Anda di halaman 1dari 3

Kepada Redaksi KR di Yogyakarta Melalui email ini, saya kirimkan sebuah artikel yang dapat dimuat di Koran KR.

Berikut identitas saya : Nama Pekerjaan Mobil Phone Email Website No Rek : Sabar Nurohman, M.Pd : Dosen Jurusan Pendidikan Fisika, FMIPA UNY : 081328599185 : sabarnurohman@yahoo.com : SabarNurohman.Com : Bank BPD DIY Syariah No 500-262-000004490-1 a.n Sabar Nurohman

Sebagai dosen di UNY, saya punya minat melakukan kajian-kajian di seputar persoalan pendidikan. Minggu-minggu ini dan beberapa bulan ke depan, masyarakat akan dihadapkan pada agenda rutin tahunan di bidang pendidikan, yaitu UN. Oleh karena itu saya buat kajian tentang UN, semoga dapat diterbitkan. Terimakasih.

UN: Dilema yang tak Berkesudahan


Bulan-bulan ini merupakan waktu yang cukup menegangkan terutama bagi peserta didik kelas IX SMP/MTs maupun peserta didik kelas XII SMA/MA. Pasalnya, nasib mereka akan segera ditentukan dalam Ujian Nasional. Perasaan tegang juga menghinggapi guru maupun orang tua. Bagaimana tidak tegang, proses belajar mereka selama tiga tahun, 60% nya akan ditentukan dalam 3-5 hari saja. Hal itu karena nilai UN memiliki bobot 60 % sebagai penentu kelulusan, sedangkan 40% lainnya ditentukan oleh Nilai Ujian Sekolah dan Nilai Rata-rata rapor. Sebagaimana yang kita baca, dengar atau kita lihat di banyak media, di negeri ini paling tidak ada tiga pandangan berbeda tentang UN. Sebagaian kelompok menganggap UN memang harus ada untuk alasan standardisasi pendidikan secara nasional. Sebagian yang lain menganggap UN tidak manusiawi, karena nasib peserta didik hanya ditentukan oleh 35 mata pelajaran dalam waktu 3-5 hari saja. Sedangkan kelompok ketiga adalah mereka yang apatis dan tidak melibatkan diri dalam diskursus tentang UN ini. Sebagai pendidik, saya akan mencoba melihat UN secara obyektif-proporsional. Sebenarnya fenomena UN bukanlah fenomena yang sama sekali baru. Sejak sistem pendidikan di negeri ini dibangun, sudah ada mekanisme evaluasi belajar tahap akhir yang dilakukan secara nasioanl. Bahkan di masa lalu hal ini juga diberlakukan di dunia perguruan tinggi dengan adanya Ujian Negara. Di zaman Orde Baru ada Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (EBTANAS), bahkan saat itu mata pelajaran yang diujikan lebih banyak. Untuk tingkat SD saja ada lima mata pelajaran, yakni Bahasa Indonesia, PMP, MTK, IPA dan IPS. Ketika di SMP ditambah lagi dengan Bahasa Inggris, sedangkan di tingkat SMA, untuk jurusan IPA, ditambah mata pelajaran Fisika, Kimia dan Biologi. Nilai yang diperoleh dari ujian ini disebut sebagai Nilai Ebtanas Murni (NEM) dan merupakan angka-angka sacral yang sangat menentukan bagi kelanjutan studi peserta didik yang bersangkutan. Pasca reformasi, EBTANAS diubah menjadi UNAS, UN pernah juga menggunakan istilah UAN. Bedanya, mata pelajaran yang diujikan secara nasional dibuat lebih sedikit dan ada pengetatan dalam menentukan standar kelulusan. Sampai pada titik ini, seolah UN tidak menyimpan masalah karena ia hanya meneruskan tradisi di masa lalu (EBTANAS). Benarkah demikian? Benarkah UN memang harus ada? Benarkah kebijakan UN telah berada pada jalur yang benar dalam menyiapkan anak didik untuk menghadapi masa depan? Benarkah UN sudah dilaksanakan dengan mempertimbangkan filosofi dasar pendidikan? Menurut UU Sisdiknas Tahun 2003, Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Coba kita baca berulang-ulang paragraf di atas, lalu jawablah dengan sejujurnya, sudah benarkah kebijakan UN ini? Benarkah UN dapat dijadikan sebagai alat evaluasi untuk mengukur ketercapaian tujuan pendidikan nasional? Benarkah UN yang ada sekarang dapat menciptakan kultur belajar yang memungkinkan bagi tumbuhnya iman, kecakapan,

kreativitas ? Atau justru kebijakan UN membawa dampak yang negatif dan cenderung bertentangan dengan tujuan pendidikan nasional? Alih-alih menghasilkan peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab, UN telah membawa guru dan peserta didik pada situasi belajar yang tidak menyenangkan, situasi belajar yang membodohkan, diwarnai dengan drill and practice soal-soal ujian, terjebak pada tryout, tanpa harus memaknai suatu bangunan ilmu secara mendalam, bahkan tidak jarang justru memunculkan ragam kreasi kecurangan. Jika kita melihat situasi belajar para peserta didik, terutama di kelas IX dan XII, sungguh sangat menyedihkan. Para guru dipaksa (oleh sistem) untuk tidak lagi mengajarkan ilmu pengetahuan kepada para peserta didik. Ketika di dalam kelas, guru lebih banyak menyampaiakan tentang bagaimana cara mengerjakan sebuah soal agar para peserta didik dapat lulus UN. Pada titik ini terlihat dengan jelas bahwa UN justru merupakan variabel penghambat kemajuan kualitas peserta didik. Guru pada akhirnya tidak lagi memperhatikan proses pembelajaran, karena orientasinya pada hasil UN. Akibatnya pembelajaran berlangsung secara tidak bermakna, hanya diisi drill soal yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan penguasaan ilmu pengetahuan. Peserta didik pada akhirnya tidak peduli apakah dia telah mengilmui suatu pemahaman konsep atau belum, yang penting bagi mereka adalah mampu mengerjakan soal dengan benar, tanpa mempedulikan makna sebuah konsep. Jika itu yang terjadi, maka lupakan saja tentang iman, takwa, akhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab sebagai hasil yang ingin disasar oleh pendidikan nasional. Hal ini karena secara praksis pendidikan nasional telah memposisikan diri sebagai pabrik pencetak robot yang siap dioperasikan untuk melaksanakan program-program tertentu, namun otaknya tidak lagi berfungsi untuk mencerna setiap realitas kekinian apalagi kemasadepanan. Otak para peserta didik telah dipasung oleh sebuah hantu bernama Ujian Nasional. Pada situasai sepeti ini, apakah dunia pendidikan kita dapat menghantarkan anakanak muda bangsa menuju masa depannya, sebuah era yang jauh lebih kompleks daripada yang kita alami sekarang. Ketimbang mengeluarkan banyak biaya untuk pelaksanaan ujian nasional, lebih baik Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan fokus pada usaha untuk memastikan bahwa Standar Proses Pembelajaran telah berlangsung dengan baik. Sebagaimana kita ketahui, pemerintah telah mengeluarkan Permendiknas No 41 Tahun 2007 tentang Standar Proses pembelajaran. Permendiknas tersebut telah mengatur dengan sangat baik, bagaimana seharusnya guru mengajar, mulai dari aspek persiapan, pelaksanaan dan evaluasi. Saya yakin, jika standar proses ini dilaksanakan dengan baik oleh para guru, maka dengan sendirinya kita akan mendapati hasil proses pembelajaran yang baik pula. Bukan hanya siswa yang pandai mengerjakan soal, namun mereka yang memiliki kesiapan menghadapi tantangan global.