Anda di halaman 1dari 9

UJI TOKSISITAS BAHAN PENCEMAR TERHADAP IKAN AIR TAWAR AGUNG AROHMAN 11498 ASISTEN FAIZAL RACHMAN INTISARI

Tujuan dari praktikum ekotoksikologi perairan tentang uji toksisitas bahan pencemar terhadap ikan air tawar adalah untuk mempelajari salah satu cara mengukur daya racun (toksisitas) suatu bahan pencemar, untuk mempelajari penentuan toksisitas suatu bahan kimia atau bahan pencemar terhadap hewan air, untuk mempelajari pengaruh suatu bahan kimia atau bahan pencemar terhadap kualitas air. Manfaat dari praktikum ekotoksikologi perairan tentang uji toksisitas bahan pencemar terhadap ikan air tawar adalah untuk mengetahui cara mengukur daya racun (toksisitas) suatu bahan kimia atau bahan pencemar terhadap ikan air tawar suatu perairan dan pengaruhnya terhadap kualitas air suatu perairan sehingga dapat diantisipasi dan ditanggulangi dengan cepat dan baik yang untuk mejaga suatu perairan tetap lestari. Perlakuan parameter yang dilakukan dalam praktikum ekotoksikologi perairan tentang uji toksisitas bahan pencemar terhadap ikan air tawar adalah parameter fisik dan parameter kimia. Parameter fisik meliputi gerakan operculum, escape reflex dan suhu air. Parameter kimia meliputi DO, CO2, alkalinitas dan pH. Ada juga pemberian konsetrasi detergen yang berbeda-beda pada setiap akuarium aerasi dan akuarium non-aerasi. Hasil yang didapat dari LC50-96 (aerasi) adalah 62,65 sedangkan LC50-96 (non-aerasi) adalah 36,35 yang menunjukan bahwa detergen yang ada dalam air bersifat toksik dan mempengaruhi kualitas air serta daya hidup ikan nila. Salah satu cara mengukur toksisitas suatu bahan pencemar adalah dengan menghitung LC50-96 jam. Penentuan toksisitas detergen terhadap ikan nila dengan cara mengamati gerakan operculum dan escape reflex serta mortalitas yang terjadi pada ikan nila. Pengaruh detergen terhadap kualitas air dengan cara mengamati ikan nila didalam perairan baik secara fisik maupun kimia. Nilai SC50 adalah 10% dari LC50, jadi SC50 (aerasi) adalah 6,265 ppm sedangkan SC50 (non-aerasi) adalah 3,635 ppm. Kata kunci: toksisitas, surfaktan, kualitas air, ikan nila PENGANTAR Toksisitas adalah kemampuan merusak suatu bahan kimia pada saat bahan tersebut mengenai bagian dalam atau permukaan tubuh yang peka terhadap bahan kimia tersebut (Probosuno. 2010). Surfaktan (surface active agents) merupakan bahan organik yang berperan sebagai bahan aktif dalam detergen. Surfaktan dapat menurunkan tegangan permukaan sehingga memungkinkan partikel-partikel yang menempel pada bahan-bahan yang dicuci terlepas dan terlarut dalam air (Effendi. 2003). Surfaktan dapat menyebabkan perubahan struktur ultraseluler karena interaksi dengan mebran dan enzim dalam sel. Efek bahan pencemar dapat dibedakan menjadi dua yaitu efek kualitatif dan efek kuantitatif. Efek kualitatif berupa gangguan pada system syaraf, fungsi syaraf otot, gangguan berupa keracunan pada hati dan ginjal serta gangguan pada pernapasan seluler, tranpor oksigen, fosforilasi oksidatif dan karsinogenesis aktivitas, sedangkan efek kuantitatif berupa keracunan akut dan keracunan kronik yang disebabkan dosis yang tinggi dan waktu yang lama bahan pencemar berada di perairan (Koeman, J.H. 1987). Pestisida (Sipermetrin) bersifat toksik pada mamalia serta sangat toksik terhadap ikan dan organisme air. Toksisitas pestisida sangat tergantung pada cara masuknya pestisida kedalam tubuh. Efek toksik dari

pestisida tersebut terlihat dari perubahan tingkah laku berupa penurunan kesadaran yaitu postur tubuh (mengantuk), penurunan aktifitas motor, ataksia, tes kasa, dan kematian. Efek toksik pestisida yang lain adalah hipersalivasi, kontraksi ginjal, miosis, depresi pernafasan (Narulita dkk, 2008). Ikan nila mempunyai toleransi yang tinggi terhadap lingkungan hidupnya, sehingga bisa dipelihara di dataran rendah yang perairannya payau atau di dataran tinggi yang perairannya tawar. Habitat hidup ikan nila cukup beragam seperti sungai, danau, waduk, rawa, sawah, kolam, atau tambak. Ikan nila bisa tumbuh secara normal pada kisaran suhu 14C-38C dan bisa memijah secara alami pada kisaran suhu 22C-37C. Suhu optimum untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan ikan nila adalah 25C-30C. Pertumbuhan ikan nila akan terganggu jika suhu habitatnya lebih rendah dari 14C atau lebih tinggi dari 38C. Ikan nila akan mempengaruhi kelangsungan hidup ikan nila tetapi ada faktor lain yang bisa mepengaruhi kelangsungan hidup ikan nila yaitu salinitas atau kadar garam. Ikan nila bisa tumbuh dan berkembangbiak di perairan dengan salinitas 0%-29%. Ikan nila masih bisa tumbuh tetapi tidak bisa berproduksi di perairan dengan salinitas 29%-35%. Ikan nila yang masih kecil atau benih lebih cepat menyesuaikan diri terhadap kenaikan salinitas dibandingkan dengan ikan nila yang berukuran besar (Amri. 2008). Ikan tawes adalah ikan yang bersifat herbivora atau pemakan tumbuh-tumbuhan tetapi ikan tawes yang sudah dikembangbiakkan di kolam bisa dikasih pakan pelet atau pakan alami berupa daun talas. Ikan tawes di habitat aslinya adalah ikan yang berkembangbiak di sungai dan rawa rawa dengan lokasi yang disukainya adalah perairan dengan air yang jernih dan terdapat aliran air karena ikan ini mempunyai sifat biologis yang membutuhkan banyak oksigen. Jika ditempatkan dalam air yang sedikit oksigen maka ikan tawes akan mati (Wibowo. 2009). METODOLOGI Terdapat dua kelompok yang masing-masing menggunakan akuarium sebanyak enam buah yang diisi air sebanyak akuarium. Masing-masing akuarium dimasukan sepuluh ekor ikan nila. Masing-masing akuarium dimasukan bahan pencemar berupa detergen dengan konsentrasi yang bervariasi. Melakukan pengamatan pola aktivitas ikan nila setiap 24 jam dari jam ke 0 sampai jam ke 96. Mengekstrapolasi titik ordinat 50% (sumbu Y) ke garis regresi linier dan ditarik garis tegak lurus absis (sumbu X). Melakukan uji toksisitas dengan variasi konsentrasi yang lebih sempit di sekitar LC50-96 jam uji pendahuluan. Melakukan pengamatan pola aktivitas ikan nila pada parameter fisik pada jam ke 0, 24, 48, 72 dan 96 serta melakukan pengukuran kualitas air atau parameter kimia pada jam ke 0, 48 dan 96. Menginterpolasi titik ordinat 50% (sumbu Y) ke garis regresi linier dan ditarik garis tegak lurus absis (sumbu X). Parameter yang diukur adalah parameter fisik dan parameter kimia. Parameter fisik meliputi gerakan operculum, escape reflex dan suhu air. Parameter kimia meliputi DO, CO2, alklinitas dan pH. Kualitas air atau parameter kimia seperti DO menggunakan metode winkler, CO2 dan alkalinitas menggunakan metode alkalimetri, suhu air menggunakan thermometer, pH menggunakan pH meter. LC50-96 jam menggunakan pendekatan analisis regresi linear sederhana. HASIL DAN PEMBAHASAN Praktikum ekotoksikologi perairan tentang uji toksisitas bahan pencemar terhadap ikan air tawar dilakukan untuk mengetahui cara pengukuran toksisitas detergen dan pestisida terhadap ikan nila dan ikan tawes serta kualitas airnya, tetapi dalam praktikum tersebut ikan tawes dan pestisida tidak jadi digunakan. Parameter yang diukur adalah parameter fisik dan kimia. Parameter fisik meliputi gerakan operculum, escape reflex dan suhu. Parameter kimia meliputi DO, CO2, alkalinitas dan pH. Praktikum tersebut dibagi menjadi dua kelompok, kelompok I menggunakan aerasi sedangkan kelompok II tidak menggunakan aerasi.

1. Kelompok 1 (kelompok aerasi)


Waktu 0 Konsentrasi Aerasi (ppm) Kontrol 17,5 25,0 32,5 40 47,5 Kontrol 17,5 25,0 32,5 40 47,5 Kontrol 17,5 25,0 32,5 40 47,5 Kontrol 17,5 25,0 32,5 40 47,5 Kontrol 17,5 25,0 32,5 40 47,5 GO 80 88 158 167 143 99 91 109 100 150 183 113 47 65 89 131 102 50 77 106 109 105 91 80 121 93 94 73 113 120 ER 4* 3* 3* 3* 3* 3* 3* 3* 4* 3* 4* 4* 4* 4* 3* 4* 4* 4* 4* 3* 2* 2* 3* 3* 3* 2* 1* 1* 3* 2* DO 6,6 5,4 7,0 6,4 7,0 6,8 CO2 9,4 14 13 16,4 12,6 9 Parameter Kimia Alkalinitas 184 178 190 190 196 194 pH 7,1 7,1 7,2 7,2 7,3 7,3 Parameter Fisika Suhu Air 28 28,5 29 29 29 29 27,5 28 28 28 28 28 28 28 28 28 28 28,5 26 27 26 26 26,5 26,5 26 26 26 26,5 26,5 26,5

24

48

6,4 6,3 6,2 3,4 2,6 6,6

30 25 27 32 26 20

174 176 176 170 186 178

72

96

5,8 4,6 0,4 0,4 0 7

8 14 18 24 14 60

194 172 400 400 202 400

7,3 7,2 7,4 7,1 7,1 7,5 7,4 7,5 7,7 7,6 7,7 7,7 7,7 7,5 7,5 7,2 7,5 7,8

Berdasarkan hasil yang didapat dari data kelompok I (aerasi) menunjukan bahwa lamanya waktu pengujian berbanding lurus dengan gerakan operculum sehingga semakin lama waktu pengujian maka semakin banyak gerakan operculum, hal tersebut disebabkan karena ikan membutuhkan banyak oksigen untuk proses respirasi sehingga gerakan operculum semakin banyak. Tetapi lamanya waktu pengujian dan banyaknya gerakan operculum berbanding terbalik dengan escape reflex sehingga semakin lama waktu pengujian dan semakin banyak gerakan operculum maka semakin rendah escape reflexnya, hal tersebut disebabkan karena ikan sudah mulai keracunan dan ikan sudah mulai sakit sehingga ikan sudah tidak bisa bergerak lebih banyak. Lamanya waktu pengujian membuat suhu perairan menjadi turun, hal tersebut disebabkan karena ikan sudah tidak banyak bergerak karena ikan sudah mulai keracunan dan sakit. Perbedaan konsentrasi pada akuarium juga menyebabkan perbedaan toksisitas detergen karena semakin sedikit konsentrasi detergen maka semakin tidak toksik detergen tersebut tetapi semakin banyak konsentrasi detergen maka semakin toksik detergen tersebut sehingga ikan nila pada konsentrasi kecil tidak terjadi mortalitas tetapi pada konsentrasi besar terjadi mortalitas. Data Ikan Mati
Konsentrasi Kontrol 17,5 25,0 32,5 40 47,5 Jam ke 0 Jam ke- 24 Jam ke- 48 Jam ke-72 Jam ke- 96 0 0 5 5 2 3

Berdasarkan hasil yang didapat dari data kelompok I (aerasi) menunjukan bahwa semakin lama waktu pengujian maka mortalitas juga semakin banyak. Perbedaan konsentrasi pada akuarium juga menyebabkan perbedaan toksisitas detergen karena semakin sedikit konsentrasi detergen maka semakin tidak toksik detergen tersebut tetapi semakin banyak konsentrasi detergen maka semakin toksik detergen tersebut sehingga ikan nila pada konsentrasi kecil tidak terjadi mortalitas tetapi pada konsentrasi besar terjadi mortalitas.

2. Kelompok II (kelompok non-aerasi)


Waktu 0 Konsentrasi Non-aerasi (ppm) Kontrol 17,5 25,0 32,5 40 47,5 Kontrol 17,5 25,0 32,5 40 47,5 Kontrol 17,5 25,0 32,5 40 47,5 Kontrol 17,5 25,0 32,5 40 47,5 Kontrol 17,5 25,0 32,5 40 47,5 GO 146 125 84 82 63 59 192 159 144 156 181 161 186 161 149 172 153 140 170 163 134 49 98 65 123 133 110 20 110 16 ER 4* 3* 3* 3* 2* 2* 3* 2* 2* 2* 2* 2* 3 2 2 2 1 2 3 3 2 2 1 1 3 3 3 1 2 0 DO 2,4 5,8 6 6,4 7,2 6,2 CO2 14,6 10,8 12 9,8 9,2 9,2 Parameter Kimia Alkalinitas 186 182 182 180 180 190 pH 7,1 7,1 7,2 7,2 7,2 7,2 Parameter Fisika Suhu Air 28 28 28 28 28 28 27 26,5 26,4 26,5 26,5 26,5 26,9 26,8 26,5 26,2 26,1 26,1 27 26,5 26,7 26,5 26,5 26,8 26 25,9 25,8 25,6 25,8 25,9

24

48

1,4 1,4 1,1 1,0 0,6 1,2

22 36 24 32 24 68

174 180 178 180 188 178

72

96

1,4 1,2 1 0 0,6 0

14 8 12 32 16 38

200 200 200 238 206 224

7,0 7,0 7,1 7,1 7,1 7,1 7,2 7,1 7,2 7,1 7,2 7,2 7,1 7,1 7,2 7,0 7,2 6,9

Berdasarkan hasil yang didapat dari data kelompok II (non-aerasi) menunjukan bahwa lamanya waktu pengujian berbanding terbalik dengan gerakan operculum sehingga semakin lama waktu pengujian maka semakin sedikit gerakan operculum, hal tersebut disebabkan karena ikan sudah muali keracunan dan membutuhkan banyak oksigen untuk proses respirasi tetapi kandungan DO terlarut dalam air sedikit sehingga gerakan operculum sedikit juga. Lamanya waktu pengujian juga berbanding terbalik dengan escape reflex sehingga semakin lama waktu pengujian maka semakin rendah escape reflexnya, hal tersebut disebabkan karena ikan sudah mulai keracunan dan ikan sudah mulai sakit sehingga ikan sudah tidak bisa bergerak lebih banyak. Lamanya waktu pengujian membuat suhu perairan menjadi turun, hal tersebut disebabkan karena ikan sudah tidak banyak bergerak karena ikan sudah mulai keracunan dan sakit. Perbedaan konsentrasi pada akuarium juga menyebabkan perbedaan toksisitas detergen karena semakin sedikit konsentrasi detergen maka semakin tidak toksik detergen tersebut tetapi semakin banyak konsentrasi detergen maka semakin toksik detergen tersebut sehingga ikan nila pada konsentrasi kecil tidak terjadi mortalitas tetapi pada konsentrasi besar terjadi mortalitas. Data Ikan Mati
Konsentrasi Kontrol 17,5 25,0 32,5 40 47,5 Jam ke 0 Jam ke- 24 Jam ke- 48 3 Jam ke-72 1 Jam ke- 96 0 1 1 7 5 7

Berdasarkan hasil yang didapat dari data kelompok II (non-aerasi) menunjukan bahwa semakin lama waktu pengujian maka mortalitas juga semakin banyak. Perbedaan konsentrasi pada akuarium juga menyebabkan perbedaan toksisitas detergen karena semakin sedikit konsentrasi detergen maka semakin tidak toksik detergen tersebut tetapi semakin banyak konsentrasi detergen maka semakin toksik detergen tersebut sehingga ikan nila pada konsentrasi kecil tidak terjadi mortalitas tetapi pada konsentrasi besar terjadi mortalitas.

1. Grafik Mortalitas VS Kualitas Air a. Mortalitas VS DO

Mortalitas VS DO Aerasi
10 Mortalitas 5 0 -5 0 DO 5 10 Jam ke- 0 Jam ke- 48 Jam ke- 96 Mortalitas 10 5 0 -5 0

Mortalitas VS DO (Non-aerasi)
jam ke- 0 jam ke- 48 5 DO 10 jam ke- 96

-5

Berdasarkan hasil yang didapat dari data mortalitas vs DO (aerasi) menunjukan bahwa mortalitas baru terjadi pada jam ke 96 dan itu merupakan mortalitas tertinggi. Mortalitas terjadi pada jam ke 96 karena deterjen yang sudah lama berada dalam air mempengaruhi kualitas air. Walaupun sudah diberi aerasi untuk menambah kandungan oksigen terlarut dalam air namun itu hanya bermanfaat pada jam ke 0, 24, 48, dan 72. Pada jam ke 96 kandungan DO dalam air sangat sedikit karena kandungan DO sudah banyak digunakan oleh ikan untuk respirasi dan deterjen yang sudah lama berada dalam air membuat pH, alkalinitas dan CO2 naik atau tinggi sehingga deterjen yang ada dalam air menjadi toksik dan menyebabkan kematian bagi ikan dan hal tersebut sesuai dengan teori dimana suatu bahan kimia menjadi sangat toksik saat DO rendah tetapi pH, alkalinitas dan CO2 naik atau tinggi (Probosuno. 2010). Mortalitas terendah terjadi pada jam ke 0, 24, 48, dan 72 karena pada jam tersebut tidak terjadi mortalitas. Tidak terjadinya mortalitas disebabkan karena DO naik atau tinggi tetapi pH, alkalinitas dan CO2 masih rendah sehingga deterjen yang ada dalam air belum bersifat toksik dan ikan masih bisa beradaptasi dan bertahan hidup. Berdasarkan hasil yang didapat dari data mortalitas vs DO (non-aerasi) menunjukan bahwa mortalitas terjadi pada jam ke 48, 72 dan 96. Mortalitas tertinggi terjadi pada jam ke 96 karena deterjen yang sudah lama berada dalam air mempengaruhi kualitas air. Walaupun sudah dikasih aerasi untuk menambah kandungan oksigen terlarut dalam air namun itu hanya berguna pada awal pemberian aerasi karena kandungan DO dalam air sangat sedikit yang disebabkan oleh banyaknya penggunakan kandungan DO terlarut oleh ikan dan deterjen yang sudah lama berada dalam air membuat pH, alkalinitas dan CO2 naik atau tinggi sehingga deterjen yang ada dalam air menjadi toksik dan menyebabkan kematian bagi ikan dan hal tersebut sesuai dengan teori dimana suatu bahan kimia menjadi sangat toksik saat DO rendah tetapi pH, alkalinitas dan CO2 naik atau tinggi (Probosuno. 2010). Mortalitas terendah terjadi pada jam ke 0 dan 24 karena pada jam tersebut tidak terjadi mortalitas. Tidak terjadinya mortalitas disebabkan karena DO naik atau tinggi tetapi pH, alkalinitas dan CO2 masih rendah sehingga deterjen yang ada dalam air belum bersifat toksik dan ikan masih bisa beradaptasi dan bertahan hidup.

b. Mortalitas VS CO2

Mortalitas VS CO2 (Aerasi)


10 Mortalitas 5 0 -5 0 50 CO2 100 Jam ke- 0 Jam ke- 48 Jam ke- 96 Mortalitas 10 5 0 -5 0

Mortalitas VS CO2 (Non-aerasi)


jam ke- 0 jam ke- 48 50 CO2 100 Jam ke- 96

Berdasarkan hasil yang didapat dari data mortalitas vs CO2 (aerasi) menunjukan bahwa mortalitas baru terjadi pada jam ke 96 dan itu merupakan mortalitas tertinggi. Mortalitas terjadi pada jam ke 96 karena deterjen yang sudah lama berada dalam air mempengaruhi kualitas air. Pada jam ke 96 kandungan CO2 naik atau tinggi karena kandungan CO2 banyak dihasilkan oleh ikan dari proses respirasi dan deterjen yang sudah lama berada dalam air membuat pH dan alkalinitas juga naik atau tinggi sehingga deterjen yang ada dalam air menjadi toksik dan menyebabkan kematian bagi ikan dan hal tersebut sesuai dengan teori dimana suatu bahan kimia menjadi sangat toksik saat CO2 tinggi, pH dan alkalinitas juga tinggi tetapi dan DO rendah (Probosuno. 2010). Mortalitas terendah terjadi pada jam ke 0, 24, 48, dan 72 karena pada jam tersebut tidak terjadi mortalitas. Tidak terjadinya mortalitas disebabkan karena CO2 rendah tetapi kandungan DO naik atau tinggi. Selain CO2 yang rendah, pH dan alkalinitas juga masih rendah sehingga deterjen yang ada dalam air belum bersifat toksik dan ikan masih bisa beradaptasi dan bertahan hidup. Berdasarkan hasil yang didapat dari data mortalitas vs CO2 (non-aerasi) menunjukan bahwa mortalitas terjadi pada jam ke 48, 72 dan 96. Mortalitas tertinggi terjadi pada jam ke 96 karena deterjen yang sudah lama berada dalam air mempengaruhi kualitas air. Pada jam ke 48, 72 da 96 menunjukan kenaikan kandungan CO2 yang menyebabkan kenaikan mortalitas juga. Naiknya kandungan CO2 dalam air karena kandungan CO2 banyak dihasilkan oleh ikan dari proses respirasi dan deterjen yang sudah lama berada dalam air membuat pH dan alkalinitas juga naik atau tinggi sehingga deterjen yang ada dalam air menjadi toksik dan menyebabkan kematian bagi ikan dan hal tersebut sesuai dengan teori dimana suatu bahan kimia menjadi sangat toksik saat CO2 tinggi, pH dan alkalinitas juga tinggi tetapi dan DO rendah (Probosuno. 2010). Mortalitas terendah terjadi pada jam ke 0 dan 24 karena pada jam tersebut tidak terjadi mortalitas. Tidak terjadinya mortalitas disebabkan karena CO2 rendah tetapi kandungan DO naik atau tinggi. Selain CO2 yang rendah, pH dan alkalinitas juga masih rendah sehingga deterjen yang ada dalam air belum bersifat toksik dan ikan masih bisa beradaptasi dan bertahan hidup.

c. Mortalitas VS Alkalinitas

Mortalitas VS Alkalinitas (Aerasi)


10 Mortalitas 5 0 -5 0 Alkalinitas 500 Jam ke- 0 Jam ke- 48 Jam ke- 96 Mortalitas

Mortalitas VS Alkalinitas (Non-aerasi)


10 5 0 -5 0 200 Alkalinitas 400 Jam ke- 0 Jam ke- 48 Jam ke- 96

Berdasarkan hasil yang didapat dari data mortalitas vs alkalinitas (aerasi) menunjukan bahwa mortalitas baru terjadi pada jam ke 96 dan itu merupakan mortalitas tertinggi. Mortalitas terjadi pada jam ke 96 karena deterjen yang sudah lama berada dalam air mempengaruhi kualitas air. Pada jam ke 96 alkalinitas menjadi naik atau tinggi disebabkan oleh banyaknya kandungan CO2 yang dihasilkan oleh ikan dari proses respirasi dan deterjen yang sudah lama berada dalam air membuat pH dan CO2 juga naik atau tinggi sehingga deterjen yang ada dalam air menjadi toksik dan menyebabkan kematian bagi ikan dan hal tersebut sesuai dengan teori dimana suatu bahan kimia menjadi sangat toksik saat alkalinitas tinggi, pH dan CO2 juga tinggi tetapi dan DO rendah (Probosuno. 2010). Mortalitas terendah terjadi pada jam ke 0, 24, 48, dan 72 karena pada jam tersebut tidak terjadi mortalitas. Tidak terjadinya mortalitas disebabkan karena alkalinitas rendah tetapi kandungan DO naik atau tinggi. Selain alkalinitas yang rendah, pH dan CO2 juga masih rendah sehingga deterjen yang ada dalam air belum bersifat toksik dan ikan masih bisa beradaptasi dan bertahan hidup. Berdasarkan hasil yang didapat dari data mortalitas vs alkalinitas (non-aerasi) menunjukan bahwa mortalitas terjadi pada jam ke 48, 72 dan 96. Mortalitas tertinggi terjadi pada jam ke 96 karena deterjen yang sudah lama berada dalam air mempengaruhi kualitas air. Pada jam ke 48, 72 da 96 menunjukan kenaikan alkalinitas yang menyebabkan kenaikan mortalitas juga. Naiknya alkalinitas dalam air disebabkan oleh banyaknya kandungan CO2 yang dihasilkan oleh ikan dari proses respirasi dan deterjen yang sudah lama berada dalam air membuat pH dan CO2 juga naik atau tinggi sehingga deterjen yang ada dalam air menjadi toksik dan menyebabkan kematian bagi ikan dan hal tersebut sesuai dengan teori dimana suatu bahan kimia menjadi sangat toksik saat alkalinitas tinggi, pH dan CO2 juga tinggi tetapi dan DO rendah (Probosuno. 2010). Mortalitas terendah terjadi pada jam ke 0 dan 24 karena pada jam tersebut tidak terjadi mortalitas. Tidak terjadinya mortalitas disebabkan karena alkalinitas rendah tetapi kandungan DO naik atau tinggi. Selain alkalinitas yang rendah, pH dan CO2 juga masih rendah sehingga deterjen yang ada dalam air belum bersifat toksik dan ikan masih bisa beradaptasi dan bertahan hidup.

2. Grafik Mortalitas VS LC-50

Mortalitas VS LC-50 (Aerasi)


y = 0.0719x + 0.5523 R = 0.2926 0 20 40 60 Mortalitas 6 4 2 0 Mortalitas 10 5 0 -5

Mortalitas VS LC-50 (Non-aerasi)


y = 0.162x - 0.8881 R = 0.7354 0 20 40 60

Konsentrasi LC-50

Konsentrasi LC-50

Perhitungan LC50 (aerasi) y = 0,071x 0,552 5 = 0,071x 0,552 5 - 0,552 = 0,071x 4,448 = 0,071x x = 4,448 / 0,071 x = 62,65 LC50 = 62,65ppm SC50 = 10% x 62,65ppm = 6,265ppm Perhitungan LC50 (non-aerasi) y = 0,162x 0,888 5 = 0,162x 0,888 5 + 0,888 = 0,162x 5,888 = 0,162x x = 5,888 / 0,162 x = 36,35 LC50 = 36,35ppm SC50 = 10% x 36,35ppm = 3,635ppm Berdasarkan hasil yang didapat dari data mortalitas vs LC50-96 menunjukan bahwa LC50-96 (aerasi) nilai R = 0.292 sedangkan LC50-96 (non-aerasi) nilai R = 0,735. Nilai R tersebut menunjukan bahwa detergen tidak terlalu mempengaruhi mortalitas karena nilai R masih kurang dari 1. Besarnya konsentrasi LC50-96 (aerasi) sebesar 62,65 ppm sedangkan konsentrasi LC50-96 (non-aerasi) sebesar 32,35 ppm. Ikan nila (aerasi) bisa lebih beradaptasi terhadap detergen jikan dibandingkan dengan ikan nila (non-aerasi). Dapat disimpulkan bahwa ikan nila yang terdapat aerasi mortalitasnya lebih rendah jika dibandingkan dengan ikan nila yang tidak ada aerasi karena aerasi berfungsi menambah kandunga DO terlarut pada air.

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Hasil yang didapat dari LC50-96 (aerasi) adalah 62,65 ppm sedangkan LC50-96 (nonaerasi) adalah 32,35 ppm yang menunjukan bahwa detergen yang ada dalam air bersipat toksik dan mempengaruhi kualitas air serta daya hidup ikan nila. Salah satu cara mengukur toksisitas suatu bahan pencemar adalah dengan menghitung LC50-96 jam. Penentuan toksisitas detergen terhadap ikan nila dengan cara mengamati gerakan operculum dan escape reflex serta mortalitas yang terjadi pada ikan nila. Pengaruh detergen terhadap kualitas air dengan cara mengamati ikan nila didalam perairan baik secara fisik maupun kimia. B. Saran Harus ada persamaan persepsi antara asisten dalam melakukan pelaksanaan praktikum supaya tidak ada pihak yang dirugikan dan kegiatan praktikum berjalan dengan lancar. Tempat akuarium sebaiknya berada di daerah yang mudah dijangkau supaya praktikan tidak mengalami kesulitan dalam melaksanakan praktikum. Alat yang digunakan dalam melakukan praktikum sebaiknya diperbanyak supaya praktikan tidak perlu menunggu lama untuk bergantian menggunakan alat praktikum. Bahan pencemar yang digunakan tidak bervariasi sehingga tidak terlalu terlihat hasilnya. Ikan yang digunakan harus dalam keadaan sehat sehingga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti pengulangan dalam melakukan praktikum. Kurangnya bimbingan dan pengawasan dari asisten dalam melaksanaan praktikum. DAFTAR PUSTAKA
Amri, Khairul dan Khairuman. 2008. Syarat Hidup Ikan Nila. Agromedia Pustaka. Tasikmalaya. Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air: Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan Lingkungan Perairan. Kanisius, Yogyakarta. Koeman, J.H. 1987. Pengantar Umum Toksikologi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta Probosuno, Namastra. 2010. Penentuan Toksisitas Suatu Bahan Pencemaran Di Perairan. Laboratorium Ekologi Perairan Jurusan Perikanan. Yogyakarta. Wibowo, Hari. 2009. Ikan Tawes Adalah Ikan Dengan Nilai Ekonomis Yang Tinggi. Malang. Narulita, L., Dita Febrinasari, Dhinul Choir, dan Inayah. 2008. Uji LD50 (Lethal Dose) Sipermetrin (SUTRIN 100ec) pada Tikus. Universitas Muhammadiyah Malang. Malang.