Anda di halaman 1dari 10

Learning Objectives: 1. Mengetahui cara handling dan restrain kucing. 2.

Mengetahui cara pemeriksaan umum dn pemeriksaan khusus pada kucing. 3. Mengetahui contoh ektoparasit yang menyerang kucing.

Pembahasan: I. Mengetahui cara handling dan restrain kucing. A. Handling Merupakan cara penanganan hewan sebelum diperiksa dengan cara menghalangi gerak aksi dari hewan secara fisik. Beberapa hal yang harus diingat sebelum melakukan handling pada kucing adalah: 1. 2. Gunakan metode handling paling minimal atau sederhana. Pastikan pintu dan jendela tertutup rapat, karena kucig merupakan hewan yang pandai untuk melarikan diri. 3. Jangan pernah memperlakukan semua kucing itu sama, karena kita harus memperhatikan juga bahasa tubuh dari kucing. 4. Jangan memegang kucing terlalu kencang, karena akan menyebabkan kucing merasa terancam dan kucing akan mencoba untuk memberikan perlawanan.

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk melakukan handling adalah: 1. Memegang kepala kucing dengan kedua tangan (posisi jempol diatas kepala kucing). 2. Memegang kaki kucing dengan cara menjepitkan jari-jari kita di sela-sela kaki kucing (Lane, 2004; Aspinall, 2006).

A. Restrain Merupakan cara penanganan hewan sebelum diperiksa dengan cara menghalangi gerak aksi dari hewan menggunakan bahan-bahan kimiawi (obat penenang). Restrain secara kimiawi adalah restrain yang menggunakan obat obat penenang atau menggunakan Tranquilizer. ( Anief, 1995 ). Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk melakukan restrain adalah: a. Menggunakan handuk untuk menutupi (menggulung) tubuh kucing. b. Menggunakan Cat Restrain Bag. c. Menggunakan penutup kepala kucing (Muzzles). d. Menggunakan Cat Lasso (Lane, 2004; Aspinall, 2006).

Obat penenang (psikotropika) adalah zat atau obat, baik alamiah maupun sintesis bukan narkotika. yang berkhasiat psikoaktif melalui pengaruh selektif pada susunan saraf pusat yang menyebabkan perubahan khas pada aktivitas mental dan prilaku. Obat penenang sendiri dibagi antara lain: a. Obat-obat yang menekan fungsi-fungsi psikis tertentu di SSP. Obat Golongan Neuroptika Obat yang tergolong transquillizer

b. Obat-obat yang menstimulir (merangsang) fungsi-fungsi tertentu di SSP. Obat golongan anti depressiva. Obat golongan Psikostimulansia. yang mengacaukan mental tertentu(LSD (Lysergic Acid

c. Obat-obat

Dicthylamide). Yang biasanya dipergunakan sebagai obat penenang untuk hewan adalah kategori Transquillizer. Transqullizer adalah obat-obat penenang yang berkhasiat selektif terutama pada bagian otak yang menguasai emosi-emosi kita, yakni sistem limbis

dan menekan SSP. Bedanya dengan golongan neurotika adalah bukan merupakan anti psikotika.

II.

Mengetahui cara pemeriksaan umum dn pemeriksaan khusus pada kucing. Umum Setelah dilakukan sinyalemen/registrasi dan anamnesa maka selanjutnya dilakukan pemeriksaan umum yang meliputi: Inspeksi dan adspeksi diantaranya melihat, membau, dan mendengarkan tanpa alat bantu. Diusahakan agar hewan tenang dan tidak curiga kepada pemeriksa. Inspeksi dari jauh dan dekat terhadap pasien secara menyeluruh dari segala arah dan keadaan sekitarnya. Diperhatikan pula ekspresi muka, kondisi tubuh, pernafasan, keadaan abdomen, posisi berdiri, keadaan lubang alami, aksi dan suara hewan (Boddie. 1962).

Pulsus, temperatur dan nafas. Pulsus diperiksa pada bagian arteri femoralis yaitu sebelah medial femur (normal: 92150/menit). Nafas diperiksa dengan menghitung frekuensi dan memperhatikan kualitasnya dengan melihat kembang-kempisnya daerah thoraco-abdominal dan menempelkan telapak tangan di depan cuping bagian hidung (normal: 26-48/menit). Temperatur diperiksa pada rectum dengan menggunakan termometer (normal: 37,639,4) (Boddie. 1962).

Selaput lendir. Conjunctiva diperiksa dengan cara menekan dan menggeser sedikit saja kelopak mata bawah. Penampakan conjunctiva pada kucing tampak pucat. Membran mukosa yang tampak anemi (warna pucat) dan lembek merupakan indikasi anemia. Intensitas warna conjunctiva dapat menunjukkan kondisi peradangan akut seperti enteritis, encephalonitis dan kongesti pulmo akut. Cyanosis (warna abu- abu kebiruan) dikarenakan kekurangan oksigen dalam darah, kasusnya berhubungan dengan pulmo atau sistem respirasi. Jaundice (warna kuning) karena terdapatnya pigmen bilirubin yang menandakan terdapatnya gangguan pada hepar. Hiperemi (warna pink terang) adanya hemoragi petechial menyebabkan hemoragi purpura (Boddie. 1962).

Khusus Sistem Pencernaan

Pakan/minum diberikan untuk melihat nafsu makan dan minum. Kemudian dilihat juga keadaan abdomen antara sebelah kanan dan kiri. Mulut, dubur, kulit sekitar dubur dan kaki belakang juga diamati, serta cara defekasi dan tinjanya. Mulut, Pharynx, dan Oesophagus: Mulut anjing dibuka dengan menekan bibir kebawah gigi atau ke dalam mulut, dan dilakukan inspeksi. Bila perlu, tekan lidah dengan spatel agar dapat dilakukan inspeksi dengan leluasa seperti bau, mulut, selaput lendir mulut, pharynx, lidah, gusi, dan gigi-geligih serta kemungkinan adanaya lesi, benda asing, perubahan warna, dan anomali lainnya. Oesophagus dipalpasi dari luar sebelah kiri dan pharynx (Boddie. 1962). Abdomen: Inspeksi dilakukan pada abdomen bagian kiri dan kanan dengan memperhatikan isi abdomen yang teraba serta dilakukan auskultasi dari sebelah kanan ke kiri untuk mengetahui peristaltik usus. Lakukan pula eksplorasi dengan jari kelingking, perhatikan kemungkinan adanya rasa nyeri pada anus atau rektum, adanya benda asing atau tinja yang keras. (Boddie. 1962).

Sistem Pernafasan Adanya aksi-aksi atau pengeluaran seperti batuk, bersin hick-up, frekuensi dan tipe nafasnya perlu diperhatikan. Hidung: Perhatikan keadaan hidung dan leleran yang keluar, rabalah suhu lokal dengan menempelkan jari tangan pada dinding luar hidung. Serta lakukanlah perkusi pada daerah sinus frontalis. Pharynx, Larinx, Trakea: Dilakukan palpasi dari luar dengan memperhatikan reaksi dan suhunya, perhatikan pula limfoglandula regional, suhu, konsistensi, dan besarnya, lalu bandingkan antara limfoglandula kanan dan kiri. Rongga dada: Perkusi digital dilakukan dengan membaringkan kucing pada alas yang kompak, dan diperhatikan suara perkusi yang dihasilkan. Palpasi pada intercostae lalu perhatikan adanya rasa nyeri pada pleura dan edeme subcutis (Boddie. 1962).

Sistem Sirkulasi

Diperhatikan adanya kelainan alat peredaran darah seperti anemia, sianosis, edema atau ascites, pulsus venosus, kelainan pada denyut nadi, dan sikap atau langkah hewan. Periksa frekuensi, irama dan kualitas pulsus atau nadi, kerjakan pemeriksaan secara inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi pada daerah jantung (sebelah kiri) (Boddie,1962)

Sistem Limphatica Dilakukan inspeksi, untuk mengetahui kemungkinan adanya kebengkakan

limfoglandula. Limfoglandula yang dapat dipalpasi pada kucing yaitu; lgl. submaxillaris, lgl. parotidea, lgl. retropharyngealis, lgl. cervicalis anterior, lgl. cervicalis medius, lgl. cervicalis caudalis, lgl. prescapularis, lgl. axillaris (dapat teraba jika kaki diabduksikan), lgl. inguinalis, lgl. superficialis (pada betina disebut lgl. supramammaria), lgl. poplitea, lgl. mesenterialis. Palpasi dilakukan di daerah lgl, dengan memperhatikan reaksi, panas, besar dan konsistensinya serta simetrinya kanan dan kiri (Boddie. 1962).

Sistem Lokomotor Perhatikanlah posisi, cara berdiri dan berjalan hewan. Periksalah musculi dengan membandingkan ekstremitas kanan dan kiri. Serta melakukan palpasi. Perhatikan pula suhu, kontur, adanya rasa nyeri dan pengerasan. Pemeriksaan tulang seperti musculi diperhatikan bentuk, panjang dan keadaan. Persendian diperiksa dengan cara inspeksi cara berjalan dan keadaan persendian, lakukanlah palpasi apakah ada penebalan, cairan (pada kantong synovial ataukah pada vagina tendinea) (Boddie. 1962).

Organ Uropoetica Perhatikanlah sikap pada waktu kencing. Amati air seni (kemih) yang keluar, warnanya, baunya dan adanya anomali (darah, jonjot, kekeruhan dan lain sebagainya). Ginjal: Kucing diperiksa denagn melakukan palpasi pada daerah lumbal. Pada kucing ginjalnya menggantung seperti kue bakpia atau mainan yoyo. Perhatikan reaksi, besar, konsistensi dan simetrinya. Vesica urinaria:

Palpasi rongga perut pada waktu isi, kosongkan dengan kateter, palpasi pada keadaan kosong dari kemih, raba kemungkinan adanya benda asing (batu, tumbuh ganda) atau adanya pembengkakan/penebalan dinding vesica urinaria. Kateterisasi/pengambilan urin: Kateter diambil sesuai dengan kelamin dan besar hewan. Kateter dimasukkan secara legeartis (kateter steril, dengan lubricant yang steril, tidak megiritasi dan mengandung antiseptika). Pemeriksaan urin: Seperti pemeriksaan fisik, warna, kekentalan, adanya benda-benda yang

mencurigakan dan bau. Pada pemeriksaan laboratorium, minimal harus dilakukan pemeriksaan protein, pH, dan endapan, bila perlu ambil darahnya untuk pemeriksaaan urea (BUN; blood urea nitrogen) dan kreatinin (Boddie. 1962).

Sistem Syaraf Syaraf pusat 1. N. olfactorius (pembau). Pada anjing dan kucing dengan cara mendekatkan ikan, daging dan lain sebagainya yang merangsang syaraf pembau tanpa mendengar atau melihat. 2. N. opticus (penglihatan). Gerakkan jari telunjuk di muka matanya, perhatikan apakah hewan mengikuti gerakan telunjuk, dan perhatikan reaksi pupil. 3. N. oculomotorius, N. trochlearis, N. abducens. Perhatikan pergerakan palpebrae atas, dan gerakan bola mata serta pupil. Untuk pemeriksaan pupil tutup salah satu mata, buka cepat dan perhatikan reaksinya terhadap sinar. 4. N. trigeminus untuk sensorik, mototrik, dan sekretorik. Lakukan rangsangan dan perhatikan reaksinya pada otot-otot daerah kepala dan mata, perhatikan saliva dan lakrimasi. Perhatikan adanya hyperaesthesi, paralisa dan adanya sekresi yang berlebihan atau berkurang, perhatikan cara mastikasi juga. 5. N. facialis (wajah). Perhatikan kontur m. facialis, apakah lumpuh bilateral atau muka/bibir menggantung sebelah pada kelumpuhan unilateral. 6. N. auditorius (pendengaran/keseimbangan). Perhatikan apakah hewan miring sebelah, sempoyongan, dan panggil namanya. Pada telinga pakai lampu (penlight) atau otoscope, periksa adanya radang, cairan, kotoran, dan pertumbuhan abnormal.

7.

N. glossopharingeal. Pada anjing buka mulut rangsang bagian belakang pharynx. Pada hewan besar perhatikan cara menelan.

8.

N. vagus (organ dalam) untuk sensorik dan motorik, pada jantung kerjanya inhibitor.

9.

N. spinal accessories. Perhatikan scapulae, pada paralisa unilateral salah satu scapulae menggantung (kelumpuhan syaraf yang menginervasi m. trapezius/m. sternocephalicus).

10. N. hypoglossus. Perhatikan lidah apakah menjulur keluar (paralisa bilateral) atau menjulur ke salah satu mulut (paralisa unilateral) (Boddie. 1962).

Syaraf Perifer Perhatikan aktifitas otot, stimulasi dengan meraba, memijit, menusuk, mencubit dengan jari atau arteri klem atau pinset chirurgis. Reflex superficial: Conjungtiva (untuk serabut sensorik dari cabang ophthalmic dan cabang maxillaries syaraf cranial V). Cornea (untuk serabut sensorik dari cabang ophthalmic dan maxillaris cabang syaraf cranial V). Pupil (N. opticus: sensorik, N. oculomotorius: motorik). Perineal (N. spinalis) sentuh perineum, perhatikan reaksinya. Pedal (arcus reflex): sentuh, pijit, pinset (cubit) telapak kaki/interdigiti, perhatikan reaksi menarik pada kaki. Reflex profundal: Patella, pada hewan kecil dilakukan dalam keadaan berbaring, pukul pada ligamentum patellae mediale. Bila reflex bagus m. quardriseps femoris akan berkontraksi mendadak/menendang. Tarsal, lakukan perkusi pada tendo achilles, bila refleksnya bagus maka m. gastrocnemius akan berkontraksi (tampak menendang). Reflex organic: Menelan (koordinasi neuromuscular di daearah pharynx dan oesophagus, gangguan mekanisme ini terjadi pada tetanus, keracunan strichnin, tetani, paralyse N. XII dan N. X). respirasi (pusat reflex di medulla oblongata, otak, medulla spinalis daerah thorax). Defekasi (syaraf yang menginervasi spincter ani) (Boddie. 1962).

III.

Mengetahui contoh ektoparasit yang menyerang kucing 1. Tungau Otodectes cynotis Mulut penghisap berbentuk seperti cangkir. Pada betina, 2 pasang kaki yang pertama pendek dan pasangan kaki yang 3 memiliki cambuk seperti seta. Pasangan kaki yang ke 4 banyak mengalami penurunan. Genital membuka secara transversal. Pada jantan, semua pasang kaki memiliki bentuk yang pendek, namun prosesus caudalis kecil ( Urquhart, 1987 ). Tungau dewasa ukurannya bertambah 0,4 mm dari nimfa, berwarna putih-krem atau kecoklatan dan dapat diihat oleh mata telanjang. atau kaca pembesar. Tungau telinga hidup dengan memakan sekresi telinga dan jaringan kulit saluran telinga yang mengelupas. Tungau dewasa dapat hidup dan mencapai umur 2 bulan. Gejala klinis hewan sering menggeleng-gelengkan kepala, menggaruk telinga karena gatal, adanya masa seperti lilin pada liang telinga, terjadi luka pada liang telinga, Jika ada infeksi bakteri sekunder ada nanah, garukan dapat menyebabkan iritasi pada telinga, vasa darah yang pecah karena digaruk dapat menyebabkan hematom telinga.

2.

Caplak Otobius megnini (caplak lunak) Nimfa memiliki spina sedangkan integumen yang dewasa bergranulasi. Kapitulum terletak jauh dari tubuh pada yang dewasa tetapi dekat pada yang masih muda. Hipostoma mengecil pada yang dewasa tetapi berkembang baik pada nimfa. Tidak memiliki mata (Levine, 1994).

3.

Pinjal Ctenocephalides felis Pinjal ini tidak memiliki sayap, badan pipih, dan memiliki kaki-kaki yang kuat untuk melompat. Pinjal ini memepunyai panjang 1,5-4,0 mm,dengan jumlah kaki 3 pasang. Pinjal yang jantan biasanya lebih kecil daripada yang

betina. Berwarna coklat gelap dan pipih bilateral. Mata tunggal, mulut untuk menusuk dan menghisap. Dahi nonong. Memiliki 2 ktinidia yaitu di genal dan pronotal, genal ktinidianya rata. Kaki panjang untuk melompat. Abdomen 10 segmen, pada segmen ke 9 jantan terdapat lempengan dorsal yaitu sesilium atau pigidium yang ditutupi seta sensoris ( Levine, 1994 ).

4.

Kutu Felicola subrostratus Tubuh tersegmentasi menjadi caput, thorax dan abdomen. Kaki tiga pasang. Merupakan kutu penggigit dengan bagian mulut ventralnya. Gejala klinis hewan menggaruk2 terus, pada infeksi berat kelemahan, telur kutu mudah ditemukan disekitar bulu. Infestasi yang bersifat sedang menimbulkan rasa gatal dan ketidaktenangan. Pada infestasi yang berat menimbulkan kemerahan kulit (eritema), exkoriasi dan rontoknya rambut (Urquhart, 1987).

Daftar Pustaka Anief, Moh. 1995. Prinsip umum dan dasar farmakologi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Aspinal, V. 2006. Clinical Procedures in Veterinary Nursing. Toronto: Elsevier Lim. Boddie ,George F . 1962. Diagnostic methods in veterinary medicine. Edinburgh: Oliver and Boyd Lane, D.R., Cooper,B., 2004. Veterinary Nursing: Formerly Joness Animal Nursing. Pergamon: BSAVA. Levine, Norman D. 1994. Parasitologi Veteriner. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Rubin, Sheldon. 2006. How to Restrain an Injured Cat. http://animals.howstuffworks.com/ pets/how-to-restrain-a-cat.htm: Publications International, Ltd. Urquhart, G. M. 1987. Veterinary parasitology. New York : Churchill Livingstone.