KATA PENGANTAR

uji dan Syukur senantiasa dipersembahkan ke hadirat Allah SWT atas taufiq dan hidayah-Nya, sehingga Buku Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan tahun 2010 dapat diselesaikan. Seharusnya penerbitan buku profil kesehatan dapat dilaksanakan setiap awal tahun anggaran, sebagai informasi terhadap kegiatan pembangunan kesehatan pada tahun sebelumnya. Namun tahun ini masih mengalami keterlambatan, dikarenakan sumber data berupa tabel profil dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota hampir sebagian besar belum disampaikan kepada Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan. Namun demikian, data-data yang dipergunakan untuk penyusunan profil ini akhirnya menggunakan data-data dari program yang ada di setiap Subdin Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan. Disadari bahwa berdasarkan pengalaman yang ada, akan ditemui perbedaan data antara pengelola program yang ada di Subdin-Subdin Dinas Kesehatan Provinsi dengan data yang ada di Profil Kesehatan Kabupaten/Kota. Oleh karena itu Buku Profil yang sekarang berada ditangan Anda, masih perlu disempurnakan lagi melalui konfirmasi (crosscheck) dengan buku profil yang telah diterbitkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota maupun dari segi pembahasan yang lebih mendalam lagi. Untuk itulah pada kesempatan ini, kami membutuhkan kritik dan saran dari semua pihak, agar Buku Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2011 akan semakin lebih baik dan berkualitas. Disamping itu, kualitas data juga masih harus terus ditingkatkan, karena datadata yang terkumpulkan baru meliputi data dari fasilitas kesehatan (Fasility based) sementara data dari masyarakat langsung (Community based) belum dapat digali lebih dalam, sehingga informasi yang dihasilkan dalam buku profil kesehatan 2010 masih banyak kekurangan (under reporting).

Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010

Page i

Sulitnya memperoleh data yang akurat dan tepat waktu, Insya’Allah dari waktu ke waktu akan bisa diatasi dengan mengoptimalkan peran petugas sistem pencatatan dan pelaporan baik di tingkat Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan kabupaten/kota sampai di tingkat puskesmas serta memaksimalkan sistem monitoring dan evaluasi melalui supervisi-supervisi sekaligus melakukan pembinaan secara kontinyu oleh petugas/pengelola data di wilayah kerjanya termasuk upaya “jemput bola “ untuk memenuhi kebutuhan data yang bersifat segera. Kegiatan-kegiatan pemutakhiran data dengan melibatkan pengelola program, lintas sektor bahkan pejabat struktural di Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota harus dilakukan paling sedikit 2 kali dalam setahun untuk memberikan masukan atau mengklarifikasi data-data yang barangkali terjadi perbedaan, “blank”, dan sebagainya. Disamping itu juga perlu dilakukan Pelatihan Pengelola data dan informasi untuk petugas pengelola data di kabupaten/kota. Diharapkan dengan terbitnya buku profil kesehatan ini, akan dapat memberikan informasi sekaligus bahan evaluasi terhadap program-program

kesehatan yang telah dilaksanakan pada tahun-tahun sebelumnya dan yang tak kalah pentingnya adalah untuk bahan perencanaan pada tahun-tahun berikutnya dalam upaya mewujudkan Visi Sumatera Selatan Sehat dan Indonesia Sehat. Akhirnya, dengan kemauan keras, optimisme, dan selalu ingin belajar sepanjang hayat, belajar dari kesalahan, Insya’Allah perubahan ke arah yang semakin baik akan dapat diraih, karena karakteristik orang yang belajar adanya perubahan dari yang kurang baik menjadi baik, dari yang rendah kepada yang tinggi, dan seterusnya. Palembang, 2010 Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan,

Dr.H.Zulkarnain Noerdin, M.Kes

Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010

Page ii

DAFTAR ISI

Kata Pengantar Daftar Isi Daftar Gambar Daftar Tabel Daftar Lampiran Bab 1 Bab 2 PENDAHULUAN GAMBARAN UMUM 2.1. 2.2. 2.3. 2.4. 2.5. Bab 3 Keadaan Penduduk Letak Geografis dan Luas Wilayah Keadaan Pemerintahan Pendidikan Ekonomi

i iii vi x xi 1 4 4 6 7 7 8 10 10 10 11 12 13 13 14 16 51 54 54 55 58 59 59 59 59
Page iii

SITUASI DERAJAT KESEHATAN 3.1. 3.1.1. 3.1.2. 3.1.3. 3.1.4. 3.1.5. 3.2. 3.2.1. 3.2.2. 3.3. 3.3.1. 3.3.2. 3.3.3. MORTALITAS Angka Kematian Bayi (AKB) Angka Kematian Balita (AKABA) Angka Kematian Ibu (AKI) Angka Kematian Kasar (AKK) Umur Harapan Hidup Waktu Lahir (UHH) ANGKA KESAKITAN Penyakit Menular Penyakit Tidak Menular STATUS GIZI MASYARAKAT Bayi Dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) Gizi Balita Status Gizi Wanita Usia Subur Kurang Energi Kronik (KEK)

Bab 4

SITUASI UPAYA KESEHATAN 4.1. PELAYANAN KESEHATAN DASAR 4.1.1. 4.1.1.1. Pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi Pelayanan Antenatal (K1 dan K4)

Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan

3.2.5. 4.4.1. 4.3.3.1.4.1.1. 4. 4. 4. 4.4.1.1. 4.2.1. 4. 4.1. 4.1. 4. 4. 4.4. 4.3.1.5.4.2. 4. 4.3.2. 4. 4.2.1. 4.2.1.2.6.3.4. 4.3.1.1.4.1.4. 4.5.3 4.5.5.5. Pertolongan Persalinan oleh Nakes dengan Kompetensi Kebidanan Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas Ibu Hamil Risiko Tinggi yang Dirujuk Kunjungan Neonatus Kunjungan Bayi Pelayanan Kesehatan Anak Pra Sekolah.2.3.1.2.6.4.2. Usia Sekolah. dan Remaja Pelayanan Keluarga Berencana Pelayanan Imunisasi Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) Pelayanan Kesehatan Pra Usia Lanjut dan Usia Lanjut PELAYANAN KESEHATAN RUJUKAN DAN PENUNJANG Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit Pemanfaatan Obat Generik Pelayanan Jaminan Kesehatan Masyarakat PEMBERANTASAN PENYAKIT MENULAR Penyelidikan Epidemiologi dan Penanggulangan KLB Pemberantasan Penyakit Polio Pemberantasan TB Paru Pemberantasan Penyakit ISPA Penanggulangan Penyakit HIV/AIDS PEMBINAAN KESEHATAN LINGKUNGAN DAN SANITASI DASAR 64 66 68 69 71 72 75 78 81 84 86 86 87 87 88 88 94 100 101 104 106 106 111 112 4. 4.4.1. PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT Pemantauan Pertumbuhan Balita Pemberian Kapsul Vitamin A Pemberian Tablet Besi Bayi dengan ASI Ekslusif PELAYANAN KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN 115 115 115 116 116 117 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Page iv .5. 4.3. 4.3. 4.1.1. Pembinaan Kesehatan Lingkungan Surveilans Vektor Pengawasan Tempat-Tempat Umum dan Tempat Pengelolaan Makanan 4.1. 4.5.3.

SARANA KESEHATAN Puskesmas Rumah Sakit Sarana Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat Institusi Pendidikan Tenaga Kesehatan TENAGA KESEHATAN ANGGARAN KESEHATAN Bab 6 KESIMPULAN Lampiran Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Page v .3.1.4. 4.1. 5.2.1.2.4.6. Bab 5 PELAYANAN KESEHATAN DALAM SITUASI BENCANA SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN 5.6.1. 4. 5. 5.2.1. 5. Peningkatan Penggunaan Obat Rasional Pelayanan Farmasi Komunitas dan Farmasi Klinik Penerapan Penggunaan Obat Esensial Generik Pemberdayaan Masyarakat dalam Penggunaan Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT) 118 118 118 119 119 122 122 122 124 126 130 131 134 136 4.1.3.4.7. 4.1.6.6. 5. 5.3.

DAFTAR GAMBAR Gambar 2.4 Gambar 3.18 Gambar 3.13 Gambar 3.25 Gambar 3.5 Gambar 3.15 Gambar 3.23 Gambar 3.21 Gambar 3.26 Gambar 3.1 Gambar 3.7 Gambar 3.2 Gambar 3.33 Distribusi Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur Dan Jenis Kelamin Angka Kematian Bayi (AKB) Jumlah dan Sebab Kematian Ibu Umur Harapan Hidup (UHH) STP Berbasis Puskesmas STP Berbasis RS (Rawat Inap) Annual Malaria Incidence (AMI) Angka Penemuan Pasien Baru TB BTA Positif (CDR) Angka Penemuan Pasien Baru TB BTA Positif (CDR) Menurut Kab/Kota Angka Kesembuhan (Cure Rate) Pasien TB BTA Positif Angka Kesembuhan (Cure Rate) Pasien TB BTA Positif Menurut Kab/Kota Persentase Penemuan Pasien Baru TB BTA Positif Jumlah Pengidap HIV (+) Per Tahun Kumulatif Penyebaran Pengidap HIV (+) Per Kab/Kota Jumlah Penderita AIDS Per Tahun CDR Kusta Penemuan Kasus Baru (CDR) Penderita Kusta Proporsi Penderita Kusta Cacat Tingkat II Proporsi Kusta Anak Penderita Tetanus Neonatorum Penderita Difteri Penemuan Kasus Campak Rutin Menurut Kelompok Umur Data Campak Menuru Sumber Laporan Kab/Kota Sebaran Kasus Campak Hasil CBMS Hasil Pelaksanaan CBMS Konfirmasi Laboratorium Kasus Campak (CBMS) Kelompok Umur Dengan Konfirmasi Laboratorium Kecenderungan Situasi DBD CFR Penderita DBD Perkembangan Penderita DBD Perbandingan Incidence Rate (IR) Persentase Penemuan Penderita DBD Yang Ditangani Distribusi Penderita Diare Semua Umur Per Kab/Kota Trend Kejadian Diare 6 11 13 14 15 15 17 20 22 22 23 24 26 27 28 30 30 31 32 33 34 35 36 37 38 38 39 40 42 42 43 43 44 45 Page vi Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan .30 Gambar 3.9 Gambar 3.31 Gambar 3.6 Gambar 3.20 Gambar 3.11 Gambar 3.12 Gambar 3.10 Gambar 3.3 Gambar 3.32 Gambar 3.29 Gambar 3.14 Gambar 3.27 Gambar 3.28 Gambar 3.16 Gambar 3.22 Gambar 3.1 Gambar 3.24 Gambar 3.8 Gambar 3.19 Gambar 3.17 Gambar 3.

22 Cakupan Penderita Diare Yang Ditangani Oleh Kab/Kota Persentase Penemuan Penderita Diare Kasus dan Suspek Influenza A Baru (H1N1) Prevalensi Penyakit Tidak Menular Per 10.20 Gambar 3.15 Gambar 4.Gambar 3.17 Gambar 4.14 Gambar 4.6 Gambar 4.16 Gambar 4.7 Gambar 4.40 Gambar 3.9 Gambar 4.000 Penduduk Jumlah Kejadian Kecelakaan Lalu Lintas Proporsi Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) Prevalensi Gizi Buruk Angka Gizi Buruk Dan Gizi Kurang Cakupan Balita Gizi Buruk Mendapat Perawatan Cakupan Pemberian MP ASI Pada Anak Usia 6 .5 Gambar 4.36 Gambar 3.34 Gambar 3.2 Gambar 4.37 Gambar 3.4 Gambar 4.3 Gambar 4.38 Gambar 3.13 Gambar 4.8 Gambar 4.41 Gambar 3.10 Gambar 4.1 Gambar 4.21 Gambar 4.18 Gambar 4.19 Gambar 4.43 Gambar 4.42 Gambar 3.35 Gambar 3.24 Bulan Keluarga miskin Persentase Cakupan Pelayanan K1 dan K4 Ibu Hamil Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K4 Persentase Cakupan K4.39 Gambar 3. Fe3.12 Gambar 4. dan Status Imunisasi TT Pada Ibu Hamil Persentase Cakupan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Persentase Cakupan Pertolongan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Cakupan Komplikasi Kebidanan Yang Ditangani Cakupan Pelayanan Nifas Persentase cakupan Ibu Hamil Resiko Tinggi Yang Dirujuk Persentase cakupan Kunjungan Neonatal Persentase Cakupan Kunjungan Neonatal Menurut Kab/Kota Persentase Cakupan Kunjungan Neonatal Menurut Kab/Kota Cakupan Kunjungan Bayi Persentase Cakupan Puskesmas Yang Mampu Menyelengarakan PKPR Menurut Kab/Kota Persentase Cakupan Deteksi Dini Dan Interfensi Tumbuh Kembang Balita Cakupan Pelayanan Anak Balita Cakupan Penjaringan Siswa SD dan Setingkat Persentase Cakupan Peserta KB Aktif Dan KB Baru Menurut Kab/Kota Persentase Cakupan Pelayanan Peserta KB Baru Berdasarkan Jenis Alat Kontrasepsi Cakupan Peserta KB Aktif Hasil Cakupan Desa UCI Hasil Cakupan Desa UCI Hasil Cakupan Desa UCI 46 47 51 52 54 55 56 57 57 58 60 62 63 64 65 66 67 68 69 70 70 71 72 73 74 75 76 77 77 79 80 81 Page vii Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan .11 Gambar 4.

41 Gambar 4.25 Gambar 4.29 Gambar 4.35 Gambar 4.52 Gambar 4.000 Penduduk < 15 Tahun Angka Keberhasilan Pengobatan Penderita TB Paru BTA (+) CDR Pneumonia Balita Per Kab/Kota Cakupan Penemuan Pneumonia Balita Program ISPA Cakupan Penemuan Penderita Pneumonia Balita Distribusi AIDS Menurut Kondisi Saat Dilaporkan Cakupan Penduduk Yang Menggunakan Sarana Air Bersih Persentase Rumah sehat Menurut Kab/Kota Persentase Cakupan Sarana Pembuangan Air Limbah Persentase Cakupan Jamban Keluarga Persentase Angka ABJ Penyakit DBD Menurut Kab/Kota Persentase Pemberian Tablet Besi Pada Ibu Hamil (Fe1 & Fe3) Cakupan Pemberian Asi Eksklusif Pada Bayi Jumlah Puskesmas Dan Rasionya Terhadap 100.34 Gambar 4.50 Gambar 4.1 Gambar 5.30 Gambar 4.3 Hasil Cakupan BIAS DT Klas I Hasil Cakupan BIAS Klas II dan III Hasil Cakupan BIAS Campak Jumlah Usila Dibina dan PKM Yang Membina Persentase Cakupan Lanjut Usia Yang Dibina Dan Cakupan Puskesmas Melayani Kesehatan Usia Lanjut Persentase Kunjungan Rawat Jalan Menurut Kab/Kota Persentase Peserta JamSoskes Sumsel Semesta Desa/Kelurahan KLB Ditangani< 24 Jam Kelengkapan Laporan W1 Ketepatan Laporan W1 Dari Kab/Kota Frekuensi Desa KLB Per Penyakit Perbandingan Frekuensi Dan Penderita KLB Penyakit Dan Keracunan Makanan Persentase Jenis Pelaporan KLB Dari Kab/Kota Cakupan Desa/Kelurahan Mengalami KLB Yang dilakukan Penyelidikan Epidemiologi < 24 Jam Persentase Spesimen Adekuat Dan AFP Rate Pencapaian Kelengkapan Laporan Nihil Penemuan Kasus AFP Proporsi Status Imunisasi Kasus AFP Non Polio Kasus AFP Non Polio Berdasarkan Kelompok Umur Sumber Laporan Kasus AFP AFP Rate Per 100.26 Gambar 4.Gambar 4.44 Gambar 4.000 Penduduk Jumlah Puskesmas Menurut Kab/Kota Jumlah Puskesmas Pembantu 82 83 84 85 85 86 87 89 90 90 91 92 93 93 95 96 97 98 98 99 100 101 102 103 104 106 107 109 110 111 112 116 117 122 123 124 Page viii Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan .36 Gambar 4.38 Gambar 4.28 Gambar 4.54 Gambar 4.2 Gambar 5.33 Gambar 4.53 Gambar 4.46 Gambar 4.23 Gambar 4.32 Gambar 4.40 Gambar 4.27 Gambar 4.42 Gambar 4.31 Gambar 4.37 Gambar 4.24 Gambar 4.55 Gambar 5.51 Gambar 4.49 Gambar 4.48 Gambar 4.39 Gambar 4.43 Gambar 4.47 Gambar 4.45 Gambar 4.

7 Gambar 5.5 Gambar 5.10 Gambar 5.4 Gambar 5. Purnama Dan Mandiri Rasio Poskesdes Terhadap desa/Kelurahan Cakupan Desa Siaga Aktif Persentase Anggaran Kesehatan 124 125 127 127 128 128 129 134 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Page ix .6 Gambar 5.Gambar 5.11 Jumlah Puskesmas Pembantu Menurut Kab/Kota Jumlah RS Pemerintah Swasta Dan Khusus Jumlah Posyandu Jumlah Posyandu Menurut Kab/Kota Persentase Posyandu Pratama.9 Gambar 5. Madya.8 Gambar 5.

Tingkat Pendidikan Penduduk dan Kemampuan Membaca dan Menulis PDRB Sumatera Selatan Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan Tahun 2004-2008 Angka Kematian Balita (AKABA) Per 1000 Kelahiran Hidup di Indonesia Tahun 1995-2007 Jumlah Penderita Malaria Klinis.3 Tabel 3.1 Tabel 4.3 Tabel 5.11 Tabel 3.4 Tabel 4. Rata – rata Penduduk Desa dan Kepadatan Penduduk Per Km2 Menurut Kab/Kota Jumlah Penduduk Berdasarkan Hasil Susenas Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Persentase Partisipasi Bersekolah.8 Tabel 3. Luas Daerah.1 Tabel 5. Swasta dan Khusus Menurut Kapasitas Tempat Tidur Jumlah Institusi Diknakes Menurut Jenis Pendidikan Jumlah Tenaga Kesehatan Menurut Golongan Medis.4 Tabel 3.2 Tabel 2.9 Tabel 4.000 Penduduk Page x 4 Tabel 2.1 Tabel 3. Paramedis.2 Tabel 4.000 Penduduk Angka Kesakitan Secara Absolut Frekuensi dan Jumlah Kasus KLB Kinerja Surveilans AFP Gambaran Penemuan Kasus ISPA Distribusi Penemuan Kasus HIV/AIDS Melalui Klinik VCT Persentase Rumah Sehat Jenis Vektor Malaria Cakupan Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM) Sehat Cakupan Sarana Ibadah Cakupan TTU-I Sarana Pendidikan Data Kejadian Bencana Jumlah Rumah Sakit Pemerintah.5 Tabel 4.6 Tabel 3.4 Tabel 3.5 Tabel 3.DAFTAR TABEL Tabel 2.2 Tabel 3.10 Tabel 5.8 Tabel 4.12 Tabel 4.2 Tabel 5.3 Tabel 2.1 Jumlah Penduduk Pertengahan Tahun. Tenaga Kesehatan Lainnya Rasio Tenaga Kesehatan Menurut Jenis per 100. Konfirmasi Laboratorium dan AMI Menurut Kab/Kota Laporan Uji Saring HIV di PMI Kota Palembang Data Penyakit PD3I Per Kab/Kota Distribusi Kasus Campak Berdasarkan Kelompok Umur Distribusi Kasus Campak Per Bulan Distribusi Kasus Penemuan DBD per Kab/Kota Jumlah Kasus Rabies Gambaran Penemuan Kasus Kronis Filariasis Gambaran MF Rate Filariasis Prevalensi Penyakit Tidak Menular Per 10.10 Tabel 3.9 Tabel 3.3 Tabel 4.7 Tabel 4.4 5 7 9 12 18 25 32 34 36 41 48 49 50 52 53 91 94 102 105 108 112 113 114 114 119 126 130 131 132 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan .7 Tabel 3.6 Tabel 4.

Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Page xi .

Infeksi Seksual Menular. DBD dan Diare Pada Balita Ditangani Persentase Penderita Malaria Diobati Persentase Penderita Kusta Selesai Beobati Kasus Penyakit Filariasis Ditangani Jumlah Kasus dan Angka Kesakitan Penyakit Menular yang Dapat dicegah Dengan Imunisasi (PD3i) Cakupan Kunjungan Neonatus.DAFTAR LAMPIRAN Tabel 1 Tabel 2 Tabel 3 Tabel 4 Luas Wilayah Jumlah Desa/Kelurahan. dan Kepadatan Penduduk Menurut Kab/Kota Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin.Rasio Beban Tanggungan. Peserta KB Baru dan KB Aktif Menurut Kecamatan dan Puskesmas Jumlah peserta KB Aktif Menurut Jenis Kontrasepsi Pelayanan KB Baru Menurut Kecamatan Persentase Cakupan Desa/Kelurahan Uci Menurut Kecamatan Persentase Cakupan Imunisasi Bayi Menurut Kecamatan Kab/Kota Cakupan Bayi. Peserta KB.Jumlah Rumah Tangga.Kelompok Umur.Persalinan Ditolong Tenaga Kesehatan dan Ibu Nifas Cakupan Deteksi Dini Tumbuh Kembang Anak Balita.Balita yang Mendapat Pelayanan Kesehatan Menurut Kecamatan dan Puskesmas Page xi Tabel 5 Tabel 6 Tabel 7 Tabel 8 Tabel 9 Tabel 10 Tabel 11 Tabel 12 Tabel 13 Tabel 14 Tabel 15 Tabel 16 Tabel 17 Tabel 18 Tabel 19 Tabel 20 Tabel 21 Tabel 22 Tabel 23 Tabel 24 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan .Bayi dan bayi BBLR yang Ditangani Status Gizi Balita dan Jumlah Kecamatan Rawan Gizi Cakupan Kunjungan Ibu Hamil (K1. Pemeriksaan Kesehatan Siswa SD/SMP/SMA Jumlah Pus.Rasio Jenis Kelamin Kab/Kota Jumlah Penduduk Menurut Jenis kelamin dan Kelompok Umur Persentase Penduduk Laki-laki dan Perempuan Berusia 10 Tahun Keatas Dirinci Menurut Tingkat Pendidikan tertinggi yang Ditamatkan di Kab/Kota Persentase Penduduk Laki-laki dan Perempuan Berusia 10 Tahun Ke atas yang Melek huruf Jumlah Kelahiran dan Kematian Bayi dan Balita Menurut Kab/Kota Jumlah Kematian Ibu Maternal Menurut Kab/Kota Jumlah Kejadian Kecelakaan Lalu Lintas dan Rasio Korban Luka dan Meninggal Terhadap Jumlah Penduduk Dirinci Menurut Kab/Kota AFP Rate.K4).Jumlah Penduduk. % TB Paru Sembuh dan Peneumonia Balita Ditangani HIV/AIDS.

Fe3 Menurut Kecamatan dan Puskesmas Jumlah Wanita Usia Subur dengan status Imunisasi TT Menurut Kecamatan dan Puskesmas Jumlah dan Persentase Ibu Hamil dan Neonatal Risiko Tinggi/Komplikasi ditangani Menurut Kecamatan dan Puskesmas Jumlah dan Persentase Desa/Kelurahan Terkena KLB yang ditangani < 24 Jam Menurut Kecamatan dan Puskesmas Jumlah Penderita dan Kematian Serta Jumlah Kecamatan dan Desa Yang Terserang KLB Jumlah Bayi yang diberi ASI Eklusif Pelayanan Kesehatan Gigi n Mulut Cakupan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Pra Bayar Cakupan Pelayanan Kesehatan Masyarakat Miskin Cakupan Pelayanan Kesehatan Pra Usila dan Usila Persentase Donor Darah Diskrining terhadap HIV/AIDS Jumlah Sarana Pelayanan Kesehatan Menurut Kemampuan Labkes dan Miliki 4 Spesialis Dasar Ketersediaan Obat Sesuai dengan Kebutuhan Pelayanan Kesehatan Dasar Persentase Rumah tangga Berperilaku Hidup Bersih Sehat Jumlah dan Persentase Posyandu Menurut Strata dan Kecamatan Persentase Rumah Sehat Menurut Kecamatan Persentase Keluarga Memiliki Akses Air Bersih Keluarga dengan Kepemilikan Sarana Sanitasi Dasar Menurut Kecamatan Persentase Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM) Sehat Persentase Institusi Dibina Kesehatan Lingkungannya Persentase Rumah/Bangunan yang Diperiksa dan Bebas Jentik Nyamuk Aedes Persebaran Tenaga Kesehatan Menurut Unit Kerja Jumlah Tenaga Kesehatan di Sarana Pelayanan Kesehatan Jumlah Tenaga Medis Disarana Kesehatan Jumlah Tenaga Kefarmasian dan Gizi Di Sarana Kesehatan Jumlah Tenaga Keperawatan Di Sarana Kesehatan Jumlah Tenaga Kesehatan Masyarakat dan Sanitasi di Sarana Kesehatan Jumlah Tenaga Teknisi Medis di Sarana Kesehatan Anggaran kesehatan Kab/kota Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) Indikator Pelayanan Rumah Sakit Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Page xii .Tabel 25 Tabel 26 Tabel 28 Tabel 30 Tabel 31 Tabel 32 Tabel 34 Tabel 36 Tabel 37 Tabel 39 Tabel 41 Tabel 43 Tabel 44 Tabel 45 Tabel 46 Tabel 47 Tabel 48 Tabel 49 Tabel 50 Tabel 51 Tabel 52 Tabel 53 Tabel 54 Tabel 55 Tabel 56 Tabel 57 Tabel 58 Tabel 59 Tabel 60 Tabel 62 Tabel 63 Jumlah Ibu Hamil Yang Mendapat Tablet Fe1.

serta hukum kesehatan. dan mengatasi permasalahan kesehatan yang dihadapi. (Depkes. SIK di setiap institusi pelayanan kesehatan mulai dari tingkat Puskesmas. dan mampu untuk mengenali. ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan. mau. dan pelaksanaan. baik yang disebabkan karena penyakit termasuk gangguan kesehatan akibat bencana. serta pemantapan fungsi-fungsi administrasi kesehatan yang didukung oleh sistem informasi kesehatan (SIK). sehingga dapat bebas dari gangguan kesehatan. maka tujuan yang akan dicapai adalah terselenggaranya pembangunan kesehatan secara berhasil guna dan berdaya guna dalam rangka mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggitingginya. Untuk mencapai visi tersebut. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2010 Page 1 . Departemen Kesehatan sebagai salah satu pelaku pembangunan kesehatan telah menetapkan Visi Departemen Kesehatan yaitu : ”Masyarakat yang Mandiri untuk Hidup Sehat”. Sebagai penjabaran dari Visi Departemen Kesehatan.BAB 1 PENDAHULUAN embangunan kesehatan diselenggarakan dalam upaya untuk mencapai Visi : ”Indonesia Sehat 2014”. Dinas Kesehatan Provinsi sampai tingkat Pusat. mencegah. maupun lingkungan dan perilaku yang tidak mendukung untuk hidup sehat. Pembangunan kesehatan yang berhasil guna dan berdaya guna dapat dicapai melalui pembinaan. Masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat adalah suatu kondisi di mana masyarakat Indonesia menyadari. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. 2006). pengembangan.

administratif dan informasi umum lainnya. Sistematika penyajian Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan adalah sebagai berikut : Bab-1 : Pendahuluan.harus terus dikembangkan sehingga diharapkan dapat memberikan dukungan dalam rangka pelaksanaan fungsi manajemen kesehatan. Bab ini menyajikan tentang latar belakang dan tujuan diterbitkannya Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 serta sistematika penyajiannya. ekonomi. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2010 Page 2 . Bab ini menyajikan tentang gambaran umum Kabupaten/Kota. pendidikan. bab ini juga mengulas faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kesehatan dan faktor-faktor lainnya misal kependudukan. sosial budaya dan lingkungan. termasuk pencapaian indikator-indikator pembangunan kesehatan di Provinsi Sumatera Selatan. Selain uraian tentang letak geografis. Salah satu bentuk output dari SIK adalah penerbitan buku profil kesehatan yang dilakukan setiap tahun anggaran oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. SIK yang baik akan dapat memberikan informasi yang akurat dan up to date untuk proses pengambilan keputusan di semua tingkat administrasi pelayanan kesehatan. Bab-2 : Gambaran Umum. Dinas Kesehatan Provinsi sampai kepada tingkat Pusat. Tujuan penyusunan Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan adalah memberikan informasi tentang hasil pencapaian program pembangunan kesehatan di Provinsi Sumatera Selatan umumnya.

Upaya pelayanan kesehatan yang diuraikan dalam bab ini juga mengakomodir indikator kinerja Standar Pelayanan Minimal (SPM) Bidang Kesehatan serta upaya pelayanan kesehatan lainnya yang diselenggarakan oleh Kabupaten/Kota. Lampiran. tenaga kesehatan. pelayanan kesehatan rujukan dan penunjang. pemberantasan penyakit menular. Bab ini menguraikan tentang pelayanan kesehatan dasar. pembiayaan kesehatan dan sumber daya kesehatan lainnya. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2010 Page 3 .Bab-3 : Situasi Derajat Kesehatan. Bab-5 : Situasi Sumber Daya Kesehatan. pembinaan kesehatan lingkungan dan sanitasi dasar. angka kesakitan. dan angka status gizi masyarakat. Bab ini diisi dengan sajian tentang hal-hal penting yang perlu disimak dan ditelaah lebih lanjut dari Profil Kesehatan Kabupaten/Kota di tahun yang bersangkutan. pelayanan kefarmasian dan alat kesehatan. pelayanan kesehatan dalam situasi bencana. bab ini juga mengemukakan hal-hal yang dianggap masih kurang dalam rangka penyelenggaraan pembangunan kesehatan. Bab-4 : Situasi Upaya Kesehatan. Selain keberhasilan-keberhasilan yang perlu dicatat. Bab ini berisi uraian tentang indikator mengenai angka kematian. Bab-6 : Kesimpulan. perbaikan gizi masyarakat. Pada lampiran ini berisi resume/angka pencapaian Kab/Kota dan 63 tabel data yang merupakan gabungan Tabel Indikator Kabupaten sehat dan Indikator pencapaian kinerja Standar Pelayanan Minimal bidang Kesehatan. Bab ini menguraikan tentang sarana kesehatan.

1. Angka kematian pada umumnya dapat dihitung dengan melakukan survei dan penelitian. angka kematian bayi di Sumatera Selatan turun drastis menjadi 53 per 1000 kelahiran. Persentase kematian bayi tertinggi terjadi di kabupaten Ogan Komering Ilir (1. Berikut ini diuraikan tentang indikator-indikator tersebut. Berdasarkan Sensus Penduduk (SP) 1990.1.82%). morbiditas.31%) dan Lahat (0. Di samping kejadian kematian dapat juga digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan lainnya.14%) dan Empat Lawang (0. estimasi angka kematian bayi di Sumatera Selatan diperkirakan 71 per 1000 kelahiran. AKB Sumsel lebih tinggi dibandingkan Angka Nasional yaitu 42 per 1000 kelahiran hidup (SUSENAS 2007). MORTALITAS Gambaran perkembangan derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari kejadian kematian dalam masyarakat dari waktu ke waktu.5 persen per tahun. Angka Kematian Bayi (AKB) Menurunnya angka kematian bayi dan meningkatnya angka harapan hidup mengindikasikan meningkatnya derajat kesehatan penduduk. atau turun 25 persen selama 10 tahun atau rata-rata turun 2. dan angka status gizi masyarakat. 3. Menurut target MDGs AKB diharapkan turun menjadi 23 per 1000 kelahiran hidup.1. sedangkan berdasarkan SP 2000. 3. Perkembangan tingkat kematian dan penyakit-penyakit penyebab utama kematian yang terjadi pada periode terakhir akan diuraikan dibawah ini. Angka kematian bayi di Provinsi Sumatera Selatan Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 10 .13%). Kematian bayi di Sumatera Selatan tahun 2009 adalah 4 per 1000 kelahiran hidup. persentase terendah di kabupaten Muara Enim (0.BAB 3 SITUASI DERAJAT KESEHATAN Gambaran derajat kesehatan dapat dilihat dari beberapa indikator seperti mortalitas .

3 25. Angka Kematian Balita (AKABA) Berdasarkan SDKI 2007 AKABA sekitar 44 per 1. Angka Kematian Bayi (AKB) Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 1971– 2008 SP1971 SP 1980 SP 1990 SDKI 1994 SUPAS SDKI 1997 SP 2000 SDKI SUPAS 2006 2007 2008 0 30 30 26. Gambar 3.6 54 53 53 102 155 100 150 200 Sumber : BPS Provinsi Sumatera Selatan 3.1.tahun 2009 adalah 0.2.6 25 50 71 59. SUSENAS. AKABA Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2008 adalah 52 per 1. Angka Kematian Balita di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 adalah 0.6 (87 kematian Balita). Sedangkan gambaran perkembangan AKABA berdasarkan estimasi SUPAS.000 kelahiran hidup berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik. sedangkan tahun 2008 adalah 0.5 (45 kematian Balita ). dan SDKI pada tahun 1995 – 2007 disajikan pada tabel 3.1.4 (537 kematian bayi). Distribusi kematian Balita menurut Kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan dapat dilihat pada lampiran Tabel 6.1 berikut ini : Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 11 .000 kelahiran hidup.8 (79 kematian bayi). sedangkan pada tahun 2008 adalah 3. Jumlah kematian bayi menurut Kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan dapat dilihat pada lampiran Tabel 6.

28 59.000 kelahiran hidup pada tahun 1986 menjadi 425 per 100.000 Kelahiran Hidup Di Indonesia Tahun 1995 – 2007 Tahun Estimasi SUPAS 1995 Laki-Laki Perempuan Jumlah (L+P) 71.000 kelahiran hidup pada tahun 1995. AKI provinsi Sumatera Selatan masih berpedoman pada hasil SUSENAS 2005 yaitu 262 per 1000 kelahiran hidup. yaitu sebesar 125 per 100.00 64. Menurut SKRT. Hal ini menunjukkan bahwa AKI cenderung mengalami penurunan.71 Estimasi SUSENAS 73 64 64 46 SDKI 1995 1998 1999 2000 2001 20022003 2007 44 Sumber : Profil Kesehatan Indonesia 2004.3.05 39.000 kelahiran hidup. Angka Kematian Ibu Maternal (AKI) Sampai dengan saat ini informasi tentang AKI masih berpedoman pada hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT).1 Angka Kematian Balita (AKABA) Per 1.77 57.Tabel 3.000 kelahiran hidup pada tahun 1992.55 44.61 53. Tetapi bila dibandingkan dengan target yang ingin dicapai secara nasional pada tahun 2010. maka apabila penurunannya masih seperti tahun-tahun sebelumnya.Subdin Kesga 3. diperkirakan target tersebut di masa mendatang sulit dicapai.000 kelahiran hidup berdasarkan hasil Survei Demografi dan Kependudukan Indonesia (SDKI) 2003.44 50. Kemudian pada tahun 2002-2003. AKI Nasional menurun dari 450 per 100. AKI menjadi 307 per 100. kemudian menurun lagi menjadi 373 per 100. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 12 .1.36 66. Pada SKRT 2001 tidak dilakukan survei mengenai AKI.

kemudian menurun lagi menjadi 21.1.000 kelahiran hidup (143 kematian).1. Umur Harapan Hidup Waktu Lahir (UHH) Sejalan dengan menurunnya estimasi angka kematian bayi. menurun menjadi 21. dan mengalami peningkatan cukup tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yaitu sebanyak 62 kasus.5.93 per 100. 3. sedangkan pada tahun 2008 adalah 79. Distribusi kematian ibu menurut Kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan dapat dilihat pada lampiran Tabel 6. Sedangkan menurut hasil Supas 2005 besarnya angka harapan hidup penduduk Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 13 . Menurut hasil SP 1990.Gambar 3.2 per 1000 penduduk.4 per 1000 penduduk.2 Jumlah dan Sebab Kematian Ibu Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2006-2009 Gambar diatas menunjukkan penyebab tertinggi kematian ibu dari tahun 2006 hingga 2009 adalah perdarahan. Angka Kematian Kasar (AKK) AKK Provinsi Sumatera Selatan berdasarkan estimasi pada tahun 2005 sebesar 22. Angka Kematian Ibu di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 adalah 150.31 per 100. sepuluh tahun kemudian mengalami kenaikan sebesar 7 persen.8 per 1000 penduduk pada tahun 2006. maka estimasi angka harapan hidup mengalami kenaikan. menjadi 64. estimasi angka harapan hidup Sumatera Selatan adalah 59.02 tahun menurut SP 2000.83 tahun.4. 3.000 kelahiran hidup (124 kematian).

ANGKA KESAKITAN Data angka kesakitan penduduk yang berasal dari masyarakat (community based data) yang diperoleh melalui studi morbiditas.05 2008 71. Untuk STP berbasis Puskesmas ada 25 kasus baru penyakit menular yang diamati oleh semua Puskesmas. dan hasil pengumpulan data dari Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota serta dari sarana pelayanan kesehatan (facility based data) yang diperoleh melalui sistem pencatatan dan pelaporan. sesuai ketentuan dalam Kepmenkes nomor 1116/2003 dan 1479/2003. Sedangkan tahun-tahun sebelumnya dipakai Program SST (Sistem Surveilans Terpadu).9 tahun pada tahun 2009. Gambar 3. terlihat bahwa UHH Provinsi Sumatera Selatan cenderung mengalami peningkatan.6 59. Kondisi ini menunjukan bahwa anak yang baru lahir diperkirakan akan hidup rata-rata sampai umur 69 tahun.9 Sumber: BPS Provinsi Sumatera Selatan Pada Gambar 3.7 SP 2000 69. 3.1 tahun pada tahun 1971 menjadi 69. Sedangkan untuk Puskesmas Sentinel ditambah lagi 2 penyakit tak menular. dari 44.2.Sumatera Selatan adalah sebesar 69.5 tahun.3 Umur Harapan Hidup (UHH) Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 1971 – 2009 80 Umur (tahun) 60 40 20 0 UHH SP 1971 SP 1980 SP 1990 44.1 53. Pada program ini dipisahkan antara STP berbasis Puskesmas dan STP berbasis Rumah Sakit. Program Surveilans Terpadu Penyakit (STP) baru mulai dilaksanakan di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2007.3 di atas. yaitu Hipertensi dan Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 14 .1 2009 69.8 SPS 63.

Tahun 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 15 . 2009 Gambar di atas menunjukan bahwa penyakit berbasis Puskesmas terbanyak adalah Diare (56.5 STP Berbasis Rumah Sakit (Rawat Inap) Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 1200 1000 800 600 400 200 0 Tifus Perut Klinis Tifus Perut Kultur (+) Pneumonia Malaria Klinis Diare Malaria Fals ifarum Ters angka TBC Paru Demam Berdarah Dengue TBC Paru BTA (+) Demam Dengue 459 412 303 252 212 133 123 118 1122 923 Sumber: Laporan STP Bidang PP&PL. Ada 29 penyakit menular yang diamati dan dipantau trend kasusnya sepanjang tahun. Malaria Klinis (14.Diabetes Mellitus.6 %).2 %). Adapun data kasus baru penderita rawat inap penyakit menular berbasis rumah sakit tahun 2009 adalah sebagai berikut: Gambar 3. STP penyakit menular berbasis Rumah Sakit dipisahkan untuk penderita rawat inap dan rawat jalan.4 STP Berbasis Puskesmas Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 18000 16000 14000 12000 10000 8000 6000 4000 2000 0 1 Diare Malaria Klinis Tifus Perut Klinis Tersangka TBC Paru Disentri TBC Paru BTA (+) Malaria Vivax Demam Dengue Pneumonia Malaria Falsifarum Sumber: Laporan STP Bidang PP&PL.7 %). Adapun data kasus baru penyakit menular berbasis puskesmas dapat dilihat pada tabel berikut: Gambar 3. dan Tifus perut klinis (10.

Selanjutnya akan diuraikan situasi beberapa penyakit menular yang perlu mendapatkan perhatian.1. Pemerintah Daerah dan lintas sektoral bersama mitra kerja pembangunan termasuk LSM. Pada tahun 2010 menurunnya 50 % jumlah desa dengan positif malaria ≥ 5 per 1000 penduduk 2. Diare.2. 3. Sedangkan pada tahun 2008. TB Paru. Frambusia. Pembebasan Malaria dilakukan secara bertahap yang didasarkan pada Page 16 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 .1. HIV/AIDS. 3. Pada Tahun 2020 seluruh wilayah Indonesia sudah melaksanakan intensifikasi dan integrasi dalam pengendalian malaria Kebijakan Pelaksanaan Program P2 Malaria yaitu : 1. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA). termasuk situasi penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I).1. dan Tifus perut klinis. dunia usaha dan masyarakat 2. Sedangkan tujuan khususnya adalah : 1. 3. 3 (tiga) penyakit rawat inap terbanyak adalah Diare. penyakit potensial KLB/Wabah.2. Penyakit Menular yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). penyakit potensial wabah. Flu Baru AI (H1N1). dan situasi penyalahgunaan NAPZA. Filariasis.Dari gambar di atas menunjukan bahwa urutan 3 (tiga) penyakit rawat inap terbanyak adalah Tifus perut klinis. dan DBD. Pada tahun 2010 semua Kabupaten/Kota mampu melakukan pemeriksaan sediaan darah malaria dan memberikan pengobatan tepat dan terjangkau. Penyakit Menular Penyakit menular yang disajikan dalam bagian ini antara lain penyakit Malaria. DBD. situasi penyakit tidak menular. Rabies. Malaria Tujuan umum program Pemberantasan Penyakit Malaria di Provinsi Sumatera Selatan adalah Pembebasan Provinsi Sumatera Selatan dari malaria tahun 2020. Dilakukan secara menyeluruh dan terpadu oleh Pemerintah. Kusta.

Hal ini disebabkan Kabupaten Bangka dan Belitung berpisah dari Povinsi Sumatera Selatan.6 8.2009 AMI per 1000 penduduk 25 20 15 10 5 0 2003 2004 2005 2006 Tahun 2007 2008 2009 8.74 21.9 10.7 8.6 berikut terlihat bahwa angka kesakitan malaria dari tahun 2003 ke tahun 2004 menurun secara drastis.6 Annual Malaria Incidence (AMI) Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003 . AMI (Annual Malaria Incidence) tahun 2003 – 2009 di Provinsi Sumatera Selatan adalah sebagai berikut: Gambar 3.48 Sumber: Bidang PP&PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Provinsi Sumatera Selatan adalah daerah endemis malaria. dimana tahun 2009 terdapat 7 kabupaten endemis malaria sedang dan 8 kabupaten/kota lainnya digolongkan pada daerah endemis rendah.1 8.04 8.situasi malaria dan kondisi sumber daya setempat Pada Gambar 3. Satu kota diantara daerah endemis rendah yaitu Kota Palembang adalah daerah bebas malaria dalam arti kasus yang ada adalah kasus impor dari kabupaten lain (Kabupaten Banyuasin). Kedua Kabupaten tersebut adalah penyumbang kasus malaria paling tinggi. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 17 .

326 836 837 Jumlah 7. 07.38 0.066 7.045 91 Banyuasin 818.879 2.45 Dari tabel diatas angka kesakitan (malaria klinis) per 1000 penduduk di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 (AMI) adalah 8.27%).41 17.641 223 126 Palembang 1. 12.531 kasus).63 0.42 5.663 130 18 5 Empat Lawang 213. 06.65 17. 08.01 100 100 100.66 15.713 9. 10. 14.35 1.48 53.29 100 130 19.263 1.248 30.12 18.39 27.85 0 19.438.08 15.2 Jumlah Penderita Malaria Klinis. 02. Kasus klinis tanpa konfirmasi laboratorium diberikan pengobatan klinis malaria di Puskesmas.776 30 39 OKU Timur 581.665 3.53 0.779 1.627 2.583 0 0 Muara Enim 668.055 7.280 4.106 771 OKI 707.9 %.491 8 8 OKU Selatan 331.36 5.88 8.905 Lahat 341. Kota Lubuk Linggau 17.07 ‰ (7.209 5. 11.217 kasus).729 Sumber : Bidang P2PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan.341 11.922 1.42 % dan persentase dari sediaan darah yang positif dari seluruh sediaan darah yang diperiksa (SPR) 21.486 48 2 2 Lubuk Linggau 186. Pengobatan kasus malaria yang ditemukan secara Detection) di Puskesmas dengan Pengobatan Radikal PCD (Pasif Case dengan konfirmasi laboratorium.872 2. sedangkan terendah di Kabupaten Ogan Ilir 0.940 7. Pengobatan klinis malaria maupun dengan konfirmasi laboratorium positif malaria di kabupaten/kota umumnya masih mengunakan obat Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 18 .08 ‰ (7.056 3. Kabupaten Lahat 22.326 kasus). Konfirmasi Laboratorium dan AMI Menurut Kabupaten / Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Kabupaten / Kota (1) Jumlah Penduduk (2) Penderita Klinis (3) SD Diperiksa (4) SD Positif (5) SPR (6) AMI (7) OKU 267.272 753 146 Ogan Ilir 384. 05.210 Musirawas 505.938 485 485 34 Prabumulih 137.531 2. dengan jumlah sediaan darah yang diperiksa / ABER ( Annual Blood Examination rate) 0.07 3.Tabel 3.45 ‰ dengan kematian (CFR 0.47 32.88 ‰ (3.635 529 Musi Banyuasin 523.78 56. 15.217 7.5 7.222.786 52 26 26 Pagar Alam 116. 03.34 12. 13.34 0. Angka kesakitan (malaria klinis) per 1000 penduduk di kabupaten/kota Provinsi Sumatera Selatan dalam tahun 2009 tertinggi adalah di Kabupaten Ogan Komering Ulu 27. 2009 01.49 8.635 62.022 7.96 27.34 ‰ (130 kasus). 09. 04.025 8.53 22. 10.

Serta tidak terlepas dari peran serta masyarakat itu sendiri. Hasil survey Prevalensi TB di Indonesia tahun 2004 bahwa prevalensi TB BTA positif secara Nasional 110 per 100. sektor Perikanan dan Kelautan. Hal ini tidak terlepas dari kuantitas maupun kualitas dokter/perawat/bidan yang sudah dilatih. Kabupaten OKI.Cloroquin. Kabupaten Banyuasin.18% dan persentase pemeriksaan sediaan darah 22%.000 penduduk. Muba dan Kab. hal ini menjadi tantangan yang besar bagi petugas laboratorium dalam pemeriksaan sediaan darah malaria yang tidak terlepas dari SDM.OKU) sudah mengunakan obat terbaru yaitu ACT (Artemisinin Combination Therapy). bahan dan alat pemeriksaan yang ada. serta alat dan bahan laboratorium malaria maupun SDM mikroskopis/pengelola program malaria yang ada di kabupaten/kota dan puskesmas. sektor Peternakan.2. walaupun target yang ingin dicapai adalah 100 %. Kab.1. sudah mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2008 yaitu ABER 0.42 % dan tingkat persentase pemeriksaan sediaan darah 48. Dari Gambar pola maksimum minimum tahun 2004-2009 dapat dilihat puncak penularan terjadi pada bulan Januari maka seyogianya kegiatan Indoor Residual Spraying (IRS) dilaksanakan pada bulan November guna mencapai hasil pemberantasan vector yang optimum. TB Paru Penanggulangan tuberkulosis menerapkan strategi DOTS yang dilaksanakan secara Nasional di seluruh UPK terutama puskesmas yang di integrasikan dalam pelayanan kesehatan dasar.2. Kabupaten Ogan ilir dan Kota Pagar Alam. Muara Enim. sektor Pertanian. Jumlah sediaan darah yang diperiksa dari penduduk dalam satu tahun / Annual Blood Examination Rate (ABER) tahun 2009 yaitu 0. 3. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 19 . sedangkan di tiga kabupaten wilayah GF Malaria Round 6 tahun 2009 (Kab. Dan masih adanya beberapa kabupaten/kota tidak/kurang melaksanakan pemeriksaan sediaan darah malaria antara lain Kabupaten Empat Lawang. Keberhasilan pemberantasan penyakit malaria tidak hanya terletak pada satu institusi yaitu Dinas Kesehatan saja namun perlu keterkaitan dengan sektor-sektor lain antara lain Sektor Kimpraswil.18 %.

memutuskan mata rantai penularan serta mencegah terjadinya MDR TB. Targetnya adalah tercapainya penemuan pasien baru TB BTA positif paling sedikit 70 % dari perkiraan dan menyembuhkan 85 % dari semua pasien tersebut serta mempertahankannya.000 penduduk.secara regional di Indonesia dikelompokkan dalam 3 wilayah.62 Sumber : Bidang P2PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan.43 2008 70 46. 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 20 .47 2001 35 24. Angka penemuan pasien baru TB BTA positif (Case Detection Rate) di Provinsi Sumatera Selatan dari tahun 2000 s/d 2008 berfluktuatif . Target ini diharapkan dapat menurunkan tingkat prevalensi dan kematian akibat TB hingga separuhnya pada tahun 2010 dibanding tahun 1990. Tujuan dari Program Pemberantasan TB Paru adalah menurunkan angka kesakitan dan angka kematian TB.7 Angka Penemuan Pasien Baru TB BTA Positif (CDR) Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2000 – 2009 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 2000 TARGET CDR 25 23.69 2009 70 44.72 2005 70 42.62 2004 60 55. dapat dilihat pada gambar di bawah ini : Gambar 3. dan mencapi tujuan millenium development goals (MDGs) pada tahun 2015.74 2003 50 41. Sumatera masuk dalam wilayah 1 dengan prevalensi TB adalah 160 per 100.73 – 2007 70 45. sedangkan target mulai dari tahun 2005 sebesar 70 %.61 2002 40 29.77 2006 70 46.

dan CDR TB paru BTA+ belum mencapai target (70%). wilayah Sumatera dengan prevalensi 160 per 100. Untuk penemuan pasien baru TB BTA positif di Sumatera Selatan tidak mengalami penurunan tetapi ada kenaikan setiap tahunnya walaupun belum mencapai target.62%.000 penduduk. memperluas jejaring untuk menemukan dan mengobati pasien TB dengan ekspansi ke rumah sakit dan lapas/ rutan serta meningkatkan kemitraan dengan LSM. dan mutasi petugas masih tinggi. pada tahun 2005 terjadi penurunan. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 21 . Hal ini disebabkan karena belum semua RS dan DPS melaksanakan strategi DOTS.8.000 penduduk yang sebelumnya hanya 130 per 100. ada peningkatan CDR mulai tahun 2000 s/ d tahun 2004 dan peningkatan yang tajam pada tahun 2003 dan 2004. Oleh sebab itu maka diperlukan pelatihan P2TB bagi tim DOTS di rumah sakit.7. ini disebabkan dengan adanya hasil survey prevalensi TB tahun 2004. Angka Penemuan Pasien baru TB BTA posistif (Case Detection Rate =CDR) di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 per kabupaten/ Kota dapat dilihat pada Gambar 3. menunjukkan bahwa dibandingkan tahun 2008.Dilihat dari Gambar 3. pada tahun 2009 terjadi penurunan CDR TB paru BTA+ diprovinsi Sumatera Selatan dari 46. penjaringan suspek di sebagian kab/kota masih ketat.57% menjadi 44.

43 25.19 Sumber : Bidang P2PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan.29 Lahat M.8 Angka Penemuan Pasien Baru TB BTA Positif (CDR) Menurut Kabupaten/kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 75.89 OKU Sumsel 53.84 2008 87.78 68.36 2006 84.4 2002 80.35 6.2008 90 85 80 75 70 2000 CR 80.Gambar 3.01 33.68 OI 53.00 55.Enim 48.00 35.Asin MUBA MURA 26.62 Sumber : Bidang P2PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan.00 65.2 2007 84.00 5.Lawa P.01 43.Alam au mulih ang ng 45.63 2005 83.Lingg Prabu Palemb E.00 25. 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 22 .9 Angka Kesembuhan (Cure Rate) Pasien Baru TB BTA Positif Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2000 .86 2004 81.84 44.01 OKUT OKUS B.48 46.62 70.00 CDR L. 2009 Gambar 3.44 29.74 2003 82.99 53.00 15.00 45.3 2001 75.95 OKI 40.

00 70.17 OKUT 79.00 80.Lawa P. Gambar berikut menampilkan distribusi pencapaian CR menurut kabupaten/kota.27 OKI 92.41 OKU 87.Alam au mulih ang ng 94.95 95.44 100 84.00 40.Angka kesembuhan (Cure Rate = CR) merupakan angka pasien baru TB BTA positif yang sembuh setelah masa pengobatan.27 59. Hal ini disebabkan oleh Tingkat kepatuhan penderita yang berobat cukup tinggi.00 CR L.91 OI 92.19 85.00 30. sedangkan 5 Kabupaten/ Kota yang lain CR belum mencapai target.00 90.15% dengan target SPM > 85%.34 OKUS B.21 94.38 44. 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 23 .19 Sumber : Bidang P2PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan.00 20. Ini menunjukkan bahwa P2 TBC telah memenuhi dan melampaui target SPM untuk tahun 2009.43 Lahat M.00 60. Dari Gambar diatas dapat dilihat bahwa angka kesembuhan (cure rate) TBC Provinsi Sumatera Selatan tahun 2008 yaitu sebesar 87. Gambar 3.23 Sumsel 87.28 80. terdapat 10 Kabupaten/Kota dengan CR sudah mencapai target > 85 %.Asin MUBA MURA 95.00 50.Enim 85.Lingg Prabu Palemb E.10 Angka Kesembuhan (Cure Rate) Pasien Baru TB BTA Positif Menurut Kabupaten/kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 100.

14 Kabupaten/kota lainnya belum mencapai target SPM. yaitu kabupaten Musi Rawas. Pengidap HIV dan Penderita AIDS Infeksi HIV dan AIDS dalam 10 tahun terakhir semakin nyata menjadi masalah kesehatan masyarakat di Sumatera Selatan yang dibuktikan dengan terus meningkatnya kasus yang ditemukan melalui kinik VCT dan laporan suveilans AIDS dari RS. Palembang. dan di Indonesia sendiri telah mengalami perubahan Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 24 .2.11 Penemuan Pasien Baru TB BTA (+) Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa hanya terdapat satu kabupaten memenuhi target capaian SPM (70%).1. Banyuasin. Pagar Alam.Gambar 3. dan Empat Lawang berada pada range 50-70%. Muara Enim. OKI. OKUT. terdiri dari 3 Kabupaten yaitu OKU.3. Kota Prabumulih. OI. dan Lubuk Linggau berada pada range terendah yaitu dibawah 50%. 11 Kabupaten/kota yaitu MUBA. Lahat. 3. Infeksi HIV dan AIDS sudah menyebar hampir di seluruh Kabupaten/Kota di wilayah Sumatera Selatan. OKUS.

3. Pada era sebelumnya upaya penanggulangan HIV dan AIDS di prioritaskan pada upaya pencegahan. Tabel 3. 2. tetapi di Sumatera Selatan masih pada epidemi rendah karena prevalensi HIV 0.3 terlihat bahwa Prevalensi Rate dari hasil uji saring (skrining) oleh PMI Kota Palembang yaitu 0.3 Laporan Uji Saring HIV di PMI Kota Palembang Tahun 2009 No Kelompok Umur Jumlah Pemeriksaan 3 12098 9942 7886 7678 Hasil pemeriksaan reaktif 4 16 2 1 3 Prevalens Rate 6 0.02 0.13 0. 5.05 % (22 orang) dari jumlah pemeriksaan skrining darah donor sebanyak 37. maka apabila darah tersebut mengandung HIV tidak akan di donorkan.01 0. Dan juga dalam rangka mendukung target VCT pada MDGs untuk tahun 2010 yaitu 300.6 %. maka strategi penanggulangan HIV dan AIDS dilaksanakan dengan memadukan upaya pencegahan dengan upaya perawatan.03 0 0. sehingga upaya ini sangatlah penting dilakukan. 2 17 – 30 tahun 31 – 40 tahun 41 – 50 tahun 51 – 60 tahun >60 tahun 314 0 Jumlah 37918 22 Sumber : PMI UTDC Kota Palembang 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 25 .05 1 1. Dengan semakin meningkatnya pengidap HIV dan kasus AIDS yang memerlukan terapi antiretroviral ( ARV). maka peran klinik VCT dalam upaya untuk meningkatkan cakupan penemuan kasus baru serta penanganan 100 % juga harus dimaksimalkan.000 klien yang melakukan complate testing. Skrining pada darah donor merupakan salah satu upaya pencegahan penularan HIV kepada orang lain.dari epidemi rendah menjadi epidemi terkonsentrasi. Pada tabel 3. hal ini karena hasil survei pada sub populasi tertentu menunjukkan prevalensi HIV di beberapa provinsi telah melebihi 5 % secara konsisten.918 orang pada tahun 2009. dukungan serta pengobatan. 4.

sehingga cakupan penemuan kasus baru mengalami peningkatan yang selanjutnya dapat mendapatkan layanan perawatan. layanan dilakukan baik statis (di Rumah Sakit) maupun mobile VCT untuk mendekatkan akses layanan ke kelompok resiko tinggi tertular HIV. OKU.12 di atas terlihat penemuan HIV pada tahun 2009 berjumlah 85 kasus meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2008 berjumlah 67 kasus. Prabumulih. dukungan dan pengobatan. Peningkatan kasus ini karena adanya klinik VCT yang telah di bentuk di beberapa kabupaten/kota (Palembang.Gambar 3.12 Jumlah Pengidap HIV (+) PerTahun Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 600 500 400 300 200 100 0 HIV KUMUL 1995 1 1 1996 1 2 1997 5 7 1998 4 11 1999 2 13 2000 14 27 2001 16 43 2002 16 59 2003 24 83 2004 30 113 2005 87 200 2006 98 298 2007 41 339 2008 67 406 2009 76 482 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari Gambar 3. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 26 . dan Musi Rawas).

RS. Pada fase infeksi HIV ini tidak menunjukkan gejala sehingga klien jarang mendatangi layanan kesehatan. jika dibandingkan dengan tahun 2008 sebanyak 45 orang. tempat hiburan.Gambar 3. Pengguna Narkoba Suntik. yaitu sebanyak 70 orang. Berikut adalah gambaran jumlah penderita AIDS di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009. yang merupakan salah satu kota transit dari pulau Jawa-pulau Sumatera melalui jalur transportasi darat sehingga banyak sekali hotel. Waria.Hoesin. Hal ini disebabkan karena klien banyak datang ke layanan kesehatan apabila sudah mendapatkan kumpulan gejala AIDS dan hasil testing HIV dinyatakan positif dari Rumah Sakit atau klinik VCT. dan RS Ernaldi Bahar sehingga memudahkan klien untuk mendapatkan layanan. dan kelompok resti (WPS. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 27 . seperti di RSUP Moh. dan Homoseksual) yang lebih banyak di banding kota lainnya. Layanan Klinik VCT (Voluntary Counseling and Testing) cukup banyak terdapat di kota Palembang. termasuk untuk mengetahui status HIV nya.RK Charitas.13 Kumulatif Penyebaran Pengidap HIV (+) Per Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 1995-2009 500 450 400 350 300 250 200 150 100 50 0 PLG 401 OKI 5 OI 2 OKU OKT 10 1 OKS 0 MBA 6 BA 2 MRA 8 LLG 21 ME 3 PBM 22 LHT 8 PGA 2 4L 0 TOT 491 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari Gambar diatas dapat dilihat bahwa kasus penemuan HIV (+) tertinggi adalah di kota Palembang karena Kota Palembang adalah kota terbesar di Provinsi Sumatera selatan. yang menunjukan adanya peningkatan jumlah kasus AIDS. dan masih ada lokalisasi yang terkoordinir.

2. RSUD Ibnu Sutowo Baturaja. Dukungan dan Pengobatan) di 8 rumah sakit pelaksana CST yaitu RSMH Palembang.Gambar 3 .1.4. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 28 . Kusta Provinsi Sumatera Selatan termasuk daerah ”Low Endemik” Kusta. RSUD Banyuasin. Support & Treatment/ Perawatan.000 penduduk. RSUD Sobirin Musi Rawas. yang dapat menunjang menurunkan angka kesakitan dan angka kematian.14 Jumlah Penderita AIDS PerTahun Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 1995-2009 300 250 200 150 100 50 0 AIDS KUMUL 95 1 1 96 0 1 97 0 1 98 0 1 99 0 1 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 0 1 3 4 4 8 6 14 15 29 18 47 37 84 49 133 45 178 70 248 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Penemuan kasus AIDS sejak tahun 1995 sampai dengan tahun 2009 terus mengalami peningkatan. RSUD Prabumulih. dengan Prevalensi Rate (PR) < 1/ 10. 3.000 penduduk dan Case Detection Rate (CDR) < 5 / 100. RSUD Kayu Agung. dan RS RK Charitas. RS Ernaldi Bahar. secara kumulatif sebanyak 248 kasus HIV yang telah ditemukan. Strategi dalam upaya untuk meningkatkan kualitas hidup ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) adalah dengan dibentuknya layanan CST ( Care.

Target SPM untuk CDR kusta adalah <5/100.99/100. Kebijakan :  Pelaksanaan program pengendalian kusta diintegrasikan pelayanan kesehatan dasar di puskesmas.  Memperkuat sistem rujukan. Case Detection Rate (CDR) Penemuan kasus baru penderita kusta (case detection rate/ CDR) di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2008.05/100. yaitu sebesar 3. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar berikut: Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 29 .  Menghilanglang stigma sosial dalam masyarakat dengan mengubah paham masyarakat terhadap penyakit kusta melalui penyuluhan secara intensif.000.  Pengobatan penderita kusta dengan MDT sesuai dengan rekomendasi WHO di berikan Cuma-Cuma.000 pada tahun 2009 dan 3. ini menunjukkan bahwa P2 Kusta telah memenuhi atau mencapai target SPM untuk tahun 2009.Tujuan :  Menurunkan transmisi penyakit kusta pada tingkat tertentu sehingga kusta tidak menjadi masalah kesehatan masyarakat.000 pada tahun 2008.  Penderita tidak boleh diisolasi.  Mencegah kecacatan pada semua penderita baru yang ditemukan melalui pengobatan dan perawatan yang benar.

5 PLG 2.54 6 ME 4.53 PRO V 3.4 0.22 5 BA 2.3 1.5 2.4 1.5 LL 0 1 OKU S 0.8 0.2 4 3.5 MR 0.5 3.8 1.4 2.6 0.5 PB 6.4 2 OKUT 0.Gambar 3.99 3.05 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Gambar 3.15 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dalam upaya penanggulangan penyakit kusta.8 2.86 4 OKU 1. salah satu indikator yang digunakan untuk menilai keberhasilannya adalah angka proporsi cacat tingkat II (kecacatan yang dapat dilihat dengan mata) dan proporsi anak diantara kasus baru.4 3.05 7 1. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 30 .04 6.78 MB 3 3.2 3 2.5 2.87 4.47 4L 1.32 2.16 Penemuan Kasus Baru (CDR) Penderita Kusta Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 PROV PB ME OKI BA PLG OKU 4L LHT MB OI OKUT MR OKUS LL PA 0 PA CDR 0 0.5 OI 0.2 2 1.7 2.1 2 1.9 2.7 3.6 2.44 5.3 1.6 1.2 0 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 CDR 3.06 3.15 CDR (case detection rate) Kusta Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 1998-2009 4.5 LHT 1.8 3.2 1 0.5 OKI 2.6 3.

tingginya Leprae Phoby di masyarakat. terjadi peningkatan angka proporsi cacat tingkat II yaitu dari 13.09 % dengan target SPM untuk proporsi penderita kusta anak sebesar ≤ 5%.25 ABSOLUT 2 PR OK MU MB OKI ME LHT PA A U RA 0 0 16 5. dan petugas kurang terampil dalam deteksi dini penyakit kusta karena daerah low endemic. Hal ini disebabkan karena keterlambatan penemuan kasus. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 31 . masih dibawah target SPM untuk proporsi Cacat tingkat II yaitu ≤ 5%.36%.3 9 0 0 0 0 0 0 LL 0 0 BA 5 34 OI 0 0 OK OK PR 4L UT US OV 0 0 0 0 0 0 21. Ini menunjukkan bahwa P2 Kusta telah memenuhi atau mencapai target SPM proporsi penderita kusta anak untuk tahun 2009.Gambar berikut menunjukkan angka proporsi Cacat tingkat II Provinsi Sumatera Selatan yaitu 21.55 1 1 0 0 33. Dibandingkan tahun 2008.17 Proporsi Penderita Kusta Cacat Tingkat II Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 PLG CCT TK II 6.3 47 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 proporsi penderita kusta anak di Provinsi Sumatera Selatan adalah 4.36%. Gambar 3. Hal ini dapat menggambarkan penularan kusta yang terjadi di Provinsi Sumatera Selatan cukup terkendali.36% menjadi 21.

87 4. 11.3 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 3. 10.1. 9.04 2.39 2.5 1 0.5 2 1.46 0.9 1.44 0. 8.03 1.77 0.22 OKI OKU ME LHT MUR PA A 0 LL 0 BA OI OKU OKU PRO 4L T S V 1.4 3. 3.Gambar 3.5 4 3. 7. Penyakit Menular yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I) Tabel 3.4 Data Penyakit PD3I Per Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 No.5 0 PLG PRA MB CDR 2. 2.54 1.5 3 2.14 2.2.5.34 0. 4. 5. 6. OKU OKI Muara Enim Lahat Musi Rawas Musi Banyuasin Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Empat Lawang 2 0 1 1 0 0 2 0 0 1 0 Meninggal 2 0 0 1 0 0 0 0 0 0 0 Difteri Penderita 0 1 0 0 0 2 1 0 0 0 0 Meninggal 0 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 152 36 35 95 33 155 27 0 34 1 4 Campak Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 32 . Kabupaten/Kota Neonatorum Penderita 1.18 Proporsi Kusta Anak Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 5 4.

sedangkan CFR yang tertinggi terjadi di kabupaten OKU dan Lahat (100%). Sumatera Selatan menduduki posisi 3 terbesar kasus Tetanus Neonatorum pada tahun 2008. Banyuasin. Dari tabel di atas terlihat bahwa jumlah kasus Tetanus Neonatorum (TN) sebanyak 10 kasus dan meninggal 4 (CFR 40 %). 15. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 33 . dan kota Palembang. 13. Secara Nasional. 14. Kasus TN terbanyak terdapat di Kabupaten OKU. Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau Sumatera Selatan 2 0 0 0 10 1 0 0 0 4 3 0 0 0 7 1 0 0 0 2 274 39 17 52 954 Sumber : Subdin P2PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan.12.19 Penderita Tetanus Neonatorum Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003 – 2009 100 90 80 Jumlah Penderita 70 60 50 40 30 20 10 0 2003 14 8 2004 24 11 2005 21 8 2006 15 10 2007 17 14 2008 17 8 2009 19 8 Penderita Meninggal Sumber : Subdin P2PL Dari Gambar diatas terlihat ada kenaikan jumlah penderita Tetanus Neonatorum pada tahun 2009 yaitu 19 orang dengan kematian 8 orang. Gambar 3.

tahun 2008 ( laporan integrasi kab/kota) 274 39 155 36 152 35 95 33 17 52 27 34 11 0 1 440 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 34 . Sumatera Selatan merupakan provinsi terbesar kedua untuk kasus difteri pada tahun 2008. kasus terbanyak pada tahun 2007 (12 kasus) dan terendah pada tahun 2003 (2 kasus).20 Penderita Difteri Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003 . Alam 0 5 2 1 0 8 4 6 6 0 1 L. Tabel 3.5 Distribusi Kasus Campak Berdasarkan Kelompok Umur Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2007 .2009 Penemuan kasus difteri cenderung terjadi penurunan. Enim 22 36 19 8 13 98 10 4 7 8 6 Lahat 12 20 23 5 23 83 5 22 36 16 16 Mura 5 10 11 10 8 44 4 7 7 7 8 P.2009 16 14 12 10 8 6 4 2 2003 Penemuan 2 2004 12 2005 3 2006 8 2007 12 2008 10 2009 7 Sumber: Laporan Difteri Subdin PP&PL./Kota <1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 1-4 5-9 2008 10-14 > 15 Total <1 1-4 5-9 2009 10-14 > 15 Total Palembang 39 77 112 69 94 391 24 69 67 97 67 Prabumulih 1 5 6 2 1 15 10 12 7 5 5 Muba 13 23 24 14 15 89 26 48 42 15 24 OKI 5 16 11 3 13 48 5 9 6 3 13 OKU 14 28 28 17 10 97 26 45 41 16 24 M.Gambar 3. tahun 2003 . Meskipun demikian.2009 No. Kab. Linggau 0 0 0 1 2 3 4 6 17 15 10 Banyuasin 5 9 2 1 0 17 1 8 12 5 1 Ogan Ilir 4 1 2 0 1 33 0 17 13 1 3 OKUT 0 0 0 0 0 8 8 1 1 1 0 OKUS 0 4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 4 Lawang 0 4 0 0 0 4 1 0 0 0 0 Provinsi 125 234 246 135 194 938 33 161 134 63 49 Sumber : Tahun 2007 (Validasi Data Campak).

5%.3%. Gambar 3.21 Penemuan Kasus Campak Rutin Menurut Kelompok Umur Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 150. 13% 146. 24% < 1 Th 223.Data pada tabel di atas menunjukan bahwa kasus campak pada tahun 2008 tertinggi terjadi pada kelompok umur 5-9 tahun yaitu sebesar 24% dan terendah pada kelompok umur < 1 tahun yaitu sebesar 13. sedangkan pada tahun 2009 kasus campak tertinggi pada kelompok umur 1-4 tahun yaitu sebesar 36. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 35 .5%).5% jika dibandingkan pada kelompok umur < 4 tahun (37. 18% 109.59% dan terendah pada kelompok umur < 1 tahun yaitu sebesar 7. 18% 202. 27% 1-4 Th 5-9 Th 10-14 Th > 15 Th Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari Gambar di atas dapat dilihat bahwa sebagian besar kasus campak terjadi pada kelompok umur > 5 tahun yaitu sebesar 62.

6 Distibusi Kasus Campak Per Bulan Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15. Alam L.ILIR 34 33 4 LWG 1 4 PLG 274 391 PRB 39 15 PGA 17 8 LGU 52 3 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 36 .kota./Kota 1 2 23 1 14 2 14 2 6 4 3 5 3 3 0 0 0 60 3 29 0 11 8 11 7 5 3 8 2 6 1 2 0 0 93 4 33 3 9 2 9 1 7 3 0 4 5 0 3 0 0 79 5 Kasus Campak Per Bulan 6 7 8 9 26 3 17 5 18 1 6 5 2 10 5 3 3 0 0 104 21 5 14 2 14 6 15 1 1 8 0 2 1 0 0 90 14 1 16 2 16 0 8 2 0 7 1 5 0 0 1 73 20 7 9 5 9 0 11 0 0 7 2 5 0 0 0 75 10 11 5 4 0 3 2 2 0 0 4 0 0 0 0 0 31 11 22 6 15 1 11 0 15 0 0 2 0 0 1 0 0 73 12 23 3 12 2 12 1 10 0 2 0 0 7 0 0 0 82 Total 268 39 155 36 129 35 95 33 21 52 27 34 11 0 1 949 Palembang Prabumulih Muba OKI OKU M.Tabel 3.ASIN 27 17 OKUS 0 0 OKUT 11 8 O. Enim Lahat Mura P. Timur O. Selatan 4 Lawang Provinsi 20 0 10 2 11 11 5 4 4 1 1 7 1 0 0 77 26 5 24 5 24 4 5 11 1 2 4 1 0 0 0 112 Sumber data : Laporan integrasi kab.22 Data Campak Menurut Sumber Laporan Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2008-2009 250 200 150 100 50 0 2009 2008 2009 2008 OKU 152 97 OKI 36 48 M. Kab. 2009 Gambar 3. Linggau Banyuasin Ogan Ilir O.ENIM 35 98 LHT 95 83 MURA 33 44 MUBA 155 89 B.

Gambar 3. nampak masih ada kabupaten/kota yang belum mencapai target kelengkapan laporan yaitu Kabupaten OKI.23 Sebaran Kasus Campak Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari gambar di atas. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 37 . Empat Lawang dan OKU Timur.Dari Gambar di atas terlihat bahwa kasus klinis campak meningkat pada tahun 2009 di beberapa kabupaten/kota dengan jumlah peningkatan tertinggi pada kota Lubuk Linggau dari 3 kasus pada tahun 2008 menjadi 52 kasus pada tahun 2009. Selain itu mulai bulan Juli 2009 dilaksanakan kegiatan Cases Based Méasles Surveillance (CBMS). yaitu melakukan pemeriksaan spesimen darah penderita klinis campak dengan konfirmasi laboratorium sebanyak 20% total perkiraan kasus dalam 1 tahun.

ASIN 3 0 0 3 OKUS 0 0 0 0 OKUT 0 0 0 0 O.2%.ILIR 3 0 1 2 4 LWG 1 0 0 1 PLG 83 12 35 36 PRB 2 0 1 1 PGA 2 0 0 2 LGU 2 0 1 1 Klinis Rubella Campak Negatif Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 38 . Hal ini menunjukkan perlunya dilakukan pemeriksaan spesimen pada kasus klinis campak yang ditemukan sebagai upaya untuk intervensi program imunisasi dan sebagai dasar pengambilan keputusan untuk pelaksanaan kegiatan selanjutnya.5%.24 Hasil CBMS Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 150 116 100 61 50 13 0 2009 Spesimen 116 Campak 13 Rubella 42 Negatif 61 42 Sumber : Laporan Integrasi S-AFP.Gambar 3.25 Hasil Pelaksanaan CBMS Konfirmasi Laboratorium Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 90 75 60 45 30 15 0 Klinis Campak Rubella Negatif OKU 8 0 2 6 OKI 0 0 0 0 M.ENIM 6 0 1 5 LHT 0 0 0 0 MURA 2 0 1 1 MUBA 4 1 0 3 B. IgM(+) Rubella sebesar 36. nampak bahwa hasil serologis pada 116 kasus klinis campak yang ditemukan di Sumatera Selatan. Gambar 3. Campak & Rubella (-) sebesar 52.2%). ternyata 13 kasus IgM (+) campak (11. TN & Campak Tahun 2009 Dari Gambar di atas.

Namun hingga tahun 2009 tidak terjadi KLB.42%) menurun menjadi 1. Hal ini disebabkan karena kesadaran masyarakat untuk segera membawa keluarga/penderita langsung ke Rumah Sakit atau sarana pelayanan kesehatan yang terdekat.2.000 dan CFR 0. yaitu antara lain Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 39 .Dari Gambar diatas terlihat bahwa kasus klinis dan laboratoris yang terbanyak berasal dari Kota Palembang. mengingat memang jumlah penduduknya yang lebih padat dibanding kabupaten/kota lain. dimana situasi tahun 2008 dari 2.357 penderita (IR 34/100.28%)) di tahun 2009. dan ini juga tidak luput dari kinerja petugas kesehatan. Penyakit Potensial KLB / Wabah 1). Untuk Kabupaten Lahat.6. Demam Berdarah Dengue Sejak terjadi KLB DBD pada tahun 1998.774 penderita (IR 25/100.1. 3.26 Kasus Campak (CBMS) Menurut Kelompok Umur dengan Konfirmasi Laboratorium Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 100% 50% 0% > 15 Th 10-14 Th 5-9 Th 1-4 Th < 1 Th Klinis 37 22 26 23 8 Negatif 22 6 15 13 6 Rubella 12 12 7 4 0 Campak 1 1 2 6 2 Equivocal 2 3 2 0 0 Dari Gambar diatas terlihat bahwa proporsi kasus positif campak terbanyak terjadi pada kelompok umur 1-4 tahun (50%). positif Rubella terbanyak pada kelompok umur 10-14 dan > 15 tahun yaitu masing-masing sebesar 34%. maka diperkirakan akan terjadi KLB lagi pada tahun 2003 (berdasar pola lima tahunan).000 dan CFR 0. seiring dengan adanya penurunan kasus/penderita. OKUS dan OKUT tidak mengirimkan spesimen ke Balitbang Bomedis & Farmasi Depkes sehingga tidak diketahui hasil konfirmasinya. Gambar 3.

Penangulangan Fokus. Gambar 3. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 40 . Tujuan dari program:  Meningkatkan kesadaran. Untuk penanggulangan kasus DBD berbagai upaya sudah dilaksanakan setiap tahun seperti penyebaran Surat Edaran Kewaspadaan DBD.  Menurunkan angka kesakitan kurang dari 20/100. insektisida dan pelaksanaan Gertak PSN DBD.upaya-upaya pencegahan dan penanggulangan DBD dalam tata laksana kasus di Rumah Sakit dan puskesmas.000.2009 4000 3500 3000 2500 2000 1500 1000 500 0 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 1406 1048 1511 1270 1621 1774 2280 2360 3487 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari Gambar di atas terlihat bahwa kasus DBD ditemukan setiap tahun. pendistribusian larvasida.27 Kecenderungan Situasi DBD Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2001 . kemauan dan kemampuan masyarakat untuk hidup sehat agar terhindar dari Penyakit Demam Berdarah Dengue dan terselenggaranya kegiatan PemberantasanSarang Nyamuk (PSN) terutama 3 M plus secara berkesinambungan.dan kematian CFR < 1% . sedangkan penemuan kasus yang meninggal tertinggi pada tahun 2004.

69 1. 11.21 0.42%). Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 41 .000 penduduk) 3 9 30 0 5 14 17 0 0 21 1 67 107 23 26 25 Kematian CFR (%) 0. 7. OKU OKI M. 14.28 0 0 0 0 2 1 0 0 0 0 0 2 0 0 0 5 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari tabel di atas penemuan kasus DBD terbanyak untuk tahun 2009 yaitu di kota Palembang sebanyak 965 kasus . 13.7 Distribusi Penemuan Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) Perkabupaten / Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 No Kab/kota Penderita 1. 6.00 0. 15.00 0. 2.Tabel 3. 4. 10.00 0.00 0. Angka kematian tahun 2009 yaitu sebanyak 5 orang (CFR 0.41 0.00 0.00 0.00 7.Linggau Prov 7 61 199 0 26 71 141 0 0 79 3 965 147 27 49 1774 IR (100.00 0.00 0.00 0. 5. 9. 12. Enim Lahat Mura Muba Banyuasin Oku Selatan Oku Timur Ogan Ilir 4 Lawang Palembang Prabumulih Pagar Alam L. 3.00 0.00 0. 8.28%) dibandingkan tahun 2008 (0. Muara Enim sebanyak 199 kasus lalu disusul oleh Prabumulih sebanyak 147 kasus.

28 CFR Penderita DBD Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003 . sedangkan kematian akibat DBD cenderung menurun.1 2009 0.4 2008 0.6 2006 0.29 di atas terlihat bahwa jumlah penderita dari tahun 2004 sampai 2007 mengalami peningkatan. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 42 .487 penderita pada tahun 2007 kemudian menurun pada tahun 2009 menjadi 1774 penderita. dari 1270 penderita pada tahun 2004 menjadi 3.3 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Gambar 3.5 2007 0.Gambar 3. dari 31 pada tahun 2003 menjadi 5 kasus pada tahun 2009.2009 5 4 3 2 1 0 CFR 2003 2.29 Perkembangan Penderita DBD Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003-2009 Jumlah penderita 3500 3000 2500 2000 1500 1000 500 0 case death 2003 1511 31 2004 1270 16 2005 1621 9 2006 2280 2 2007 3487 13 2008 2360 3 2009 1774 5 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari Gambar 3.05 2004 1.26 2005 0.

3.30 Perbandingan Incidence Rate (IR) Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2008-2009 35 30 25 20 15 10 5 0 2008 2009 25 34 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Standar program untuk angka kesakitan (IR) adalah kurang dari 20/100.Gambar.31 Penemuan Penderita DBD yang Ditangani Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 43 . Angka IR belum memenuhi standar program untuk tahun 2008 maupun tahun 2009. Gambar 3.000.

Kabupaten OKU. alergi. Kota Prabumulih di bawah 70%. Sedangkan Kabupaten Muara enim. Kota Palembang. dan Kota Lubuk Linggau berada pada range pertengahan yaitu antara 70%-100%. dan Kota Pagar Alam. Lahat. OKI. Muara Enim dan OKI.32 Distribusi Penderita Diare Semua Umur PerKabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 OKU OKI ME Lht MUR MUB OKU OKU BA OI A A S T 4L PLG Prb PGA LLG Prov 2009 8791 1621 2045 7339 1156 1607 2255 2760 1634 1198 3089 5979 3102 1482 4430 2E+0 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari data di atas dapat dilihat bahwa penderita diare terbanyak ada di Palembang. keracunan. malabsorpsi. Musi Banyuasin. imunodefisiensi dan sebab-sebab lain. sedangkan Kabupaten OKUS.Gambar diatas menunjukkan bahwa Penemuan kasus DBD yang ditangani tertinggi adalah Kabupaten Musi Rawas. 2). Banyuasin. Ogan ilir. Hal ini disebabkan jumlah penduduk Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 44 . Banyuasin. Empat Lawang tidak ditemukan kasus.Tetapi yang sering ditemukan di lapangan ataupun klinis adalah diare yang disebabkan infeksi dan keracunan. OKUT. Diare Secara klinis penyebab diare dapat dikelompokkan dalam golongan 6 besar yaitu : infeksi. Distribusi penderita diare pada tahun 2009 per kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan dapat dilihat pada Gambar berikut ini : Gambar 3.

Selain itu juga didukung oleh sistem pencatatan dan pelaporan yang baik.yang banyak dan padat serta merupakan DAS (endemis diare).33 TREND KEJADIAN DIARE PROV SUMSEL BERDASARKAN BULAN 2008 30000 2009 25000 20000 15000 10000 5000 0 2008 2009 Jan 15194 15419 Feb 14355 14734 Mar 16384 15635 Apr 15036 15340 Mei 15980 14040 Jun 17334 17807 Jul 18111 20210 Ags 18042 25072 Sep 16176 17886 Okt 14977 18504 Nop 13397 16249 Des 11493 15095 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari Gambar di atas dapat dilihat bahwa peningkatan kasus diare biasa terjadi mulai dari bulan Juni sampai dengan bulan Agustus. Sedangkan penderita diare paling sedikit ada di Pagar Alam. Gambar 3. Empat Lawang dan Prabumulih dengan alasan sebaliknya. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 45 . Hal ini dikarenakan pada bulanbulan ini merupakan puncak musim kemarau sehingga warga kekurangan air bersih untuk mencukupi kebutuhan sehari-sehari. OKUS.

Jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Untuk melihat sebaran kasus di 15 Kabupaten/Kota dapat melihat lampiran Tabel 10. Berikut adalah gambaran penemuan penderita diare balita di kabupaten/kota dengan target SPM 70%.24%. dikarenakan jumlah penduduk yang lebih banyak dan padat.23%) pada tahun 2008 menjadi 98. serta sistem pencatatan dan pelaporan yang sudah baik dan rutin. yang berarti bahwa persentase penderita balita yang ditangani terhadap jumlah perkiraan penderita diare di wilayah tersebut adalah 3.890 penderita (capaian SPM 3.24%.24%) pada tahun 2009. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 46 .34 Cakupan Penderita Diare yang Ditangani oleh Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 120 100 80 60 40 20 0 Capaian Target OK MU MU OK OK OKI ME Lht BA OI U RA BA US UT 78 90 54 90 72 90 51 90 54 90 73 90 65 90 20 90 66 90 74 90 4L 34 90 PL Pro Prb Pga LLG G v 98 90 53 90 30 90 56 90 67 90 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari Gambar di atas dapat dilihat bahwa hanya kota Palembang yang mencapai target. Capaian 15 Kabupaten/Kota rata-rata 3. terjadi kenaikan jumlah penderita yaitu dari 67. merupakan daerah aliran sungai dengan masih banyaknya tempat-tempat kumuh.391 penderita (capaian SPM 2.Gambar 3.

kera.7.35 Penemuan Penderita Diare Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 3. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus rabies yang ditularkan melalui gigitan hewan seperti anjing. Jumlah kasus gigitan hewan tertinggi terjadi di kabupaten Muara Enim (158 kasus). musang dan serigala yang di dalam tubuhnya terdapat virus rabies. Rabies Rabies adalah salah satu penyakit yang CFR-nya tinggi.2.1. kucing. kota Palembang (220 kasus). Jumlah kasus gigitan hewan di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 adalah 808 orang sedangkan tahun 2008 ditemukan kasus 978 orang dan tidak ditemukan penderita Lyssa (Rabies). sedangkan kasus terendah terjadi di Kabupaten Oku Selatan (12 Kasus). Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 47 .Gambar 3. kelelawar.

Dari tabel berikut terlihat bahwa sejak tahun 2004 kasus kronis filariasis telah ditemukan di 10 Kabupaten/Kota yaitu di Kota Palembang. Banyuasin. 3.1. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 48 .8.2. Muara Enim. OKU Timur dan MUBA.8 Jumlah Kasus Rabies Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003 – 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Tahun 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Palembang 347 427 135 327 245 232 Prabumulih 35 27 8 10 12 17 Pagar Alam 67 71 19 34 30 74 Lubuk Linggau 35 15 15 17 21 10 Ogan Ilir 0 0 0 65 39 17 OKUS 0 0 0 6 5 47 OKU 70 30 15 46 26 60 MURA 35 66 10 20 36 29 Lahat 79 69 34 34 19 88 OKI 67 83 29 85 41 48 Banyuasin 25 43 278 42 43 43 Muara Enim 261 239 74 269 242 266 OKUT 0 0 67 26 26 17 MUBA 32 40 0 55 24 28 Empat Lawang 0 0 0 0 0 0 Provinsi 1058 1113 684 1036 809 978 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Kab/Kota 2009 220 30 33 21 77 12 52 28 58 30 22 158 18 27 22 808 3.Tabel. Parasit ini ditularkan pada manusia melalui gigitan nyamuk yang telah terinfeksi. Filariasis Limphatic Filariasis adalah penyakit parasit dimana cacing filaria menginfeksi jaringan limfe. Lubuk Linggau. Tetapi untuk 5 kabupaten yang lain masih perlu melakukan program rapid survey secara efektif. Lahat. MURA. dan kemudian menjadi cacing dewasa dan hidup di jaringan limfe. Tujuan dari P2 Filaria adalah untuk mendukung program eliminasi kaki gajah ( ELKAGA) tahun 2020. OKI. Kabupaten Ogan Ilir. Prabumulih.

OKU Timur. Persentase kasus penyakit filariasis yang ditangani dapat dilihat pada lampiran Tabel 13. Sedangkan untuk daerah yang lain program yang dilaksanakan adalah rapid survey dan survey Darah Jari. ditangani 53 kasus (38.81%) melalui program pengobatan massal. Jika MF rate > 1 % berarti daerah tersebut merupakan daerah endemis dengan program utama adalah pengobatan massal. Lahat. OKI. Banyuasin.9 Gambaran Penemuan kasus kronis filariasis Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2004 – 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Tahun 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Palembang 0 1 0 0 0 1 Prabumulih 0 0 0 2 0 0 Pagar Alam 0 0 0 0 0 2 Lubuk Linggau 0 1 0 1 0 1 Ogan Ilir 0 3 0 0 0 2 OKUS 0 0 0 0 0 14 OKU 0 0 0 0 0 1 MURA 0 2 0 0 0 2 Lahat 11 0 0 0 0 15 OKI 0 3 0 0 0 3 Banyuasin 15 13 9 8 13 130 Muara Enim 5 4 3 5 4 13 OKUT 0 5 9 0 0 0 MUBA 0 2 0 0 0 2 Empat Lawang 0 0 0 0 0 0 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Kab/Kota Dari 15 Kabupaten/kota yang ditemukan kasus. Salah satu tujuan program P2 filariasis adalah menurunkan MF rate < 1 %.Tabel 3. Dari 6 kabupaten endemis tersebut baru Kabupaten Banyuasin yang secara kontinue telah melaksanakan pengobatan massal sejak tahun 2004. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 49 . dan MUBA mempunyai MF rate > 1 %. hanya Kabupaten Banyuasin yang mendapat penanganan yaitu dari 130 kasus. Dari tabel berikut terlihat bahwa di 6 Kabupaten/Kota yang ada di Provinsi Sumatera Selatan yaitu Kabupaten MURA.

4 % 0 0 2008 0 0 0 0 0 0 0 1.5 % 0 1.2% 1.4 % 2.3 % 1. Selama tahun 2009 ditemukan 4 (empat) kasus suspek.0% 0 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 3.4 % 0 0 2009 0 0 0 0 0 0 0 1.0 % 1.4% 2.5 % 0 0 0 0 2005 0 0 0 0 0 0 0 1.4 % 0 1.4 % 0 0 2007 0 0 0 0 0 0 0 1.0% 1.0 % 1.10 Gambaran MF rate Filariasis Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2004-2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Kab/Kota Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau Ogan Ilir OKUS OKU MURA Lahat OKI Banyuasin Muara Enim OKUT MUBA Empat Lawang 2004 0 0 0 0 0 0 0 1.1.9.3 % 1.Tabel 3. dimana 2 (dua) orang diantaranya positif menderita penyakit ini yang berasal dari Kabupaten OKU dan Kota Palembang. Influenza A Baru (H1N1) Influenza A baru (H1N1) merupakan salah satu penyakit baru di Sumatera Selatan (new emerging disease).4 % 0 0 Tahun 2006 0 0 0 0 0 0 0 1.4 % 2.0 % 1. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar berikut: Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 50 .5 % 0 1.3 % 1.4 % 2.3 % 1.3% 1.4% 2.0 % 1.4 % 2.5 % 0 1.5 % 0 1.5% 0.2.3 % 1.

Dari Gambar 3. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 51 . Hal ini menunjukkan terjadi penurunan kelengkapan laporan yang diterima di Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan. dan Hipertensi namun untuk lalin mengalami peningkatan walaupun tidak signifikan jika dibanding tahun 2008.36 Kasus dan Suspek Influenza A Baru (H1N1) Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 6 5 4 3 2 1 0 SUSPECT POSITIF SEMBUH OKU 0 1 1 OKI 0 0 0 ME 0 0 0 LHT 0 0 0 MUR A 0 0 0 MBA 0 0 0 BA 1 0 0 OKU S 0 0 0 OKU T 0 0 0 OI 0 0 0 PLG 3 1 4 PBM 0 0 0 PGA 0 0 0 LLG 0 0 0 PROP 4 2 6 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 3.2. Penyakit Tidak Menular Data penyakit tidak menular (PTM) diperoleh dari rumah sakit berdasarkan laporan tiap bulannya.Gambar 3.37 berikut dapat dilihat bahwa pada tahun 2009 terjadi penurunan prevalensi penyakit Neoplasma. serta dari puskesmas untuk 2 penyakit terpilih yaitu Hipertensi dan Diabetes Mellitus. Diabetes Mellitus.2.

21 55.08 9.21 0.16 1.11 Prevalensi Penyakit Tidak Menular per 10. tahun 2004 .58 1.18 0.95 30.61 25.Gambar 3.61 33.01 0.37 Prevalensi Penyakit Tidak Menular Per 10.02 0.9 10.23 0 0.2009 Tabel 3.49 28.13 0.Linggau Karsinoma 14.97 38.55 Lalin 18.19 Peny. Jantung 29.25 0.24 31.000 penduduk Menurut Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 NO 1 2 3 4 5 6 7 8 KAB/KOTA Palembang MUBA Banyuasin OKI Prabumulih M.16 0.26 30.51 1.44 16.79 1.13 0 1.02 KLL 5.23 1.42 1.52 59.4 17.96 30.17 0 0.36 Jantung 25.89 11.49 Sumber: Laporan PTM Subdin PP&PL.09 25.75 7.05 Hipertensi 43.31 3.25 19.85 28.52 DM 17.19 0 0.78 0.03 0.04 1.32 0.37 18.11 49.42 17.000 Penduduk Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 60 55 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Neoplasma 11.72 Hipertensi 34.26 1.31 11.17 53.26 1.11 0.05 0.04 DM 22.Enim Lahat Lb.07 0 0.05 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 52 .03 0.79 1.39 14.55 0.

565 18.35 0.86 0. 2009 Tabel 3.026 meningkat dari 1.05 0.30 0.765 19.55 14.820 20.710 17.913 265 2 54 PR 8.612 11.2. Cedera dan Kecelakaan Lalu Lintas Kecelakaan Lalu Lintas (KLL) dapat menyebabkan luka ringan. 2009 Dari tabel di atas menunjukkan bahwa prevalensi PTM tertinggi per 10.72 53.706 orang dengan perincian 1.067 meninggal dunia.13 0.000 penduduk di Sumatera Selatan adalah Hipertensi (53.15 Sumber: Laporan PTM.04).25 0.53 28.04 0. luka berat 1.14 1. JENIS PENYAKIT Karsinoma DM Hipertensi Penyakit Jantung Kecelakaan Lalin Stroke Psikosis Com-ser LK 3.04 0.150 12. 3.72 0.02 0.12 Angka Kesakitan Secara Absolut Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 No.85) dan terendah Psikosis (0.55).36 0. Diabetes Melitus (28.615 6.121 5.208 9.49 14.62 28.57 53. 1.49 0.13 0.36 30.2.5.500 9.275 35.312 orang.36) dan diiringi Penyakit Jantung (30.04 30.18 0.813 238 1 46 T O T A L JUMLAH 11.327 luka ringan.53 0.75 0.653 kasus pada tahun 2007.726 503 3 100 1 2 3 4 5 6 7 8 PREVALENSI 1/10. Selama tahun 2008.05 0.07 0.25 2.52 17.9 10 11 12 Jumlah MURA Pagaralam OKU OKUT 0.27 0.49 Sumber: Laporan PTM Bidang PP&PL.000 17. luka berat maupun kematian. dengan jumlah korban sebanyak 3.55 1.099 3. KLL yang terjadi berdasarkan kabupaten / kota dapat dilihat pada Gambar berikut : Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 53 . tercatat jumlah kecelakaan yang terjadi 2.

3.Gambar 3.1. Status Gizi Wanita Usia Subur. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) BBLR (kurang dari 2.3. dan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY). STATUS GIZI MASYARAKAT Status gizi masyarakat dapat diukur melalui indikator-indikator. BBLR dibedakan dalam 2 kategori yaitu : BBLR karena prematur (usia kandungan kurang dari 37 minggu) atau BBLR karena intrauterine growth retardation (IUGR).500 gram) merupakan salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian perinatal dan neonatal. antara lain bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Status Gizi Balita. 3.38 Jumlah Kejadian Kecelakaan Lalu Lintas Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 OKU OKI Muara Enim Lahat Musi Rawas Musi Banyuasin Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Empat Lawang Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau 0 50 100 150 200 250 300 Luka Ringan Luka Berat Meninggal KKL Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 3. Kurang Energi Kronik (KEK). Di negara berkembang banyak BBLR dengan Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 54 . yaitu bayi yang lahir cukup bulan tetap berat badannya kurang.

94% dan pada tahun 2008 mencapai 65%. gizi baik (z-score – 2 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 55 . Selain itu terdapat peningkatan penanganan di 4 Kabupaten yaitu Kabupaten Lahat. 3.19%).65%). Anemia. Pada Gambar di atas. Distribusi cakupan BBLR ditangani dapat dilihat pada lampiran Tabel 15.19% .41 17 21 6 10 14 20 40 29 29 73 55 38 41 154 47 137 179 60 80 100 120 140 160 180 200 Sumber : Bidang Yankes Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Proporsi BBLR di Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 sebesar 0. Cakupan BBLR ditangani pada tahun 2009 mencapai 90. Kategori yang digunakan adalah : gizi lebih (z-score > + 2 SD).2. dan Kota Prabumulih. pada tahun 2008 tidak terdapat laporan penanganan sedangkan pada tahun 2009 sudah dilaporkan.41% (rentang : 0. Gambar 3. Salah satu cara penilaian status gizi balita adalah dengan anthropometri yang menggunakan indeks Berat Badan Umur (BB/U).9%. dan menderita Penyakit Menular Seksual (PMS) sebelum konsepsi atau pada saat hamil. terlihat bahwa proporsi bayi BBLR tertinggi terjadi di kota prabumulih (6.3.65%) dan proporsi BBLR terendah terjadi di Kabupaten Muara Enim (0. OKUS. mengalami peningkatan sebesar 25.6. Malaria.39 Proporsi Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) Menurut Kabupaten / Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Sumsel OKU OKI Muara Enim Lahat Musirawas Musi Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Empat Lawang Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau 0 0. Gizi Balita Status gizi balita merupakan salah satu indikator yang menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Empat Lawang.IUGR karena ibu berstatus gizi buruk.

SD sampai + 2 SD); gizi kurang (z-score < - 2 SD sampai – 3 SD); gizi buruk (zscore < - 3 SD).

Gambar 3.40 Prevalensi Gizi Buruk Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009
Sumsel OKU OKI Muara Enim Lahat Musirawas Musi Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Empat Lawang Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau 0 0,01 0,01 0,01 0,01 0,02 0,02 0,01 0,02 0,05 0,1 0,15 0,2 0,25 0,3 0,06 0,03 0,07

0 0

0,27

0 0

Sumber : Bidang Yankes Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009

Prevalensi gizi buruk Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 sebesar 0,03% (Rentang : 0 – 0,27%). Pada Gambar di atas terlihat bahwa prevalensi gizi buruk tertinggi terjadi di Kabupaten Banyuasin (0,27%) kemudian diikuti oleh Kabupaten Lahat (0,07%). Berdasarkan hasil riskesdas 2007, secara umum prevalensi gizi buruk di Kabupaten/Kota Provinsi Sumatera Selatan adalah 6,5% dan gizi kurang 11,7%. Bila dibandingkan dengan Target MDG untuk Indonesia sebesar 8,5%, maka di Kabupaten/Kota Provinsi Sumatera Selatan target tersebut telah terlampaui, walaupun pencapaian tersebut belum merata di 15 kabupaten/kota.

Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010

Page 56

Gambar 3.41 Angka Gizi Buruk dan Gizi Kurang Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2002 – 2009
20 15 10 5 0 Gizi Buruk Gizi Kurang Total 2002 0,95 11,46 12,31 2003 1,31 9,33 10,64 2004 1,12 8,56 9,68 2005 0,7 6,43 7,13 2006 1,07 10,38 11,45 2007 6,50 11,7 18,2 0,04 0,03 2008 0,04 2009 0,03

Sumber : Bidang Yankes Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009

Gambar 3.42 Cakupan Balita Gizi Buruk Mendapat Perawatan Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009

Dari gambar diatas menunjukkan bahwa penanganan gizi buruk di Sumatera Selatan sudah terdistribusi merata di 15 Kabupaten/Kota yang seluruhnya sudah memenuhi target standar pelayanan minimum yaitu 100%. Persentase Balita gizi buruk pada tahun 2009 adalah 0,03% menurun dibandingkan tahun 2008 yaitu 0,04%. Jumlah dan persentase Balita gizi buruk dapat dilihat pada lampiran Tabel 16.

Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010

Page 57

Gambar 3.43 Cakupan Pemberian MP ASI pada Anak Usia 6-24 bulan Keluarga Miskin Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2002 – 2009

Cakupan pemberian MP ASI belum terdistribusi merata. Kabupaten MUBA, Muara Enim, OKUS, dan kota Pagar Alam sudah dapat memenuhi target SPM yaitu mencapai 100%. Sedangkan kabupaten/kota lainnya memiliki capaian dibawah 70%. 3.3.3. Status Gizi Wanita Usia Subur Kurang Energi Kronik (KEK) Salah satu cara untuk mengetahui status gizi Wanita Usia Subur (WUS) umur 15 – 19 tahun adalah dengan melakukan pengukuran Lingkar Lengan Atas (LILA). Hasil pengukuran ini bisa digunakan sebagai salah satu cara dalam mengidentifikasi seberapa besar seorang wanita mempunyai risiko untuk melahirkan bayi BBLR. Indikator Kurang Energi Kronik (KEK) menggunakan LILA < 23,5 cm.

Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010

Page 58

BAB 4 SITUASI UPAYA KESEHATAN

Sesuai dengan tujuan diselenggarakannya pembangunan kesehatan yaitu untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang optimal. Untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan tersebut diselenggarakan berbagai upaya kesehatan secara menyeluruh, berjenjang dan terpadu. Berikut ini akan diuraikan beberapa upaya pelayanan kesehatan selama tahun 2009.

4.1. PELAYANAN KESEHATAN DASAR Pelayanan kesehatan dasar (Primary Health Care) merupakan langkah awal yang sangat penting dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. Dengan pemberian pelayanan kesehatan dasar secara cepat dan tepat, diharapkan sebagian besar

masalah kesehatan masyarakat telah dapat diatasi. Pelayanan kesehatan dasar yang dilaksanakan oleh fasilitas pelayanan kesehatan terdiri dari beberapa kegiatan, yaitu :

4.1.1

Pelayanan Kesehatan Ibu dan Bayi. Pelayanan kesehatan ibu meliputi pelayanan antenatal, pertolongan persalinan

oleh tenaga kesehatan dengan kompetensi kebidanan, pelayanan terhadap ibu hamil risiko tinggi yang dirujuk, kunjungan neonatus, dan kunjungan bayi.

4.1.1.1. Pelayanan Antenatal (K1 dan K4) Pelayanan kesehatan antenatal merupakan pelayanan kesehatan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan profesional (dokter spesialis kandungan dan kebidanan, dokter umum, bidan dan perawat) kepada ibu hamil selama masa kehamilannya sesuai dengan pedoman pelayanan antenatal yang ada dengan titik

Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010

Page 59

54 91.05 84. Angka ini dapat dimanfaatkan untuk melihat kualitas pelayanan kesehatan kepada ibu hamil.2009 100 75 Persentase 50 25 0 K1 K4 K1-K4 2003 2004 2005 2006 91.41 94.1.16 85. begitu juga dengan Cakupan K4 sebesar 84. dengan distribusi sekali pada trimester pertama. Hasil pelayanan antenatal dapat dilihat dari cakupan pelayanan K1 dan K4.82 94.42 6.53 85.31 85.42% pada tahun 2009.7 5. berikut ini : Gambar 4.94 2007 2008 2009 88.52 6.86 88.8 5.6 5. sekali pada trimester dua dan dua kali pada trimester ketiga.96 86. Cakupan K1 atau juga disebut akses pelayanan ibu hamil merupakan gambaran besaran ibu hamil yang telah melakukan kunjungan pertama ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal.32 94.05 91.1 di atas terlihat bahwa persentase cakupan K1 dan K4 terjadi kenaikan.berat pada kegiatan promotif dan preventif.1 Persentase Cakupan Pelayanan K1 dan K4 Ibu Hamil Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003 .41% pada tahun 2008 meningkat menjadi 94.45% pada tahun 2008 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 60 .45 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari Gambar 4. Cakupan K1 sebesar 90.38 6. Gambaran cakupan K1 dan K4 Provinsi Sumatera Selatan dalam 6 tahun terakhir dapat dilihat pada Gambar 4.63 7.75 90. Sedangkan K4 adalah gambaran besaran ibu hamil yang telah mendapatkan pelayanan ibu hamil sesuai standar serta paling sedikit empat kali kunjungan.

adanya pemekaran wilayah yang menyebabkan belum siapnya SDM yang ada di wilayah tersebut. Dari gambar tersebut dapat dilihat juga selisih antara K1 dan K4. PWS KIA sebagai alat pemantauan wilayah setempat untuk pengumpulan data dan monitoring dalam pengisiannya masih belum sesuai dengan standar yang ada dan belum dianalisa sebelum dikirim ke tingkat provinsi. data yang diterima dari Bidan di Desa ke puskesmas masih ada yang tidak terlaporkan.meningkat menjadi 88. menunjukkan bahwa semakin banyak ibu hamil yang melakukan kunjungan pertama pelayanan antenatal diteruskan hingga kunjungan keempat pada trimester 3 sehingga kehamilannya dapat terus dipantau oleh petugas kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan. Beberapa kemungkinan penyebab fluktuasi cakupan pelayanan K1 dan k4 antara lain masih lemahnya sistem pencatatan dan pelaporan dari tingkat dasar (puskesmas) maupun kabupaten/kota. program P4K dengan stiker belum sepenuhnya terlaksana.2 berikut ini : Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 61 . yang semakin menurun dari tahun ke tahun. Gambaran cakupan K4 menurut kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 dapat dilihat pada gambar 4.6% pada tahun 2009.

dan Lubuk Linggau (warna hijau). OKU. OKU Timur.2 Cakupan Kunjungan Ibu Hamil K4 Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Gambar di atas menunjukkan bahwa kabupaten/kota dengan persentase cakupan pelayanan K4 yang sudah memenuhi target standar pelayanan minimum yaitu minimal 90.03% adalah Kabupaten Musi Rawas. Empat Lawang. Banyuasin. Persentase cakupan K4 di 8 kabupaten lainnya masih dibawah target yaitu pada range 70%-90% (warna kuning) terjadi di Kabupaten Musi Banyuasin. Ogan Komering Ilir. OKU Selatan. Prabumulih. Ogan Ilir.Gambar 4. Salah satu pelayanan yang diberikan saat pelayanan antenatal yang menjadi standar kualitas adalah pemberian zat besi (Fe) 90 tablet (Fe3) dan imunisasi TT (TT2). kota Palembang. harus diupayakan pula peningkatan kualitas K4 yang sesuai standar. Pagar Alam. Muara Enim. Selain mengupayakan peningkatan cakupan K4. Lahat. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 62 .

3 87.9 91. selisih cakupan K4 (84.2 94. Distribusi cakupan K1 dan K4 dapat dilihat pada lampiran Tabel 17 dan distribusi cakupan Fe1.32%) adalah 20.4 93.8 73. yang menunjukkan kinerja yang positif.81 10.6 82. Sedangkan selisih antara K4 dengan TT semakin meningkat dari tahun 2008 sampai 2009 (meningkat 2.95%).6 74. sedangkan jika dibandingkan antara cakupan K4 (89%) dengan cakupan TT yang hanya mencapai 19%.6 90. Hal ini dimungkinkan disebabkan sistem pencatatan dan pelaporan ketiga variabel tersebut belum terpadu.23 87.63 19.2 171 62 495 158 7.4 84. Fe3.4 85. dan TT dapat dilihat pada lampiran Tabel 25 dan 26.13% dan selisih antara K4 (84.3 Persentase Cakupan K4.3 102 215 8.8 89.7 93.1 91.7 85.7 89.6 Fe3 91.7 56.2 75.2 89.6 88. Selisih antara K4 dengan Fe3 menurun dari tahun 2008 sampai 2009 (menurun 11.Gambar 4.2 81.1 73.3 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa masih terdapat selisih persentase cakupan K4 dengan Fe3 dan TT. Fe3.5 73. dan Status Imunisasi TT pada Ibu Hamil Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Sumsel OKU OKI Muara Enim Lahat Musirawas Musi Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Empat Lawang Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau 0 20 40 60 80 100 120 140 Lubu Pag Prab Pale Emp OKU OKU Bany Musi Musi Muar Oga Laha Sum k ar umul mba at Timu Selat uasi Bany rawa a OKI OKU n Ilir t sel Ling Alam ih ng Law r an n uasi s Eni TT K4 8.8 87.4%) adalah 77.2 94.8 91.6 69.13%). Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 63 . diperoleh selisih sebesar 80%.1 65.99 10.4 7. yang berarti gap nya semakin besar.45%) dengan TT (7.8 94.8 79.5 80.1 77.8 91.4 80.05%. Jika dibandingkan dengan tahun 2008. terdapat selisih 9%.45%) dengan Fe3 (64. Cakupan K4 di Sumatera Selatan tahun 2009 adalah 89% sedangkan Fe3 80%.

25% pada tahun 2004 menjadi 87.1.25 2005 81. Gambaran cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan dari tahun 2003 – 2009 dapat dilihat padas gambar 4. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 64 . hal ini antara lain disebabkan pertolongan tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai kompetensi kebidanan (profesional).2. yaitu dari 79.4 berikut ini : Gambar 4.4. Pertolongan Persalinan oleh Nakes dengan Kompetensi Kebidanan Komplikasi dan kematian ibu maternal dan bayi baru lahir sebagian besar terjadi pada masa di sekitar persalinan.7 2004 79.83% pada tahun 2009.27 2006 82. Dalam kurun waktu empat tahun terakhir. terjadi peningkatan pada setiap tahunnya dan kenaikan tertinggi terjadi pada tahun 2009 sebesar 3.12 2008 84 2009 87.4 Persentase Cakupan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003.2009 100 80 60 40 20 0 Linakes 2003 80.83 Sumber : Subdin Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Prov. cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan di Provinsi Sumatera Selatan meningkat sekitar 4%.1.Sumsel Gambar diatas memperlihatkan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan dari tahun 2003 sampai tahun 2009.77 2007 83.83%.

Jika dibandingkan dengan tahun 2008. Cakupan 8 kabupaten/Kota Lainnya sudah memenuhi target standar pelayanan minimum yaitu minimal 85. terjadi penurunan sebesar 11.08%.79%.08%. sedangkan 6 Kabupaten yaitu Banyuasin. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 65 . OKU. dan OKU Timur berada pada range 60%-85. Lahat. capaian Kota Prabumulih adalah 90.Gambar 4.5 Cakupan Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Kesehatan Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa hanya terdapat satu wilayah yaitu kota prabumulih yang berada pada range terendah yaitu <60%.79% terhadap tahun 2009. Empat Lawang.

Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 66 .76%.1.76%. capaian Kabupaten Prabumulih justru paling rendah diantara 15 kabupaten/kota lainnya.39%. 4. sedangkan di Kabupaten Ogan Ilir.1. OKI. Sembilan Kabupaten/kota lainnya sudah mampu memenuhi target standar pelayanan minimum yaitu minimal 25.Gambar 4. Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas Pelayanan nifas adalah pelayanan kesehatan sesuai standar pada ibu mulai 6 jam sampai 42 hari pasca persalinan oleh tenaga kesehatan. Kota Palembang dan Kota Pagar Alam berada pada range pertengahan yaitu antara 10-25. Khusus Kabupaten Prabumulih.87% sehingga pada gambar diatas dinyatakan dengan warna hijau yang berarti memenuhi target SPM. dibandingkan tahun 2008. Untuk deteksi dini komplikasi pada ibu nifas diperlukan pemantauan pemeriksaan terhadap ibu nifas dengan melakukan kunjungan nifas minimal sebanyak 3 kali dengan waktu: 1). Musi Rawas. yaitu hanya 0.3. persentasenya adalah 115.6 Cakupan Komplikasi Kebidanan yang Ditangani Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani di Kabupaten Muara Enim masih rendah yaitu dibawah 10%.

Kunjungan nifas pertama (KF1) pada 6 jam setelah persalinan sampai 7 hari; 2). Kunjungan nifas kedua (KF2) dilakukan pada minggu ke-2 setelah persalinan; dan 3). Kunjungan nifas ketiga (KF3) dilakukan minggu ke-6 setelah persalinan. Pelayanan yang diberikan meliputi: 1). Pemeriksaan tekanan darah, nadi, respirasi dan suhu; 2). Pemeriksaan tinggi fundus uteri; 3). Pemeriksaan lokhia dan per vaginam lainnya; 4). Pemeriksaan payudara dan anjuran ASI eksklusif 6 bulan, 5). Pemberian kapsul vitamin A 200.000 IU sebanyak 2x (2x24 jam), dan 6). Pelayanan KB pasca persalinan.

Gambar 4.7 Cakupan Pelayanan Nifas Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009

Cakupan pelayanan nifas sudah terdistribusi cukup baik, 14 Kabupaten/kota sudah memenuhi target standar pelayanan minimum yaitu 85,08%. Hanya Kabupaten OKU yang belum mencapai target, masih berada pada range 60%-85,08%. Dibandingkan tahun 2008, Kabupaten OKU mencapai persentase 83,3% sedangkan tahun 2009 75,64%. Kabupaten Muara Enim pada tahun 2008 tercatat 0%

Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010

Page 67

sedangkan tahun 2009 mencapai target SPM. Distribusi cakupan pelayanan nifas dapat dilihat pada lampiran Tabel 17.

4.1.1.4. Ibu Hamil Risiko Tinggi yang Dirujuk Dalam memberikan pelayanan khususnya oleh tenaga bidan di desa dan Puskesmas, beberapa ibu hamil yang memiliki risiko tinggi (Risti) dan memerlukan pelayanan kesehatan karena terbatasnya kemampuan dalam memberikan pelayanan, maka kasus tersebut perlu dilakukan upaya rujukan ke unit pelayanan kesehatan yang memadai. Dalam hal ini persentase ibu hamil dengan kondisi risiko tinggi yang dirujuk pada tahun 2008 di Provinsi Sumatera Selatan dapat dilihat pada gambar berikut ini :
Gambar 4.8 Persentase Cakupan Ibu Hamil Risiko Tinggi yang Dirujuk Menurut Kabupaten/ Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009
OKU OKI M.Enim Lahat MURA MUBA B.Asin OKUS OKUT OI 4 Lawang Palembang Prabumulih P.Alam L.Linggau sumsel 0 17,25 15,93 41,2 43,89 49,55 17,69 20,66 18,55 38,89 20 40 60 80 63,3 83,44 63,98 115,94 86,67 100 120 140 82,19

4

Sumber : Subdin Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Prov.Sumsel

Dari gambar di atas terlihat bahwa kabupaten/kota dengan cakupan tertinggi adalah di Kota Prabumulih (115,94%) dan Lubuk Linggau (86,67%) , sedangkan yang terendah adalah Muara Enim (4%). Persentase cakupan Ibu hamil risiko tinggi yang dirujuk di Provinsi Sumatera Selatan mengalami peningkatan dari 11,24% pada tahun 2008 menjadi 38,89% pada tahun 2009. Distribusi menurut Kabupaten/kota dapat dilihat pada lampiran Tabel 28.

Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010

Page 68

4.1.1.5. Kunjungan Neonatus Bayi hingga usia kurang satu bulan merupakan golongan umur yang memiliki risiko gangguan kesehatan paling tinggi. Upaya kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi risiko tersebut antara lain dengan melakukan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan dan pelayanan kesehatan pada neonatus (0 – 28 hari) minimal dua kali, satu kali pada umur 0 – 7 hari dan satu kali pada umur 8 – 28 hari. Dalam melaksanakan pelayanan neonatus, petugas kesehatan di samping melakukan pemeriksaan kesehatan bayi juga melakukan konseling perawatan bayi kepada ibu. Cakupan kunjungan neonatal (KN) selama periode tahun 2003 – 2009 dapat dilihat pada gambar berikut, terlihat bahwa ada sedikit peningkatan dari tahun 2008 sebesar 82.4% menjadi 82,68% pada tahun 2009.
Gambar 4.9 Persentase Cakupan Kunjungan Neonatal Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003 - 2009
100 80 60 40 20 0 KN 2003 86,57 2004 86,61 2005 88,38 2006 77,17 2007 81,74 2008 82,4 2009 82,68

Sumber : Subdin Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Prov.Sumsel

Gambaran Cakupan Kunjungan Neonatal menurut Kabupaten/Kota di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 terlihat pada gambar 4.9, bahwa cakupan tertinggi terjadi di Kabupaten OKU Selatan (91,94%), diikuti oleh Kabupaten Lahat (90,32%). Sedangkan cakupan terendah terjadi di Kabupaten Empat Lawang (40,15%).

Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010

Page 69

11 Cakupan Kunjungan Neonatal Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 70 . 78. 83. 70. 94. Sumber laporan kesga dan reproduksi dinkes prov sumsel Tahun 2009 Gambar 4. 88 82.Gambar 4. 88. 89. OKU OKI ME LHT MURAMUBA BA OKUTOKUS OI 4L PLG PBM PA LLG PROV 2009 66. 83 70 87. 91. 71 95.10 Persentase Cakupan Kunjungan Neonatal Menurut Kabupaten/ Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 100 80 60 40 20 0 . 82.

99%. capaian Sumatera Selatan hanya 2. Dibandingkan tahun 2008. Sedangkan 10 Kabupaten/kota lainnya sudah memenuhi target minimal 79.1.6. Selain itu. Empat Lawang. Pagar Alam. Kabupaten Banyuasin dan Kota Lubuk Linggau pada tahun 2008 tercatat 0 (tidak ada data) sedangkan pada tahun 2009 tercatat memenuhi target SPM. Terdapat 5 Kabupaten/kota yang belum memenuhi target SPM yaitu berada pada range antara 60-79.1. Empat Lawang.9%.Distribusi capaian standar pelayanan minimum cakupan neonatus dengan komplikasi yang ditangani sudah cukup baik. yaitu dibawah 70%. 4.12 Cakupan Kunjungan Bayi Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Distribusi cakupan kunjungan bayi masih belum merata. Di Kabupaten Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 71 . meliputi Kabupaten Musi Rawas. Kunjungan Bayi Gambar 4. OKU Timur.92% pada tahun 2009. Di Kabupaten OKU Selatan. OKU. dan Lubuk linggau belum memenuhi target dan berada pada range terendah. Kota Prabumulih.6% meningkat menjadi 10. dan Kota Prabumulih.

pemeriksaan anak Sekolah Dasar/Sederajat.59% meningkat menjadi 87.Sumsel Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 72 . dan kota Palembang yang memenuhi target minimum yaitu 89. Pelayanan Kesehatan Anak Pra Sekolah. Khusus Kota Palembang dan Kabupaten Musi Banyuasin. Usia Sekolah.47% (diatas 100%).47% pada tahun 2009. persentasenya masing-masing adalah 101.16% dan 108.99%.Linggau Mura Ogan Ilir OKU Palembang OKU Banyuasin 0 0 0 1 10 0 0 0 0 0 1 2 2 0 3 2 4 6 8 10 12 3 Sumber : Subdin Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Prov. Musi Rawas jugamasih belum memenuhi target dan berada pada range 70-89.1. Dibandingkan tahun 2008.99%. Hanya 4 Kabupaten/kota yaitu OKI. serta pelayanan kesehatan pada anak remaja.OKU. Musi Banyuasin. baik yang dilakukan oleh tenaga kesehatan maupun peran serta tenaga terlatih lainnya seperti kader kesehatan. cakupan kunjungan bayi Provinsi Sumatera Selatan adalah 69. 4.13 Persentase Cakupan Puskesmas yang Mampu Menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) Menurut Kabupaten/ Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Empat L OKU M. Banyuasin.Alam Prabumuli L. OI.OKUT. Cakupan Puskesmas yang mampu menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) minimal 1 puskesmas tiap kecamatan dapat dilihat pada gambar berikut ini : Gambar 4.2. guru UKS. dan Remaja Pelayanan kesehatan pada kelompok ini dilakukan dengan pelaksanaan pemantauan dini terhadap tumbuh kembang dan pemantauan kesehatan anak pra sekolah.Muara Enim. dan dokter kecil.Enim Lahat OKI MUBA P. Lahat.

Persentase cakupan puskesmas yang mampu menyelenggarakan PKPR masih rendah disebabkan puskesmas PKPR harus memenuhi keempat persyaratan sebagai berikut yaitu 1). 3). dan Prabumulih.4 2008 69. Melatih kader kesehatan remaja di sekolah minimal sebanyak 10% dari murid di sekolah binaan. dan 4). Muara Enim. MURA.59 2009 52. Gambar 4. Kabupaten OKI tercatat memiliki puskesmas dengan pelayanan PKPR tertinggi. 2). Memberikan pelayanan konseling pada semua remaja yang memerlukan konseling yang kontak dengan petugas PKPR. Melaksanakan kegiatan KIE di sekolah binaan minimal 2 kali per tahun. MUBA. Kota Lubuk Linggau. Empat Lawang. Pagar Alam. Harus melakukan pembinaan kesehatan terhadap minimal 1 sekolah per tahun. sedangkan Kabupaten lain yang belum memiliki puskesmas PKPR (jumlah=0) adalah OKU Timur. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 73 . maka belum dapat dikategorikan sebagai puskesmas PKPR.05% pada tahun 2009.69% pada tahun 2008 menjadi 52.14 Persentase Cakupan Deteksi Dini dan Intervensi Tumbuh Kembang Balita Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003 .05 Sumber : Subdin Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Prov. Jika hanya memenuhi satu hingga tiga persyaratan tersebut.2009 80 60 40 20 0 Bayi 2003 50.3 2004 55 2005 45 2006 48 2007 49.Sumsel Gambar diatas menunjukkan terjadi penurunan persentase cakupan deteksi dini dan intervensi tumbuh kembang balita di Sumatera Selatan yaitu dari 69.

Jika dibandingkan dengan tahun 2008. Terjadi penurunan yang cukup tinggi di tahun 2009. persentase anak balita yang memperoleh pelayanan pemantauan di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2008 adalah 72.15 Cakupan Pelayanan Anak Balita Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Dari gambar diatas menunjukkan bahwa distribusi persentase anak balita yang memperoleh pelayanan pemantauan belum merata. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 74 . Sedangkan 8 Kabupaten lainnya belum mencapai target. OKUS. OKI. Terdapat 6 Kabupaten/kota yang sudah memenuhi target SPM minimal 88.05% (164. kota Lubuk Linggau dan Prabumulih berada pada range terendah yaitu dibawah 60%.Gambar 4.444 anak balita) dan persentase tahun 2009 adalah 52.87% (542.12%. yaitu Kabupaten Musi Banyuasin dan Muara Enim berada pada range 60-88.240 anak balita). OKUT. OKU.12%. Kabupaten Musi Rawas.

Empat Lawang. dan kabupaten Musi Rawas 3. laporan (data) dari 15 kabupaten/kota ini belum ada. Dibandingkan tahun 2008. terdiri dari 2 kabupaten yaitu Banyuasin dan Ogan Ilir berada pada range 10-40%. Kota Lubuk linggau dan Pagar Alam tercatat 0%. 6 kabupaten OKU Timur.1. tempat pelayanan serta jenis kontrasepsi yang digunakan akseptor.21% (diatas 100%). kelompok sasaran program yang sedang menggunakan alat kontrasepsi. OKU Selatan.59%. 9 kabupaten/kota lainnya belum memenuhi target.Gambar 4. 4. Pelayanan Keluarga Berencana Tingkat pencapaian Pelayanan Keluarga Berencana dapat digambarkan melalui cakupan peserta KB yang ditunjukkan melalui peserta KB Aktif.16 Cakupan Penjaringan Siswa SD dan Setingkat Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Gambar di atas menunjukkan distribusi cakupan penjaringan siswa SD belum merata.3. Kota Palembang tercatat memiliki capaian 100. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 75 . OKU. 6 Kabupaten/kota sudah memenuhi target SPM yaitu minimal 40%.

62%).91 32. terlihat bahwa Cakupan Peserta KB Aktif tahun 2009 di Provinsi Sumatera Selatan sekitar 69.87 17.68 15. Cakupan Peserta KB Baru di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 adalah 31.02 69.05 77.62 25. sedangkan cakupan terendah terjadi di Kota Palembang (10.35 10.90% (Rentang : 10.75 44.03 46.46 17.87%).Gambar 4.62% .92 20 40 60 80 100 120 BARU AKTIF 132.39 34. Alat kontrasepsi yang paling banyak digunakan oleh peserta KB Baru maupun peserta KB Aktif adalah suntikan kemudian pil dan implant.3 20.28 25.84.08% (Rentang : 46.42 64. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 76 . sedangkan cakupan terendah terjadi di Kota Palembang (46.7 29. Cakupan Peserta KB Baru tertinggi terjadi di Kabupaten Musi Rawas (132.35 57.132.8 57.73 78.9 26.63 69.46 74.92%) dan Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan (80.43 24.43%).17 Persentase Cakupan Peserta KB Aktif dan KB Baru Menurut Kabupaten/ Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Sumsel OKU OKI Muara Enim Lahat MURA MUBA Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Empat Law ang Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau 0 31.44 77.18 140 Sumber : Kantor BKKBN Provinsi Sumatera Selatan Pada gambar di atas.95 70.87% .08 66.08 84. Cakupan Tertinggi Peserta KB Aktif ada di Kota Lubuk Linggau (84.72 22.93 80.34 78.18%).18%).92%).21 74.

8 Kabupaten/kota lainnya sudah memenuhi target standar pelayanan minimum minimal 70%.Gambar 4.954 30. Lahat.052 40. Kota Prabumulih dan Pagar Alam berada pada range 50%-70%. sedangkan di Kabupaten Banyuasin.013 IUD MOP/MOW Implant Suntik Pil Kondom 433.301 319. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 77 .18 Persentase Cakupan Pelayanan Peserta KB Baru Berdasarkan Jenis Alat Kontrasepsi Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 33.708 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Gambar 4. OKU.202 165.19 Cakupan Peserta KB Aktif Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Cakupan peserta KB aktif di Kota Palembang masih rendah capaiannya yaitu dibawah 50%.

Pelayanan Imunisasi Pencapaian Universal Child Immunization (UCI) pada dasarnya merupakan proyeksi terhadap cakupan atas imunisasi secara lengkap pada sekelompok bayi. yaitu pada tahun 2008 sebesar 24. Target UCI tahun 2009 adalah >98 %. persentase peserta KB aktif Provinsi Sumatera Selatan adalah 74.348 peserta KB Aktif) menurun menjadi 69. Adapun cakupan UCI Desa tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar berikut: Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 78 .4.Dibandingkan tahun 2008.79% (1.5 %. Bila cakupan UCI dikaitkan dengan batasan suatu wilayah tertentu.036.08% (1.90% (472.78% (343. berarti dalam wilayah tersebut tergambarkan besarnya tingkat kekebalan masyarakat atau bayi (herd immunity) terhadap penularan penyakit yang dapat dicegah dengan Immunisasi (PD3I).124 peserta KB baru) pada tahun 2009. UCI Desa merupakan indikator penting dalam program imunisasi.022. Dalam hal ini Pemerintah mentargetkan pencapaian UCI pada wilayah administrasi desa/kelurahan.323 peserta KB baru) menjadi 31. 4. Tetapi terjadi peningkatan persentase peserta KB baru. sesuai Kepmenkes nomor 741 tahun 2008 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) kabupaten/Kota.230 peserta KB Aktif) pada tahun 2009. Cakupan UCI Desa tahun 2009 Provinsi Sumatera Selatan saat ini adalah 82.1. artinya masih sangat jauh dibanding target (98 %). artinya target UCI tercapai bila minimal 98 % desa/kelurahan di kabupaten/kota telah memenuhi target imunisasi campak sebagai imunisasi rutin terakhir. Apalagi tahun 2010 ini target UCI harus 100 % desa/keluarahan.

Hal ini juga menjadikan kab/kota yang belum UCI tersebut menjadi daerah resiko tinggi penularan PD3I.4 98 4 Lwg 94. Kabupaten Banyuasin dan Muara Enim. yaitu Kota Palembang.6 98 Lahat 86.Gambar 4.Asin M.Ilir 65.7 98 95 98 Mura 95 98 Lb.Alam 90.6 98 O. Sebagai perbandingan.1 98 82. dan harus diwaspadai kemungkinan sewaktu-waktu terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB).2 98 OKU 94 98 Muba P. ternyata hanya 3 (tiga) kabupaten/kota mencapai UCI Desa.4 98 88.4 98 OKUS Sumsel 12.20 Hasil Cakupan Desa UCI Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 110 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 HASIL TARGET Plg 100 98 Hasil Cakupan UCI Desa Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 B.Enim OKUT 99 98 98. cakupan Desa UCI sejak tahun 2003 hingga 2009 per kabupaten/kota se Provinsi Sumatera Selatan dapat dilihat pada Gambar berikut: Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 79 . akibat banyaknya anak yang tidak diimunisasi lengkap sehingga tidak kebal terhadap PD3I.5 98 Sumber: Laporan UCI Tahun 2009 Berdasarkan Gambar di atas terlihat bahwa dari 15 kabupaten/kota.7 98 OKI 67. Sedangkan kabupaten/kota lainnya tidak mencapai target UCI desa.Lg 94.1 98 Prabu 75. Hal ini memerlukan perhatian yang serius bagi kabupaten/kota yang belum mencapai target. karena UCI merupakan salah satu Indikator Penting pencapaian Indonesia Sehat 2010.

3 98. termasuk dana untuk bimbingan teknis dan pertemuan koordinasi tingkat puskesmas di kabupaten/kota masing-masing.1 PRAB U 62. Hal ini perlu mendapat perhatian lebih lanjut.4 94.5 87.1 L.3 96 97.3 86.4 62.6 76.7 94.9 97.3 81.2 90.4 OKI 73. supaya cakupan imunisasi yang merupakan kegiatan rutin ini dapat diperbaiki kinerjanya.3 93 82.1 84.6 9.Eni m 93 88.6 90.8 95 M.4 95.6 99.9 86. Selain itu juga sarana dan prasarana sebagian sudah disediakan dari provinsi.4 0 0 0 0 0 32.2 80.Asin MURA 90.1 65.4 88.4 77 86 77.6 91.7 97.1 93.1 98.Ling au 100 89.2 97.C.3 85.3 84.2 75.6 4 Ogan Sumse Lawan Ilir l g 0 75.3 76.7 75.3 12. PROVINSI SUMATERA SELATAN TAHUN 2003-2009 100 95 90 85 80 75 70 65 60 55 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 PLG 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 94.1 94.8 69.21 Hasil Cakupan Desa UCI Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003-3009 HASIL CAKUPAN DESA U.1 94.Gambar 4.Ala m 96.6 100 94.9 71 78.I.5 67.4 82.2 85.6 OKU 82.6 91.5 Sumber: Laporan UCI Bidang PP&PL.1 94 OKUT OKUS 0 0 88.5 81.2 98.4 88.1 76.2 84.3 86.6 84 89.3 88.6 84 93.2009 Dari Gambar di atas terlihat bahwa dari tahun ke tahun cakupan Desa UCI di kabupaten/kota terjadi fluktuasi dan tidak stabil. baik teknis program maupun cold chain.7 86.2 97 97.9 90. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 80 .8 90.6 78 95.8 89.6 79.9 82.1 100 99.1 91.1 80.2 80.2 95.9 83.7 88. Perlu dipikirkan untuk intervensi pejabat yang lebih tinggi.3 95 0 0 40.7 Lahat 80.4 83. Tahun 2003 .3 0 86.3 94.8 98.1 100 MUBA B.7 P. karena tahun 2009 semua petugas kabupaten/kota sudah dilatih mengenai program imunisasi.5 95.

dalam hal ini adalah murid sekolah dasar.1. OI. Pemberian imunisasi pada murid sekolah yang disebut BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah) telah dilaksanakan secara rutin sejak tahun 1984. terdapat 3 (tiga) wilayah yang memenuhi standar pelayanan minimum 98%. 4.1. dimana saat ini murid kelas 1 SD/MI menerima imunisasi DT dan Campak. Empat lawang. maka kegiatan yang dapat dilaksanakan adalah melakukan pemberian imunisasi pada anak yang lebih tua. dan OKI masih dibawah 70%. OKU. Kota Lubuk Linggau. Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) Salah satu strategi yang tercantum dalam Global Immunization Vision and Strategy (GIVS) 2006 – 2015 adalah “to protect more people in a changing world”.4. dan Pagar Alam berada pada range 70-98%. Prabumulih. yaitu Kota Palembang. Untuk mengimplementasikan visi tersebut.22 Hasil Cakupan Desa UCI Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Distribusi cakupan desa UCI belum merata.Gambar 4. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 81 . 12 Kabupaten lainnya yang terdiri dari Kabupaten MUBA. sedangkan cakupan Kabupaten OKUS. Kabupaten Banyuasin dan Muara Enim. MURA. Lahat. OKUT.

2009 Dari Gambar di atas menunjukan bahwa hanya Kabupaten MURA dan OKU Timur yang mencapai cakupan BIAS DT l00 %. Kab. Untuk tahun 2008. Gambar 4. Kab.Lg 99. sehingga tahun 2009 nanti harus melaksanakan BIAS TT pada murid kelas 2 hingga kelas 4. OKI. OKU Selatan. kabupaten yang tidak melaksanakan BIAS DT adalah Kota Prabumulih. Sedangkan yang tidak melaksanakan BIAS TT adalah Kota Prabumulih. Namun demikian masih ada kabupaten/kota yang tidak melaksanakan BIAS tersebut dengan berbagai permasalahan.8 100 Hasil Cakupan BIAS DT Klas I Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 B.7 100 O. Sedangkan yang tidak melaksanakan BIAS DT/TT adalah Kota Pagaralam dan Kab. Akibatnya pada tahun 2010 ini selain harus tetap melaksanakan BIAS Campak dan DT pada murid kelas 1 SD/MI. Lahat.3 100 Tdk mlk Tdk mlk Sumber: Laporan BIAS Bidang PP&PL. Empat Lawang dan OKU Timur.Ilir 23.6 100 M. sehingga pada tahun 2009 nanti harus melaksanakan BIAS DT untuk murid kelas 1 dan kelas 2. Pelaksanaan BIAS ini merupakan salah satu kegiatan rutin yang harus dilaksanakan bekerjasama dengan pihak sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah.2 100 4 Lwg 98.Asin 99.8 100 Lahat 98. juga harus melaksanakan BIAS TT untuk murid kelas Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 82 .23 Hasil Cakupan BIAS DT Klas I Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 110 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 HASIL TARGET Mura 100 100 OKUT 100 100 Lb.Enim 93.7 100 OKI 97.sedangkan murid kelas 2 dan kelas 3 menerima imunisasi TT.4 100 Prabu 88.6 100 P.8 100 OKU 98 100 Muba 98 100 Plg 97.Alam 100 OKUS 100 Sumsel 88. OKU Timur dan Empat Lawang.

Asin 99.7 100 Hasil Cakupan BIAS Klas II & III Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 B.8 100 Muba 92. maka mulai tahun 2007 dilaksanakan BIAS Campak bagi murid SD/MI kelas 1.8 100 Lb.6 100 OKI 98.2 hingga kelas 4. dan sebagai upaya menuju tahapan Reduksi Campak di Indonesia.7 100 Plg 98. yang akan meningkatkan kekebalan terhadap penyakit campak seumur hidup.24 Hasil Cakupan BIAS Klas II & III Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 110 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 HASIL TARGET OKUT 100 100 Lahat 99.Enim 98. Sebagai tindak lanjut pelaksanaan Kampanye Imunisasi Campak tahun 2006 di Sumatera Selatan. 2009 Namun demikian Kabupaten OKU Selatan juga tidak melaksanakan BIAS Campak ini. Gambar berikut menunjukan Cakupan BIAS TT dengan 100 % hanya terdapat di Kabupaten OKU Timur. Tidak dilaksanaanya BIAS di 3 (tiga) kabupaten/kota tersebut seperti kebijakan Depkes.Ilir 19.9 100 98.4 100 P. disebabkan karena tidak tersedianya dana operasional. Gambar 4.Lg 99.2 100 Mura 97. sehingga pada tahun 2010 nanti harus melaksanakan BIAS Campak Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 83 .Alam OKUS Sumsel Tdk mlk Tdk mlk 100 100 88.3 100 O. Pemberian imunisasi campak dosis kedua pada murid sekolah ini dimaksudkan sebagai booster. Untuk kabupaten Ogan Ilir hanya melaksanakan di 6 wilayah kerja puskesmas saja.9 100 Prabu 87.9 100 Sumber: Laporan BIAS Bidang PP&PL.7 100 OKU 99 100 4 Lwg M.

18%.Lg 99.5.2 tahun menjadi 70.9 100 OKI 97.Ilir 96.Alam OKUT 100 100 100 100 100 100 Mura 99.9 100 OKUS Sumsel Tdk mlk 100 94.pada semua murid SD/MI kelas 1 dan kelas 2.Enim P. Dengan meningkatnya UHH maka populasi penduduk yang berusia lanjut juga mengalami peningkatan sangat bermakna.2 100 Lahat 99 100 4 Lwg 98.9 100 Lb.8 100 B.3 100 Plg 98. Pada gambar 4. Salah satu indikator keberhasilan pembangunan kesehatan di Indonesia adalah meningkatnya Usia Harapan Hidup (UHH) masyarakat Indonesia.6 100 Muba 96. Pada tahun 2010 diperkirakan Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 84 . Adapun hasil pelaksanaan BIAS Campak tahun 2009 adalah sebagai berikut: Gambar 4. persentase cakupan puskesmas yang melayani kesehatan usia lanjut mengalami penurunan dari 82. dimana pada kelompok ini biasanya banyak mengalami gangguan kesehatan degeneratif dan fungsi tubuh lainnya.25 Hasil Cakupan Bias Campak Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 110 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 DES '08 TARGET Hasil Cakupan BIAS Campak Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 M.1 100 OKU 97. Dimana pada RPJMN DepKes tahun 2009 diharapkan terjadi peningkatan dari 66. Pelayanan Kesehatan Pra Usia Lanjut dan Usia Lanjut Pelayanan kesehatan juga dilakukan secara khusus kepada kelompok Pra Usia Lanjut dan Usia Lanjut.4% menjadi 41.9 100 Sumber: Laporan BIAS Bidang PP&PL.5 100 O.95%. tahun 2009 4.1.6 100 Prabu 82.23% menjadi 81.6 tahun. namun sebaliknya.18 terlihat bahwa persentase lanjut usia yang dibina mengalami peningkatan dari 27.Asin 99.

86 5.53 93 78.95 86.4 25.26 24.37 66.11 2.26 95.97 17.jumlah penduduk berusia lanjut di Indonesia sebesar 24 Juta Jiwa atau 9.2 100 P.66 41.28 81.75 12. Gambar 4.45 100 100 96.A LLG B.66 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Untuk mengetahui sejauh mana pengembangan program kesehatan usila di Propinsi Sumatera Selatan dapat dilihat pada data di bawah ini : Gambar 4.21 70.16 24.27 Persentase Cakupan Lanjut Usia yang Dibina dan Cakupan Puskesmas Melayani Kesehatan Usia Lanjut Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 82.21 16.26 Jumlah Usila Dibina dan PKM yang membina Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 100 80 60 40 20 0 Usila Dibina PKM Membina OKU OKI M.45 70.62 31.99 2005 2006 2007 2008 Sumber : Subdin Yankes Dinkes Prov.18 27.73 92.7% dari Jumlah Penduduk.23 72.55 95.7 37.I OKU OKU T S 4L SUM SEL 91.E Lahat MUR MUB PLG PBM A A 9.A O.24 72.44 24.64 88.67 100 100 31.51 27.22 25.99 100 88.51 8.89 20.Sumsel 2009 Usila dibina Puskesmas membina Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 85 .

4.1.06 17 0.97 19.27 21.11 18. rata-rata selang waktu pemakaian tempat tidur (BTO).2.89 68. persentase pasien keluar yang meninggal (GDR) dan persentase pasien keluar yang meninggal .28 Persentase Kunjungan Rawat Jalan menurut Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2008 Sumsel OKU OKI Muara Enim Lahat Mura Muba Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Empat Lawang Palembang Prabumuli Pagar Alam Lubuk Linggau 0 11. PELAYANAN KESEHATAN RUJUKAN DAN PENUNJANG Upaya pelayanan kesehatan kepada masyarakat dilakukan secara rawat jalan bagi masyarakat yang mendapat gangguan kesehatan ringan dan pelayanan rawat inap baik secara langsung maupun melalui rujukan pasien bagi masyarakat yang mendapatkan gangguan kesehatan sedang hingga berat. Gambar 4.66 4.49 9. Sebagian besar sarana pelayanan Puskesmas dipersiapkan untuk memberikan pelayanan kesehatan dasar bagi kunjungan rawat jalan sedangan RS yang dilengkapi berbagai fasilitas di samping memberikan pelayanan pada kasus rujukan untuk rawat inap juga melayani untuk kunjungan rawat jalan.23 10 20 30 40 50 60 70 80 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 4. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 86 . < 24 jam perawatan (NDR).93 6. Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit Beberapa indikator standar terkait dengan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit yang dipantau antara lain pemanfaatan tempat tidur (BOR).38 0 0. rata-rata lama hari perawatan (LOS).41 1.43 0 4.04 16.2. rata-rata tempat tidur dipakai (BTO).

Pemanfaatan Obat Generik Penggunaan obat generik merupakan salah satu langkah dalam upaya meningkatkan kemampuan masyarakat menjangkau obat yang berkualitas.4.29 Persentase Peserta Jamsoskes Sumsel Semesta Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 60 59 58 57 56 55 54 53 52 51 KU O at m KI O Eni Lah .3.2.84%) dan terendah di kabupaten Banyuasin (54. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 87 . M R M B M BA S UT KU K O O I O ng ulih lam gau ba g m bum P. Gambar 4.2. Berikut adalah gambaran persentase program Jamsoskes Sumsel Semesta tahun 2009. Pelayanan Jaminan Kesehatan Masyarakat Tujuan penyelenggaraan Jamkesmas yaitu untuk meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan terhadap seluruh masyarakat miskin dan tidak mampu agar tercapai derajat kesehatan masyarakat yang optimal secara efektif dan efisien. P 4L Dari gambar tersebut terlihat bahwa cakupan jamsoskes sumsel semesta ratarata diatas 50%. Data mengenai persentase penulisan resep obat generik tahun 2009 tidak tersedia.2.A Lin e al Pra L. Keberhasilan dalam sosialisasi pemanfaatan obat generik sangat dipengaruhi oleh keseriusan tenaga kesehatan dan terjaminnya ketersediaan obat generik di fasilitas kesehatan. tertinggi dicapai oleh kabupaten Muara Enim (59.06%). 4.

PEMBERANTASAN PENYAKIT MENULAR Upaya pemberantasan penyakit menular lebih ditekankan pada pelaksanaan surveilans epidemiologi dengan upaya penemuan penderita secara dini yang ditindaklanjuti dengan penanganan secara cepat melalui pengobatan penderita. Uraian singkat berbagai upaya tersebut seperti berikut ini : 4. faktor lingkungan seperti kebersihan lingkungan. sumber air bersih yang digunakan oleh masyarakat. namun angka kematian (CFR) meningkat. dengan 26 kematian (CFR 0.4. upaya pengurangan faktor risiko melalui kegiatan untuk peningkatan kualitas lingkungan serta peningkatan peran serta masyarakat dalam upaya pemberantasan penyakit menular yang dilaksanakan melalui berbagai kegiatan. Pada tahun 2009 terjadi sebanyak 97 kali KLB dengan angka serangan sebesar 7. telah terjadi KLB di kabupaten/kota sebanyak 41 kali. maka ditetapkan bahwa setiap terjadi KLB harus ditanggulangi dalam waktu kurang dari 24 jam.3. Penyelidikan Epidemiologi dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa Angka kesakitan dan kematian akibat penyakit menular dan keracunan sampai saat ini masih menyebabkan masalah utama kesehatan masyarakat. Jumlah penderita nya adalah sebanyak 2. dan yang tidak kalah pentingnya kerusakan lingkungan yang turut berperan terjadinya perubahan pola musim dan kejadian penyakit di masyarakat. dibanding tahun-tahun sebelumnya frekuensi KLB cenderung menurun. Namun demikian Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 88 . Di samping itu pelayanan lain yang diberikan adalah upaya pencegahan dengan pemberian imunisasi. Secara umum. MCK. Pada tahun 2008 ditargetkan minimal 95 % desa/kelurahan sudah dilaksanakan penanggulangan KLB dalam waktu kurang dari 24 jam oleh Tim Gerak Cepat Kab/kota masing-masing. Hal tersebut dipengaruhi beberapa faktor diantaranya.93%). tingkat ekonomi.3. perilaku masyarakat.1.534 penderita dan kematian 0 penderita (CFR 0%) Mengacu pada Keputusan Menteri Kesehatan RI (Kepmenkes) nomor 1091 tahun 2004 tentang SPM-KLB. Berdasarkan rekapitulasi laporan program surveilans KLB selama tahun 2008.791 orang.

Bidang PP&PL. Adapun kelengkapan laporan W-1 per kabupaten/kota adalah sebagai berikut: Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 89 . sehingga faktor resikonya segera diketahui. Bila terjadi KLB pada suatu daerah. maka target tersebut belum bisa direalisasikan. maka harus ditindaklanjuti dengan pengiriman laporan KLB <24 jam (Laporan W1) secara berjenjang dari puskesmas ke kab/kota lalu ke provinsi dan ke Depkes RI. Hal ini menunjukkan bahwa KLB yang terjadi memang sudah diinvestigasi dan ditindaklanjuti supaya tidak meluas.L 95 95 LHT 92 95 Sumber: Laporan PE KLB. Diharapkan masa mendatang tak ada lagi KLB yang terlambat diantisipasi.seiring dengan kalah cepatnya petugas menerima laporan adanya KLB.30 Desa/Kelurahan KLB Ditangani < 24 Jam Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 100 80 60 40 20 0 Ketepatan Indikator PLG 100 95 BA 100 95 MUBA 100 95 PRB 87 95 ME 100 95 PA 100 95 LL 100 95 MURA OKUT 100 95 100 95 OI 100 95 OKI 95 95 OKU 96 95 OKUS 85 95 4. lalu angka kesakitan dan/atau kematian dapat dicegah. Tahun 2009 Gambar di atas menunjukkan bahwa sebagian besar kabupaten/kota telah melakukan investigasi KLB dalam waktu kurang dari 24 jam. Gambar 4.

L OI OKI LHT 91. Kabupaten OKU dan OKU Timur.67 91.38 90 OKUT 90 90 OKU 85 90 PLG 85 90 Sumber: Laporan W1 Tahun 2009 Data di atas menunjukkan bahwa 90 % kabupaten/kota telah tepat waktu (dalam waktu 24 jam) menyampaikan laporan W1 sejak terjadi KLB. Sedangkan untuk ketepatan laporan W1 adalah sebagai berikut: Gambar 4. OKUS. OKI dan Lahat.33 95 95 95 95 95 95 Sumber: Laporan W1 Tahun 2009 Gambar di atas menunjukkan bahwa sebagian besar kabupaten’kota telah mengirimkan laporan W1 secara lengkap.Gambar 4. Laporan yang belum lengkap diterima adalah dari Kabupaten OKU.67 83.32 Ketepatan Laporan W1 Dari Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 110 90 70 50 30 10 -10 BA Ketepatan Indikator 100 90 MUBA 100 90 OI 100 90 OKI 100 90 PRB 100 90 ME 100 90 PA 100 90 LL 100 90 MURA OKUS 100 90 100 90 4.67 91.L 100 90 LHT 90. Empat Lawang.67 91. Laporan yang selalu terlambat justru terjadi di Kota Palembang.31 Kelengkapan Laporan W1 Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 100 50 0 PLG Kelengkapan Indikator 100 95 BA 100 95 MUBA PRB 100 95 95 95 ME 100 95 PA 100 95 LL 100 95 MURA OKUT OKU OKUS 100 95 100 95 4. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 90 .67 91.

5 25 0 0 0 0 20 - Sumber: Laporan KLB. campak. tahun 2009 Dari tabel di atas menunjukan frekuensi KLB tahun 2009 sebanyak 38 kejadian dengan jumlah penderita 10.1 Frekuensi dan Jumlah Kasus KLB Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 PENYAKIT Frekuensi KLB KASUS MENINGGAL C F R NO 1 2 3 4 5 6 7 KER.NEO CAMPAK CHIKUNGUNYA H1N1 DIARE J U M L A H 5 7 10 4 9 2 2 38 187 7 10 238 9. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4. Adapun jenis KLB yang terjadi secara rinci adalah sebagai berikut: Gambar 4. flu strain baru (H1N1) dan diare.129 0 2 4 0 0 0 0 6 0 28.05 %).MAKANAN DIFTERI TET.33 Frekuensi Desa KLB per Penyakit Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 15 10 5 0 Frekuensi Ker-Mak 6 Difteri 2 Campak 1 H1N1 2 Chikungunya 83 Diare 3 Sumber: Laporan KLB.396 2 288 10. tahun 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 91 .Pada tahun 2009. tetanus neonatorum. chikungunya.129 orang dan meninggal 6 orang (CFR 0. di Sumatera Selatan terjadi KLB sebanyak adalah 38 kali. Adapun jenis KLB yang dimaksud adalah Keracunan Makanan dan Penyakitr Menular (difteri.

Dengan demikian diharapkan pengamatan terhadap penyakit potensial KLB dapat lebih ditingkatkan sehingga kemungkinan terjadinya KLB dapat dicegah sedini mungkin. laporan KLB terbanyak melalui SMS sebesar 27%.05 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari Gambar 4.93 2008 799 35 9 1.62 2007 2791 41 26 0.34 Perbandingan Frekuensi dan Penderita KLB Penyakit & Keracunan Makanan Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003-2009 8000 7500 7000 6500 6000 5500 5000 4500 4000 3500 3000 2500 2000 1500 1000 500 0 Penderita Frekuensi Meninggal CFR 2003 1900 20 18 0.94 2004 513 34 6 1. Hal ini disebabkan karena semua petugas kabupaten/kota telah mengikuti PAEL (Pelatihan Asisten Epidemiologi Lapangan).35 berikut. Frekuensi KLB paling tinggi terjadi pada tahun 2006.12 2005 1305 31 2 0. seperti terlihat pada tahun-tahun berikutnya yang cenderung menurun dengan korban yang makin sedikit.15 2006 2417 70 15 0. sehingga makin sensitif terhadap kejadian KLB.25 2009 10129 38 6 0. Untuk data kejadian KLB sejak tahun 2003 hingga 2009 di Sumatera Selatan dapat dilihat pada Gambar berikut: Gambar 4.Dari gambar di atas terlihat bahwa penyakit Chikungunya merupakan penyakit yang paling dominan menimbulkan KLB. sehingga secara cepat ditanggulangi dan dilaporkan. diikuti oleh penyakit menular lainnya dan tidak ada kematian. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 92 .

Gambar 4.35 Persentase Jenis Pelaporan KLB dari Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 SMS Masyarakat 0% Hasil PE 24% W1 22% Email 0% Laboratorium 1% SMS/Tenaga Kes 27% Telpon/HP 26% Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Gambar 4.36 Cakupan Desa/Kelurahan mengalami KLB Yang Dilakukan Penyelidikan Epidemiologi <24 Jam Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 93 .

MURA.00 2.00 3.000 anak usia < 15 tahun. TN dan Cmpak.00 8.05 100 100 100 80 87.00 6.00 4. Lahat dan Muara Enim yang masih berada pada range 70-100%.33 4.000 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 94 .00 3. Pemberantasan Penyakit Polio Penemuan kasus AFP pada tahun 2009 mencapai 85 kasus (target : 42 kasus) dengan AFP rate 4 per 100. Pencapaian spesimen adekuat sebesar 92.2 Kinerja Surveilans AFP Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 NO KABUPATEN/ KOTA KASUS AFP TARGET DITEMUKAN AFP RATE SPECIMEN ADEKUAT KELENGKAPAN LAPORAN (%) PKM RS 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 OKU OKI Muara Enim Lahat Musi Rawas Muba Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir 4 Lawang Palembang Prabumulih Pagar Alam L.00 4.Gambar diatas menunjukkan sebagian besar wilayah yang mengalami KLB sudah memenuhi target pencapaian SPM.00 2.5 100 100 100 100 100 0 92 0 75 75 92.2.0 per 100. Linggau SUMSEL 2 4 4 3 4 2 4 2 3 2 1 8 1 1 1 42 3 7 4 5 8 2 8 3 5 6 1 25 0 4 4 85 3.50 2.6 90 77 98 98 75 97 100 100 98 90 100 100 44 100 53 100 89 77 100 100 100 100 92 Sumber: Laporan Integrasi S-AFP.00 8.00 3.00 3. tahun 2009 Keterangan : Target AFP rate >= 2. yaitu 100%.33 6. Hanya Kabupaten OKI.25 0.9 92 92 73 91 81 89.3. Pencapaian Kinerja Surveilans AFP dapat dilihat pada Gambar dibawah ini : Tabel 4.9%. 4.

3 80 MURA 87. Sedangkan specimen adekuat 92. Sebagian besar kabupaten/kota telah melaksanakan tatalaksana spesimen secara adekuat. Hanya Kota Prabumulih menunjukkan kinerja yang belum baik. (target: 80 %). AFP Rate tertinggi pada Kota Pagar Alam dan Lubuk Linggau (rate 8.9 %.3 80 100 3 80 4L 0 2 80 PROV 92.5 4 80 PGA 75 8 80 LGU B.ILIR OKUT OKUS 75 8 80 100 4 80 100 6 80 100 3. tahun 2009 Dari Gambar di atas terlihat hanya ada 1 (satu) kabupaten/kota yang tidak mencapai penemuan kasus dan spesimen adekuat yaitu Kota Prabumulih.25 (target: 2).9 4.Tabel di atas menunjukkan bahwa AFP Rate di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 adalah 4.0). TN dan Cmpak. selama tahun 2009 belum berhasil ditemukan.05 80 Sumber: Laporan Integrasi S-AFP. Gambar 4.05. Hal ini disebabkan karena dari target 1 (satu) kasus AFP. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 95 .37 Persentase spesimen adekuat dan AFP Rate Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 100 80 60 40 20 0 PLG Spesimen Adekuat AFP Rate Target 92 6.ASIN O. yang berarti ada peningkatan dibanding tahun 2008 sebesar 3.9 dan tahun 2007 yang hanya 3.5 80 OKU 100 3 80 M.25 80 PRB MUBA 0 0 80 100 2 80 OKI 100 3.ENI M 100 2 80 Spesimen Adekuat AFP Rate LHT 80 3.

OKUT.3 * 90 58. Musi Rawas dan Banyuasin.ASI O.ENI M 73.4 0 90 77 * 90 75 * 90 87.Gambar 4.ILIR OKUT OKUS 4 LWG PROV N 89.7 100 90 OKU 100 100 90 M. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 96 .9 53 90 PGA 100 100 90 LGU 81 100 90 B. Sementara di rumah sakit terdapat 3 kabupaten yaitu Kabupaten Muara Enim.4 44 90 LHT 91 100 90 MURA 80. tahun 2009 Gambar di atas menunjukkan bahwa pencapaian kelengkapan laporan nihil (zero report) dari puskesmas masíh ada yang belum mencapai target yaitu Kabupaten Muara Enim.4 84. Empat Lawang dan Kota Lubuk Linggau.9 89 90 98. TN dan Cmpak. Musi Rawas. OKUS.7 90 100 80 60 40 20 0 Sumber: Laporan Integrasi S-AFP.38 Pencapaian Kelengkapan Laporan Nihil (Zero Report) Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 120 100 80 60 40 20 0 PLG PKM RS Target 97 100 90 PRB 100 100 90 MUBA 91 100 90 OKI 91.

Empat Lawang. juga diperhatikan status imunisasinya.ENIM 9 4 4 LHT 4 5 3 MURA 5 8 4 MUBA 4 2 2 B. Pagar Alam.ILIR 10 6 2 4 LWG 0 1 1 PLG 14 25 8 PRB 0 0 1 PGA 2 4 1 LGU 2 4 1 Sumber: Laporan Integrasi S-AFP.OKUS.OKUT.39 Penemuan Kasus AFP Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2008 – 2009 27 24 21 18 15 12 9 6 3 0 2008 2009 Target OKU 3 3 2 OKI 3 7 4 M. dan Lubuk Linggau. Kota Palembang. MURA. tahun 2008-2009 Dari Gambar di atas menunjukkan bahwa penemuan kasus AFP bervariasi antara kab/kota yang satu dengan yang lainnya dan ada sebagian kab/kota yang mengalami peningkatan penemuan jika dibanding tahun 2008 yaitu Kabupaten OKI. TN dan Cmpak.Gambar 4. Adapun gambaran kasus AFP dan status imunisasi pada tahun 2008 – 2009 dapat dilihat pada Gambar berikut: Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 97 . Lahat.ASIN OKUS 22 8 4 1 3 2 OKUT 4 5 4 O. Dari data penemuan kasus AFP yang ditemukan.

namun pada tahun 2009 menurun menjadi 4%. TN dan campak. TN dan campak. Gambar 4. dan yang > 4 dosis menurun sebesar 1% jika dibandingkan pada tahun 2008.4 tahun yaitu sebesar 48%.Gambar 4.2009 8% 10% 4% 15% 82% 81% 0 Dose 1-3 Dose >=4 Dose 0 Dose 1-3 Dose >=4 Dose Sumber: Laporan Integrasi S-AFP. Sementara untuk 1-3 dosis meningkat dari 10% pada tahun 2008 menjadi 15% pada tahun 2009. dan terendah pada Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 98 .2009 Tahun 2008 5% 27% Tahun 2009 24% 2% 48% 20% 48% 26% < 1 TH 1-4 TH 5-9 TH 10-<15 TH < 1 TH 1-4 TH 5-9 TH 10-<15 TH Sumber: Laporan Integrasi S-AFP.40 Proporsi Status Imunisasi Kasus AFP Non Polio Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2008 . tahun 2008-2009 Dari Gambar di atas dapat kita lihat bahwa anak-anak yang terdiagnosa sebagai kasus AFP yang tidak mendapat imunisasi (0 dosis) sebesar 8% pada tahun 2008.41 Kasus AFP Non Polio Berdasarkan Kelompok Umur Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2008 . tahun 2008-2009 Dari Gambar di atas terlihat bahwa kasus AFP pada tahun 2008 tertinggi terjadi pada kelompok umur 1 .

Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 99 .kelompok umur < 1 tahun yaitu sebesar 5%.2009 Tahun 2008 Tahun 2009 33% 38% 67% 62% CBS HBS CBS HBS Sumber: Laporan Integrasi S-AFP. TN dan campak.42 Sumber Laporan Kasus AFP Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2008 . tahun 2008-2009 Dari Gambar diatas terlihat bahwa pada tahun 2008 penemuan kasus AFP terbanyak bersumber dari masyarakat (community) yaitu sebesar 67% dan pada tahun 2009 menurun menjadi 62%. Pada tahun 2009 tertinggi pada kelompok umur 1 .4 tahun sebesar 48%. dan terendah pada kelompok umur < 1 tahun sebesar 2%. Gambar 4.

43 AFP Rate per 100. Kegiatan ini meliputi upaya penemuan penderita dengan pemeriksaan dahak di sarana pelayanan kesehatan yang ditindaklanjuti dengan paket pengobatan. 14 Kabupaten/kota lainnya sudah mencapai target SPM yaitu minimal 2. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 100 . Pemberantasan TB Paru Upaya pencegahan dan pemberantasan TB-Paru dilakukan dengan pendekatan DOTS (Directly Observe Treatment Shortcourse) atau Pengobatan TB-Paru dengan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO). 4.3.3.Gambar 4. yaitu masih dibawah 1.000 penduduk <15 tahun Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Dari gambar diatas terlihat bahwa hanya terdapat satu kabupaten yaitu Prabumulih yang belum memenuhi target SPM.

059 kasus atau 30.785 balita. Hanya Kabupaten Empat Lawang yang belum memenuhi target angka keberhasilan penyembuhan (success rate). Pemberantasan Penyakit ISPA Pada tahun 2009 jumlah penemuan kasus P2 ISPA Provinsi Sumatera Selatan adalah 21.7%) dan pada golongan umur 1-5 tahun sebanyak 300 kasus (1.182 kasus (53. Hasil kegiatan penemuan kasus dapat dilihat pada tabel terlampir.01%.10%) dari seluruh kasus pneumonia.7%) sedangkan kabupaten terendah yaitu Kabupaten Empat lawang dan Kota Pagaralam masing-masing sebsesar 0 (0%).3.E yu O O .42%).Gambar 4.6 % dari target terdiri dari target penemuan penderita sebanyak 68. Pada pneumonia berat untuk golongan umur <1 tahun sebanyak 570 kasus (2. E.m P.B M O g g u ih m ul an ban la ga . angka keberhasilan pengobatan penderita TB Paru minimal 85%. M an M .44 Angka Keberhasilan (Succes Rate) Pengobatan Penderita TB Paru BTA (+) Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 120 100 80 60 40 20 0 O KU O KI t s in T S m ha wa ni as KU KU La Ra .4. Dilihat dari realisasi cakupan penderita berdasarkan target penemuan yang ada persentase tertinggi dicapai oleh kabupaten Lahat (80. Belum dapat disimpulkan bahwa rendahnya penemuan ini didasari Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 101 .A ng aw em P L Li L.85%.753 kasus (32. Pal I SR target Berdasarkan standar WHO.07%) dan untuk golongan umur 1-5 tahun sebanyak 11. Pada kasus pneumonia golongan umur <1 tahun sebanyak 6. 4. Angka keberhasilan pengobatan penderita pada tahun 2009 di Provinsi Sumatera Selatan mencapai 94. yaitu baru mencapai 60.

84 100 100 100 100 100 100 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Tabel 4.19 12.53 100 54.45 CDR Pneumonia Balita per Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 120 100 80 PERSENTASE 60 CDR TARGET 40 20 0 OKU CDR TARGET 36.6 100 M. Gambar 4.LIN PROP GGA INSI U 2.4 100 4 LWG 0 100 PLG 42.oleh memang tidak terdapatnya penderita atau kurang aktifnya petugas dalam melakukan pelacakan kasus.73 100 0 100 L.42 22.3 Gambaran Penemuan kasus ISPA Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003 – 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Kab/Kota Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau Ogan Ilir OKUS OKU MURA Lahat OKI Banyuasin Muara Enim OKUT MUBA Empat Lawang 2003 6236 273 191 734 10251 2553 2206 3283 2429 3332 1535 - 2004 5447 201 11 856 9286 1010 326 3203 970 4316 1613 - 2005 7299 56 4 608 925 268 2857 889 806 1166 1732 4601 4195 1428 - 2006 7604 32 82 921 928 1326 2752 1064 556 1462 2099 4598 3151 1290 - 2007 7346 117 201 651 1099 2360 2971 2205 468 1719 2166 3927 1450 1829 - 2008 7006 13 1 43 492 1407 2119 2314 1240 1329 300 3537 270 1146 0 2009 6124 10 0 51 400 758 963 3450 997 1387 2407 3367 508 637 0 16 Provinsi 33027 27240 26834 27865 28509 21597 21059 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 102 .06 100 OKI 19.73 100 OI 10.AL U AM 0.46 29.56 100 PRAB P.74 100 29.EN LAHA MUR M T A MUB A BA OKUS OKUT 8.23 68.18 29.

Jumlah kasus tertinggi tahun 2009 yaitu terjadi di Kabupaten Musi Rawas dan Muara Enim dan Kota Palembang.2 2004 33.2 2008 31.01 Realisasi Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari gambar diatas terlihat bahwa cakupan penemuan pneumonia mengalami penurunan dari 31. Terjadi penurunan kasus di tahun 2009. Gambar 4. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 103 . dibandingkan tahun sebelumnya.01% pada tahun 2009.2009 50 40 30 20 10 0 2003 39.6 2005 34 2006 35.8% pada tahun 2008 menjadi 31.Kabupaten Empat Lawang tahun 2009 tidak ada kasus.8 2009 31.46 Cakupan Penemuan Pneumonia Balita Program ISPA Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003 .3 2007 39.

Adapun distribusi penemuan kasus adalah sebagai berikut: Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 104 . 14 Kabupaten lainnya masih dibawah target. Untuk penyakit pneumonia. terdiri dari 1 kabupaten yaitu Muara Enim berada pada range 50-60%.5. Ditjen ISPA. Depkes RI melakukan revisi target SPM dari 86% diturunkan menjadi 60%.Gambar 4. 4.47 Cakupan Penemuan Penderita Pneumonia Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Dari gambar diatas. dan sejak itu jumlah penderita terus meningkat. Penanggulangan Penyakit HIV/AIDS dan PMS Penderita HIV/AIDS di Sumatera Selatan pertama kali ditemukan tahun 1995. hanya kabupaten Musi Rawas yang memenuhi target SPM minimal 60%. 13 kabupaten berada pada range terendah yaitu di bawah 50%.3.

Gambar berikut menunjukkan bahwa sampai dengan tahun 2009 ada sebanyak 174 orang yang menderita AIDS dan masih dalam kondisi hidup dan masih mendapatkan pengobatan antiretroviral (ARV) secara teratur dan rutin. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 KAB/KOTA OKU OKI Muara Enim Lahat Musi Rawas Musi Banyuasin Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Empat Lawang Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau Sumatera Selatan JUMLAH KASUS HIV AIDS 7 8 2 0 0 1 2 0 2 1 1 3 2 2 0 0 1 2 1 1 0 0 51 45 0 1 1 1 15 5 85 70 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari tabel di atas terlihat bahwa penemuan HIV tertinggi terjadi di Kota Palembang yaitu 51 HIV dan 45 AIDS dan diikuti oleh Kota Lubuk Linggau yaitu 15 penderita HIV dan 5 AIDS.4 Distribusi Penemuan Kasus HIV / AIDS Melalui Klinik VCT Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 No. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 105 .Tabel 4.

Bentuk upaya yang dilakukan dalam peningkatan kualitas lingkungan.1. Upaya pembinaan kesehatan lingkungan dan sanitasi dasar pada prinsipnya dimaksudkan untuk memperkecil atau meniadakan faktor risiko terjadinya penyakit atau gangguan kesehatan akibat dari lingkungan yang kurang sehat. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 106 .48 Distribusi AIDS Menurut Kondisi Saat Dilaporkan Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 1995-2009 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 HIDUP JUMLAH 174 MENINGGAL 74 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 4.4. surveilans vektor dan pengawasan Tempat-Tempat Umum (TTU) 4. PEMBINAAN KESEHATAN LINGKUNGAN DAN SANITASI DASAR Faktor lingkungan mempunyai peran yang sangat besar dalam proses timbulnya gangguan kesehatan baik secara individual maupun masyarakat umum.4. Kegiatan pembinaan dimaksud mencakup upaya pemantauan.Gambar 4. antara lain melakukan pembinaan kesehatan lingkungan pada masyarakat dan institusi. Pembinaan Kesehatan Lingkungan Upaya pembinaan kesehatan lingkungan diarahkan pada masyarakat dan institusi yang memiliki potensi pengancam kesehatan masyarakat yang dilakukan secara berkala.

Enim OKI OKU 0 10 20 30 98. Dari 15 Kabupaten / Kota di Sumatera Selatan cakupan tertinggi Kota Lubuk Linggau dengan cakupan sebesar 98.94 40 50 60 70 80 90 100 Sumber : Subdin P2PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Berdasarkan gambar tersebut di atas cakupan penduduk yang menggunakan Sarana Air Bersih pada tahun 2009 yaitu sebesar 66.41 %. pencahayaan.28 65.Asin MUBA MURA LAHAT M.19 67.94 65.79 92.94 65.49 Cakupan Penduduk yang Menggunakan Sarana Air Bersih Menurut Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 L.Linggau P.4.57 65. pengelolaan sampah. Hal tersebut sudah menunjukan peningkatan bila dibandingkan dengan data tahun 2008 yaitu 62. Pengawasan Sarana Air Bersih Pengawasan sarana air bersih yang dilakukan melalui Supervisi maupun pelaporan yang diterima adalah sebagai mana tabel berikut: Gambar 4.94 77.19 70.1.78 65.94 65.1.penyuluhan dan pemberian rekomendasi terhadap aspek penyediaan fasilitas sanitsai dasar (air bersih dan jamban).94 34. 4.1 65. Peningkatan tersebut disamping karena adanya proyek WSLIC-2 dan PAMSIMAS di Provinsi Sumatera Selatan juga karena semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya sarana air bersih.78 %.66 39. dan lain-lain.66 %. cakupan terendah Kabupaten Empat Lawang dengan cakupan 34. sirkulasi udara. Sedangkan Kabupaten Empat Lawang belum pernah ada laporan mengingat kabupaten tersebut pemekaran dari kabupaten Lahat. Dengan kata lain Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 107 .Alam Prabumulih Palembang 4 Lawang OI OKUT OKUS B. 48 %.94 54.

665 384.688 31.51 68.427 19.857 80.246 88.005 110.451 101.486 186.106 JUMLAH DIPERIKSA 7 34.980 153.532 27.222.025 818.074.872 1.10 66.72 70.093 77.209 207.20 67. Untuk itu perlu terus disosialisasikan tentang pentingnya arti penggunaan air bersih yang memenuhi syarat kesehatan baik dari segi sarana maupun kualitas air yang digunakan.663 213.467.032 163.82 64.069 61.288 61.056 7.70 JUMLAH (KAB/KOTA) Sumber : Subdin P2PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 108 .34 76.591 24.346 117.824.307 41.778 71.637 59.peningkatan tersebut tidak terlepas dari kesadaran masyarakat akan penggunaan sarana air bersih baik yang dibangun secara mandiri maupun oleh pemerintah.009 82.554 14.992 217.657 JUMLAH SEHAT 8 20.00 70.648 158.020 56.322 178.738 43. 4.022 707.416 15.215 1.46 66.04 61.775 21.256 140.786 116.005 152.341 341.130 21.12 57.075 12.704 159.169 34. Penyehatan Perumahan Tabel 4.635 JUMLAH SELURUHNYA 6 57.485 97.055 505.618 18.2.105 54.438.545 9. Disadari juga bahwa penyakit yang timbul melalui media air ini cukup banyak.802 52.402 134.879 581.494 58.503 27.162 257.231 13.850 716.862 1.127 199.53 60.940 523.581 145.301 58.465 96.5 Persentase Rumah Sehat Menurut Kabupaten / Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 RUMAH NO KAB/KOTA PKM JUMLAH KK 1 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 OKU OKI MUARA ENIM LAHAT MUSI RAWAS MUSI BANYUASIN BANYUASIN OKU SELATAN OKU TIMUR OGAN ILIR EMPAT LAWANG KOTA PALEMBANG KOTA PRABUMULIH KOTA PAGAR ALAM KOTA LUBUK LINGGAU 2 3 14 23 22 27 27 25 29 14 22 21 8 38 7 6 8 291 4 62.1.368 92.4.368 65.317 144.860 1.927 150.298 31.796 % SEHAT 9 58.070 JUMLAH PDDK 5 267.04 62.280 331.60 71.225 15. Disamping itu peran tenaga kesehatan yang memberikan bimbingan kepada masyarakat tentang pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat.938 137.79 54.036 299.627 668.62 67.594 45.539 34.

7 % Pencpaian I KU OK M E t ha RA BA La MU MU BA O KU S O KU T O I 4L G M PL PB I PA LLG INS V O PR Kab / Kota Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 109 .1 66.79 63. Gambar 4. terlihat bahwa cakupan Rumah Sehat secara umum sudah mencapai lebih dari 50 %. Cakupan tertinggi di Kota Palembang denga persentase 76.2 54.46 61.58 57.04 58.50 Persentase Rumah Sehat Menurut Kabupaten / Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 90 85 80 75 70 65 60 55 50 45 40 35 30 25 20 15 10 5 0 O 76.82 67.Dari Gambar diatas.6 70. dan Persentase terendah terdapat pada Kabupaten Musi rawas dengan Persentase 54.53 60.12 71.62 66.34 67.04 62.62 %.72 70.51 68.82 %.

45 90.15 50.1.93 15.3. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 110 .46 56. Cakupan terendah terjadi di Kabupaten Banyuasin (15.81 75.04%).48%).21 75 40 50 60 70 80 Sumber : Subdin P2PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Dari Gambar di atas.Sarana Pembuangan Air Limbah Gambar 4.26%).79 10 20 30 36. Jika dilihat per kabupaten/kota variasinya masih sangat besar perbedaannya (Rentang :15.37 90 100 23.6 58.4.36%).51 Persentase Cakupan Sarana Pembuangan Air Limbah Menurut Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Sumsel OKU OKI Muara Enim Lahat Musirawas Musi Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Empat Lawang Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau 0 15. terlihat bahwa cakupan Pembuangan Air Limbah Rumah Tangga di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 sekitar 56.36 23.48%) kemudian diikuti Kota Palembang (84. ada 1 (satu) kabupaten yang belum tersedia datanya yaitu kabupaten Empat Lawang.04 0 24.6%. sedangkan persentase cakupan tertinggi di Kabupaten Ogan Ilir (90.04% 90.48 84. dan Ogan Komering Ilir (15.26 83. Dari 15 kabupaten/kota.81 46.4.

terlihat bahwa cakupan Jamban Keluarga di Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 baru mencapai 55.38%). Sarana Jamban Keluarga Gambar 4.38 77.74 48.05 6. 4.57% pada tahun 2008 menjadi 70.4.0%) dan terendah (40. sehingga Angka Bebas Jentik di Provinsi Sumatera Selatan meningkat dari 26.4. hanya 4 Kabupaten/Kota yang tidak menyampaikan data tentang Persentase Rumah/Bangunan yang bebas jentik. Cakupan tertinggi terjadi di Kota Pagar Alam (91.35% (Rentang: 6.4.81 45. Kegiatan yang dilakukan meliputi survei vektor untuk mengetahui jenis potensial.7%) terjadi di Kabupaten OKI (6.52 Persentase Cakupan Jamban Keluarga Menurut Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Sumsel OKU OKI Muara Enim Lahat Musirawas Musi Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Empat Lawang Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau 0 55.1.35 59.48 65.4.53% pada tahun 2009.6 84. Pada tahun 2009 dari 15 Kabupaten/Kota.92 70.55 89. bionomik serta strategi pengendaliannya. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 111 .2 23.0%).87 56. Surveilans Vektor Upaya surveilans vektor dilakukan untuk mengendalikan vektor potensial dalam penularan penyakit antara lain oleh nyamuk.38 91 70.3 0 85.38% .16 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Sumber : Subdin P2PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Dari Gambar di atas.2.91.

3.54 0 74.6 52.Umbrosus An.04 81. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 Kabupaten / Kota Ogan Komering Ulu Ogan Komering Ilir Muara Enim Lahat Musi Rawas Musi Banyuasin Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Palembang Pagar Alam Prabumulih Lubuk Linggau Vektor/Suspek An. Hyrcanus An.6 Jenis Vektor Malaria Menurut Kabupaten / Kota No.01 74. Pengawasan Tempat-Tempat Umum dan Tempat Pengelolaan Makanan Pengawasan terhadap Tempat-Tempat Umum (TTU) dan Tempat Pengelolaan Makanan (TUPM) dilakukan untuk meminimalkan faktor risiko sumber penularan bagi masyarakat yang memanfaatkan TTU dan TUPM.84 89.6 72.vagus Tidak ditemukan Tidak ditemukan Tidak ditemukan An.4. Hyrcanus Survei tahun 2007 Perkebunan Tidak ditemukan Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 4.barbirostris Tahun Survei Survei jentik 2005 Survei tahun 2007 Survei tahun 2007 Survei jentik 2005 Survei tahun 2007 Survei jentik 2005 Survei jentik 2005 Tempat Perindukan Kolam Perkebunan Perkebunan Kolam Perkebunan Perkebunan Genangan air Genangan air Tidak ditemukan An.Umbrosus An.03 84.Gambar 4.92 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Tabel 4.53 Persentase Angka ABJ Penyakit DBD Menurut Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Sumsel OKU OKI Muara Enim Lahat Musirawas Musi Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Empat Lawang Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau 0 0 73. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 112 .barbirostris An.vagus An.81 83.5 13.49 88.65 0 0 74. Bentuk kegiatan yang dilakukan antara lain meliputi pengawasan kualitas lingkungan TTU dan TUPM secara berkala. Hyrcanus An.

418 % 6 81.4 60.0 66.2 68.243 166 68 268 409 408 445 90 2.100%).2 68.8 82.1 67.204 201 126 21 3.4 82.7 Cakupan Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM) Sehat Menurut Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 NO 1 01 02 03 04 05 06 07 08 09 10 11 12 13 14 15 KAB/KOTA 2 OGAN KOMERING ULU OGAN KOMERING ILIR MUARA ENIM LAHAT MUSI RAWAS MUSI BANYUASIN BANYUASIN OKU SELATAN OKU TIMUR OGAN ILIR EMPAT LAWANG KOTA PALEMBANG KOTA PRABUMULIH KOTA PAGAR ALAM KOTA LUBUK LINGGAU TERDAFTAR 3 298 149 1.2 54. Cakupan tertinggi di Kota Lubuk Linggau sedangkan terendah terjadi di Kabupaten Lahat (54.8 %).4 100.7 68. terlihat bahwa cakupan Tempat Umum dan Pengelolaan Makanan (TUPM) sehat di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 sekitar 66.730 DIPERIKSA 4 234 144 1. penyuluhan dan saran perbaikan dalam pengelolaan lingkungan yang sehat. hingga pemberian rekomendasi untuk penerbitan izin usaha. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 113 .bimbingan. Tabel 4.7% (Rentang : 54.752 250 153 21 5.8% .243 166 68 88 346 192 374 90 1. (100 %).2 69.7 JUMLAH (KAB/KOTA) Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari tabel diatas.533 451 181 21 6.7 80.121 MS 5 190 99 686 91 56 53 239 130 257 65 1.7 72.8 55.

Tabel 4.12 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Dari tabel di atas menunjukan bahwa cakupan pengawasan Sarana Ibadah tertinggi di Kabupaten Musi Rawas.14 100 91. dan Banyuasin 0 %.10 0 100 43.Tabel 4.Empat Lawang. Ogan Ilir.84 SUMSEL 5232 4663 89.88 0 100 47. Kota Lubuk Linggau(100%) dan terendah Lahat.95 0 100 70.56 100 95. Kota Palembang.8 Cakupan Sarana Ibadah Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Kab / Kota Σ OGAN KOMERING ULU OGAN KOMERING ILIR MUARA ENIM LAHAT MUSI RAWAS MUSI BANYUASIN BANYUASIN OKU SELATAN OKU TIMUR OGAN ILIR EMPAT LAWANG KOTA PALEMBANG KOTA PRABUMULIH KOTA PAGAR ALAM KOTA LUBUK LINGGAU 288 342 640 0 871 244 0 13 616 327 0 1361 78 165 287 Sarana Ibadah Dibina 202 342 588 0 871 117 0 13 437 327 0 1361 74 165 166 % 70.94 100 0 100 94.3 0 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 114 .9 Cakupan TTU – I Sarana Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 No Kab / Kota Σ 1 2 3 4 5 6 7 OGAN KOMERING ULU OGAN KOMERING ILIR MUARA ENIM LAHAT MUSI RAWAS MUSI BANYUASIN BANYUASIN 342 10 551 0 639 538 0 Institusi Pendidikan Dibina 255 10 524 0 639 233 0 %Dibina 74.87 100 57.

5. Berdasarkan pemantauan yang telah dilakukan ditemukan beberapa permasalahan gizi yang sering dijumpai padsa kelompok masyarakat adalah kekurangan Kalori Protein.1. Pemantauan Pertumbuhan Balita Upaya pemantauan status gizi pada kelompok balita difokuskan melalui pemantauan terhadap pertumbuhan berat badan yang dilakukan melalui kegiatan penimbangan di Posyandu secara rutin setiap bulan. dan anemia gizi besi. Cakupan distribusi kapsul Vitamin A balita tahun 2009 sebesar 83.No 10 11 12 13 14 15 Kab / Kota Σ OGAN ILIR EMPAT LAWANG KOTA PALEMBANG KOTA PRABUMULIH KOTA PAGAR ALAM KOTA LUBUK LINGGAU SUMSEL 589 0 708 140 111 0 4537 Institusi Pendidikan Dibina 275 0 708 126 47 0 3584 %Dibina 46.99 Sumber : Bidang PP & PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 4. PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT Upaya perbaikan gizi masyarakat pada hakikatnya dimaksudkan untuk menangani permasalahan gizi yang dihadapi masyarakat. yang dilakukan melalui pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi pada bayi dan balita yang diberikan sebanyak 2 kali dalam satu tahun (Februari dan Agustus) dan pada ibu nifas diberikan 1 kali. 4.2.5.69 0 100 90 42.5.98%. Pemberian Kapsul Vitamin A Upaya perbaikan gizi juga dilakukan pada beberapa sasaran yang diperkirakan banyak mengalami kekurangan terhadap vitamin A.34 0 78. serta pengamatan langsung terhadap penampilan fisik balita yang berkunjung di fasilitas pelayanan kesehatan. 4. kekurangan vitamin A. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 115 . Gangguan Akibat Kekurangan Yodium.

66 81.23% dan Fe3 sebesar 80. Pemberian Tablet Besi Pelayanan pemberian tablet besi dimaksudkan untuk mengatasi kasus Anemia serta meminimalisasi dampak buruk akibat kekurangan Fe khususnya yang dialami ibu hamil.21% dan Fe3 sebesar 67. Cakupan Fe1 dan Fe3 ini meningkat dibandingkan dengan tahun 2008 yaitu cakupan Fe1 75.26 92.14 91.26 74.26%.76 91.49 64.76 75.57 39.36 65.18 93.23 93.6 73.44 20 40 60 80.83 79. Riset Medis mengatakan bahwa ASI Eksklusif membuat bayi berkembang dengan baik pada 6 bulan pertama bahkan pada usia lebih dari 6 bulan.4.3.58 96. 4.5.08 71.55 87. Persentase pemberian tablet besi pada ibu hamil (Fe-1 dan Fe-3) pada tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar berikut ini : Gambar 4.89 92. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 116 .7 73.24 79.54 Persentase Pemberian Tablet Besi Pada Ibu Hamil (Fe1 dan Fe3) Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Sumsel OKU OKI Muara Enim Lahat Musirawas Musi Banyuasin Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Empat Lawang Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau 0 86.9 81.15 69.4.83 79.48 56.89 96.32%. Bayi dengan ASI Eksklusif ASI adalah satu-satunya makanan dan minuman yang dibutuhkan oleh bayi hingga berusia enam bulan (ASI Ekslusif).69 85.5 80 100 120 Fe1 Fe3 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Cakupan distribusi tablet besi folat tahun 2009 yaitu Fe1 sebesar 86.44 73.12 89.28 92.19 86.5.82 91.

6.44%-77. PELAYANAN KEFARMASIAN DAN ALAT KESEHATAN Upaya pelayanan kefarmasian dan alat kesehatan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari upaya pelayanan kesehatan secara paripurna. pemerataan obat generik dan obat esensial yang bermutu bagi masyarakat.97 73.26 48. (2) mempromosikan penggunaan obat yang rasional dan obat generik.26 74.33% (Rentang: 6.63%).4 11. (3) meningkatkan kualitas pelayanan kefarmasian di farmasi komunitas dan farmasi klinik serta pelayanan kesehatan dasar.05 15. keterjangkauan.29 31. mutu.63 31. 4.63%). Upaya tersebut dimaksudkan untuk (1) menjamin ketersediaan. serta (4) melindungi masyarakat dari penggunaan alat kesehatan yang tidak memenuhi persyaratan . dan keamanan.33 19. Cakupan tertinggi dicapai oleh Kabupaten Ogan Ilir (77.83 19.27 46.19 40 50 60 70 80 90 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Pada Gambar terlihat bahwa cakupan pemberian ASI Ekslusif di Provinsi Sumatera Selatan mencapai 36.44 11.Cakupan pemberian ASI Eksklusif pada bayi di Provinsi Sumatera Selatan menurut Kabupaten/Kota pada tahun 2009 dapat dilihat pada Gambar berikut ini: Gambar 4.22 10 20 30 77.55 Cakupan Pemberian ASI Eksklusif pada Bayi Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Sumsel OKU OKI Muara Enim Lahat Musirawas Musi Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Empat Lawang Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau 0 36.39 6.94 49.63%) sedangkan yang terendah dicapai oleh Kabupaten OKU Timur (77.51 12. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 117 .

dan Myalgia. Peningkatan Penggunaan Obat Rasional Upaya peningkatan penggunaan obat rasional. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 118 . yang pelaksanaannya mencakup pengadaan buffer stock obat generik esensial.19%.3. 4. keterjangkauan.27% dan injeksi 21. yang dilaksanakan antara lain mencakup penyusunan standar/pedoman pelayanan farmasi komunitas dan pelayanan farmasi di rumah sakit. serta peningkatan kapasitas dan kompetensi SDM farmasi.4.1. standar/pedoman pengelolaan perbekalan farmasi di rumah sakit. 4.6. revitalisasi pemasyarakatan konsepsi obat esensial dan penerapan penggunaan obat esensial generik pada fasilitas pelayanan pemerintah maupun swasta.2. Pada saat ini Kabupaten OKU yang memberikan laporan secara rutin dimana pemakaian antibiotik 54.6.48% menurun dibandingkan tahun 2008 yaitu pemakaian antibiotik 63. diarahkan kepada peningkatan cakupan dan kualitas pelayanan pembinaan penggunaan obat yang rasional melalui pelaksanaan advokasi secara lebih internsif agar terseujud dukungan masyarakat yang kondusif serta terbangunnya kemitraan dengan unit pelayanan kesehatan formal.6. Penerapan Penggunaan Obat Esensial Generik Kegiatan ini dimaksudkan agar terjaminnya ketersediaan. Penggunaan Obat Rasional (POR) diukur dengan 2 (dua) indikator yaitu pemakaian antibiotik dan injeksi pada 3 kasus penyakit yaitu Diare Non Spesifik. Pada tahun 2009 ketersediaan obat esensial di Provinsi Sumatera Selatan sudah mencapai 90%. dan pemerataan obat dalam pelayanan kesehatan. ISPA Non Pneumonia.89% dan injeksi 26. Pelayanan Farmasi Komunitas dan Farmasi Klinik Upaya ini dimaksudkan untuk meningkatkan profesionalisme tenaga farmasi dalam rangka meningkatkan kualitas pelayanan farmasi omunitas dan pelayanan farmasi klinik.

10 Data Kejadian Bencana Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003 . 3 hanyut.Muba Pagar alam Lahat Kab OKUS Kab Banyu Asin Kab OKI Kab Musi rawas Kab lahat JENIS BENCANA Banjir Banjir Banjir Kebakaran Banjir & tanah longsor Angin Putting Baliung Kebakaran Banjir Kebakaran Kebakaran Tanah Longsor Rawan pangan Banjir Bandang Banjir Pasang Banjir Pasang Banjir Putting Beliung Banjir banding Kebakaran Angin Putting Beliung Angin Putting Beliung Banjir Bandang Angin Putting Beliung KET 825 rumah terendam Sawah & Perkebunan 2459 rumah terendam 1 unt rumah Jln desa R.18 RR 80 KK 204 rmh hangus 4 rumah RB.6.Enim Kab OKU Kab OKI Palembang 8 ilir Kab Lahat Kab Banyu Asin Palembang Ilir Barat I Kab Musi rawas Palembang Ilir Timur II Musi Rawas Srikaton Kab.B. 1 jembatan RB 28 rmh RR 2 2004 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 119 . 6 RB. Pemberdayaan Masyarakat dalam Penggunaan Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT) Kegiatan ini dimaksudkan agar masyarakat terlindungi dari penggunaan alat kesehatan dan perbekalan kesehatan rumah tangga yang tidak memenuhi persyaratan.M. PELAYANAN KESEHATAN DALAM SITUASI BENCANA Data kejadian bencana di Provinsi Sumatera Selatan dari tahun 2003 – 2009 dapat dilihat pada tabel 4.10 berikut : Tabel 4. 22 RR 54 rmh rusak 12 rmh roboh. Muba Kab. Banyu Asin Kota Pagar alam Kab OKU Kota Palembang Kab.2009 NO 1 TAHUN 2003 LOKASI BENCANA Kab.4. mutu dan keamanan. 175 terendam.4. yang dilaksanakan melalui antara lain monitoring sarana produksi dan distribusi alat kesehatan dalam rangka Cara Pembuatan Alat Kesehatan (CPAK). Berat 8 unt rumah 1 SD 1 unt rumah 8 bedeng 7272 KK/130594 jiwa 24 unt bedeng terbakar 100 kios 8 rumah 1 Musholla hancur 2624 KK 42 KK 1200 unt rmh 25 sekolah 2350 KK 307 KK 42 rmh R. 4.7.

berat 49 rumah roboh 47 unt rumah 17 rumah roboh 18 unt rumah 6 unt rumah 39 unt rumah 29 unt rumah Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 120 .Longsor Kebakaran Kebakaran Angin putting beliung Tanah longsor Kebakaran Angin Putting Beliung Angin Putting Beliung Kebakaran Kebakaran Kebakaran Kebakaran KET 126 unit rmh roboh 12 nir rumah 14 unt rumah 1 sekolah 3 unit rmh rusak 141 unt rumah 16 unt rmh rusak 2 unt rumah 11 unit rumah 1 unit hotel 9 unt rumah +3m +3m +3m 6509 Ha sawah terendam 272 Ha sawah terendam +3m 5 unit rumah 73 KK 2 unt rumah 11 unir rumah hangus & 5 unt R.Banyu Asin Kab lahat Kab OKUT Kab OKI Kab OI Kab Mura Pagar alam Palembang Gandus Kab OKUS Lahat Rantau Tenang Lahat Batu Pance Ogan Ilir Muara Enim Lahat Suka Dana Mura Ogan Ilir Lahat Simpang 3 Pumu Lahat Seleman Ilir Palembang Seberang ulu 1 OKUS Bumi agung JENIS BENCANA Banjir Banjir Banjir Banjir Banjir Banjir Banjir Angin Putting beliung Amuk Gajah Kebakaran Kebakaran Angin putinh beliung Kebakaran Angin Putting Beliung Kebakaran Angin Putting Beliung Kebakaran Kebakaran Kebakaran Banjir Banjir Banjir Banjir Banjir Banjir Banjir Kebakaran Banjir & T.NO 3 TAHUN 2005 4 2007 LOKASI BENCANA Kab OKUT Kab OI Kab. Muara Enim Kab OKI Kab Lahat Kota Prabumulih Kab Muba Kab Muba OKU Selatan Muara Enim Palembang kertapati Mura Pagar alam OKI Palembang Banyu Asin Palembang Karang anyar Palembang 17 ilir Palembang 3/4 ulu Kab.

1 unit rumah rusak berat 352 unit rumah rusak berat Dari tabel di atas terlihat bahwa Wilayah Sumatera Selatan sebagian besar merupakan daerah rawan bencana yang perlu mendapatkan perhatian dari unsur-unsur terkait. Linggau Empat lawang Palembang OKU Selatan Ogan Ilir Musi Rawas OKI Pagar Alam Banyuasin Palembang KET 100 unit rumah 34 unit rumah terbakar 45 unit rumah terbakar 1unit rumah terbakar. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 121 . JENIS BENCANA Gempa Bumi Angin Puting Beliung Angin Puting Beliung Angin Puting Beliung Angin Puting Beliung Banjir Angin Puting Beliung Angin Puting Beliung Angin Puting Beliung Kebakaran Kebakaran Kebakaran Kebakaran Kebakaran Kebakaran Banjir Banjir 6 2009 Banjir Kebakaran Kebakaran SPPBU Terapung terbakar Muara Enim Angin Puting Beliung Sumber : Bidang P2PL Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 TAHUN 2008 LOKASI BENCANA Lahat Jarai Lahat OKU Selatan OKI Palembang Muara Enim Gn. sehingga terdapat koordinasi yang saling mendukung apabila terjadi Bencana.NO 5. Megang Ogan Ilir Muara Enim Banyuasin Ogan Ilir OKU Timur Lbk.

jumlah puskesmas (termasuk puskesmas perawatan) terus meningkat dari 235 unit pada tahun 2002 menjadi 291 unit pada tahun 2009. tenaga kesehatan. Jumlah Puskesmas dan Rasionya Terhadap 100. Namun rasio puskesmas mengalami penurunan dari 3.BAB 5 SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN Gambaran mengenai situasi sumber daya kesehatan dikelompokkan menjadi sarana kesehatan.58 per 100. Puskesmas Pada periode tahun 2003 – 2009.000 Penduduk Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003 . rumah sakit.1.1.000 penduduk pada tahun 2003 menjadi 3. kemudian meningkat terus menjadi 3.000 penduduk pada tahun 2009. yang dapat dilihat pada bab ini. adalah sebagai berikut : 5.2009 8000000 7000000 6000000 5000000 4000000 3000000 2000000 1000000 0 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Rasio Puskesmas / 100. dan pembiayaan kesehatan. dan institusi pendidikan tenaga kesehatan.000 penduduk pada tahun 2006 dan meningkat lagi menjadi 4 per 100.1.000 penduduk 350 250 200 150 100 50 0 Jumlah Puskesmas 300 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page122 .000 penduduk pada tahun 2005. SARANA KESEHATAN Pada bab ini diuraikan tentang sarana kesehatan di antaranya puskesmas. 5. Gambar 5.70 per 100.62 per 100. sarana Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM).1.

Hal ini berarti bahwa pada periode tersebut setiap 100.4.1 di atas. di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 dapat dilihat pada gambar 5. Selanjutnya distribusi puskesmas menurut kabupaten/kota. jumlah puskesmas pembantu. hal ini disebabkan beberapa puskesmas pembantu ditingkatkan statusnya menjadi puskesmas. justru mengalami penurunan dari 937 unit pada tahun 2003 menjadi 919 pada tahun 2007.000 penduduk rata-rata dilayani oleh 4 puskesmas. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page123 .ASIN MUBA MURA LAHAT M.3 dan gambaran jumlah Puskesmas Pembantu menurut kabupaten/kota pada tahun 2009 disajikan pada gambar 5. berikut ini : Gambar 5. Gambaran Puskesmas Pembantu dari tahun 2003 – 2009 dapat dilihat pada gambar 5.000 penduduk pada tahun 2003 – 2009 disajikan pada gambar 5.ENIM OKI OKU 0 5 6 8 7 8 14 21 22 25 22 23 20 25 29 27 27 38 14 10 15 30 35 40 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Pada periode yang sama. Jumlah Puskesmas Menurut Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 L.ILIR OKUT OKUS B.2.2.ALAM PRABUMULIH PALEMBANG EMPAT LWG O. Jumlah puskesmas dan rasio puskesmas terhadap 100.LINGGAU P.

ALAM 0 107 104 104 137 57 24 31 46 66 98 94 18 17 16 20 40 60 80 100 120 140 160 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 5.LINGGAU MURA P. Rumah Sakit Indikator yang digunakan untuk menilai perkembangan sarana rumah sakit antara lain dengan melihat perkembangan fasilitas perawatan yang biasanya diukur dengan jumlah rumah sakit dan tempat tidurnya serta rasionya terhadap jumlah penduduk.3.Gambar 5. RSUD milik kabupaten/kota Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page124 .2. Jumlah Puskesmas Pembantu Menurut Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 MURA MUARA ENIM MUBA BANYUASIN LAHAT OKI PALEMBANG OKU TIMUR OKU OKU SELATAN OGAN ILIR L. Kategori rumah sakit yang dimaksud adalah 1) rumah sakit pemerintah yang terdiri dari rumah sakit vertikal (milik Depkes RI).4. Jumlah Puskesmas Pembantu Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2003 – 2009 950 940 930 920 910 900 890 Pustu 2003 937 2004 944 2005 920 2006 942 2007 914 2008 920 2009 920 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Gambar 5.1.

sehingga setiap daerah pemekaran berupaya untuk membangun rumah sakit di wilayahnya masing-masing. rumah sakit swasta juga mengalami penurunan dari 18 unit pada tahun 2002 menjadi 17 unit pada tahun 2009. Peningkatan jumlah rumah sakit disebabkan adanya pemekaran wilayah kabupaten/kota.5 Jumlah Rumah Sakit Pemerintah. rumah bersalin. Swasta dan Khusus Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2002 – 2009 30 20 10 0 Pemerintah Swasta Khusus 2002 8 18 3 2003 12 9 12 2004 14 13 8 2005 15 20 4 2006 20 10 8 2007 22 10 8 2008 22 10 8 2009 22 17 8 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Pada Gambar di atas terlihat bahwa jumlah rumah sakit pemerintah cenderung meningkat dari 8 unit pada tahun 2002 menjadi 22 unit pada tahun 2009.dan rumah sakit milik TNI / Polri. Gambar 5. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page125 . 2) rumah sakit swasta dan 3) rumah sakit khusus seperti rumah sakit ibu dan anak.

15. 10.787 Khusus/Special RSU (6) 1 8 9 TT (7) 300 442 742 Jumlah/Total RSU (8) 3 1 3 2 2 3 2 3 TT (9) 288 176 283 212 167 177 400 214 01. Posyandu dikelompokkan ke dalam 4 strata. Polindes (Pondok Bersalin Desa). Posyandu Madya.774 Swasta/Private RSU (4) 1 1 2 10 2 1 17 TT (5) 50 97 119 1261 230 30 1. dan Posyandu Mandiri. POD (Pos Obat Desa) dan sebagainya. 09. 03. Upaya Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat (UKBM) di antaranya adalah Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu).110 1 137 1 120 1 56 21 2. Toga (Tanaman Obat Keluarga). 08. 07. 06. imunisasi. 12. Posyandu menyelenggarakan minimal 5 program prioritas. 04.Tabel 5. 14.1 Jumlah Rumah Sakit Pemerintah. 13. 02. Gambaran perkembangan Posyandu dari Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page126 . yaitu Posyandu Pratama. Untuk memantau perkembangannya.1.3. Posyandu merupakan salah satu bentuk UKBM yang paling dikenal di masyarakat. dan penanggulangan Diare. 05. keluarga berencana. Sarana Kesehatan Bersumber Daya Masyarakat Dalam rangka meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan kepada masyarakat berbagai upaya dilakukan dengan memanfaatkan potensi dan sumber daya yang ada di masyarakat. Swasta dan Khusus Menurut Kapasitas Tempat Tidur Kabupaten / Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Kabupaten / Kota (1) OKU OKI Muara Enim Lahat Musi Rawas Musi Banyuasin Banyuasin OKU Selatan OKU Timur Ogan Ilir Empat Lawang Palembang Prabumulih Pagar Alam Lubuk Linggau Jumlah Pemerintah / Government RSU TT (2) (3) 2 238 1 176 2 186 2 212 2 167 3 177 1 100 1 95 4 1. 22 3 1 2 46 2813 367 120 86 5303 Sumber : Subdin Pelayanan Kesehatan Dinkes Provinsi Sumatera Selatan 5. 11. yaitu kesehatan ibu dan anak. Posyandu Purnama. perbaikan gizi.

2009 7000 6500 6000 5500 5000 Posyandu 2002 6451 2003 6298 2004 6201 2005 6349 2006 5786 2007 6231 2008 6397 2009 5952 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Pada gambar di atas terlihat bahwa jumlah posyandu sempat mengalami penurunan dari 6.451 unit pada tahun 2002 menjadi 5.397 dan kembali menurun pada tahun 2009 menjadi 5.Linggau 0 286 424 415 462 340 167 111 113 99 100 200 300 400 500 600 700 800 400 370 889 534 589 753 900 1000 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page127 .Alam L.7 berikut ini.tahun 2002 – 2009 dan jumlah posyandu menurut kabupaten/kota dapat dilihat pada gambar 5.6 dan gambar 5.7 Jumlah Posyandu Menurut Kabupaten/Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 OKU OKI M.Asin OKUS OKUT Ogai Ilir Empat L. Gambar 5.952. Gambar 5. Palembang Prabumulih P.6 Jumlah Posyandu Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2002 .786 pada tahun 2006 dan kemudian meningkat lagi pada tahun 2008 menjadi 6.Enim Lahat MURA MUBA B.

53 0.2 0.44 0.76 0. dan tanggap terhadap permasalahan kesehatan di wilayahnya.Gambar 5.Enim Lahat MURA MUBA B.52 36. Madya.Alam L. Salah satu kriteria desa siaga adalah minimal memiliki 1 (satu) Poskesdes (Pos Kesehatan Desa).64 0. Berikut adalah persentase Poskesdes terhadap desa/kelurahan: Gambar 5.9 Rasio Poskesdes terhadap Desa/Kelurahan Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 OKU OKI M.24 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Desa siaga adalah desa yang memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan untuk mencegah dan mengatasi masalah/ancaman kesehatan (termasuk bencana dan kegawat-daruratan kesehatan) secara madiri dalam rangka mewujudkan desa sehat.2 0.56 0.95 Sumber: Bidang Promkes Dinas Kesehatan Provinsi Sumsel Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page128 .82 1 1 1 1.6 0. Palembang Prabumulih P.7 0.8 0.4 0.Asin OKUS OKUT Ogai Ilir Empat L.73 0. Purnama dan Mandiri Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 50 42. peduli. Tujuan desa siaga adalah untuk mewujudkan masyarakat desa yang sehat.4 6.79 1 1 0.84 40 30 20 10 0 Pratama Madya Purnama Mandiri 14.Linggau 0 0.8 Persentase Posyandu Pratama.72 0.

Gambar 5. Rasio terendah terdapat di kabupaten Lahat (0. 8 Kabupaten/kota lainnya sudah memenuhi target SPM minimal 65%.10 Cakupan Desa Siaga Aktif Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Dari gambar diatas menunjukkan distribusi desa siaga terdiri dari.Jumlah Poskesdes tahun 2009 di Provinsi Sumatera Selatan adalah 2.44). dan Empat Lawang. tetapi cakupan desa siaga di kedua Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page129 . Berdasarkan rasio jumlah Poskesdes terhadap jumlah desa pada gambar diatas. OI.320 unit. OKU. Rasio tertinggi terdapat di kabupaten MUBA. OKUS. 2 Kabupaten berada pada range antara 50%-65% yaitu kabupaten OKU Selatan dan Kota Lubuk Linggau. dengan rasio terhadap desa/kelurahan adalah 0. artinya setiap desa di wilayah tersebut sudah memiliki Poskesdes. 4 Kabupaten belum memenuhi target SPM dan berada pada range terendah dibawah 50% yaitu Kabupaten OKI. kota Pagar Alam dan Lubuk Linggau (1). Kabupaten OKUS dan Kota Lubuk Linggau memiliki rasio 1.75.

Jurusan Kebidanan .Jurusan Kes.2 Jumlah Institusi Diknakes Menurut Jenis Pendidikan Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 No. 08. Gigi Akademi Keperawatan Akademi Kebidanan Akademi Kesehatan Lingkungan Akademi Farmasi Akademi Fisiotherapi APIKES SMF JUMLAH Status Kepemilikan Swasta Daerah 9 18 1 2 1 1 1 33 1 1 2 Jumlah 3 1 1 1 1 1 10 19 2 2 1 1 1 44 Pemerintah 3 1 1 1 1 1 8 TNI 1 1 02. Sebaliknya kabupaten Lahat memiliki rasio jumlah poskesdes terhadap jumlah desa paling rendah yaitu 0. 04. hanya beberapa institusi yang menjadi tanggung jawab Dinas Kesehatan untuk pembinaannya.1. Jenis Institusi Poltekkes .44. 01. Pendidikan kesehatan diselenggarakan oleh pemerintah dan swasta melalui berbagai institusi pendidikan di berbagai jenjang. 05. 03.Jurusan Gizi . Tabel 5.Jurusan Farmasi .2 menyajikan tentang penyebaran jenis institusi pendidikan tenaga kesehatan yang dibina oleh Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan. dari seluruh institusi pendidikan tenaga kesehatan yang ada di Provinsi Sumatera Selatan. Institusi Pendidikan Tenaga Kesehatan Pendidikan tenaga kesehatan dimaksudkan untuk meningkatkan ketersediaan dan kualitas tenaga kesehatan dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat. Seiring dengan pelaksanaan otonomi daerah dan diberlakukannya undangundang nomor 20 tahun 2004 tentang pendidikan nasional. Tabel 5.Jurusan Analis .Jurusan Keperawatan . 06. 5.5. Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page130 . 07. tetapi cakupan desa siaga aktif memenuhi target SPM (warna hijau).wilayah tersebut belum mencapai target SPM (warna kuning).

02. 03. 13.2.Disamping institusi pendidikan tenaga kesehatan jenjang diploma III seperti pada tabel di atas. 11.966 627 170 414 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page131 . 04. OKU 27 524 38 2 12 OKI 60 735 50 2 21 Muara Enim 68 652 53 3 21 Lahat 44 649 47 4 13 Musi Rawas 40 549 56 6 31 Musi Banyuasin 57 638 40 2 68 Banyuasin 67 528 54 28 79 OKU Selatan 9 342 29 11 OKU Timur 40 665 32 2 10 Ogan Ilir 27 309 34 0 12 Empat Lawang 14 181 13 9 Palembang 664 2. Paramedis. 09.201 8.169 108 103 68 Prabumulih 97 613 34 2 36 Pagar Alam 26 202 20 4 11 Lubuk Linggau 15 210 19 12 12 Jumlah 1. Jumlah Tenaga Kesehatan Menurut Golongan Medis. 06.3. 14.3 disajikan jumlah tenaga kesehatan menurut golongan medis. 10. Tenaga Kesehatan Lainnya Menurut Kabupaten / Kota Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 Tenaga Kesehatan Kabupaten/Kota Medis (1) (2) Perawatan (3) Non Perawatan (4) Apoteker (5) Sarjana Kesehatan Lainnya (6) 01. paramedis dan tenaga kesehatan lainnya. TENAGA KESEHATAN Data mengenai tenaga kesehatan di Provinsi Sumatera Selatan baik yang bekerja di sektor pemerintah maupun swasta masih sulit diperoleh. 07. masih ada institusi pendidikan tenaga kesehatan yang menyelenggaranan strata 1 seperti Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan baik negeri maupun swasta 5. Pada tabel 5. 05. 15. 12. Data yang ada diperoleh dari pengelolah program di Subdin Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan. 08. Tabel 5.

48 per 100.889 orang dokter umum.000 penduduk termasuk jumlah kebutuhannya.79 4.26 5.000 Penduduk Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 No 1.889 722 2.083 Sumber : Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan 2009 Demikian juga dengan tenaga Bidan. 2. Artinya untuk saat ini Provinsi Sumatera Selatan masih membutuhkan 2.4 Rasio Tenaga Kesehatan Menurut Jenis Per 100.000 penduduk. 6.889 2.05 2. 10.222.09 0.889 794 8.91 1.26 per 100. masih dibawah target Indonesia Sehat 2010 sebesar 100 per 100.635 jiwa. 4.66 3.4 disajikan Rasio Tenaga Kesehatan Menurut Jenis per 100.500 penduduk. sama dengan 1 orang dokter melayani 10.000 penduduk.843 penduduk. maka didapatkan rasio masing-masing jenis tenaga kesehatan dan kebutuhan masing-masing jenis tenaga kesehatan. 12. Pada tabel 5. 11. 5. 3.166 2.91 9.000 penduduk. baru mencapai 54. 13. 8.486 7.48 4.589 2.919 418 358 365 170 264 223 66 140 Rasio 5. 7. Jenis Tenaga Dokter Spesialis Dokter Umum Dokter Gigi Perawat Bidan Ahli Gizi Sanitarian SKM Apoteker Farmasi SPRG Fisioterapi Analis kesehatan Jumlah 427 685 323 5. 9.027 3.35 3.222 1.4 berikut terlihat bahwa rasio dokter umum pada tahun 2009 baru mencapai 9.000 penduduk atau 1 Bidan per Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page132 .94 Target 6 40 11 117. belum memenuhi target Indonesia Sehat 2010 sebesar 40 per 100.Indikator ketersediaan tenaga kesehatan dapat dilihat dari rasio setiap jenis tenaga kesehatan per 100. sama dengan 1 orang Bidan melayani 1.548 penduduk. Pada tabel 5.5 100 22 40 40 10 30 30 4 15 Kebutuhan 433 2.60 54. Tabel 5.96 5. Berdasarkan jumlah penduduk Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 sebanyak 7.166 288 1.47 69.000 penduduk atau 1 per 2.

544 penduduk. baru mencapai 3.000 penduduk.890 penduduk. baru mencapai 5.889 orang SKM. Rasio Ahli Gizi.437 penduduk. Rasio Apoteker.500 penduduk. masih dibawah target Indonesia Sehat 2010 sebesar 40 per 100.000 penduduk atau 1 Sanitarian per 2. masih dibawah target Indonesia Sehat 2010 sebesar 40 per 100.000 penduduk.486 orang Perawat. sama dengan 1 orang SKM melayani 19.35 per 100. baru mencapai 5. masih dibawah target Indonesia Sehat 2010 sebesar 117. baru mencapai 4. sama dengan 1 orang SKM melayani 109.889 orang Sanitarian. sama dengan 1 orang Perawat melayani 1.222 orang Bidan.91 per 100.66 per 100.500 penduduk. Artinya untuk saat ini Provinsi Sumatera Selatan masih membutuhkan 722 orang Apoteker. Rasio Perawat.000 penduduk atau 1 Ahli Gizi per 4.60 per 100. masih dibawah target Indonesia Sehat 2010 sebesar 22 per 100.05 per 100. Rasio Fisioterapis. Artinya untuk saat ini Provinsi Sumatera Selatan masih membutuhkan 8.271 penduduk.553 penduduk. sama dengan 1 orang Apoteker melayani 42.5 per 100. Artinya untuk saat ini Provinsi Sumatera Selatan masih membutuhkan 2.000 penduduk atau 1 Perawat per 851 penduduk.000 penduduk. Artinya untuk saat ini Provinsi Sumatera Selatan masih membutuhkan 2.000 penduduk. sama dengan 1 orang SKM melayani 32.166 orang SPRG. masih dibawah target Indonesia Sehat 2010 sebesar 40 per 100.000 penduduk atau 1 Sanitarian per 2. masih dibawah target Indonesia Sehat 2010 sebesar 40 per 100. Rasio SKM.500 penduduk. Artinya Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page133 .161 penduduk.000 penduduk. Rasio Sanitarian. baru mencapai 69.362 penduduk.000 penduduk.500 penduduk.96 per 100.802 penduduk.000 penduduk atau 1 Sanitarian per 2. baru mencapai 0.000 penduduk. Rasio SPRG.000 penduduk atau 1 Sanitarian per 2.000 penduduk atau 1 Sanitarian per 2.000 penduduk. masih dibawah target Indonesia Sehat 2010 sebesar 40 per 100. sama dengan 1 orang Sanitarian melayani 20.1.500 penduduk. baru mencapai 2. Artinya untuk saat ini Provinsi Sumatera Selatan masih membutuhkan 2. Artinya untuk saat ini Provinsi Sumatera Selatan masih membutuhkan 7. Artinya untuk saat ini Provinsi Sumatera Selatan masih membutuhkan 1589 orang Ahli Gizi.79 per 100. sama dengan 1 orang Ahli Gizi melayani 17.

32.5 2.2004 1.47.368.487.5 Alokasi Anggaran Sektor Kesehatan Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2002 – 2009 Tahun Total APBD I (Rp. 5.2009 2.171.270.930.0 2.) 2002 773.481.20.105.000 penduduk. Rasio Analis Kesehatan.2008 2.2003 973.000 penduduk atau 1 Sanitarian per 2.83 Sumber : Subdin Sekretariat Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page134 .469. ANGGARAN KESEHATAN Tabel 5.000.000.3.000.017. baru mencapai 1.537.050.333.718.166 orang Fisioterapis.Sumber : Subdin Sekretariat Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan % 3.319.836.968.27.230.94 per 100.192.2 2004 4.90.948.055.5 3.5 2005 0.2006 1.897.625.500 penduduk.200.52. Artinya untuk saat ini Provinsi Sumatera Selatan masih membutuhkan 1.546 penduduk.786.751.861.309.2007 2.6 10.11 Persentase Anggaran Kesehatan Di Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2009 15 10 5 0 % Anggaran Kesehatan 2002 3.083 orang Analis Kesehatan.616.83 Gambar 5.147.916.191. sama dengan 1 orang Analis Kesehatan melayani 51.5 2003 2. masih dibawah target Indonesia Sehat 2010 sebesar 40 per 100.62.5 2006 3 2007 2 2008 3.820.5 0.2 4.953.2005 1.419.712.6 2009 10.801.0 3.579.469.168.untuk saat ini Provinsi Sumatera Selatan masih membutuhkan 2.208.947.876.127.708.) Alokasi Sektor Kesehatan Provinsi (Rp.10.302.263.939.893.342.516.346.900.

8%.11. di atas terlihat bahwa persentase anggaran kesehatan pada tahun 2008 dari total APBD Provinsi Sumatera Selatan baru mencapai 3.Dari Gambar 5.83% melampaui rata-rata persentase alokasi anggaran kesehatan selama periode 8 tahun berkisar 2. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page135 . meninkat cukup tinggi pada tahun 2009 menjadi 10. angka tersebut masih berada dibawah harapan sebesar 15%. Meskipun demikian.6% .

BAB 6 KESIMPULAN

6.1. KESIMPULAN Situasi Derajat Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan tahun 2007 dapat dilihat dari beberapa indikator yaitu Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB), Umur Harapan Hidup serta Status Gizi dan Angka Kesakitan. 1) Angka Kematian Ibu (AKI) tiap tahunnya mengalami penurunan dari 307 per 100.000 KH (SDKI 2002/2003) menjadi 228 per 100.000 KH (SDKI 2007), sedangkan AKI Sumatera Selatan 424 per 100.000 KH (BPS 2004) menjadi 262 per 100.000 KH (Susenas 2005). 2) Angka Kematian Bayi (AKB), Angka Kematian Balita (AKABA) Nasional mengalami penurunan, yaitu 34 per 1000 KH (SDKI 2007). AKB Provinsi Sumatera Selatan 42 per 1000 KH (Susenas 2007). Target MDGs 2015 AKB diharapkan turun menjadi 23 per 1000 KH dan AKABA menjadi 32 per 1000 KH. 3) Umur Harapan Hidup (UHH) Provinsi Sumatera Selatan mengalami peningkatan dari 67,9 tahun pada tahun 2003 menjadi 69,9 tahun pada tahun 2009. 4) Status Gizi Masyarakat dapat dilihat dari beberapa indikator yaitu BBLR, Status Gizi Balita. Proporsi BBLR Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 0,79% (rentang 0,19%-6.65%), prevalensi gizi buruk pada tahun 2009 0,03% (rentang 00,27%). 5) Cakupan kunjungan ibu hamil K4 Provinsi Sumatera Selatan mengalami kenaikan dari 84,45% pada tahun 2008 menjadi 88,6% pada tahun 2009, masih dibawah target SPM sebesar 90%. 6) Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani di Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 sebesar 38,89%, sudah melebihi target SPM 25,76%.

Profil Kesehatan Provinsi Sumsel Tahun 2010

Page 136

7) Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi kebidanan mengalami peningkatan dari 84% pada tahun 2008 menjadi 87,83% pada tahun 2009 , sudah melampaui target SPM 85%. 8) Cakupan pelayanan nifas Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 96,49%, sudah melebihi target SPM 85%. 9) Cakupan neonatus dengan komplikasi yang dilayani Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 82,68%, sudah melebihi target SPM 79,99%. 10) Cakupan kunjungan bayi Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 mencapai 87,47%, masih dibawah target SPM 89,99%. 11) Cakupan Desa/Kelurahan UCI Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 mencapai 82,5%, masih dibawah target SPM 100%. 12) Cakupan pelayanan anak Balita Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 mencapai 52,05%, masih dibawah target SPM 88,12%. 13) Cakupan pemberian MP ASI pada anak usia 6-24 bulan keluarga miskin Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 mencapai 24,68%, masih dibawah target SPM 100%. 14) Cakupan Balita gizi buruk mendapat perawatan Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 mencapai 100%, sesuai dengan target SPM 89,99%. 15) Cakupan peserta KB aktif Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 mencapai 69,08%, sedikit dibawah target SPM 70%. 16) AFP rate per 100.000 penduduk <15 tahun Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 mencapai 4,05, sudah melebihi target SPM >=2. 17) Penemuan penderita Pneumonia Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 mencapai 29,53%, masih dibawah target SPM 60%. 18) Penemuan pasien baru TB BTA (+)Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 mencapai 44,62%, masih dibawah target SPM 70%. 19) Penderita DBD yang ditangani Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 mencapai 71,41%, masih dibawah target SPM 100%. 20) Penemuan penderita diare Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 mencapai 3,24%, masih dibawah target SPM 100%. Profil Kesehatan Provinsi Sumsel Tahun 2010 Page 137

21) Cakupan Desa/Kelurahan mengalami KLB yang dilakukan penyelidikan Epidemiologi <24 jam Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 mencapai 95,33%, masih dibawah target SPM 100%. 22) Cakupan desa siaga aktif Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 mencapai 80,49%, masih dibawah target SPM 100%. 23) Jumlah kasus HIV pada tahun 2009 sebanyak 85 kasus, AIDS sebanyak 70 kasus. Kumulatif kasus HIV sampai dengan tahun 2009 sebanyak 491 kasus. 24) Jumlah kecelakaan yang terjadi pada tahun 2009 sebanyak 2.218 kasus, dengan jumlah korban sebanyak 4.247 orang dengan perincian 1.051 meninggal dunia, 1.470 luka berat, 1.726 luka ringan. Persentase kematian akibat kecelakaan tertinggi terjadi di Kabupaten OKU Timur sebesar 36,23% dan Musi rawas 35,29%. 25) Jumlah puskesmas di Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 sebanyak 291 puskesmas, rasio puskesmas mencapai 4,03 per 100.000 penduduk. Jumlah RSU sebanyak 22 buah tersebar di 14 kabupaten/kota, kecuali kabupaten Ogan Ilir dan OKU Selatan, terdiri dari 12 RSUD dan 10 RSU Vertikal dan TNI/Polri. 26) Rasio tenaga kesehatan terhadap penduduk sampai dengan tahun 2009 masih dibawah rasio ideal. 27) Persentase Anggaran Pembangunan Kesehatan sudah mencapai 10,83% dari total APBD Provinsi Sumatera Selatan.

6.2. SARAN Dalam rangka peningkatan capaian program-program pembangunan

kesehatan, yang dapat dilihat dari pencapaian indikator standar pelayanan minimal (SPM) maupun indikator Indonesia Sehat 2010, perlu dilakukan beberapa upaya antara lain : 1. Perencanaan kegiatan pembangunan kesehatan harus berdasarkan fakta dilapangan (planning by evidence based) termasuk pencapaian indikator SPM dan indikator Indonesia Sehat minimal 3 tahun sebelumnya dan diupayakan mempunyai daya ungkit terhadap penurunan AKI, AKB dan peningkatan Profil Kesehatan Provinsi Sumsel Tahun 2010 Page 138

3. 4. Meningkatkan pertemuan-pertemuan dengan penanggung jawab program di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota maupun Dinas Kesehatan Provinsi dalam rangka memberikan feedback terhadap pelaksanaan program yang sedang berjalan. Meningkatkan monitoring dan evaluasi pencapaian program kesehatan dengan melakukan supervisi-supervisi ke Kabupaten/Kota secara berkala (setiap triwulan). Mengoptimalkan Jaringan Sistem Informasi Kesehatan Nasional (Siknas Online) Profil Kesehatan Provinsi Sumsel Tahun 2010 Page 139 . Meningkatkan kemampuan petugas pengelolah data dan informasi melalui pelatihan atau bimbingan teknis. 6. 5. Meningkatkan kemampuan pengelolah program kesehatan dalam menyusun perencanaan kesehatan berbasis kinerja. 2.status gizi masyarakat serta memperhatikan kebijakan-kebijakan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan.

01 4.42 persen pada tahun 2009 menurun jika dibandingkan dengan tahun 2008 sebesar 1.588 4.1. Tabel 2.938 107 Prabumulih 137.09 4.056 72 Jumlah 7.018 4.08 96 41 78 84 42 36 67 60 171 153 84 3.341 325 Lahat 341.BAB 2 GAMBARAN UMUM 2.786 37 Pagar Alam 116. Laju pertumbuhan penduduk Sumatera Selatan sebesar 1.1 Jumlah Penduduk Pertengahan Tahun.635 3.438.020 penduduk perempuan. 11.872 156 Palembang 1. 02. 12. 10. 04. 14.665 298 Ogan Ilir 384.025 218 Banyuasin 818.166 Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Selatan Susenas 2009 01. Susenas 2009).410 2. 2. Dengan komposisi 3.494 3.940 277 Musi Banyuasin 523.615 penduduk lakilaki dan 3.19 3.92 4.486 35 Lubuk Linggau 186.82 4.135 4.572. 15.00 4.627 309 Muara Enim 668.556 374 422 579 420 87.222.058 8.650. 05.076 12.35 4.663 241 Empat Lawang 213. 07.03 4.280 303 OKU Selatan 331.847 327 201 443 83 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 4 .477 12.00 3. Luas Daerah.773 17.635 jiwa (BPS.45 persen. 06.05 4.055 376 Musirawas 505. Rata-rata Penduduk Desa Dan Kepadatan Penduduk per Km2 Menurut Kabupaten /Kota Di Sumatera Selatan Tahun 2009 Kabupaten / Kota Jumlah Penduduk (2) Jumlah Desa/ Kelurahan (3) Luas Daerah (Km2) (4) Rata-rata Penduduk per KK (5) Kepadatan Penduduk Per Km2 (6) (1) OKU 267.879 260 OKU Timur 581. 08. 13.143 5.12 4.222.022 152 OKI 707. 09.92 3.09 4. 03.05 4. KEADAAN PENDUDUK Perkiraan penduduk Provinsi Sumatera Selatan pada tahun 2009 berjumlah 7.513 2.04 4.

Dari 15 Kabupaten/kota yang ada di Provinsi Sumatera Selatan.101 495.104 297.091 354.709 50 – 54 155.16% berusia produktif (umur 15-59 tahun).615 353.798 346.601 419.770 10 – 14 371.102 251.002 227.098 3.011 20 – 24 380.202 40 – 44 214.898 294.508 342.204 725.799 193.218 711. meningkat jika dibandingkan dengan tahun 2008 sebesar 36 orang penduduk usia tidak produktif.902 362.295 15 – 19 371.81% yang berumur 60 tahun lebih.911 141.599 598. Penduduk menurut kelompok umur menunjukkan bahwa 30.900 205.206 733.2 Jumlah Penduduk Berdasarkan Hasil Susenas Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Provinsi Sumatera Selatan 2008 – 2009 Kelompok Umur (1) 2 Laki-Laki (2) 2008 Perempuan (3) Jumlah (4) Laki-Laki (5) 2009 Perempuan (6) Jumlah (7) 0–4 368.020 724.635 Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 5 .003 373.301 384.401 583. 64.899 351.90 artinya.Tingkat kepadatan penduduk provinsi Sumatera Selatan sekitar 83 orang per km . dan hanya 5.900 7.104 681.790 Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Selatan Susenas 2009 371.692 3.300 344.03% penduduk Sumatera Selatan berusia muda (0-14 tahun).401 250.999 373.121.108 101.990 713.202 707.905 45 – 49 189.204 141.505 184.587 720.999 356.001 214.384 Jumlah 3.650 358. setiap 100 penduduk usia produktif menanggung sekitar 51 orang penduduk usia tidak produktif.003 438. Tabel 2.599 214.600 119.904 184.101 250.300 761.511 25 – 29 339.212 365. sehingga diperoleh angka ketergantungan (dependency ratio) penduduk Sumatera Selatan sebesar 50.222.101 312.698 695.002 218.650.901 101.508 753. Sedangkan kepadatan penduduk yang paling rendah adalah Kabupaten Musi Banyuasin yaitu 36 orang per km2.107 30 – 34 286.499 162.599.707 60 + 198.101 214.012 728.405 374.901 297.780 347.583 405.801 206.599 214.847 orang per km2.098 7.904 428.812 55 – 59 113.476 5–9 365.204 373.500 297.601 384.003 342.204 509.572.522. Kota Palembang mempunyai kepadatan penduduk yang tinggi sebesar 3.006 282.802 3.901 35 – 39 245.

di Pantai Timur tanahnya terdiri dari rawa-rawa dan payau yang dipengaruhi oleh pasang surut.000) 100. Batas daerah ini adalah di sebelah Utara dengan Provinsi Jambi.Gambar 2. Sebagian besar lahan terdiri dari hutan produksi.000 laki-laki perempuan 2.000) (400. Vegetasinya berupa tumbuhan palmase dan kayurawa (bakau).2. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 6 .39 25 . Semakin ke barat merupakan dataran tinggi dan terdapat daerah Bukit Barisan.69 55 .000 400. di sebelah Timur dengan Provinsi Bangka Belitung.000 500. eksplorasi dan ekploitasi gas bumi dan bahan galian lainnya seperti minyak tanah dan batubara.29 15 .000) (300.19 5-9 <1 (500.018 km2 terdiri dari pegunungan dan pesisir pantai dan dilintasi oleh banyak sungai dan karenanya sering terjadi banjir.59 45 . lahan pertanian.49 35 .000 200.000 300. LETAK GEOGRAFIS DAN LUAS WILAYAH Provinsi Sumatera Selatan terletak antara 1o sampai 4o Lintang Selatan dan 102o sampai 106o Bujur Timur dengan luas wilayah 87.000) (100.000) (200.1 Distribusi Jumlah Penduduk Menurut Kelompok Umur dan Jenis Kelamin Provinsi Sumatera Selatan tahun 2009 75+ 65 . di sebelah Selatan dengan Provinsi Lampung.

75 20.56 21.89 18.07 – 12 tahun .80 84.08 11. Tabel 2. PENDIDIKAN Sumber daya manusia akan sangat dipengaruhi oleh tingkat pendidikan seseorang.64 12.SD / Sederajat .20 - % Melek Huruf 98. sehingga sampai dengan tahun 2009.40 2009 Desa 97.16 19.3.19 – 24 tahun Pendidikan Tertinggi yg ditamatkan -Tidak tamat SD .2.13 – 15 tahun .01 90.76 10. OKU Selatan dan OKU Timur dan Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) menjadi Kabupaten OKI dan Kabupaten Ogan Ilir dan pada tahun 2007.16 – 18 tahun .64 54.37 Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Selatan Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 7 . Provinsi Sumatera Selatan mempunyai 15 kabupaten/kota.57 23. Kabupaten yang mengalami pemekaran yaitu kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) menjadi Kabupaten OKU. KEADAAN PEMERINTAHAN Sejak tahun 2006. 2.SLTA / Sederajat -Diploma/Universitas 99. dari 14 (empat belas) kabupaten / Kota menjadi 15 (lima belas) kabupaten kota.65 36.16 80. Tingkat Pendidikan Penduduk Dan Kemampuan Membaca dan Menulis Tahun 2009 Kota Partisipasi menurut kelompok Umur .43 Kota+Desa 97.93 14.12 6.3 Persentase Partisipasi Bersekolah.SLTP / Sederajat .17 29. Dari data Susenas 2008 data pendidikan disajikan dalam data partisipasi bersekolah.85 63.4.09 19.33 97.96 34. tingkat pendidikan penduduk dan kemampuan membaca dan menulis.99 18. kembali Provinsi Sumatera Selatan mengalami pemekaran daerah. kabupaten Lahat mengalami pemekaran lagi menjadi Kabupaten Lahat dan Kabupaten Empat Lawang.82 2.00 96.59 47.50 30.52 5.

Semangkin tinggi ijazah/STTB yang dimiliki oleh rata-rata penduduk suatu Negara dapat mencerminkan taraf intelektualitas suatu bangsa.014 (dengan Migas).5. EKONOMI Ukuran yang sering digunakan sebagai kemakmuran suatu daerah adalah pendapatan per kapita.50 persen.531 menjadi Rp. tanpa Migas dari Rp.50 persen. tamat SD/MI sederajat sebesar 23.33 persen.6.731 menjadi 10.6.56 persen.15. Kemampuan baca tulis (melek huruf) merupakan keterampilan minimum yang dibutuhkan oleh penduduk untuk dapat menuju hidup sejahtera.Secara umum di Sumatera Selatan. Persentase melek huruf yaitu persentase penduduk 10 tahun keatas yang dapat membaca dan menulis huruf latin dan huruf lainnya sebesar 97. Pada table 2. SLTP/MTs sederajat sebesar 19.292.52 persen. SMU/MA sederajat sebesar 21.032. 2.313.105 tahun 2008 (dengan Migas).275. Ijazah/STTB tertinggi yang dimiliki merupakan indicator pokok kualitas pendidikan formal. 13.3.025. Sedangkan pendapatan perkapita atas dasar harga konstan dengan Migas dan tanpa Migas juga mengalami peningkatan yaitu dari Rp.80%.20% dari seluruh penduduk usia 10 tahun keatas pada tahun 2009. di atas terlihat bahwa penduduk Sumatera Selatan berumur 10 tahun ke atas yang tidak/belum memiliki ijazah sebesar 23. Diploma sampai perguruan tinggi sebesar 5.5. Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 8 . sementara tanpa Migas naik dari Rp.5. pendapatan per kapita Sumatera Selatan atas dasar harga berlaku dengan Migas dan tanpa Migas meningkat dari tahun sebelumnya yaitu dari Rp.790 tahun 2007 menjadi Rp. Angka Partisipasi Sekolah (APS) penduduk perkotaan lebih besar dari APS penduduk pedesaan kecuali pada kelompok umur 7 – 12 tahun yang relative merata. Ini berarti bahwa tingkat penduduk yang buta huruf relatif kecil yaitu sebesar 2.546.9.695 tahun 2007 menjadi Rp.900.623.378.862. Pada tahun 2008.

882 88.083 49.969.262.971.500.817 Atas Dasar Harga Konstan Dengan MIGAS Tanpa MIGAS 47.375 45.106.707 74.848 38.677 Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Selatan r) Angka Revisi *) Angka Sementara **) Angka Sangat Sementara Profil Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2010 Page 9 .531.510 52.726.928.766 81.794.027 44.149 58.633.4 PDRB Sumatera Selatan Menurut Lapangan Usaha Atas Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan Tahun 2004-2008 (Juta Rupiah) Tahun 2004 2005 2006 r) 2007 *) 2008**) Atas Dasar Harga Berlaku Dengan MIGAS Tanpa MIGAS 64.675 95.763 63.Tabel 2.358.214.674 52.777.114 42.317.068 109.270 133.080.536 36.344.470.319.895.395 33.024 55.905.