Anda di halaman 1dari 27

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Pembangunan kesehatan yang telah dilaksanakan selama ini bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Indikator derajat kesehatan masyarakat yang paling sensitif adalah Angka Harapan Hidup yang menjadi indikator komponen kesehatan, diantaranya adalah Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB). Berbagai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kebidanan dapat dikembangkan sehingga dapat menurunkan angka kematian ibu (AKI) 390/100.000 dan angka kematian perinatal (AKP) 56/100.000 persalinan hidup yang merupakan angka tertinggi di Asean. Angka Kematian Ibu (AKI) adalah banyaknya wanita meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan kehamilan dan penanganannya (tidak termasuk kecelakaan atau insindentif) selama kehamilan dan masa nifas, tanpa memperhitungkan lama kehamilan per 100.000 kelahiran hidup. Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesiaa tertinggi di ASEAN sebesar 248/100.000 kelahiran hidup (Survey Demografi Kesehatan Indonesia/ SDKI2007) rencana penurunan Departermen RI menjadi 226/100.000 kelahiran hidup tahun 2009 dan target MDGS tahun 2015 menjadi 102/100.000 kelahiran hidup. Demikian pula dengan Angka Kematian Bayi (AKB) dari 34/1000 kelahiran hidup (SDKI 2007) rencana penurunan Depatermen Kesehatan RI menjadi 26/1000 kelahiran hidup pada tahun 2009 dan target MDGS tahun 2015 menjadi 17/1000 kelahiran hidup.1 Upaya menurunkan AKI salah satunya yaitu akses terhadap pelayanan pemeriksaan kehamilan yang mutunya harus ditingkatkan terus menerus.

Antenatal Care (ANC) merupakan salah satu asuhan mempersiapkan ibu dan bayinya dalam keadaan sehat dengan cara membangun hubungan saling percaya dengan ibu, mendeteksi tanda bahaya yang mengancam jiwa, mempersiapkan kelahiran dan memberikan pendidikan kesehatan kepada ibu. Antenatal Care (ANC) merupakan salah satu program safe motherhood yang merupakan pelayanan kesehatan ibu hamil dan janinnya oleh tanga professional meliputi pemeriksaan kehamilan sesuai dengan standar minimal pelayanan. Dengan ANC pada ibu dapat dideteksi sedini mungkin sehingga diharapkan ibu dapat merawat dirinya selama hamil dan mempersiapkan persalinan. Pentingnya pelayanan ANC karena setaiap kehamilan dapat menjadi masalah atau komplikasi. Itu sebabnya ibu hamil perlu mendapatkan pematauan selama kehamilannya. Pengetahuan ibu hamil tentang Antenatal Care (pemeriksaan kehamilan) sangat penting karena akan dapat membantu mengurangi angka kematian ibu dan bayi.2 Dari uraian di atas peneliti tertarik untuk mengetahui gambaran yang berhubungan dengan tingkat pengetahuan ibu hamil tentang Antenatal Care (pemeriksaan kehamilan) pada bulan september 2011 sehingga nantinya petugas kesehatan bisa menetapkan suatu strategi pelayanan yang memadai guna meningkatkan kunjungan secara menyeluruh bagi ibu hamil Desa Mekarsari Kec.Baleendah Kab.Bandung.

1.2

Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah, maka penulis merumuskan masalah penelitiannya sebagai berikut "Bagaimana pengetahuan ibu hamil tentang Antenatal Care di Desa Mekarsari RW 27 Kec.Baleendah ditinjau dari segi umur, pendidikan, pekerjaan dan paritas?.

1.3

Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum Untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan ibu hamil dan karakteristiknya tentang Antenatal Care. 1.3.2 Tujuan Khusus 1. Diperolehnya informasi tentang gambaran tingkat pengetahuan ibu hamil tentang Antenatal Care. 2. Untuk memperoleh informasi tentang pengetahuan ibu hamil tentang Antenatal Care ditinjau dari segi umur. 3. Untuk memperoleh informasi tentang pengetahuan ibu hamil tentang Antenatal Care ditinjau dari segi pendidikan 4. Untuk memperoleh informasi pengetahuan ibu hamil tentang Antenatal Care ditinjau dari segi pekerjaan. 5. Untuk memperoleh informasi pengetahuan ibu hamil tentang Antenatal Care ditinjau dari segi paritas.

1.4

Ruang Lingkup Penelitian ini dilakukan kepada ibu-ibu hamil trimester I, II, dan III di Desa Mekarsari RW 21 Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung pada bulan September 2011.

1.5

Manfaat Penelitian 1.5.1 Manfaat Ilmiah Sebagai wahana pengembangan ilmu pengetahuan yang diperoleh selama mengikuti pendidikan di akademi Kebidanan. 1.5.2 Manfaat Praktis 1. Sebagai salah satu bahan masukan bagi pengelola KIA untuk meningkatkan pengetahuan Ibu Hamil yang ada di wilayah setempat mengenai Pemeriksaan Kehamilan atau ANC.

2. Sebagai Informasi penting mengenai ANC guna meningkatkan pelayanan secara menyeluruh baik dari segi Komunikasi, Informasi dan Edukasi bagi setiap Ibu Hamil.

1.6

Keterbatasan Penelitian Dalam penelitian ini, keterbatasan yang dihadapi oleh peneliti adalah: 1. Keterbatasan waktu. 2. Disamping itu, pada saat mengumpulkan data juga sangat ditentukan oleh kemampuan pewawancara dalam menanyakan dan kemampuan responden dalam menjawab pertanyaan. 3. Penelitian ini dimungkinkan terhambat karena dari ketersediaan nya waktu dari setiap ibu hamil untuk dilakukan interview atau tanya jawab mengenai pengetahuan ibu hamil terhadap pentingnya pemeriksaan kehamilan.

1.7

Kerangka Pemikiran Ante Natal Care adalah merupakan cara penting untuk memonitoring dan mendukung kesehatan ibu hamil normal dan mendeteksi ibu dengan kehamilan normal, ibu hamil sebaiknya dianjurkan mengunjungi bidan atau dokter sedini mungkin semenjak ia merasa dirinya hamil untuk mendapatkan pelayanan dan asuhan antenatal. 3 Atau memeriksa kehamilan ibu dan bayinya secara berkala, yang diikuti dengan upaya memantau kemajuan kehamilan, memastikan kesehatan fisik, mental, dan sosial ibu juga janin, serta mengenali secara dini adanya ketidaknormalan yang mungkin terjadi pada kehamilan.4

Pemeriksaan antenatal care yang dianjurkan kepada ibu hamil minimal 4 kali selama hamil antara lain kehamilan trimester pertama (<14 minggu) satu kali kunjungan, kehamilan trimester kedua (14-28 minggu) satu kali kunjungan, dan kehamilan trimester ketiga (28-36 minggu dan sesudah minggu ke 36) dua kali kunjungan. Walaupun demikian disarankan kepada ibu hamil untuk memeriksakan kehamilannya dengan jadwal sebagai berikut: sampai dengan kehamilan 28 minggu periksalah empat minggu sekali, kehamilan 28-36 minggu perlu pemeriksaan dua minggu sekali, kehamilan 36-40 minggu setiap satu minggu sekali dan apabila terdapat keluhan-keluhan tertentu. Kunjungan antenatal care yang belum optimal mengakibatkan risiko dan komplikasi kehamilan tidak terdeteksi secara dini, kunjungan antenatal minimal 4 kali merupakan salah satu upaya untuk menurunkan komplikasi yang berhubungan dengan kehamilan, persalinan, dan nifas pada ibu dan bayi baru lahir.5 Pemeriksaan antenatal care juga dipengaruhi oleh perilaku ibu hamil yang pada dasarnya terbentuk dari dua faktor yaitu, faktor internal meliputi tingkat pengetahuan (kecerdasan), tingkat emosi, sikap, motivasi, dan faktor eksternal meliputi lingkungan dan pelayanan kesehatan. Jadi perilaku ibu hamil dalam merawat kehamilannya juga dipengaruhi oleh pengetahuan terhadap kehamilannya.6 Pemanfaatan pelayanan kesehatan, termasuk pelayanan pemeriksaan kehamilan merupakan interaksi antara ibu hamil dengan petugas kesehatan yang melakukan pemeriksaan kehamilan. Banyak faktor faktor yang mempengaruhi kemauan ibu untuk melakukan pemeriksaan kehamilan, seperti umur ibu, paritas, tingkat pendidikan serta pekerjaan ibu.

Umur adalah usia individu yang mulai terhitung saat dilahirkan hingga akhir hidupnya. Semakin cukup umur maka tingkat kematangan dan kekuatan sesorang akan lebih matang dalam berfikir dan bekerja. Dengan bertambanhya umur sesorang maka kematangan dalam berfikir semakin baik sehingga akan termotivasi dalam memeriksakan kehamilan, juga mengetahui akan pentingnya kehamilan.7 Begitu juga dengan tingkat pendidikan semakin tinggi pendidikan seorang ibu maka dia akan lebih mengetahui tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan, namun justru sebaliknya dengan pekerjaan dan paritas semakin sibuk seorang ibu dengan pekerjaannya serta semakin banyak anak yang dimilikinya maka semakin motivasi ibu untuk melakukan pemeriksaan kehamilan. Pada penelitian ini terdapat beberapa variabel yang akan diteliti yang didasarkan atas opini peneliti dan kemungkinan untuk dapat dilaksanakannya penelitian, maka dapat disusun kerangka konsep sebagai berikut : Variabel Independen Variabel Dependen

Umur Pendidikan Pekerjaan Paritas

Tingkat Pengetahuan Ibu mengenai Antenatal Care

Gambar 3.1 Kerangka Konsep Penelitian

Kerangka konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah paradigma tunggal sederhana. Pada penelitian ini yang akan diteliti adalah tingkat pengetahuan ibu hamil tentang Antenatal Care yang dihubungkan dengan karakteristiknya yaitu umur, pendidikan, pekerjaan dan paritas.

1.8

Lokasi dan Waktu Penelitian 1.6.1 Lokasi Di Desa Mekarsari RW 27 Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung. 1.6.2 Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan dalam jangka waktu 1bulan (SeptemberOktober 2011).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Definisi Kehamilan Kehamilan adalah kondisi dimana seorang wanita memiliki janin yang sedang Tumbuh di dalam tubuhnya (yang pada umumnya di dalam rahim). Kehamilan pada manusia berkisar 40 minggu atau 9 bulan, dihitung dari awal periode menstruasi terakhir sampai melahirkan. Kehamilan merupakan suatu proses reproduksi yang perlu perawatan khusus, agar dapat berlangsung dengan baik kehamilan mengandung kehidupan ibu maupun janin. Resiko kehamilan ini bersifat dinamis, karena ibu hamil yang pada mulanya normal, secara tiba-tiba dapat menjadi berisiko tinggi.Standart Pelayanan Ante Natal Care (ANC).

2.2

Antenatal Care 2.2.1 Definisi a. Antenatal Care : Pengawasan sebelum persalinan terutama ditentukan pada pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim.4 b. Antenatal Care : Perawatan sebelum masa persalinan atau perawatan pada ibu hamil. c. Antenatal Care : Pemeriksaan kehamilan yang dilakukan untuk memeriksakan ibu dan janin secara berkala yang diikuti dengan upaya koreksi terhadap penyimpangan yang ditemukan.8

2.2.2

Tujuan Antenatal Care a. Tujuan Umum Menyiapkan seoptimal mungkin fisik, mental ibu dan janin selama kehamilan, persalinan dan nifas sehingga didapatkan ibu dan anak yang sehat.8 b. Tujuan Khusus 1) Mengenali dan menangani penyulit-penyulit yang mungkin dijumpai dalam kehamilan, persalinan dan nifas. 2) Mengenali dan mengobati penyakit-penyakit yang mungkin diderita sedini mungkin. 3) Menurunkan angka morbiditas dan mortalitas ibu dan anak. 4) Memberikan nasehat tentang cara hidup sehari-hari dan Keluarga Berencana, kehamilan persalinan, nifas dan laktasi. 8

2.2.3 Manfaat Antenatal Care a. Dapat mengikuti dan mengetahui tindakan kesehatan ibu dan janin sehingga kalau ada kelainan bisa segera diperbaiki. b. Memperoleh pelayanan 5 T (Timbang, Tensi, Tinggi fundus uteri, Tetanus Toxoid, Tablet Fe) dan pelayanan lainnya. c. Supaya memperoleh nasehat tentang kesehatan dan keluarga berencana yang meliputi berbagai hal seperti : 1. Perawatan diri selama hamil 2. Kebutuhan makanan 3. Penjelasan tentang kehamilan 4. Persiapan persalinan 5. Tanda dan bahaya pada kehamilan dan persalinan 6. Penyuluhan keluarga berencana.2

2.2.4

Jadwal Pemeriksaan Antenatal Care a. Jadwal melakukan pemeriksaan Antenatal Care sebanyak 12 - 13 kali selama kehamilan. Di negara berkembang pemeriksaan Antenatal Care dilakukan sebanyak 4 kali sudah cukup sebagai kasus tercatat. 1) Pemeriksaan pertama dilaksanakan segera setelah diketahui terlambat haidnya satu bulan. 2) Pemeriksaan ulang setiap dua minggu sampai umur kehamilan delapan bulan. 3) Pemeriksaan ulang setiap minggu sesudah umur kehamilan delapan bulan sampai terjadinya persalinan. b. Jadwal pemeriksaan Antenatal Care sebanyak 12-13 kali selama kehamilan. Di negara berkembang pemeriksaan Antenatal Care dilakukan sebanyak 4 kali sudah cukup sebagai kasus tercatat. c. Kunjungan Antenatal Care sebaiknya dilakukan 4 kali selama kehamilan yaitu trimester pertama 1 kali, trimester kedua 1 kali dan trimester ketiga 2 kali. d. Perlu segera memeriksakan kehamilan bila dilaksanakan ada gangguan atau bila janin tidak bergerak lebih dari 12 jam.9

2.2.5

Tinjauan Tentang Kunjungan Ibu Hamil Kontak ibu hamil dan petugas yang memberikan pelayanan untuk mendapatkan pemeriksaan kehamilan, istilah kunjungan tidak mengandung arti bahwa selalu ibu hamil yang ke fasilitas tetapi dapat juga sebaliknya, yaitu ibu hamil yang dikunjungi oleh petugas kesehatan.2

2.2.6 Kebijakan Pelayanan Antenatal Care A. Kebijakan Program Walaupun pelayanan antenatal care selengkapnya

mencakup banyak hal yang meliputi anamnese, pemeriksaan fisik (umum dan kebidanan), pemeriksaan laboratorium atas indikasi serta intervensi dasar dan khusus (sesuai resiko yang ada), namun dalam penerapan operasional dikenakan standar minimal 7 T, yang terdiri dari : 1. Timbang BB dan ukur tinggi badan 2. Ukur tekanan darah 3. Pemberian imunisasi tetanus toxoid (TT) lengkap 4. Pemberian tablet zat besi minimum 90 tablet selama kehamilan 5. Ukur tinggi fundus uteri 6. Tes terhadap penyakit menular seksual 7. Tes wicara dalam rangka mempersiapkan rujukan B. Kebijakan Tekhnis Setiap kehamilan dapat berkembang menjadi masalah atau komplikasi setiap saat. Itu sebabnya mengapa ibu hamil memerlukan pemantauan selama kehamilannya. Penatalaksanaan ibu hamil secara keseluruhan meliputi komponen-komponen sebagai berikut : 1) Mengupayakan kehamilan sehat 2) Melakukan deteksi dini komplikasi, melakukan

penatalaksanaan serta rujukan bila diperlukan 3) Persiapan persalinan yang bersih dan aman.10

2.2.7

Pemeriksaan Dalam Pelayanan Antenatal Care A. Pemeriksaan fisik 1) Pemeriksaan fisik umum a) Tinggi badan b) Berat badan, TTV : Tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu 2) Kepala dan leher a) Edema pada wajah b) Ikterus pada mata c) Mulut pucat d) Leher, pembesaran kelenjar tiroid 3) Tangan dan kaki a) Edema di ujung jari b) Kuku jari pucat c) Varices vena d) Reflek/patella resiko atau tidak 4) Payudara a) Ukuran simetris b) Puting susu menonjol atau masuk c) Keluarnya kolustrum atau cairan lain d) Massa, ada/tidak ada e) Nodul axilla 5) Abdomen a) Luka bekas operasi b) Tinggi fundus uteri (jika > 12 minggu) c) Letak presentasi, posisi dan penurunan kepala (kalau > 36 minggu) d) Denyut jantung janin (DJJ) jika > 18 minggu 6) Genetalia Luar (Eksternal) a) Varices

b) Perdarahan c) Luka d) Cairan yang keluar e) Pengeluaran dari uretra dan skene f) Kelenjar bartholin, bengkak (massa), cairan yang keluar 7) Genetalia Dalam (Internal) a) Serviks meliputi cairan yang keluar, luka (lesi), kelunakan, posisi mobilitas, tertutup atau terbuka. b) Vagina meliputi cairan yang keluar c) Ukuran adneksa, bentuk, posisi, mobilitas, kelunakan massa (pada trimester pertama).10 Intervensi Dalam Pelayanan Antenatal Care8 Intervensi dalam pelayanan antenatal care adalah perlakuan yang diberikan kepada ibu hamil setelah dibuat diagnosa kehamilan. Adapun intervensi dalam pelayanan antenatal care adalah : a. Intervensi Dasar 1) Pemberian Tetanus Toxoid a) Tujuan pemberian TT adalah untuk melindungi janin dari tetanus neonatorum, pemberian TT baru menimbulkan efek perlindungan bila diberikan sekurang-kurangnya 2 kali dengan interval minimal 4 minggu, kecuali bila sebelumnya ibu telah mendapatkan TT 2 kali pada kehamilan yang lalu atau pada masa calon pengantin, maka TT cukup diberikan satu kali (TT ulang). Untuk menjaga efektifitas vaksin perlu diperhatikan cara penyimpanan serta dosis pemberian yang tepat. b) Dosis dan pemberian 0,5 cc pada lengan atas

2.2.8

c) Jadwal pemberian (1) Bila ibu hamil belum pernah mendapat TT atau meragukan perlu diberikan suntikan TT sedini mungkin (sejak kunjungan yang pertama), sebanyak 2 kali dengan jarak minimal satu bulan. Pemberian TT kepada ibu hamil tidak membahayakan, walaupun diberikan pada kehamilan muda. (2) Bila ibu pernah mendapatkan suntikan ulang/booster 1 kali pada kunjungan antenatal yang pertama. 2) Pemberian tablet zat besi (Fe) a) Tujuan pemberian tablet Fe adalah untuk memenuhi kebutuhan Fe pada ibu hamil dan nifas karena pada masa kehamilan dan nifas kebutuhan meningkat. b) Dimulai dengan pemberian satu tablet sehari dengan segera mungkin, setelah rasa mual hilang, tiap tablet mengandung Fe So4 320 mg (zat besi 60 mg) dan asam folat 500 mg, minimal masing-masing 90 tablet sebaiknya tidak diminum bersama-sama penyerapan. 3) Pemberian Tablet multivitamin yang mengandung mineral a) Tujuan pemberian tablet multivitamin yang mengandung mineral adalah untuk memenuhi kebutuhan akan berbagai vitamin dan mineral bagi ibu hamil dan janin/bayi selama hamil dan nifas. b) Cara pemberian 1 tablet/hari, selama masa kehamilan dan nifas. 4) Penyuluhan bagi ibu hamil a) Penyuluhan bagi ibu hamil sangat diperlukan, untuk memberikan pengetahuan mengenai kehamilan, pertumbuhan teh/kopi karena akan mengganggu

dan perkembangan janin dalam rahim, perawatan diri selama hamil serta tanda bahaya yang perlu diwaspadai. b) Prinsip penyuluhan, meliputi : (1) Memperlakukan ibu hamil dengan sopan dan baik (2) Memahami, menghargai dan merasa keadaan ibu (status, pendidikan, sosial ekonomi, emosi)

sebagaimana mestinya. (3) Memberikan penjelasan dengan bahasa yang sederhana dan sudah dipahami. (4) Menggunakan alat peraga yang menarik dan mengambil contoh dari kehidupan sehari-hari. (5) Menyesuaikan isi penyuluhan dengan keadaan resiko yang dipunyai ibu. c) Isi penyuluhan meliputi: (1) Gizi tinggi protein dan tinggi kalori ibu, dianjurkan untuk: (a) Tidak membatasi jumlah dan jenis makanan (b) Makan makanan yang bergizi, tinggi kalori dan tinggi protein (c) Minum lebih banyak dari biasanya (10 gelas) (2) Perawatan Payudara Penyuluhan meliputi : (a) Manfaat perawatan payudara sejak kehamilan 7 bulan (b) Cara perawatan payudara (3) Kebersihan diri Selama hamil, ibu perlu lebih menjaga kebersihan diri, karena dengan adanya perubahan hormonal, maka

rongga mulut dan jalan lahir peka terhadap infeksi, ibu perlu mandi dan sikat gigi secara teratur, minimal 2 kali sehari (4) Istirahat cukup dan mengurangi kerja fisik berat (5) Senam hamil Senam hamil yang baik sangat berguna dalam menghadapi persalinan, manfaat senam hamil adalah: (a) Melatih pernapasan (b) Melatih alat panggul dan vagina agar lentur/tidak kaku (c) Melancarkan peredaran darah yang pada kehamilan relatif lamban b. Intervensi Khusus Intervensi khusus adalah melakukan khusus yang diberikan kepada ibu hamil sesuai dengan faktor resiko dan kelainan yang ditemukan, meliputi: 1) Faktor resiko, meliputi: a) Umur (1) Terlalu muda, yaitu dibawah 20 tahun (2) Terlalu tua, yaitu diatas 35 tahun b) Paritas (1) Paritas 0 (primi gravidarum, belum pernah melahirkan) (2) Paritas > 3 c) Interval Jarak persalinan terakhir dengan awal kehamilan sekurangkurangnya 2 tahun. d) Tinggi badan kurang dari 145 cm

e) Lingkar lengan atas kurang dari 23,5 cm 2) Komplikasi Kehamilan a) Komplikasi obstetri langsung (1) Perdarahan (2) Pre eklamasi/eklamsia (3) Kelainan letak lintang, sungsang primi gravida (4) Anak besar, hidramnion, kelainan kembar (5) Ketuban pecah dini dalam kehamilan. b) Komplikasi obstetri tidak langsung (1) Penyakit jantung (2) Hepatitis (3) TBC (Tuberkolosis) (4) Anemia (5) Malaria (6) Diabetes militus c) Komplikasi yang berhubungan dengan obstetri, komplikasi akibat kecelakaan (kendaraan, keracunan, kebakaran)

2.3 Tinjauan Tentang Karakteristik 1. Tinjauan Tentang Pengetahuan Pengetahuan merupakan kemampuan seseorang untuk mengingat fakta, simbol, prosedur, tehnik dan teori.6 Pada umumnya pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh pendidikan yang pernah diterima, semakin tinggi tingkat pendidikan
11

seseorang

maka

semakin

baik

pula

tingkat

pengetahuannya.

Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.6 Pengetahuan

juga merupakan suatu kemampuan seseorang untuk mengingat pengertian, tujuan, manfaat pemeriksaan kehamilan. Secara umum tingkat Pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif menurut Bloom (1908) dalam Notoatmotjo memiliki 6 tingkatan yaitu: A. Tahu (Know) Diartikan sebagai mengingat sesuatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Oleh sebab itu, tahu ini merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajarinya antara lain menyebutkan, sebagainya. B. Memahami (Comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menguraikan, mendefinisikan, menyatakan, dan

menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus dapat menjelaskan,

menyebutkan. Contoh: menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari. C. Aplikasi (Aplication) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya). Aplikasi disini dapat diartikan sebagai aplikasi atau penggunaan hukumhukum rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau langsung. D. Analisis (Analysis)

Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek kedalam komponen-komponen tetapi masih dalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata-kata kerja, dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya. E. Sintesis (Synthesis) Sintesis menunjukkan pada suatu kemampuan untuk

meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasiformulasi yang ada. dapat Misalnya meringkas, dapat dapat menyusun, menyesuaikan, dapat dan

merencanakan,

sebagainya terhadap suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada. F. Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan penilaian terhadap suatu materi atau objek penilaian berdasarkan suatu kriteria yang telah ada. Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi meteri yang ingin diukur dari subjek penelitian, kedalam pengetahuan yang ingin kita ketahui. 2. Tinjauan Tentang Umur Umur individu terhitung mulai saat dilahirkan sampai saat berulang tahun. Semakin cukup umur, tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih matang dalam berpikir dan bekerja (Nursalam 2001:133). Dengan bertambahnya umur seseorang maka kematangan dalam berpikir semakin baik sehingga akan termotivasi dalam memeriksakan kehamilan, juga

mengetahui akan pentingnya Antenatal Care. Semakin muda umurnya semakin tidak mengerti tentang pentingnya pemeriksaan kehamilan. 3. Tinjauan Tentang Pendidikan Pendidikan adalah suatu proses ilmiah yang terjadi pada manusia. Menurut Crow, pendidikan adalah suatu proses dimana pengalaman atau informasi diperoleh sebagai hasil dari proses belajar. Menurut Dictionary of Education, pendidikan dapat diartikan suatu proses dimana seseorang mengembangkan kemampuan sikap dan bentuk tingkah laku lainnya dalam masyarakat dan kebudayaan. Pada umumnya semakin tinggi pendidikan seseorang, semakin baik pula tingkat pengetahuannya.6 4. Tinjauan Tentang Pekerjaan Ibu Adalah kesibukan yang harus dilakukan terutama untuk menunjang kehidupannya dan kehidupan keluarga. Pekerjaan bukanlah sumber kesenangan tetapi lebih banyak merupakan cara mencari nafkah yang membosankan, berulang dan banyak tantangan.11 Bekerja yang pada umumnya menyita waktu, ibu yang bekerja mempunyai kesibukan yang banyak sehingga tidak mempunyai waktu untuk memeriksakan kehamilan. 5. Paritas Paritas adalah keadaan seorang ibu yang melahirkan janin lebih dari satu orang. Sueheilif Paritas adalah status seorang wanita sehubungan dengan jumlah anak yang pernah dilahirkannya. Ibu yang baru pertama kali hamil merupakan hal yang sangat baru sehingga termotivasi dalam memeriksakan kehamilannya ketenaga kesehatan. Sebaliknya ibu yang sudah pernah melahirkan lebih dari satu orang mempunyai anggapan bahwa ia

sudah berpengalaman sehingga tidak termotivasi untuk memeriksakan kehamilannya.12

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

3.1

Jenis dan Rancangan Penelitian Dalam penelitian ini penulis menggunakan jenis penelitian deskriptif, dengan maksud untuk memberikan gambaran tentang tingkat pengetahuan ibu hamil di Desa Mekarsari RW 27 Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung tanpa membuat perbandingan atau hubungan antara variabel independen dan variabel dependen. Penelitian deskriptif adalah suatu metode penelitian yang dilakukan dengan tujuan membuat gambaran tentang suatu keadaan secara objektif. A. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi Penelitian Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian yang akan diteliti. 6 Pada penelitian ini populasinya adalah semua wanita hamil yang berada di Desa Mekarsari RW 27 Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung. 2. Sampel Sampel adalah sebagian dari populasi yang dipilih dengan non random sampling tertentu untuk bisa memenuhi atau mewakili populasi.11 Pada penelitian ini sampel yang diambil adalah Ibu hamil yang berada di Desa Mekarsari RW 27 Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung. Tehnik Pengambilan Sampel Dalam penelitian ini, tehnik pengambilan sampel yang digunakan adalah non random sampling dengan cara accidental sampling, yaitu

semua ibu-ibu hamil yang berada di Desa Mekarsari RW 27 Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung dijadikan sebagai responden. 1) Kriteria Sampel a) Kriteria inklusi Adalah sampel yang dapat dimasukkan atau yang layak untuk diteliti, yaitu : (1) Ibu hamil di Desa Mekarsari RW 27 Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung yang bersedia untuk diteliti dengan menandatangani surat persetujuan peserta penelitian. (2) Tidak ada kelainan jiwa b) Kriteria eksklusi Adalah karakteristik sampel yang tidak layak untuk diteliti, yaitu : (1) Tidak bersedia untuk diteliti

Besar sampel Pada penelitian ini yang menjadi sampel adalah ibu hamil yang berada di Desa mekarsari RW 27 kecamatan baleendah kabupaten bandung pada tahun 2011. Besar sampel yang diteliti berdasarkan jumlah sampel yang ditentukan berdasarkan jumlah ibu hamil di Desa mekarsari RW 27 kecamatan baleendah kabupaten bandung yaitu sebanyak 25 ibu hamil.

B. Pengumpulan Data 1. Data Primer

Data yang diperlukan dari hasil pengumpulan dan pengolahan sendiri, dan tehnik yang akan dilakukan untuk pengumpulan data adalah turun ke lapangan dengan cara wawancara dengan setiap responden untuk memperoleh informasi serta data-data yang akurat yang berhubungan dengan masalah yang akan diteliti. 2. Data Sekunder Data yang diperoleh dari Ketua RW dan Kader di Desa mekarsari RW 27 kecamatan baleendah kabupaten bandung.

C. Pengolahan Data Pada penelitian ini penulis menggunakan tahap-tahap pengolahan data sebagai berikut : 1. Editing : Memeriksa kembali data dan menyelesaikannya

dengan rencana semula seperti yang diinginkan, apakah tidak ada yang salah. 2. Tabulating 3. Cleaning : Penyusunan data berdasarkan variabel yang diteliti : Membersihkan data dengan melihat variabel yang

digunakan apakah datanya sudah benar atau belum. 4. Describing : Menggambarkan atau menerangkan data.

D. Analisa Data Penelitian ini menggunakan analisa data deskriptif, yaitu memberikan gambaran tentang kondisi objek tanpa membuat suatu perbandingan. Analisa yang digunakan adalah analisa univariat dengan menghitung distribusi frekuensi dan proporsi tiap variabel yang diteliti.

3.2

Definisi Operasional 1. Tingkat pengetahuan Definisi : Kemampuan untuk mengingat dan menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan Antenatal Care (Pemeriksaan kehamilan). Alat ukur Cara ukur : Kuesioner :Wawancara dengan ibu hamil pada saat penelitian

dilaksanakan. Skala ukur Hasil ukur : Ordinal : 0 1 2. Umur Definisi : Umur dihitung berdasarkan ulang tahun terakhir responden yang dihitung berdasarkan tanggal, bulan dan tahun kelahiran. Alat ukur Cara ukur : Kuesioner : Wawancara dengan ibu hamil pada saat penelitian dilaksanakan. Skala ukur Hasil ukur : Ordinal : 1 = < 20 tahun 2 = 20-30 tahun 3 = > 30 tahun = kurang ( jika skor < 13 ) = baik ( jika skor 13 )

3.

Pendidikan Definisi : Pendidikan formal responden berdasarkan pendidikan ijasah terakhir.

Alat ukur Cara ukur

: Kuesioner : Wawancara dengan ibu hamil pada saat penelitian dilaksanakan.

Skala ukur Hasil ukur

: Ordinal : 0 = rendah 1 = tinggi ( < SMA) ( SMA )

4.

Pekerjaan Definisi : Merupakan kegiatan utama ibu dalam rangka mendapatkan penghasilan, yang dikelompokkan ke dalam ibu bekerja dan tidak bekerja. Alat ukur : Kuesioner dengan ibu hamil pada saat penelitian

Cara ukur : Wawancara

dilaksanakan. Skala ukur Hasil ukur : Ordinal : 0 = tidak bekerja (URT) 1 = bekerja 5. Paritas Definisi : Merupakan suatu angka/jumlah, kesekian kalinya ibu merasakan masa hamil. Alat ukur Cara ukur : Kuesioner : Wawancara dengan ibu hamil pada saat penelitian dilaksanakan.

Skala ukur

: Ordinal

Hasil ukur : 0 = 2 1=>2