diperoleh dan masukan atau sumber daya yang digunakan, dapat diukur dan termasuk dalam perbandingan produktivitas yang akan digunakan.

3. Dapat diperbandingkan (Comparebility), produktivitas


merupakan ukuran yang sifatnya relatif. Pentingnya pengukuran produktivitas terletak pada kemampuannya untuk dapat diperbandingkan antara periode satu dengan periode lainnya atau terhadap sasaran (standar), sehingga dapat dilihat apakah penggunaan sumber lebih efisien atau tidak dalam mencapai hasl. Kuncinya adalah membuat kepastian bahwa data harus tersedia dan dapat diperbandingkan.

4. Ketermasukan (Inclusiveness), biasanya pengukuran


produktivitas terpusat pada kegiatan pembuatan produk dan juga hanya terbatas pada beberapa unsur dalam kegiatan pembuatan tersebut. Jangkauan pengukuran kegiatan dalam proses produksi haruslah diperluas di luar pengukuran terhadap pekerja dan bahan baku yang biasanya dilakukan,

24

sehingga mencakup pula aspek kualitas, peralatan dan fasilitas. Lebih jauh lagi, pengukuran produktivitas haruslah dikembangkan pada kegiatan non pembuatan produk dalam organisasi termasuk pembelian, persediaan, pengendalian produksi, pengolahan data, personil, keuangan, pelayanan terhadap pelanggan dan penjualan.

5. Bertepatan

Waktu

(Timeless),

pengembangan

produktivitas dimaksudkan sebagai alat yang efektif bagi manajemen, sehingga dapat dikombinasikan pada setiap manager yang bertanggung jawab pada bidang dalam waktu secepat mungkin, tetapi masih dalam batas yang praktis.

6. Keefktifan Ongkos (Cost Effectiveness), pengukuran


produktivitas haruslah dilakukan dengan memperhatikan ongkos-ongkos yang berhubungan, baik langsung maupun tidak langsung. Pengukuran harus pula dilakukan sedemikian rupa sehingga tidak mengganggu usaha-usaha produktivitas yang sedang berjalan di dalam organisasi. 2.11. Model Pengukuran Produktivitas Dengan Rasio Finansial Pada Tingkat Perusahaan Para ahli telah banyak mengembangkan model pengukuran produktivitas yang dapat digunakan untuk tingkat perusahaan. Adapun model pengukuran produktivitas yang dilakukan melalui pendekatan rasio finansial dan model teknik dapat dilihat sebagai berikut:

25

2.11.1. Model David J. Sumanth Model produktivitas total dikenal oleh David J. Sumanth (1985) dengan memperhitungkan semua faktor tangible baik untuk masukan maupun keluaran pada ruang lingkup diterapkan pada perusahaan jasa. Produktivitas = Total keluaran (tangible) ...............(2.2) Total masukan (tangible) perusahaan. Model ini disamping dapat diterapkan pada perusahaan manufaktur juga dapat

Dimana Total keluran (tangible) terdiri dari: a. b. c. dimiliki d. dimiliki. e. Nilai dari pendapatan lainnya. Nilai bunga Bank dari deposito atau tabungan yang Nilai dari semua produk jadi yang dihasilkan Nilai semua produk setengah jadi Nilai deviden yang didapat dari saham yang

Total masukan (tangible) terdiri dari: a. b. c. d. e. Nilai gaji karyawan yang dibayarkan Nilai bahan yang digunakan Nilai modal yang digunakan Nilai energi yang digunakan Nilai masukan lainnya yang digunakan

26

Tangibel adalah besaran yang dapat diukur, misalnya jumlah mobil yang diproduksi Keluaran adalah jumlah semua produk yang dihasilkan. Masukan meliputi semua sumber daya yang digunakan dalam menghasilkan keluaran. Keluaran dan masukan yang digunakan dinyatakan dalam harga satuan yang sama, seperti misalnya nilai uang yang dinyatakan dalam harga konstan pada periode pengukuran dasar.

2.11.1.1. Elemen Keluaran Dalam model pengukuran produktivitas total Sumanth yang termasuk elemen keluaran, adalah: 1. Unit produk jadi, yaitu semua produk yang dihasilkan dalam proses produksi dan bukan jumlah produk terjual. 2. Unit produk setengah jadi, yaitu produk yang masih dalam tahap penyelesaian. 3. Deviden surat berharga, faktor ini meskipun biasanya diabaikan harus masuk kedalam elemen keluaran, karena dalam prosesnya menggunakan sebagian besar masukan modal. 4. Bunga pinjaman, ini juga termasuk sebagai faktor elemen keluaran dengan lasan sama dengan deviden. 5. Pendapatan lain-lain.

27

2.11.1.2. Elemen Masukan 1. Tenaga kerja, masukan tenaga kerja dibedakan menurut karakteristik, tingkat koordinasi, kekuasaan membuat kebijakan dan hubungan langsung dengan proses produksi menjadi beberapa kategori, yaitu: Manager, yaitu orang yang tugas utamanya menangani koordinasi Birokrat, kooordinasi kekuasaan menjalankan Profesional, proses yaitu dan memiliki yang kekuasaan terlibat untuk dalam membuat kebijaksanaan. orang-orang proses, tetapi hanya memiliki sedikit untuk membuat karena kebijaksanaan prosedur dalam kerjanya

kekuasaan atau bahkan tidak sama sekali tidak memiliki tugasnya yaitu

ditentukan oleh manager. orang memiliki kemampuan menciptakan gagasan atau ide ketimbang menentukan kebijaksanaan dalam kegiatannya. Buruh, yaitu pekerja langsung di pabrik yang kegiatannya telah ditentukan. 2. Modal, terdiri dari modal tetap dan modal lancar. Modal tetap meliputi tanah, banguanan pabrik, peralatan dan lain-lain. Modal lancar meliputi ongkos persediaan, uang kas dan tagihan. 3. Material, terdiri atas bahan baku dan komponen yang dibeli. Nilai total material selama periode berjalan adalah penjumlahan dari nilai total bahan baku dan nilai total part yang dibeli.

28

4. 5.

Energi

adalah

ongkos

energi

yang

timbul

dengan

menggunakan satu atau lebih sumber bahan bakar. Biaya lainnya yang meliputi biaya perjalanan, pajak, ongkos profesional, biaya pemasaran dan lain-lain. Notasi untuk produktivitas total perusahaan adalah:
TPF = Produktifitas Total Perusahaan = Output total perusahaan .......(2.3) Input total perusahaan

TPi = Produktifitas Total Produk i =

Output total produk i .(2.4) Input total produk i

PPij = Produktivitas Parsial Produk i untuk Faktor Masukan j ....(2.5) {J} = {H, M, C, E, X}...........................................(2.6) Dimana: H = masukan tenaga kerja M = masukan material dan semua komponen yang dibeli C = masukan modal baik modal tetap maupun modal lancar E = masukan energi X = masukan lain-lain i = 1, 2, 3, ..., N pengukuran Oi = keluaran produk i untuk periode yang diukur dalam nilai uang harga konstan OF = keluaran perusahaan untuk periode yang diukur dalam nilai uang harga konstan N = jumlah jenis produk yang dihasilkan perusahaan selama

29

Ii = Masukan total untuk periode yang diukur dalam nilai uang harga konstan Iij = Masukan faktor j untuk periode yang diukur dalam nilai uang harga konstan IF = Masukan total perusahaan untuk periode yang diukur dalam nilai uang harga konstan IF =

I
i

ij

I
i j

ij

...........................................(2.6)

Jika O mewakili perode dasar da t mewakili periode yang diukur, maka: TPFi = OFi = IFi OFo = IFo

O I
i i i

it

it

O I
it i i j i

............................................(2.7)
ijt

TPPo =

O I
i

io

io

O I
io i j

..........................................(2.8)
ijo

Indeks produktivitas total perusahaan pada periode t (TPI) t didefinisikan sebagai: (TPI) t = TPFi ...........................................................................(2.9) TPFo

Sedangkan indeks produktivitas total untuk produk i pada periode t (TPI)it didefinisikan sebagai:

30

(TPI)it =

TPFit ...........................................................................(2.10) TPFio

2.11.2. Model Pengukuran Produktivitas POSPAC Banyak model pengukuran yang telah dikembangkan oleh para ahli di Inggris yang salah satunya adalah Mark Ganevous (1986). Model ini dapat digunakan untuk tingkat perusahaan, baik model teknik maupun model ekonomi. Salah satu model yang digunakan untuk mengukur produktivitas perusahaan serta jenis produktivitas yang diukur adalah produktivitas parsial yang masing-masing akan menggambarkan produktivitas berbagai kegiatan di lingkungan perusahaan. Model POSPAC ini terdiri dari 6 ukuran produktivitas parsial, yaitu:

1.P : Production Productivity 2.O : Organization Productivity 3.S : Sales Productivity 4.P : Product Productivity 5.A : Arbeiter Productivity 6.C : Capital Productivity
Berdasarkan ukuran-ukuran tersebut, maka perhitungan rasio produktivitas POSPAC dapat dilakuakn dengan metode pengukuran produktivitas POSPAC yang meliputi: Analisis Produktivitas Produksi

31

Analisis Produktivitas Organisasi Analisis Produktivitas Penjualan Analisis Produktivitas Produk Analisis Produktivitas Tenaga Kerja Analisis Produktivitas Modal

Adapun rumus produktivitas parsial POSPAC adalah, sebagai berikut: a) produksi TP. Produksi = b) organisasi TP.Organisasi = c) penjualan TP.Penjualan = d) produk TP.Produk = e) tenaga kerja Laba kotor ............(2.14) Biaya langsung Pengukuran tingkat produktivitas Laba kotor ...........(2.13) Biaya penjualan Pengukuran tingkat produktivitas Pertambahan nilai .........(2.12) Biaya adm dan umum Pengukuran tingkat produktivitas Hasil penjualan ..........(2.11) HPP Pengukuran tingkat produktivitas Pengukuran tingkat produktivitas

32

TP.Tenaga kerja = f) modal TP. Modal =

Laba kotor ....................(2.15) Biaya T. Kerja Pengukuran tingkat produktivitas

Hasil penjualan .............(2.16) Total modal

Untuk memberikan gambaran lebih lanjut disajikan pada Tabel 2.1 yang menunjukkan tindakan-tindakan perbaikan yang akhirnya dapat menghasilkan peningkatan produktivitas diberbagai bidang, yaitu: Tabel 2.1 Tindakan meningkatkan produktivitas Jenis Produktivitas Produktivitas Produksi Tindakan Untuk Meningkatkan Produktivitas Perencanaan Produksi Pengendalian biaya dan kualitas Penanggualangan gangguan Penjadwalan pemeliharaan Strategi perusahaan Pengembangan organisasi perusahaan Rasionalisasi Peningkatan manajemen Organisasi fungsi pemasaran Analisis permintaan Analisis distribusi Strategi harga Tanggapan pelanggan Analisis kebutuhan Keuntungan jasa Pengembangan produk

Produktivitas Organisasi

Produktivitas Penjualan

Produktivitas Produk

33

Produktivitas Tenaga Kerja Motivasi Gaji sesuai prestasi Lingkungan kerja Perbaikan metode Pendidikan dan pelatihan Produktivitas Modal Analisis investasi Pengendalian persediaan Ekonomi perusahaan Perencanaa dan pengendalian 2.12. Pertambahan Nilai Definisi pertambahan nilai adalah: 1. 2. 3. Penjualan dikurangi pembelian barang dan jasa dari pihak ketiga Total kekayaan yang diciptakan perusahaan Gaji, upah, bonus + bunga modal + laba + pajak

Berdasarkan definisi tersebut maka nilai tambah merupakan kekayaan yang dikumpulkan oleh usaha bersama dari pekerja perusahaan dan penyedia modal. Maka yang ikut menciptakan nilai tambah harus mendapatkan bagian dari pertambahan kekayaan berupa upah, gaji pensiunan, bunga pinjaman dan pajak. Pentingnya pertambahan nilai, antara lain: 1. 2. Menunjukkan bagaiman kekayaan perusahaan diciptakan melalui proses produksi Untuk merencanakan peningkatan produktivitas melalui pengalokasian sumber daya perbaikan metode kerja, mengefisienkan masukan.

34

3.

Untuk melihat hubungan antara produktivitas tenaga kerja, aset dan profitabilitas perusahaan.

Terdapat dua cara menghitung pertambahan nilai, yaitu metode pengurangan dan metode pertambahan. I. Metode Pertambahan PN = R BPMS.......................................(2.17) Dimana : PN = pertambahan nilai R = penjualan bersih BPMS = pembelian barang dan jasa Pembelian barang dan jasa, meliputi: a. b. perbaikan c. bahan bakar d. operasional e. f. g. h. i. perusahaan II. Metode Pertambahan PN = BTK + BM + LK...........................(2.18) Biaya perlatan kantor Jasa yang dibeli di luar perusahaan Jasa transportasi Jasa iklan Jasa bantuan ahli atau pakar diluar Biaya subkontrak dan sewa peralatan Bahan baku, bahan penolong, dan Barang dan jasa yang habis digunakan. Perkakas yang habis digunakan untuk

35

Dimana: BTK = Biaya tenaga kerja BM = Baiya modal LK = Laba kotor 2.13. Penentuan Periode dasar Pengukuran produktivitas baru memiliki makna jika hasilnya dapat dibandingakn antar periode atau waktu standar, untuk mengetahui perkembangan produktivitas perusahaan diperlukan suatu periode dasar yang akan digunakan sebagai pembanding untuk mengetahui tingkat produktivitas yang telah dicapai. Periode dasar merupakan periode yang dianggap normal, pada peride ini hasil produksinya tidak jauh berbeda dari hasil produksi rata-rata. Menurut 1. 2. 3. 4. 5. David J. Sumanth, beberapa hal yang perlu

dipertimbangkan dalam menentukan periode dasar, yaitu: Dimulainya suatu program produktivitas pertama kali Status produk yang dihasilkan apakah merupakan produk baru atau lama. Frekuansi terjadinya pengenalan produk abru. Adanya kejadian luar biasa dalam perusahaan, misalnya terhentinya kegiatan produksi Pola permintaan produk (apakah pola permintaan musiman)

6. Ketersediaan sistem pengumpul atau updating data yang


memadai 7. Lamanya suatu periode pengukuran. Apakah dinyatakan dalam bulan, tahun atau semester.

36

2.14. Penggunaan Deflator Nilai uang rupuah Indonesia mengalmi perubahan-perubahan baik uang disebabkan oleh inflasi, devaluasi maupun pemotongan uang kertas kartal. Proses untuk menghilangkan akibat perubahan harga dalam nilai rupiah itu disebut pendeflasian. Agar pengukuran produktivitas lebih memperlihatkan ukuran yang mendekati keadaan yang sebenarnya, maka digunakan perhitungan deflator. Hal ini diartikan sebagai penggunaan harga konstan dari tahun tersebut. D = Dn-1 + In ..(2.19) Dimana: Dn-1 = deflator sebelum periode In = laju inflasi periode ke-n n = 1, 2, 3, , n 2.15. Harga Konstan Pengukuran produktivitas yang akan bibahas menggunakan harga kostan. Angka yang diperoleh dari data keuangan perusahaan, nilainya berdasarkan harga yang berlaku jika produktivitas diukur berdasarkan nilai, maka aspek inflasi atau perubahan harga perlu dihilangkan. Dengan kata lain, untuk membandingkan produktivitas dari satu periode ke periode lain perlu disesuaikan dengan nilai konstan. Agar sampai pada nilai konstan, nilai rupiah keluaran dan masukan sekarang dideflasikan dengan menggunakan deflator.

37

Krena pada prakteknya sangat sedikit perusahaan yang menyimpan catatan perubahan nilai produk. Pada perhitungan harga konstan diperlukan deflator segai faktor koreksi laju inflasi dan perubahan nilai. Laju inflasi yang digunakan dalam pengukuran produktivitas diperoleh dari BPS (Badan Pusat Statistik). Perhitungan Harga konstan dengan cara mengidentifikasi secara rinci elemen-elemen mengkonstankannya keluaran dengan dan masukan, deflator. kemudian Dalam menggunakan

penelitian ini deflator yang digunakan adalah kumulatif laju inflasi. Rumus dari harga konstan tersebut adalah: HK= HB ....(2.20) D HB = harga berlaku D = deflator 2.16. Indeks Produktivitas Pengukuran diketahui indeks berapa produktivitas besar tingkat dibuat untuk dan mengetahui penurunan perkembangan produktivitas dari waktu ke waktu sehinggga dapat kenaikan produktivitas pada perusahaan. Rumus untuk pengukuran indeks produktivitas:

Dimana: HK = harga konstan

38

Indeks Produktivitas =

Tingkat produktivitas periode ke-i x 100 ............... Tingkat produktivitas periode dasar

(2.21) Menghitung perubahan indeks produktivitas Terdiri atas dua bagian, yaitu: a) Perhitungan perubahan indeks IPt IPo x 100% ..........(2.22) IPt-o Perhitungan perubahan indeks produktivitas dibandingkan terhadap periode sebelumnya. PIP = IPt IPt-1 x 100% ..........(2.23) IPt-1 produktivitas dibandingkan terhadap periode dasar. PIP = b)

Dimana: PIP = Perubahan indeks produktivitas IPt = Indeks produktivitas pada periode t IPo = Indeks produktivitas pada periode sebelumnya t = 1, 2, 3, , n n = jumlah periode 2.17. Laju Pertumbuhan Produktivitas Laju pertumbuhan produktivitas adalah angka yang menunjukkan tingkat pertumbuhan produktivitas selama periode pengukuran. Laju pertumbuhan produktivitas dihitung menggunakan Metode Least Square (Kuadrat Terkecil)

39

b=

n ( x log y ) x log y n x2 ( x )
2

...........(2.24)

Maka L = {(anti log b)-1}x 100%..............(2.25) Dimana: L = Laju pertumbuhan b = Gradien persamaan regresi linier n = Jumlah data y = Indeks produktivitas x = Tahun 2.18. Analisis Finansial Perusahaan Hal terpenting yang harus dilakukan untuk mengetahui apakah suatu perusahaan dalam keadaan aman atau beresiko, adalah melakukan analisis terhadap finansial perusahaan yang bersangkutan. Analisis ini dilakukan khusus dilakukan pada neraca perusahaan. Adapun kategori analisis neraca antara lain: 1. Suatu perusahaan yang dikatakan aman harus memiliki tingkat pengembalian pinjaman yang rendah, dasar modal yang besar dan laju pertumbuhan yang lambat dengan hutang dan aktiva jangka pendek yang sedikit. Perusahaan yang aman Aktiva lancar Aktiva tetap 70% 30% Kewajiban lancar 25% keuangan suatu keuangan tersebut,

Hutang jangka panjang 15% Modal pemegang saham 60%

40

2.

Suatu perusahaan yang dikatakan beresiko jika memiliki pencairan aktiva yang tinggi (aktiva sulit cair nilainya), aktiva jangka panjang yang tinggi, dana pendukung dari luar yang nilainya lebih dari separuh bisnis, dasar modal yang kecil, tingkat pertumbuhan tinggi dan pendapatannya sangat fluktuatif. Perusahaan yang beresiko Aktiva lancar Aktiva tetap 30% 70% Kewajiban lancar 20%

Hutang jangka panjang 45% Modal pemegang saham 35%

2.19

. Rasio Finansial

Rasio adalah memperbandingkan suatu hal dengan hal lainnya, sehingga dapat menunjukkan hubungan atau korelasi. Jenis-jenis rasio dalam keuangan perusahaan, yaitu: 1. Rasio Likuiditas Rasio likuiditas mengukur jumlah kas atau jumlah investasi yang dapat dikonversikan atau diubah menjadi kas untuk membayar pengeluaran, tagihan dan seluruh kewajiban lainnya yang sudah jatuh tempo. 2. Rasio Profitabilitas Rasio profitabilitas mengukur dan membantu mengontrol penerimaan. Beberapa macam rasio profitabilitas, yaitu: i.
Rasio laba bersih = Pendapatan sebelum pajak dan bunga Penjualan bersih

..........(2.26)

41

ii. Tingkat laba atas penjualan =

Laba bersih .(2.27) Penjualan bersih


Laba bersih

iii. Tingkat laba atas investasi = Nilai bersih (modal pemegang saham) (2.28) iv. Tingkat laba atas aktiva = 3. Rasio Efesiensi Laba bersih .(2.29) Total aktiva

Rasio efesiensi mengukur seberapa baik suatu bisnis dijalankan. Rasio ini dapat mneunjukkan secara cepat mengenai seberapa baik kebijakan kredit dijalankan serta seberapa cepat perputaran sediaan.