Anda di halaman 1dari 18

TINJAUAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI Tinjauan Pustaka Kopi Arabika

Kopi arabika merupakan salah satu komoditi unggulan yang berasal dari Dataran Tinggi Gayo. Dataran Tinggi Gayo adalah daerah yang berada di kawasan pegunungan Aceh Tengah, Bener meriah daan Gayolues dengan tiga kota utamanya yaitu Takengon, Blangkejeren dan Simpang Tiga Redelong. Perkebunan kopi yang mulai diusahakan sejak tahun 1924 ini tumbuh subur di Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah sampai sekarang. Kedua daerah yang berada di ketinggian 1200 m dpl tersebut memiliki perkebunan kopi terluas di Indonesia, yaitu seluas 73.782 hektar. Mayoritas masyarakat Suku Gayo yang mendiami kedua kabupaten ini berprofesi sebagai Petani Kopi. Varietas Arabika mendominasi jenis kopi yang dikembangkan oleh para petani Kopi Gayo.

Kopi pertama kali ditanam di Indonesia (Pulau Jawa) pada tahun 1696 dan sampai akhir abad ke 19. Komoditi kopi menjadi penting bagi pemerintahan Belanda yang dikenal dengan dengan nama Java Coffee yang memiliki reputasi yang baik di pasaran dunia. Pada tahun 1878 tanaman kopi yang dikembangkan oleh pemerintahan Belanda terserang penyakit karat daun sehingga kopi arabika yang ditanam pada daerah-daerah yang rendah terpaksa diganti dengan tanaman kopi jenis Robusta yang resisten terhadap penyakit karat daun tersebut. Kemudian kopi arabika ditanam di dataran tinggi dimana sepertiganya tumbuh di Kabupaten Bener Meriah. Perkebunan kopi pertama diusahakan pada tahun 1924 dimana pada waktu itu perkembangan arealnya sangat lambat, hal ini disebabkan karena
5
Universitas Sumatera Utara

letak daerah ini terisolasi dan tingginya biaya transportasi. Pengembangan kopi pada awalnya hanya terkonsentrasi di Bandar Lampahan dan Berkhendal. Setelah tahun 1930 kopi menjadi penting bagi masyarakat karena langsung dapat menghasilkan uang dan setelah Perang Dunia II semua kopi hanya dihasilkan oleh perkebunan rakyat. Perkebunan kopi rakyat di Kabupaten Bener Meriah baru mulai berkembang setelah berakhirnya perang kemerdekaan yaitu pada tahun 1945 dan pada saat ini 85 % luas areal tanaman kopi rakyat didominasi oleh varietas arabika dan sisanya 15 % merupakan varietas robusta. Dalam setahun kopi arabika mengalami 2 kali masa panen yaitu pada bulan September-Desember dengan total produksi 8820 kg/ha dan Januari-Mei dengan total produksi 6000 kg/ha, sedangkan pada Juni-Agustus terjadi paceklik kopi yaitu hanya menghasilkan 360 kg/ha pada bulan Juni. Pada bulan Juli dan Agustus tanaman kopi tidak berproduksi. Kopi dipanen jika biji kopi sudah berwarna merah yang disebut dengan gelondongan atau cerri. Kemudian biji kopi dimasukkan ke mesin pulper atau pengupas untuk memisahkan biji kopi dengan kulit buah dan kuli arinya. Pada umumnya, pulper yang digunakan adalah vis pulper yang tidak mengikutsertakan proses pencucian sehingga masih perlu dilakukan proses fermentasi untuk menghilangkan lendir. Fermentasi dilakukan 1 malam dan dilakukan pencucian. Kemudian biji kopi dijemur dibawah sinar matahari langsung selama 8 jam .Biji kopi yang sudah dijemur ini disebut gabah. Gabah akan dipisahkan dari kulit tanduk dan kulit arinya dengan menggunakan huller. Gabah yang sudah dipisahkan dari kulit tanduk dan kulit arinya ini disebut

Universitas Sumatera Utara

labu dan labu akan dijemur sampai memiliki kadar air 18%. Labu yang sudah memiliki kadar air 18% disebut asalan atau kopi ready. Penelitian Terdahulu Dalam Analisis Efisiensi Pemasaran Kopi Di Kabupaten Tanggamus Lampung oleh Yuda Pranata, Hurip Santoso dan Benyamin Widyamoko, diperoleh hasil penelitian yang menunjukkan bahwa kinerja pasar kopi di Kabupaten Tanggamus belum efisien. Hal ini dilihat dari struktur pasar, keragaan pasar, dan trend produksi. Struktur pasar yang terjadi adalah adalah oligopsoni, produsen cenderung melakukan differensiasi pada produknya, semakin rendah tingkat pelaku tataniaga maka akan semakin mudah untuk masuk ke dalam pasar sehingga perilaku pasar mengarah pada proses penentuan harga oleh pedagang, sedangkan petani hanya sebagai penerima harga (price taker) yang ditetapkan oleh pedagang dan sistem pembayaran dilakukan secara tunai. Keragaan pasar yang terdiri dari 5 saluran pemasaran dengan distribusi margin pemasaran tidak merata dimana hanya saluran pemasaran keempat yang relatif lebih efisien bila dibandingkan dengan saluran pemasaran lainnya; yaitu Petani PP IIIEksportir, hal ini dilihat dari penyebaran rasio profit marjin pada saluran pemasaran keempat yang relatif lebih merata. Sedangkan untuk harga jual ditentukan oleh penjual, dan biaya yang dikeluarkan pedagang antara lain biaya angkut dan biaya bongkar muat. Untuk analisis elatisitas transmisi harga diperoleh Et1(Et <1 atau Et >1) yang menunjukkan bahwa pasar tidak bersaing sempurna. Selain itu, trend produksi kopi di Kabupaten Tanggamus juga semakin menurun

Universitas Sumatera Utara

diakibatkan peralihan lahan yang digunakan oleh petani tidak sepenuhnya ditanami kopi. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari s.d. Februari 2009 di dua kecamatan yang terpilih secara sengaja (purposive), yaitu Kecamatan Ulu Belu dan Kecamatan Pulau Panggung. Jumlah responden petani kopi sebanyak 50 responden, diperoleh melalui teknik simple random sampling. Responden pedagang pengumpul sebanyak 25 responden, 3 perusahaan eksportir, dan 1 pengolah hasil, diperoleh dengan snowball methods. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis kualitatif (deskriptif) untuk mengetahui struktur pasar, perilaku pasar, dan keragaan pasar yang meliputi saluran pemasaran, harga, biaya, dan volume penjualan. Analisis kuantitatif (statistika) untuk mengetahui keragaan pasar yang meliputi pangsa produsen, marjin pemasaran, dan elastisitas transmisi harga, serta analisis trend linier produksi kopi. Berbeda dengan Analisis Efektifitas dan Efisiensi Tataniaga Kopi Biji di Propinsi Lampung oleh Mustafid, hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 3 saluran tata niaga yang terjadi yaitu saluran tata niaga I (petani produsen-pedagang kecamatan-eksportir), saluran tata niaga II (petani produsen-pedagang desapedagang kecamataneksportir), dan saluran tata niaga III (petani produsenpedagang kabupaten-eksportir). Berdasarkan analisis efisiensi tataniaga komoditas biji kopi Propinsi Lampung diperoleh hasil bahwa saluran tataniaga II lebih efisien dibandingkan dengan saluran tataniaga I dan III dengan nilai efisiensi 0.95 untuk saluran tata niaga II dan 0.93 serta 0.94 untuk saluran tataniaga I dan III. Penelitian ini menggunakan 47 responden yang di ambil secara proporsif (proporsive random sampling) atas dasar homogenitas (relatif sama) yang

Universitas Sumatera Utara

diharapkan dapat mewakili dari populasi yang ada dengan daerah penelitian Kabupaten Lampung Barat, Kabupaten Tanggamus, dan Kabupaten Way Kanan. Analisis yang digunakan adalah analisis kualitatif berdasarkan teori tataniaga dan analisis kuantitatif dengan menganalisis efektivitas dan efisiensi tata niaga pemasaran komoditas kopi biji di Propinsi Lampung, yaitu untuk mengukur tingkat efektivitas digunakan metode faktor tertimbang dan margin tataniaga untuk mengukur tingkat efisiensi. Sedangkan dalam Analisis Pangsa Pasar dan Tataniaga Kopi Arabika di Kabupaten Tana Toraja dan Enrekang Sulawesi Selatan oleh Ima Aisyah Sallatu dari Institut Pertanian Bogor yang menggunakan pendekatan StructureConduct Performance menunjukkan bahwa Banyaknya pelaku pasar yang terlibat serta besarnya hambatan untuk keluar masuk pasar telah menyebabkan terbentuknya struktur pasar kopi arabika di Kabupaten Tana Toraja dan Enrekang yang mengarah pada pasar persaingan tidak sempurna (imperfect competitive market). Sementara perilaku pasar diwarnai oleh praktek penentuan harga yang didominasi oleh eksportir dan pedagang besar. Struktur dan perilaku pasar kopi arabika di dua kabupaten ini tidak memberikan alternatif kepada petani untuk dapat memilih saluran pemasaran yang lebih efisien walaupun saluran pemasaran ini dapat memberikan bagian harga yang lebih tinggi kepada petani. Dalam Targeted Study of The Arabica Coffee Production Chain in North Sumatera (The Mandheling Coffee) oleh Wayan R Susila dari Food and Organization United Nations yang melakukan penelitian di Tapanuli Utara (Siborong-Borong, Pangribuan), Humbang Hasundutan (Lintong Nihuta, Dolok Sanggul), Toba Samosir (Muara) dengan menggunakan stratified random yang

Universitas Sumatera Utara

berdasarkan kecamatan dan luas lahan diperoleh 26 sampel petani, dimana hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa sistem tataniaga kopi mandailing cukup unik jika dibandingkan dengan daerah penghasil kopi lainnya. Ini dikarenakan transaksi tataniaga dilaksanakan di pasar kecamatan atau pasar kabupaten, kopi mandailing dijual dalam bentuk biji basah (wet bean). Biji kopi diukur dengan satuan liter bukan kilogram, dan hari pasar atau hari pekan untuk kopi mandailing sangatlah teratur pada setiap kecamatan yaitu Lintong Nihuta (Humbang
Hasundutan) pada hari Senin,Sipahutar (Tapanuli Utara) pada hari Senin, SiborongBorong (Tapanuli Utara) pada hari Selasa, Pangaribuan (Tapanuli Utara) pada hari Rabu, Dolok Sanggul (Humbang Hasundutan) pada hari Jumat, dan Tarutung (Tapanuli Utara) pada hari Sabtu. Para petani akan menjual langsung biji kopinya ke pasar pada hari pekan kepada para pedagang pengumpul, dimana pada setiap pasarnya terdapat 200-300 pedagang pengumpul yang siap membeli biji kopi para petani. Meskipun terdapat banyak petani sebagai penjual dan pembeli di pasar, tetapi harga kopi ditentukan oleh para eksportir di Medan melalui pedagang pengumpul mereka yang bertindak sebagai agen penentu harga. Umumnya, struktur pasar cenderung pasar oligopsoni. Untuk saluran tataniaga kopi mandailing, terdapat 2 saluran tataniaga yaitu petanipedagang pengumpul Ipedagang pengumpul II eksportir dan petanipedagang pengumpul II eksportir. Sedangkan untuk penampilan pasar yaitu relatif efisien sebagai indikasi adilnya pembagian margin keuntungan oleh pedagang pengumpul dan eksportir. Dengan menggunakan analisis margin tataniaga, diperoleh hasil yaitu petani mendapat proporsi sebesar 86.4% dengan harga jual Rp 13.000/kg, pedagang pengumpul I dengan rata-rata biaya Rp 91/kg, rata-rata margin Rp 306/kg, dan proporsi 89.1 % dengan harga jual Rp 13.397/kg, pedagang pengumpul II dengan biaya rata-rata Rp 669/kg, rata-rata

Universitas Sumatera Utara

margin Rp 323/kg, dan proporsi 95.7 % dengan harga jual Rp 14.389/kg. sedangkan untuk eksportir, rata-rata biaya Rp 250/kg, rata-rata margin Rp 400/kg dengan proporsi 100 % dan harga jual Rp 15.039/kg.

Selain itu, dalam Analisis Keunggulan Bersaing Kopi Arabika Gayo Organik di Indonesia oleh Christina Mutiara TM Silitonga, diperoleh hasil bahwa keadaan pasar tidak efisien pada tingkat petani. Ini dilihat dari margin yang diperoleh petani kopi arabika Bener Meriah sebesar Rp 1.270, dimana ini lebih rendah 317 dibandingkan dengan petani kopi arabika Aceh Tengah yaitu Rp 1.587, dan mata rantai tata niaga kopi arabika di Bener Meriah yang lebih panjang jika dibandingkan dengan mata rantai kopi arabika di Aceh tengah yaitu melalui 4 tingkatan, petani-kolektor-koperasi-eksportir. Di Aceh Tengah, petani

mengeluarkan biaya sebesar Rp 2.060, margin Rp 1.587, harga jual petani kepada kolektor Rp 14.187. Untuk kolektor, biaya yang dikeluarkan Rp 320, margin Rp 363, harga jual kolektor kepada eksportir Rp 14.870. Untuk eksportir, biaya yang dikeluarkan Rp 2.850, margin Rp 21.916, dan harga yang dijual eksportir adalah Rp 39.536. Sedangkan untuk Bener Meriah, petani mengeluarkan biaya Rp 2.060, margin Rp 1.270, harga jual petani ke kolektor Rp 13.870. Untuk kolektor, biaya yang dikeluarkan Rp 320, margin Rp 260, harga jual kepada koperasi Rp 14.450. Untuk koperasi, biaya yang dikeluarkan Rp 1.500, margin Rp 4.639, dan harga jual kepada eksportir Rp 20.589. Sedangkan untuk eksportir, biaya yang dikeluarkan Rp 1.350, margin Rp 14.285, dan harga jual Rp 36.224. Pada penelitian ini, teknik pengambilan sampel dilakukan dengan metode snowball dan dikombinasikan dengan purposive. Penelitian dilaksanakan selama 3 bulan yaitu Agustus-November 2008 dengan pemilihan lokasi dilakukan dengan

Universitas Sumatera Utara

secara sengaja (purposive). Populasi sebagai narasumber dalam penelitian ini adalah petani kopi arabika, kolektor, pedagang, koperasi, perusahaan eksportir, AEKI, ICO dan pemerintah. Dalam Analisis Saling Pengaruh Harga Kopi Indonesia dan Dunia oleh Budiman Hutabarat yang menggunakan uji Kausalitas Granger untuk mengetahui hubungan saling pengaruh (kausalitas) antar pasar, diperoleh hasil bahwa tidak ada satupun harga di dalam negeri seperti HPBRI (harga bulanan kopi robusta di tingkat produsen Indonesia), HRBJTM dan HRKJTM (harga bulanan kopi robusta olah basah dan olah kering di Jawa Timur), HRTLPG (harga bulanan kpi ditingkat produsen Lampung) yang berpengaruh terhadap HEBKJP (harga eceran kopi di Jepang) atau sebaliknya. Oleh karena itu, meskipun Jepang mengimpor kopi dalam jumlah yang besar dari Indonesia, hubungan kedua pasar ini tidaklah terlalu kuat. Sedangkan untuk HEBKAS (harga eceran kopi di Amerika Serikat) terlihat adanya saling pengaruh dengan harga kopi tingkat produsen Indonesia (HPBRI) dan harga kopi robusta olah basah Jawa Timur (HRBJTM), dan hanya pengaruh searah dari harga kopi robusta olah kering di Jawa Timur (HRKJTM) ke HEBKAS (harga eceran kopi di Amerika Serikat). Tampak hubungan yang erat antara pasar kopi Amerika Serikat dengan Jawa Timur. Untuk kasus harga eceran kopi di Jerman (HEBKJM), ada hubungan searah dari HPBRI ke HEBKJM dan dari HEBKJM ke masing-masing harga kopi robusta di tingkat produsen Lampung (HRTLPG). Jadi, tampak bahwa pasar kopi di Jerman berpengaruh pada pasar kopi Lampung.

Universitas Sumatera Utara

Kesimpulan yang sama berlaku untuk pasar Italia, penaruh searah dari harga eceran kopi di Italia (HEBKIT) ke HRTLPG. Sedangkan umtuk harga eceran kopi di Belanda (HEBKNL) terbukti ada saling pengaruh dengan HPBRI dan searah dari HEBKNL ke HRTLPG. Jadi, industri kopi di Eropa barat berhubungan erat dengan industry kopi di Lampung dan kurang erat dengan industri kopi di Jawa Timur. Sebaliknya industri kopi Amerika Serikat berhubungan erat dengan industri kopi di Jawa Timur dan kurang erat dengan industri kopi di Lampung. Penelitian ini dilakukan pada bulan Maret sampai Desember 2003 dengan menggunakan data sekunder dari instansi-instansi terkait yang meliputi harga kopi di dalam negeri di tingkat produsen, pedagang ,ekspor, dan harga eceran konsumen negara pengimpor utama dunia dari tahun 1983 sampai 2003. Fair Trade Fair trade adalah alternatif pendekatan terhadap perdagangan internasional yang berupa model relasi atau kemitraan dalam perdagangan yang mengarah pada tewujudnya pembangunan yang berkelanjutan dari produsen oleh perdagangan internasional. Prinsip-prinsip fair trade adalah upah dan harga yang adil sesuai konteks lokal, partisipasi dalam pengambilan keputusan, kondisi dan praktik kerja yang aman, kesetaraan jender dan keragaman, perlindungan terhadap buruh anak, pengunaan sumber daya alam yang lestari, dan sistem produksi yang berwawasan lingkungan. Untuk mewujudkan keadilan dalam perdagangan dan terwujudnya tataniaga yang lebih efisien, maka upaya yang dilakukan oleh fair trade untuk menjembatani hubungan yang lebih langsung antara produsen dan kosumen adalah :

Universitas Sumatera Utara

a. Memotong jalur tataniaga dan mendirikan rantai tataniaga alternatif. Dengan rantai tataniaga yang lebih efisien memungkinkan produsen dan usaha kecil menikmati marjin yang lebih baik b. Mendorong transparasi informasi pasar. c. Mengorganisasikan produsen dan usaha kecil dalam wadah tataniaga bersama. d. Pengembangan kapasitas organisasi produsen. Landasan Teori Tataniaga Pertanian Dalam Kusnadi, dkk (2009), Schaffner et.al. (1998) mengemukakan pengertian tataniaga dapat ditinjau dari dua perspektif yaitu perspektif mikro dan makro. Dalam perspektif mikro, tataniaga merupakan aspek manajemen dimana perusahaan secara individu, pada setiap tahapan tataniaga dalam mencari keuntungan, melalui pengelolaan bahan baku, produksi, penetapan harga, distribusi dan promosi yang efektif terhadap produk perusahaan yang akan dipasarkan. Perspektif makro menganalisis efisiensi sistem secara keseluruhan dalam penyampaian produk/jasa hingga konsumen akhir atau pemakai, yaitu sistem tataniaga setelah dari petani dengan menggunakan fungsi-fungsi tataniaga atau aktivitas yang diperlukan untuk menyampaikan produk/jasa yang berhubungan dengan nilai guna waktu, bentuk, tempat dan kepemilikan kepada konsumen dan kelembagaan atau perusahaan-perusahaan yang terlibat dalam sistem tataniaga tersebut (pengolah, distributor, broker, agen, grosir dan pedagang eceran).

Universitas Sumatera Utara

Fungsi-fungsi tataniaga dapat dikelompokkan menjadi fungsi pertukaran, fungsi fisik, dan fungsi fasilitas. Fungsi pertukaran merupakan kegiatan yang memperlancar perpindahan hak milik dari barang dan jasa yang dipasarkan. Fungsi pertukaran terdiri atas fungsi penjualan dan fungsi pembelian. Fungsi fisik adalah semua tindakan yang berhubungan dengan barang dan jasa sehingga menimbulkan kegunaan tempat, kegunaan tempat , dan kegunaan waktu. Fungsi fisik meliputi kegiatan penyimpanan, pengolahan, dan pengangkutan. Fungsi fasilitas yaitu semua tindakan yang bertujuan untuk memperlancar kegiatan pertukaran yang terjadi antara produsen dan konsumen. Fungsi fasilitas terdiri dari fungsi standarisasi dan grading, fungsi penanggulangan resiko, funsi pembiayaan, dan fungsi informasi pasar. Saluran dan Lembaga Tataniaga Komoditas pertanian merupakan komoditas yang cepat rusak, maka komoditas pertanian harus cepat diterima oleh konsumen. Kondisi seperti ini memerlukan saluran tataniaga yang relatif pendek. Jika jarak antara produsen dengan konsumen semakin jauh, maka saluran tataniaga yang terbentuk pun akan semakin panjang. Karena adanya perbedaan jarak dari lokasi produsen ke konsumen, maka lembaga tataniaga diharapkan kehadirannya untuk membantu penyampaian barang dari produsen ke konsumen. Oleh sebab itu, dalam hal melancarkan penyampaian dan memindahkan barang-barang dari produsen ke pasar (para konsumen) peranan lembaga-lembaga tataniaga (marketing institutions) adalah demikan besar.

Universitas Sumatera Utara

Lembaga tataniaga merupakan segala usaha yang berkait dalam jaringan lalu lintas barang-barang di masyarakat, seperti halnya jasa-jasa yang ditawarkan oleh agen-agen atau perusahaan dagang, perbankan, perusahaan pengepakan dan peti kemas, perusahaan angkutan, usaha pertanggungan atau asuransi dan lain sebagainya. Perusahaan dagang, perusahaan pengepakan, perusahaan angkutan, perusahaan asuransi, kesemuanya memegang peranan dalam menyampaikan produk-produk itu ke pasar (konsumen) dengan menjamin sampainya produkproduk itu ke konsumen (pasar) tanpa ada kerusakan-kerusakan di samping waktu penyampaiannya yang tepat (Kartasapoetra, 2002). Secara umum, pola saluran tataniaga produk pertanian di Indonesia adalah Petani Tengkulak P.Besar Perantara Pabrik/eksportir

Koperasi

Pengecer

Konsumen Akhir

(Limbong dan Panggabean, 2005) Gambar 1. Pola Saluran Tataniaga Secara Umum Lembaga tataniaga yang membawa produk dan kepemilikannya lebih dekat ke pembeli akhir merupakan satu tingkat saluran. Saluran nol tingkat diartikan sebagai saluran dimana pihak produsen menjual langsung kepada pihak produsen. Saluran satu tingkat mencakup satu lembaga tataniaga seperti pengecer. Saluran dua tingkat mencakup dua lembaga tataniaga seperti pedagang besar dan pengecer. Saluran tiga tingkat mencakup tiga lembaga tataniaga seperti pedagang besar, pemborong, dan pengecer.

Universitas Sumatera Utara

Lembaga tataniaga yang berperan dalam proses penyampaian barang-barang dan jasa dari sektor produsen ke konsumen ini akan melakukan fungsi-fungsi tataniaga yang berbeda-beda pada tiap lembaga tataniaga dimana dalam penyampaian tersebut terdapat biaya tataniaga. Kemampuan menyampaikan hasil-hasil dari petani produsen ke konsumen dengan biaya yang semurah-murahnya dan mampu mengadakan pembagian yang adil dari keseluruhan harga yang dibayar konsumen terakhir kepada semua pihak yang ikut serta di dalam kegiatan produksi dan tataniaga barang itu merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi apabila ingin dianggap efisien dalam sistem tataniaga (Mubyarto,2002). Efisiensi Tataniaga Efisiensi tata niaga adalah maksimisasi penggunaan rasio input-output, yaitu mengurangi biaya input tanpa mengurangi kepuasan konsumen terhadap barang atau jasa. Kemampuan menyampaikan hasil-hasil dari petani produsen ke konsumen dengan biaya yang semurah-murahnya dan mampu mengadakan pembagian yang adil dari keseluruhan harga yang dibayar konsumen terakhir kepada semua pihak yang ikut serta di dalam kegiatan produksi dan tataniaga barang itu merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi apabila ingin dianggap efisien dalam sistem tataniaga. Menurut Soekartawi (2002) efisiensi tataniaga dapat terjadi jika : 1. Biaya tataniaga dapat ditekan sehingga keuntungan tataniaga dapat lebih tinggi. 2. Persentase perbedaan harga yang dibayarkan konsumen dan produsen tidak terlalu tinggi.

Universitas Sumatera Utara

3. Tersedianya fasilitas fisik tataniaga Menurut Mubyarto (2002) efisiensi tataniaga dapat terjadi jika : 1. Mampu menyampaikan hasil-hasil dari petani produsen kepada konsumen dengan biaya semurah-murahnya 2. Mampu mengadakan pembagian yang adil dari keseluruhan harga yang dibayar konsumen terakhir kepada semua pihak yang ikut serta di dalam kegiatan produksi dan tataniaga barang itu Dalam Sukirno (2002), pasar persaingan sempurna merupakan struktur pasar yang paling efisien dan ideal, karena sistem pasar ini merupakan struktur pasar yang akan menjamin terwujudnya kegiatan memproduksi barang atau jasa yang tinggi efisiensinya. Pasar persaingan sempurna didefenisikan sebagai struktur pasar atau industri dimana terdapat banyak penjual dan pembeli dan setiap penjual dan pembeli tidak dapat mempengaruhi keadaan di pasar. Pada pasar ini para penjual dan pembeli bertindak sebagai penerima harga, sehingga penjual dan pembeli tidak dapat menetapkan harga seenaknya untuk medapatkan keuntungan maksimum. Ini dikarenakan jumlah dan nilai transaksi dari penjual dan pembeli sangat kecil jika dibandingkan dengan jumlah dan nilai output pasar secara keseluruhan, sehingga pembeli dan penjual tidak dapat mempengaruhi harga produk. Harga Kopi Dalam teori ekonomi, yang dimaksud dengan harga adalah pertemuan antara penawaran dan permintaan. Terjadinya atau terciptanya harga adalah akibat adanya proses tawar menawar antara penjual (produsen) dan pembeli (konsumen).

Universitas Sumatera Utara

Penjual menawarkan harga tertentu terhadap komoditinya sesuai dengan pertimbangan-pertimbangan yang telah dilakukan penjual, dan pembeli

menawarkan harga tertentu untuk komoditi bersangkutan sesuai dengan pertimbangan-pertimbangan yang dimiliki pembeli. Bila terjadi kesesuaian harga antara harga yang ditawarkan penjual dengan harga yang diminta pembeli, maka saat itulah terjadi harga pasar dan kemudian transaksi dapat berlangsung (Nugraha, 2006). Menurut Silitonga (2008), harga kopi nasional yang berlaku selama ini merupakan harga kopi nasional yang ditentukan berdasarkan harga kopi internasional sehingga perubahan yang terjadi pada harga kopi internasional akan

mempengaruhi harga nasional, dimana untuk kopi jenis arabika ditentukan di Terminal New York. Dari harga kopi internasional inilah para pengekspor menerima harga dan akan menjadi dasar penentuan harga yang akan ditetapkan kepada pedagang perantara dan secara berantai akhirnya kepada petani produsen. Oleh sebab itu, jika harga kopi di pasar dunia sangat fluktuatif, maka akan berpengaruh pada harga kopi di pasar domestik yang akan berdampak pada harga kopi di tingkat petani. Fluktuasi harga kopi ini dapat disebabkan karena kelebihan pasokan dan siklus produksi. Hal yang sama juga disebutkan oleh Kustiari (2007) dalam jurnal Perkembangan Pasar Kopi Dunia dan Implikasinya Bagi Indonesia, yang mengatakan bahwa kebijakan yang dilakukan pemerintah di bidang harga kopi adalah pemerintah menetapkan harga dasar pembelian kopi bersama-sama dengan pengekspor, sehingga harga kopi di Indonesia lebih ditentukan oleh harga kopi dunia. Ini

Universitas Sumatera Utara

dilakukan agar kopi yang berasal dari Indonesia dapat bersaing dengan negara produsen kopi yang lainnya seperti Kolombia, Brazil dan Vietnam. Kerangka Pemikiran Mata rantai tataniaga dimulai dari petani sebagai produsen yang menghasilkan biji kopi. Petani menjual gelondong kopi kepada pedagang pengumpul kecil di desa. Kemudian biji kopi diolah melalui cara semibasah oleh pengumpul kecil .Dari cara pengolahan ini dihasilkan kopi asalan (ready) yang siap disalurkan ke pedagang pengumpul besar dengan kadar air 18% tanpa proses sortir. Oleh pedagang pengumpul besar, kopi ready disortir atau dipilih secara manual dan akan dijual ke eksportir untuk disalurkan ke luar negeri. Dalam tataniaga yang dilakukan eksportir, biasanya kopi yang diperdagangkan dalam bentuk kopi ready dengan kadar air 12-13%. Setiap lembaga tataniaga yang berperan dalam perjalanan rantai tataniaga tersebut, masing-masing melakukan fungsi-fungsi tataniaga sehingga

menyebabkan terdapatnya biaya tataniaga dimana semakin panjang rantainya maka semakin tinggi biaya keseluruhan yang dikeluarkan sehingga semakin tinggi pula harga yang dibayarkan konsumen. Jika biaya tataniaga dapat ditekan maka efisiensi pemasaran dapat terjadi. Secara sistematis kerangka pemikiran dapat digambarkan pada skema kerangka pemikiran berikut :

Universitas Sumatera Utara

Petani Kopi

Harga Dalam Negeri Harga Luar Negeri

Tataniaga Kopi Arabika

Pedagang Pengumpul I Pengolahan Kopi Beras (Kopi Ready) Saluran dan Fungsi Tataniaga

Pedagang Pengumpul II

Eksportir

Struktur Pasar

Perilaku Pasar

Penampilan Pasar
Keterangan :

Efisiensi Tataniaga
= Saluran

pemasaran = Fungsi pemasaran

Gambar 2. Skema Kerangka Pemikiran

Universitas Sumatera Utara

Hipotesis Harga kopi arabika Desa Beranun Teleden, harga kopi arabika nasional, dan harga kopi arabika Terminal New York mempunyai hubungan saling pengaruh.

Universitas Sumatera Utara