Anda di halaman 1dari 24

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN TUMOR HIPOFISIS

OLEH :

SGD 1
Ketua Anggota: Made Wahyu Purwaningsih Putu Santhi Wagiswari Natih NI MADE SHINTA TIARA DEWI Komang Tri Desi Lopita.R Ni Wayan Putri Perdana Sari D. A Eka Putri Ardarsini Ni Made Ayu Puspita sari KADEK ARTAWAN (0802105006) (0802105012) (0802105015) (0802105032) (0802105050) (0802105056) (0802105060) (0802105070) : Putri Anggraeni (0802105040) (0802105047) Sekretaris : Si Ayu Dwipayani

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA 2010

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN

DENGAN TUMOR HIPOFISIS

A. 1. Pengertian

KONSEP DASAR PENYAKIT

Kelenjar hipofisis medula kelenjar yang sangat penting bagi tubuh manusia, kelenjar ini mengatur fungsi dari kelenjar tiroid, kelenjar adrenal, ovarium dan testis, kontrol laktasi, kontraksi uterine sewaktu melahirkan dan tumbuh kembang yang linear, dan mengatur osmolalitas dan volume dari cairan intravascular dengan memelihara resorpsi cairan di ginjal. Kelenjar hipofisis terdiri dari 2 lobus, lobus anterior dan lobus posterior, pada lobus anterior kelenjar ini terdapat 5 tipe sel yang memproduksi 6 hormon peptida. Sedangkan pada lobus posterior dilepaskan 2 macam hormon peptida. Pituitary tumor, pertumbuhan abnormal yang berkembang di kelenjar hipofisis di otak, hampir selalu noncancerous (jinak). Sebagian besar tumor hipofisis (adenomas) tidak menyebar di luar tengkorak (nonmetastatic) dan biasanya masih terbatas pada kelenjar pituitari atau di dekatnya jaringan otak. Pituitary tumor cukup umum dan sering didiagnosis melalui scan MRI yang dilakukan untuk alasan lain. Mayo Foundation for
Medical Education and Research

2. Epidemiologi Sekitar 10% dari seluruh tumor intrakranial merupakan tumor hipofisis, terutama terdapat pada usia 20-50 tahun, dengan insiden yang ditemukan seimbang pada laki-laki dan wanita. Tumor hipofisis terutama timbul pada lobus anterior hipofisis, sedangkan pada lobus posterior (neurohipofisis) jarang terjadi. Tumor ini biasanya bersifat jinak. 3. Etiologi

Penyebab tumor hipofisis tidak diketahui. Sebagian besar diduga tumor hipofisis hasil dari perubahan pada DNA dari satu sel, menyebabkan pertumbuhan sel yang tidak terkendali. Cacat genetik, sindroma neoplasia endokrin multipel tipe I dikaitkan dengan tumor hipofisis. Namun, account cacat ini hanya sebagian kecil dari kasus-kasus tumor hipofisis. Selain itu, tumor hipofisis didapat dari hasil penyebaran (metastasis) dari kanker situs lain. Kanker payudara pada wanita dan kanker paru-paru pada pria merupakan kanker yang paling umum untuk menyebar ke kelenjar pituitari. Kanker lainnya yang menyebar ke kelenjar pituitari termasuk kanker ginjal, kanker prostat, melanoma, dan kanker pencernaan. 4. Patofisiologi

5. Klasifikasi Klasifikasi dibedakan berdasarkan hormon yang diproduksi oleh kelenjar hipofisis dan dibedakan menjadi 2 jenis yaitu: 1. Adenoma hipofisis non fungsional (tidak memproduksi hormon) Tumor ini berkisar sekitar 30% dari seluruh tumor pada hipofisis. Biasanya muncul pada dekade ke 4 dan ke 5 dari kehidupan, dan biasanya lebih sering ditemukan pada laki-laki daripada wanita. Nama lain dari tumor ini yaitu Null cell tumor, undifferentiated tumor dan non hormon producing adenoma. Karena tumor ini tidak memproduksi hormon, maka pada tahap dini seringkali tidak memberikan gejala apaapa. Sehingga ketika diagnose ditegakkan umumnya tumor sudah dalam ukuran yang sangat besar, atau gejala yang timbul karena efek masanya. Tumor biasanya solid walaupun bias ditemukan tumor dengan campuran solid dan kistik. 2. Adenoma hipofisis fungsional yang terdiri dari: a. b. c. d. adenoma yang bersekresi prolaktin adenoma yang bersekresi growth hormon (GH) adenoma yang bersekresi glikoprotein (TSH, FSH, LH) adenoma yang bersekresiadrenokortikotropik hormon (ACTH)

Pada penelitian dari 800 pasien yang menderita tumor hipofisis, 630 pasien merupakan tipe functioning pituitary tumors yang terdiri dari: 52% merupakan tumor yang mengsekresikan prolactin 27% tumor yang mengsekresikan GH 20% tumor yang mengsekresikan ACTH 0,3% tumor yang mengsekresikan TSH kelenjar hipofisis bagian anterior berperan dalam sekresi dan pengaturan dari berbagai hormon peptida dan stimulating factor. Tumor yang berasal dari bagian ini akan memproduksi secara berlebihan beberapa atau salah satu dari hormonmpoptida, jika ini terjadi maka dinamakan fungsional atau secreting adenoma. Adanya adenoma kelenjar hipofisis anterior bisa dideteksi dengan melihat aktifitas endokrin dan dengan immunohisto chemical staining. Ada juga klasifikasi dari buku medikel bedah yaitu: Eusinofil Basofil Kromopom Klasifikasi berdasarkan gambaran radiology 1. Grade 0: tumor tidak terlihat secara radiologi 2. Grade I dan II: adenoma yang terbatas dalam sella turcica 3. Grade III dan IV: adenoma yang menginvasi ke jaringan sekitarnya Berdasarkan penyebarannya tumor ke extrasellar maka dibagi lagi dalam subklasifikasi berikut: 1. A,B,C yaitu penyebaran langsung ke suprasellar 2. D yaitu perluasan secara asimetrik ke sinus kavernosus 3. E yaitu perluasan secara asimetrik ke sinus intrakranial

6. Manifestasi klinis Manifestasi klinis Adenoma Hipofisis non fungsional:

a. nyeri kepala
b. karena perluasan tumor ke area supra sella, maka akan menekan chiasma optikum,

timbul gangguan lapang pandang bitemporal. Karena serabut nasal inferior yang terletak pada aspek inferior dari chiasma optik melayani lapang pandang bagian temporal superior (Wilbrands knee), maka yang pertama kali terkena adalah lapang pandang quadrant bitemporal superior. Selanjutnya kedua papil akan menjai atrophi.
c. Jika tumor meluas ke sinus cavernosus maka akan timbul kelumpuhan NIII, IV, VI,

V2, V1, berupa ptosis, nyeri wajah, diplopia. Oklusi dari sinue akan menyebabkan proptosis, chemosis dan penyempitan dari a. karotis (oklusi komplit jarang)
d. Tumor yang tumbuh perlahan akan menyebabkan gangguan fungsi hipofisis yang

progressif dalam beberapa bulan atau beebrapa tahun berupa:


Hypotiroidism, tidak tahan dingin, myxedema, rambut yang kasar Hypoadrenalism, hipotensi ortostatik, cepat lelah Hypogonadism, amenorrhea (wanita), kehilangan libido dan kesuburan Diabetes insipidus, sangat jarang

Walaupun gangguan lapang pandang bitemporal dan hypopituitarism yang berjalan progresif merupakan gejala klinik yang khas pada tumor ini, kadangkadang adenoma hipofisis yang besar memberikan gejala yang akut akibat adanya perdarahan atau Infark. Tumor intrakranial yang paling sering menimbulkan perdarahan adalah adenoma hipofisis. Adanya perdarahan yang besar ke dalam tumor hipofisis akan menyebabkan gejala nyeri kepala yang tiba-tiba, penurunan kesadaran gangguan penglihatan dan insufisiensi adrenal yang akut. Pasien yang menderita abcess pada hipofisis akan memberi gejala yang sama disertai demam. Menurut Wilson sekitar 3% makroedenoma menunjukkan Pituitary apoplexi.

Manifestasi Klinis Adenoma Fungsional a) Adenoma yang bersekresi Prolaktin

Hyperprolactinemia

pada

wanita

didahului

amenorhoe,

galactorhoe,

kemandulan dan osteoporosis.

Pada laki-laki biasanya asimptomatik atau timbul impotensi atau daya sexual yang menurun.

Karena perbedaan gejala tersebut maka tumor ini pada laki-laki biasanya ditemukan jika sudah menibulkan efek kompresi pada struktur yang berdekatan. b) Adenoma yang bersekresi growth hormon Gejala timbul secara gradual karena pengaruh meningginya kadar GH secara kronik. Dari sejumlah kasus menunjukkan bahwa gejala yang timbul lebih karena efek kompresi lokal dari masa tumor, bukan karena gangguan somatiknya. Gejala dini berupa:
Ukuran sepatu dan baju membesar

Lalu timbul visceromegali


Hiperhidrosis, Macroglossia, Muka yang kasar dan skin tags yaitu perubahan pada cutis dan jaringan subcutis

yang lambat berupa fibrous hyperplasia terutama ditemukan pada jari-jari, bibir, telinga dan lidah. Adanya skin tags ini penting karena hubungannya dengan keganasan pada kolon. c) Adenoma yang bersekresi glikoprotein (TSH, FSH, LH) Kecuali untuk tumor yang bersekresi TSH, yang menunjukkan
hypertiroidism glycoprotein secreting adenoma tidak memberikan gejala yang

spesifik sehubungan dengan hipersekresinya, sehingga adenoma ini biasanya baru ditemukan sesudah memberikan efek kompresi pada struktur didekatnya seperti chiasma optikum atau tangkai hipofisis.
Hipertiroid yang disebabkan oleh TSH adenoma berbeda dengan Graves disease,

graves disease merupakan penyakit yang diturunkan, dimana terdapat resistensi yang efektif terhadap hormon tiroid yang menyebabkan pengaruh umpan balik negatif dari hormon tiroid atau TSH lemah, sehingga timbul hipersekresi TSH. Kelainan ini sering bersamaan dengan bisu tuli, stipled epiphyse dan goiter, ini yang membedakan dengan hipertiroid akibat adanya adenoma.

Pada hipertiroid akibat TSH adenoma, biasanya lebih banyak mengenai wanita,

gejala lainnya yaitu gangguan lapang pandang, pretibial edema dan kadar serum immunoglobulim stimulasi tiroid jumlahnya sedikit.

d) Adenoma yang bersekresi ACTH Biasanya menyerang wanita sekitar usia 40 tahun
Khas

ditandai

dengan

truncal

obesity,

hipertensi,

hirsutisme

(wanita),

hyperpigmentasi, diabetes atau glukosa intoleran, amenorrhea, acne, striae abdominal, buffallo hump dan moon facies. Kelainan endokrinologik yang berat ini sudah muncul pada tahap sangat dini dari tumornya yang menyulitkan dalam mendeteksi dan identifikasi sumbernya.
7.

Pemeriksaan fisik Inspeksi : klien tampak mengalami pembesaran yang abnormal pada seluruh bagian tubuh (jika timbul saat usia dini) Klien tampak mengalami akromegali atau pembesaran yang abnormal pada ujungujung tubuh seperti kaki, tangan, hidung, dagu (timbul pada saat usia dewasa) Kulit klien tampak pucat Terdapat penumpukan lemak di punggung, wajah. Klien tampak mengalami diplopia (pandangan ganda) Tampak atropi pada pupil Klien tampak susah membedakan warna Klien tampak susah menggerakkan organ-organ tubuh karena kelemahan otot

Palpasi: Terdapat nyeri kepala Terdapat kelemahan otot tonus otot Ekstremitas atas 444 dan ekstremitas bawah 444 8. Pemeriksaan diasnostik Adenoma Hipofisis non fungsional: a. pada rontgen foto lateral tengkorak terlihat sella turcica membesar, lantai sella menipis dan membulat seperti balon. Jika pertumbuhan adenomanya asimetrik maka pada lateral foto tengkorak akan menunjukkan double floor. Normal diameter AP dari kelenjar hipofisis pada wanita usia 13-35 tahun < 11 masing-masing, sedang pada yang lainnya normal < 9 masing-masing. b. MRI dan CT scan kepala, dengan MRI gambaran a.carotis dan chiasma tampak lebih jelas, tetapi untuk gambaran anatomi tulang dari sinus sphenoid CT scan lebih baik. c. Test stimulasi fungsi endokrin diperlukan untuk menentukan gangguan fungsi dari kelenjar hipofisis. Adenoma Fungsional a. Adenoma yang bersekresi Prolaktin Penilaian kadar serum prolactin, kadar serum lebih dari 150 ng/ml biasanya berkorelasi dengan adanya prolactinomas. Kadar prolactin antara 25-150 ng/ml terjadi pada adanya kompresi tangkai hipofisis sehingga pengaruh inhibisi dopamin berkurang, juga pada stalk effect (trauma hypothalamus, trauma tungkai hipofisis karena operasi). b. Adenoma yang bersekresi growth hormone Pengukuran kadar GH tidak bisa dipercaya karena sekresi hormon ini yang berupa cetusan, walaupun pada keadaan adenoma. Normal kadar basal Gh <1 ng/ml, pada penderita acromegali bisa meningkat sampai > 5 ng/ml, walaupun pada penderita biasanya tetap normal. Pengukuran kadar somatemedin C lebih bisa dipercaya, karena kadarnya yang konstan dan meningkat pada acromegali. Normal kadarnya 0,67 U/ml, pada acromegali mebningkat sampai 6,8 U/ml. Dengan GTT kdar GH akan ditekan

sampai < 2 ng/ml sesudah pemberian glukosa oral (100 gr), kegagalan penekanan ini menunjukkan adanya hpersekresi dari GH. Pemberian GRF atau TRH perdarahan infus akan meningkatkan kadar GH, pada keadaan normal tidak. Jika hipersekresi telah ditentukan maka pastikan sumbernya dengan MRI, jika dengan MRI tidak terdapat sesuatu adenoma hipofisis harus dicari sumber ektopik dari GH. c. Adenoma yang bersekresi glikoprotein (TSH, FSH, LH) Hormon TSH, LH dan FSH masing-masing terdiri dari alpha dan beta subarakhnoid unit, alpha subarakhnoid unitnya sama untuk ketiga hormon,sedangkan beta subarakhnoid unitnya berbeda. Dengan teknik immunohistokimia yang spesfik bisa diukur kadar dari alpha subarakhnoid unit atau kadar alpha dan beta subarakhnoid unit. Pada tumor ini terdapat peninggian kadar alpha subarakhnoid unit, walaupun pada adenoma non fungsional 22% kadar alpha subarakhnoid unitnya juga meningkat. MRI dengan gadolinium, pada pemeriksaan ini tidak bisa dibedakan antara adenoma yang satu dengan yang lainnya d. Adenoma yang bersekresi ACTH

CRH dilepaskan dari hipotalamus dan akan merangsang sekresi ACTH dari adenihipofisis, ACTH akanmeningkatkan produksi dan sekresi cortisol dari adrenal cortex yang selanjutnya dengan umpan balik negatif akan menurunkan ACTH. Pada kondisi stres fisik dan metabolik kadar cortisol meningkat, secara klinik sulit mengukur ACTH, maka cortisol dalam sirkulasi dan metabolitnya dalam urine digunakan untuk status diagnose dari keadaan kelebihan adrenal. Cushings syndroma secara klinik mudah dikenal tapi sulit untuk menentukan etiologinya.

Pengukuran plasma kortisol, kortisol urine dan derifatnya seacra basal maupun dalam respon terhadap dexametason, maupun penetuan plasma ACTH, bisa dipakai untuk menentukan apakah penyakitnya primer adrenal, hipofisis atau sumber keganasan ektopi.

Jika data tersebut seimbang maka diperlukan pengukuran CRH dan test perangsangan CRH dengan pengukuran ACTH dan cortisol perifer atau pada aliran vena sinus petrosus bilateral untuk membuktikan adanya Cushings disease. Jika sudah ditentukan sumbernya hipofisis, akan lebih sulit lagi menentukan bagian hipofisis yang mana yang memproduksi hipersereksi ACTH.

9. Therapy/ tindakan penanganan

Gambaran Radiographic: MRI adalah prosedur terbaik untuk mengevaluasi patologi hipofisis, pencitraan jaringan lunak tanpa gangguan dari lingkungan kurus dari sella dan menghasilkan gambit dalam setiap bidang Pengobatan: Pengobatan adenoma hipofisis dimulai dengan koreksi elektrolit disfungsi dan penggantian hormon hipofisis, jika perlu, segera setelah spesimen darah diagnostik telah terkirim. Penggantian hormon tiroid atau adrenal adalah sangat penting. Steroid penggantian harus cukup untuk situasi stres, termasuk periode perioperatif. Tujuan perawatan berbeda sesuai dengan aktivitas fungsional tumor. Untuk tumor endokrin aktif, pendekatan yang agresif terhadap normalisasi hipersekresi sangat penting sekaligus mempertahankan fungsi hipofisis normal. Hal ini biasanya dapat dicapai dengan bedah eksisi, tetapi beberapa Prolaktinoma lebih baik dikontrol secara medis. Untuk nonsecreting tumor, pengobatan diarahkan bedah pengurangan efek massa bertanggung jawab atas gejala, dengan tetap menjaga fungsi hipofisis. Meskipun bedah reseksi lengkap diinginkan, yang radiosensitivity tumor ini mengundang subtotal debulking diikuti dengan terapi radiasi untuk mengurangi risiko kekambuhan atau keganasan. Adenomas asimtomatik insidentil tidak memerlukan intervensi tetapi harus diikuti dengan pemeriksaan secara berkala bidang visual dan MRI. Timbulnya gejala atau MRI dokumentasi pertumbuhan indikasi untuk perawatan. Pembedahan: Keberhasilan dan keselamatan pendekatan transsphenoidal membuat prosedur pilihan untuk menghilangkan adenomas. Kebanyakan tumor lunak dan gembur, dan transsphenoidal akses, meskipun terbatas, memungkinkan untuk penghapusan lengkap bahkan jika ada suprasellar signifikan ekstensi atau sella tidak diperbesar. Tingkat kematian kurang dari 1%. Mayor morbiditas, termasuk stroke, kehilangan penglihatan, meningitis, CSF bocor, atau cranial palsy, kurang dari 3,5%. Diabetes insipidus permanen

muncul setelah operasi dalam 2 sampai 5% dari pasien dan diperlakukan oleh penggantinya. Terapi radiasi: Terapi radiasi melengkapi operasi dalam mencegah perkembangan atau kekambuhan. Standar teknik radiasi melibatkan penggunaan tiga bidang (bidang menentang sejajar dengan bidang koronal) atau teknik rotasi untuk menghindari dosis yang tidak perlu di lobus temporal. Dosis 4.500-5.000 cGy disampaikan dalam pecahan 180-cGy disarankan. Secara umum, pasien dengan tumor subtotally resected diberikan terapi radiasi. Walaupun radiasi mengurangi risiko kekambuhan atau penundaan kambuhnya setelah bruto total reseksi, kita ikuti serial pasien dengan MRI scan dan pemeriksaan bidang visual dan menahan radiasi kecuali ada tumor didokumentasikan regrowth. Untuk tumor termasuk kelenjar pituitary adenoma hipofisis, prolactinoma dan penyakit Cushings, keputusan yang berkaitan dengan pengobatan untuk tumor kelenjar hipofisis bergantung pada pemahaman lengkap tentang risiko bersaing vs manfaat untuk pengobatan yang berbeda. Pilihan untuk perawatan tumor kelenjar pituitari dapat mencakup operasi, Radiosurgery dan gamma pisau.

10. Kriteria diagnostic

Ketika melakukan diagnosis, pemeriksa akan bertanya tentang riwayat keluarga apakah sebelumnya ada yang pernah mengalami tumor kelenjar pituitary, hiperparatiroidisme (kelenjar paratiroid yang terlalu aktif), hipoglikemia (gula darah rendah) atau tumor kelenjar pankreas. Pada pemeriksaan fisik mengidentifikasi tanda-tanda tumor hipofisis dan masalah kesehatan lainnya. Sebuah ujian neurologis meliputi cek penglihatan, pendengaran, keseimbangan, koordinasi dan reflex. Dengan adanya tanda-tanda yang disebutkan muncul berikut: pada pasien pemeriksa dapat

mencurigai pasien tersebut mengalami adanya tumor dan ditambah lagi pada pemeriksaan

Pengujian biokimia

Kadar hormon dapat diukur dalam darah atau sampel urin melalui tes laboratorium yang mendeteksi kelebihan produksi atau kekurangan. Seringkali, kelebih hormon stimulasi .

Scan Magnetic Resonance Imaging (MRI)


MRI, standar tes pencitraan untuk tumor hipofisis, menggunakan medan magnet dan gelombang radio untuk menghasilkan gambar. MRI scan sangat berguna dalam mendiagnosis tumor hipofisis. Kadang-kadang cairan khusus disuntikkan ke dalam aliran darah untuk membedakan tumor dari jaringan sehat. MRI dapat dengan mudah mengidentifikasi tumor besar (macroadenomas) dari kelenjar hipofisis maupun untuk mengidentifikasi tumor yang paling kecil (microadenomas). Tapi MRI mungkin tidak mendeteksi banyak microadenomas lebih kecil dari 3 milimeter (kirakira delapan inci). Antara 5 persen dan 25 persen dari orang sehat memiliki beberapa minor abnormal pada kelenjar hipofisis yang muncul di MRI scan.

Biopsy
Sebuah biopsi (mengambil contoh tumor dan memeriksanya di bawah mikroskop) mungkin kadang-kadang dianjurkan untuk verifikasi definitif. Pituitary tumor dapat diperiksa di bawah mikroskop sebelum atau setelah pembedahan untuk menentukan jenis tumor.

11. Prognosis Pituitary tumor biasanya dapat disembuhkan. Hipofisis adenomas yang mengeluarkan adrenocorticotropic hormon sering memiliki komplikasi yang kuat untuk kambuh. Sekitar 5% dari hipofisis adenomas menginvasi jaringan terdekat dan tumbuh dalam ukuran besar. Metastasis tumor hipofisis sangat jarang terjadi. Namun, karsinoma hipofisis dapat bermetastasis dan berhubungan dengan prognosis yang buruk. .
12.

Komplikasi Komplikasi akan muncul jika adenoma hipofisis tidak ditangani segera walaupun sesungguhnya adenoma hipofisis ini bersifat jinak, namun karena tidak mendapatkan

penanganan yang baik, adenoma akan bermetastasi pada organ lain yang akan mennimbulkan kanker dan organ yang terdekat dapat diserang adalah otak yang mengakibatkan menjadi tumor ataupun kanker otak. Komplikasi pada pembedahan Hemoragik, peningkatan CSS, diabetes insipidus, infeksi pasca oprasi.

B. KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN

1.

Pengkajian

A. Pengkajian (DS dan DO) Ds:

Klien mengeluh nyeri kepala


Klien mengeluh pandangannya ganda dan kabur

Klien mengeluh nyeri wajah Klien mengeluh cepat lelah Klien mengeluh menstruasi berhenti sebelum waktunya Klien mengalami penurunan libido Do: Lapang pandang klien berkurang Pupil athropi Klien tampak lemah Klien tampak pucat Klien tampak mengalami gigantisme atau akromegali Klien mengalami moon face, buffalo hump Klien mengalami hipertensi Kulit klien tampak gosong Tampak striae abdominal Tinggi badan klien melebihi normal BB klien Semua proporsi tubuh klien tampak membesar Klien tampak tidak mampu mengangkat tangan dan kaki (kelemahan otot)

Rambut klien tampak halus dan jarang Kulit klen tampak kering dan lunak B. Pengkajian sekunder a) Identitas Terjadi pada wanita dan pada laki-laki dengan pefalensi seimbang dan mempunyai insiden puncak antara usia 20 dan 30 tahun. b) Keluhan Utama Klien mengeluhkan sakit kepala pada satu atau keduanya, atau di tengah dahi kabur atau penglihatan ganda; kehilangan samping (perifer) visi, ptosis yang disebabkan oleh tekanan pada saraf yang menuju ke mata, perasaan mati rasa pada wajah, demensia, perasaan mengantuk, kepala membesar, makan berlebih atau berkurang. c) kabur. d) Riwayat penyakit dahulu Kaji apakah sebelumnya klien pernah mengalami tumor pada bagian tubuh, Kaji apakah klien pernah mengalami cedera kepala berat ataupun ringan. e) Riwayat penyakit keluarga Kaji apakah keluarga pernah menderita penyakit tumor hipofisis. C. Pemeriksaan fisik Inspeksi : klien tampak mengalami pembesaran yang abnormal pada seluruh bagian tubuh (jika timbul saat usia dini) Klien tampak mengalami akromegali atau pembesaran yang abnormal pada ujungujung tubuh seperti kaki, tangan, hidung, dagu (timbul pada saat usia dewasa) Kulit klien tampak pucat Riwayat penyakit sekarang

Klien mengatakan kepalanya sering mengalami sakit pada kepalanya, dan pandangan

Terdapat penumpukan lemak di punggung, wajah. Klien tampak mengalami diplopia (pandangan ganda) Tampak atropi pada pupil Klien tampak susah membedakan warna Klien tampak susah menggerakkan organ-organ tubuh karena kelemahan otot Palpasi: Terdapat nyeri kepala Terdapat kelemahan otot tonus otot Ekstremitas atas 444 dan ekstremitas bawah 444

D. Pemeriksaan diasnostik Adenoma Hipofisis non fungsional: a. pada rontgen foto lateral tengkorak terlihat sella turcica membesar, lantai sella menipis dan membulat seperti balon. Jika pertumbuhan adenomanya asimetrik maka pada lateral foto tengkorak akan menunjukkan double floor. Normal diameter AP dari kelenjar hipofisis pada wanita usia 13-35 tahun < 11 masing-masing, sedang pada yang lainnya normal < 9 masing-masing. b. MRI dan CT scan kepala, dengan MRI gambaran a.carotis dan chiasma tampak lebih jelas, tetapi untuk gambaran anatomi tulang dari sinus sphenoid CT scan lebih baik. c. Test stimulasi fungsi endokrin diperlukan untuk menentukan gangguan fungsi dari kelenjar hipofisis. Adenoma Fungsional a. Adenoma yang bersekresi Prolaktin Penilaian kadar serum prolactin, kadar serum lebih dari 150 ng/ml biasanya berkorelasi dengan adanya prolactinomas. Kadar prolactin antara 25-150 ng/ml terjadi pada

adanya kompresi tangkai hipofisis sehingga pengaruh inhibisi dopamin berkurang, juga pada stalk effect (trauma hypothalamus, trauma tungkai hipofisis karena operasi). b. Adenoma yang bersekresi growth hormone Pengukuran kadar GH tidak bisa dipercaya karena sekresi hormon ini yang berupa cetusan, walaupun pada keadaan adenoma. Normal kadar basal Gh <1 ng/ml, pada penderita acromegali bisa meningkat sampai > 5 ng/ml, walaupun pada penderita biasanya tetap normal. Pengukuran kadar somatemedin C lebih bisa dipercaya, karena kadarnya yang konstan dan meningkat pada acromegali. Normal kadarnya 0,67 U/ml, pada acromegali mebningkat sampai 6,8 U/ml. Dengan GTT kdar GH akan ditekan sampai < 2 ng/ml sesudah pemberian glukosa oral (100 gr), kegagalan penekanan ini menunjukkan adanya hpersekresi dari GH. Pemberian GRF atau TRH perdarahan infus akan meningkatkan kadar GH, pada keadaan normal tidak. Jika hipersekresi telah ditentukan maka pastikan sumbernya dengan MRI, jika dengan MRI tidak terdapat sesuatu adenoma hipofisis harus dicari sumber ektopik dari GH. c. Adenoma yang bersekresi glikoprotein (TSH, FSH, LH) Hormon TSH, LH dan FSH masing-masing terdiri dari alpha dan beta subarakhnoid unit, alpha subarakhnoid unitnya sama untuk ketiga hormon,sedangkan beta subarakhnoid unitnya berbeda. Dengan teknik immunohistokimia yang spesfik bisa diukur kadar dari alpha subarakhnoid unit atau kadar alpha dan beta subarakhnoid unit. Pada tumor ini terdapat peninggian kadar alpha subarakhnoid unit, walaupun pada adenoma non fungsional 22% kadar alpha subarakhnoid unitnya juga meningkat. MRI dengan gadolinium, pada pemeriksaan ini tidak bisa dibedakan antara adenoma yang satu dengan yang lainnya d. Adenoma yang bersekresi ACTH CRH dilepaskan dari hipotalamus dan akan merangsang sekresi ACTH dari adenihipofisis, ACTH akanmeningkatkan produksi dan sekresi cortisol dari adrenal cortex yang selanjutnya dengan umpan balik negatif akan menurunkan ACTH. Pada kondisi stres fisik dan metabolik kadar cortisol meningkat, secara klinik sulit mengukur ACTH, maka cortisol dalam sirkulasi dan metabolitnya dalam urine digunakan untuk status diagnose dari keadaan kelebihan adrenal. Cushings syndroma secara klinik mudah dikenal tapi sulit untuk menentukan etiologinya.

Pengukuran plasma kortisol, kortisol urine dan derifatnya seacra basal maupun dalam respon terhadap dexametason, maupun penetuan plasma ACTH, bisa dipakai untuk menentukan apakah penyakitnya primer adrenal, hipofisis atau sumber keganasan ektopi.

Jika data tersebut seimbang maka diperlukan pengukuran CRH dan test perangsangan CRH dengan pengukuran ACTH dan cortisol perifer atau pada aliran vena sinus petrosus bilateral untuk membuktikan adanya Cushings disease. Jika sudah ditentukan sumbernya hipofisis, akan lebih sulit lagi menentukan bagian hipofisis yang mana yang memproduksi hipersereksi ACTH.

2.

Diagnosa keperawatan berdasarkan prioritas


a. Nyeri akut berhubungan dengan penekanan korteks serebri di hipotalamus b. Hipertermi berhubungan dengan kerusakan control suhu sekunder akibat tumor

hipofisis
c. GSP, Penglihatan berhubungan dengan penekanan pada ciasma optikum

d. PK Hiperglikemia
e. PK Hipertensi

f. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan metabolic ( hipermetabolik ) g. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan retensi air akibat peningkatan sekresi ADH h. Kelemahan berhubungan dengan ketidakmampuan menyokong tubuh i. Risiko cidera berhubungan dengan kerusakan fungsi sensori penglihatan j. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan penampilan fisik k. Inefektif menyusui berhubungan dengan kurangnya pelepasan oksitosi

3.

Perencanaan keperawatan

a.

Nyeri akut berhubungan dengan penekanan korteks serebri di hipotalamus ditandai dengan klien mengatakan kepalanya nyeri, klien tampak meringis klien mengatakan skala nyeri 5

Tujuan : Setelah diberikan asuhan keperawatan ..x24 jam diharapkan pasien melaporkan nyeri berkurang, klien tampak tidak meringis lagi, skala nyeri bahkan hilang (skala nyeri 0)

Intervensi Mandiri 1. klien 2. hangat 3. Kolaborasi 1. Pemberian analgesik Anjurkan melakukan aktivitas pengalih untuk Kompres dengan air Kaji tingkat nyeri

Rasional 1. Mengetahui tingkat nyeri yang dirasakan klien 2. Air hangat dapat mengurangi rasa nyeri 3. Mengalihkan Nyeri klien

1. Mengurangi rasa nyeri

b. Hipertermi berhubungan dengan kerusakan control suhu sekunder akibat tumor hipofisis ditandai dengan suhu tubuh diatas normal (diatas 36-37,5), kulit tampak kemerahan, klien mengeluhkan badannya panas.

Kriteria hasil: Setelah diberikan asuhan keperawatan ..x24 jam diharapkan klien tidak mengalami peningkatan suhu tubuh. Dengan kriteria hasil :

suhu tubuh klien dalam rentang normal (36,50 37,50 C), kulit klien tidak tampak kemerahan, klien tidak mengeluhkan panas lagi

Intervensi

Rasional

1. Pantau suhu tubuh pasien (derajat 1. Demam biasanya terjadi karena dan pola) perhatikan adanya proses inflamasi tetapi mungkin merupakan komplikasi dari kerusakan pada hipotalamus. 2. Pantau suhu lingkungan.Batasi 2. Suhu ruangan/jumlah selimut harus diubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal. menggigil.

penggunaan selimut.

3. Berikan kompres hangat jika ada 3. Kompres air hangat menyebabkan

demam. alkohol.

Hindari

penggunaan

tubuh

dingin

melalui

proses

konduksi.

4. Pantau masukan dan haluaran. Catat 4. Hipertermia meningkatkan karakteristik urine, turgor kulit, dan kehilangan air tak kasat mata dan membrane mukosa. meningkatkan resiko dehidrasi, terutama menurun menurunkan oral. jika tingkat pemasukan kesadaran mual melalui /munculnya

5. Kolaborasi : Berikan antipiretik, misalnya ASA (aspirin), asetaminofen (Tylenol).

5. Digunakan

untuk

mengurangi

demam dengan aksi sentralnya pada hipotalamus, berguna juga untuk membatasi pertumbuhan organism dan meningkatkan autodestruktif dari sel-sel yang terinfeksi.

c. GSP, Penglihatan berhubungan dengan penekanan pada ciasma optikum ditandai dengan klien mengatakan pandangannya kabar dan ganda Kriteria Hasil : Setelah diberikan asuhan keperawatan ..x24 jam diharapkan

Penurunan tajam dan lapang pandang klien tidak semakin memburuk, Klien mangatakan pandangan kabur dan ganda mulai berkurang bahkan hilang.

Intervensi 1. Kaji adanya ptosis, diplopia, gerakan bola mata dan visus.

Rasional 1. Dapat mengidentifikasi penyebab keluhan dan mengetahui besar tajam serta lapang pandang penglihatan klien.

2. Kaji fungsi saraf III, IV, VI, 2. Menentukan VII.

adekuatnya

saraf

cranial yang berhubungan dengan kemampuan pergerakan mata. 3. Memberikan lubrikan dan

3. Gunakan obat tetes mata dan pelindung. 4. Orientasikan pasien pada lingkungan sekitar sebagaimana

melindungi mata. 4. Mengenali lingkungan.

kebutuhan. 5. Tutup kedipan cahaya yang tidak penting dengan selotip atau pita, gunakan cahaya yang redup malam hari, dorong menggunakan penutup mata.

5. Dapat penunjang luar.

mengurangi dan

atau

menghilangkan

factor-factor mengurangi

pandangan kilauan dari lingkungan

d.

Potensial komplikasi: Hiperglikemia Kriteria hasil: Setelah diberikan Asuhan Keperawatan x24 jam diharapkan tidak terjadi hiperglikemi dengan kriteria hasil: Kadar gula dalam darah kembali normal

Tidak terdapat tanda-tanda hiperglikemik

Intervensi 1. Observasi tanda-tanda hipeglikemi 2. Berikan 3. Awasi suntik insulin 1. Membantu

Rasional dalam menentukan

intervensi selanjutnya. menurut 2. Mengupayakan agar gula darah dalam keadaan normal laboratorium 3. Gula darah yang tinggi merupakan indicator terjadi hiperglikemi sleding scale pemeriksaan terutama GDS

e. Potensial Komplikasi, Hipertensi Kriteria hasil: Setelah diberikan Asuhan Keperawatan selama .x24 jam diharapkan tidak terjadi hipertensi dengan kriteria hasil: Tekanan darah normal 120/80mmHg Tidak ada tanda-tanda hipertensi

Intervensi 1. Observasi tanda-tanda hipertensi 2. Awasi tekanan darah klien setiap jam

Rasional 1. Membantu 2. Tekanan merupakan hipertensi dalam darah menentukan yang tinggi terjadi

intervensi selanjutnya. indicator

Kolaborasi 3. Berikan obat anti hipertensi 3. Sebagai antihipertensi

DAFTAR PUSTAKA

Doenges, E. M, Mary F.M, Alice C.G, (2002), Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta. Smeltzer C. Suzanne, Bare G. Brendo, (2002), Keperawatan Medikal Bedah, vol. 3, EGC : Jakarta. Price dan Wilson, editor dr. Huriawati Hartano, dkk. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis dan Prosesproses Penyakit Edisi 6 Vol. Jakarta : EGC Doenges, Marilynn E., dkk. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC. Hall and Guyton, (1997), Fisiologi Kedokteran, EGC : Jakarta.

Noer Sjaifullah H. M, (1999), Ilmu Penyakit Dalam, jilid II, FKUI, Jakarta. http://www.mayoclinic.org/pituitary-tumors/