Anda di halaman 1dari 63

KEJANG DEMAM SEDERHANA e.

c TONSILOFARINGITIS AKUT
Disusun oleh : Maria Murniati Panjaitan

KEJANG DEMAM

Kepaniteraan Ilmu Kesehatan Anak Periode 2 Mei 2011 4 Juni 2011

Definisi
bangkitan kejang yang terjadi karena kenaikan

suhu tubuh (suhu rektal diatas 380C) yang


disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium

Anak yang pernah mengalami kejang tanpa

demam, kemudian kejang kembali bukan kejang demam

Fakta mengenai kejang demam


Kejang demam terjadi pada 2 4% dari populasi

anak ( 6 bulan 5 tahun) 80% merupakan kejang demam sederhana, sedangkan 20% adalah kejang demam kompleks 8% berlangsung lama (> 15 menit) 16% berulang dalam waktu 24 jam Anak laki-laki lebih sering mengalami kejang demam 25% mempunyai riwayat keluarga(saudara kandung dan orang tua) kejang demam Risiko untuk menderita kejang demam lebih bayak pada kembar monozigot daripada kembar

Etiologi
Belum diketahui dengan pasti penyebabnya

Demam sering disebabkan :


Infeksi saluran pernafasan atas OMA Infeksi saluran cerna

Infeksi saluran kemih


Pasca imunisasi DPT dan MMR

Kejang tidak selalu timbul pada suhu yang tinggi tapi

terkadang demam yang tidak begitu tinggi dapat menyebabkan kejang

Patofisiologi

Klasifikasi
Kejang Demam Sederhana
Berlangsung singkat,

Kejang Demam Kompleks


Kejang lama > 15 menit Kejang fokal atau

< 15 menit Umum tonik dan/ atau klonik Umumnya akan berhenti sendiri, tanpa gerakan fokal atau berulang dalam 24 jam

parsial satu sisi, atau kejang umum didahului kejang parsial Berulang atau >1 kali dalam 24 jam

Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaa n Laboratoriu m
Pemeriksaan

lab

rutin

tidak

dianjurkan Dapat dikerjakan untuk mengevaluasi sumber infeksi atau mencari penyebab :
Darah perifer Elektrolit Gula darah

urinalisis

Pungsi lumbal

Pemeriksaan CSS untuk menegakkan atau

menyingkirkan kemungkinan diagnosis Risiko terjadinya meningitis bakterialis 0.6 6.7% Pungsi lumbal :
Bayi < 12 bulan sangat dianjurkan Bayi 12 18 bulan dianjurkan Bayi > 18 bulan tidak rutin

(EEG)
Elektroensefal o-grafi

EEG tidak dapat memprediksi berulangnya

kejang / memperkirakan kemungkinan kejadian epilepsi pada pasien kejang demam -- Tidak direkomendasikan
EEG masih dapat dilakukan pada kejang

demam yang tidak khas, misalnya kejang demam kompleks pada usia > 6 tahun/ kejang demam fokal

Pencitraa n

Foto X-ray kepala, CT-Scan dan MRI

jarang sekali dikerjakan, tidak rutin dan atas indikasi :


Kelaianan neurologik fokal yang menetap

(hemiparesis) Parese N VI Papiledema

Faktor Risiko Kejang Demam


faktor riwayat kejang demam pada orang tua atau

saudara kandung, perkembangan terlambat, problem pada masa neonatus, anak dalam perawatan khusus, dan kadar natrium rendah. Bila seorang anak mempunyai 2 atau lebih faktor risiko mendapatkan kejang demam 30%

Faktor risiko berulangnya kejang demam


Riwayat kejang demam dalam keluarga/

Usia < 15 bulan


Temperatur yang rendah saat kejang Cepatnya timbul kejang setelah demam
-- bila semua faktor diatas ada kemungkian kejang berulang 80% -- bila tidak terdapat faktor tersebut kemungkinan berulang 10 15%

Faktor risiko terjadinya epilepsi


Kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas

sebelum kejang demam pertama Kejang demam kompleks Riwayat epilepsi pada orangtua/ saudara kandung
-- masing-masing risiko meningkatkan kemungkinan epilepsi 4 6% -- kombinasi dari faktor risiko tersebut meningkatkan kejadian epilepsi 10 49% -- kemungkinan terjadinya epilepsi tidak dapat dicegah dengan pemberian obat rumat pada kejang demam

Bagan penghentian kejang demam


Kejang Diazepam rektal
5 menit Diazepam rektal 0,5 mg/kgBB BB < 10 kg : 0,5 mg BB > 10 kg : 10 mg Diazepam IV 0,3-0,5 mg/kgBB

Di Rumah sakit Diazepam IV, kecepatan 0,5-1 mg/menit (3-5menit) Fenitoin bolus IV 10 -20 mg/kgBB, Kecepatan 0,5-1 mg/kgBB/ menit

Transfer ke ICU

Pemberian obat saat demam


Antipiretik
Asetaminofen 10 15

Antikonvulsan
Diazepam oral 0,3

mg/kg/kali (4 kali sehari, tidak lebih dari 5 kali) Sindroma Reye pada usia < 18 bulan Ibuprofen 5 10 mg/kg/kali, 3 4 kali sehari Paracetamol 10 mg/kg

mg/kg setiap 8 jam Diazepam rektal 0,5 mg/kg setiap 8 jam (suhu > 38.50C)

Pemberian obat rumat


Bila kejang demam menunjukan ciri : Kejang lama > 15 menit Adanya kelainan neurologis yang nyata sebelum/ sesudah kejang Kejang fokal Pengobatan rumat dipertimbangkan bila :
Kejang berulang > 2 kali dalam 24 jam Kejang demam pada bayi < 12 bulan Kejang demam > 4 kali per tahun

Fenobarbital/ asam valproat setiap hari efektif

dalam menurunkan risiko berulangnya kejang


Fenobarbital 3 4 mg/kg/ hari dalam 1 2 dosis

gangguan perilaku dan kesulitan belajar (40 50%)


Obat pilihan Asam valproat 15 40 mg/kg/hari

dalam 2 3 dosis
Pengobatan rumat diberikan selama 1 tahun

bebas kejang dihentikan secara bertahap

Edukasi pada orang tua


Meyakinkan bahwa kejang demam umumnya benign

Memberikan cara penanganan kejang


Memberikan informasi kemungkinan kejang kembali

Terapi memang efektif mencegah rekurensi, tetapi

memungkinkan efek samping


Tidak

ada bukti bahwa terapi akan mengurangi

kejadian epilepsi

IDENTITAS PASIEN
Tanggal
21

: 9 Mei 2011 Nama : An. R Umur : 2 tahun Tempat tanggal lahir: Jakarta, 14 Mei 2009 Jenis Kelamin : Laki-Laki Agama : Islam Suku bangsa : Jawa Alamat : Cipinang Melayu

Orang tua kandung

Ayah
Nama :Tn. A Umur : 31 tahun Pendidikan : SMA Pekerjaan : Security Penghasilan: 1.000.000 Riwayat penyakit (-)

Ibu
Nama : Ny. A Umur : 33 tahun Pendidikan : SMEA Pekerjaan : Ibu RT Penghasilan : Riwayat penyakit (-)

22

RIWAYAT KELAHIRAN
Cukup bulan Lahir normal, spontan pervaginam di Puskesmas, oleh Bidan

Berat badan 2900 gram


Panjang badan 50 cm Kelainana bawaan: disangkal Kesan : NCB-SMK BBL N tanpa kelainan kongenital

23

Susunan Keluarga
= Ayah
1. 2.

= Ibu

, Usia 3 tahun 8 bulan , Lahir normal, Bidan, BBL 3100 gram, TB 50 cm , pasien Usia 2 th, Lahir normal, Bidan, BBL 2900 gram, TB lahir 50 cm

Keterangan : = laki-laki = perempuan Pasien merupakan anak ke 2 dalam keluarga


24

Riwayat Makan dan Minum


Menu makanan pasien
- Nasi = 1 porsi kecil - Sayur bayam - Telur/Ikan : 1 potong kecil - Tempe = 1 biji

- Susu = 1 gelas per hari

Kesan : Kualitas dan Kuantitas cukup

25

Riwayat Imunisasi
Hep B

: 0 bulan BCG : 2, 4, 6 bulan DPT : 0. 2, 4, 6 bulan Polio : 0, 1, 5 bulan Campak : 9 bulan Kesan : imunisasi lengkap sesuai umur

26

Riwayat Imunisasi
I BCG DPT POLIO 0 bulan 2 bulan 0 bulan II 4 bulan 2 bulan III 6 bulan 4 bulan ULANGA N 6 bulan

Hep B

0 bulan

1 bulan
-

5 bulan
-

CAMPAK 9bulan

Kesan : imunisasi lengkap sesuai umur

Riwayat Perkembangan
Gigi pertama

Duduk
Jalan sendiri Bicara

: usia 7/12 bulan : usia 9/12 bulan : usia 12/12 bulan : usia 18/12 tahun

Membaca :
Perkembangan Fisik dan Motorik normal

(sesuai dengan usia)

28

Riwayat Penyakit yang Pernah Diderita


Pasien sering batuk pilek

Morbili
Varisela pada usia 1 tahun 10 bulan Berak muntah pada usia 1 tahun 5 bulan Kejang demam pada usia 11 bulan

29

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


Alloanamnesis dari Ibu pasien tanggal 2 Mei 2011

Keluhan Utama
Kejang

Keluhan Tambahan
Demam tinggi, batuk,dan pilek
30

RIWAYAT PERJALANAN PENYAKIT


2 jam SMRS, saat pasien sedang mau tidur tiba-tiba

31

ayah pasien melihat pasien kejang, matanya mendelik keatas, kedua tangan dan kaki kaku, tidak keluar busa dari mulutnya. Kejang berhenti sendiri dan terjadi sekitar 5 menit, setelah kejang berhenti pasien kemudian menangis dan memanggil ibunya. Ibu pasien mengaku bahwa sebelumnya pasien mengalami demam, suhu diukur oleh ibu 400C (axilla) sebelum kejang terjadi. Kemudian orang tua pasien memanggil dokter di dekat rumah dan diberikan obat melalui anus (ibu pasien tidak mengetahui nama obatnya). Keluhan ini tidak berulang dan kejang hanya sekali saja. Sesak (-) Riwayat jatuh disangkal.

RIWAYAT PERJALANAN PENYAKIT


2 hari SMRS, pasien mengeluh batuk berdahak

berwarna putih bening, darah (-) dan pilek berwarna putih. 1 hari SMRS pasien demam, demamnya tinggi (ibu pasien tidak mengukur suhu tubuh) dan mendadak, diseluruh tubuh dimalam hari. kemudian oleh orang tuanya pasien dibawa keklinik terdekat dan diberi puyer penurun demam tetapi demamnya tidak turun.

32

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


Pada saat usia 11 bulan pasien pernah mengalami

keluhan yang sama. Setelah kejang pasien tidak mengalami kelainan apapun seperti lumpuh. Riwayat cedera otak disangkal. Riwayat kejang tanpa demam disangkal.

33

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA


Kakak pasien pernah mengalami kejang yang

didahului demam secara tiba-tiba pada saat usia 1 tahun 6 bulan Riwayat kejang dengan demam dan epilepsi pada orang tua disangkal

34

Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum Kesadaran Tekanan Darah Nadi angkat) RR Suhu : tampak sakit sedang : composmentis : 100/60 mmHg : 149 x/menit ( isi cukup, reguler, kuat : 50 x/menit (reguler, adekuat) : 39,6 0C

35

Berat Badan : 11 kg Tinggi Badan : 86 cm Kesan Gizi : cukup

Kepala


36

: normocephali, rambut hitam, tumbuh merata, tidak mudah dicabut Mata : Visus baik, Pergerakan bola mata baik, Konjungtiva tidak pucat, Sklera tidak kuning Hidung : Bentuk biasa, Cavum nasilapang/lapang, sekret +/+ berwarna putih, mukosa hidung hiperemis Telinga : Normotia, Liang lapang/lapang, Serumen (-)/(-), membran timpani berwarna putih seperti mutiara intak/intak Mulut : Bibir lembab, lidah tidak kotor, tonsil T1T1 hiperemis, faring hiperemis Leher : KGB tidak teraba membesar, Kaku kuduk (-)

Pemeriksaan Fisik
Thoraks Inspeksi : pergerakan sdinding dada ismetris, kelainan bawaan tidak ada, retraksi sela iga Palpasi : vokal fremitus simetris kanan = kiri, Perkusi : sonor kanan = kiri Auskultasi : BND bronkovesikuler, Rhonki -/+Wheezing -/Jantung: Bunyi jantung I & II normal, gallop (), murmur (-)

Abdomen Inspeksi : Perut tampak datar Auskultasi : bising usus 4x/ menit Palpasi : perut supel, nyeri tekan (),hepar dan lien tidak teraba membesar Perkusi tympani, nyeri ketok (+)

Ekstremitas :Akral hangat, Cap. Refill < 2 Kulit : turgor kulit cukup Pemeriksaan Neurologis:

Motorik:

5555

5555

5555 5555
Sensibilitas: Baik Reflek fisiologis Bisep ++/++ Trisep ++/++ Reflek patologis Babinsky -/Oppenheim -/Schiffner -/ Rangsangan meningeal Brudzinky I kernig -/-

KPR ++/++ APR ++/++ Gordon -/Chadock -/-

Brudzinky II -/-

39

Pemeriksaan Laboratorium
DARAH LENGKAP LED Hb Leukosit 10 mm/jam 11,6 gr/dl 20,1 rb/uL HITUNG JENIS basofil eosinofil Net.btg 0 2% 1%

Eritrosit
Ht Trombosit MCV MCH MCHC

4,69
34,6 % 305 rb/ul 74 fl 24,8 pg 33,7 %

U/l

Net. Segmen
Limfosit monosit ELEKTROLIT Na K Cl

85%
12 % 0

150 mmol/L 4,8 mmol/L 105 mmol/L

Diagnosis
Diagnosis Kerja :

kejang demam sederhana e.c tonsilofaringitis akut

41

PENATALAKSANAAN
Pro rawat inap
Diet lunak Ivfd = tridex plain 10 tts/mnt Medikamentosa : Sanmol syrup 3x1 cth (po) Puyer batuk pilek (ambroxol 6mg, CTM 1mg,prednison

2mg,theophylin 12mg) 3x1 Puyer diazepam 3 x 1,5mg (po) Stesolid rectal 10mg k/p kejang Cefotaxim 2x300mg, skin tes dahulu Observasi TTV + Balance cairan
42

Pemeriksaan anjuran
Foto thorak

Follow Up

FOLLOW UP 10 MEI 2011 (PP3PH2)


S : Demam (+), batuk (+), Pilek (+), kejang (-) O : keadaan umum : Tampak Sakit Sedang
Kesadaran : compos mentis Frekuensi nadi : 148 x/menit ( reguler, isi cukup, kuat angkat) Frekuensi nafas : 40 x/menit (reguler, adekuat) Suhu : 38,1 C Kepala : normocephali, tumbuh merata, tidak mudah dicabut Mata : Konjungtiva tidak pucat, Sklera tidak kuning

FOLLOW UP 10 MEI 2011


Hidung

: Cavum nasi lapang / lapang, sekret +/+, mukosa hidung hiperemis Telinga : Normotia, Liang lapang/lapang, Serumen (-)/(-), membran timpani berwarna putih seperti mutiara intak/intak Mulut : faring hiperemis, tonsil T1-T1 hipermis Leher : KGB tidak teraba membesar, Kaku kuduk (-)

46

FOLLOW UP 10 MEI 2011


Thoraks Inspeksi : pergerakan dinding dada simetris, retraksi (-) Palpasi : vokal fremitus simetris kanan = kiri, Perkusi : sonor kanan = kiri Auskultasi : BND bronkovesikuler, Rhonki -/-, Wheezing -/Jantung: Bunyi jantung I & II normal, gallop (), murmur (-)

FOLLOW UP 10 MEI 2011


Abdomen Inspeksi : Perut tampak datar Auskultasi : bising usus 4x/ menit Palpasi : perut supel, nyeri tekan (),hepar dan lien tidak teraba membesar Perkusi tympani, nyeri ketok (+) Ekstremitas :Akral hangat, Cap. Refill < 2 Kulit : turgor kulit cukup

FOLLOW UP 10 MEI 2011


Pemeriksaan neurologis Motorik: 5555 5555 5555 5555 Sensibilitas: Baik Refleks fisiologis :
Refleks biceps ++/++ Refleks triceps ++/++ Refleks patela ++/++ Refleks achilles ++/++

Rangsang meningeal :
Kaku kuduk (-) Brudzinski I (-) Brudzinski II (-)/(-)

Refleks patologis :
Openheim (-)/(-) Babinski (-)/(-) chadock (-)/(-)

FOLLOW UP 10 MEI 2011


A : kejang demam sederhana ec TFA P : Diet : Lunak IFVD : Tridex plain 10 tetes/menit (makro) MM/:
Cefotaxim 2x300mg (IV) Sanmol Syrup 3x1cth (PO) Diazepam 3x1.5mg (PO) Stesolid 10 mg K/P Kejang Puyer batuk pilek : 3x1 bungkus o Ambroxol 6mg Ctm 1mg o Prednison 2mg Theophylin 12mg o Pemeriksaan Anjuran: swab tenggorok

FOLLOW UP 11 MEI 2011 (PP4PH3)


S : batuk (+), Pilek (+), demam (-), kejang (-) O : keadaan umum : Tampak Sakit Sedang
Kesadaran : compos mentis Frekuensi nadi : 112 x/menit ( isi cukup, reguler, kuat angkat) Frekuensi nafas : 32 x/menit (reguler, adekuat) Suhu : 37,7 C Kepala : normocephali Mata : Konjungtiva tidak pucat, Sklera tidak kuning

FOLLOW UP 11 MEI 2011


Hidung

: Cavum nasi lapang / lapang, sekret +/+, mukosa hidung hiperemis Telinga : Normotia, Liang lapang/lapang, Serumen (-)/(-), membran timpani berwarna putih seperti mutiara intak/intak Mulut : faring hiperemis, tonsil T1-T1 hiperemis Leher : KGB tidak teraba membesar, Kaku kuduk (-)

52

FOLLOW UP 11 MEI 2011


Thoraks Inspeksi : pergerakan dinding dada simetris, retraksi (-) Palpasi : vokal fremitus simetris kanan = kiri, Perkusi : sonor kanan = kiri Auskultasi : BND bronkovesikuler, Rhonki -/Wheezing -/Jantung: Bunyi jantung I & II normal, gallop (), murmur (-)

FOLLOW UP 11 MEI 2011


Abdomen Inspeksi : Perut tampak datar Auskultasi : bising usus 4x/ menit Palpasi : perut supel, nyeri tekan (),hepar dan lien tidak teraba membesar Perkusi tympani, nyeri ketok (+) Ekstremitas :Akral hangat, Cap. Refill < 2 Kulit : turgor kulit cukup

FOLLOW UP 11 MEI 2011


Pemeriksaan neurologis Motorik: 5555 5555 5555 5555 Sensibilitas: Baik Refleks fisiologis :
Refleks biceps ++/++ Refleks triceps ++/++ Refleks patela ++/++ Refleks achilles ++/++

Rangsang meningeal :
Kaku kuduk (-) Brudzinski I (-) Brudzinski II (-)/(-)

Refleks patologis :
Openheim (-)/(-) Babinski (-)/(-) chadock (-)/(-)

FOLLOW UP 11 MEI 2011


A : kejang demam sederhana e.c ISPA P : Diet : Lunak IFVD : aff infus MM/:

Sporetik 2x30mg Sanmol Syrup 3x1cth (PO) Diazepam 3x1.5mg (PO) Stesolid 10 mg K/P Kejang Puyer batuk pilek : 3x1 bungkus o Ambroxol 6mg Ctm 1mg o Prednison 2mg Theophylin 12mg

ANALISA KASUS
Dari anamnesis, yang mendukung diagnosis

Kejang Demam Sederhana adalah pasien berumur 2 tahun dan berjenis kelamin laki-laki, timbulnya serangan kejang dengan kedua tangan dan kaki kaku dan mata yang mendelik keatas yang berlangsung singkat selama 5 menit, didahului oleh demam tinggi (400C), dan setelah kejang kesadaran tidak menurun, pasien langsung menangis dan memangil ibunya setelah kejang. Dari pemeriksaan fisik didapatkan suhu tubuh pasien 39,60C dan tidak didapatkan kelainan neurologis.

Selain itu pasien juga mengeluh sejak 2 hari SMRS

pasien batuk berdahak berwarna putih bening dan pilek berwarna putih, dari pemeriksaaan fisik ditemukan mukosa hidung hiperemis dengan sekret +/+, faring hipermis dengan tonsil T1/T1hiperemis, dari pemeriksaan laboratorium didapatkan leukosit 20,1rb/uL dan dari pemeriksaan neurologis reflek fisiologis normal dan tidak ditemukan reflek patologis dan rangsang meningeal hal ini menunjukkan bahwa kejang pasien disebabkan oleh proses ekstrakranial yaitu berupa tonsilofaringitis. Pasien memiliki risiko berulangnya kejang 80 % karena memiliki riwayat kejang demam dalam keluarga dimana kakak pasien pernah mengalami kejang yang didahului demam, selain itu pasien juga pernah mengalami hal yang sama saat berusia 11 bulan. Pasien tidak memiliki

Penatalaksaan pada pasien dengan kejang yang

telah berhenti tetapi masih dalam keadaan demam berupa pemberian profilaksis intermiten. Seperti yang telah dibahas sebelumnya bahwa semala pasien demam maka masih memungkinkan untuk pasien mengalami kejang kembali sehingga pasien diberikan antipiretik (sanmol syrup). Pasien juga diberikan antikonvulsan (diazepam oral) setiap 8 jam untuk menurunkan risiko berulangnya kejang, selain itu pasien juga diberikan diazepam rektal (stesolid) apabila terjadi kejang kembali. Pasien tidak memiliki indikasi untuk pemberian pengobatan rumat.

Pada pasien ini ditemukan penyebab dari

demam adalah tonsilofaringitis akut sehingga pasien diberikan antibiotik sesuai dengan jenis kuman penyebab dari hasil biakan dan yang sensitif sesuai uji resistensi, akan tetapi banyak kasus sulit untuk mengetahui kuman penyebab secara definitif sehingga dapat digunaknaan antibiotik spektrum luas (cefotaksim IV lalu dilanjutkan dengan sporetik PO) sebagai terapi kausal dan diberikan puyer batuk pilek 3x1(ambroxol 6 mg, CTM 1 mg, prednison 2 mg, dan theophylin 12mg).

Pasien dipulangkan atas permintaanorang

tua.Pasien sudah tidak mengalami kejang. Pasien tidak memiliki indikasi pemberian rumatan. Pasien diperbolehkan pulang dengan kondisi sebagai berikut : Keadaan umum : Tampak sakit ringan (wajah ceria, aktif) Kesadaran : Compos mentis ( menangis kuat ) TD : 110/60 mmHg Frekuensi nadi : 149 x / menit ( reguler, isi cukup, kuat angkat ) Frekuensi nafas : 55 x / menit ( reguler,

Pasien di berikan obat pulang :

MM/

Sporetik

2x30 mgDiazepam 3x1.5mg (PO) Stesolid rectal 10 mg K/P Kejang Puyer batuk pilek : 3x1 bungkus
Ambroxol 6mg Prednison 2mg Ctm 1mg Theophylin 12mg

TERIMA KASIH

6 3