Anda di halaman 1dari 18

ABSTRAK Biodiesel minyak mikroalga merupakan biodiesel yang berbahan baku tumbuhan mikroalga.

Mikroalga yang secara khusus digunakan adalah Botryococcus braunii. Botrycoccus braunii merupakan spesies yang memiliki kandungan minyak (trigliserida) paling tinggi, yaitu 70-85% tiap gramnya. Minyak mikroalga didapatkan dengan cara ekstraksi dengan menggunakan kloroform, metanol, dan aquades dengan perbandingan 2:1:0,8. Dari ekstraksi tersebut akan terbentuk 3 lapisan dimana minyak mikroalga akan didapatkan pada lapisan tengah. Selanjutnya, minyak mikroalga ini akan ditransesterifikasi dengan menggunakan CaO sebagai katalis. Dalam proses transesterifikasi ini terdapat 2 proses, yaitu sonikasi dan pemisahan larutan campuran. Dari proses tersebut akan terbentuk 2 lapisan, yaitu biodiesel pada lapisan atas, sedangkan lapisan bawah gliserol dan metanol. Biodiesel dipisahkan dari pengotor dengan menggunakan ekstraksi padat cair. Karakteristik biodiesel berbahan dasar mikroalga yaitu bersifat polyunsaturated yang menyebabkan rendahnya titik leleh. Titik leleh yang rendah ini menjadikan biodiesel mikroalga cukup baik digunakan dalam cuaca yang dingin. Kata kunci : Biodiesel, Minyak mikroalga, Botryococcus braunii

BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indonesia adalah suatu negara yang memiliki beragam sumber daya energi. Sumber daya energi tersebut dapat berupa minyak, gas, batubara, panas bumi, air, dan sebagainya yang digunakan dalam berbagai aktivitas pembangunan, baik secara langsung maupun diekspor untuk mendapatkan devisa. Sumber daya energi minyak dan gas adalah penyumbang terbesar devisa hasil ekspor. Kebutuhan akan bahan bakar minyak dalam negeri juga meningkat seiring meningkatnya pembangunan. Sejak pertengahan tahun 1980-an sering terjadi peningkatan kebutuhan energi, khususnya untuk bahan bakar mesin diesel yang diperkirakan terjadi akibat meningkatnya jumlah industri, transportasi dan pusat pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) diberbagai daerah di Indonesia. Oleh karena itu, perlu dilakukan usaha-usaha untuk mencari bahan bakar alternatif yang ramah terhadap lingkungan Salah satu bahan bakar alternatif pengganti biodiesel adalah biomassa mikroalga. Biomassa mikroalga ini selain mengandung protein, karbohidrat dan vitamin juga mengandung minyak. Mikroalga memiliki kandungan minyak yang komposisinya mirip seperti tanaman darat, bahkan untuk jenis tertentu mempunyai kandungan minyak yang cukup tinggi melebihi kandungan minyak tanaman darat, seperti kelapa, jarak dan sawit. Mikroalga seperti Botryococcus braunii, Dunaliella salina, Chlorella vulgaris, Monalanthus sauna mempunyai kandungan minyak berkisar 40 - 85%, sementara untuk kelapa hanya mengandung minyak sekitar 40 55%, jarak mempunyai kandungan minyak 43 - 58% , dan untuk sawit berkisar 45 70%. Semua jenis alga memiliki komposisi kimia sel yang terdiri dari protein, karbohidrat, lemak (fatty acids) dan asam nukleat. Komponen lemak atau fatty acids inilah yang akan diekstraksi dan diubah menjadi biodiesel. Botrycoccus braunii merupakan spesies yang memiliki kandungan minyak (trigliserida) paling tinggi, yaitu antara 70-85% tiap gramnya. Mikroalga jenis ini menjadi bahan baku biodiesel yang sangat efisien karena pertumbuhannya sangat cepat, sehingga untuk proses pemanenan hanya memerlukan waktu sekitar dua minggu. Mikroalga dapat menghasilkan 30 kali lebih banyak minyak ketimbang tanaman darat. Hasil penelitian terakhir menyimpulkan, rata-rata produktivitas

mikroalga mencapai 15-23 gram per m2 per hari, sehingga dalam satu hektar (ha) lahan budidaya menghasilkan minyak 15,8-37,5 ton per ha per tahun. Asumsinya, rendemen minyak mikroalga antara 30-50% dan masa hidup efektif sekitar 300 hari. Hasil tersebut jauh lebih tinggi, jika dibandingkan tanaman darat seperti jarak (Jatropha curcas) yang sekitar 1,5 ton per ha per tahun. Sementara itu, produksi minyak dari kelapa sawit antara 3,3-6 ton per ha per tahun. 1.2 Rumusan Masalah 1. 2. 3. 1.3 Tujuan 1. Memahami proses ektraksi minyak mikroalga Botryococcus braunii 2. Mengetahui proses konversi minyak mikroalga Botryococcus braunii menjadi biodiesel 3. Memahami pemurnian biodiesel dari minyak mikroalga Botryococcus braunii 1.4 Batasan Masalah Batasan masalah adalah melingkupi proses ektraksi minyak mikroalga Botryococcus braunii, proses konversi minyak mikroalga Botryococcus braunii menjadi biodiesel dan pemurnian biodiesel dari minyak mikroalga Botryococcus braunii 1.5 Manfaat Penulisan Dari penulisan makalah ini dapat diketahui informasi Konversi terhadap minyak mikroalga Botryococcus braunii bermanfaat untuk mendapatkan biodiesel sebagai bahan bakar alternatif yang ramah lingkungan sebagai pengganti bahan bakar fosil. Bagaimana proses ekstraksi minyak mikroalga Botryococcus Bagaimana konversi minyak mikroalga Botryococcus braunii Bagaimana pemurnian biodiesel dari minyak mikroalga braunii? menjadi biodiesel? Botryococcus braunii?

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Biodiesel Biodiesel (Fatty Acid Methyl Ester/FAME) adalah bahan bakar bersifat non toksik dan biodegradable diperoleh dari sumber daya alam terbarui. Biodiesel merupakan salah satu bahan bakar alternative karena penggunaan biodiesel dapat menurunkan emisi CO2, Sox, dan hidrokarbon tidak terbakar dibanding dengan penggunaan bahan bakar fosil (Abreu dkk, 2003). 2.2 Mikroalga Mikroalga merupakan kelompok tumbuhan berukuran renik, baik sel tunggal maupun koloni yang hidup di seluruh wilayah perairan air tawar dan laut. Mikroalga lazim disebut fitoplankton. Mikroalga saat ini menjadi salah satu alternative sumber energi baru yang sangat potensial. Makanan utama mikroalga ialah karbondioksida. Mikroalga mampu tumbuh cepat dan dipanen dalam waktu singkat yakni 7-10 hari. Kegiatan kultivasi tumbuhan produsen primer ini menghemat ruang (save space), memiliki efisiensi dan efektivitas tinggi. Panen mikroalga minimal 30 kali lebih banyak dibandingkan tumbuhan darat (Frikardo, 2008). Sel mikroalgae dapat dibagi menjadi 10 divisi dan 8 divisi algae merupakan bentuk unicellulair. Dari 8 divisi algae, 6 divisi telah digunakan untuk keperluan budidaya perikanan sebagai pakan alami. 4 karakteristik yang digunakan untuk membedakan divisi mikro algae yaitu ; tipe jaringan sel, ada tidaknya flagella, tipe komponen fotosintesa, dan jenis pigmen sel. Selain itu morfologi sel dan bagaimana sifat sel yang menempel berbentuk koloni atau filamen adalah merupakan informasi penting didalam membedakan masing-masing grup (Frikardo, 2008). Mikroalga dapat menyerap nutrient dari seluruh lapisan perairan, karena bisa mengabsorpsi langsung melalui membran sel. Salah satu tujuan kultur alga adalah untuk mendapatkan kelimpahan sel yang tertinggi di dalam periode waktu yang singkat. Didalam kondisi perairan alami, konsentrasi trace metal

biasanya cukup terpenuhi, tetapi kandungan makro nutrient nitrat dan fosfat biasanya terbatas. Untuk fosfor biasanya terbatas keberadaannya di perairan tawar dan nitrat biasanya terbatas di perairan laut (Frikardo, 2008). Mikroalga seperti Botryococcus braunii, Dunaliella salina, Chlorella vulgaris, Monalanthus sauna mempunyai kandungan minyak berkisar 40 - 85%, sementara untuk kelapa hanya mengandung minyak sekitar 40 - 55%, jarak mempunyai kandungan minyak 43 - 58% , dan untuk sawit berkisar 45 - 70%. Semua jenis alga memiliki komposisi kimia sel yang terdiri dari protein, karbohidrat, lemak (fatty acids) dan asam nukleat. Komponen lemak atau fatty acids inilah yang akan diekstraksi dan diubah menjadi biodiesel (Rahardjo, 2008).

Gambar 1. Mikroalga Botryococcus braunii Tabel 1. Komposisi mikroalga Botryococcus braunii Botryococcus Hydrocarbons Triglyceride Glycolipids Phosphlipids 2.3 Karakteristik Minyak Alga Akumulasi lipid dalam tumbuhan alga secara khas terjadi selama periode tertentu meliputi tumbuh di bawah kondisi nutrien rendah. Kandungan lipid asam lemak dari mikroalga berubah-ubah sesuai dengan kondisi alam. Dalam beberapa kasus, kandungan lipid dapat menjadi tinggi oleh adanya gangguan kurangnya nitrogen atau faktor tekanan lain. Studi mengenai biokimia mengusulkan bahwa Kandungan (%) 5-75 1-3 3-5 3-5

karboksilase Asetil Ko-A (ACCase), suatu biotin yang berisi enzim yang dapat mengkatalisis langkah awal dalam biosintesis asam lemak. Oleh karena itu, untuk menaikkan laju produksi lipid dalam mikroalga adalah dengan cara menaikkan aktivitas enzim ini melalui teknik genetika (rekayasa genetika). Berikut ini adalah rendemen dari beberapa bahan dasar biodiesel (Anonim1,2009): Tabel 2. Rendemen dari beberapa bahan dasar biodiesel
Tumbuhan Castor Sunflower Safflower Sawit Kedelai Kelapa Alga Rendemen (hasil) 1.413 952 779 5.950 446 2.689 100.000

Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa tumbuhan alga yang memiliki rendemen paling tinggi diantara bahan dasar biodiesel lainnya. Masalah utama yang berhubungan dengan penggunaan pure vegetable oils, yaitu minyak alga yang bertindak sebagai bahan bakar untuk mesin diesel adalah disebabkan adanya viskositas yang tinggi. Minyak alga diketahui sebagai minyak dengan viskositas yang sangat tinggi dengan viskositas antara 10-20 kali dari bahan bakar diesel no.2 yang terbaik. Karena viskositasnya yang cukup tinggi dan rendahnya penguapan, maka minyak alga ini tidak dapat terbakar secara sempurna dan juga dapat membentuk deposit dalam penyuntik bahan bakar dalam mesin diesel. Selain itu, akrolein (substansi yang sangat beracun) juga terbentuk melalui dekomposisi termal (Anonim2,2009). Untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan cara sebagai berikut, yaitu dilution/pencairan, mikro-emulsifikasi, pirolisis dan transesterifikasi. Empat macam teknik tersebut digunakan untuk memecahkan masalah yang berhungan dengan tingginya viskositas minyak alga. Diantara keempat teknik tersebut, konversi kimia dari minyak alga menjadi bahan bakar yang rendah viskositas (fatty ester) adalah merupakan solusi yang paling menjanjikan dan tepat untuk menurunkan tingginya

viskositas. Proses konversi kimia dari minyak alga menjadi fatty ester dan biodiesel dinamakan transesterifikasi (Anonim3,2009) 2.4 Transesterifikasi Minyak Transesterifikasi (disebut alkoholisis) adalah pertukaran antara alkohol dengan suatu ester untuk membentuk ester lain pada suatu proses yang mirip dengan hidrolisis, kecuali pada penggunaan alkohol untuk menggantikan air. Proses ini telah digunakan secara luas untuk mengurangi viskositas trigliserida. Reaksi transesterifikasi ditunjukkan pada oleh persamaan umum berikut ini: RCOOR + ROH RCOOR + ROH Skema 1. Persamaan Umum Reaksi Transesterifikasi Alkoholisis adalah reaksi reversibel yang terjadi pada temperatur ruang, dan berjalan dengan lambat tanpa adanya katalis. Untuk mendorong reaksi ke arah kanan, dapat dilakukan dengan menggunakan alkohol berlebih atau mengambil salah satu produk dari campuran (Hui, 1996). Reaksi antara minyak (trigliserida) dan alkohol disebut transesterifikasi (Darnoko dan Cheryan, 2000). Alkohol direaksikan dengan ester untuk menghasilkan ester baru, sehingga terjadi pemecahan senyawa trigliserida untuk mengadakan migrasi gugus alkil antar ester. Ester baru yang dihasilkan disebut dengan biodiesel (Darnoko dan Cheryan, 2000).

Keterangan : R1, R2, R3 adalah asam lemak jenuh dan tak jenuh dari rantai karbon.

Skema 2. Transesterifikasi Minyak Mikroalga Botryococcus braunii

Asam lemak jenuh yang terdapat pada minyak nabati akan menentukan sifat biodiesel. Perbedaan antara asam lemak jenuh dan tak jenuh terdapat pada ikatan rangkap. Asam lemak tak jenuh mempunyai ikatan rangkap cis pada rantai karbon, sedangkan asam lemak jenuh tidak punya. Ikatan rangkap cis pada rantai karbon menyebabkan senyawa tidak mampu membentuk kerapatan atom-atom, namun ia akan membentuk rantai melingkar. Ini akan membuat ikatan Van der Waals melemah, sehingga titik cair dari asam lemak tak jenuh juga rendah (Darnoko dan Cheryan, 2000). Hampir 90-95% minyak nabati terdiri dari gliserida, yaitu ester, gliserol, dan asam lemak. Asam lemak berperan dalam menentukan sifat fisis dan kimia dari minyak nabati. Kehadiran pengotor di dalam minyak juga mempengaruhi tingkat konversi. Pada kondisi yang sama, sebanyak 67-84% konversi ester dengan menggunakan minyak nabati mentah dapat dicapai, dibandingkan dengan 94-97% jika menggunakan minyak bekas. Asam lemak bebas pada minyak nabati mentah turut mengganggu kerja katalis. Namun bagaimanapun juga pada kondisi temperatur dan tekanan yang tinggi masalah ini dapat diatasi (Darnoko dan Cheryan, 2000). Berikut adalah faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan transesterifikasi (Rahayu, 2003): 1. Suhu Kecepatan reaksi secara kuat dipengaruhi oleh temperatur reaksi. Pada umumnya reaksi ini dapat dijalankan pada suhu mendekati titik didih metanol (6070C) pada tekanan atmosfer. Kecepatan reaksi akan meningkat sejalan dengan kenaikan temperatur. 2. Waktu reaksi Semakin lama waktu reaksi, maka semakin banyak produk yang dihasilkan, karena ini akan memberikan kesempatan reaktan untuk bertumbukan satu sama lain. Namun jika kesetimbangan telah tercapai, tambahan waktu reaksi tidak akan mempengaruhi reaksi. 3. Katalis Katalis berfungsi untuk mempercepat reaksi dengan menurunkan energi aktivasi reaksi namun tidak menggeser letak kesetimbangan. Tanpa katalis, reaksi

transesterifikasi baru dapat berjalan pada suhu sekitar 250C. Penambahan katalis bertujuan untuk mempercepat reaksi dan menurunkan kondisi operasi. Katalis yang dapat digunakan adalah katalis asam, basa, ataupun penukar ion. 4. Pengadukan Pada reaksi transesterifikasi, reaktan-reaktan awalnya membentuk sistem cairan dua fasa. Reaksi dikendalikan oleh difusi diantara fase-fase yang berlangsung lambat. Seiring dengan terbentuknya metil ester, ia bertindak sebagai pelarut tunggal yang dipakai bersama oleh reaktan-reaktan dan sistem dengan fase tunggal pun terbentuk. Dampak pengadukan ini sangat signifikan selama reaksi. Sebagaimana sistem tunggal terbentuk, maka pengadukan menjadi tidak lagi mempunyai pengaruh yang signifikan. Pengadukan dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan campuran reaksi yang bagus. Pengadukan yang tepat akan mengurangi hambatan antar massa. 5. Perbandingan Reaktan Variabel penting lain yang mempengaruhi hasil ester adalah rasio molar antara alkohol dan minyak nabati. Stoikiometri reaksi transesterifikasi memerlukan 3 mol alkohol untuk setiap mol trigliserida untuk menghasilkan 3 mol ester asam dan 1 mol gliserol. Untuk mendorong reaksi transestrifikasi ke arah kanan, perlu untuk menggunakan alkohol berlebihan atau dengan memindahkan salah satu produk dari campuran reaksi. Lebih banyak metanol yang digunakan, maka semakin memungkinkan reaktan untuk bereaksi lebih cepat. Secara umum, proses alkoholisis menggunakan alkohol berlebih sekitar 1,2-1,75 dari kebutuhan stoikiometrisnya. Perbandingan volume antara minyak dan metanol yang dianjurkan adalah 4 : 1. 2.5 Katalis Batu Gamping / CaO Batu gamping merupakan batuan sedimen karbonat yang terdapat di alam. Tampak luar bahan tambang batu gamping berwarna putih, putih kekuningan, abuabu hingga hitam. Berdasarkan determinasi bahan tambang batu gamping merupakan salah satu bahan galian industri yang potensinya sangat besar. Cadangan batu gamping di seluruh Indonesia diperkirakan lebih dari 28 milyar ton yang tersebar hampir diseluruh wilayah Indonesia.

Gambar 2. Batu gamping Menurut ilyas dkk (1985), batu gamping memiliki kandungan kimia yang penting pada batu gamping adalah CaO, SiO2, Al2O3, H20, Fe203, Na20, MgO dengan kadar CaO umumnya di atas 40%. Sifat fisik dari batu gamping antara lain warna putih kotor, putih keabu-abuan sampai kuning keabu-abuan, Berbuih bila dideteksi, Massive, Berat Jenis : 2,60-2,70 g/ml. Terdapat empat bidang kegiatan yang memanfaatkan keunggulan sifat fisik dan kimia batu gamping, yaitu, bidang pertanian, bahan bangunan, industri dan lingkungan. Pemanfaatan batu gamping di bidang pertanian sangat prospektif. Seperti diketahui bahwa batu gamping dapat meningkatkan ketersediaan unsur hara tanah untuk diserap tanaman. Proses kerjanya melalui penurunan kadar asam tanah. Dalam bidang industri batu penggunaan batu gamping antara lain untuk pembuatan bata silika dengan kandungan CaO 90% atau Pembuatan karbid dengan kandungan kapur tohor (60% ), kokas (40 %), antrasit, petrolium coke (carbon black) (Ilyas dkk, 1985). 2.6 Karakteristik Biodiesel dari Minyak Mikroalga Biodiesel dari minyak mikroalga ini secara signifikan tidak jauh berbeda jika dibandingkan dengan biodiesel yang diproduksi dari vegetable/plant oils yang lain. Hal ini dikarenakan seluruh biodiesel secara utama dihasilkan dengan menggunakan trigliserida. Berikut ini adalah beberapa karakteristik biodiesel berbahan dasar mikroalga (Botryococcus braunii) : 1. Mikroalga menghasilkan banyak polyunsaturated dimana dengan adanya asam lemak polyunsaturated yang levelnya cukup tinggi ini cenderung bersifat menurunkan stabilitas biodiesel. Akan tetapi, dengan adanya polyunsaturated ini, biodiesel mikroalga mempunyai titik leleh yang lebih rendah daripada monounsaturated dan unsaturated. Dengan memperhatikan 10

sifat fisik tersebut, yaitu titik leleh yang cukup rendah, maka seharusnya biodiesel mikroalga cukup baik digunakan dalam cuaca yang dingin jika dibandingkan dengan biodiesel lain yang secara umum memiliki performa yang buruk jika digunakan dalam lingkungan yang dingin. 2. Perbedaan yang paling signifikan adalah pada persen hasilnya (rendemen). Rendemen dari mikroalga ini 200 kali lebih tinggi dari biodiesel yang terbaik sekalipun.

ons 8.2% 20.5% Glycolipids -- 3-5%/DW Phosphlipids -- 1-2%/DW

11

BAB III METODE PENULISAN 3.1 Sifat Penulisan Makalah ini bersifat kajian pustaka yang menjelaskan tentang potensi biomassa mikroalga Botryococcus braunii sebagai bahan baku pembuatan biodiesel. Dalam paparan ini juga dijelaskan teknik dan proses pembuatan biodiesel dari mikroalga Botryococcus braunii. 3.2 Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data dalam makalah ini dilakukan dengan metode studi pustaka dari berbagai sumber informasi antara lain sebagai berikut: 1. Informasi dari Internet. 2. Informasi dari Jurnal Ilmiah. 3.3 Metode Penulisan Pada penulisan makalah ini digunakan beberapa metode pendekatan masalah, yaitu: 1. Analisis masalah yang didapatkan dari sumber pustaka. 2. Mencari korelasi dan kebenararan dari kedua analisis tersebut. 3. Menarik suatu kesimpulan untuk penyelesaian masalah yang dianalisis.

12

BAB IV PEMBAHASAN 4.1 Bahan dan Alat Bahan yang digunakan adalah Botryococcus braunii , batu gamping, methanol absolute, kloroform, aquades. Alat yang digunakan seperangkat alat gelas, seperangkat alat refluks, ayakan 120 mesh, pengaduk magnet, neraca analitik, botol semprot, pengocok listrik (Shaker) 4.2 Metode Kegiatan Metode kegiatan yang digunakan adalah metode percobaan di laboratorium, di mana tahapan penelitian meliputi: 1. Preparasi dan ektraksi minyak mikroalga Botryococcus braunii 2. Preparasi Katalis CaO 3. Perancangan sistem konversi biodiesel 4. Transesterifikasi Minyak mikroalga Botryococcus braunii 4.3 Preparasi Dan Ektraksi Minyak Mikroalga Botryococcus braunii Alga yang dipanen dipisahkan dari air sehingga terbentuk bubur botryococcus. Ekstraksi dilakukan dengan menggunakan larutan chloroform, metanol, dan aquades dengan perbandingan 2:1:0,8. Bubur botryococcus dikocok dengan larutan larutan chloroform, metanol, dan aquades hingga homogen, lalu diaduk dengan kecepatan 30-40 cm/detik selama 3-4 jam. Selanjutnya dimasukkan ke dalam sonicator yang diset pada suhu 50-60C selama setengah jam lalu diputar pada kecepatan 3.500 rpm selama 15 menit. Proses itu membuat bahan yang tadinya homogen membentuk 3 lapisan. Lapisan tengah minyak alga atau trigliserida yang akan diproses lebih lanjut. Bagian bawah biomassa dan yang paling atas campuran metanol dan air. Selanjutnya minyak dipisah dari metanol air dan biomassa. 4.4 Preparasi Katalis CaO Batu Gamping Batu gamping ditumbuk untuk mendapatkan partikel berukuran 80 mesh yang dilakukan dengan cara mengayak batu gamping dengan ayakan 80 mesh. Partikel yang telah diayak digunakan sebagai sampel penelitian. Sampel dikeringkan dalam oven pada temperatur 100oC. 4.5 Proses Pembuatan Biodiesel dan Pemurniannya 13

Pembuatan biodiesel dengan menggunakan proses transesterifikasi, yaitu pemisahan trigliserida oleh alkohol menjadi asam lemak dan gliserol. Dalam transesterifikasi ini katalis yang digunakan adalah CaO (Kalsium oksida). Proses ini dimulai dengan memasukkan minyak alga dan alkohol pada tangki reaktor yang kemudian dilakukan pengocokan dan pemanasan pada suhu 55-600C. Setelah suhu mencapai 600C, dimasukkan katalis CaO dan didiamkan selama 25-30 menit, kemudian larutan campuran disonikasi selama 30 menit pada suhu 600C. Setelah proses sonikasi berakhir, maka larutan dimasukkan ke dalam labu pemisah dan diamkan selama 10-12 jam. Dari proses tersebut akan terbentuk 2 lapisan, yaitu biodiesel pada lapisan atas, sedangkan lapisan bawah gliserol dan metanol. Biodiesel dapat digunakan setelah dimurnikan dengan cara menguapkan air yang masih bercampur. 4.6 Pemisahan Biodiesel Hasil Transesterifikasi Campuran hasil reaksi transesterifikasi dipisahkan dengan menggunakan ekstraksi padat cair. Campuran dipindahkan ke dalam corong pisah dan didiamkan selama 1 jam sehingga terbentuk lapisan gliserol dan lapisan biodisel. Lapisan biodisel dipisahkan dan dicuci beberapa kali dengan air pada pH netral. Air yang terdistribusi dalam biodiesel dikeringkan dengan garam penarik air (MgSO4 anhidrid). Biodiesel dipisahkan dari garam-garam yang mengendap dengan penyaringan. 4.7 Perancangan Sistem Konversi Biodiesel Perancangan sistem konversi biodiesel ini dilakukan menggunakan kolom stainless steel yang dirangkai dengan gambar di bawah ini.

Gambar 3. Alat Konversi

14

Pembentukan nukleofil dari metanol berlangsung dalam kolom 1 dan 2, dimana metanol dicampurkan dengan katalis CaO dengan kolom harus tertutup total untuk menghindari penguapan methanol. Sementara itu kolom 4 digunakan untuk menampung minyak sawit. Bahan dari kolom 1, 2, dan 3 direaksikan pada kolom 4 dengan pemanasan pada temperatur 800C selama 60 menit. Selama reaksi berlangsung pada kolom 4, kolom 1, 2, dan 3 diisi kembali dengan bahan yang sama seperti sebelumnya. Setelah terjadi reaksi pada kolom 4, kemudian ditampung (didiamkan) pada tangki pengendap (5 dan 6) sehingga hasil reaksi dari kolom 4 menjadi tiga lapisan yaitu biodiesel (metil ester), gliserol dan CaO. Biodiesel menempati lapisan atas karena memiliki densitas yang lebih rendah dari gliserol sehingga gliserol tertarik ke bawah karena gravitasi. Lapisan biodiesel kemudian dialirkan ke penampung 7 berisi biodisel yang siap digunakan. Proses ini berlangsung secara kotinyu.

15

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan Mikroalga seperti Botryococcus braunii dapat digunakan sebagai bahan baku alternatif biodiesel karena kandungan minyaknya yang cukup tinggi diantara mikroalga-mikroalga yang lain, yaitu 70-85% tiap gramnya. Untuk mendapatkan minyak mikroalga ini adalah dengan cara metode ekstraksi. Alga yang dipanen dipisahkan dari air sehingga terbentuk bubur botryococcus. Kemudian diekstraksi dengan kloroform, metanol, dan aquades dengan perbandingan 2:1:0,8. Selanjutnya diaduk dengan kecepatan 30-40 cm/detik selama 3-4 jam, kemudian disonikasi suhu 50-600C selama setengah jam dan diputar pada kecepatan 3.500 rpm selama 15 menit. Proses tersebut akan membentuk 3 lapisan. Lapisan tengah adalah minyak alga atau trigliserida yang akan diproses lebih lanjut menjadi biodiesel. Pembuatan biodiesel dilakukan dengan menggunakan proses transesterifikasi dengan CaO sebagai katalis. Minyak alga dan alkohol dimasukkan pada tangki reaktor kemudian dikocok dan dipanaskan pada suhu 55-600C. Ketika suhu mencapai 600C, katalis CaO dimasukkan dan didiamkan selama 25-30 menit, kemudian disonikasi selama 30 menit pada suhu 600C. Setelah sonikasi berakhir, maka larutan dimasukkan ke dalam labu pemisah dan diamkan selama 10-12 jam. Dari proses tersebut akan terbentuk 2 lapisan, yaitu biodiesel pada lapisan atas, sedangkan lapisan bawah gliserol dan metanol. Biodiesel dipisahkan dari pengotor dengan menggunakan ekstraksi padat cair. Campuran dipindahkan ke dalam corong pisah dan didiamkan selama 1 jam sehingga terbentuk lapisan gliserol dan lapisan biodisel. Lapisan biodisel dipisahkan dan dicuci beberapa kali dengan air pada pH netral, sedangkan air yang terdistribusi dalam biodiesel dikeringkan dengan MgSO4 anhidrid. Biodiesel dipisahkan dari garam-garam yang mengendap dengan proses penyaringan.

5.2 Saran

16

Pengembangan biodiesel berbahan baku mikroalga (Botryococcus braunii) agar lebih dikembangkan di Indonesia mengingat Indonesia sebagai negara maritim yang kaya akan tanaman mikroalga dimana budidayanya sangat mudah dan dapat menghasilkan kandungan minyak (trigliserida) yang tinggi.

17

DAFTAR PUSTAKA Abreu, F.R., D. G. Lima, E. H. Hamu, C. Wolf, dan P. A. Z. Suarez, 2003, Utilizations of Metal Complexes as Catalyst in The Transesterification of Brazilian Vegetables Oils with Different Alcohols, J. Mol Catal. A Chem, 209. Anonim1, 2009, Algal Oil Yields, online, http://www.oilgae.com/algae/oil/yield/yield.html, diakses tanggal 1 November 2009 Anonim2, 2009, Biodiesel Production from Algae Oil, online, http://www.oilgae.com/algae/oil/biod/prod/prod.html, diakses tanggal 1 November 2009 Anonim3, 2009, Transesterification, online, http://www.oilgae.com/algae/oil/biod/tra/tra.html, diakses tanggal 1 November 2009 Darnoko, D dan Cheryan M., 2000, Continous Production of Palm Methyl Ester, J.Am. Oil Chem. Soc, 77, 1269-1272. Frikardo, Agus, 2008, Kultur Mikroalga, online, http://afsaragih.wordpress.com/2008/12/16/kultur-mikroalga, diakses tanggal 1 November 2009 Rahardjo, D., 2008, Mikroalga Sumber Energi Alternatif Masa Depan, online, http://www.forumbebas.com/thread-37216.html, diakses tanggal 1 November 2009 Rahayu, S. S., dan Rarasmedi, I., 2003, Biodiesel dari Minyak Sawit dan Fraksi Ringan Minyak Fusel, Seminar Nasional teknik kimia Indonesia. Yogyakarta

18