Anda di halaman 1dari 11

Ekonomi Islam (1)

Catatan: artikel ini diambil dari makalah pengantar diskusi bulanan Jaringan Islam Liberal, Kamis, 25 Januari 2006 di Teater Utan Kayu. Diskusi tersebut juga menghadirkan Zaim Saidi sebagai pembicara. Artikel ini dimuat, dengan sedikit suntingan, di situs Jaringan Islam Liberal. Pendahuluan: Membandingkan ekonomi Islam dan konvensional Dalam sejarah peradaban manusia, ada beberapa bentuk sistem ekonomi yang pernah ditemukan sebagai solusi atar pertanyaan di atas. Bentuk paling primitif adalah despotisme, dimana ekonomi diatur oleh sebuah otoritas tunggal, baik itu seorang atau sekelompok orang yang menjadi pemimpin. Sistem despotik bukannya tidak berhasil. Sebaliknya, peradaban-peradaban besar di masa seperti lalu dibangun di atas sistem ini. Problem dengan despostisme adalah ia tidak berkelanjutan. Sistem ini tidak mampu mengatasi problem dan yang makin kompleks yang dihadapi oleh umat manusia. Oleh karena itulah sistem ini kemudian punah. Setidaknya, sistem ini eksis hanya di tingkat masyarakat yang terbatas. Ketika kita membicarakan sistem ekonomi modern, biasanya kita merujuk pada dua sistem besar: kapitalisme pasar dan sosialisme terpimpin. Kapitalisme adalah sistem yang didasarkan atas pertukaran yang sukarela (voluntary exchanges) di dalam pasar yang bebas. Sebaliknya, sosialisme mencoba mengatasi problem produksi, konsumsi dan distribusi melalui perencanaan atau komando. Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah fakta bahwa ada dua sistem besar dalam ekonomi modern tidak berarti adanya dikotomi atau bipolarisasi. Dua sistem itu lebih merupakan dua titik ekstrem dalam sebuah spektrum ide. Dalam praktek, sistem ekonomi yang dijalankan oleh negara-negara di dunia saat ini ada di sepanjang spektrum tersebut. Apa yang disebut kapitalisme dan sosialisme sesungguhnya memiliki banyak varian di dalamnya. Selain itu, banyak juga varian dari sistem ekonomi yang tidak didasarkan oleh salah satu atau kedua ide besar itu, misalnya sistem adat di beberapa komunitas. Bagaimana dengan ekonomi Islam? Diskusi mengenai ekonomi Islam dalam kaitannya dengan sosialisme dan kapitalisme bukanlah soal apakah (whether) ekonomi Islam itu sosialisme atau kapitalisme. Tapi lebih kepada di mana (where) ia berada dalam spektrum tersebut; apakah ada perbedaan dari apa yang ditawarkan oleh ekonomi Islam dibandingkan kedua sistem tersebut, serta apakah (bagaimanakah) ekonomi Islam bisa berjalan. Ekonomi Islam: sebuah tinjauan kritis Deskripsi paling sederhana dari ekonomi Islam adalah suatu sistem ekonomi yang didasarkan pada ajaran dan nilai-nilai Islam, dimana keseluruhan nilai tersebut sudah tentu Al-Quran, As-Sunnah, ijma dan qiyas (Nasution dkk 2006). Secara umum, lahirnya ide tentang sistem ekonomi Islam didasarkan pada pemikiran bahwa sebagai agama yang

Artikel Bundel ini dari blog milik Ari Perdana (A.P)

lengkap dan sempurna, Islam tentulah tidak hanya memberikan penganutnya aturanaturan soal ketuhanan dan iman, melainkan juga jawaban atas berbagai masalah yang dihadapi oleh manusia, termasuk ekonomi. Memang dalam banyak ayat Al-Quran, Hadits dan berbagai literatur Islam klasik memuat berbagai pemikiran mengenai filsafat, perilaku dan institusi ekonomi. Namun, ide tentang adanya sebuah disiplin atau sistem ekonomi yang Islami dalam arti spesifik dan unik sebenarnya adalah fenomena baru, menurut ekonom dari University of Southern California, Timur Kuran (2004). Menurut Kuran juga, ide ini bisa ditelusuri tidak lebih lama dari awal abad-20. Dengan kata lain, pemkiran-pemikiran Islam klasik dalam hal ekonomi sebenarnya lebih merupakan ide-ide yang terpencar, belum merupakan sebuah desain komprehensif mengenai sistem ekonomi yang Islami. Terlepas dari kapan sebenarnya ide sistem ekonomi Islam itu lahir, pertanyaan lain adalah di mana posisinya relatif terhadap kapitalisme dan sosialisme? Sebenarnya, sistem ekonomi Islam memiliki sejumlah karakteristik yang sama baik dengan kapitalisme maupun sosialisme. Dibolehkannya hak milik pribadi dan kebebasan untuk melakukan pertukaran merupakan elemen yang ada dalam kapitalisme. Tapi selain itu, para proponen ekonomi Islam juga menekankan pentingnya intervensi negara terutama dalam hal keadilan distributif, yang juga menjadi semangat utama sosialisme. Artinya, sistem ekonomi Islam sebenarnya masih berada dalam spektrum yang kita bicarakan. Ia bukanlah sebuah sistem yang benar-benar otentik, berbeda atau ada di luar himpunan sistem ekonomi yang dijalankan di dunia. Meskipun demikian, para proponen ekonomi Islam umumnya memandang sistem ini tetap memiliki perbedaan dengan kedua sistem besar. Perbedaan yang utama dan pertama tentu secara epistemologis: ekonomi Islam dipercaya sebagai bagian integral dari ajaran agama Islam itu sendiri, sehingga pemikiran ekonomi Islam langsung bersumber dari Tuhan. Kedua, ekonomi Islam dilihat sebagai sistem yang bertujuan bukan hanya mengatur kehidupan manusia di dunia, tapi juga menyeimbangkan kepentingan manusia di dunia dan akhirat. Ini kemudian membawa implikasi dari aspek normatif: apa yang baik dan buruk, apa yang harus dilakukan atau dihindari bukan semata-mata dilihat dari aspek efisiensi sebagaimana dikenal dalam ekonomi konvensional, melainkan bagaimana agar tindakan di kehidupan duniawi juga menghasilkan imbalan di akhirat. Ketiga, sebagai konsekuensi dari landasan normatif itu, sejumlah aspek positif atau teknis dalam ekonomi konvensional tidak bisa diaplikasikan karena bertentangan dengan nilai-nilai yang dibenarkan oleh Islam. Tiga perbedaan ini membuat proponen ekonomi Islam memandang bahwa sistem ini lebih superior dibandingkan sistem-sistem lain. Tentunya pandangan ini menyisakan sebuah pertanyaan penting. Jika benar sistem ekonomi Islam adalah superior, tentunya ia akan lebih mampu mengatasi masalah dan tantangan peradaban manusia modern. Tapi faktanya, saat ini sistem tersebut bukanlah sistem ekonomi yang dominan di dunia, bahkan bukan juga di negara-negara dimana Muslim menjadi mayoritas. Kalau ia adalah sistem yang sempurna, mengapa tidak ada rujukan dalam sejarah dimana sistem ini bisa dibilang berhasil dan masih tetap relevan di masa sekarang? Ekonomi Islam vs.

Artikel Bundel ini dari blog milik Ari Perdana (A.P)

konvensional Diskusi mengenai apakah itu ekonomi Islam, dan apa perbedaannya dengan sistem yang sudah ada (sosialisme atau kapitalisme) bisa menjadi diskusi yang panjang dan rumit. Masalahnya, itu harus dimulai dari pekerjaan awal yang juga tidak mudah: mendefinisikan apa itu ekonomi Islam, apa itu sosialisme maupun kapitalisme. Untuk memudahkan urusan, saya tidak akan masuk ke tataran definisi dan filosofi dari masing-masing. Saya akan membahas di tataran praktek; bagaimana ekonomi Islam berbeda dengan ekonomi yang konvensional secara praktek. Sebagai catatan, yang saya maksudkan sebagai ekonomi konvensional di sini merujuk pada sistem kapitalisme yang secara teori dibangun atas dasar teori ekonomi neoklasik. Ini adalah teori ekonomi menjadi acuan standar sebagian besar fakultas ekonomi di seluruh dunia. Saya tidak membuat klaim bahwa sistem ini yang terbaik atau sempurna. Tapi kenyataannya adalah dalam diskursus ekonomi, teori ekonomi neoklasik sudah menjadi arus utama. Dari berbagai aspek pemikiran mengenai praktek ekonomi Islam, dalam konteks perbandingan dengan ekonomi konvensional, ada tiga hal yang menjadi isu utama. Pertama, praktek transaksi keuangan dan posisi mengenai sistem bunga. Kedua, pemikiran mengenai keadilan distributif dan implikasi kebijakannya. Ketiga, pemikiran mengenai landasan moral dalam setiap kegiatan dan keputusan ekonomi. Pembahasan lebih detail tentang ketiganya akan saya lakukan dalam sejumlah tulisan mendatang. Secara spesifik, diskusinya akan saya fokuskan pada kritik yang diajukan oleh proponen ekonomi Islam terhadap teori ekonomi konvensional vis-a-vis kapitalisme, dan kritik balik terhadap proposal yang ditawarkan oleh para proponen ekonomi Islam.

Ekonomi Islam (2)


Memikirkan kembali pemahaman Islam atas bunga (Versi lain dari artikel ini dimuat di website Jaringan Islam Liberal) Dari berbagai ranah perdebatan soal ekonomi Islam vs. konvensional (baca: kapitalisme), perbandingan mengenai praktek pembiayaan dan transaksi finansial adalah yang paling sering dibahas. Selain paling sering, perdebatan di ranah ini juga yang paling spesifik dan terstruktur dibandingkan, misalnya, persoalan moralitas dan keadilan. Hal ini tentunya tidak bisa terlepas dari sejarah ekonomi modern. Penemuan mekanisme pembiayaan transaksi, yang mendorong lahirnya sistem dan lembaga keuangan adalah hal yang tidak terpisahkan dalam kapitalisme. Uang adalah darah bagi perekonomian. Adanya institusi yang kuat untuk mengatur peredaran uang adalah kunci kemajuan perekonomian. Perbedaan (dan pembedaan) antara sistem keuangan dan perbankan Islam dan konvensional berujung pada satu pertanyaan: apakah bunga itu halal atau haram (riba)? Perdebatan ini sudah berlangsung lama. Masing-masing pihak baik yang mengatakan haram atau tidak punya argumen yang valid. Tulisan ini tidak akan masuk ke ranah

Artikel Bundel ini dari blog milik Ari Perdana (A.P)

fikih atas perdebatan itu. Tapi, katakanlah bunga bank itu haram. Lalu apa? Solusi apa yang ditawarkan oleh pemikiran ekonomi Islam dalam hal transaksi keuangan? Menurut para pengusungnya, jawaban ekonomi Islam adalah bagi hasil dan bagi risiko. Ada tiga skema yang ditawarkan: mudharabah, musyarakah dan murabahah. Dalam skema mudharabah, seorang atau sekelompok investor memercayakan uang mereka pada satu pihak atau lembaga untuk dikelola ke dalam kegiatan yang produktif. Keuntungan dari pengelolaan uang itu akan dibagi sesuai dengan kesepakatan awal. Sebaliknya, kerugian yang terjadi juga akan dibagi sesuai perjanjian. Praktek musyarakah pada dasarnya mirip dengan mudharabah. Bedanya, dalam musyarakah pihak pengelola uang juga ikut menanamkan uangnya. Menurut proponen ekonomi Islam, ada dua hal yang membedakan praktek mudharabah dan musyarakah dengan praktek bunga konvensional. Pertama adalah unsur bagi risiko (risk-sharing). Kedua, besarnya nisbah bagi hasil ditetapkan atas dasar kesepakatan bersama, bukan ditetapkan sebelumnya seperti dalam bunga konvensional. Model bagi hasil dan bagi risiko memiliki kelebihan. Dalam model ini, pihak yang mengelola dana akan dipaksa untuk melakukan kalkulasi yang matang dalam memilih kegiatan ekonomi untuk dibiayai. Inilah yang menjadi alasan mengapa bank-bank syariah umumnya relatif lebih aman dan sehat. Saat krisis ekonomi menyebabkan kolapsnya sejumlah bank konvensional, bank-bank syariah tidak ikut kolaps, bahkan menjamur setelahnya. Ada tiga hal yang bisa dikritisi dari konsep ini. Pertama, harus diingat bahwa praktek perbankan yang sehat seperti ini akan bisa terjadi jika skala uang yang berputar relatif kecil. Artinya, untuk tetap sehat dan aman, perbankan syariah memang tidak bisa menjadi besar. Konsekuensinya, jika perbankan syariah akan tetap kecil, kemampuannya menjadi penggerak ekonomi juga tidak akan signifikan. Sebaliknya, jika aset dan dana yang dikelola bank syariah jauh lebih besar dari yang ada sekarang, maka kapasitas yang ada sekarang akan terbatas. Bank syariah pun akan dihadapkan pada problem yang sama yang dihadapi oleh perbankan konvensional. Kedua, seberapa konsisten perbankan syariah menjalankan praktek bagi hasil bagi risiko tanpa adanya rasio bagi hasil yang ditetapkan sebelumnya? Jika hal ini dijalankan konsisten, harusnya bank akan memiliki kontrak individual yang berbeda-beda untuk tiap nasabah. Ini bisa dijalankan jika jumlah nasabah yang dikelola relatif sedikit. Tapi jika jumlah nasabahnya banyak, biaya transaksi untuk memberlakukan kontrak spesifik akan makin besar juga, sehingga tidak akan efisien bagi pihak bank. Faktanya bisa dibilang semua bank syariah di Indonesia sekarang ini menetapkan nisbah bagi hasil secara ex-ante, baik untuk simpanan maupun pinjaman. Artinya dalam praktek, bank syariah sebenarnya menerapkan mekanisme yang tidak berbeda dengan bank konvensional yang berdasarkan bunga. Untuk pinjaman, bahkan, beberapa bank syariah bukan hanya menetapkan nisbah yang

Artikel Bundel ini dari blog milik Ari Perdana (A.P)

ditetapkan sebelumnya, tapi bahkan nilainya bisa lebih tinggi dari bunga pinjaman konvensional setelah adanya berbagai biaya dan fee tambahan. Ini tentunya menimbulkan pertanyaan tambahan: seberapa jauh bank syariah konsisten dengan kritiknya terhadap bunga yang dianggap memberatkan dan eksploitatif. Ketiga, pertanyaan lain adalah ke mana bank syariah memutarkan dana nasabah. Secara prinsip, dana yang dihimpun oleh bank syariah hanya dibenarkan untuk membiayai kegiatan produktif yang halal. Artinya, bank syariah tidak dibenarkan untuk memutar kembali uangnya di kegiatan-kegiatan spekulatif atau menanamkan dananya di investasi berbasiskan bunga. Seberapa konsisten bank syariah dalam menjalankan usahanya bisa dilihat dari besaran nisbah bagi hasil yang ditawarkan dari waktu ke waktu. Jika bank syariah benar-benar memutar dana nasabah ke kegiatan produktif, kita akan melihat pergerakan nisbah bagi hasil antar waktu yang lebih fluktuatif dari pergerakan bunga konvensional. Faktanya, merujuk pada statisik bulanan yang dikeluarkan oleh Divisi Syariah Bank Indonesia, fluktuasi nisbah bagi hasil bersih rata-rata hampir sama dan sebangun dengan pergerakan suku bunga deposito bank konvensional. Sebagai perbandingan, ekonom Timur Kuran (2004) menemukan hal yang sama di Turki. Pergerakan yang sejalan ini mengindikasikan besarnya kemungkinan bahwa dalam mengelola dana nasabahnya, bank syariah masih menanamkan uang di investasi berbasiskan bunga. Setidaknya, kondisi ideal bahwa seluruh dana ditanamkan di kegiatan produktif tidak terjadi. Bentuk pembiayaan yang ketiga, murabahah, sederhananya adalah mark-up. Seorang konsumen ingin membeli mobil tetapi tidak punya uang. Ia bisa datang ke bank atau lembaga keuangan syariah yang akan membeli mobil tersebut. Dalam jangka waktu tertentu, si konsumen akan membayar kembali ke bank ditambah jumlah tertentu. Di kalangan praktisi ekonomi Islam sendiri ada perdebatan mengenai kehalalan model transaksi ini. Beberapa pihak menganggap bahwa transaksi murabaha termasuk syubhat karena melibatkan nilai mark-up yang berfungsi sebagai bunga siluman. Menariknya, transaksi murabahah ini adalah model yang paling populer di banyak negara yang memiliki sistem perbankan Islam. Timur Kuran menyebutkan bahwa 80-90 persen transaksi bank Islam di dunia menggunakan metode ini. Di tahun 80an, 80 persen portfolio aset milik Islamic Development Bank juga berasal dari pembiayaan murabahah. Ada juga yang menilai murabahah tidaklah haram, atas tiga alasan. Pertama, praktek ini pada dasarnya adalah jual-beli. Nilai mark-up adalah laba usaha,bukan bunga. Dalam Islam, laba tidaklah haram. Kedua, transaksi tidak haram selama nilai mark-up ditentukan atas kesepakatan bersama. Ketiga, adanya mark-up yang dibayarkan bisa dibenarkan karena itu mencerminkan risiko yang harus ditanggung oleh bank selama periode dimana barang sudah dibeli tetapi kepemilikan belum berpindah ke tangan konsumen. Terlepas dari apakah murabahah termasuk transaksi yang halal, haram atau syubhat, tidak ada perbedaan signifikan dalam substansinya dengan bunga. Artinya, kalau murabahah

Artikel Bundel ini dari blog milik Ari Perdana (A.P)

bisa dianggap halal, pengharaman atas bunga menjadi sesuatu yang aneh dan tidak konsisten. Selain itu, argumen bahwa nilai mark-up adalah kompensasi atas risiko yang ditanggung justru menjadi kontradiksi, karena di saat yang sama proponen ekonomi Islam tetap menolak justifikasi bunga sebagai kompensasi atas risiko. Artinya, fakta bahwa murabahah adalah model pembiayaan yang paling populer menunjukkan ketidakmampuan ekonomi Islam dalam memberi jawaban atas haram dan eksploitatifnya sistem bunga. Tulisan ini hendaknya dijadikan tantangan bagi proponen ekonomi Islam untuk terus menemukan praktek keuangan dan perbankan yang otentik sekaligus tetap relevan dengan tantangan ekonomi modern. Alternatifnya adalah mendefinisikan kembali pemahaman dan posisi Islam mengenai bunga bank.

Ekonomi Islam (3)


Persoalan moralitas dalam ekonomi Dua aspek lain yang diklaim oleh proponen ekonomi Islam sebagai hal yang membedakan dengan ekonomi konvensional adalah landasan moral dalam kegiatan ekonomi serta keadilan distributif. Kembali, pertanyaannya adalah: 1) seperti apakah klaim tersebut, 2) seberapa berbeda klaim itu dengan pemikiran-pemikiran filsafat moral yang ada, dan 3) bagaimana menerapkannya dalam tataran praktek? Moralitas dalam kegiatan ekonomi Proponen ekonomi Islam memandang bahwa yang membedakan antara ekonomi Islam dan konvensional adalah adanya aspek moralitas yang mendasari setiap keputusan pelaku ekonomi. Menurut pandangan ekonomi Islam, moralitas yang bersumber dari Al-Quran dan Sunnah secara inheren masuk dalam utility set seorang pelaku ekonomi; menjelaskan mengapa suatu keputusan atau pilihan produksi maupun konsumsi diambil. Masalah moralitas tepatnya absennya masalah moralitas inilah yang sekaligus menjadi kritik ekonomi Islam terhadap ekonomi konvensional. Menurut para proponen ekonomi Islam, asumsi dasar teori ekonomi konvensional yaitu rasionalitas tidak memberi tempat pada moral dan nilai-nilai religiusitas. Keputusan memberi sedekah yang didasarkan atas altruisme murni, misalnya, adalah keputusan yang tidak rasional. Kalaupun seorang individu memberi sedekah, tindakan itu tetap didasarkan atas motivasi imbalan pribadi (misalnya, ingin dipuji). Dalam ekonomi Islam, seorang individu tidak hanya memaksimalkan utility pribadinya di dunia tapi juga kemaslahatan umat secara umum serta imbalan yang akan dia dapatkan di akhirat. Artinya, memberi sedekah bukanlah keputusan yang irasional, melainkan beyond rational. Atas argumen moralitas yang serupa, ekonomi Islam tidak membenarkan adanya konsumsi yang berlebihan dan menyia-nyiakan konsumsi. Dalam hal produksi, ekonomi

Artikel Bundel ini dari blog milik Ari Perdana (A.P)

Islam tidak melihat bahwa tujuan memaksimalkan kemaslahatan umat adalah motivasi yang inheren. Tidak ada pertentangan antara memaksimumkan keuntungan perusahaan dan manfaat sosial, sehingga altruisme dengan sendirinya masuk dalam variabel yang menentukan bagaimana perusahaan menetapkan tingkat produksi dan harga. Kritik ini sesungguhnya bukanlah monopoli pemikiran Islam. Sudah banyak kritik yang dilontarkan terhadap asumsi rasionalitas dalam teori ekonomi konvensional, baik dari dalam disiplin ilmu ekonomi sendiri maupun dari disiplin ilmu lain. Kritik-kritik tersebut memang cukup valid. Tapi perlu dipahami bahwa rasionalitas dalam teori ekonomi tak lain dan tak lebih hanyalah asumsi. Menurut David Friedman, setiap teori memerlukan asumsi untuk memberikan alasan bagi teori tersebut dalam memprediksi sesuatu. Tanpa asumsi rasionalitas, itu sama saja dengan mengatakan bahwa perusahaan memaksimalkan profit karena ingin memaksimalkan profit, titik. Robert Lucas bahkan berpendapat lebih ekstrem. Asumsi rasionalitas tidak perlu benar, tapi lihat seberapa mampu teori yang dibangun di atasnya memberi prediksi yang cukup akurat atas perilaku manusia. Betul bahwa manusia tidak selamanya rasional menurut pengertian yang dikatakan oleh teori ekonomi konvensional. Artinya, betul bahwa jika kita melakukan observasi di tingkat individual, kita akan selalu menemukan anomali. Tapi teori ekonomi pada dasarnya adalah teori mengenai perilaku manusia secara umum. Dan dalam pengamatan dengan jumlah sampel yang besar, apalagi mendekati populasi, apa yang diprediksi oleh teori ekonomi konvensional akan lebih mendekati kenyataan dibandingkan prediksi yang didasarkan pada asumsi bahwa manusia akan selalu mendahulukan kepentingan umum. Selain itu, berbicara mengenai sistem ekonomi, artinya kita berbicara tentang sebuah mekanisme untuk menciptakan institusi dan insentif yang mengatur populasi secara keseluruhan. Terkait dengan itu, ada satu pertanyaan penting: sistem mana yang akan lebih sustainable? Apakah sistem yang mengasumsikan bahwa, misalnya, tidak akan ada korupsi karena setiap orang memiliki ada kontrol internal yang bersumber dari landasan moral agama? Atau sistem yang mengasumsikan bahwa orang selalu punya motif untuk untuk korupsi sehingga yang dilakukan oleh sistem tersebut adalah menciptakan mekanisme disinsetif bagi korupsi? Keadilan distributif Sebagaimana agama-agama lain maupun sumber nilai-nilai moralitas lainnya, Islam menekankan pentingnya pemerataan dan upaya menghapus ketimpangan. Dalam ajaran Islam, semangat ini diterjemahkan dengan cukup spesifik. Secara normatif, berbagai ayat Al-Quran maupun Sunnah Rasulullah memuat kewajiban seorang individu untuk berbagi dengan sesamanya. Lebih dari itu, Islam juga memuat sejumlah aturan yang secara spesifik menentukan tata cara dan besarnya kewajiban. Instrumen dalam Islam yang paling eksplisit mengatur distribusi pendapatan tentunya adalah zakat, yang ditempatkan sebagai salah satu rukun Islam. Apakah dengan adanya aturan soal zakat yang begitu spesifik menjadikan ekonomi Islam superior dibandingkan teori ekonomi konvensional, juga ajaran agama lain?

Artikel Bundel ini dari blog milik Ari Perdana (A.P)

Harus diakui bahwa di dalam ekonomi konvensional, ada perdebatan yang belum selesai mengenai pemerataan. Perdebatannya bukan soal apakah pemerataan merupakan sesuatu yang baik atau buruk, tapi lebih pada pemerataan dalam apa dan apa yang harus dilakukan. Aliran liberal (Friedman, Nozick) berpendapat bahwa pemerataan harus dilihat dalam konteks akses. Sementara itu, paham sosialis melihat pemerataan dalam tataran hasil akhir. Meskipun demikian, aliran liberal sekalipun tetap memberikan ruang bagi adanya intervensi terhadap mekanisme pasar untuk mempromosikan pemerataan melalui instrumen pajak dan subsidi. Secara substansi, sebenarnya tidak ada argumen yang kuat untuk mengatakan bahwa konsep zakat dalam Islam adalah unik dan berbeda dengan pajak dan subsidi. Hal ini tidak bisa diterima oleh sebagain proponen ekonomi Islam. Mereka berpendapat bahwa sistem zakat berbeda dengan pajak dan subsidi bukan hanya secara praktek, tapi juga secara substansi dan landasan moral. Argumen yang diajukan, antara lain, ada aturan yang spesifik mengenai siapa yang harus diberikan zakat; kegiatan ekonomi apa yang bisa dan tidak bisa ditarik zakat. Argumen demikian tetap tidak cukup meyakinkan untuk mengatakan bahwa ada substansi yang berbeda dari zakat. Seberapa efektifkah dalam praktek zakat mampu mengatasi problem kesenjangan? Masalahnya, studi yang seminal dan komprehensif mengenai hal ini sangat terbatas. Selain itu, kita pun sulit untuk melihat bagaimana peranan zakat secara terisolasi, karena faktanya di hampir semua negara Islam atau negara yang mayoritas penduduknya adalah Muslim, mekanisme zakat tidak berdiri sendiri. Selain zakat, terdapat juga kebijakankebijakan redistribusi lain yang dilakukan oleh pemerintah. Sehingga sulit bagi kita untuk menemukan hubungan kausalitas yang tegas. Timur Kuran punya pendapat yang lebih kritis. Menurutnya, redistribusi yang dihasilkan dari zakat tidak akan lebih baik dibandingkan pajak dalam sistem sekuler. Dalam aturan zakat yang ada, rata-rata tingkat persentase zakat lebih kecil dari rata-rata persentase pajak. Selain itu, secara umum aturan klasik mengenai obyek zakat lebih banyak berasal dari jenis harta atau kegiatan ekonomi di sektor pertanian. Aturan ini tentu didasarkan pada kondisi di abad ketujuh, dimana sektor pertanian adalah salah satu sektor yang paling makmur. Faktanya, di masa sekarang sektor ini menjadi salah satu sektor termiskin. Di hampir seluruh negara berkembang bahkan mayoritas penduduk miskin bekerja atau terlibat dengan sektor pertanian. Beberapa proponen ekonomi Islam mengajukan argumen balik bahwa aturan dalam zakat tidaklah statis, melainkan dinamis dan bisa disesuaikan dengan kondisi aktual. Contohnya, zakat juga mencakup zakat profesi yang dikenakan pada profesional seperti dokter atau pengacara. Tapi argumen ini tetap menyisakan pertanyaan soal bagaimana zakat bisa lebih redistributif jika presentasenya lebih rendah dibandingkan pajak sekuler. Kalau kemudian ada pemikiran bahwa presentase zakat bisa disesuaikan, tidak harus mengikuti aturan klasik, itu pada dasarnya berarti konsep zakat sudah menjadi mekanisme sekuler yang tidak berbeda dengan pajak.

Artikel Bundel ini dari blog milik Ari Perdana (A.P)

Di bukunya, Kuran juga membahas sejumlah masalah terkait dengan bagaimana zakat diimplementasikan dalam praktek. Satu pertanyaan praktis adalah apakah zakat sebaiknya dijadikan kewajiban bagi warga negara, yang artinya mengharuskan negara turun tangan sebagai institusi yang melaksanakannya? Atau apakah sebaiknya zakat dibiarkan diserahkan sebagai pilihan bagi warga negara? Tiga negara yang pernah menjadikan zakat sebagai kewajiban dan diatur oleh negara dijadikan sebagai studi kasus: Saudi Arabia, Pakistan dan Malaysia. Di Saudi Arabia, ternyata tingkat pengumpulan zakat hanya sebesar 0.01-0.04 persen dari PDB negara tersebut. Mengingat PDB per kapita Saudi Arabia yang relatif tinggi, ini menunjukkan adanya celah yang besar dalam efektifitas pengumpulan zakat. Selain itu, sejumlah sektor yang memiliki nilai ekonomi sangat tinggi seperti perumahan justru tidak menjadi obyek zakat. Sementara di Pakistan dan Malaysia, problem umum seputar pengumpulan zakat adalah masalah-masalah seputar institusi: korupsi, kompensasi terhadap pemungut zakat, kebocoran, dan dalam sejumlah konteks, perasaan ketidakadilan. Temuan ini menjadi ilustrasi bahwa klaim tentang ekonomi Islam yang lebih superior karena mengandung norma-norma moral dan agama secara inheren menjadi tidak terbukti. Motivasi religius adalah satu hal. Tetapi itu saja tidak cukup untuk menjadikan sebuah sistem ekonomi yang mampu menciptakan pemerataan. Ada sejumlah trade-off dan problem insentif yang bagaimanapun tidak bisa dihindari. Bukan berarti hal-hal ini tidak terjadi di sistem sekuler yang berbasiskan ekonomi konvensional. Tapi, dalam teori ekonomi konvensional hal ini memang sudah diprediksi sehingga bisa diantisipasi. Selain zakat, proponen ekonomi Islam juga merujuk pada sejumlah aturan dan ritual dalam Islam yang juga berfungsi sebagai instrumen pemerataan. Contohnya adalah kewajiban membayar qurban bagi yang mampu setiap tahun dalam perayaan hari raya Idul Adha. Sekali lagi, ini pun bukan merupakan hal yang unik dalam Islam. Hampir setiap agama memiliki aturan atau ritual yang spesifik bertujuan sebagai instrumen distribusi kesejahteraan. Banyak juga studi yang sudah membahas tentang peranan perayaan sosial atau keagamaan dalam meningkatkan kesejahteraan dan pemerataan dalam suatu masyarakat. Studi yang dilakukan oleh Vijayendra Rao mengenai ritual keagamaan di sebuah masyarkat di India adalah salah satunya.

Ekonomi Islam (4 - selesai)


Prognosis Harus diakui memang ajaran Islam memuat seperangkat pemikiran dan aturan yang setidaknya bisa menjadi embrio bagi sebuah sistem ekonomi. Dengan kata lain, Islam memang menawarkan sebuah sistem ekonomi yang berdiri sendiri. Sistem yang ditawarkan ini tidak harus diklasifikasikan ke dalam label kapitalisme ataupun sosialisme. Seperti sudah disebut di bagian pendahuluan, itu bukanlah pertanyaan yang relevan. Yang lebih relevan adalah mempertanyakan adakah hal baru yang ditawarkan,

Artikel Bundel ini dari blog milik Ari Perdana (A.P)

apakah tawaran sistem tersebut bisa berjalan, dan adakah bukti atau contoh bahwa sistem itu lebih baik dibandingkan yang ada. Problem utama dari ekonomi Islam adalah, setidaknya seperti yang dibayangkan oleh proponennya, sistem ini berangkat dari asumsi bahwa pelaku-pelaku ekonomi memiliki landasan moral yang inheren yang mendasari setiap keputusan mereka. Bukan berarti sistem ekonomi Islam tidak bisa berjalan dalam praktek. Hanya, untuk bisa berjalan, sistem ini memerlukan prasyarat yang begitu berat. Semua orang secara otomatis akan memilih melalukan transaksi dengan bank syariah karena Islam mengajarkan bahwa bunga itu haram. Semua orang memiliki kontrol internal untuk tidak mengonsumsi secara berlebihan, memiliki kesadaran internal untuk menyandingkan motif memaksimalkan keuntungan dengan altruisme. Proponen ekonomi Islam juga cenderung menganggap bahwa mekanisme redistribusi yang ditawarkan melalui zakat dan ritual sudah cukup dan masih relevan dengan kondisi modern. Justru di sinilah kesempurnaan yang dibayangkan itu menjadi kelemahan utama. Selain itu, masalah lain dalam ide penerapan sistem ekonomi Islam adalah tidak ada rujukan yang kuat bagaimana sistem ini pernah dijalankan, dan apakah ia masih relevan untuk menjawab tantangan jaman modern. Proponen ekonomi Islam umumnya merujuk pada periode keemasan Islam di era khulafa-ur-rasyidin, atau di era Umayyah dan Ottoman. Sesungguhnya sulit bagi kita untuk menyimpulkan bahwa kemakmuran umat di era itu adalah hasil langsung dari keislaman yang mendasari kegiatan ekonomi. Karena salah satu sumber kemakmuran yang penting saat itu adalah pampasan perang dan ekspansi wilayah. Terlepas dari itu, kalaupun memang keislaman menjadi alasan di balik kemakmuran ekonomi di masa lalu, tidak cukup alasan untuk mengatakan bahwa praktek-praktek di masa lalu masih relevan untuk mengatasi tantangan peradaban manusia modern. Sebagian proponen ekonomi Islam bersikap apologetik dengan mengatakan bahwa kolonialisme dan kapitalisme telah membuat periode yang hilang dalam penerapan ekonomi Islam. Tapi justru pendapat ini membuka pertanyaan baru: jika memang sistem ekonomi Islam sudah kaffah dan sempurna, mengapa ia tidak mampu bertahan melawan perubahan jaman? Mengapa kapitalisme membuatnya tergusur? Setelah kapitalisme lahirpun tantangan terbesar bagi sistem itu bukan datang dari pemikiran Islam melainkan sosialisme. Ketidakmampuan sistem ekonomi Islam untuk merespon perubahan jaman adalah hipotesis lemah untuk menjawab mengapa sistem ini tidak mampu bertahan. Hipotesis yang lebih kuat adalah memang ada hal-hal di dalam sistem ini yang menjadi penghambat bagi masyarakatnya untuk maju. Salah satu penyebab kemajuan Eropa yang pesat setelah era pencerahan adalah perkembangan sains dan teknologi yang pesat. Sebaliknya, pascapencerahan di Eropa, para pemimpin di peradaban Islam justru cenderung memusuhi perkembangan sains dan teknologi yang sekuler. Selain itu, karakteristik dari institusi ekonomi dan perdagangan dalam Islam saat itu juga menjadi penghambat bagi kemajuan ekonomi. Satu contoh adalah sistem hak milik

Artikel Bundel ini dari blog milik Ari Perdana (A.P)

(property rights) yang tidak berkembang seperti bagaimana Eropa berkembang. Contoh lain, dalam hukum bisnis Islam saat itu, jika salah satu anggota persekutuan bisnis meninggal, hak dan kewajibannya tidak secara otomatis beralih ke ahli waris. Persekutuan harus bubar dan perjanjian baru harus disusun. Ini membuat lembaha komersial di dunia Islam tidak bisa besar, karena biaya transaksi dan koordinasi akan menjadi besar. Tapi konsekuensinya, skala yang kecil membuat kemampuan transaksi menjadi terbatas juga. Ini diterjemahkan ke dalam pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat dibandingkan dengan Eropa. Selain itu, sistem peradilan dagang di dunia Islam juga tidak memberikan perlindungan dan kepastian hukum yang seimbang bagi mitra dagang nonmuslim. Ini menjadi disinsentif bagi pedagang Eropa dan Asia lainnya untuk melakukan transaksi bisnis dengan dunia Islam. Hal ini diperparah dengan ditemukannya jalur pelayaran mengitari benua Afrika, sehingga ketergantungan jalur perdagangan Asia-Eropa atas Timur Tengah menjadi jauh berkurang. Memang belakangan peradaban Islam bisa merespon tantangan yang berubah itu dengan melakukan sejumlah perubahan yang membuat iklim usaha di dunia Islam lebih kompatibel. Tapi perubahan itu terjadi relatif terlambat, karena kapitalisme Eropa sudah menjadi sistem yang dominan. Pertanyaannya sekarang: bagaimana masa depan bagi sistem ekonomi Islam? Yang akan mendapat keuntungan dari diskursus sistem ekonomi Islam sebenarnya adalah sistem kapitalisme. Karena sejarah menunjukkan bahwa alasan mengapa kapitalisme bisa bertahan adalah kemampuannya untuk terus melakukan revisi internal. Seringkali revisi itu dilakukan menyusul kritik-kritik yang dilontarkan. Dalam beberapa hal, kapitalisme mengadopsi kritik sosialisme dalam mekanisme redistribusi. Ia mengadopsi kritik para environmentalis dengan berkembangnya teori ekonomi lingkungan dan sumber daya alam. Belakangan ini teori ekonomi juga makin banyak mengadopsi teori-teori psikologi, antropologi dan sosiologi dalam merevisi asumsi rasionalitas. Bukan tidak mungkin beberapa kritik pemikiran Islam juga akan diadopsi oleh kapitalisme. Di skala kecil, setidaknya kita sudah melihat bagaimana produk perbankan dan keuangan syariah menjadi lahan bisnis yang menjanjikan dan menarik pelaku di luar proponen ekonomi Islam, bahkan di luar Muslim sekalipun. Kita tidak bisa memprediksi apa yang akan terjadi beberapa ratus tahun ke depan. Tapi sekarang ini, agaknya sistem ekonomi Islam akan eksis hanya sebagai bagian (subsistem) ekonomi yang saat ini dominant: kapitalisme. Ia memang tidak akan hilang, lebur, atau berasimilasi. Tapi ia juga masih jauh dari menjadi sistem ekonomi yang dominan. Ia bahkan masih terlalu jauh dari menjadi penantang bagi kapitalisme.

Artikel Bundel ini dari blog milik Ari Perdana (A.P)