Anda di halaman 1dari 17

Filsafat Timur

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


Belum Diperiksa

Filosofi

Cabang[tampilkan] Zaman[tampilkan] Tradisi[tampilkan] Filsuf[tampilkan] Sastra[tampilkan] Daftar[tampilkan]


Portal l b s

Filsafat Timur merupakan sebutan bagi pemikiran-pemikiran filosofis yang berasal dari dunia Timur atau Asia, seperti Filsafat Cina, Filsafat India, Filsafat Jepang, Filsafat Islam, Filsafat Buddhisme, dan sebagainya. Masing-masing jenis filsafat merupakan suatu sistem-sistem pemikiran yang luas dan [1] plural. Misalnya saja, filsafat India dapat terbagi menjadi filsafat Hindu dan filsafat Buddhisme, [2] sedangkan filsafat Cina dapat terbagi menjadi Konfusianisme dan Taoisme. Belum lagi, banyak terjadi pertemuan dan percampuran antara sistem filsafat yang satu dengan yang lain, misalnya Buddhisme [2] berakar dari Hinduisme, namun kemudian menjadi lebih berpengaruh di Cina ketimbang di India. Di sisi [1] lain, filsafat Islam malah lebih banyak bertemu dengan filsafat Barat. Akan tetapi, secara umum dikenal empat jenis filsafat Timur yang terkenal dengan sebutan "Empat Tradisi Besar" yaitu Hinduisme, [3] Buddhisme, Taoisme, dan Konfusianisme. Filsafat Timur memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan filsafat Barat, yang mana ciri-ciri agama terdapat juga di dalam filsafat Timur, sehingga banyak ahli berdebat mengenai dapat atau tidaknya pemikiran [4][2] Timur dikatakan sebagai filsafat. Di dalam studi post-kolonial bahkan ditemukan bahwa filsafat Timur dianggap lebih rendah ketimbang sistem pemikiran Barat karena tidak memenuhi kriteria filsafat menurut [5] filsafat Barat, misalnya karena dianggap memiliki unsur keagamaan atau mistik. Akan tetapi, sekalipun di antara filsafat Timur dan filsafat Barat terdapat perbedaan-perbedaan, namun tidak dapat dinilai mana [2][6] yang lebih baik, sebab masing-masing memiliki keunikannya sendiri. Selain itu, keduanya diharapkan [2] dapat saling melengkapi khazanah filsafat secara luas.
Daftar isi
[sembunyikan]

1 Pemikiran Timur sebagai Filsafat

1.1 Keberatan-Keberatan

o o

1.2 Pemikiran Timur memenuhi Definisi Filsafat 1.3 Pemikiran Timur memenuhi Kriteria Filsafat

2 Perbedaan dengan Filsafat Barat

o o o o

2.1 Pengetahuan 2.2 Sikap Terhadap Alam 2.3 Cita-cita Hidup 2.4 Status Manusia

3 Lihat Juga 4 Referensi 5 Pranala luar

[sunting]Pemikiran

Timur sebagai Filsafat

[sunting]Keberatan-Keberatan Banyak ahli tidak melihat pemikiran Timur sebagai filsafat melainkan sebagai agama, karena dianggap [2] tidak rasional, tidak sistematis dan tidak kritis. Kriteria radikal (berpikir secara mendalam), sistematis, [2] dan kritis berasal dari filsafat Barat. Selain itu, pemikiran Timur seringkali diterima begitu saja oleh para penganutnya tanpa suatu kajian kritis; mereka hanya menafsirkan, berupaya memahami, dan kemudian [2] mengamalkannya. Akan tetapi, sebenarnya hal itu tidak bisa menjadi kriteria untuk menentukan pemikiran Timur digolongkan sebagai filsafat atau tidak, sebab seringkali kategorisasi 'filsafat' dan bukan [2] 'filsafat' ditentukan oleh 'Barat' yang memaksakan kriteria-kriterianya terhadap 'Timur'. Pemikiranpemikiran Timur banyak yang memiliki kedalaman, bersifat analitis, dan kritis, bahkan melebihi pemikiran [2] Barat, misalnya seperti Konfusius, Lao Tzu, dan Siddharta Gautama. [sunting]Pemikiran

Timur memenuhi Definisi Filsafat


[2]

Definisi menurut asal kata filsafat adalah cinta kepada kebenaran. Dilihat dari definisi filsafat, sebenarnya pemikiran Timur dapat dikategorikan sebagai filsafat, sejauh filsafat Timur merupakan usaha manusia untuk memperoleh kebenaran, yang didasarkan pada rasa cinta akan kebenaran itu [2] sendiri. Pengetahuan akan kebenaran selalu berkaitan dengan kebijaksanaan dan mengandung dua unsur, yakni pengetahuan akan kebaikan tertinggu dan tindakan untuk mencapai kebaikan [2] [2] tertinggi. Pengetahuan dan tindakan haruslah hadir di dalam diri seorang yang bijaksana. Kedua hal ini ada di dalam pemikiran sejumlah pemikir Timur seperti Lao Tzu, Konfusius, Siddharta Gautama, para [2] filsuf Hindu, dan para filsuf Islam, sehingga pemikiran mereka dapat disebut filsafat Timur. [sunting]Pemikiran

Timur memenuhi Kriteria Filsafat

Selain melalui definisi, filsafat Timur juga dapat memenuhi kriteria-kriteria sebuah filsafat seperti yang [2] lazim menjadi kriteria filsafat Barat, yakni kritis, sistematis, dan radikal Tentu saja ada perbedaan cara [2] dengan yang dipahami oleh filsafat Barat. Aspek kritis dapat dipenuhi bila pemikiran-pemikiran yang [2] telah ada diolah secara kritis dan terbuka terhadap modifikasi. Pengolahan dilakukan melalui dialog, [2] diskusi, adu argumentasi, dan kesiapan untuk membuka diri terhadap pemikiran baru. Aspek sistematis sebenarnya telah ada di dalam pemikiran-pemikiran Timur, dan dapat berbeda-beda antara satu [2] pemikiran dengan pemikiran lainnya. Misalnya filsafat Cina didasarkan pada konstruksi kronologis,

mulai dari penciptaan alam hingga meninggalnya manusia. Di sini, yang penting terdapat alur yang runut dalam setiap sistem pemikiran, ada masalah yang jelas, ada proses pengolahan informasi sebagai [2] upaya penyelesaian masalah, dan ada solusi bagi masalah tersebut. Mengenai sifat radikal dalam arti [2] mendalami obyeknya, hal itu juga telah lama berakar pada pemikiran Timur. Siddharta Gautama, misalnya, mencoba menggali hakikat hidup sampai sedalam-dalamnya, melakukan pembaruan terhadap [2] sistem India yang sudah ada, dan membentuk sistem baru yang dikenal sebagai Buddhisme. [sunting]Perbedaan

[2]

dengan Filsafat Barat

Filsafat Barat dan Filsafat Timur tampak amat berbeda sebab berkembang di dalam budaya yang amat berbeda, dan sepanjang sejarah tidak terlalu banyak pertemuan di antara keduanya, kecuali di dalam [1] [1] filsafat Islam. Meskipun demikian, bukan berarti tidak ada persamaan di antara keduanya. [sunting]Pengetahuan Filsafat Barat sejak masa Yunani telah menekankan akal budi dan pemikiran yang rasional sebagai pusat [6] kodrat manusia. Filsafat Timur lebih menekankan hati daripada akal budi, sebab hati dipahami sebagai [6] instrumen yang mempersatukan akal budi dan intuisi, serta intelegensi dan perasaan. Tujuan utama berfilsafat adalah menjadi bijaksana dan menghayati kehidupan, dan untuk itu pengetahuan harus [6] disertai dengan moralitas. [sunting]Sikap

Terhadap Alam

Filsafat Barat menjadikan manusia sebagai subyek dan alam sebagai obyek sehingga menghasilkan [6] eksploitasi berlebihan atas alam. Sementara itu, filsafat Timur menjadikan harmoni antara manusia [6] dengan alam sebagai kunci. Manusia berasal alam namun sekaligus menyadari keunikannya di tengah [6] alam. [sunting]Cita-cita

Hidup

Jikalau filsafat Barat menganggap mengisi hidup dengan bekerja dan bersikap aktif sebagai kebaikan [6] tertinggi, cita-cita filsafat Timur adalah harmoni, ketenangan, dan kedamaian hati. Kehidupan [6] hendaknya dijalani dengan sederhana, tenang, dan menyelaraskan diri dengan lingkungan. [sunting]Status

Manusia

Filsafat Barat amat menekankan status manusia sebagai individu dengan segala kebebasan yang ia miliki, dan masyarakat tidak bisa menghilangkan status seorang manusia dengan [6] kebebasannya. Filsafat Timur menekankan martabat manusia tetapi dengan penekanan yang berbeda, [6] sehingga manusia ada bukan untuk dirinya melainkan ada di dalam solidaritas dengan sesamanya. [sunting]Lihat Filsafat Filsafat Hindu Filsafat Buddha Konfusianisme Taoisme Zen Filsafat Persia

Juga

Filsafat Islam Filsafat Jepang Filsafat Korea

[sunting]Referensi
a b c d

1. 2.

^ ^

(Inggris)Oliver Leaman. 2000. Eastern Philosophy: Key Readings. London: Routledge.

a b c d e f g h i jk l mn o p q r s t u v w x

Bagus Takwin. 2003. Filsafat Timur: Sebuah Pengantar ke Dalam

Pemikiran-Pemikiran Timur. Yogyakarta: Jalasutra. 3. ^ (Inggris)Jay Stevenson. 2000. The Complete's Idiot's Guide to Eastern Philosophy. Macmillan: Alpha Books. 4. 5. ^ (Inggris)Ray Billington. 1997. Understanding Eastern Philosophy. London: Routledge. ^ (Inggris)Richard King. 1999. Orientalism and Religion: Postcolonial theory, India and the mystic East. London: Routledge. 6. ^
a b c d e f g h i jk

Tim Redaksi Driyarkara. 1993. Jelajah Hakikat Pemikiran Timur. Jakarta: Gramedia

Pustaka Utama.

Filsafat
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Filsafat adalah studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis dan [1] dijabarkan dalam konsep mendasar. Filsafat tidak didalami dengan melakukan eksperimen-eksperimen dan percobaan-percobaan, tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi tertentu. Akhir dari proses-proses itu dimasukkan ke dalam sebuah proses dialektika. Untuk studi falsafi, mutlak diperlukan logika berpikir dan logika bahasa. Logika merupakan sebuah ilmu yang sama-sama dipelajari dalam matematika dan filsafat. Hal itu membuat filasafat menjadi sebuah ilmu yang pada sisi-sisi tertentu berciri eksak di samping nuansa khas filsafat, yaitu spekulasi, keraguan, rasa penasaran dan ketertarikan. Filsafat juga bisa berarti perjalanan menuju sesuatu yang paling dalam, sesuatu yang biasanya tidak tersentuh oleh disiplin ilmu lain dengan sikap skeptis yang mempertanyakan segala hal.
Daftar isi
[sembunyikan]

1 Etimologi 2 Klasifikasi

o o

2.1 Filsafat Barat 2.2 Filsafat Timur

2.2.1 Filsafat Timur Tengah 2.2.2 Filsafat Islam 2.2.3 Filsafat Kristen

3 Munculnya Filsafat 4 Sejarah Filsafat Barat

o o o o

4.1 Klasik 4.2 Abad Pertengahan 4.3 Modern 4.4 Kontemporer

5 Catatan kaki 6 Lihat pula 7 Pranala luar

[sunting]Etimologi Kata falsafah atau filsafat dalam bahasa Indonesia merupakan kata serapan dari bahasa Arab

, yang juga diambil dari bahasa Yunani; philosophia. Dalam bahasa ini, kata

ini merupakan kata majemuk dan berasal dari kata-kata (philia = persahabatan, cinta dsb.) dan (sophia = "kebijaksanaan"). Sehingga arti harafiahnya adalah seorang pencinta kebijaksanaan. Kata filosofi yang dipungut dari bahasa Belanda juga dikenal di Indonesia. Bentuk terakhir ini lebih mirip dengan aslinya. Dalam bahasa Indonesia seseorang yang mendalami bidang falsafah disebut "filsuf". [sunting]Klasifikasi

Plato (sebelah kiri) dan Aristotle (kanan), menurut lukisan Raffaelo Sanzio pada tahun 1509

Dalam membangun tradisi filsafat banyak orang mengajukan pertanyaan yang sama , menanggapi, dan meneruskan karya-karya pendahulunya sesuai dengan latar belakang budaya,bahasa, bahkan agama tempat tradisi filsafat itu dibangun. Oleh karena itu, filsafat biasa diklasifikasikan menurut daerah geografis dan latar belakang budayanya. Dewasa ini filsafat biasa dibagi menjadi dua kategori besar menurut wilayah dan menurut latar belakang agama. Menurut wilayah, filsafat bisa dibagi menjadi: filsafat barat, filsafat timur, dan filsafat Timur Tengah. Sementara, menurut latar belakang agama, filsafat dibagi menjadi: filsafat Islam, filsafat Budha, filsafat Hindu, dan filsafat Kristen. [sunting]Filsafat Barat Filsafat Barat adalah ilmu yang biasa dipelajari secara akademis di universitas-universitas di Eropa dan daerah-daerah jajahan mereka. Filsafat ini berkembang dari tradisi filsafat orang Yunanikuno. Tokoh utama filsafat Barat antara lain Plato, Thomas Aquinas, Rne Descartes, Immanuel Kant,Georg Hegel, Arthur Schopenhauer, Karl Heinrich Marx, Friedrich Nietzsche, dan Jean-Paul Sartre. Dalam tradisi filsafat Barat, dikenal adanya pembidangan dalam filsafat yang menyangkut tema tertentu. Metafisika mengkaji hakikat segala yang ada. Dalam bidang ini, hakikat yang ada dan keberadaan (eksistensi) secara umum dikaji secara khusus dalam Ontologi. Adapun hakikat manusia dan alam semesta dibahas dalam Kosmologi. Epistemologi mengkaji tentang hakikat dan wilayah pengetahuan (episteme secara harafiah berarti pengetahuan). Epistemologi membahas berbagai hal tentang pengetahuan seperti batas, sumber, serta kebenaran suatu pengetahuan.

Aksiologi membahas masalah nilai atau norma yang berlaku pada kehidupan manusia. Dari aksiologi lahirlah dua cabang filsafat yang membahas aspek kualitas hidup manusia: etika dan estetika. Etika, atau filsafat moral, membahas tentang bagaimana seharusnya manusia bertindak dan mempertanyakan bagaimana kebenaran dari dasar tindakan itu dapat diketahui. Beberapa topik yang dibahas di sini adalah soal kebaikan, kebenaran, tanggung jawab, suara hati, dan sebagainya. Estetika membahas mengenai keindahan dan implikasinya pada kehidupan. Dari estetika lahirlah berbagai macam teori mengenai kesenian atau aspek seni dari berbagai macam hasil budaya.

[sunting]Filsafat

Timur

Filsafat Timur adalah tradisi falsafi yang terutama berkembang di Asia, khususnya di India, Republik Rakyat Cina dan daerah-daerah lain yang pernah dipengaruhi budayanya. Sebuah ciri khas Filsafat Timur ialah dekatnya hubungan filsafat dengan agama. Meskipun hal ini kurang lebih juga bisa dikatakan untuk Filsafat Barat, terutama di Abad Pertengahan, tetapi di Dunia Barat filsafat an sich masih lebih menonjol daripada agama. Nama-nama beberapa filsuf Timur, antara lain Sidharta Budha Gautama/Budha, Bodhidharma, Lao Tse, Kong Hu Cu, Zhuang Zi dan juga Mao Zedong. [sunting]Filsafat Timur Tengah Filsafat Timur Tengah dilihat dari sejarahnya merupakan para filsuf yang bisa dikatakan juga merupakan ahli waris tradisi Filsafat Barat. Sebab para filsuf Timur Tengah yang pertama-tama adalah orang-orang Arab atau orang-orang Islam dan juga beberapa orang Yahudi, yang menaklukkan daerahdaerah di sekitar Laut Tengah dan menjumpai kebudayaan Yunani dengan tradisi falsafah mereka. Lalu mereka menterjemahkan dan memberikan komentar terhadap karya-karya Yunani. Bahkan ketika Eropa setalah runtuhnya Kekaisaran Romawi masuk ke Abad Pertengahan dan melupakan karyakarya klasik Yunani, para filsuf Timur Tengah ini mempelajari karya-karya yang sama dan bahkan terjemahan mereka dipelajari lagi oleh orang-orang Eropa. Nama-nama beberapa filsuf Timur Tengah adalah Ibnu Sina, Ibnu Tufail, Kahlil Gibran dan Averroes. [sunting]Filsafat Islam Filsafat Islam merupakan filsafat yang seluruh cendekianya adalah muslim. Ada sejumlah perbedaan besar antara filsafat Islam dengan filsafat lain. Pertama, meski semula filsuf-filsuf muslim klasik menggali kembali karya filsafat Yunani terutama Aristoteles dan Plotinus, namun kemudian menyesuaikannya dengan ajaran Islam. Kedua, Islam adalah agama tauhid. Maka, bila dalam filsafat lain masih 'mencari Tuhan', dalam filsafat Islam justru Tuhan 'sudah ditemukan, dalam arti bukan berarti sudah usang dan tidak dibahas lagi, namun filsuf islam lebih memusatkan perhatiannya kepada manusia dan alam, karena sebagaimana kita ketahui, pembahasan Tuhan hanya menjadi sebuah pembahasan yang tak pernah ada finalnya. [sunting]Filsafat Kristen Filsafat Kristen mulanya disusun oleh para bapa gereja untuk menghadapi tantangan zaman di abad pertengahan. Saat itu dunia barat yang Kristen tengah berada dalam zaman kegelapan (dark age). Masyarakat mulai mempertanyakan kembali kepercayaan agamanya.

Filsafat Kristen banyak berkutat pada masalah ontologis dan filsafat ketuhanan. Hampir semua filsuf Kristen adalah teologian atau ahli masalah agama. Sebagai contoh: Santo Thomas Aquinas dan Santo Bonaventura [sunting]Munculnya

Filsafat

Filsafat, terutama Filsafat barat muncul di Yunani semenjak kira-kira abad ke 7 S.M.. Filsafat muncul ketika orang-orang mulai memikirkan dan berdiskusi akan keadaan alam, dunia, dan lingkungan di sekitar mereka dan tidak menggantungkan diri kepada [agama] lagi untuk mencari jawaban atas pertanyaanpertanyaan ini. Banyak yang bertanya-tanya mengapa filsafat muncul di Yunani dan tidak di daerah yang beradab lain kala itu seperti Babilonia, Yudea (Israel) atau Mesir. Jawabannya sederhana: di Yunani, tidak seperti di daerah lain-lainnya tidak ada kasta pendeta sehingga secara intelektual orang lebih bebas. Orang Yunani pertama yang bisa diberi gelar filsuf ialah Thales dari Mileta, sekarang di pesisir barat Turki. Tetapi filsuf-filsuf Yunani yang terbesar tentu saja ialah: Sokrates, Plato dan Aristoteles. Sokrates adalah guru Plato sedangkan Aristoteles adalah murid Plato. Bahkan ada yang berpendapat bahwa sejarah filsafat tidak lain hanyalah Komentar-komentar karya Plato belaka. Hal ini menunjukkan pengaruh Plato yang sangat besar pada sejarah filsafat. Buku karangan plato yg terkenal adalah berjudul "etika, republik, apologi, phaedo, dan krito". [sunting]Sejarah

Filsafat Barat

Sejarah Filsafat Barat bisa dibagi menurut pembagian berikut: Filsafat Klasik, Abad Pertengahan, Modern dan Kontemporer. [sunting]Klasik "Pra Sokrates": Thales - Anaximander - Anaximenes - Pythagoras - Xenophanes - Parmenides - Zeno Herakleitos - Empedocles -Democritus - Anaxagoras

"Zaman Keemasan": Sokrates - Plato - Aristoteles [sunting]Abad

Pertengahan

"Skolastik": Thomas Aquino [sunting]Modern Machiavelli - Giordano Bruno - Francis Bacon - Rene Descartes - Baruch de Spinoza- Blaise Pascal Leibniz - Thomas Hobbes - John Locke- George Berkeley - David Hume - William Wollaston - Anthony Collins - John Toland - Pierre Bayle - Denis Diderot - Jean le Rond d'Alembert- De la Mettrie - Condillac Helvetius - Holbach - Voltaire - Montesquieu - De Nemours - Quesnay - Turgot - Rousseau - Thomasius Ch Wolff- Reimarus - Mendelssohn - Lessing - Georg Hegel - Immanuel Kant - Fichte - Schelling Schopenhauer - De Maistre - De Bonald -Chateaubriand - De Lamennais - Destutt de Tracy - De Volney - Cabanis - De Biran - Fourier - Saint Simon - Proudhon - A. Comte - JS Mill -Spencer Feuerbach - Karl Marx - Soren Kierkegaard - Friedrich Nietzsche - Edmund Husserl [sunting]Kontemporer

Jean Baudrillard - Michel Foucault - Martin Heidegger - Karl Popper - Bertrand Russell - Jean-Paul Sartre - Albert Camus - Jurgen Habermas -Richard Rotry - Feyerabend- Jacques Derrida - Mahzab Frankfurt [sunting]Catatan

kaki

1.

^ Irmayanti Meliono, dkk. 2007. MPKT Modul 1. Jakarta: Lembaga Penerbitan FEUI. hal. 1

[sunting]Lihat

pula

Daftar Istilah Filsafat Daftar Filsuf Filsafat Indonesia

senin, 05 april 2010


Sejarah Filsafat (I) FIlsafat Barat
Manusia, masyarakat, kebudayaan dan alam sekitar memiliki hubungan yg erat. Keempat unsur inilah yg menyusun dan mengisi sejarah filsafat dengan masing-masing karakteristik yg dibawanya. Berdasar keempat hal tersebut pada umumnya filsuf sepakat untuk membagi sejarah filsafat menjadi 3 tradisi besar, yakni Sejarah Filsafat Barat, Sejarah Filasafat Cina dan Sejarah Filsafat India. Berikut ini akan saya ulas perkembangan filsafat ditilik dari kajian sejarahnya...

I.

Sejarah

Filsafat

Barat

1.

Permulaan:

Filsafat

Pra-Sokrates

di

Yunani

Sejarah filsafat Barat dimulai dari sebuah kota bernama Milete (Miletos), di Asia kecil, sekitar tahun 600 S.M. Pada waktu itu Milete merupakan kota yang penting, dimana banyak jalur perdagangan bertemu di Mesir, Yunani, Itali dan Asia. Juga banyak ide serta pemikiran bertemu disini, sehingga Milete juga menjadi suatu pusat intelektual. Pemikir-pemikir besar di Milete menyibukkan diri dengan filsafat alam. Mereka mencari suatu unsur induk ("archi") yg dapat dianggap sebagai asal segala sesuatu. Menurut Thales ( 600 S.M) air-lah yg merupakan unsur induk ini. Menurut Anaximander (610-540 S.M) segala sesuatu berasal dari"yg tak terbatas" dan menurut Anaximenes (585-525 S.M) udaralah yg merupakan unsur induk segala sesuatu. Thales juga berpendapat bahwa bumi terletak diatas air. Tentang bumi, Anaximandros mengatakan bahwa bumi persis berada di pusat jagad raya dg jarak yg sama terhadap semua badan yg lain.

Sedangkan mengenai kehidupan bahwa semua makhluk hidup berasal dari air dan bentuk hidup yg pertama adalah ikan dan manusia pertama tumbuh dalam perut ikan. Sementara Anaximenes dapat dikatakan sebagai pemikir pertama yg mengemukakan persamaan antara tubuh manusia dan jagad raya. Udara dialam semesta ibarat jiwa yg dipupuk dg pernafasan didalam tubuh manusia. Filosof berikutnya yg perlu diperkenalkan pada masa ini yaitu Pythagoras (500 S.M) yg mengajar di Itali Selatan, adalah orang pertama yg menamai diri "fisuf". Ia memimpin suatu sekolah filsafat yg keliatannya sebagai suatu biara dibawah perlindungan dari dewa Apollo. Sekolah Pythagoras sangat penting untuk perkembangan matematika. Ajaran falsafinya mengatakan antara lain pertama dikatakan bahwa jiwa tidak dapat mati. Sesudah kematian manusia, jiwa pindah kedalam hewan dan setelah hewan itu mati jiwa itu pindah lagi dan seterusnya. Tetapi dengan mensucikan dirinya, jiwa dapat selamat dari reinkarnasi tersebut. Ajaran kedua dari penemuannya terhadap intervalinterval utama dari tangga nada yg diekspresikan dg perbandingan terhadap bilangan-bilangan, Pythagoras menyatakan bahwa suatu gejala fisis dikuasai oleh hukum matematis bahkan bahwa segala -galanya terdiri dari"bilangan-bilangan" :struktur dasar kenyataan itu"ritme". Ajaran Pythagoras yg ketiga yaitu mengenai kosmos, Pythagoras menyatakan untuk pertama kalinya, bahwa jagad raya bukanlah bumi melainkan Hestia (api) sebagaimana perapian erupakan pusat dari sebuah rumah. Dua nama lain yg penting dari periode ini adalah Herakleitos (500 S.M) dan Parmenides (515-440 S.M). Herakleitos mengajarkan bahwa api adalah dasar segala sesuatu, api adalah lambang perubahan, karena api menyebabkan kayu atau bahan apa saja beubah menjadi abu sementara apinya sendiri tetap menjadi api. Herakleitos juga berpandangan bahwa didalam dunia alamiah tidak ada satupun yg tetap, segala sesuatu yg ada adalah sedang menjadi. Pernyataannya yg paling populer adalah segala sesuatu 'mengalir" ("panta rhei kai udan menei") : segala sesuatu berubah terus-menerus seperti air dalam sungai tak ada yg tinggal tetap. Sementara Parmenides, filosof pertama yg disebut sebagai peletak dasar metafisika berpendapat bahwa yg ada adalah ada dan yg tidak ada adalah tidak ada. Konsekwensi dari pernyataan ini adalah yg ada 1) satu dan tak terbagi 2) kekal, tidak mungkin ada perubahan 3) sempurna, tidak bisa ditambah atau diambil darinya, 4) mengisi segala tempat, akibatnya tidak mungkin ada gerak sebagaimana klaim Herakleitos. Para filsus diatas pada masanya dikenal sebagai filsuf monisme yaitu pendirian bahwa realitas seluruhnya bersifat satu karena terdiri dari satu unsur saja. Selanjutnya para filsuf yg dikenal sebagai filsuf pluralis pada masa ini, dikarenakan pandanganpandangannya yg menyatakan bahwa realitas terdiri dari banyak unsur. Filsuf pluralis

diantaranya yaitu Empedokles menyatakan bahwa realitas terdiri dari empat rizomata (akar) yaitu : api, udara, tanah dan air. perubahan-perubahan yang terjadi dialam dikendalikan oleh dua prinsip yaitu Cinta (Philotes) dan Benci (Neikos). Empedokles juga menerangkan bahwa pengenalan (manusia) berdasarkan prinsip yg sama mengenal yg sama. Pluralis berikutnya adalah Anaxagoras, yg mengatakan bahwa realitas adalah terdiri dari sejumlah tak terhingga spermata (benih). Berbeda dari Empedokles yg mengatakan bahwa setiap unsur hanya memiliki kualitasnya sendiri seperti api adalah panas dan air adalah basah, Anaxagoras mengatakan bahwa segalanya terdapat dalam segalanya. Karena itu rambut dan kuku bisa tumbuh dari daging. Perubahan yg membuat benih-benih menjadi kosmos hanya berupa satu prinsip yaitu Nus yg berarti roh atau rasio. Nus tidak tercampur dalam benih-benih dan Nus mengenal serta menguasai segala sesuatu. Karena itu, Anaxagoras dikatakan sebagai filsuf pertama yg membedakan antara"yg ruhani" dan "yg jasmani". Pluralis Leukippos dan Demokritos juga disebut sebagai filsuf atomis. Atomisme mengatakan bahwa realitas terdiri dari banyak unsur yg tak dapat dibagi-bagi lagi, karenanya unsur-unsur terakhir ini disebut atomos. Lebih lanjut lagi dikatakan bahwa atom-atom dibedakan melalui tiga cara: (seperti A dan N), urutannya (seperti AN dan NA) dan posisinya (seperti N dan Z). Jumlah atom tidak berhingga dan tidak mempunyai kualitas, sebagaimana pandangan Parmenides atom-atom tidak dijadikan dan tidak kekal. Tetapi Leukippos dan Demokritos menerima ruang kosong sehingga memungkinkan adanya gerak. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa realitas seluruhnya terdiri dari dua hal: yang penuh yaitu atom-atom dan yg kosong. Menurut Demokritos jiwa juga terdiri dari atom-atom. Menurutnya proses pengenalan manusia tidak lain sebagai interaksi antar atom. Setiap benda mengeluarkan eidola (gambaran-gambaran kecil yg terdiri dari atom-atom dan berbentuk sama seperti benda itu). Eidola ini masuk kedalam panca indra dan disalurkan kedalam jiwa yg juga terdiri dari atom-atom eidola. Kualitas-kualitas yg manis, panas, dingin dan sebagainya semua hanya hanya berkuantitatif belaka. Atom jiwa bersentuhan dengan atom licin menyebabkan rasa manis, persentuhan dengan atom kesat menimbulkan rasa pahit sedangkan sentuhan dengan atom berkecepatan tinggi menyebabkan rasa panas dan seterusnya.

2.

Puncak

jaman

Klasik:

Socrates,

Plato,

Aristoteles

Puncak filsafat Yunani dicapai pada Socrates, Plato dan Aristoteles. Filsafat dalam periode ini ditandai oleh ajarannya yg "membumi" dibandingkan ajaran-ajaran filsuf sebelumnya. Seperti dikatakan Cicero (sastrawan Roma) bahwa Socrates telah memindahkan filsafat dari langit keatas bumi. Maksudnya, filsuf pra-Socrates mengkonsentrasikan diri pada persoalan alam

semesta sedangkan Socrates mengarahkan obyek penelitiannya pada manusia diatas bumi. Hal ini juga diikuti oleh para sofis. Seperti telah disebutkan didepan, sofis (sophistes) mengalami kemerosotan makna. Shopistes digunakan untuk menyebut guru-guru yg berkeliling dari kota ke kota dan memainkan peran penting dalam masyarakat. Dalam dialog Protagoras, Plato mengatakan bahwa para sofis merupakan pemilik warung yg menjual barang ruhani.

Socrates (470-400 S.M) guru Plato, mengajar bahwa akal budi harus menjadi norma terpenting untuk tindakan kita. Sokrates sendiri tidak menulis apa-apa. Pikiran-pikirannya hanya dapat diketahui secara tidak langsung melalui tulisan-tulisan dari cukup banyak pemikir Yunani lain, terutama melalui karya plato. Sebagaimana para sofis, Socrates memulai filsafatnya dg bertitik tolak dari pengalaman keseharian dan kehidupan kongkret. Perbedaannya terletak pada penolakan Socrates terhadap relatifisme (pandangan yg berpendapat bahwa kebenaran

tergantung pada manusia) yg pada umumnya dianut para sofis. Menurut Socrates tidak benar bahwa yg baik itu baik bagi warga Athena dan lain bagi warga negara Sparta. Yang baik mempunyai nilai yg sama bagi semua manusia dan harus dijunjung tinggi oleh semua orang. Pendirinya yg terkenal adalah pandangannya yg menyatakan bahwa keutamaan (arete) adlaah pengetahuan, pandangan ini kadang-kadang disebut intelektualisme etis. Dengan demikian Socrates menciptakan suatu etika yg berlaku bagi semua manusia. Sedangkan ilmu pengetahuan Socrates menemukan metode induksi dan memperkenalkan definisi-definisi umum.

Plato (428-348 S.M), hampir semua karya Plato ditulis dalam bentuk dialog dan Socrates diberi peran yg dominan dalam dialog tersebut. Sekurang-kurangnya ada dua alasan mengapa Plato memilih yg begitu. Pertama, sifat karyanya Socratic (Socrates berperan sentral) dan diketahui bahwa Socrates tidak mengajar tetapi mengadakan tanya jawab dg teman-temannya di Athena. Dengan demikian, karya Plato dapat dipandang sebagai monumen bagi sang guru yg

dikaguminya. Kedua, berkaitan dengan anggapan Plato mengenai filsafat. Menurutnya, filsafat pada intinya tidak lain daripada dialog dan filsafat seolah-olah drama hidup yg tidak pernah selesai tetapi harus dimulai kembali. Ada tiga ajaran pokok dari Plato yaitu tentang idea, jiwa dan proses mengenal. Menurut Plato realitas terbagi menjadi dua yaitu inderawi yg selalu berubah dan dunia idea yg tidak pernah berubah. Idea merupakan sesuatu yg obyektif, tidak diciptakan oleh pikiran dan justru sebaliknya pikiran tergantung pada idea-idea tersebut. Ideaidea berhubungan dengan dunia melalui tiga cara; Idea hadir didalam benda, idea-idea berpartisipasi dalam konkret dan idea merupakan model atau contoh (paradigma) bagi benda konkret. Pembagian dunia ini pada gilirannya juga memberikan dua pengenalan. pertama pengenalan tentang idea; inilah pengenalan yg sebenarnya. Pengenalan yg dapat dicapai oleh

rasio ini disebut episteme (pengetahuan) dan bersifat teguh, jelas, dan tidak berubah. Dengan demikian Plato menolak relatifisme kaum sofis. Kedua, pengenalan tentang benda-benda disebut doxa (pendapat) dan bersifat tidak tetap dan tidak pasti; pengenalan ini dapat dicapai dg panca indera. Dengan dua dunianya ini juga Plato bisa mendamaikan persoalan besar filsafat prasocratic yaitu pandangan panta rhei-nya Herakleitos dan pandangan yg ada-ada-nya Parmenides. Keduanya benar, dunia inderawi memang selalu berubah sedangkan dunia idea tidak pernah berubah dan abadi. Memang jiwa Plato berpendapat bahwa jiwa itu baka, lantaran terdapat kesamaan antara jiwa dan idea. Lebih lanjut dikatakan bahwa jiwa sudah ada sebelum hidup di bumi. Sebelum bersatu dg badan, jiwa suda mengalami pra-eksistensi dimana ia memandang idea-idea. Berdasarkan pandangannya ini, Plato lebih lanjut berteori bahwa pengenalan pada dasarnya tidak lain adalah pengingatan (anamnenis) terhadap idea-idea yg telah dilihat pada waktu pra-eksistansi. Ajaran Plato tentang jiwa manusia ini bisa disebut penjara. Plato juga mengatakan, sebagaimana manusia, jagad raya juga memiliki jiwa dan jiwa dunia diciptakan sebelum jiwa-jiwa manusia. Plato juga membuat uraian tentang negara. Tetapi jasanya terbesar adalah usahanya membuka sekolah yg bertujuan ilmiah. Sekolahnya diberi nama"Akademia"yg paling didedikasikan kepada pahlawan yg bernama Akademos. Mata pelajaran yg paling diperhatikan adalah ilmu pasti. Menurut cerita tradisi, di pintu masuk akademia terdapat tulisan:"yg belum mempelajari matematika janganlah masuk disini".

Aristoteles ((384-322 S.M), pendidik Iskandar Agung yg juga adalah murid Plato. tetapi dalam banyak hal ia tidak setuju dengan Plato. Ide-ide menurut Aristoteles tidak terletak dalam suatu "surga" diatas dunia ini, melainkan didalam benda-benda sendiri. Setiap benda terdiri dari dua unsur yang tak terpisahkan, yaitu materi("hyle") dan bentuk("morfe"). Bentuk-bentuk dapat dibandingkan dengan ide-ide dari Plato. Tetapi pada Aristoteles ide-ide ini tidak dapat dipikirkan lagi lepas dari materi. Materi tanpa bentuk tidak ada. bentuk-bentuk"bertindak"didalam materi. bentuk-bentuk memberi kenyataan kepada materi dan sekaligus merupakan tujuan dari materi. Filsafat Aristoteles sangat sistematis. Sumbangannya kepada perkembangan ilmu pengetahuan besa sekali. Tulisan-tulisan Aristoteles meliputi bidang logika, etika, politik, metafisika, psikologi dan ilmu alam. Pokok-pokok pikirannya antara lain bahwa ia berpendapat seseorang tidak dapat mengetahui suatu obyek jika ia tidak dapat mengatakan pengetahuan itu pada orang lain. Spektrum pengetahuan yg diminati oleh Aristoteles luas sekali, barangkali seluas lapangan pengetahuan itu sendiri. Menurutnya pengetahuan manusia dapat disistematiskan sebagai berikut;

Pengetahuan ----------------------------------------------------------------Teoritis Praktis Produktif ----------------------------------------------------------------teologi/metafisik Matematika Fisika Etika Politik Seni -----------------------------------------------------------------Ilmu Hitung Ilmu ukur Retorika

Aristoteles berpendapat bahwa logika tidak termasuk ilmu pengetahuan tersendiri, tetapi mendahului ilmu pengetahuan sebagai persiapan berfikir secara ilmiah. untuk pertama kalinya dalam sejarah, logika diuraikan secara sistematis. Tidak dapat dibantah bahwa logika Aristoteles memainkan peranan penting dalam sejarah intelektual manusia; tidaklah berlebihan bila Immanuel Kant mengatakan bahwa sejak Aristoteles logika tidak maju selangkahpun. Mengenai pengetahuan, Aristoteles mengatakan bahwa pengetahuan dapat dihasilkan melalui jalan induksi dan jalan deduksi, induksi mengandalkan panca indera yg "lemah", sedangkan deduksi lepas dari pengetahuan inderawi. Karena itu dalam logikanya Aristoteles sangat banyak memberi tempat pada deduksi yg dipandangnya sebagai jalan sempurna menuju pengetahuan baru. Salah satu cara Aristoteles mempraktekkan deduksi adalah Syllogismos (silogisme).

3. Pada a. masa ini

Jaman terbagi Jaman atas 4 jaman

Modern yaitu; Renaissance

Jembatan antara Abad pertengahan dan Jaman Modern, periode antara sekitar 1400 dan 1600, disebut quot;renaissance (jaman"kelahiran kembali"). Dalam jaman renaissance, kebudayaan klasik dihidupkan kembali. kesusasteraan, seni dan filsafat mencapai inspirasi mereka dalam warisan Yunani-Romawi. Filsuf-filsuf terpenting dari renaissance adalah Nicollo Macchiavelli (1469-1527), Thomas Hobbes (1588-1679), Thomas More (1478-1535) dan Francis bacon (15611626). Pembaharuan terpenting ada jaman ini terlihat dalam antroposentrisnya. Pusat perjatian pemikiran itu tidak lagi kosmos, seperti dalam jaman kuno atau Tuhan seperti pada jaman Abad Pertengahan, melainkan manusia. Mulai sekarang manusia-lah yg dianggap sebagai titik fokus dari b. Jaman kenyataan. Barok

Filsuf-filsuf dari Jaman Barok; Rene Descartes (1588-1650), Barukh de Spinoza (1632-1677) dan Gottfried Leibniz (1646-1710). Mereka menekankan kemungkinan-kemungkinan akal budi"ratio"

manusia. Mereka semua juga ahli matematika dan mereka semua menyusun suatu sistem filsafat dengan c. menggunakan Jaman metode Fajar matematika. Budi

Abad kedelapanbelas memperlihatkan perkembangan baru lagi. Setelah reformasi, setelah renaissance dan setelah resionalisme dari Jaman Barok, manusia sekarang dianggap dewasa. Periode ini dalam sejarah filsafat barat disebut Jaman pencerahan atau"Fajar Budi" (dalam bahasa Inggris "Enlightenment" dalam bahasa Jerman "Aufklarung"). Filsuf-filsuf besar dari jaman ini di Inggris yaitu Jhon Locke (1632-1704), George Berkeley (1684-1753) dan david Hume (1711-1776). Di Prancis jean Jacque Rousseau (1712-1778) dan di jerman Immanuel Kant (1724-1804), filsuf yg menciptakan suatu sintesis dari rasionalisme dan empirisme dan yg dianggap d. sebagai filsuf terpenting Jaman dari jaman modern. Romantik

Filsuf-filsuf besar dari jaman ini lebih-lebih berasal dari jerman yaitu; J.Fichte (1762-1814), F. Schelling (1775-1854) dan G.W.F. Hegel (1770-1831). Aliran yg diwakili oleh ketiga filsuf ini disebut"idealisme" yg dimaksut disini dengan idealisme adalah bahwa mereka memprioritaskan ide-ide, berlawanan dengan "materialisme" yg memprioritaskan dunia material. Yang terpenting dari para idealis harud dianggap sebagai lanjutan dari filsafat Hegel atau justru sebagai reaksi terhadap filsafat Hegel.

Prolog Untuk menjawab kedua pertanyaan pada tugas pertama ini, perlu kiranya dikemukakan terlebih dahulu dasar pijakan atau landasan sejarah perkembangan filsafat Barat dan Timur. Dengan melacak dasar landasan sejarah keduanya, kita akan dapat melihat persamaan dan perbedaan kedua filsafat tersebut secara lebih utuh sehingga mampu memetakan kea rah mana etika pemerintahan Barat dan Timur dibangun. Landasan (Sejarah) Filsafat Barat Timur Dalam pengantarnya pada buku Filsafat Umum, Ahmad Tafsir (Filsafat Umum, Rosda Karya Bandung; 2000) mengemukakan bahwa Filsafat Timur, yaitu jalur Kristen (pada umumnya) sebagaimana ia jelaskan pada Bab III sampai dengan Bab V pada bukunya, akal (filsafat) dan hati (iman) ternyata selalu bertarung berebut dominasi hendak menguasai jalan hidup manusia. Ringkasnya, sejak Thales sampai kaum sofis akal menang, sejak Socrates sampai menjelang Abad Pertengahan akal dan hati sama-sama menang; pada Abad Pertengahan, hati (iman Kristen) menang; sejak Descartes sampai masa Kant akal menang lagi; sejak Kant sampai sekarang kelihatannya akal dan hati sama-sama memang di Barat. Sekarang, akal dan hati sama-sama menang di Barat. Menurut Harun Nasution, dijalur timur, yaitu di dunia islam (pada uumumnya) keadaanya hampir sama dengan keadaan di Barat. Hamper sama berarti tidak sama. Ketidaksamaan itu sekurang-kurangnya terdapat dalam dua hal; pertama waktunya, kedua sifat dominasinya. Tatkala akal sedang kalah total di Barat, akal sedang dihargai sama dengan hati di Timur. Ini mengenai Waktu. Mengenai sifat dominasi, akal di Timur dihargai, tetapi tidak sampai mendominasi jalan hidup, sehingga menyebabkan masyarakat Timur meninggalkan agama, lalu mengambil Materialisme dan Atheisme. Sedangkan di Barat dominasi akal terlalu besar sehingga orang ada yang mengambil materialisme dan atheisme sementara hati, tatkala mendominasi menentang akal secara total.

Masa kekalahan akal di Barat berlangsung kira-kira sejak tahun 200-an sampai 1600-an. Di Timur akal berjalan bersama-sama dengan hati sejak kedatangan Islam, terutama sejak tahun 80-an sampai tahun 1200-an. Ini adalah tahun-tahun hidupnya Filosof-filosof besar islam jalur rasional seperti Al-Kindi (769873), Al-Razi (863-925), AlFarabi (870-950), Ibnu Sina/Avicenna (980-1037), Al-Ghazali (1059-1111) dan Ibn Rusyid (1126-1198). Ini baru sebagian saja dari daftar nama filosof terkenal dalam islam untuk jalur ini seperti Ibn Bajjah dan Ibn Thufail. Bersamaan dengan perkembangan ini pemikiran jalur bawah, yaitu jalur hati (rasa), juga berkembang. Inilah jalur mistisisme atau tashawuf dalam islam. Tokoh-tokohnya yang besar antara lain islah Rabiah al-Adawiyah (713-801), Zunnun Al-Mishri (wafat tahun 860) dan Ibn Arabi (1165-1240). Jadi perkembangan filsafat Rasional (akal) dan tashawauf rasa (dzauq) terjadi bersama-sama dalam dunia Timur (khususnya Islam). Bersama-sama bukan berarti selalu sependapat, sebab dalam perjalanannya tidak jarang kedua kubu bersilang pendapat. Banyak perbedaan antara pemikiran rasional (filsafat) dan rasa(tashawuf) diantaranya ada yang bersifat prinsip. Akan tetapi perbedaan itu tidak menyebabkan filsafat timur didominasi oleh akal secara total sebagaimana halnya tidak ada juga orang islam yang didominasi oleh hati (rasa) seratus persen. Buktinya ialah tidak ada filosof maupun sufi islam yang meninggalkan iman, apalagi sampai mengambil mengambil bulat-bulat paham Materialisme dan atau Materialisme. Filsafat dan Etika Berangkat dari pemahaman tersebut diatas, kita dapat melihat sejauh mana perbedaan dan persamaan landasan filsafat Barat dan filsafat Timur. Pada filsafat Barat landasan filsafat cenderung berpijak pada kemerdekaan berfikir (independensi), logika rasional dan materialisme. Paham ini terlihat begitu mendominasi perjalanan panjang filsafat Barat, sejak masa Thales, Immanuel Kant, Descartes hingga kini. Sementara bagi filsafat Timur dominasi materialisme dan logika rasional masih berjalan berkelindan dengan rasa (hati mistisisme yang dalam dunia islam disebut sebagai Thasawuf). Sehingga landasan filsafatnya merupakan hasil dialog sintesa dari kitab suci, budaya dan logika rasional. Persamaan keduanya mungkin terlihat dari upaya keduanya dalam mencoba memahamkan logika rasional kedalam filsafat secara utuh. Dengan melihat dasar pijakan keduanya, maka ketika dikaitkan dengan Etika, khususnya Etika Pemerintahan dapat dilihat sejauh mana keduanya mengatur nilai baik dan buruk dalam menyelenggarakan pemerintahan, khususnya bagi pamong negara. Dengan dasar pijakan tersebut etika kemudian mengatur bagaimana para pamong negara berprilaku dan bersikap dalam pemerintahan. Alike MK (NIM : 015791436) Sumber Ahmad Tafsir, 2000, Filsafat Umum, Bandung ; Rosda Karya Bertens, K., 1989, Sejarah Filsafat, Yogyakarta ; Kanisius Haedar Nashir, 1990, Agama dan Krisis Kemanusiaan Modern, Bandung; Pustaka Harun Nasution, 1982, Akal dan Wahyu, Jakarta; Universitas Indonesia Ira M. Lapidus, 2001, Sejarah Sosial Ummat Islam, Jakarta ; Mundiri, 2002, Logika, Jakarta; Rajawali Press

Menilik Perbedaan Pemikiran Filsafat Barat dan Timur


Perbedaan Filsafat Barat dan Filsafat Timur tampak amat berbeda sebab berkembang di dalam budaya yang amat berbeda, dan sepanjang sejarah tidak terlalu banyak pertemuan di antara keduanya, kecuali di dalam filsafat Islam. Meskipun demikian, bukan berarti tidak ada persamaan di antara keduanya.[1] Berikut ini perbedaan filsafat barat dan timur di lihat dari beberapa segi, yaitu:[2] 1. Pengetahuan. Filsafat Barat sejak masa Yunani telah menekankan akal budi dan pemikiran yang rasional sebagai pusat kodrat manusia. Filsafat Timur lebih menekankan hati

daripada akal budi, sebab hati dipahami sebagai instrumen yang mempersatukan akal budi dan intuisi, serta intelegensi dan perasaan. Tujuan utama berfilsafat adalah menjadi bijaksana dan menghayati kehidupan, dan untuk itu pengetahuan harus disertai dengan moralitas. 2. Sikap Terhadap Alam. Filsafat Barat menjadikan manusia sebagai subyek dan alam sebagai obyek sehingga menghasilkan eksploitasi berlebihan atas alam. Sementara itu, filsafat Timur menjadikan harmoni antara manusia dengan alam sebagai kunci. Manusia berasal alam namun sekaligus menyadari keunikannya di tengah alam. 3. Cita-cita Hidup. Jikalau filsafat Barat menganggap mengisi hidup dengan bekerja dan bersikap aktif sebagai kebaikan tertinggi, cita-cita filsafat Timur adalah harmoni, ketenangan, dan kedamaian hati. Kehidupan hendaknya dijalani dengan sederhana, tenang, dan menyelaraskan diri dengan lingkungan. 4. Status Manusia. Filsafat Barat amat menekankan status manusia sebagai individu dengan segala kebebasan yang ia miliki, dan masyarakat tidak bisa menghilangkan status seorang manusia dengan kebebasannya. Filsafat Timur menekankan martabat manusia tetapi dengan penekanan yang berbeda, sehingga manusia ada bukan untuk dirinya melainkan ada di dalam solidaritas dengan sesamanya.

[1] Oliver Leaman. 2000. Eastern Philosophy: Key Readings. London: Routledge. [2] Tim Redaksi Driyarkara. 1993. Jelajah Hakikat Pemikiran Timur. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.