DINKES Profil Kesehatan 2010

KATA PENGANTAR

uji dan Syukur senantiasa dipersembahkan ke hadirat Allah SWT atas taufiq dan hidayah-Nya, sehingga Buku Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan tahun 2010 dapat diselesaikan. Seharusnya penerbitan buku profil kesehatan dapat dilaksanakan setiap awal tahun anggaran, sebagai informasi terhadap kegiatan pembangunan kesehatan pada tahun sebelumnya. Namun tahun ini masih mengalami keterlambatan, dikarenakan sumber data berupa tabel profil dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota hampir sebagian besar belum disampaikan kepada Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan. Namun demikian, data-data yang dipergunakan untuk penyusunan profil ini akhirnya menggunakan data-data dari program yang ada di setiap Subdin Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan. Disadari bahwa berdasarkan pengalaman yang ada, akan ditemui perbedaan data antara pengelola program yang ada di Subdin-Subdin Dinas Kesehatan Provinsi dengan data yang ada di Profil Kesehatan Kabupaten/Kota. Oleh karena itu Buku Profil yang sekarang berada ditangan Anda, masih perlu disempurnakan lagi melalui konfirmasi (crosscheck) dengan buku profil yang telah diterbitkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota maupun dari segi pembahasan yang lebih mendalam lagi. Untuk itulah pada kesempatan ini, kami membutuhkan kritik dan saran dari semua pihak, agar Buku Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2011 akan semakin lebih baik dan berkualitas. Disamping itu, kualitas data juga masih harus terus ditingkatkan, karena datadata yang terkumpulkan baru meliputi data dari fasilitas kesehatan (Fasility based) sementara data dari masyarakat langsung (Community based) belum dapat digali lebih dalam, sehingga informasi yang dihasilkan dalam buku profil kesehatan 2010 masih banyak kekurangan (under reporting).

Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010

Page i

Sulitnya memperoleh data yang akurat dan tepat waktu, Insya’Allah dari waktu ke waktu akan bisa diatasi dengan mengoptimalkan peran petugas sistem pencatatan dan pelaporan baik di tingkat Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan kabupaten/kota sampai di tingkat puskesmas serta memaksimalkan sistem monitoring dan evaluasi melalui supervisi-supervisi sekaligus melakukan pembinaan secara kontinyu oleh petugas/pengelola data di wilayah kerjanya termasuk upaya “jemput bola “ untuk memenuhi kebutuhan data yang bersifat segera. Kegiatan-kegiatan pemutakhiran data dengan melibatkan pengelola program, lintas sektor bahkan pejabat struktural di Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota harus dilakukan paling sedikit 2 kali dalam setahun untuk memberikan masukan atau mengklarifikasi data-data yang barangkali terjadi perbedaan, “blank”, dan sebagainya. Disamping itu juga perlu dilakukan Pelatihan Pengelola data dan informasi untuk petugas pengelola data di kabupaten/kota. Diharapkan dengan terbitnya buku profil kesehatan ini, akan dapat memberikan informasi sekaligus bahan evaluasi terhadap program-program

kesehatan yang telah dilaksanakan pada tahun-tahun sebelumnya dan yang tak kalah pentingnya adalah untuk bahan perencanaan pada tahun-tahun berikutnya dalam upaya mewujudkan Visi Sumatera Selatan Sehat dan Indonesia Sehat. Akhirnya, dengan kemauan keras, optimisme, dan selalu ingin belajar sepanjang hayat, belajar dari kesalahan, Insya’Allah perubahan ke arah yang semakin baik akan dapat diraih, karena karakteristik orang yang belajar adanya perubahan dari yang kurang baik menjadi baik, dari yang rendah kepada yang tinggi, dan seterusnya. Palembang, 2010 Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan,

Dr.H.Zulkarnain Noerdin, M.Kes

Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010

Page ii

DAFTAR ISI

Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Gambar Daftar Tabel Daftar Lampiran Bab 1 Bab 2 PENDAHULUAN GAMBARAN UMUM 2.1. 2.2. 2.3. 2.4. 2.5. Bab 3 Keadaan Penduduk Letak Geografis dan Luas Wilayah Keadaan Pemerintahan Pendidikan Ekonomi

i iii vi x xi 1 4 4 6 7 7 8 10 10 10 11 12 13 13 14 16 51 54 54 55 58 59 59 59 59
Page iii

SITUASI DERAJAT KESEHATAN 3.1. 3.1.1. 3.1.2. 3.1.3. 3.1.4. 3.1.5. 3.2. 3.2.1. 3.2.2. 3.3. 3.3.1. 3.3.2. 3.3.3. MORTALITAS Angka Kematian Bayi (AKB) Angka Kematian Balita (AKABA) Angka Kematian Ibu (AKI) Angka Kematian Kasar (AKK) Umur Harapan Hidup Waktu Lahir (UHH) ANGKA KESAKITAN Penyakit Menular Penyakit Tidak Menular STATUS GIZI MASYARAKAT Bayi Dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) Gizi Balita Status Gizi Wanita Usia Subur Kurang Energi Kronik (KEK)

Bab 4

SITUASI UPAYA KESEHATAN 4.1. PELAYANAN KESEHATAN DASAR 4.1.1. 4.1.1.1. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi Pelayanan Antenatal (K1 dan K4)

Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan

4.5.4. 4.2.2. 4.3. 4.1.1.5.4.1.4. 4.1.4.2.3.3.4.1.3.1.1.4.1. 4. 4. 4.1.1.2. 4.4. 4.2. 4. 4.1.5.1. 4.1.1. Usia Sekolah.1. 4.3. 4.5.1. 4. 4.1.3.2. 4.3 4.2.2.5. 4.4.5. 4.6.3.2.1.5.3. 4.3.4.4.3.6.5. dan Remaja Pelayanan Keluarga Berencana Pelayanan Imunisasi Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) Pelayanan Kesehatan Pra Usia Lanjut dan Usia Lanjut PELAYANAN KESEHATAN RUJUKAN DAN PENUNJANG Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit Pemanfaatan Obat Generik Pelayanan Jaminan Kesehatan Masyarakat PEMBERANTASAN PENYAKIT MENULAR Penyelidikan Epidemiologi dan Penanggulangan KLB Pemberantasan Penyakit Polio Pemberantasan TB Paru Pemberantasan Penyakit ISPA Penanggulangan Penyakit HIV/AIDS PEMBINAAN KESEHATAN LINGKUNGAN DAN SANITASI DASAR 64 66 68 69 71 72 75 78 81 84 86 86 87 87 88 88 94 100 101 104 106 106 111 112 4. 4. PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT Pemantauan Pertumbuhan Balita Pemberian Kapsul Vitamin A Pemberian Tablet Besi Bayi dengan ASI Ekslusif PELAYANAN KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN 115 115 115 116 116 117 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Page iv . 4. Pembinaan Kesehatan Lingkungan Surveilans Vektor Pengawasan Tempat-Tempat Umum dan Tempat Pengelolaan Makanan 4. 4.3.2. 4.1. 4. Pertolongan Persalinan oleh Nakes dengan Kompetensi Kebidanan Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas Ibu Hamil Risiko Tinggi yang Dirujuk Kunjungan Neonatus Kunjungan Bayi Pelayanan Kesehatan Anak Pra Sekolah.1.

3. 5. 4. Bab 5 PELAYANAN KESEHATAN DALAM SITUASI BENCANA SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN 5.4. SARANA KESEHATAN Puskesmas Rumah Sakit Sarana Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat Institusi Pendidikan Tenaga Kesehatan TENAGA KESEHATAN ANGGARAN KESEHATAN Bab 6 KESIMPULAN Lampiran Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Page v .4. 4. 5.1.1.1.2.6.1. 5. 5.3.6.1.6.2.7.2. 5.1.6.4. 5. Peningkatan Penggunaan Obat Rasional Pelayanan Farmasi Komunitas dan Farmasi Klinik Penerapan Penggunaan Obat Esensial Generik Pemberdayaan Masyarakat dalam Penggunaan Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT) 118 118 118 119 119 122 122 122 124 126 130 131 134 136 4.1. 4.3.

20 Gambar 3.28 Gambar 3.22 Gambar 3.13 Gambar 3.1 Gambar 3.19 Gambar 3.21 Gambar 3.12 Gambar 3.18 Gambar 3.17 Gambar 3.2 Gambar 3.26 Gambar 3.5 Gambar 3.7 Gambar 3.6 Gambar 3.3 Gambar 3.10 Gambar 3.8 Gambar 3.23 Gambar 3.32 Gambar 3.24 Gambar 3.9 Gambar 3.14 Gambar 3.30 Gambar 3.31 Gambar 3.11 Gambar 3.25 Gambar 3.27 Gambar 3.4 Gambar 3.DAFTAR GAMBAR Gambar 2.15 Gambar 3.1 Gambar 3.33 Distribusi Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur Dan Jenis Kelamin Angka Kematian Bayi (AKB) Jumlah dan Sebab Kematian Ibu Umur Harapan Hidup (UHH) STP Berbasis Puskesmas STP Berbasis RS (Rawat Inap) Annual Malaria Incidence (AMI) Angka Penemuan Pasien Baru TB BTA Positif (CDR) Angka Penemuan Pasien Baru TB BTA Positif (CDR) Menurut Kab/Kota Angka Kesembuhan (Cure Rate) Pasien TB BTA Positif Angka Kesembuhan (Cure Rate) Pasien TB BTA Positif Menurut Kab/Kota Persentase Penemuan Pasien Baru TB BTA Positif Jumlah Pengidap HIV (+) Per Tahun Kumulatif Penyebaran Pengidap HIV (+) Per Kab/Kota Jumlah Penderita AIDS Per Tahun CDR Kusta Penemuan Kasus Baru (CDR) Penderita Kusta Proporsi Penderita Kusta Cacat Tingkat II Proporsi Kusta Anak Penderita Tetanus Neonatorum Penderita Difteri Penemuan Kasus Campak Rutin Menurut Kelompok Umur Data Campak Menuru Sumber Laporan Kab/Kota Sebaran Kasus Campak Hasil CBMS Hasil Pelaksanaan CBMS Konfirmasi Laboratorium Kasus Campak (CBMS) Kelompok Umur Dengan Konfirmasi Laboratorium Kecenderungan Situasi DBD CFR Penderita DBD Perkembangan Penderita DBD Perbandingan Incidence Rate (IR) Persentase Penemuan Penderita DBD Yang Ditangani Distribusi Penderita Diare Semua Umur Per Kab/Kota Trend Kejadian Diare 6 11 13 14 15 15 17 20 22 22 23 24 26 27 28 30 30 31 32 33 34 35 36 37 38 38 39 40 42 42 43 43 44 45 Page vi Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan .29 Gambar 3.16 Gambar 3.

Gambar 3.41 Gambar 3.2 Gambar 4.9 Gambar 4.12 Gambar 4.37 Gambar 3.3 Gambar 4.18 Gambar 4.11 Gambar 4.14 Gambar 4.7 Gambar 4.8 Gambar 4.35 Gambar 3.16 Gambar 4.38 Gambar 3.36 Gambar 3.22 Cakupan Penderita Diare Yang Ditangani Oleh Kab/Kota Persentase Penemuan Penderita Diare Kasus dan Suspek Influenza A Baru (H1N1) Prevalensi Penyakit Tidak Menular Per 10.39 Gambar 3.19 Gambar 4.21 Gambar 4.6 Gambar 4.17 Gambar 4.34 Gambar 3.5 Gambar 4.13 Gambar 4. Fe3. dan Status Imunisasi TT Pada Ibu Hamil Persentase Cakupan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Persentase Cakupan Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Cakupan Komplikasi Kebidanan Yang Ditangani Cakupan Pelayanan Nifas Persentase cakupan Ibu Hamil Resiko Tinggi Yang Dirujuk Persentase cakupan Kunjungan Neonatal Persentase Cakupan Kunjungan Neonatal Menurut Kab/Kota Persentase Cakupan Kunjungan Neonatal Menurut Kab/Kota Cakupan Kunjungan Bayi Persentase Cakupan Puskesmas Yang Mampu Menyelengarakan PKPR Menurut Kab/Kota Persentase Cakupan Deteksi Dini Dan Interfensi Tumbuh Kembang Balita Cakupan Pelayanan Anak Balita Cakupan Penjaringan Siswa SD dan Setingkat Persentase Cakupan Peserta KB Aktif Dan KB Baru Menurut Kab/Kota Persentase Cakupan Pelayanan Peserta KB Baru Berdasarkan Jenis Alat Kontrasepsi Cakupan Peserta KB Aktif Hasil Cakupan Desa UCI Hasil Cakupan Desa UCI Hasil Cakupan Desa UCI 46 47 51 52 54 55 56 57 57 58 60 62 63 64 65 66 67 68 69 70 70 71 72 73 74 75 76 77 77 79 80 81 Page vii Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan .40 Gambar 3.000 Penduduk Jumlah Kejadian Kecelakaan Lalu Lintas Proporsi Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) Prevalensi Gizi Buruk Angka Gizi Buruk Dan Gizi Kurang Cakupan Balita Gizi Buruk Mendapat Perawatan Cakupan Pemberian MP ASI Pada Anak Usia 6 .20 Gambar 3.15 Gambar 4.10 Gambar 4.1 Gambar 4.24 Bulan Keluarga miskin Persentase Cakupan Pelayanan K1 dan K4 Ibu Hamil Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K4 Persentase Cakupan K4.4 Gambar 4.43 Gambar 4.42 Gambar 3.

000 Penduduk Jumlah Puskesmas Menurut Kab/Kota Jumlah Puskesmas Pembantu 82 83 84 85 85 86 87 89 90 90 91 92 93 93 95 96 97 98 98 99 100 101 102 103 104 106 107 109 110 111 112 116 117 122 123 124 Page viii Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan .30 Gambar 4.29 Gambar 4.1 Gambar 5.32 Gambar 4.43 Gambar 4.55 Gambar 5.39 Gambar 4.41 Gambar 4.23 Gambar 4.47 Gambar 4.51 Gambar 4.40 Gambar 4.28 Gambar 4.42 Gambar 4.45 Gambar 4.24 Gambar 4.36 Gambar 4.37 Gambar 4.38 Gambar 4.3 Hasil Cakupan BIAS DT Klas I Hasil Cakupan BIAS Klas II dan III Hasil Cakupan BIAS Campak Jumlah Usila Dibina dan PKM Yang Membina Persentase Cakupan Lanjut Usia Yang Dibina Dan Cakupan Puskesmas Melayani Kesehatan Usia Lanjut Persentase Kunjungan Rawat Jalan Menurut Kab/Kota Persentase Peserta JamSoskes Sumsel Semesta Desa/Kelurahan KLB Ditangani< 24 Jam Kelengkapan Laporan W1 Ketepatan Laporan W1 Dari Kab/Kota Frekuensi Desa KLB Per Penyakit Perbandingan Frekuensi Dan Penderita KLB Penyakit Dan Keracunan Makanan Persentase Jenis Pelaporan KLB Dari Kab/Kota Cakupan Desa/Kelurahan Mengalami KLB Yang dilakukan Penyelidikan Epidemiologi < 24 Jam Persentase Spesimen Adekuat Dan AFP Rate Pencapaian Kelengkapan Laporan Nihil Penemuan Kasus AFP Proporsi Status Imunisasi Kasus AFP Non Polio Kasus AFP Non Polio Berdasarkan Kelompok Umur Sumber Laporan Kasus AFP AFP Rate Per 100.44 Gambar 4.34 Gambar 4.2 Gambar 5.27 Gambar 4.49 Gambar 4.Gambar 4.50 Gambar 4.25 Gambar 4.35 Gambar 4.46 Gambar 4.33 Gambar 4.54 Gambar 4.53 Gambar 4.52 Gambar 4.48 Gambar 4.31 Gambar 4.000 Penduduk < 15 Tahun Angka Keberhasilan Pengobatan Penderita TB Paru BTA (+) CDR Pneumonia Balita Per Kab/Kota Cakupan Penemuan Pneumonia Balita Program ISPA Cakupan Penemuan Penderita Pneumonia Balita Distribusi AIDS Menurut Kondisi Saat Dilaporkan Cakupan Penduduk Yang Menggunakan Sarana Air Bersih Persentase Rumah sehat Menurut Kab/Kota Persentase Cakupan Sarana Pembuangan Air Limbah Persentase Cakupan Jamban Keluarga Persentase Angka ABJ Penyakit DBD Menurut Kab/Kota Persentase Pemberian Tablet Besi Pada Ibu Hamil (Fe1 & Fe3) Cakupan Pemberian Asi Eksklusif Pada Bayi Jumlah Puskesmas Dan Rasionya Terhadap 100.26 Gambar 4.

8 Gambar 5.9 Gambar 5. Purnama Dan Mandiri Rasio Poskesdes Terhadap desa/Kelurahan Cakupan Desa Siaga Aktif Persentase Anggaran Kesehatan 124 125 127 127 128 128 129 134 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Page ix .7 Gambar 5. Madya.5 Gambar 5.11 Jumlah Puskesmas Pembantu Menurut Kab/Kota Jumlah RS Pemerintah Swasta Dan Khusus Jumlah Posyandu Jumlah Posyandu Menurut Kab/Kota Persentase Posyandu Pratama.4 Gambar 5.10 Gambar 5.Gambar 5.6 Gambar 5.

3 Tabel 5.2 Tabel 4.2 Tabel 5. Paramedis. Rata – rata Penduduk Desa dan Kepadatan Penduduk Per Km2 Menurut Kab/Kota Jumlah Penduduk Berdasarkan Hasil Susenas Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Persentase Partisipasi Bersekolah. Swasta dan Khusus Menurut Kapasitas Tempat Tidur Jumlah Institusi Diknakes Menurut Jenis Pendidikan Jumlah Tenaga Kesehatan Menurut Golongan Medis.4 Tabel 4.10 Tabel 3.8 Tabel 4.1 Tabel 3.1 Tabel 5.1 Jumlah Penduduk Pertengahan Tahun.7 Tabel 4.10 Tabel 5.2 Tabel 2.5 Tabel 3. Tenaga Kesehatan Lainnya Rasio Tenaga Kesehatan Menurut Jenis per 100.9 Tabel 4.000 Penduduk Angka Kesakitan Secara Absolut Frekuensi dan Jumlah Kasus KLB Kinerja Surveilans AFP Gambaran Penemuan Kasus ISPA Distribusi Penemuan Kasus HIV/AIDS Melalui Klinik VCT Persentase Rumah Sehat Jenis Vektor Malaria Cakupan Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM) Sehat Cakupan Sarana Ibadah Cakupan TTU-I Sarana Pendidikan Data Kejadian Bencana Jumlah Rumah Sakit Pemerintah.8 Tabel 3.3 Tabel 2. Konfirmasi Laboratorium dan AMI Menurut Kab/Kota Laporan Uji Saring HIV di PMI Kota Palembang Data Penyakit PD3I Per Kab/Kota Distribusi Kasus Campak Berdasarkan Kelompok Umur Distribusi Kasus Campak Per Bulan Distribusi Kasus Penemuan DBD per Kab/Kota Jumlah Kasus Rabies Gambaran Penemuan Kasus Kronis Filariasis Gambaran MF Rate Filariasis Prevalensi Penyakit Tidak Menular Per 10. Tingkat Pendidikan Penduduk dan Kemampuan Membaca dan Menulis PDRB Sumatera Selatan Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan Tahun 2004-2008 Angka Kematian Balita (AKABA) Per 1000 Kelahiran Hidup di Indonesia Tahun 1995-2007 Jumlah Penderita Malaria Klinis. Luas Daerah.4 5 7 9 12 18 25 32 34 36 41 48 49 50 52 53 91 94 102 105 108 112 113 114 114 119 126 130 131 132 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan .2 Tabel 3.5 Tabel 4.11 Tabel 3.4 Tabel 3.9 Tabel 3.7 Tabel 3.3 Tabel 3.12 Tabel 4.3 Tabel 4.6 Tabel 3.000 Penduduk Page x 4 Tabel 2.6 Tabel 4.4 Tabel 3.1 Tabel 4.DAFTAR TABEL Tabel 2.

Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Page xi .

K4). Peserta KB Baru dan KB Aktif Menurut Kecamatan dan Puskesmas Jumlah peserta KB Aktif Menurut Jenis Kontrasepsi Pelayanan KB Baru Menurut Kecamatan Persentase Cakupan Desa/Kelurahan Uci Menurut Kecamatan Persentase Cakupan Imunisasi Bayi Menurut Kecamatan Kab/Kota Cakupan Bayi.Rasio Jenis Kelamin Kab/Kota Jumlah Penduduk Menurut Jenis kelamin dan Kelompok Umur Persentase Penduduk Laki-laki dan Perempuan Berusia 10 Tahun Keatas Dirinci Menurut Tingkat Pendidikan tertinggi yang Ditamatkan di Kab/Kota Persentase Penduduk Laki-laki dan Perempuan Berusia 10 Tahun Ke atas yang Melek huruf Jumlah Kelahiran dan Kematian Bayi dan Balita Menurut Kab/Kota Jumlah Kematian Ibu Maternal Menurut Kab/Kota Jumlah Kejadian Kecelakaan Lalu Lintas dan Rasio Korban Luka dan Meninggal Terhadap Jumlah Penduduk Dirinci Menurut Kab/Kota AFP Rate.Rasio Beban Tanggungan.Bayi dan bayi BBLR yang Ditangani Status Gizi Balita dan Jumlah Kecamatan Rawan Gizi Cakupan Kunjungan Ibu Hamil (K1.Jumlah Rumah Tangga. % TB Paru Sembuh dan Peneumonia Balita Ditangani HIV/AIDS.DAFTAR LAMPIRAN Tabel 1 Tabel 2 Tabel 3 Tabel 4 Luas Wilayah Jumlah Desa/Kelurahan. Pemeriksaan Kesehatan Siswa SD/SMP/SMA Jumlah Pus. Infeksi Seksual Menular.Persalinan Ditolong Tenaga Kesehatan dan Ibu Nifas Cakupan Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak Balita.Balita yang Mendapat Pelayanan Kesehatan Menurut Kecamatan dan Puskesmas Page xi Tabel 5 Tabel 6 Tabel 7 Tabel 8 Tabel 9 Tabel 10 Tabel 11 Tabel 12 Tabel 13 Tabel 14 Tabel 15 Tabel 16 Tabel 17 Tabel 18 Tabel 19 Tabel 20 Tabel 21 Tabel 22 Tabel 23 Tabel 24 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan .Jumlah Penduduk. dan Kepadatan Penduduk Menurut Kab/Kota Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin. DBD dan Diare Pada Balita Ditangani Persentase Penderita Malaria Diobati Persentase Penderita Kusta Selesai Beobati Kasus Penyakit Filariasis Ditangani Jumlah Kasus dan Angka Kesakitan Penyakit Menular yang Dapat dicegah Dengan Imunisasi (PD3i) Cakupan Kunjungan Neonatus.Kelompok Umur. Peserta KB.

Tabel 25 Tabel 26 Tabel 28 Tabel 30 Tabel 31 Tabel 32 Tabel 34 Tabel 36 Tabel 37 Tabel 39 Tabel 41 Tabel 43 Tabel 44 Tabel 45 Tabel 46 Tabel 47 Tabel 48 Tabel 49 Tabel 50 Tabel 51 Tabel 52 Tabel 53 Tabel 54 Tabel 55 Tabel 56 Tabel 57 Tabel 58 Tabel 59 Tabel 60 Tabel 62 Tabel 63 Jumlah Ibu Hamil Yang Mendapat Tablet Fe1. Fe3 Menurut Kecamatan dan Puskesmas Jumlah Wanita Usia Subur dengan status Imunisasi TT Menurut Kecamatan dan Puskesmas Jumlah dan Persentase Ibu Hamil dan Neonatal Risiko Tinggi/Komplikasi ditangani Menurut Kecamatan dan Puskesmas Jumlah dan Persentase Desa/Kelurahan Terkena KLB yang ditangani < 24 Jam Menurut Kecamatan dan Puskesmas Jumlah Penderita dan Kematian Serta Jumlah Kecamatan dan Desa Yang Terserang KLB Jumlah Bayi yang diberi ASI Eklusif Pelayanan Kesehatan Gigi n Mulut Cakupan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Pra Bayar Cakupan Pelayanan Kesehatan Masyarakat Miskin Cakupan Pelayanan Kesehatan Pra Usila dan Usila Persentase Donor Darah Diskrining terhadap HIV/AIDS Jumlah Sarana Pelayanan Kesehatan Menurut Kemampuan Labkes dan Miliki 4 Spesialis Dasar Ketersediaan Obat Sesuai dengan Kebutuhan Pelayanan Kesehatan Dasar Persentase Rumah tangga Berperilaku Hidup Bersih Sehat Jumlah dan Persentase Posyandu Menurut Strata dan Kecamatan Persentase Rumah Sehat Menurut Kecamatan Persentase Keluarga Memiliki Akses Air Bersih Keluarga dengan Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar Menurut Kecamatan Persentase Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM) Sehat Persentase Institusi Dibina Kesehatan Lingkungannya Persentase Rumah/Bangunan yang Diperiksa dan Bebas Jentik Nyamuk Aedes Persebaran Tenaga Kesehatan Menurut Unit Kerja Jumlah Tenaga Kesehatan di Sarana Pelayanan Kesehatan Jumlah Tenaga Medis Disarana Kesehatan Jumlah Tenaga Kefarmasian dan Gizi Di Sarana Kesehatan Jumlah Tenaga Keperawatan Di Sarana Kesehatan Jumlah Tenaga Kesehatan Masyarakat dan Sanitasi di Sarana Kesehatan Jumlah Tenaga Teknisi Medis di Sarana Kesehatan Anggaran kesehatan Kab/kota Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) Indikator Pelayanan Rumah Sakit Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Page xii .

pengembangan. dan mampu untuk mengenali. Departemen Kesehatan sebagai salah satu pelaku pembangunan kesehatan telah menetapkan Visi Departemen Kesehatan yaitu : ”Masyarakat yang Mandiri untuk Hidup Sehat”. dan mengatasi permasalahan kesehatan yang dihadapi. mau. SIK di setiap institusi pelayanan kesehatan mulai dari tingkat Puskesmas. sehingga dapat bebas dari gangguan kesehatan. mencegah. serta pemantapan fungsi-fungsi administrasi kesehatan yang didukung oleh sistem informasi kesehatan (SIK). baik yang disebabkan karena penyakit termasuk gangguan kesehatan akibat bencana. Masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat adalah suatu kondisi di mana masyarakat Indonesia menyadari. (Depkes. Untuk mencapai visi tersebut. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2010 Page 1 . 2006). ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan. maupun lingkungan dan perilaku yang tidak mendukung untuk hidup sehat. serta hukum kesehatan. Pembangunan kesehatan yang berhasil guna dan berdaya guna dapat dicapai melalui pembinaan. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Dinas Kesehatan Provinsi sampai tingkat Pusat.BAB 1 PENDAHULUAN embangunan kesehatan diselenggarakan dalam upaya untuk mencapai Visi : ”Indonesia Sehat 2014”. dan pelaksanaan. Sebagai penjabaran dari Visi Departemen Kesehatan. maka tujuan yang akan dicapai adalah terselenggaranya pembangunan kesehatan secara berhasil guna dan berdaya guna dalam rangka mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggitingginya.

Bab ini menyajikan tentang latar belakang dan tujuan diterbitkannya Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 serta sistematika penyajiannya. Dinas Kesehatan Provinsi sampai kepada tingkat Pusat. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2010 Page 2 . Tujuan penyusunan Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan adalah memberikan informasi tentang hasil pencapaian program pembangunan kesehatan di Provinsi Sumatera Selatan umumnya. administratif dan informasi umum lainnya. termasuk pencapaian indikator-indikator pembangunan kesehatan di Provinsi Sumatera Selatan. Salah satu bentuk output dari SIK adalah penerbitan buku profil kesehatan yang dilakukan setiap tahun anggaran oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.harus terus dikembangkan sehingga diharapkan dapat memberikan dukungan dalam rangka pelaksanaan fungsi manajemen kesehatan. bab ini juga mengulas faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan dan faktor-faktor lainnya misal kependudukan. pendidikan. Bab ini menyajikan tentang gambaran umum Kabupaten/Kota. Bab-2 : Gambaran Umum. sosial budaya dan lingkungan. SIK yang baik akan dapat memberikan informasi yang akurat dan up to date untuk proses pengambilan keputusan di semua tingkat administrasi pelayanan kesehatan. Sistematika penyajian Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan adalah sebagai berikut : Bab-1 : Pendahuluan. Selain uraian tentang letak geografis. ekonomi.

Selain keberhasilan-keberhasilan yang perlu dicatat. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2010 Page 3 . dan angka status gizi masyarakat. pembiayaan kesehatan dan sumber daya kesehatan lainnya. Pada lampiran ini berisi resume/angka pencapaian Kab/Kota dan 63 tabel data yang merupakan gabungan Tabel Indikator Kabupaten sehat dan Indikator pencapaian kinerja Standar Pelayanan Minimal bidang Kesehatan. bab ini juga mengemukakan hal-hal yang dianggap masih kurang dalam rangka penyelenggaraan pembangunan kesehatan. pemberantasan penyakit menular. Upaya pelayanan kesehatan yang diuraikan dalam bab ini juga mengakomodir indikator kinerja Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan serta upaya pelayanan kesehatan lainnya yang diselenggarakan oleh Kabupaten/Kota. perbaikan gizi masyarakat. Bab-4 : Situasi Upaya Kesehatan. angka kesakitan. Bab ini menguraikan tentang pelayanan kesehatan dasar. Bab ini menguraikan tentang sarana kesehatan. tenaga kesehatan. pembinaan kesehatan lingkungan dan sanitasi dasar. pelayanan kefarmasian dan alat kesehatan.Bab-3 : Situasi Derajat Kesehatan. pelayanan kesehatan rujukan dan penunjang. Bab-5 : Situasi Sumber Daya Kesehatan. Bab ini berisi uraian tentang indikator mengenai angka kematian. Bab-6 : Kesimpulan. Lampiran. pelayanan kesehatan dalam situasi bencana. Bab ini diisi dengan sajian tentang hal-hal penting yang perlu disimak dan ditelaah lebih lanjut dari Profil Kesehatan Kabupaten/Kota di tahun yang bersangkutan.

5 persen per tahun. Di samping kejadian kematian dapat juga digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan lainnya. Berdasarkan Sensus Penduduk (SP) 1990. morbiditas.14%) dan Empat Lawang (0. atau turun 25 persen selama 10 tahun atau rata-rata turun 2. Berikut ini diuraikan tentang indikator-indikator tersebut. Persentase kematian bayi tertinggi terjadi di kabupaten Ogan Komering Ilir (1.1. Perkembangan tingkat kematian dan penyakit-penyakit penyebab utama kematian yang terjadi pada periode terakhir akan diuraikan dibawah ini.82%). MORTALITAS Gambaran perkembangan derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari kejadian kematian dalam masyarakat dari waktu ke waktu.1. estimasi angka kematian bayi di Sumatera Selatan diperkirakan 71 per 1000 kelahiran.31%) dan Lahat (0. dan angka status gizi masyarakat. Angka kematian pada umumnya dapat dihitung dengan melakukan survei dan penelitian. Angka Kematian Bayi (AKB) Menurunnya angka kematian bayi dan meningkatnya angka harapan hidup mengindikasikan meningkatnya derajat kesehatan penduduk. Kematian bayi di Sumatera Selatan tahun 2009 adalah 4 per 1000 kelahiran hidup. Menurut target MDGs AKB diharapkan turun menjadi 23 per 1000 kelahiran hidup.1. sedangkan berdasarkan SP 2000.BAB 3 SITUASI DERAJAT KESEHATAN Gambaran derajat kesehatan dapat dilihat dari beberapa indikator seperti mortalitas .13%). Angka kematian bayi di Provinsi Sumatera Selatan Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 10 . persentase terendah di kabupaten Muara Enim (0. 3. AKB Sumsel lebih tinggi dibandingkan Angka Nasional yaitu 42 per 1000 kelahiran hidup (SUSENAS 2007). 3. angka kematian bayi di Sumatera Selatan turun drastis menjadi 53 per 1000 kelahiran.

dan SDKI pada tahun 1995 – 2007 disajikan pada tabel 3. Distribusi kematian Balita menurut Kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan dapat dilihat pada lampiran Tabel 6. Angka Kematian Balita di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 adalah 0.5 (45 kematian Balita ).2. sedangkan tahun 2008 adalah 0.3 25. Angka Kematian Balita (AKABA) Berdasarkan SDKI 2007 AKABA sekitar 44 per 1. Angka Kematian Bayi (AKB) Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 1971– 2008 SP1971 SP 1980 SP 1990 SDKI 1994 SUPAS SDKI 1997 SP 2000 SDKI SUPAS 2006 2007 2008 0 30 30 26.6 25 50 71 59.1.000 kelahiran hidup.1. AKABA Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2008 adalah 52 per 1. Sedangkan gambaran perkembangan AKABA berdasarkan estimasi SUPAS. sedangkan pada tahun 2008 adalah 3.1 berikut ini : Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 11 .4 (537 kematian bayi).8 (79 kematian bayi).tahun 2009 adalah 0.6 54 53 53 102 155 100 150 200 Sumber : BPS Provinsi Sumatera Selatan 3.6 (87 kematian Balita). SUSENAS. Gambar 3. Jumlah kematian bayi menurut Kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan dapat dilihat pada lampiran Tabel 6.000 kelahiran hidup berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik.

000 kelahiran hidup pada tahun 1992.000 kelahiran hidup berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kependudukan Indonesia (SDKI) 2003.36 66. AKI Nasional menurun dari 450 per 100. diperkirakan target tersebut di masa mendatang sulit dicapai.000 kelahiran hidup pada tahun 1995.3.61 53. Pada SKRT 2001 tidak dilakukan survei mengenai AKI.000 kelahiran hidup pada tahun 1986 menjadi 425 per 100. maka apabila penurunannya masih seperti tahun-tahun sebelumnya.28 59. AKI provinsi Sumatera Selatan masih berpedoman pada hasil SUSENAS 2005 yaitu 262 per 1000 kelahiran hidup.44 50. Angka Kematian Ibu Maternal (AKI) Sampai dengan saat ini informasi tentang AKI masih berpedoman pada hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT). Tetapi bila dibandingkan dengan target yang ingin dicapai secara nasional pada tahun 2010.Subdin Kesga 3.71 Estimasi SUSENAS 73 64 64 46 SDKI 1995 1998 1999 2000 2001 20022003 2007 44 Sumber : Profil Kesehatan Indonesia 2004.1. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 12 .55 44. yaitu sebesar 125 per 100. AKI menjadi 307 per 100.1 Angka Kematian Balita (AKABA) Per 1. Menurut SKRT.Tabel 3.00 64. kemudian menurun lagi menjadi 373 per 100.000 kelahiran hidup.05 39.000 Kelahiran Hidup Di Indonesia Tahun 1995 – 2007 Tahun Estimasi SUPAS 1995 Laki-Laki Perempuan Jumlah (L+P) 71.77 57. Hal ini menunjukkan bahwa AKI cenderung mengalami penurunan. Kemudian pada tahun 2002-2003.

Angka Kematian Ibu di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 adalah 150. 3.000 kelahiran hidup (124 kematian).5. 3. sepuluh tahun kemudian mengalami kenaikan sebesar 7 persen. maka estimasi angka harapan hidup mengalami kenaikan.000 kelahiran hidup (143 kematian).93 per 100. Sedangkan menurut hasil Supas 2005 besarnya angka harapan hidup penduduk Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 13 .4 per 1000 penduduk. menurun menjadi 21.83 tahun.8 per 1000 penduduk pada tahun 2006.2 per 1000 penduduk. Umur Harapan Hidup Waktu Lahir (UHH) Sejalan dengan menurunnya estimasi angka kematian bayi. kemudian menurun lagi menjadi 21. menjadi 64.1. Angka Kematian Kasar (AKK) AKK Provinsi Sumatera Selatan berdasarkan estimasi pada tahun 2005 sebesar 22. sedangkan pada tahun 2008 adalah 79. estimasi angka harapan hidup Sumatera Selatan adalah 59.4.2 Jumlah dan Sebab Kematian Ibu Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2006-2009 Gambar diatas menunjukkan penyebab tertinggi kematian ibu dari tahun 2006 hingga 2009 adalah perdarahan.Gambar 3.1. Distribusi kematian ibu menurut Kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan dapat dilihat pada lampiran Tabel 6.31 per 100. Menurut hasil SP 1990.02 tahun menurut SP 2000. dan mengalami peningkatan cukup tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yaitu sebanyak 62 kasus.

yaitu Hipertensi dan Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 14 .5 tahun.1 53. dan hasil pengumpulan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota serta dari sarana pelayanan kesehatan (facility based data) yang diperoleh melalui sistem pencatatan dan pelaporan.7 SP 2000 69. ANGKA KESAKITAN Data angka kesakitan penduduk yang berasal dari masyarakat (community based data) yang diperoleh melalui studi morbiditas. terlihat bahwa UHH Provinsi Sumatera Selatan cenderung mengalami peningkatan. dari 44. Sedangkan untuk Puskesmas Sentinel ditambah lagi 2 penyakit tak menular.3 Umur Harapan Hidup (UHH) Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 1971 – 2009 80 Umur (tahun) 60 40 20 0 UHH SP 1971 SP 1980 SP 1990 44.9 Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan Pada Gambar 3. Sedangkan tahun-tahun sebelumnya dipakai Program SST (Sistem Surveilans Terpadu). Untuk STP berbasis Puskesmas ada 25 kasus baru penyakit menular yang diamati oleh semua Puskesmas.1 tahun pada tahun 1971 menjadi 69. Program Surveilans Terpadu Penyakit (STP) baru mulai dilaksanakan di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2007.6 59.3 di atas.1 2009 69.05 2008 71. 3. Pada program ini dipisahkan antara STP berbasis Puskesmas dan STP berbasis Rumah Sakit.2.9 tahun pada tahun 2009. Gambar 3. sesuai ketentuan dalam Kepmenkes nomor 1116/2003 dan 1479/2003. Kondisi ini menunjukan bahwa anak yang baru lahir diperkirakan akan hidup rata-rata sampai umur 69 tahun.8 SPS 63.Sumatera Selatan adalah sebesar 69.

STP penyakit menular berbasis Rumah Sakit dipisahkan untuk penderita rawat inap dan rawat jalan. 2009 Gambar di atas menunjukan bahwa penyakit berbasis Puskesmas terbanyak adalah Diare (56.7 %).6 %). Tahun 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 15 . Adapun data kasus baru penderita rawat inap penyakit menular berbasis rumah sakit tahun 2009 adalah sebagai berikut: Gambar 3.5 STP Berbasis Rumah Sakit (Rawat Inap) Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 1200 1000 800 600 400 200 0 Tifus Perut Klinis Tifus Perut Kultur (+) Pneumonia Malaria Klinis Diare Malaria Fals ifarum Ters angka TBC Paru Demam Berdarah Dengue TBC Paru BTA (+) Demam Dengue 459 412 303 252 212 133 123 118 1122 923 Sumber: Laporan STP Bidang PP&PL.4 STP Berbasis Puskesmas Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 18000 16000 14000 12000 10000 8000 6000 4000 2000 0 1 Diare Malaria Klinis Tifus Perut Klinis Tersangka TBC Paru Disentri TBC Paru BTA (+) Malaria Vivax Demam Dengue Pneumonia Malaria Falsifarum Sumber: Laporan STP Bidang PP&PL. dan Tifus perut klinis (10.2 %). Ada 29 penyakit menular yang diamati dan dipantau trend kasusnya sepanjang tahun. Malaria Klinis (14.Diabetes Mellitus. Adapun data kasus baru penyakit menular berbasis puskesmas dapat dilihat pada tabel berikut: Gambar 3.

TB Paru. Sedangkan tujuan khususnya adalah : 1. Kusta. dan DBD.Dari gambar di atas menunjukan bahwa urutan 3 (tiga) penyakit rawat inap terbanyak adalah Tifus perut klinis. Pemerintah Daerah dan lintas sektoral bersama mitra kerja pembangunan termasuk LSM. dunia usaha dan masyarakat 2. Pada tahun 2010 menurunnya 50 % jumlah desa dengan positif malaria ≥ 5 per 1000 penduduk 2. penyakit potensial KLB/Wabah. Filariasis. Pada tahun 2010 semua Kabupaten/Kota mampu melakukan pemeriksaan sediaan darah malaria dan memberikan pengobatan tepat dan terjangkau. Pada Tahun 2020 seluruh wilayah Indonesia sudah melaksanakan intensifikasi dan integrasi dalam pengendalian malaria Kebijakan Pelaksanaan Program P2 Malaria yaitu : 1. HIV/AIDS. termasuk situasi penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I).2. 3. dan situasi penyalahgunaan NAPZA. 3. dan Tifus perut klinis. Penyakit Menular yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Sedangkan pada tahun 2008.2. Malaria Tujuan umum program Pemberantasan Penyakit Malaria di Provinsi Sumatera Selatan adalah Pembebasan Provinsi Sumatera Selatan dari malaria tahun 2020.1. Pembebasan Malaria dilakukan secara bertahap yang didasarkan pada Page 16 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 . DBD. Diare. penyakit potensial wabah. 3 (tiga) penyakit rawat inap terbanyak adalah Diare. Penyakit Menular Penyakit menular yang disajikan dalam bagian ini antara lain penyakit Malaria. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). situasi penyakit tidak menular. Frambusia. Dilakukan secara menyeluruh dan terpadu oleh Pemerintah. Selanjutnya akan diuraikan situasi beberapa penyakit menular yang perlu mendapatkan perhatian.1. Rabies.1. Flu Baru AI (H1N1). 3.

Satu kota diantara daerah endemis rendah yaitu Kota Palembang adalah daerah bebas malaria dalam arti kasus yang ada adalah kasus impor dari kabupaten lain (Kabupaten Banyuasin).6 Annual Malaria Incidence (AMI) Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003 .9 10. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 17 .1 8.2009 AMI per 1000 penduduk 25 20 15 10 5 0 2003 2004 2005 2006 Tahun 2007 2008 2009 8.situasi malaria dan kondisi sumber daya setempat Pada Gambar 3.6 8.6 berikut terlihat bahwa angka kesakitan malaria dari tahun 2003 ke tahun 2004 menurun secara drastis.7 8. Kedua Kabupaten tersebut adalah penyumbang kasus malaria paling tinggi. dimana tahun 2009 terdapat 7 kabupaten endemis malaria sedang dan 8 kabupaten/kota lainnya digolongkan pada daerah endemis rendah.74 21.48 Sumber: Bidang PP&PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Provinsi Sumatera Selatan adalah daerah endemis malaria. Hal ini disebabkan Kabupaten Bangka dan Belitung berpisah dari Povinsi Sumatera Selatan.04 8. AMI (Annual Malaria Incidence) tahun 2003 – 2009 di Provinsi Sumatera Selatan adalah sebagai berikut: Gambar 3.

106 771 OKI 707. 06.641 223 126 Palembang 1.45 ‰ dengan kematian (CFR 0. 05.222. 09.2 Jumlah Penderita Malaria Klinis. 10.341 11.627 2.01 100 100 100.78 56.35 1.38 0.07 ‰ (7.66 15.531 2.438.88 ‰ (3.47 32.34 12.248 30. Kabupaten Lahat 22.779 1.583 0 0 Muara Enim 668.872 2.5 7. 2009 01.85 0 19.34 ‰ (130 kasus). 04. 13. 02.531 kasus).96 27.41 17.635 529 Musi Banyuasin 523. Kasus klinis tanpa konfirmasi laboratorium diberikan pengobatan klinis malaria di Puskesmas.48 53.729 Sumber : Bidang P2PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan.045 91 Banyuasin 818.326 kasus).210 Musirawas 505.217 7.635 62. Angka kesakitan (malaria klinis) per 1000 penduduk di kabupaten/kota Provinsi Sumatera Selatan dalam tahun 2009 tertinggi adalah di Kabupaten Ogan Komering Ulu 27.12 18.63 0.025 8.326 836 837 Jumlah 7.Tabel 3.34 0.29 100 130 19. 07.280 4. 12. 15. dengan jumlah sediaan darah yang diperiksa / ABER ( Annual Blood Examination rate) 0.056 3.53 22.08 ‰ (7.663 130 18 5 Empat Lawang 213.217 kasus).055 7.938 485 485 34 Prabumulih 137. sedangkan terendah di Kabupaten Ogan Ilir 0.39 27.713 9. Pengobatan kasus malaria yang ditemukan secara Detection) di Puskesmas dengan Pengobatan Radikal PCD (Pasif Case dengan konfirmasi laboratorium.9 %. Pengobatan klinis malaria maupun dengan konfirmasi laboratorium positif malaria di kabupaten/kota umumnya masih mengunakan obat Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 18 .209 5.07 3.665 3.263 1.486 48 2 2 Lubuk Linggau 186.940 7. 03.65 17.272 753 146 Ogan Ilir 384. 11.786 52 26 26 Pagar Alam 116.022 7.42 % dan persentase dari sediaan darah yang positif dari seluruh sediaan darah yang diperiksa (SPR) 21.922 1.49 8.42 5.27%). 08.36 5.53 0.88 8.879 2.776 30 39 OKU Timur 581. Konfirmasi Laboratorium dan AMI Menurut Kabupaten / Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Kabupaten / Kota (1) Jumlah Penduduk (2) Penderita Klinis (3) SD Diperiksa (4) SD Positif (5) SPR (6) AMI (7) OKU 267.45 Dari tabel diatas angka kesakitan (malaria klinis) per 1000 penduduk di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 (AMI) adalah 8.08 15. 10. 14.066 7. Kota Lubuk Linggau 17.905 Lahat 341.491 8 8 OKU Selatan 331.

sektor Peternakan. sektor Perikanan dan Kelautan. sektor Pertanian. Serta tidak terlepas dari peran serta masyarakat itu sendiri. TB Paru Penanggulangan tuberkulosis menerapkan strategi DOTS yang dilaksanakan secara Nasional di seluruh UPK terutama puskesmas yang di integrasikan dalam pelayanan kesehatan dasar. sudah mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2008 yaitu ABER 0.42 % dan tingkat persentase pemeriksaan sediaan darah 48. hal ini menjadi tantangan yang besar bagi petugas laboratorium dalam pemeriksaan sediaan darah malaria yang tidak terlepas dari SDM. Hasil survey Prevalensi TB di Indonesia tahun 2004 bahwa prevalensi TB BTA positif secara Nasional 110 per 100. Kabupaten Ogan ilir dan Kota Pagar Alam. walaupun target yang ingin dicapai adalah 100 %.000 penduduk.2.2. Jumlah sediaan darah yang diperiksa dari penduduk dalam satu tahun / Annual Blood Examination Rate (ABER) tahun 2009 yaitu 0. Muara Enim.18% dan persentase pemeriksaan sediaan darah 22%. Keberhasilan pemberantasan penyakit malaria tidak hanya terletak pada satu institusi yaitu Dinas Kesehatan saja namun perlu keterkaitan dengan sektor-sektor lain antara lain Sektor Kimpraswil. Kabupaten Banyuasin. Kab.18 %. bahan dan alat pemeriksaan yang ada. Kabupaten OKI. Muba dan Kab. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 19 . serta alat dan bahan laboratorium malaria maupun SDM mikroskopis/pengelola program malaria yang ada di kabupaten/kota dan puskesmas. sedangkan di tiga kabupaten wilayah GF Malaria Round 6 tahun 2009 (Kab.OKU) sudah mengunakan obat terbaru yaitu ACT (Artemisinin Combination Therapy). Hal ini tidak terlepas dari kuantitas maupun kualitas dokter/perawat/bidan yang sudah dilatih.1. Dan masih adanya beberapa kabupaten/kota tidak/kurang melaksanakan pemeriksaan sediaan darah malaria antara lain Kabupaten Empat Lawang. 3. Dari Gambar pola maksimum minimum tahun 2004-2009 dapat dilihat puncak penularan terjadi pada bulan Januari maka seyogianya kegiatan Indoor Residual Spraying (IRS) dilaksanakan pada bulan November guna mencapai hasil pemberantasan vector yang optimum.Cloroquin.

sedangkan target mulai dari tahun 2005 sebesar 70 %.61 2002 40 29.43 2008 70 46. Sumatera masuk dalam wilayah 1 dengan prevalensi TB adalah 160 per 100. Angka penemuan pasien baru TB BTA positif (Case Detection Rate) di Provinsi Sumatera Selatan dari tahun 2000 s/d 2008 berfluktuatif .secara regional di Indonesia dikelompokkan dalam 3 wilayah.7 Angka Penemuan Pasien Baru TB BTA Positif (CDR) Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2000 – 2009 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 2000 TARGET CDR 25 23.69 2009 70 44.000 penduduk. Target ini diharapkan dapat menurunkan tingkat prevalensi dan kematian akibat TB hingga separuhnya pada tahun 2010 dibanding tahun 1990. 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 20 . Targetnya adalah tercapainya penemuan pasien baru TB BTA positif paling sedikit 70 % dari perkiraan dan menyembuhkan 85 % dari semua pasien tersebut serta mempertahankannya.47 2001 35 24. memutuskan mata rantai penularan serta mencegah terjadinya MDR TB.73 – 2007 70 45.62 Sumber : Bidang P2PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan. Tujuan dari Program Pemberantasan TB Paru adalah menurunkan angka kesakitan dan angka kematian TB.72 2005 70 42.77 2006 70 46. dan mencapi tujuan millenium development goals (MDGs) pada tahun 2015.62 2004 60 55.74 2003 50 41. dapat dilihat pada gambar di bawah ini : Gambar 3.

57% menjadi 44.62%. wilayah Sumatera dengan prevalensi 160 per 100. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 21 . Hal ini disebabkan karena belum semua RS dan DPS melaksanakan strategi DOTS. ada peningkatan CDR mulai tahun 2000 s/ d tahun 2004 dan peningkatan yang tajam pada tahun 2003 dan 2004.000 penduduk.000 penduduk yang sebelumnya hanya 130 per 100. pada tahun 2005 terjadi penurunan. menunjukkan bahwa dibandingkan tahun 2008. ini disebabkan dengan adanya hasil survey prevalensi TB tahun 2004.Dilihat dari Gambar 3. dan mutasi petugas masih tinggi.7. pada tahun 2009 terjadi penurunan CDR TB paru BTA+ diprovinsi Sumatera Selatan dari 46.8. Untuk penemuan pasien baru TB BTA positif di Sumatera Selatan tidak mengalami penurunan tetapi ada kenaikan setiap tahunnya walaupun belum mencapai target. penjaringan suspek di sebagian kab/kota masih ketat. dan CDR TB paru BTA+ belum mencapai target (70%). Oleh sebab itu maka diperlukan pelatihan P2TB bagi tim DOTS di rumah sakit. memperluas jejaring untuk menemukan dan mengobati pasien TB dengan ekspansi ke rumah sakit dan lapas/ rutan serta meningkatkan kemitraan dengan LSM. Angka Penemuan Pasien baru TB BTA posistif (Case Detection Rate =CDR) di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 per kabupaten/ Kota dapat dilihat pada Gambar 3.

00 5.3 2001 75.43 25.68 OI 53.00 45.63 2005 83.Alam au mulih ang ng 45.84 2008 87.74 2003 82.Gambar 3.35 6.2 2007 84.00 25.2008 90 85 80 75 70 2000 CR 80.Lawa P.00 55.95 OKI 40.Enim 48. 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 22 .62 70.78 68. 2009 Gambar 3.01 OKUT OKUS B.89 OKU Sumsel 53.Lingg Prabu Palemb E.62 Sumber : Bidang P2PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan.00 CDR L.00 35.Asin MUBA MURA 26.86 2004 81.00 65.19 Sumber : Bidang P2PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan.99 53.01 43.8 Angka Penemuan Pasien Baru TB BTA Positif (CDR) Menurut Kabupaten/kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 75.29 Lahat M.44 29.36 2006 84.84 44.48 46.9 Angka Kesembuhan (Cure Rate) Pasien Baru TB BTA Positif Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2000 .00 15.01 33.4 2002 80.

28 80.44 100 84.27 OKI 92.43 Lahat M. sedangkan 5 Kabupaten/ Kota yang lain CR belum mencapai target.19 Sumber : Bidang P2PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan.00 CR L.91 OI 92.Angka kesembuhan (Cure Rate = CR) merupakan angka pasien baru TB BTA positif yang sembuh setelah masa pengobatan.00 70. Gambar 3.Lawa P.19 85.00 50.Asin MUBA MURA 95.Alam au mulih ang ng 94. 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 23 . Gambar berikut menampilkan distribusi pencapaian CR menurut kabupaten/kota.00 30.27 59. Ini menunjukkan bahwa P2 TBC telah memenuhi dan melampaui target SPM untuk tahun 2009.00 40.00 60.34 OKUS B.10 Angka Kesembuhan (Cure Rate) Pasien Baru TB BTA Positif Menurut Kabupaten/kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 100.23 Sumsel 87.17 OKUT 79.00 20.38 44. Dari Gambar diatas dapat dilihat bahwa angka kesembuhan (cure rate) TBC Provinsi Sumatera Selatan tahun 2008 yaitu sebesar 87.Lingg Prabu Palemb E.95 95.21 94. Hal ini disebabkan oleh Tingkat kepatuhan penderita yang berobat cukup tinggi.Enim 85.00 80. terdapat 10 Kabupaten/Kota dengan CR sudah mencapai target > 85 %.15% dengan target SPM > 85%.00 90.41 OKU 87.

1.2. 14 Kabupaten/kota lainnya belum mencapai target SPM. Muara Enim. dan Lubuk Linggau berada pada range terendah yaitu dibawah 50%. terdiri dari 3 Kabupaten yaitu OKU.Gambar 3. Pagar Alam. Banyuasin. dan Empat Lawang berada pada range 50-70%. OKUT. OKI. yaitu kabupaten Musi Rawas. OI. Infeksi HIV dan AIDS sudah menyebar hampir di seluruh Kabupaten/Kota di wilayah Sumatera Selatan.11 Penemuan Pasien Baru TB BTA (+) Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa hanya terdapat satu kabupaten memenuhi target capaian SPM (70%). dan di Indonesia sendiri telah mengalami perubahan Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 24 . OKUS. Kota Prabumulih. Pengidap HIV dan Penderita AIDS Infeksi HIV dan AIDS dalam 10 tahun terakhir semakin nyata menjadi masalah kesehatan masyarakat di Sumatera Selatan yang dibuktikan dengan terus meningkatnya kasus yang ditemukan melalui kinik VCT dan laporan suveilans AIDS dari RS. Palembang. 3. Lahat. 11 Kabupaten/kota yaitu MUBA.3.

000 klien yang melakukan complate testing. tetapi di Sumatera Selatan masih pada epidemi rendah karena prevalensi HIV 0. maka peran klinik VCT dalam upaya untuk meningkatkan cakupan penemuan kasus baru serta penanganan 100 % juga harus dimaksimalkan.01 0.05 1 1. 2 17 – 30 tahun 31 – 40 tahun 41 – 50 tahun 51 – 60 tahun >60 tahun 314 0 Jumlah 37918 22 Sumber : PMI UTDC Kota Palembang 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 25 . Pada era sebelumnya upaya penanggulangan HIV dan AIDS di prioritaskan pada upaya pencegahan. 3.02 0. Dan juga dalam rangka mendukung target VCT pada MDGs untuk tahun 2010 yaitu 300. sehingga upaya ini sangatlah penting dilakukan.3 Laporan Uji Saring HIV di PMI Kota Palembang Tahun 2009 No Kelompok Umur Jumlah Pemeriksaan 3 12098 9942 7886 7678 Hasil pemeriksaan reaktif 4 16 2 1 3 Prevalens Rate 6 0. 5.918 orang pada tahun 2009.05 % (22 orang) dari jumlah pemeriksaan skrining darah donor sebanyak 37. Dengan semakin meningkatnya pengidap HIV dan kasus AIDS yang memerlukan terapi antiretroviral ( ARV).13 0. 4. Tabel 3. maka strategi penanggulangan HIV dan AIDS dilaksanakan dengan memadukan upaya pencegahan dengan upaya perawatan. dukungan serta pengobatan. hal ini karena hasil survei pada sub populasi tertentu menunjukkan prevalensi HIV di beberapa provinsi telah melebihi 5 % secara konsisten.dari epidemi rendah menjadi epidemi terkonsentrasi. 2. maka apabila darah tersebut mengandung HIV tidak akan di donorkan. Pada tabel 3.3 terlihat bahwa Prevalensi Rate dari hasil uji saring (skrining) oleh PMI Kota Palembang yaitu 0.6 %. Skrining pada darah donor merupakan salah satu upaya pencegahan penularan HIV kepada orang lain.03 0 0.

dukungan dan pengobatan.12 Jumlah Pengidap HIV (+) PerTahun Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 600 500 400 300 200 100 0 HIV KUMUL 1995 1 1 1996 1 2 1997 5 7 1998 4 11 1999 2 13 2000 14 27 2001 16 43 2002 16 59 2003 24 83 2004 30 113 2005 87 200 2006 98 298 2007 41 339 2008 67 406 2009 76 482 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari Gambar 3. OKU. Prabumulih.Gambar 3.12 di atas terlihat penemuan HIV pada tahun 2009 berjumlah 85 kasus meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2008 berjumlah 67 kasus. layanan dilakukan baik statis (di Rumah Sakit) maupun mobile VCT untuk mendekatkan akses layanan ke kelompok resiko tinggi tertular HIV. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 26 . Peningkatan kasus ini karena adanya klinik VCT yang telah di bentuk di beberapa kabupaten/kota (Palembang. sehingga cakupan penemuan kasus baru mengalami peningkatan yang selanjutnya dapat mendapatkan layanan perawatan. dan Musi Rawas).

yaitu sebanyak 70 orang. jika dibandingkan dengan tahun 2008 sebanyak 45 orang. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 27 .Gambar 3. tempat hiburan. Hal ini disebabkan karena klien banyak datang ke layanan kesehatan apabila sudah mendapatkan kumpulan gejala AIDS dan hasil testing HIV dinyatakan positif dari Rumah Sakit atau klinik VCT.RK Charitas. dan Homoseksual) yang lebih banyak di banding kota lainnya. yang merupakan salah satu kota transit dari pulau Jawa-pulau Sumatera melalui jalur transportasi darat sehingga banyak sekali hotel.13 Kumulatif Penyebaran Pengidap HIV (+) Per Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 1995-2009 500 450 400 350 300 250 200 150 100 50 0 PLG 401 OKI 5 OI 2 OKU OKT 10 1 OKS 0 MBA 6 BA 2 MRA 8 LLG 21 ME 3 PBM 22 LHT 8 PGA 2 4L 0 TOT 491 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari Gambar diatas dapat dilihat bahwa kasus penemuan HIV (+) tertinggi adalah di kota Palembang karena Kota Palembang adalah kota terbesar di Provinsi Sumatera selatan. dan masih ada lokalisasi yang terkoordinir. dan kelompok resti (WPS.Hoesin. Berikut adalah gambaran jumlah penderita AIDS di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009. Pengguna Narkoba Suntik. RS. seperti di RSUP Moh. Waria. dan RS Ernaldi Bahar sehingga memudahkan klien untuk mendapatkan layanan. yang menunjukan adanya peningkatan jumlah kasus AIDS. Layanan Klinik VCT (Voluntary Counseling and Testing) cukup banyak terdapat di kota Palembang. termasuk untuk mengetahui status HIV nya. Pada fase infeksi HIV ini tidak menunjukkan gejala sehingga klien jarang mendatangi layanan kesehatan.

dan RS RK Charitas. Support & Treatment/ Perawatan. RSUD Prabumulih. Kusta Provinsi Sumatera Selatan termasuk daerah ”Low Endemik” Kusta. RSUD Sobirin Musi Rawas. RSUD Ibnu Sutowo Baturaja. secara kumulatif sebanyak 248 kasus HIV yang telah ditemukan. dengan Prevalensi Rate (PR) < 1/ 10.2. Dukungan dan Pengobatan) di 8 rumah sakit pelaksana CST yaitu RSMH Palembang. RSUD Banyuasin. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 28 . RSUD Kayu Agung. Strategi dalam upaya untuk meningkatkan kualitas hidup ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) adalah dengan dibentuknya layanan CST ( Care.000 penduduk dan Case Detection Rate (CDR) < 5 / 100.000 penduduk.Gambar 3 .4.14 Jumlah Penderita AIDS PerTahun Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 1995-2009 300 250 200 150 100 50 0 AIDS KUMUL 95 1 1 96 0 1 97 0 1 98 0 1 99 0 1 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 0 1 3 4 4 8 6 14 15 29 18 47 37 84 49 133 45 178 70 248 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Penemuan kasus AIDS sejak tahun 1995 sampai dengan tahun 2009 terus mengalami peningkatan. RS Ernaldi Bahar.1. 3. yang dapat menunjang menurunkan angka kesakitan dan angka kematian.

Tujuan :  Menurunkan transmisi penyakit kusta pada tingkat tertentu sehingga kusta tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat.000 pada tahun 2008.  Mencegah kecacatan pada semua penderita baru yang ditemukan melalui pengobatan dan perawatan yang benar.99/100. Target SPM untuk CDR kusta adalah <5/100.  Menghilanglang stigma sosial dalam masyarakat dengan mengubah paham masyarakat terhadap penyakit kusta melalui penyuluhan secara intensif. Kebijakan :  Pelaksanaan program pengendalian kusta diintegrasikan pelayanan kesehatan dasar di puskesmas.000. Case Detection Rate (CDR) Penemuan kasus baru penderita kusta (case detection rate/ CDR) di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2008.000 pada tahun 2009 dan 3.  Pengobatan penderita kusta dengan MDT sesuai dengan rekomendasi WHO di berikan Cuma-Cuma.  Penderita tidak boleh diisolasi. yaitu sebesar 3. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar berikut: Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 29 .05/100. ini menunjukkan bahwa P2 Kusta telah memenuhi atau mencapai target SPM untuk tahun 2009.  Memperkuat sistem rujukan.

5 PLG 2.3 1.5 2.5 2.4 0.5 LL 0 1 OKU S 0.44 5.Gambar 3.4 2.2 0 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 CDR 3.06 3.5 OKI 2.1 2 1.2 4 3.5 LHT 1.15 CDR (case detection rate) Kusta Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 1998-2009 4.04 6.7 2.5 3.05 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Gambar 3.16 Penemuan Kasus Baru (CDR) Penderita Kusta Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 PROV PB ME OKI BA PLG OKU 4L LHT MB OI OKUT MR OKUS LL PA 0 PA CDR 0 0.2 3 2.3 1.5 MR 0.2 1 0.99 3.8 1.54 6 ME 4.8 3.5 OI 0.4 2 OKUT 0.4 1.6 3.87 4.78 MB 3 3.5 PB 6.05 7 1.4 3. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 30 .6 1.8 2.8 0.32 2.86 4 OKU 1.53 PRO V 3.22 5 BA 2. salah satu indikator yang digunakan untuk menilai keberhasilannya adalah angka proporsi cacat tingkat II (kecacatan yang dapat dilihat dengan mata) dan proporsi anak diantara kasus baru.15 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dalam upaya penanggulangan penyakit kusta.2 2 1.47 4L 1.6 0.6 2.7 3.9 2.

36%. Gambar 3.25 ABSOLUT 2 PR OK MU MB OKI ME LHT PA A U RA 0 0 16 5. Dibandingkan tahun 2008. Ini menunjukkan bahwa P2 Kusta telah memenuhi atau mencapai target SPM proporsi penderita kusta anak untuk tahun 2009.17 Proporsi Penderita Kusta Cacat Tingkat II Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 PLG CCT TK II 6.36%.55 1 1 0 0 33. Hal ini dapat menggambarkan penularan kusta yang terjadi di Provinsi Sumatera Selatan cukup terkendali. masih dibawah target SPM untuk proporsi Cacat tingkat II yaitu ≤ 5%.3 47 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 proporsi penderita kusta anak di Provinsi Sumatera Selatan adalah 4.09 % dengan target SPM untuk proporsi penderita kusta anak sebesar ≤ 5%.Gambar berikut menunjukkan angka proporsi Cacat tingkat II Provinsi Sumatera Selatan yaitu 21. dan petugas kurang terampil dalam deteksi dini penyakit kusta karena daerah low endemic. Hal ini disebabkan karena keterlambatan penemuan kasus.3 9 0 0 0 0 0 0 LL 0 0 BA 5 34 OI 0 0 OK OK PR 4L UT US OV 0 0 0 0 0 0 21. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 31 .36% menjadi 21. terjadi peningkatan angka proporsi cacat tingkat II yaitu dari 13. tingginya Leprae Phoby di masyarakat.

87 4.5 3 2.5 4 3.4 3. 2.5 1 0. 7.3 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 3.1.5 0 PLG PRA MB CDR 2. 11.34 0. 8. 4. 6. Kabupaten/Kota Neonatorum Penderita 1.39 2. Penyakit Menular yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I) Tabel 3.03 1.44 0. 9. 10.18 Proporsi Kusta Anak Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 5 4.04 2.54 1.77 0.2.4 Data Penyakit PD3I Per Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 No.5. 3.5 2 1.22 OKI OKU ME LHT MUR PA A 0 LL 0 BA OI OKU OKU PRO 4L T S V 1.Gambar 3. 5. OKU OKI Muara Enim Lahat Musi Rawas Musi Banyuasin Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Empat Lawang 2 0 1 1 0 0 2 0 0 1 0 Meninggal 2 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 Difteri Penderita 0 1 0 0 0 2 1 0 0 0 0 Meninggal 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 152 36 35 95 33 155 27 0 34 1 4 Campak Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 32 .9 1.14 2.46 0.

dan kota Palembang. Dari tabel di atas terlihat bahwa jumlah kasus Tetanus Neonatorum (TN) sebanyak 10 kasus dan meninggal 4 (CFR 40 %).19 Penderita Tetanus Neonatorum Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003 – 2009 100 90 80 Jumlah Penderita 70 60 50 40 30 20 10 0 2003 14 8 2004 24 11 2005 21 8 2006 15 10 2007 17 14 2008 17 8 2009 19 8 Penderita Meninggal Sumber : Subdin P2PL Dari Gambar diatas terlihat ada kenaikan jumlah penderita Tetanus Neonatorum pada tahun 2009 yaitu 19 orang dengan kematian 8 orang. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 33 . Secara Nasional. Kasus TN terbanyak terdapat di Kabupaten OKU. Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau Sumatera Selatan 2 0 0 0 10 1 0 0 0 4 3 0 0 0 7 1 0 0 0 2 274 39 17 52 954 Sumber : Subdin P2PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan. sedangkan CFR yang tertinggi terjadi di kabupaten OKU dan Lahat (100%). Gambar 3. Sumatera Selatan menduduki posisi 3 terbesar kasus Tetanus Neonatorum pada tahun 2008.12. Banyuasin. 15. 14. 13.

Sumatera Selatan merupakan provinsi terbesar kedua untuk kasus difteri pada tahun 2008. Enim 22 36 19 8 13 98 10 4 7 8 6 Lahat 12 20 23 5 23 83 5 22 36 16 16 Mura 5 10 11 10 8 44 4 7 7 7 8 P. Tabel 3. tahun 2008 ( laporan integrasi kab/kota) 274 39 155 36 152 35 95 33 17 52 27 34 11 0 1 440 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 34 . Meskipun demikian. Kab. Alam 0 5 2 1 0 8 4 6 6 0 1 L.5 Distribusi Kasus Campak Berdasarkan Kelompok Umur Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2007 .20 Penderita Difteri Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003 .2009 16 14 12 10 8 6 4 2 2003 Penemuan 2 2004 12 2005 3 2006 8 2007 12 2008 10 2009 7 Sumber: Laporan Difteri Subdin PP&PL. tahun 2003 . kasus terbanyak pada tahun 2007 (12 kasus) dan terendah pada tahun 2003 (2 kasus).Gambar 3.2009 Penemuan kasus difteri cenderung terjadi penurunan./Kota <1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 1-4 5-9 2008 10-14 > 15 Total <1 1-4 5-9 2009 10-14 > 15 Total Palembang 39 77 112 69 94 391 24 69 67 97 67 Prabumulih 1 5 6 2 1 15 10 12 7 5 5 Muba 13 23 24 14 15 89 26 48 42 15 24 OKI 5 16 11 3 13 48 5 9 6 3 13 OKU 14 28 28 17 10 97 26 45 41 16 24 M. Linggau 0 0 0 1 2 3 4 6 17 15 10 Banyuasin 5 9 2 1 0 17 1 8 12 5 1 Ogan Ilir 4 1 2 0 1 33 0 17 13 1 3 OKUT 0 0 0 0 0 8 8 1 1 1 0 OKUS 0 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 Lawang 0 4 0 0 0 4 1 0 0 0 0 Provinsi 125 234 246 135 194 938 33 161 134 63 49 Sumber : Tahun 2007 (Validasi Data Campak).2009 No.

Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 35 .5%. 24% < 1 Th 223.21 Penemuan Kasus Campak Rutin Menurut Kelompok Umur Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 150. Gambar 3.3%. 18% 109. 18% 202. sedangkan pada tahun 2009 kasus campak tertinggi pada kelompok umur 1-4 tahun yaitu sebesar 36.59% dan terendah pada kelompok umur < 1 tahun yaitu sebesar 7. 13% 146. 27% 1-4 Th 5-9 Th 10-14 Th > 15 Th Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari Gambar di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar kasus campak terjadi pada kelompok umur > 5 tahun yaitu sebesar 62.5% jika dibandingkan pada kelompok umur < 4 tahun (37.5%).Data pada tabel di atas menunjukan bahwa kasus campak pada tahun 2008 tertinggi terjadi pada kelompok umur 5-9 tahun yaitu sebesar 24% dan terendah pada kelompok umur < 1 tahun yaitu sebesar 13.

Tabel 3. Kab. Enim Lahat Mura P.6 Distibusi Kasus Campak Per Bulan Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15.ASIN 27 17 OKUS 0 0 OKUT 11 8 O.ENIM 35 98 LHT 95 83 MURA 33 44 MUBA 155 89 B.ILIR 34 33 4 LWG 1 4 PLG 274 391 PRB 39 15 PGA 17 8 LGU 52 3 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 36 . 2009 Gambar 3. Timur O./Kota 1 2 23 1 14 2 14 2 6 4 3 5 3 3 0 0 0 60 3 29 0 11 8 11 7 5 3 8 2 6 1 2 0 0 93 4 33 3 9 2 9 1 7 3 0 4 5 0 3 0 0 79 5 Kasus Campak Per Bulan 6 7 8 9 26 3 17 5 18 1 6 5 2 10 5 3 3 0 0 104 21 5 14 2 14 6 15 1 1 8 0 2 1 0 0 90 14 1 16 2 16 0 8 2 0 7 1 5 0 0 1 73 20 7 9 5 9 0 11 0 0 7 2 5 0 0 0 75 10 11 5 4 0 3 2 2 0 0 4 0 0 0 0 0 31 11 22 6 15 1 11 0 15 0 0 2 0 0 1 0 0 73 12 23 3 12 2 12 1 10 0 2 0 0 7 0 0 0 82 Total 268 39 155 36 129 35 95 33 21 52 27 34 11 0 1 949 Palembang Prabumulih Muba OKI OKU M.kota. Alam L.22 Data Campak Menurut Sumber Laporan Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2008-2009 250 200 150 100 50 0 2009 2008 2009 2008 OKU 152 97 OKI 36 48 M. Selatan 4 Lawang Provinsi 20 0 10 2 11 11 5 4 4 1 1 7 1 0 0 77 26 5 24 5 24 4 5 11 1 2 4 1 0 0 0 112 Sumber data : Laporan integrasi kab. Linggau Banyuasin Ogan Ilir O.

Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 37 .Dari Gambar di atas terlihat bahwa kasus klinis campak meningkat pada tahun 2009 di beberapa kabupaten/kota dengan jumlah peningkatan tertinggi pada kota Lubuk Linggau dari 3 kasus pada tahun 2008 menjadi 52 kasus pada tahun 2009. Gambar 3.23 Sebaran Kasus Campak Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari gambar di atas. Empat Lawang dan OKU Timur. nampak masih ada kabupaten/kota yang belum mencapai target kelengkapan laporan yaitu Kabupaten OKI. yaitu melakukan pemeriksaan spesimen darah penderita klinis campak dengan konfirmasi laboratorium sebanyak 20% total perkiraan kasus dalam 1 tahun. Selain itu mulai bulan Juli 2009 dilaksanakan kegiatan Cases Based Méasles Surveillance (CBMS).

5%. Gambar 3.2%).2%.25 Hasil Pelaksanaan CBMS Konfirmasi Laboratorium Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 90 75 60 45 30 15 0 Klinis Campak Rubella Negatif OKU 8 0 2 6 OKI 0 0 0 0 M.Gambar 3. ternyata 13 kasus IgM (+) campak (11.ILIR 3 0 1 2 4 LWG 1 0 0 1 PLG 83 12 35 36 PRB 2 0 1 1 PGA 2 0 0 2 LGU 2 0 1 1 Klinis Rubella Campak Negatif Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 38 .ASIN 3 0 0 3 OKUS 0 0 0 0 OKUT 0 0 0 0 O. Campak & Rubella (-) sebesar 52. TN & Campak Tahun 2009 Dari Gambar di atas. nampak bahwa hasil serologis pada 116 kasus klinis campak yang ditemukan di Sumatera Selatan. IgM(+) Rubella sebesar 36. Hal ini menunjukkan perlunya dilakukan pemeriksaan spesimen pada kasus klinis campak yang ditemukan sebagai upaya untuk intervensi program imunisasi dan sebagai dasar pengambilan keputusan untuk pelaksanaan kegiatan selanjutnya.ENIM 6 0 1 5 LHT 0 0 0 0 MURA 2 0 1 1 MUBA 4 1 0 3 B.24 Hasil CBMS Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 150 116 100 61 50 13 0 2009 Spesimen 116 Campak 13 Rubella 42 Negatif 61 42 Sumber : Laporan Integrasi S-AFP.

3. positif Rubella terbanyak pada kelompok umur 10-14 dan > 15 tahun yaitu masing-masing sebesar 34%. dimana situasi tahun 2008 dari 2. seiring dengan adanya penurunan kasus/penderita.26 Kasus Campak (CBMS) Menurut Kelompok Umur dengan Konfirmasi Laboratorium Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 100% 50% 0% > 15 Th 10-14 Th 5-9 Th 1-4 Th < 1 Th Klinis 37 22 26 23 8 Negatif 22 6 15 13 6 Rubella 12 12 7 4 0 Campak 1 1 2 6 2 Equivocal 2 3 2 0 0 Dari Gambar diatas terlihat bahwa proporsi kasus positif campak terbanyak terjadi pada kelompok umur 1-4 tahun (50%).774 penderita (IR 25/100.6.42%) menurun menjadi 1. mengingat memang jumlah penduduknya yang lebih padat dibanding kabupaten/kota lain. yaitu antara lain Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 39 . Untuk Kabupaten Lahat. dan ini juga tidak luput dari kinerja petugas kesehatan.357 penderita (IR 34/100. Hal ini disebabkan karena kesadaran masyarakat untuk segera membawa keluarga/penderita langsung ke Rumah Sakit atau sarana pelayanan kesehatan yang terdekat.2.Dari Gambar diatas terlihat bahwa kasus klinis dan laboratoris yang terbanyak berasal dari Kota Palembang. Namun hingga tahun 2009 tidak terjadi KLB. OKUS dan OKUT tidak mengirimkan spesimen ke Balitbang Bomedis & Farmasi Depkes sehingga tidak diketahui hasil konfirmasinya. Penyakit Potensial KLB / Wabah 1).000 dan CFR 0.28%)) di tahun 2009. maka diperkirakan akan terjadi KLB lagi pada tahun 2003 (berdasar pola lima tahunan). Demam Berdarah Dengue Sejak terjadi KLB DBD pada tahun 1998.1.000 dan CFR 0. Gambar 3.

2009 4000 3500 3000 2500 2000 1500 1000 500 0 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 1406 1048 1511 1270 1621 1774 2280 2360 3487 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari Gambar di atas terlihat bahwa kasus DBD ditemukan setiap tahun. Gambar 3. Tujuan dari program:  Meningkatkan kesadaran. pendistribusian larvasida.dan kematian CFR < 1% . kemauan dan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat agar terhindar dari Penyakit Demam Berdarah Dengue dan terselenggaranya kegiatan PemberantasanSarang Nyamuk (PSN) terutama 3 M plus secara berkesinambungan. sedangkan penemuan kasus yang meninggal tertinggi pada tahun 2004.27 Kecenderungan Situasi DBD Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2001 . insektisida dan pelaksanaan Gertak PSN DBD. Penangulangan Fokus.upaya-upaya pencegahan dan penanggulangan DBD dalam tata laksana kasus di Rumah Sakit dan puskesmas.000.  Menurunkan angka kesakitan kurang dari 20/100. Untuk penanggulangan kasus DBD berbagai upaya sudah dilaksanakan setiap tahun seperti penyebaran Surat Edaran Kewaspadaan DBD. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 40 .

12.Linggau Prov 7 61 199 0 26 71 141 0 0 79 3 965 147 27 49 1774 IR (100.21 0. 10.00 0. OKU OKI M. 15.00 0.00 0.00 0. Angka kematian tahun 2009 yaitu sebanyak 5 orang (CFR 0.00 7. 3. 5.000 penduduk) 3 9 30 0 5 14 17 0 0 21 1 67 107 23 26 25 Kematian CFR (%) 0. 13. 7.00 0. 11.28%) dibandingkan tahun 2008 (0.41 0.Tabel 3. 4. Muara Enim sebanyak 199 kasus lalu disusul oleh Prabumulih sebanyak 147 kasus. 14.7 Distribusi Penemuan Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) Perkabupaten / Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 No Kab/kota Penderita 1.69 1. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 41 .00 0.00 0. 2.00 0.28 0 0 0 0 2 1 0 0 0 0 0 2 0 0 0 5 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari tabel di atas penemuan kasus DBD terbanyak untuk tahun 2009 yaitu di kota Palembang sebanyak 965 kasus .42%).00 0.00 0. 8. 6. 9.00 0. Enim Lahat Mura Muba Banyuasin Oku Selatan Oku Timur Ogan Ilir 4 Lawang Palembang Prabumulih Pagar Alam L.

Gambar 3.28 CFR Penderita DBD Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003 .487 penderita pada tahun 2007 kemudian menurun pada tahun 2009 menjadi 1774 penderita.3 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Gambar 3.2009 5 4 3 2 1 0 CFR 2003 2.4 2008 0.5 2007 0. dari 31 pada tahun 2003 menjadi 5 kasus pada tahun 2009. sedangkan kematian akibat DBD cenderung menurun. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 42 . dari 1270 penderita pada tahun 2004 menjadi 3.26 2005 0.29 di atas terlihat bahwa jumlah penderita dari tahun 2004 sampai 2007 mengalami peningkatan.6 2006 0.05 2004 1.29 Perkembangan Penderita DBD Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003-2009 Jumlah penderita 3500 3000 2500 2000 1500 1000 500 0 case death 2003 1511 31 2004 1270 16 2005 1621 9 2006 2280 2 2007 3487 13 2008 2360 3 2009 1774 5 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari Gambar 3.1 2009 0.

Gambar.000.30 Perbandingan Incidence Rate (IR) Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2008-2009 35 30 25 20 15 10 5 0 2008 2009 25 34 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Standar program untuk angka kesakitan (IR) adalah kurang dari 20/100.31 Penemuan Penderita DBD yang Ditangani Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 43 . Angka IR belum memenuhi standar program untuk tahun 2008 maupun tahun 2009.3. Gambar 3.

Gambar diatas menunjukkan bahwa Penemuan kasus DBD yang ditangani tertinggi adalah Kabupaten Musi Rawas. imunodefisiensi dan sebab-sebab lain. OKI. 2). Banyuasin. dan Kota Lubuk Linggau berada pada range pertengahan yaitu antara 70%-100%. Sedangkan Kabupaten Muara enim. Muara Enim dan OKI. Diare Secara klinis penyebab diare dapat dikelompokkan dalam golongan 6 besar yaitu : infeksi. OKUT. Distribusi penderita diare pada tahun 2009 per kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan dapat dilihat pada Gambar berikut ini : Gambar 3. malabsorpsi. Banyuasin.Tetapi yang sering ditemukan di lapangan ataupun klinis adalah diare yang disebabkan infeksi dan keracunan. Ogan ilir. keracunan. Lahat. Kota Palembang. alergi. sedangkan Kabupaten OKUS. Hal ini disebabkan jumlah penduduk Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 44 . Kabupaten OKU. Kota Prabumulih di bawah 70%. Empat Lawang tidak ditemukan kasus.32 Distribusi Penderita Diare Semua Umur PerKabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 OKU OKI ME Lht MUR MUB OKU OKU BA OI A A S T 4L PLG Prb PGA LLG Prov 2009 8791 1621 2045 7339 1156 1607 2255 2760 1634 1198 3089 5979 3102 1482 4430 2E+0 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari data di atas dapat dilihat bahwa penderita diare terbanyak ada di Palembang. dan Kota Pagar Alam. Musi Banyuasin.

33 TREND KEJADIAN DIARE PROV SUMSEL BERDASARKAN BULAN 2008 30000 2009 25000 20000 15000 10000 5000 0 2008 2009 Jan 15194 15419 Feb 14355 14734 Mar 16384 15635 Apr 15036 15340 Mei 15980 14040 Jun 17334 17807 Jul 18111 20210 Ags 18042 25072 Sep 16176 17886 Okt 14977 18504 Nop 13397 16249 Des 11493 15095 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari Gambar di atas dapat dilihat bahwa peningkatan kasus diare biasa terjadi mulai dari bulan Juni sampai dengan bulan Agustus. Selain itu juga didukung oleh sistem pencatatan dan pelaporan yang baik. Hal ini dikarenakan pada bulanbulan ini merupakan puncak musim kemarau sehingga warga kekurangan air bersih untuk mencukupi kebutuhan sehari-sehari. Gambar 3.yang banyak dan padat serta merupakan DAS (endemis diare). Empat Lawang dan Prabumulih dengan alasan sebaliknya. OKUS. Sedangkan penderita diare paling sedikit ada di Pagar Alam. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 45 .

Untuk melihat sebaran kasus di 15 Kabupaten/Kota dapat melihat lampiran Tabel 10. Berikut adalah gambaran penemuan penderita diare balita di kabupaten/kota dengan target SPM 70%. merupakan daerah aliran sungai dengan masih banyaknya tempat-tempat kumuh.23%) pada tahun 2008 menjadi 98. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 46 . Capaian 15 Kabupaten/Kota rata-rata 3.24%. dikarenakan jumlah penduduk yang lebih banyak dan padat.Gambar 3.890 penderita (capaian SPM 3.24%) pada tahun 2009.391 penderita (capaian SPM 2. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. terjadi kenaikan jumlah penderita yaitu dari 67.24%.34 Cakupan Penderita Diare yang Ditangani oleh Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 120 100 80 60 40 20 0 Capaian Target OK MU MU OK OK OKI ME Lht BA OI U RA BA US UT 78 90 54 90 72 90 51 90 54 90 73 90 65 90 20 90 66 90 74 90 4L 34 90 PL Pro Prb Pga LLG G v 98 90 53 90 30 90 56 90 67 90 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari Gambar di atas dapat dilihat bahwa hanya kota Palembang yang mencapai target. serta sistem pencatatan dan pelaporan yang sudah baik dan rutin. yang berarti bahwa persentase penderita balita yang ditangani terhadap jumlah perkiraan penderita diare di wilayah tersebut adalah 3.

kelelawar.2. Jumlah kasus gigitan hewan di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 adalah 808 orang sedangkan tahun 2008 ditemukan kasus 978 orang dan tidak ditemukan penderita Lyssa (Rabies). kera. sedangkan kasus terendah terjadi di Kabupaten Oku Selatan (12 Kasus). Jumlah kasus gigitan hewan tertinggi terjadi di kabupaten Muara Enim (158 kasus). Penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus rabies yang ditularkan melalui gigitan hewan seperti anjing. Rabies Rabies adalah salah satu penyakit yang CFR-nya tinggi.1.Gambar 3.7.35 Penemuan Penderita Diare Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 3. musang dan serigala yang di dalam tubuhnya terdapat virus rabies. kucing. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 47 . kota Palembang (220 kasus).

OKU Timur dan MUBA. Lubuk Linggau. Prabumulih.2.8 Jumlah Kasus Rabies Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003 – 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Palembang 347 427 135 327 245 232 Prabumulih 35 27 8 10 12 17 Pagar Alam 67 71 19 34 30 74 Lubuk Linggau 35 15 15 17 21 10 Ogan Ilir 0 0 0 65 39 17 OKUS 0 0 0 6 5 47 OKU 70 30 15 46 26 60 MURA 35 66 10 20 36 29 Lahat 79 69 34 34 19 88 OKI 67 83 29 85 41 48 Banyuasin 25 43 278 42 43 43 Muara Enim 261 239 74 269 242 266 OKUT 0 0 67 26 26 17 MUBA 32 40 0 55 24 28 Empat Lawang 0 0 0 0 0 0 Provinsi 1058 1113 684 1036 809 978 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Kab/Kota 2009 220 30 33 21 77 12 52 28 58 30 22 158 18 27 22 808 3. Kabupaten Ogan Ilir.8. Muara Enim. dan kemudian menjadi cacing dewasa dan hidup di jaringan limfe. Tujuan dari P2 Filaria adalah untuk mendukung program eliminasi kaki gajah ( ELKAGA) tahun 2020. Parasit ini ditularkan pada manusia melalui gigitan nyamuk yang telah terinfeksi. MURA. Lahat. Banyuasin.Tabel. OKI.1. Tetapi untuk 5 kabupaten yang lain masih perlu melakukan program rapid survey secara efektif. Dari tabel berikut terlihat bahwa sejak tahun 2004 kasus kronis filariasis telah ditemukan di 10 Kabupaten/Kota yaitu di Kota Palembang. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 48 . 3. Filariasis Limphatic Filariasis adalah penyakit parasit dimana cacing filaria menginfeksi jaringan limfe.

Lahat. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 49 . OKU Timur. OKI.81%) melalui program pengobatan massal. Banyuasin. Persentase kasus penyakit filariasis yang ditangani dapat dilihat pada lampiran Tabel 13.9 Gambaran Penemuan kasus kronis filariasis Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2004 – 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Tahun 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Palembang 0 1 0 0 0 1 Prabumulih 0 0 0 2 0 0 Pagar Alam 0 0 0 0 0 2 Lubuk Linggau 0 1 0 1 0 1 Ogan Ilir 0 3 0 0 0 2 OKUS 0 0 0 0 0 14 OKU 0 0 0 0 0 1 MURA 0 2 0 0 0 2 Lahat 11 0 0 0 0 15 OKI 0 3 0 0 0 3 Banyuasin 15 13 9 8 13 130 Muara Enim 5 4 3 5 4 13 OKUT 0 5 9 0 0 0 MUBA 0 2 0 0 0 2 Empat Lawang 0 0 0 0 0 0 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Kab/Kota Dari 15 Kabupaten/kota yang ditemukan kasus. Salah satu tujuan program P2 filariasis adalah menurunkan MF rate < 1 %. Dari tabel berikut terlihat bahwa di 6 Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Sumatera Selatan yaitu Kabupaten MURA. Dari 6 kabupaten endemis tersebut baru Kabupaten Banyuasin yang secara kontinue telah melaksanakan pengobatan massal sejak tahun 2004. ditangani 53 kasus (38. Jika MF rate > 1 % berarti daerah tersebut merupakan daerah endemis dengan program utama adalah pengobatan massal. Sedangkan untuk daerah yang lain program yang dilaksanakan adalah rapid survey dan survey Darah Jari. dan MUBA mempunyai MF rate > 1 %.Tabel 3. hanya Kabupaten Banyuasin yang mendapat penanganan yaitu dari 130 kasus.

0% 0 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 3.5 % 0 1.4% 2.5 % 0 0 0 0 2005 0 0 0 0 0 0 0 1.4 % 2. Influenza A Baru (H1N1) Influenza A baru (H1N1) merupakan salah satu penyakit baru di Sumatera Selatan (new emerging disease).4 % 0 0 Tahun 2006 0 0 0 0 0 0 0 1.9.3 % 1.5% 0.10 Gambaran MF rate Filariasis Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2004-2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Kab/Kota Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau Ogan Ilir OKUS OKU MURA Lahat OKI Banyuasin Muara Enim OKUT MUBA Empat Lawang 2004 0 0 0 0 0 0 0 1.2% 1. dimana 2 (dua) orang diantaranya positif menderita penyakit ini yang berasal dari Kabupaten OKU dan Kota Palembang.4 % 2.0 % 1.1. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut: Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 50 .0% 1.5 % 0 1.2.4 % 0 1.0 % 1.5 % 0 1.3% 1.0 % 1.4 % 2.4 % 2.3 % 1.5 % 0 1.3 % 1. Selama tahun 2009 ditemukan 4 (empat) kasus suspek.4% 2.3 % 1.4 % 0 0 2009 0 0 0 0 0 0 0 1.3 % 1.4 % 0 0 2007 0 0 0 0 0 0 0 1.4 % 0 0 2008 0 0 0 0 0 0 0 1.0 % 1.Tabel 3.

2. Penyakit Tidak Menular Data penyakit tidak menular (PTM) diperoleh dari rumah sakit berdasarkan laporan tiap bulannya.Gambar 3. Hal ini menunjukkan terjadi penurunan kelengkapan laporan yang diterima di Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan.36 Kasus dan Suspek Influenza A Baru (H1N1) Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 6 5 4 3 2 1 0 SUSPECT POSITIF SEMBUH OKU 0 1 1 OKI 0 0 0 ME 0 0 0 LHT 0 0 0 MUR A 0 0 0 MBA 0 0 0 BA 1 0 0 OKU S 0 0 0 OKU T 0 0 0 OI 0 0 0 PLG 3 1 4 PBM 0 0 0 PGA 0 0 0 LLG 0 0 0 PROP 4 2 6 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 3. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 51 . Dari Gambar 3.2. serta dari puskesmas untuk 2 penyakit terpilih yaitu Hipertensi dan Diabetes Mellitus. Diabetes Mellitus. dan Hipertensi namun untuk lalin mengalami peningkatan walaupun tidak signifikan jika dibanding tahun 2008.37 berikut dapat dilihat bahwa pada tahun 2009 terjadi penurunan prevalensi penyakit Neoplasma.

Linggau Karsinoma 14.08 9.11 49.11 0.21 55.79 1.79 1.96 30.13 0.75 7.25 19.26 30.31 11. tahun 2004 .09 25.19 Peny.07 0 0.4 17.55 0.18 0.61 33.49 Sumber: Laporan PTM Subdin PP&PL.Enim Lahat Lb.44 16.26 1.11 Prevalensi Penyakit Tidak Menular per 10.13 0 1.31 3.Gambar 3.23 1.04 DM 22.04 1.05 Hipertensi 43.95 30.52 59.36 Jantung 25.42 1.26 1. Jantung 29.19 0 0.05 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 52 .49 28.16 0.9 10.52 DM 17.72 Hipertensi 34.000 Penduduk Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 60 55 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Neoplasma 11.24 31.42 17.58 1.32 0.85 28.89 11.61 25.02 0.03 0.78 0.01 0.51 1.25 0.17 53.05 0.17 0 0.55 Lalin 18.21 0.02 KLL 5.03 0.37 18.23 0 0.16 1.2009 Tabel 3.000 penduduk Menurut Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 KAB/KOTA Palembang MUBA Banyuasin OKI Prabumulih M.37 Prevalensi Penyakit Tidak Menular Per 10.39 14.97 38.

2.2.57 53. Diabetes Melitus (28.02 0.05 0.18 0.121 5.36 0.565 18.14 1.612 11.62 28.813 238 1 46 T O T A L JUMLAH 11.765 19.615 6.04).026 meningkat dari 1. 2009 Tabel 3.913 265 2 54 PR 8.55 14. 2009 Dari tabel di atas menunjukkan bahwa prevalensi PTM tertinggi per 10.275 35.04 0. tercatat jumlah kecelakaan yang terjadi 2.53 0.85) dan terendah Psikosis (0.099 3.5.067 meninggal dunia.49 14. Cedera dan Kecelakaan Lalu Lintas Kecelakaan Lalu Lintas (KLL) dapat menyebabkan luka ringan.04 30.55).15 Sumber: Laporan PTM.312 orang.13 0. Selama tahun 2008.07 0. KLL yang terjadi berdasarkan kabupaten / kota dapat dilihat pada Gambar berikut : Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 53 .86 0.150 12.25 2.820 20.36) dan diiringi Penyakit Jantung (30. 1.000 17.25 0. 3. luka berat 1.30 0.726 503 3 100 1 2 3 4 5 6 7 8 PREVALENSI 1/10.72 53.35 0.710 17.208 9.53 28.13 0.706 orang dengan perincian 1.36 30. JENIS PENYAKIT Karsinoma DM Hipertensi Penyakit Jantung Kecelakaan Lalin Stroke Psikosis Com-ser LK 3.55 1.9 10 11 12 Jumlah MURA Pagaralam OKU OKUT 0.000 penduduk di Sumatera Selatan adalah Hipertensi (53.27 0. dengan jumlah korban sebanyak 3.500 9.653 kasus pada tahun 2007. luka berat maupun kematian.49 Sumber: Laporan PTM Bidang PP&PL.327 luka ringan.04 0.72 0.12 Angka Kesakitan Secara Absolut Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 No.49 0.75 0.05 0.52 17.

antara lain bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). 3.3.3. dan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY). Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) BBLR (kurang dari 2.38 Jumlah Kejadian Kecelakaan Lalu Lintas Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 OKU OKI Muara Enim Lahat Musi Rawas Musi Banyuasin Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Empat Lawang Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau 0 50 100 150 200 250 300 Luka Ringan Luka Berat Meninggal KKL Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 3. Status Gizi Balita. BBLR dibedakan dalam 2 kategori yaitu : BBLR karena prematur (usia kandungan kurang dari 37 minggu) atau BBLR karena intrauterine growth retardation (IUGR).1. Di negara berkembang banyak BBLR dengan Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 54 . Status Gizi Wanita Usia Subur.500 gram) merupakan salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian perinatal dan neonatal.Gambar 3. STATUS GIZI MASYARAKAT Status gizi masyarakat dapat diukur melalui indikator-indikator. yaitu bayi yang lahir cukup bulan tetap berat badannya kurang. Kurang Energi Kronik (KEK).

94% dan pada tahun 2008 mencapai 65%.41% (rentang : 0. Salah satu cara penilaian status gizi balita adalah dengan anthropometri yang menggunakan indeks Berat Badan Umur (BB/U). mengalami peningkatan sebesar 25.19% .65%).41 17 21 6 10 14 20 40 29 29 73 55 38 41 154 47 137 179 60 80 100 120 140 160 180 200 Sumber : Bidang Yankes Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Proporsi BBLR di Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 sebesar 0. Distribusi cakupan BBLR ditangani dapat dilihat pada lampiran Tabel 15.6. Anemia.65%) dan proporsi BBLR terendah terjadi di Kabupaten Muara Enim (0. terlihat bahwa proporsi bayi BBLR tertinggi terjadi di kota prabumulih (6. Gizi Balita Status gizi balita merupakan salah satu indikator yang menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat. OKUS. Gambar 3. Selain itu terdapat peningkatan penanganan di 4 Kabupaten yaitu Kabupaten Lahat. 3. Kategori yang digunakan adalah : gizi lebih (z-score > + 2 SD). gizi baik (z-score – 2 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 55 .39 Proporsi Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) Menurut Kabupaten / Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Sumsel OKU OKI Muara Enim Lahat Musirawas Musi Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Empat Lawang Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau 0 0. Malaria. dan menderita Penyakit Menular Seksual (PMS) sebelum konsepsi atau pada saat hamil. pada tahun 2008 tidak terdapat laporan penanganan sedangkan pada tahun 2009 sudah dilaporkan.2.9%. Cakupan BBLR ditangani pada tahun 2009 mencapai 90. Pada Gambar di atas.3.19%). Empat Lawang. dan Kota Prabumulih.IUGR karena ibu berstatus gizi buruk.

SD sampai + 2 SD); gizi kurang (z-score < - 2 SD sampai – 3 SD); gizi buruk (zscore < - 3 SD).

Gambar 3.40 Prevalensi Gizi Buruk Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009
Sumsel OKU OKI Muara Enim Lahat Musirawas Musi Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Empat Lawang Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau 0 0,01 0,01 0,01 0,01 0,02 0,02 0,01 0,02 0,05 0,1 0,15 0,2 0,25 0,3 0,06 0,03 0,07

0 0

0,27

0 0

Sumber : Bidang Yankes Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009

Prevalensi gizi buruk Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 sebesar 0,03% (Rentang : 0 – 0,27%). Pada Gambar di atas terlihat bahwa prevalensi gizi buruk tertinggi terjadi di Kabupaten Banyuasin (0,27%) kemudian diikuti oleh Kabupaten Lahat (0,07%). Berdasarkan hasil riskesdas 2007, secara umum prevalensi gizi buruk di Kabupaten/Kota Provinsi Sumatera Selatan adalah 6,5% dan gizi kurang 11,7%. Bila dibandingkan dengan Target MDG untuk Indonesia sebesar 8,5%, maka di Kabupaten/Kota Provinsi Sumatera Selatan target tersebut telah terlampaui, walaupun pencapaian tersebut belum merata di 15 kabupaten/kota.

Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010

Page 56

Gambar 3.41 Angka Gizi Buruk dan Gizi Kurang Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2002 – 2009
20 15 10 5 0 Gizi Buruk Gizi Kurang Total 2002 0,95 11,46 12,31 2003 1,31 9,33 10,64 2004 1,12 8,56 9,68 2005 0,7 6,43 7,13 2006 1,07 10,38 11,45 2007 6,50 11,7 18,2 0,04 0,03 2008 0,04 2009 0,03

Sumber : Bidang Yankes Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009

Gambar 3.42 Cakupan Balita Gizi Buruk Mendapat Perawatan Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009

Dari gambar diatas menunjukkan bahwa penanganan gizi buruk di Sumatera Selatan sudah terdistribusi merata di 15 Kabupaten/Kota yang seluruhnya sudah memenuhi target standar pelayanan minimum yaitu 100%. Persentase Balita gizi buruk pada tahun 2009 adalah 0,03% menurun dibandingkan tahun 2008 yaitu 0,04%. Jumlah dan persentase Balita gizi buruk dapat dilihat pada lampiran Tabel 16.

Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010

Page 57

Gambar 3.43 Cakupan Pemberian MP ASI pada Anak Usia 6-24 bulan Keluarga Miskin Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2002 – 2009

Cakupan pemberian MP ASI belum terdistribusi merata. Kabupaten MUBA, Muara Enim, OKUS, dan kota Pagar Alam sudah dapat memenuhi target SPM yaitu mencapai 100%. Sedangkan kabupaten/kota lainnya memiliki capaian dibawah 70%. 3.3.3. Status Gizi Wanita Usia Subur Kurang Energi Kronik (KEK) Salah satu cara untuk mengetahui status gizi Wanita Usia Subur (WUS) umur 15 – 19 tahun adalah dengan melakukan pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA). Hasil pengukuran ini bisa digunakan sebagai salah satu cara dalam mengidentifikasi seberapa besar seorang wanita mempunyai risiko untuk melahirkan bayi BBLR. Indikator Kurang Energi Kronik (KEK) menggunakan LILA < 23,5 cm.

Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010

Page 58

BAB 4 SITUASI UPAYA KESEHATAN

Sesuai dengan tujuan diselenggarakannya pembangunan kesehatan yaitu untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan tersebut diselenggarakan berbagai upaya kesehatan secara menyeluruh, berjenjang dan terpadu. Berikut ini akan diuraikan beberapa upaya pelayanan kesehatan selama tahun 2009.

4.1. PELAYANAN KESEHATAN DASAR Pelayanan kesehatan dasar (Primary Health Care) merupakan langkah awal yang sangat penting dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. Dengan pemberian pelayanan kesehatan dasar secara cepat dan tepat, diharapkan sebagian besar

masalah kesehatan masyarakat telah dapat diatasi. Pelayanan kesehatan dasar yang dilaksanakan oleh fasilitas pelayanan kesehatan terdiri dari beberapa kegiatan, yaitu :

4.1.1

Pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi. Pelayanan kesehatan ibu meliputi pelayanan antenatal, pertolongan persalinan

oleh tenaga kesehatan dengan kompetensi kebidanan, pelayanan terhadap ibu hamil risiko tinggi yang dirujuk, kunjungan neonatus, dan kunjungan bayi.

4.1.1.1. Pelayanan Antenatal (K1 dan K4) Pelayanan kesehatan antenatal merupakan pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan profesional (dokter spesialis kandungan dan kebidanan, dokter umum, bidan dan perawat) kepada ibu hamil selama masa kehamilannya sesuai dengan pedoman pelayanan antenatal yang ada dengan titik

Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010

Page 59

Cakupan K1 atau juga disebut akses pelayanan ibu hamil merupakan gambaran besaran ibu hamil yang telah melakukan kunjungan pertama ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal.54 91.53 85. Angka ini dapat dimanfaatkan untuk melihat kualitas pelayanan kesehatan kepada ibu hamil.94 2007 2008 2009 88.75 90.82 94.31 85.63 7.05 91.2009 100 75 Persentase 50 25 0 K1 K4 K1-K4 2003 2004 2005 2006 91.1 Persentase Cakupan Pelayanan K1 dan K4 Ibu Hamil Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003 .1 di atas terlihat bahwa persentase cakupan K1 dan K4 terjadi kenaikan.52 6.05 84.45% pada tahun 2008 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 60 .86 88.6 5.7 5.41 94.32 94. sekali pada trimester dua dan dua kali pada trimester ketiga.41% pada tahun 2008 meningkat menjadi 94. Sedangkan K4 adalah gambaran besaran ibu hamil yang telah mendapatkan pelayanan ibu hamil sesuai standar serta paling sedikit empat kali kunjungan. dengan distribusi sekali pada trimester pertama.42% pada tahun 2009. berikut ini : Gambar 4. begitu juga dengan Cakupan K4 sebesar 84.42 6.berat pada kegiatan promotif dan preventif. Cakupan K1 sebesar 90. Hasil pelayanan antenatal dapat dilihat dari cakupan pelayanan K1 dan K4.45 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari Gambar 4.16 85. Gambaran cakupan K1 dan K4 Provinsi Sumatera Selatan dalam 6 tahun terakhir dapat dilihat pada Gambar 4.96 86.38 6.8 5.1.

data yang diterima dari Bidan di Desa ke puskesmas masih ada yang tidak terlaporkan. menunjukkan bahwa semakin banyak ibu hamil yang melakukan kunjungan pertama pelayanan antenatal diteruskan hingga kunjungan keempat pada trimester 3 sehingga kehamilannya dapat terus dipantau oleh petugas kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan.6% pada tahun 2009. Dari gambar tersebut dapat dilihat juga selisih antara K1 dan K4. yang semakin menurun dari tahun ke tahun. Gambaran cakupan K4 menurut kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 dapat dilihat pada gambar 4.meningkat menjadi 88. program P4K dengan stiker belum sepenuhnya terlaksana. Beberapa kemungkinan penyebab fluktuasi cakupan pelayanan K1 dan k4 antara lain masih lemahnya sistem pencatatan dan pelaporan dari tingkat dasar (puskesmas) maupun kabupaten/kota. PWS KIA sebagai alat pemantauan wilayah setempat untuk pengumpulan data dan monitoring dalam pengisiannya masih belum sesuai dengan standar yang ada dan belum dianalisa sebelum dikirim ke tingkat provinsi.2 berikut ini : Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 61 . adanya pemekaran wilayah yang menyebabkan belum siapnya SDM yang ada di wilayah tersebut.

Lahat. Prabumulih. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 62 . OKU Timur. Ogan Komering Ilir.Gambar 4. OKU. kota Palembang. harus diupayakan pula peningkatan kualitas K4 yang sesuai standar.03% adalah Kabupaten Musi Rawas. Salah satu pelayanan yang diberikan saat pelayanan antenatal yang menjadi standar kualitas adalah pemberian zat besi (Fe) 90 tablet (Fe3) dan imunisasi TT (TT2). Pagar Alam. Empat Lawang. OKU Selatan.2 Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K4 Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Gambar di atas menunjukkan bahwa kabupaten/kota dengan persentase cakupan pelayanan K4 yang sudah memenuhi target standar pelayanan minimum yaitu minimal 90. Muara Enim. Ogan Ilir. dan Lubuk Linggau (warna hijau). Persentase cakupan K4 di 8 kabupaten lainnya masih dibawah target yaitu pada range 70%-90% (warna kuning) terjadi di Kabupaten Musi Banyuasin. Banyuasin. Selain mengupayakan peningkatan cakupan K4.

8 94.5 80. Cakupan K4 di Sumatera Selatan tahun 2009 adalah 89% sedangkan Fe3 80%.6 74.7 85.6 82.95%).3 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa masih terdapat selisih persentase cakupan K4 dengan Fe3 dan TT.4 7.4 80.81 10.05%. Hal ini dimungkinkan disebabkan sistem pencatatan dan pelaporan ketiga variabel tersebut belum terpadu.45%) dengan TT (7.2 89. dan TT dapat dilihat pada lampiran Tabel 25 dan 26.2 94. yang berarti gap nya semakin besar. Fe3.6 Fe3 91.5 73. Jika dibandingkan dengan tahun 2008. diperoleh selisih sebesar 80%.Gambar 4. dan Status Imunisasi TT pada Ibu Hamil Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Sumsel OKU OKI Muara Enim Lahat Musirawas Musi Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Empat Lawang Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau 0 20 40 60 80 100 120 140 Lubu Pag Prab Pale Emp OKU OKU Bany Musi Musi Muar Oga Laha Sum k ar umul mba at Timu Selat uasi Bany rawa a OKI OKU n Ilir t sel Ling Alam ih ng Law r an n uasi s Eni TT K4 8.13% dan selisih antara K4 (84.8 79.2 81.6 88.4 85.6 69.4%) adalah 77.3 87. Fe3.3 Persentase Cakupan K4.3 102 215 8. Selisih antara K4 dengan Fe3 menurun dari tahun 2008 sampai 2009 (menurun 11. sedangkan jika dibandingkan antara cakupan K4 (89%) dengan cakupan TT yang hanya mencapai 19%.1 91.8 91.45%) dengan Fe3 (64.8 91.32%) adalah 20. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 63 . yang menunjukkan kinerja yang positif.7 93.63 19. Distribusi cakupan K1 dan K4 dapat dilihat pada lampiran Tabel 17 dan distribusi cakupan Fe1.4 84.2 75.1 77. Sedangkan selisih antara K4 dengan TT semakin meningkat dari tahun 2008 sampai 2009 (meningkat 2.1 65.6 90.13%).7 89.7 56.8 73.8 87.1 73.2 171 62 495 158 7.9 91.2 94.8 89.4 93.99 10. selisih cakupan K4 (84.23 87. terdapat selisih 9%.

2009 100 80 60 40 20 0 Linakes 2003 80.4.1.12 2008 84 2009 87.25% pada tahun 2004 menjadi 87. Pertolongan Persalinan oleh Nakes dengan Kompetensi Kebidanan Komplikasi dan kematian ibu maternal dan bayi baru lahir sebagian besar terjadi pada masa di sekitar persalinan.25 2005 81.27 2006 82. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 64 . terjadi peningkatan pada setiap tahunnya dan kenaikan tertinggi terjadi pada tahun 2009 sebesar 3. yaitu dari 79. Gambaran cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan dari tahun 2003 – 2009 dapat dilihat padas gambar 4.83%.Sumsel Gambar diatas memperlihatkan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan dari tahun 2003 sampai tahun 2009.83 Sumber : Subdin Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Prov. Dalam kurun waktu empat tahun terakhir. hal ini antara lain disebabkan pertolongan tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai kompetensi kebidanan (profesional).7 2004 79.4 Persentase Cakupan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003.83% pada tahun 2009.2.1.77 2007 83. cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di Provinsi Sumatera Selatan meningkat sekitar 4%.4 berikut ini : Gambar 4.

08%.08%. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 65 .5 Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa hanya terdapat satu wilayah yaitu kota prabumulih yang berada pada range terendah yaitu <60%. sedangkan 6 Kabupaten yaitu Banyuasin. capaian Kota Prabumulih adalah 90. Empat Lawang. Jika dibandingkan dengan tahun 2008.79%. OKU. dan OKU Timur berada pada range 60%-85.Gambar 4. terjadi penurunan sebesar 11.79% terhadap tahun 2009. Lahat. Cakupan 8 kabupaten/Kota Lainnya sudah memenuhi target standar pelayanan minimum yaitu minimal 85.

persentasenya adalah 115.76%. capaian Kabupaten Prabumulih justru paling rendah diantara 15 kabupaten/kota lainnya.1. Musi Rawas. dibandingkan tahun 2008. Khusus Kabupaten Prabumulih. OKI. yaitu hanya 0.6 Cakupan Komplikasi Kebidanan yang Ditangani Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani di Kabupaten Muara Enim masih rendah yaitu dibawah 10%. Untuk deteksi dini komplikasi pada ibu nifas diperlukan pemantauan pemeriksaan terhadap ibu nifas dengan melakukan kunjungan nifas minimal sebanyak 3 kali dengan waktu: 1). Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas Pelayanan nifas adalah pelayanan kesehatan sesuai standar pada ibu mulai 6 jam sampai 42 hari pasca persalinan oleh tenaga kesehatan.39%.87% sehingga pada gambar diatas dinyatakan dengan warna hijau yang berarti memenuhi target SPM. Kota Palembang dan Kota Pagar Alam berada pada range pertengahan yaitu antara 10-25. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 66 .1. sedangkan di Kabupaten Ogan Ilir.3.76%. 4.Gambar 4. Sembilan Kabupaten/kota lainnya sudah mampu memenuhi target standar pelayanan minimum yaitu minimal 25.

Kunjungan nifas pertama (KF1) pada 6 jam setelah persalinan sampai 7 hari; 2). Kunjungan nifas kedua (KF2) dilakukan pada minggu ke-2 setelah persalinan; dan 3). Kunjungan nifas ketiga (KF3) dilakukan minggu ke-6 setelah persalinan. Pelayanan yang diberikan meliputi: 1). Pemeriksaan tekanan darah, nadi, respirasi dan suhu; 2). Pemeriksaan tinggi fundus uteri; 3). Pemeriksaan lokhia dan per vaginam lainnya; 4). Pemeriksaan payudara dan anjuran ASI eksklusif 6 bulan, 5). Pemberian kapsul vitamin A 200.000 IU sebanyak 2x (2x24 jam), dan 6). Pelayanan KB pasca persalinan.

Gambar 4.7 Cakupan Pelayanan Nifas Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009

Cakupan pelayanan nifas sudah terdistribusi cukup baik, 14 Kabupaten/kota sudah memenuhi target standar pelayanan minimum yaitu 85,08%. Hanya Kabupaten OKU yang belum mencapai target, masih berada pada range 60%-85,08%. Dibandingkan tahun 2008, Kabupaten OKU mencapai persentase 83,3% sedangkan tahun 2009 75,64%. Kabupaten Muara Enim pada tahun 2008 tercatat 0%

Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010

Page 67

sedangkan tahun 2009 mencapai target SPM. Distribusi cakupan pelayanan nifas dapat dilihat pada lampiran Tabel 17.

4.1.1.4. Ibu Hamil Risiko Tinggi yang Dirujuk Dalam memberikan pelayanan khususnya oleh tenaga bidan di desa dan Puskesmas, beberapa ibu hamil yang memiliki risiko tinggi (Risti) dan memerlukan pelayanan kesehatan karena terbatasnya kemampuan dalam memberikan pelayanan, maka kasus tersebut perlu dilakukan upaya rujukan ke unit pelayanan kesehatan yang memadai. Dalam hal ini persentase ibu hamil dengan kondisi risiko tinggi yang dirujuk pada tahun 2008 di Provinsi Sumatera Selatan dapat dilihat pada gambar berikut ini :
Gambar 4.8 Persentase Cakupan Ibu Hamil Risiko Tinggi yang Dirujuk Menurut Kabupaten/ Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009
OKU OKI M.Enim Lahat MURA MUBA B.Asin OKUS OKUT OI 4 Lawang Palembang Prabumulih P.Alam L.Linggau sumsel 0 17,25 15,93 41,2 43,89 49,55 17,69 20,66 18,55 38,89 20 40 60 80 63,3 83,44 63,98 115,94 86,67 100 120 140 82,19

4

Sumber : Subdin Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Prov.Sumsel

Dari gambar di atas terlihat bahwa kabupaten/kota dengan cakupan tertinggi adalah di Kota Prabumulih (115,94%) dan Lubuk Linggau (86,67%) , sedangkan yang terendah adalah Muara Enim (4%). Persentase cakupan Ibu hamil risiko tinggi yang dirujuk di Provinsi Sumatera Selatan mengalami peningkatan dari 11,24% pada tahun 2008 menjadi 38,89% pada tahun 2009. Distribusi menurut Kabupaten/kota dapat dilihat pada lampiran Tabel 28.

Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010

Page 68

4.1.1.5. Kunjungan Neonatus Bayi hingga usia kurang satu bulan merupakan golongan umur yang memiliki risiko gangguan kesehatan paling tinggi. Upaya kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi risiko tersebut antara lain dengan melakukan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan pelayanan kesehatan pada neonatus (0 – 28 hari) minimal dua kali, satu kali pada umur 0 – 7 hari dan satu kali pada umur 8 – 28 hari. Dalam melaksanakan pelayanan neonatus, petugas kesehatan di samping melakukan pemeriksaan kesehatan bayi juga melakukan konseling perawatan bayi kepada ibu. Cakupan kunjungan neonatal (KN) selama periode tahun 2003 – 2009 dapat dilihat pada gambar berikut, terlihat bahwa ada sedikit peningkatan dari tahun 2008 sebesar 82.4% menjadi 82,68% pada tahun 2009.
Gambar 4.9 Persentase Cakupan Kunjungan Neonatal Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003 - 2009
100 80 60 40 20 0 KN 2003 86,57 2004 86,61 2005 88,38 2006 77,17 2007 81,74 2008 82,4 2009 82,68

Sumber : Subdin Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Prov.Sumsel

Gambaran Cakupan Kunjungan Neonatal menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 terlihat pada gambar 4.9, bahwa cakupan tertinggi terjadi di Kabupaten OKU Selatan (91,94%), diikuti oleh Kabupaten Lahat (90,32%). Sedangkan cakupan terendah terjadi di Kabupaten Empat Lawang (40,15%).

Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010

Page 69

89.11 Cakupan Kunjungan Neonatal Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 70 . 94. 71 95. 83. Sumber laporan kesga dan reproduksi dinkes prov sumsel Tahun 2009 Gambar 4. 88. 82.Gambar 4.10 Persentase Cakupan Kunjungan Neonatal Menurut Kabupaten/ Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 100 80 60 40 20 0 . OKU OKI ME LHT MURAMUBA BA OKUTOKUS OI 4L PLG PBM PA LLG PROV 2009 66. 70. 88 82. 91. 83 70 87. 78.

Distribusi capaian standar pelayanan minimum cakupan neonatus dengan komplikasi yang ditangani sudah cukup baik. Empat Lawang. dan Lubuk linggau belum memenuhi target dan berada pada range terendah. OKU Timur. 4.6. Kunjungan Bayi Gambar 4. capaian Sumatera Selatan hanya 2. meliputi Kabupaten Musi Rawas.99%. Dibandingkan tahun 2008. Di Kabupaten Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 71 . Empat Lawang. yaitu dibawah 70%. Di Kabupaten OKU Selatan. dan Kota Prabumulih.9%. Terdapat 5 Kabupaten/kota yang belum memenuhi target SPM yaitu berada pada range antara 60-79.1.12 Cakupan Kunjungan Bayi Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Distribusi cakupan kunjungan bayi masih belum merata. Pagar Alam.6% meningkat menjadi 10. Sedangkan 10 Kabupaten/kota lainnya sudah memenuhi target minimal 79.92% pada tahun 2009. Selain itu. Kabupaten Banyuasin dan Kota Lubuk Linggau pada tahun 2008 tercatat 0 (tidak ada data) sedangkan pada tahun 2009 tercatat memenuhi target SPM.1. Kota Prabumulih. OKU.

2.1.47% (diatas 100%). Pelayanan Kesehatan Anak Pra Sekolah. serta pelayanan kesehatan pada anak remaja. pemeriksaan anak Sekolah Dasar/Sederajat.Sumsel Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 72 . dan Remaja Pelayanan kesehatan pada kelompok ini dilakukan dengan pelaksanaan pemantauan dini terhadap tumbuh kembang dan pemantauan kesehatan anak pra sekolah. Hanya 4 Kabupaten/kota yaitu OKI. Dibandingkan tahun 2008. dan kota Palembang yang memenuhi target minimum yaitu 89. Usia Sekolah.47% pada tahun 2009. Khusus Kota Palembang dan Kabupaten Musi Banyuasin.Muara Enim.Enim Lahat OKI MUBA P. cakupan kunjungan bayi Provinsi Sumatera Selatan adalah 69.Alam Prabumuli L.99%.59% meningkat menjadi 87. OI. Musi Rawas jugamasih belum memenuhi target dan berada pada range 70-89.OKUT. baik yang dilakukan oleh tenaga kesehatan maupun peran serta tenaga terlatih lainnya seperti kader kesehatan. guru UKS.99%.13 Persentase Cakupan Puskesmas yang Mampu Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) Menurut Kabupaten/ Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Empat L OKU M. 4. Banyuasin. persentasenya masing-masing adalah 101.Linggau Mura Ogan Ilir OKU Palembang OKU Banyuasin 0 0 0 1 10 0 0 0 0 0 1 2 2 0 3 2 4 6 8 10 12 3 Sumber : Subdin Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Prov. Cakupan Puskesmas yang mampu menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) minimal 1 puskesmas tiap kecamatan dapat dilihat pada gambar berikut ini : Gambar 4. Lahat.16% dan 108. dan dokter kecil.OKU. Musi Banyuasin.

Memberikan pelayanan konseling pada semua remaja yang memerlukan konseling yang kontak dengan petugas PKPR.14 Persentase Cakupan Deteksi Dini dan Intervensi Tumbuh Kembang Balita Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003 . 2). Pagar Alam. Kabupaten OKI tercatat memiliki puskesmas dengan pelayanan PKPR tertinggi. Gambar 4.2009 80 60 40 20 0 Bayi 2003 50. Kota Lubuk Linggau. Jika hanya memenuhi satu hingga tiga persyaratan tersebut. dan 4). dan Prabumulih. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 73 .3 2004 55 2005 45 2006 48 2007 49. Empat Lawang.4 2008 69.Sumsel Gambar diatas menunjukkan terjadi penurunan persentase cakupan deteksi dini dan intervensi tumbuh kembang balita di Sumatera Selatan yaitu dari 69.05 Sumber : Subdin Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Prov. MURA. Melaksanakan kegiatan KIE di sekolah binaan minimal 2 kali per tahun.05% pada tahun 2009. 3). Harus melakukan pembinaan kesehatan terhadap minimal 1 sekolah per tahun. Muara Enim. Melatih kader kesehatan remaja di sekolah minimal sebanyak 10% dari murid di sekolah binaan. maka belum dapat dikategorikan sebagai puskesmas PKPR.69% pada tahun 2008 menjadi 52.Persentase cakupan puskesmas yang mampu menyelenggarakan PKPR masih rendah disebabkan puskesmas PKPR harus memenuhi keempat persyaratan sebagai berikut yaitu 1).59 2009 52. MUBA. sedangkan Kabupaten lain yang belum memiliki puskesmas PKPR (jumlah=0) adalah OKU Timur.

OKUS.15 Cakupan Pelayanan Anak Balita Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Dari gambar diatas menunjukkan bahwa distribusi persentase anak balita yang memperoleh pelayanan pemantauan belum merata. OKU. yaitu Kabupaten Musi Banyuasin dan Muara Enim berada pada range 60-88.Gambar 4.444 anak balita) dan persentase tahun 2009 adalah 52. Terdapat 6 Kabupaten/kota yang sudah memenuhi target SPM minimal 88. Sedangkan 8 Kabupaten lainnya belum mencapai target. Terjadi penurunan yang cukup tinggi di tahun 2009. OKI. Jika dibandingkan dengan tahun 2008.05% (164. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 74 . kota Lubuk Linggau dan Prabumulih berada pada range terendah yaitu dibawah 60%.12%.87% (542.12%. persentase anak balita yang memperoleh pelayanan pemantauan di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2008 adalah 72. OKUT. Kabupaten Musi Rawas.240 anak balita).

Pelayanan Keluarga Berencana Tingkat pencapaian Pelayanan Keluarga Berencana dapat digambarkan melalui cakupan peserta KB yang ditunjukkan melalui peserta KB Aktif. Kota Palembang tercatat memiliki capaian 100. terdiri dari 2 kabupaten yaitu Banyuasin dan Ogan Ilir berada pada range 10-40%. OKU Selatan.1. OKU.59%. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 75 . 6 kabupaten OKU Timur. laporan (data) dari 15 kabupaten/kota ini belum ada. kelompok sasaran program yang sedang menggunakan alat kontrasepsi.Gambar 4. 6 Kabupaten/kota sudah memenuhi target SPM yaitu minimal 40%.16 Cakupan Penjaringan Siswa SD dan Setingkat Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Gambar di atas menunjukkan distribusi cakupan penjaringan siswa SD belum merata. tempat pelayanan serta jenis kontrasepsi yang digunakan akseptor.3. Dibandingkan tahun 2008. Kota Lubuk linggau dan Pagar Alam tercatat 0%.21% (diatas 100%). 4. 9 kabupaten/kota lainnya belum memenuhi target. dan kabupaten Musi Rawas 3. Empat Lawang.

35 57. sedangkan cakupan terendah terjadi di Kota Palembang (10.39 34.44 77.75 44. terlihat bahwa Cakupan Peserta KB Aktif tahun 2009 di Provinsi Sumatera Selatan sekitar 69.7 29. Cakupan Tertinggi Peserta KB Aktif ada di Kota Lubuk Linggau (84.34 78.05 77.87 17.62%).95 70.18%). Cakupan Peserta KB Baru tertinggi terjadi di Kabupaten Musi Rawas (132.132.68 15.72 22.8 57.92%) dan Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (80. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 76 .90% (Rentang : 10.87% .21 74.03 46. Cakupan Peserta KB Baru di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 adalah 31.08 84.Gambar 4.02 69.43 24.84.35 10.18 140 Sumber : Kantor BKKBN Provinsi Sumatera Selatan Pada gambar di atas.91 32.08 66.62% .46 17.28 25. Alat kontrasepsi yang paling banyak digunakan oleh peserta KB Baru maupun peserta KB Aktif adalah suntikan kemudian pil dan implant.93 80.17 Persentase Cakupan Peserta KB Aktif dan KB Baru Menurut Kabupaten/ Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Sumsel OKU OKI Muara Enim Lahat MURA MUBA Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Empat Law ang Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau 0 31.62 25.63 69. sedangkan cakupan terendah terjadi di Kota Palembang (46.9 26.46 74.92 20 40 60 80 100 120 BARU AKTIF 132.43%).08% (Rentang : 46.87%).92%).73 78.18%).42 64.3 20.

8 Kabupaten/kota lainnya sudah memenuhi target standar pelayanan minimum minimal 70%.052 40. OKU. Lahat. Kota Prabumulih dan Pagar Alam berada pada range 50%-70%.19 Cakupan Peserta KB Aktif Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Cakupan peserta KB aktif di Kota Palembang masih rendah capaiannya yaitu dibawah 50%.202 165.708 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Gambar 4. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 77 .013 IUD MOP/MOW Implant Suntik Pil Kondom 433.Gambar 4.954 30.301 319. sedangkan di Kabupaten Banyuasin.18 Persentase Cakupan Pelayanan Peserta KB Baru Berdasarkan Jenis Alat Kontrasepsi Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 33.

230 peserta KB Aktif) pada tahun 2009.348 peserta KB Aktif) menurun menjadi 69.90% (472. UCI Desa merupakan indikator penting dalam program imunisasi. 4. Pelayanan Imunisasi Pencapaian Universal Child Immunization (UCI) pada dasarnya merupakan proyeksi terhadap cakupan atas imunisasi secara lengkap pada sekelompok bayi. Dalam hal ini Pemerintah mentargetkan pencapaian UCI pada wilayah administrasi desa/kelurahan. yaitu pada tahun 2008 sebesar 24. persentase peserta KB aktif Provinsi Sumatera Selatan adalah 74.036.5 %. Adapun cakupan UCI Desa tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar berikut: Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 78 .4.323 peserta KB baru) menjadi 31.78% (343. sesuai Kepmenkes nomor 741 tahun 2008 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) kabupaten/Kota.1. artinya target UCI tercapai bila minimal 98 % desa/kelurahan di kabupaten/kota telah memenuhi target imunisasi campak sebagai imunisasi rutin terakhir. Apalagi tahun 2010 ini target UCI harus 100 % desa/keluarahan.79% (1.Dibandingkan tahun 2008.08% (1. Cakupan UCI Desa tahun 2009 Provinsi Sumatera Selatan saat ini adalah 82.022. artinya masih sangat jauh dibanding target (98 %).124 peserta KB baru) pada tahun 2009. Target UCI tahun 2009 adalah >98 %. Tetapi terjadi peningkatan persentase peserta KB baru. Bila cakupan UCI dikaitkan dengan batasan suatu wilayah tertentu. berarti dalam wilayah tersebut tergambarkan besarnya tingkat kekebalan masyarakat atau bayi (herd immunity) terhadap penularan penyakit yang dapat dicegah dengan Immunisasi (PD3I).

Gambar 4.5 98 Sumber: Laporan UCI Tahun 2009 Berdasarkan Gambar di atas terlihat bahwa dari 15 kabupaten/kota.Enim OKUT 99 98 98.6 98 O.6 98 Lahat 86.1 98 Prabu 75.Lg 94. akibat banyaknya anak yang tidak diimunisasi lengkap sehingga tidak kebal terhadap PD3I.Asin M.4 98 OKUS Sumsel 12.Alam 90.7 98 OKI 67. cakupan Desa UCI sejak tahun 2003 hingga 2009 per kabupaten/kota se Provinsi Sumatera Selatan dapat dilihat pada Gambar berikut: Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 79 . Hal ini juga menjadikan kab/kota yang belum UCI tersebut menjadi daerah resiko tinggi penularan PD3I. yaitu Kota Palembang. Sebagai perbandingan.4 98 4 Lwg 94.Ilir 65. dan harus diwaspadai kemungkinan sewaktu-waktu terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB). Sedangkan kabupaten/kota lainnya tidak mencapai target UCI desa. Kabupaten Banyuasin dan Muara Enim.1 98 82. ternyata hanya 3 (tiga) kabupaten/kota mencapai UCI Desa.7 98 95 98 Mura 95 98 Lb. Hal ini memerlukan perhatian yang serius bagi kabupaten/kota yang belum mencapai target.4 98 88. karena UCI merupakan salah satu Indikator Penting pencapaian Indonesia Sehat 2010.20 Hasil Cakupan Desa UCI Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 110 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 HASIL TARGET Plg 100 98 Hasil Cakupan UCI Desa Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 B.2 98 OKU 94 98 Muba P.

7 97.Ala m 96. termasuk dana untuk bimbingan teknis dan pertemuan koordinasi tingkat puskesmas di kabupaten/kota masing-masing.2 80.3 94.3 88.4 88.1 100 MUBA B.1 65.3 95 0 0 40.7 94.Ling au 100 89.9 71 78.9 82.6 OKU 82.1 84. supaya cakupan imunisasi yang merupakan kegiatan rutin ini dapat diperbaiki kinerjanya.3 76.1 98.1 100 99.4 0 0 0 0 0 32.4 82.2 75. Hal ini perlu mendapat perhatian lebih lanjut.6 9.6 100 94.2 84.2 95.7 75.7 Lahat 80.4 62.8 89.8 95 M. Perlu dipikirkan untuk intervensi pejabat yang lebih tinggi.3 12.2 97 97.2 85.2 90.3 86.1 93.8 69.6 84 89.4 83.3 81.3 96 97.8 90.5 Sumber: Laporan UCI Bidang PP&PL.1 L.3 98.Asin MURA 90.2 98.6 4 Ogan Sumse Lawan Ilir l g 0 75.3 86.1 91.6 90.6 76.6 84 93.3 93 82. Tahun 2003 .9 86.1 94 OKUT OKUS 0 0 88. baik teknis program maupun cold chain.5 81.2 97.2009 Dari Gambar di atas terlihat bahwa dari tahun ke tahun cakupan Desa UCI di kabupaten/kota terjadi fluktuasi dan tidak stabil.8 98.9 83.3 85.2 80.7 P.5 87.I.7 86.3 84. PROVINSI SUMATERA SELATAN TAHUN 2003-2009 100 95 90 85 80 75 70 65 60 55 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 PLG 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 94.4 OKI 73.6 99.1 76.7 88.1 94. karena tahun 2009 semua petugas kabupaten/kota sudah dilatih mengenai program imunisasi.6 79.6 91.Eni m 93 88.4 95.21 Hasil Cakupan Desa UCI Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003-3009 HASIL CAKUPAN DESA U.6 91.4 88.6 78 95. Selain itu juga sarana dan prasarana sebagian sudah disediakan dari provinsi.9 97. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 80 .5 67.C.1 94.3 0 86.9 90.Gambar 4.1 80.4 77 86 77.1 PRAB U 62.4 94.5 95.

1. dan OKI masih dibawah 70%.Gambar 4. Prabumulih. dalam hal ini adalah murid sekolah dasar. sedangkan cakupan Kabupaten OKUS. Pemberian imunisasi pada murid sekolah yang disebut BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah) telah dilaksanakan secara rutin sejak tahun 1984. 4. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 81 . Untuk mengimplementasikan visi tersebut. dimana saat ini murid kelas 1 SD/MI menerima imunisasi DT dan Campak. maka kegiatan yang dapat dilaksanakan adalah melakukan pemberian imunisasi pada anak yang lebih tua. 12 Kabupaten lainnya yang terdiri dari Kabupaten MUBA.1. Kota Lubuk Linggau. yaitu Kota Palembang. terdapat 3 (tiga) wilayah yang memenuhi standar pelayanan minimum 98%. Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) Salah satu strategi yang tercantum dalam Global Immunization Vision and Strategy (GIVS) 2006 – 2015 adalah “to protect more people in a changing world”. OKUT. dan Pagar Alam berada pada range 70-98%.4. Kabupaten Banyuasin dan Muara Enim. OKU. OI. Lahat. Empat lawang.22 Hasil Cakupan Desa UCI Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Distribusi cakupan desa UCI belum merata. MURA.

Kab. 2009 Dari Gambar di atas menunjukan bahwa hanya Kabupaten MURA dan OKU Timur yang mencapai cakupan BIAS DT l00 %.sedangkan murid kelas 2 dan kelas 3 menerima imunisasi TT.8 100 Lahat 98. Namun demikian masih ada kabupaten/kota yang tidak melaksanakan BIAS tersebut dengan berbagai permasalahan. kabupaten yang tidak melaksanakan BIAS DT adalah Kota Prabumulih. Empat Lawang dan OKU Timur.7 100 OKI 97.6 100 P.3 100 Tdk mlk Tdk mlk Sumber: Laporan BIAS Bidang PP&PL. sehingga tahun 2009 nanti harus melaksanakan BIAS TT pada murid kelas 2 hingga kelas 4.Enim 93. Kab. Akibatnya pada tahun 2010 ini selain harus tetap melaksanakan BIAS Campak dan DT pada murid kelas 1 SD/MI.7 100 O. juga harus melaksanakan BIAS TT untuk murid kelas Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 82 . Lahat.8 100 Hasil Cakupan BIAS DT Klas I Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 B.2 100 4 Lwg 98. OKI.4 100 Prabu 88. Gambar 4.6 100 M. Untuk tahun 2008. Sedangkan yang tidak melaksanakan BIAS TT adalah Kota Prabumulih. OKU Selatan.8 100 OKU 98 100 Muba 98 100 Plg 97.Lg 99. Pelaksanaan BIAS ini merupakan salah satu kegiatan rutin yang harus dilaksanakan bekerjasama dengan pihak sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah. sehingga pada tahun 2009 nanti harus melaksanakan BIAS DT untuk murid kelas 1 dan kelas 2. Sedangkan yang tidak melaksanakan BIAS DT/TT adalah Kota Pagaralam dan Kab.Asin 99.Alam 100 OKUS 100 Sumsel 88. OKU Timur dan Empat Lawang.23 Hasil Cakupan BIAS DT Klas I Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 110 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 HASIL TARGET Mura 100 100 OKUT 100 100 Lb.Ilir 23.

3 100 O.2 100 Mura 97.9 100 98.Ilir 19.8 100 Lb.2 hingga kelas 4. Pemberian imunisasi campak dosis kedua pada murid sekolah ini dimaksudkan sebagai booster.4 100 P. maka mulai tahun 2007 dilaksanakan BIAS Campak bagi murid SD/MI kelas 1.6 100 OKI 98.Alam OKUS Sumsel Tdk mlk Tdk mlk 100 100 88.8 100 Muba 92. 2009 Namun demikian Kabupaten OKU Selatan juga tidak melaksanakan BIAS Campak ini. Sebagai tindak lanjut pelaksanaan Kampanye Imunisasi Campak tahun 2006 di Sumatera Selatan. Tidak dilaksanaanya BIAS di 3 (tiga) kabupaten/kota tersebut seperti kebijakan Depkes. Untuk kabupaten Ogan Ilir hanya melaksanakan di 6 wilayah kerja puskesmas saja. Gambar 4. sehingga pada tahun 2010 nanti harus melaksanakan BIAS Campak Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 83 .Asin 99.7 100 Hasil Cakupan BIAS Klas II & III Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 B. yang akan meningkatkan kekebalan terhadap penyakit campak seumur hidup. disebabkan karena tidak tersedianya dana operasional.Enim 98.Lg 99.7 100 OKU 99 100 4 Lwg M.9 100 Prabu 87.7 100 Plg 98.9 100 Sumber: Laporan BIAS Bidang PP&PL.24 Hasil Cakupan BIAS Klas II & III Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 110 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 HASIL TARGET OKUT 100 100 Lahat 99. Gambar berikut menunjukan Cakupan BIAS TT dengan 100 % hanya terdapat di Kabupaten OKU Timur. dan sebagai upaya menuju tahapan Reduksi Campak di Indonesia.

Enim P.2 tahun menjadi 70. dimana pada kelompok ini biasanya banyak mengalami gangguan kesehatan degeneratif dan fungsi tubuh lainnya. Dimana pada RPJMN DepKes tahun 2009 diharapkan terjadi peningkatan dari 66. persentase cakupan puskesmas yang melayani kesehatan usia lanjut mengalami penurunan dari 82.5. Salah satu indikator keberhasilan pembangunan kesehatan di Indonesia adalah meningkatnya Usia Harapan Hidup (UHH) masyarakat Indonesia.Lg 99. Dengan meningkatnya UHH maka populasi penduduk yang berusia lanjut juga mengalami peningkatan sangat bermakna.5 100 O.23% menjadi 81. Pelayanan Kesehatan Pra Usia Lanjut dan Usia Lanjut Pelayanan kesehatan juga dilakukan secara khusus kepada kelompok Pra Usia Lanjut dan Usia Lanjut.Ilir 96.9 100 Lb.1.6 100 Prabu 82. Pada gambar 4.9 100 OKUS Sumsel Tdk mlk 100 94. tahun 2009 4. Pada tahun 2010 diperkirakan Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 84 .Alam OKUT 100 100 100 100 100 100 Mura 99.18 terlihat bahwa persentase lanjut usia yang dibina mengalami peningkatan dari 27.6 100 Muba 96.8 100 B.18%.25 Hasil Cakupan Bias Campak Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 110 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 DES '08 TARGET Hasil Cakupan BIAS Campak Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 M.3 100 Plg 98.6 tahun.4% menjadi 41.9 100 Sumber: Laporan BIAS Bidang PP&PL.2 100 Lahat 99 100 4 Lwg 98.Asin 99. Adapun hasil pelaksanaan BIAS Campak tahun 2009 adalah sebagai berikut: Gambar 4.9 100 OKI 97. namun sebaliknya.1 100 OKU 97.pada semua murid SD/MI kelas 1 dan kelas 2.95%.

45 100 100 96.75 12.22 25.26 Jumlah Usila Dibina dan PKM yang membina Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 100 80 60 40 20 0 Usila Dibina PKM Membina OKU OKI M.66 41.67 100 100 31.E Lahat MUR MUB PLG PBM A A 9.A LLG B.44 24.Sumsel 2009 Usila dibina Puskesmas membina Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 85 .26 24.4 25.62 31.86 5. Gambar 4.I OKU OKU T S 4L SUM SEL 91.51 27.jumlah penduduk berusia lanjut di Indonesia sebesar 24 Juta Jiwa atau 9.55 95.99 2005 2006 2007 2008 Sumber : Subdin Yankes Dinkes Prov.45 70.66 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Untuk mengetahui sejauh mana pengembangan program kesehatan usila di Propinsi Sumatera Selatan dapat dilihat pada data di bawah ini : Gambar 4.27 Persentase Cakupan Lanjut Usia yang Dibina dan Cakupan Puskesmas Melayani Kesehatan Usia Lanjut Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 82.16 24.18 27.95 86.37 66.28 81.89 20.73 92.53 93 78.21 16.23 72.11 2.64 88.7% dari Jumlah Penduduk.24 72.A O.21 70.26 95.2 100 P.7 37.97 17.99 100 88.51 8.

27 21.1.89 68. < 24 jam perawatan (NDR).11 18. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 86 . rata-rata lama hari perawatan (LOS).66 4.28 Persentase Kunjungan Rawat Jalan menurut Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2008 Sumsel OKU OKI Muara Enim Lahat Mura Muba Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Empat Lawang Palembang Prabumuli Pagar Alam Lubuk Linggau 0 11.06 17 0.43 0 4.41 1. Sebagian besar sarana pelayanan Puskesmas dipersiapkan untuk memberikan pelayanan kesehatan dasar bagi kunjungan rawat jalan sedangan RS yang dilengkapi berbagai fasilitas di samping memberikan pelayanan pada kasus rujukan untuk rawat inap juga melayani untuk kunjungan rawat jalan.97 19. rata-rata tempat tidur dipakai (BTO).23 10 20 30 40 50 60 70 80 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 4. rata-rata selang waktu pemakaian tempat tidur (BTO).04 16. persentase pasien keluar yang meninggal (GDR) dan persentase pasien keluar yang meninggal .4.38 0 0.2.49 9.2. Gambar 4.93 6. PELAYANAN KESEHATAN RUJUKAN DAN PENUNJANG Upaya pelayanan kesehatan kepada masyarakat dilakukan secara rawat jalan bagi masyarakat yang mendapat gangguan kesehatan ringan dan pelayanan rawat inap baik secara langsung maupun melalui rujukan pasien bagi masyarakat yang mendapatkan gangguan kesehatan sedang hingga berat. Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit Beberapa indikator standar terkait dengan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit yang dipantau antara lain pemanfaatan tempat tidur (BOR).

Keberhasilan dalam sosialisasi pemanfaatan obat generik sangat dipengaruhi oleh keseriusan tenaga kesehatan dan terjaminnya ketersediaan obat generik di fasilitas kesehatan. tertinggi dicapai oleh kabupaten Muara Enim (59. Pemanfaatan Obat Generik Penggunaan obat generik merupakan salah satu langkah dalam upaya meningkatkan kemampuan masyarakat menjangkau obat yang berkualitas. Gambar 4. Pelayanan Jaminan Kesehatan Masyarakat Tujuan penyelenggaraan Jamkesmas yaitu untuk meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan terhadap seluruh masyarakat miskin dan tidak mampu agar tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal secara efektif dan efisien.2.4.84%) dan terendah di kabupaten Banyuasin (54.2. Data mengenai persentase penulisan resep obat generik tahun 2009 tidak tersedia.29 Persentase Peserta Jamsoskes Sumsel Semesta Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 60 59 58 57 56 55 54 53 52 51 KU O at m KI O Eni Lah . P 4L Dari gambar tersebut terlihat bahwa cakupan jamsoskes sumsel semesta ratarata diatas 50%.A Lin e al Pra L. 4. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 87 .3. Berikut adalah gambaran persentase program Jamsoskes Sumsel Semesta tahun 2009.06%).2. M R M B M BA S UT KU K O O I O ng ulih lam gau ba g m bum P.

perilaku masyarakat. Hal tersebut dipengaruhi beberapa faktor diantaranya. maka ditetapkan bahwa setiap terjadi KLB harus ditanggulangi dalam waktu kurang dari 24 jam. Penyelidikan Epidemiologi dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa Angka kesakitan dan kematian akibat penyakit menular dan keracunan sampai saat ini masih menyebabkan masalah utama kesehatan masyarakat. tingkat ekonomi. MCK. Pada tahun 2009 terjadi sebanyak 97 kali KLB dengan angka serangan sebesar 7. namun angka kematian (CFR) meningkat. Pada tahun 2008 ditargetkan minimal 95 % desa/kelurahan sudah dilaksanakan penanggulangan KLB dalam waktu kurang dari 24 jam oleh Tim Gerak Cepat Kab/kota masing-masing. Secara umum.93%). telah terjadi KLB di kabupaten/kota sebanyak 41 kali. dengan 26 kematian (CFR 0.4. upaya pengurangan faktor risiko melalui kegiatan untuk peningkatan kualitas lingkungan serta peningkatan peran serta masyarakat dalam upaya pemberantasan penyakit menular yang dilaksanakan melalui berbagai kegiatan.3.791 orang. dan yang tidak kalah pentingnya kerusakan lingkungan yang turut berperan terjadinya perubahan pola musim dan kejadian penyakit di masyarakat. faktor lingkungan seperti kebersihan lingkungan. Jumlah penderita nya adalah sebanyak 2.3. Di samping itu pelayanan lain yang diberikan adalah upaya pencegahan dengan pemberian imunisasi. sumber air bersih yang digunakan oleh masyarakat. dibanding tahun-tahun sebelumnya frekuensi KLB cenderung menurun.534 penderita dan kematian 0 penderita (CFR 0%) Mengacu pada Keputusan Menteri Kesehatan RI (Kepmenkes) nomor 1091 tahun 2004 tentang SPM-KLB.1. Berdasarkan rekapitulasi laporan program surveilans KLB selama tahun 2008. PEMBERANTASAN PENYAKIT MENULAR Upaya pemberantasan penyakit menular lebih ditekankan pada pelaksanaan surveilans epidemiologi dengan upaya penemuan penderita secara dini yang ditindaklanjuti dengan penanganan secara cepat melalui pengobatan penderita. Uraian singkat berbagai upaya tersebut seperti berikut ini : 4. Namun demikian Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 88 .

Diharapkan masa mendatang tak ada lagi KLB yang terlambat diantisipasi. maka target tersebut belum bisa direalisasikan. Bila terjadi KLB pada suatu daerah. Tahun 2009 Gambar di atas menunjukkan bahwa sebagian besar kabupaten/kota telah melakukan investigasi KLB dalam waktu kurang dari 24 jam. maka harus ditindaklanjuti dengan pengiriman laporan KLB <24 jam (Laporan W1) secara berjenjang dari puskesmas ke kab/kota lalu ke provinsi dan ke Depkes RI.seiring dengan kalah cepatnya petugas menerima laporan adanya KLB.L 95 95 LHT 92 95 Sumber: Laporan PE KLB. sehingga faktor resikonya segera diketahui. Bidang PP&PL. Gambar 4. Hal ini menunjukkan bahwa KLB yang terjadi memang sudah diinvestigasi dan ditindaklanjuti supaya tidak meluas. lalu angka kesakitan dan/atau kematian dapat dicegah.30 Desa/Kelurahan KLB Ditangani < 24 Jam Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 100 80 60 40 20 0 Ketepatan Indikator PLG 100 95 BA 100 95 MUBA 100 95 PRB 87 95 ME 100 95 PA 100 95 LL 100 95 MURA OKUT 100 95 100 95 OI 100 95 OKI 95 95 OKU 96 95 OKUS 85 95 4. Adapun kelengkapan laporan W-1 per kabupaten/kota adalah sebagai berikut: Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 89 .

31 Kelengkapan Laporan W1 Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 100 50 0 PLG Kelengkapan Indikator 100 95 BA 100 95 MUBA PRB 100 95 95 95 ME 100 95 PA 100 95 LL 100 95 MURA OKUT OKU OKUS 100 95 100 95 4.L 100 90 LHT 90.67 91. Laporan yang belum lengkap diterima adalah dari Kabupaten OKU. Laporan yang selalu terlambat justru terjadi di Kota Palembang. Sedangkan untuk ketepatan laporan W1 adalah sebagai berikut: Gambar 4. OKUS.Gambar 4.38 90 OKUT 90 90 OKU 85 90 PLG 85 90 Sumber: Laporan W1 Tahun 2009 Data di atas menunjukkan bahwa 90 % kabupaten/kota telah tepat waktu (dalam waktu 24 jam) menyampaikan laporan W1 sejak terjadi KLB.67 91.67 83.33 95 95 95 95 95 95 Sumber: Laporan W1 Tahun 2009 Gambar di atas menunjukkan bahwa sebagian besar kabupaten’kota telah mengirimkan laporan W1 secara lengkap. Empat Lawang. OKI dan Lahat.67 91. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 90 .67 91.L OI OKI LHT 91. Kabupaten OKU dan OKU Timur.32 Ketepatan Laporan W1 Dari Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 110 90 70 50 30 10 -10 BA Ketepatan Indikator 100 90 MUBA 100 90 OI 100 90 OKI 100 90 PRB 100 90 ME 100 90 PA 100 90 LL 100 90 MURA OKUS 100 90 100 90 4.

Pada tahun 2009. chikungunya. campak.05 %). Adapun jenis KLB yang dimaksud adalah Keracunan Makanan dan Penyakitr Menular (difteri. flu strain baru (H1N1) dan diare. di Sumatera Selatan terjadi KLB sebanyak adalah 38 kali.1 Frekuensi dan Jumlah Kasus KLB Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 PENYAKIT Frekuensi KLB KASUS MENINGGAL C F R NO 1 2 3 4 5 6 7 KER. tahun 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 91 .33 Frekuensi Desa KLB per Penyakit Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 15 10 5 0 Frekuensi Ker-Mak 6 Difteri 2 Campak 1 H1N1 2 Chikungunya 83 Diare 3 Sumber: Laporan KLB.NEO CAMPAK CHIKUNGUNYA H1N1 DIARE J U M L A H 5 7 10 4 9 2 2 38 187 7 10 238 9.396 2 288 10. tetanus neonatorum.MAKANAN DIFTERI TET. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4. tahun 2009 Dari tabel di atas menunjukan frekuensi KLB tahun 2009 sebanyak 38 kejadian dengan jumlah penderita 10.5 25 0 0 0 0 20 - Sumber: Laporan KLB.129 0 2 4 0 0 0 0 6 0 28. Adapun jenis KLB yang terjadi secara rinci adalah sebagai berikut: Gambar 4.129 orang dan meninggal 6 orang (CFR 0.

15 2006 2417 70 15 0.62 2007 2791 41 26 0. Dengan demikian diharapkan pengamatan terhadap penyakit potensial KLB dapat lebih ditingkatkan sehingga kemungkinan terjadinya KLB dapat dicegah sedini mungkin.05 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari Gambar 4. Hal ini disebabkan karena semua petugas kabupaten/kota telah mengikuti PAEL (Pelatihan Asisten Epidemiologi Lapangan).35 berikut. laporan KLB terbanyak melalui SMS sebesar 27%. sehingga secara cepat ditanggulangi dan dilaporkan. diikuti oleh penyakit menular lainnya dan tidak ada kematian.12 2005 1305 31 2 0.94 2004 513 34 6 1. seperti terlihat pada tahun-tahun berikutnya yang cenderung menurun dengan korban yang makin sedikit. Untuk data kejadian KLB sejak tahun 2003 hingga 2009 di Sumatera Selatan dapat dilihat pada Gambar berikut: Gambar 4. Frekuensi KLB paling tinggi terjadi pada tahun 2006.Dari gambar di atas terlihat bahwa penyakit Chikungunya merupakan penyakit yang paling dominan menimbulkan KLB. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 92 . sehingga makin sensitif terhadap kejadian KLB.93 2008 799 35 9 1.34 Perbandingan Frekuensi dan Penderita KLB Penyakit & Keracunan Makanan Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003-2009 8000 7500 7000 6500 6000 5500 5000 4500 4000 3500 3000 2500 2000 1500 1000 500 0 Penderita Frekuensi Meninggal CFR 2003 1900 20 18 0.25 2009 10129 38 6 0.

35 Persentase Jenis Pelaporan KLB dari Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 SMS Masyarakat 0% Hasil PE 24% W1 22% Email 0% Laboratorium 1% SMS/Tenaga Kes 27% Telpon/HP 26% Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Gambar 4.36 Cakupan Desa/Kelurahan mengalami KLB Yang Dilakukan Penyelidikan Epidemiologi <24 Jam Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 93 .Gambar 4.

00 8. Linggau SUMSEL 2 4 4 3 4 2 4 2 3 2 1 8 1 1 1 42 3 7 4 5 8 2 8 3 5 6 1 25 0 4 4 85 3. Pencapaian spesimen adekuat sebesar 92. Pemberantasan Penyakit Polio Penemuan kasus AFP pada tahun 2009 mencapai 85 kasus (target : 42 kasus) dengan AFP rate 4 per 100.00 2.6 90 77 98 98 75 97 100 100 98 90 100 100 44 100 53 100 89 77 100 100 100 100 92 Sumber: Laporan Integrasi S-AFP.00 3.3.000 anak usia < 15 tahun. yaitu 100%.50 2.00 8.2 Kinerja Surveilans AFP Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 NO KABUPATEN/ KOTA KASUS AFP TARGET DITEMUKAN AFP RATE SPECIMEN ADEKUAT KELENGKAPAN LAPORAN (%) PKM RS 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 OKU OKI Muara Enim Lahat Musi Rawas Muba Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir 4 Lawang Palembang Prabumulih Pagar Alam L.00 3.00 4.00 3.05 100 100 100 80 87.33 4. Lahat dan Muara Enim yang masih berada pada range 70-100%. MURA.25 0.0 per 100. Pencapaian Kinerja Surveilans AFP dapat dilihat pada Gambar dibawah ini : Tabel 4.9%.00 2.00 3.00 4. 4.2.9 92 92 73 91 81 89.000 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 94 .Gambar diatas menunjukkan sebagian besar wilayah yang mengalami KLB sudah memenuhi target pencapaian SPM.33 6. tahun 2009 Keterangan : Target AFP rate >= 2. Hanya Kabupaten OKI.00 6.5 100 100 100 100 100 0 92 0 75 75 92. TN dan Cmpak.

(target: 80 %). Sebagian besar kabupaten/kota telah melaksanakan tatalaksana spesimen secara adekuat.05.Tabel di atas menunjukkan bahwa AFP Rate di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 adalah 4. tahun 2009 Dari Gambar di atas terlihat hanya ada 1 (satu) kabupaten/kota yang tidak mencapai penemuan kasus dan spesimen adekuat yaitu Kota Prabumulih.5 4 80 PGA 75 8 80 LGU B. Gambar 4. Hanya Kota Prabumulih menunjukkan kinerja yang belum baik.ILIR OKUT OKUS 75 8 80 100 4 80 100 6 80 100 3.05 80 Sumber: Laporan Integrasi S-AFP.25 80 PRB MUBA 0 0 80 100 2 80 OKI 100 3. TN dan Cmpak.25 (target: 2).ENI M 100 2 80 Spesimen Adekuat AFP Rate LHT 80 3.3 80 100 3 80 4L 0 2 80 PROV 92.9 %.9 dan tahun 2007 yang hanya 3. selama tahun 2009 belum berhasil ditemukan.ASIN O.37 Persentase spesimen adekuat dan AFP Rate Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 100 80 60 40 20 0 PLG Spesimen Adekuat AFP Rate Target 92 6. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 95 . Hal ini disebabkan karena dari target 1 (satu) kasus AFP.3 80 MURA 87. AFP Rate tertinggi pada Kota Pagar Alam dan Lubuk Linggau (rate 8. Sedangkan specimen adekuat 92.9 4.0). yang berarti ada peningkatan dibanding tahun 2008 sebesar 3.5 80 OKU 100 3 80 M.

ASI O. OKUT.3 * 90 58. Musi Rawas dan Banyuasin. TN dan Cmpak. Empat Lawang dan Kota Lubuk Linggau. Sementara di rumah sakit terdapat 3 kabupaten yaitu Kabupaten Muara Enim.ILIR OKUT OKUS 4 LWG PROV N 89. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 96 . Musi Rawas.7 100 90 OKU 100 100 90 M.38 Pencapaian Kelengkapan Laporan Nihil (Zero Report) Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 120 100 80 60 40 20 0 PLG PKM RS Target 97 100 90 PRB 100 100 90 MUBA 91 100 90 OKI 91.7 90 100 80 60 40 20 0 Sumber: Laporan Integrasi S-AFP. OKUS. tahun 2009 Gambar di atas menunjukkan bahwa pencapaian kelengkapan laporan nihil (zero report) dari puskesmas masíh ada yang belum mencapai target yaitu Kabupaten Muara Enim.4 84.4 0 90 77 * 90 75 * 90 87.9 89 90 98.9 53 90 PGA 100 100 90 LGU 81 100 90 B.ENI M 73.Gambar 4.4 44 90 LHT 91 100 90 MURA 80.

ASIN OKUS 22 8 4 1 3 2 OKUT 4 5 4 O. juga diperhatikan status imunisasinya. dan Lubuk Linggau.ILIR 10 6 2 4 LWG 0 1 1 PLG 14 25 8 PRB 0 0 1 PGA 2 4 1 LGU 2 4 1 Sumber: Laporan Integrasi S-AFP. Lahat. MURA.39 Penemuan Kasus AFP Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2008 – 2009 27 24 21 18 15 12 9 6 3 0 2008 2009 Target OKU 3 3 2 OKI 3 7 4 M. tahun 2008-2009 Dari Gambar di atas menunjukkan bahwa penemuan kasus AFP bervariasi antara kab/kota yang satu dengan yang lainnya dan ada sebagian kab/kota yang mengalami peningkatan penemuan jika dibanding tahun 2008 yaitu Kabupaten OKI.Gambar 4.OKUT. Adapun gambaran kasus AFP dan status imunisasi pada tahun 2008 – 2009 dapat dilihat pada Gambar berikut: Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 97 .Empat Lawang. Dari data penemuan kasus AFP yang ditemukan.OKUS. TN dan Cmpak.ENIM 9 4 4 LHT 4 5 3 MURA 5 8 4 MUBA 4 2 2 B. Kota Palembang. Pagar Alam.

tahun 2008-2009 Dari Gambar di atas terlihat bahwa kasus AFP pada tahun 2008 tertinggi terjadi pada kelompok umur 1 .4 tahun yaitu sebesar 48%.41 Kasus AFP Non Polio Berdasarkan Kelompok Umur Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2008 .2009 8% 10% 4% 15% 82% 81% 0 Dose 1-3 Dose >=4 Dose 0 Dose 1-3 Dose >=4 Dose Sumber: Laporan Integrasi S-AFP. tahun 2008-2009 Dari Gambar di atas dapat kita lihat bahwa anak-anak yang terdiagnosa sebagai kasus AFP yang tidak mendapat imunisasi (0 dosis) sebesar 8% pada tahun 2008.40 Proporsi Status Imunisasi Kasus AFP Non Polio Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2008 .2009 Tahun 2008 5% 27% Tahun 2009 24% 2% 48% 20% 48% 26% < 1 TH 1-4 TH 5-9 TH 10-<15 TH < 1 TH 1-4 TH 5-9 TH 10-<15 TH Sumber: Laporan Integrasi S-AFP. Sementara untuk 1-3 dosis meningkat dari 10% pada tahun 2008 menjadi 15% pada tahun 2009. TN dan campak. dan yang > 4 dosis menurun sebesar 1% jika dibandingkan pada tahun 2008. namun pada tahun 2009 menurun menjadi 4%. dan terendah pada Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 98 .Gambar 4. Gambar 4. TN dan campak.

TN dan campak. Gambar 4. dan terendah pada kelompok umur < 1 tahun sebesar 2%. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 99 .42 Sumber Laporan Kasus AFP Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2008 .2009 Tahun 2008 Tahun 2009 33% 38% 67% 62% CBS HBS CBS HBS Sumber: Laporan Integrasi S-AFP.4 tahun sebesar 48%. tahun 2008-2009 Dari Gambar diatas terlihat bahwa pada tahun 2008 penemuan kasus AFP terbanyak bersumber dari masyarakat (community) yaitu sebesar 67% dan pada tahun 2009 menurun menjadi 62%.kelompok umur < 1 tahun yaitu sebesar 5%. Pada tahun 2009 tertinggi pada kelompok umur 1 .

3.Gambar 4. 14 Kabupaten/kota lainnya sudah mencapai target SPM yaitu minimal 2. Pemberantasan TB Paru Upaya pencegahan dan pemberantasan TB-Paru dilakukan dengan pendekatan DOTS (Directly Observe Treatment Shortcourse) atau Pengobatan TB-Paru dengan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO). yaitu masih dibawah 1. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 100 .43 AFP Rate per 100. 4. Kegiatan ini meliputi upaya penemuan penderita dengan pemeriksaan dahak di sarana pelayanan kesehatan yang ditindaklanjuti dengan paket pengobatan.000 penduduk <15 tahun Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Dari gambar diatas terlihat bahwa hanya terdapat satu kabupaten yaitu Prabumulih yang belum memenuhi target SPM.3.

753 kasus (32.7%) dan pada golongan umur 1-5 tahun sebanyak 300 kasus (1.85%.E yu O O .7%) sedangkan kabupaten terendah yaitu Kabupaten Empat lawang dan Kota Pagaralam masing-masing sebsesar 0 (0%).m P.B M O g g u ih m ul an ban la ga . Belum dapat disimpulkan bahwa rendahnya penemuan ini didasari Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 101 . M an M .07%) dan untuk golongan umur 1-5 tahun sebanyak 11.10%) dari seluruh kasus pneumonia.A ng aw em P L Li L. Hasil kegiatan penemuan kasus dapat dilihat pada tabel terlampir. Dilihat dari realisasi cakupan penderita berdasarkan target penemuan yang ada persentase tertinggi dicapai oleh kabupaten Lahat (80.42%).059 kasus atau 30.182 kasus (53.6 % dari target terdiri dari target penemuan penderita sebanyak 68. E. Angka keberhasilan pengobatan penderita pada tahun 2009 di Provinsi Sumatera Selatan mencapai 94. Pada pneumonia berat untuk golongan umur <1 tahun sebanyak 570 kasus (2. 4.785 balita.44 Angka Keberhasilan (Succes Rate) Pengobatan Penderita TB Paru BTA (+) Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 120 100 80 60 40 20 0 O KU O KI t s in T S m ha wa ni as KU KU La Ra . Hanya Kabupaten Empat Lawang yang belum memenuhi target angka keberhasilan penyembuhan (success rate). yaitu baru mencapai 60. Pal I SR target Berdasarkan standar WHO. angka keberhasilan pengobatan penderita TB Paru minimal 85%.Gambar 4.3. Pada kasus pneumonia golongan umur <1 tahun sebanyak 6.4. Pemberantasan Penyakit ISPA Pada tahun 2009 jumlah penemuan kasus P2 ISPA Provinsi Sumatera Selatan adalah 21.01%.

46 29.4 100 4 LWG 0 100 PLG 42.19 12.6 100 M.53 100 54.84 100 100 100 100 100 100 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Tabel 4.73 100 0 100 L.45 CDR Pneumonia Balita per Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 120 100 80 PERSENTASE 60 CDR TARGET 40 20 0 OKU CDR TARGET 36.oleh memang tidak terdapatnya penderita atau kurang aktifnya petugas dalam melakukan pelacakan kasus.LIN PROP GGA INSI U 2.EN LAHA MUR M T A MUB A BA OKUS OKUT 8.56 100 PRAB P.06 100 OKI 19.23 68.73 100 OI 10.18 29.AL U AM 0. Gambar 4.74 100 29.3 Gambaran Penemuan kasus ISPA Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003 – 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Kab/Kota Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau Ogan Ilir OKUS OKU MURA Lahat OKI Banyuasin Muara Enim OKUT MUBA Empat Lawang 2003 6236 273 191 734 10251 2553 2206 3283 2429 3332 1535 - 2004 5447 201 11 856 9286 1010 326 3203 970 4316 1613 - 2005 7299 56 4 608 925 268 2857 889 806 1166 1732 4601 4195 1428 - 2006 7604 32 82 921 928 1326 2752 1064 556 1462 2099 4598 3151 1290 - 2007 7346 117 201 651 1099 2360 2971 2205 468 1719 2166 3927 1450 1829 - 2008 7006 13 1 43 492 1407 2119 2314 1240 1329 300 3537 270 1146 0 2009 6124 10 0 51 400 758 963 3450 997 1387 2407 3367 508 637 0 16 Provinsi 33027 27240 26834 27865 28509 21597 21059 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 102 .42 22.

01 Realisasi Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari gambar diatas terlihat bahwa cakupan penemuan pneumonia mengalami penurunan dari 31.2 2004 33. Jumlah kasus tertinggi tahun 2009 yaitu terjadi di Kabupaten Musi Rawas dan Muara Enim dan Kota Palembang.6 2005 34 2006 35.Kabupaten Empat Lawang tahun 2009 tidak ada kasus. dibandingkan tahun sebelumnya.46 Cakupan Penemuan Pneumonia Balita Program ISPA Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003 .2 2008 31. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 103 . Terjadi penurunan kasus di tahun 2009.3 2007 39.8 2009 31.01% pada tahun 2009. Gambar 4.8% pada tahun 2008 menjadi 31.2009 50 40 30 20 10 0 2003 39.

dan sejak itu jumlah penderita terus meningkat. Depkes RI melakukan revisi target SPM dari 86% diturunkan menjadi 60%.47 Cakupan Penemuan Penderita Pneumonia Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Dari gambar diatas.5. terdiri dari 1 kabupaten yaitu Muara Enim berada pada range 50-60%.Gambar 4.3. Adapun distribusi penemuan kasus adalah sebagai berikut: Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 104 . Untuk penyakit pneumonia. hanya kabupaten Musi Rawas yang memenuhi target SPM minimal 60%. Penanggulangan Penyakit HIV/AIDS dan PMS Penderita HIV/AIDS di Sumatera Selatan pertama kali ditemukan tahun 1995. Ditjen ISPA. 4. 13 kabupaten berada pada range terendah yaitu di bawah 50%. 14 Kabupaten lainnya masih dibawah target.

Gambar berikut menunjukkan bahwa sampai dengan tahun 2009 ada sebanyak 174 orang yang menderita AIDS dan masih dalam kondisi hidup dan masih mendapatkan pengobatan antiretroviral (ARV) secara teratur dan rutin.Tabel 4. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 KAB/KOTA OKU OKI Muara Enim Lahat Musi Rawas Musi Banyuasin Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Empat Lawang Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau Sumatera Selatan JUMLAH KASUS HIV AIDS 7 8 2 0 0 1 2 0 2 1 1 3 2 2 0 0 1 2 1 1 0 0 51 45 0 1 1 1 15 5 85 70 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari tabel di atas terlihat bahwa penemuan HIV tertinggi terjadi di Kota Palembang yaitu 51 HIV dan 45 AIDS dan diikuti oleh Kota Lubuk Linggau yaitu 15 penderita HIV dan 5 AIDS.4 Distribusi Penemuan Kasus HIV / AIDS Melalui Klinik VCT Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 No. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 105 .

1. PEMBINAAN KESEHATAN LINGKUNGAN DAN SANITASI DASAR Faktor lingkungan mempunyai peran yang sangat besar dalam proses timbulnya gangguan kesehatan baik secara individual maupun masyarakat umum.Gambar 4. Kegiatan pembinaan dimaksud mencakup upaya pemantauan. surveilans vektor dan pengawasan Tempat-Tempat Umum (TTU) 4.4. Pembinaan Kesehatan Lingkungan Upaya pembinaan kesehatan lingkungan diarahkan pada masyarakat dan institusi yang memiliki potensi pengancam kesehatan masyarakat yang dilakukan secara berkala.4. Bentuk upaya yang dilakukan dalam peningkatan kualitas lingkungan.48 Distribusi AIDS Menurut Kondisi Saat Dilaporkan Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 1995-2009 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 HIDUP JUMLAH 174 MENINGGAL 74 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 4. Upaya pembinaan kesehatan lingkungan dan sanitasi dasar pada prinsipnya dimaksudkan untuk memperkecil atau meniadakan faktor risiko terjadinya penyakit atau gangguan kesehatan akibat dari lingkungan yang kurang sehat. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 106 . antara lain melakukan pembinaan kesehatan lingkungan pada masyarakat dan institusi.

cakupan terendah Kabupaten Empat Lawang dengan cakupan 34.94 65.49 Cakupan Penduduk yang Menggunakan Sarana Air Bersih Menurut Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 L.4. 48 %. pengelolaan sampah.78 65.19 70. Hal tersebut sudah menunjukan peningkatan bila dibandingkan dengan data tahun 2008 yaitu 62.79 92. sirkulasi udara. 4.28 65.Alam Prabumulih Palembang 4 Lawang OI OKUT OKUS B.94 54.57 65. dan lain-lain.Asin MUBA MURA LAHAT M. Dari 15 Kabupaten / Kota di Sumatera Selatan cakupan tertinggi Kota Lubuk Linggau dengan cakupan sebesar 98. Sedangkan Kabupaten Empat Lawang belum pernah ada laporan mengingat kabupaten tersebut pemekaran dari kabupaten Lahat. pencahayaan.1 65.19 67.66 39.1.Linggau P.Enim OKI OKU 0 10 20 30 98.66 %.94 65. Pengawasan Sarana Air Bersih Pengawasan sarana air bersih yang dilakukan melalui Supervisi maupun pelaporan yang diterima adalah sebagai mana tabel berikut: Gambar 4.94 34.1.94 65.94 77. Peningkatan tersebut disamping karena adanya proyek WSLIC-2 dan PAMSIMAS di Provinsi Sumatera Selatan juga karena semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya sarana air bersih.41 %. Dengan kata lain Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 107 .94 40 50 60 70 80 90 100 Sumber : Subdin P2PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Berdasarkan gambar tersebut di atas cakupan penduduk yang menggunakan Sarana Air Bersih pada tahun 2009 yaitu sebesar 66.78 %.penyuluhan dan pemberian rekomendasi terhadap aspek penyediaan fasilitas sanitsai dasar (air bersih dan jamban).

005 152.51 68.005 110.2.465 96.786 116.872 1.554 14.298 31.5 Persentase Rumah Sehat Menurut Kabupaten / Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 RUMAH NO KAB/KOTA PKM JUMLAH KK 1 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 OKU OKI MUARA ENIM LAHAT MUSI RAWAS MUSI BANYUASIN BANYUASIN OKU SELATAN OKU TIMUR OGAN ILIR EMPAT LAWANG KOTA PALEMBANG KOTA PRABUMULIH KOTA PAGAR ALAM KOTA LUBUK LINGGAU 2 3 14 23 22 27 27 25 29 14 22 21 8 38 7 6 8 291 4 62.539 34.778 71.009 82. Penyehatan Perumahan Tabel 4.980 153.322 178.438.992 217.04 61.704 159.070 JUMLAH PDDK 5 267.627 668.467.618 18.70 JUMLAH (KAB/KOTA) Sumber : Subdin P2PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 108 .688 31. 4.416 15.657 JUMLAH SEHAT 8 20.032 163.862 1.494 58.127 199.225 15.427 19.106 JUMLAH DIPERIKSA 7 34.879 581.04 62.074.940 523.307 41.545 9.503 27.162 257. Disadari juga bahwa penyakit yang timbul melalui media air ini cukup banyak.301 58.069 61.105 54.025 818.46 66.62 67.824.246 88.055 505.peningkatan tersebut tidak terlepas dari kesadaran masyarakat akan penggunaan sarana air bersih baik yang dibangun secara mandiri maupun oleh pemerintah.648 158.637 59.346 117.10 66.12 57.280 331.317 144.231 13.796 % SEHAT 9 58.368 65.222.663 213.020 56.594 45.79 54.130 21.402 134.485 97.82 64.60 71.093 77.34 76.53 60.532 27.802 52.169 34.209 207.341 341.486 186.256 140.451 101.591 24.635 JUMLAH SELURUHNYA 6 57. Disamping itu peran tenaga kesehatan yang memberikan bimbingan kepada masyarakat tentang pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat.288 61.860 1.1. Untuk itu perlu terus disosialisasikan tentang pentingnya arti penggunaan air bersih yang memenuhi syarat kesehatan baik dari segi sarana maupun kualitas air yang digunakan.775 21.72 70.20 67.938 137.056 7.581 145.738 43.857 80.4.215 1.665 384.00 70.927 150.036 299.075 12.368 92.022 707.850 716.

82 67.Dari Gambar diatas.46 61.79 63.72 70.58 57. Gambar 4.62 66.50 Persentase Rumah Sehat Menurut Kabupaten / Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 90 85 80 75 70 65 60 55 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 O 76.04 62.53 60.6 70.1 66.51 68.12 71. dan Persentase terendah terdapat pada Kabupaten Musi rawas dengan Persentase 54.82 %.7 % Pencpaian I KU OK M E t ha RA BA La MU MU BA O KU S O KU T O I 4L G M PL PB I PA LLG INS V O PR Kab / Kota Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 109 .2 54. Cakupan tertinggi di Kota Palembang denga persentase 76.62 %.34 67. terlihat bahwa cakupan Rumah Sehat secara umum sudah mencapai lebih dari 50 %.04 58.

04%).26 83.93 15. terlihat bahwa cakupan Pembuangan Air Limbah Rumah Tangga di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 sekitar 56.6%.6 58.15 50.04% 90. Jika dilihat per kabupaten/kota variasinya masih sangat besar perbedaannya (Rentang :15. Dari 15 kabupaten/kota. dan Ogan Komering Ilir (15.46 56.21 75 40 50 60 70 80 Sumber : Subdin P2PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Dari Gambar di atas.3.36 23.36%).81 75.45 90.48%).51 Persentase Cakupan Sarana Pembuangan Air Limbah Menurut Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Sumsel OKU OKI Muara Enim Lahat Musirawas Musi Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Empat Lawang Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau 0 15.4. Cakupan terendah terjadi di Kabupaten Banyuasin (15.04 0 24.81 46.Sarana Pembuangan Air Limbah Gambar 4.48 84.37 90 100 23.1. sedangkan persentase cakupan tertinggi di Kabupaten Ogan Ilir (90. ada 1 (satu) kabupaten yang belum tersedia datanya yaitu kabupaten Empat Lawang.48%) kemudian diikuti Kota Palembang (84. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 110 .4.26%).79 10 20 30 36.

4.3 0 85. Kegiatan yang dilakukan meliputi survei vektor untuk mengetahui jenis potensial.38 77.0%).4. 4.1. Sarana Jamban Keluarga Gambar 4.38% .2.74 48.2 23. Surveilans Vektor Upaya surveilans vektor dilakukan untuk mengendalikan vektor potensial dalam penularan penyakit antara lain oleh nyamuk.48 65.16 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Sumber : Subdin P2PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Dari Gambar di atas. Cakupan tertinggi terjadi di Kota Pagar Alam (91. hanya 4 Kabupaten/Kota yang tidak menyampaikan data tentang Persentase Rumah/Bangunan yang bebas jentik. bionomik serta strategi pengendaliannya.92 70. sehingga Angka Bebas Jentik di Provinsi Sumatera Selatan meningkat dari 26. terlihat bahwa cakupan Jamban Keluarga di Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 baru mencapai 55.87 56.0%) dan terendah (40.05 6.35% (Rentang: 6.4.57% pada tahun 2008 menjadi 70.55 89. Pada tahun 2009 dari 15 Kabupaten/Kota.53% pada tahun 2009.38%).7%) terjadi di Kabupaten OKI (6.38 91 70.91.6 84.52 Persentase Cakupan Jamban Keluarga Menurut Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Sumsel OKU OKI Muara Enim Lahat Musirawas Musi Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Empat Lawang Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau 0 55.81 45.4. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 111 .35 59.

65 0 0 74.Gambar 4.01 74.3.Umbrosus An. Bentuk kegiatan yang dilakukan antara lain meliputi pengawasan kualitas lingkungan TTU dan TUPM secara berkala.6 Jenis Vektor Malaria Menurut Kabupaten / Kota No.04 81. Hyrcanus An.49 88.84 89.barbirostris Tahun Survei Survei jentik 2005 Survei tahun 2007 Survei tahun 2007 Survei jentik 2005 Survei tahun 2007 Survei jentik 2005 Survei jentik 2005 Tempat Perindukan Kolam Perkebunan Perkebunan Kolam Perkebunan Perkebunan Genangan air Genangan air Tidak ditemukan An.5 13.Umbrosus An.92 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Tabel 4.barbirostris An.vagus Tidak ditemukan Tidak ditemukan Tidak ditemukan An.53 Persentase Angka ABJ Penyakit DBD Menurut Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Sumsel OKU OKI Muara Enim Lahat Musirawas Musi Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Empat Lawang Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau 0 0 73.vagus An.4. Pengawasan Tempat-Tempat Umum dan Tempat Pengelolaan Makanan Pengawasan terhadap Tempat-Tempat Umum (TTU) dan Tempat Pengelolaan Makanan (TUPM) dilakukan untuk meminimalkan faktor risiko sumber penularan bagi masyarakat yang memanfaatkan TTU dan TUPM.54 0 74. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 112 . Hyrcanus An.6 72.6 52.81 83.03 84. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kabupaten / Kota Ogan Komering Ulu Ogan Komering Ilir Muara Enim Lahat Musi Rawas Musi Banyuasin Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Palembang Pagar Alam Prabumulih Lubuk Linggau Vektor/Suspek An. Hyrcanus Survei tahun 2007 Perkebunan Tidak ditemukan Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 4.

7 Cakupan Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM) Sehat Menurut Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 NO 1 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 KAB/KOTA 2 OGAN KOMERING ULU OGAN KOMERING ILIR MUARA ENIM LAHAT MUSI RAWAS MUSI BANYUASIN BANYUASIN OKU SELATAN OKU TIMUR OGAN ILIR EMPAT LAWANG KOTA PALEMBANG KOTA PRABUMULIH KOTA PAGAR ALAM KOTA LUBUK LINGGAU TERDAFTAR 3 298 149 1.2 68.1 67.4 100.8 %).7% (Rentang : 54.730 DIPERIKSA 4 234 144 1.418 % 6 81. hingga pemberian rekomendasi untuk penerbitan izin usaha.8% .8 55.7 80.7 68.4 60.100%).7 JUMLAH (KAB/KOTA) Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari tabel diatas. Cakupan tertinggi di Kota Lubuk Linggau sedangkan terendah terjadi di Kabupaten Lahat (54.2 54.2 68.2 69.533 451 181 21 6.204 201 126 21 3.bimbingan. Tabel 4.7 72. penyuluhan dan saran perbaikan dalam pengelolaan lingkungan yang sehat.4 82. (100 %).8 82. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 113 .243 166 68 88 346 192 374 90 1.121 MS 5 190 99 686 91 56 53 239 130 257 65 1.752 250 153 21 5.243 166 68 268 409 408 445 90 2.0 66. terlihat bahwa cakupan Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM) sehat di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 sekitar 66.

10 0 100 43.14 100 91.94 100 0 100 94.Tabel 4.3 0 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 114 .95 0 100 70.9 Cakupan TTU – I Sarana Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 No Kab / Kota Σ 1 2 3 4 5 6 7 OGAN KOMERING ULU OGAN KOMERING ILIR MUARA ENIM LAHAT MUSI RAWAS MUSI BANYUASIN BANYUASIN 342 10 551 0 639 538 0 Institusi Pendidikan Dibina 255 10 524 0 639 233 0 %Dibina 74. Kota Lubuk Linggau(100%) dan terendah Lahat.87 100 57.84 SUMSEL 5232 4663 89.8 Cakupan Sarana Ibadah Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Kab / Kota Σ OGAN KOMERING ULU OGAN KOMERING ILIR MUARA ENIM LAHAT MUSI RAWAS MUSI BANYUASIN BANYUASIN OKU SELATAN OKU TIMUR OGAN ILIR EMPAT LAWANG KOTA PALEMBANG KOTA PRABUMULIH KOTA PAGAR ALAM KOTA LUBUK LINGGAU 288 342 640 0 871 244 0 13 616 327 0 1361 78 165 287 Sarana Ibadah Dibina 202 342 588 0 871 117 0 13 437 327 0 1361 74 165 166 % 70.88 0 100 47.56 100 95. Ogan Ilir. Kota Palembang.12 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari tabel di atas menunjukan bahwa cakupan pengawasan Sarana Ibadah tertinggi di Kabupaten Musi Rawas. dan Banyuasin 0 %. Tabel 4.Empat Lawang.

5. 4. kekurangan vitamin A. Gangguan Akibat Kekurangan Yodium. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 115 .5.2. Pemantauan Pertumbuhan Balita Upaya pemantauan status gizi pada kelompok balita difokuskan melalui pemantauan terhadap pertumbuhan berat badan yang dilakukan melalui kegiatan penimbangan di Posyandu secara rutin setiap bulan.1. PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT Upaya perbaikan gizi masyarakat pada hakikatnya dimaksudkan untuk menangani permasalahan gizi yang dihadapi masyarakat.5.No 10 11 12 13 14 15 Kab / Kota Σ OGAN ILIR EMPAT LAWANG KOTA PALEMBANG KOTA PRABUMULIH KOTA PAGAR ALAM KOTA LUBUK LINGGAU SUMSEL 589 0 708 140 111 0 4537 Institusi Pendidikan Dibina 275 0 708 126 47 0 3584 %Dibina 46. 4.69 0 100 90 42.34 0 78. serta pengamatan langsung terhadap penampilan fisik balita yang berkunjung di fasilitas pelayanan kesehatan. Berdasarkan pemantauan yang telah dilakukan ditemukan beberapa permasalahan gizi yang sering dijumpai padsa kelompok masyarakat adalah kekurangan Kalori Protein. Pemberian Kapsul Vitamin A Upaya perbaikan gizi juga dilakukan pada beberapa sasaran yang diperkirakan banyak mengalami kekurangan terhadap vitamin A.98%. dan anemia gizi besi. Cakupan distribusi kapsul Vitamin A balita tahun 2009 sebesar 83.99 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 4. yang dilakukan melalui pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi pada bayi dan balita yang diberikan sebanyak 2 kali dalam satu tahun (Februari dan Agustus) dan pada ibu nifas diberikan 1 kali.

69 85. 4. Pemberian Tablet Besi Pelayanan pemberian tablet besi dimaksudkan untuk mengatasi kasus Anemia serta meminimalisasi dampak buruk akibat kekurangan Fe khususnya yang dialami ibu hamil. Cakupan Fe1 dan Fe3 ini meningkat dibandingkan dengan tahun 2008 yaitu cakupan Fe1 75.89 96.19 86.5 80 100 120 Fe1 Fe3 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Cakupan distribusi tablet besi folat tahun 2009 yaitu Fe1 sebesar 86.9 81.15 69.55 87.23 93.82 91. Bayi dengan ASI Eksklusif ASI adalah satu-satunya makanan dan minuman yang dibutuhkan oleh bayi hingga berusia enam bulan (ASI Ekslusif).26 92.18 93.49 64.66 81.28 92.21% dan Fe3 sebesar 67.4.54 Persentase Pemberian Tablet Besi Pada Ibu Hamil (Fe1 dan Fe3) Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Sumsel OKU OKI Muara Enim Lahat Musirawas Musi Banyuasin Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Empat Lawang Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau 0 86.83 79.24 79.14 91.6 73.7 73.23% dan Fe3 sebesar 80.57 39.44 73. Persentase pemberian tablet besi pada ibu hamil (Fe-1 dan Fe-3) pada tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar berikut ini : Gambar 4.89 92.26%.48 56.5.26 74.76 75.76 91.4.3.36 65.83 79.08 71. Riset Medis mengatakan bahwa ASI Eksklusif membuat bayi berkembang dengan baik pada 6 bulan pertama bahkan pada usia lebih dari 6 bulan.32%.44 20 40 60 80.12 89.5. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 116 .58 96.

Cakupan tertinggi dicapai oleh Kabupaten Ogan Ilir (77. (2) mempromosikan penggunaan obat yang rasional dan obat generik.44%-77.26 74. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 117 .27 46.44 11.63 31.63%) sedangkan yang terendah dicapai oleh Kabupaten OKU Timur (77. 4.83 19.19 40 50 60 70 80 90 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Pada Gambar terlihat bahwa cakupan pemberian ASI Ekslusif di Provinsi Sumatera Selatan mencapai 36.63%).33 19.Cakupan pemberian ASI Eksklusif pada bayi di Provinsi Sumatera Selatan menurut Kabupaten/Kota pada tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar berikut ini: Gambar 4. serta (4) melindungi masyarakat dari penggunaan alat kesehatan yang tidak memenuhi persyaratan . dan keamanan.26 48. pemerataan obat generik dan obat esensial yang bermutu bagi masyarakat.4 11. mutu. PELAYANAN KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN Upaya pelayanan kefarmasian dan alat kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya pelayanan kesehatan secara paripurna. (3) meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian di farmasi komunitas dan farmasi klinik serta pelayanan kesehatan dasar.97 73.29 31. keterjangkauan.33% (Rentang: 6.63%).05 15.6.55 Cakupan Pemberian ASI Eksklusif pada Bayi Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Sumsel OKU OKI Muara Enim Lahat Musirawas Musi Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Empat Lawang Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau 0 36.94 49.39 6. Upaya tersebut dimaksudkan untuk (1) menjamin ketersediaan.51 12.22 10 20 30 77.

Penggunaan Obat Rasional (POR) diukur dengan 2 (dua) indikator yaitu pemakaian antibiotik dan injeksi pada 3 kasus penyakit yaitu Diare Non Spesifik. Penerapan Penggunaan Obat Esensial Generik Kegiatan ini dimaksudkan agar terjaminnya ketersediaan.27% dan injeksi 21. ISPA Non Pneumonia. standar/pedoman pengelolaan perbekalan farmasi di rumah sakit. 4.19%. dan pemerataan obat dalam pelayanan kesehatan.89% dan injeksi 26. Pada tahun 2009 ketersediaan obat esensial di Provinsi Sumatera Selatan sudah mencapai 90%. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 118 . revitalisasi pemasyarakatan konsepsi obat esensial dan penerapan penggunaan obat esensial generik pada fasilitas pelayanan pemerintah maupun swasta. serta peningkatan kapasitas dan kompetensi SDM farmasi. yang pelaksanaannya mencakup pengadaan buffer stock obat generik esensial. dan Myalgia. Pelayanan Farmasi Komunitas dan Farmasi Klinik Upaya ini dimaksudkan untuk meningkatkan profesionalisme tenaga farmasi dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan farmasi omunitas dan pelayanan farmasi klinik.2. 4.6. yang dilaksanakan antara lain mencakup penyusunan standar/pedoman pelayanan farmasi komunitas dan pelayanan farmasi di rumah sakit.6.48% menurun dibandingkan tahun 2008 yaitu pemakaian antibiotik 63.3. keterjangkauan. Peningkatan Penggunaan Obat Rasional Upaya peningkatan penggunaan obat rasional. Pada saat ini Kabupaten OKU yang memberikan laporan secara rutin dimana pemakaian antibiotik 54.4.1.6. diarahkan kepada peningkatan cakupan dan kualitas pelayanan pembinaan penggunaan obat yang rasional melalui pelaksanaan advokasi secara lebih internsif agar terseujud dukungan masyarakat yang kondusif serta terbangunnya kemitraan dengan unit pelayanan kesehatan formal.

2009 NO 1 TAHUN 2003 LOKASI BENCANA Kab.10 Data Kejadian Bencana Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003 .Enim Kab OKU Kab OKI Palembang 8 ilir Kab Lahat Kab Banyu Asin Palembang Ilir Barat I Kab Musi rawas Palembang Ilir Timur II Musi Rawas Srikaton Kab. Muba Kab. 6 RB. 22 RR 54 rmh rusak 12 rmh roboh.6. PELAYANAN KESEHATAN DALAM SITUASI BENCANA Data kejadian bencana di Provinsi Sumatera Selatan dari tahun 2003 – 2009 dapat dilihat pada tabel 4. Pemberdayaan Masyarakat dalam Penggunaan Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT) Kegiatan ini dimaksudkan agar masyarakat terlindungi dari penggunaan alat kesehatan dan perbekalan kesehatan rumah tangga yang tidak memenuhi persyaratan.4. 1 jembatan RB 28 rmh RR 2 2004 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 119 . 4. 175 terendam. mutu dan keamanan.Muba Pagar alam Lahat Kab OKUS Kab Banyu Asin Kab OKI Kab Musi rawas Kab lahat JENIS BENCANA Banjir Banjir Banjir Kebakaran Banjir & tanah longsor Angin Putting Baliung Kebakaran Banjir Kebakaran Kebakaran Tanah Longsor Rawan pangan Banjir Bandang Banjir Pasang Banjir Pasang Banjir Putting Beliung Banjir banding Kebakaran Angin Putting Beliung Angin Putting Beliung Banjir Bandang Angin Putting Beliung KET 825 rumah terendam Sawah & Perkebunan 2459 rumah terendam 1 unt rumah Jln desa R. Berat 8 unt rumah 1 SD 1 unt rumah 8 bedeng 7272 KK/130594 jiwa 24 unt bedeng terbakar 100 kios 8 rumah 1 Musholla hancur 2624 KK 42 KK 1200 unt rmh 25 sekolah 2350 KK 307 KK 42 rmh R.M. Banyu Asin Kota Pagar alam Kab OKU Kota Palembang Kab.4.18 RR 80 KK 204 rmh hangus 4 rumah RB.B.7.10 berikut : Tabel 4. yang dilaksanakan melalui antara lain monitoring sarana produksi dan distribusi alat kesehatan dalam rangka Cara Pembuatan Alat Kesehatan (CPAK). 3 hanyut.

NO 3 TAHUN 2005 4 2007 LOKASI BENCANA Kab OKUT Kab OI Kab.Banyu Asin Kab lahat Kab OKUT Kab OKI Kab OI Kab Mura Pagar alam Palembang Gandus Kab OKUS Lahat Rantau Tenang Lahat Batu Pance Ogan Ilir Muara Enim Lahat Suka Dana Mura Ogan Ilir Lahat Simpang 3 Pumu Lahat Seleman Ilir Palembang Seberang ulu 1 OKUS Bumi agung JENIS BENCANA Banjir Banjir Banjir Banjir Banjir Banjir Banjir Angin Putting beliung Amuk Gajah Kebakaran Kebakaran Angin putinh beliung Kebakaran Angin Putting Beliung Kebakaran Angin Putting Beliung Kebakaran Kebakaran Kebakaran Banjir Banjir Banjir Banjir Banjir Banjir Banjir Kebakaran Banjir & T. Muara Enim Kab OKI Kab Lahat Kota Prabumulih Kab Muba Kab Muba OKU Selatan Muara Enim Palembang kertapati Mura Pagar alam OKI Palembang Banyu Asin Palembang Karang anyar Palembang 17 ilir Palembang 3/4 ulu Kab.Longsor Kebakaran Kebakaran Angin putting beliung Tanah longsor Kebakaran Angin Putting Beliung Angin Putting Beliung Kebakaran Kebakaran Kebakaran Kebakaran KET 126 unit rmh roboh 12 nir rumah 14 unt rumah 1 sekolah 3 unit rmh rusak 141 unt rumah 16 unt rmh rusak 2 unt rumah 11 unit rumah 1 unit hotel 9 unt rumah +3m +3m +3m 6509 Ha sawah terendam 272 Ha sawah terendam +3m 5 unit rumah 73 KK 2 unt rumah 11 unir rumah hangus & 5 unt R.berat 49 rumah roboh 47 unt rumah 17 rumah roboh 18 unt rumah 6 unt rumah 39 unt rumah 29 unt rumah Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 120 .

1 unit rumah rusak berat 352 unit rumah rusak berat Dari tabel di atas terlihat bahwa Wilayah Sumatera Selatan sebagian besar merupakan daerah rawan bencana yang perlu mendapatkan perhatian dari unsur-unsur terkait. JENIS BENCANA Gempa Bumi Angin Puting Beliung Angin Puting Beliung Angin Puting Beliung Angin Puting Beliung Banjir Angin Puting Beliung Angin Puting Beliung Angin Puting Beliung Kebakaran Kebakaran Kebakaran Kebakaran Kebakaran Kebakaran Banjir Banjir 6 2009 Banjir Kebakaran Kebakaran SPPBU Terapung terbakar Muara Enim Angin Puting Beliung Sumber : Bidang P2PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 TAHUN 2008 LOKASI BENCANA Lahat Jarai Lahat OKU Selatan OKI Palembang Muara Enim Gn. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 121 . Linggau Empat lawang Palembang OKU Selatan Ogan Ilir Musi Rawas OKI Pagar Alam Banyuasin Palembang KET 100 unit rumah 34 unit rumah terbakar 45 unit rumah terbakar 1unit rumah terbakar. sehingga terdapat koordinasi yang saling mendukung apabila terjadi Bencana.NO 5. Megang Ogan Ilir Muara Enim Banyuasin Ogan Ilir OKU Timur Lbk.

adalah sebagai berikut : 5. SARANA KESEHATAN Pada bab ini diuraikan tentang sarana kesehatan di antaranya puskesmas.000 penduduk pada tahun 2009.000 penduduk pada tahun 2003 menjadi 3. kemudian meningkat terus menjadi 3.2009 8000000 7000000 6000000 5000000 4000000 3000000 2000000 1000000 0 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Rasio Puskesmas / 100.000 penduduk pada tahun 2005.58 per 100.1. yang dapat dilihat pada bab ini. dan pembiayaan kesehatan. Jumlah Puskesmas dan Rasionya Terhadap 100. Namun rasio puskesmas mengalami penurunan dari 3. Gambar 5.70 per 100. dan institusi pendidikan tenaga kesehatan.1. jumlah puskesmas (termasuk puskesmas perawatan) terus meningkat dari 235 unit pada tahun 2002 menjadi 291 unit pada tahun 2009. rumah sakit. sarana Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM).62 per 100.1.1.000 Penduduk Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003 .000 penduduk 350 250 200 150 100 50 0 Jumlah Puskesmas 300 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page122 . 5. tenaga kesehatan.BAB 5 SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN Gambaran mengenai situasi sumber daya kesehatan dikelompokkan menjadi sarana kesehatan. Puskesmas Pada periode tahun 2003 – 2009.000 penduduk pada tahun 2006 dan meningkat lagi menjadi 4 per 100.

Selanjutnya distribusi puskesmas menurut kabupaten/kota.ALAM PRABUMULIH PALEMBANG EMPAT LWG O. Jumlah puskesmas dan rasio puskesmas terhadap 100. hal ini disebabkan beberapa puskesmas pembantu ditingkatkan statusnya menjadi puskesmas. Gambaran Puskesmas Pembantu dari tahun 2003 – 2009 dapat dilihat pada gambar 5. justru mengalami penurunan dari 937 unit pada tahun 2003 menjadi 919 pada tahun 2007.LINGGAU P.ASIN MUBA MURA LAHAT M. berikut ini : Gambar 5.ENIM OKI OKU 0 5 6 8 7 8 14 21 22 25 22 23 20 25 29 27 27 38 14 10 15 30 35 40 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Pada periode yang sama. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page123 .1 di atas.Hal ini berarti bahwa pada periode tersebut setiap 100.000 penduduk pada tahun 2003 – 2009 disajikan pada gambar 5. jumlah puskesmas pembantu.4. Jumlah Puskesmas Menurut Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 L.000 penduduk rata-rata dilayani oleh 4 puskesmas.2.ILIR OKUT OKUS B.3 dan gambaran jumlah Puskesmas Pembantu menurut kabupaten/kota pada tahun 2009 disajikan pada gambar 5. di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 dapat dilihat pada gambar 5.2.

Kategori rumah sakit yang dimaksud adalah 1) rumah sakit pemerintah yang terdiri dari rumah sakit vertikal (milik Depkes RI). Jumlah Puskesmas Pembantu Menurut Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 MURA MUARA ENIM MUBA BANYUASIN LAHAT OKI PALEMBANG OKU TIMUR OKU OKU SELATAN OGAN ILIR L. Jumlah Puskesmas Pembantu Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003 – 2009 950 940 930 920 910 900 890 Pustu 2003 937 2004 944 2005 920 2006 942 2007 914 2008 920 2009 920 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Gambar 5.ALAM 0 107 104 104 137 57 24 31 46 66 98 94 18 17 16 20 40 60 80 100 120 140 160 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 5. Rumah Sakit Indikator yang digunakan untuk menilai perkembangan sarana rumah sakit antara lain dengan melihat perkembangan fasilitas perawatan yang biasanya diukur dengan jumlah rumah sakit dan tempat tidurnya serta rasionya terhadap jumlah penduduk. RSUD milik kabupaten/kota Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page124 .4.LINGGAU MURA P.3.1.2.Gambar 5.

2) rumah sakit swasta dan 3) rumah sakit khusus seperti rumah sakit ibu dan anak. rumah sakit swasta juga mengalami penurunan dari 18 unit pada tahun 2002 menjadi 17 unit pada tahun 2009. rumah bersalin. Swasta dan Khusus Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2002 – 2009 30 20 10 0 Pemerintah Swasta Khusus 2002 8 18 3 2003 12 9 12 2004 14 13 8 2005 15 20 4 2006 20 10 8 2007 22 10 8 2008 22 10 8 2009 22 17 8 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Pada Gambar di atas terlihat bahwa jumlah rumah sakit pemerintah cenderung meningkat dari 8 unit pada tahun 2002 menjadi 22 unit pada tahun 2009. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page125 . sehingga setiap daerah pemekaran berupaya untuk membangun rumah sakit di wilayahnya masing-masing.5 Jumlah Rumah Sakit Pemerintah.dan rumah sakit milik TNI / Polri. Gambar 5. Peningkatan jumlah rumah sakit disebabkan adanya pemekaran wilayah kabupaten/kota.

Posyandu dikelompokkan ke dalam 4 strata.1.3. 22 3 1 2 46 2813 367 120 86 5303 Sumber : Subdin Pelayanan Kesehatan Dinkes Provinsi Sumatera Selatan 5. 09.110 1 137 1 120 1 56 21 2. Sarana Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat Dalam rangka meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan kepada masyarakat berbagai upaya dilakukan dengan memanfaatkan potensi dan sumber daya yang ada di masyarakat. 12. 14. Gambaran perkembangan Posyandu dari Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page126 .787 Khusus/Special RSU (6) 1 8 9 TT (7) 300 442 742 Jumlah/Total RSU (8) 3 1 3 2 2 3 2 3 TT (9) 288 176 283 212 167 177 400 214 01. Posyandu Purnama. keluarga berencana. Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM) di antaranya adalah Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu). 06. 08. dan Posyandu Mandiri. Posyandu Madya. yaitu kesehatan ibu dan anak. perbaikan gizi. 11. Untuk memantau perkembangannya. Posyandu merupakan salah satu bentuk UKBM yang paling dikenal di masyarakat. 03.1 Jumlah Rumah Sakit Pemerintah. Swasta dan Khusus Menurut Kapasitas Tempat Tidur Kabupaten / Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Kabupaten / Kota (1) OKU OKI Muara Enim Lahat Musi Rawas Musi Banyuasin Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Empat Lawang Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau Jumlah Pemerintah / Government RSU TT (2) (3) 2 238 1 176 2 186 2 212 2 167 3 177 1 100 1 95 4 1. imunisasi. 02. Posyandu menyelenggarakan minimal 5 program prioritas. dan penanggulangan Diare. 13. 10. 07. POD (Pos Obat Desa) dan sebagainya. 15.Tabel 5. 05. Toga (Tanaman Obat Keluarga). Polindes (Pondok Bersalin Desa). yaitu Posyandu Pratama.774 Swasta/Private RSU (4) 1 1 2 10 2 1 17 TT (5) 50 97 119 1261 230 30 1. 04.

Gambar 5. Palembang Prabumulih P. Gambar 5.952.6 dan gambar 5.Linggau 0 286 424 415 462 340 167 111 113 99 100 200 300 400 500 600 700 800 400 370 889 534 589 753 900 1000 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page127 .786 pada tahun 2006 dan kemudian meningkat lagi pada tahun 2008 menjadi 6.Asin OKUS OKUT Ogai Ilir Empat L.tahun 2002 – 2009 dan jumlah posyandu menurut kabupaten/kota dapat dilihat pada gambar 5.6 Jumlah Posyandu Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2002 .397 dan kembali menurun pada tahun 2009 menjadi 5.451 unit pada tahun 2002 menjadi 5.Alam L.7 berikut ini.2009 7000 6500 6000 5500 5000 Posyandu 2002 6451 2003 6298 2004 6201 2005 6349 2006 5786 2007 6231 2008 6397 2009 5952 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Pada gambar di atas terlihat bahwa jumlah posyandu sempat mengalami penurunan dari 6.7 Jumlah Posyandu Menurut Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 OKU OKI M.Enim Lahat MURA MUBA B.

79 1 1 0.52 36.82 1 1 1 1.44 0.95 Sumber: Bidang Promkes Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page128 .Gambar 5. peduli.Linggau 0 0.7 0. Tujuan desa siaga adalah untuk mewujudkan masyarakat desa yang sehat.9 Rasio Poskesdes terhadap Desa/Kelurahan Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 OKU OKI M.6 0.Alam L. Purnama dan Mandiri Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 50 42.8 0.56 0.53 0.Enim Lahat MURA MUBA B.4 6.4 0.24 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Desa siaga adalah desa yang memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan untuk mencegah dan mengatasi masalah/ancaman kesehatan (termasuk bencana dan kegawat-daruratan kesehatan) secara madiri dalam rangka mewujudkan desa sehat. Salah satu kriteria desa siaga adalah minimal memiliki 1 (satu) Poskesdes (Pos Kesehatan Desa).64 0. dan tanggap terhadap permasalahan kesehatan di wilayahnya.72 0.2 0.84 40 30 20 10 0 Pratama Madya Purnama Mandiri 14.Asin OKUS OKUT Ogai Ilir Empat L. Berikut adalah persentase Poskesdes terhadap desa/kelurahan: Gambar 5.73 0.2 0.76 0.8 Persentase Posyandu Pratama. Madya. Palembang Prabumulih P.

2 Kabupaten berada pada range antara 50%-65% yaitu kabupaten OKU Selatan dan Kota Lubuk Linggau. 4 Kabupaten belum memenuhi target SPM dan berada pada range terendah dibawah 50% yaitu Kabupaten OKI.44).Jumlah Poskesdes tahun 2009 di Provinsi Sumatera Selatan adalah 2. Gambar 5. Rasio terendah terdapat di kabupaten Lahat (0.320 unit. tetapi cakupan desa siaga di kedua Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page129 . kota Pagar Alam dan Lubuk Linggau (1). OKUS. 8 Kabupaten/kota lainnya sudah memenuhi target SPM minimal 65%. dengan rasio terhadap desa/kelurahan adalah 0. Kabupaten OKUS dan Kota Lubuk Linggau memiliki rasio 1. dan Empat Lawang.10 Cakupan Desa Siaga Aktif Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Dari gambar diatas menunjukkan distribusi desa siaga terdiri dari. OKU. Berdasarkan rasio jumlah Poskesdes terhadap jumlah desa pada gambar diatas. Rasio tertinggi terdapat di kabupaten MUBA.75. OI. artinya setiap desa di wilayah tersebut sudah memiliki Poskesdes.

05.Jurusan Farmasi .Jurusan Keperawatan . 08. 06. 03. dari seluruh institusi pendidikan tenaga kesehatan yang ada di Provinsi Sumatera Selatan. Institusi Pendidikan Tenaga Kesehatan Pendidikan tenaga kesehatan dimaksudkan untuk meningkatkan ketersediaan dan kualitas tenaga kesehatan dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat.2 Jumlah Institusi Diknakes Menurut Jenis Pendidikan Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 No.1. Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page130 . Jenis Institusi Poltekkes .Jurusan Kebidanan . Tabel 5. Gigi Akademi Keperawatan Akademi Kebidanan Akademi Kesehatan Lingkungan Akademi Farmasi Akademi Fisiotherapi APIKES SMF JUMLAH Status Kepemilikan Swasta Daerah 9 18 1 2 1 1 1 33 1 1 2 Jumlah 3 1 1 1 1 1 10 19 2 2 1 1 1 44 Pemerintah 3 1 1 1 1 1 8 TNI 1 1 02.Jurusan Kes.44.2 menyajikan tentang penyebaran jenis institusi pendidikan tenaga kesehatan yang dibina oleh Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan. 07. hanya beberapa institusi yang menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan untuk pembinaannya. tetapi cakupan desa siaga aktif memenuhi target SPM (warna hijau). Pendidikan kesehatan diselenggarakan oleh pemerintah dan swasta melalui berbagai institusi pendidikan di berbagai jenjang.5.wilayah tersebut belum mencapai target SPM (warna kuning). Seiring dengan pelaksanaan otonomi daerah dan diberlakukannya undangundang nomor 20 tahun 2004 tentang pendidikan nasional.Jurusan Gizi .Jurusan Analis . 5. Tabel 5. Sebaliknya kabupaten Lahat memiliki rasio jumlah poskesdes terhadap jumlah desa paling rendah yaitu 0. 04. 01.

TENAGA KESEHATAN Data mengenai tenaga kesehatan di Provinsi Sumatera Selatan baik yang bekerja di sektor pemerintah maupun swasta masih sulit diperoleh.2.3. 11. 04. 15.169 108 103 68 Prabumulih 97 613 34 2 36 Pagar Alam 26 202 20 4 11 Lubuk Linggau 15 210 19 12 12 Jumlah 1.Disamping institusi pendidikan tenaga kesehatan jenjang diploma III seperti pada tabel di atas. 12. Data yang ada diperoleh dari pengelolah program di Subdin Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan. Pada tabel 5. 10. 14. 09. OKU 27 524 38 2 12 OKI 60 735 50 2 21 Muara Enim 68 652 53 3 21 Lahat 44 649 47 4 13 Musi Rawas 40 549 56 6 31 Musi Banyuasin 57 638 40 2 68 Banyuasin 67 528 54 28 79 OKU Selatan 9 342 29 11 OKU Timur 40 665 32 2 10 Ogan Ilir 27 309 34 0 12 Empat Lawang 14 181 13 9 Palembang 664 2.966 627 170 414 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page131 .201 8. 03. Jumlah Tenaga Kesehatan Menurut Golongan Medis. 08.3 disajikan jumlah tenaga kesehatan menurut golongan medis. masih ada institusi pendidikan tenaga kesehatan yang menyelenggaranan strata 1 seperti Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan baik negeri maupun swasta 5. Tenaga Kesehatan Lainnya Menurut Kabupaten / Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Tenaga Kesehatan Kabupaten/Kota Medis (1) (2) Perawatan (3) Non Perawatan (4) Apoteker (5) Sarjana Kesehatan Lainnya (6) 01. 05. paramedis dan tenaga kesehatan lainnya. Paramedis. 06. 07. Tabel 5. 02. 13.

Artinya untuk saat ini Provinsi Sumatera Selatan masih membutuhkan 2. 13. 6.26 per 100.635 jiwa.889 722 2. 8.05 2. baru mencapai 54. 5.48 per 100. 2. 12.4 berikut terlihat bahwa rasio dokter umum pada tahun 2009 baru mencapai 9.Indikator ketersediaan tenaga kesehatan dapat dilihat dari rasio setiap jenis tenaga kesehatan per 100.09 0.000 Penduduk Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 No 1.96 5.889 2. maka didapatkan rasio masing-masing jenis tenaga kesehatan dan kebutuhan masing-masing jenis tenaga kesehatan. 9.5 100 22 40 40 10 30 30 4 15 Kebutuhan 433 2.843 penduduk. 11.919 418 358 365 170 264 223 66 140 Rasio 5.166 288 1.889 orang dokter umum.000 penduduk termasuk jumlah kebutuhannya. 3. 7.4 Rasio Tenaga Kesehatan Menurut Jenis Per 100.589 2.000 penduduk. belum memenuhi target Indonesia Sehat 2010 sebesar 40 per 100.000 penduduk atau 1 per 2.47 69.083 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Demikian juga dengan tenaga Bidan. Pada tabel 5.166 2. Berdasarkan jumlah penduduk Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 sebanyak 7. Pada tabel 5.222.000 penduduk.889 794 8. Jenis Tenaga Dokter Spesialis Dokter Umum Dokter Gigi Perawat Bidan Ahli Gizi Sanitarian SKM Apoteker Farmasi SPRG Fisioterapi Analis kesehatan Jumlah 427 685 323 5.35 3.000 penduduk atau 1 Bidan per Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page132 .79 4.60 54.4 disajikan Rasio Tenaga Kesehatan Menurut Jenis per 100. 4.500 penduduk.000 penduduk.222 1. Tabel 5. sama dengan 1 orang Bidan melayani 1.94 Target 6 40 11 117.26 5. masih dibawah target Indonesia Sehat 2010 sebesar 100 per 100.027 3.91 9. sama dengan 1 orang dokter melayani 10.548 penduduk.91 1.486 7.48 4. 10.66 3.

sama dengan 1 orang Ahli Gizi melayani 17.437 penduduk.889 orang Sanitarian.96 per 100. masih dibawah target Indonesia Sehat 2010 sebesar 117.35 per 100. sama dengan 1 orang SKM melayani 32. sama dengan 1 orang Sanitarian melayani 20.802 penduduk. Artinya untuk saat ini Provinsi Sumatera Selatan masih membutuhkan 722 orang Apoteker.1.500 penduduk.000 penduduk.000 penduduk atau 1 Sanitarian per 2. Rasio SPRG. sama dengan 1 orang SKM melayani 109. masih dibawah target Indonesia Sehat 2010 sebesar 40 per 100. Rasio SKM. Rasio Ahli Gizi. baru mencapai 4. masih dibawah target Indonesia Sehat 2010 sebesar 40 per 100.500 penduduk.486 orang Perawat.000 penduduk atau 1 Sanitarian per 2. baru mencapai 69.890 penduduk. sama dengan 1 orang Perawat melayani 1.000 penduduk. baru mencapai 3.91 per 100.66 per 100.000 penduduk. sama dengan 1 orang Apoteker melayani 42.222 orang Bidan. sama dengan 1 orang SKM melayani 19.362 penduduk.60 per 100.161 penduduk.05 per 100.271 penduduk. Rasio Perawat.500 penduduk.79 per 100.000 penduduk. Artinya untuk saat ini Provinsi Sumatera Selatan masih membutuhkan 8. Artinya untuk saat ini Provinsi Sumatera Selatan masih membutuhkan 1589 orang Ahli Gizi. masih dibawah target Indonesia Sehat 2010 sebesar 40 per 100. Rasio Fisioterapis.000 penduduk. baru mencapai 0. Rasio Apoteker.000 penduduk.000 penduduk atau 1 Sanitarian per 2.500 penduduk. Artinya untuk saat ini Provinsi Sumatera Selatan masih membutuhkan 2.000 penduduk atau 1 Sanitarian per 2.166 orang SPRG. Artinya Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page133 .500 penduduk.553 penduduk.5 per 100. Rasio Sanitarian. baru mencapai 5.889 orang SKM.000 penduduk atau 1 Perawat per 851 penduduk. Artinya untuk saat ini Provinsi Sumatera Selatan masih membutuhkan 7. baru mencapai 5.000 penduduk atau 1 Sanitarian per 2.000 penduduk atau 1 Ahli Gizi per 4. masih dibawah target Indonesia Sehat 2010 sebesar 40 per 100. Artinya untuk saat ini Provinsi Sumatera Selatan masih membutuhkan 2.000 penduduk.000 penduduk. baru mencapai 2. masih dibawah target Indonesia Sehat 2010 sebesar 22 per 100. Artinya untuk saat ini Provinsi Sumatera Selatan masih membutuhkan 2. masih dibawah target Indonesia Sehat 2010 sebesar 40 per 100.544 penduduk.

801.537. Artinya untuk saat ini Provinsi Sumatera Selatan masih membutuhkan 1. baru mencapai 1.346.893.2 2004 4.270.83 Gambar 5.368.916.836.579.897.302.Sumber : Subdin Sekretariat Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan % 3.5 Alokasi Anggaran Sektor Kesehatan Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2002 – 2009 Tahun Total APBD I (Rp.) Alokasi Sektor Kesehatan Provinsi (Rp. Rasio Analis Kesehatan.000.192.) 2002 773.10.47.32.5 2006 3 2007 2 2008 3.94 per 100.900.230.2004 1.5 0.0 3.947.000.820.6 10.0 2.083 orang Analis Kesehatan.342.62.751.708.166 orang Fisioterapis.516.20.208.786.876.2008 2. ANGGARAN KESEHATAN Tabel 5.105.200.2003 973.000.718.147.861.168.625.939.500 penduduk.5 2.5 3.191.83 Sumber : Subdin Sekretariat Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page134 .6 2009 10.469.319.487.171.untuk saat ini Provinsi Sumatera Selatan masih membutuhkan 2.2 4.3.712.953. masih dibawah target Indonesia Sehat 2010 sebesar 40 per 100.263. sama dengan 1 orang Analis Kesehatan melayani 51.90.5 2005 0.2005 1.481.11 Persentase Anggaran Kesehatan Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 15 10 5 0 % Anggaran Kesehatan 2002 3.333.27.616.055.127.2007 2.2009 2.017.546 penduduk.948.930.309.2006 1.968.52.5 2003 2. 5.000 penduduk.000 penduduk atau 1 Sanitarian per 2.469.419.050.

Dari Gambar 5. di atas terlihat bahwa persentase anggaran kesehatan pada tahun 2008 dari total APBD Provinsi Sumatera Selatan baru mencapai 3.11.6% .8%.83% melampaui rata-rata persentase alokasi anggaran kesehatan selama periode 8 tahun berkisar 2. meninkat cukup tinggi pada tahun 2009 menjadi 10. angka tersebut masih berada dibawah harapan sebesar 15%. Meskipun demikian. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page135 .

BAB 6 KESIMPULAN

6.1. KESIMPULAN Situasi Derajat Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan tahun 2007 dapat dilihat dari beberapa indikator yaitu Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), Umur Harapan Hidup serta Status Gizi dan Angka Kesakitan. 1) Angka Kematian Ibu (AKI) tiap tahunnya mengalami penurunan dari 307 per 100.000 KH (SDKI 2002/2003) menjadi 228 per 100.000 KH (SDKI 2007), sedangkan AKI Sumatera Selatan 424 per 100.000 KH (BPS 2004) menjadi 262 per 100.000 KH (Susenas 2005). 2) Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Balita (AKABA) Nasional mengalami penurunan, yaitu 34 per 1000 KH (SDKI 2007). AKB Provinsi Sumatera Selatan 42 per 1000 KH (Susenas 2007). Target MDGs 2015 AKB diharapkan turun menjadi 23 per 1000 KH dan AKABA menjadi 32 per 1000 KH. 3) Umur Harapan Hidup (UHH) Provinsi Sumatera Selatan mengalami peningkatan dari 67,9 tahun pada tahun 2003 menjadi 69,9 tahun pada tahun 2009. 4) Status Gizi Masyarakat dapat dilihat dari beberapa indikator yaitu BBLR, Status Gizi Balita. Proporsi BBLR Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 0,79% (rentang 0,19%-6.65%), prevalensi gizi buruk pada tahun 2009 0,03% (rentang 00,27%). 5) Cakupan kunjungan ibu hamil K4 Provinsi Sumatera Selatan mengalami kenaikan dari 84,45% pada tahun 2008 menjadi 88,6% pada tahun 2009, masih dibawah target SPM sebesar 90%. 6) Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani di Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 sebesar 38,89%, sudah melebihi target SPM 25,76%.

Profil Kesehatan Provinsi Sumsel Tahun 2010

Page 136

7) Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan mengalami peningkatan dari 84% pada tahun 2008 menjadi 87,83% pada tahun 2009 , sudah melampaui target SPM 85%. 8) Cakupan pelayanan nifas Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 96,49%, sudah melebihi target SPM 85%. 9) Cakupan neonatus dengan komplikasi yang dilayani Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 82,68%, sudah melebihi target SPM 79,99%. 10) Cakupan kunjungan bayi Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 mencapai 87,47%, masih dibawah target SPM 89,99%. 11) Cakupan Desa/Kelurahan UCI Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 mencapai 82,5%, masih dibawah target SPM 100%. 12) Cakupan pelayanan anak Balita Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 mencapai 52,05%, masih dibawah target SPM 88,12%. 13) Cakupan pemberian MP ASI pada anak usia 6-24 bulan keluarga miskin Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 mencapai 24,68%, masih dibawah target SPM 100%. 14) Cakupan Balita gizi buruk mendapat perawatan Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 mencapai 100%, sesuai dengan target SPM 89,99%. 15) Cakupan peserta KB aktif Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 mencapai 69,08%, sedikit dibawah target SPM 70%. 16) AFP rate per 100.000 penduduk <15 tahun Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 mencapai 4,05, sudah melebihi target SPM >=2. 17) Penemuan penderita Pneumonia Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 mencapai 29,53%, masih dibawah target SPM 60%. 18) Penemuan pasien baru TB BTA (+)Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 mencapai 44,62%, masih dibawah target SPM 70%. 19) Penderita DBD yang ditangani Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 mencapai 71,41%, masih dibawah target SPM 100%. 20) Penemuan penderita diare Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 mencapai 3,24%, masih dibawah target SPM 100%. Profil Kesehatan Provinsi Sumsel Tahun 2010 Page 137

21) Cakupan Desa/Kelurahan mengalami KLB yang dilakukan penyelidikan Epidemiologi <24 jam Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 mencapai 95,33%, masih dibawah target SPM 100%. 22) Cakupan desa siaga aktif Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 mencapai 80,49%, masih dibawah target SPM 100%. 23) Jumlah kasus HIV pada tahun 2009 sebanyak 85 kasus, AIDS sebanyak 70 kasus. Kumulatif kasus HIV sampai dengan tahun 2009 sebanyak 491 kasus. 24) Jumlah kecelakaan yang terjadi pada tahun 2009 sebanyak 2.218 kasus, dengan jumlah korban sebanyak 4.247 orang dengan perincian 1.051 meninggal dunia, 1.470 luka berat, 1.726 luka ringan. Persentase kematian akibat kecelakaan tertinggi terjadi di Kabupaten OKU Timur sebesar 36,23% dan Musi rawas 35,29%. 25) Jumlah puskesmas di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 sebanyak 291 puskesmas, rasio puskesmas mencapai 4,03 per 100.000 penduduk. Jumlah RSU sebanyak 22 buah tersebar di 14 kabupaten/kota, kecuali kabupaten Ogan Ilir dan OKU Selatan, terdiri dari 12 RSUD dan 10 RSU Vertikal dan TNI/Polri. 26) Rasio tenaga kesehatan terhadap penduduk sampai dengan tahun 2009 masih dibawah rasio ideal. 27) Persentase Anggaran Pembangunan Kesehatan sudah mencapai 10,83% dari total APBD Provinsi Sumatera Selatan.

6.2. SARAN Dalam rangka peningkatan capaian program-program pembangunan

kesehatan, yang dapat dilihat dari pencapaian indikator standar pelayanan minimal (SPM) maupun indikator Indonesia Sehat 2010, perlu dilakukan beberapa upaya antara lain : 1. Perencanaan kegiatan pembangunan kesehatan harus berdasarkan fakta dilapangan (planning by evidence based) termasuk pencapaian indikator SPM dan indikator Indonesia Sehat minimal 3 tahun sebelumnya dan diupayakan mempunyai daya ungkit terhadap penurunan AKI, AKB dan peningkatan Profil Kesehatan Provinsi Sumsel Tahun 2010 Page 138

Meningkatkan monitoring dan evaluasi pencapaian program kesehatan dengan melakukan supervisi-supervisi ke Kabupaten/Kota secara berkala (setiap triwulan). Meningkatkan kemampuan pengelolah program kesehatan dalam menyusun perencanaan kesehatan berbasis kinerja. 4. Meningkatkan kemampuan petugas pengelolah data dan informasi melalui pelatihan atau bimbingan teknis. Mengoptimalkan Jaringan Sistem Informasi Kesehatan Nasional (Siknas Online) Profil Kesehatan Provinsi Sumsel Tahun 2010 Page 139 . 2. Meningkatkan pertemuan-pertemuan dengan penanggung jawab program di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota maupun Dinas Kesehatan Provinsi dalam rangka memberikan feedback terhadap pelaksanaan program yang sedang berjalan.status gizi masyarakat serta memperhatikan kebijakan-kebijakan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. 5. 3. 6.

09.00 3.05 4.025 218 Banyuasin 818.82 4.786 37 Pagar Alam 116.09 4. KEADAAN PENDUDUK Perkiraan penduduk Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 berjumlah 7. 02. 15.477 12.572.020 penduduk perempuan.556 374 422 579 420 87. 05.92 4.773 17.01 4.19 3. 07. Tabel 2.05 4. Susenas 2009). Rata-rata Penduduk Desa Dan Kepadatan Penduduk per Km2 Menurut Kabupaten /Kota Di Sumatera Selatan Tahun 2009 Kabupaten / Kota Jumlah Penduduk (2) Jumlah Desa/ Kelurahan (3) Luas Daerah (Km2) (4) Rata-rata Penduduk per KK (5) Kepadatan Penduduk Per Km2 (6) (1) OKU 267.938 107 Prabumulih 137.135 4.1 Jumlah Penduduk Pertengahan Tahun. 14.879 260 OKU Timur 581.42 persen pada tahun 2009 menurun jika dibandingkan dengan tahun 2008 sebesar 1.166 Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Selatan Susenas 2009 01.076 12.615 penduduk lakilaki dan 3.222. Dengan komposisi 3.410 2. Laju pertumbuhan penduduk Sumatera Selatan sebesar 1.018 4.635 3.08 96 41 78 84 42 36 67 60 171 153 84 3.665 298 Ogan Ilir 384.627 309 Muara Enim 668.635 jiwa (BPS. 06. 04.650.341 325 Lahat 341.03 4.1.058 8.588 4.494 3.055 376 Musirawas 505.022 152 OKI 707. 10. 12.940 277 Musi Banyuasin 523.222.09 4.872 156 Palembang 1.04 4.438.513 2. 08. 03.486 35 Lubuk Linggau 186. Luas Daerah.BAB 2 GAMBARAN UMUM 2.35 4.663 241 Empat Lawang 213.280 303 OKU Selatan 331.45 persen.12 4.143 5.056 72 Jumlah 7.847 327 201 443 83 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 4 . 11.00 4. 13.92 3. 2.

300 344.003 438.901 35 – 39 245.101 250.300 761.204 141.902 362.03% penduduk Sumatera Selatan berusia muda (0-14 tahun).003 373.999 356.384 Jumlah 3.405 374. dan hanya 5. Penduduk menurut kelompok umur menunjukkan bahwa 30.401 583.204 509.202 40 – 44 214.522.650 358.012 728.599 598.601 419.500 297.901 101.599 214.898 294.104 297.899 351. setiap 100 penduduk usia produktif menanggung sekitar 51 orang penduduk usia tidak produktif. 64.006 282.770 10 – 14 371.999 373.16% berusia produktif (umur 15-59 tahun).204 373.650.798 346.001 214.601 384.101 312.202 707.901 297.635 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 5 . sehingga diperoleh angka ketergantungan (dependency ratio) penduduk Sumatera Selatan sebesar 50.020 724.104 681.098 7. Sedangkan kepadatan penduduk yang paling rendah adalah Kabupaten Musi Banyuasin yaitu 36 orang per km2.098 3.698 695.101 495.204 725.002 218.107 30 – 34 286.709 50 – 54 155.587 720.295 15 – 19 371.600 119.802 3.90 artinya.990 713.301 384.011 20 – 24 380.615 353.508 753.81% yang berumur 60 tahun lebih. meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2008 sebesar 36 orang penduduk usia tidak produktif.003 342.212 365.911 141.476 5–9 365.505 184.583 405.218 711.222.401 250. Dari 15 Kabupaten/kota yang ada di Provinsi Sumatera Selatan.499 162.2 Jumlah Penduduk Berdasarkan Hasil Susenas Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Provinsi Sumatera Selatan 2008 – 2009 Kelompok Umur (1) 2 Laki-Laki (2) 2008 Perempuan (3) Jumlah (4) Laki-Laki (5) 2009 Perempuan (6) Jumlah (7) 0–4 368. Kota Palembang mempunyai kepadatan penduduk yang tinggi sebesar 3.572.900 205.108 101.904 184. Tabel 2.905 45 – 49 189.780 347.102 251.002 227.900 7.847 orang per km2.799 193.206 733.692 3.Tingkat kepadatan penduduk provinsi Sumatera Selatan sekitar 83 orang per km .801 206.101 214.599.812 55 – 59 113.707 60 + 198.790 Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Selatan Susenas 2009 371.511 25 – 29 339.121.091 354.904 428.599 214.508 342.

000) (400.19 5-9 <1 (500.000 400.000) (100. Vegetasinya berupa tumbuhan palmase dan kayurawa (bakau).018 km2 terdiri dari pegunungan dan pesisir pantai dan dilintasi oleh banyak sungai dan karenanya sering terjadi banjir.000) (300. di Pantai Timur tanahnya terdiri dari rawa-rawa dan payau yang dipengaruhi oleh pasang surut. Batas daerah ini adalah di sebelah Utara dengan Provinsi Jambi.000 500.49 35 . Semakin ke barat merupakan dataran tinggi dan terdapat daerah Bukit Barisan.69 55 .000) (200. eksplorasi dan ekploitasi gas bumi dan bahan galian lainnya seperti minyak tanah dan batubara.1 Distribusi Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 75+ 65 . di sebelah Timur dengan Provinsi Bangka Belitung.000 300.29 15 . LETAK GEOGRAFIS DAN LUAS WILAYAH Provinsi Sumatera Selatan terletak antara 1o sampai 4o Lintang Selatan dan 102o sampai 106o Bujur Timur dengan luas wilayah 87. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 6 .39 25 . Sebagian besar lahan terdiri dari hutan produksi. di sebelah Selatan dengan Provinsi Lampung.59 45 .000 laki-laki perempuan 2.000) 100. lahan pertanian.000 200.Gambar 2.2.

4.16 80. Kabupaten yang mengalami pemekaran yaitu kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) menjadi Kabupaten OKU.37 Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Selatan Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 7 .20 - % Melek Huruf 98. OKU Selatan dan OKU Timur dan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi Kabupaten OKI dan Kabupaten Ogan Ilir dan pada tahun 2007. dari 14 (empat belas) kabupaten / Kota menjadi 15 (lima belas) kabupaten kota.SD / Sederajat . Dari data Susenas 2008 data pendidikan disajikan dalam data partisipasi bersekolah.16 19.3.75 20.01 90.17 29.57 23.09 19.07 – 12 tahun .80 84.82 2. Tingkat Pendidikan Penduduk Dan Kemampuan Membaca dan Menulis Tahun 2009 Kota Partisipasi menurut kelompok Umur .43 Kota+Desa 97.50 30. kabupaten Lahat mengalami pemekaran lagi menjadi Kabupaten Lahat dan Kabupaten Empat Lawang. PENDIDIKAN Sumber daya manusia akan sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan seseorang.SLTP / Sederajat .65 36. Tabel 2.56 21.76 10.93 14. tingkat pendidikan penduduk dan kemampuan membaca dan menulis.96 34.08 11.13 – 15 tahun .19 – 24 tahun Pendidikan Tertinggi yg ditamatkan -Tidak tamat SD .52 5. KEADAAN PEMERINTAHAN Sejak tahun 2006.3 Persentase Partisipasi Bersekolah. Provinsi Sumatera Selatan mempunyai 15 kabupaten/kota.SLTA / Sederajat -Diploma/Universitas 99. kembali Provinsi Sumatera Selatan mengalami pemekaran daerah.99 18.2.40 2009 Desa 97.64 12.12 6. 2.89 18.59 47.00 96.64 54.33 97.85 63.16 – 18 tahun . sehingga sampai dengan tahun 2009.

Kemampuan baca tulis (melek huruf) merupakan keterampilan minimum yang dibutuhkan oleh penduduk untuk dapat menuju hidup sejahtera.Secara umum di Sumatera Selatan.378. Pada tahun 2008.33 persen. Ini berarti bahwa tingkat penduduk yang buta huruf relatif kecil yaitu sebesar 2.6.80%.531 menjadi Rp.292.623.900.014 (dengan Migas).50 persen. tanpa Migas dari Rp.50 persen.313. Persentase melek huruf yaitu persentase penduduk 10 tahun keatas yang dapat membaca dan menulis huruf latin dan huruf lainnya sebesar 97. SLTP/MTs sederajat sebesar 19. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 8 .15.275. Semangkin tinggi ijazah/STTB yang dimiliki oleh rata-rata penduduk suatu Negara dapat mencerminkan taraf intelektualitas suatu bangsa.862. 13.032.025.546. tamat SD/MI sederajat sebesar 23.790 tahun 2007 menjadi Rp. Angka Partisipasi Sekolah (APS) penduduk perkotaan lebih besar dari APS penduduk pedesaan kecuali pada kelompok umur 7 – 12 tahun yang relative merata.9.52 persen. sementara tanpa Migas naik dari Rp.3. Ijazah/STTB tertinggi yang dimiliki merupakan indicator pokok kualitas pendidikan formal.20% dari seluruh penduduk usia 10 tahun keatas pada tahun 2009. pendapatan per kapita Sumatera Selatan atas dasar harga berlaku dengan Migas dan tanpa Migas meningkat dari tahun sebelumnya yaitu dari Rp. Pada table 2.5.695 tahun 2007 menjadi Rp. Sedangkan pendapatan perkapita atas dasar harga konstan dengan Migas dan tanpa Migas juga mengalami peningkatan yaitu dari Rp.731 menjadi 10.105 tahun 2008 (dengan Migas).6.5.5. EKONOMI Ukuran yang sering digunakan sebagai kemakmuran suatu daerah adalah pendapatan per kapita. di atas terlihat bahwa penduduk Sumatera Selatan berumur 10 tahun ke atas yang tidak/belum memiliki ijazah sebesar 23. 2. SMU/MA sederajat sebesar 21.56 persen. Diploma sampai perguruan tinggi sebesar 5.

344.895.969.068 109.677 Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Selatan r) Angka Revisi *) Angka Sementara **) Angka Sangat Sementara Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 9 .317.817 Atas Dasar Harga Konstan Dengan MIGAS Tanpa MIGAS 47.114 42.395 33.149 58.536 36.500.707 74.024 55.262.106.971.Tabel 2.510 52.848 38.270 133.633.214.470.726.674 52.027 44.882 88.777.4 PDRB Sumatera Selatan Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan Tahun 2004-2008 (Juta Rupiah) Tahun 2004 2005 2006 r) 2007 *) 2008**) Atas Dasar Harga Berlaku Dengan MIGAS Tanpa MIGAS 64.531.083 49.319.375 45.763 63.675 95.905.080.358.766 81.928.794.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful