Anda di halaman 1dari 23

Seorang anak umur 4 tahun dengan demam 5 hari

BAB I PENDAHULUAN

Morbili adalah penyakit virus akut, menular yang ditandai dengan 3 stadium, yaitu stadium prodormal (kataral), stadium erupsi, dan stadium konvalisensi, yang dimanifestasikan dengan demam, konjungtivitis, dan bercak koplik. Penyebabnya adalah virus morbili yang berupa virus RNA yang termasuk famili Paramiksoviridae, genus Morbilivirus. Cara penularannya adalah dengan droplet infeksi. Biasanya penyakit ini timbul pada masa anak dan kemudian menyebabkan kekebalan seumur hidup. Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang pernah menderita morbili akan mendapat kekebalan secara pasif melalui plasenta. Sampai umur 4-6 bulan dan setelah umur tersebut kekebalan akan berkurang sehingga si bayi dapat menderita morbili. Bila seorang wanita menderita morbili ketika ia hamil 1 atau 2 bulan, maka 50% kemungkinan akan mengalami abortus, bila ia menderita morbili pada trimester I, II, atau III maka ia akan mungkin melahirkan seorang anak dengan kelainan bawaan atau lahir mati atau anak yang kemudian meninggal sebelum usia 1 tahun.1

BAB II LAPORAN KASUS

Seorang anak berusia 4 tahun diantar ibunya yang berusia 22 tahun ke RS Pendidikan Trisakti dengan keluhan demam selama 5 hari. Keluhan lainnya batuk, pilek, nafsu makan berkurang, mata merah, dan badan terasa lemah.

Anamnesis lebih lanjut yang dilakukan oleh mahasiswa Trisakti yang bertugas adalah sebagai berikut: 5 hari yang lalu anak mulai demam, timbul mendadak, naik turun, waktu malam demam lebih tinggi disertai batuk pilek. Batuknya kering tidak berdahak, dan tenggorokannya terasa sakit. Pilek disertai lendir encer, bening, tidak berdarah. Pada hari berikutnya mata mulai berwarna merah disertai banyak keluar air mata. Pasien kemudian muntah 2 kali berisi makanan, jumlahnya tidak banyak, dan tidak berdarah. Makan dan minum berkurang dan di dalam mulut terdapat sariawan. Pada hari kedua pasien dikompres dengan air hangat, tetapi demam tidak berkurang. Pasien kemudian dibawa berobat ke Puskesmas, mendapat obat penurun panas, dan obat batuk. Setelah minum obat penurun panas, panas turun tetapi kemudian naik lagi. Mulai hari keempat timbul bercak merah di leher dan orangtua khawatir maka esok harinya dibawa berobat ke RS Pendidikan Trisakti.

Pada pemeriksaan fisik didapatkan bahwa anak tampak sakit sedang,

kesadaran compos mentis, gizi kurang, anemia (-), ikterus (-), sianosis (-), dispnoe (+). Tanda vital: Suhu 38oC, nadi 120x/m teratur, isi tegangan cukup, tekanan darah 110/70mmHg, RR 36x/m teratur, tipe abdominothorakal, dan dangkal. Data antropometri: BB 13.2 kg, TB 98 cm, LK 49 cm, LLA 15 cm. Kepala: normosefal, rambut hitam tidak mudah dicabut. Mata: berair (+), agak cekung (+), anemia (-), strabismus (-), nystagmus (-), reflex cahaya langsung/tidak langsung +/+ Hidung: sianosis (-), sekret bening (+), nafas cuping hidung (+) Telinga: sekret (-), nyeri tekan/tarik (-) Bibir: kering, sianosis (-), fisura (-) Mulut: mukosa bukalis ulkus kecil, faring hiperemis, tonsil tenang, lidah tidak kotor Jantung: bunyi jantung 1 dan 2 murni, murmur (-) Toraks: simetris kanan kiri, retraksi subcosta (+), perkusi pekak, suara nafas bronchovesikuler, dan ronchi basah halus di paru kanan dan kiri. Abdomen: datar, nyeri tekan (-), shifting dullness (-), hati dan limpa tidak teraba, bising usus terdengar biasa. Kulit: bercak makulopapula (+) di seluruh tubuh, petechiae (-), ulkus (-)

Pemeriksaan laboratorium: Hb: 12.2 g/dL Ht: 36% Lekosit: 4100/l Gula darah sewaktu: 108 mg/Dl Elektrolit darah: Na 142 mmol/L, K 3.5 mmol/L, Cl 108 mmol/L Pemeriksaan penunjang: Radiografi paru: terdapat bercak infiltrat di paru kanan dan kiri

BAB III PEMBAHASAN A. Patofisiologi Masalah dan Hipotesis Keluhan utama yang terjadi pada pasien ini yaitu demam selama 5 hari. Juga disertai keluhan tambahan lainnya seperti batuk, pilek, nafsu makan yang berkurang, mata merah dan badan lemah. Demam, nafsu makan yang berkurang dan badan yang lemah merupakan beberapa gejala yang tidak spesifik dari suatu penyakit. Gejala ini merupakan suatu

reaksi tubuh akibat adanya reaksi inflamasi yang menghasilkan endogen pirogen dan berpengaruh terhadap hipotalamus. Lalu mengapa dapat terjadi reaksi inflamasi ini? Hal yang paling sering terjadi ialah karena adanya infeksi oleh bakteri maupun virus. Batuk dan pilek. Merupakan suatu gejala yang terdapat pada traktus respiratorius. Batuk sebenarnya merupakan reflek fisiologis yang terjadi untuk mengeluarkan benda asing yang berada pada traktus respiratorius, begitu pula halnya dengan pilek yang merupakan suatu keadaan dimana pengeluaran sekret pada lubang hidung agak berlebih. Hal ini menjadi patologis, bila batuk dan pilek ini berlangsung lama dan mengalami perubahan, baik secara frekuensi maupun konsistensi. Yang perlu dipikirkan pada hipotesis ini ialah, apakah batuk dan flu yang terjadi pasien ini merupakan suatu penyakit yang berdiri sendiri yang tidak berhubungan dengan adanya panas atau merupakn suatu perjalanan penyakit yang bersamaan dengan demam. Begitu pula halnya dengan mata merah yang terjadi pada pasien ini. Maka hipotesis dari kasus ini ialah demam berdarah, demam typhoid, infeksi saluran pernafasan atas, dan infeksi virus maupun bakteri yang lainnya.

B. Anamnesis dan Interpretasi Sebelumnya, identifikasi dari pasien sebaiknya dilengkapi, seperti agama, pekerjaan, suku bangsa dan alamat tempat tinggal. Hal ini perlu dilakukan, karena dapat dijadikan suatu bahan observasi yang dapat mengeliminasi ataupun memperkuat dari hipotesis yang telah dibuat. Adapun anamnesis yang dibutuhkan, untuk mempermudah, dapat dibagi menjadi beberapa topik utama, yaitu riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit keluarga, riwayat sosial ekonomi. Riwayat penyakit sekarang perlu digali dengan tujuan untuk mengetahui secara rinci perjalanan dari keluhan utama tersebut. Hal yang perlu ditanyakan mengenai: Demam: sifat demam yang suhunya naik turun (remiten atau intermiten) atau demam dengan suhu yang terus tinggi (kontinua)

Batuk: berdahak atau tidak? Jika iya, apakah dahaknya berwarna atau tidak? Tidak nafsu makan dan kurang minum: Apakah pasien merasa lemas? (ditakutkan terjadi dehidrasi)

Mata merah: apakah ada rasa nyeri pada mata?

Riwayat imunisasi perlu ditanyakan, apakah anak ini telah divaksinasi MMR atau belum. Riwayat sosial ekonomi termasuk mengenai lingkungan tempat tinggal perlu ditanyakan sebagai dasar pertimbangan atas tatalaksana/terapi yang akan dilakukan, sehingga dapat dicapai hasil yang optimal dan sebagai dasar pertimbangan atas penyakit yang timbul karena masalah keadaan lingkungan, seperti bila ternyata pada lingkungan tersebut juga terdapat orang-orang yang menderita penyakit dengan gejala yang sama sehingga dapat menular. Hasil anamnesis sebagai berikut: 5 hari yang lalu anak mulai demam, timbul mendadak, naik turun, waktu malam demam lebih tinggi disertai batuk pilek. Batuknya kering tidak berdahak, dan tenggorokannya terasa sakit. Pilek disertai lendir encer, bening, tidak berdarah. Pada hari berikutnya mata mulai berwarna merah disertai banyak keluar air mata. Pasien kemudian muntah 2 kali berisi makanan, jumlahnya tidak banyak, dan tidak berdarah. Makan dan minum berkurang dan di dalam mulut terdapat sariawan. Pada hari kedua pasien dikompres dengan air hangat, tetapi demam tidak berkurang. Pasien kemudian dibawa berobat ke Puskesmas, mendapat obat penurun panas, dan obat batuk. Setelah minum obat penurun panas, panas turun tetapi kemudian naik lagi. Mulai hari keempat timbul bercak merah di leher dan orangtua khawatir maka esok harinya dibawa berobat ke RS Pendidikan Trisakti. Dari hasil anamnesis diatas, kelompok kami menginterpretasikan demam yang sudah 5 hari, timbul mendadak, dan polanya yang naik turun sebagai gejala dari infeksi virus. Pilek yang disertai lendir encer dan bening kami simpulkan akibat

infeksi virus juga. Anak ini juga mengalami muntah sebanyak 2x dan masih berisi makanan yang belum tercerna, sehingga anak ini menjadi lemah. Sariawan pada anak ini, kami curigai sebagai sariawan biasa atau bisa juga adanya bercak yang spesifik pada penyakit tertentu seperti kopliks spot pada morbili. Pada kulit anak ini juga ditemukan bercak merah di leher, mata merah dan keluar banyak air mata. Untuk menegakkan diagnosis, kelompok kami harus melakukan pemeriksaan lanjutan baik fisik, lab, maupun penunjang untuk lebih memperjelas penyakit, karena dari hasil anamnesis belum cukup untuk mengarah kepada suatu penyakit.

C. Pemeriksaan Fisik dan Interpretasi Pada pemeriksaan fisik didapatkan bahwa pasien tampak sakit sedang, kesadaran compos mentis, gizi kurang, anemia (-), ikterus (-), sianosis (-) dan dispnoe (+) yang menandakan pasien mengalami sesak napas.

Tanda vital : Suhu 38oC menandakan subfebris (normal : 36oC37,5oC). Nadi 120x/menit teratur yang menandakan takikardi, dimana untuk usia 4 tahun nadi normal adalah 70-110x/menit. Isi tegangan cukup, tekanan darah
95 110

/70 mmHg menandakan tekanan darah yang

rendah dimana nilai normal tekanan darah pada usia 1-5 tahun adalah /65 mmHg, tekanan darah yang rendah pada pasien ini merupakan teratur, menandakan takipnoe. Respiratory rate suatu kompensasi terhadap takikardi yang dialami pasien. Respiratory Rate 36x/menit normal untuk usia 3-4 tahun adalah 20-30x/menit.

Data antropometri : BB 13,2kg dan TB 98cm, indeks masa tubuh pada pasien ini tidak dapat kami ukur karena pada identitas pasien tidak dijelaskan jenis kelamin pasien tersebut, namun diperkirakan pasien ini mengalami underweight. Lingkar kepala pasien 49cm dan lingkar lengan atas pasien 15 cm dapat dikatakan normal.

Kepala pasien normosefal, rambut hitam tidak mudah tercabut. Mata

berair (+) menunjukkan konjungtivitis, agak cekung (+), anemia (-), strabismus (-), nystagmus (-) dan refleks cahaya langsung dan tidak langsung (+).

Hidung sianosis (-), sekret (+) bening menandakan penyebabnya merupakan infeksi virus, napas cuping hidung (+) menandakan pasien mengalami sesak napas yang mungkin disebabkan oleh sekret bening pada hidung atau saluran pernapasan.

Telinga sekret (-), nyeri tekan atau tarik (-). Bibir kering (+), sianosis (-), fisura (-), pada mukosa bukalis terdapat ulkus kecil (+), ulkus ini disebut koplik spot yang merupakan patognomonik dari penyakit campak. Faring hiperemis menandakan infeksi akut, tonsil tenang dan lidah tidak kotor (dapat menyingkirkan kemungkinan demam typhoid).

Bunyi jantung 1 dan 2 murni, murmur (-), toraks simetris kanan dan kiri, retraksi subcosta (+) karena pasien mengalami sesak napas. Perkusi pekak, suara napas bronkovesikuler, ronchi basah halus di paru kanan dan kiri yang bisa terjadi karena sudah terdapat komplikasi berupa infeksi sekunder yaitu bronkopneumoni pada pasien.

Abdomen datar, nyeri tekan (-), shifting dullness (-), hati dan limpa tidak teraba, bising usus terdengar biasa.

Kulit tampak bercak makulopapula (+) diseluh tubuh, petechiae (-) dan ulcus (-).2

D.Pemeriksaan Laboratorium, Penunjang dan Interpretasinya

Laboratorium Pemeriksaan Hb Ht Leukosit Hasil Pasien 12,2 g/dL 36% 4100/l Kadar Normal Anak 10-16 g/dL 33-38% 9000-12000/l Interpretasi Normal Normal Leukopeni (infeksi virus) Trombosit 212.000/l 200.000400.000/l Gula Sewaktu Elektrolit Darah Na : 142 mmol/L K : 3,5 mmol/L Cl : 108 mmol/L Na : 142 mmol/L K : 3,5 mmol/L Cl : 108 mmol/L Normal, tidak Darah 108 mg/dL 60-100mg/dL Hiperglikemi Normal

terjadi dehidrasi

Radiografi Paru Terdapat bercak infiltrat di paru kanan dan kiri, yang merupakan tanda dari komplikasi campak yaitu bronkopneumonia, dimana pada pasien ini juga terdapat peningkatan frekuensi napas dan ronki basah halus yang merupakan gejala klinis dari bronkopneumonia. 3

E. Diagnosis Setelah kelompok kami berdiskusi lebih lanjut, kami akhirnya menegakkan diagnosis atas kasus ini yaitu morbili dengan komplikasi bronkopneumonia, atas dasar gejala klinis, terutama patognomonik pada pasien ini seperti adanya konjungtivitis dan ulkus kecil pada mulut di daerah mukosa bukalis yang kami

curigai sebagai kopliks spot. Berdasarkan pemeriksaan laboratorium, kami juga menemukan adanya leukopenia pada pasien ini yang merupakan salah satu penanda dari infeksi virus. Terdapat bercak infiltrat di paru kanan dan kiri, yang merupakan tanda dari komplikasi campak yaitu bronkopneumonia, dimana pada pasien ini juga terdapat peningkatan frekuensi napas dan ronki basah halus yang merupakan gejala klinis dari bronkopneumonia.4 Diagnosis Banding 1. Rubella (Campak jerman) Gejala yang sangat mirip dengan morbili juga etiologinya yang sama-sama infeksi virus membuat Rubella sebagai diagnosis banding pada kasus ini. Patognomonik pada rubella yaitu adanya Forchheimer spot yang mirip dengan Koplik spot namun letaknya ada di palatum durum dan molle. 2. Demam Berdarah Dengue Dilihat dari gejala klinis seperti demamnya yang sudah 5 hari dan pemeriksaan laboratorium pasien ini dicurigai terkena DBD, namun tidak ditemukan ptekie melainkan makulopapula yang tidak ditemukan pada DBD. 3. Demam tifoid Demam yang sudah 5 hari dan pemeriksaan laboratorium darah yang menunjukkan leukopenia merupakan tanda dari demam tifoid. Namun, pada kasus ini tidak ditemukan kelainan pada saluran pencernaan yang merupakan gejala dari demam tifoid melainkan ditemukan kelainan pada saluran pernapasannya. 4. ISPA Didapatkannya gejala seperti sesak, pilek, dan demam memungkinkan ISPA kami jadikan salah satu diagnosis banding. Namun pada ISPA tidak ditemukan bercak makulopapular pada kulit. Bisa jadi gejala ISPA pada kasus ini terjadi karena infeksi sekunder.

10

F. Patofisiologi kasus Virus masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernafasan dan menginvansi epitel dari saluran pernafasan tersebut. Kemudian ketika virus tersebut sampai menembus kapiler, maka akan ikut terbawa bersama aliran darah menuju RES. Dan di RES inilah virus akan menginfeksi atau bereaksi dengan sel-sel pertahanan tubuh (sel darah putih) sehingga akan timbul gejala infeksi pada kulit, saluan pernafasan maupun organ lain. Demam terjadi akibat adanya reaksi antara virus dan sel darah putih yang terinfeksi tersebut yang bertujuan untuk mengeliminasi virus dari dalam darah, yang dari reaksi tersebut akan dikeluarkan berbagai sitokin dan endogen pirogen (seperti prostaglandin dan asam arakhidonat) yang kana menaikkan termostat tubuh. Sel yang terinfeksi tersebut akan terlihat sebagai multinucleated giant cells with with inclusion bodies in the nucleus and cytoplasm yang dikenal dengan nama sel Warthin-Finkeldey.1 Sel-sel ini ditemukan di saluran pernafasan dan juga jaringan limfoid yang merupakan patognomonik untuk campak. Reaksi imunitas yang terhadap virus yang terjadi pada sel endotel di kapiler superfisial (dermal cappilaries) berperan besar terhadap timbulnya Kopliks spot dan ruam di kulit.1 Invansi langsung terhadap sel limfosit T dan meningkatnya kadar suppresive cytokines (seperti interleukin-4) akan menimbulkan depresi terhadap imunitas selullar yang terjadi hanya sementara dan mengiringi penyakit ini. Infeksi pada saluran akan menimbulkan batuk dan coryza. Dan bila terjadi kerusakan secara menyeluruh pada saluran pernafasan, dan hilangnya cilia, merupakan faktor predisposisi terjadinya infeksi sekunder karena bakteri, seperti pneumonia dan otitis media.5

G. Penatalaksanaan 1. Medikamentosa Untuk pengobatan yang bersifat simptomatik dapat di berikan antipiretik seperti parasetamol 10 mg/kg BB. Antitusif, ekspektoran dan antikovulsan dapat diberikan bila perlu.

11

Antivirus seperti ribavirin dapat juga diberikan bila perlu. Untuk bronkopneumonia dapat di berikan antibiotik standard karena belum diketahui penyebab pastinya, seperti ampisilin 100

mg/kgBB/hari dalam 4 dosis intravena dikombinasikan dengan kloramfenikol 75 mg/kgBB/hari intravena dalam 4 dosis, sampai gejala sesak berkurang dan pasien dapat minum obat per-oral. Antibiotic diberikan sampai tiga hari demam reda. Vitamin A untuk mempercepat penyembuhan dan mencegah komplikasi.

2. Nonmedikamentosa Terapi suportif seperti istrahat yang cukup dapat mempercepat kesembuhan pasien. Perbaikan nutrisi dengan makan makanan yang sehat.

H. Prognosis Ad vitam Ad fungsionam : dubia ad bonam : ad bonam

Ad sanationam: ad bonam Dalam kasus ini, kami memutuskan memberikan prognosa di atas didasarkan dari beberapa keadaan yang terdapat pada pasien tersebut, antara lain: riwayat tumbuh kembangnya yang berada dalam keadaan gizi yang kurang dan, perjalanan penyakitnya

12

yang sudah berkomplikasi dalam bentuk bronkopneumoni. I. Pencegahan 1. Pencegahan Tingkat Awal (Priemordial Prevention) Pencegahan tingkat awal berhubungan dengan keadaan penyakit yang masih dalam tahap prepatogenesis atau penyakit belum tampak yang dapat dilakukan dengan memantapkan status kesehatan balita dengan memberikan makanan bergizi sehingga dapat meningkatkan daya tahan tubuh. 2. Pencegahan Tingkat Pertama (Primary Prevention) Pencegahan tingkat pertama ini merupakan upaya untuk mencegah seseorang terkena penyakit campak, yaitu : Memberi penyuluhan kepada masyarakat mengenai pentingnya pelaksanaan imunisasi campak untuk semua bayi.

Imunisasi dengan virus campak hidup yang dilemahkan, yang diberikan pada semua anak berumur 9 bulan sangat dianjurkan karena dapat melindungi sampai jangka waktu 4-5 tahun.

3. Pencegahan Tingkat Kedua (Secondary Prevention) Pencegahan tingkat kedua ditujukan untuk mendeteksi penyakit sedini mungkin untuk mendapatkan pengobatan yang tepat. Dengan demikian pencegahan ini sekurang-kurangnya dapat menghambat atau memperlambat progrefisitas penyakit, mencegah komplikasi, dan membatasi kemungkinan kecatatan, yaitu : Mencegah perluasan infeksi. Anak yang menderita campak jangan masuk

13

sekolah selama empat hari setelah timbulnya rash. Menempatkan anak pada ruang khusus atau mempertahankan isolasi di rumah sakit dengan melakukan pemisahan penderita pada stadium kataral yakni dari hari pertama hingga hari keempat setelah timbulnya rash yang dapat mengurangi keterpajanan pasien dengan risiko tinggi lainnya.

Pengobatan simtomatik diberikan untuk mengurangi keluhan penderita yakni antipiretik untuk menurunkan panas dan juga obat batuk. Antibiotika hanya diberikan bila terjadi infeksi sekunder untuk mencegah komplikasi. Diet dengan gizi tinggi kalori dan tinggi protein bertujuan untuk meningkatkan daya tahan tubuh penderita sehingga dapat mengurangi terjadinya komplikasi campak yakni bronkhitis, otitis media, pneumonia, ensefalomielitis, abortus, dan miokarditis yang reversibel. 4. Pencegahan Tingkat Ketiga (Tertiary Prevention) Pencegahan tingkat ketiga bertujuan untuk mencegah terjadinya komplikasi dan kematian. Adapun tindakan-tindakan yang dilakukan pada pencegahan tertier yaitu : Penanganan akibat lanjutan dari komplikasi campak Pemberian vitamin A dosis tinggi karena cadangan vitamin A akan turun secara cepat terutama pada anak kurang gizi yang akan menurunkan imunitas mereka.

14

15

BAB IV TINJAUAN PUSTAKA

Definisi Morbili/Campak/Rubeola adalah penyakit akut yang sangat menular, disebabkan oleh infeksi virus morbili yang pada umumnya menyerang anak. Morbili memiliki gejala klinis yang khas yaitu terdiri dari tiga stadium yang masing masing mempunyai ciri khusus:
(1) Stadium masa tunas diperkirakan berlangsung selama10-12 hari (2) Stadium prodromal yang menunjukkan gejala pilek dan batuk yang meningkat dengan

ditemukan exanthem pada mukosa pipi (bercak koplik), faring dan mukosa konjungtiva meradang.
(3) Stadium akhir dengan keluarnya ruam dimulai dari belakang telinga menyebar ke

muka, badan, lengan dan kaki. Ruam timbul didahului dengan suhu badan meningkat, selanjutnya ruam menjadi menghitam dan mengelupas.6 Epidemiologi Di indonesia, menurut survei Kesehatan Rumah Tangga Morbili menduduki tempat ke-5 dalam urutan 10 macam penyakit utama pada bayi (0,7%) dan tempat ke-5 dalam urutan 10 macam penyakit utama pada anak umur 1-4 tahun (0,77%). Morbili merupakan penyakit endemis, terutama di negara sedang berkembang. Di Indonesia penyakit morbili sudah dikenal sejak lama. Di masa lampau morbili dianggap sebagai suatu hal yang harus di alami setiap anak, sehingga anak yang terkena

16

campak tidak perlu diobati, mereka beranggapan bahwa penyakit morbili dapat sembuh sendiri bila ruam sudah keluar. Ada anggapan bahwa ruam yang keluar banyak semakin baik. Bahkan ada usaha dari masyarakat untuk mempercepat keluarnya ruam. Ada kepercayaan bahwa penyakit morbili akan berbahaya bila ruam tidak keluar pada kulit sebab ruam akan muncul didalam rongga tubuh lain seperti didalam tenggorokan, paru, perut, atau usus. Hal ini diyakini akan menyebabkan sesak nafas atau diare yang dapat menyebabkan kematian. Secara biologik, morbili mempunyai sifat adanya ruam yang jelas, tidak diperlukan hewan perantara, tidak ada penularan melalui serangga (vektor), adanya musiman dengan periode bebas penyakit, tidak ada penularan virus secara tetap, hanya memiliki satu serotipe virus dan adanya vaksin campak yang efektif.6 Etiologi Virus morbili berada di sekret nasofaring dan didalam darah, minimal selama masa tunas dan dalam waktu yang singkat sesudah timbul ruam. Virus tetap aktif minimal 34 jam pada temperatur kamar, 15 minggu di dalam pengawet beku, minimal 4 minggu disimpan dalam temperatur 350 C, dan beberapa hari pada suhu 00C. Virus tidak dapat aktif pada pH rendah.6 Bentuk Virus Virus morbili termasuk golongan paramyxovirus berbentuk bulat dengan tepi yang kasar dan bergaris tengah 140 nm dan dibungkus oleh selubung luar yang terdiri dari lemak dan protein Didalamnya terdapat nukleokapsid yang bulat lonjong terdiri dari bagian protein yang mengelilingi asam nukleat (RNA), merupakan struktur helix nukleo protein dari myxovirus. Selubung luar sering menunjukkan tonjolan pendek, suatu protein yang berada diselubung luar muncul sebagai hemaglutinin.6 Ketahanan Virus Virus morbili adalah organisme yang tidak memiliki daya tahan tinggi, apabila berada diluar tubuh manusia keberadaanya tidak kekal. Pada temperatur kamar ia kehilangan 60% sifat infektisitasnya selama 3-5 hari, pada 370c waktu paruh umurnya 2 jam, pada 560c hanya satu jam. Dalam keadaan yang lain ia bertahan dalam keadaan dingun. Pada media protein ia dapat hidup dengan suhu -700c selama 5,5 tahun, sedangkan dalam lemari pendingin dengan suhu 4-60c dapat hidup selama 5 bulan apabila dimasukkan dalam media protein dan hanya dapat hidup 2 minggu bila tanpa

17

media protein. Tanpa media protein virus campak dapat dihancurkan oleh sinar ultraviolet. Oleh karena selubungnya terdiri dari lemak maka termasuk mikroorganisme yang bersifat eter labile, pada suhu kamar dapat mati dalam 20% eter selama 10 menit dan 50% aseton dalam 30 menit. Virus morbili sensitif pada 0,01% betapropiaceton dalam setiap konsentrasi, pada suhu 370c,akan kehilangan sifat infektisitasnya dalam2 jam, walaupun demikian ia tetap memiliki antigenitas penuh. Dalam 1/4000 formalin menjadi tidak efektif selama 5 hari, tetapi tidak kehilangan antigenitasnya. Tripsin mempercepat hilangnya potensi antigenik.6 Patogenesis

Penularannya sangat efektif, dengan sedikit virus yang infeksius sudah dapat menimbulkan infeksi pada seseorang. Penularan morbili yang terjadi secara droplet melalui udara, terjadi 1-2 hari sebelum timbul gejala klinis sampai 4 hari setelah timbul ruam. Di tempat awal infeksi, penggandaan virus sangat minimal dan jarang dapat di temukan virusnya. Virus masuk ke dalam limfatik lokal, bebas maupun berhubungan dengan sel mononuklear mencapai kelenjar getah bening lokal. Di sini virus memperbanyak diri dengan sangat perlahan dan disitu mulailah penyebaran ke sel jaringan limforetikuler seperti limpa. Sel mononuklear yang terinfeksi menyebabkan terbentuknya sel raksasa berinti banyak dari Warthin, sedangkan limfosit-T meliputi klas penekanan dan penolong yang rentan terhadap infeksi, aktif membelah. Gambaran kejadian awal di jaringan limfoid masih belum diketahui secara lengkap,tetapi 5-6 hari sesudah infeksi awal, fokus infeksi terwujud yaitu ketika virus

18

masuk ke dalam pembuluh darah dan meyebar kepermukaan epitel orofaring, saluran nafas, kulit, kandung kemih dan usus. Eksudat serosa dan proliferasi sel mononuklear dan beberapa sel polimorfonuklear terjadi di sekitar kapiler-kapiler. Pada hari ke-9-10 fokus infeksi yang berada di saluran nafas dan konjungtiva, satu sampai dua lapisan mengalami nekrosis. Pada saat itu virus dalam jumlah banyak masuk kembali ke pembuluh darah dan menimbulkan manifestasi klinis dari sistem saluran nafas diawali dengan keluhan batuk pilek disertai selaput konjungtiva yang tampak merah. Respon imun yang terjadi ialah proses peradangan epitel pada sistem saluran pernafasan diikuti dengan manifestasi klinis berupa demam tinggi, anak tampak sakit berat dan ruam yang menyebar keseluruh tubuh, tampak suatu ulsera kecil pada mukosa pipi yang disebut bercak koplik, merupakan tanda pasti untuk menegakkan diagnosis. Akhirnya muncul ruam makulopapular pada hari ke-14 sesudah awal infeksi dan pada saat itu antibodi humoral dapat dideteksi. Selanjutnya daya tahan tubuh menurun, sebagai respon delayed hypersensitivity terhadap antigen virus terjadilah ruam pada kulit, kejadian ini tidak tampak pada kasus yang mengalami defisit sel-T. Fokus infeksi tidak menyebar jauh ke pembuluh darah. Vasikel tampak mikroskopis di epidermis tetapi virus tidak berhasil timbul di kulit. Penelitian dengan imunofluoresens dan histologikmenunjukkan bahwa antigen morbili dan gambaran histologik pada kulit diduga suatu reaksi Artus. Daerah epitel yang nekrotik di nasofaring dan saluran pernafasan memberikan kesempatan serangan infeksi bakteri sekunder berupa bronkopneumonia, otitis media, dan lain-lain. Dalam keadaan tertentu adenovirus dan herpes virus pneumoniadapat terjadipada kasus morbili, selain itu morbili dapat menyebabkan gizi kurang.6 Manifestasi klinis dan Diagnosis

19

Diagnosis morbili biasanya dapat dibuat atas dasar kelompok gejala klinis yang sangat berkaitan, yaitu koriza dan mata meradang disertai batuk dan demam tinggi dalam beberapa hari dan diikuti ruam yang memiliki ciri khas, yaitu diawali dari belakang telinga untuk kemudian menyebar ke muka, dada, tubuh, lengan dan kaki bersamaan dengan meningkatnya suhu tubuh dan selanjutnya mengalami hiperpigmentasi dan mengelupas. Pada stadium prodormal dapat ditemukan enantema di mukosa pipi yang merupakan tanda patognomonis morbili yaitu bercak koplik, meskipun demikian menentukan diagnosis perlu ditunjang data epidemiologi. Tidak semua kasus manifestasinya sama dan jelas. Sebagai contoh, pasien yang mengidap gizi kurang ruamnya dapat berdarah dan mengelupas atau pasien sudah meninggal ruam belum timbul. Kasus yang mengidap gizi kurang dapat menderita diare yang berkelanjutan. Jadi, dapat dapat disimpulkan bahwa diagnosis morbili dapat ditegakkan secara klinis, sedangkan beberapa pemeriksaan penunjang seperti pada pemeriksaan sitologik ditemukan sel raksasa pada mukosa hidung dan pipi dan pada pemeriksaan serologik didapatkan IgM spesifik. campak dapat bermanifestasi tidak khas disebut campak atipikal; diagnosis banding lainnya adalah rubela, demam skarlatina, ruam akibat obatobatan, eksantema subitum dan infeksi stafilokokus.6 Komplikasi Campak menjadi berat pada pasien dengan gizi buruk dan anak yang lebih kecil Diare dapat diikuti dehidrasi Otitis media

20

Laringotrakeobronkitis (croup) Bronkopneumonia Ensefalitis akut Reaktifasi tuberkulosis Malnutrisi pasca serangan campak Subacute sclerosing panencephalitis (SSPE), suatu proses degeneratif susunan syaraf pusat dengan gejala karakteristik terjadi deteriorisasi tingkah laku dan intelektual, diikuti kejang. Disebabkan oleh infeksi virus yang menetap, timbul beberapa tahun setelah infeksi merupakan salah satu komplikasi campak onset lambat.7

BAB V KESIMPULAN Berdasarkan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang lain nya maka diagnosis kerja pada pasien ini adalah Morbili dengan komplikasi bronkopneumonia, dimana gejala klinis yang muncul salah satunya adalah patognomonik dari morbili yaitu adanya koplik spot dan konjungtivitis. Pada pasien ini juga ditemukan kelainan pada parunya dari adanya suara nafas bronchovesikuler dan ronchi basah halus di paru kanan dan kiri yang kami simpulkan sebagai komplikasi dariinfeksi sekunder akibat morbili. Secara prognosis penyakit ini baik karena tingkat penyembuhannya mencapai 100%, namun pada pasien ini yang telah mengalami komplikasi pada parunya, prognosisnya tidak sebaik yang mengalami morbili tanpa komplikasi.

21

DAFTAR PUSTAKA

1. Buku kuliah : Ilmu Kesehatan Anak : Jilid 2 : Balai Penerbit FKUI, Jakarta. 2002 : 593-598 2. Sutedjo AY. Buku Saku Mengenal Penyakit Melalui Hasil Pemeriksaan Laboratorium. Yogyakarta : Amara Books; 2007. h. 25-30. 3. Widagdo. Masalah Dan Tatalaksana Penyakit Infeksi Pada Anak. Jakarta : Sagung Seto;2011. h. 27 4. Latief A, Tumbelaka AR, Matondang CS, Chair I, Bisanto J, Abdoerrachman MH, et al. Diagnosis Fisis Pada Anak. Dalam : Matondang CS, wahidiyat I, Sastroasmoro S, editor. Edisi 2. Jakarta : sgung Seto; 2009. h. 205-6

22

5. Gershon A. Measles (Rubeola). Harrisons TR, Fauci AS, Kasper DL, editors.

Harrisons Internal Medicine. 17th ed. New York, NY: The McGraw-Hill Companies; 2008; p. 1215.
6. Soedarmo SS, Garna H, Hadinegoro SR, Eds. Campak.Buku Ajar Ilmu

Kesehatan Anak : Infeksi & Penyakit Tropis, edisi 2. Jakarta : BP IDAI FKUI, 2010:109-14
7. Ilmu kesehatan anak FK UNAIR.komplikasi campak. Available http://www.pediatrik.com/isi03.php? page=html&hkategori=pdt&direktori=pdt&filepdf=0&pdf=&html=07 110-esnj280.htm Accessed on 24 January 2012.

23