Anda di halaman 1dari 23

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS HASANUDDIN FAKULTAS TEKNIK JURUSAN TEKNIK GEOLOGI PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI

PRAKTIKUM MINERAL OPTIK ACARA IV :ALKALI FELDSPAR GROUP DAN PLAGIOKLAS GROUP

LAPORAN

OLEH: MUHAMMAD ARDIANSYAH D611 10 253

MAKASSAR 2012

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Ilmu pengetahuan mineralogi merupakan studi tentang mineral-mineral penyusun batuan yang ada di permukaan bumi.Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya dalam pengetahuan tentang mineral maka sewajarnya kita sebagai calon geologist untuk dapat mengetahui pengetahuan tersebut.Salah satu yang mata kuliah yang perlu kita pelajari yaitu mineral optik yang merupakan kelanjutan dari matah kuliah mineralogi. Mineral optik merupakan salah satu cabang ilmu geologi yang mempelajari tentang mineral yang terkandung pada batuan.Mineral optik membahas tentang mineral-mineral pada batuan dalam bentuk monomineral. Salah satu tujuan mempelajari mineral optik ialah untuk untuk mengetahui cara menentukan sifatsifat optik mineral, serta mengenal mineral secara mikroskopik. Mineral adalah suatu bahan atau unsur kimia, gabungan kimia atau suatu campuran dari gabungan-gabungan kimia anorganis, sebagai hasil dari prosesproses fisis dan kimia khusus secara alami.Suatu mineral dapat menjadi penciri dari suatu batuan.Mineral utama (essential minerals) penyusun batuan atau kerak bumi terutama mineral golongan/kelompok silikat.Golongan silikat merupakan mineral yang terpenting mengingat bahwa 25% dari mineral-mineral yang diketahui berupa silikat.Mineral-mineral ini membentuk 90% lithosfer.

Mineral feldspar merupakan contoh dari mineral silika yang keberadaannya cukup melimpah di alam.Mineral feldspar memiliki kerangka sruktur atom tektosilikat yang terdiri atas dua jenis, yaitu mineral grup alkali feldspar dan grup plagioklas. Oleh karena itu, diadakanlah praktikum ini dalam acara Alkali Feldspar Group dan Plagioklas Group untuk mengidentifikasi sifat optik mineralnya melalui pengamatan ortoskop nikol sejajar, ortoskop nikol silang dan konoskopik. 1.2 Maksud dan Tujuan Maksud diadakan praktikum ini adalah untuk mengetahui karakteristik mineral Alkali Feldspar Group dan Plagioklas Group. Adapun tujuan dari praktikum ini adalah : 1. Mengetahui sifat-sifat mineral grup alkali feldspar dan grup plagioklas secara umum yang diamati dengan pengamatan ortoskop nikol sejajar, nikol silang dan konoskopik. 2. Mengetahui perbedaan umum mineral grup alkali feldspar dan grup plagioklas.

1.3

Alat dan Bahan

Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam acara pengamatan mineralalkali feldspar group dan plagioklas group, yaitu: a. Alat tulis-menulis b. Mikroskop polarisasi

c. Sampel mineral d. Pensil warna e. Lap kasar dan halus f. Lembar kerja praktikum g. Buku penuntun

1.4

Prosedur Kerja

Langkah-langkah dalam melakukan praktikum ini dimulai dari mengambil mikroskop polarisasi dari lemari dan selanjutnya membuat bon alat untuk melekukan peminjaman alat. Setelah itu mikroskop diletakkan di atas meja yang telah dilapisi oleh lap kasar.Kemudian mikroskop disentringkan dengan memutar analisator sampat didapatkan terang maksimum dan jika analisator dimasukkan didapatkan gelap maksimum.Selanjutnya mengambil sayatan mineral dari asisten praktikum dan diletakkan di meja objek dan dijepit menggunakan penjepit preparat. Langkah selanjutnya adalah mengamati sifat-sifat optik mineral pada nikol sejajar dan nikol silang, lalu menggambar hasil pengamatan mineral tersebut.Kemudian melakukan pengamatan konoskop untuk mengamti

kenampakan dari suatu gambar interferensi (isogire, isofase, dan melatope) dan nilai sudut 2V. Langkah terakhir pada pengamatan ini ialah menyusun laporan praktikum berdasarkan petunjuk dari asisten.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Mineral adalah suatu bahan atau unsur kimia, gabungan kimia atau suatu campuran dari gabungan-gabungan kimia anorganik, sebagai hasil dari prosesproses fisis dan kimia khusus secara alami.Mineral merupakan suatu bahan yang homogen dan mempunyai susunan atau rumus kimia tertentu. Bila kondisi memungkinkan, mendapat suatu struktur yang sesuai, di mana ditentukan bentuknya dari kristal dan sifat-sifat fisisnya. Kelimpahan relatif elemen dalam kerak bumi menentukan apa yang akan membentuk mineral dan apa yang akan mineral umum. Karena oksigen dan silikon adalah elemen yang paling melimpah, mineral silikat yang paling umum.

2.1

Mineral Silika

Mineral silika merupakan mineral pembentuk batuan.Hampir 90 % mineral pembentuk batuan adalah dari kelompok ini, yang merupakan persenyawaan antara silikon dan oksigen dengan beberapa unsur metal. Karena jumlahnya yang besar, maka hampir 90% dari berat kerak bumi terdiri dari mineral silika, dan hampir 100% dari mantel di bumi (sampai kedalaman 2900 km dari kerak bumi). Keterdapatan mineral silikat yang melimpah di alam disebabkan oleh unsur pembentuk mineral ini terdapat paling banyak di alam, adapaun unsur itu yaitu oksigen (O) dan silikon (Si).

Silika merupakan bagian utama yang membentuk batuan baik itu batuan beku, batuan sedimen maupun batuan malihan. Silika pembentuk batuan yang umum dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok ferromagnesium dan nonferromagnesium. Mineral golongan silika dikelompokkan berdasarkan perbandingan unsur silikon dan oksigen. Mineral silika terbagi dua jenis, yaitu mineral silika primer dan mineral silika sekunder (Loughnan, 1969).Mineral silika primer adalah mineral silika yang terbentuk dari hasil pembekuan magma, contohnya grup mineral piroksin, sedangkan mineral silika sekunder terbentuk dari hasil pelapukan batuan atau dari hasil ubahan mineral primer, contohnya grup mineral liat (clay). Menurut Loughnan (1969), dalam struktur silika, oksigen merupakan anion yang paling penting. Ikatan antara kation dan oksigen meningkat sesuai dengan jarak (radius) kationoksigen, semakin kecil jarak radius kation dan oksigen maka ikatan mineralnya akan semakin kuat. Mineralmineral silika mengandung tetrahedra (SiO4)4-. Mineral tersebut tersusun atas satu atom (Si) yang diikat oleh 4 atom oksigen (O). Tetrahedral ini dapat diikat bersamasama dengan beberapa macam cara yang membentuk 6 tipe mineral yaitu: inosilikat, nesosilikat, tektosilikat, sorosilikat, phyllosilikat dan siklosilikat.

2.2

Mineral Feldspar

Sebagai mineral silikat pembentuk batuan, feldspar mempunyai kerangka struktur tektosilikat yang menunjukkan 4 (empat) atom oksigen dalam struktur tetraheral SiO2 yang dipakai juga oleh struktur tetraheral lainnya. Kondisi ini menghasilkan kisi-kisi kristal seimbang terutama bila ada kation lain yang masuk ke dalam struktur tersebut seperti penggantian silikon oleh aluminium. Jika semua sudut oksigen dibagi dengan tetrahedron SiO4lain, maka struktur kerangka berkembang. Kelompok struktural dasar kemudian menjadi SiO2. Jika beberapa ion Si+4 digantikan oleh Al+3 maka ini menghasilkan ketidakseimbangan dan memungkinkan ion-ion lainnya yang bisa ditemukan dikoordinasikan dalam susunan yang berbeda dalam struktur rangka. Terbentuk dari proses kristalisasi magma, feldspar biasanya berasosiasi dengan batuan granitis dan metamorfis, paling umum dijumpai pada korok pegmatis. Karena terbentuk langsung dari proses kristalisasi magma, jenis feldspar ini disebut feldspar primer, berukuran kasar dan terdapat berasosiasi dengan kuarsa. Selain feldspar primer, terdapat pula jenis lain yang digolongkan ke dalam feldspar diagenetis dan aluvial. Kedua jenis feldspar di atas adalah feldspar sekunder. Yang pertama terbentuk karena proses diagenesis sedimen piroklastik halus asam yang terendapkan dalam lingkungan air lakustrin, yang berasosiasi dengan cekungan sedimen tersier, umumnya endapan bentonit atau zeoilit, feldspar diagenetis mempunyai kadar alkali total (K2O + Na2O) relatif rendah (5%). Feldspar aluvial terjadi sebagai akibat rombakan batuan granit dan batuan

asam lainnya. Kadar alkali total berkisar antara 5- 10%. Kedua jenis feldspar banyak terkandung mineral ikutan, seperti mika, hematit, tourmalin, garnet dan kuarsa (Hardjatmo dkk, 1992).Keberadaan feldspar dalam kerak bumi cukup melimpah.Walaupun demikian untuk keperluan komersial dibutuhkan feldspar yang memiliki kandungan (K2O + Na2O) > 10%. Selain itu, material pengotor seperti oksida besi, kuarsa, oksida titanium dan pengotor lain yang berasosiasi dengan feldspar diusahakan sedikit mungkin. Feldspar dari alam setelah diolah dapat dimanfaatkan untuk batu gurinda dan feldspar olahan untuk keperluan industri tertentu. Mineral ikutannya dapat dimanfaatkan untuk keperluan industri lain sesuai spesifikasi yang ditentukan. Terlepas dari bentuk strukturnya, apakah triklin atau monoklin, feldspar secara kimiawi dibagi menjadi empat kelompok mineral yaitu Kalium feldspar (KAlSi3O8), Natrium feldspar (NaAlSi3O8), Kalsium feldspar (CaAl2Si3O8) dan Barium feldspar (BaAl2Si3O8). Sedangkan secara mineralogi feldspar dikelompokkan menjadi alkali feldspar dan plagioklas. 2.2.1 Alkali Feldspar

Mineral sanidine, orthoklas, mikroklin, anorthoklas dan adularia merupakan mineral anggota dari grup alkali feldspar.Mineral yang termasuk kelompok alkali feldspar diklasifikasikan berdasarkan suhu kristalisasinya, mulai dari pmbentukan mineral sanidin pada suhu tinggi.Mineral orthoklas, mikroklin, anorthoklas sampai adularia terbentuk pada suhu rendah. Kelima mineral tersebut mempunyai rumus kimia sama yaitu KAlSi3O8. Mineral alkali feldspar mumnya ditemukan

pada batuan beku asam seperti granit dan syenit. Selain itu, ditemukan pula pada batuan metamorfosis dan batuan sedimen.

a.

Sanidine

Sanidine merupakan mineral yang memiliki sumbu optik dua (biaxial) dengan sistem kristal monoklin, umumnya memiliki kembaran karlsbad. Sanidine dibedakan dengan orthoklas berdasarkan sudut sumbu yang kecil dan pada beberapa keadaan oleh perbedaan orientasi. Orthoklas seringkali berkabut

sedangkan sanidine bersih.Sanidine umumnya dijumpai pada batuan vulkanik seperti rhyolite dan trachite dan berhubungan dengan tuff.

Gambar 2.1 Kenampakan mineral Sanidine pada ortoskop nikol sejajar (kiri) dan ortoskop nikol sejajar (kanan)

b.

Orthoklas

Mineral

orthoklas tersebar luas dalam batuan beku seperti granite dan

syenite. Dalam Spheruliticobsidian dan rhyolite, orthoklas seringkali intergrowth dengan kristobalite ataupun kuarsa, juga umum dalam endapan detrital, batupasir

dan arkose.Mineral orthoklas memiliki sumbu optik dua (biaxial) dengan sistem Kristal monoklin. Umumnya Kembaran carlsbad.

Gambar 2.2 Kenampakan mineral Ortoklas pada ortoskop nikol sejajar (kiri) dan ortoskop nikol sejajar (kanan)

c. Anorthoklas

Anorthoklas dibedakan dari mineral feldspar lainnya berdasarkan sudut pemadaman, dimana anortoklas memiliki sudut kira-kira 500 (Sanidine di bawahnya dan yang lain di atasnya). Ciri lainnya adalah terdapat pada batuan beku yang kaya akan soda, kadang didapatkan dalam pegmatite. Ortoklas memiliki sumbu optik dua (biaxial) dengan sistem kristal triklin.

Gambar 2.3 Kenampakan mineral Anorthoklas pada ortoskop nikol sejajar (kiri) dan ortoskop nikol sejajar (kanan)

d.

Mikroklin

Mikroklin memiliki sumbu optik dua (biaxial) dengan sistem kristal triklin. Mikroklin umumnya intergrowth dengan albit, dikenal dengan perthite.

Mikroklin dibedakan dengan orthoklas berdasarkan kembaran polisintetik dan dengan anorthoklas dan albit berdasarkan sudut pemadaman 1500.Mikroklin terdapat dalam granite, syenite dan gneiss.

Gambar 2.4 Kenampakan mineral Mikroklin pada ortoskop nikol sejajar (kiri) dan ortoskop nikol sejajar (kanan)

2.2.2 Grup Plagioklas Mineral plagioklas hampir selalu memperlihatkan kenampakan melidah yang kembar (lamellar twinning) bila sayatan tipis mineral tersebut dilihat secara mikroskopis. Sifat optis yang progresif sejalan dengan berubahnya komposisi mineralogi memudahkan dalam identifikasi mineral-mineral feldspar yang termasuk ke dalam kelompok plagioklas tersebut. Na-plagioklas banyak

ditemukan dalam batuan kaya unsur alkali (granit, syenit). Andesin dan oligoklas terdapat pada batuan intermediate seperti diorit sedangkan labradorit, bitownit dan

anortit biasanya sebagai komponen batuan basa, seperti pada gabro dan anortosit.Plagioklasmerupakan mineral felsik atau golongan continuous series dalam reaksi deret Bowen.Dalam mieralogi optik, plagioklas memiliki sifat khas jika diamati, yang utama salahsatunya adalah kembaran. Kembaran yaitu sifat yang ditunjukkan oleh mineral akibat pertumbuhan bersama kristal saat

pengkristalannya. Berbentuk kisi-kisi yangdibentuk oleh orientasi pertumbuhan kristalografi.Sifat ini dapat diamati pada posisi pengamatan nikol silang. Dalam mieralogi optik, plagioklas memiliki sifat khas jika diamati, yang utama salah satunya adalah kembaran. Kembaran yaitu sifat yang ditunjukkan oleh mineral akibat pertumbuhan bersama kristal saat pengkristalannya. Berbentuk kisi-kisi yang dibentuk oleh orientasi pertumbuhan kristalografi.Sifat ini dapat diamati pada posisi pengamatan nikol silang. Terdapat beberapa jenis kembaran dalam analisa pada mineral plagioklas yaitu: Kembaran carlsbad Kembaran polysintetik Kembaran albite Kembaran pericline Adapun cara analisa plagioklas dengan menggunakan tabel Michel-Levy, yaitu : Kembaran pada plagioklas yang mengikuti Hukum Albit memiliki bidang kembaran sejajar dengan bidang (010). Untuk mengukur sudut pemadaman,

carilah kristal plagioklas yang terpotong tegak lurus bidang (010) atau sejajar sumbu b, yangdicirikan oleh : 1. Garis-garis perpotongan antara bidang komposisi dengan bidang sayatan(garisgaris kembaran) nampak jelas dan tajam. 2. Bila garis kembaran diletakkan sejajar dengan benang silang tegak maka semua lembar kembaran memberikan warna interferensi yang sama dan merata. Cara mencari sudut pemadaman : 1. Posisikan garis kembaran mineral sejajar dengan benang silangvertical, dalam kondisi warna interferensi sama dan merata, catat skalanoniusnya (Xo) 2. Putar meja Objek searah jarum jam, smapai mineral dalam keadaangelap maksimum, catat skala noniousnya (X1). (Xo - X1 = P ) 3.Lakukan hal yang sama dengan memutar meja objek berlawanandengan arah jarum jam, sampai mendapatkan gelap maksimum (X2).(Xo-X2 = Q) 4.Masukan harga sudut pemadmannya (Z) kedalam kurva MichelLevysebagai ordinatnya. Kemudian tarik garis horizontal hingga memotongkurva yang ada. 5.Dari perpotongan tersebut, tarik lagi garis ke bawah untuk

mengetahuikomposisi dan jenis plagioklasnya. 6.Jika harga sudut pemadamannya kurang dari 20, maka ukur indeks biasnya. 7. Nm < Ncb, maka digunakan kurva bagian kiri. Nm > Ncb, makadigunakan kurva bagian kanan.

Gambar 2.5 Kurva untuk penentuan jenis plagioklas untuk kembaran calsbadalbit (Kerr,1977)

2.3

Pembentukan Kembaran Ada beberapa kembaran berdasarkan proses pembentukannya, yaitu sebagai

berikut: 1. Kembaran Tumbuh

Kembaran ini terbentuk pada saat proses kristalisasi berlangsung atau pada saat pertumbuhan kristal, di mana dua unit kristal berbagi dan tumbuh dari satu kisi yang sama dengan orientasi berlawanan. Jenis kembaran ini terbagi atas kembaran kontak dan kembaran penetrasi. Kembaran yang terbentuk sesuai proses ini adalah kembaran carlsbad dan albit.

Gambar 2.6 Kembaran Tumbuh

2.

Kembaran Transformasi

Kembaran ini dapat terjadi akibat dari kristal mengalami transformasi karena perubahan suhu dan tekanan terutama karena perubahan suhu.Hal ini hanya dapat terjadi pada kristal yang mempunyai struktur dan simetri yang berbeda pada kondisi suhu dan tekanan yang berbeda. Pada saat suhu dan tekanan yang berubah, bagian tertentu dari Kristal yang stabil ada yang mengalami perubahan orientasi pada bagian berbeda dari kristal. Kembaran yang terbentuk sesuai proses ini adalahkembaran dauphin dan kembaran brazil pada kuarsa terbentuk karena perubahan suhu.

Gambar 2.7 Kembaran transformasi

3. Kembaran Deformasi

Kembaran ini terjadi setelah proses kristalisasi, pada saat kristal padat karena mengalami deformasi atom sehingga terdorong dari posisi semula. Apabila perubahan posisi ini terjadi pada susunan yang simetri akan menghasilkan kembaran. Kembaran yang terbentuk sesuai proses ini adalah kembaran polisintetik.

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1

Hasil Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan maka diperoleh hasil

sebagaimana yang terlampir dihalaman selanjutnya. 3.2 Pembahasan Adapun pembahasan yang diperoleh setelah melakukan praktikum, yaitu sebagai berikut: a. Sampel Pertama

Dari hasil pengamatan dengan menggunakan ortoskop nikol sejajar digunakan lensa objektif perbesaran 5x dan lensa okuler perbesaran 10x. Dengan menggunakan rumus Mtot = Mob x Mok = 10 x 5 = 50 kali. Maka perbesaran total yang digunakan adalah 50x dengan bilangan skala adalah BS = , maka bukaan diafragma yang digunakan pada mikroskop

tersebut dalam pengamatan ortoskop nikol sejajar adalah 0,1. Dalam praktikum dengan menggunakan ortoskop nikol sejajar ini dijumpai mineral tepat pada kedudukan x = 55, y = 13 dengan warna mineral orange kecoklatan, tidak ditemukan pleokroisme, hal ini terlihat ketika meja objek diputar hingga 900 tidak menunjukkan gejala perubahan warna. Intensitas mineral ini lemah. Bentuk mineral euhedral sebab bidang batas mineral tersebut jelas,

memiliki indeks bias nmin>ncb, hal ini ketika dilakukan penutupan sebagian jalannya sinar maka bayangan gelap nampak searah dengan arah penutupan sinar. Metode yang digunakan dalam penentuan indeks bias yaitu metode illuminasi miring. Mineral ini memiliki belahan satu arah yang sempurna dan tidak memiliki pecahan, memiliki relief rendah. Adapun ukuran mineral tersebut adalah BS x Z = 0,02 x 130 = 2,6 mm. Pengamatan dengan menggunakan nikol silang dijumpai warna interferensi maksimum mineral adalah abu-abu, dengan bias rangkap lemah yang diperoleh dari warna interferensi dengan mengacu pada tabel Michel-Levy 0,008 pada orde I yang memiliki kembaran Carlsbad albit yang terbentuk pada saat proses kristalisasi berlangsung,di mana dua unit kristal berbagi dan tumbuh darisatu kisi yang sama dengan orientasi berlawanan. Adapun sudut gelapannya adalah
( ) ( )

= 22,50sehingga jenis gelapan mineral ini adalah

gelapan miring. Dijumpai tanda rentang optik length fast-addisi. Hal ini didapatkan ketika komparator keping gips dimasukkan, memperlihatkan gejala penambahan warna (addisi) dengan perubahan yang cepat. Pengamatan dengan konoskopik dilakukan dengan perbesaran lensa objektif 5x dengan perbesaran lensa okuler 10x sehingga perbesaran totalnya adalah Mtot = Mok x Mob = 10 x 5 = 50 kali. Bilangan skalanya adalah dengan bukaan diafragma yang digunakan 0,1 karena perbesaran objektif 5x. pada pengamatan ini dijumpai mineral yang memiliki sumbu optik biaxial sebab mineral ini memiliki sistem kristal triklin. Mineral-mineral yang memiliki sistem kristaltriklin, monoklin, rhombohedral dan trigonal memiliki

sumbu optik biaxial. Mineral ini memiliki tanda optik negatif, hal ini diperoleh ketika memutar meja objek 3600 memperlihatkan kenampakan substraksi pada kuadran I dan kuadran III dan memperlihatkan kenampakan addisi pada kuadran II dan kuadran IV. Adapun pengamatan gambar interferensi ditemukan adanya isogir yang tidak terpusat dan nilai sudut 2V adalah 500, sedangkan gelang warna yang didapatkan adalah bias rangkap kuat, hal ini diperoleh ketika memutar meja objek terjadi tiga kali atau lebih perubahan warna. Adapun mineral yang diamati adalah Albit (CaAl2Si2O8). A A

(a)

(b)

(c)

Gambar 3.1 Kenampakan mineral Albit pada nikol sejajar (a), nikol silang (b), TRO (c)

b.

Sampel kedua

Dari hasil pengamatan dengan menggunakan ortoskop nikol sejajar digunakan lensa objektif perbesaran 5x dan lensa okuler perbesaran 10x. Dengan menggunakan rumus Mtot = Mob x Mok = 10 x 5 = 50 kali. Maka perbesaran total yang digunakan adalah 50x dengan bilangan skala adalah BS =

, maka bukaan diafragma yang digunakan pada mikroskop tersebut dalam pengamatan ortoskop nikol sejajar adalah 0,1. Dalam praktikum dengan menggunakan ortoskop nikol sejajar ini dijumpai mineral tepat pada kedudukan x = 57, y =24 dengan warna mineral orange kecoklatan, tidak ditemukan pleokroisme, hal ini terlihat ketika meja objek diputar hingga 900 tidak menunjukkan gejala perubahan warna. Intensitas mineral ini lemah.Bentuk mineral subhedral sebab bidang batas mineral tersebut ada yang kurang jelas, memiliki indeks bias nmin>ncb, hal ini ketika dilakukan penutupan sebagian jalannya sinar maka bayangan gelap nampak searah dengan arah penutupan sinar. Metode yang digunakan dalam penentuan indeks bias yaitu metode illuminasi miring. Mineral ini memiliki belahan satu arah dan tidak terdapat pecahan, memiliki relief yang rendah.Intensitas dan relief selalu berbanding lurus. Adapun ukuran mineral tersebut adalah BS x Z = 0,02 x 40 = 0,8 mm. Pengamatan dengan menggunakan nikol silang dijumpai warna interferensi maksimum mineral adalah abu-abu, dengan bias rangkap lemah yang diperoleh dari warna interferensi dengan mengacuh pada tabel Michel-Levy 0,006 pada orde I, memiliki kembaran polisintetik yang terbentuk setelah proses kristalisasi berlangsung karena mengalami deformasi sehingga terdorong dari posisi semula, adapun sudut gelapannya adalah
( ) ( )

sehingga jenis

gelapan mineral ini adalah gelapan miring. Dijumpai tanda rentang optik length fast-addisi. Hal ini didapatkan ketika komparator keping gips dimasukkan, memperlihatkan gejala penambahan warna (addisi) dengan perubahan yang cepat.

Pengamatan dengan konoskopik dilakukan perbesaran objektif 5x dengan perbesaran okuler 10x sehingga perbesaran totalnya adalah Mtot = Mok x Mob = 10 x 5 = 50 kali. Dengan bilangan skalanya adalah dengan bukaan diafragma yang digunakan 0,1 karena perbesaran objektif 5x. pada pengamatan ini dijumpai mineral yang memiliki sumbu optik biaxial sebab

mineral ini memiliki sistem kristal triklin. Mineral-mineral yang memiliki sistem kristal monoklin, triklin dan orthorombik memiliki sumbu optik biaxial. Mineral ini memiliki tanda optik negatif, hal ini diperoleh ketika memutar meja objek 3600 memperlihatkan kenampakan substraksi pada kuadran I dan kuadran III dan memperlihatkan kenampakan addisi pada kuadran II dan kuadran IV. Adapun pengamatan gambar interferensi tidak memperlihatkan adanya isogir dengan gelang warna merupakan bias rangkap kuat, hal ini diperoleh ketika memutar meja objek menampakkan tiga kali atau lebih perubahan warna. Adapun mineral yang diamati adalah Mikrokline (KAlSi3O8).

Gambar 3.2 kenampakan mineral Mikrokline pada nikol sejajar (a), nikol silang (b), dan TRO (c

BAB IV PENUTUP

4.1

Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang diperoleh dari acara mineral Grup Alkali Feldspar dan Grup Plagioklas adalah sebagai berikut:

1. Pada pengamatan nikol silang, yang dapat diamati adalah warna interferensi maksimum, bias rangkap, kembaran, sudut gelapan dan jenis gelapan, dan tanda rentang optik. Pada pengamatan nikol sejajar, yang dapat diamati adalah warna mineral, pleokroisme, bentuk Mineral, belahan dan pecahan, indeks bias, relief mineral, dan ukuran mineral. 2. Mineral alkali feldspar secara umum memiliki sifat optik berupa bentuk euhedral sampai subhedral, relief rendah, tidak memiliki pleokroisme, indeks bias nmin < ncb, belahan satu arah, bias rangkap lemah dengan warna interferensi abu-abu pada orde I dan memiliki kembaran karlsbad pada orthoklas dan sanidine serta kembaran polisintetik pada mikrokline dan anorthoklas, memiliki gelapan parallel dan termasuk mineral biaxial. Sedangkan mineral grup plagioklas secara umum memiliki sifat optik berupa bentuk euhedral sampai subhedral, relief rendah, tidak memiliki pleokroisme, indeks bias nmin < ncb pada albit, oligoklas, dan anorthite serta nmin >ncb pada andesine, labradorit dan bitownite, memiliki belahan

satu arah dengan bias rangkap lemah pada orde I, memiliki kembaran albitdan termasuk mineral biaxial.

4.2

Saran Adapun saran yang dapat diberikan yaitu agar selalu kebersihan

laboratorium terus dijaga, dan sebaiknya alat-alat yang ada dilaboratorium dijaga dengan baik dan dilengkapi yang masih kurang. Serta untuk praktikan mampu mengetahui cara mengidentifikasi dari sifat-sifat optik feldspar dan grup plagioklas. . mineral grup alkali