Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN FISIOLOGI

MODUL GINJAL DAN CAIRAN TUBUH

Disusun oleh: Aida Julia Ulfah Della Masyiandara Afandi Fajri Nugraha Maizan Khoirun Nisa Ratu Qurroh Ain Rico Irawan Naparudin Sidqa Hanief Syarifah Rofah. Ummi Habibah

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2012

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami curahkan atas kehadirat Allah SWT karena atas berkat dan rahmatNya kami dapat menyelesaikan laporan fisiologi modul ginjal ini. Tugas ini dibuat berdasarkan hasil pengamatan saat dilaksanakannya praktikum pengukuran urin. Pada kesempatan ini, tak lupa kami ucapkan terima kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan sehingga saya dapat menyelesaikan laporan ini. Kami menenyadari bahwa pada laporan ini masih terdapat banyak kekurangan dan kesalahan. Oleh karena itu, kami mengharapkan saran dan kritik demi perbaikan di masa mendatang. Akhir kata, kami ucapkan terima kasih.

Ciputat, April 2012

Penyusun

BAB I PENDAHULUAN

A. Tujuan Pada akhir percobaan ini, mahasiswa diharapkan dapat mendefinisikan dan memahami: a. b. c. Konsep homestasis dan imbangan cairan. Mekanisme umpan balik negatif yang mendasari homeostasis. Pengaturan imbangan cairan yang diatur oleh ADH (mencakup rangsangan => reseptor => jaras aferen => pusat => jaras eferen => efektor => efek) B. Alat Alat yang diperlukan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut. a. b. c. d. e. f. g. h. i. j. k. l. m. Air putih 1 liter Air teh 300 cc Air gula (75 gr gula dalam 300 cc air) Gelas ukur Multistix Jam Timbangan badan Sfigmomanometer air raksa Tisu, sarung tangan Ergometer sepeda (Monark) Stopwatch Heart rate monitor Pakaian dan sepatu olahraga (khusus untuk perlakuan D)

C. Tata kerja Tata kerja dalam melaksanakan praktikum ini adalah sebagai berikut. a. Tiap golongan dibagi 10 kelompok (8 kelompok perlakuan dan 2 kelompok kontrol). Mahasiswa akan melaksanakan 4 macam perlakuan, masing-masing perlakukan dilaksanakan oleh 2 kelompok.

b. Setiap kelompok, menetukan satu orang percobaan (OP) dengan kriteria jenis kelamin laki-laki, sehat, berat-badan, usia dan keadaan hidrasi dalam kisaran ratarata golongan. c. Pagi hari OP minum air sekitar 2-3 gelas. Pk. 11.00 OP makan siang + minum di departemen Ilmu Faal. d. Pukul 12.00 OP ditimbang berat badannya. e. Kemudian OP buang air kecil (BAK) dan menampung urinnya. Selanjutnya OP menjalani rangkaian pemeriksaan berupa: - Penimbangan berat badan (usahakan OP menggunakan pakaian dan sepatu yang sama selama percobaan berlangsung) - Pengukuran tekanan darah pada lengan kanan dalam posisi duduk - Pengukuran volume urin menggunakan gelas ukur - Pengukuran Berat Jenis (BJ), pH dan kadar glukosa dengan menggunakan multistix (cara menggunakan multistix dapat dilihat pada petunjuk di botol multistix). Hasil pemeriksaan dicatat pada formulir laporan baris U-pra. f. Pukul 13.00 OP buang air kecil dan menjalani pemeriksaan yang sama dengan langkah #5. Hasil pemeriksaan dicatat pada formulir laporan baris U-0 g. OP menjalani salah satu perlakuan A/B/C/D, sesuai tata-cara h. Setelah perlakuan, OP buang air kecil dan menjalani rangkaian pemeriksaan sesuai langkah #5 pada menit ke-30, menit ke-60, menit ke-90, dan menit ke-120. Hasil pemeriksaan dicatat pada formulir laporan baris U-30, U-60, U-90, dan U-120 i. Setelah menjalani masing-masing perlakuan, OP tidak diperkenakan makan dan minum, serta aktivitas fisik minimal saja j. Kontrol - Setelah menapung U-pra, dan U-0. OP tidak menjalani perlakuan apapun. - Tiga puluh menit setelah b.a.k untuk U-0, OP buang kecil dan melakukan rangkaian pemeriksaan sesuai tata cara yang telah dijelaskan pada tata kerja langkah #8.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

TINJAUAN PUSTAKA A. Proses Pembentukan Urine Terdapat tiga proses penting yang berhubungan dengan proses pembentukan urine, yaitu: 1. Filtrasi (Penyaringan) Kapsula bowmen dari dalam malphigi menyaring darah dalam glomelurus yang mengandung air, garam, gula, urea, dan zat bermolekul besar (protein dan sel darah) sehingga dihasilkan filtrat glomelurus (Urine Primer). Di dalam filtrat ini terlarut zat yang masih berguna bagi tubuh maupun zat yang tidak berguna bagi tubuh, misalnya glukosa, asam amino, dan garam-garam. 2. Reabsorpsi (Penyerapan Kembali) Dalam tubulus kontortus proksimal dalam urine primer yang masih berguna akan direabsorpsi yang dihasilkan oleh filtrat tubulus (Urine Sekunder) dengan kadar urea yang tinggi. 3. Eksresi (Pengeluaran) Dalam tubulus kontortus distal, pembuluh darah menambahkan zat lain yang tidak dipergunakan dan terjadi reabsorpsi aktif ion NA+ dan Cl- dan sekresi H+ dan K+. Ditempat ini sudah terbentuk urine yang sesungguhnya yang tidak terdapat glukosa dan protein lagi, selanjutnya akan disalurkan ke tubulus kolektifus ke pelvis renalis. Dari kedua ginjal, urine dialirkan oleh pembuluh ureter ke kandung urine (Vesica Urinaria) kemudian melalui uretra, urine dikeluarkan dari tubuh.

B. Mekanisme Pemekatan dan Pengenceran Urine. Bila terdapat kelebihan air dalam tubuh, ginjal dapat mengeluarkan urin encer sebanyak 20 L/hari, dengan konsentrasi sebesar 50 mOsm/L. Ginjal melakukan tugas yang hebat ini dengan mereabsorpsi zat terlarut terus menerus dan pada saat yang sama, tidak

mereabsorpsi sejumlah besar air di nefron bagian distal, yang meliputi tubulus distal akhir dan duktus koligentes. Bila terdapat kekurangan air dalam tubuh, ginjal membentuk urin pekat dan pada saat yang bersamaan juga meningkatkan reabsorpsi air dan menurunkan volume urin yang terbentuk. Ginjal manusia dapat memroduksi urin pekat dengan konsentrasi maksimal sebesar 1200-1400 mOsm/L, yaitu 4-5 kali osmolaritas plasma. Hormon yang memengaruhi fungsi sistem urinarius yaitu : 1. Norepinefrin & Epinefrin Hormon ini dilepaskan dari medula adrenal. Hormon ini memberi sedikit pengaruh pada hemodinamika ginjal, kecuali pada kondisi ekstrim, seperti pada pendarahan hebat. Hormon ini memberikan efek berupa konstriksi arteriol aferen dan eferen sehingga menurunkan GFR dan RBF. 2. Endotelin Hormon ini dihasilkan oleh sel endotel vaskuler ginjal atau jaringan lain yang rusak. Jika pembuluh darah rusak, maka endotelnya pun akan rusak dan melepaskan endotelin. Hormon ini memiliki efek untuk vasokonstriktor kuat sehingga dapat mencegah hilangnya darah. Efeknya terhadap ginjal adalag menurunkan GFR. 3. Angiotensin II & Aldosteron Angiotensin II dapat merangsang sekresi hormon aldosteron oleh korteks adrenal. Keduanya memainkan peranan penting dalam mengatur reabsorpsi natrium oleh tublus ginjal. Bila asupan natrium rendah, peningkatan kadar kedunya akan merangsang reabsorpsi natrium oleh ginjal sehingga dapat mencegah kehilangan natrium yang besar. Sebaliknya, dengan asupan natrium yang tinggi, penurunan pembentukan kedua hormon ini memungkinkan ginjal mengeluarkan natrium dalam jumlah besar. 4. Prostaglandin & Bradikinin Kedua hormon ini cenderung mengurangi efek vasokonstriktor ginja akibat aktivitas saraf simpatis, sehingga meningkatkan GFR. 5. Antidiuretik Hormon/ADH (Vasopresin) ADH berperan dalam pengaturan konsentrasi urin, sehingga juga turut mengatur osmolaritas plasma dan konsenrasi natrium. Jika osmolaritas plasma meningkat di atas normal (zat terlarut dalam cairan tubuh terlaru pekat), kelenjar hipofisis posterior akan terangsang untuk menyekresikan ADH. ADH akan meningkatkan permeabilitas tubulus distal dan duktus koligentes terhada air sehingga meningkatkan reabsorpsi air dan mengurangi

volume urin. Sebaliknya, jika terdapat kelebihan air di dalam tubuh (osmolaritas cairan ekstrasel menurun), sekresi ADH akan dikurangi. Hal ini akan mengakibatkan menurunnya permeablitas tubulus distal & duktus koligentes terhadap air sehingga urin menjadi encer. Saraf yang memengaruhi fungsi sistem urinarius yaitu : a. Saraf utama yang memengaruhi fungsi sistem urinarius adalah saraf pelvis yang berasal dari pleksus sakralis dari segemen sakralis 2 & 3 medula spinalis. Saraf ini memiliki 2 bentuk persarafan, yaitu: 1. Serabut saraf sensorik Serabut saraf sensorik mendeteksi derajat peregangan dalam kandung kemih, khususnya uretra posterior sehingga memicu refleks mikturisi. 2. Serabut saraf motorik Serabut ini berperan sebagai serabut saraf parasimpatis yang berakhir di ganglion dalam dinding kandung kemih. Saraf ini berperan untuk menginervasi otot detrusor. b. Serabut saraf lainnya adalah serabut motorik skeletal (melalui saraf pudendus) yang menginervasi dan mengatur otot rangka volunter sfingter eksterna uretra. c. Persarafan simpatik berjalan melalui saraf hipogastrik yang berasal dari segmen lumbal 2 dari medula spinalis. Persarafan ini merangsang pembuluh darah dan meberi sedikit efek terhadap proses kontraksi kandung kemih. d. Serabut saraf untuk sensasi rasa penuh dan nyeri.

C. Urinalisis Urinalisis adalah tes yang dilakukan pada sampel urine pasien untuk tujuan diagnosis infeksi saluran kemih, batu ginjal, skrining dan evaluasi berbagai jenis penyakit ginjal, memantau perkembangan penyakit seperti diabetes melitus dan tekanan darah tinggi (hipertensi), dan skrining terhadap status kesehatan umum. Urine yang normal memiliki cirri-ciri antara lain: warnanya kuning atau kuning gading, transparan, pH berkisar dari 4,6-8,0 atau rata-rata 6, berat jenis 1,001-1,035, bila agak lama berbau seperti amoniak. Unsur-unsur normal dalam urine misalnya adanya urea yang lebih dari 25-30 gram dalam urine. Urea ini merupakan hasil akhir dari metabolisme protein pada mamalia. Ekskresi urea meningkat bila katabolisme protein meningkat, seperti pada demam, diabetes, atau aktifitas korteks adrenal yang berlebihan. Jika terdapat penurunan produksi urea

misalnya pada stadium akhir penyakit hati yang fatal atau pada asidosis karena sebagian dari nitrogen yang diubah menjadi urea dibelokkan ke pembentukan amoniak. Reaksi urine biasanya asam dengan pH kurang dari 6 (berkisar 4,7-8). Bila masukan protein tinggi, urine menjadi asam sebab fosfat dan sulfat berlebihan dari hasil katabolisme protein. Keasaman meningkat pada asidosis dan demam. Urine menjadi alkali karena perubahan urea menjadi ammonia dan kehilangan CO2 di udara. Urine menjadi alkali pada alkalosis seperti setelah banyak muntah. Pigmen utama pada urine adalah urokrom, sedikit urobilin dan hematofopirin. Dalam keadaan normal, manusia memiliki 2 ginjal. Setiap ginjal memiliki sebuah ureter, yang mengalirkan air kemih dari pelvis renalis (bagian ginjal yang merupakan pusat pengumpulan air kemih) ke dalam kandung kemih. Dari kandung kemih, air kemih mengalir melalui uretra, meninggalkan tubuh melalui penis (pria) dan vulva (wanita). Darah yang masuk ke dalam glomerulus memiliki tekanan yang tinggi. Sebagian besar bagian darah yang berupa cairan disaring melalui lubang-lubang kecil pada dinding pembuluh darah di dalam glomerulus dan pada lapisan dalam kapsula bowman; sehingga yang tersisa hanya sel-sel darah dan molekul-molekul yang besar (misalnya saja berupa protein). Cairan yang telah disaring (filtrat) masuk ke dalam rongga bowman dan mengalir ke dalam tubulus kontortus proksimal (tabung/saluran di bagian hulu yang berasal dari kapsula bowman); natrium, air, glukosa dan bahan lainnya yang ikut tersaring diserap kembali dan dikembalikan ke darah. Dalam mempertahankan homeostasis tubuh peranan urine sangat penting, karena sebagian pembuangan cairan oleh tubuh adalah melalui sekresi urine. Selain urine juga terdapat mekanisme berkeringat dan juga rasa haus yang kesemuanya bekerja sama dalam mempertahankan homeostasis ini. Fungsi utama urine adalah untuk membuang zat sisa seperti racun atau obat-obatan dari dalam tubuh. Anggapan umum menganggap urine sebagai zat yang kotor. Hal ini berkaitan dengan kemungkinan urine tersebut berasal dari ginjal atau saluran kencing yang terinfeksi, sehingga urinenya pun akan mengandung bakteri. Namun jika urine berasal dari ginjal dan saluran kencing yang sehat, secara medis urine sebenarnya cukup steril dan hampir tidak berbau ketika keluar dari tubuh. Hanya saja, beberapa saat setelah meninggalkan tubuh, bakteri akan mengkontaminasi urine dan mengubah zat-zat di dalam urine dan menghasilkan bau yang khas, terutama bau amonia yang dihasilkan dari urea. Pada proses urinalisis terdapat banyak cara metode yang dapat digunakan untuk mendeteksi zat-zat apa saja yang terkandung di dalam urine. Analisis urine dapat berupa analisis fisik, analisi kimiawi dan anlisis secara mikroskopik.

Analisis urine secara fisik meliputi pengamatan warna urine, berat jenis cairan urine dan pH serta suhu urine itu sendiri. Sedangkan analisis kimiawi dapat meliputi analisis glukosa, analisis protein dan analisis pigmen empedu. Untuk analisis kandungan proteinm ada banyak sekali metode yang ditawarkan , mulai dari metode uji millon sampai kuprisulfa dan sodium basa. Yang terakhir adalah analisis secara mikroskopik, sampel urine secara langsung diamati dibawah mikroskop sehingga akan diketahui zat-zat apa saja yang terkandung di dalam urine tersebut, misalnya kalsium phospat, serat tanaman, bahkan bakteri (Basoeki, 2000). Sifat sifat urine adalah: 1) Volume urine normal orang dewasa 600 25000 ml/ hari. Jumlah ini tergantung pada masukan air, suhu luar, makanan dan keadaan mental/ fisik individu, produk akhir nitrogen dan kopi, teh serta alkohol mempunyai efek diuretic. 2) Berat jenis berkisar antara 1,003 1,030 3) Reaksi urine biasanya asam dengan pH kurang dari 6(berkisar 4,7 8). Bila masukan protein tinggi, urine menjadi asam sebab fosfor dan sulfat berlebihan dari hasil metabolism protein. 4) Warna urine normal adalah kuning pucat atau ambar. Pigmen utamanya urokrom, sedikit urobilin dan hematopofirin. Pada keadaan demam, urine berwarna kuning tua atau kecoklatan. Pada penyakit hati pigmen empedu mewarnai urine menjadi hijau, coklat atau kuning tua. Darah (hemoglobin) memberi warna seperti asap sampai merah pada urine. 5) Urine segar beraroma sesuai dengan zat zat yang dimakannya. Unsur unsur normal dalam urine misalnya adalah: 1) Urea yang lebih dari 25 30 gram dalam urine. 2) Amonia, pada keadaan normal terdapat sedikit dalam urine segar 3) Kreatinin dan keratin, normalnya 20 26 mg/kg pada laki laki, pada perempuan 14 22 mg/kg. 4) Asam urat, adalah hasil akhir terpenting oksidasi purine dalam tubuh 5) Asam amino, hanya sedikit dalam urine 6) Klorida, terutama diekskresikan sebagai natrium klorida 7) Sulfur, berasal dari protein yang mengandung sulfur dari makanan 8) Fosfat di urine adalah gabungan dari natrium dan kalium fosfat

9) Oksalat dalam urine rendah 10) Mineral, natrium, kalsium, kalium dan magnesium ada sedikit dalam urine 11) Vitamin, hormone, dan enzim ditemukan dalam urine dengan jumlah kecil. Unsur unsur abnormal dari urine: 1) Protein: proteinuria (albuminuria) yaitu adanya albumin dan globulin dalam urine 2) Glukosa: glukosaria tidak tetap dapat ditemukan setelah stress emosi, 15% kasus glikosuria tidak karena diabetes.

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN

I.

PERLAKUAN A: MINUM AIR

Volume Urin Encer Ginjal normal memiliki kemampuan yang besar dalam membentuk berbagai proporsi zat terlarut dan air dalam urin sebagai respon terhadap berbgai perubahan. Bila terdapat

kelebihan air dalam tubuh dan osmolaritas cairan tubuh menurun, ginjal akan mengeluarkan urin dengan osmolaritas 50mOsm/L (1/6 dari Osmolaritas CES normal). Ginjal mereabsorpsi zat terlarut terus menerus , dan pada saat yang sama tidak terjadi proses reabsorbsi sejumlah besar air di tubulus kontortus distal dan duktus kolektifus. Sehingga volume urin yang dikeluarkan semakin meningkat dan osmolaritas urine menurun, yang menyebabkan ekskresi urin yang encer dalam volume yang besar. Tetapi, jumlah total zat terlarut yang diekskresi ginjal tetap relative konstan. Respon ginjal tersebut mencegah penurunan drastic osmolaritas plasma selama meminum air dalam jumlah yang berlebihan. Pengaruh Volume CES Terhadap Tekanan Darah Penurunan volume CES, dengan menurunkan volume plasma, menyebabkan penurunan tekanan darah arteri. Sebaliknya, peningkatan volume CES meningkatkan tekanan darah artreri dengan memeperbesar volume plasma. Terdapat dua tindakan kompensasi yang berperan untuk menyesuaikan tekanan darah untuk sementara sampai volume CES dapat dipulihkan ke normal : 1. Mekanisme refleks baroreseptor mengubah curah jantung dan resistensi perifer total melalui efek sistem saraf otonom pada jantung dan pembuluh darah. Respon kardiovaskuler yang bersifat segera ini dirancang untuk memperkecil efek yang ditimbulkan penyimpangan volume darah pada tekanan darah. 2. Terjadi perpindahan cairan sementara dan secara otomatis antara plasma dan cairan intertisium. Penurunan cairan plasma dikompensasi secara parsial oleh pergeseran cairan keluar dari kompartemen itertisium untuk masuk ke dalam darah, sehingga terjadi penigkatan volume plasma dengan mengorbankan kompartemen intertisium. Sebaliknya jika volume plasma terlalu banyak, sebagian bear kelebihan cairan itu akan dipindahkan ke kompartemen intertisium. Pergeseran pergeseran ini terjadi secara segera dan otomatis akibat perubahan keseimbangan gaya gaya hidrostatik dan osmotik yang bekerja di dinding kapiler yang muncul pabila volume plasma menyimpang dari normal. Kedua tindakan di atas menghasilkan perbaikan sementara untuk membantu menjaga tekanan darah relatif konstan, tetapi keduanya tidak dirancang sebagai solusi jangka panjang.Selain itu tindakan tindakan kompensasi jangka pendek ini memiliki keterbatasan kemampuan untuk memperkecil perubahan tekanan darah.Jika terlalu rendah tanpa memandang seberapa kuatnya jantung memompa darah, seberapapun terkonstriksinya

pembuluh darah, atau seberapa besar proporsi cairan intertisium yang berpindah ke dalam pembuluh darah.Sebaliknya apabila volume plasma sangat berlebihan, tekanan darah tidak dapat dipulihkan ke normal bahkan dnegan dilatasi maksimum pembuluh pembulu darah resistensi dan tindakan tindakan jangka pendeklainnya. Dengan demikian, dalam jangka panjang tindakan tindakan kompensasi lain perlu ikut berperan untuk memulihkan volume CES ke tingkat normal. Tanggung jawab untuk pengaturan jangka panjang tekanan darah ini berada pada ginjal dan mekanisme rasa haus, yang masing masing mengintrol pengeluaran urin dan pemasukan cairan.Dengan melakukan hal hal tersebut, keduanya melakukan pertukaran antara CES dan lingkungan eksternal untuk mengatur volume cairantubuh total.Dengan demikian, keduanya memiliki pengaruh jangka panjang pada tekanan darah arteri. Hormon Anti Diuretik dan Pengaturan Konsentrasi Urin Stimulus utama bagi sekresi ADH adalah penigkatan osmolaritas CES, sel sel penghasil ADH dipengaruhi dalam tingkat yang sedang oleh perubahan volume CES yang diperantarai oleh masukan dari reseptor volume atrium kiri.Reseptor reseptor volume yang terletak di atrium kiri ini memantau tekanan darah yang merupakan pencerminan volume CES. Sebagai respon terhadap penurunan volume CES

dalamjumlahbesardanpenurunnatekananarteri.Sekresi hormon ADH dihambat jika volume CES atau plasma dan tekanan darah arteri meningkat. Penekanan asupan H2O yang disetai oleh eliminasi kelebihan CES plasma di urin membantu memulihkan tekanan darah ke tingkat normal. Bila osmolaritas cairan tubuh meningkat diatas normal (yaitu, zat terlarut dalam cairan tubuh menjadi terlalu pekat). Kelenjar hipofisis posterior akan menyekresi leih banyak ADH, yang meningkatkan permeabilitas tubulus distal dan ductus koligentes terhadap air. Keadaan ini memungkinkan reabsorpsiair dalam jumlah besar dan penurunan volume urin, tetapi tidak mengubah kecepatan eksresi zat terlarut oleh ginjal secara nyata. Bila terdapat kelebihan air didalam tubuh dan osmolaritas didalam cairan ekstrasel turun, sekresi ADH oleh hipofisis posterior akan menurun. Oleh sebab itu, permeabilitas tubulus distal dan ductus koligentes terhadap air akan menurun, yang menghasilkan sejumlah besar urin encer. Jadi, kecepatan sekresi ADH sangat menentukan encer atau pekatnya urin yang dikeluarkan oleh ginjal.

PERLAKUAN A: MINUM AIR OP : Izkar Ramadhan U-pre Volume TD Nadi BB Uo 25cc 120/90 93 82,1 U-30 57cc 110/75 80 81 kuning Warna Urin pH Glukosa Bilirubin Keton Gravitasi Darah Protein 7 (-) (+1) (-) 1,03 (-) (+4) kuning 6,5 (-) (-) (-) 1,03 (-) (+4) (-) (-) (+125) jernih 6,5 (-) (+1) (-) 1,02 (-) (+0,30) (-) (-) (+125) U-60 186cc 120/80 75 82 kuning jernih 6,5 (-) (-) (-) 1,005 (-) (+2) (-) (-) (+125) U-90 200cc 110/80 70 81,4 putih jernih 6 (-) (-) (-) 1,005 (-) (-) (-) (-) (+125)

Urobilinogen (-) Nitrit Leukotrace (+) (+125)

1. setelah menampung U-pra, dan U-O, OP minum 1 liter air, dalam waktu kurang dari 10 menit. P-D.2. Apa maksud pemberian minum 1 liter air ? Asupancairan yang lebihinimemicuginjaluntukmengeluarkanlebihbanyak volume urinsebagairesponuntukmenjagaosmolaritascairantubuh.

2. Tiga puluh menit setelah selesai minum, OP buang air kecil dan melakukan rangkaian pemeriksaan sesuai tata cara yang telah dijelaskan pada tata kerja langkah #8. P-D.3. Apa efek yang diharapkan terjadi ? konsumsi air dalam jumlah besarkelebihan air harus dikeluarkan dari tubuh tanpa mengeluarkan solute di dalamnya yang penting untuk menjaga homeostasis tubuhGinjal megeluarkan air dalam jumlah besar, namun partikel solute tidak dikeluarkan dalam jumlah besarpengeluaran urine yang encer dalam jumlah besarBJ urin air yg masuk melalui yang sistem cukup pencernaandialokasikan besar dalam jumlah menjadi volume plasma plasma

darahkenaikan

darahmeningkatnya TD berdasarkan hasilpeningkatan TD tidak terlalu besartubuh melakukan kompensasi u/ menjaga agar TD tidak begitu tinggi air yg masuk melalui yang sistem cukup pencernaandialokasikan besar dalam jumlah menjadi volume plasma plasma

darahkenaikan

darahmeningkatnya TD berdasarkan hasilpeningkatan TD tidak terlalu besartubuh melakukan kompensasi untukmenjaga agar TD tidak tinggi sekaLI. PERLAKUAN B: MINUM AIR TEH

II.

Waktu

Jenis perlakuan Pemberian air teh

Laju Produksi urin

Tekanan darah 110/80 110/80

Nadi

Volume Berat Warn Urin Badan a Urin 150 cc 45 cc 70.8 70.6 kuning Kuning

Ph

U-Pre U-0

70x/m 72x/m

8 8

cc/meni t U-30 110/70 81x/m 96 cc 70.3 Kuning 8

U-60

110/80

79x/m

215 cc

70.2

Kuning

7.5

7.1 cc/menit U-90 120/80 80x/m 110 cc 69.9 Kuning 7

U-120

120/90

84x/m

94 cc

69.4

Kuning

6.5

A. Cara Kerja Kafein Kafein bekerja dalam tubuh dengan mengambil alih reseptor adenosine dalam sel saraf yang akan memacu produksi hormone adrenalin dan menyebabkan peningkatan tekanan darah, sekresi asam lambung dan aktifitas otot serta perangsangan hati untuk melepaskan senyawa gula pada aliran darah untuk menghasilkan energy ekstra. Komposisi Air teh

Apa efek yang diharapkan terjadi ? Dengan meminum air teh 300 cc diharapkan perlakuan ini dapat menghasilkan Urin yang lebih banyak di bandingkan perlakuan yang meminum air putih biasa atau air gula. Hal ini dikarenakan teh mengandung kafein yang mempengaruhi terhadah Laju Filtrasi Glomerulus dan menurunkan reabsorpsi Natrium.

III.

PERLAKUAN C: MINUM AIR GULA Nama : Tn. Angga Umur : 20 tahun

Laju

Volume Frekuensi Nadi 80

warna

BJ

Glukos a

pH

BB

TD

Produksi urin U pra 210 ml

Kuning terang

1,030

6,5 53

110/7 0

U0

35/60

35 ml

80

Kuning jernih

1,030

6,5 53

110/7 0

U 30

20/30

20 ml

80

Kuning

1,030

8,0 53

110/7 0

U 60

18/30

18 ml

83

Kuning

1,030

7,5 53

110/7 0

U 90

18/30

18 ml

82

Kuning

1,030

6,5 53

110/7 0

U 120

50/30

50 ml

82

Kuning

1,015

6,5 53

110/7 0

Apa efek yang diharapkan terjadi ? Pada percobaan meminum air gula, maka dalam tubuh akan terjadi peningkatan osmolaritas dan hal ini menyebabkan ADH terangsang keluar untuk menghemat persediaan air dalam tubuh. Akibat ADH disekresikan oleh hipofisi posterior, maka ADH dalam plasma akan meningkat. Hal ini menyebabkan air akan direabsorpsi lebih banyak sehingga volume dan laju produksi urin akan menurun sebagai cara untuk menjaga homeostatis tubuh. Pada orang normal tidak didapati glukosa dalam urin walau yang bersangkutan meminum air gula. Glukosuria dapat terjadi karena peningkatan kadar glukosa dalam darah yang melebihi kepasitas maksimum tubulus untuk mereabsorpsi glukosa yaitu 375 mg/menit. Ketika melebihi batas ambang ini seperti pada diabetes mellitus, tirotoksikosis, sindroma Cushing, phaeochromocytoma, peningkatan tekanan intrakranial atau karena

ambang rangsang ginjal yang menurun seperti pada renal glukosuria, kehamilan dan sindroma Fanconi, maka akan ditemui glukosa dalam urin. IV. PERLAKUAN D: Aerobic exercise (olahraga anerobik)

Pada olahraga anaerobik dihasilkan asam laktat melalui sistem glikogen-asam laktat secara anaerob (tanpa oksigen). Salah satu cara mendapatkan energi adalah dengan memecah glikogen pada otot menjadi glukosa yang kemudian dapat digunakan untuk energi (glikolisis). Selama glikolisis, setiap molekul glukosa dipecah menjadi 2 asam piruvat dan eneri dilepaskan untuk membentuk empat molekul ATP untuk setiap molekul glukosa asal. Apabila tidak terdapat oksigen yang cukup untuk melangsungkan metabolisme glukosa tahap kedua (tahap oksidatif) maka sebagian besar asam piruvat akan diubah menjadi asam laktat yang berdifusi keluar dari sel otot masuk ke dalam cairan intestisial dan darah. Oleh karena itu, ginjal akan lebih banyak mengeluarkan ion H+ untuk menurunkan asam dari cairan ekstrasel sehingga kestabilan asam-basa tetap terjaga. Olahraga juga akan meningkatkan kerja simpatis sehingga dikeluarkanlah norepinefrin dari postganglion simpatis. Melalui nervus renalis, norepinefrin ini akan memicu pengeluaran renin oleh sel yukstaglomerular. Renin akan mengubah angitensinogen menjadi angiotensin I dan dengan ACE akan dirubah menjadi angiotensin II. Angiotensin II memicu sekresi aldosteron dan menyebabkan penurunan diuresis. Hasil Perlakuan: OP: Hazmi Anzhari Time Laju Produksi Urin TekananD arah Nadi Volu me Urin Ber at Bad an 70 kg 69 kg 69 kg 69 kg WarnaU rin PH Glukosa BeratJ enis

U-Pre U-0 U-30 U-60 25/60 ml/menit 20/30 ml/menit 15/30 ml/menit

110/80 mmHg 110/80 mmHg 110/80 mmHg 110/80 mmHg

80x/m enit 80x/m 25 enit 98x/m 30 enit 102x/ 15 menit

KuningB iasa Kuningj ernih Kuningj ernih Kuningj ernih

6,5 6,5 6 6,5

(-) (-) (-) (-)

1,030 1,030 1,030 1,030

P-Diur 6.Apaefek yang diharapkanterjadi? Sebelum melakukan olahraga O.P diperbolehkan minum 300cc air dengan tujuan akhir melihat berapa jumlah urin yang dikeluarkan, apakah sama dengan jumlah

airyangmasukkedalamtubuh.Airyangdiberikandengan harapan ak a n meningkatkan jumlah volume cairan intravaskular akan tetapi dengan adanya perlakuanya itu olahraga akan mengakibatkan pengeluaran

KONTROL Op: fernando U-pre Laju produksi urin(ml/menit) TD Nadi Volume urin(cc) BB Warna urin pH Glukosa Berat Jenis 210 73,9 kuning 7 (-) 1,020 90 73,9 kuning 7,3 (-) 1,005 52 73,7 kuning 6,5 (-) 1,02 73,7 73,6 kuning 6,5 (-) 1,02 73,6 72,8 kuning 6,5 (-) 1,03 90/60 52/60 73,7/30 110/60 92 73,6/30 Uo U-30 U-60 U-90

110/70 120/80 77 82

Pembahasan

Kehilangan Air Melalui Ginjal Salah satu jalan kehilangan air dari tubuh adalah melalui urin yang disekresi lewat ginjal. Ada berbagai mekanisme yang mengatur kecepatan ekskresi urin. Bahkan, cara terpenting yangf dilakukan oleh tubuh dalam mempertahankan keseimbangan asupan dan keluaran cairan serta keseimbangan antara asupan dan keluaran sebagian besar elektrolit di

tubuh adalah dengan mengatur kecepatan ekskresi zat-zat tersebut dari ginjal. Misalnya, volume urin dapat berkurang sampai 0,5 liter/hari pada orang yang mengalami dehidrasi atau bias sebanyak 20 liter/hari pada orang yang meminum sejumlah besar air. Variasi asupan ini juga terjadi pada kebanyakan elektrolit tubuh, seperti natrium, klorida, dan kalium. Pada beberapa orang, asupan natrium dapat serendah 20 mEq/hari, sedangkan pada orang lain, dapat mencapai 300 sampai 500 mEq/hari. Ginjal bertugas untuk menyesuaikan kecepatan ekskresi air dan elektrolit dengan asupan zat-zat tersebut, dan mengkompensasi kehilangan air dan elektrolit yang berlebihan yang terjadi pada penyakit-penyakit tertentu. Interpretasi Op Pada U0 pasien tinggi, disebabkan karena kelebihan air pada tubuh OP, maka volume urin yang dikeluarkan banyak. Selanjutnya pada U30, U60 dan U90 volume urin OP semakin berkurang karena OP tidak mendapatkan suplai air dan dan disebabkan terjadi peningkatan konsumsi air oleh tubuh OP. Pada urin OP hasil glukosa (-), glukosa dalam darah OP masih normal dan tidak diekskresikan di urin. Dan ini terdapat pada urin yang normal.pH urin OP masih dalam kisaran normal, berarti tidak terjadi gangguan asam basa pada OP. Dan warna urin OP berwarna bening kekuningan= normal.Tekanan darah OP tidak terjadi peningkatan atau penurunan dan masih dalam angka normal, baik systole maupun diastole.

Kesimpulan Padaperlakuankontrolini OP hanyaditugaskanmenjadi control dariperlakuanpada OP-OP yang lainnya.Sehinggadapatmemberikangambaranmengenailaju proses pembentukanurin.

V.

PERLAKUAN E: KONTROL

Laju Waktu Filtrasi Urin

Tekanan Frekuensi Volume Darah Nadi Urin

Berat Badan

Warna Urin

Berat pH Glukosa Jenis Urin

Upre 45 U0 ml/60 menit 30 ml U30 /30 menit 32 ml U60 /30 menit 30 ml U90 /30 menit U120 ml /30 menit

195 ml

54.5 kg 54.5 kg

Kuning

(-)

1, 025 1, 030

110/70

92

45 ml

Kuning

7,7

(-)

110/70

111

30 ml

54.3 kg

Kuning

(-)

1, 015

110/80

92

32 ml

54 kg

Kuning merah

6,5

(-)

1, 030

88

30 ml

54 kg

Kuning jernih Kurning jernih

6,5

(-)

1, 030 1, 020

110/80

111

30 ml

54.10 kg

(-)

DAFTAR PUSTAKA

1. Johnson, Leonard R.2003.Edisi 3.Essential Medical Physiology.Amerika: Elsevier. 2. Despopoulos, Agamemnon.2003.Edisi 5.Color Atlas of Physiology.Jerman: Georg Thieme Verlag. 3. Guyton, Arthur.2006.Edisi 11.Text Book of Medical Physiology.USA :Elsevier Saunders. 4. Ganong, William F.2008.Edisi 20.Fisiologi Kedokteran.Jakarta:EGC. 5. Pearce, Everlyn C.2008.Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis.Jakarta: Gramedia