Anda di halaman 1dari 4

PROSES BIROKRASI DALAM PERSPEKTIF PERILAKU

Pemahaman terhadap konsep perilaku birokrasi, sebenarnya dapat ditelusuri dari berbagai perspektif. Hal ini mengandung makna bahwa untuk memahami konsep perilaku birokrasi, setiap orang bisa melihatnya dari berbagai sudut pandang dan sangat tergantung pada latar belakang, persepsi, motivasi, bahkan kepentingan dalam menterjemahkan istilah perilaku birokrasi tersebut. Oleh sebab itu, munculnya berbagai pandangan tentang konsep perilaku birokrasi hendaknya dimaknai sebagai pengayaan dalam mengkaji konsep perilaku birokrasi. Sejalan dengan pandangan di atas, Kurt Lewin dalam Azwar (2010 :10) merumuskan suatu model hubungan perilaku yang esensinya mengatakan sebagai berikut: bahwa perilaku (B) adalah fungsi karakteristik individu (P) dan lingkungan (E), yang secara komprehensif dapat dijelaskan dalam model di bawah ini: B = f (P,E) Senada dengan pendapat di atas, Thoha (2002:184) menyatakan bahwa perilaku merupakan suatu fungsi dari interaksi antara seorang individu dengan lingkungannya. Formulasi psikologi ini dapat dituliskan dengan rumus sebagai berikut: P = f (I, L) P = perilaku f = fungsi I = individu L = lingkungan Lebih lanjut Thoha (2010:187) mengemukakan bahwa perilaku birokrasi terkait dengan dua karakteristik, yakni karakteristik individu dan karakteritik birokrasi. Manakala kedua karakteristik tersebut berinteraksi dan berjalan secara sinergis, maka timbulah apa yang disebut dengan perilaku birokrasi. Pandangan tersebut, mengisyaratkan adanya dua faktor penting yang memiliki karakteristik yang berbeda-beda, tetapi secara kelembagaan kemudian membangun perilaku organisasi, yang dalam perspektif birokrasi pemerintahan dapat diterjemahkan sebagai perilaku birokrasi. Dengan demikian, perilaku birokrasi merupakan perpaduan dua karakteristik yang secara simultan membentuk perilaku birokrasi.

Untuk melukiskan keterkaitan antara kedua karakteristik di atas, Thoha (2002 : 185) memberikan ilustrasi secara komprehensif tentang perilaku birokrasi sebagaimana terlihat dalam Gambar 2.1 halaman 23 sebagai berikut :

KARAKTERISTIK INDIVIDU - Kemampuan - Kebutuhan - Kepercayaan - Pengalaman - Pengharapan KARAKTERISTIK BIROKRASI - Hirarki - Tugas-tugas - Wewenang - Tanggung Jawab - Sistem Reward - Sistem Kontrol PERILAKU BIROKRASI

Untuk memahami perilaku organisasi termasuk pada birokrasi pemerintahan, dibutuhkan adanya analisis yang komprehensif baik pada tingkat individu, kelompok, organisasi maupun pada tingkat lingkungan. Sedangkan tujuan memahami perilaku organisasi, sebagaimana dilukiskan oleh Nimran dalam Umam (2010 : 36) adalah sebagai berikut: Pertama, tujuan memahami perilaku organisasi memberikan kemungkinan kepada kita untuk melakukan prediksi atas perilaku-perilaku anggota organisasi pada masa yang akan datang. Kedua, menjelaskan berbagai peristiwa yang terjadi dalam organisasi. Eksplanasi yang dimaksud berarti kita akan berusaha menjawab pertanyaan mengapa suatu peristiwa terjadi, mengapa karyawan malas, mengapa kinerja karyawan rendah, mengapa tingkat absensi tinggi, mengapa produktivitas menurun, mengapa si A marah, mengapa si B murung, mengapa si C tidak bergairah? Dengan

mempelajari perilaku organisasional, kita mencoba menjelaskan (memberikan jawaban) atas pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Ketiga, mempelajari perilaku organisasi berarti semakin banyak perilaku individu atau kelompok dalam organisasi yang dapat diprediksi dengan tepat dan dapat dijelaskan dengan baik, pemimpin organisai semakin mudah dalam melakukan fungsi pengendalian terhadap bawahan (pegawai), sehingga perilaku individu maupun kelompok akan menjadi positif dan fokus pada pencapaian tujuan. Pada sisi lain, perilaku yang bersifat destruktif, dapat dihindari atau dicegah. Berangkat dari pemahaman di atas, dapat diketahui bahwa pemahaman terhadap perilaku organisasi tidak saja dapat memberikan kontribusi terhadap kemungkinan melakukan prediksi atas perilaku anggota organisasi di masa mendatang, menjelaskan peristiwa yang terjadi dalam organisasi juga dapat membantu dalam mengendalikan para pegawai dalam melaksanakan tugasnya, sehingga mereka dapat menampilkan perilaku yang positif. Dalam konteks ini, birokrasi pemerintah sesungguhnya juga dapat mengadopsi pemikiran tersebut, sehingga berbagai kendala yang terkait dengan perilaku yang kurang atau tidak terpuji dari birokrat, baik secara individu, kelompok maupun organisasi dapat diantisipasi. Apalagi saat ini berbagai kendala yang dihadapi oleh birokrasi pemerintahan tidaklah ringan, baik terkait dengan masalah internal birokrasi maupun lingkungan eksternal. Masalah internal birokrasi saat ini, misalnya tercermin dari perilaku birokrat yang korup, in-efisien, tidak ramah, dan tidak efektif. Sementara lingkungan eksternal birokrasi, antara semakin menguatnya tuntutan publik, perkembangan ilmu pengetahun dan teknologi, semakin tingginya persaingan antar organisasi, dan menguatnya iklim demokrasi. Kondisi semacam ini, sesungguhnya merupakan konsekuensi logis dari peran dan fungsi birokrasi pemerintah, yakni melayani kepentingan publik (public service). Oleh sebab itu, perilaku yang harus ditampilkan oleh seorang birokrat sudah selayaknya dapat memenuhi harapan publik. Harapan tersebut, dapat dimanifestasikan melalui peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Mencermati uraian di atas, penulis berpendapat bahwa konsep perilaku birokrasi tersebut, tampaknya cukup relevan untuk dijadikan sebagai parameter dalam mengukur perilaku birokrasi pemerintahan di lingkungan pemerintah kecamatan yang menjadi fokus kajian. Adapun pertimbangan, mengapa kemudian konsep dan pemikiran tersebut tersebut layak untuk dijadikan

sebagai parameter perilaku birokrasi pada pemerintahan kecamatan, yakni bahwa teori perilaku yang tersebut, secara substantif mampu mengungkap berbagai karakter manusia, termasuk aparatur. Dengan demikian, diharapkan dapat mencerminkan perilaku birokrat dalam menjalankan tugasnya, khususnya terkait dengan pelayanan publik.