Anda di halaman 1dari 12

Perhitungan Cadangan dan Geostatistik

Dudi Nasrudin Usman, S.T


PERHITUNGAN CADANGAN DAN GEOSTATISTIK
1. PENDAHULUAN
Kemajuan dalam teknologi perangkat keras dan lunak komputer saat ini menjadikan media digital
sebagai media pilihan untuk penggambaran dan pemetaan. Bila gambar dan peta tersimpan dan
tersajikan secara digital menggunakan paket-paket program terapan kelompok CAD ataupun GIS,
maka hitungan panjang, luas dan volume dari suatu gambar ataupun peta bisa diperoleh dengan
mudah menggunakan program-program yang disediakan. Gambar yang akan dihitung luasnya
bisa berupa gambar potongan, gambar kawasan yang dibatasi oleh poligon atau kawasan yang
dibatasi oleh garis kontur.
Bila penyimpanan dan penyajian menggunakan media konvensional maka bisa dilakukan hitungan
luas cara numeris, grafis, mekanikal-grafis, mekanikal-grafis-digital. Hitungan luas cara grafis
sangat dipengaruhi oleh kestabilan media dan ketelitian Gambar Meskipun dalam teknik
perhitungan dapat menggunakan penggaris, kertas milimeter block atau planimeter, tetapi untuk
pemakaian praktis sekarang ini dianjurkan hitungan panjang, luas dan volume dilakukan secara
numeris menggunakan kalkulator berprogram ataupun komputer berprogram.
2. PERHITUNGAN LUAS
2.1 PERHITUNGAN LUAS CARA ANALITIS
Bentuk Dasar Beraturan
Persegi empat; Bila panjang persegi empat P dan lebar L, maka luasnya LPE= P x L.
Segitiga:
Bila panjang satu sisi b dan tinggi segitiga pada sisi itu = h, maka luas segitiga LST = 1/2
bh.
Bila sudut a diketahui dan sisi pengapitnya b dan c diketahui, maka luas segitiga LST
= 1/2 bc sin a.
Bila ketiga sisi segitiga masing-masing a, b dan c diketahui, maka luas segitiga
LST = (s(s - a)(s - b)(s - c))
1/2
dengan s = 1/2(a + b + c).
Trapesium; Bila kedua sisi sejajar trapesium b1 dan b2 serta tingginya h diketahui, maka luas
trapesium LTRP = 1/2(b1 + b2)h
Hasil Bentukan dari Bentuk Dasar Beraturan
Bentuk turunan trapesium:
Cara offset dengan interval tidak tetap: A = 1/2(S1y1 + S2y2 + S3y3 + ... + Snyn),dengan S1 = d1, S2 =
d1 + d2, S3 = d2+ d3, S4 = d3 + d4 dan S5 = d4.
Gambar. 1 Hitungan luas cara offset dengan interval tidak tetap.
Cara offset dengan interval tetap : A = d {(y1+y2)/2 + y2 + y3 + ... + yn-1}, dengan d
adalah interval yang sama. Pada gambar di atas, d1 = d2 = d3 = d4 =d.
Cara offset A = l (h1 + h2 + h3 + ... + hn) = l S hi, dengan i = 1 ... n.
Gambar. 2 Hitungan luas cara offset pusat
Diklat Perencanaan Tambang Terbuka
Unisba, 12 22 Juli 2004
1
Perhitungan Cadangan dan Geostatistik
Dudi Nasrudin Usman, S.T
Bentuk turunan trapesium dan "parabola"; Trapesium dan parabola sebagai pendekatan bentuk
yang dibatasi oleh lengkungan polynomial
Cara Simpson 1/3, dua bagian dianggap satu set A = l/3 (y0 + 4y1 + y2)
Gambar. 3 Hitungan luas cara Simpson 1/3.
Cara Simpson 1/3 untuk offset ganda berulang A = l/3 {y0 + yn + 4(y2 + y4 +...+yn-1) + 2(y3
+ y5 +...+ yn-2)}
Bentuk segi banyak cara koordinat
Bila koordinat (X,Y) suatu segi banyak diketahui, maka luasnya adalah
A = 1/2 S X(Y+1 - Yi-1) atau A = 1/2 S Yi(Xi-1 - Xi+1).
Gambar. 4 Hitungan luas cara koordinat.
Bentuk tanah asli beraturan:
Luas dihitung menggunakan rumus "typical" pada bentuk yang beraturan tersebut.
Contoh: Luas galian pada potongan yang ditunjukkan pada gambar berikut adalah
A = h(W + r1h)
Gambar. 5 Luas galian pada bentuk tanah asli beraturan.
Bentuk tanah asli tidak beraturan.
Hitungan luas berdasarkan potongan lintang pada bentuk tanah asli tidak beraturan
menggunakan cara koordinat. Koordinat perpotongan typical cross sections dengan tanah asli
harus dihitung.
Diklat Perencanaan Tambang Terbuka
Unisba, 12 22 Juli 2004
2
Perhitungan Cadangan dan Geostatistik
Dudi Nasrudin Usman, S.T
2.2 PERHITUNGAN LUAS CARA GRAFIS
Cara kisi-kisi: bagian yang akan ditentukan luasnya "dirajah" dengan menempatkan kisi-kisi
transparan dengan ukuran tertentu di atasnya. Luas = jumlah kelipatan kisi-kisi satuan.
Gambar. 6 Hitungan luas cara grafis kisi-kisi.
Cara lajur; bagian yang akan ditentukan luasnya "dirajah" dengan menempatkan lajur-lajur
transparan dengan ukuran tertentu di atasnya. Luas setiap lajur = dl, bila d adalah lebar
lajur dan l panjang lajur.
Gambar. 7 Hitungan luas cara grafis lajur
2.3 PERHITUNGAN LUAS CARA MEKANIS - GRAFIS
Luas gambar diukur dengan menelusuri batas tepinya menggunakan pelacak pada alat planimeter.
Luas kawasan yang diukur diperoleh dengan mengalikan bacaan manual luas planimeter dikalikan
dengan skala gambar pada planimeter digital, bacaan luas planimeter secara digital direkam dan
sisajikan langsung oleh alat.
3. PERHITUNGAN VOLUME
Cara Potongan Melintang
Cara potongan melintang rata-rata; Bila A1 dan A2 merupakan luas dua buah penampang yang
berjarak L, maka volume yang dibatasi oleh kedua penampang ini: V = 1/2(A1 + A2) L
Gambar. 8 Volume cara potongan melintang rata-rata.
Cara jarak rata-rata dari penampang: V = 1/2(L1 + L2) Ao.
Diklat Perencanaan Tambang Terbuka
Unisba, 12 22 Juli 2004
3
Perhitungan Cadangan dan Geostatistik
Dudi Nasrudin Usman, S.T
Gambar. 9 Volume cara jarak rata-rata
Cara Prisma dan Piramida Kotak
Cara prisma ; V = h/6(A1 + 4 Am + A2)
Gambar. 10 Volume cara prisma.
Cara piramida kotak V = h/3{A1 + (A1A2)
1/2
+ A2}
Gambar. 11 Volume cara piramida kotak
Cara Ketinggian Sama
Cara dasar ketinggian sama areal bujur sangkar
V = A/4( h1 + 2 S h2 + 3 S h3 + 4 S h4)
hI = ketinggian titik-titik yang digunakan i kali dalam hitungan volume
Gambar. 12 Volume cara dasar sama bujur sangkar.
Contoh, lihat Gambar XYZ. Titik-titik berurutan dari pojok kiri atas ke kanan terus ke
bawah masing-masing digunakan dalam hitungan bujur sangkar: 1, 2, 2, 2, 1; 2, 4, 4, 3,
1 dan 1, 2, 2, 1 kali. Contoh hitungan (Volume tinggi sama basis bujur sangkar).
Diklat Perencanaan Tambang Terbuka
Unisba, 12 22 Juli 2004
4
Perhitungan Cadangan dan Geostatistik
Dudi Nasrudin Usman, S.T
Cara dasar ketinggian sama areal segitiga
V = A/3(h1 + 2S h2 + 3S h3 + 4S h4 + 5S h5 + 6S h6 + 7S h7 + 8S h8)
hI = ketinggian titik-titik yang digunakan i kali dalam hitungan volume.
Pelaksanaan hitungan menggunakan cara sama dengan cara bujur sangkar
Gambar. 13 Volume cara dasar sama segitiga,
Cara Garis Kontur:
Gambar. 14 Volume cara kontur
Cara garis kontur dengan rumus prisma;
V = h/3{ Ao + An + 4SA2r+1 + 2SA2r }
r pada 2r + 1 berselang 0 <= r <= 1/2(n - 2),
r pada 2r berselang 0 <= r <= 1/2(n - 2).
Untuk n = 2 diperoleh r = 0, sehingga V = h/3(Ao + A2 + 4A1) = h/3(Ao + 4A1 + A2).
Bila n adalah ganjil, bagian yang terakhir dihitung dengan cara piramida kotak atau cara
rerata luas penampang awal dan akhir.
Cara garis kontur rumus piramida kotak;
V = h/3{ Ao + An + 2SAr + S(Ar-1Ar)
1/2
}
r pada 2SAr berselang 1 r n - 1,
r pada S(Ar-1Ar)1/2 berselang 1 r n.
Untuk n = 1 diperoleh V = h/3{A0 + A1 + (A0A1)1/2}
V = h/3{ A0 + (A0A1)1/2 + A1 }
Cara garis kontur dengan luas rata-rata; V = h/2 { Ao + An + 2S Ar }
r bernilai 1 r n - 1.
Untuk n = 1 diperoleh V = h/2 ( A0 + A1 )
4. GEOSTATISTIK (STATISTIKA SPASIAL)
Geostatistik merupakan cabang daripada statistik terapan yang dibantu dengan deskripsi
matematik dan analisa (observasi) geologi. Pada dasarnya geostatistik dapat digunakan dapat
Diklat Perencanaan Tambang Terbuka
Unisba, 12 22 Juli 2004
5
Perhitungan Cadangan dan Geostatistik
Dudi Nasrudin Usman, S.T
digunakan untuk estimasi dan penelaahan variabel, faktor atau keadaan yang ada kaitannya
dengan ilmu kebumian.
Variogram atau semivariogram merupakan alat utama dalam perhitungan melalui geostatistik,
selain itu dapat juga untuk mengukur variansi (mean squarred error) dalam estimasi nilai Z(x+h)
dengan Z(x). Jika sampel pada posisi x+h nilainya sama dengan sampel pada posisi x, maka
kesalahan adalah Z(x) Z(x+h), yang kuadrat rata-ratanya bernilai 2(h). Persamaan
semivariogram eksperimentalnya adalah ;
$
( ) ( )
2
1
1
2
( )
( )
( )
n h
i
h Z xi Z xi h
n h

1 +
]

Model variogram eksperimental yaitu variogram yang diperoleh dengan memasukkan nilai sampel
dalam rumus variogram merupakan realisasi daripada sifat-sifat spasial dari regionalized variabel.
Hal ini dilakukan agar variogram tersebut dapat digunakan untuk alat estimasi nilai suatu dimensi
yang lebih besar daripada ukuran sampel sehingga perlu adanya model teoritis yang cocok
dengan realisasi sifat sifat spasial berkaitan dengan regionalized variabel yang sedikit
memperlihatkan keadaan statis.
Variogram yaitu representasi hubungan antar data secara spasial (ruang) pada suatu arah
tertentu. Di mana dapat dirumuskan dalam rumus umum di bawah ini ;
2
1
2
[ ( ) ( )]
( )
. ( )
N
i i h
i
z x z x
h
N h

Di mana :
(h) : nilai variogram untuk arah tertentu dan jarak h
h : 1d, 2d, 3d, 4d, (d=jarak k antar conto)
z(xi) : harga (data) pada titik xi
z(xi+h) : data pada titik yang berjarak h dari xi
N(h) : jumlah pasangan data
4.1 Metoda Seperjarak (Invers Distance Method)
Metode matematik banyak diterapkan pada tahap awal evaluasi mineral deposit. Metode dan
teknik perhitungan dipengaruhi oleh kondisi geologi lokal, metode penambangan dan lain
sebagainya. Metode yang diterapkan, dalam praktek yang sebenarnya selalu sesuai dengan teori
yang diberikan. Salah satu metode perhitungan tersebut adalah metode Invers Distance.
Prinsip penaksiran metode Invers Distance adalah dilakukan teknik pembobotan titik data yang
didasarkan pada:
- letak grid atau blok yang akan ditaksir terhadap letak data conto
- kecenderungan penyebaran data kualitas
- orientasi setiap conto yang menunjukkan hubungan letak ruang antar conto
Pemecahan masalah dalam metode bijih ini dengan metode yang didasari pada jarak sample satu
dengan sample lainnya dalam satu blok. Umumnya pembobotan jarak dengan metode menurut
sample yang ditampilkan dan cara penerapannya:
Invers distance
Diklat Perencanaan Tambang Terbuka
Unisba, 12 22 Juli 2004
6
Perhitungan Cadangan dan Geostatistik
Dudi Nasrudin Usman, S.T
Invers distance squared
Invers distance cubed
Rumus umum Invers distance:
n
n
d d d
n d d d
g g g
G
1 1 1
1
2
1
1
1
.....
.......
2 1
2 1
+ +
+ +

persamaan pembobotannya :
..... ) (
.....
) (
.....
2
1 1 1
1
1
1 1 1
1
2 1
2
2 1
1
+
+ +
+
+ +
g g
n n
d d d
d
d d d
d
faktor pembobotan :

j
i
d
d
i
j
1
1
1
Invers distance squared
2 2
2
2
1
2 2
2
2
1
1 1 1
1
2
1
1
1
.....
.......
n
n
d d d
n
d d d
g g g
G
+ +
+ +

persamaan pembobotannya :
..... ) (
.....
) (
.....
2
1 1 1
1
1
1 1 1
1
2 2
2
2
1
2
2
2 2
2
2
1
2
1
+
+ +
+
+ +
g g
n n
d d d
d
d d d
d
faktor pembobotan :

j
i
d
d
i
j
1
1
1
2
2
Invers distance cubed
3 3
2
3
1
3 3
2
3
1
1 1 1
1
2
1
1
1
.....
.......
n
n
d d d
n
d d d
g g g
G
+ +
+ +

persamaan pembobotannya :
..... ) (
.....
) (
.....
2
1 1 1
1
1
1 1 1
1
3 3
2
3
1
3
2
3 3
2
3
1
3
1
+
+ +
+
+ +
g g
n n
d d d
d
d d d
d
faktor pembobotan :

j
i
d
d
i
j
1
1
1
3
3
Perinciannya adalah sebagai berikut :
Sudut perubah yang maksimum
Dimensi ruang sesuai dengan pola penyelidikan yaitu :
Diklat Perencanaan Tambang Terbuka
Unisba, 12 22 Juli 2004
7
Perhitungan Cadangan dan Geostatistik
Dudi Nasrudin Usman, S.T
- Square
- Circle
- Rectangle
- Ellips
Jika titik sample nyatanya terdapat pada tengah-tengah blok maka
diperkirakan keadaan ini d=0, menyebabkan nilai d kecil yaitu 1 m.
Hal yang mencirikan titik minimum dalam ruang maka diijinkan untuk
melakukan interpolasi
Jika jumlah titik tersebut tidak cukup memadai maka penyelidikannya
diperluas hingga jumlahnya cukup memadai ruang tersebut. Contoh untuk perluasan
bentuk rectangle dengan perluasan 25% panjang dan lebar
Pada metode invers distance :
- Memperhitungkan adanya hubungan letak ruang (jarak).
- Merupakan kombinasi linier atau harga rata-rata tertimbang (weighting average) dari titik-titik
data yang ada di sekitarnya.
- Pada titik data yang terdekat dengan titik yang ditaksir akan memberikan bobot yang lebih
besar daripada titik data yang lebih jauh.
- Efek penghalusan (pemerataan) dilakukan dengan faktor pangkat.
- Pada pangkat yang sangat besar akan menghasilkan pendekatan metode poligon.
- Pangkat semakin besar maka bobot (pengaruh) dari titik terdekat semakin besar pula.
Kelemahan :
- Tidak ada hubungan antara jarak dan range a pada variogram.
- Pada deposit irregular dengan range kecil akan diperlakukan sama dengan pada deposit
reguler dengan luas a.
- Jika titik referensi adalah lubang bor, kemudian faktor pembobotan tak berhingga, maka
metode ini tidak dapat diterapkan.
- Metode ini didasarkan pada estimasi titik dan tidak bergantung pada ukuran blok.
- Invers Distance hanya memperhatikan jarak dan belum memperhatikan efek pengelompokan
data.
- Sehingga data dengan jarak yang sama namun mempunyai pola sebaran yang berbeda masih
akan memberikan hasil yang sama.
- Metode ini belum memberikan korelasi ruang antara titik data dengan titik data yang lain.
4.2 Kriging
Kriging yaitu suatu teknik perhitungan untuk estimasi atau simulasi dari suatu variabel terregional
(regionalized variable) yang memakai pendekatan bahwa data yang dianalisis dianggap sebagai
suatu realisasi dari suatu variabel acak (random variable), dan keseluruhan variable acak dalam
daerah yang dianalisis tersebut akan membentuk suatu fungsi acak dengan menggunakan model
struktural variogram atau kovariogram (Dr. Ir. Rukmana Nugraha Adhi, 1998).
Kriging adalah penaksiran geostatistik linier tak bias yang paling bagus untuk mengestimasi kadar
blok karena menghasilkan varians estimasi minimum BLUE (Best Linier Unbiased Estimator).
(Dr. Ir. Totok Darijanto, 2003). Kriging diambil dari nama seorang pakar geostatistik dari Afrika
Selatan yaitu D.G Krige yang telah banyak memikirkan hal tersebut sejak tahun 50an.
Secara sederhana, kriging menghasilkan bobot sesuai dengan geometri dan sifat mineralisasi
yang dinyatakan dalam variogram. Bobot yang diperoleh dari persamaan kriging tidak ada
hubungannya secara langsung dengan kadar conto yang digunakan dalam penaksiran. Bobot ini
hanya tergantung pada konfigurasi conto di sekitar blok serta model variogramnya.
Nilai estimasi (1) dan variabel estimasi kriging (2) yang ditentukan dengan metoda geostatistik
untuk suatu variabel terregional disetiap support V adalah sebagai berikut (Gambar 1) ;
Diklat Perencanaan Tambang Terbuka
Unisba, 12 22 Juli 2004
8
Perhitungan Cadangan dan Geostatistik
Dudi Nasrudin Usman, S.T
a). Blok Teratur
b). Blok Tidak Teratur
Gambar. 15 Perhitungan Metoda Geostatistik dengan support suatu blok
1
2 2
1
2
*
* *
E( ) ( )...............( )
( ) ( )
( , ) ( , ) ...............( )
n
v v
i
k v v v v
Z aiZ xi
Var Z Z E Z Z
ai xi V V V

dan ai ditentukan dari perkalian matrik pada persamaan kriging (3, 4, 5, 6). Persamaan Kriging (3)
1
1
1 3
1 3
( , ) ( , ) , ...............( )
...............( )
n
j
n
i
aj xi xj xi i n
ai

Dari persamaan kriging tersebut, menjadi perkalian matriks sebagai berikut ;


1 11 12 13 1
21 22 23 2 2
31 32 33 3 3
31 31 31
1 1
1 2
1 3
1
1 1 1 1 0 1
.....
.....
.....
. . .
. . .
. . .
.....
n
n
n
nn n
x x x x x a
x x x x x a
x x x x a x
x x x x an x

_ _ _










, , ,
4 ...............( )

[Matriks G].[Matriks A] = [Matriks M] (5)


[A] = [G]
-1
[M](6)
di mana ;
Z* : nilai estimasi kriging di blok V
Diklat Perencanaan Tambang Terbuka
Unisba, 12 22 Juli 2004
9
X5 X1
X6
X4 X3
X2
A
B
C
D
D
X X X
X X X
X X X
Perhitungan Cadangan dan Geostatistik
Dudi Nasrudin Usman, S.T
X1,X2.X6 : posisi data pengamatan / pemboran
Z(xi) : nilai data pengamatan/pemboran di xi
ai : besaran bobot dari data yang berada di koordinat (xi, yi) untuk
estimasi blok
k
2
: Varians estimasi kriging
(xi,V) : Variogram rata-rata dari data yang berada di koordinat (xi,yi) ke
blok V
(V,V) : Variogram rata rata dari blok V
V : blok estimasi = ABCDE
: koefisien Lagrange
Perhitungan dengan metoda kriging ini kadang-kadang terlalu kompleks untuk suatu komoditi
tertentu. Hal ini sangat bermanfaat jika dilakukan pada penentuan cadangan-cadangan yang
mineable dengan kadar-kadar di atas cut off grade.
Sebagai conto hubungan antara analisa conto dengan harga analisa blok bijih (harga sebenarnya)
yang terpencar membentuk elips (Gambar. 16) kemudian tarik garis regsresi melalui titik 0 dan titik
(,), selanjutnya bagi elips tersebut dengan cut off grade zc = Zc = 5 % menjadi empat bagian.
Gambar. 16 Pencaran data antara kadar conto vs. kadar blok yang memperlihatkan kesalahan
penambangan
Daerah 1 Semua blok dengan kadar > cog yang sesuai dengan kadar conto > cog ditambang
Daerah 2 Semua blok dengan kadar < cog yang sesuai dengan kadar conto < cog ditambang
Daerah 3 Semua blok dengan kadar < cog yang sesuai dengan kadar conto > cog ditambang
Daerah 4 Semua blok dengan kadar > cog yang sesuai dengan kadar conto < cog ditambang
Jika garis regresi B B yang menunjukkan hubungan antara conto dan kadar blok diplot, maka
blok blok dengan kadar 5% juga akan ditambang walaupun kadar conto kadar 3,5% (Gambar.
16). Daerah 4 pada Gambar 1 yang baik tertambang karena kesalahan informasi menjadi kecil,
sementara itu daerah 3 yang ditambang walaupun berkadar rendah menjadi lebih besar, walaupun
demikian secara keseluruhan daerah dengan blok-blok yang mempunyai kadar > cut off grade
(5%) dan ditambang menjadi lebih besar.
Berdasarkan analisis variogram, Matheron memberikan koreksi perkiraan kadar pada suatu blok
yang tidak hanya dipengaruhi oleh conto di dalam blok saja, tetapi juga pada conto conto
disekitarnya.
Diklat Perencanaan Tambang Terbuka
Unisba, 12 22 Juli 2004
1
0
Perhitungan Cadangan dan Geostatistik
Dudi Nasrudin Usman, S.T
Gambar. 17 Perubahan bentuk elips pencaran data akibat koreksi dengan metoda kriging
Melalui koreksi ini bentuk elips akan lebih kurus/sempit dengan batas-batasnya mendeteksi garis
regresi yang membentuk sudut 45
0
. Jumlah conto dan pasangan bloknya pada daerah 3 dan
daerah 4 yang menyatakan kadar rendah ditambang atau kadar tinggi tidak ditambang akan
berkurang.
4.3 Metoda Perhitungan Cadangan Batubara
Metoda penampang (cross-section) masih sering dilakukan pada tahap awal. Penaksiran secara
manual ini dipakai sebagai pembanding untuk mengecek hasil penaksiran menggunakan
komputer. Rumus yang dapat digunakan dalam perhitungan luas rata-rata (mean area) dipakai
untuk endapan yang mempunyai penampang yang uniform.
Rumus Mean Area
1 2
2
( ) S S
V L
+

Di mana ;
S1 : luas penampang 1
S2 : luas penampang 2
L : jarak antar penampang
V : Volume Cadangan
Diklat Perencanaan Tambang Terbuka
Unisba, 12 22 Juli 2004
1
1
Luas Overburden
Pada Penampang 1
Luas Overburden
Pada Penampang 2
Penampang 1
Penampang 2
Jarak Antar Penampang
Luas Overburden
Pada Penampang 1
Luas Overburden
Pada Penampang 2
Penampang 1
Jarak Penampang 1 dan 2
Luas Overburden
Pada Penampang 3
Penampang 2 Penampang 3
Jarak Penampang 2 dan 3
Perhitungan Cadangan dan Geostatistik
Dudi Nasrudin Usman, S.T
Rumus Prismoidal
1 2
4
6
( ) S M S
V
+ +

Di mana ;
S1S2 : luas penampang 1 & 2
M : luas penampang tengah
L : jarak antar penampang S1 dan S2
V : Volume Cadangan
DAFTAR PUSTAKA
1. Badan Standardisasi Nasional, 1998, Standar Klasifikasi Sumber Daya Mineral dan Cadangan,
SNI No. 13-4726-1998.
2. Badan Standardisasi Nasional, 1998, Standar Klasifikasi Sumber Daya dan Cadangan
Batubara, SNI No. 13-5014-1998.
3. Evans, A.M., Editor, 1995, Introduction to Mineral Exploration, Blackwell Science, Ltd.
4. Machali Muchsin, A., 1999, Klasifikasi Sumber Daya Mineral dan Cadangan. Naskah/ bahan
kuliah disampaikan dalam Kursus Pembinaan dan Pengawasan Eksplorasi, diselenggarakan
oleh Pusat Pengembangan Tenaga Pertambangan (PPTP) Tanggal 26 Agustus sampai
dengan 24 September 1999.
5. McKinstry, H.E., 1962, Mining Geology, Prentice Hall Inc., Modern Asia Edition.
6. Peters, W.C., 1978, Exploration and Mining Geology, John Wiley & Sons, New York.
7. Reedman, J.H., 1979, Techniques in Mineral Exploration, Applied Science Publisher, London.
8. The Resources and Reserves Committee, 1999, Guide for Reporting Exploration Information,
Resources and Reserves, (Submitted to The Board of Directors of The Society of Mining,
Metallurgy and Exploration Inc.), 17 pp.
9. Dr. Ir. Totok Darijanto, Diktat Kuliah Geostatistik, Jurusan Teknik Pertambangan, ITB, 1999.
10. Dr. Ir. Totok Darijanto, Modul Diklat, Penaksiran Sumberdaya Mineral, 2003
11. Dr. Ir. Rukmana Nugraha Adhi, Geostatistik, Kursus Eksplorasi Batubara bagi Sarjana Baru
dan Mahasiswa Tingkat Akhir Jurusan Geologi dan Pertambangan, 1998
12. Anik Hilyah, Makalah Perhitungan Cadangan dengan Invers Distance Method, Bidang
Khusus Eksplorasi Sumber Daya Bumi, ITB, 2004
Diklat Perencanaan Tambang Terbuka
Unisba, 12 22 Juli 2004
1
2