Anda di halaman 1dari 8

Kronologis Perkara Tanah Di Desa Cahaya Batin Kaur Bengkulu Selatan.

Sebelum Kronologis perkara ini disampaikan, ada beberapa poin penting yang perlu
disampaikan dahulu diantaranya :
1. Perkara ini dimulai dengan niat Pemkab Kaur untuk membangun RSUD Kaur
dengan membebaskan 10 Ha tanah rakyat. (Kep. Bupati Kaur, dokumen no 07)
2. Nilai penggantian tanah kepada rakyat yang memang hidup dari tanah tersebut sangat
tidak berperikemanusiaan: Rp 1000/m2 untuk tanah kering dan Rp 2000/m2 untuk
tanah sawah. (Berita Acara Musyawarah, dokumen no 06)
3. Pengukuran tanah yang merugikan rakyat, dimana diukur (?) 11 Ha dari rakyat
(dokumen no 10), tetapi ternyata sebenarnya 15,4 Ha yg diperoleh Pemkab
(tercantum di Peta Bidang Tanah untuk pembangunan RSUD, dokumen no 12)
4. 2 orang : Ibu Asnawati dan Bpk Busran yang menolak harga penggantian tersebut,
mengalami perlakuan tidak adil dimana:
a. Luas tanah Ibu Asnawati seluas 17.160 m2 berdasarkan Surat Keterangan Hak
Milik a.n. Heri Fahrudin (putra Ibu Asnawati), diukur BPN tanpa ijin &
kehadiran Ibu Asnawati, menjadi hanya seluas 7.050 m2.
b. Kemenangan Ibu Asnawati dan Bpk Busran di tingkat Pengadilan Negeri (PN)
Manna serta kemenangan di tingkat Mahkamah Agung (MA) tidak digubris
Pemkab.
c. Pemkab bertransaksi atas tanah Ibu Asnawati berdasarkan surat keterangan
waris palsu (Surat Pernyataan Palsu, dokumen no 11)
d. Tidak ada pernyataan baik di Penetapan PN Manna, Penetapan MA maupun
peraturan2 yang mengatur pembebasan tanah rakyat yang menyatakan Pemkab
berhak menggusur dan membangun di atas tanah Ibu Asnawati, tetapi ternyata
Pemkab tetap melakukan pembuldoseran tanah yang masih sah sebagai milik
Ibu Asnawati.
e. Apalagi keluar Perpres no 65 th 2006 yang tidak menyertakan RSUD di
dalamnya, sehingga RSUD bukan lagi pembangunan untuk kepentingan
umum. (Perpres no 65 2006, dokumen no 15) Jadi pembebasan tanahnya
merupakan jual beli biasa.
f. Kebohongan publik yang terus menerus di koran setempat yang menyebutkan
bahwa pihak Pemkab memenangkan perkara di PN maupun di MA. (Berita2 di
Koran, dokumen no 28)
g. Pihak PN yang meneruskan permohonan Kasasi yg berbeda (walaupun
akhirnya Pemohon Kasasi -Ibu As & Bp Bus- tetap menang), PN mengeluarkan
penetapan yg berbeda dengan penetapan MA (Penetapan yg Menyimpang,
dokumen no 25), serta tidak menyerahkan salinan keputusan MA sebelum diminta,
Pemkab dan polisi yang seringkali tidak menunjukkan surat perintah, serta
kebenaran2 lainnya yang ditutup-tutupi ke Ibu Asnawati dan Bpk Busran sebagai
pemilik tanah juga sangat merugikan dan menghambat Ibu Asnawati dan Bpk
Busran untuk mempertahankan hak atas tanah mereka tersebut.
5. Yang patut disyukuri adalah pihak Ibu Asnawati masih beruntung memiliki keluarga
dan teman2 yang dapat diandalkan, sehingga berhasil memperoleh dokumen2 penting
untuk mendukung kronologis kejadian ini.

1
Kronologis Kejadiannya :

Rabu,1 Desember 2004


Panitia Pengadaan Tanah mengundang rakyat yang tanahnya masuk dalam lokasi
pembangunan RSUD Kaur di rumah kepala Desa Cahaya Batin sdr Amri Hasan dalam
rangka penyuluhan.Acara ini diadakan setelah Ibu Asnawati pergi ke Jakarta dan tidak
ada undangan untuk Ibu Asnawati yang berkenaan dengan acara tersebut. Acara ini
dihadiri 13 dari 15 anggota Panitia Pengadaaan Tanah. (Dok no 02 & 03)
2 s/d 7 Desember 2004
Bupati Kaur menugaskan 10 orang, 2 diantaranya adalah orang BPN dengan jabatan juru
ukur BPN untuk mengukur dan menginvetarisasi atas tanah lokasi RSUD. Tanah Ibu
Asnawati yang terkena proyek RSUD seluas 7.050m2, diukur tanpa ijin dan tanpa
disaksikan oleh pemilik tanah. Berdasarkan Surat Keterangan Tanah yg dikeluarkan
Kepala Desa total luas tanah Ibu Asnawati 17.160m2 jadi pemilik tidak tahu bagian tanah
yang mana yang panitia 9 ukur. (Dok no 04)
Jum’at 10 Desember 2004
Undangan Musyarah di tempat masjid Taqwa Desa Cahaya Batin yang isinya mengenai
penetapan uang ganti rugi atas tanah dan tanaman tumbuh di lokasi pembangunan RSUD
Kabupaten Kaur. Rapat ini yang dipimpin oleh ketua Panitia Sdr Warman Suwardi. yang
sekarang menjabat sebagai Bupati Kaur menggantikan Alm Syaukani dan dikawal dari
Kepolisian, menghasilkan kesimpulan sbb :
Rp 1000,-/M2 adalah besarnya uang pengganti untuk tanah kering
Rp 2000,-/M2 adalah besarnya uang pengganti untuk tanah sawah
Sedang tanaman tumbuh sesuai dengan surat keputusan Gubernur nomor 95 tahun 2000
Ibu Asnawati tidak hadir lagi karena tidak adanya undangan rapat untuknya secara lisan
maupun tertulis. (Dok no 05 & 06)
2 Januari 2005
Pejabat bupati Kaur H. Syaukani Saleh menandatangani Keputusa Bupati Kaur nomor
213 tahun 2004 salah satunya menetapkan tanah lokasi utk pembangunan RSUD
kabupaten Kaur dengan luas 10 Ha terletak dipinggir jalan lintas barat dalam wilayah
Desa Cahaya Batin Kecamatan Kinal Kabupaten Kaur. (Dok no 07)
2 Januari 2005
Rapat pertama dalam rangka menetapkan ganti rugi tanaman tumbuh dan tanah di lokasi
RSUD kaur dan menetapkan bahwa setiap warga yang menyerahkan tanahnya akan
mendapat kompensasi berupa tanah kavling masih diares tanah yang dibebaskan seluas
10 m x 20 m. Rapat inipun dikawal oleh polisi setempat. Ibu Asnawati tidak hadir lagi
karena tidak adanya undangan rapat untuknya secara lisan dan tulisan. (Dok no 08 & 09)
7 Januari 2005
Rapat kedua menindak lanjuti rapat pertama pada tanggal 2 Januari 2005 juga dikawal
oleh polisi setempat. Ibu Asnawati tidak hadir lagi karena tidak adanya undangan rapat
untuknya secara lisan dan tulisan.

2
14 Januari 2005
Pembayaran tahap pertama kepada masyarakat yang tanahnya terkena lokasi RSUD Kaur
(Dok no 10)

15 Mei 2005
Panitia pembebasan tanah RSUD Kaur membayar atas sebidang tanah seluas 5000 m2
kepada Mustafa Salam dengan menunjukkan bukti kepemilikan lahan diatas tanah Ibu
Asnawati yang belakangan diketahui bahwa bukti-bukti tersebut PALSU. Hal ini bisa
diketahui dari materai yang digunakan : Rp 3000 bertahun 20__ ditempel pada surat
yang menurut isinya dikeluarkan pada tahun 1994!. (Dok no 11 & 12)

Akhir 2005
Kantor Pertanahan Bengkulu Selatan mengeluarkan Peta Bidang Tanah yg akan
digunakan untuk pembangunan RSUD dengan luas lahan TERNYATA 15,4 Ha.
Ditandatangani oleh Kepala Perwakilan Kantor Pertanahan. (Dok no 13)

Pertengahan 2006
Serah terima TANAH 10 Ha dari Pemkab Kaur ke Dinkes Kab Kaur (Dok no 14)

5 Juni 2006
Keluarnya Peraturan Presiden no.65 tahun 2006 yang merubah Peraturan Presiden no 36
tahun 2005 yang TIDAK MEMASUKKAN RSUD SEBAGAI PROYEK
PEMBANGUNAN UNTUK KEPENTINGAN UMUM. (Dok no 15)

26 Juni 2005
Pihak Ibu Asnawati melaporkan ke Polsek Kaur Tengah tentang adanya tindakan
pemalsuan surat waris tanah yang dilakukan oleh Sdr Mustafa Salam (Dok no 16)

Agustus 2006
Sdr Fauzi Nafis sebagai sekretaris asisten bidang pemerintahan menitipkan uang kepada
Ketua Pengadilan Negeri Manna di Manna untuk 2 orang penduduk yang menolak uang
ganti rugi yaitu 1. Ibu Asnawati luas tanah 2.050m2 dengan jumlah Rp 4.100.000,-
2. Bapak Busran luas tanah 6.513m2 dengan jumlah Rp 13.026.000,-
(Dok no 17)

2 September 2006
Sdr Fauzi Nafis mengundang Asnawati dan Busran untuk menyelesaikan masalah tanah
dilokasi RSUD Kaur pada tanggal 4 September 2006. (Dok no 18)

4 September 2006
Ternyata bukan Sdr Fauzi Nafis yang bermusyawarah dengan Asnawati dan Busran tetapi
Sdr Sumitro yang merupakan pengacara Pemkab. Inti pembicaraan dia mendesak agar 2
orang undangan ini menerima uang ganti rugi bila tidak dia akan membawa kasus ini ke
Pengadilan Negeri Manna

3
13 September 2006
Sidang pertama yang dilakukan pengadilan Negeri Manna dimana Sumitro memohon
kepada Bapak Hakim agar mengabulkan permohonannya. Selanjutnya dimulailah
sidang-sidang berikutnya (Dok no 19)

22 Nopember 2006
Pengadilan Negeri Manna menjatuhkan penetapan yaitu : Penetapan NO.01/Pdt.P/2006
PN.MN yang isinya (Dok no 20):
1. Mengabulkan permohonan Pemohon untuk sebagian
2. Memerintahkan kepada Panitera Pengadilan Negeri Manna untuk menawarkan
kepada Asmawati (termohon 1) dan Busran (termohon II)untuk menerima
kompensasi atau ganti rugi yang telah ditetapkan atau jika Asmawati (termohon I)dan
Busran (termohon II) tidak mau menerima uang ganti rugi tersebut,maka Panitera
Pengadilan Negeri Manna diperintahkan untuk menerima uang titipan Pemohon
sebagai kompensasi atau ganti rugi atas lahan yang terkena proyek pembangunan
RSUD Kaur,untuk Asmawati (Termohon I) sebesar Rp 4.100.000,-(empat juta seratus
ribu rupiah) dan untuk Busran (Termohon II) sebesar Rp 13.026.000,-(tiga belas juta
dua puluh enam ribu rupiah)
3. Menolak permohonan Pemohon untuk selebihnya
4. Menghukum Pemohon (Pemkab) untuk membayar biaya perkara yang hingga kini
diperhitungkan sebesar Rp.249.000,- (dua ratus empat puluh sembilan ribu rupiah)

5 Desember 2006
Karena isi penetapan yang kurang jelas, maka Termohon I dan Termohon II (Ibu
Asnawati & Bpk Busran) mengajukan kasasi secara lisan

12 Desember 2006
Para termohon mengajukan memori kasasi tertulis yang memuat alasan-alasan beserta
permohonannya dan diterima di Kepaniteraan Pengadilan Negeri Manna. (Dok no 21).
Tetapi ternyata permohonan Ibu Asnawati & Bpk Busran, TIDAK DITERUSKAN
SECARA LENGKAP OLEH PANITERA KE MA DENGAN TIDAK
MENULISKAN PERMOHONAN IBU ASNAWATI & BPK BUSRAN (walaupun
akhirnya pemohon Kasasi, Ibu Asnawati & Saudara Busran tetap memenangkan Kasasi
tersebut)

26 Desember 2006
Pemberitahuan kepada Pemohon (pihak Pemkab) tentang memori kasasi dari para
termohon.

17 Januari 2007
Jawaban memori kasasi dari pihak Pemohon (Pemkab) yang diterima oleh pihak PN
MANNA

6 Pebruari 2008

4
Keluarnya Penetapan MA No.1295 K/Pdt/2007 yang memenangkan pihak Pemohon
(Ibu Asnawati & Bpk Busran) serta menghukum pihak Termohon (Pemkab) sebagai
pihak yang kalah untuk membayar biaya perkara sebesar Rp 500.000,- (Dok no 22)

25 Juli 2008
Pengiriman melalui pos satu berkas perkara dan satu salinan penetapan dengan tembusan
kepada : Ibu Asnawati, Busran dan Pemerintahan Daerah Kabupaten Kaur, TETAPI
TIDAK DIBERIKAN OLEH PIHAK PN MANNA KE PARA PEMOHON KASASI
(IBU ASNAWATI & BPK BUSRAN) sampai para pemohon memintanya sendiri pada
bulan November 2008 (Dok no 23)

16 Agustus 2008
Keluar Surat Pemberitahuan Putusan Kasasi No.1295 K/PDT/2007
Kepada Pemohon I (Asnawati) dan Pemohon II (Busran) yang dilakukan oleh pihak Juru
sita PN MANNA sdr Teguh Santoso NIP 040047148. (Dok no 24)

20 Agustus 2008
Pengacara Pemkab memohon untuk melaksanakan penetapan no 1295 K/Pdt/2007

24 September 2008
Peneguran pelaksanaan isi penetapan Kasasi no.1295 K/Pdt.P/07 (AAN MANING)
kepada Asmawati dan Busran.

25 September 2008
Pada risalah pemberitahuan AAN MANING no.01/Pdt.P/2006/PN.MN dari sdr Joni
Iskandar, SH, Panitera/Sekretaris PN MANNA, tetap menyertakan penetapan PN
Manna th 2006 sebagai dasar, padahal Penetapan no.01/Pdt.P/2006/PN MN telah
dibatalkan oleh Penetapan MA no 1295 KI/Pdt/2007.

16 Oktober 2008
PN MANNA mengeluarkan PENETAPAN nomor 01/Pdt.Eks/2008/PN.MN
Yang isinya selain memberitahukan Ketetapan MA no 1295 K/Pdt/2007 juga
menambahkan (SEHINGGA ISINYA TIDAK SESUAI PENETAPAN MA): “dengan
menimbang bahwa permohonan Pemerintah Kaur tersebut mempunyai alasan hukum
sehingga dapat diterima dan dikabulkan. Menimbang berdasarkan Pasal 208 ayat (1)
Rbg tentang pelaksanaan eksekusi penawaran”. Padahal pada ketetapan MA tidak tertulis
pernyataan tersebut dan tidak mencantumkan pasal 208 ayat (1) (isi pasal tersebut ttg
permintaan eksekusi pada kasus utang piutang yang merupakan Keputusan Pengadilan
dan bukan merupakan Ketetapan). (Dok no 25)

17 Oktober 2008
PN MANNA melakukan penawaran ganti rugi atas tanah Ibu Asnawati dan Bpk Busran
yang ditolak oleh kedua pemilik tanah tersebut dan dibuatkan berita acaranya dengan no
01/Pdt.Eks/2008/PN.MN (Dok no 26)

5
5 November 2008
Pihak Pemkab yang diwakili oleh Kabag Pemerintahan Kota sdr Ersan Syafiri
menelepon Kepala Desa Cahaya Batin untuk memberitahu kepada Asnawati dan Burhan
jika mereka ingin datang ke rumah Ibu Asnawati membicarakan tentang tanah sdr
Asnawati dan Bpk Busran.

6 November 2008
Pihak Pemkab sdr Ersan dan jajarannya yang dikawal oleh Polres/Polsek Kaur datang
menuju RSUD yang sudah jadi lalu mereka MENGUKUR TANAH IBU ASNAWATI
TANPA IJIN pemilik yang sah dan BUKAN membicarakan secara MUSYAWARAH
tentang tanah Ibu Asnawati seperti yang dikatakan Ersan kepada Kepala Desa Cahaya
Batin sehingga menimbulkan keributan karena pihak Pemkab merasa menang;
permohonannya dikabulkan oleh PN MANNA berdasarkan Penetapan
No.01/Pdt.Eks./2008/PN.MN. (PENETAPAN PN YG ISINYA MENYIMPANG dari
Penetapan MA).

6 November 2008
Bupati Kaur Warman Suwardi mengeluarkan surat perintah yang memohon Pengerahan
Personil Polisi Pamong Praja sebanyak 15 orang untuk pembersihan lahan Ibu Asnawati
dan Busran pada tanggal 10 November 2008. (Dok no 27)

10 November 2008
Pihak Pemkab melakukan penggusuran dengan buldoser dilahan sdr Asnawati
DIBAWAH TERIAKAN DAN TANGISAN IBU ASNAWATI dan menyuruh tukang
untuk membuat fondasi di tanah tersebut. Ibu Asnawati mengadu kepada Polres Kaur
tetapi karena listrik mati, laporan tidak dapat diproses lebih lanjut.

10 November 2008
Anak dari Ibu Asnawati berkunjung ke MA Jakarta dan diberitahukan bahwa seharusnya
Ibu Asnawati diberi satu berkas penetapan yang sudah dikirim oleh MA pada tanggal 25
Juli 2008 ke PN MANNA. Bukan surat Penetapan yang dikeluarkan PN MANNA
No.01/Pdt.Ekd/2008/PN MN yang isinya sudah ditambah & menyimpang dari
Penetapan MA.

11 November 2008
Setelah Ibu Asnawati meminta kepada Sdr Joni Iskandar panitera PN MANNA untuk
memberikan berkas Penetapan MA no 1295 K/Pdt/2007, maka Berkas tersebut baru
diserahkan. Sehingga IBU ASNAWATI & BPK BUSRAN BARU MENGETAHUI
STATUS KEMENANGANNYA DI TGL 11 NOVEMBER 2008 INI.

12 November 2008
Pihak Ibu Asnawati melaporkan perbuatan Pemkab kepada Polres Kaur dengan
membuat surat tanda penerimaan laporan No. Pol : STPL/77/XI/2008/SPK
mengenai penyerobotan/pengrusakan tanah miliknya. (Dok no 29)

6
12, 13, 14 November 2008
Di koran setempat, muncul pernyataan2 Sdr. Sumitro, kuasa hukum Pemkab yang
menyatakan bahwa pihak Pemkab memenangkan perkara tersebut. Hal ini menyesatkan
dan merupakan KEBOHONGAN PUBLIK. (Dok no 28)

17 November 2008
Ibu Asnawati mendatangi Polres Kaur dan memberikan foto copy Penetapan MA no 1295
K/Pdt/2007

26 November 2008
Ibu Asnawati mengambil uang penitipan biaya kasasi di PN MANNA karena pihak yang
kalah (Pemkab) yang membayar biaya perkara kasasi.

26 November 2008
Pihak Pemkab (3 Orang) mendatangi rumah Ibu Asnawati tetapi hanya menemui anaknya
karena Ibu Asnawati pergi ke PN MANNA

27 November 2008
Pihak Polres Kaur akhirnya memproses BAP Ibu Asnawati karena baru mengetahui
bahwa pihak Pemkab adalah pihak yang kalah setelah Bareskrim Kaur berkunjung ke PN
MANNA pada tgl 26 /11/2008.

3 Desember 2008
Berdasarkan data di buku tamu Polres Kaur, pihak Pemkab yang diwakili oleh Sdr.
Bahrun Budiman sebagai Kepala Bagian Hukum Pemkab Kaur datang ke Polres untuk
koordinasi pembersihan dan pembangunan pagar di atas tanah Ibu Asnawati dan Bpk.
Busran.

10 Desember 2008
Pihak Pemkab (SDR. BAHRUN BUDIMAN) BESERTA JAJARANNYA, Satpol PP dan
dikawal Polisi setempat KEMBALI MERUSAK PAGAR DI ATAS TANAH IBU
ASNAWATI (17.160 m2) dengan alasan :
1. Pemkab Kaur sudah menitipkan uang sebanyak Rp 4.100.000,- atas lahan seluas
2.050 m2 (padahal sudah ditolak Ibu Asnawati)
2. Undang-undang yang mengatakan bumi, air, tanah dan isinya adalah milik Negara
sehingga tanpa persetujuan yang punya tanah pun Pemkab berhak memakai tanah
siapa saja dan dalam hal ini tanah Ibu Asnawati dan Bpk Busran.

10 Desember 2008
Ibu Asnawati sekali lagi melaporkan tindakan pengrusakan atas pagar dan penyerobotan
tanah yang dilakukan oleh Pemkab. Laporan diterima oleh Wakapolres.

Semua laporan yang diadukan oleh Ibu Asnawati dari mulai pemalsuan surat waris,
pengrusakan pagar dan penggalian fondasi pagar BELUM ADA YANG MENGALAMI
KEMAJUAN BERARTI DI POLRES KAUR. Kenyataannya malahan Polisi masih

7
saja mengawal Pemkab dalam aksinya yang melawan hukum, dengan alasan karena tugas
Polisi adalah melakukan apa yang diminta oleh Pemkab Kaur.

Menurut hemat kami, tugas Polisi seharusnya adalah melindungi warga yang
secara hukum merupakan pemilik sah tanah tersebut, dari tindakan melawan
hukum Pemkab Kaur yang tidak mengindahkan :
1. Undang-undang no. 51 PRP tahun 1960 tentang Larangan Pemakaian Tanpa
Ijin Yang Berhak atau Kuasanya
2. Peraturan Presiden no 65 tahun 2006 yang tidak lagi mencantumkan
pembangunan RSUD sebagai sarana untuk kepentingan umum
3. Ketetapan Mahkamah Agung no. 1295 K/Pdt/2007 yang menyatakan bahwa MA
mengabulkan permohonan Ibu Asnawati & Bpk Busran di tingkat Kasasi.