Anda di halaman 1dari 9

TUGAS MATA KULIAH GEOGRAFI ASIA PASIFIK MARAKNYA PERDAGANGAN ANAK DAN PEREMPUAN (TRAFFICKING) DI WILAYAH ASIA PASIFIK,

KHUSUSNYA DI INDONESIA Dosen pengampu : Abdur Rofi S.Si , M.Si

Disusun Oleh : Nama : I. Wayan Wisnu Yoga Mahendra Nim : 09/ /284684/GE/6629

FAKULTAS GEOGRAFI UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2011

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Sejatinya, anak adalah harta sekaligus karunia terbesar yang Tuhan berikan kepada setiap orang tua. Sayangnya, sebagian orang tua dan oknum tak bertanggung jawab salah dalam menafsirkan makna harta itu sendiri. Banyak dari mereka yang menganggap anak adalah harta yang bisa dipindahtangankan dan ditukar dengan seikat uang. Dalam pandangan Islam, misalnya, anak juga dipandang sebagai amanah dari Tuhan Yang Maha Esa yang diberikan kepada orangtuanya. Sebagai amanah, anak sudah seharusnya memiliki hak untuk mendapatkan pemeliharaan, perawatan, pembimbingan, dan pendidikan. Sampai saat ini pun masyarakat Indonesia masih menganggap bahwa anak-anak bekerja dalam konteks membantu orang-tua, juga proses pembelajaran anak menjadi dewasa, dan apada masa depan sebagai bekal kehidupan yang mandiri. Namun, belakangan banyak orangtua yang juga memperkerjakan anak tanpa mempertimbangkan kepentingan anak, tetapi semata-semata untuk memenuhi ambisi orangtua. Para aktivis perlindungan anak memperkirakan jumlah anak dipekerjakan mencapai 60.000 hingga 120.000 orang, sementara ILO sebagaimana dikutip KPAI memperkirakan jumlah pekerja anak mencapai 2.685 juta anak. Undang-undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Perlindungan Anak merupakan peraturan khusus yang mengatur mengenai masalah anak. Tujuan dari perlindungan anak sendiri disebutkan dalam Pasal 3 UU No. 23/ 2003 : Perlindungan anak bertujuan untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia, dan sejahtera. Disebutkan juga dalam Pasal 4 UU No. 23 Tahun 2003 tentang hak dari anak yang menyebutkan bahwa : Setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Pengingkaran terhadap kemuliaan hak asasi seorang anak akan terjadi apabila ada seseorang yang tidak lagi memandang seorang anak sebagai sebuah subyek yang sama dengan dirinya, akan tetapi lebih pada sebagai sebuah obyek yang bisa diperjualbelikan demi

keuntungan pribadi. Disadari atau tidak, permasalahan perdagangan anak dan perempuan telah menjadi masalah yang berkepanjangan. Perkiraan 1,2 juta hingga 1,8 juta anak di bawah usia 18 tahun diperdagangkan setiap tahunnya. Mereka diperdagangkan untuk dieksploitasi secara fisik maupun seksual. Perkembangan teknologi menjadi salah satu yang mempengaruhi berkembangnya trafficking ini. Contohnya penculikan anak melalui situs jejaring sosial yang terjadi akhir-akhir ini. Kampanye yang dilakukan The Body Shop dengan ECPAT International (End Child Prostitution,Child Pornography and Trafficking of Children for Sexual Purposes), berniat menghentikan perdagangan sex anak-anak dan remaja,dan berusaha menginspirasi orang tua untuk tidak terlibat dalam perdagangan ini. Perdagangan anak didefinisikan oleh ODCCP (Office for Drug Control and Crime Prevention) sebagai perekrutan, pemindahan, pengiriman, penempatan atau menerima anakanak di bawah umur untuk tujuan eksploitasi dan itu menggunakan ancaman, kekerasan, ataupun pemaksaan lainnya seperti penculikan, penipuan, kecurangan, penyalahgunaan wewenang maupun posisi penting. Juga memberi atau menerima uang atau bantuan untuk mendapatkan persetujuan dari orang yang menguasai penuh atas anak itu.

I.2 Rumusan Masalah Masyarakat ekonomi lemah dan kurang berpendidikan, persoalan yang dihadapi anak adalah buruh anak atau anak bekerja layaknya orang dewasa untuk membantu perekonomian keluarga. Mereka bekerja untuk mencari uang karena paksaa kondisi ekonomi dan ada juga karena dipekerjakan oleh orangtua mereka. Meningkatnya jumlah kasus perdagangan anak memperlihatkan korelasi antara krisis ekonomi dari segi pendidikan dan ketenagakerjaan di Indonesia. Sekretaris Jenderal Komnas Anak mengemukakan bahwa Indonesia merupakan pemasok perdagangan anak dan wanita (trafficking) terbesar di Asia Tenggara. Berdasarkan penelitian yang dilakukan lembaganya, terdapat sekitar 200 sampai 300 ribu Pekerja Seks Komersil (PSK) berusia dibawah usia 18 tahun. Tak Cuma di dalam negeri, mereka juga memasok kebutuhan di Asia Tenggara. Berdasarkan beberapa data yang telah dipaparkan, maka saya mencoba mengangkat permasalahan perihal : 1. Faktor apa saja yang menyebabkan anak dan perempuan diperdagangkan? 2. Apa kebijakan yang terkait dengan anak yang diperdagangkan ?

I.2 Tujuan 1. Mendeskripsikan faktor apa saja yang menyebabkan anak diperdagangkan ? 2. Mendeskripsikan kebijakan pemerintah yang telah di rumuskan ke sebuah keputusan atau undang-undang.

BAB II PEMBAHASAN Wilayah Asia-Pasifik memimpin perdagangan buruh kerja paksa di dunia dengan 9,5 juta orang telah dimanfaatkan, menurut laporan tahun 2005 yang dikeluarkan oleh Organisasi Buruh Internasional Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Selain itu, ada lebih banyak orang lagi yang diperdagangkan untuk kerja paksa, yang dijelaskan sebagai kerja di bawah ancaman dan bertentangan dengan kemauan seseorang, selain untuk seks komersial, menurut Laporan Perdagangan Manusia. Sekitar satu per sepuluh orang dari buruh paksa dimanfaatkan untuk kepentingan komersial. 225,000 - Jumlah orang di Asia Tenggara yang diperkirakan dibawa menyeberangi perbatasan setiap tahunnya untuk diperdagangkan. Kepres RI No.88 Tahun 2002 tentang Rencana Aksi Nasional Penghapusan Perdagangan Perempuan dan Anak, menyebutkan faktor-faktor penyebab terjadinya perdagangan anak dan perempuan : a. Kemiskinan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) adanya kecenderungan jumlah penduduk miskin terus meningkat dari 11,3% pada tahun 1996 menjadi 23,4% pada tahun 1999, walaupun berangsur-angsur telah turun kembali menjadi 17,6% pada tahun 2002. b. Ketenagakerjaan. Sejak krisis ekonomi tahun 1998 angka partisipasi anak bekerja cenderung pula terus meningkat dari 1,8 juta pada akhir tahun 1999 menjadi 17,6% pada tahun 2000. c. Pendidikan. Survai sosial ekonomi nasional tahun 2000 melaporkan bahwa 34% penduduk Indonesia berumur 10 tahun ke atas belum/tidak tamat SD/tidak pernah bersekolah, 34,2% tamat SD dan hanya 15% yang tamat SMP. Menurut laporan BPS pada tahun 2000 terdapat 14 anak usia 7-12 dan 24% anak usia 13-15 tahun tidak melanjutkan ke SLTP karena alasan pembiayaan. d. Migrasi. Menurut Konsorsium Peduli Buruh Migran Indonesia (KOPBUMI) sepanjang tahun 2001 penempatan buruh migran ke luar negeri mencapai sekurang-kurangnya 74.616 orang telah menjadi korban proses traffiking. e. Kondisi keluarga. Pendidikan rendah, keterbatasan kesempatan, ketidaktahuan akan hak, keterbatasan informasi, kemiskinan, dan gaya hidup konsumtif merupakan faktor yang melemahkan ketahanan keluarga. f. Sosial budaya. Anak seolah merupakan hak milik yang dapat diperlakukan sehendak orang tuanya, ketidak-adilan jender, atau posisi perempuan yang dianggap lebih rendah masih tumbuh di tengah kehidupan masyarakat desa.

g. Media massa. Media masih belum memberikan perhatian yang penuh terhadap berita dan informasi yang lengkap tentang traffiking, dan belum memberikan kontribusi yang optimal dalam upaya pencegahan maupun penghapusannya. Bahkan tidak sedikit justru memberitakan yang kurang mendidik dan bersifat pornografis yang mendorong menguatnya kegiatan traffiking dan kejahatan susila lainnya. Banyak faktor yang mendorong orang terlibat dalam perdagangan manusia, yang dapat dilihat dari dua sisi, yaitu supply dan demand. Dari sisi supply antara lain menyebutkan bahwa traffiking merupakan bisnis yang menguntungkan. Dari industri seks saja diperkirakan menghasilkan US$ 1,2 3,3 milyar per tahun untuk Indonesia. Hal ini menyebabkan kejahatan internasional terorganisir menjadi prostitusi internasional dan jaringan perdagangan manusia sebagai fokus utama kegiatannya. Faktor Kemiskinan juga telah mendorong anakanak tidak sekolah sehingga kesempatan untuk memiliki keterampilan kejuruan serta kesempatan kerja menyusut. Seks komersial kemudian menjadi sumber nafkah yang mudah untuk mengatasi masalah pembiayaan hidup. Kemiskinan pula yang mendorong kepergian anak dan ibu sebagai tenaga kerja wanita, yang dapat menyebabkan anak terlantar tanpa perlindungan sehingga berisiko menjadi korban. Dorongan untuk hidup lebih layak, tetapi dengan kemampuan yang minim dan kurang mengetahui informasi pasar kerja, menyebabkan mereka terjebak dalam lilitan hutang para penyalur tenaga kerja dan mendorong mereka masuk dalam dunia prostitusi, hal ini juga diakibatkan dari sifat konsumerisme yang merupakan faktor penjerat gaya hidup anak remaja, sehingga mendorong mereka memasuki dunia pelacuran secara dini. Akibat konsumerisme, berkembanglah kebutuhan untuk mencari uang banyak dengan cara mudah. Konsumerisme sendiri pada umumnya diakibatkan oleh pengaruh sosial budaya seperti pernikahan di usia muda yang rentan perceraian, perkembangan pergaulan yang ada di masa sekarang ini terutama pergaulan anak mudanya. Melihat dari sisi demand, didapatkan beberapa faktor yang antara lain adanya kegiatan pembangunan yang lebih melibatkan pekerja pendatang tidak tetap yang pada umumnya laki-laki, nampaknya berhubungan dengan tajamnya peningkatan pelacuran. Meningkatkan kemudahan dan frekuensi internasional bersamaan dengan tumbuhnya fenomena migrasi temporer karena alasan pekerjaan, telah meningkatkan peluang perdagangan manusia. Berkembangnya kejahatan dalam jaringan perdagangan manusia untuk prostitusi dan berbagai bentuk prostitusi lainnya. Globalisasi keuangan dan perdagangan memunculkan industry multinasional, kerjasama keuangan dan perbankan menyebabkan banyaknya pekerja asing (ekspatriat) dan pebisnis internasional tinggal sementara di

Indonesia, keberadaan mereka meningkatkan demand untuk jasa layanan seks yang memicu peningkatan perdagangan perempuan.sementara di Indonesia. Kebutuhan para majikan akan pekerja yang murah, penurut, mudah diatur, dan mudah ditakut-takuti telah mendorong naiknya demand terhadap pekerja anak (pekerja Jermal di Sumatera Utara, buruh-buruh pabrik/industri di kota-kota besar, di perkebunan, pekerja tambang permata di Kalimantan, perdagangan, dan perusahaan penangkap ikan). Seringkali anak-anak bekerja dalam situasi yang rawan kecelakaan dan berbahaya. Pemerintah dengan Peraturan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 7 tahun 2011 telah menetapkan sebuah kebijakan tentang peningkatan ketahanan keluarga anak yang membutuhkan perlindungan khusus yang di dalamnya berisikan bahwa anak yang membutuhkan perlindungan khusus berhak mendapatkan perlindungan dari Pemerintah dan lembaga negara lainnya, UndangUndang Nomor 52 Tahun 2009 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga juga mengamanatkan perlunya pemerintah menetapkan kebijakan melalui pembinaan ketahanan dan kesejahteraan keluarga dengan cara pemberdayaan keluarga dan peningkatan kualitas anak. Akibat adanya pengaruh kondisi sosial masyarakat dan kondisi ketahanan keluarga di Indonesia yang belum memiliki ketangguhan, menyebabkan anak tidak dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, khususnya pada anak yang membutuhkan perlindungan khusus. Implementasi yang terjadi dan dapat dilihat di masyarakat saat ini belumlah terjadi secara tegas dan merata, karena masih banyak ditemukan adanya praktekpraktek ataupun kegiatan perdagangan perempuan dan anak, terutama di daerah-daerah terpencil seperti di daerah perbatasan antar negara dan daerah-daerah yang dapat dikatakan memiliki pemantauan yang kurang ketat dari aparat pemerintahan, sehingga masih dapat melakukan praktek dan kegiatan perdagangan manusia ini.

BAB III Kesimpulan Faktor-faktor kemiskinan, ketenagakerjaan, dan pendidikan merupakan faktor-faktor yang paling dominan mempengaruhi kenapa di Wilayah Asia Tenggara, khususnya Indonesia marak terjadinya perdagangan bebas perempuan dan anak. Sifat dari negara Indonesia sendiri yang masih merupakan negara yang berkembang semakin mendorong adanya perdagangan bebas perempuan dan anak ini karena mereka melihat adanya peluang mendapatkan penghidupan yang lebih baik secara instan. Seperti halnya dalam ilmu ekonomi dimana perdagangan tersebut dapat berkembang dengan pesat apabila terdapat hokum supply dan demand, hal ini berlaku juga di dalam perkembangan perdagangan perempuan dan anak yang marak terjadi, apalagi Indonesia sendiri merupakan negara yang memiliki sumber daya manusia yang melimpah dan didorong faktor sebagai negara berkembang tersebut. Pemerintah mengupayakan adanya peraturan undang-undang untuk mengatur dan menekan angka dari kegiatan perdagangan bebas perempuan dan anak ini meskipun implementasi di masyarakat belum terlalu optimal.

DAFTAR PUSTAKA Ibnu Amshori, Drs. H., S.H., MA. 2007. Perlindungan Anak. Komisi Perlindungan Anak Indonesia : Jakarta Juli Hastadewi, dkk. 2006. Kondisi dan Situasi Pekerja Anak. Unicef Perwakilan. Laporan KPAI kepada Presiden Republik Indonesia, tahun 2008. Aris Merdeka Sirait, Indonesia Pemasok Perdagangan Anak Terbesar di Asia Tenggara (TempoInteraktif.com: 2004) Undang-Undang Peraturan Menteri Negara Pemberadayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia Nomor 7 tahun 2011 dan Nomor 52 tahun 2009.