Anda di halaman 1dari 16

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Nematoda darah dan jaringan merupakan jenis cacing yang pada fase hidup dewasa dalam sistem limfatik,sub kutan, dan jaringan ikat dalam pada tubuh manusia. Mikrofilaria (prelarva) ada yang bersarung dan tidak bersarung dan terdapat pada darah perifer/jaringan kulit serta aifatnya sangat aktif. Penularan penyakit melalui vektor arthropoda (nyamuk). Siklus hidup tiap spesies memiliki pola kompleks (larva infektif berkembang menjadi dewasa dan memerlukan waktu bertahun-tahun agar dapat menimbulkan potologis yang nyata pada manusia). Adanya mikrofilaria dalam darah perifier pada manusia tiap-tiap spesies berbedabeda di antaranya mikrofilaria yang ada dalam perifier darah pada malam hari disebut periodisitas nokturna,siang hari di dalam perifer darah disebut periodisitas diurna,dan tidak memiliki periode yang tetap disebut nonperiodik. Spesies nematoda yang hidup pada jaringan dan darah manusia yaitu W. Brancofti,B. Malayi,b. Timori,Mansonella ozzardi,Onchocerca volvulus, Loa loa,dan Dracunculus medinensis. Pada umunya manusia sebagai hosspes definitif nematoda jaringan dan darah , sedangkan hospes perantaranya yaitu nyamuk (W. Brancrofti, B. Malayi, dan B. Timori),lalat (M. Ozzardi ,O. Vulvulus, Loa loa) sebangsa Copepoda(D. Inedinensis).(Muslim,2005) Berdasarkan waktu ditemukannya bentuk microfilaria di aliran darah tepi maka dikenal istilah "periodisitas" yaitu : 1. Nocturrnal periodic: bila microfilaria ditemukan berada dalam darah tepi penderita terutama pada waktu malam hari. Jumlah meningkat sampai maksimum pada tengah malam dan berkurang hingga minimum pada siang hari. Misalnya pada Wuchereria bancrofti 2. Diurnal periodic: bila mikrofilaria ditemukan di darah tepi penderita terutama pada waktu siang hari, Misalnya pada Loa-loa 3. Noctural/Diurnal sub periodic: bila di darah tepi selalu ditemukan mikrofilaria, tetapi jumlahnya meningkat pada waktu malam/siang hari. 4. Non periodic : bila ditemukannya mikrofilaria dalam darah tepi, baik dalam waktu siang atau malam hari (tidak mempunyai periodisitas tertentu).(Diktat,2010) 1.2 Tujuan Untuk mengetahui klasifikasi,epidemologi distribusi,morfologi,siklus hidup, patologi, pencegahan dan pengendalian nematoda yang hidup di darah dan jaringan.

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Klasifikasi Nematoda yang hidup sebagai parasit didalam darah dan jaringan dapat dibagi menjadi 3 golongan: 1. Cacing Filaria dan Dracunculus 2. Invasi larva migrans didalam kulit, jaringan dibawah kulit dan organ-organ dalam oleh larva nematoda. 3. Parasit yang jarang ditemukan yaitu, didalam jaringan hati, ginjal, paru, mata dan sub kutan Cacing Filaria yang termasuk Filariidae merupakan parasit sistem peredaran darah dan limfe, jaringan ikat serta rongga serosa pada manusia dan binatang. Species yang penting yang merupakan parasit pada manusia adalah : 1. Wuchereria bancrofti 2. Brugia malayi dan Brugia timore 3. Onchocerca volvulus 4. Mansonella ozzardi 5. Acanthocheilonema perstans 6. Loa-loa 7. Drancunculus medinensis

2.2 Distribusi Geografik Nematoda jangan dan darah banyak terdapat di daerah tropis yang cocok untuk tempat perindukan vektor. Seperti nematoda yang vetornya nyamuk akan berkembang pesat di afrika dan india. Berdasarkan distribusi geografisnya kita dapat memperkirakan spesies yang mungkin bisa ditemukan dalam pemeriksaan darah. Misalnya untuk daerah : Afrika: Wuchereria bancrofti, Loa-loa, Acanthocheiloneum perstans. Amerika Selatan: Wuchereria bancrofti, Acanthocheiloneum perstans, Mansonella ozzardi. India: Wuchereria bancrofti, Brugia malayi.

Indonesia: Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, Brugia timori. 2.3 Morfologi Cacing dewasa berbentuk silindris, seperti benang ukuran 20-l00 mm x 0,l-0,3 mm. Cacing betina lebih panjang daripada yang jantan (kurang lebih 2 kali), Mulut sederhana dan tak mempunyai bibir yang jelas, rongga mulut tidak nyata. Oesophagus bentuk seperti tabung terbagi menjadi bagian anterior yang berotot dan bagian posterior yang berkelenjar. Beberapa species dari cacing jantan mempunyai spiculae. Cacing betina bersifat vivipar, larvanya disebut mikrofilaria. Mikrofilaria pada beberapa species misalnya pada Wuchereria bancrofti, Brugia malayi dan Loa-loa microfilarianya mempunyai selubung (sheath) yang berupa suatu membran halus berasal dari kulit telur yang melekat ketat dan tampak di bagian kepala dan ekor. Terdapat serangkaian sel-sel yang tersebar diseluruh badannya (nukleus). Ada tidaknya nuclei tersebut sampai keujung ekor dapat untuk membedakan spesies. Siklus Hidup Filaria Siklus hidup meliputi, 1. Penghisapan mikrofilaria dari darah atau jaringan oleh serangga penghisap darah 2. Metamorfosis mikrofilaria di dalam hospes perantara (serangga) mula-mula membentuk larva rabditiform lalu membentuk larva filariform yang infektif 3. Penularan larva infektif ke dalam kulit hospes baru melalui proboscis serangga yang pada saat menggigit. Sesudah masuk melalui luka gigitan larva berkembang menjadi cacing dewasa pada tempat yang sesuai dengan hidupnya. Masa (waktu) terjadinya infeksi sampai ditemukannya mikrofilaria disebut periode laten. Periode ini sesuai dengan waktu yang diperlukan untuk pertumbuhan larva menjadi cacing dewasa dan melahirkan microfilaria yang dikeluarkan di dalam darah dan jaringan. Pada Wuchereria bancrofti periode laten sekitar 1 tahun. 2.4 Jenis-Jenis Nematoda Darah dan Jaringan Spesies W. bancrofti B. dan B. timori O. volvulus Jaringan ikat Kulit Habitat Sistem limfa Mikrofilaria Darah Darah

malayi Sistem limfa

M. ozzardi L. loa D. medinesis

Mesentery Jaringan ikat Jaringan ikat

Darah Darah Kulit

a. Wuchereria Bancrofti Kingdom Filum Kelas Ordo Famili Genus Spesies :Animalia :Nematoda :Secrennentea :Spirurida :Filariodea :Wuchereria : Wuchereria Bancrofti

Penyakit: Filariasis bancrofti,Wuchereriasis,Elephantiasis. Distribusi Geografis Parasit ini tersebar di daerah tropis dan subtropis, ke Utara sampai ke Spanyol,ke Selatan sampai ke Australia, Afrika,Asia, Jepang, Taiwan, Philiphina, Indonesia dan Kepulauan Pasifik Selatan. Habitat: Bentuk dewasa ditemukan di saluran dan kelenjar limfe manusia. Vektor: Nyamuk (Culex, Aedes, Anopheles) Morfologi Cacing dewasa berbentuk memanjang seperti rambut, warna transparans, bentuk filariform dengan ujung meruncing sedikit demi sedikit. Cacing jantan dan betina didapatkan saling melingkar di dalam habitatnya dan sukar untuk dilepaskan. Jantan berukuran 25-40 X 0,1 mm, bagian posterior melengkung ke ventral dan mempunyai spiculae. Betina ukuran 80-100 X 0,25 mm. Bertahan hidup kurang lebih 5-10 tahun. Setelah dilahirkan oleh induknya dalam saluran limfe, mereka akan menemukan jalannya menuju saluran limfe utama dan akhirnya berada dalam aliran darah tepi. Morfologi mikrofilaria dapat diamati dengan baik dengan mengambil darah penderita, dan dibuat sediaan tetes tebal yang diwarnai dengan Wright/Giemsa. Pada sediaan yang baik akan terlihat mikrofilaria sebagai suatu bentukan silinder memanjang. Ciriciri khas dari mikrofilaria Wuchereria bancrofti sbb: 1. Ukuran kurang lebih 290 X 6 mikron 2. Terbungkus oleh suatu selaput hialin.

3. Curva tubuhnya halus dan tak mempunyai lekukan tubuh sekunder negaif. Tubuhhya terisi oleh inti sel somatik yang tersebar merata, nampak seolah-olah teratur. 4. Pada ujung anterior terdapat bagian yang bebas dari inti sel somatik, disebut cephalic space yang ukuran panjangnya kurang lebih sama dengan lebarnya 5. Ujung posterior tidak mengandung inti sel somatik Siklus hidup: Wuchereria bancrofti mempunyai 2 host yaitu : 1. Dalam Tubuh Manusia (Definitif host) : Cacing dewasa berada dalam saluran dan kelenjar lymphe, setelah kawin cacing betina akan melahirkan mikrofilaria (ovo vivipar) sesuai dengan sifat periodisitasnya mikrofilaria-mikrofilaria tersebut akan berada di darah tepi . Bila kebetulan ada nyamuk yang sesuai menggigit penderita tersebut, maka mikrofilaria akan ikut terhisap bersama darah penderita dan masuk ke tubuh nyamuk. Didalam tubuh manusia mikrofilaria dapat bertahan hidup lama tanpa mengalami perubahan bentuk. 2. Dalam Tubuh Intermediate host : Nyamuk yang berperan sebagai vektor biologis/hospes perantaraan untuk Wuchereria bancrofti adalah dari genus : Culex, Anopheles,Aedes. Mikrofilaria yang terhisap masuk pada saat terjadinya gigitan, sesampai di lambung nyamuk akan melepaskan sheathmya. Dalam waktu 1-2 jam kemudian ia menembus dinding usus nyamuk menuju ke otot-otot thorax untuk mengadakan metamorfosis. Dalam waktu kurang lebih 2 hari mikrofilaria akan tumbuh menjadi larva stadium I (l24-250 mikron X 10-17 mikron) dan 3-7 hari kemudian menjadi larva stadium II yang panjangnya (225-330 mikron dan lebar 15-30 mikron) dan pada hari ke 10-11 pertumbuhan larva dapat dikatakan telah lengkap menjadi larva stadium III dengan ukuran panjang 1500-2000 mikron dan lebarnya 18-23 mikron), yaitu stadium yang infektif untuk manusia. Larva tersebut bermigrasi ke kelenjar ludah (proboscis). dan siap untuk ditularkan bila nyamuk tersebut menggigit manusia lagi. Cara Infeksi : 1. Melalui inokulasi (gigitan) nyamuk betina. (Culex, Aedes, Anopheles) Di India dan China : Culex fatigans Di Kepulauan Pasific : Anopheles punctulatus

2. Bentuk infektif untuk manusia larva stadium III 3. Melalui kulit Patologi Efek patogen yang nampak pada Wuchereria dapat disebabkan oleh bentuk dewasa baik yang hidup maupun yang mati. Bentuk dewasa atau larva yang sedang tumbuh dapat menyebabkan kelainan berupa reaksi inflamasi dan system lympatic. Sedangkan bentuk microfilarianya yang hidup didalam darah belum diketahui apakah menghasilkan produk-produk yang bersifat patogen, kecuali pada accult filariasis. Hasil metabolisme dari larva Wuchereria yang sedang tumbuh menjadi dewasa pada individu yang sensitif dapat menyebabkan reaksi allergi seperti: urticaria, "fugitive swelling". (pembengkakan, nyeri, pembengkakan pada kulit extremitas) dan pembengkakan kelenjar lymphe. Gejala ini dapat timbul awal dalam waktu beberapa bulan (kurang lebih 3 1/2 bulan) setelah penularan. Pemeriksaan darah tepi untuk mencari mikrofilaria pada stadium ini biasanya negatif (gagal ditemukan), tetapi pada biopsi kelenjar lymphe setempat mungkin dapat ditemukan cacing Wuchereria bancrofti muda atau dewasa. Gejala Klinis: Karena filariasis bancrofti dapat berlangsung selama beberapa tahun maka dapat terjadi gambaran klinis yang berbeda-beda. Reaksi pada manusia terhadap infeksi filaria berbeda dan beraneka ragam. Akibat infeksi yang disebabkan oleh filaria maka dapat diklasifikasi sbb: 1. Bentuk dengan peradangan 2. Bentuk dengan penyumbatan dan 3. Bentuk tanpa gejala. a. Bentuk dengan peradangan (Filariasis dengan peradangan) Filariasis dengan peradangan merupakan fenomen alergi karena kepekaan terhadap bahan-bahan metabolit yang berasal dari larva yang sedang tumbuh dari cacing betina yang melahirkan mikrofilaria, atau dari cacing dewasa yang hidup dan yang mati. Dapat juga terjadi infeksi sekunder yang disebabkan oleh streptococcus atau oleh jamur. Lymphangitis dari anggota tutuh

pembengkakan setempat dan kemerahan lengan dan tungkai merupakan gejala yang khas dari serangan yang berulang- ulang. Demam menggigil, sakit kepala, muntah dan kelemahan dapat menyertai serangan tersebut yang dapat berlangsung beberapa hari-minggu yang terutama terkena ialah saluran limphe

tungkai dan alat genital; dapat terjadi funiculitis, epididymitis, orchitis. Dapat terjadi leucocytosis sampai 10.000 dengan Eosinophyl 6-26%. b. Bentuk penyumbatan (Filariasis dengan penyumbatan) Penyumbatan dapat terjadi akibat perubahan dinding dan proliferasi endothel saluran lymphe karena proses peradangan (obliterative endolymphangitis) juga karena fibrosis kelenjar lymphe dan jaringan ikat sekitarnya akibat keradangan yang berulang-ulang atau dapat juga akibat efek mekanis misalnya penyumbatan oleh cacing dewasa pada lumen pembuluh lymphe.

Penyumbatan pada filariasis terjadinya perlahan-lahan biasanya setelah terkena infeksi filaria selama bertahun-tahun. Akibat penyumbatan limfatik tersebut maka dapat terjadi pelebaran lumen dan menurunnya elastisitas pembuluh lymphe, disebut lymp varix. Dapat juga timbul kebocoran dinding pembuluh lymphe yang menyebabkan cairan lymphe keluar dari lumen; hidrocele, chyluria. Hypretrofi jaringan yang terkena proses yang menahun menyebabkan penebalan jaringan sehingga bisa terjadi Elephanthiasis. c. Bentuk tanpa gejala (Filariasis tanpa gejala) Di daerah endemi, anak-anak mungkin terkena penyakit sejak umur muda, dan pada umur 6 tahun pada mereka telah dapat ditemukan mikrofilaria di dalam darah tanpa menimbulkan gejala yang menunjukkan adanya infeksi ini. Pada pemeriksaan tubuh tampak mikrofilaria dalam jumlah besar dan adanya eosinofil. Pada waktu cacing dewasa mati mikrofilaria menghilang tanpa penderita menyadari akan adanya infeksi. Diagnose: Diagnosa filariasis ditegakkan berdasarkan atas : 1. 2. 3. Anamnese yang berhubungan dengan nyamuk didaerah endemi Dari gejala klinis seperti tersebut diatas Pemeriksaan laboratorium dengan melakukan pemeriksaan darah yang diambil

pada waktumalam (terutama untuk yang bersifat xacternal periodicyty). Diagnosa pasti bila kita menemukan parasitnya. Perlu kiranya diketahui bahwa darah penderita dengan gejala filariasis tidak selalu ditemukan mikrofilaria. Selain dengan pemeriksaan tersebut dapat juga dilakukan dengan: Xeno Diagnosis yaitu Nyamuk yang steril digigitkan pada orang yang diduga menderita Wuchereriais, kemudian dilakukan pembedahan atau nyamuk-nyamuk tersebut dilumatkan untuk mencari mikrofilaria atau larva.

Metode yang lain adalah : Biopsi kelenjar: gambaran yang khas dari infeksi Wuchereriasis kelenjar sangat membantu. Serologis: dapat dilakukan dengan tes kulit (skin test) maupun Complement Fixation Test, dengan menggunakan antigen yang berasal dari Dirofilaria immitis. Metode ini sangat membantu diagnosa terutama pada fase- fase permulaan. Ada keadaan-keadaan tertentu dimana mikrofilaria tidak ditemukan pada pemeriksaan darah tepi penderita, yaitu: - Selama permulaan fase allergie 1. Setelah serangan limfangitis, karena cacing dewasa telah mati. 2. Pada kasus-kasus Elephanthiasis, karena sumbatan sistim limfatik sehingga mikrofilaria tak dapat mencapai peredaran darah. 3. Pada Occult Filariasis. Terapi: Obat-obat Filarisida yang dapat dipakai antara lain : 1. Diethyl Carbamazin (Hetrazan) a. Terutama untuk mikrofilarianya b. Dosis dan cara pemberiannya masih bervariasi c. Dosis standart yang dipakai adalah 2 mg/ kg berat badan 3 X sehari selama 7- 14 hari d. Untuk mengurangi efek samping (sakit kepala,pusing, mausea, demam) pemberian obat dimulai dari dosis rendah, kemudian ditingkatkan secara bertahap 2. Preparat Arsen ; Mel W, Mel B, untuk cacing dewasanya. 3. Suramin 4. Corticosteroid ; untuk mengurangi efek allergie 5. Antibiotika: dapat dipakai pada limfangitis rekurens yang disebabkan oleh infeksi sekunder. 6. Operasi Pencegahan: Pencegahan Wuchereriasis di daerah endemis meliputi pemberantasan nyamuk dan mengobati penderita yang merupakan sumber infeksi. Perlindungan manusia dengan menutup ruangan dengan kawat kasa, memakai kelambu atau repelent.

b. Brugia Malayi (Malayan Filaria) Kingdom Filum Kelas Ordo Famili Genus Spesies :Animalia :Nematoda :Secrennentea :Spirurida :Filariodea : Brugia : Brugia Malayi

Penyakit: Filariasis malayi Distribusi Geografis Asia Tenggara: Malaysia, Indonesia, Thailand, Filiphina Asia Selatan: India, Ceylon Asia Timur: China, Indo-China, Jepang, Korea Habitat: Cacing dewasa ditemukan di sistim limfatik. Epidemiologi: Distribusi sepanjang pantai yang datar, sesuai dengan tempat hospes serangga yang utama yaitu Mansonia. Nyamuk Mansonia banyak terdapat di daerah rendah dengan banyak kolam yang berisi tanaman Pistia (tumbuhan air) yang merupakan tempat perindukan dari Mansonia. Diluar kota vektor penyakitnya Mansonia. Untuk daerah perkotaan vektor penyakitnya Anopheles. Morfologi: * Bentuk cacing dewasa Brugia malayi hampir tidak dapat dibedakan dengan Wuchereria bancrofti - ukuran cacing jantan : 14-24 milimeter X 0,08 milimeter - ukuran cacing betina : 44-55 milimeter X 0,15 milimeter Ciri-ciri: - bentuk seperti mikrofilaria bancrofti - ukuran : 230 mikron X 6 mikron - kurve tubuh biasanya mempunyai lekukan sekunder - nukleus tubuh padat, seolah-olah bertumpuk - cephalic space ratio 2 : 1 - terminal nukleus ada 2 buah Siklus Hidup: Sama dengan Wuchereria bancrofti. Hospes Definitif : manusia

Mempunyai hospes cadangan (reservoir host) binatang domestik seperti kera, kucing, anjing. Intermediate Host: Nyamuk betina darigenus Mansonia, Anopheles. Siklus hidup dalam tubuh nyamuk rata-rata 6-l2 hari Patogenitas Menyebabkan limfangitis, limfadenitis dan elefantiasis terutama di extremitas bawah. Jarang terjadi elefantiasis scroti dan tak pernah menimbulkan chyluria. Diagnosa: Dengan menemukan mikrofilaria dalam darah Terapi: Sama seperti pada Wuchereria bancrofti Pencegahan: - Mengobati penderita - Kontrol/pembrantasan nyamuk, untuk nyamuk Mansoni dapat dilakukan dengan cara merusak /menghancurkan tumbuh-tumbuhan air, seperti Pistia stratiotes.

c. Brugia timore Kingdom Filum Kelas Ordo Famili Genus Spesies :Animalia :Nematoda :Secrennentea :Spirurida :Filariodea : Brugia : Brugia timore

David dan Edeson pada tahun 1965 menemukan bentukan mikrofilaria dari sediaan hapusan darah tepi penduduk di Pulau Timor, yang mirip dengan mikrofilaria Brugia malayi, tetapi berbeda dalam hal: - panjang total - cephalic space 3 : 1 - mempunyai sheath, tetapi pada pengecatan Giemsa tak nampak - Bersifat noctural periodic Gejala klinis mirip dengan infeksi oleh karena Brugia malayi. Pengobatan dengan DEC memberi respon yang baik. Sampai sekarang belum ditemukan dengan pasti bentuk dewasanya, juga tentang reservoir host.

d. Onchocerca volvulus Kingdom Filum Kelas Ordo Famili Genus Spesies :Animalia :Nematoda :Secrennentea :Spirurida :Filariodea : Onchocerca : Onchocerca volvulus

Oneill meneliti mikrofilaria parasit ini pada kulit seorang penderita di Afrika Barat pada tahun 1875. Kemudian seorang dokter Jerman menemukan cacing dalam benjolan kulit orang negro di Gana. Hospes definitif yaitu manusia. Penyakitnya disebut onkoserkosis atau blinding filariasis. Cacing dewasa hidup di dalam jaringan sub kutan manusia dan simpanse. Morfologi Cacing dewasa mirip benang halus,berwarna putih susu,memiliki kutikulum yang menebal. Cacing jantan berukuran 4 cm,sedangkan betina berukuran 50 cm. Pada berbentuk mikrofilaria (berukuran 360) inti tidak mencapai ujung ekor dan tidak memiliki selubung. Siklus Hidup Cacing betina mengeluarkan mikrofilaria di dalam jaringan sub kutan,bila lalat Simulium menusuk kulit dan menghisap darah mikro filaria akan terhisap oleh lalat. Mikrofilaria menembus lambung lalat masuk ke dalam otot toraks. Setlah 6-8 minggu berganti kulit menjadi larva infekif yang masuk ke dalam probosis lalat dan dikeluarkan bila lalat menghisap darah manusia. Larva infektif yang masuk ke dalam kulit tumbuh dewasa di jaringan ikat. Cacing dewasa mengeluarkan mikrofilaria lagi siklus kembali berulang. Patologi Penyakit yang ditimbulkan adalah onkocerciasis yaitu infeksi menahun di bawah jaringan sub kutan. Cacing betina yang mengeluarkan mikrofilaria akan menyebabkan benjolan berukuran 5-25 cm atau lebih besar lagi. Benjolan umumnya banyak terdapat di daerah persendian,sehingga menyebabkan kesulitan koordinasi gerak. Komplikasi

dapat hanging groin yaitu kulit menggantung ddalam lipatan di bawah lingunial. Selain itu dapat pula menyebabkan elefantiasis genital. Infeksi berat di mata juga dapat terjadi tergantung lama dan lokasi infeksi. Infeksi di mata biasanya diahiri dengan kebutaan. Pengobatan dan Pencegahan Pengobatan Pengobatan infeksi berat dapat dilakukan pembedahan melalui enukleasi nodul. Pengobatan lain yaitu dengan pemberian dietilkarbamasin,bertujuan untuk mencegah reaksi hebat dari kematian mikrofilaria. Penggunaan obat lain yaitu suramin. Dietilkarbamasin hanya membunuh cacing dalam bentuk mikrofilaria,sedangkan suramin dapat membunuh cacing dewasa. Penggunaan suramin sangat hati-hati karena efek toksisitasnya sangat tinggi. Pencegahan Pemberantasan lalat simulium dapat memutus mata rantai penyebaran mikrofilaria cacing Oncherca vulvulus. Menjauhi habitat vektor juga dapat mencegah penularan. Memakai pakaian tebal ketika ada di tepi sungai(habitat vektor) juga dapat mengurangi risiko tertular onchosersiasis. e. Loa loa Kingdom Filum Kelas Ordo Famili Genus Spesies :Animalia :Nematoda :Secrennentea :Spirurida :Filariodea : Loa : Loa loa

Untuk pertama kali Mongin pada tahun 1770 mengeluarakan cacing Loa loa dewasa dari mata seorang wanita negro di Santo Domingo ,Hindia Barat. Parasit ini hanya ditemukan pada manusi. Penyakitnya disebut loaiasis atau calabar swelling. Loaiasis terutama terdapat di Afrika Barat dan Tengah. Cacing dewasa hidup dalam rongga tubuh (peritonium, pleura ,perikardium) Distribusi Geografik

Cacing ini sangat berkembang di Afrika, Amerika (Selatan dan Tengah). Morfologi Cacing dewasa memiliki tubuh silindris panjang berwarna putih kekuningan dengan kutikulum halus. Pada fase mikrofilaria memiliki panjang 200 dan tidak memiliki selubung. Siklus Hidup Hospes definitif adalah manusia,sedangkan hospes perantaranya adalah Culicoides pada fase hidup mikrofilaria mempunyai periode nokturnal. Patogenesis Penyakit yang ditimbulkan yaitu akantokeilonemiasis. Cacing yang mampu beradaptasi dengan baik pada hospes definitifnya jarang menimbulkan kelainan serta tanda yang jelas. Pegobatan dan Pencegahan Setelah pemeriksaan darah tepi dilakukan dan ditemukan mikrofilaria atau dengan pemeriksaan serologi. Orang yang terkena akantokeilonemiasis. Dapat diberikan Dietilkarbamasin yang dapat membunuh cacing dewasa. Pencegahan dapat dengan memberantas vektor yaitu culicoides. Dapat juga dengan menghindari gigitan vektor.

f. Mansonella ozzardi Kingdom Filum Kelas Ordo Famili Genus Spesies :Animalia :Nematoda :Secrennentea :Spirurida :Filariodea : Mansonella : Mansonella ozzardi

Penyebaran parasit ini menyebabkan penyakit filaria ozzardi. Dalam fase dewasa cacing hidup pada rongga tubuh yaitu mesentrium dan jaringan lemak viscera. Larva hidup di peredaran darah tepi. Epidemiologi Geografi Cacing ini tersebar di Amerika Tengah dan Amerika Selatan serta beberapa pulau di Hindia Barat. Morfologi

Cacing dewasa memiliki kutikulum yang halus. Cacing jantan berukuran 38 mm, cacing betina berukuran 81 mm. Pada fase mikrofilaria panjang 240 ,tidak memiliki selubung,dan inti sel tubuh tidak mencapai ekor. Siklus Hidup Hospes definitif pada manusia. Hospes perantara adalah lalat(Culicoides furens). Pertama lalat menggigit manusia yang terkena ozzardi. Larva baru menjadi larva infektif (dalam tubuh lalat) pada hari ke 6. Pada hari ke 8, larva bermigrasi ke probosis lalat. Manusia sehat tergigit lalu larva menuju ke darah tepi, lalu bermigrasi ke rongga tubuh(cavum peritonium). Setelah itu menjadi dewasa di mesentrium dan jaringan lemak. Lalu manusia hospes definitif digigit lalat,sikluspun berulang. Patogenesis Cacing ini jarang menimbulkan gejala yang berarti. Karena hidup di mesentrium dan jaringan lemak,sehingga jarang diperhatikan. Apabila jumlah cacing dan mikrofilaria terlalu banyak dapat menimbulkan hidrokel dan peradangan pada kelenjar limfa. Pengobatan dan Pencegahan Setelah diagnosis pemeriksaan darah tepi ditemukan mikrofilaria dan positif mengidap filaria ozzardi. Cacing ini belum ada obatnya karena sebagian besar hidup di jaringan lemak. Pencegahan Salah satu pencegahan yang dapat dilakukan adalah menghindari gigitan vektor. g. Drancunculus medinensis Kingdom Filum Kelas Ordo Famili Genus Spesies :Animalia :Nematoda :Secrennentea :Spirurida :Filariodea :Drancunculus :Drancunculus medinensis

Habitat cacing ini pada daerah sub kutan lengan,kaki dan punggung. Dapat juga ditemukan dalam fase hidup mikrofilaria. Epidemeologi Geografik Cacing ini tersebar dari Afrika Barat sampai utara dan tengah. Asia barat daya juga merupakan tempat hidup yang cocok. Tiongkok dan Amerika Selatan dapat pula

menjadi daerah penyebaran cacing ini. India Barat menjadi tempat paling banyak kasusnya. Morfologi Cacing dewasa berbentuk seperti tali, silindris. Cacing betina berukuran 500-1200 0,9-17 mm. Usia sampai 12-18 bulan. Cacing jantan berukuran 12-29 0,4 mm, ujung anterior membulat, posterior runcing dan melengkung ke ventral. Dalam bentuk larva filariform berukuran 750 Siklus Hidup Manusia meminum air yang mengandung larva cacing. Larva filariform masuk ke usus dan menembus jaringan usus menuju sub kutan kulit. Setelah dewasa cacing berkopulasi dan mengeluarkan larva filariform menuju ke air (apabila hospes berada di air) larva yang keluar lewat jaringan sub kutan berenang di air dan menunggu hospes selanjutnya. Apabila ada manusia lain yang meminum air yang mengandung larva cacing,sikluspun berulang. Patologis Bila cacing tidak sampai di kulit. Maka jaringan sub kutan akan mengalami pengapuran.dapat pula terjadi ulkus di kulit. Mual, muntah, diare ,dan dispepsi berat dapat terjadi. Komplikasi dapat berupa abses kronik. Pencegahan dan Pengobatan Setelah cacing ditemukan cacing dewasa pada ulkus atau cairan ulkus. Dapat dilakukan pengobatan dengan Dietilkarbamasin atau dengan Antihistamin( untuk meringankan rasa alergi) Pencegahan Penyebaran cacing ini adalah melalui media air, maka memasak air dengan baik dapat mengurangi risiko penularan cacing ini. Melakukan disinfektisifikasi air. Melindungi air dari pencemaran.

Gandahusada

,Srisasi,dkk,1988,

Parasitologi

Kedokteran,Jakarta,Fakultas

Kedokteran

Universitas Indonesia.

Harlod W.Brown, 1979, Dasar Parasitologo Klinis,Jakarta,Gramedia Muslim,H,M,M.Kes,2005,Parasitologi untuk keperawatan,Jakarta,EGC. Natadisastra, Djaenudin,dr.,Sp.,ParK dan Prof. Dr.Ridad Agoes, MPH, 2005, Parasitologi Kedokteran, Jakarta, ECG. Staf Laboratorium Parasitologi, 2010,Diktat Biologi Sub Modul Parasitologi,Fakultas

Kedokteran Universitas Brawijaya, Malang.