P. 1
Kumpulan Hikayat

Kumpulan Hikayat

|Views: 4,097|Likes:
Dipublikasikan oleh DaraFitriShafira

More info:

Published by: DaraFitriShafira on Apr 18, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/15/2013

pdf

text

original

Hikayat Cabe Rawit

Pada zaman dahulu kala, di sebuah kampung antah berantah, hidulah sepasang suami istri. Mereka merupakan sebuah keluarga yang sangat miskin. Rumahnya dari pelepah daun rumbia yang didirikan seperti pagar sangkar puyuh. Atap rumah mereka dari daun rumbia yang dianyam. Tidak ada lantai semen atau papan di rumah tersebut, kecuali tanah yang diratakan dan dipadatkan. Di sana tikar anyaman daun pandan digelar untuk tempat duduk dan istirahat keluarga tersebut. Demikianlah miskinnya keluarga itu. Rumah mereka pun jauh dari pasar dan keramaian. Namun demikian, suami-istri yang usianya sudah setengah abad itu sangat rajin beribadah. “Istriku,” kata sang suami suatu malam. “Sebenarnya apakah kesalahan kita sehingga sudah di usia begini tua, kita belum juga dianugerahkan seorang anak pun. Padahal, aku tak pernah menyakiti orang, tak pernah berbuat jahat kepada orang, tak pernah mencuri walaupun kita kadang tak ada beras untuk tanak.” “Entahlah, suamiku. Kau kan tahu, aku juga selalu beribadah dan memohon kepada Tuhan agar nasib kita ini dapat berubah. Jangankan harta, anak pun kita tak punya. Apa Tuhan terlalu membenci kita karena kita miskin?” keluh sang istri pula. Matanya bercahaya di bawah sinar lampu panyot tanda berusaha menahan tangis. Malam itu, seusai tahajud, suami-istri tersebut kembali berdoa kepada Tuhan. Keduanya memohon agar dianugerahkan seorang anak. Tanpa sadar, mulut sang suami mengucapkan sumpah, “Kalau aku diberi anak, sebesar cabe rawit pun anak itu akan kurawat dengan kasih sayang.” Entah sadar atau tidak pula, si istri pun mengamini doa suaminya. Beberapa minggu kemudian, si istri mulai merasakan sakit diperutnya. Keduanya tak pernah curiga kalau sakit yang dialami si istri adalah sakit orang mengandung. Tak ada ciri-ciri kalau perut istri sedang mengandung. Si istri hanya merasa sakit dalam perut. Sesekali, ia memang merasakan mual. Waktu terus berjalan. Bulan berganti bulan, pada suatu subuh yang dingin, si istri merasakan sakit dalam perutnya teramat sangat. Bukan main gelisahnya kedua suami-istri tersebut. Hendak pergi berobat, tak tahu harus pergi ke mana dan pakai apa. Tak ada sepeserpun uang tersimpan. Namun, kegelisahan itu tiba-tiba berubah suka tatkala ternyata istrinya melahirkan seorang anak. Senyum sejenak mengambang di wajah keduanya. Akan tetapi, betapa

si anak pun dipelihara hingga besar. Raga pisang pedagang itu nyaris saja menyentuh cabe rawit. si anak yang diberi nama cabe rawit karena tubuhnya memang kecil seperti cabe. Anak itu perempuan.” kata ibu lagi. Singkat cerita. jangan sampai raga pisangmu menghimpit tubuhku yang kecil ini. dia berlari meninggalkan pisang dagangannya. Spontan pedagang pisang menghentikan langkahnya. mugè pisang merasa ketakutan. . yakinlah aku tak kan apa-apa. aku akan pulang. Cabai rawit terus mendesak ibunya agar diizinkan bekerja ke pasar. sang ibu pun akhirnya memberikan izin kepada cabe rawit. Dengan doa ibu. bagaimana? Ibu tak mau terjadi apa-apa pada dirimu. si cabe rawit yang sedang bicara. Ibu. tapi tak dilihatnya seorang pun manusia. ternyata tubuh anak yang baru saja lahir sangat kecil. Sahdan. melintaslah seorang pedagang pisang. Padahal. Tak tahan melihat keadaan orangtuanya. kalau memang aku tidak bisa bekerja.” “Jangan anakku. Sahdan.” kata cabe rawit. “Mugè pisang. seperti cabe rawit. tetap tak ditemukannya sesosok manusia pun. “Ibu aku akan ke pasar.” sahut ibunya. Aku akan bekerja menggantikan ayah. saat kita berdoa bersama bahwa kita bersedia merawat anak kita kelak kalau memang Tuhan berkenan. walaupun sebesar cabe rawit?” hibur sang suami. nanti kalau kau terpijak orang. Belum sampai ke pasar. Tapi. berkata pada ibunnya. Ia kembali melihat ke belakang dan ke samping. Sedangkan si ibu. tubuh anak itu tetap kecil. lalu ke samping. Ia mengira ada makhluk halus. hati-hati. “Mugè pisang. Nanti. Keduanya lalu tersenyum kembali dan menyadari sudah menjadi ibu dan ayah. sebesar cabe rawit. “Aku akan mencoba dahulu. Ibu tak mau kehilangan dirimu. Kendati sudah berumur remaja. “Sudahlah istriku. Bu. pedagang pisang itu tidak melihat keberadaan cabe rawit di sana. tak lama kemudian meninggal dunia. Sampai tiga kali ia mendengar suara dan kalimat yang sama. mugè pisang. izinkan aku mencobanya dahulu. di perempatan jalan. Bertambahlah duka di keluarga itu sejak kehilangan sang ayah. Akhirnya. Kau satu-satunya milik ibu sekarang. Demi kehidupan keluarganya. kau satu-satunya harta yang tersisa di rumah ini.” Terdengar kembali suara serupa di telinga pedagang pisang. tubuhnya mulai lemas dimakan usia. Karena tubuhnya yang mungil. Kerja si ibu pun hanya menangis. jangan sampai raga pisangmu menghimpit tubuhku yang kecil ini.” bujuk cabe rawit berusaha meyakinkan ibunya.” “Anakku. Maka pergilah cabe rawit ke pasar tanpa bekal apa pun. betapa pun dan bagaimana pun keadaannya. suatu ketika si ayah jatuh sakit. Tapi. “Sudahlah. yakinlah kalau aku tidak akan apa-apa. Ia melihat ke belakang. Ingatkah kau setahun lalu. Ia membantu mengangkut dagangan orang untuk mendapatkan sedikit bekal makanan yang akan mereka nikmati bersama. Ibu.terkejutnya suami-istri itu. Aku kan sudah besar. mugè pisang. anak ini adalah anak kita. Aku pasti bisa. hati-hati. sang ayah bekerja mengambil upah di pasar.

Pedagang beras akan meninggalkan berasnya di jalan saat mendengar suara cabe rawit. Daripada diambil orang lain atau dimakan burung. Padahal. “Darimana kau dapatkan pisang-pisang ini. Kalau kepala kampung mau memukul. Pedagang pakaian meninggalkan pakaian dagangannya. Dia tiba-tiba meninggalkan berasnya begitu saja. Pedagang ikan itu juga ketakutan saat mendengar ada suara yang menyapanya. Begitulah hari-hari dilalui cabe rawit. keluarga yang dulunya miskin dan jarang makan enak itu menjadi hidup berlimpah harta. Sementara suara itu kembali terdengar. “Tolong jangan ganggu ibuku.Sepeninggalan mugè pisang. “Tadi pedagang ikan itu tiba-tiba lari meninggalkan ikan-ikannya. “Daripada diambil orang atau dimakan kambing. Suami pun sudah meniggal. terdengarlan suara dari balik pintu.” kata kepala kampung. di janda tetap bungkam. Ia lari lintang pukang meninggalkan ikan-ikan dagangannya. ia mendengar sebuah suara. Selalu saja. “Tadi. marahilah aku. Hatta. Namun. Rawit?” tanya si ibu. Cabe rawit menceritakan kejadian di jalan sebelum ia sempat sampai ke pasar.” kata cabe rawit kepada ibunya saa sang ibu bertanya darimana ia mendapatkan ikan.” kata suara tersebut. itu suara cabe rawit yang tidak kelihatan karena tubuhnya yang teramat mungil. Ia melihat ke sekeliling. Ibuku pasti menangis nanti. si cabe rawit kembali minta izn untuk ke pasar. Maka pulanglah cabe rawit sembari membawa beberapa ikan semampu ia papah. Ketika cabe rawit hendak ke pasar. pedagang emas pun pernah melakukan hal itu. cabe rawit pulang sambil membawa sedikit beras yang sudah ditinggalkan oleh pedagang tersebut. akhirnya pedagang beras lari pontang-panting ketakutan. dia berpapasan dengan para pedagang. kubawa pulang untuk kita makan. Bu. Keesokan harinya. pulanglah cabe rawit membawa pisang yang sudah ditinggalkan mugè itu. Didatangilah rumah janda miskin tersebut. hal serupa kembali terjadi. Berhentilah pedagang beras tersebut karena terkejut. Setelah mendengar suara tersebut berulang-ulang.” kata sara itu. kau tidak memiliki siapa-siapa. Orang-orang kampung pun mulai curiga.” katanya. Si janda hanya diam. Keesokan harinya. Kepala kampung mengulangi pertanyaanya lagi. Namun. Bu. di tengah jalan. Bukankah kita sudah tidak memiliki beras lagi?” jawab cabe rawit. kuambi sedikit. Kita kan sudah lama tidak makan ikan. Karena kepala kampung dan orang-orang kampung di rumah itu sudah mulai marah. . di jalan aku bertemu dengan pedagang beras. si ibu kembali bertanya. Ketika pedagang beras nyaris mendahului si cabe rawit. Kalau kepala kampung mau marah. “Hati-hati sedikit pedagang beras. Aku bawa pulang saja ikan-ikan ini sedikit daripada habis dimakan kucing. di perempatan atau pertengahan jalan. jangan sampai ban sepedamu menggilas tubuhku yang kecil ini. si ibu heran melihat anaknya membawa pisang. Ia mengira ada makhluk halus yang sedang mengintainya. ia bertemu dengan pedagang ikan. aku bawa pulang saja pisang-pisang ini. Heranlah orang-orang sekampung melihat si janda miskin menjadi hidup bergelimang harta. lewatlah pedagang beras dengan sepedanya. tapi tak didapatinya seorang manusia pun. Sesampainya di rumah. Sepeninggalan pedagang beras. pukullah aku. “Bagaimana mungkin kau tiba-tiba hidup menjadi kaya sedangkan kami semua tahu. Sesampainya di rumah. di pertengahan jalan. Ia tidak pernah sampai ke pasar.

Si janda menjelaskan semuanya. pukullah aku. Sang raja dikenal sebagai raja yang bijaksana. Puteri Nila. Aceh Selatan. Singkat cerita. Kecamatan Kluet Selatan. Ia tidak lagi harus pergi ke pasar sehingga membuat orang-orang takut. Tetapi ia terlalu sibuk dengan kepemimpinannya. sebesar cabe. garam. suara yang sama kembali terdengar. Pertengkaran sering terjadi di antara mereka. . ada seorang raja yang memiliki sepuluh orang puteri yang cantik-cantik. Kalau kalian mau memukul. dari belakang pintu. Puteri Sulung bernama Puteri Jambon. ketahuan juga bahwa suara itu dari seorang manusia yang sangat kecil. Akhirnya. Oleh-oleh apakah yang kalian inginkan?” tanya raja. para penduduk sepakat membangun sebuah rumah lebih bagus untuk di janda bersama anaknya. Adik-adiknya dinamai Puteri Jingga. si bungsu Puteri Kuning sedikit berbeda. Akan tetapi. Namun. Ada yang memberikan beras. Mereka tak mau belajar dan juga tak mau membantu ayah mereka. Beberapa kali suara itu terdengar dari arah yang sama. Ditulis oleh Herman RN berdasarkan tuturan lisan Halimah (80-an). Puteri Oranye. tak dijumpainya seorang pun di sana. Sedangkan saat itu. Hidup makmurlah keluarga cabe rawit. Dengan begitu. Puteri-puteri Raja menjadi manja dan nakal. Puteri Hijau. “Aku hendak pergi jauh dan lama.Kepala kampung dan orang-orang yang ada di rumah tersebut terkejut mendengar suara itu. Puteri Merah Merona dan Puteri Kuning. Ia menceritakan tentang sumpah yang pernah ia lafalkan dengan sang suami tentang keinginan punya anak walau sebesar cabe pun. Sebaliknya ia selalu riang dan dan tersenyum ramah kepada siapapun. “Kalau kalian mau marah. Pada suatu hari. Baju yang mereka pun berwarna sama dengan nama mereka. “Aku ingin perhiasan yang mahal. ia tak terlihat manja dan nakal.” kata Puteri Jambon. dan sebagainya. pakaian. Mahfumlah kepala kampung dan penduduk di sana. sehingga anak sang raja diasuh oleh inang pengasuh. Kesepuluh puteri itu dinamai dengan nama-nama warna. Meskipun kecantikan mereka hampir sama. Ia mengumpulkan semua puteri-puterinya. raja hendak pergi jauh. Salah seorang penduduk melihat ke sebalik pintu.” kata suara itu yang tak lain dan tak bukan adalah milik cabe rawit. Suasana berubah menjadi tegang. Ia lebih suka berpergian dengan inang pengasuh daripada dengan kakak-kakaknya. Istri sang raja sudah meninggal ketika melahirkan anaknya yang bungsu. Puteri Kelabu. karena itu ia tidak mampu untuk mendidik anak-anaknya. marahilah aku. Mereka hanya suka bermain di danau. seorang warga Ujung Pasir. Hikayat Bunga Kemuning Dahulu kala. setiap penduduk berkenan memberikan keluarga cabe rawit apa pun setiap hari. sang raja yang sudah tua dapat mengenali mereka dari jauh.

” kata Puteri Kuning dengan lemah lembut. Puteri Kuning sangat sedih melihatnya karena taman adalah tempat kesayangan ayahnya. pelayan tak sempat membersihkan taman istana. “Kalian ini sungguh keterlaluan. Kita mandi di danau saja!” ajak Puteri Nila. tak mengapa. Puteri Kuning diam saja dan menyapu sampah-sampah itu. Mengetahui hal itu. Ketika Puteri Kuning sedang membuat teh. “Sudah ah.” ucapnya lagi. Kejadian tersebut terjadi berulang-ulang sampai Puteri Kuning kelelahan. para puteri semakin nakal dan malas. sungguh baik perkataanmu. “Yang penting. Anakku yang rajin dan baik budi! Ayahmu tak mampu memberi apa-apa selain kalung batu hijau ini. Tetapi lain halnya dengan Puteri Kuning. “Hai pelayan! Masih ada kotoran nih!” ujar seorang yang lain sambil melemparkan sampah. Tak ada yang ingat pada Puteri Kuning. Tak lama kemudian. raja menjadi sangat sedih. Daun-daun kering dirontokkannya. namun benda itu tak pernah ditemukannya. kembali acak-acakan. rumput liar dicabutnya.” kata Puteri Jingga.” kata sang raja. sementara Puteri Kuning sedang merangkai bunga di teras istana. Semula inang pengasuh melarangnya. apalagi menanyakan hadiahnya. Raja memang sudah mencari-cari kalung batu kuning di berbagai negeri. Karena sibuk menuruti permintaan para puteri yang rewel itu.” kata seorang diantaranya. Tanpa ragu. tertawa keras-keras. “Lihat tampaknya kita punya pelayan baru. “Sudahlah Ayah. Mestinya ayah tak perlu membawakan apa-apa untuk kalian. Batu hijau pun cantik! Lihat. namun Puteri Kuning tetap berkeras mengerjakannya. Puteri Kuning mengambil sapu dan mulai membersihkan taman itu. . sampai ayah mereka pulang. aku hanya ingin ayah kembali dengan selamat. Tentu saja aku akan kembali dengan selamat dan kubawakan hadiah indah buatmu. Kakak-kakak Puteri Kuning yang melihat adiknya menyapu.“Aku mau kain sutra yang berkilau-kilau. Begitulah yang terjadi setiap hari. Bisanya hanya mengganggu saja!” Kata Puteri Kuning dengan marah. “Ayah. Akan kubuatkan teh hangat untuk ayah. kesembilan puterinya masih bermain di danau. Ketika sang raja tiba di istana. Dalam hati ia bisa merasakan penderitaan para pelayan yang dipaksa mematuhi berbagai perintah kakak-kakaknya. Mereka meninggalkan Puteri Kuning seorang diri. raja pun pergi. dan dahan-dahan pohon dipangkasnya hingga rapi. kakak-kakaknya berdatangan. aku bosan. Mereka sering membentak inang pengasuh dan menyuruh pelayan agar menuruti mereka. lalu memegang lengan ayahnya. Ia berpikir sejenak. ayah sudah kembali. Selama sang raja pergi. serasi benar dengan bajuku yang berwarna kuning. Kakak-kakaknya tertawa dan mencemoohkannya. 9 anak raja meminta hadiah yang mahal-mahal pada ayahanda mereka. bukannya warna kuning kesayanganmu!” kata sang raja. “Anakku.” katanya. Taman istana yang sudah rapi. Mereka ribut mencari hadiah dan saling memamerkannya.

Baiklah. tumbuhlah sebuah tanaman di atas kubur Puteri Kuning. Setelah mati pun. “Ayah memberikannya padaku. Tangan kanannya memegang tasbih yang senantiasa berputar setiap waktu di tangannya. berminggu-minggu. berbulanbulan. Mereka lalu sepakat untuk merampas kalung itu. namun ia mengambilnya dari saku ayah.” Biarlah anak-anakku kukirim ke tempat jauh untuk belajar dan mengasah budi pekerti!” Maka ia pun mengirimkan puteri-puterinya untuk bersekolah di negeri yang jauh. bunga-bunga kemuning bisa digunakan untuk mengharumkan rambut. “Aku ini ayah yang buruk. Selain dikenal alim dan taat. Puteri Kuning muncul. Mereka beramai-ramai mengusung Puteri Kuning. Bahkan.Keesokan hari. kuberi nama ia Kemuning.facebook. Rupanya. Puteri Hijau menjadi marah. pukulan tersebut menyebabkan Puteri Kuning meninggal. ia sedang duduk di tempat kerjanya sembari menghisap rokok dengan nikmatnya (sesuai kebiasaan masa itu). Suatu hari. menjaga salat lima waktu dan selalu mengusahakan membaca Al-Qur’an pagi dan petang. Raja sendiri sering termenung-menung di taman istana. Raja sangat marah. karena aku adalah Puteri Hijau!” katanya dengan perasaan iri. Ia segera mencari saudara-saudaranya dan menghasut mereka. Kakak-kakaknya pun diam seribu bahasa. gandrung pada kebenaran. “Kalung itu milikku. Kita harus mengajarnya berbuat baik!” kata Puteri Hijau. Puteri Hijau melihat Puteri Kuning memakai kalung barunya.com Facebook: http://www.” sahut Puteri Kuning. “Tanaman apakah ini? Batangnya bagaikan jubah puteri.” katanya. tersebutlah ada seorang kakek yang cukup disegani. Mendengarnya. Ia punya banyak hal yang menyebabkannya tetap mampu menjaga potensi itu. Kakak-kakaknya menangkapnya dan memukul kepalanya. Batangnya dipakai untuk membuat kotak-kotak yang indah. “Wahai adikku. Dikirim oleh: arnaxxx@ymail. Tentu saja tak ada yang bisa menemukannya.php?ref=name&id=1282807008 Hikayat Seorang Kakek dan Seekor Ular Pada zaman dahulu. Sang raja heran melihatnya. karena ia tak menginginkannya lagi. Tiba-tiba seekor ular besar menghampirinya dengan tergopohgopoh. daunnya bulat berkilau bagai kalung batu hijau. Tak lama kemudian. Puteri Kuning masih memberikan kebaikan. Raja sangat sedih. Sewaktu raja mencari Puteri Kuning. tak ada yang berhasil mencarinya. tak ada yang tahu kemana puteri itu pergi. Ia dikenal takut kepada Allah.com/profile. sedih memikirkan Puteri Kuning yang hilang tak berbekas. sedangkan kulit kayunya dibuat orang menjadi bedak. lalu menguburnya di taman istana. Berhari-hari. ular itu sedang mencoba menghindar dari kejaran seorang laki-laki yang . Sejak itulah bunga kemuning mendapatkan namanya. beribadah wajib setiap waktu. Suatu hari. “Hai para pengawal! Cari dan temukanlah Puteri Kuning!” teriaknya. Puteri Hijau ikut mengubur kalung batu hijau.!” kata raja dengan senang. Tak disangka. bukan kepadamu. bagus benar kalungmu! Seharusnya kalung itu menjadi milikku. ia juga terkenal berotot kuat dan berotak encer. bunganya putih kekuningan dan sangat wangi! Tanaman ini mengingatkanku pada Puteri Kuning. “Astaga! Kita harus menguburnya!” seru Puteri Jingga.

perbuatan baiknya berbuah penyesalan. “Takutnya.” “Ulangi sumpahmu sekali lagi. Ia pasti membunuh saya begitu berhasil menangkap saya. kamu baik sekali jika mau membuka mulut lebar-lebar supaya saya dapat bersembunyi di dalamnya. bisa membedakan mana orang jahat dan mana orang baik. izinkan aku pergi ke suatu tempat yang lapang. kakek pun membuka mulutnya sekira-kira dapat untuk ular itu masuk. setelah mulutku kubuka. “Oh. Setelah selamat. shok dengan kejadian yang tak pernah ia duga sebelumnya. bukankah aku telah menyelamatkanmu. Padahal. mau kumakan hatimu atau kumakan jantungmu? Kedua-duanya sama-sama membuatmu sekarat. kamu aman. saya mohon. Di sana ada sebatang pohon tempatku biasa berteduh. andai Tuhan mengirim orang pandai yang dapat mengeluarkan ular jahat ini dan menyelamatkanku.” pinta si kakek. “kakek kan terkenal suka menolong. pria itu pun pergi. terserah kamu memilih yang mana. Kakek mengaku bahwa ia tak melihat ular yang ditanyakannya dan tak tahu di mana ular itu berada.” Ular mengucapkan sumpah atas nama Allah bahwa ia takkan melakukan itu sekali lagi. Setelah pria itu berada agak jauh. kamu tak tahu apa-apa.” Ular itu hanya menyembulkan kepalanya sedikit. tetapi sekarang aku pula yang hendak kamu bunuh? Terserah kepada Allah Yang Esa sajalah.” panggil ular itu benar-benar memelas. kabulkanlah permintaan saya ini. kamu masuk ke dalamnya dan selamat. orang tua itu berharap.” Sejurus kemudian kakek itu tampak terpaku. jangan-jangan kamu malah mencelakai saya.” Kontan ular itu mengancam. Demi Allah dan demi ayah kakek. Keluarlah dari mulutku. Kakek itu akhirnya kembali bersuara. agar aku dapat pergi sekarang. Sebelum kamu benar-benar membunuhku. “La haula wa la quwwata illa billahi al`aliyyi al-`azhim [tiada daya dan kekuatan kecuali bersama Allah yang Maha Tinggi dan Agung] (ungkapan geram). kamu mengira sudah mengenal lingkunganmu dengan baik. datanglah seorang pria dengan tongkat di tangan. tentu kamu belum lupa pada sambutanku yang bersahabat. Aku ingin mati di sana supaya jauh dari keluargaku. sebagai penolong terbaik. “Kek. Sekarang kuberi kamu dua pilihan. Dia cukup bagiku. “Sebejat apapun kamu. Sejurus kemudian. Kamu bahkan tak bisa membedakan antara makhluk hidup dan benda mati.(kemudian datang menyusulnya) membawa tongkat. kakek lalu berbicara kepada ular: “Kini. Tak berhasil menemukan apa yang dicarinya. mana yang berbahaya bagimu dan mana yang berguna. selamatkanlah saya agar tidak dibunuh oleh laki-laki yang sedang mengejar saya itu. budi baikku kamu balas dengan keculasan.” “Buktinya kamu biarkan saja musuhmu masuk ke mulutmu. Tentunya. Ia menanyakan keberadaan ular yang hendak dibunuhnya itu. padahal semua orang tahu bahwa ia ingin membunuhmu setiap ada kesempatan.” . lalu berujar: “Hmm. Namun.” Ular mengabulkan permintaannya. Tolonglah saya. di dalam hatinya. Usai ular mengucapkan sumpahnya.

Namun. Hanya Allah yang tahu betapa sedihnya kami karena berpisah dengannya. Dia pun marah dan menyuruh orang untuk mencambukku. Aku mulai menenggelamkan diri dalam lautan maksiat. merasakan berbagai aneka penyiksaan. Kami menyadari sepenuhnya perannya dalam menyelamatkan kami dari lumpur kemiskinan sehingga menjadi kaya-raya. si Saudi berpesan: “Waspadalah terhadap setiap fitnah dan dengki karena sekecil apapun musuhmu. Kakek itu girang bukan main sehingga berujar. maka atas izin Zat Yang Maha Hidup dan Maha Berdiri Sendiri (Allah) saya datang menyelamatkanmu.” Kemudian si Saudi memelukku dan memeluk anakku. Laksanakanlah rencanamu. Tak sedetikpun saya lewatkan kecuali saya meminta kepada Zat yang menghamparkan bumi ini dan menjadikan langit begitu tinggi agar segera melepaskan saya dari penjara yang gelap ini dan . Cobalah engkau pandang pohon ini. sedangkan kamu tak punya cara untuk mengeluarkannya kembali.” Anjuran itu kemudian ia amalkan dengan baik sehingga ketika keluar dari mulutnya ular itu telah menjadi bangkai. Maka bebas dan selamatlah kakek itu dari bahaya musuh yang mengancam hidupnya. Orang jahat tidak akan pernah menang karena prilakunya yang jahat. Aku menjadi suka menghambur-hamburkan uang. Pada istriku dia mengucapkan selamat tinggal. ketulusan dan niat hatimu yang suci telah menyebabkan musuhmu dapat masuk ke dalam tubuhmu. Suara itu berujar.” Di akhir ceritanya. Akibatnya. “Suara siapakah yang tadi saya dengar sehingga saya dapat selamat?” Suara itu menyahut bahwa dia adalah seorang penolong bagi setiap pelaku kebajikan dan berhati mulia. Sudah tiga tahun lamanya saya mendekam di penjara ini. belum beberapa hari dia pergi. Kemudian ia menjebloskan aku ke penjara. Setelah membayar begitu banyak sehingga yang tersisa dari hartaku tak seberapa. Wahai orang yang baik rekam jejaknya. Dia juga memintaku untuk membayarkan uang dalam jumlah yang cukup besar sebagai pajak. suatu kali bayaranku berkurang dari biasanya. Ia memaksaku untuk mematuhi perintahnya seraya menebar ancaman. Hikmah-hikmah Sulaiman dan pesan-pesannya mulai kulupakan. ia pasti dapat mengganggumu. Mengingat mereka tidak tahu sumber pendapatanku. penyantun dan pemurah.Setelah sampai dan bernaung di bawah pohon yang dituju. Bunuhlah aku seperti yang kamu inginkan. bersenang-senang dan mabuk-mabukan. tetapi aku menolak. Ia berangkat meninggalkan kami.” Kakek bersujud seketika. para tetangga menjadi cemburu. Kepala kampung memanggilku dan menanyakan dari mana asal kekayaanku. “Saya tahu kamu dizalimi. tanda syukurnya kepada Tuhan yang telah memberi pertolongan dengan mengirimkan seorang juru penyelamat untuknya. mereka lalu mengadukanku kepada kepala kampung.” Tiba-tiba ia mendengar sebuah suara yang mengalun merdu tertuju padanya: “Wahai Kakek yang baik budi. silakan lakukanlah keinginanmu. Mereka iri melihat hartaku yang begitu banyak. ia berujar pada sang ular: “Sekarang. aku sudah mulai berubah. Satu persatu nasehatnya kuabaikan. Ambil daunnnya beberapa lembar lalu makan. Moga Allah sentiasa membantumu.

memulangkan saya pada isteri dan anak-anak saya. Khalifah lalu menceritakan apa yang sudah dilakukannya. Khalifah lalu kembali ke istananya yang terletak di pinggir sungai Tigris. selama matahari masih terbit dan selama burung masih berkicau. agar Khalifah Amirul Mukminin senantiasa bermarwah dan berbahagia. Ia mengucapkan terima kasih dan memuji Khalifah karena telah berbuat baik. tt. Affandi Wahbah (Penerjemah). tentu saja. Sumber: Mansur. Baginda yang agung dan menghukum dengan penuh pertimbangan. Khalifah menjadi terkejut dan sedih mendengar ceritanya. Diterjemahkan kembali oleh Misran. Zubaidah pun senang mendengarnya. Zubaidah juga mendoakan agar Khalifah panjang umur. Namun. Ia pun memanjatkan doa dengan khusyu kepada Allah. Mesir: Dar al-Hilal. Alfu Yaum wa Yaum. Para napi di penjara Baghdad semakin banyak mendoakan agar Khalifah berumur panjang setelah Khalifah meninggalkan harta yang cukup banyak buat mereka. . saya takkan dapat keluar tanpa budi baik dari Baginda Rasyid. satusatunya Dzat yang disembah. hal 38-40. Di istana telah menunggu siti Zubaidah. Khalifah pun memerintahkan agar ia dibebaskan dan dibekali sedikit uang pengganti dari kerugian yang telah ia derita dan kehinaan yang dialaminya.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->