Anda di halaman 1dari 12

Jurnal ISEI Jember, Volume 1 Nomor 1, Oktober 2011

ANALISIS PERDANGANGAN KOMODITAS KEDELAI EDAMAME DALAM RANGKA MENINGKATKAN EKSPOR NON MIGAS DI KABUPATEN JEMBER
Handriyono Fakultas Ekonomi Universitas Jember, Jurusan Manejemen Jl. Kalimantan No. 37 Jember Telp. 0331-337990 Rumah Jl. Latjend Suprapto XIV/ Pondok Bambu P-7 Jember Telp. 0331-332257 Abstract Berdasarkan analisis diperoleh hasil sebagai berikut: (a) harga perolehan petani hanya 45,33 persen, dimana keuntungan petani sebesar 31,18 persen dari harga FOB. Menurunya perolehan petani Kedelai Edamame disebabkan karena ketidakstabilan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar, juga pengaruh perubahan iklim global yang menyebabkan penurunan kualitas Kedelai Edamame; (b) margin keuntungan terbesar diperoleh ekportir dengan margin keuntungan sebesar 34,69 persen dari harga FOB dan pedagang pengumpul medapat benefit cost rasio yang paling besar, yaitu sebesar 10,54 persen, dan (c) Kedelai Edamame sebagian besar diekspor, sehingga dengan turunnya nilai tukar rupiah menyebabkan harga Kedelai Edamame tersebut naik. Secara nominal harga Kedelai Edamame secara rata-rata meningkat hampir 100 persen. Pada tahun 2007 ratarata per-kg sebesar Rp. 9000,-, naik menjadi Rp. 16.500,- pada tahun 2006. Pendapatan petani Kedelai Edamame, dengan menggunakan produktivitas rerata maka pada tahun 2006 pendapatan petani sebesar Rp. 11.070.000,- dan pada tahun 2007 pendapatan petani sebesar Rp. 18.810.000,Untuk mengembangkan usaha tani Kedelai Edamame dan melihat besarnya peranan Kedelai Edamame terhadap perekonomian Kabupaten Jember perlu untuk ditingkatkan produktivitasnya, mengingat masih dimungkinkan untuk ditingkatkan. Untuk itu perlu ditingkatkan investasipada komoditas tersebut, dengan pemberian kredit pada petani, maka pertlu meningkatkan produksi dengan melakukan pengolahan usahataninya lebih intensif dan perlu adanya penyuluhan terutama dalam upaya peningkatan produktivitas usahatani Kedelai Edamame. Kata Kunci : Kedelai Edamame, struktur pasar, nilai tukar

1.

Pendahuluan Krisis yang melanda perekonomian Indonesia belum juga berakhir, hal ini ditandai dengan belum membaiknya kinerja ekonomi nasional. Krisi yang diawali dengan adanya gejolak moneter kemudaian berkembang dan mengarah pada krisis moneter dan berkelanjut pada krisis ekonomi. Krisis ekonomi ini menyebabkan nilai tukar (exchange rate) rupiah melemah. Melemahnya nilai tukar rupiah menyebabkan industri yang menggunakan komponen import yang tinggi menjadi ambruk/kolaps. Untuk menopang perekonomian nasinal, sekotor pertanian menjadi salah satu pilihan untuk dikembangkan. Sector pertanian merupakan resources based, hal ini dapat dilihat dari pangsa sector pertanian yang cukup besar terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Kenyataan ini juga membuktikan bahwa sector pertanian mampu bertahan dalam kondisi krisis sekarang, yang ditandai dengan eksport komoditas sector tersebut terus meningkat. 43

Handriyono, Analisis Perdangangan Komoditas Kedelai Edamame`

Peranan sector pertanian dapat dilihat dari jumlah tenaga kerja dan sumbangan (share) sector tersebut terhadapa Produk Domestik Bruto yang cukup besar. Melihat jumlah tenaga kerja pada sector pertanian seharusnya sejak semula sector ini mendapat perhatian lebih, kenyataannya justru sebaliknya. Sector industry yang tidak berbasis (foot loose industry) pada sumber daya yang ada (resource based) justru yang dikembangkan, akibatnya perkembangan sector ini sangat rentan terhadap gejolak yang terjadi di luar negeri. Salah satu komoditas sub-sektor pertanain tanaman pangan yang cukup menonjol adalah komoditas kedelai edamame. Komoditas tersebut mempunyai karakteristik yang unik, di satu pihak komoditas ini member nilai ekonomi yang cukup besar (penyediaan lapangan kerja, pendapatan Negara, dan perolehan devisa baik dari ekspor kedelai edamame maupun produk olahannya) Komoditas kedelai edamame berkaitan erat dengan perdagangan luar negeri atau ekspor, karena sebagian besar komoditas tersebut merupakan barang ekspor. Sejak perkembangan komoditas kedelai edamame merupakan komoditas asli dari jepang, kebutuhan akan komoditas makin meningkat pula. Komoditas tersebut memiliki kaitan ke depan (forward linkage)dan ke belakang (backward linkage) yang sangat kuat baik dalam aspek penyerapan lapangan lerja, sember pendapatan Negara dan pendapatan petani maupun jasa sector lainnya, yang akhirnya mampu sebagai penggerak ekonomi perdesaan maupun perkotaan.

2.

Perumusan Masalah Pemasarn produksi komoditas kedelai edamame yang dilakukan petani biasanya melalui pedagang perantara. Sifat dari produk komoditas kedelai edamame ini adalah fancy product, artinya petani tidak mengetahui kualitas dari kedelai edamame yang dihasilkan, sifat inilah yang menyebabkan petani pada posisi yang kurang menguntukngkan. Berdasarkan uraian pada latar belakang, sub-sektor pertanian tanaman khususnya komoditas kedelai edamame mempunyai keunggulan dan peran yang cukup besar dalam perekonomian Kabuapten Jember. Permaslahan yang diajukan dalam penelitian ini, antara lain : a) Bagaimana kelembagaan dan pola tataniaga/pemasaran komoditas kedelai edamame dalam rangka peningkatan ekspor non migas. b) Bagaiman struktur pasar komoditas kedelai edamame akibat penurunan nilai tukar.

3. Tinjauan Pustaka a. Kelembagaan Pemasaran Komoditas Pertanian Komoditas pertanian, khususnya kedelai edamame mempunyai karakteristik tersendiri yang membawa akibat petani pada posisi yang kurang menguntungkan dalam penentuan harga hasil produksinya. Kondisi ini disebabkan adanya informasi yang asimetrik (asymmetric information), akibat dari komoditas tersebut bersifat fancy product. Harga bukan sebagai pembawa informasi yang sempurna, artinya pasar persaingan tidak terwujud. Kondisi tersebut jauh dari persyaratan sebagai suatu pasar bersaing sempurna, sehingga diperlukan suatu kelembagaan yan gmengatur agar pelaku-pelaku yang terlibat dalam tatniaga mendapatkan keuntungan yang wajar (normal profit). Harga bukan sebagai pembawa informasi yang sempurna, artinya semua persaingan tidak terwujud. 44

Jurnal ISEI Jember, Volume 1 Nomor 1, Oktober 2011

Kondisi seperti ini jauh dari persyaratan sebagai suatu pasar bersaing sempurna, sehingga diperlukansuatu kelembagaan yang mengatur agar pelaku-pelaku yang terlibat dalam tataniaga mendapatkan keuntungan yang wajar (normal profit). Tanpa adanya suatu kelembagaan yang mengaturnya akan mengakibatkan kinerja yang kurang baik dalam system pemasaran komoditas tersebut. Konsepsi kelembagaan menurut beberapa ahli, North (1991), Bardan (1989), mengemukakan bahwa kelembagaan (institutions) memiliki dua pengertian, yaitu; kelembagaan sebagai aturan main (rule of the games), dan kelembagaan sebagai suatu organisasi yang berhierarki. Sebagai aturan main kelembagaan diartikan sebagai sekumpulan aturan, baik formal maupun informal, tertulis maupun tidak tertulis, mengenai tata hubungan manusia dengan lingkungannya yang menyangkut hak-hak dan perlindungan hak-haknya serta tanggung jawabnya. Sedangkan kelembagaan sebagai organisasi yang berhierarki, dalam pengertian ekonomi menggambarkan aktivitas ekonomi yang dikoordinasikan bukan oleh system harga tetapi oleh mekanisme administrative atau kewenangan. Schmid dalam Pakpahan (1989), menyatakan bahwa kelembagaan dicirikan oleh 3 (tiga) komponen utama, yaitu; yuridiksi, hak property (property right), dan aturan representasi (rule of representation). Batas yuridiksi berperan dalam mengatur alokasi sumberdaya, yaitu menentukan siapa dan apa yang tercangkup dalam suatu kelembagaan. Hak property mengandung pengertian suatu hak dan kewajiban yang didefiniskan atau diatur oleh hokum, adat, dan tradisi atau consensus yang mengatur hubungan antara anggota masyarakat dalam hal kepentingannya terhadap sumbedaya. Aturan representatif mengatur permaslahan siapa yang berhak berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan mengenai suatu alokasi dan distribusi sumberdaya. Selanjutnya, Anwar (1997) menyatakan bahwa kebanyakan penelaah teori agency meliputi masalah informasi yang asimetrik, dimana principal atau pedagang mempunyai informasi yang lengkap mengenai harga kedelai edamame, sehingga piha principal mampu mempengaruhi tindakan dari agent. Untuk itu principal menciptakan suatu struktur insentif yang mampu menciptakan situasi yang kondusif, sehingga petani kedelai edamame akan bekerja dengan sebaik-baiknya. Kelembagaan ini akan menunjang pengembangan komoditas pertanian tanaman pangan khususnya komoditas kedelai edamame, yang akan membawa pada peningkatan pendapatan petani kedelai edamame karena tingkah laku pasar (market conduct) yang memihak kepada petani dengan adanya informasi pasar yang asimetrik dan menimbulkan struktur pasar yang tidak bersaing bahkan eksistensi pasar tidak terwujud (missing market). b. Kinerja Pemasaran Komoditas Pertanian Pemasaran merupakan suatu kegiatan ekonomi yang bertujuan untuk menggerakkan suatu barang dari produsen untuk sampai kedapa konsumen. Dalam ilmu ekonomi ada beberapa fungsi pemasaran, yang meliputi penyimpangan/ storing, transportasi, packing and packaging, pertukaran/biaya transaksi, informasi pasar, dan penjualan. Semua kegiatan dalam setiap fungsi pemasaran tersebut memerlukan biaya yang ditanggung oleh lembaga pemasaran. Biaya-biaya tersebut oleh lembaga pemasaran akan dilimpahkan kepada pihak lain, dengan menaikkan harga jual komoditas yang dipasarkan atau menekan harga di tingkat produsen. Sepeti halnya komoditas ekspor pertanian lainnya, komoditas kedelai edamame bersifat buyers market dimana harga jual sudah tertentu maka tidaklah mungkin untuk menaikkan harga jual. Dengan meningkatnya biaya pemasaran, maka harga yang diterima petani kedelai edamame perlu dilakukan dengan meningkatkan efisiensi 45

Handriyono, Analisis Perdangangan Komoditas Kedelai Edamame`

pemasaran melalui peningkatan efektivitas fungsi-fungsi pemasaran, sehingga biaya pamasaran dapat ditekan. Efisiensi perasional menekankan pada kemampuan meminimumkan biaya yang digunakan untuk menggerakan suatu komoditas dari produsen ke konsumen. Indicator untuk mengukur efisiensi operasional adala margin pemasaran, yaitu merupakan perbedaan tingkat harga pada konsumen akhir untuk suatu komoditas dengan tingkat harga yang diterima petani/produsen untuk komoditas yang sama. Selain margin pemasaran, indicator yang dianggap cukup berguna untuk mengukur efisiensi pemasaran adalah dengan membandingkan bagian yang diterima oleh petani (farmers share) dari harga yang dibayar konsumen akhir. Sedangkan efisiensi harga menekankan keterkaitan harga dalam mengalokasikan komoditas dari konsumen ke produsen, yang disebabkan karena perubahan tempat, bentuk, dan waktu. Efisiensi harga antara lain dapat dilihat dari indeks keterkaitan pasar (market connection index), (Timmer, 1987). Suatu system pemasaran dikatakan efisienapabila pada komoditas yang diperlukan margin pemasaran yang rendah dan koefisien keterkaitan pasar yang tinggi. Namun hal tersebut tidak berlaku mutlak, margin pemasaran dan koefisien keterkaitan pasar sebagai indicator efisiensi pemasaran harus saling melengkapi. Perbaikan dalam system pemasaran akan berpengaruh terhadap margin pemasaran dan pendapatan petani. Tingginya biaya pemasaran dianggap sebagai indicator belum efisiennya system pemasaran, sehingga perlu ditelaah penyebab tingginya margin tersebut. Dengan meneliti penyebaran margin diharapkan dapat ditemukan factor penyebab inefisen pemasaran serta alternative pemecahannya. Dalam komoditas kedelai edamame kegiatan pemasaran layak untuk diperhitungkan, karena kegiatan tersebut akan mempengaruhi secara langsung pendaoatan petani melalui harga. Memperhatikan system pemasaran komoditas terebut berada oada posisi rebut tawar (bargaining position) yang rendah, hal ini disebabkan sifat produk dan karakteristikusaha tani. Untuk meningkatkan pendapatan petani kedelai edamame. System pemasaran harus berjalan efisien, dengan menekankan biaya-biaya dalam pemasaran komoditas tersebut. System pemasarn komoditas tersebut yang efisien, maka pendapatan petani akan meningkat dan akan berdampak selanjutnya pada pembangunan wilayah secara luas. c. Analisis Permintaan Kedelai Edamame Analisis dalam system permintaan umumnya dapat diduga (estimation) dengan cara menerapkan teori ekonomi yang menyangkut prilaku konsumen (consumer behavior) dengan menyertakan beberapa asumsi dasar (aximoes) yang berkaitan dengan masalah yang dihadapi. Asumsi-asumsi yang digunakan berdasarkan pada pertimbangan yang dilakukan secara empiric, bahwa suatu persamaan system permintaan dapat diduga dengan menggunakan data deret waktu (time series) yang tersedia. Konsep teori permintaan biasanya dimulai dari pemahaman terhadap teori prilaku konsumen yang mengasumsikan, bahwa konsumen akan berusaha memaksimumkan kepuasan (utility) dalam mengkonsumsi sejumlah komoditas (bundles of commodity). Kepuasan konsumen dicerminkan dalam utility, yang merupakan ukuran subjektif dari kuantitas kombinasi barang-barang (commodities) dan jasa yang dikonsumsi oleh konsumen. Menurut teori kepuasan yang berlaku, maka untuk memperoleh kepuasan konsumen yang maksimum sesuaidengan kemampuan tingkat pendapatan yang terbatas, maka konsumen mempunyai pola kesukaan (preference) terhadap alternative berkas komoditas (q) yang paling disenangi. 46

Jurnal ISEI Jember, Volume 1 Nomor 1, Oktober 2011

Dengan demikian konsumen dapat dianggap dapat membuat suatu urutan (ordering atau ranking) pilihan-pilihan yang lengkap (complete) dan konsistensi terhadap berkas-berkas komoditas yang tersedia. Dalam membuat suatu urutan komoditas yang memberikan kepuasan yang optimum konsumen menghadapi kendala mereka yang terbatas. Berdasarkan asumsi mengenai preferensi konsumen, maka dapat diperoleh suatu fungsi utilitas yang dapat memwakili preferensi konsumen, misalnya f(q). Fungsi utilitas ini sebagai fungsi dari vector komoditas q = [ q1, q2, ., qn ] yang akan dikonsumsi olehnya. Fungsi permintaan yang diturunkan dari utilitas konsumen merupakan hubungan fungsional antara tingkat permintaan konsumen dengan factor-faktor yang mempengaruhi permintaan tersebut. Dalam fungsi permintaan kedelai edamame ini factor harga merupakan factor penting yang perlu dianalisis, karena dengan mengetahui koefisien dari harga kita akan mengetahui elastisitas harga. Elastisitas harga ini menunjukan seberapa besar perubahan harga akan mempengaruhi tingkat permintaan konsumen. Dengan menganalisis permintaan suatu komoditas penggunaan model dapat digunakan sebagai pendekatan. Penggunaan model digunakan sebagai penggambaran hasil abstraksi dari suatu masalah yang berhubungan dengan persoalan dunia nyata (the real word problem). Dunia nyata tersebut dicoba untuk mengambarkan secara sederhana dalam bentuk hubungan matematik, yaitu hubungan antara variable-variabel. Pembentukan model dalam menduka parameter permintaan dapat dilakukan melalui model pendugaan persamaan tunggal (single equation) maupun dengan system permintaan (demand sytem), yaitu melalui model Linear Expenditure System (LES), model Almost Ideal Demand System (AIDS), dan model Frisch. Selanjutnya, Anwar (1998), menyatakan suatu model ekonomi yang baik harus memenuhi unsur-unsur yang sangat pokok dari persoalan ekonomi yang akan diteliti. Unsure-unsur tersebut antara lain; (1) relevant (actual) dengan persoalan yang akan dipecahkan, (2) manageable (dapat diwujudkan), artinya sesuai dengan keterbatasan data, tenaga, biaya, peralatan, dan waktu yang tersedia, dan (3) elegant, artinya model tersebut mampu mengesampingkan hal-hal yang kurang berguna. Dalam teori ekonomi yang menyangkut permintaan suatu komoditas dinyatakan ada hubungan ketergantungan antara jumlah komoditas yang diminta kepada beberapa factor, antara lain; (a) harga komoditas tersebut, (b) harga barang pengganti, dan (c) nilai tukar, dan selera konsumen. Oleh karena itu, hubungan antara permintaan kedelai edamame Besuki dengan factor-faktor yang mempengaruhi dapat dinyatakan sebagai berikut : Qdt = f ( Pt, P1, E ), Dimana; Qdt Pt P1 E = jumlah kedelai edamame yang diminta, (dalam kg) = harga kedelai edamame, (Rupiah/kg) = harga kedelai local, (Rupiah/kg) = nilai tukar rupiah terhadap US $

Dengan telah terbentuknya model tersebut maka dapat dibuat suatu pernyataan matematis, dimisalkan hubungan fungsional antara jumlah yang dikonsumsikan dengan factor-faktor penentu bersifat eksponensial, maka didapat persamaan sebagai berikut: Qdt = Ptt, P1i, E et 47

Handriyono, Analisis Perdangangan Komoditas Kedelai Edamame`

Dengan syarat: > 0 dan 0 < t, 1,, n < 1 untuk menduga parameter-parameter permintaan kedelai edamame di atas, dengan melakukan transformasi kedalam model linear dalam bentuk logaritma, maka persamaan eksponensial menjadi model linear seperti berikut: In Qdt = In + t In Pt+ 1 In P1+ In ET + t Dimana; , t, 1,, n adalah parameter-parameter, t adalah stochastic error terms. Parameter yang terdapat dalam fungsi logaritma yang terbentuk linear dapat diduga selanjutnya dengan menggunakan metode-metode pendugaan, yaitu dengan Metode Kuadrat Terkecil Biasa (Ordinary Least Square, OLS). Sifat data ekonomi yang sering tidak memenuhi syarta asumsi dari metode tersebut, sehingga menghasilkan nilai yang tidak dapat dipecaya (sesuai sifat penduga kuadrat terkecil yang tertuang dalam dalil Gauss-Markov). Dalil tersebut menyatakan penaksiran linear kuadrat terkecil (Ordinary Least Square) yang memenuhi persyaratan seluruh asumsi klasik dinamakan penaksiran yang BLUE (Best Linear Unbiased Estimator) Dengan diketahuinya parameter-parameter fungsi perminyaan, maka dapat dicari elastisitas permintaan yang menggambarkan respons konsumen terhadapat permintaan suatu barang sebagai akibat perubahan factor-faktor yang mempengaruhi permintaannya. Semakin elastic bentuk permintaan suatu barang menunjukkan semakin sensitive perubahan factor-faktor yang mempengaruhi permintaan konsumen terhadap suatu barang. 4. Metode Penelitian Penelitian dilakukan di Kabupaten Jember Jawa Timur, dengan pertimbangan bahwa daerah tersebut merupakan salah satu sentra kedelai edamame Indonesia. Sebagai sample dipilih empat kecamatan, dimana dua kecamatan mewakili mewakili wilayah Utara dan dua kecamtan mewakili wilayah Selatan. Masing masing kecamatan dipilih dua desa yang akan diambil sebagai sampel sebagai purposive. Pemilihan sampel baik untuk kecamatan maupun desa, didasarkan pada pertimbangan bahwa wilayah tersebut merupakan sentra produksi kedelai edamame di Kabupaten Jember. Analisis kelembagaan tataniaga komoditas kedelai edamame dilakukandengan menggunkan analisis diskriptif, untuk memperoleh gambaran mengenai hubungan antara petani kedelai edamame yang bertindak sebagai agen dengan pedagang kedelai edamame yang bertindak sebagai principal. Analisis kelembagaan ini menitik beratkan pada aspek aspek yang menyangkut bagaimana petani dan pedagang membagi risiko. Sedangkan analisis pemasaran digunakan untuk mengukur tingkatefisiensi system tataniaga, yang menyangkut efisiensi operasional dan efisiensi harga. Sistem tataniaga menjadi efisien apabila bagian yang diterima para pelaku tataniaga (petani,pedagang kecil,pedagang besar,dan ekspotir)layak dan stabil. Margin tataniaga ditentukan oleh oleh jasa/pengeluaran yang diberikan dan keuntungan yang diambil oleh setiap lembaga yang terkait dalam kegiatan tataniaga. Margin tataniaga ini merupakan selisih antara harga ditingkat konsumen dengan harga di tingkat produsen. Dalam analisis fungsi oermintaan kedelai edamame, dimana komoditas tersebut sebagian besar diekspor, sehingga nilai tukar/kurs akan mempengaruhi tingkat harga di negara pengimpor. Maka secara matematis dapat dituliskan fungsi permintaan kedelai edamame sebagai berikut : 48

Jurnal ISEI Jember, Volume 1 Nomor 1, Oktober 2011

Ln Qdt = ln 0 + 1 ln Plt + 2 ln P2t + 3 ln Et + Dimana : Qdt P1 P2 E t = Jumlah permintaan kedelai edamame, (dalam kg) = Harga kedelai edamame,(Rupiah/kg) = Harga kedelai lokal, (Rupiah/kg) = Nilai tukar rupiah = Tahun 1, 2, , n = Penduga parameter = stochastic error terms

5. 5.1

Hasil Penelitian dan Pembahasan Analisis Kelembagaan Pemasaran Komoditas Kedelai Edamame Kelembagaan pemasaran Komoditas Kedelai Edamame di Kabupaten Jember, telah berkembang cukup lama. Bentuk lembaga pemasaran Kedelai Edamame adalah kelembagaan tradisional, dimana pedagang memiliki peran yang sagat penting. Pada kelembagaan pemasaran ini hubungan antara petani dan pedagang sangatlah erat, yang digambarkan dari pola pemasaran komoditas tersebut. Dalam melakukan perdagangan/transaksi petani biasanya melalui pedagang pengumpul, hal ini dilakukan karena apabila mereka melakukan perdagangan langsung sering kali mengalami kesulitan.Kesulitan tersebut berupa biaya transportasi yang besar, risiko tidak dapat masuk gudang juga besar, dan risiko perolehan harga yang rendah. Untuk mengurangi risiko tersebut maka petani melakukan perdagangan melalui pedagang pengumpul. Petani dalam transaksinya hanya kepada mereka yang telah lama kenal, hal ini dikarenakan petani mendapat intensif/komensasi yang berupa kemudahan penyortiran kedelai edamame, kemudahan melakukan pinjaman mendadak, dan barang dagangan dijemput.Insentif yang diberikan oleh pedagang tersebut menyebabkan petani tidak akan melakukan transaksi terhadap komoditasnya kepada pedagang lain. Diantara pedagang dengan eksportir juga terdapat hubungan yang erat, dimana pedagang dalam melakukan perdagangannya biasanya tidak akan beralih kepada eksportir/gudang yang lain.Untuk menjaga ikatan tersebut maka diciptakan dalam bentuk insentif insentif yang diberikan kepada pedagang. Kuatnya hubungan tersebut, seolah diantara mereka ada kesepakatan untuk menanggung risiko bersama sehingga diantara keduanya terjalin ikatan sosial ekonomi yang kuat. Kelembagaan pemasaran kedelai Edamame, komoditas merupakan salah satu yang ditransaksikan. Selain komoditas ada transaksi lain yaitu transaksi kredit, hal ini terjadi karena jenis kedelai Edamame tersebut membutuhkan biaya yang cukup besar.Bentuk kredit yang diberikan berupa pinjaman modal yang digunakan untuk biaya operasional, dari pengolahan tanah sampai dengan pengopenan hasil panen.Pinjaman yang diberikan tidak terdapat aturan tertulis, namun berupa kesepakatan diantara mereka. Kesepakatan tersebut berupa hasil panen harus dijual kepadanya, dan pinjaman tersebut tidak dikenakan bunga tetapi berupa bagi hasil. Besarnya bagi hasil tersebut berupa berdasarkan kesepakatan bersama, biasanya 2 % dari penghasilan bersihyaitu selisih harga jual total dengan biaya total. Hal ini menunjukkan antara petani dan pemberi pinjaman sama sama menanggung risiko. Walaupun harga yang dikenakan sedikit lebih rendah dari harga pasar, namun petani mendapatkan kemudahan dalam pemberian kredit dan risiko kegagalan panen ditanggung bersama.Selain berupa uang, kredit yang diberikan pedagang kepada petani berupa pupuk dan bibit. Kesemua transaksi tidak didasarkan pada perjajian tertulis, 49

Handriyono, Analisis Perdangangan Komoditas Kedelai Edamame`

karena kalau tertulis tidak ada petani yang mau. Transaksi lainnya yang dilakukan oleh petani dan pedagang adalah transaksi asuransi, yaitu dengan memberikan jaminan harga yang lebih baik apabila petani dapat menghasilkan kualitas kedelai Edamame seperti ynag dikehendaki oleh pedagang. 5.2 Analisis Efisiensi Pemasaran Usaha tani Kedelai Edamame, seluruh produksi yang diperoleh diperuntukan untuk dijual atau dipasarkan.Pada umumnya dalam pengerahanproduk dari produsen hingga konsumen, pedagang melakukan fungsi fungsi pemasaran yang dapat meningkat nilai guna menurut bentuk, tempat maupun waktu. Kenaikan nilai guna bentuk dan kualitas dihasilkan dari pelaksanaan fungsi pengolahan dan sortasi atau grading, sedangkan kenaikan nilai guna tempat dan waktu dihasilkan dari fungsi pengangkutan dan penyimpanan. Dalam pemasaran Kedelai Edamame di lokasi penelitian, kegiatan penyimpanan dengan tujuan meningkatkan harga jual tidak pernah dilakukan oleh pedagang. Kegiatan sortasi/grading dilakukan oleh pedagang pengumpul, pedagang besar,dan eksportir, namun sortasi yang dilakukan oleh pedagang tidak terlalu teliti. Untuk Kedelai Edamame sortasi dilakukan secara detail oleh eksportir. 5.3 Analisis Pemasaran Kedelai Edamame Sebagian besar petani menjual komoditasnya kepada pedagang pengumpul, hal ini disebabkan dalam pemasaran Kedelai Edamame sudah terdapat suatu keterkaitan antara pedagang dan eksportir. Sehingga apabila petani menjual langsung ke gudang/eksportir ada kemungkinan tidak diterima. Untuk menghindari kemungkinan tersebut petani menjual komoditasnya kepada pedagang pengumpul. Margin tataniaga merupakan penjualan atas biaya tataniaga dan keuntungan lembaga tataniaga yang terlibat dalam transaksi.Dalam pembahasan margin tataniaga ini mulai dari tingkat produsen yaitu petani Kedelai Edamame hingga Kedelai Edamame siap di atas kapal untuk di ekspor (FOB) nampak pada tabel 1.

50

Jurnal ISEI Jember, Volume 1 Nomor 1, Oktober 2011

Tabel 1. Struktur Keuntungan dan Biaya Pelaku Tata Niaga No Keterangan Biaya (Rp/Kg) Harga (Rp/Kg) I Harga di tingkat petani 16.500 Keuntungan petani 8.079 1. Biaya pengolahan 658 2. Biaya sewa lahan 2.193 3. Biaya tenga kerja 2.851 4. Biaya bibit 570 5. Biaya obat/pupuk 965 6. Biaya Petik 1.184 Total biaya 8.421 II Harga beli pedagang pengumpul 16.500 Margin Keuntungan 685 1. Biaya tenaga kerja 10 2. Biaya pengangkutan 50 3. Biaya gudang 5 Total biaya 65 III Harga beli pedagang besar 17.250 Margin keuntungan 2.885 1. Biaya tenaga kerja 300 2. Biaya pengangkutan 50 3. Biaya gudang 15 Total biaya 365 IV Harga beli gudang/eksportir 20.500 Margin keuntungan 12.626 1. Biaya tenaga kerja 1.245 2. Biaya pengangkutan 100 3. Biaya pengepakan 1.652 4. Biaya pengebalan 125 5. Biaya susut 50 6. Biaya ekspedisi 100 Total Biaya 3.272 V Harga f.o.b 36.398 Benefit cost ratio Petani = 0,96 Pedagang pengumpul = 10,54 Pedagang besar = 7,90 Gudang/eksportir = 3,86 Sumber: data primer, diolah 2007.

Persentase 45,33 22,20 1,81 6,03 7,83 1,57 2,65 3,25 14,15 45,33 1,88 0,03 0,14 0,02 0,18 47.39 7,93 0,82 0,14 0,04 1,00 56,32 34,69 3,42 0,28 4,54 0,34 0,14 0,28 8,99 100,00

Berdasarkan Tabel 1 harga yang diterima petani relative kecil bila dibandingkan dengan perolehan petani tahun sebelumnya. Harga perolehan petani hanya 45,33 persen, dimana keuntungan yang diperoleh petani sebesar 31,18 persen dari harga FOB. Menurunnya perolehan petani Kedelai Edamame disebabkan karena ketidakstabilan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar, juga pengaruh perubahan iklim global yang menyebabkan penurunan kualitas Kedelai Edamame. Margin keuntungan terbesar diperoleh eksportir dengan margin keuntungan sebesar 34,69 persen dari harga FOB. Namun apabila margin keuntungan yang masing masing tataniaga tersebut dibandingkan dengan biaya yang 51

Handriyono, Analisis Perdangangan Komoditas Kedelai Edamame`

dikeluarkan, pedagang pengumpul mendapat Benefit cost ratio yang paling besar, yaitu sebesar 10,54. Analisis keterpaduan pasar digunakan untuk melihat sejauhmana pembentukan harga di tingkat produsen dipengaruhi oleh perubahan harga di tinggkat konsumen akhir. Selain dapat digunakan untuk mengetahui keterpaduan pasar jangka pendek, analisis ini juga dapat dipakai untuk mengetahui keterpaduan pasar jangka panjang. Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan formula dari Timmer, ditunjukkan tabel 2. Tabel 2. Perhitungan Index of Market Connection Variabel Konstanta Pt Pt-1 R1 Rt-1 Koefisien 0,472 - 0.857 T (1,57) (-2,66) Sumber: data primer, diolah 2007. 0,899 (20,48) -

Rt-1 0,093 (-2,49)

IMC 0,187

Hasil perhitungan didapat bahwa IMC sebesar 0,19, artinya keterpaduan pasar Kedelai Edamame cukup kuat. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan harga di tingkat konsumen akan ditransmisikan ke tingkat produsen, walaupun tidak proporsional. Kuatnya keterkaitan pasar tersebut, disebabka petani Kedelai Edamame relative lebih maju, sehingga arus informasi yang diterima petani lebih lancar. Selain itu, kuatnya keterkaitan pasar terhadap Kedelai Edamame karena ditunjang oleh infrastruktur yang memadai, sehingga akses petani terhadap pasar lebih baik. Dalam jangka panjang dimana d2 = 0,90, hal ini menunjukkan bahwa dalam jangka panjang keterpaduan pasar komoditas ini sangat tinggi. Artinya apabila terjadi perubahan harga di pasar sentral akan ditransmisikan secara penuh ke pasar lokal dalam jangka panjang. 5.4 Analisis Tingkat Kesejahteraan Petani Kedelai Edamame Seperti yang telah diketahui bahwa Kedelai Edamame sebagian besar untuk di ekspor. Untuk mengetahui keuntungan petani Kedelai Edamame akibat penurunan nilai tukar, dengan melakukan analisis permintaan dari komoditas tersebut untuk mengetahui elastisitasnya. Permintaa komoditas Kedelai Edamame yang diturunkan dari utilitas konsumen yang merupakan hubungan fungsional antara tingkat permintaan tersebut. Dalam fungsi permintaan Kedelai Edamame faktor harga merupakan faktor penting yang perlu dianalisis, untuk mengetahui elastisitas harga dari permintaan Kedelai Edamame tersebut. Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan Shazam Version 6.2, didapat fungsi permintaan Kedelai Edamame sebagai berikut : ln Qdt = 16,67 0,52 ln P1t 0,07 ln P2t-1 + 0,26 ln Et t-hitung 21,34 (-2,84) (-3,52) 0,97 P-value 0,0047 0,0007 0,16 R2 = 0,68 F = 7,29 D.W. = 2,95 Keterangan : Qdt = jumlah permintaan Kedelai Edamame tahun ke t, (kg), P1t = harga Kedelai Edamame tahun ke t,(Rupiah/Kg), P2t-1 = harga kedelai lokal tahun ke t, (Rupiah/Kg), Et = nilai tukar Rupiah/US$ tahun ke t, (Rupiah/Kg). 52

Jurnal ISEI Jember, Volume 1 Nomor 1, Oktober 2011

Untuk melakukan uji apakah model tersebut memenuhi syarat secara statistic dengan menggunakan uji F, didapat model tersebut dinilai cukup digunakan sebagai penduga permintaan Kedelai Edamame. Berdasarkan nilai F dari tabel F pada tingkat signifikasi 1 % adalah F(4,15) = 4,89, karena nilai F statistik lebih besar disbanding nilai F tabel, maka Ho ditolak. Untuk mengetahui ada tidaknya outokorelasi, dengan menggunkan uji h-statistic. Penggunaan uji ini disebabkan dalam model terdapat variable lag (lagged values), sehingga penggunaan Durbin Watson tidak dapat digunakan (Sumodiningrat,1996). Pengujian distribusi h mengikuti pola standartdized normal distribution, dengan menggunakan D.W. maka didapat statistik-h sebesar -25,39, karena statistic-h lebih kecil dari 1,645 (tingkat signifikan/nyata 5%) maka tidak terdapat outokorelasi tipe pertama, (Supranto,1984). Dengan menggunakan fungsi permintaan tersebut, elastisitas harga Kedelai Edamame terhadap jumlah permintaannya sebesar 0,52, atau bersifat inelastis. Artinya apabila harga Kedelai Edamame tersebut naik 100 persen maka jumlah permintaan turun 52 persen. Kedelai Edamame sebagian besar diekspor, sehingga dengan turunnya nilai tukar rupiah menyebabkan harga Kedelai Edamame tersebut naik. Secara nominal harga Kedelai Edamame secara rata rata meningkat hampir 100 persen. Pada tahun 2007 rata rata per-kg sebesar Rp. 9.000,- naik menjadi Rp. 16.500,- pada tahun 2006. Pendapatan petani Kedelai Edamame, dengan menggunakan produktivitas rerata maka pada tahun 2006 pendapatan petani sebesar Rp. 11.070.000,- dan pada tahun 2007 pendapatan petani sebesar Rp. 18.810.000,-. Sedangkan biaya produksi mengalami peningkatan, tahun 2006 sebesar Rp. 6.428.500,- menjadi Rp. 9.238.600,- pada tahun 2007. Dengan demikian pendapatan bersih (selisih pendapatan dan biaya produksi), pada tahun 2006 sebesar Rp. 4.641.500,- meningkat menjadi Rp. 9.238.600,- pada tahun 2007. Namun bukan berarti kenaikan tersebut akan meningkatkan petani secara riil, bila diboboti dengan indeks harga konsumen pada periode yang sama. Pada tahun 2006 indeks harga sebesar 176,48 persen, dan tahun 2007 sebesar 207,10 persen, sehingga pendapatan riil petani Kedelai Edamame meningkat sebesar 69,62 persen.

6. Kesimpulan Harga yang diterima petani relative kecil bila dibandingak dengan perolehan petani sebelumnya. Harga perolehan petani hanya 45,33 persen, dimana keuntungan yang diperoleh petani sebesar 31,18 persen dari harga FOB. Menurunnya perolehan petani Kedelai Edamame disebabkan karena ketidakstabilan nilai tukar Rupiah terhadap Dollar, juga pengaruh perubahan iklim global yang menyebabkan penurunan kualitas Kedelai Edamame. Margin keuntungan terbesar diperoleh eksportir dengan margin keuntungan sebesar 34,69 persen dari harga FOB. Namun apabila margin keuntungan yang masing masing pelaku tataniaga tersebut dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan, pedagang pengumpul mendapat benefit cost ratio yang paling besar, yaitu sebesar 10,54. Hasil perhitungan didapat bahwa IMC sebesar 0,19, artinya keterpaduan pasar Kedelai Edamame cukup kuat. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan harga di tingkat konsumen akan ditransmisikan di tingkat produsen, walaupun tidak proporsional. Kuatnya keterkaitan pasar tersebut, disebabkan petani Kedelai Edamame relatif lebih maju, sehingga arus informasi yang diterima petani lebih lancar. Kedelai Edamame sebagai besar diekspor, sehingga dengan turunnya nilai tukar rupiah menyebabkan harga Kedelai Edamame tersebut itu naik. Secara nominal harga Kedelai Edamame secara rata rata meningkat hampir 100 persen. Pada tahun 2007 rata 53

Handriyono, Analisis Perdangangan Komoditas Kedelai Edamame`

rata per-kg sebesar Rp. 9.000,- naik menjadi Rp. 16.500,- pada tahun 2006. Pendapatan petani Kedelai Edamame, dengan menggunakan produktivitas rerata maka pada tahun 2006 pendapatan petani sebesar Rp. 11.070.000,- dan pada tahun 2007 pendapatan petani sebesar Rp. 18.810.000,-. Saran yang disampaikan dari hasil penelitian ini : Melihat besarnya peranan kedelai edamame terhadap perekonomian Kabupaten Jember perlu untuk ditingkatkan produktivitasnya, mengingat masih dimungkinkan untuk ditingkatkan. Untuk itu perlu ditingkatkan investasi pada komoditas tersebut, dengan pemberian kredit pada petani.

Daftar Referensi Terpilih Anwar, A., 1996a, Kajian Kelembagaan Untuk Menunjang Pengembangan Agribisnis, Makalah, Disampaikan sebagai bahan untuk kerjasama dengan biro Perencanaan Departement Pertanian, Jakarta (tidak dipublikasikan). .., 1997, Beberapa Konsepsi Alokasi Sumberdaya Alam Untuk Penentuan Kebijaksanaan Ekonomi Kearah Pembangunan Yang Berkelanjutan, Bahan Kuliah Ekonomi Sumberdaya Alam PPS-IPB, Bogor. Azzaino, Z., 1981, Pengantar Tataniaga Pertanian, Departemen Ilmu-ilmu Sosial Fakultas Pertanian IPB, Bogor. Bardhan, P., 1989, The Economic Theory of Agrarian Institutions, Clarendon Press, Oxford. Geo, L., 1988, Analisis Dampak Ekonomi Perkebunan Kakao dalam Pembangunan Wilayah Kabupaten Kolaka Propinsi Sulawesi Tenggara, Tesis Program Pascasarjana IPB, Bogor. North, D. C., 1991, Institutions, Institutional, Change and Economic Performance, Cambridge University Press, Cambridge. Pakpahan, A., 1989, Kerangka Analitik untuk Penelitian Rekayasa Sosial; Perspektif Ekonomi Institusi, dalam Prosiding Patanas : Evolusi Kelembagaan Pedesaan di Tengah Perkembangan Teknologi Pertanian, Pusat Penelitian Agroekonomi, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Bogor. Saefudin, A. M., 1981, Metode Analisis Pemasaran Komoditi, Majalah Pertanian 1981/1982, Volume 3, Jakarta. Timmer, P. C., 1987, Corn Marketing, in Timmer, 1987, The Corn Economic of Indonesia, Cornell Unversity Press, London. 54