Anda di halaman 1dari 6

Nama NIM Fakultas Studi

: Wahyu Nugroho : 09081055 : Psikologi : Konseling Psikologi

Keterampilan / Skill Yang Harus Dimuliku Konselor


1. Attending Attending dapat diartikan juga sebagai penghampiran konselor terhadap konseli. Kegiatan attending juga biasanya dibarengi dengan involvement atau keterlibatan. Melibatkan konseli, prakondisi konseling, kesiapan melayani dan mengkomunikasikan minat dan perhatian. Langkah-langkah Attending : 1. Bahasa Verbal a. Mengucapkan/membalas salam b. Berjabat tangan c. Mempersilahkan duduk d. Menyebut nama e. Membuka pembicaraan f. Kemampuan menggunakan pertanyaan Tertutup/Terbuka g. Tidak menilai/menghakimi konseli h. Memberikan informasi tentang konseling tujuan, etika, tugas konselor, manfaat dan tugas konseli. 2. Bahasa Non verbal a. Cara dan jarak duduk b. Menghadap secara tepat c. Condong ke depan d. Kontak mata Keterapilan dalam Attending : 1. Observing a. Memahami kondisi yang tidak disampaikan dengan kata-kata b. Penampilan fisik, gaya dan sikap, sikap badan, status sosial, jarak duduk c. Tingkatan Intelektualitas d. Tingkatan emosi e. Mendengarkan f. Menghindari penilaian (non judgemental)

g. Memusatkan perhatian kepada konseli h. Memusatkan pada isi ucapan (What, Where, When, Who, Why, How) i. j. Memperhatikan ekspresi konseli Mendengarkan tema pembicaraan konseli

2. Responding Keterampilan respoknding yaitu keterampilan konselor dalam merespons pernyataan konsli agar konseli dapat melakukan eksplorasi terhadap posisi dirinya dan hubungannya dengan lingkungannya. Kondisi-kondisi pendukung responding : a. Emphaty (memahami yang dirasakan konseli b. Respek (Menghargai) c. Tulus dan ikhlas berdasarkan persepsi yang jujur d. Konkrit (Berkaitan langsung dengan isi pembicaraan konseli) Keterampilan dasar pendukung responding : a. Mengajak/memulai pembicaraan "Apa yang sedang kamu pikirkan?","Apa yang bisa ibu bantu?" b. Mengajukan pertanyaan terbuka. "Bagaimana perasaan kamu setelah mendapat nilai yang tidak bagus?","Coba kamu jelaskan apa yang dimaksud dengan malas?" "Apa yang kamu maksud dengan benci terhadap pelajaran Bhs. Inggris?" c. Memfokuskan masalah "Tadi kamu katakan kesulitan dalam mata pelajaran Matematika. Dalam hal apa kesulitan itu dirasakan?" d. Dorongan minimal (Kata-kata atau gerakan yang menunjukkan konselor mengikuti prmbicaraan konseli. Hmm... Jadi,,, Lalu,, Kemudian) e. Paraphrase (Mengulang untuk mendorong pembicaraan selanjutnya) "kamu merasa selalu ketinggalan dari teman-teman" f. Refleksi perasaan "kamu merasa kecewa terhadap orang tua kamu" Mendengarkan-Merespon a. Mengidentifikasi apa yang disampaikan : 5 W 1 H (Who, What, Why, When, Where, How / Siapa, apa, mengapa, kapan, dimana dan bagaimana) b. Menetapkan apa yang dieksplorasi lebih mendalam untuk membantu konseli memahami c. Memahami maksud dari pesan

Jenis-Jenis Rensponding a. Merespon Isi Untuk memperjelas unsur pengalaman konseli yang penting Contoh ; KRONOLOGIS : "Yang terjadi pada kamu adalah, pulang sekolah main dulu, datang ke rumah kesorean, kecapean dan tertidur". Urutan Penting : "Kamu tidak punya catatan, tidak mengerjakan PR dan tidak bertanya kepada teman" Sebab Akibat : "Kamu bolos karena tidak mengerjakan PR" b. Merespon Perasaan Dilakuka untuk mengecek perasaan konseli akibat pengalaman yang dialaminya yang dieskpresikan melalui pikiran, pengalaman dan mimik muka. "Kamu merasa marah kepada teman kamu", "Kamu kecewa karena tidak diajak" c. Merespons Makna Merupakan kombinasi respons isi dan perasaan yang mempunyai arti tertentu. "Kamu kecewa karena teman kamu menjauh sehingga tidak berani .......", "Kamu benci terhadap orang tua, karena tidak memenuhi keinginan kamu" 3. Personalizing Mempersonalisasikan adalah menumbuhkan pada konseli segala peristiwa, pengalaman yang terjadi di luar dirinya menjadi sesuatu yang ada dalam dirinya. Dengan demikian diharapkan konseli memahami kedudukan dirinya dan kebutuhan yang ingin dicapainya. Jenis-Jenis Personalisasi a. Mempersonalisasikan Tema Utama Contoh : Konseli : "Saya selalu kesiangan kuliah, karena kamar mandi di asrama terbatas sehingga antrinya lama, di jalan macet belum lagi angkotnya suka nunggu lama. Di kelas suka kecapean sehingga tidak mudah konsentrasi" Konselor : "Anda suka kesiangan kuliah karena belum dapat mengatur kebutuhan waktu secara tepat agar tidak terburu-buru ke kelas" Konseli : "Saya sering tidak mengerjakan tugas karena dosen tidak jelas menyampaikan kapan tugas dikumpulkan, sulit memperoleh bahan dan saya tidak punya waktu untuk bertanya kepada teman" Konselor : "Anda kesulitan mengerjakan tugas karena tidak minta penjelasan kepada dosen, dan sulit bertanya kepada teman".

b. Mempersonalisasikan Pengalaman Contoh : Konseli : "Saya tidak tahu kalau ucapan saya menyinggung perasaan dia, saya hanya ingin menanyakan tentang kesiapan dia untuk mengerjakan tugas kelompok" Konselor : "Waktu itu anda agak ceroboh dalam berkata "atau" anda tidak memikirkan akibat dari perkataan anda". c. Mempersonalisasikan Implikasi Contoh : Konseli : "Saya marah sekali pada mereka. Mula-mula mereka memberi saya kesempatan, tetapi kemudian mereka mencabutnya kembali" Konselor : "Anda merasa geram karena anda merasa dikhianati" d. Mempersonalisasikan Masalah Mempersonalisasikan masalah adalah langkah untuk menuju tujuan, tindakan dan merencanakan program pelaksanaannya. Konselor mendorong konseli untuk melihat dirinya sebagai "sumber" dari masalah. Setelah itu, kemudian mengkonseptualisasikan kekurangan-kekurangan, mengkondisikan kekurangan-kekurangan dan mengkondisikan kekurangan. Contoh : 1. Mengkonseptualisasikan Kekurangan Konseli : "Saya marah sekali pada orang tua saya" Konselor : "Kamu merasa orangtua membedakan, karena kamu merasa tidak seperti kakak kamu" 2. Menginternalisasikan Kekurangan Konseli : "(pernyataan sama)" Konselor : "Kamu merasa tidak memiliki kemampuan yang membanggakan" 3. Mengkonkretkan Kekurangan Konseli : "(pernyataan sama)" Konselor : "Kamu merasa kurang mampu menunjukkan apa yang menjadi kelebihan kamu"

4. Mengkonfrontasikan Kekurangan Konfrontasi dilakukan manakala konselor melihat ketidaksesuaian pada konseli, antara lain : o Tingkah laku dengan yang dikatakan yang dikatakan dengan yang dirasakan atau ekspresi yang ditunjukkan. o Keadaan konseli sekarang dengan keinginannya yang dipikirkan dengan tindakan, dan kekuatan dan kelemahan. Konseli : "Saya memang belum melakukan suatu rencana yang berarti. Saya ingin segera terbebas dari masalah ini, tetapi saya malas" Konselor : "Anda tadi mengatakan menyesal karena kehilangan inisiatif anda, tetapi anda sepertinya tidak ingin melakukan apa-apa untuk itu" 5. Mempersonalisasikan Tujuan Mempersonalisasikan tujuan dapat dilakukan jika konselor telah mampu mempersonalisasikan masalah secar objektif. Yaitum dengan menentukan tingkah laku yang menjadi jawaban dari masalah yang dipersonalisasikan. Mempersonalisasikan tujuan dapat dilaksanakan dengan mengkonseptualisasikan hal-hal sebagai berikut : a. Mengkonseptualisasikan Aset Konseli : "Betul, saya merasa saya juga memiliki kemampuan yang dapat dilihat orang, dan saya ingin menunjukkannya". Konselor : "Kalau begitu, kamu merasa memiliki kemampuan dan ingin orang tua tahu."nah, sekarang kelihatannya kamu menginginkan mampu menunjukkan kemampuan itu. b. Menginternalisasikan Aset Konseli : "Nah, sekarang kelihatannya kamu menginginkan memiliki kekuatan untuk menunjukkan kelebihan kamu". Kamu benarbenar ingin mengetahui kekuranganmu dan berusaha untuk menghilangkan kekurangan itu. c. Mengkonkretkan Aset Konseli : Konselor : "Nah, sekarang kelihatannya anda menginginkan memiliki kekuatan untuk meraih perhatian orangtuamu, kamu benarbenar ingin mengetahui kekurangan kamu dan berusaha untuk menghilangkan kekurangan itu dengan mengembangkan

rencana kegiatan agar mempunyai kemampuan tyang dapat menunjukkan kelebihanmu" 4. Initiating Setelah konselor mengembangkan inisiatif konseli, selanjutnya konselor perlu memiliki keterampilan initiating meliputi keterampilan sebagai berikut. a. Menetapkan Tujuan b. Membantu mengembangkan program c. Merencanakan jadwal / kegiatan d. Mengakhiri konseling Konseli : ............. Konselor : "Siapa saja menurut anda yang perlu terlibat dalam masalah ini?" "Bagaimana masing-masing berbuat", "Tindakan apa yang perlu dilakukan", "Kondisi yang bagaimanakah agar tindakan itu dapat dilakukan", "Bagaimana anda melihat kalau tindakan itu berhasil.

Sumber : Seminar dan Workshop MGBK SMA / SMK Kab. Bandung tanggal 2 November 2010. Pembicara : Dr. Ipah Saripah, S.Pd, M, Pd.