KATA PENGANTAR

uji dan Syukur senantiasa dipersembahkan ke hadirat Allah SWT atas taufiq dan hidayah-Nya, sehingga Buku Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan tahun 2010 dapat diselesaikan. Seharusnya penerbitan buku profil kesehatan dapat dilaksanakan setiap awal tahun anggaran, sebagai informasi terhadap kegiatan pembangunan kesehatan pada tahun sebelumnya. Namun tahun ini masih mengalami keterlambatan, dikarenakan sumber data berupa tabel profil dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota hampir sebagian besar belum disampaikan kepada Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan. Namun demikian, data-data yang dipergunakan untuk penyusunan profil ini akhirnya menggunakan data-data dari program yang ada di setiap Subdin Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan. Disadari bahwa berdasarkan pengalaman yang ada, akan ditemui perbedaan data antara pengelola program yang ada di Subdin-Subdin Dinas Kesehatan Provinsi dengan data yang ada di Profil Kesehatan Kabupaten/Kota. Oleh karena itu Buku Profil yang sekarang berada ditangan Anda, masih perlu disempurnakan lagi melalui konfirmasi (crosscheck) dengan buku profil yang telah diterbitkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota maupun dari segi pembahasan yang lebih mendalam lagi. Untuk itulah pada kesempatan ini, kami membutuhkan kritik dan saran dari semua pihak, agar Buku Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2011 akan semakin lebih baik dan berkualitas. Disamping itu, kualitas data juga masih harus terus ditingkatkan, karena datadata yang terkumpulkan baru meliputi data dari fasilitas kesehatan (Fasility based) sementara data dari masyarakat langsung (Community based) belum dapat digali lebih dalam, sehingga informasi yang dihasilkan dalam buku profil kesehatan 2010 masih banyak kekurangan (under reporting).

Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010

Page i

Sulitnya memperoleh data yang akurat dan tepat waktu, Insya’Allah dari waktu ke waktu akan bisa diatasi dengan mengoptimalkan peran petugas sistem pencatatan dan pelaporan baik di tingkat Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan kabupaten/kota sampai di tingkat puskesmas serta memaksimalkan sistem monitoring dan evaluasi melalui supervisi-supervisi sekaligus melakukan pembinaan secara kontinyu oleh petugas/pengelola data di wilayah kerjanya termasuk upaya “jemput bola “ untuk memenuhi kebutuhan data yang bersifat segera. Kegiatan-kegiatan pemutakhiran data dengan melibatkan pengelola program, lintas sektor bahkan pejabat struktural di Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota harus dilakukan paling sedikit 2 kali dalam setahun untuk memberikan masukan atau mengklarifikasi data-data yang barangkali terjadi perbedaan, “blank”, dan sebagainya. Disamping itu juga perlu dilakukan Pelatihan Pengelola data dan informasi untuk petugas pengelola data di kabupaten/kota. Diharapkan dengan terbitnya buku profil kesehatan ini, akan dapat memberikan informasi sekaligus bahan evaluasi terhadap program-program

kesehatan yang telah dilaksanakan pada tahun-tahun sebelumnya dan yang tak kalah pentingnya adalah untuk bahan perencanaan pada tahun-tahun berikutnya dalam upaya mewujudkan Visi Sumatera Selatan Sehat dan Indonesia Sehat. Akhirnya, dengan kemauan keras, optimisme, dan selalu ingin belajar sepanjang hayat, belajar dari kesalahan, Insya’Allah perubahan ke arah yang semakin baik akan dapat diraih, karena karakteristik orang yang belajar adanya perubahan dari yang kurang baik menjadi baik, dari yang rendah kepada yang tinggi, dan seterusnya. Palembang, 2010 Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan,

Dr.H.Zulkarnain Noerdin, M.Kes

Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010

Page ii

DAFTAR ISI

Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Gambar Daftar Tabel Daftar Lampiran Bab 1 Bab 2 PENDAHULUAN GAMBARAN UMUM 2.1. 2.2. 2.3. 2.4. 2.5. Bab 3 Keadaan Penduduk Letak Geografis dan Luas Wilayah Keadaan Pemerintahan Pendidikan Ekonomi

i iii vi x xi 1 4 4 6 7 7 8 10 10 10 11 12 13 13 14 16 51 54 54 55 58 59 59 59 59
Page iii

SITUASI DERAJAT KESEHATAN 3.1. 3.1.1. 3.1.2. 3.1.3. 3.1.4. 3.1.5. 3.2. 3.2.1. 3.2.2. 3.3. 3.3.1. 3.3.2. 3.3.3. MORTALITAS Angka Kematian Bayi (AKB) Angka Kematian Balita (AKABA) Angka Kematian Ibu (AKI) Angka Kematian Kasar (AKK) Umur Harapan Hidup Waktu Lahir (UHH) ANGKA KESAKITAN Penyakit Menular Penyakit Tidak Menular STATUS GIZI MASYARAKAT Bayi Dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) Gizi Balita Status Gizi Wanita Usia Subur Kurang Energi Kronik (KEK)

Bab 4

SITUASI UPAYA KESEHATAN 4.1. PELAYANAN KESEHATAN DASAR 4.1.1. 4.1.1.1. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi Pelayanan Antenatal (K1 dan K4)

Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan

4. 4.5. 4.5.3. 4. 4.1. 4. 4. 4.1.1. 4.2. 4. 4.4.3 4. 4. 4.5. 4. Pembinaan Kesehatan Lingkungan Surveilans Vektor Pengawasan Tempat-Tempat Umum dan Tempat Pengelolaan Makanan 4.1. 4.3.5. 4.2. Pertolongan Persalinan oleh Nakes dengan Kompetensi Kebidanan Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas Ibu Hamil Risiko Tinggi yang Dirujuk Kunjungan Neonatus Kunjungan Bayi Pelayanan Kesehatan Anak Pra Sekolah.4.3.6.1. 4.1.4.1.1. 4.1. 4.3.4. 4. 4.2.2.1.2.2.3.2. 4.2.3.3.5.1.4.4.1.4.4.3.3.2.5.5.1.5. PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT Pemantauan Pertumbuhan Balita Pemberian Kapsul Vitamin A Pemberian Tablet Besi Bayi dengan ASI Ekslusif PELAYANAN KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN 115 115 115 116 116 117 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Page iv . 4.4. dan Remaja Pelayanan Keluarga Berencana Pelayanan Imunisasi Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) Pelayanan Kesehatan Pra Usia Lanjut dan Usia Lanjut PELAYANAN KESEHATAN RUJUKAN DAN PENUNJANG Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit Pemanfaatan Obat Generik Pelayanan Jaminan Kesehatan Masyarakat PEMBERANTASAN PENYAKIT MENULAR Penyelidikan Epidemiologi dan Penanggulangan KLB Pemberantasan Penyakit Polio Pemberantasan TB Paru Pemberantasan Penyakit ISPA Penanggulangan Penyakit HIV/AIDS PEMBINAAN KESEHATAN LINGKUNGAN DAN SANITASI DASAR 64 66 68 69 71 72 75 78 81 84 86 86 87 87 88 88 94 100 101 104 106 106 111 112 4.1.4. 4. Usia Sekolah.1.1.3.1. 4.1.2.3. 4.1.6.1.

1.2.3.6. 4.6. 4.3. 5. 5.1.4.1.4.2.1.6.6.3. SARANA KESEHATAN Puskesmas Rumah Sakit Sarana Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat Institusi Pendidikan Tenaga Kesehatan TENAGA KESEHATAN ANGGARAN KESEHATAN Bab 6 KESIMPULAN Lampiran Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Page v . 5.4. Bab 5 PELAYANAN KESEHATAN DALAM SITUASI BENCANA SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN 5.1.1. Peningkatan Penggunaan Obat Rasional Pelayanan Farmasi Komunitas dan Farmasi Klinik Penerapan Penggunaan Obat Esensial Generik Pemberdayaan Masyarakat dalam Penggunaan Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT) 118 118 118 119 119 122 122 122 124 126 130 131 134 136 4.1. 5. 4.7. 5. 5.2.

31 Gambar 3.6 Gambar 3.9 Gambar 3.13 Gambar 3.11 Gambar 3.33 Distribusi Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur Dan Jenis Kelamin Angka Kematian Bayi (AKB) Jumlah dan Sebab Kematian Ibu Umur Harapan Hidup (UHH) STP Berbasis Puskesmas STP Berbasis RS (Rawat Inap) Annual Malaria Incidence (AMI) Angka Penemuan Pasien Baru TB BTA Positif (CDR) Angka Penemuan Pasien Baru TB BTA Positif (CDR) Menurut Kab/Kota Angka Kesembuhan (Cure Rate) Pasien TB BTA Positif Angka Kesembuhan (Cure Rate) Pasien TB BTA Positif Menurut Kab/Kota Persentase Penemuan Pasien Baru TB BTA Positif Jumlah Pengidap HIV (+) Per Tahun Kumulatif Penyebaran Pengidap HIV (+) Per Kab/Kota Jumlah Penderita AIDS Per Tahun CDR Kusta Penemuan Kasus Baru (CDR) Penderita Kusta Proporsi Penderita Kusta Cacat Tingkat II Proporsi Kusta Anak Penderita Tetanus Neonatorum Penderita Difteri Penemuan Kasus Campak Rutin Menurut Kelompok Umur Data Campak Menuru Sumber Laporan Kab/Kota Sebaran Kasus Campak Hasil CBMS Hasil Pelaksanaan CBMS Konfirmasi Laboratorium Kasus Campak (CBMS) Kelompok Umur Dengan Konfirmasi Laboratorium Kecenderungan Situasi DBD CFR Penderita DBD Perkembangan Penderita DBD Perbandingan Incidence Rate (IR) Persentase Penemuan Penderita DBD Yang Ditangani Distribusi Penderita Diare Semua Umur Per Kab/Kota Trend Kejadian Diare 6 11 13 14 15 15 17 20 22 22 23 24 26 27 28 30 30 31 32 33 34 35 36 37 38 38 39 40 42 42 43 43 44 45 Page vi Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan .28 Gambar 3.26 Gambar 3.1 Gambar 3.12 Gambar 3.23 Gambar 3.27 Gambar 3.15 Gambar 3.14 Gambar 3.8 Gambar 3.3 Gambar 3.25 Gambar 3.22 Gambar 3.DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Gambar 3.30 Gambar 3.5 Gambar 3.24 Gambar 3.21 Gambar 3.7 Gambar 3.19 Gambar 3.16 Gambar 3.29 Gambar 3.20 Gambar 3.10 Gambar 3.4 Gambar 3.2 Gambar 3.18 Gambar 3.32 Gambar 3.17 Gambar 3.

1 Gambar 4.2 Gambar 4.36 Gambar 3.8 Gambar 4.9 Gambar 4.15 Gambar 4. Fe3.000 Penduduk Jumlah Kejadian Kecelakaan Lalu Lintas Proporsi Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) Prevalensi Gizi Buruk Angka Gizi Buruk Dan Gizi Kurang Cakupan Balita Gizi Buruk Mendapat Perawatan Cakupan Pemberian MP ASI Pada Anak Usia 6 .13 Gambar 4.7 Gambar 4.3 Gambar 4.18 Gambar 4.11 Gambar 4.21 Gambar 4.22 Cakupan Penderita Diare Yang Ditangani Oleh Kab/Kota Persentase Penemuan Penderita Diare Kasus dan Suspek Influenza A Baru (H1N1) Prevalensi Penyakit Tidak Menular Per 10.10 Gambar 4.5 Gambar 4.Gambar 3.37 Gambar 3.24 Bulan Keluarga miskin Persentase Cakupan Pelayanan K1 dan K4 Ibu Hamil Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K4 Persentase Cakupan K4.39 Gambar 3.20 Gambar 3.14 Gambar 4.4 Gambar 4.17 Gambar 4. dan Status Imunisasi TT Pada Ibu Hamil Persentase Cakupan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Persentase Cakupan Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Cakupan Komplikasi Kebidanan Yang Ditangani Cakupan Pelayanan Nifas Persentase cakupan Ibu Hamil Resiko Tinggi Yang Dirujuk Persentase cakupan Kunjungan Neonatal Persentase Cakupan Kunjungan Neonatal Menurut Kab/Kota Persentase Cakupan Kunjungan Neonatal Menurut Kab/Kota Cakupan Kunjungan Bayi Persentase Cakupan Puskesmas Yang Mampu Menyelengarakan PKPR Menurut Kab/Kota Persentase Cakupan Deteksi Dini Dan Interfensi Tumbuh Kembang Balita Cakupan Pelayanan Anak Balita Cakupan Penjaringan Siswa SD dan Setingkat Persentase Cakupan Peserta KB Aktif Dan KB Baru Menurut Kab/Kota Persentase Cakupan Pelayanan Peserta KB Baru Berdasarkan Jenis Alat Kontrasepsi Cakupan Peserta KB Aktif Hasil Cakupan Desa UCI Hasil Cakupan Desa UCI Hasil Cakupan Desa UCI 46 47 51 52 54 55 56 57 57 58 60 62 63 64 65 66 67 68 69 70 70 71 72 73 74 75 76 77 77 79 80 81 Page vii Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan .40 Gambar 3.34 Gambar 3.19 Gambar 4.16 Gambar 4.43 Gambar 4.6 Gambar 4.41 Gambar 3.35 Gambar 3.12 Gambar 4.38 Gambar 3.42 Gambar 3.

25 Gambar 4.53 Gambar 4.41 Gambar 4.46 Gambar 4.24 Gambar 4.50 Gambar 4.23 Gambar 4.54 Gambar 4.3 Hasil Cakupan BIAS DT Klas I Hasil Cakupan BIAS Klas II dan III Hasil Cakupan BIAS Campak Jumlah Usila Dibina dan PKM Yang Membina Persentase Cakupan Lanjut Usia Yang Dibina Dan Cakupan Puskesmas Melayani Kesehatan Usia Lanjut Persentase Kunjungan Rawat Jalan Menurut Kab/Kota Persentase Peserta JamSoskes Sumsel Semesta Desa/Kelurahan KLB Ditangani< 24 Jam Kelengkapan Laporan W1 Ketepatan Laporan W1 Dari Kab/Kota Frekuensi Desa KLB Per Penyakit Perbandingan Frekuensi Dan Penderita KLB Penyakit Dan Keracunan Makanan Persentase Jenis Pelaporan KLB Dari Kab/Kota Cakupan Desa/Kelurahan Mengalami KLB Yang dilakukan Penyelidikan Epidemiologi < 24 Jam Persentase Spesimen Adekuat Dan AFP Rate Pencapaian Kelengkapan Laporan Nihil Penemuan Kasus AFP Proporsi Status Imunisasi Kasus AFP Non Polio Kasus AFP Non Polio Berdasarkan Kelompok Umur Sumber Laporan Kasus AFP AFP Rate Per 100.Gambar 4.35 Gambar 4.51 Gambar 4.52 Gambar 4.42 Gambar 4.38 Gambar 4.55 Gambar 5.28 Gambar 4.31 Gambar 4.33 Gambar 4.000 Penduduk < 15 Tahun Angka Keberhasilan Pengobatan Penderita TB Paru BTA (+) CDR Pneumonia Balita Per Kab/Kota Cakupan Penemuan Pneumonia Balita Program ISPA Cakupan Penemuan Penderita Pneumonia Balita Distribusi AIDS Menurut Kondisi Saat Dilaporkan Cakupan Penduduk Yang Menggunakan Sarana Air Bersih Persentase Rumah sehat Menurut Kab/Kota Persentase Cakupan Sarana Pembuangan Air Limbah Persentase Cakupan Jamban Keluarga Persentase Angka ABJ Penyakit DBD Menurut Kab/Kota Persentase Pemberian Tablet Besi Pada Ibu Hamil (Fe1 & Fe3) Cakupan Pemberian Asi Eksklusif Pada Bayi Jumlah Puskesmas Dan Rasionya Terhadap 100.39 Gambar 4.30 Gambar 4.49 Gambar 4.36 Gambar 4.43 Gambar 4.000 Penduduk Jumlah Puskesmas Menurut Kab/Kota Jumlah Puskesmas Pembantu 82 83 84 85 85 86 87 89 90 90 91 92 93 93 95 96 97 98 98 99 100 101 102 103 104 106 107 109 110 111 112 116 117 122 123 124 Page viii Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan .34 Gambar 4.37 Gambar 4.40 Gambar 4.2 Gambar 5.45 Gambar 4.27 Gambar 4.32 Gambar 4.47 Gambar 4.1 Gambar 5.44 Gambar 4.48 Gambar 4.29 Gambar 4.26 Gambar 4.

11 Jumlah Puskesmas Pembantu Menurut Kab/Kota Jumlah RS Pemerintah Swasta Dan Khusus Jumlah Posyandu Jumlah Posyandu Menurut Kab/Kota Persentase Posyandu Pratama. Purnama Dan Mandiri Rasio Poskesdes Terhadap desa/Kelurahan Cakupan Desa Siaga Aktif Persentase Anggaran Kesehatan 124 125 127 127 128 128 129 134 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Page ix .10 Gambar 5.7 Gambar 5.Gambar 5. Madya.9 Gambar 5.4 Gambar 5.6 Gambar 5.5 Gambar 5.8 Gambar 5.

4 Tabel 3.3 Tabel 2.4 Tabel 4.9 Tabel 4.2 Tabel 3.6 Tabel 3. Konfirmasi Laboratorium dan AMI Menurut Kab/Kota Laporan Uji Saring HIV di PMI Kota Palembang Data Penyakit PD3I Per Kab/Kota Distribusi Kasus Campak Berdasarkan Kelompok Umur Distribusi Kasus Campak Per Bulan Distribusi Kasus Penemuan DBD per Kab/Kota Jumlah Kasus Rabies Gambaran Penemuan Kasus Kronis Filariasis Gambaran MF Rate Filariasis Prevalensi Penyakit Tidak Menular Per 10.10 Tabel 3.12 Tabel 4.6 Tabel 4.2 Tabel 2.3 Tabel 5.3 Tabel 3.2 Tabel 5.7 Tabel 3.9 Tabel 3.000 Penduduk Page x 4 Tabel 2.5 Tabel 3.1 Jumlah Penduduk Pertengahan Tahun.2 Tabel 4.11 Tabel 3.4 Tabel 3. Tingkat Pendidikan Penduduk dan Kemampuan Membaca dan Menulis PDRB Sumatera Selatan Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan Tahun 2004-2008 Angka Kematian Balita (AKABA) Per 1000 Kelahiran Hidup di Indonesia Tahun 1995-2007 Jumlah Penderita Malaria Klinis. Swasta dan Khusus Menurut Kapasitas Tempat Tidur Jumlah Institusi Diknakes Menurut Jenis Pendidikan Jumlah Tenaga Kesehatan Menurut Golongan Medis.1 Tabel 3.5 Tabel 4.3 Tabel 4. Paramedis. Tenaga Kesehatan Lainnya Rasio Tenaga Kesehatan Menurut Jenis per 100.000 Penduduk Angka Kesakitan Secara Absolut Frekuensi dan Jumlah Kasus KLB Kinerja Surveilans AFP Gambaran Penemuan Kasus ISPA Distribusi Penemuan Kasus HIV/AIDS Melalui Klinik VCT Persentase Rumah Sehat Jenis Vektor Malaria Cakupan Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM) Sehat Cakupan Sarana Ibadah Cakupan TTU-I Sarana Pendidikan Data Kejadian Bencana Jumlah Rumah Sakit Pemerintah.8 Tabel 3. Rata – rata Penduduk Desa dan Kepadatan Penduduk Per Km2 Menurut Kab/Kota Jumlah Penduduk Berdasarkan Hasil Susenas Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Persentase Partisipasi Bersekolah.1 Tabel 4. Luas Daerah.10 Tabel 5.1 Tabel 5.4 5 7 9 12 18 25 32 34 36 41 48 49 50 52 53 91 94 102 105 108 112 113 114 114 119 126 130 131 132 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan .DAFTAR TABEL Tabel 2.8 Tabel 4.7 Tabel 4.

Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Page xi .

Peserta KB. Peserta KB Baru dan KB Aktif Menurut Kecamatan dan Puskesmas Jumlah peserta KB Aktif Menurut Jenis Kontrasepsi Pelayanan KB Baru Menurut Kecamatan Persentase Cakupan Desa/Kelurahan Uci Menurut Kecamatan Persentase Cakupan Imunisasi Bayi Menurut Kecamatan Kab/Kota Cakupan Bayi. DBD dan Diare Pada Balita Ditangani Persentase Penderita Malaria Diobati Persentase Penderita Kusta Selesai Beobati Kasus Penyakit Filariasis Ditangani Jumlah Kasus dan Angka Kesakitan Penyakit Menular yang Dapat dicegah Dengan Imunisasi (PD3i) Cakupan Kunjungan Neonatus.Rasio Jenis Kelamin Kab/Kota Jumlah Penduduk Menurut Jenis kelamin dan Kelompok Umur Persentase Penduduk Laki-laki dan Perempuan Berusia 10 Tahun Keatas Dirinci Menurut Tingkat Pendidikan tertinggi yang Ditamatkan di Kab/Kota Persentase Penduduk Laki-laki dan Perempuan Berusia 10 Tahun Ke atas yang Melek huruf Jumlah Kelahiran dan Kematian Bayi dan Balita Menurut Kab/Kota Jumlah Kematian Ibu Maternal Menurut Kab/Kota Jumlah Kejadian Kecelakaan Lalu Lintas dan Rasio Korban Luka dan Meninggal Terhadap Jumlah Penduduk Dirinci Menurut Kab/Kota AFP Rate.K4).Jumlah Penduduk. Pemeriksaan Kesehatan Siswa SD/SMP/SMA Jumlah Pus. Infeksi Seksual Menular. % TB Paru Sembuh dan Peneumonia Balita Ditangani HIV/AIDS.Persalinan Ditolong Tenaga Kesehatan dan Ibu Nifas Cakupan Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak Balita. dan Kepadatan Penduduk Menurut Kab/Kota Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin.Jumlah Rumah Tangga.Rasio Beban Tanggungan.DAFTAR LAMPIRAN Tabel 1 Tabel 2 Tabel 3 Tabel 4 Luas Wilayah Jumlah Desa/Kelurahan.Kelompok Umur.Balita yang Mendapat Pelayanan Kesehatan Menurut Kecamatan dan Puskesmas Page xi Tabel 5 Tabel 6 Tabel 7 Tabel 8 Tabel 9 Tabel 10 Tabel 11 Tabel 12 Tabel 13 Tabel 14 Tabel 15 Tabel 16 Tabel 17 Tabel 18 Tabel 19 Tabel 20 Tabel 21 Tabel 22 Tabel 23 Tabel 24 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan .Bayi dan bayi BBLR yang Ditangani Status Gizi Balita dan Jumlah Kecamatan Rawan Gizi Cakupan Kunjungan Ibu Hamil (K1.

Fe3 Menurut Kecamatan dan Puskesmas Jumlah Wanita Usia Subur dengan status Imunisasi TT Menurut Kecamatan dan Puskesmas Jumlah dan Persentase Ibu Hamil dan Neonatal Risiko Tinggi/Komplikasi ditangani Menurut Kecamatan dan Puskesmas Jumlah dan Persentase Desa/Kelurahan Terkena KLB yang ditangani < 24 Jam Menurut Kecamatan dan Puskesmas Jumlah Penderita dan Kematian Serta Jumlah Kecamatan dan Desa Yang Terserang KLB Jumlah Bayi yang diberi ASI Eklusif Pelayanan Kesehatan Gigi n Mulut Cakupan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Pra Bayar Cakupan Pelayanan Kesehatan Masyarakat Miskin Cakupan Pelayanan Kesehatan Pra Usila dan Usila Persentase Donor Darah Diskrining terhadap HIV/AIDS Jumlah Sarana Pelayanan Kesehatan Menurut Kemampuan Labkes dan Miliki 4 Spesialis Dasar Ketersediaan Obat Sesuai dengan Kebutuhan Pelayanan Kesehatan Dasar Persentase Rumah tangga Berperilaku Hidup Bersih Sehat Jumlah dan Persentase Posyandu Menurut Strata dan Kecamatan Persentase Rumah Sehat Menurut Kecamatan Persentase Keluarga Memiliki Akses Air Bersih Keluarga dengan Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar Menurut Kecamatan Persentase Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM) Sehat Persentase Institusi Dibina Kesehatan Lingkungannya Persentase Rumah/Bangunan yang Diperiksa dan Bebas Jentik Nyamuk Aedes Persebaran Tenaga Kesehatan Menurut Unit Kerja Jumlah Tenaga Kesehatan di Sarana Pelayanan Kesehatan Jumlah Tenaga Medis Disarana Kesehatan Jumlah Tenaga Kefarmasian dan Gizi Di Sarana Kesehatan Jumlah Tenaga Keperawatan Di Sarana Kesehatan Jumlah Tenaga Kesehatan Masyarakat dan Sanitasi di Sarana Kesehatan Jumlah Tenaga Teknisi Medis di Sarana Kesehatan Anggaran kesehatan Kab/kota Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) Indikator Pelayanan Rumah Sakit Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Page xii .Tabel 25 Tabel 26 Tabel 28 Tabel 30 Tabel 31 Tabel 32 Tabel 34 Tabel 36 Tabel 37 Tabel 39 Tabel 41 Tabel 43 Tabel 44 Tabel 45 Tabel 46 Tabel 47 Tabel 48 Tabel 49 Tabel 50 Tabel 51 Tabel 52 Tabel 53 Tabel 54 Tabel 55 Tabel 56 Tabel 57 Tabel 58 Tabel 59 Tabel 60 Tabel 62 Tabel 63 Jumlah Ibu Hamil Yang Mendapat Tablet Fe1.

dan mampu untuk mengenali. mau. sehingga dapat bebas dari gangguan kesehatan. 2006). ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan.BAB 1 PENDAHULUAN embangunan kesehatan diselenggarakan dalam upaya untuk mencapai Visi : ”Indonesia Sehat 2014”. pengembangan. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Pembangunan kesehatan yang berhasil guna dan berdaya guna dapat dicapai melalui pembinaan. mencegah. baik yang disebabkan karena penyakit termasuk gangguan kesehatan akibat bencana. Sebagai penjabaran dari Visi Departemen Kesehatan. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2010 Page 1 . dan pelaksanaan. SIK di setiap institusi pelayanan kesehatan mulai dari tingkat Puskesmas. (Depkes. Untuk mencapai visi tersebut. serta pemantapan fungsi-fungsi administrasi kesehatan yang didukung oleh sistem informasi kesehatan (SIK). Masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat adalah suatu kondisi di mana masyarakat Indonesia menyadari. maupun lingkungan dan perilaku yang tidak mendukung untuk hidup sehat. Dinas Kesehatan Provinsi sampai tingkat Pusat. maka tujuan yang akan dicapai adalah terselenggaranya pembangunan kesehatan secara berhasil guna dan berdaya guna dalam rangka mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggitingginya. dan mengatasi permasalahan kesehatan yang dihadapi. Departemen Kesehatan sebagai salah satu pelaku pembangunan kesehatan telah menetapkan Visi Departemen Kesehatan yaitu : ”Masyarakat yang Mandiri untuk Hidup Sehat”. serta hukum kesehatan.

Bab-2 : Gambaran Umum. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2010 Page 2 . termasuk pencapaian indikator-indikator pembangunan kesehatan di Provinsi Sumatera Selatan. Sistematika penyajian Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan adalah sebagai berikut : Bab-1 : Pendahuluan. pendidikan. Dinas Kesehatan Provinsi sampai kepada tingkat Pusat. Bab ini menyajikan tentang latar belakang dan tujuan diterbitkannya Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 serta sistematika penyajiannya. Bab ini menyajikan tentang gambaran umum Kabupaten/Kota. SIK yang baik akan dapat memberikan informasi yang akurat dan up to date untuk proses pengambilan keputusan di semua tingkat administrasi pelayanan kesehatan. ekonomi. administratif dan informasi umum lainnya. Salah satu bentuk output dari SIK adalah penerbitan buku profil kesehatan yang dilakukan setiap tahun anggaran oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.harus terus dikembangkan sehingga diharapkan dapat memberikan dukungan dalam rangka pelaksanaan fungsi manajemen kesehatan. Tujuan penyusunan Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan adalah memberikan informasi tentang hasil pencapaian program pembangunan kesehatan di Provinsi Sumatera Selatan umumnya. sosial budaya dan lingkungan. Selain uraian tentang letak geografis. bab ini juga mengulas faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan dan faktor-faktor lainnya misal kependudukan.

Pada lampiran ini berisi resume/angka pencapaian Kab/Kota dan 63 tabel data yang merupakan gabungan Tabel Indikator Kabupaten sehat dan Indikator pencapaian kinerja Standar Pelayanan Minimal bidang Kesehatan. angka kesakitan. Upaya pelayanan kesehatan yang diuraikan dalam bab ini juga mengakomodir indikator kinerja Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan serta upaya pelayanan kesehatan lainnya yang diselenggarakan oleh Kabupaten/Kota. bab ini juga mengemukakan hal-hal yang dianggap masih kurang dalam rangka penyelenggaraan pembangunan kesehatan. pelayanan kesehatan dalam situasi bencana. tenaga kesehatan. Lampiran. dan angka status gizi masyarakat. Selain keberhasilan-keberhasilan yang perlu dicatat. Bab ini diisi dengan sajian tentang hal-hal penting yang perlu disimak dan ditelaah lebih lanjut dari Profil Kesehatan Kabupaten/Kota di tahun yang bersangkutan. pelayanan kefarmasian dan alat kesehatan. pemberantasan penyakit menular. pembiayaan kesehatan dan sumber daya kesehatan lainnya. Bab-4 : Situasi Upaya Kesehatan. Bab ini menguraikan tentang pelayanan kesehatan dasar. Bab ini berisi uraian tentang indikator mengenai angka kematian. pelayanan kesehatan rujukan dan penunjang. perbaikan gizi masyarakat. Bab-6 : Kesimpulan. Bab ini menguraikan tentang sarana kesehatan. pembinaan kesehatan lingkungan dan sanitasi dasar. Bab-5 : Situasi Sumber Daya Kesehatan. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2010 Page 3 .Bab-3 : Situasi Derajat Kesehatan.

14%) dan Empat Lawang (0. estimasi angka kematian bayi di Sumatera Selatan diperkirakan 71 per 1000 kelahiran. Di samping kejadian kematian dapat juga digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan lainnya. Angka Kematian Bayi (AKB) Menurunnya angka kematian bayi dan meningkatnya angka harapan hidup mengindikasikan meningkatnya derajat kesehatan penduduk.31%) dan Lahat (0. Berdasarkan Sensus Penduduk (SP) 1990. Berikut ini diuraikan tentang indikator-indikator tersebut. Angka kematian pada umumnya dapat dihitung dengan melakukan survei dan penelitian. 3.BAB 3 SITUASI DERAJAT KESEHATAN Gambaran derajat kesehatan dapat dilihat dari beberapa indikator seperti mortalitas . angka kematian bayi di Sumatera Selatan turun drastis menjadi 53 per 1000 kelahiran. persentase terendah di kabupaten Muara Enim (0. Angka kematian bayi di Provinsi Sumatera Selatan Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 10 .1.13%). morbiditas. Menurut target MDGs AKB diharapkan turun menjadi 23 per 1000 kelahiran hidup. sedangkan berdasarkan SP 2000. Persentase kematian bayi tertinggi terjadi di kabupaten Ogan Komering Ilir (1.1.5 persen per tahun. Kematian bayi di Sumatera Selatan tahun 2009 adalah 4 per 1000 kelahiran hidup. AKB Sumsel lebih tinggi dibandingkan Angka Nasional yaitu 42 per 1000 kelahiran hidup (SUSENAS 2007). MORTALITAS Gambaran perkembangan derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari kejadian kematian dalam masyarakat dari waktu ke waktu. 3. Perkembangan tingkat kematian dan penyakit-penyakit penyebab utama kematian yang terjadi pada periode terakhir akan diuraikan dibawah ini.1.82%). atau turun 25 persen selama 10 tahun atau rata-rata turun 2. dan angka status gizi masyarakat.

8 (79 kematian bayi). SUSENAS.6 (87 kematian Balita). Jumlah kematian bayi menurut Kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan dapat dilihat pada lampiran Tabel 6.3 25. Sedangkan gambaran perkembangan AKABA berdasarkan estimasi SUPAS.1 berikut ini : Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 11 .tahun 2009 adalah 0. Angka Kematian Balita (AKABA) Berdasarkan SDKI 2007 AKABA sekitar 44 per 1.6 54 53 53 102 155 100 150 200 Sumber : BPS Provinsi Sumatera Selatan 3. Distribusi kematian Balita menurut Kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan dapat dilihat pada lampiran Tabel 6. sedangkan pada tahun 2008 adalah 3.000 kelahiran hidup.1. dan SDKI pada tahun 1995 – 2007 disajikan pada tabel 3. Angka Kematian Bayi (AKB) Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 1971– 2008 SP1971 SP 1980 SP 1990 SDKI 1994 SUPAS SDKI 1997 SP 2000 SDKI SUPAS 2006 2007 2008 0 30 30 26.5 (45 kematian Balita ).000 kelahiran hidup berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik.2.1. sedangkan tahun 2008 adalah 0. Gambar 3.4 (537 kematian bayi). Angka Kematian Balita di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 adalah 0.6 25 50 71 59. AKABA Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2008 adalah 52 per 1.

Menurut SKRT.44 50. maka apabila penurunannya masih seperti tahun-tahun sebelumnya.000 kelahiran hidup.000 Kelahiran Hidup Di Indonesia Tahun 1995 – 2007 Tahun Estimasi SUPAS 1995 Laki-Laki Perempuan Jumlah (L+P) 71. AKI Nasional menurun dari 450 per 100.3. Pada SKRT 2001 tidak dilakukan survei mengenai AKI.55 44.28 59. Tetapi bila dibandingkan dengan target yang ingin dicapai secara nasional pada tahun 2010. yaitu sebesar 125 per 100. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 12 .1. Hal ini menunjukkan bahwa AKI cenderung mengalami penurunan.00 64. kemudian menurun lagi menjadi 373 per 100.61 53.Tabel 3.000 kelahiran hidup berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kependudukan Indonesia (SDKI) 2003.36 66. Kemudian pada tahun 2002-2003.000 kelahiran hidup pada tahun 1995.Subdin Kesga 3. Angka Kematian Ibu Maternal (AKI) Sampai dengan saat ini informasi tentang AKI masih berpedoman pada hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT). diperkirakan target tersebut di masa mendatang sulit dicapai.000 kelahiran hidup pada tahun 1992.77 57.71 Estimasi SUSENAS 73 64 64 46 SDKI 1995 1998 1999 2000 2001 20022003 2007 44 Sumber : Profil Kesehatan Indonesia 2004.1 Angka Kematian Balita (AKABA) Per 1. AKI menjadi 307 per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 1986 menjadi 425 per 100. AKI provinsi Sumatera Selatan masih berpedoman pada hasil SUSENAS 2005 yaitu 262 per 1000 kelahiran hidup.05 39.

2 per 1000 penduduk.5.31 per 100.000 kelahiran hidup (143 kematian). estimasi angka harapan hidup Sumatera Selatan adalah 59. Menurut hasil SP 1990. Distribusi kematian ibu menurut Kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan dapat dilihat pada lampiran Tabel 6.8 per 1000 penduduk pada tahun 2006.1. menjadi 64. Angka Kematian Kasar (AKK) AKK Provinsi Sumatera Selatan berdasarkan estimasi pada tahun 2005 sebesar 22.4. kemudian menurun lagi menjadi 21.2 Jumlah dan Sebab Kematian Ibu Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2006-2009 Gambar diatas menunjukkan penyebab tertinggi kematian ibu dari tahun 2006 hingga 2009 adalah perdarahan.Gambar 3. dan mengalami peningkatan cukup tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yaitu sebanyak 62 kasus. 3. Angka Kematian Ibu di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 adalah 150. menurun menjadi 21. sepuluh tahun kemudian mengalami kenaikan sebesar 7 persen.93 per 100.1. sedangkan pada tahun 2008 adalah 79. 3.83 tahun. Umur Harapan Hidup Waktu Lahir (UHH) Sejalan dengan menurunnya estimasi angka kematian bayi.4 per 1000 penduduk.000 kelahiran hidup (124 kematian).02 tahun menurut SP 2000. maka estimasi angka harapan hidup mengalami kenaikan. Sedangkan menurut hasil Supas 2005 besarnya angka harapan hidup penduduk Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 13 .

3. Sedangkan tahun-tahun sebelumnya dipakai Program SST (Sistem Surveilans Terpadu).9 tahun pada tahun 2009.2.Sumatera Selatan adalah sebesar 69.1 53.9 Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan Pada Gambar 3.5 tahun.1 2009 69.3 Umur Harapan Hidup (UHH) Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 1971 – 2009 80 Umur (tahun) 60 40 20 0 UHH SP 1971 SP 1980 SP 1990 44. Pada program ini dipisahkan antara STP berbasis Puskesmas dan STP berbasis Rumah Sakit.7 SP 2000 69. Program Surveilans Terpadu Penyakit (STP) baru mulai dilaksanakan di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2007. dari 44. Gambar 3. ANGKA KESAKITAN Data angka kesakitan penduduk yang berasal dari masyarakat (community based data) yang diperoleh melalui studi morbiditas. Sedangkan untuk Puskesmas Sentinel ditambah lagi 2 penyakit tak menular. Untuk STP berbasis Puskesmas ada 25 kasus baru penyakit menular yang diamati oleh semua Puskesmas. terlihat bahwa UHH Provinsi Sumatera Selatan cenderung mengalami peningkatan. yaitu Hipertensi dan Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 14 . Kondisi ini menunjukan bahwa anak yang baru lahir diperkirakan akan hidup rata-rata sampai umur 69 tahun.1 tahun pada tahun 1971 menjadi 69.3 di atas. dan hasil pengumpulan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota serta dari sarana pelayanan kesehatan (facility based data) yang diperoleh melalui sistem pencatatan dan pelaporan.05 2008 71. sesuai ketentuan dalam Kepmenkes nomor 1116/2003 dan 1479/2003.8 SPS 63.6 59.

STP penyakit menular berbasis Rumah Sakit dipisahkan untuk penderita rawat inap dan rawat jalan.4 STP Berbasis Puskesmas Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 18000 16000 14000 12000 10000 8000 6000 4000 2000 0 1 Diare Malaria Klinis Tifus Perut Klinis Tersangka TBC Paru Disentri TBC Paru BTA (+) Malaria Vivax Demam Dengue Pneumonia Malaria Falsifarum Sumber: Laporan STP Bidang PP&PL. Adapun data kasus baru penyakit menular berbasis puskesmas dapat dilihat pada tabel berikut: Gambar 3.5 STP Berbasis Rumah Sakit (Rawat Inap) Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 1200 1000 800 600 400 200 0 Tifus Perut Klinis Tifus Perut Kultur (+) Pneumonia Malaria Klinis Diare Malaria Fals ifarum Ters angka TBC Paru Demam Berdarah Dengue TBC Paru BTA (+) Demam Dengue 459 412 303 252 212 133 123 118 1122 923 Sumber: Laporan STP Bidang PP&PL. Ada 29 penyakit menular yang diamati dan dipantau trend kasusnya sepanjang tahun. Tahun 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 15 .Diabetes Mellitus.2 %). Malaria Klinis (14. 2009 Gambar di atas menunjukan bahwa penyakit berbasis Puskesmas terbanyak adalah Diare (56.6 %). dan Tifus perut klinis (10.7 %). Adapun data kasus baru penderita rawat inap penyakit menular berbasis rumah sakit tahun 2009 adalah sebagai berikut: Gambar 3.

penyakit potensial wabah. Diare. Malaria Tujuan umum program Pemberantasan Penyakit Malaria di Provinsi Sumatera Selatan adalah Pembebasan Provinsi Sumatera Selatan dari malaria tahun 2020. dan Tifus perut klinis. Frambusia. situasi penyakit tidak menular. 3. TB Paru.1. Selanjutnya akan diuraikan situasi beberapa penyakit menular yang perlu mendapatkan perhatian. dan situasi penyalahgunaan NAPZA. penyakit potensial KLB/Wabah. Penyakit Menular yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Pada Tahun 2020 seluruh wilayah Indonesia sudah melaksanakan intensifikasi dan integrasi dalam pengendalian malaria Kebijakan Pelaksanaan Program P2 Malaria yaitu : 1. 3 (tiga) penyakit rawat inap terbanyak adalah Diare.1. dan DBD. Penyakit Menular Penyakit menular yang disajikan dalam bagian ini antara lain penyakit Malaria.Dari gambar di atas menunjukan bahwa urutan 3 (tiga) penyakit rawat inap terbanyak adalah Tifus perut klinis. Pada tahun 2010 semua Kabupaten/Kota mampu melakukan pemeriksaan sediaan darah malaria dan memberikan pengobatan tepat dan terjangkau. Dilakukan secara menyeluruh dan terpadu oleh Pemerintah. DBD. Sedangkan pada tahun 2008.1. 3. Pada tahun 2010 menurunnya 50 % jumlah desa dengan positif malaria ≥ 5 per 1000 penduduk 2.2. Sedangkan tujuan khususnya adalah : 1. Pemerintah Daerah dan lintas sektoral bersama mitra kerja pembangunan termasuk LSM. 3. Filariasis.2. dunia usaha dan masyarakat 2. HIV/AIDS. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). Flu Baru AI (H1N1). termasuk situasi penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Kusta. Rabies. Pembebasan Malaria dilakukan secara bertahap yang didasarkan pada Page 16 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 .

Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 17 .04 8.6 Annual Malaria Incidence (AMI) Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003 . Kedua Kabupaten tersebut adalah penyumbang kasus malaria paling tinggi.6 berikut terlihat bahwa angka kesakitan malaria dari tahun 2003 ke tahun 2004 menurun secara drastis.48 Sumber: Bidang PP&PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Provinsi Sumatera Selatan adalah daerah endemis malaria. Hal ini disebabkan Kabupaten Bangka dan Belitung berpisah dari Povinsi Sumatera Selatan.2009 AMI per 1000 penduduk 25 20 15 10 5 0 2003 2004 2005 2006 Tahun 2007 2008 2009 8.9 10. AMI (Annual Malaria Incidence) tahun 2003 – 2009 di Provinsi Sumatera Selatan adalah sebagai berikut: Gambar 3. dimana tahun 2009 terdapat 7 kabupaten endemis malaria sedang dan 8 kabupaten/kota lainnya digolongkan pada daerah endemis rendah. Satu kota diantara daerah endemis rendah yaitu Kota Palembang adalah daerah bebas malaria dalam arti kasus yang ada adalah kasus impor dari kabupaten lain (Kabupaten Banyuasin).7 8.1 8.situasi malaria dan kondisi sumber daya setempat Pada Gambar 3.6 8.74 21.

729 Sumber : Bidang P2PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan.940 7.36 5.88 8.905 Lahat 341.08 15. Konfirmasi Laboratorium dan AMI Menurut Kabupaten / Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Kabupaten / Kota (1) Jumlah Penduduk (2) Penderita Klinis (3) SD Diperiksa (4) SD Positif (5) SPR (6) AMI (7) OKU 267.2 Jumlah Penderita Malaria Klinis. 05.627 2.531 2.022 7. 2009 01.34 0.209 5. dengan jumlah sediaan darah yang diperiksa / ABER ( Annual Blood Examination rate) 0.9 %. 02.786 52 26 26 Pagar Alam 116.49 8.922 1.045 91 Banyuasin 818.12 18.248 30. 03.491 8 8 OKU Selatan 331.713 9.872 2.217 kasus). Kasus klinis tanpa konfirmasi laboratorium diberikan pengobatan klinis malaria di Puskesmas.34 ‰ (130 kasus).341 11.326 836 837 Jumlah 7.583 0 0 Muara Enim 668. 06. Pengobatan klinis malaria maupun dengan konfirmasi laboratorium positif malaria di kabupaten/kota umumnya masih mengunakan obat Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 18 .08 ‰ (7.07 ‰ (7. 04.01 100 100 100.42 % dan persentase dari sediaan darah yang positif dari seluruh sediaan darah yang diperiksa (SPR) 21.35 1.47 32. 12.Tabel 3.055 7.635 62.34 12.88 ‰ (3.5 7.641 223 126 Palembang 1.776 30 39 OKU Timur 581.263 1. Kota Lubuk Linggau 17.96 27. 13.635 529 Musi Banyuasin 523. Pengobatan kasus malaria yang ditemukan secara Detection) di Puskesmas dengan Pengobatan Radikal PCD (Pasif Case dengan konfirmasi laboratorium.531 kasus).486 48 2 2 Lubuk Linggau 186.41 17. 10.066 7.42 5.879 2.217 7.326 kasus). 14.45 Dari tabel diatas angka kesakitan (malaria klinis) per 1000 penduduk di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 (AMI) adalah 8.63 0. 15.056 3.65 17.779 1. Angka kesakitan (malaria klinis) per 1000 penduduk di kabupaten/kota Provinsi Sumatera Selatan dalam tahun 2009 tertinggi adalah di Kabupaten Ogan Komering Ulu 27.222.53 0.27%). 09. 11.53 22. Kabupaten Lahat 22.45 ‰ dengan kematian (CFR 0.38 0.025 8.29 100 130 19.39 27.665 3. 08.938 485 485 34 Prabumulih 137.272 753 146 Ogan Ilir 384.85 0 19.210 Musirawas 505.663 130 18 5 Empat Lawang 213.48 53.106 771 OKI 707.07 3. sedangkan terendah di Kabupaten Ogan Ilir 0.280 4. 07.66 15. 10.438.78 56.

18 %. Dan masih adanya beberapa kabupaten/kota tidak/kurang melaksanakan pemeriksaan sediaan darah malaria antara lain Kabupaten Empat Lawang.18% dan persentase pemeriksaan sediaan darah 22%.42 % dan tingkat persentase pemeriksaan sediaan darah 48. serta alat dan bahan laboratorium malaria maupun SDM mikroskopis/pengelola program malaria yang ada di kabupaten/kota dan puskesmas. sudah mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2008 yaitu ABER 0.OKU) sudah mengunakan obat terbaru yaitu ACT (Artemisinin Combination Therapy). sektor Perikanan dan Kelautan.2. Kab. Jumlah sediaan darah yang diperiksa dari penduduk dalam satu tahun / Annual Blood Examination Rate (ABER) tahun 2009 yaitu 0. sektor Pertanian. Hal ini tidak terlepas dari kuantitas maupun kualitas dokter/perawat/bidan yang sudah dilatih. bahan dan alat pemeriksaan yang ada.Cloroquin. hal ini menjadi tantangan yang besar bagi petugas laboratorium dalam pemeriksaan sediaan darah malaria yang tidak terlepas dari SDM. Dari Gambar pola maksimum minimum tahun 2004-2009 dapat dilihat puncak penularan terjadi pada bulan Januari maka seyogianya kegiatan Indoor Residual Spraying (IRS) dilaksanakan pada bulan November guna mencapai hasil pemberantasan vector yang optimum. Hasil survey Prevalensi TB di Indonesia tahun 2004 bahwa prevalensi TB BTA positif secara Nasional 110 per 100. Keberhasilan pemberantasan penyakit malaria tidak hanya terletak pada satu institusi yaitu Dinas Kesehatan saja namun perlu keterkaitan dengan sektor-sektor lain antara lain Sektor Kimpraswil. Kabupaten OKI. walaupun target yang ingin dicapai adalah 100 %. Muba dan Kab.000 penduduk. sektor Peternakan.1. TB Paru Penanggulangan tuberkulosis menerapkan strategi DOTS yang dilaksanakan secara Nasional di seluruh UPK terutama puskesmas yang di integrasikan dalam pelayanan kesehatan dasar. sedangkan di tiga kabupaten wilayah GF Malaria Round 6 tahun 2009 (Kab. 3. Kabupaten Banyuasin. Serta tidak terlepas dari peran serta masyarakat itu sendiri. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 19 . Muara Enim.2. Kabupaten Ogan ilir dan Kota Pagar Alam.

Target ini diharapkan dapat menurunkan tingkat prevalensi dan kematian akibat TB hingga separuhnya pada tahun 2010 dibanding tahun 1990. Angka penemuan pasien baru TB BTA positif (Case Detection Rate) di Provinsi Sumatera Selatan dari tahun 2000 s/d 2008 berfluktuatif .000 penduduk.62 2004 60 55. dan mencapi tujuan millenium development goals (MDGs) pada tahun 2015.69 2009 70 44.43 2008 70 46. 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 20 . Tujuan dari Program Pemberantasan TB Paru adalah menurunkan angka kesakitan dan angka kematian TB.62 Sumber : Bidang P2PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan.61 2002 40 29.7 Angka Penemuan Pasien Baru TB BTA Positif (CDR) Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2000 – 2009 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 2000 TARGET CDR 25 23.72 2005 70 42. Sumatera masuk dalam wilayah 1 dengan prevalensi TB adalah 160 per 100.secara regional di Indonesia dikelompokkan dalam 3 wilayah.47 2001 35 24. memutuskan mata rantai penularan serta mencegah terjadinya MDR TB. dapat dilihat pada gambar di bawah ini : Gambar 3. sedangkan target mulai dari tahun 2005 sebesar 70 %.73 – 2007 70 45.77 2006 70 46. Targetnya adalah tercapainya penemuan pasien baru TB BTA positif paling sedikit 70 % dari perkiraan dan menyembuhkan 85 % dari semua pasien tersebut serta mempertahankannya.74 2003 50 41.

7. pada tahun 2009 terjadi penurunan CDR TB paru BTA+ diprovinsi Sumatera Selatan dari 46.Dilihat dari Gambar 3. pada tahun 2005 terjadi penurunan.000 penduduk. ada peningkatan CDR mulai tahun 2000 s/ d tahun 2004 dan peningkatan yang tajam pada tahun 2003 dan 2004. Hal ini disebabkan karena belum semua RS dan DPS melaksanakan strategi DOTS. Oleh sebab itu maka diperlukan pelatihan P2TB bagi tim DOTS di rumah sakit.62%. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 21 . penjaringan suspek di sebagian kab/kota masih ketat.8. Untuk penemuan pasien baru TB BTA positif di Sumatera Selatan tidak mengalami penurunan tetapi ada kenaikan setiap tahunnya walaupun belum mencapai target.57% menjadi 44. Angka Penemuan Pasien baru TB BTA posistif (Case Detection Rate =CDR) di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 per kabupaten/ Kota dapat dilihat pada Gambar 3. dan mutasi petugas masih tinggi. memperluas jejaring untuk menemukan dan mengobati pasien TB dengan ekspansi ke rumah sakit dan lapas/ rutan serta meningkatkan kemitraan dengan LSM. wilayah Sumatera dengan prevalensi 160 per 100. menunjukkan bahwa dibandingkan tahun 2008. ini disebabkan dengan adanya hasil survey prevalensi TB tahun 2004. dan CDR TB paru BTA+ belum mencapai target (70%).000 penduduk yang sebelumnya hanya 130 per 100.

62 70.00 35.00 15.Alam au mulih ang ng 45.62 Sumber : Bidang P2PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan.84 44.2 2007 84.00 5.44 29.99 53. 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 22 . 2009 Gambar 3.4 2002 80.00 55.00 CDR L.86 2004 81.Lingg Prabu Palemb E.Lawa P.63 2005 83.Gambar 3.95 OKI 40.01 43.35 6.43 25.2008 90 85 80 75 70 2000 CR 80.29 Lahat M.48 46.68 OI 53.Asin MUBA MURA 26.9 Angka Kesembuhan (Cure Rate) Pasien Baru TB BTA Positif Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2000 .84 2008 87.74 2003 82.8 Angka Penemuan Pasien Baru TB BTA Positif (CDR) Menurut Kabupaten/kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 75.3 2001 75.00 65.Enim 48.36 2006 84.89 OKU Sumsel 53.19 Sumber : Bidang P2PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan.00 45.01 33.78 68.00 25.01 OKUT OKUS B.

15% dengan target SPM > 85%.Asin MUBA MURA 95.27 59.Alam au mulih ang ng 94.28 80. sedangkan 5 Kabupaten/ Kota yang lain CR belum mencapai target.Enim 85.00 70.Lingg Prabu Palemb E.10 Angka Kesembuhan (Cure Rate) Pasien Baru TB BTA Positif Menurut Kabupaten/kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 100.00 40.19 85.91 OI 92.00 80.21 94.95 95.00 90.00 60. Hal ini disebabkan oleh Tingkat kepatuhan penderita yang berobat cukup tinggi.41 OKU 87.00 50.38 44.44 100 84.23 Sumsel 87.19 Sumber : Bidang P2PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan.00 30.34 OKUS B.17 OKUT 79.00 20.43 Lahat M. Ini menunjukkan bahwa P2 TBC telah memenuhi dan melampaui target SPM untuk tahun 2009.Lawa P. 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 23 . Gambar 3.00 CR L. Gambar berikut menampilkan distribusi pencapaian CR menurut kabupaten/kota. Dari Gambar diatas dapat dilihat bahwa angka kesembuhan (cure rate) TBC Provinsi Sumatera Selatan tahun 2008 yaitu sebesar 87.Angka kesembuhan (Cure Rate = CR) merupakan angka pasien baru TB BTA positif yang sembuh setelah masa pengobatan. terdapat 10 Kabupaten/Kota dengan CR sudah mencapai target > 85 %.27 OKI 92.

yaitu kabupaten Musi Rawas. Palembang. 11 Kabupaten/kota yaitu MUBA. Pagar Alam. dan di Indonesia sendiri telah mengalami perubahan Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 24 . dan Empat Lawang berada pada range 50-70%. Banyuasin. Muara Enim. 3. Infeksi HIV dan AIDS sudah menyebar hampir di seluruh Kabupaten/Kota di wilayah Sumatera Selatan. Pengidap HIV dan Penderita AIDS Infeksi HIV dan AIDS dalam 10 tahun terakhir semakin nyata menjadi masalah kesehatan masyarakat di Sumatera Selatan yang dibuktikan dengan terus meningkatnya kasus yang ditemukan melalui kinik VCT dan laporan suveilans AIDS dari RS. OKUS.11 Penemuan Pasien Baru TB BTA (+) Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa hanya terdapat satu kabupaten memenuhi target capaian SPM (70%). OKUT. terdiri dari 3 Kabupaten yaitu OKU. 14 Kabupaten/kota lainnya belum mencapai target SPM.1. Kota Prabumulih. OI.Gambar 3. OKI. dan Lubuk Linggau berada pada range terendah yaitu dibawah 50%.2.3. Lahat.

4. Tabel 3. Pada era sebelumnya upaya penanggulangan HIV dan AIDS di prioritaskan pada upaya pencegahan. 2 17 – 30 tahun 31 – 40 tahun 41 – 50 tahun 51 – 60 tahun >60 tahun 314 0 Jumlah 37918 22 Sumber : PMI UTDC Kota Palembang 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 25 . Skrining pada darah donor merupakan salah satu upaya pencegahan penularan HIV kepada orang lain.dari epidemi rendah menjadi epidemi terkonsentrasi. maka strategi penanggulangan HIV dan AIDS dilaksanakan dengan memadukan upaya pencegahan dengan upaya perawatan. maka peran klinik VCT dalam upaya untuk meningkatkan cakupan penemuan kasus baru serta penanganan 100 % juga harus dimaksimalkan. sehingga upaya ini sangatlah penting dilakukan. Pada tabel 3. Dengan semakin meningkatnya pengidap HIV dan kasus AIDS yang memerlukan terapi antiretroviral ( ARV).3 Laporan Uji Saring HIV di PMI Kota Palembang Tahun 2009 No Kelompok Umur Jumlah Pemeriksaan 3 12098 9942 7886 7678 Hasil pemeriksaan reaktif 4 16 2 1 3 Prevalens Rate 6 0. Dan juga dalam rangka mendukung target VCT pada MDGs untuk tahun 2010 yaitu 300. maka apabila darah tersebut mengandung HIV tidak akan di donorkan.05 1 1. 3.05 % (22 orang) dari jumlah pemeriksaan skrining darah donor sebanyak 37.6 %.01 0.000 klien yang melakukan complate testing. tetapi di Sumatera Selatan masih pada epidemi rendah karena prevalensi HIV 0. hal ini karena hasil survei pada sub populasi tertentu menunjukkan prevalensi HIV di beberapa provinsi telah melebihi 5 % secara konsisten. 2.02 0.13 0. dukungan serta pengobatan.3 terlihat bahwa Prevalensi Rate dari hasil uji saring (skrining) oleh PMI Kota Palembang yaitu 0.918 orang pada tahun 2009. 5.03 0 0.

sehingga cakupan penemuan kasus baru mengalami peningkatan yang selanjutnya dapat mendapatkan layanan perawatan.12 di atas terlihat penemuan HIV pada tahun 2009 berjumlah 85 kasus meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2008 berjumlah 67 kasus. OKU.12 Jumlah Pengidap HIV (+) PerTahun Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 600 500 400 300 200 100 0 HIV KUMUL 1995 1 1 1996 1 2 1997 5 7 1998 4 11 1999 2 13 2000 14 27 2001 16 43 2002 16 59 2003 24 83 2004 30 113 2005 87 200 2006 98 298 2007 41 339 2008 67 406 2009 76 482 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari Gambar 3. dukungan dan pengobatan.Gambar 3. Prabumulih. layanan dilakukan baik statis (di Rumah Sakit) maupun mobile VCT untuk mendekatkan akses layanan ke kelompok resiko tinggi tertular HIV. Peningkatan kasus ini karena adanya klinik VCT yang telah di bentuk di beberapa kabupaten/kota (Palembang. dan Musi Rawas). Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 26 .

RK Charitas. Pada fase infeksi HIV ini tidak menunjukkan gejala sehingga klien jarang mendatangi layanan kesehatan. yang merupakan salah satu kota transit dari pulau Jawa-pulau Sumatera melalui jalur transportasi darat sehingga banyak sekali hotel. Pengguna Narkoba Suntik. dan kelompok resti (WPS. seperti di RSUP Moh.13 Kumulatif Penyebaran Pengidap HIV (+) Per Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 1995-2009 500 450 400 350 300 250 200 150 100 50 0 PLG 401 OKI 5 OI 2 OKU OKT 10 1 OKS 0 MBA 6 BA 2 MRA 8 LLG 21 ME 3 PBM 22 LHT 8 PGA 2 4L 0 TOT 491 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari Gambar diatas dapat dilihat bahwa kasus penemuan HIV (+) tertinggi adalah di kota Palembang karena Kota Palembang adalah kota terbesar di Provinsi Sumatera selatan. Hal ini disebabkan karena klien banyak datang ke layanan kesehatan apabila sudah mendapatkan kumpulan gejala AIDS dan hasil testing HIV dinyatakan positif dari Rumah Sakit atau klinik VCT. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 27 . dan RS Ernaldi Bahar sehingga memudahkan klien untuk mendapatkan layanan. dan Homoseksual) yang lebih banyak di banding kota lainnya. Layanan Klinik VCT (Voluntary Counseling and Testing) cukup banyak terdapat di kota Palembang.Hoesin. yaitu sebanyak 70 orang. RS.Gambar 3. Waria. jika dibandingkan dengan tahun 2008 sebanyak 45 orang. yang menunjukan adanya peningkatan jumlah kasus AIDS. Berikut adalah gambaran jumlah penderita AIDS di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009. dan masih ada lokalisasi yang terkoordinir. termasuk untuk mengetahui status HIV nya. tempat hiburan.

RSUD Prabumulih. Dukungan dan Pengobatan) di 8 rumah sakit pelaksana CST yaitu RSMH Palembang. secara kumulatif sebanyak 248 kasus HIV yang telah ditemukan.000 penduduk dan Case Detection Rate (CDR) < 5 / 100.Gambar 3 . RSUD Kayu Agung.14 Jumlah Penderita AIDS PerTahun Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 1995-2009 300 250 200 150 100 50 0 AIDS KUMUL 95 1 1 96 0 1 97 0 1 98 0 1 99 0 1 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 0 1 3 4 4 8 6 14 15 29 18 47 37 84 49 133 45 178 70 248 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Penemuan kasus AIDS sejak tahun 1995 sampai dengan tahun 2009 terus mengalami peningkatan. RS Ernaldi Bahar. dan RS RK Charitas. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 28 . yang dapat menunjang menurunkan angka kesakitan dan angka kematian. 3.1. Support & Treatment/ Perawatan. Kusta Provinsi Sumatera Selatan termasuk daerah ”Low Endemik” Kusta.4.000 penduduk. RSUD Ibnu Sutowo Baturaja. RSUD Banyuasin.2. RSUD Sobirin Musi Rawas. Strategi dalam upaya untuk meningkatkan kualitas hidup ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) adalah dengan dibentuknya layanan CST ( Care. dengan Prevalensi Rate (PR) < 1/ 10.

ini menunjukkan bahwa P2 Kusta telah memenuhi atau mencapai target SPM untuk tahun 2009.  Memperkuat sistem rujukan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar berikut: Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 29 .  Mencegah kecacatan pada semua penderita baru yang ditemukan melalui pengobatan dan perawatan yang benar. Target SPM untuk CDR kusta adalah <5/100.000 pada tahun 2008.000. Kebijakan :  Pelaksanaan program pengendalian kusta diintegrasikan pelayanan kesehatan dasar di puskesmas.  Penderita tidak boleh diisolasi.05/100. Case Detection Rate (CDR) Penemuan kasus baru penderita kusta (case detection rate/ CDR) di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2008. yaitu sebesar 3.99/100.  Menghilanglang stigma sosial dalam masyarakat dengan mengubah paham masyarakat terhadap penyakit kusta melalui penyuluhan secara intensif.Tujuan :  Menurunkan transmisi penyakit kusta pada tingkat tertentu sehingga kusta tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat.  Pengobatan penderita kusta dengan MDT sesuai dengan rekomendasi WHO di berikan Cuma-Cuma.000 pada tahun 2009 dan 3.

4 2 OKUT 0.05 7 1. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 30 .3 1.6 2.04 6.Gambar 3.7 2.5 2.5 3.99 3.4 2.22 5 BA 2.32 2.4 1.44 5.05 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Gambar 3.3 1.5 MR 0.2 2 1.5 OI 0.8 0.5 LHT 1.5 2.15 CDR (case detection rate) Kusta Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 1998-2009 4.86 4 OKU 1.15 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dalam upaya penanggulangan penyakit kusta.47 4L 1.8 2.2 3 2.1 2 1.5 PLG 2.9 2.4 3.87 4.2 1 0.53 PRO V 3.5 OKI 2.6 0.16 Penemuan Kasus Baru (CDR) Penderita Kusta Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 PROV PB ME OKI BA PLG OKU 4L LHT MB OI OKUT MR OKUS LL PA 0 PA CDR 0 0.6 3.4 0.8 3.5 LL 0 1 OKU S 0.2 0 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 CDR 3.78 MB 3 3.54 6 ME 4.6 1. salah satu indikator yang digunakan untuk menilai keberhasilannya adalah angka proporsi cacat tingkat II (kecacatan yang dapat dilihat dengan mata) dan proporsi anak diantara kasus baru.2 4 3.06 3.8 1.5 PB 6.7 3.

Hal ini disebabkan karena keterlambatan penemuan kasus. dan petugas kurang terampil dalam deteksi dini penyakit kusta karena daerah low endemic.3 9 0 0 0 0 0 0 LL 0 0 BA 5 34 OI 0 0 OK OK PR 4L UT US OV 0 0 0 0 0 0 21.Gambar berikut menunjukkan angka proporsi Cacat tingkat II Provinsi Sumatera Selatan yaitu 21.36%. masih dibawah target SPM untuk proporsi Cacat tingkat II yaitu ≤ 5%. Dibandingkan tahun 2008.3 47 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 proporsi penderita kusta anak di Provinsi Sumatera Selatan adalah 4. Hal ini dapat menggambarkan penularan kusta yang terjadi di Provinsi Sumatera Selatan cukup terkendali.55 1 1 0 0 33. terjadi peningkatan angka proporsi cacat tingkat II yaitu dari 13. Gambar 3.25 ABSOLUT 2 PR OK MU MB OKI ME LHT PA A U RA 0 0 16 5. tingginya Leprae Phoby di masyarakat.36%.09 % dengan target SPM untuk proporsi penderita kusta anak sebesar ≤ 5%.17 Proporsi Penderita Kusta Cacat Tingkat II Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 PLG CCT TK II 6. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 31 .36% menjadi 21. Ini menunjukkan bahwa P2 Kusta telah memenuhi atau mencapai target SPM proporsi penderita kusta anak untuk tahun 2009.

2.1.18 Proporsi Kusta Anak Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 5 4. 4. Penyakit Menular yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I) Tabel 3.5 1 0.4 Data Penyakit PD3I Per Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 No.44 0.14 2.4 3.46 0.2. 8.39 2. 9.03 1.5 0 PLG PRA MB CDR 2.77 0. OKU OKI Muara Enim Lahat Musi Rawas Musi Banyuasin Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Empat Lawang 2 0 1 1 0 0 2 0 0 1 0 Meninggal 2 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 Difteri Penderita 0 1 0 0 0 2 1 0 0 0 0 Meninggal 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 152 36 35 95 33 155 27 0 34 1 4 Campak Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 32 .9 1. 5. 10. Kabupaten/Kota Neonatorum Penderita 1. 6.5 4 3.34 0. 3.Gambar 3.5.87 4. 11.04 2.54 1. 7.5 2 1.5 3 2.3 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 3.22 OKI OKU ME LHT MUR PA A 0 LL 0 BA OI OKU OKU PRO 4L T S V 1.

15.19 Penderita Tetanus Neonatorum Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003 – 2009 100 90 80 Jumlah Penderita 70 60 50 40 30 20 10 0 2003 14 8 2004 24 11 2005 21 8 2006 15 10 2007 17 14 2008 17 8 2009 19 8 Penderita Meninggal Sumber : Subdin P2PL Dari Gambar diatas terlihat ada kenaikan jumlah penderita Tetanus Neonatorum pada tahun 2009 yaitu 19 orang dengan kematian 8 orang. Banyuasin. 14. Secara Nasional. dan kota Palembang. Sumatera Selatan menduduki posisi 3 terbesar kasus Tetanus Neonatorum pada tahun 2008. Gambar 3. sedangkan CFR yang tertinggi terjadi di kabupaten OKU dan Lahat (100%). Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 33 . Dari tabel di atas terlihat bahwa jumlah kasus Tetanus Neonatorum (TN) sebanyak 10 kasus dan meninggal 4 (CFR 40 %). 13. Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau Sumatera Selatan 2 0 0 0 10 1 0 0 0 4 3 0 0 0 7 1 0 0 0 2 274 39 17 52 954 Sumber : Subdin P2PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan.12. Kasus TN terbanyak terdapat di Kabupaten OKU.

20 Penderita Difteri Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003 . Tabel 3./Kota <1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 1-4 5-9 2008 10-14 > 15 Total <1 1-4 5-9 2009 10-14 > 15 Total Palembang 39 77 112 69 94 391 24 69 67 97 67 Prabumulih 1 5 6 2 1 15 10 12 7 5 5 Muba 13 23 24 14 15 89 26 48 42 15 24 OKI 5 16 11 3 13 48 5 9 6 3 13 OKU 14 28 28 17 10 97 26 45 41 16 24 M. Sumatera Selatan merupakan provinsi terbesar kedua untuk kasus difteri pada tahun 2008. Enim 22 36 19 8 13 98 10 4 7 8 6 Lahat 12 20 23 5 23 83 5 22 36 16 16 Mura 5 10 11 10 8 44 4 7 7 7 8 P.Gambar 3.2009 16 14 12 10 8 6 4 2 2003 Penemuan 2 2004 12 2005 3 2006 8 2007 12 2008 10 2009 7 Sumber: Laporan Difteri Subdin PP&PL. Meskipun demikian.2009 No. kasus terbanyak pada tahun 2007 (12 kasus) dan terendah pada tahun 2003 (2 kasus). tahun 2003 . Kab. Alam 0 5 2 1 0 8 4 6 6 0 1 L.2009 Penemuan kasus difteri cenderung terjadi penurunan. Linggau 0 0 0 1 2 3 4 6 17 15 10 Banyuasin 5 9 2 1 0 17 1 8 12 5 1 Ogan Ilir 4 1 2 0 1 33 0 17 13 1 3 OKUT 0 0 0 0 0 8 8 1 1 1 0 OKUS 0 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 Lawang 0 4 0 0 0 4 1 0 0 0 0 Provinsi 125 234 246 135 194 938 33 161 134 63 49 Sumber : Tahun 2007 (Validasi Data Campak).5 Distribusi Kasus Campak Berdasarkan Kelompok Umur Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2007 . tahun 2008 ( laporan integrasi kab/kota) 274 39 155 36 152 35 95 33 17 52 27 34 11 0 1 440 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 34 .

3%.Data pada tabel di atas menunjukan bahwa kasus campak pada tahun 2008 tertinggi terjadi pada kelompok umur 5-9 tahun yaitu sebesar 24% dan terendah pada kelompok umur < 1 tahun yaitu sebesar 13.5% jika dibandingkan pada kelompok umur < 4 tahun (37.59% dan terendah pada kelompok umur < 1 tahun yaitu sebesar 7.5%). 13% 146. 18% 109. Gambar 3. sedangkan pada tahun 2009 kasus campak tertinggi pada kelompok umur 1-4 tahun yaitu sebesar 36. 27% 1-4 Th 5-9 Th 10-14 Th > 15 Th Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari Gambar di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar kasus campak terjadi pada kelompok umur > 5 tahun yaitu sebesar 62. 24% < 1 Th 223.5%. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 35 .21 Penemuan Kasus Campak Rutin Menurut Kelompok Umur Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 150. 18% 202.

Linggau Banyuasin Ogan Ilir O.22 Data Campak Menurut Sumber Laporan Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2008-2009 250 200 150 100 50 0 2009 2008 2009 2008 OKU 152 97 OKI 36 48 M. Selatan 4 Lawang Provinsi 20 0 10 2 11 11 5 4 4 1 1 7 1 0 0 77 26 5 24 5 24 4 5 11 1 2 4 1 0 0 0 112 Sumber data : Laporan integrasi kab.ENIM 35 98 LHT 95 83 MURA 33 44 MUBA 155 89 B.kota. Kab./Kota 1 2 23 1 14 2 14 2 6 4 3 5 3 3 0 0 0 60 3 29 0 11 8 11 7 5 3 8 2 6 1 2 0 0 93 4 33 3 9 2 9 1 7 3 0 4 5 0 3 0 0 79 5 Kasus Campak Per Bulan 6 7 8 9 26 3 17 5 18 1 6 5 2 10 5 3 3 0 0 104 21 5 14 2 14 6 15 1 1 8 0 2 1 0 0 90 14 1 16 2 16 0 8 2 0 7 1 5 0 0 1 73 20 7 9 5 9 0 11 0 0 7 2 5 0 0 0 75 10 11 5 4 0 3 2 2 0 0 4 0 0 0 0 0 31 11 22 6 15 1 11 0 15 0 0 2 0 0 1 0 0 73 12 23 3 12 2 12 1 10 0 2 0 0 7 0 0 0 82 Total 268 39 155 36 129 35 95 33 21 52 27 34 11 0 1 949 Palembang Prabumulih Muba OKI OKU M. 2009 Gambar 3.Tabel 3.ILIR 34 33 4 LWG 1 4 PLG 274 391 PRB 39 15 PGA 17 8 LGU 52 3 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 36 . Enim Lahat Mura P.6 Distibusi Kasus Campak Per Bulan Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15. Timur O.ASIN 27 17 OKUS 0 0 OKUT 11 8 O. Alam L.

Empat Lawang dan OKU Timur. Selain itu mulai bulan Juli 2009 dilaksanakan kegiatan Cases Based Méasles Surveillance (CBMS). Gambar 3. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 37 . yaitu melakukan pemeriksaan spesimen darah penderita klinis campak dengan konfirmasi laboratorium sebanyak 20% total perkiraan kasus dalam 1 tahun.Dari Gambar di atas terlihat bahwa kasus klinis campak meningkat pada tahun 2009 di beberapa kabupaten/kota dengan jumlah peningkatan tertinggi pada kota Lubuk Linggau dari 3 kasus pada tahun 2008 menjadi 52 kasus pada tahun 2009. nampak masih ada kabupaten/kota yang belum mencapai target kelengkapan laporan yaitu Kabupaten OKI.23 Sebaran Kasus Campak Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari gambar di atas.

IgM(+) Rubella sebesar 36.ASIN 3 0 0 3 OKUS 0 0 0 0 OKUT 0 0 0 0 O.ENIM 6 0 1 5 LHT 0 0 0 0 MURA 2 0 1 1 MUBA 4 1 0 3 B. TN & Campak Tahun 2009 Dari Gambar di atas. Campak & Rubella (-) sebesar 52. Hal ini menunjukkan perlunya dilakukan pemeriksaan spesimen pada kasus klinis campak yang ditemukan sebagai upaya untuk intervensi program imunisasi dan sebagai dasar pengambilan keputusan untuk pelaksanaan kegiatan selanjutnya. Gambar 3.25 Hasil Pelaksanaan CBMS Konfirmasi Laboratorium Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 90 75 60 45 30 15 0 Klinis Campak Rubella Negatif OKU 8 0 2 6 OKI 0 0 0 0 M.24 Hasil CBMS Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 150 116 100 61 50 13 0 2009 Spesimen 116 Campak 13 Rubella 42 Negatif 61 42 Sumber : Laporan Integrasi S-AFP.ILIR 3 0 1 2 4 LWG 1 0 0 1 PLG 83 12 35 36 PRB 2 0 1 1 PGA 2 0 0 2 LGU 2 0 1 1 Klinis Rubella Campak Negatif Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 38 .5%.2%.Gambar 3. nampak bahwa hasil serologis pada 116 kasus klinis campak yang ditemukan di Sumatera Selatan. ternyata 13 kasus IgM (+) campak (11.2%).

Gambar 3.000 dan CFR 0. mengingat memang jumlah penduduknya yang lebih padat dibanding kabupaten/kota lain. OKUS dan OKUT tidak mengirimkan spesimen ke Balitbang Bomedis & Farmasi Depkes sehingga tidak diketahui hasil konfirmasinya.774 penderita (IR 25/100. yaitu antara lain Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 39 . maka diperkirakan akan terjadi KLB lagi pada tahun 2003 (berdasar pola lima tahunan). dimana situasi tahun 2008 dari 2. Untuk Kabupaten Lahat.42%) menurun menjadi 1. Namun hingga tahun 2009 tidak terjadi KLB. 3.28%)) di tahun 2009. Demam Berdarah Dengue Sejak terjadi KLB DBD pada tahun 1998.Dari Gambar diatas terlihat bahwa kasus klinis dan laboratoris yang terbanyak berasal dari Kota Palembang.2. Penyakit Potensial KLB / Wabah 1). positif Rubella terbanyak pada kelompok umur 10-14 dan > 15 tahun yaitu masing-masing sebesar 34%. Hal ini disebabkan karena kesadaran masyarakat untuk segera membawa keluarga/penderita langsung ke Rumah Sakit atau sarana pelayanan kesehatan yang terdekat. seiring dengan adanya penurunan kasus/penderita.357 penderita (IR 34/100.1.26 Kasus Campak (CBMS) Menurut Kelompok Umur dengan Konfirmasi Laboratorium Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 100% 50% 0% > 15 Th 10-14 Th 5-9 Th 1-4 Th < 1 Th Klinis 37 22 26 23 8 Negatif 22 6 15 13 6 Rubella 12 12 7 4 0 Campak 1 1 2 6 2 Equivocal 2 3 2 0 0 Dari Gambar diatas terlihat bahwa proporsi kasus positif campak terbanyak terjadi pada kelompok umur 1-4 tahun (50%).6.000 dan CFR 0. dan ini juga tidak luput dari kinerja petugas kesehatan.

Penangulangan Fokus.27 Kecenderungan Situasi DBD Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2001 . Untuk penanggulangan kasus DBD berbagai upaya sudah dilaksanakan setiap tahun seperti penyebaran Surat Edaran Kewaspadaan DBD. pendistribusian larvasida.  Menurunkan angka kesakitan kurang dari 20/100.dan kematian CFR < 1% . Gambar 3.000. sedangkan penemuan kasus yang meninggal tertinggi pada tahun 2004. kemauan dan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat agar terhindar dari Penyakit Demam Berdarah Dengue dan terselenggaranya kegiatan PemberantasanSarang Nyamuk (PSN) terutama 3 M plus secara berkesinambungan.upaya-upaya pencegahan dan penanggulangan DBD dalam tata laksana kasus di Rumah Sakit dan puskesmas.2009 4000 3500 3000 2500 2000 1500 1000 500 0 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 1406 1048 1511 1270 1621 1774 2280 2360 3487 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari Gambar di atas terlihat bahwa kasus DBD ditemukan setiap tahun. Tujuan dari program:  Meningkatkan kesadaran. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 40 . insektisida dan pelaksanaan Gertak PSN DBD.

Linggau Prov 7 61 199 0 26 71 141 0 0 79 3 965 147 27 49 1774 IR (100. 5.00 0.00 0. 14. 15.00 0.21 0.00 0. Enim Lahat Mura Muba Banyuasin Oku Selatan Oku Timur Ogan Ilir 4 Lawang Palembang Prabumulih Pagar Alam L.28 0 0 0 0 2 1 0 0 0 0 0 2 0 0 0 5 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari tabel di atas penemuan kasus DBD terbanyak untuk tahun 2009 yaitu di kota Palembang sebanyak 965 kasus . Angka kematian tahun 2009 yaitu sebanyak 5 orang (CFR 0. 12. 11.000 penduduk) 3 9 30 0 5 14 17 0 0 21 1 67 107 23 26 25 Kematian CFR (%) 0.69 1.41 0.42%).00 0. 7.00 0. 8.00 0. 13. OKU OKI M. 10.00 0.00 7. 4.00 0.00 0.00 0.28%) dibandingkan tahun 2008 (0.Tabel 3. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 41 . 3. 2. 6.7 Distribusi Penemuan Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) Perkabupaten / Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 No Kab/kota Penderita 1. 9. Muara Enim sebanyak 199 kasus lalu disusul oleh Prabumulih sebanyak 147 kasus.

dari 31 pada tahun 2003 menjadi 5 kasus pada tahun 2009.Gambar 3.28 CFR Penderita DBD Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003 .29 di atas terlihat bahwa jumlah penderita dari tahun 2004 sampai 2007 mengalami peningkatan.5 2007 0.2009 5 4 3 2 1 0 CFR 2003 2. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 42 .6 2006 0.3 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Gambar 3.1 2009 0.26 2005 0.05 2004 1. dari 1270 penderita pada tahun 2004 menjadi 3.4 2008 0.487 penderita pada tahun 2007 kemudian menurun pada tahun 2009 menjadi 1774 penderita.29 Perkembangan Penderita DBD Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003-2009 Jumlah penderita 3500 3000 2500 2000 1500 1000 500 0 case death 2003 1511 31 2004 1270 16 2005 1621 9 2006 2280 2 2007 3487 13 2008 2360 3 2009 1774 5 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari Gambar 3. sedangkan kematian akibat DBD cenderung menurun.

Gambar. Gambar 3.30 Perbandingan Incidence Rate (IR) Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2008-2009 35 30 25 20 15 10 5 0 2008 2009 25 34 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Standar program untuk angka kesakitan (IR) adalah kurang dari 20/100.000.3.31 Penemuan Penderita DBD yang Ditangani Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 43 . Angka IR belum memenuhi standar program untuk tahun 2008 maupun tahun 2009.

keracunan. Banyuasin. Musi Banyuasin. dan Kota Pagar Alam. OKUT. Empat Lawang tidak ditemukan kasus. sedangkan Kabupaten OKUS. Muara Enim dan OKI.Tetapi yang sering ditemukan di lapangan ataupun klinis adalah diare yang disebabkan infeksi dan keracunan.Gambar diatas menunjukkan bahwa Penemuan kasus DBD yang ditangani tertinggi adalah Kabupaten Musi Rawas. imunodefisiensi dan sebab-sebab lain. Distribusi penderita diare pada tahun 2009 per kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan dapat dilihat pada Gambar berikut ini : Gambar 3. Sedangkan Kabupaten Muara enim. Ogan ilir. alergi. OKI. Banyuasin. 2). Diare Secara klinis penyebab diare dapat dikelompokkan dalam golongan 6 besar yaitu : infeksi.32 Distribusi Penderita Diare Semua Umur PerKabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 OKU OKI ME Lht MUR MUB OKU OKU BA OI A A S T 4L PLG Prb PGA LLG Prov 2009 8791 1621 2045 7339 1156 1607 2255 2760 1634 1198 3089 5979 3102 1482 4430 2E+0 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari data di atas dapat dilihat bahwa penderita diare terbanyak ada di Palembang. Kota Palembang. Lahat. malabsorpsi. Hal ini disebabkan jumlah penduduk Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 44 . dan Kota Lubuk Linggau berada pada range pertengahan yaitu antara 70%-100%. Kota Prabumulih di bawah 70%. Kabupaten OKU.

Empat Lawang dan Prabumulih dengan alasan sebaliknya. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 45 . Hal ini dikarenakan pada bulanbulan ini merupakan puncak musim kemarau sehingga warga kekurangan air bersih untuk mencukupi kebutuhan sehari-sehari.33 TREND KEJADIAN DIARE PROV SUMSEL BERDASARKAN BULAN 2008 30000 2009 25000 20000 15000 10000 5000 0 2008 2009 Jan 15194 15419 Feb 14355 14734 Mar 16384 15635 Apr 15036 15340 Mei 15980 14040 Jun 17334 17807 Jul 18111 20210 Ags 18042 25072 Sep 16176 17886 Okt 14977 18504 Nop 13397 16249 Des 11493 15095 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari Gambar di atas dapat dilihat bahwa peningkatan kasus diare biasa terjadi mulai dari bulan Juni sampai dengan bulan Agustus. Selain itu juga didukung oleh sistem pencatatan dan pelaporan yang baik. OKUS. Gambar 3.yang banyak dan padat serta merupakan DAS (endemis diare). Sedangkan penderita diare paling sedikit ada di Pagar Alam.

890 penderita (capaian SPM 3. Untuk melihat sebaran kasus di 15 Kabupaten/Kota dapat melihat lampiran Tabel 10.23%) pada tahun 2008 menjadi 98.34 Cakupan Penderita Diare yang Ditangani oleh Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 120 100 80 60 40 20 0 Capaian Target OK MU MU OK OK OKI ME Lht BA OI U RA BA US UT 78 90 54 90 72 90 51 90 54 90 73 90 65 90 20 90 66 90 74 90 4L 34 90 PL Pro Prb Pga LLG G v 98 90 53 90 30 90 56 90 67 90 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari Gambar di atas dapat dilihat bahwa hanya kota Palembang yang mencapai target.24%) pada tahun 2009. Capaian 15 Kabupaten/Kota rata-rata 3.391 penderita (capaian SPM 2. terjadi kenaikan jumlah penderita yaitu dari 67.24%. Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.24%. serta sistem pencatatan dan pelaporan yang sudah baik dan rutin. Berikut adalah gambaran penemuan penderita diare balita di kabupaten/kota dengan target SPM 70%. dikarenakan jumlah penduduk yang lebih banyak dan padat. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 46 .Gambar 3. merupakan daerah aliran sungai dengan masih banyaknya tempat-tempat kumuh. yang berarti bahwa persentase penderita balita yang ditangani terhadap jumlah perkiraan penderita diare di wilayah tersebut adalah 3.

Jumlah kasus gigitan hewan di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 adalah 808 orang sedangkan tahun 2008 ditemukan kasus 978 orang dan tidak ditemukan penderita Lyssa (Rabies).7. kucing. kota Palembang (220 kasus). kera.35 Penemuan Penderita Diare Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 3. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 47 . Rabies Rabies adalah salah satu penyakit yang CFR-nya tinggi. sedangkan kasus terendah terjadi di Kabupaten Oku Selatan (12 Kasus). musang dan serigala yang di dalam tubuhnya terdapat virus rabies.2. Jumlah kasus gigitan hewan tertinggi terjadi di kabupaten Muara Enim (158 kasus).Gambar 3.1. kelelawar. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus rabies yang ditularkan melalui gigitan hewan seperti anjing.

Prabumulih. Tujuan dari P2 Filaria adalah untuk mendukung program eliminasi kaki gajah ( ELKAGA) tahun 2020.8 Jumlah Kasus Rabies Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003 – 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Palembang 347 427 135 327 245 232 Prabumulih 35 27 8 10 12 17 Pagar Alam 67 71 19 34 30 74 Lubuk Linggau 35 15 15 17 21 10 Ogan Ilir 0 0 0 65 39 17 OKUS 0 0 0 6 5 47 OKU 70 30 15 46 26 60 MURA 35 66 10 20 36 29 Lahat 79 69 34 34 19 88 OKI 67 83 29 85 41 48 Banyuasin 25 43 278 42 43 43 Muara Enim 261 239 74 269 242 266 OKUT 0 0 67 26 26 17 MUBA 32 40 0 55 24 28 Empat Lawang 0 0 0 0 0 0 Provinsi 1058 1113 684 1036 809 978 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Kab/Kota 2009 220 30 33 21 77 12 52 28 58 30 22 158 18 27 22 808 3. Muara Enim. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 48 . Kabupaten Ogan Ilir.2. MURA. OKU Timur dan MUBA. Tetapi untuk 5 kabupaten yang lain masih perlu melakukan program rapid survey secara efektif. Lubuk Linggau. 3. dan kemudian menjadi cacing dewasa dan hidup di jaringan limfe.Tabel.8. Dari tabel berikut terlihat bahwa sejak tahun 2004 kasus kronis filariasis telah ditemukan di 10 Kabupaten/Kota yaitu di Kota Palembang. OKI. Lahat. Filariasis Limphatic Filariasis adalah penyakit parasit dimana cacing filaria menginfeksi jaringan limfe.1. Banyuasin. Parasit ini ditularkan pada manusia melalui gigitan nyamuk yang telah terinfeksi.

Dari tabel berikut terlihat bahwa di 6 Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Sumatera Selatan yaitu Kabupaten MURA. OKU Timur. hanya Kabupaten Banyuasin yang mendapat penanganan yaitu dari 130 kasus. Lahat.81%) melalui program pengobatan massal. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 49 . Salah satu tujuan program P2 filariasis adalah menurunkan MF rate < 1 %. OKI. Dari 6 kabupaten endemis tersebut baru Kabupaten Banyuasin yang secara kontinue telah melaksanakan pengobatan massal sejak tahun 2004. Sedangkan untuk daerah yang lain program yang dilaksanakan adalah rapid survey dan survey Darah Jari. dan MUBA mempunyai MF rate > 1 %. Banyuasin. Persentase kasus penyakit filariasis yang ditangani dapat dilihat pada lampiran Tabel 13. ditangani 53 kasus (38.Tabel 3.9 Gambaran Penemuan kasus kronis filariasis Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2004 – 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Tahun 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Palembang 0 1 0 0 0 1 Prabumulih 0 0 0 2 0 0 Pagar Alam 0 0 0 0 0 2 Lubuk Linggau 0 1 0 1 0 1 Ogan Ilir 0 3 0 0 0 2 OKUS 0 0 0 0 0 14 OKU 0 0 0 0 0 1 MURA 0 2 0 0 0 2 Lahat 11 0 0 0 0 15 OKI 0 3 0 0 0 3 Banyuasin 15 13 9 8 13 130 Muara Enim 5 4 3 5 4 13 OKUT 0 5 9 0 0 0 MUBA 0 2 0 0 0 2 Empat Lawang 0 0 0 0 0 0 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Kab/Kota Dari 15 Kabupaten/kota yang ditemukan kasus. Jika MF rate > 1 % berarti daerah tersebut merupakan daerah endemis dengan program utama adalah pengobatan massal.

4 % 2.3 % 1.2.5 % 0 1.4 % 2.1. Selama tahun 2009 ditemukan 4 (empat) kasus suspek.3% 1.4 % 0 0 2008 0 0 0 0 0 0 0 1.4 % 0 0 2007 0 0 0 0 0 0 0 1.5 % 0 1.5 % 0 0 0 0 2005 0 0 0 0 0 0 0 1.0 % 1. dimana 2 (dua) orang diantaranya positif menderita penyakit ini yang berasal dari Kabupaten OKU dan Kota Palembang.3 % 1.0 % 1.3 % 1.0% 1.4% 2.0 % 1.0% 0 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 3.4 % 0 0 2009 0 0 0 0 0 0 0 1.9.Tabel 3.3 % 1.4% 2.0 % 1.4 % 0 0 Tahun 2006 0 0 0 0 0 0 0 1.10 Gambaran MF rate Filariasis Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2004-2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Kab/Kota Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau Ogan Ilir OKUS OKU MURA Lahat OKI Banyuasin Muara Enim OKUT MUBA Empat Lawang 2004 0 0 0 0 0 0 0 1.4 % 2.2% 1.5 % 0 1. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut: Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 50 .4 % 2.3 % 1.4 % 0 1. Influenza A Baru (H1N1) Influenza A baru (H1N1) merupakan salah satu penyakit baru di Sumatera Selatan (new emerging disease).5% 0.5 % 0 1.

2. Diabetes Mellitus. Hal ini menunjukkan terjadi penurunan kelengkapan laporan yang diterima di Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan.37 berikut dapat dilihat bahwa pada tahun 2009 terjadi penurunan prevalensi penyakit Neoplasma. serta dari puskesmas untuk 2 penyakit terpilih yaitu Hipertensi dan Diabetes Mellitus.2. dan Hipertensi namun untuk lalin mengalami peningkatan walaupun tidak signifikan jika dibanding tahun 2008.Gambar 3. Dari Gambar 3. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 51 .36 Kasus dan Suspek Influenza A Baru (H1N1) Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 6 5 4 3 2 1 0 SUSPECT POSITIF SEMBUH OKU 0 1 1 OKI 0 0 0 ME 0 0 0 LHT 0 0 0 MUR A 0 0 0 MBA 0 0 0 BA 1 0 0 OKU S 0 0 0 OKU T 0 0 0 OI 0 0 0 PLG 3 1 4 PBM 0 0 0 PGA 0 0 0 LLG 0 0 0 PROP 4 2 6 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 3. Penyakit Tidak Menular Data penyakit tidak menular (PTM) diperoleh dari rumah sakit berdasarkan laporan tiap bulannya.

Jantung 29.21 55.05 Hipertensi 43.25 0.16 1.78 0.02 0.04 1.000 Penduduk Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 60 55 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Neoplasma 11.52 DM 17.11 Prevalensi Penyakit Tidak Menular per 10.23 0 0.44 16.96 30.Enim Lahat Lb.39 14.17 53.19 0 0.18 0.72 Hipertensi 34.58 1.75 7.31 11.25 19.26 1. tahun 2004 .13 0.49 28.23 1.42 1.95 30.05 0.89 11.32 0.42 17.37 Prevalensi Penyakit Tidak Menular Per 10.07 0 0.61 25.Linggau Karsinoma 14.79 1.02 KLL 5.01 0.000 penduduk Menurut Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 KAB/KOTA Palembang MUBA Banyuasin OKI Prabumulih M.4 17.51 1.17 0 0.05 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 52 .Gambar 3.36 Jantung 25.19 Peny.52 59.49 Sumber: Laporan PTM Subdin PP&PL.03 0.61 33.03 0.11 49.97 38.37 18.08 9.31 3.04 DM 22.24 31.16 0.11 0.26 30.55 Lalin 18.55 0.13 0 1.09 25.79 1.26 1.9 10.2009 Tabel 3.85 28.21 0.

04 30.13 0.12 Angka Kesakitan Secara Absolut Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 No.150 12. tercatat jumlah kecelakaan yang terjadi 2.30 0.913 265 2 54 PR 8.25 0.04 0.000 penduduk di Sumatera Selatan adalah Hipertensi (53.36 30.275 35.05 0. Cedera dan Kecelakaan Lalu Lintas Kecelakaan Lalu Lintas (KLL) dapat menyebabkan luka ringan.72 53.2.07 0.02 0.612 11.813 238 1 46 T O T A L JUMLAH 11.615 6.726 503 3 100 1 2 3 4 5 6 7 8 PREVALENSI 1/10. Diabetes Melitus (28.765 19.75 0.49 0. 1.53 28.25 2. KLL yang terjadi berdasarkan kabupaten / kota dapat dilihat pada Gambar berikut : Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 53 .13 0. Selama tahun 2008.62 28.2.706 orang dengan perincian 1.04 0. 2009 Tabel 3. JENIS PENYAKIT Karsinoma DM Hipertensi Penyakit Jantung Kecelakaan Lalin Stroke Psikosis Com-ser LK 3.653 kasus pada tahun 2007.5. 2009 Dari tabel di atas menunjukkan bahwa prevalensi PTM tertinggi per 10.55 1. dengan jumlah korban sebanyak 3.55 14.121 5.35 0.53 0.27 0.36 0.49 Sumber: Laporan PTM Bidang PP&PL.55).000 17.72 0.86 0. luka berat 1.05 0.327 luka ringan.099 3.14 1.500 9.026 meningkat dari 1.208 9.9 10 11 12 Jumlah MURA Pagaralam OKU OKUT 0.565 18.312 orang.04). luka berat maupun kematian.85) dan terendah Psikosis (0.18 0.36) dan diiringi Penyakit Jantung (30.067 meninggal dunia.15 Sumber: Laporan PTM.49 14.52 17.57 53.710 17.820 20. 3.

Di negara berkembang banyak BBLR dengan Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 54 . Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) BBLR (kurang dari 2. BBLR dibedakan dalam 2 kategori yaitu : BBLR karena prematur (usia kandungan kurang dari 37 minggu) atau BBLR karena intrauterine growth retardation (IUGR).3.Gambar 3. antara lain bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR).500 gram) merupakan salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian perinatal dan neonatal. yaitu bayi yang lahir cukup bulan tetap berat badannya kurang. dan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY). Status Gizi Wanita Usia Subur.38 Jumlah Kejadian Kecelakaan Lalu Lintas Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 OKU OKI Muara Enim Lahat Musi Rawas Musi Banyuasin Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Empat Lawang Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau 0 50 100 150 200 250 300 Luka Ringan Luka Berat Meninggal KKL Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 3. STATUS GIZI MASYARAKAT Status gizi masyarakat dapat diukur melalui indikator-indikator.1. 3. Status Gizi Balita.3. Kurang Energi Kronik (KEK).

mengalami peningkatan sebesar 25.19%).3. Gizi Balita Status gizi balita merupakan salah satu indikator yang menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat.65%). dan Kota Prabumulih. Malaria. Gambar 3.2.39 Proporsi Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) Menurut Kabupaten / Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Sumsel OKU OKI Muara Enim Lahat Musirawas Musi Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Empat Lawang Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau 0 0.IUGR karena ibu berstatus gizi buruk.6. Pada Gambar di atas.9%. Distribusi cakupan BBLR ditangani dapat dilihat pada lampiran Tabel 15. dan menderita Penyakit Menular Seksual (PMS) sebelum konsepsi atau pada saat hamil. OKUS. pada tahun 2008 tidak terdapat laporan penanganan sedangkan pada tahun 2009 sudah dilaporkan.94% dan pada tahun 2008 mencapai 65%. terlihat bahwa proporsi bayi BBLR tertinggi terjadi di kota prabumulih (6.41 17 21 6 10 14 20 40 29 29 73 55 38 41 154 47 137 179 60 80 100 120 140 160 180 200 Sumber : Bidang Yankes Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Proporsi BBLR di Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 sebesar 0. Cakupan BBLR ditangani pada tahun 2009 mencapai 90. Empat Lawang.19% . Kategori yang digunakan adalah : gizi lebih (z-score > + 2 SD). 3.65%) dan proporsi BBLR terendah terjadi di Kabupaten Muara Enim (0. Salah satu cara penilaian status gizi balita adalah dengan anthropometri yang menggunakan indeks Berat Badan Umur (BB/U). Anemia.41% (rentang : 0. Selain itu terdapat peningkatan penanganan di 4 Kabupaten yaitu Kabupaten Lahat. gizi baik (z-score – 2 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 55 .

SD sampai + 2 SD); gizi kurang (z-score < - 2 SD sampai – 3 SD); gizi buruk (zscore < - 3 SD).

Gambar 3.40 Prevalensi Gizi Buruk Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009
Sumsel OKU OKI Muara Enim Lahat Musirawas Musi Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Empat Lawang Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau 0 0,01 0,01 0,01 0,01 0,02 0,02 0,01 0,02 0,05 0,1 0,15 0,2 0,25 0,3 0,06 0,03 0,07

0 0

0,27

0 0

Sumber : Bidang Yankes Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009

Prevalensi gizi buruk Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 sebesar 0,03% (Rentang : 0 – 0,27%). Pada Gambar di atas terlihat bahwa prevalensi gizi buruk tertinggi terjadi di Kabupaten Banyuasin (0,27%) kemudian diikuti oleh Kabupaten Lahat (0,07%). Berdasarkan hasil riskesdas 2007, secara umum prevalensi gizi buruk di Kabupaten/Kota Provinsi Sumatera Selatan adalah 6,5% dan gizi kurang 11,7%. Bila dibandingkan dengan Target MDG untuk Indonesia sebesar 8,5%, maka di Kabupaten/Kota Provinsi Sumatera Selatan target tersebut telah terlampaui, walaupun pencapaian tersebut belum merata di 15 kabupaten/kota.

Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010

Page 56

Gambar 3.41 Angka Gizi Buruk dan Gizi Kurang Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2002 – 2009
20 15 10 5 0 Gizi Buruk Gizi Kurang Total 2002 0,95 11,46 12,31 2003 1,31 9,33 10,64 2004 1,12 8,56 9,68 2005 0,7 6,43 7,13 2006 1,07 10,38 11,45 2007 6,50 11,7 18,2 0,04 0,03 2008 0,04 2009 0,03

Sumber : Bidang Yankes Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009

Gambar 3.42 Cakupan Balita Gizi Buruk Mendapat Perawatan Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009

Dari gambar diatas menunjukkan bahwa penanganan gizi buruk di Sumatera Selatan sudah terdistribusi merata di 15 Kabupaten/Kota yang seluruhnya sudah memenuhi target standar pelayanan minimum yaitu 100%. Persentase Balita gizi buruk pada tahun 2009 adalah 0,03% menurun dibandingkan tahun 2008 yaitu 0,04%. Jumlah dan persentase Balita gizi buruk dapat dilihat pada lampiran Tabel 16.

Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010

Page 57

Gambar 3.43 Cakupan Pemberian MP ASI pada Anak Usia 6-24 bulan Keluarga Miskin Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2002 – 2009

Cakupan pemberian MP ASI belum terdistribusi merata. Kabupaten MUBA, Muara Enim, OKUS, dan kota Pagar Alam sudah dapat memenuhi target SPM yaitu mencapai 100%. Sedangkan kabupaten/kota lainnya memiliki capaian dibawah 70%. 3.3.3. Status Gizi Wanita Usia Subur Kurang Energi Kronik (KEK) Salah satu cara untuk mengetahui status gizi Wanita Usia Subur (WUS) umur 15 – 19 tahun adalah dengan melakukan pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA). Hasil pengukuran ini bisa digunakan sebagai salah satu cara dalam mengidentifikasi seberapa besar seorang wanita mempunyai risiko untuk melahirkan bayi BBLR. Indikator Kurang Energi Kronik (KEK) menggunakan LILA < 23,5 cm.

Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010

Page 58

BAB 4 SITUASI UPAYA KESEHATAN

Sesuai dengan tujuan diselenggarakannya pembangunan kesehatan yaitu untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan tersebut diselenggarakan berbagai upaya kesehatan secara menyeluruh, berjenjang dan terpadu. Berikut ini akan diuraikan beberapa upaya pelayanan kesehatan selama tahun 2009.

4.1. PELAYANAN KESEHATAN DASAR Pelayanan kesehatan dasar (Primary Health Care) merupakan langkah awal yang sangat penting dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. Dengan pemberian pelayanan kesehatan dasar secara cepat dan tepat, diharapkan sebagian besar

masalah kesehatan masyarakat telah dapat diatasi. Pelayanan kesehatan dasar yang dilaksanakan oleh fasilitas pelayanan kesehatan terdiri dari beberapa kegiatan, yaitu :

4.1.1

Pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi. Pelayanan kesehatan ibu meliputi pelayanan antenatal, pertolongan persalinan

oleh tenaga kesehatan dengan kompetensi kebidanan, pelayanan terhadap ibu hamil risiko tinggi yang dirujuk, kunjungan neonatus, dan kunjungan bayi.

4.1.1.1. Pelayanan Antenatal (K1 dan K4) Pelayanan kesehatan antenatal merupakan pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan profesional (dokter spesialis kandungan dan kebidanan, dokter umum, bidan dan perawat) kepada ibu hamil selama masa kehamilannya sesuai dengan pedoman pelayanan antenatal yang ada dengan titik

Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010

Page 59

32 94.1.2009 100 75 Persentase 50 25 0 K1 K4 K1-K4 2003 2004 2005 2006 91.45 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari Gambar 4.1 Persentase Cakupan Pelayanan K1 dan K4 Ibu Hamil Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003 .7 5. Sedangkan K4 adalah gambaran besaran ibu hamil yang telah mendapatkan pelayanan ibu hamil sesuai standar serta paling sedikit empat kali kunjungan.16 85.05 84. Hasil pelayanan antenatal dapat dilihat dari cakupan pelayanan K1 dan K4.75 90.1 di atas terlihat bahwa persentase cakupan K1 dan K4 terjadi kenaikan. sekali pada trimester dua dan dua kali pada trimester ketiga.05 91.82 94.53 85. Gambaran cakupan K1 dan K4 Provinsi Sumatera Selatan dalam 6 tahun terakhir dapat dilihat pada Gambar 4.berat pada kegiatan promotif dan preventif.42 6.38 6.42% pada tahun 2009. berikut ini : Gambar 4. Angka ini dapat dimanfaatkan untuk melihat kualitas pelayanan kesehatan kepada ibu hamil. begitu juga dengan Cakupan K4 sebesar 84.41% pada tahun 2008 meningkat menjadi 94.52 6. dengan distribusi sekali pada trimester pertama.8 5.96 86.6 5.41 94. Cakupan K1 atau juga disebut akses pelayanan ibu hamil merupakan gambaran besaran ibu hamil yang telah melakukan kunjungan pertama ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal.63 7.86 88.54 91.31 85.94 2007 2008 2009 88. Cakupan K1 sebesar 90.45% pada tahun 2008 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 60 .

meningkat menjadi 88.2 berikut ini : Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 61 . adanya pemekaran wilayah yang menyebabkan belum siapnya SDM yang ada di wilayah tersebut. program P4K dengan stiker belum sepenuhnya terlaksana. data yang diterima dari Bidan di Desa ke puskesmas masih ada yang tidak terlaporkan. menunjukkan bahwa semakin banyak ibu hamil yang melakukan kunjungan pertama pelayanan antenatal diteruskan hingga kunjungan keempat pada trimester 3 sehingga kehamilannya dapat terus dipantau oleh petugas kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan. PWS KIA sebagai alat pemantauan wilayah setempat untuk pengumpulan data dan monitoring dalam pengisiannya masih belum sesuai dengan standar yang ada dan belum dianalisa sebelum dikirim ke tingkat provinsi.6% pada tahun 2009. Dari gambar tersebut dapat dilihat juga selisih antara K1 dan K4. yang semakin menurun dari tahun ke tahun. Beberapa kemungkinan penyebab fluktuasi cakupan pelayanan K1 dan k4 antara lain masih lemahnya sistem pencatatan dan pelaporan dari tingkat dasar (puskesmas) maupun kabupaten/kota. Gambaran cakupan K4 menurut kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 dapat dilihat pada gambar 4.

Empat Lawang. kota Palembang.03% adalah Kabupaten Musi Rawas. OKU.2 Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K4 Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Gambar di atas menunjukkan bahwa kabupaten/kota dengan persentase cakupan pelayanan K4 yang sudah memenuhi target standar pelayanan minimum yaitu minimal 90.Gambar 4. OKU Selatan. Pagar Alam. Ogan Ilir. Selain mengupayakan peningkatan cakupan K4. Prabumulih. Persentase cakupan K4 di 8 kabupaten lainnya masih dibawah target yaitu pada range 70%-90% (warna kuning) terjadi di Kabupaten Musi Banyuasin. harus diupayakan pula peningkatan kualitas K4 yang sesuai standar. OKU Timur. Salah satu pelayanan yang diberikan saat pelayanan antenatal yang menjadi standar kualitas adalah pemberian zat besi (Fe) 90 tablet (Fe3) dan imunisasi TT (TT2). Ogan Komering Ilir. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 62 . Lahat. dan Lubuk Linggau (warna hijau). Muara Enim. Banyuasin.

13%).4 7.3 102 215 8.4 85.7 56.6 69.81 10. Fe3.3 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa masih terdapat selisih persentase cakupan K4 dengan Fe3 dan TT.99 10.9 91.2 89.8 91.23 87.2 171 62 495 158 7.4%) adalah 77.6 74.8 73.6 88.1 73. yang berarti gap nya semakin besar. sedangkan jika dibandingkan antara cakupan K4 (89%) dengan cakupan TT yang hanya mencapai 19%. yang menunjukkan kinerja yang positif.95%).1 91.13% dan selisih antara K4 (84.6 90.45%) dengan TT (7.63 19.4 80.32%) adalah 20.4 84.8 87. dan TT dapat dilihat pada lampiran Tabel 25 dan 26. Selisih antara K4 dengan Fe3 menurun dari tahun 2008 sampai 2009 (menurun 11.5 73.2 94. dan Status Imunisasi TT pada Ibu Hamil Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Sumsel OKU OKI Muara Enim Lahat Musirawas Musi Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Empat Lawang Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau 0 20 40 60 80 100 120 140 Lubu Pag Prab Pale Emp OKU OKU Bany Musi Musi Muar Oga Laha Sum k ar umul mba at Timu Selat uasi Bany rawa a OKI OKU n Ilir t sel Ling Alam ih ng Law r an n uasi s Eni TT K4 8.Gambar 4. Sedangkan selisih antara K4 dengan TT semakin meningkat dari tahun 2008 sampai 2009 (meningkat 2. Fe3.1 65. Hal ini dimungkinkan disebabkan sistem pencatatan dan pelaporan ketiga variabel tersebut belum terpadu.2 81. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 63 .05%. terdapat selisih 9%.1 77.8 91.3 Persentase Cakupan K4.4 93. diperoleh selisih sebesar 80%. Distribusi cakupan K1 dan K4 dapat dilihat pada lampiran Tabel 17 dan distribusi cakupan Fe1.7 89.3 87.5 80. Cakupan K4 di Sumatera Selatan tahun 2009 adalah 89% sedangkan Fe3 80%.6 82.6 Fe3 91.2 75.8 79.2 94.45%) dengan Fe3 (64.8 89.7 85. Jika dibandingkan dengan tahun 2008.7 93. selisih cakupan K4 (84.8 94.

2009 100 80 60 40 20 0 Linakes 2003 80.83 Sumber : Subdin Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Prov.83%. cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di Provinsi Sumatera Selatan meningkat sekitar 4%.4 Persentase Cakupan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003. yaitu dari 79.25 2005 81.27 2006 82. terjadi peningkatan pada setiap tahunnya dan kenaikan tertinggi terjadi pada tahun 2009 sebesar 3. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 64 .7 2004 79. Dalam kurun waktu empat tahun terakhir.25% pada tahun 2004 menjadi 87.12 2008 84 2009 87.2.4.83% pada tahun 2009. hal ini antara lain disebabkan pertolongan tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai kompetensi kebidanan (profesional).77 2007 83. Pertolongan Persalinan oleh Nakes dengan Kompetensi Kebidanan Komplikasi dan kematian ibu maternal dan bayi baru lahir sebagian besar terjadi pada masa di sekitar persalinan.Sumsel Gambar diatas memperlihatkan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan dari tahun 2003 sampai tahun 2009.1.1.4 berikut ini : Gambar 4. Gambaran cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan dari tahun 2003 – 2009 dapat dilihat padas gambar 4.

Jika dibandingkan dengan tahun 2008.08%. sedangkan 6 Kabupaten yaitu Banyuasin. Cakupan 8 kabupaten/Kota Lainnya sudah memenuhi target standar pelayanan minimum yaitu minimal 85.5 Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa hanya terdapat satu wilayah yaitu kota prabumulih yang berada pada range terendah yaitu <60%.Gambar 4. capaian Kota Prabumulih adalah 90. Empat Lawang. Lahat. OKU.79%. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 65 .08%.79% terhadap tahun 2009. dan OKU Timur berada pada range 60%-85. terjadi penurunan sebesar 11.

sedangkan di Kabupaten Ogan Ilir. Kota Palembang dan Kota Pagar Alam berada pada range pertengahan yaitu antara 10-25. Musi Rawas. yaitu hanya 0. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 66 . persentasenya adalah 115.6 Cakupan Komplikasi Kebidanan yang Ditangani Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani di Kabupaten Muara Enim masih rendah yaitu dibawah 10%. Sembilan Kabupaten/kota lainnya sudah mampu memenuhi target standar pelayanan minimum yaitu minimal 25.1. capaian Kabupaten Prabumulih justru paling rendah diantara 15 kabupaten/kota lainnya.76%.Gambar 4. Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas Pelayanan nifas adalah pelayanan kesehatan sesuai standar pada ibu mulai 6 jam sampai 42 hari pasca persalinan oleh tenaga kesehatan. 4. dibandingkan tahun 2008.76%.39%. Untuk deteksi dini komplikasi pada ibu nifas diperlukan pemantauan pemeriksaan terhadap ibu nifas dengan melakukan kunjungan nifas minimal sebanyak 3 kali dengan waktu: 1). Khusus Kabupaten Prabumulih. OKI.3.1.87% sehingga pada gambar diatas dinyatakan dengan warna hijau yang berarti memenuhi target SPM.

Kunjungan nifas pertama (KF1) pada 6 jam setelah persalinan sampai 7 hari; 2). Kunjungan nifas kedua (KF2) dilakukan pada minggu ke-2 setelah persalinan; dan 3). Kunjungan nifas ketiga (KF3) dilakukan minggu ke-6 setelah persalinan. Pelayanan yang diberikan meliputi: 1). Pemeriksaan tekanan darah, nadi, respirasi dan suhu; 2). Pemeriksaan tinggi fundus uteri; 3). Pemeriksaan lokhia dan per vaginam lainnya; 4). Pemeriksaan payudara dan anjuran ASI eksklusif 6 bulan, 5). Pemberian kapsul vitamin A 200.000 IU sebanyak 2x (2x24 jam), dan 6). Pelayanan KB pasca persalinan.

Gambar 4.7 Cakupan Pelayanan Nifas Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009

Cakupan pelayanan nifas sudah terdistribusi cukup baik, 14 Kabupaten/kota sudah memenuhi target standar pelayanan minimum yaitu 85,08%. Hanya Kabupaten OKU yang belum mencapai target, masih berada pada range 60%-85,08%. Dibandingkan tahun 2008, Kabupaten OKU mencapai persentase 83,3% sedangkan tahun 2009 75,64%. Kabupaten Muara Enim pada tahun 2008 tercatat 0%

Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010

Page 67

sedangkan tahun 2009 mencapai target SPM. Distribusi cakupan pelayanan nifas dapat dilihat pada lampiran Tabel 17.

4.1.1.4. Ibu Hamil Risiko Tinggi yang Dirujuk Dalam memberikan pelayanan khususnya oleh tenaga bidan di desa dan Puskesmas, beberapa ibu hamil yang memiliki risiko tinggi (Risti) dan memerlukan pelayanan kesehatan karena terbatasnya kemampuan dalam memberikan pelayanan, maka kasus tersebut perlu dilakukan upaya rujukan ke unit pelayanan kesehatan yang memadai. Dalam hal ini persentase ibu hamil dengan kondisi risiko tinggi yang dirujuk pada tahun 2008 di Provinsi Sumatera Selatan dapat dilihat pada gambar berikut ini :
Gambar 4.8 Persentase Cakupan Ibu Hamil Risiko Tinggi yang Dirujuk Menurut Kabupaten/ Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009
OKU OKI M.Enim Lahat MURA MUBA B.Asin OKUS OKUT OI 4 Lawang Palembang Prabumulih P.Alam L.Linggau sumsel 0 17,25 15,93 41,2 43,89 49,55 17,69 20,66 18,55 38,89 20 40 60 80 63,3 83,44 63,98 115,94 86,67 100 120 140 82,19

4

Sumber : Subdin Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Prov.Sumsel

Dari gambar di atas terlihat bahwa kabupaten/kota dengan cakupan tertinggi adalah di Kota Prabumulih (115,94%) dan Lubuk Linggau (86,67%) , sedangkan yang terendah adalah Muara Enim (4%). Persentase cakupan Ibu hamil risiko tinggi yang dirujuk di Provinsi Sumatera Selatan mengalami peningkatan dari 11,24% pada tahun 2008 menjadi 38,89% pada tahun 2009. Distribusi menurut Kabupaten/kota dapat dilihat pada lampiran Tabel 28.

Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010

Page 68

4.1.1.5. Kunjungan Neonatus Bayi hingga usia kurang satu bulan merupakan golongan umur yang memiliki risiko gangguan kesehatan paling tinggi. Upaya kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi risiko tersebut antara lain dengan melakukan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan pelayanan kesehatan pada neonatus (0 – 28 hari) minimal dua kali, satu kali pada umur 0 – 7 hari dan satu kali pada umur 8 – 28 hari. Dalam melaksanakan pelayanan neonatus, petugas kesehatan di samping melakukan pemeriksaan kesehatan bayi juga melakukan konseling perawatan bayi kepada ibu. Cakupan kunjungan neonatal (KN) selama periode tahun 2003 – 2009 dapat dilihat pada gambar berikut, terlihat bahwa ada sedikit peningkatan dari tahun 2008 sebesar 82.4% menjadi 82,68% pada tahun 2009.
Gambar 4.9 Persentase Cakupan Kunjungan Neonatal Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003 - 2009
100 80 60 40 20 0 KN 2003 86,57 2004 86,61 2005 88,38 2006 77,17 2007 81,74 2008 82,4 2009 82,68

Sumber : Subdin Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Prov.Sumsel

Gambaran Cakupan Kunjungan Neonatal menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 terlihat pada gambar 4.9, bahwa cakupan tertinggi terjadi di Kabupaten OKU Selatan (91,94%), diikuti oleh Kabupaten Lahat (90,32%). Sedangkan cakupan terendah terjadi di Kabupaten Empat Lawang (40,15%).

Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010

Page 69

88. 91. 94. 89. 88 82. 71 95.10 Persentase Cakupan Kunjungan Neonatal Menurut Kabupaten/ Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 100 80 60 40 20 0 . 83. 70.11 Cakupan Kunjungan Neonatal Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 70 . OKU OKI ME LHT MURAMUBA BA OKUTOKUS OI 4L PLG PBM PA LLG PROV 2009 66. 82.Gambar 4. 78. 83 70 87. Sumber laporan kesga dan reproduksi dinkes prov sumsel Tahun 2009 Gambar 4.

4. Kota Prabumulih. Selain itu.12 Cakupan Kunjungan Bayi Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Distribusi cakupan kunjungan bayi masih belum merata. dan Kota Prabumulih. Kabupaten Banyuasin dan Kota Lubuk Linggau pada tahun 2008 tercatat 0 (tidak ada data) sedangkan pada tahun 2009 tercatat memenuhi target SPM. Empat Lawang.99%.6% meningkat menjadi 10. capaian Sumatera Selatan hanya 2. dan Lubuk linggau belum memenuhi target dan berada pada range terendah.92% pada tahun 2009. Sedangkan 10 Kabupaten/kota lainnya sudah memenuhi target minimal 79. yaitu dibawah 70%.9%.Distribusi capaian standar pelayanan minimum cakupan neonatus dengan komplikasi yang ditangani sudah cukup baik. Di Kabupaten Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 71 . Terdapat 5 Kabupaten/kota yang belum memenuhi target SPM yaitu berada pada range antara 60-79. OKU Timur.1. Kunjungan Bayi Gambar 4. Empat Lawang. Di Kabupaten OKU Selatan.6.1. Pagar Alam. OKU. meliputi Kabupaten Musi Rawas. Dibandingkan tahun 2008.

Linggau Mura Ogan Ilir OKU Palembang OKU Banyuasin 0 0 0 1 10 0 0 0 0 0 1 2 2 0 3 2 4 6 8 10 12 3 Sumber : Subdin Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Prov. serta pelayanan kesehatan pada anak remaja. Khusus Kota Palembang dan Kabupaten Musi Banyuasin. Musi Rawas jugamasih belum memenuhi target dan berada pada range 70-89.2. Hanya 4 Kabupaten/kota yaitu OKI. guru UKS. 4. Musi Banyuasin.13 Persentase Cakupan Puskesmas yang Mampu Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) Menurut Kabupaten/ Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Empat L OKU M.99%.99%. dan Remaja Pelayanan kesehatan pada kelompok ini dilakukan dengan pelaksanaan pemantauan dini terhadap tumbuh kembang dan pemantauan kesehatan anak pra sekolah. OI. cakupan kunjungan bayi Provinsi Sumatera Selatan adalah 69.1. Usia Sekolah.59% meningkat menjadi 87.OKUT. dan kota Palembang yang memenuhi target minimum yaitu 89. Cakupan Puskesmas yang mampu menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) minimal 1 puskesmas tiap kecamatan dapat dilihat pada gambar berikut ini : Gambar 4. Banyuasin. Pelayanan Kesehatan Anak Pra Sekolah. Lahat.47% (diatas 100%). baik yang dilakukan oleh tenaga kesehatan maupun peran serta tenaga terlatih lainnya seperti kader kesehatan.Muara Enim. pemeriksaan anak Sekolah Dasar/Sederajat. dan dokter kecil.OKU. persentasenya masing-masing adalah 101. Dibandingkan tahun 2008.Enim Lahat OKI MUBA P.Alam Prabumuli L.47% pada tahun 2009.Sumsel Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 72 .16% dan 108.

Empat Lawang. 3). maka belum dapat dikategorikan sebagai puskesmas PKPR.Persentase cakupan puskesmas yang mampu menyelenggarakan PKPR masih rendah disebabkan puskesmas PKPR harus memenuhi keempat persyaratan sebagai berikut yaitu 1).05 Sumber : Subdin Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Prov. sedangkan Kabupaten lain yang belum memiliki puskesmas PKPR (jumlah=0) adalah OKU Timur. MUBA. Memberikan pelayanan konseling pada semua remaja yang memerlukan konseling yang kontak dengan petugas PKPR.05% pada tahun 2009. MURA.2009 80 60 40 20 0 Bayi 2003 50. dan Prabumulih. Kabupaten OKI tercatat memiliki puskesmas dengan pelayanan PKPR tertinggi. Jika hanya memenuhi satu hingga tiga persyaratan tersebut. Muara Enim. Gambar 4.59 2009 52. Pagar Alam.14 Persentase Cakupan Deteksi Dini dan Intervensi Tumbuh Kembang Balita Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003 .4 2008 69. dan 4).3 2004 55 2005 45 2006 48 2007 49. 2). Melatih kader kesehatan remaja di sekolah minimal sebanyak 10% dari murid di sekolah binaan.69% pada tahun 2008 menjadi 52. Melaksanakan kegiatan KIE di sekolah binaan minimal 2 kali per tahun. Kota Lubuk Linggau. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 73 . Harus melakukan pembinaan kesehatan terhadap minimal 1 sekolah per tahun.Sumsel Gambar diatas menunjukkan terjadi penurunan persentase cakupan deteksi dini dan intervensi tumbuh kembang balita di Sumatera Selatan yaitu dari 69.

Gambar 4.12%. kota Lubuk Linggau dan Prabumulih berada pada range terendah yaitu dibawah 60%. Terdapat 6 Kabupaten/kota yang sudah memenuhi target SPM minimal 88. persentase anak balita yang memperoleh pelayanan pemantauan di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2008 adalah 72.240 anak balita). Kabupaten Musi Rawas.87% (542. Jika dibandingkan dengan tahun 2008. OKI. OKUS. OKU. Sedangkan 8 Kabupaten lainnya belum mencapai target. Terjadi penurunan yang cukup tinggi di tahun 2009.15 Cakupan Pelayanan Anak Balita Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Dari gambar diatas menunjukkan bahwa distribusi persentase anak balita yang memperoleh pelayanan pemantauan belum merata.444 anak balita) dan persentase tahun 2009 adalah 52. yaitu Kabupaten Musi Banyuasin dan Muara Enim berada pada range 60-88.05% (164.12%. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 74 . OKUT.

6 Kabupaten/kota sudah memenuhi target SPM yaitu minimal 40%. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 75 . laporan (data) dari 15 kabupaten/kota ini belum ada. Kota Lubuk linggau dan Pagar Alam tercatat 0%.Gambar 4. OKU. terdiri dari 2 kabupaten yaitu Banyuasin dan Ogan Ilir berada pada range 10-40%. Dibandingkan tahun 2008. dan kabupaten Musi Rawas 3. Empat Lawang. 9 kabupaten/kota lainnya belum memenuhi target. Pelayanan Keluarga Berencana Tingkat pencapaian Pelayanan Keluarga Berencana dapat digambarkan melalui cakupan peserta KB yang ditunjukkan melalui peserta KB Aktif.21% (diatas 100%). tempat pelayanan serta jenis kontrasepsi yang digunakan akseptor. OKU Selatan.1.16 Cakupan Penjaringan Siswa SD dan Setingkat Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Gambar di atas menunjukkan distribusi cakupan penjaringan siswa SD belum merata. 6 kabupaten OKU Timur. 4.59%. kelompok sasaran program yang sedang menggunakan alat kontrasepsi. Kota Palembang tercatat memiliki capaian 100.3.

Cakupan Tertinggi Peserta KB Aktif ada di Kota Lubuk Linggau (84.92%).35 57.87% .18%). Cakupan Peserta KB Baru di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 adalah 31.28 25.68 15.62%).08 66.35 10.18 140 Sumber : Kantor BKKBN Provinsi Sumatera Selatan Pada gambar di atas.92%) dan Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (80.3 20.44 77.95 70.9 26. Alat kontrasepsi yang paling banyak digunakan oleh peserta KB Baru maupun peserta KB Aktif adalah suntikan kemudian pil dan implant.62% .90% (Rentang : 10.42 64.43 24.05 77.18%).08% (Rentang : 46.75 44.Gambar 4. terlihat bahwa Cakupan Peserta KB Aktif tahun 2009 di Provinsi Sumatera Selatan sekitar 69.46 17.63 69.73 78.7 29. sedangkan cakupan terendah terjadi di Kota Palembang (10.39 34.02 69.87%).62 25.46 74. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 76 .34 78.132.84.43%).92 20 40 60 80 100 120 BARU AKTIF 132.87 17.91 32.72 22.17 Persentase Cakupan Peserta KB Aktif dan KB Baru Menurut Kabupaten/ Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Sumsel OKU OKI Muara Enim Lahat MURA MUBA Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Empat Law ang Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau 0 31.08 84.21 74. Cakupan Peserta KB Baru tertinggi terjadi di Kabupaten Musi Rawas (132.93 80. sedangkan cakupan terendah terjadi di Kota Palembang (46.8 57.03 46.

18 Persentase Cakupan Pelayanan Peserta KB Baru Berdasarkan Jenis Alat Kontrasepsi Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 33.708 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Gambar 4. Kota Prabumulih dan Pagar Alam berada pada range 50%-70%. OKU.013 IUD MOP/MOW Implant Suntik Pil Kondom 433.954 30. Lahat. sedangkan di Kabupaten Banyuasin. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 77 .052 40.Gambar 4.301 319.19 Cakupan Peserta KB Aktif Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Cakupan peserta KB aktif di Kota Palembang masih rendah capaiannya yaitu dibawah 50%.202 165. 8 Kabupaten/kota lainnya sudah memenuhi target standar pelayanan minimum minimal 70%.

4. berarti dalam wilayah tersebut tergambarkan besarnya tingkat kekebalan masyarakat atau bayi (herd immunity) terhadap penularan penyakit yang dapat dicegah dengan Immunisasi (PD3I). artinya target UCI tercapai bila minimal 98 % desa/kelurahan di kabupaten/kota telah memenuhi target imunisasi campak sebagai imunisasi rutin terakhir. Pelayanan Imunisasi Pencapaian Universal Child Immunization (UCI) pada dasarnya merupakan proyeksi terhadap cakupan atas imunisasi secara lengkap pada sekelompok bayi.1. sesuai Kepmenkes nomor 741 tahun 2008 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) kabupaten/Kota. yaitu pada tahun 2008 sebesar 24. Bila cakupan UCI dikaitkan dengan batasan suatu wilayah tertentu.79% (1.08% (1. artinya masih sangat jauh dibanding target (98 %). Cakupan UCI Desa tahun 2009 Provinsi Sumatera Selatan saat ini adalah 82.323 peserta KB baru) menjadi 31.90% (472.78% (343. persentase peserta KB aktif Provinsi Sumatera Selatan adalah 74. 4.022. Dalam hal ini Pemerintah mentargetkan pencapaian UCI pada wilayah administrasi desa/kelurahan.124 peserta KB baru) pada tahun 2009. Adapun cakupan UCI Desa tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar berikut: Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 78 .5 %. Tetapi terjadi peningkatan persentase peserta KB baru.230 peserta KB Aktif) pada tahun 2009. Target UCI tahun 2009 adalah >98 %. Apalagi tahun 2010 ini target UCI harus 100 % desa/keluarahan.348 peserta KB Aktif) menurun menjadi 69. UCI Desa merupakan indikator penting dalam program imunisasi.036.Dibandingkan tahun 2008.

Hal ini juga menjadikan kab/kota yang belum UCI tersebut menjadi daerah resiko tinggi penularan PD3I.1 98 Prabu 75.Asin M. Sedangkan kabupaten/kota lainnya tidak mencapai target UCI desa.4 98 4 Lwg 94. akibat banyaknya anak yang tidak diimunisasi lengkap sehingga tidak kebal terhadap PD3I.20 Hasil Cakupan Desa UCI Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 110 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 HASIL TARGET Plg 100 98 Hasil Cakupan UCI Desa Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 B. Sebagai perbandingan.2 98 OKU 94 98 Muba P.6 98 Lahat 86.6 98 O. Hal ini memerlukan perhatian yang serius bagi kabupaten/kota yang belum mencapai target.Enim OKUT 99 98 98.5 98 Sumber: Laporan UCI Tahun 2009 Berdasarkan Gambar di atas terlihat bahwa dari 15 kabupaten/kota.7 98 OKI 67.1 98 82. ternyata hanya 3 (tiga) kabupaten/kota mencapai UCI Desa. yaitu Kota Palembang. karena UCI merupakan salah satu Indikator Penting pencapaian Indonesia Sehat 2010.Alam 90.4 98 OKUS Sumsel 12. cakupan Desa UCI sejak tahun 2003 hingga 2009 per kabupaten/kota se Provinsi Sumatera Selatan dapat dilihat pada Gambar berikut: Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 79 .Ilir 65. dan harus diwaspadai kemungkinan sewaktu-waktu terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB).Lg 94.7 98 95 98 Mura 95 98 Lb.Gambar 4.4 98 88. Kabupaten Banyuasin dan Muara Enim.

2 84.1 PRAB U 62.9 97.2 97.6 76.1 84.1 L.3 95 0 0 40.9 82.3 86.21 Hasil Cakupan Desa UCI Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003-3009 HASIL CAKUPAN DESA U.4 83.1 94.4 95. supaya cakupan imunisasi yang merupakan kegiatan rutin ini dapat diperbaiki kinerjanya.5 Sumber: Laporan UCI Bidang PP&PL.6 79.2 97 97.8 90.7 94.6 100 94.1 94 OKUT OKUS 0 0 88.C.6 91. Selain itu juga sarana dan prasarana sebagian sudah disediakan dari provinsi.1 98.3 88. karena tahun 2009 semua petugas kabupaten/kota sudah dilatih mengenai program imunisasi.3 94.7 P.2009 Dari Gambar di atas terlihat bahwa dari tahun ke tahun cakupan Desa UCI di kabupaten/kota terjadi fluktuasi dan tidak stabil.4 62. Perlu dipikirkan untuk intervensi pejabat yang lebih tinggi.3 81.5 95.2 80.2 75.3 93 82.1 100 MUBA B.7 Lahat 80.1 80.5 87.4 94.3 85.3 12. baik teknis program maupun cold chain.6 91.3 0 86. Tahun 2003 .3 86.2 98.6 78 95.3 76.6 OKU 82.6 99.2 85.4 88.4 77 86 77.Ling au 100 89.1 93.6 9.3 96 97.8 69.8 89.3 98.2 95.1 65.1 76.I.2 80.Gambar 4.7 86.2 90.6 84 89.9 86.9 90.9 71 78.1 94. Hal ini perlu mendapat perhatian lebih lanjut.8 98. termasuk dana untuk bimbingan teknis dan pertemuan koordinasi tingkat puskesmas di kabupaten/kota masing-masing. PROVINSI SUMATERA SELATAN TAHUN 2003-2009 100 95 90 85 80 75 70 65 60 55 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 PLG 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 94.6 90.3 84.4 88.1 91.6 4 Ogan Sumse Lawan Ilir l g 0 75.Asin MURA 90.5 81.8 95 M.Ala m 96.7 97.7 75.1 100 99.4 OKI 73.7 88. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 80 .4 0 0 0 0 0 32.4 82.9 83.5 67.Eni m 93 88.6 84 93.

terdapat 3 (tiga) wilayah yang memenuhi standar pelayanan minimum 98%. OKUT. OKU.22 Hasil Cakupan Desa UCI Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Distribusi cakupan desa UCI belum merata. sedangkan cakupan Kabupaten OKUS. dan Pagar Alam berada pada range 70-98%. dan OKI masih dibawah 70%. maka kegiatan yang dapat dilaksanakan adalah melakukan pemberian imunisasi pada anak yang lebih tua. Empat lawang. Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) Salah satu strategi yang tercantum dalam Global Immunization Vision and Strategy (GIVS) 2006 – 2015 adalah “to protect more people in a changing world”.Gambar 4. 4.1. MURA. dalam hal ini adalah murid sekolah dasar. Kota Lubuk Linggau. 12 Kabupaten lainnya yang terdiri dari Kabupaten MUBA. OI. Pemberian imunisasi pada murid sekolah yang disebut BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah) telah dilaksanakan secara rutin sejak tahun 1984.4. Lahat. yaitu Kota Palembang. dimana saat ini murid kelas 1 SD/MI menerima imunisasi DT dan Campak. Kabupaten Banyuasin dan Muara Enim. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 81 . Prabumulih.1. Untuk mengimplementasikan visi tersebut.

7 100 O. Gambar 4.8 100 Hasil Cakupan BIAS DT Klas I Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 B. OKU Selatan.Enim 93.6 100 M. 2009 Dari Gambar di atas menunjukan bahwa hanya Kabupaten MURA dan OKU Timur yang mencapai cakupan BIAS DT l00 %. Lahat.Ilir 23.6 100 P. Sedangkan yang tidak melaksanakan BIAS TT adalah Kota Prabumulih.3 100 Tdk mlk Tdk mlk Sumber: Laporan BIAS Bidang PP&PL.2 100 4 Lwg 98.sedangkan murid kelas 2 dan kelas 3 menerima imunisasi TT. Sedangkan yang tidak melaksanakan BIAS DT/TT adalah Kota Pagaralam dan Kab. OKU Timur dan Empat Lawang.Alam 100 OKUS 100 Sumsel 88.8 100 Lahat 98.4 100 Prabu 88. OKI.23 Hasil Cakupan BIAS DT Klas I Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 110 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 HASIL TARGET Mura 100 100 OKUT 100 100 Lb. juga harus melaksanakan BIAS TT untuk murid kelas Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 82 . sehingga tahun 2009 nanti harus melaksanakan BIAS TT pada murid kelas 2 hingga kelas 4.Asin 99.7 100 OKI 97. Namun demikian masih ada kabupaten/kota yang tidak melaksanakan BIAS tersebut dengan berbagai permasalahan. Kab. kabupaten yang tidak melaksanakan BIAS DT adalah Kota Prabumulih.8 100 OKU 98 100 Muba 98 100 Plg 97. sehingga pada tahun 2009 nanti harus melaksanakan BIAS DT untuk murid kelas 1 dan kelas 2.Lg 99. Akibatnya pada tahun 2010 ini selain harus tetap melaksanakan BIAS Campak dan DT pada murid kelas 1 SD/MI. Pelaksanaan BIAS ini merupakan salah satu kegiatan rutin yang harus dilaksanakan bekerjasama dengan pihak sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah. Empat Lawang dan OKU Timur. Kab. Untuk tahun 2008.

7 100 Plg 98.9 100 Prabu 87. maka mulai tahun 2007 dilaksanakan BIAS Campak bagi murid SD/MI kelas 1. Pemberian imunisasi campak dosis kedua pada murid sekolah ini dimaksudkan sebagai booster.4 100 P.8 100 Lb.7 100 Hasil Cakupan BIAS Klas II & III Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 B. disebabkan karena tidak tersedianya dana operasional. Gambar berikut menunjukan Cakupan BIAS TT dengan 100 % hanya terdapat di Kabupaten OKU Timur.Asin 99. Gambar 4.3 100 O. yang akan meningkatkan kekebalan terhadap penyakit campak seumur hidup.Alam OKUS Sumsel Tdk mlk Tdk mlk 100 100 88.2 hingga kelas 4.Ilir 19.7 100 OKU 99 100 4 Lwg M. 2009 Namun demikian Kabupaten OKU Selatan juga tidak melaksanakan BIAS Campak ini.2 100 Mura 97. Sebagai tindak lanjut pelaksanaan Kampanye Imunisasi Campak tahun 2006 di Sumatera Selatan. Tidak dilaksanaanya BIAS di 3 (tiga) kabupaten/kota tersebut seperti kebijakan Depkes. Untuk kabupaten Ogan Ilir hanya melaksanakan di 6 wilayah kerja puskesmas saja. dan sebagai upaya menuju tahapan Reduksi Campak di Indonesia.6 100 OKI 98.9 100 Sumber: Laporan BIAS Bidang PP&PL.24 Hasil Cakupan BIAS Klas II & III Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 110 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 HASIL TARGET OKUT 100 100 Lahat 99.9 100 98.Enim 98.Lg 99.8 100 Muba 92. sehingga pada tahun 2010 nanti harus melaksanakan BIAS Campak Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 83 .

Salah satu indikator keberhasilan pembangunan kesehatan di Indonesia adalah meningkatnya Usia Harapan Hidup (UHH) masyarakat Indonesia.Ilir 96. tahun 2009 4. Pelayanan Kesehatan Pra Usia Lanjut dan Usia Lanjut Pelayanan kesehatan juga dilakukan secara khusus kepada kelompok Pra Usia Lanjut dan Usia Lanjut. Dimana pada RPJMN DepKes tahun 2009 diharapkan terjadi peningkatan dari 66.23% menjadi 81.6 100 Prabu 82.9 100 OKI 97.5 100 O.6 tahun.Lg 99.6 100 Muba 96.2 tahun menjadi 70. dimana pada kelompok ini biasanya banyak mengalami gangguan kesehatan degeneratif dan fungsi tubuh lainnya.1.2 100 Lahat 99 100 4 Lwg 98.9 100 Sumber: Laporan BIAS Bidang PP&PL.pada semua murid SD/MI kelas 1 dan kelas 2.18 terlihat bahwa persentase lanjut usia yang dibina mengalami peningkatan dari 27.25 Hasil Cakupan Bias Campak Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 110 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 DES '08 TARGET Hasil Cakupan BIAS Campak Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 M.5.9 100 Lb.8 100 B. Pada tahun 2010 diperkirakan Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 84 .95%. Pada gambar 4.9 100 OKUS Sumsel Tdk mlk 100 94. Dengan meningkatnya UHH maka populasi penduduk yang berusia lanjut juga mengalami peningkatan sangat bermakna. Adapun hasil pelaksanaan BIAS Campak tahun 2009 adalah sebagai berikut: Gambar 4.3 100 Plg 98.18%.1 100 OKU 97.Enim P. persentase cakupan puskesmas yang melayani kesehatan usia lanjut mengalami penurunan dari 82.Alam OKUT 100 100 100 100 100 100 Mura 99. namun sebaliknya.Asin 99.4% menjadi 41.

E Lahat MUR MUB PLG PBM A A 9.45 70.73 92.64 88.89 20.97 17.44 24.67 100 100 31.66 41.51 27.24 72.jumlah penduduk berusia lanjut di Indonesia sebesar 24 Juta Jiwa atau 9.Sumsel 2009 Usila dibina Puskesmas membina Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 85 .95 86.A LLG B.27 Persentase Cakupan Lanjut Usia yang Dibina dan Cakupan Puskesmas Melayani Kesehatan Usia Lanjut Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 82.66 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Untuk mengetahui sejauh mana pengembangan program kesehatan usila di Propinsi Sumatera Selatan dapat dilihat pada data di bawah ini : Gambar 4.75 12.22 25.7 37.7% dari Jumlah Penduduk.55 95.I OKU OKU T S 4L SUM SEL 91.A O.37 66.26 24. Gambar 4.99 2005 2006 2007 2008 Sumber : Subdin Yankes Dinkes Prov.26 95.62 31.23 72.28 81.45 100 100 96.18 27.53 93 78.21 16.26 Jumlah Usila Dibina dan PKM yang membina Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 100 80 60 40 20 0 Usila Dibina PKM Membina OKU OKI M.16 24.4 25.21 70.99 100 88.2 100 P.51 8.11 2.86 5.

38 0 0.97 19.06 17 0.2. Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit Beberapa indikator standar terkait dengan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit yang dipantau antara lain pemanfaatan tempat tidur (BOR). persentase pasien keluar yang meninggal (GDR) dan persentase pasien keluar yang meninggal . PELAYANAN KESEHATAN RUJUKAN DAN PENUNJANG Upaya pelayanan kesehatan kepada masyarakat dilakukan secara rawat jalan bagi masyarakat yang mendapat gangguan kesehatan ringan dan pelayanan rawat inap baik secara langsung maupun melalui rujukan pasien bagi masyarakat yang mendapatkan gangguan kesehatan sedang hingga berat.49 9. rata-rata tempat tidur dipakai (BTO).4.89 68.2.41 1.04 16. Sebagian besar sarana pelayanan Puskesmas dipersiapkan untuk memberikan pelayanan kesehatan dasar bagi kunjungan rawat jalan sedangan RS yang dilengkapi berbagai fasilitas di samping memberikan pelayanan pada kasus rujukan untuk rawat inap juga melayani untuk kunjungan rawat jalan. < 24 jam perawatan (NDR).28 Persentase Kunjungan Rawat Jalan menurut Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2008 Sumsel OKU OKI Muara Enim Lahat Mura Muba Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Empat Lawang Palembang Prabumuli Pagar Alam Lubuk Linggau 0 11. rata-rata selang waktu pemakaian tempat tidur (BTO).66 4.93 6. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 86 . Gambar 4.11 18.27 21. rata-rata lama hari perawatan (LOS).1.43 0 4.23 10 20 30 40 50 60 70 80 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 4.

tertinggi dicapai oleh kabupaten Muara Enim (59. Data mengenai persentase penulisan resep obat generik tahun 2009 tidak tersedia. 4.06%). Pemanfaatan Obat Generik Penggunaan obat generik merupakan salah satu langkah dalam upaya meningkatkan kemampuan masyarakat menjangkau obat yang berkualitas. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 87 .29 Persentase Peserta Jamsoskes Sumsel Semesta Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 60 59 58 57 56 55 54 53 52 51 KU O at m KI O Eni Lah . Gambar 4.4.2. Berikut adalah gambaran persentase program Jamsoskes Sumsel Semesta tahun 2009.A Lin e al Pra L. Pelayanan Jaminan Kesehatan Masyarakat Tujuan penyelenggaraan Jamkesmas yaitu untuk meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan terhadap seluruh masyarakat miskin dan tidak mampu agar tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal secara efektif dan efisien.2.3. Keberhasilan dalam sosialisasi pemanfaatan obat generik sangat dipengaruhi oleh keseriusan tenaga kesehatan dan terjaminnya ketersediaan obat generik di fasilitas kesehatan.2. P 4L Dari gambar tersebut terlihat bahwa cakupan jamsoskes sumsel semesta ratarata diatas 50%. M R M B M BA S UT KU K O O I O ng ulih lam gau ba g m bum P.84%) dan terendah di kabupaten Banyuasin (54.

Namun demikian Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 88 . Pada tahun 2009 terjadi sebanyak 97 kali KLB dengan angka serangan sebesar 7. Penyelidikan Epidemiologi dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa Angka kesakitan dan kematian akibat penyakit menular dan keracunan sampai saat ini masih menyebabkan masalah utama kesehatan masyarakat. Secara umum. maka ditetapkan bahwa setiap terjadi KLB harus ditanggulangi dalam waktu kurang dari 24 jam. telah terjadi KLB di kabupaten/kota sebanyak 41 kali.3. faktor lingkungan seperti kebersihan lingkungan. dibanding tahun-tahun sebelumnya frekuensi KLB cenderung menurun.791 orang. Uraian singkat berbagai upaya tersebut seperti berikut ini : 4. Berdasarkan rekapitulasi laporan program surveilans KLB selama tahun 2008. namun angka kematian (CFR) meningkat. perilaku masyarakat. dengan 26 kematian (CFR 0. upaya pengurangan faktor risiko melalui kegiatan untuk peningkatan kualitas lingkungan serta peningkatan peran serta masyarakat dalam upaya pemberantasan penyakit menular yang dilaksanakan melalui berbagai kegiatan.93%).534 penderita dan kematian 0 penderita (CFR 0%) Mengacu pada Keputusan Menteri Kesehatan RI (Kepmenkes) nomor 1091 tahun 2004 tentang SPM-KLB.1.3. tingkat ekonomi. dan yang tidak kalah pentingnya kerusakan lingkungan yang turut berperan terjadinya perubahan pola musim dan kejadian penyakit di masyarakat. Pada tahun 2008 ditargetkan minimal 95 % desa/kelurahan sudah dilaksanakan penanggulangan KLB dalam waktu kurang dari 24 jam oleh Tim Gerak Cepat Kab/kota masing-masing. Di samping itu pelayanan lain yang diberikan adalah upaya pencegahan dengan pemberian imunisasi. Hal tersebut dipengaruhi beberapa faktor diantaranya. sumber air bersih yang digunakan oleh masyarakat. PEMBERANTASAN PENYAKIT MENULAR Upaya pemberantasan penyakit menular lebih ditekankan pada pelaksanaan surveilans epidemiologi dengan upaya penemuan penderita secara dini yang ditindaklanjuti dengan penanganan secara cepat melalui pengobatan penderita.4. Jumlah penderita nya adalah sebanyak 2. MCK.

seiring dengan kalah cepatnya petugas menerima laporan adanya KLB. Tahun 2009 Gambar di atas menunjukkan bahwa sebagian besar kabupaten/kota telah melakukan investigasi KLB dalam waktu kurang dari 24 jam. Gambar 4. maka target tersebut belum bisa direalisasikan. Hal ini menunjukkan bahwa KLB yang terjadi memang sudah diinvestigasi dan ditindaklanjuti supaya tidak meluas.L 95 95 LHT 92 95 Sumber: Laporan PE KLB. maka harus ditindaklanjuti dengan pengiriman laporan KLB <24 jam (Laporan W1) secara berjenjang dari puskesmas ke kab/kota lalu ke provinsi dan ke Depkes RI. Bidang PP&PL.30 Desa/Kelurahan KLB Ditangani < 24 Jam Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 100 80 60 40 20 0 Ketepatan Indikator PLG 100 95 BA 100 95 MUBA 100 95 PRB 87 95 ME 100 95 PA 100 95 LL 100 95 MURA OKUT 100 95 100 95 OI 100 95 OKI 95 95 OKU 96 95 OKUS 85 95 4. Adapun kelengkapan laporan W-1 per kabupaten/kota adalah sebagai berikut: Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 89 . sehingga faktor resikonya segera diketahui. lalu angka kesakitan dan/atau kematian dapat dicegah. Bila terjadi KLB pada suatu daerah. Diharapkan masa mendatang tak ada lagi KLB yang terlambat diantisipasi.

Gambar 4.67 91.67 91.67 91.L OI OKI LHT 91.33 95 95 95 95 95 95 Sumber: Laporan W1 Tahun 2009 Gambar di atas menunjukkan bahwa sebagian besar kabupaten’kota telah mengirimkan laporan W1 secara lengkap.31 Kelengkapan Laporan W1 Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 100 50 0 PLG Kelengkapan Indikator 100 95 BA 100 95 MUBA PRB 100 95 95 95 ME 100 95 PA 100 95 LL 100 95 MURA OKUT OKU OKUS 100 95 100 95 4. Empat Lawang.67 91.32 Ketepatan Laporan W1 Dari Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 110 90 70 50 30 10 -10 BA Ketepatan Indikator 100 90 MUBA 100 90 OI 100 90 OKI 100 90 PRB 100 90 ME 100 90 PA 100 90 LL 100 90 MURA OKUS 100 90 100 90 4.38 90 OKUT 90 90 OKU 85 90 PLG 85 90 Sumber: Laporan W1 Tahun 2009 Data di atas menunjukkan bahwa 90 % kabupaten/kota telah tepat waktu (dalam waktu 24 jam) menyampaikan laporan W1 sejak terjadi KLB.67 83. Sedangkan untuk ketepatan laporan W1 adalah sebagai berikut: Gambar 4. Kabupaten OKU dan OKU Timur. Laporan yang selalu terlambat justru terjadi di Kota Palembang. OKUS. OKI dan Lahat.L 100 90 LHT 90. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 90 . Laporan yang belum lengkap diterima adalah dari Kabupaten OKU.

Pada tahun 2009. tahun 2009 Dari tabel di atas menunjukan frekuensi KLB tahun 2009 sebanyak 38 kejadian dengan jumlah penderita 10.129 orang dan meninggal 6 orang (CFR 0. campak.33 Frekuensi Desa KLB per Penyakit Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 15 10 5 0 Frekuensi Ker-Mak 6 Difteri 2 Campak 1 H1N1 2 Chikungunya 83 Diare 3 Sumber: Laporan KLB.1 Frekuensi dan Jumlah Kasus KLB Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 PENYAKIT Frekuensi KLB KASUS MENINGGAL C F R NO 1 2 3 4 5 6 7 KER. flu strain baru (H1N1) dan diare.NEO CAMPAK CHIKUNGUNYA H1N1 DIARE J U M L A H 5 7 10 4 9 2 2 38 187 7 10 238 9. tetanus neonatorum.05 %). chikungunya.396 2 288 10. Adapun jenis KLB yang dimaksud adalah Keracunan Makanan dan Penyakitr Menular (difteri. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4.129 0 2 4 0 0 0 0 6 0 28. di Sumatera Selatan terjadi KLB sebanyak adalah 38 kali.MAKANAN DIFTERI TET.5 25 0 0 0 0 20 - Sumber: Laporan KLB. Adapun jenis KLB yang terjadi secara rinci adalah sebagai berikut: Gambar 4. tahun 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 91 .

Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 92 .94 2004 513 34 6 1.05 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari Gambar 4. sehingga secara cepat ditanggulangi dan dilaporkan.35 berikut. Dengan demikian diharapkan pengamatan terhadap penyakit potensial KLB dapat lebih ditingkatkan sehingga kemungkinan terjadinya KLB dapat dicegah sedini mungkin.12 2005 1305 31 2 0. Untuk data kejadian KLB sejak tahun 2003 hingga 2009 di Sumatera Selatan dapat dilihat pada Gambar berikut: Gambar 4. sehingga makin sensitif terhadap kejadian KLB.15 2006 2417 70 15 0. Hal ini disebabkan karena semua petugas kabupaten/kota telah mengikuti PAEL (Pelatihan Asisten Epidemiologi Lapangan). laporan KLB terbanyak melalui SMS sebesar 27%.25 2009 10129 38 6 0. diikuti oleh penyakit menular lainnya dan tidak ada kematian. seperti terlihat pada tahun-tahun berikutnya yang cenderung menurun dengan korban yang makin sedikit. Frekuensi KLB paling tinggi terjadi pada tahun 2006.62 2007 2791 41 26 0.93 2008 799 35 9 1.34 Perbandingan Frekuensi dan Penderita KLB Penyakit & Keracunan Makanan Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003-2009 8000 7500 7000 6500 6000 5500 5000 4500 4000 3500 3000 2500 2000 1500 1000 500 0 Penderita Frekuensi Meninggal CFR 2003 1900 20 18 0.Dari gambar di atas terlihat bahwa penyakit Chikungunya merupakan penyakit yang paling dominan menimbulkan KLB.

36 Cakupan Desa/Kelurahan mengalami KLB Yang Dilakukan Penyelidikan Epidemiologi <24 Jam Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 93 .Gambar 4.35 Persentase Jenis Pelaporan KLB dari Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 SMS Masyarakat 0% Hasil PE 24% W1 22% Email 0% Laboratorium 1% SMS/Tenaga Kes 27% Telpon/HP 26% Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Gambar 4.

yaitu 100%.00 2.3.000 anak usia < 15 tahun.05 100 100 100 80 87.00 8. tahun 2009 Keterangan : Target AFP rate >= 2.6 90 77 98 98 75 97 100 100 98 90 100 100 44 100 53 100 89 77 100 100 100 100 92 Sumber: Laporan Integrasi S-AFP.9%.00 3. 4.33 4. TN dan Cmpak. Pemberantasan Penyakit Polio Penemuan kasus AFP pada tahun 2009 mencapai 85 kasus (target : 42 kasus) dengan AFP rate 4 per 100.50 2.00 3.9 92 92 73 91 81 89. Pencapaian spesimen adekuat sebesar 92.33 6.00 6.00 4.000 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 94 .00 3.Gambar diatas menunjukkan sebagian besar wilayah yang mengalami KLB sudah memenuhi target pencapaian SPM. Hanya Kabupaten OKI.25 0.2 Kinerja Surveilans AFP Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 NO KABUPATEN/ KOTA KASUS AFP TARGET DITEMUKAN AFP RATE SPECIMEN ADEKUAT KELENGKAPAN LAPORAN (%) PKM RS 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 OKU OKI Muara Enim Lahat Musi Rawas Muba Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir 4 Lawang Palembang Prabumulih Pagar Alam L.00 2.00 8. Linggau SUMSEL 2 4 4 3 4 2 4 2 3 2 1 8 1 1 1 42 3 7 4 5 8 2 8 3 5 6 1 25 0 4 4 85 3. MURA. Pencapaian Kinerja Surveilans AFP dapat dilihat pada Gambar dibawah ini : Tabel 4. Lahat dan Muara Enim yang masih berada pada range 70-100%.0 per 100.2.00 3.5 100 100 100 100 100 0 92 0 75 75 92.00 4.

5 4 80 PGA 75 8 80 LGU B. Hal ini disebabkan karena dari target 1 (satu) kasus AFP.9 %.Tabel di atas menunjukkan bahwa AFP Rate di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 adalah 4. tahun 2009 Dari Gambar di atas terlihat hanya ada 1 (satu) kabupaten/kota yang tidak mencapai penemuan kasus dan spesimen adekuat yaitu Kota Prabumulih.25 80 PRB MUBA 0 0 80 100 2 80 OKI 100 3. (target: 80 %). yang berarti ada peningkatan dibanding tahun 2008 sebesar 3. selama tahun 2009 belum berhasil ditemukan.25 (target: 2).05 80 Sumber: Laporan Integrasi S-AFP.5 80 OKU 100 3 80 M. Gambar 4. Sedangkan specimen adekuat 92. Sebagian besar kabupaten/kota telah melaksanakan tatalaksana spesimen secara adekuat.9 dan tahun 2007 yang hanya 3. TN dan Cmpak. AFP Rate tertinggi pada Kota Pagar Alam dan Lubuk Linggau (rate 8.ASIN O.ILIR OKUT OKUS 75 8 80 100 4 80 100 6 80 100 3.ENI M 100 2 80 Spesimen Adekuat AFP Rate LHT 80 3.37 Persentase spesimen adekuat dan AFP Rate Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 100 80 60 40 20 0 PLG Spesimen Adekuat AFP Rate Target 92 6.0). Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 95 .9 4. Hanya Kota Prabumulih menunjukkan kinerja yang belum baik.3 80 100 3 80 4L 0 2 80 PROV 92.3 80 MURA 87.05.

Musi Rawas.3 * 90 58.9 53 90 PGA 100 100 90 LGU 81 100 90 B.7 100 90 OKU 100 100 90 M.ENI M 73. OKUS. TN dan Cmpak.4 0 90 77 * 90 75 * 90 87.ILIR OKUT OKUS 4 LWG PROV N 89.9 89 90 98. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 96 .4 84. Empat Lawang dan Kota Lubuk Linggau. Sementara di rumah sakit terdapat 3 kabupaten yaitu Kabupaten Muara Enim.Gambar 4.4 44 90 LHT 91 100 90 MURA 80. OKUT. Musi Rawas dan Banyuasin. tahun 2009 Gambar di atas menunjukkan bahwa pencapaian kelengkapan laporan nihil (zero report) dari puskesmas masíh ada yang belum mencapai target yaitu Kabupaten Muara Enim.ASI O.7 90 100 80 60 40 20 0 Sumber: Laporan Integrasi S-AFP.38 Pencapaian Kelengkapan Laporan Nihil (Zero Report) Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 120 100 80 60 40 20 0 PLG PKM RS Target 97 100 90 PRB 100 100 90 MUBA 91 100 90 OKI 91.

Gambar 4. Dari data penemuan kasus AFP yang ditemukan.39 Penemuan Kasus AFP Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2008 – 2009 27 24 21 18 15 12 9 6 3 0 2008 2009 Target OKU 3 3 2 OKI 3 7 4 M.ASIN OKUS 22 8 4 1 3 2 OKUT 4 5 4 O. tahun 2008-2009 Dari Gambar di atas menunjukkan bahwa penemuan kasus AFP bervariasi antara kab/kota yang satu dengan yang lainnya dan ada sebagian kab/kota yang mengalami peningkatan penemuan jika dibanding tahun 2008 yaitu Kabupaten OKI.OKUS.ILIR 10 6 2 4 LWG 0 1 1 PLG 14 25 8 PRB 0 0 1 PGA 2 4 1 LGU 2 4 1 Sumber: Laporan Integrasi S-AFP. juga diperhatikan status imunisasinya.Empat Lawang. MURA. Adapun gambaran kasus AFP dan status imunisasi pada tahun 2008 – 2009 dapat dilihat pada Gambar berikut: Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 97 . Pagar Alam.ENIM 9 4 4 LHT 4 5 3 MURA 5 8 4 MUBA 4 2 2 B.OKUT. Kota Palembang. dan Lubuk Linggau. Lahat. TN dan Cmpak.

4 tahun yaitu sebesar 48%. tahun 2008-2009 Dari Gambar di atas dapat kita lihat bahwa anak-anak yang terdiagnosa sebagai kasus AFP yang tidak mendapat imunisasi (0 dosis) sebesar 8% pada tahun 2008. tahun 2008-2009 Dari Gambar di atas terlihat bahwa kasus AFP pada tahun 2008 tertinggi terjadi pada kelompok umur 1 . Gambar 4. dan terendah pada Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 98 . TN dan campak.Gambar 4.41 Kasus AFP Non Polio Berdasarkan Kelompok Umur Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2008 .2009 Tahun 2008 5% 27% Tahun 2009 24% 2% 48% 20% 48% 26% < 1 TH 1-4 TH 5-9 TH 10-<15 TH < 1 TH 1-4 TH 5-9 TH 10-<15 TH Sumber: Laporan Integrasi S-AFP.2009 8% 10% 4% 15% 82% 81% 0 Dose 1-3 Dose >=4 Dose 0 Dose 1-3 Dose >=4 Dose Sumber: Laporan Integrasi S-AFP. Sementara untuk 1-3 dosis meningkat dari 10% pada tahun 2008 menjadi 15% pada tahun 2009. namun pada tahun 2009 menurun menjadi 4%. TN dan campak.40 Proporsi Status Imunisasi Kasus AFP Non Polio Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2008 . dan yang > 4 dosis menurun sebesar 1% jika dibandingkan pada tahun 2008.

2009 Tahun 2008 Tahun 2009 33% 38% 67% 62% CBS HBS CBS HBS Sumber: Laporan Integrasi S-AFP.4 tahun sebesar 48%. dan terendah pada kelompok umur < 1 tahun sebesar 2%. Gambar 4. Pada tahun 2009 tertinggi pada kelompok umur 1 . tahun 2008-2009 Dari Gambar diatas terlihat bahwa pada tahun 2008 penemuan kasus AFP terbanyak bersumber dari masyarakat (community) yaitu sebesar 67% dan pada tahun 2009 menurun menjadi 62%.42 Sumber Laporan Kasus AFP Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2008 . TN dan campak. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 99 .kelompok umur < 1 tahun yaitu sebesar 5%.

3.Gambar 4.43 AFP Rate per 100. Kegiatan ini meliputi upaya penemuan penderita dengan pemeriksaan dahak di sarana pelayanan kesehatan yang ditindaklanjuti dengan paket pengobatan. 4.3. Pemberantasan TB Paru Upaya pencegahan dan pemberantasan TB-Paru dilakukan dengan pendekatan DOTS (Directly Observe Treatment Shortcourse) atau Pengobatan TB-Paru dengan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO). 14 Kabupaten/kota lainnya sudah mencapai target SPM yaitu minimal 2.000 penduduk <15 tahun Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Dari gambar diatas terlihat bahwa hanya terdapat satu kabupaten yaitu Prabumulih yang belum memenuhi target SPM. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 100 . yaitu masih dibawah 1.

E yu O O . Pal I SR target Berdasarkan standar WHO. Pemberantasan Penyakit ISPA Pada tahun 2009 jumlah penemuan kasus P2 ISPA Provinsi Sumatera Selatan adalah 21.4.01%. Angka keberhasilan pengobatan penderita pada tahun 2009 di Provinsi Sumatera Selatan mencapai 94.6 % dari target terdiri dari target penemuan penderita sebanyak 68.7%) dan pada golongan umur 1-5 tahun sebanyak 300 kasus (1. M an M . Pada pneumonia berat untuk golongan umur <1 tahun sebanyak 570 kasus (2.7%) sedangkan kabupaten terendah yaitu Kabupaten Empat lawang dan Kota Pagaralam masing-masing sebsesar 0 (0%).A ng aw em P L Li L. Pada kasus pneumonia golongan umur <1 tahun sebanyak 6.182 kasus (53. Dilihat dari realisasi cakupan penderita berdasarkan target penemuan yang ada persentase tertinggi dicapai oleh kabupaten Lahat (80.07%) dan untuk golongan umur 1-5 tahun sebanyak 11.85%.10%) dari seluruh kasus pneumonia. Hanya Kabupaten Empat Lawang yang belum memenuhi target angka keberhasilan penyembuhan (success rate). E. Hasil kegiatan penemuan kasus dapat dilihat pada tabel terlampir.785 balita.B M O g g u ih m ul an ban la ga .059 kasus atau 30.Gambar 4. yaitu baru mencapai 60.m P.3.753 kasus (32.42%). 4.44 Angka Keberhasilan (Succes Rate) Pengobatan Penderita TB Paru BTA (+) Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 120 100 80 60 40 20 0 O KU O KI t s in T S m ha wa ni as KU KU La Ra . Belum dapat disimpulkan bahwa rendahnya penemuan ini didasari Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 101 . angka keberhasilan pengobatan penderita TB Paru minimal 85%.

06 100 OKI 19.56 100 PRAB P.73 100 0 100 L.4 100 4 LWG 0 100 PLG 42. Gambar 4.46 29.45 CDR Pneumonia Balita per Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 120 100 80 PERSENTASE 60 CDR TARGET 40 20 0 OKU CDR TARGET 36.73 100 OI 10.74 100 29.53 100 54.18 29.23 68.84 100 100 100 100 100 100 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Tabel 4.6 100 M.EN LAHA MUR M T A MUB A BA OKUS OKUT 8.oleh memang tidak terdapatnya penderita atau kurang aktifnya petugas dalam melakukan pelacakan kasus.AL U AM 0.42 22.3 Gambaran Penemuan kasus ISPA Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003 – 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Kab/Kota Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau Ogan Ilir OKUS OKU MURA Lahat OKI Banyuasin Muara Enim OKUT MUBA Empat Lawang 2003 6236 273 191 734 10251 2553 2206 3283 2429 3332 1535 - 2004 5447 201 11 856 9286 1010 326 3203 970 4316 1613 - 2005 7299 56 4 608 925 268 2857 889 806 1166 1732 4601 4195 1428 - 2006 7604 32 82 921 928 1326 2752 1064 556 1462 2099 4598 3151 1290 - 2007 7346 117 201 651 1099 2360 2971 2205 468 1719 2166 3927 1450 1829 - 2008 7006 13 1 43 492 1407 2119 2314 1240 1329 300 3537 270 1146 0 2009 6124 10 0 51 400 758 963 3450 997 1387 2407 3367 508 637 0 16 Provinsi 33027 27240 26834 27865 28509 21597 21059 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 102 .LIN PROP GGA INSI U 2.19 12.

46 Cakupan Penemuan Pneumonia Balita Program ISPA Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003 . Jumlah kasus tertinggi tahun 2009 yaitu terjadi di Kabupaten Musi Rawas dan Muara Enim dan Kota Palembang.8 2009 31.2 2004 33.6 2005 34 2006 35.8% pada tahun 2008 menjadi 31. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 103 . Terjadi penurunan kasus di tahun 2009. dibandingkan tahun sebelumnya.2009 50 40 30 20 10 0 2003 39.01 Realisasi Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari gambar diatas terlihat bahwa cakupan penemuan pneumonia mengalami penurunan dari 31.Kabupaten Empat Lawang tahun 2009 tidak ada kasus.2 2008 31.3 2007 39.01% pada tahun 2009. Gambar 4.

14 Kabupaten lainnya masih dibawah target. Untuk penyakit pneumonia.5.Gambar 4. Depkes RI melakukan revisi target SPM dari 86% diturunkan menjadi 60%. 4.47 Cakupan Penemuan Penderita Pneumonia Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Dari gambar diatas. Penanggulangan Penyakit HIV/AIDS dan PMS Penderita HIV/AIDS di Sumatera Selatan pertama kali ditemukan tahun 1995. Adapun distribusi penemuan kasus adalah sebagai berikut: Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 104 . Ditjen ISPA.3. hanya kabupaten Musi Rawas yang memenuhi target SPM minimal 60%. 13 kabupaten berada pada range terendah yaitu di bawah 50%. dan sejak itu jumlah penderita terus meningkat. terdiri dari 1 kabupaten yaitu Muara Enim berada pada range 50-60%.

Tabel 4. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 105 . 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 KAB/KOTA OKU OKI Muara Enim Lahat Musi Rawas Musi Banyuasin Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Empat Lawang Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau Sumatera Selatan JUMLAH KASUS HIV AIDS 7 8 2 0 0 1 2 0 2 1 1 3 2 2 0 0 1 2 1 1 0 0 51 45 0 1 1 1 15 5 85 70 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari tabel di atas terlihat bahwa penemuan HIV tertinggi terjadi di Kota Palembang yaitu 51 HIV dan 45 AIDS dan diikuti oleh Kota Lubuk Linggau yaitu 15 penderita HIV dan 5 AIDS. Gambar berikut menunjukkan bahwa sampai dengan tahun 2009 ada sebanyak 174 orang yang menderita AIDS dan masih dalam kondisi hidup dan masih mendapatkan pengobatan antiretroviral (ARV) secara teratur dan rutin.4 Distribusi Penemuan Kasus HIV / AIDS Melalui Klinik VCT Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 No.

Pembinaan Kesehatan Lingkungan Upaya pembinaan kesehatan lingkungan diarahkan pada masyarakat dan institusi yang memiliki potensi pengancam kesehatan masyarakat yang dilakukan secara berkala.48 Distribusi AIDS Menurut Kondisi Saat Dilaporkan Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 1995-2009 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 HIDUP JUMLAH 174 MENINGGAL 74 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 4. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 106 . Kegiatan pembinaan dimaksud mencakup upaya pemantauan.4.1.Gambar 4.4. antara lain melakukan pembinaan kesehatan lingkungan pada masyarakat dan institusi. Bentuk upaya yang dilakukan dalam peningkatan kualitas lingkungan. PEMBINAAN KESEHATAN LINGKUNGAN DAN SANITASI DASAR Faktor lingkungan mempunyai peran yang sangat besar dalam proses timbulnya gangguan kesehatan baik secara individual maupun masyarakat umum. surveilans vektor dan pengawasan Tempat-Tempat Umum (TTU) 4. Upaya pembinaan kesehatan lingkungan dan sanitasi dasar pada prinsipnya dimaksudkan untuk memperkecil atau meniadakan faktor risiko terjadinya penyakit atau gangguan kesehatan akibat dari lingkungan yang kurang sehat.

cakupan terendah Kabupaten Empat Lawang dengan cakupan 34.1 65.66 39.94 54.94 65. sirkulasi udara.41 %. Dengan kata lain Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 107 . 4.78 %.1.1.Alam Prabumulih Palembang 4 Lawang OI OKUT OKUS B.28 65.Linggau P.94 65.penyuluhan dan pemberian rekomendasi terhadap aspek penyediaan fasilitas sanitsai dasar (air bersih dan jamban).78 65.4. 48 %.94 65.Enim OKI OKU 0 10 20 30 98.Asin MUBA MURA LAHAT M.49 Cakupan Penduduk yang Menggunakan Sarana Air Bersih Menurut Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 L.19 67. Pengawasan Sarana Air Bersih Pengawasan sarana air bersih yang dilakukan melalui Supervisi maupun pelaporan yang diterima adalah sebagai mana tabel berikut: Gambar 4.66 %. dan lain-lain. Sedangkan Kabupaten Empat Lawang belum pernah ada laporan mengingat kabupaten tersebut pemekaran dari kabupaten Lahat. Dari 15 Kabupaten / Kota di Sumatera Selatan cakupan tertinggi Kota Lubuk Linggau dengan cakupan sebesar 98.94 77.19 70.57 65. Hal tersebut sudah menunjukan peningkatan bila dibandingkan dengan data tahun 2008 yaitu 62.94 40 50 60 70 80 90 100 Sumber : Subdin P2PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Berdasarkan gambar tersebut di atas cakupan penduduk yang menggunakan Sarana Air Bersih pada tahun 2009 yaitu sebesar 66.79 92.94 34. pencahayaan. Peningkatan tersebut disamping karena adanya proyek WSLIC-2 dan PAMSIMAS di Provinsi Sumatera Selatan juga karena semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya sarana air bersih. pengelolaan sampah.

465 96.036 299.20 67. 4.169 34.438.46 66.162 257.627 668.53 60.467.130 21.105 54.04 62.1.093 77. Penyehatan Perumahan Tabel 4.427 19.591 24. Untuk itu perlu terus disosialisasikan tentang pentingnya arti penggunaan air bersih yang memenuhi syarat kesehatan baik dari segi sarana maupun kualitas air yang digunakan.539 34.635 JUMLAH SELURUHNYA 6 57.857 80.688 31.215 1.62 67.025 818.34 76.256 140.786 116.056 7.850 716.60 71.637 59.72 70.581 145.940 523.106 JUMLAH DIPERIKSA 7 34.5 Persentase Rumah Sehat Menurut Kabupaten / Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 RUMAH NO KAB/KOTA PKM JUMLAH KK 1 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 OKU OKI MUARA ENIM LAHAT MUSI RAWAS MUSI BANYUASIN BANYUASIN OKU SELATAN OKU TIMUR OGAN ILIR EMPAT LAWANG KOTA PALEMBANG KOTA PRABUMULIH KOTA PAGAR ALAM KOTA LUBUK LINGGAU 2 3 14 23 22 27 27 25 29 14 22 21 8 38 7 6 8 291 4 62.10 66.020 56.231 13.070 JUMLAH PDDK 5 267.280 331.992 217.451 101.005 152.860 1.51 68.209 207.657 JUMLAH SEHAT 8 20.872 1.4.225 15.648 158.298 31.368 92.704 159.246 88.288 61.402 134.879 581.317 144.069 61.663 213.346 117.307 41.927 150.301 58.009 82.796 % SEHAT 9 58.368 65.70 JUMLAH (KAB/KOTA) Sumber : Subdin P2PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 108 .778 71.055 505.074.82 64.532 27.738 43.802 52.665 384.00 70. Disamping itu peran tenaga kesehatan yang memberikan bimbingan kepada masyarakat tentang pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat.222.04 61.12 57.775 21.545 9.341 341.862 1.554 14.075 12.005 110.2.322 178.79 54.494 58.980 153.485 97.486 186.127 199.618 18.peningkatan tersebut tidak terlepas dari kesadaran masyarakat akan penggunaan sarana air bersih baik yang dibangun secara mandiri maupun oleh pemerintah.416 15.824.938 137.022 707.503 27.594 45.032 163. Disadari juga bahwa penyakit yang timbul melalui media air ini cukup banyak.

46 61. dan Persentase terendah terdapat pada Kabupaten Musi rawas dengan Persentase 54.50 Persentase Rumah Sehat Menurut Kabupaten / Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 90 85 80 75 70 65 60 55 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 O 76. Gambar 4.51 68.12 71.58 57.62 %.Dari Gambar diatas.82 67.6 70.79 63.7 % Pencpaian I KU OK M E t ha RA BA La MU MU BA O KU S O KU T O I 4L G M PL PB I PA LLG INS V O PR Kab / Kota Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 109 . Cakupan tertinggi di Kota Palembang denga persentase 76.62 66.2 54.53 60.34 67. terlihat bahwa cakupan Rumah Sehat secara umum sudah mencapai lebih dari 50 %.04 62.1 66.82 %.04 58.72 70.

terlihat bahwa cakupan Pembuangan Air Limbah Rumah Tangga di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 sekitar 56.79 10 20 30 36. Dari 15 kabupaten/kota.45 90.36%).36 23. dan Ogan Komering Ilir (15.26%).Sarana Pembuangan Air Limbah Gambar 4. Jika dilihat per kabupaten/kota variasinya masih sangat besar perbedaannya (Rentang :15.04 0 24. ada 1 (satu) kabupaten yang belum tersedia datanya yaitu kabupaten Empat Lawang.4.81 75.48 84.51 Persentase Cakupan Sarana Pembuangan Air Limbah Menurut Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Sumsel OKU OKI Muara Enim Lahat Musirawas Musi Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Empat Lawang Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau 0 15.4.15 50.04%). sedangkan persentase cakupan tertinggi di Kabupaten Ogan Ilir (90.48%) kemudian diikuti Kota Palembang (84.6%.21 75 40 50 60 70 80 Sumber : Subdin P2PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Dari Gambar di atas.93 15.81 46.04% 90.48%). Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 110 .1.26 83.6 58.46 56.37 90 100 23. Cakupan terendah terjadi di Kabupaten Banyuasin (15.3.

bionomik serta strategi pengendaliannya.35% (Rentang: 6. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 111 . Pada tahun 2009 dari 15 Kabupaten/Kota.1.0%) dan terendah (40.05 6.92 70. hanya 4 Kabupaten/Kota yang tidak menyampaikan data tentang Persentase Rumah/Bangunan yang bebas jentik.7%) terjadi di Kabupaten OKI (6.4. 4.35 59.52 Persentase Cakupan Jamban Keluarga Menurut Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Sumsel OKU OKI Muara Enim Lahat Musirawas Musi Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Empat Lawang Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau 0 55. Cakupan tertinggi terjadi di Kota Pagar Alam (91.38 91 70.38 77.91. terlihat bahwa cakupan Jamban Keluarga di Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 baru mencapai 55.0%).38% .4. Kegiatan yang dilakukan meliputi survei vektor untuk mengetahui jenis potensial.2.48 65.55 89.74 48.2 23. Sarana Jamban Keluarga Gambar 4.87 56.57% pada tahun 2008 menjadi 70.81 45. Surveilans Vektor Upaya surveilans vektor dilakukan untuk mengendalikan vektor potensial dalam penularan penyakit antara lain oleh nyamuk.38%).16 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Sumber : Subdin P2PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Dari Gambar di atas.6 84.4. sehingga Angka Bebas Jentik di Provinsi Sumatera Selatan meningkat dari 26.4.3 0 85.53% pada tahun 2009.

Gambar 4. Hyrcanus An.barbirostris An.03 84.3.6 Jenis Vektor Malaria Menurut Kabupaten / Kota No.53 Persentase Angka ABJ Penyakit DBD Menurut Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Sumsel OKU OKI Muara Enim Lahat Musirawas Musi Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Empat Lawang Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau 0 0 73.81 83.54 0 74.6 52.01 74. Hyrcanus Survei tahun 2007 Perkebunan Tidak ditemukan Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 4.Umbrosus An.04 81. Hyrcanus An. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kabupaten / Kota Ogan Komering Ulu Ogan Komering Ilir Muara Enim Lahat Musi Rawas Musi Banyuasin Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Palembang Pagar Alam Prabumulih Lubuk Linggau Vektor/Suspek An. Bentuk kegiatan yang dilakukan antara lain meliputi pengawasan kualitas lingkungan TTU dan TUPM secara berkala.6 72.Umbrosus An.4. Pengawasan Tempat-Tempat Umum dan Tempat Pengelolaan Makanan Pengawasan terhadap Tempat-Tempat Umum (TTU) dan Tempat Pengelolaan Makanan (TUPM) dilakukan untuk meminimalkan faktor risiko sumber penularan bagi masyarakat yang memanfaatkan TTU dan TUPM.84 89.65 0 0 74.vagus Tidak ditemukan Tidak ditemukan Tidak ditemukan An.49 88.vagus An.92 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Tabel 4.barbirostris Tahun Survei Survei jentik 2005 Survei tahun 2007 Survei tahun 2007 Survei jentik 2005 Survei tahun 2007 Survei jentik 2005 Survei jentik 2005 Tempat Perindukan Kolam Perkebunan Perkebunan Kolam Perkebunan Perkebunan Genangan air Genangan air Tidak ditemukan An.5 13. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 112 .

8 82. (100 %).7 68. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 113 .8 55.2 54.418 % 6 81.4 82.0 66.2 69.533 451 181 21 6.752 250 153 21 5.243 166 68 268 409 408 445 90 2.730 DIPERIKSA 4 234 144 1.7% (Rentang : 54.7 72.243 166 68 88 346 192 374 90 1.2 68.8% .7 JUMLAH (KAB/KOTA) Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari tabel diatas.4 60. penyuluhan dan saran perbaikan dalam pengelolaan lingkungan yang sehat.204 201 126 21 3.bimbingan.7 Cakupan Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM) Sehat Menurut Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 NO 1 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 KAB/KOTA 2 OGAN KOMERING ULU OGAN KOMERING ILIR MUARA ENIM LAHAT MUSI RAWAS MUSI BANYUASIN BANYUASIN OKU SELATAN OKU TIMUR OGAN ILIR EMPAT LAWANG KOTA PALEMBANG KOTA PRABUMULIH KOTA PAGAR ALAM KOTA LUBUK LINGGAU TERDAFTAR 3 298 149 1.7 80.2 68. Cakupan tertinggi di Kota Lubuk Linggau sedangkan terendah terjadi di Kabupaten Lahat (54.100%). hingga pemberian rekomendasi untuk penerbitan izin usaha.8 %).4 100. terlihat bahwa cakupan Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM) sehat di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 sekitar 66.1 67. Tabel 4.121 MS 5 190 99 686 91 56 53 239 130 257 65 1.

14 100 91. Tabel 4.88 0 100 47.12 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari tabel di atas menunjukan bahwa cakupan pengawasan Sarana Ibadah tertinggi di Kabupaten Musi Rawas. Kota Lubuk Linggau(100%) dan terendah Lahat.9 Cakupan TTU – I Sarana Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 No Kab / Kota Σ 1 2 3 4 5 6 7 OGAN KOMERING ULU OGAN KOMERING ILIR MUARA ENIM LAHAT MUSI RAWAS MUSI BANYUASIN BANYUASIN 342 10 551 0 639 538 0 Institusi Pendidikan Dibina 255 10 524 0 639 233 0 %Dibina 74.95 0 100 70.3 0 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 114 . Kota Palembang.94 100 0 100 94.Tabel 4.8 Cakupan Sarana Ibadah Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Kab / Kota Σ OGAN KOMERING ULU OGAN KOMERING ILIR MUARA ENIM LAHAT MUSI RAWAS MUSI BANYUASIN BANYUASIN OKU SELATAN OKU TIMUR OGAN ILIR EMPAT LAWANG KOTA PALEMBANG KOTA PRABUMULIH KOTA PAGAR ALAM KOTA LUBUK LINGGAU 288 342 640 0 871 244 0 13 616 327 0 1361 78 165 287 Sarana Ibadah Dibina 202 342 588 0 871 117 0 13 437 327 0 1361 74 165 166 % 70.84 SUMSEL 5232 4663 89. dan Banyuasin 0 %.87 100 57. Ogan Ilir.Empat Lawang.10 0 100 43.56 100 95.

No 10 11 12 13 14 15 Kab / Kota Σ OGAN ILIR EMPAT LAWANG KOTA PALEMBANG KOTA PRABUMULIH KOTA PAGAR ALAM KOTA LUBUK LINGGAU SUMSEL 589 0 708 140 111 0 4537 Institusi Pendidikan Dibina 275 0 708 126 47 0 3584 %Dibina 46. Pemantauan Pertumbuhan Balita Upaya pemantauan status gizi pada kelompok balita difokuskan melalui pemantauan terhadap pertumbuhan berat badan yang dilakukan melalui kegiatan penimbangan di Posyandu secara rutin setiap bulan. 4.5.2.69 0 100 90 42. Pemberian Kapsul Vitamin A Upaya perbaikan gizi juga dilakukan pada beberapa sasaran yang diperkirakan banyak mengalami kekurangan terhadap vitamin A. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 115 . Gangguan Akibat Kekurangan Yodium. PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT Upaya perbaikan gizi masyarakat pada hakikatnya dimaksudkan untuk menangani permasalahan gizi yang dihadapi masyarakat.5. kekurangan vitamin A.98%. Berdasarkan pemantauan yang telah dilakukan ditemukan beberapa permasalahan gizi yang sering dijumpai padsa kelompok masyarakat adalah kekurangan Kalori Protein.5.1. serta pengamatan langsung terhadap penampilan fisik balita yang berkunjung di fasilitas pelayanan kesehatan.99 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 4. 4. dan anemia gizi besi. yang dilakukan melalui pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi pada bayi dan balita yang diberikan sebanyak 2 kali dalam satu tahun (Februari dan Agustus) dan pada ibu nifas diberikan 1 kali.34 0 78. Cakupan distribusi kapsul Vitamin A balita tahun 2009 sebesar 83.

76 91.69 85.28 92. Pemberian Tablet Besi Pelayanan pemberian tablet besi dimaksudkan untuk mengatasi kasus Anemia serta meminimalisasi dampak buruk akibat kekurangan Fe khususnya yang dialami ibu hamil.89 92.23 93.23% dan Fe3 sebesar 80.48 56.5.82 91.7 73.3.19 86. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 116 . Cakupan Fe1 dan Fe3 ini meningkat dibandingkan dengan tahun 2008 yaitu cakupan Fe1 75.36 65.58 96.44 20 40 60 80.24 79. 4.26 74.08 71.5 80 100 120 Fe1 Fe3 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Cakupan distribusi tablet besi folat tahun 2009 yaitu Fe1 sebesar 86.55 87.49 64.44 73.4.83 79.57 39.14 91. Bayi dengan ASI Eksklusif ASI adalah satu-satunya makanan dan minuman yang dibutuhkan oleh bayi hingga berusia enam bulan (ASI Ekslusif).54 Persentase Pemberian Tablet Besi Pada Ibu Hamil (Fe1 dan Fe3) Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Sumsel OKU OKI Muara Enim Lahat Musirawas Musi Banyuasin Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Empat Lawang Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau 0 86.26%. Riset Medis mengatakan bahwa ASI Eksklusif membuat bayi berkembang dengan baik pada 6 bulan pertama bahkan pada usia lebih dari 6 bulan.83 79.4.9 81.12 89.21% dan Fe3 sebesar 67.26 92.76 75. Persentase pemberian tablet besi pada ibu hamil (Fe-1 dan Fe-3) pada tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar berikut ini : Gambar 4.6 73.89 96.15 69.32%.66 81.18 93.5.

Upaya tersebut dimaksudkan untuk (1) menjamin ketersediaan. mutu.94 49.97 73.63 31.33 19.44 11.63%).63%) sedangkan yang terendah dicapai oleh Kabupaten OKU Timur (77. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 117 .83 19.51 12.33% (Rentang: 6. Cakupan tertinggi dicapai oleh Kabupaten Ogan Ilir (77. dan keamanan.26 74.27 46.39 6.Cakupan pemberian ASI Eksklusif pada bayi di Provinsi Sumatera Selatan menurut Kabupaten/Kota pada tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar berikut ini: Gambar 4.29 31.44%-77.4 11. pemerataan obat generik dan obat esensial yang bermutu bagi masyarakat. (2) mempromosikan penggunaan obat yang rasional dan obat generik. keterjangkauan.22 10 20 30 77.6.19 40 50 60 70 80 90 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Pada Gambar terlihat bahwa cakupan pemberian ASI Ekslusif di Provinsi Sumatera Selatan mencapai 36. (3) meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian di farmasi komunitas dan farmasi klinik serta pelayanan kesehatan dasar.55 Cakupan Pemberian ASI Eksklusif pada Bayi Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Sumsel OKU OKI Muara Enim Lahat Musirawas Musi Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Empat Lawang Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau 0 36. PELAYANAN KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN Upaya pelayanan kefarmasian dan alat kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya pelayanan kesehatan secara paripurna.63%). 4. serta (4) melindungi masyarakat dari penggunaan alat kesehatan yang tidak memenuhi persyaratan .26 48.05 15.

standar/pedoman pengelolaan perbekalan farmasi di rumah sakit. Pelayanan Farmasi Komunitas dan Farmasi Klinik Upaya ini dimaksudkan untuk meningkatkan profesionalisme tenaga farmasi dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan farmasi omunitas dan pelayanan farmasi klinik.89% dan injeksi 26. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 118 . yang pelaksanaannya mencakup pengadaan buffer stock obat generik esensial.6. serta peningkatan kapasitas dan kompetensi SDM farmasi. Pada saat ini Kabupaten OKU yang memberikan laporan secara rutin dimana pemakaian antibiotik 54.6. Penerapan Penggunaan Obat Esensial Generik Kegiatan ini dimaksudkan agar terjaminnya ketersediaan.3. Peningkatan Penggunaan Obat Rasional Upaya peningkatan penggunaan obat rasional. Penggunaan Obat Rasional (POR) diukur dengan 2 (dua) indikator yaitu pemakaian antibiotik dan injeksi pada 3 kasus penyakit yaitu Diare Non Spesifik. dan pemerataan obat dalam pelayanan kesehatan.2. revitalisasi pemasyarakatan konsepsi obat esensial dan penerapan penggunaan obat esensial generik pada fasilitas pelayanan pemerintah maupun swasta. yang dilaksanakan antara lain mencakup penyusunan standar/pedoman pelayanan farmasi komunitas dan pelayanan farmasi di rumah sakit.48% menurun dibandingkan tahun 2008 yaitu pemakaian antibiotik 63. dan Myalgia. diarahkan kepada peningkatan cakupan dan kualitas pelayanan pembinaan penggunaan obat yang rasional melalui pelaksanaan advokasi secara lebih internsif agar terseujud dukungan masyarakat yang kondusif serta terbangunnya kemitraan dengan unit pelayanan kesehatan formal. 4.6. keterjangkauan. ISPA Non Pneumonia.1. 4.4.19%. Pada tahun 2009 ketersediaan obat esensial di Provinsi Sumatera Selatan sudah mencapai 90%.27% dan injeksi 21.

M. 175 terendam. mutu dan keamanan.4.10 berikut : Tabel 4. Banyu Asin Kota Pagar alam Kab OKU Kota Palembang Kab. Pemberdayaan Masyarakat dalam Penggunaan Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT) Kegiatan ini dimaksudkan agar masyarakat terlindungi dari penggunaan alat kesehatan dan perbekalan kesehatan rumah tangga yang tidak memenuhi persyaratan.Muba Pagar alam Lahat Kab OKUS Kab Banyu Asin Kab OKI Kab Musi rawas Kab lahat JENIS BENCANA Banjir Banjir Banjir Kebakaran Banjir & tanah longsor Angin Putting Baliung Kebakaran Banjir Kebakaran Kebakaran Tanah Longsor Rawan pangan Banjir Bandang Banjir Pasang Banjir Pasang Banjir Putting Beliung Banjir banding Kebakaran Angin Putting Beliung Angin Putting Beliung Banjir Bandang Angin Putting Beliung KET 825 rumah terendam Sawah & Perkebunan 2459 rumah terendam 1 unt rumah Jln desa R. Muba Kab.B. 6 RB.4.7. 3 hanyut. 22 RR 54 rmh rusak 12 rmh roboh. 1 jembatan RB 28 rmh RR 2 2004 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 119 . PELAYANAN KESEHATAN DALAM SITUASI BENCANA Data kejadian bencana di Provinsi Sumatera Selatan dari tahun 2003 – 2009 dapat dilihat pada tabel 4. 4.Enim Kab OKU Kab OKI Palembang 8 ilir Kab Lahat Kab Banyu Asin Palembang Ilir Barat I Kab Musi rawas Palembang Ilir Timur II Musi Rawas Srikaton Kab. Berat 8 unt rumah 1 SD 1 unt rumah 8 bedeng 7272 KK/130594 jiwa 24 unt bedeng terbakar 100 kios 8 rumah 1 Musholla hancur 2624 KK 42 KK 1200 unt rmh 25 sekolah 2350 KK 307 KK 42 rmh R. yang dilaksanakan melalui antara lain monitoring sarana produksi dan distribusi alat kesehatan dalam rangka Cara Pembuatan Alat Kesehatan (CPAK).18 RR 80 KK 204 rmh hangus 4 rumah RB.10 Data Kejadian Bencana Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003 .6.2009 NO 1 TAHUN 2003 LOKASI BENCANA Kab.

Banyu Asin Kab lahat Kab OKUT Kab OKI Kab OI Kab Mura Pagar alam Palembang Gandus Kab OKUS Lahat Rantau Tenang Lahat Batu Pance Ogan Ilir Muara Enim Lahat Suka Dana Mura Ogan Ilir Lahat Simpang 3 Pumu Lahat Seleman Ilir Palembang Seberang ulu 1 OKUS Bumi agung JENIS BENCANA Banjir Banjir Banjir Banjir Banjir Banjir Banjir Angin Putting beliung Amuk Gajah Kebakaran Kebakaran Angin putinh beliung Kebakaran Angin Putting Beliung Kebakaran Angin Putting Beliung Kebakaran Kebakaran Kebakaran Banjir Banjir Banjir Banjir Banjir Banjir Banjir Kebakaran Banjir & T.Longsor Kebakaran Kebakaran Angin putting beliung Tanah longsor Kebakaran Angin Putting Beliung Angin Putting Beliung Kebakaran Kebakaran Kebakaran Kebakaran KET 126 unit rmh roboh 12 nir rumah 14 unt rumah 1 sekolah 3 unit rmh rusak 141 unt rumah 16 unt rmh rusak 2 unt rumah 11 unit rumah 1 unit hotel 9 unt rumah +3m +3m +3m 6509 Ha sawah terendam 272 Ha sawah terendam +3m 5 unit rumah 73 KK 2 unt rumah 11 unir rumah hangus & 5 unt R.berat 49 rumah roboh 47 unt rumah 17 rumah roboh 18 unt rumah 6 unt rumah 39 unt rumah 29 unt rumah Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 120 .NO 3 TAHUN 2005 4 2007 LOKASI BENCANA Kab OKUT Kab OI Kab. Muara Enim Kab OKI Kab Lahat Kota Prabumulih Kab Muba Kab Muba OKU Selatan Muara Enim Palembang kertapati Mura Pagar alam OKI Palembang Banyu Asin Palembang Karang anyar Palembang 17 ilir Palembang 3/4 ulu Kab.

JENIS BENCANA Gempa Bumi Angin Puting Beliung Angin Puting Beliung Angin Puting Beliung Angin Puting Beliung Banjir Angin Puting Beliung Angin Puting Beliung Angin Puting Beliung Kebakaran Kebakaran Kebakaran Kebakaran Kebakaran Kebakaran Banjir Banjir 6 2009 Banjir Kebakaran Kebakaran SPPBU Terapung terbakar Muara Enim Angin Puting Beliung Sumber : Bidang P2PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 TAHUN 2008 LOKASI BENCANA Lahat Jarai Lahat OKU Selatan OKI Palembang Muara Enim Gn.NO 5. Linggau Empat lawang Palembang OKU Selatan Ogan Ilir Musi Rawas OKI Pagar Alam Banyuasin Palembang KET 100 unit rumah 34 unit rumah terbakar 45 unit rumah terbakar 1unit rumah terbakar. Megang Ogan Ilir Muara Enim Banyuasin Ogan Ilir OKU Timur Lbk. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 121 . 1 unit rumah rusak berat 352 unit rumah rusak berat Dari tabel di atas terlihat bahwa Wilayah Sumatera Selatan sebagian besar merupakan daerah rawan bencana yang perlu mendapatkan perhatian dari unsur-unsur terkait. sehingga terdapat koordinasi yang saling mendukung apabila terjadi Bencana.

62 per 100. sarana Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM). dan pembiayaan kesehatan.1. Jumlah Puskesmas dan Rasionya Terhadap 100. SARANA KESEHATAN Pada bab ini diuraikan tentang sarana kesehatan di antaranya puskesmas. kemudian meningkat terus menjadi 3. dan institusi pendidikan tenaga kesehatan.1. tenaga kesehatan.1. jumlah puskesmas (termasuk puskesmas perawatan) terus meningkat dari 235 unit pada tahun 2002 menjadi 291 unit pada tahun 2009.70 per 100. yang dapat dilihat pada bab ini.000 penduduk pada tahun 2006 dan meningkat lagi menjadi 4 per 100.2009 8000000 7000000 6000000 5000000 4000000 3000000 2000000 1000000 0 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Rasio Puskesmas / 100. Gambar 5.000 Penduduk Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003 . adalah sebagai berikut : 5.000 penduduk pada tahun 2009.000 penduduk pada tahun 2005. Puskesmas Pada periode tahun 2003 – 2009.58 per 100.BAB 5 SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN Gambaran mengenai situasi sumber daya kesehatan dikelompokkan menjadi sarana kesehatan.000 penduduk 350 250 200 150 100 50 0 Jumlah Puskesmas 300 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page122 . Namun rasio puskesmas mengalami penurunan dari 3. 5.000 penduduk pada tahun 2003 menjadi 3.1. rumah sakit.

ILIR OKUT OKUS B. hal ini disebabkan beberapa puskesmas pembantu ditingkatkan statusnya menjadi puskesmas. berikut ini : Gambar 5. jumlah puskesmas pembantu.3 dan gambaran jumlah Puskesmas Pembantu menurut kabupaten/kota pada tahun 2009 disajikan pada gambar 5.2.000 penduduk pada tahun 2003 – 2009 disajikan pada gambar 5.000 penduduk rata-rata dilayani oleh 4 puskesmas. di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 dapat dilihat pada gambar 5. Gambaran Puskesmas Pembantu dari tahun 2003 – 2009 dapat dilihat pada gambar 5.1 di atas.LINGGAU P. justru mengalami penurunan dari 937 unit pada tahun 2003 menjadi 919 pada tahun 2007. Jumlah puskesmas dan rasio puskesmas terhadap 100.2. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page123 .Hal ini berarti bahwa pada periode tersebut setiap 100.ENIM OKI OKU 0 5 6 8 7 8 14 21 22 25 22 23 20 25 29 27 27 38 14 10 15 30 35 40 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Pada periode yang sama.4.ALAM PRABUMULIH PALEMBANG EMPAT LWG O. Selanjutnya distribusi puskesmas menurut kabupaten/kota.ASIN MUBA MURA LAHAT M. Jumlah Puskesmas Menurut Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 L.

RSUD milik kabupaten/kota Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page124 .4. Jumlah Puskesmas Pembantu Menurut Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 MURA MUARA ENIM MUBA BANYUASIN LAHAT OKI PALEMBANG OKU TIMUR OKU OKU SELATAN OGAN ILIR L. Jumlah Puskesmas Pembantu Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003 – 2009 950 940 930 920 910 900 890 Pustu 2003 937 2004 944 2005 920 2006 942 2007 914 2008 920 2009 920 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Gambar 5.LINGGAU MURA P.3.Gambar 5. Kategori rumah sakit yang dimaksud adalah 1) rumah sakit pemerintah yang terdiri dari rumah sakit vertikal (milik Depkes RI).ALAM 0 107 104 104 137 57 24 31 46 66 98 94 18 17 16 20 40 60 80 100 120 140 160 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 5.2.1. Rumah Sakit Indikator yang digunakan untuk menilai perkembangan sarana rumah sakit antara lain dengan melihat perkembangan fasilitas perawatan yang biasanya diukur dengan jumlah rumah sakit dan tempat tidurnya serta rasionya terhadap jumlah penduduk.

Gambar 5. rumah bersalin. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page125 . rumah sakit swasta juga mengalami penurunan dari 18 unit pada tahun 2002 menjadi 17 unit pada tahun 2009. Swasta dan Khusus Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2002 – 2009 30 20 10 0 Pemerintah Swasta Khusus 2002 8 18 3 2003 12 9 12 2004 14 13 8 2005 15 20 4 2006 20 10 8 2007 22 10 8 2008 22 10 8 2009 22 17 8 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Pada Gambar di atas terlihat bahwa jumlah rumah sakit pemerintah cenderung meningkat dari 8 unit pada tahun 2002 menjadi 22 unit pada tahun 2009.5 Jumlah Rumah Sakit Pemerintah.dan rumah sakit milik TNI / Polri. sehingga setiap daerah pemekaran berupaya untuk membangun rumah sakit di wilayahnya masing-masing. 2) rumah sakit swasta dan 3) rumah sakit khusus seperti rumah sakit ibu dan anak. Peningkatan jumlah rumah sakit disebabkan adanya pemekaran wilayah kabupaten/kota.

dan penanggulangan Diare. 06. Posyandu menyelenggarakan minimal 5 program prioritas.1 Jumlah Rumah Sakit Pemerintah. 13.774 Swasta/Private RSU (4) 1 1 2 10 2 1 17 TT (5) 50 97 119 1261 230 30 1. Gambaran perkembangan Posyandu dari Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page126 .3. Posyandu Purnama. Swasta dan Khusus Menurut Kapasitas Tempat Tidur Kabupaten / Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Kabupaten / Kota (1) OKU OKI Muara Enim Lahat Musi Rawas Musi Banyuasin Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Empat Lawang Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau Jumlah Pemerintah / Government RSU TT (2) (3) 2 238 1 176 2 186 2 212 2 167 3 177 1 100 1 95 4 1.1. 15. Posyandu Madya. Posyandu dikelompokkan ke dalam 4 strata. 04. imunisasi. 07. POD (Pos Obat Desa) dan sebagainya. perbaikan gizi. dan Posyandu Mandiri. 12.110 1 137 1 120 1 56 21 2. Untuk memantau perkembangannya. 22 3 1 2 46 2813 367 120 86 5303 Sumber : Subdin Pelayanan Kesehatan Dinkes Provinsi Sumatera Selatan 5. 05.Tabel 5. 02. Toga (Tanaman Obat Keluarga).787 Khusus/Special RSU (6) 1 8 9 TT (7) 300 442 742 Jumlah/Total RSU (8) 3 1 3 2 2 3 2 3 TT (9) 288 176 283 212 167 177 400 214 01. keluarga berencana. yaitu Posyandu Pratama. 14. Posyandu merupakan salah satu bentuk UKBM yang paling dikenal di masyarakat. Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM) di antaranya adalah Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu). yaitu kesehatan ibu dan anak. 03. 11. Sarana Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat Dalam rangka meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan kepada masyarakat berbagai upaya dilakukan dengan memanfaatkan potensi dan sumber daya yang ada di masyarakat. 10. 09. Polindes (Pondok Bersalin Desa). 08.

Linggau 0 286 424 415 462 340 167 111 113 99 100 200 300 400 500 600 700 800 400 370 889 534 589 753 900 1000 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page127 .451 unit pada tahun 2002 menjadi 5. Gambar 5.786 pada tahun 2006 dan kemudian meningkat lagi pada tahun 2008 menjadi 6.2009 7000 6500 6000 5500 5000 Posyandu 2002 6451 2003 6298 2004 6201 2005 6349 2006 5786 2007 6231 2008 6397 2009 5952 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Pada gambar di atas terlihat bahwa jumlah posyandu sempat mengalami penurunan dari 6.7 Jumlah Posyandu Menurut Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 OKU OKI M.7 berikut ini. Gambar 5.tahun 2002 – 2009 dan jumlah posyandu menurut kabupaten/kota dapat dilihat pada gambar 5.397 dan kembali menurun pada tahun 2009 menjadi 5. Palembang Prabumulih P.Enim Lahat MURA MUBA B.6 dan gambar 5.Asin OKUS OKUT Ogai Ilir Empat L.Alam L.6 Jumlah Posyandu Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2002 .952.

79 1 1 0. Palembang Prabumulih P.95 Sumber: Bidang Promkes Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page128 .2 0.64 0.Alam L.7 0.Gambar 5.24 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Desa siaga adalah desa yang memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan untuk mencegah dan mengatasi masalah/ancaman kesehatan (termasuk bencana dan kegawat-daruratan kesehatan) secara madiri dalam rangka mewujudkan desa sehat.4 6.53 0. Purnama dan Mandiri Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 50 42.2 0.6 0. Madya.84 40 30 20 10 0 Pratama Madya Purnama Mandiri 14.72 0. peduli. dan tanggap terhadap permasalahan kesehatan di wilayahnya.52 36. Tujuan desa siaga adalah untuk mewujudkan masyarakat desa yang sehat.73 0.4 0.56 0.82 1 1 1 1. Berikut adalah persentase Poskesdes terhadap desa/kelurahan: Gambar 5.Enim Lahat MURA MUBA B.76 0.44 0.9 Rasio Poskesdes terhadap Desa/Kelurahan Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 OKU OKI M.8 Persentase Posyandu Pratama.Linggau 0 0.Asin OKUS OKUT Ogai Ilir Empat L. Salah satu kriteria desa siaga adalah minimal memiliki 1 (satu) Poskesdes (Pos Kesehatan Desa).8 0.

dengan rasio terhadap desa/kelurahan adalah 0. OKU. kota Pagar Alam dan Lubuk Linggau (1). OKUS.75. Gambar 5. tetapi cakupan desa siaga di kedua Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page129 . artinya setiap desa di wilayah tersebut sudah memiliki Poskesdes. OI.44).Jumlah Poskesdes tahun 2009 di Provinsi Sumatera Selatan adalah 2. Berdasarkan rasio jumlah Poskesdes terhadap jumlah desa pada gambar diatas. dan Empat Lawang. 2 Kabupaten berada pada range antara 50%-65% yaitu kabupaten OKU Selatan dan Kota Lubuk Linggau.320 unit. Kabupaten OKUS dan Kota Lubuk Linggau memiliki rasio 1. 4 Kabupaten belum memenuhi target SPM dan berada pada range terendah dibawah 50% yaitu Kabupaten OKI. Rasio tertinggi terdapat di kabupaten MUBA.10 Cakupan Desa Siaga Aktif Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Dari gambar diatas menunjukkan distribusi desa siaga terdiri dari. 8 Kabupaten/kota lainnya sudah memenuhi target SPM minimal 65%. Rasio terendah terdapat di kabupaten Lahat (0.

07.Jurusan Kes. hanya beberapa institusi yang menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan untuk pembinaannya.Jurusan Analis .2 Jumlah Institusi Diknakes Menurut Jenis Pendidikan Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 No. Sebaliknya kabupaten Lahat memiliki rasio jumlah poskesdes terhadap jumlah desa paling rendah yaitu 0.5. 06.Jurusan Kebidanan . Gigi Akademi Keperawatan Akademi Kebidanan Akademi Kesehatan Lingkungan Akademi Farmasi Akademi Fisiotherapi APIKES SMF JUMLAH Status Kepemilikan Swasta Daerah 9 18 1 2 1 1 1 33 1 1 2 Jumlah 3 1 1 1 1 1 10 19 2 2 1 1 1 44 Pemerintah 3 1 1 1 1 1 8 TNI 1 1 02.Jurusan Gizi . 05.Jurusan Keperawatan . Jenis Institusi Poltekkes .1. Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page130 .Jurusan Farmasi . 5. Tabel 5.44. tetapi cakupan desa siaga aktif memenuhi target SPM (warna hijau). Institusi Pendidikan Tenaga Kesehatan Pendidikan tenaga kesehatan dimaksudkan untuk meningkatkan ketersediaan dan kualitas tenaga kesehatan dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat.wilayah tersebut belum mencapai target SPM (warna kuning). Pendidikan kesehatan diselenggarakan oleh pemerintah dan swasta melalui berbagai institusi pendidikan di berbagai jenjang. Tabel 5. 08. 03.2 menyajikan tentang penyebaran jenis institusi pendidikan tenaga kesehatan yang dibina oleh Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan. Seiring dengan pelaksanaan otonomi daerah dan diberlakukannya undangundang nomor 20 tahun 2004 tentang pendidikan nasional. dari seluruh institusi pendidikan tenaga kesehatan yang ada di Provinsi Sumatera Selatan. 01. 04.

Paramedis.169 108 103 68 Prabumulih 97 613 34 2 36 Pagar Alam 26 202 20 4 11 Lubuk Linggau 15 210 19 12 12 Jumlah 1. Pada tabel 5. 07. 05. Jumlah Tenaga Kesehatan Menurut Golongan Medis. 04.3. masih ada institusi pendidikan tenaga kesehatan yang menyelenggaranan strata 1 seperti Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan baik negeri maupun swasta 5. Data yang ada diperoleh dari pengelolah program di Subdin Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan. 03. 13. 11. 09. 08. Tabel 5. 10. paramedis dan tenaga kesehatan lainnya.3 disajikan jumlah tenaga kesehatan menurut golongan medis.201 8. 02.966 627 170 414 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page131 . 15. 06.2. TENAGA KESEHATAN Data mengenai tenaga kesehatan di Provinsi Sumatera Selatan baik yang bekerja di sektor pemerintah maupun swasta masih sulit diperoleh. OKU 27 524 38 2 12 OKI 60 735 50 2 21 Muara Enim 68 652 53 3 21 Lahat 44 649 47 4 13 Musi Rawas 40 549 56 6 31 Musi Banyuasin 57 638 40 2 68 Banyuasin 67 528 54 28 79 OKU Selatan 9 342 29 11 OKU Timur 40 665 32 2 10 Ogan Ilir 27 309 34 0 12 Empat Lawang 14 181 13 9 Palembang 664 2.Disamping institusi pendidikan tenaga kesehatan jenjang diploma III seperti pada tabel di atas. Tenaga Kesehatan Lainnya Menurut Kabupaten / Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Tenaga Kesehatan Kabupaten/Kota Medis (1) (2) Perawatan (3) Non Perawatan (4) Apoteker (5) Sarjana Kesehatan Lainnya (6) 01. 14. 12.

166 288 1.47 69.26 per 100.889 722 2.222.843 penduduk.000 penduduk.4 berikut terlihat bahwa rasio dokter umum pada tahun 2009 baru mencapai 9. belum memenuhi target Indonesia Sehat 2010 sebesar 40 per 100. 9.5 100 22 40 40 10 30 30 4 15 Kebutuhan 433 2. baru mencapai 54.889 794 8.166 2. 10.486 7. 3.79 4.083 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Demikian juga dengan tenaga Bidan. Tabel 5.09 0.Indikator ketersediaan tenaga kesehatan dapat dilihat dari rasio setiap jenis tenaga kesehatan per 100.66 3.889 2. 4. Pada tabel 5. sama dengan 1 orang dokter melayani 10. maka didapatkan rasio masing-masing jenis tenaga kesehatan dan kebutuhan masing-masing jenis tenaga kesehatan. Jenis Tenaga Dokter Spesialis Dokter Umum Dokter Gigi Perawat Bidan Ahli Gizi Sanitarian SKM Apoteker Farmasi SPRG Fisioterapi Analis kesehatan Jumlah 427 685 323 5.48 per 100.000 penduduk.027 3.000 penduduk atau 1 Bidan per Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page132 .4 Rasio Tenaga Kesehatan Menurut Jenis Per 100.91 9.000 penduduk.000 penduduk atau 1 per 2. Berdasarkan jumlah penduduk Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 sebanyak 7.000 Penduduk Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 No 1.05 2.548 penduduk. 13. 7.60 54. 6. sama dengan 1 orang Bidan melayani 1.96 5. Artinya untuk saat ini Provinsi Sumatera Selatan masih membutuhkan 2.94 Target 6 40 11 117. masih dibawah target Indonesia Sehat 2010 sebesar 100 per 100. 11.635 jiwa.26 5.000 penduduk termasuk jumlah kebutuhannya. 8. Pada tabel 5.919 418 358 365 170 264 223 66 140 Rasio 5.222 1.48 4.889 orang dokter umum. 12. 5.91 1.35 3. 2.500 penduduk.4 disajikan Rasio Tenaga Kesehatan Menurut Jenis per 100.589 2.

Artinya untuk saat ini Provinsi Sumatera Selatan masih membutuhkan 7. sama dengan 1 orang SKM melayani 109.000 penduduk.96 per 100. baru mencapai 2.000 penduduk.802 penduduk. sama dengan 1 orang SKM melayani 32. masih dibawah target Indonesia Sehat 2010 sebesar 40 per 100. Artinya Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page133 .166 orang SPRG. Artinya untuk saat ini Provinsi Sumatera Selatan masih membutuhkan 2.000 penduduk atau 1 Ahli Gizi per 4.79 per 100. masih dibawah target Indonesia Sehat 2010 sebesar 40 per 100.271 penduduk.000 penduduk atau 1 Sanitarian per 2. Artinya untuk saat ini Provinsi Sumatera Selatan masih membutuhkan 1589 orang Ahli Gizi.486 orang Perawat.60 per 100. masih dibawah target Indonesia Sehat 2010 sebesar 40 per 100. Artinya untuk saat ini Provinsi Sumatera Selatan masih membutuhkan 722 orang Apoteker.000 penduduk.91 per 100. Rasio Perawat. baru mencapai 5.000 penduduk. sama dengan 1 orang Apoteker melayani 42. sama dengan 1 orang Sanitarian melayani 20.222 orang Bidan.889 orang SKM. baru mencapai 3.890 penduduk. baru mencapai 4.5 per 100. Rasio Apoteker.000 penduduk atau 1 Sanitarian per 2. Rasio Fisioterapis. masih dibawah target Indonesia Sehat 2010 sebesar 22 per 100.500 penduduk.500 penduduk. sama dengan 1 orang SKM melayani 19. Artinya untuk saat ini Provinsi Sumatera Selatan masih membutuhkan 2.000 penduduk. Artinya untuk saat ini Provinsi Sumatera Selatan masih membutuhkan 8.000 penduduk.889 orang Sanitarian. sama dengan 1 orang Ahli Gizi melayani 17. masih dibawah target Indonesia Sehat 2010 sebesar 40 per 100.362 penduduk. baru mencapai 0. baru mencapai 5. Rasio Sanitarian.437 penduduk. Rasio SPRG. sama dengan 1 orang Perawat melayani 1. masih dibawah target Indonesia Sehat 2010 sebesar 40 per 100. masih dibawah target Indonesia Sehat 2010 sebesar 117. baru mencapai 69. Rasio SKM.66 per 100.161 penduduk.500 penduduk.000 penduduk.000 penduduk.35 per 100.553 penduduk.000 penduduk atau 1 Sanitarian per 2.000 penduduk atau 1 Perawat per 851 penduduk. Rasio Ahli Gizi.544 penduduk.000 penduduk atau 1 Sanitarian per 2.000 penduduk atau 1 Sanitarian per 2. Artinya untuk saat ini Provinsi Sumatera Selatan masih membutuhkan 2.500 penduduk.05 per 100.500 penduduk.1.

419.319.5 0.953.2005 1.930.820.200.270.94 per 100.786.083 orang Analis Kesehatan.127.050.) 2002 773.2009 2.000 penduduk atau 1 Sanitarian per 2.208.6 10.751.2007 2.487. ANGGARAN KESEHATAN Tabel 5.616.342.2008 2.62. 5.6 2009 10.27.718.801. baru mencapai 1.47.516.368.000.untuk saat ini Provinsi Sumatera Selatan masih membutuhkan 2.333.876. sama dengan 1 orang Analis Kesehatan melayani 51.5 2003 2.0 3.500 penduduk.230.5 3.469.481.166 orang Fisioterapis.171.10.90.2 4.5 2005 0.309.000.346.948.0 2.83 Gambar 5.537.2004 1.968.861.897.000 penduduk.900.2003 973.83 Sumber : Subdin Sekretariat Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page134 . Artinya untuk saat ini Provinsi Sumatera Selatan masih membutuhkan 1.263.947.055.105.916.893.017.2 2004 4.192.939.Sumber : Subdin Sekretariat Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan % 3. Rasio Analis Kesehatan.546 penduduk.5 Alokasi Anggaran Sektor Kesehatan Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2002 – 2009 Tahun Total APBD I (Rp.579.625.32.708.3.302.52.2006 1.5 2.469.) Alokasi Sektor Kesehatan Provinsi (Rp.20.11 Persentase Anggaran Kesehatan Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 15 10 5 0 % Anggaran Kesehatan 2002 3.191. masih dibawah target Indonesia Sehat 2010 sebesar 40 per 100.836.147.168.5 2006 3 2007 2 2008 3.712.000.

di atas terlihat bahwa persentase anggaran kesehatan pada tahun 2008 dari total APBD Provinsi Sumatera Selatan baru mencapai 3. Meskipun demikian.6% .8%.11. angka tersebut masih berada dibawah harapan sebesar 15%.83% melampaui rata-rata persentase alokasi anggaran kesehatan selama periode 8 tahun berkisar 2.Dari Gambar 5. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page135 . meninkat cukup tinggi pada tahun 2009 menjadi 10.

BAB 6 KESIMPULAN

6.1. KESIMPULAN Situasi Derajat Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan tahun 2007 dapat dilihat dari beberapa indikator yaitu Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), Umur Harapan Hidup serta Status Gizi dan Angka Kesakitan. 1) Angka Kematian Ibu (AKI) tiap tahunnya mengalami penurunan dari 307 per 100.000 KH (SDKI 2002/2003) menjadi 228 per 100.000 KH (SDKI 2007), sedangkan AKI Sumatera Selatan 424 per 100.000 KH (BPS 2004) menjadi 262 per 100.000 KH (Susenas 2005). 2) Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Balita (AKABA) Nasional mengalami penurunan, yaitu 34 per 1000 KH (SDKI 2007). AKB Provinsi Sumatera Selatan 42 per 1000 KH (Susenas 2007). Target MDGs 2015 AKB diharapkan turun menjadi 23 per 1000 KH dan AKABA menjadi 32 per 1000 KH. 3) Umur Harapan Hidup (UHH) Provinsi Sumatera Selatan mengalami peningkatan dari 67,9 tahun pada tahun 2003 menjadi 69,9 tahun pada tahun 2009. 4) Status Gizi Masyarakat dapat dilihat dari beberapa indikator yaitu BBLR, Status Gizi Balita. Proporsi BBLR Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 0,79% (rentang 0,19%-6.65%), prevalensi gizi buruk pada tahun 2009 0,03% (rentang 00,27%). 5) Cakupan kunjungan ibu hamil K4 Provinsi Sumatera Selatan mengalami kenaikan dari 84,45% pada tahun 2008 menjadi 88,6% pada tahun 2009, masih dibawah target SPM sebesar 90%. 6) Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani di Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 sebesar 38,89%, sudah melebihi target SPM 25,76%.

Profil Kesehatan Provinsi Sumsel Tahun 2010

Page 136

7) Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan mengalami peningkatan dari 84% pada tahun 2008 menjadi 87,83% pada tahun 2009 , sudah melampaui target SPM 85%. 8) Cakupan pelayanan nifas Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 96,49%, sudah melebihi target SPM 85%. 9) Cakupan neonatus dengan komplikasi yang dilayani Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 82,68%, sudah melebihi target SPM 79,99%. 10) Cakupan kunjungan bayi Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 mencapai 87,47%, masih dibawah target SPM 89,99%. 11) Cakupan Desa/Kelurahan UCI Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 mencapai 82,5%, masih dibawah target SPM 100%. 12) Cakupan pelayanan anak Balita Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 mencapai 52,05%, masih dibawah target SPM 88,12%. 13) Cakupan pemberian MP ASI pada anak usia 6-24 bulan keluarga miskin Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 mencapai 24,68%, masih dibawah target SPM 100%. 14) Cakupan Balita gizi buruk mendapat perawatan Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 mencapai 100%, sesuai dengan target SPM 89,99%. 15) Cakupan peserta KB aktif Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 mencapai 69,08%, sedikit dibawah target SPM 70%. 16) AFP rate per 100.000 penduduk <15 tahun Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 mencapai 4,05, sudah melebihi target SPM >=2. 17) Penemuan penderita Pneumonia Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 mencapai 29,53%, masih dibawah target SPM 60%. 18) Penemuan pasien baru TB BTA (+)Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 mencapai 44,62%, masih dibawah target SPM 70%. 19) Penderita DBD yang ditangani Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 mencapai 71,41%, masih dibawah target SPM 100%. 20) Penemuan penderita diare Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 mencapai 3,24%, masih dibawah target SPM 100%. Profil Kesehatan Provinsi Sumsel Tahun 2010 Page 137

21) Cakupan Desa/Kelurahan mengalami KLB yang dilakukan penyelidikan Epidemiologi <24 jam Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 mencapai 95,33%, masih dibawah target SPM 100%. 22) Cakupan desa siaga aktif Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 mencapai 80,49%, masih dibawah target SPM 100%. 23) Jumlah kasus HIV pada tahun 2009 sebanyak 85 kasus, AIDS sebanyak 70 kasus. Kumulatif kasus HIV sampai dengan tahun 2009 sebanyak 491 kasus. 24) Jumlah kecelakaan yang terjadi pada tahun 2009 sebanyak 2.218 kasus, dengan jumlah korban sebanyak 4.247 orang dengan perincian 1.051 meninggal dunia, 1.470 luka berat, 1.726 luka ringan. Persentase kematian akibat kecelakaan tertinggi terjadi di Kabupaten OKU Timur sebesar 36,23% dan Musi rawas 35,29%. 25) Jumlah puskesmas di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 sebanyak 291 puskesmas, rasio puskesmas mencapai 4,03 per 100.000 penduduk. Jumlah RSU sebanyak 22 buah tersebar di 14 kabupaten/kota, kecuali kabupaten Ogan Ilir dan OKU Selatan, terdiri dari 12 RSUD dan 10 RSU Vertikal dan TNI/Polri. 26) Rasio tenaga kesehatan terhadap penduduk sampai dengan tahun 2009 masih dibawah rasio ideal. 27) Persentase Anggaran Pembangunan Kesehatan sudah mencapai 10,83% dari total APBD Provinsi Sumatera Selatan.

6.2. SARAN Dalam rangka peningkatan capaian program-program pembangunan

kesehatan, yang dapat dilihat dari pencapaian indikator standar pelayanan minimal (SPM) maupun indikator Indonesia Sehat 2010, perlu dilakukan beberapa upaya antara lain : 1. Perencanaan kegiatan pembangunan kesehatan harus berdasarkan fakta dilapangan (planning by evidence based) termasuk pencapaian indikator SPM dan indikator Indonesia Sehat minimal 3 tahun sebelumnya dan diupayakan mempunyai daya ungkit terhadap penurunan AKI, AKB dan peningkatan Profil Kesehatan Provinsi Sumsel Tahun 2010 Page 138

2. Meningkatkan monitoring dan evaluasi pencapaian program kesehatan dengan melakukan supervisi-supervisi ke Kabupaten/Kota secara berkala (setiap triwulan). 6. Mengoptimalkan Jaringan Sistem Informasi Kesehatan Nasional (Siknas Online) Profil Kesehatan Provinsi Sumsel Tahun 2010 Page 139 .status gizi masyarakat serta memperhatikan kebijakan-kebijakan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan. 3. Meningkatkan kemampuan petugas pengelolah data dan informasi melalui pelatihan atau bimbingan teknis. Meningkatkan pertemuan-pertemuan dengan penanggung jawab program di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota maupun Dinas Kesehatan Provinsi dalam rangka memberikan feedback terhadap pelaksanaan program yang sedang berjalan. 4. 5. Meningkatkan kemampuan pengelolah program kesehatan dalam menyusun perencanaan kesehatan berbasis kinerja.

KEADAAN PENDUDUK Perkiraan penduduk Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 berjumlah 7. Luas Daerah.222.020 penduduk perempuan.650.076 12.056 72 Jumlah 7.222.486 35 Lubuk Linggau 186.00 3. 13.92 3.92 4. 03. 08.12 4.09 4.280 303 OKU Selatan 331.00 4. Dengan komposisi 3.879 260 OKU Timur 581.025 218 Banyuasin 818.19 3.872 156 Palembang 1.166 Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Selatan Susenas 2009 01.01 4.635 jiwa (BPS. 10. 2.03 4. 12. Rata-rata Penduduk Desa Dan Kepadatan Penduduk per Km2 Menurut Kabupaten /Kota Di Sumatera Selatan Tahun 2009 Kabupaten / Kota Jumlah Penduduk (2) Jumlah Desa/ Kelurahan (3) Luas Daerah (Km2) (4) Rata-rata Penduduk per KK (5) Kepadatan Penduduk Per Km2 (6) (1) OKU 267.627 309 Muara Enim 668.45 persen. 02.665 298 Ogan Ilir 384. 04.055 376 Musirawas 505.1 Jumlah Penduduk Pertengahan Tahun.663 241 Empat Lawang 213.410 2.513 2.08 96 41 78 84 42 36 67 60 171 153 84 3. 11. 14.42 persen pada tahun 2009 menurun jika dibandingkan dengan tahun 2008 sebesar 1. Tabel 2.847 327 201 443 83 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 4 .494 3. 07.135 4.35 4.1.438.588 4.773 17. Laju pertumbuhan penduduk Sumatera Selatan sebesar 1.938 107 Prabumulih 137. 05.572.143 5.09 4. Susenas 2009).635 3. 06.82 4.341 325 Lahat 341.058 8.477 12. 15.940 277 Musi Banyuasin 523.05 4.05 4.786 37 Pagar Alam 116.018 4.04 4.556 374 422 579 420 87.022 152 OKI 707.615 penduduk lakilaki dan 3. 09.BAB 2 GAMBARAN UMUM 2.

499 162.847 orang per km2.003 373.003 438.601 384.2 Jumlah Penduduk Berdasarkan Hasil Susenas Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Provinsi Sumatera Selatan 2008 – 2009 Kelompok Umur (1) 2 Laki-Laki (2) 2008 Perempuan (3) Jumlah (4) Laki-Laki (5) 2009 Perempuan (6) Jumlah (7) 0–4 368.900 205.770 10 – 14 371.301 384.798 346.799 193.599 214.011 20 – 24 380.212 365.202 40 – 44 214.600 119.802 3.108 101.222.101 495.599.206 733.572. Tabel 2.587 720.107 30 – 34 286.780 347.90 artinya.650. Penduduk menurut kelompok umur menunjukkan bahwa 30.204 141.999 373.508 342.698 695. Sedangkan kepadatan penduduk yang paling rendah adalah Kabupaten Musi Banyuasin yaitu 36 orang per km2.020 724.500 297.81% yang berumur 60 tahun lebih.091 354.098 3.904 428.902 362.899 351.204 509.101 250.650 358.905 45 – 49 189.121.990 713.384 Jumlah 3.101 214. meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2008 sebesar 36 orang penduduk usia tidak produktif. 64.218 711.900 7.03% penduduk Sumatera Selatan berusia muda (0-14 tahun). Dari 15 Kabupaten/kota yang ada di Provinsi Sumatera Selatan.401 583.002 218.101 312.898 294.202 707.812 55 – 59 113.692 3.16% berusia produktif (umur 15-59 tahun).002 227.901 297.006 282.012 728.476 5–9 365.904 184.709 50 – 54 155.204 725. setiap 100 penduduk usia produktif menanggung sekitar 51 orang penduduk usia tidak produktif.505 184. sehingga diperoleh angka ketergantungan (dependency ratio) penduduk Sumatera Selatan sebesar 50.635 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 5 .790 Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Selatan Susenas 2009 371.999 356.901 35 – 39 245.599 214.911 141.615 353.003 342. dan hanya 5.Tingkat kepadatan penduduk provinsi Sumatera Selatan sekitar 83 orang per km .511 25 – 29 339.098 7.295 15 – 19 371.599 598.522.405 374.707 60 + 198.104 297.401 250.300 761.901 101.601 419.508 753.801 206. Kota Palembang mempunyai kepadatan penduduk yang tinggi sebesar 3.102 251.300 344.583 405.001 214.204 373.104 681.

di Pantai Timur tanahnya terdiri dari rawa-rawa dan payau yang dipengaruhi oleh pasang surut.000 200. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 6 . Batas daerah ini adalah di sebelah Utara dengan Provinsi Jambi.49 35 . Vegetasinya berupa tumbuhan palmase dan kayurawa (bakau).1 Distribusi Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 75+ 65 .19 5-9 <1 (500. Sebagian besar lahan terdiri dari hutan produksi.000 400.000) (300. Semakin ke barat merupakan dataran tinggi dan terdapat daerah Bukit Barisan.000 300.2.29 15 . di sebelah Selatan dengan Provinsi Lampung.000 laki-laki perempuan 2.000) (400. di sebelah Timur dengan Provinsi Bangka Belitung.39 25 . lahan pertanian.Gambar 2.000) 100.000) (200.018 km2 terdiri dari pegunungan dan pesisir pantai dan dilintasi oleh banyak sungai dan karenanya sering terjadi banjir.59 45 .000 500.69 55 . eksplorasi dan ekploitasi gas bumi dan bahan galian lainnya seperti minyak tanah dan batubara. LETAK GEOGRAFIS DAN LUAS WILAYAH Provinsi Sumatera Selatan terletak antara 1o sampai 4o Lintang Selatan dan 102o sampai 106o Bujur Timur dengan luas wilayah 87.000) (100.

52 5. Provinsi Sumatera Selatan mempunyai 15 kabupaten/kota.3.76 10.2.20 - % Melek Huruf 98.33 97. OKU Selatan dan OKU Timur dan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi Kabupaten OKI dan Kabupaten Ogan Ilir dan pada tahun 2007. Tingkat Pendidikan Penduduk Dan Kemampuan Membaca dan Menulis Tahun 2009 Kota Partisipasi menurut kelompok Umur .65 36.08 11.16 80.59 47.85 63. PENDIDIKAN Sumber daya manusia akan sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan seseorang.19 – 24 tahun Pendidikan Tertinggi yg ditamatkan -Tidak tamat SD .00 96. Kabupaten yang mengalami pemekaran yaitu kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) menjadi Kabupaten OKU. tingkat pendidikan penduduk dan kemampuan membaca dan menulis.37 Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Selatan Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 7 .43 Kota+Desa 97.17 29.96 34.80 84.56 21.SLTP / Sederajat . kabupaten Lahat mengalami pemekaran lagi menjadi Kabupaten Lahat dan Kabupaten Empat Lawang.16 19.64 54. dari 14 (empat belas) kabupaten / Kota menjadi 15 (lima belas) kabupaten kota.57 23.01 90.93 14.75 20.12 6.09 19. KEADAAN PEMERINTAHAN Sejak tahun 2006.13 – 15 tahun .16 – 18 tahun . 2.SLTA / Sederajat -Diploma/Universitas 99. Tabel 2.89 18.64 12.82 2.40 2009 Desa 97.50 30. sehingga sampai dengan tahun 2009.3 Persentase Partisipasi Bersekolah.SD / Sederajat . Dari data Susenas 2008 data pendidikan disajikan dalam data partisipasi bersekolah.4.99 18.07 – 12 tahun . kembali Provinsi Sumatera Selatan mengalami pemekaran daerah.

014 (dengan Migas). Diploma sampai perguruan tinggi sebesar 5.105 tahun 2008 (dengan Migas).790 tahun 2007 menjadi Rp.80%.862.50 persen.20% dari seluruh penduduk usia 10 tahun keatas pada tahun 2009.5.52 persen. Ini berarti bahwa tingkat penduduk yang buta huruf relatif kecil yaitu sebesar 2. tanpa Migas dari Rp.6. Semangkin tinggi ijazah/STTB yang dimiliki oleh rata-rata penduduk suatu Negara dapat mencerminkan taraf intelektualitas suatu bangsa.292. sementara tanpa Migas naik dari Rp.378. SLTP/MTs sederajat sebesar 19. di atas terlihat bahwa penduduk Sumatera Selatan berumur 10 tahun ke atas yang tidak/belum memiliki ijazah sebesar 23. Angka Partisipasi Sekolah (APS) penduduk perkotaan lebih besar dari APS penduduk pedesaan kecuali pada kelompok umur 7 – 12 tahun yang relative merata.6. Ijazah/STTB tertinggi yang dimiliki merupakan indicator pokok kualitas pendidikan formal.313.33 persen.731 menjadi 10.5. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 8 .50 persen. EKONOMI Ukuran yang sering digunakan sebagai kemakmuran suatu daerah adalah pendapatan per kapita.275. Kemampuan baca tulis (melek huruf) merupakan keterampilan minimum yang dibutuhkan oleh penduduk untuk dapat menuju hidup sejahtera. 13.9. pendapatan per kapita Sumatera Selatan atas dasar harga berlaku dengan Migas dan tanpa Migas meningkat dari tahun sebelumnya yaitu dari Rp.695 tahun 2007 menjadi Rp.56 persen. Persentase melek huruf yaitu persentase penduduk 10 tahun keatas yang dapat membaca dan menulis huruf latin dan huruf lainnya sebesar 97. Sedangkan pendapatan perkapita atas dasar harga konstan dengan Migas dan tanpa Migas juga mengalami peningkatan yaitu dari Rp.15.Secara umum di Sumatera Selatan. SMU/MA sederajat sebesar 21. Pada tahun 2008.032. 2. Pada table 2.5.900.3.623. tamat SD/MI sederajat sebesar 23.531 menjadi Rp.546.025.

633.4 PDRB Sumatera Selatan Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan Tahun 2004-2008 (Juta Rupiah) Tahun 2004 2005 2006 r) 2007 *) 2008**) Atas Dasar Harga Berlaku Dengan MIGAS Tanpa MIGAS 64.Tabel 2.262.214.500.395 33.068 109.510 52.083 49.777.766 81.470.905.707 74.794.317.024 55.817 Atas Dasar Harga Konstan Dengan MIGAS Tanpa MIGAS 47.270 133.969.882 88.375 45.928.677 Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Selatan r) Angka Revisi *) Angka Sementara **) Angka Sangat Sementara Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 9 .971.675 95.080.114 42.319.674 52.895.344.531.536 36.027 44.848 38.106.763 63.726.149 58.358.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful