Anda di halaman 1dari 12

Sehat menurut UU adalah Keadaan sejahtera dari badan, Jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup

produktif dan secara sosial ekonomi. Sebab itu semua manusia berusaha untuk sehat. Bagi suatu bangsa, kesehatan rakyatnya menjadi salah satu modal dasar yang mempunyai peranan penting dalam mencapai cita-cita bangsa tersebut. Itu sebabnya, peningkatan kesehatan derajat harus terus menerus diupayakan untuk memenuhi hidup sehat. Hukum dan ksesehatan sesungguhnya berada pada tataran yang sama. Keduanya memiliki tujuan yang sama. Hukum dimaksudkan paling tidak untuk yang menginginkan keteraturan hidup manusia secara damai dan adil dalam kehidupan masyarakat. Kesehatan sebaliknya bermakna manusia agar hidup secara produktif dan ekonomis karena keteraturan hidup yang dijalaninya. Adanya kebersamaan hukum dengan kesehatan, karena keduanya memokuskan diri pada masalah perilaku manusia. Secara faktual korelasi hukum dengan kesehatan tampak jelas ketika pengambilan kebijakan maupun program di bidang kesehatan mesti melibatkan ahli hukum dan berbagai ahli lain di dalamnya. Dalam perspektif pelayanan kesehatan, sarana pelayanan kesehatan seperti dirumah sakit puskesmas, pelayanan unit kesehatan sekolah, pelayanan terhadap ibu hamil, tindakan diagnostik dan terapi harus berlandaskan kepada hukum dan peraturan perundangundangan kesehatan. Demikian dengan masalah pembiayaan kesehatan serta badan/institusi yang mengelolanya, kebijaksanaan program dilandasi dan ditentukan oleh hukum dan peraturan perundang-undangan. Tindakan pencegahan dan penanggulangan pencemaran lingkungan misalnya penetapan baku mutu lingkungan, persyaratan peralatan yang digunakan, perlindungan konsumen terhadap proses pembuatan makanan dan minuman, dan pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan narkotika psikotropika serta zat adiktif yang menuntut konstribusi ketentuan hukum dan peraturan perundangundangan kesehatan. Peranan hukum dan peraturan perundang-undangan kesehatan secara ilustratif dapat diberikan. Penyebaran yang cepat dari AIDS ke seluruh dunia tentunya mengharuskan pemerintah untuk mengembangkan strategi dan program

untuk mengantisipasi ancaman penyakit ini melalui hukum dan peraturan perundang-undangan yang secara filosofis dan fundamental berlaku. Contoh misalnya pengobatan tradisional, pengobatan ini pada masyarakat tertentu telah lama mengakar dalam diri sebagai sutu cara mereka dalam pelayanan kesehatan. Akan tetapi secara yuridis, peranan pengobatan tradisional ini dapat menimbulkan isue hukum tentang haruskah mereka mendapat izin operasional dan terdaftar, jika tidak, bagaimana masyarakat dapat dilindungi jika terjadi sesuatu peristiwa fatal didalam melakukan pelayanan? Masalah lain adalah pengobatan modern bagaimana melindungi pasien, masyarakat dari praktik tenaga kesehatan yang telah dengan sengaja atau lalai dalam memberikan pelayanan atau bagaimana melindungi tenaga kesehatan yang telah melakukan tugasnya sesuai dengan kode etik profesi dan standar pelayan kesehatan dan tuntutan pasien atas dugaan sengaja atau lalai dalam melaksanakan pelayanannya. Kesemuaan ini melahirkan tanggung jawab profesi, etik, dan hukum. Akan tetapi hukum tidak cukup diketahui dan dipahami dengan mengkaji kaidah-kaidah normatif yang dituangkan dalam peraturan tertulis tetapi juga dalam sesuatu yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Sehubungan dengan penyelenggaraan pelayanan kesehatan, maka peranan fungsi hukum sebagai social engineering terlihat pada terjadinya perkembangan ilmu, pengetahuan, dan teknologi pada umumnya, di bidang kesehatan pada khususnya. Di indonesia, hubungan antara tenaga kesehatan, dokter pada khususnya dengan pasien masih bersifat paternalistik. Tenaga kesehatan sebagai fatner knows best dan dilihat sebagai orang yang berbudi luhur, karena segala tindakannya dilandasi oleh lafal sumpah dan kode etik yang mengikatnya. Sehingga suatu kejadian yang tidak diinginkan, terjadi pada saat pengobatan berlangsung, pada umumnya oleh pasien diterima sebagai suatu musibah. Secara historis, sebelum tahun 1979, hanya pernah terjadi satu kasus gugatan yaitu terhadap dokter The F.L pada akhir tahun lima puluhan atau permulaan tahun enam puluhan dituduh melanggar pasal 304 KUHP jo Pasal 361 KUHP (Sidharta, 1990).

Dengan perkembangan ilmu, pengetahuan, dan teknologi kesehatan serta semakin pesatnya penemuan-penemuan teknologi di bidang pelayanan kesehatan menunjukkan peningkatan pelayanan kesehatan. Penggunaan alat Ultrasonografi (USG), Computerized Tomografi Scanning (CT-Scan), dan Magnetic Resonance Imaging (MRI) telah membantu ketepatan diagnosa. Alat-alat kedokteran seperti respirator, heart lung nachine yang dapat mencegah kematian seseorang secara teknis untuk beberapa hari, minggu, bahkan beberapa bulan, bukan lagi barang asing bagi dokter dan tenaga kesehatan lainnya.

Etika berasal dari kata yunani ethos yang berarti adat, budi pekerti. Dalam filsafat, pengertian etika adalah telaah dan penilaian kelakuan manusia yang ditinjau dari kesusilaannya. Kesusilaan yang baik merupakan ukuranyang disusun bagi diri seseorang atau merupakan kumpulan keharusan, kumpulan kewajiban yang dibutuhkan oleh masyarakatnya atau golongan tertentu dari anggotaanggotanya. Kesusilaan biasanya didasarkan pada hal-hal tertentu, misalnya pada agama atau kesehjateraan kemakmuran negara (Gunawan, 1992). Etika adalah usaha manusia dalam memakai akal budi dan daya pikirnya untuk memecahkan masalah hidup untuuk suatu upaya agar hidup menjadi lebih baik. Etika pada umumnya mengajarkan bahwa setiap pribadi manusia mempunyai otonomi moral. Artinya ia mempunyai hak kewajiban menentukan sendiri tindakan-tindakan dan mempertanggungjawabkannya dihadapan Tuhan Tenaga kesehatan memiliki otonomi klinis. Artinya tenaga kesehatan mempunyai hak kewajiban untuk bertanggung jawab dalam pengambilan keputusan klinis yang mempengaruhi kesehatan pasiennya. Karena itu pihak lain tidak boleh memaksakan kehendaknya atas diri Tenaga kesehatan bahkan dalam banyak hal wajib mendengarkan pihak lain, tetapi tidak boleh bertindak sematamata karena terpaksa mengikuti pendapat itu. Keberadaan etika dalam strata kehidupan sosial tidak terlepas dari sistem kemasyarakatan manusia yang terdiri atas aspek jasmaniah dan aspek rohaniah. Aspek yang terakhir terdiri atas kodrat alamiah, kodrat budaya, serta dunia nilai. Kodrat alamiah manusia terdiri atas cipta (pikiran, rasio), karsa (kehendak,

kemauan), rasa (perasaan, emosi). Cipta melalui logika menciptakan ilmu pengetahuan. Sedang karsa melalui etika menciptakan religi, akhlak, sopan santun, dan hukum. Dalam Kamus besar Bahasa Indonesia disebutkan etika mengandung tiga pengertian yaitu : 1. Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (akhlak) 2. kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak 3. nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan masyarakat Berkaitan dengan istilah etika ini dalam kamus besar tersebut juga kita lihat etiket, etis, dan moral. Etiket adalah tata cara dalam masyarakat beradab dalam memelihara hubungan antara sesama manusia. Etis mengandung arti ajaran tentang budi pekerti, asusila, kondisi mental yang membuat orang tetap berani, bersemangat, bergairah, berdisiplin dan sebagainya, isi hati atau keadaan perasaan sebagaimana terungkap dalam perbuatan. Telah banyak ahli filsafat yang menyusun definisi tentang pengertian etika. Menurut K. Bertens (Wiradharma, 1999) cenderung membedakan etika dalam tiga arti. Pertama, dalam arti nilai-nilai atau norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam meengatur tingkah lakunya. Misalnya etika agama Budha, etika Protestan. Arti etika disini sebagai masyarakat. Kedua, etika dapat berbagai kumpulan asas atau nilai moral. Dalam artian ini etika dimaksudkan sebagai kode etik. Ketiga, etika berarti ilmu tentang yang baik atau yang buruk. Dalam hal ini etika baru menjadi ilmu bila kemungkina-kemungkinan etis (asas-asas atau nilai-nilai tentang yang dianggap baik dan buruk) yang begitu saja diterima dalam masyarakat seringkali tanpa disadari dan menjadi bahan refleksi bagi suatu penelitian sistematis dan metodis. Di sini etika sama dengan filsafat moral.

Sistematika dan Jenis Etika Etika secara umum dapat dibagi menjadi etika umum dan etika khusus. Etika umum berbicara mengenai kondisi-kondisi dasar bagaimana manusia

bertindak dalam bertindak serta tolak ukur dalam menilai baik atau buruknya suatu tindakan tercermin kebebasan dan tanggung jawab, hati nurani, hak kewajiban, beberapa keutamaan seperti kejujuran, berbuat baik, keadilan, dan hormat terhadap diri sendiri. Etiaka umum dapat dianologikan dengan ilmu pengetahuan, yang membahas mengenai pengertian umum dan teori-teori. Etika khusus adalah penerapan prinsip-prinsip moral dasar dalam bidang kehidupan yang khusus. Penerapan ini bisa berwujud bagaimana seseorang mengambil keputusan dan bertindak dalam bidang kehidupan dan kegiatan khusus yang dilakukanny, yang didasari oleh cara, teori, dan prinsip-prinsip moral dasar. Namun, penerapan itu dapat juga berwujud seseorang menilai pribadinya sendiri dan orang lain dalam bidan kegiatan dan kehidupan khusus yang dilatarbelakangi oleh kondisi yang memungkinkan manusia bertindak etis. Apabila etika umum disebut sebagai etika teoritis maka etika khusus disebut juga etika terapan. Etika khusus dapat dibagi dua yaitu etika individual dan etika sosial. Etika individual menyangkut kewajiban dan sikap manusia terhadap dirinya sendiri. Etika sosial berbicara mengenai kewajiban, sikap dan pola perilaku manusia sebagai anggota masyarakat. Etika sosial menyangkut hubungan manusia dengan manusia baik secara perseorangan dan langsung maupun secara bersama-sama dan dalam bentuk kelembagaan (keluarga, masyarakat, dan negara). Sikap kritis terhadap pandangan dunia dan ideologi, sikap dan pola perilaku dalam bidang kegiatan, masing-masing, maupun tanggung jawaab manusia terhadap makhluk hidup lainnya.

Aliran Dalam Etika Dalam falsafah etika, pada umumnya terdapat dua aliran utama yaitu aliran deontologis (non-consequentialist) dan aliran teleologis (consequentilalist). Aliran deontologis (non-consequentialist) berpendapat bahwa penilaian benar tidaknya suatu perbuatan atau baiknya tidak seseorang, tidak perlu dengan melihat apa hasil akhirnya. Yang dinilai adalah perbuatan itu sendiri. Aliran telelogis bermula dari United Kingdom yang oleh Jeremi Bentham (1748-1832) dimaksudkan sebagai

dasar etis pembaharuan hukum Inggris, terutama hukum pidana. Pada aliran teologis atau konsekuanlis, baik buruknya seseorang atau benar salahnya suatu perbuatan, dinilai dari tujuan yang hendak dicapai. Bagi aliran teleologis motif suatu perbuatan tidak penting, tetapi hasil perbuatan yang perlu diperhitungkan. Motif manusia tidak bisa dilihat atau diukur, akan tetapi konsekuensi tindakan bisa diperhitungkan (Wiradharma, 1999). Menurut airan ini, setiap manusia wajib berbuat sesuatu untuk tujuan yang baik. Dari aspek ini euthanasia dapat dibenarkan oleh aliran teleologis, sedang bagi aliran deontologis apapun alasannya euthanasia dapat dikategorikan pembunuhan. Dalam aliran konsekuensIlais ini sendiri terdapat dua sub-aliran yang berbeda yakni egoisme dan ulitarianisme. Egoisme terdiri atas egoisme etis dan egoisme psikologis (Salam, 1997). Egoisme etis menekankan bahwa setiap tindakan yang mengenakkan dan mendatangkan kebahagian bagi diri sendiri selalu dinilai sebagai tindakan yang baik dan pantas dilakukan. Sebaliknya tindakan yang tidak mengenakkan dan tidak mendatangkan kebahagiaan bagi diri pribadi harus dihindari. Egoisme psikologis menyatakan semua orang dimotivasi oleh tindakan, demi kepentingan dirinya belaka. Jadi egoisme psikologis terutama mau mengungkapkan bahwa motivasi satu-satunya dari manusia dalam melakukan tindakan apa saja untuk mengejar kepentingannya sendiri.

Prinsip-Prinsip Etika Prinsip-prinsip etika sebenarnya berkembang dari telaah sumpah Hipocrates (460 SM- 377 SM) yang berbunyi sebagai berikut : Saya bersumpah demi Apollo dewa penyembuh dan Aescpalius dan hygea, dan Panacea dan semua dewa-dewa sebagai saksi bahwa sesuai dengan kemampuan dan pikiran saya.

Etika dan Kesehatan Masyarakat Perkembangan etika kesehatan masyarakat pada dasarnya dapat dilihat pada tiga fase yaitu etika kesehatan pada masa Hipocrates (Ancient medicine), pada abad pertengahan (Middle ages) dan kedokteran modern (Modern medicine).

Etika kesehatan (medical ethics) melalui sumpah Hipocrates berfokus pada kewajiban dokter pada tindakan yang bermanfaat (beneficence, doing good) dan perlindungan bagi pasien (non male ficense, do no harm). Jadi tujuan sumpah Hipocrates bertujuan untuk kemanfaatan dan mencegah terjadinya cedera dan ketidak adilan pada pasien. Meskipun hal ini juga menyangkut beberapa persyaratan moral yang saat ini dikenal dengan konfidensialitas tetapi tidak menyinggung etika kesehatan masyarakat misalnya masalah otonomi pasien dan keadilan sosial untuk promosi kesehatan masyarakat. Demikian juga pada masa Yunani kuno Aristoteles dan Galen mengarahkan tindakan higienis dan pendidikan kesehatan hanya kepada golongan elite (the have) ketimbang pada masyarakat golongan kelas bawah (the have nol), orang asing maupun para budak pada waktu itu. Kesehatan masyarakat agak berkembang pada abad pertengahan melalui tindakan isolasi dan karantina bagi penyakit menular. Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan dirinya dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan keterampilan melalui bidang pendidikan dibidang kesehatan yang untuk jenis-jenis tertentu memerlukan kewenangan dalam melakukan upaya kesehatan (Pasal 1 buti 3 Undang-undang No.3 Tahun 1992 tentang Kesehatan). Menurut pasal ini dokter dan perawat merupakan tenaga kesehatan yang memiliki kewenangan tertentu, karena kedua jenis tenaga kesehatan tersebut yang paling dekat kepada pasien pada sarana pelayanan kesehatan. Pelayanan kesehatan masyarakat sebagai suatu bentuk pelayanan profesi sebagaimana profesi lain tentunya yang berlandaskan prinsip-prinsip etis. Dinamika hubungan pengemban pemberi pelayanan dan penerima pelayanan profesi kesehatan masyarakat tidak terlepas dari globalisasi isue kesehatan saat ini seperti : kesehatan sebagai hak asasi manusia (health is human right), paradigma kesehatan yang berbasis bukan hanya curing tetap juga caring serta prinsip pengutamaan upaya pelayanan promosi dan pencegahan kesehatan, transisi pelayanan kesehatan dari pelayanan kesehatan berbasis rumah sakit ke

kepelayanan basis pelayanan perwatan keluarga serta transisi epidemologis, demografis penyakit.

Etika Kesehatan dan Etika Klinis Etika kesehatan (Geozondheidsethiek) menurut Leenen suatu

pengkhususan dari etika umum, suatu penerapan dari nilai etika terhadap bidang pemeliharaan/pelayanan kesehatan. Sedang menurut Soerjono Soekanto (1987), etika kesehatan jelas mencakup suatu rekomendasi bagaimana bersikap tindak secara pantas dalam bidang kesehatan. Etika Klinis menurut Jonsen cs (Jacobalis, 2000) adalah disiplin praktis yang memberikan pendekatan terstruktur untuk mengambil keputusan yang dapat membantu dokter mengidentifikasikan, menganalisi, dan memecahkan masalahmasalah etika dalam ilmu kedokteran klinis. Jadi etika klinis adalah penerapan etika medis dalam praktek klinis. Keputusan yang diambil dokter dan profesi medis lainnya. Kesimpulan etika kesehatan dan etika klinis, maka dapat dikatakan bahwa etika kesehatan cakupannya lebih luas dibanding etika klinis yang lingkupnya terbatas pada hubungan dokter-pasien.

Profesi dan Kode Etik Profesi adalah kelompok yang mendeklarasikan secara terbuka bahwa anggotanya akan bekerja dengan cara tertentu dan bahwa kelompok atau masyarakatnya akan mengambil tindakan disiplin bagi anggotanya yang tidak mengikuti cara yang telah ditentukan. Seorang filosof hukum Amerika Roscoe Pound mengatakan bahwa profesi adalah pekerjaan tetap dalam semangat pengabdian terhadap kepentingan umum (sesama manusia) yang dihayati sebagai suatu panggilan hidup dangan menerapkan keahlian yang diperoleh dengan jalan mempelajari dan latihan sistematis. Jadi hakekat profesi ialah panggilan hidup untuk mengabdikan diri pada kemanusiaan. Setiap panggilan hidup adalah mulia jika diwujudkan dengan cara bermartabat, yakni dengan penuh kesungguhan, seksama dan tanggung jawab.

Kode etik adalah himpunan berarti usaha yang menghimpun apa yang tersebar. Kode etik sama dengan himpunan norma yang disepakati dan ditetapkan oleh dan untuk pengemban profesi misal Kode Etik Kedokteran. Kode etik adalah kumpulan asas dan nilai yang berkenaan dengan moral, sehingga ia bersifat normatif tidak empiris seperti halnya pada behavioral science Penilaian sesuatu dari segi etika selalu membutuhkan norma dan nilai tentang apa yang dianggap The oughts and shoulds of society. Tiap profesi harus mengabdi kepada masyarakat. Kode etik harus memiliki sifat-sifat antara lain : kode etik harus rasional, tetapi tidak kering dan emosi; kode etik harus konsisten, tetapi tidak kaku;; kode etik harus bersifat universal. Kode etik profesi terdiri atas aturan kesopanan dan aturan kelakuan dan sikap antar para anggota profesi tersebut.

Hukum Hukum menurut J.G. HOLLAND (POZGAR, 1996) Laws are the very bulwarks of liberty : They define every mans right and defend the individual liberties of all men. Bagi Holland hukum merupakan basis dari kebebasan yang merumuskan hak-hak setiap orang dan melindungi kebebasan individu dari semua orang.

Sanksi Hukum
1. TEORI RETRIBUSI (KANT DAN HEGEL)

Hukuman itu diberikan karena pelaku menerima hukuman demi kesalahannya. Hukuman menjadi retribusi yang adil bagi kerugian yang sudah diakibatkannya.

2.

TEORI UTILITASISME (siklu) ( JEREMY BENTHAM) Hukuman itu dapat membuat jera si terhukum sehingga kelak tidak pernah akan mengulangi kesalahannya. Hukuman dapat meredakan balas dendam pada si korban dan keluarganya.

Tujuan Hukum dan Fungsinya Dalam literatur hukum terdapat beberapa teori yaitu : 1. 2. yang terbesar bagi mausia dalam jumlah sebanyak-banyaknya. 3. Teori Campuran mengatur pergaukan hidup secara damai Teori Etis yang bertujuan untuk menciptakan keadilan. Teori Utilitis menurut teori hukum ini ingin menjamin kebahagiaan

Fungsi hukum adalah menetapkan pola hubungan antara anggota masyarakat menunjukkan jenis-jenis tingkah laku yang diperbolehkan dan yang dilarang, menentukan alokasi wewenang memerintah siapa yang boleh melakukan paksaan yang secara tepat dan efektif, serta menyelesaikan sengketa.

Hukum Kesehatan Hukum kedokteran dan hukum kesehatan mulai diperkenalkan di Indonesia dengan terbentuknya kelompok studi untuk hukum kedokteran di Indonesia di Universitas Indonesia pada tanggal 1 November 1982 di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo di Jakarta oleh beberapa dokter dan sarjana hukum yang mengikuti kongres Sedunia Hukum Kedokteran di Gent Belgia tahun 1982. Semenjak tahun lima puluhan Hukum Kesehatan berkembang sebagai suatu pengkhususan ilmu hukum, terutama di Negeri Belanda, Perancis, dan Amerika Serikat. Perkembangan ini disebabkan menurut Leenen (Soekanto dan Herkutanto, 1986). Kemajuan teknologi dan birokrasi dalam bidang kesehatan, hak untuk menentukan nasib sendiri sebagai suatu hak pribadi dan hak mendapatkan pelayanan kesehatan memegang peranan penting dalam

perkembangan hukum kesehatan. Menurut Leenen Hukum Kesehatan adalah : Semua ketentuan hukum yang langsung berhubungan dengan pemeliharaan kesehatan dan penerapan dari hukum perdata, hukum pidana, dan hukum administrasi dalam hubungan tersebut pula pedoman Internasional, hukum kebiasaan dan yurisprudensi yang berkaitan

dengan pemeliharaan kesehatan, hukum otonom, ilmu dan literatur, menjadi sumber hukum Internasional. Hukum Kesehatan merupakan pengkhususan atau cabang ilmu hukum, dan bukan cabang ilmu hukum kedokteran sebagaimana halnya dengan ilmu kedokteran forensik.

Sumber Hukum Kesehatan Sumber-sumber hukum kesehatan adalah: 1. Pedoman Internasional 2. Hukum Kebiasaan 3. Yurisprudensi 4. Hukum otonom 5. Ilmu 6. Literatur

Jenis Hukum Dalam Hukum Kesehatan Sebenarnya kualifikasi yuridis mengenai pelayanan kesehatan mempunyai arti dalam hukum pidana, perdata, dan administrasi negara. Dalam hukum perdata tindakan medik merupakan pelaksanaan suatu perikatan antara tenaga kesehatan atau dokter pada khususnya dengan pasien. Secara hukum hubungan antara dokter dan tenaga kesehatan lainnya didasarkan pada perjanjian ikhtiar

(inspanningverbintennis). Syarat sahnya suatu perjanjian tersebut sebagaimana disebutkan dalam pasal 1320 KUH Perdata yaitu kesepakatan dan kecakapan pihak-pihak yang membuat perjanjian, suatu hal tertentu dan suatu sebab yang hal dari perjanjian. Setiap pelanggaran oleh dokter dan tenaga kesehatan lainnya terhadap perjanjian merupakan wanprestasi yang akan melahirkan tuntutan, baik oleh pasien maupun keluarganya (Pasal 1234 KUH Perdata). Dari segi hukum pidana, tanggung jawab dokter timbul jika perbuatan dokter dianggap melanggar atau bertentangan dengan hukum pidana yang berlaku sehingga membahayakan baik ketentraman dan ketertiban masyarakat maupun individu. Dalam Pasal 1 KUHP

yang berbunyi : Tidak ada sesuatu perbuatan yang boleh dihukum melainkan atas kekuatan ketentuan hukum pidana yang ada terlebih dahulu dari perbuatan itu. Tanggungjawab pidana dokter ini terkait dengan asas praduga tidak bersalah dalam Pasal 6 Ayat 2 Undang-undang No.14 tahun 1970 tentang ketentuanketentuan Pokok Kehakiman yang berbunyi : Tidak seorang pun dapat dijatuhi pidana kecuali apabila pengadilan karena alat pembuktian yang sah menurut undang-undang mendapatkan keyakinan hakim bahwa seseorang yang dianggap dapat bertanggungjawab telah bersalah atas perbuatan yang dituduhkan atas dirinya. Keputusan Hoge Raad tertanggal 14 Maret 1929 dalam menentukan jenis kealpaan mana yang dapat menimbulkan tanggung jawab bagi seseorang dokter. Keputusan ini menunjuk kealpaan berat (culpa lata bukan culpa levis). Dengan demikian tanggung jawab pidana seseorang dokter tentu saja kesalahan yang diperbuatnya dalam melaksanakan tugas sehingga mengakibatkan kematian atau luka adalah unsur kelalaian, kealpaan/kurang hati-hati bukan unsur sengaja (dolus), sebab apabila seseorang dokter yang melakukan karena disengaja tentu saja perbuatannya jelas masuk dalam kategori pembunuhan atau penganiayaan.